. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

KESALAHAN FATAL TATA BAHASA ARAB DALAM AL QURAN

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Postby doski » Tue Mar 18, 2008 9:35 am

kalau ayat ini bisa dibilang aneh dan ngawur tata bahasanya ga?


32. As Sajdah
23. Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil

Apakah Taurat = alquran.

Kenapa bisa:

1. Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat)= dalam kalimat ini membahas tentang taurat yang diberikan pada musa.

2. maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu)= ada kata maka yang melanjutkan kalimat pertama yang membahas Taurat.
Kenapa tiba-tiba langsung ke alquran.

3. Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil= kemabali lagi membahas tentang taurat.

Bahasa aneh atau ngawur. Ada nyang bisa bantu bahas bang Hillman/laennya.
doski
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1348
Joined: Fri Oct 05, 2007 8:41 am
Location: maunya di SURGA bukan SYUURGA

Postby ibra » Thu May 01, 2008 5:19 pm

Pertanyaan yang sangat menarik Mas Hilman.
Alhamdulillah saya bisa bertemu anda di tret ini.

Sebenarnya stressing utama dari pertanyaan ini adalah peletakan kata Shobiun.
Dan dalam menerjemahkannya kita tidak bisa lepas dari konteks kondisi ketika turunnya ayat ini.

Pada ayat Al Baqoroh ayat 62. Shobiun diartikan sebagai penyembah matahari, bintang-bintang, namun pada saat yang sama mengimani ajaran para nabi. Kita bisa juga masukkan ini sebagai umat-umat nabi terdahulu. Bagaimana umat (shobiun) dari nabi Adam, nabi Nuh, nabi Ayub (yang literal mereka beriman tapi bukan Yahudi dan Nasrani) dsb.

Sehingga untuk QS1.62 konteksnya Shobiun adalah Past Tense!.

Kita juga bisa melihat konteks asbabun nuzulnya. Ayat ini muncul ketika Salman Al farisi bertanya kepada Rasulullah ”Bagaimana nasib teman-teman saya dan bagaimana nasib umat terdahulu”, maka di jawablah dengan QS1.62.

Artinya:
Semuanya merujuk pada hukumnya amil nawasih ”inna” yang : tansibul isma watarfaul khobar (menasobkan ism dan menasobkan khobar)
Juga merujuk pada kata alladzina, yang mengandung arti ”barang siapa yang” atau mengandung arti ”tidak semuanya”.
Innalladzina amanu : CLEAR, inna, alladzina (nasob), amanu (rofa’)
Wal hadu posisinya setara dengan amanau, sehingga
(innalladzina) hadu : CLEAR, hadu dibaca rofa karena posisinya sebagai khobar dari inna
Wannashoro posisinya sama dengan hadu
(innalladzina) (n) Nashoro, Nashoro seakan-akan nasob, tapi sebenranya adalah Rofa’ tapi bertindak sebagai isim ghoiru munsorib, yang rofa’nya ditandai dengan fatkhah.

Bagaimana dengan Shobiin??
Pada konteks QS1.62, ini shobiin merujuk pada kaum yang sudah-sudah, past tense, sehingga tidak diperlukan alladzina (barang siapa), semuanya sudah di bundle dalam suatu kelompok (certain). Artinya, shobiin ini merujuk pada kelompok dimana ketika ayat ini turun golongan iti sudah tidak ada (meninggal).

Sehingga
Shobiina dibaca sebagai (Inna)(s) Shibiina, dimana Shobiina dibaca sebagai nasob atau bertindak sebagai isimnya inna. Sekali lagi karena shobiina merujuk pada suatu obyek yang sudah pasti (past tense) maka (alladzina) tidak ada..

Bagaimana dengan Pada Al maidah 69
Shobiin mengandung arti present tense, karena dalam tafsir maroghy, shobiin diterjemahkan sebagai orang-orang yang mengamalkan sebagian ajaran Yahudi dan atau Nasrani dan atau menyembanh malaikat serta juga menunaikan sholat, meskipun belum secara benar (misalnya menyembah ke arah qiblat selain Makkatul Mukarromah page 296 Al Maroghy).

Implikasinya :
Semuanya berada dalam satu eselon yang sama, karena merujuk pada satu waktu yang sama. Even shobiin ini merujuk pada kelompok dimana ketika ayat ini turun golongan iti masih ada. Sehingga cara membacanya adalah:
Innalladzinaamnu, (wainna)lladzina haadu, (wainna)lladzinas Shobiuuna, (wainna)lladzinan nashoro..Ila akhir.

Artinya, orang beriman (amanu), hadu (yahudi), shobiin, dan nasara berada berada pada level yang sama. Semua menempati tempat sebagai isim, makannya semuanya di baca Rofa’.

Wallahu ’alam bish showab

Ibra
ibra
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 593
Joined: Sat Mar 22, 2008 9:08 am

Postby HILLMAN » Tue May 06, 2008 12:58 pm

Ya, mas Ibra, alhamdulillah bertemu mas Ibra disini.

Maaf mas Ibra, dengan penjelasan mas tentang kata shobiin dalam bentuk past tense dan present tense, bagaimana dengan persamaan ini:


Al Baqara 62

الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ

allatheena amanoo waallatheena hadoo waalnnasara waalssabieena

DENGAN

Al Maeda 69

الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى

allatheena amanoo waallatheena hadoo waalssabioona waalnnasara

Demikian mas Ibra.

Wassalam.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby ibra » Tue May 06, 2008 10:53 pm

Halo Mas.
Kan justru itu yang sudah saya jawab:
Al Baqoroh rujukan wassobiina sebagai nasab karena menghilangkan alladzi. karena alladzi hilang dia otomatis menjadi isimnya inna sehingga dibaca nasob (ingat rule inna adalah tansibul isma watarfaul khobar) kenapa dihilangkan? karena sudah jelas dhomirnya. yaitu orang yang mengikuti ajaran nabi jaman dulu (asbabanun nuzul salman alfarisi). Ketika ayat turun golongan ashobiin dalam konteks ayat ini sudah tidak ada (sudah meninggal).

Al Maedah, di baca Woshobiuna, sebagai rofak karena sebagai berperan khobarnya inna tetap memakai alladzi? kenapa ? karena masih mengadung "barang siapa", kenapa masih mengandung "barang siapa"? karena kelompok shobiun di sini adalah golongan orang yang masih percaya bintang, tapi juga sholat (belum berIslam dengan sempurna) dan konteks shobiun itu merujuk pada golongan orang yang saat ayat itu turun masih ada orangnya
ibra
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 593
Joined: Sat Mar 22, 2008 9:08 am

Re: KESALAHAN FATAL TATA BAHASA ARAB DALAM AL QURAN

Postby tarik gondrong » Tue May 06, 2008 11:29 pm

Alquran adalah buatan manusia, bukan buatan Allah yang maha sempurna.
Dengan kesempurnaan Allah, mustahil membuat kesalahan dalam susunan kata dan tata bahasa dalam sebuah bentuk kalimat yang serupa satu sama lain.

Alquran di klaim oleh penganut ajaran Islam sebagai sebuah kitab yang sempurna dan terjaga dari awal hingga akhir, kita akan mulai membahas beberapa ayat yang memiliki susunan yang serupa, dalam surat yang berbeda, yang membuktikan bagaimana sang “Allah” salah dalam ber-tata bahasa Arab, mari kita mulai dari yang pertama:


Justru allah sengaja membuat kesalahan kalimat supaya kamu lebih percaya allah atau percaya kalimat yg salah?
:lol: :lol:
tarik gondrong
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 680
Joined: Tue Oct 10, 2006 8:11 pm

Re: KESALAHAN FATAL TATA BAHASA ARAB DALAM AL QURAN

Postby tarik gondrong » Tue May 06, 2008 11:31 pm

Alquran adalah buatan manusia, bukan buatan Allah yang maha sempurna.
Dengan kesempurnaan Allah, mustahil membuat kesalahan dalam susunan kata dan tata bahasa dalam sebuah bentuk kalimat yang serupa satu sama lain.

Alquran di klaim oleh penganut ajaran Islam sebagai sebuah kitab yang sempurna dan terjaga dari awal hingga akhir, kita akan mulai membahas beberapa ayat yang memiliki susunan yang serupa, dalam surat yang berbeda, yang membuktikan bagaimana sang “Allah” salah dalam ber-tata bahasa Arab, mari kita mulai dari yang pertama:


Justru allah sengaja membuat kesalahan supaya kamu lebih pecaya kalimat atau percaya allah? :lol:
tarik gondrong
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 680
Joined: Tue Oct 10, 2006 8:11 pm

Postby HILLMAN » Wed May 07, 2008 11:59 am

ibra wrote:Halo Mas.
Kan justru itu yang sudah saya jawab:
Al Baqoroh rujukan wassobiina sebagai nasab karena menghilangkan alladzi. karena alladzi hilang dia otomatis menjadi isimnya inna sehingga dibaca nasob (ingat rule inna adalah tansibul isma watarfaul khobar) kenapa dihilangkan? karena sudah jelas dhomirnya. yaitu orang yang mengikuti ajaran nabi jaman dulu (asbabanun nuzul salman alfarisi). Ketika ayat turun golongan ashobiin dalam konteks ayat ini sudah tidak ada (sudah meninggal).

Al Maedah, di baca Woshobiuna, sebagai rofak karena sebagai berperan khobarnya inna tetap memakai alladzi? kenapa ? karena masih mengadung "barang siapa", kenapa masih mengandung "barang siapa"? karena kelompok shobiun di sini adalah golongan orang yang masih percaya bintang, tapi juga sholat (belum berIslam dengan sempurna) dan konteks shobiun itu merujuk pada golongan orang yang saat ayat itu turun masih ada orangnya


Ya, mas Ibra, mari kita lihat lebih seksama susunan kata pembentuk kalimat dari


Surah Al Maeda ayat 69


إِنَّ

الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى

مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وعَمِلَ صَالِحًا فَلاَ خَوْفٌ

عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ


Inna
allatheena amanoo waallatheena hadoo waalssabioona waalnnasara
man amana biAllahi waalyawmi alakhiri waAAamila salihan fala khawfun
AAalayhim wala hum yahzanoona

= Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.




Surah Al Baqara ayat 62


إِنَّ

الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ

مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ

أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ

يَحْزَنُونَ


Inna
allatheena amanoo waallatheena hadoo waalnnasara waalssabieena
man amana biAllahi waalyawmi alakhiri waAAamila salihan falahum ajruhum AAinda rabbihim wala khawfun AAalayhim wala hum
yahzanoona

= Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah , hari kemudian dan beramal saleh , mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Benarkah apa yang saya simpulkan, bahwa kata-kata pembentuk kalimat dan susunan kata-kata dari surah Al Maeda ayat 69 serta surah Al Baqarah ayat 62 adalah serupa ?

Apabila serupa, maka kata “Inna allathena” memiliki tafsir kata serupa yaitu Sesungguhnya .

Demikian mas Ibra.

Wassalam.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Re: KESALAHAN FATAL TATA BAHASA ARAB DALAM AL QURAN

Postby HILLMAN » Wed May 07, 2008 12:01 pm

tarik gondrong wrote:Justru allah sengaja membuat kesalahan supaya kamu lebih pecaya kalimat atau percaya allah? :lol:


Tepat sekali, mas tarik gondrong, dengan mengatakan bahwa Alquran sempurna, umat sudah melakukan syirik karena yang sempurna hanyalah Allah semata.

Wassalam.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby ibra » Wed May 07, 2008 2:03 pm

Halo Mas...
Wah, mohon maaf kalau sekarang saya (jadi agak) ragu dengan nahwu shorof mas Hilman. Padahal posting2 anda banyak menyitir Bahasa Arab.Billions of sorry in advance

Terjemahan akan sama saja merujuk pada kata bendanya (i'rob nya saja yang berubah).
Itu masalah yang sangat elementer yang biasa ditanyakan di tingkat dasar madrasah.

Kalau kita menyebutkan Ja'a Zaidan tau Zaidun? Pasti zaidun, karena sebagai khobar (artinya Zaid datang).
Kalau Roitu zaidan atau zaidun? zaidan (saya melihat Zaid) karena sebagai nasob

Kalau marortu bi zaidan atau zaidun (Saya jalan-jalan di jalan bertemu Zaid) ? Salah ! Bukan dua-duanya, tapi zaidin, karena terkena hukum jair dari huruf jair "bi"

APAKAH ADA PERUBAHAN TERJEMEHAN ATAS ZAID?
Penerjemahannya TIDAK! karena tetap saja Zaid. Tapi Zaid yang mana?

Wah hal-hal ini benar-benar fundamental of Nahwu yang biasa diajarkan di kelas 1.

Sobiin/un yang mana?
SEKALI LAGI. Ada dhomir (kata ganti yang tidak kelihatan)
yang terbuang.

Contoh dhomir

Aku berangkat ke salon, trus ke pasar trus kejambret
kalau dijelaskan
Aku berangkat ke salon trus (aku) ke pasar trus (aku di) jambret
Dalam terminologi Bahasa Aran, aku bertindak sebagai FAIL kecuali pada dijambret bertindak sebaga Naibul Fail.

Sekali lagi
Di ayat yang awal Shobiun, setiap yahudi dan Nasrani memiliki dhomir inna dan isim alladzi, sehingga semua dibaca sebagai rofa', sementara pada ayat kedua shobiin memiliki alladzi pula sehingga semuanya di baca rofa'
darimana kita tahu yang atas tidak ada alladzi dan yang bawah ada alladzi, dari asbabun nuzulnya, ishobiun merujuk ke mana?

Wah (Mohon maaf sebelumnya) bagaimana kita membahas I'robul Qur'an yang miles above Nahwu shorof kontemporer?
(Mohon maaf sekali lagi) Dari pengembaraan saya yang masih terbatas ini, saya melihat, sepertinya hanya Mas Hilman yang belajar /mengerti bahasa Arab.

Illa Liqo'

Ibra
ibra
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 593
Joined: Sat Mar 22, 2008 9:08 am

Postby HILLMAN » Wed May 07, 2008 2:37 pm

Sangat patut mas Ibra meragukan nya. :) Karena saya pun masih terus belajar dan jauh dari sempurna penguasaan bahasanya. Saya lihat mas Ibra pun menjelaskan pada saya dengan standar ajaran bagi pemula, terima kasih mas. :)

Sepertinya kita maklum tidak semua umat dapat memahami bahasa Arab dengan baik dan benar, itu sebabnya saya mengajak mas Ibra untuk melihat secara harafiah dahulu kata-kata pembentuk kalimatnya yang kasat mata, seperti yang saya tuliskan di atas, sehingga terlepas dari kemampuan bahasa Arab yang membaca diharapkan dapat mengikutinya tanpa kesulitan.

Mari kita bahas bersama tulisan mas Ibra yang menggunakan kata Zaid زي


Dalam kalimat Ja'a Zaidun, Zaidun, karena sebagai khobar,

bila di bandingkan dengan


kalimat Roitu Zaidan, Zaidan karena sebagai nasob


kemudian

kalimat Marortu bi Zaidin, Zaidin, karena terkena hukum jair dari huruf jair "bi"


Didepan kata Zaid ada 3 perbedaan yang merubah penulisan dan cara pelafalan kata Zaid, yaitu, Ja'a, Roitu dan Marortu didalam bahasa Arab, benar demikian mas Ibra?


Sedangkan didalam ayat Al Baqarah 62 dan Al Maeda 69 apakah perbedaan itu ada terdapat? Tentunya tidak ada, benarkah mas Ibra?


Dan mas Ibra, saya tidak mempermasalahkan tafsir Indonesia yang anda sebutkan, karena dalam bahasa Indonesia fungsi tenses yang sangat terbatas, saya kutipkan terjemah itu karena itulah yang tertulis didalam terjemah yang digunakan oleh umat di sini.

Demikian mas Ibra.


Wassalam
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby dulilah » Wed May 07, 2008 11:30 pm

jangan OOT ke kristen lagi.
cobalah simak tiap argumentasi dalam thread ini, jikalau anda mampu, tulis argumenmu. aku tahu kamu emosional, tapi biasakan bersikap rasional.

in progress.....? wallahualam
User avatar
dulilah
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 295
Joined: Fri Nov 23, 2007 8:50 pm

Postby ibra » Thu May 08, 2008 12:36 pm

Halo Mas Hilman dan Mas/Pak (Mbak/Ibu) Dulilah..
Thanks atas warning nya. Terus terang post saya kemarin adalah yang paling emosional memang selama saya join forum ini.

BEGINI.
(Dan sebenarnya sudah many times I wrote it).

Al Qur'an adalah dokumen yang berisi firman dari Allah SWT yang turunnya berdasarkan konteks jaman/masa/permasalahan yang melatarbelakangi setiap turunnya ayat (for every single verses).

karenanya, Membaca setiap I'rob dalam Al Qur'an tidak seperti membaca tulisan Arab pada Umumnya karena setiap ayat yang turun memiliki asbabun nuzul sendiri-sendiri MESKIPUN KATA-KATANYA SAMA. Perbedaan asbabun nuzul dan atau asbabul wurud ini menimbulkan perbedaan penafsiran Al Qur'an (tentu saja bukan tafsir literal).

Karena konteksnya lain, membuat posisi kata akan berbeda walaupun secara lughotan (bahasa sama).

Misalnya kata shobiun/shobiin tadi.
Terjemahan shobiun tadi akan diterjemahkan sama BILLOGHOTI (atas nama bahasa) ! sama dengan kasus Zaid tadi akan diterjemahkan sama ZAID billughoti. TAPI BIMAKNAWI, akan jauh berbeda karena yang disebut shobiin/biun tadi DUA KELOMPOK YANG BERBEDA.
darimana kita tahu dari Asababun Nuzulnya. (Sekali lagi CMIIW, kelemahan hampir semua post di sini, tentang Al Qur'an, menurut hemat saya adalah keterbatasan pembahasan pada tafsir/terjemahan, tanpa melihat Asbabun Nuzlnya. No offense. Bukan berarti mempersulit diri, semua penjelasan dari setiap ayat akan jelas dengan membaca bagaimana sejarah ayat itu turun).

Bottom line nya (sekali lagi).
Pada Ayat Al Baqoroh, rujukan Shobiina merujuk sesuatu yang sudah fix/stokastik. Dengan kisah salman Al farisi, merujuk pada golongan yang TELAH lampau, sehingga dzomir Alladzinya (barang siapa) dibuang. Kenapa membutuhkan "barang siapa/dzomir" kalau sudah jelas. Karena itu posisi shobiina bergeser dari rofa' menjadi nasob.

Sementara pada ayat Al Maidah, k3-3 nya memakai rule inna biasa tansibul isma watarfaul khobar karena itu semua di baca rofa'. Karena merujuk pada golongan yang PADA SAAT AYAT ITU TURUN, MEREKA MASIH ADA, artinya golongan SHOBIUNA (orang yang islam namun belum kaffah) itu akan bisa berderajat/berubah menjadi golongan lain. kan masih hidup! Jadi golongan ini bisa jadi yahudi, bisa jadi Nasrani atau bisa jadi Islam dengan kaffah. Makannya digunakan Alladzi. Implikasinya karena ada alladzi, maka dia bergeser ke belakang sebagai Khobarnya Inna dengan i'rob yang melekat rofa. That's way it so called I'robul Qur'an dimana kita meng i'robi Qur'an (based on Nahwu, balaghoh) namun dengan konteks asbabun nuzul.

Begitu.

Note.
jangan OOT ke kristen lagi.
cobalah simak tiap argumentasi dalam thread ini, jikalau anda mampu, tulis argumenmu. aku tahu kamu emosional, tapi biasakan bersikap rasional.

in progress.....? wallahualam


Answer:
Insya allah gak bakalan mas/pak/bu. Ini sudah penjelasan yang menurut saya paling rasional. Key word nya "asbabun nuzul", dan instead of "nahwu kontemporer", "i'robul Qur'an). Insaya allah pula saya gak bakal OOT ke Kristen/Katholik/Hindu/Budha/Zoroaster/Atheis karena saya memang buta dengan yang lain.
wallahu alam bishowab
ibra
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 593
Joined: Sat Mar 22, 2008 9:08 am

Postby HILLMAN » Sat May 10, 2008 2:05 pm

No bother, mas Ibra. :)

Maaf mas, saya telah membaca dan berulang ulang kali berusaha memahami (maaf) "excuses" dalam bentuk asbabun nuzul mengenai ayat dalam Surah Al Baqarah 62 dan Surah Al Maedah 69, saya tidak menemukan jawaban mengenai kata shabiin ini.

Mas Ibra menuliskan bahwa pada Surah Al Maeda 69 orang shabiin ini masih ada sedangkan pada Al Baqarah 62 sebaliknya. Benar demikian mas Ibra?

Tapi saya ingat ayat ini mas Ibra.

Surah Al Hajj ayat 17


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ


Inna allatheena amanoo waallatheena hadoo waalssabieena waalnnasara waalmajoosa waallatheena ashrakoo inna Allaha yafsilu baynahum yawma alqiyamati inna Allaha AAala kulli shayin shaheedun

= Surely those who believe and those who are Jews and the Sabeans and the Christians and the Magians and those who associate (others with Allah)-- surely Allah will decide between them on the day of resurrection; surely Allah is a witness over all things.

= Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabiiin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Pada ayat ini jelas orang Shabiin ini masih ada dan akan terus ada sampai hari kiamat.

Demikian mas Ibra.

Wassalam.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby burung » Sat May 10, 2008 7:31 pm

Sinkronisasi Dugaan Kontradiksi Dalam al-Qur’an

Yang dimaksud dengan at-Ta’aarudh (kontradiksi) adalah bertemunya dua ayat di mana indikasi salah satunya menolak indikasi pada ayat yang lainnya seperti, salah satu ayat berindikasi Itsbat (menetapkan) sesuatu sementara yang satunya lagi menafikan (meniadakan)-nya.

Sesungguhnya, tidak mungkin terjadi kontradiksi antara dua ayat yang indikasinya bersifat Khabary (pemberitaan) sebab konsekuensinya bahwa salah satu darinya adalah dusta dan ini mustahil terjadi pada berita-berita yang diinformasikan Allah SWT. Dia berfirman, “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah.” (QS.an-Nisa’:87) dan firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah.” (QS.an-Nisa’:122)

Demikian pula tidak mungkin terjadi kontradiksi antara dua ayat yang indikasinya bersifat Hukmy (hukum) sebab pasti ayat yang terakhir darinya menjadi Nasikh (penghapus) ayat pertama. Allah SWT berfirman, “Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.” (QS.al-Baqarah:106) Bila sudah ditetapkan adanya Naskh (penghapusan), maka hukum yang terdapat pada ayat pertama tidak berlaku dan ia tidak bertentangan dengan ayat terakhir (yang kedua).

Bila anda melihat ada suatu dugaan kontradiksi dari hal itu, maka berupayalah untuk menyinkronkan antara keduanya; bila belum dapat memastikannya, maka anda harus berhenti dan menyerahkan hal itu pada Yang Maha Mengetahuinya, yaitu Allah SWT.

Para ulama menyinggung banyak contoh terkait dengan dugaan kontradiksi dan menjelaskan cara melakukan sinkronisasinya. Di antara buku yang paling padat isinya berbicara mengenai tema ini adalah buku “Daf’u iihaam al-Iththiraab ‘An Aayil Kitaab” karya Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi RAH.

Di antara contoh tersebut adalah firman Allah SWT di dalam al-Qur’an, “Petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS.al-Baqarah:2) dan firman-Nya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia” (QS.al-Baqarah:185) Allah menjadikan hidayah al-Qur’an pada ayat pertama khusus buat orang-orang yang bertakwa sedangkan pada ayat kedua umum buat semua manusia. Sinkronisasi antara keduanya adalah dengan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hidayah pada ayat pertama itu adalah hidayah taufiq dan kemanfa’atan sedangkan maksud hidayah pada ayat kedua adalah hidayah penjelasan dan petunjuk.

Sepadan dengan kedua ayat tersebut adalah firman Allah SWT lainnya yang berbicara mengenai diri Rasulullah SAW, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya” (QS.al-Qashash:56) dan firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS.asy-Syuura:52) Yang dimaksud dengan hidayah pada ayat pertama adalah hidayah taufiq sedangkan pada ayat kedua adalah hidayah penjelasan.

Contoh lainnya, firman-firman Allah SWT,
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu…” (QS.Ali ‘Imran:18)
“Dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah….” (QS.Shaad:65)
“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apa pun yang lain…” (QS.al-Qashash:88)
“…karena itu tiadalah bermanfa’at sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kehinaan belaka.” (QS.Hudd:101)

Pada dua ayat pertama mengindikasikan penafian Uluhiyyah (ketuhanan) selain Allah SWT sedangkan pada dua ayat terakhir mengindikasikan penetapan Uluhiyyah selain-Nya.

Sinkronisasi antara keduanya adalah dengan menyatakan bahwa Uluhiyyah yang khusus bagi Allah-lah Uluhiyyah yang sebenar-benarnya sedangkan Uluhiyyah menetapkan bagi selain-Nya adalah Uluhiyyah yang batil. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT, “(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS.al-Hajj:62)

Di antara contoh lainnya, firman Allah SWT, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji’” (QS.al-A’raf:28) dan firman-Nya, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS.al-Isra’:16) Dalam ayat pertama, menafikan Allah memerintahkan berbuat keji sedangkan makna implisit ayat kedua adalah bahwa Allah SWT memerintahkan berbuat sesuatu yang fasiq.

Sinkronisasi antara keduanya adalah dengan menyatakan bahwa pada ayat pertama tersebut berupa perintah secara syari’at di mana secara syari’at, Allah tidak pernah memerintahkan berbuat keji berdasarkan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (an-Nahl:90) Sedangkan dalam ayat kedua berupa perintah secara Kauny (alami) di mana secara Kauny, Allah memerintahkan dengan apa saja yang dikehendaki-Nya sesuai tuntutan hikmah-Nya berdasarkan firman-Nya, “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah’ maka jadilah ia.” (QS.Yaasiin:83)

Untuk mendapatkan contoh yang lebih banyak lagi, silahkan merujuk buku karya Syaikh asy-Syinqithi yang telah kami sebutkan di atas.
burung
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 12
Joined: Thu May 08, 2008 11:38 am
Location: Kalimantan

Postby burung » Sat May 10, 2008 7:37 pm

Nama-Nama al-Qur'an


Allah Ta'ala memberikan beberapa nama yang agung dan layak terhadap al-Qur'an, yaitu nama yang sesuai dengan kedudukan al-Qur'an itu sendiri yang mengesankan akan keagungannya.

Nama-nama tersebut berisi kandungan al-Qur'an, yaitu berupa rahasia-rahasia yang indah, tujuan yang mulia dan Maqâshid yang agung, hikmah-hikmah yang bijak, kisah-kisah yang mengagumkan serta hukum-hukum yang valid.

Nama-nama yang indah tersebut menunjukkan secara gamblang akan kemuliaan dan kedudukannya yang tinggi, nama-nama yang mengandung hujjah dan dalil bahwa ia adalah kitab Samâwiy, tidak ada dan tidak akan ada yang pernah dapat menyainginya.

Nama-nama yang demikian menarik dan berisi semua yang enak dan baik untuk dinikmati.
Allah Ta'ala memberikan nama-nama yang bervariasi tersebut berbeda sama sekali dan tidak seperti nama yang biasa diberikan dan didengar oleh orang-orang Arab dalam pembicaraan mereka, baik secara global maupun terperinci. Secara global ia dinamai Kitab atau Qur'an. Dan secara terperinci dan terpisah juga dinamai dengan surat, ayat dan Kalimât.

Imam as-Suyuthiy sebagai yang dinukilnya dari al-Jâhizh berkata, "Allah Ta'ala memberikan sebutan bagi Kitab-Nya berbeda dengan sebutan yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab dalam pembicaraan-pembicaraan mereka baik secara global maupun terperinci. Dia menyebutnya secara global sebagai Qur'an seperti makna Dîwân (koleksi yang memuat sya'ir-red.,) dan sebagiannya sebagai Surat seperti makna Qashîdah (bagian dari sya'ir-red.,), sebagian dari Surat tersebut sebagai Ayat seperti makna Bait dan akhir ayat sebagai Fâshilah seperti makna Qâfiah…"
Yang dimaksud oleh Imam As-Suyuthiy adalah bahwa kata al-Qur'an, Surat, Ayat dan Fâshilah tidak dikenal oleh orang-orang Arab sebelumnya, demikian juga penggunaannya. Orang-orang Arab hanya mengenal kata Dîwân yang sepadan dengan makna al-Qur'an;Qashîdah sepadan dengan kataSurat ; Bait sepadan dengan kata Ayat dan Fâshilah sepadan dengan kata Qâfiah.

Nama-Nama al-Qur'an

Diantara nama-nama al-Qur'an tersebut adalah:
1. Tanzîl (------- Huruf Arab -------)

Allah menamainya dengan Tanzîl dan Munzal karena maknanya adalah yang diturunkan . Jadi, Dia-lah yang menurunkannya kepada Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam melalui perantaraan Jibril, karenanya pula ia bukan sihir, olah pertenungan ataupun dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.
Penamaan dengan Tanzîl dan Munzal ini terdapat dalam 142 tempat di dalam al-Qur'an, dan penamaannya dengan Tanzîl adalah termasuk yang paling masyhur.
Diantaranya, dapat dilihat pada Q.,s. Luqman:21 ; Muhammad: 2, 26 ; Saba`:6 ; Fushshilat:42 ; al-Hâqqah:43 ; al-Mâ`idah:44.

2. Ayât (------- Huruf Arab -------)

Ayat-ayat Allah terdiri dari dua jenis; ayat-ayat yang dibaca dan didengar, yaitu al-Qur'an dan ayat-ayat yang disaksikan, yaitu makhluk-makhluk Allah.
Allah menamai kitab-Nya dengan Ayât dalam 130 tempat di dalam al-Qur'an. Tentunya, tidak dapat disangkal lagi bahwa al-Qur'an al-'Aziz adalah Ayât (tanda-tanda) yang jelas dan amat gamblang petunjuknya, membawa bukti yang jelas, yang tidak ada kesamaran di dalamnya. Ayat-ayat yang agung dan lugas, yang merupakan sumber dari segala sumber hukum.
Penamaan al-Qur'an dengan Ayât juga termasuk diantara nama-nama yang paling masyhur.
Diantaranya dapat dilihat pada Q.,s.al-'Ankabût:23 ; ar-Rûm:53 ; al-Hadîd:9 ; al-Jâtsiyah:6,8,9 ; al-Ahqâf:7.

3. Kitâb (------- Huruf Arab -------)

Penamaan al-Qur'an dengan Kitâb terdapat dalam 74 tempat di dalam al-Qur'an. Secara bahasa makna al-Kitâb adalah al-Jam'u (kumpulan; himpunan; koleksi). Allah menamai wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai Kitâb karena ia mencakup surat-surat, ayat-ayat, huruf-huruf dan kalimat-kalimat. Juga karena ia menghimpun/mengoleksi berbagai ilmu, berita dan hukum.
Diantaranya dapat dilihat pada Q.,s. al-'Ankabût:47,48, 51 ; al-Baqarah:2 ; Fâthir:29 ; az-Zumar:1; Fushshilat:3 .

4. Qur`ân (------- Huruf Arab -------)

Ini merupakan nama yang paling masyhur dan penamaannya terdapat dalam 73 tempat di dalam al-Qur'an.
Dari sisi bahasa makna kata Qur`ân adalah yang dibaca, karena ia dibaca dan makna yang lebih khusus lagi adalah suatu nama (sebutan) bagi Kalam yang mengandung mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam .
Penamaan seperti ini, diantaranya dapat dilihat pada Q.,s. an-Nisâ`:82 ; al-Isrâ`: 9, 41, 82, 88 ; Yûnûs;37 ; Yûsuf:3 .

5. Haqq (------- Huruf Arab ------- )

Allah menamai al-Qur'an dengan al-Haqq dalam 61 ayat di dalam al-Qur'an. Al-Haqq artinya secara bahasa al-'Adl wal Inshâf (keadilan dan sikap menengah). Dalam ucapan orang Arab, kata al-Haqq adalah antonim dari kata al-Bâthil (kebatilan).
Allah adalah Haqq, Rasul-Nya adalah Haqq, al-Qur'an adalah Haqq sementara yang haq itu berhak untuk diikuti.
Penamaan seperti ini, diantaranya dapat dilihat pada Q.,s.Yûnus: 84, 108 ; an-Nisâ`:170 ; al-Mâ`idah: 83, 84 ; al-An'âm: 5 ; Hûd: 17 .

6. Tadzkirah dan Dzikrâ (------- Huruf Arab -------)

Penamaan dengan Tadzkirah dan Dzikrâ terdapat dalam 55 tempat di dalam al-Qur'an, atau bisa lebih dari itu.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa al-Qur'an al-'Aziz merupakan Dzikr dan Tadzkîr , yaitu ia merupakan Dzikr itu sendiri bahkan termasuk Dzikr yang paling afdlal (utama). Membaca al-Qur'an merupakan seutama-utama hal yang dapat mengingatkan (menyadarkan) orang-orang yang berdzikir kepada Allah.
Penamaan ini dapat dilihat pada Q.,s. al-Hijr:6,9; Fushshilat:41 ; al-Anbiyâ`:50 ; Shâd: 8, 29 ; Thâhâ: 3 .

7. Wahyu (------- Huruf Arab -------)

Penamaan dengan nama ini terdapat dalam 45 ayat di dalam al-Qur'an. Tentunya, tidak diragukan lagi bahwa al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Ta'ala. Ia adalah wahyu dimana Allah berbicara dengan sebenarnya, ia bukan sihir, olah pertenungan, bukan ucapan yang didustakan dan bukan pula dongeng-dongeng orang-orang terdahulu sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang kafir Quraisy, ia bukan pula makhluq seperti yang dikatakan oleh golongan Jahmiyyah dan Mu'tazilah. Ia bukan hikayat dari Kalam Allah sebagaimana yang diklaim oleh golongan al-Kullâbiyyah.
Penamaan ini dapat dilihat pada Q.,s.an-Najm: 4, 10 ; Yûnus:2 ; az-Zukhruf:43 ; al-Ahzâb: 2 ; al-Anbiyâ`: 108 .

8. Huda (------- Huruf Arab -------)

Maknanya adalah petunjuk dan terdapat dalam 47 tempat. Kata al-Huda secara bahasa adalah al-Bayân (penjelasan) atau at-Tawfîq.
Tentunya tidak dapat disangkal lagi bahwa al-Qur'an adalah Huda (penjelasan, petunjuk) dari kesesatan dan kebutaan. Ia adalah petunjuk secara hakikat dan makna, ia adalah petunjuk dari kekufuran dan kemunafikan, dari kezhaliman dan tindakan melampaui batas, dari kebingungan dan ketakutan serta petunjuk dari segala hal yang menyimpang dan dapat menjerumuskan.
Memang al-Qur'an adalah petunjuk dan realitas mendukung hal itu. Buktinya, banyak sekali manusia - mencapai juta-an - mendapatkan petunjuknya dengan penuh sukarela, tanpa unsur paksaan karena keistimewaan Islam itu sendiri.
Penamaan ini dapat dilihat pada Q.,s. an-Nahl:89 ; al-Qashash:85 ; at-Tawbah:33 ; al-Kahfi: 55; al-Baqarah:97 ; al-Fath:28 ; Ali'Imrân:138 .

9. Shirâth Mustaqîm (------- Huruf Arab ------- )

Penamaan dengan ini terdapat dalam 33 tempat di dalam al-Qur'an. Kata ash-Shirâth artinya jalan yang dapat mengantarkan kepada tujuan yang diinginkan, sedangkan kata al-Mustaqîm artinya yang tidak ada kepincangan sedikitpun.
I bn Jarir berkata, "Umat dari kalangan Ahli Tafsir sepakat bahwa makna ash-Shirât al-Mustaqîm adalah jalan yang jelas yang tidak ada kepincangan sedikitpun. Dan makna ini digunakan dalam percakapan Bangsa Arab."
Penamaan ini dapat dilihat pada Q.,s. al-Fâtihah: 6 ; al-An'âm:153 ; al-An'âm:126 ; Yûnus:25 ; Ali'Imran:101 ; al-Mâ`idah:16 ; al-Hajj:54 .

10. Tibyân dan Bayyinât (------- Huruf Arab -------)

Al-Qur'an juga dinamakan dengan Tibyân, Mubîn dan Bayyinât dan penamaan ini terdapat dalam 30 tempat di dalam al-Qur'an. Jumlah ini bisa jadi lebih dari itu.
Al-Qur'an adalah petunjuk dan obat, yang di dalamnya terdapat Bayân (penjelasan) yang amat jelas sekali ; jelas maknanya dan kokoh tata-bahasanya, tidak ada kesamaran atau pun ketidakjelasan padanya.
Di dalam al-Qur'an terdapat penjelasan bagi setiap hajat seluruh manusia di dalam kehidupan sosial mereka dengan ungkapan yang amat menawan dan gaya bahasa yang indah.
Penamaan ini diantaranya dapat dilihat pada Q.,s. ash-Shaff:6; al-Baqarah: 159 ; an-Nûr: 34, 46 ; al-Ahqâf:7 ; al-Hijr:1 ; Ghâfir: 66.

11. Shidq, Tashdiq dan Mushaddiq (ÕÏÞ¡ÊÕÏíÞ æãÕÏÞ)

Allah menamainya dengan Shidq (Kebenaran), Mushaddiq (Pembenar) dan Tashdîq (Pembenaran) dalam 22 ayat dari al-Qur'an.

Allah Ta'ala menyinggung perihal ash-Shidq, memerintahkannya, menganjurkan dan mensugestinya di dalam 109 tempat. Dalam hal ini, tidak dapat diragukan lagi bahwa al-Qur'an al-Karim adalah simbol kebenaran, sumber, landasannya serta yang mengajak berbuat kebenaran dan mensugestinya.
Diantaranya, dapat dilihat pada Q.,s. az-Zumar:32,33; Yûnûs:37; Yûsuf:111; al-Baqarah:97; al-Ahqâf:12; al-An'âm:115.

12. Mufashshal dan Fashl (ãÝÕá æÝÕá)

Allah menamai al-Qur'an dengan Mufashshal (yang dijelaskan/terperinci) di dalam 18 ayat. Dalam hal ini, al-Qur'an terdiri dari surat-surat, ayat-ayat Muhkamât. Surat-surat meliputi ayat-ayat sementara ayat-ayat meliputi huruf dan kalimat. Semua itu telah dirinci oleh Allah di dalam ayat-ayat al-Qur'an.

Karena telah menjelaskan dan memerinci, maka tidak ada lagi yang samar dan masih kabur di dalamnya. Jadi, ia bukan teka-teki ataupun simbol-simbol yang tanpa makna.
Diantaranya, dapat dilihat pada Q.,s.al-An'am:97,98; ath-Thâriq:13; al-A'râf:52,172; at-Tawbah:11; Fushshilat:3.

13. Hadîts (ÍÏíË)

Allah menamai al-Qur'an dengan Hadîts di dalam 15 ayat.
Makna Hadîts secara bahasa adalah khabar dan ucapan (omongan).
Disamping menamakannya demikian, Dia Ta'ala juga menamakannya Qîl (yang dikatakan/diucapkan).
Al-Qur'an merupakan ucapan dimana Allah berbicara di dalamnya dan berisi beragama hal yang membuat terpesona, semua nya indah, berupa hukum dan hikmah-hikmah, berita gembira ataupun menakutkan, janji dan ancaman..semua itu hanya lah demi kemaslhlahatan para hamba Allah. Semua nya berisi hidayah dan petunjuk..semuanya berisi 'aqidah dan syari'ah.
Diantaranya, dapat dilihat pada Q.,s.az-Zumar:23; al-Jâtsiyah:6; ath-Thûr:34; al-Kahfi:6; an-Najm:59; al-Wâqi'ah:81; al-Mursalât:50.

14. Rahmah (ÑÍãÉ)

Allah Ta'ala menamai al-Qur'an dengan Rahmah (Rahmat/kasih sayang) karena ia merupakan rahmat dari Allah Ta'ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Penamaan ini terdapat dalam 15 ayat.
Allah sendiri menamakan diri-Nya di dalam al-Qur'an sebagai Rahîm (Maha Pengasih) dalam 119 tempat, sementara sebagai Rahmân (Maha Penyayang) dalam 57 tempat. Kata Rahîm dan Rahmân merupakan derivasi dari kata Rahmah.
Dengan nama ini, dapat dilihat pada Q.,s. al-A'râf:52,203: al-An'âm:157: Yûnus:57; al-Isrâ`:82; an-Naml:77; al-Jâtsiyah:20.

15. Nûr (äæÑ)

Allah menamai al-Qur'an dengan Nûr dalam 12 ayat di dalamnya.
Al-Qur'an adalah nur (cahaya), nur al-Haq, nur yang terang benderang dan bukti yang pasti.
Nur yang bercahaya namun tidak seperti cahaya-cahaya biasa..cahaya yang tidak pernah hilang, tidak pernah berkurang sedikitpun..cahaya yang merangi jalan orang-orang yang berjalan diatas kebenaran, orang-orang yang sesat dan kebingungan..cahaya yang dapat menyembuhkan semua penyakit; syahwat dan syubhat.

Namun alangkah sayangnya, dewasa ini hanya sedikit orang yang mau mengambil cahaya ini…Kebanyakan manusia menjauh darinya layaknya keledai yang menjauh dari singa, lalu kelelahan hingga akhirnya celaka dan terjebak ke dalam jurang nan gelap…
Sekalipun berbagai upaya musuh direkayasa untuk menghancurkan cahayanya, namun mereka tidak berhasil melakukannya.
Diantara penamaannya dengan Nûr dapat dilihat pada Q.,s. an-Nisâ`:174;al-A'râf:157; al-Mâ`idah:16; at-Taghâbun:8; asy-Syûra:52;al-Hajj:8; Ali-'Imrân:184 .

16. Nadzîr (äÐíÑ)

Allah menamai al-Qur'an dengan Nadzîr dalam 11 ayat di dalamnya.
Sementara Allah menamai Rasul-Nya, Muhammad dengan Nadzîr (pemberi peringatan) dalam 60 ayat, dan besar kemungkinan lebih dari itu. Lawannya adalah Basyîr (pemberi berita gembira) terdapat dalam lebih dari 50 ayat.

Kata Nadzîr dalam bahasa 'Arab berasal dari kata Indzâr yang maknanya adalah pemberitahuan dan membuat rasa takut (menakut-nakuti). Artinya juga memberikan peringatan. Tidak salah lagi, bahwa al-Qur'an adalah pembawa berita gembira dan peringatan. Ia memperingatkan dari kekufuran, kesyirikan, kemunafikan, kezhaliman, hal-hal yang melampaui batas, kecurangan, dengki. Ia memperingatkan dari melalaikan kewajiban dan melakukan perbuatan yang diharamkan. Ia memperingatkan dari kemurkaan Allah, azab dan siksaan-Nya yang pedih, berhukum kepada selain hukum-Nya, khianat, makar dan sebagainya.
Mengenai penamaan ini, diantaranya dapat dilihat pada Q.,s. al-A'râf:2; Maryam:97; al-An'âm:51,19; Ibrahim:52; an-Najm:56; al-Ahqâf:12.

17. Kalâmullah (ßáÇã Çááå)

Allah menamai al-Qur'an dengan Kalâm, Kalim dan Kalimât dalam 12 ayat di dalamnya. Sementara Qawl dan Kalam yang dinisbahkan dan ditetapkan sendiri oleh Allah untuk diri-Nya terdapat dalam lebih kurang 275 ayat.
Al-Qur'an adalah Kalâmullâh secara hakikatnya, bukan kalam (ucapan) selain-Nya. Ia mencakup huruf-huruf dan makna-maknanya, ia bukan makhluk dan bukan pula pembawa dusta, akan tetapi diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Inilah 'aqidah (keyakinan) Ahlussunnah wal Jama'ah dari dulu hingga sekarang yang merupakan keyakinan yang selamat, terbebas dari Tahrîf (mengadakan perubahan di dalamnya) dan Ta'thîl (Membatalkan maknanya sehingga tidak ada sama sekali).

Kalam bagi Allah merupakan sifat Dzâtiyyah dan Fi'liyyah. Dikatakan sifat Dzâtiyyah karena Kalam yang dalam makna kata benda adalah "bicara", berasal dari Dzat-Nya, dan dikatakan Fi'liyyah karena Kalam yang dalam makna kata kerja adalah "berbicara (ber-Kalam)" merupakan Fi'l (perbuatan) Allah.
Jadi Allah Ta'ala telah dan berfirman, telah bicara dan berbicara bila Dia menghendaki dan kapan Dia menghendaki, Tidak ditanyai tentang apa yang diperbuat-Nya sementara mereka ditanyai. Dia berbicara sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Dia berfirman, "Tiada sesuatupun yang semisalnya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Dalam hal ini, tidak boleh hukumnya bertanya tentang bagaimana Allah berbicara sebagaimana tidak boleh menyerupai Kalam Allah dengan kalam seluruh makhluk-Nya, demikian juga berpendapat pada sifat-sifat Allah yang lain; Hal yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah untuk diri-Nya atau ditetapkan untuk-Nya oleh Rasul-Nya yang berupa sifat-sifat yang Agung dan sesuai dengan keagungan dan 'izzah-Nya, maka kita wajib menetapkan demikian tanpa Tahrîf, Ta'thîl, Takyîf (mengadaptasikannya),Tamtsîl (menyerupakan) nya dengan makhluk.

Tidak boleh melakukan Ta`wîl karena ia akan menyebabkan Ta'thîl dan tidak boleh melakukan Takyîf karena ia dapat menyebabkan Tamtsîl. Jadi, tidak boleh berlebih-lebihan dan tidak boleh pula kaku dan jumud.

Kaum al-Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk) bersikap over dan sangat berlebih-lebihan serta melampaui batas sehingga ketika menetapkan Kalam Allah, mereka berkata "Kalamullah adalah seperti kalam (ucapan) makhluk-Nya."

Sementara kaum al-Mu'aththilah (yang membatalkan atau meniadakan sifat kalam) seperti Mu'tazilah, justeru bersikap sebaliknya. Mereka amat kaku dan jumud sehingga mereka berkata, 'Allah tidak berbicara dan al-Qur'an adalah makhluk.' Sementara kaum Asyâ'irah (pengikut Abul Hasan al-Asy'ari. Sementara Abul Hasan sendiri di akhir hayatnya kembali ke 'Aqidah Salaf sebagaimana di dalam bukunya "al-Ibânah") mengatakan "al-Qur'an adalah ungkapan dari Kalamullah. Adapun kaum al-Kullabiyyah (pengikut 'Abdullah bin Sa'id bin Kullab) berkata, "al-Qur'an adalah hikayat dari Kalamullah…Tentu saja semua perkataan seperti itu tidak benar dan batil.

Karenanya, Wajib menetapkannya karena Allah telah menetapkannya dan karena ia adalah sifat kesempurnaan Allah.
Untuk menegaskan hal itu, penamaan al-Qur'an dengan Kalamullah dapat dilihat pada: Q.s.,at-Tawbah:6 ; Yûnus:82 ; al-Baqarah:75 ; al-An'âm:34,115 ; asy-Syûra:24 ; al-Kahf:27.

18. Qawl (Þæá)

Allah menamai al-Qur'an dan memberinya sifat sebagai Qawl (perkataan/ucapan) dan Qîl (perkataan yang diucapkan) di dalam 15 ayat.
Al-Qur'an al-Karim adalah perkataan Rabb kita dan Sang Pencipta kita. Ia perkataannya yang sebenarnya, bukan perkataan siapa-siapa selain-Nya. Inilah 'aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah, para shahabat dan Tabi'in, yaitu mengimani dan membenarkan bahwa al-Qur'an adalah perkataan Allah dan Kalam-Nya, Allah berbicara melaluinya kapan saja Dia telah menghendaki. Barangsiapa yang tidak meyakini seperti itu atau berkata selain itu, maka perkataannya adalah dusta dan batil.

Karena al-Qur'an adalah perkataan Allah, kalam, wahyu dan tanzil-Nya maka wajib beriman kepadanya, mempelajari, memahami, dan merenunginya. Kaum Muslimin wajib memberikan perhatian khusus terhadap Kitabullah yang merupakan sebab kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat kelak. Ia adalah sumber pertama di dalam syari'at, hukum-hukum dan peraturan mereka.

Diantara penamaannya dengan Qawl dapat dilihat pada: Q.s., Fushshilat:43 ; al-Mu`minûn:68 ; al-Qashash:51 ; an-Nisâ`:122 ; az-Zumar:18 ; al-Hâqqah:40 ; at-Takwîr:19.

19. Qawl Tsaqîl (Þæá ËÞíá)

Allah menamai al-Qur'an dengan Qawl Tsaqîl (perkataan yang berat) hanya dalam satu ayat saja. Dikatakan berat, karena di dalamnya terdapat pengagungan,keindahan, kewajiban, batasan-batasan, larangan-larangan, perintah-perintah, ancaman-ancaman serta limpahan beban yang besar yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa, yang melakukan hal itu dengan sesempurnanya disertai rasa gembira dan ketenangan hati. Itu merupakan anugerah Allah yang diberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dikatakan demikian, juga karena Rasulullah mengalami hal yang sangat berat ketika turunnya wahyu. Dalam hal ini, 'Aisyah radliyallâhu 'anha bercerita, "Sungguh aku telah melihat wahyu turun kepadanya pada suasana hari yang teramat dingin…"

Apa yang dikatakan berat ini nampaknya -wallahu a'lam- merupakan berat dalam arti yang sebenarnya. Indikasinya, bahwa onta Rasulullah terduduk ketika wahyu turun saat beliau Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam berada diatasnya. Demikian pula, ketika diwahyukan kepada beliau; pahanya yang diatas paha Zaid bin Tsabit seakan meremukkan paha Zaid.

Al-Qur'an berat artinya penuh dengan kemuliaan dan keagungan karena di dalamnya terdapat makna-makna yang agung, rahasia-rahasia yang menawan, hikmah-hikmah dan hukum-hukum, janji dan ancaman serta berita gembira dan berita yang menakutkan, perintah-perintah dan larangan-larangan, kewajiban dan batasan-batasan dan hal lainnya yang dikandung oleh al-Qur'an. Hal itu semua demi kepentingan seluruh umat manusia baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Satu ayat disebutkan diatas sebagai penamaan al-Qur'an dengan Qawl Tsaqîl terdapat pada surat al-Muzzammil, ayat 5

20. Qawl Fashl (Þæá ÝÕá)

Allah Ta'ala menamainya dengan Qawl Fashl (perkataan pemutus/pemisah) dalam satu ayat saja. Maknanya, bahwa al-Qur'an al-Karim merupakan fashl (pemutus/pemisah) antara al-Haq dan al-Bathil sebagaimana ia membedakan antara keduanya saat Allah Ta'ala menamainya Furqân.
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa al-Qur'an membedakan antara tauhid dan kesyirikan, keadilan dan kezhaliman serta kebenaran dan kebohongan.

Secara umum, al-Qur'an al-Karim adalah pemisah/pemutus antara al-Haq dan al-Bathil; ia menjelaskan al-Haq, mengajak kepadanya dan mensugestinya; ia menjelaskan al-Bathil, melarang dan memperingatkan darinya. Al-Haq amat berhak untuk diikuti dan tentunya tidak ada setelah adanya al-Haq selain al-Bathil alias yang ada hanya al-Bathil bila al-Haq lenyap.

Satu ayat yang dinamai dengan Qawl Fashl tersebut adalah surat ath-Thâriq ayat 13 . Di dalamnya menunjukkan bahwa al-Qur'an adalah Kalamullah; huruf-huruf dan makna-maknanya.
burung
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 12
Joined: Thu May 08, 2008 11:38 am
Location: Kalimantan

Postby fantioz » Wed May 14, 2008 2:52 pm

Satu ayat yang dinamai dengan Qawl Fashl tersebut adalah surat ath-Thâriq ayat 13 . Di dalamnya menunjukkan bahwa al-Qur'an adalah Kalamullah; huruf-huruf dan makna-maknanya.


Kalam Nafs apa kalam lafadz?
fantioz
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 1
Joined: Mon Dec 31, 2007 2:14 pm
Location: Surabaya

Postby HILLMAN » Wed May 14, 2008 4:27 pm

Untuk memperjelas pembaca yang mengikuti thread ini, saya coba memberikan contoh tentang kata yang seharusnya ada apabila kata shabiin yang berubah menjadi shobiuuna, dimana saya dan mas Ibra diskusikan. Sedikit dasar bahasa Arab yang insyaallah mudah di ikuti.

Saya berikan contoh kata nu'minu berubah jadi nu'mina.

نؤمنُ لك - nu'minu laka : kami beriman kepada mu

لن نؤمنَ لك lan nu'mina laka: kami tidak akan pernah beriman kepada mu.


Kata kerja nu'minu yang berkatagori Rofa' berubah menjad Nashob yaitu nu'mina, disebabkan adanya kata لن lan .

Cukup jelas bukan?

Saya coba contohkan satu kata lagi yang ada di Surat Al-Baqarah ayat 120.

تتبعُ ملتهم - tattabi'u millatahum : kamu mengikuti millah mereka.

حتى تتبعَ ملتهم hatta tattabi'a millatahum : sampai kamu mengikuti millah mereka

Perhatikan bahwa karena ada حتى hatta, kata tatabi'u {Rofa') berubah menjadi tattabi'a (Nashob).

Demikian contoh-contoh yang dapat saya berikan.

Insyaallah bermanfaat.

Wassalam.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby HILLMAN » Fri May 16, 2008 1:49 pm

ibra wrote:
Bottom line nya (sekali lagi).
Pada Ayat Al Baqoroh, rujukan Shobiina merujuk sesuatu yang sudah fix/stokastik. Dengan kisah salman Al farisi, merujuk pada golongan yang TELAH lampau, sehingga dzomir Alladzinya (barang siapa) dibuang . Kenapa membutuhkan "barang siapa/dzomir" kalau sudah jelas. Karena itu posisi shobiina bergeser dari rofa' menjadi nasob.

Sementara pada ayat Al Maidah, k3-3 nya memakai rule inna biasa tansibul isma watarfaul khobar karena itu semua di baca rofa'. Karena merujuk pada golongan yang PADA SAAT AYAT ITU TURUN, MEREKA MASIH ADA, artinya golongan SHOBIUNA (orang yang islam namun belum kaffah) itu akan bisa berderajat/berubah menjadi golongan lain. kan masih hidup! Jadi golongan ini bisa jadi yahudi, bisa jadi Nasrani atau bisa jadi Islam dengan kaffah. Makannya digunakan Alladzi. Implikasinya karena ada alladzi, maka dia bergeser ke belakang sebagai Khobarnya Inna dengan i'rob yang melekat rofa. That's way it so called I'robul Qur'an dimana kita meng i'robi Qur'an (based on Nahwu, balaghoh) namun dengan konteks asbabun nuzul.



Saya mencoba menjelaskan makna kata dzomir yang sering kami bahas. Karena kelihatannya mas Ibra sudah tidak berminat, sebagai penutup saya menjelaskan makna dari dzomir ini.

Dzomir adalah kata ganti, dalam hal ini saya menggunakan Surah Al Hajj ayat 17, sebagai berikut :

الَّذِينَ آمَنُوا allatheena amanoo = orang-orang beriman, penggunaan kata "allatheena" pada kata ini karena "siapa saja yang beriman" belum diketahui. Sehingga kata "allatheena / barang siapa" ini mengubah amanaa menjadi amanoo.

وَالَّذِينَ هَادُوا waallatheena hadoo = orang-orang yang berpegang pada Taurat, penggunaan kata "allatheena" karena ada orang Yahudi yang masih berpegang pada Taurat dan ada yang Nasrani. Sehingga kata "allatheena / barang siapa" ini mengubah hadaa menjadi hadoo.

Sedangkan kata


وَالصَّابِئِين
waalssabieena = orang Shabiin, tidak menggunakan kata "allatheena" karena sudah jelas person nya.

Demikian juga dengan


وَالنَّصَارَى
waalnnasara = orang Nasani, tidak menggunakan kata "allatheena" karena sudah jelas person nya.

Seperti halnya dengan

وَالْمَجُوسَ waalmajoosa = orang Majusi, tidak menggunakan kata "allatheena" karena sudah jelas person nya.

Kembali apabila personnya bisa siapa saja, maka kata "allatheena" akan dipergunakan seperti dalam kata

وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا waallatheena ashrakoo = orang musyrik, bisa siapa saja.

Dengan demikian penjelasan mas Ibra yang saya beri warna, mengakibatkan orang Nasrani pun masuk kedalam katagori yang mas Ibra maksudkan. Dan maaf saya katakan penjelasan anda keliru menurut nahwu dan shorof.

Insyaalah jelas.

Wassalam.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby ibra » Mon May 19, 2008 1:26 pm

Salam..

Waduh, maaf saya idak mengupdate tret ini dengan baik. Karena prinsip saya, lahan da'wah orang lain biar menjadi ladang yang bisa dimaksimalkan, jadi ketika sudah ada yang lain menghandle, saya coba mundur teratur.

Maaf mas, saya telah membaca dan berulang ulang kali berusaha memahami (maaf) "excuses" dalam bentuk asbabun nuzul mengenai ayat dalam Surah Al Baqarah 62 dan Surah Al Maedah 69, saya tidak menemukan jawaban mengenai kata shabiin ini.

Wah saya cukup prihatin kalau begitu. Sebenarnya permasalahannya sudah jelas, bukan? Coba kita cermati (sekali lagi) Apakah sama orang yang dimaksud dengan shobiun/in tadi? KALAU SAMPAI SAMA, BERARTI AL QUR'AN MEMANG SALAH.
dan sekali lagi Al Qur'an memang tidak pernah salah, karena maksud golongan yang disebut sebagai shobiin tadi berbeda untuk kedua ayat.

Agak sedikit fatal kesalahan anda.
Innalladzi na amaanu walladzina haadu wannashoro...
wannashoro, bukan berarti tidak diberi alladzi karena sudah jelas person-karena dia sebagai atof dari haadu sehingga bertindak sama dengan hadu. dan karena hadu bertindak sebagai rofa'nya inna, nasoro juga bertindak sebagai rofaknya inna..(tentu anda tidak akan bertanya elementer "kenapa tidak annasoruu.." biar sama dengan hadu?), karena annasoro adalah isim ghoiru munsorif.

Dan dalam konteks ini annasoro JUSTRU masih mengandung alladzi, karena kalau tidak dia akan bertindak sebagai nasab. nasoro dan hadu sama-sama bertindak sebagai silahnya isim mausul alladzi. dimana nasara menjadi atof di sini. jadi bukan penjelasannya bukan karena jelas/tidaknya person.

Sekali lagi kenapa shobiina pada ayat awal, karena orangnya sudah tertentu sehingga tidak butuh alladzi..karena sudah jelas.

wallahu alam
ibra
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 593
Joined: Sat Mar 22, 2008 9:08 am

Postby Erman S » Tue May 20, 2008 8:05 pm

Tulisan Al Quran dr Arab gundul ke kriting,sudah 3X berubah.
Erman S
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 20
Joined: Mon May 19, 2008 10:58 am

PreviousNext

Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users