. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

KESALAHAN FATAL TATA BAHASA ARAB DALAM AL QURAN

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Postby Yehuda » Sat Feb 16, 2008 5:07 pm

Buseeet, jauh-jauh amat, surat al-fatihah aja mereka masih bingung dari Allah atau dari muhammad...
User avatar
Yehuda
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3047
Joined: Fri Jan 18, 2008 8:07 pm
Location: Depok

Postby HILLMAN » Mon Feb 25, 2008 12:17 am

Surah Fussilat Ayat 11


ثُمَّ
اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ
اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ


Thumma
istawa ila alssamai wahiya dukhanun faqala laha walilardi
itiya tawAAan aw karhan qalata atayna taiAAeena

= Then He directed Himself to the heaven and it is a vapor, so He said to it and to the earth: Come both, willingly or unwillingly. They both said: We come willingly.

= Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".


PERHATIKAN 3 KATA DIBAWAH INI


السَّمَاءِ


Alssamai

= heaven

= langit



وَلِلْأَرْضِ


walilardi

= and earth

= dan bumi


قَالَتَا


qalata

= they said

= keduanya menjawab / berkata



PEMBAHASAN

Dalam tatabahasa Arab, kata-kata “langit” dan “bumi” adalah isim (kata benda) berkatagori feminine dan jamak ganda, yang sudah secara benar berkaitan dengan Fi’il (kata kerja) dalam bentuk قَالَتَا “qalata”


TETAPI PERHATIKAN KATA


طَائِعِينَ


taiAAeena

= willingly

= suka hati


Bentuk kata طَائِعِينَ ini adalah kata sifat (adjectives) yang digunakan bagi isim (kata benda) berkatagori maskulin dan jamak (plural), sedangkan “langit” dan “bumi” adalah feminin dan jamak ganda.



KESIMPULAN

Jadi kata طَائِعِينَ , taiAAeena (dibaca ta'e'een) adalah salah secara tatabahasa Arab, dan yang seharusnya tertulis secara benar adalah:


طَايـأثــئـينَ


taiAAataeena dibaca ta'e'atain

yang merupakan kata sifat (adjectives) untuk isim (kata benda) katagori feminin dan jamak ganda, sesuai aturan tatabahasa Arab.

Insyaallah bermanfaat

Wassalam
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby samsul » Mon Feb 25, 2008 2:56 am

Kalo yg ini baru jelas salah...
(Injil - 2 Samuel 24: 1) atau "setan membujuk Daud ....." (Injil - 1 Tawarikh 21: 1).
(b) 700 atau 7000?
******************
Kuliah agama Kristen dihapus.
FFI BUKAN FORUM KRISTEN!!
Forum Admin.
samsul
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 16
Joined: Tue Jan 01, 2008 9:59 am

Postby HILLMAN » Mon Feb 25, 2008 6:09 pm

Jangan putus asa mas :)

Itu semua tulisan kesaksian manusia bukan? Ada yang bernama Lukas, Matius, Yohanes dan lain-lain. Manusia tempatnya salah bukan? :)

Bagaimana alquran, anda meyakini buatan Alloh?


Wassalam
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby Sartono SJ » Wed Feb 27, 2008 12:10 am

Mendingan ngolok-ngolok islam aja atau menghujat islam, atau sumpah-serapah dan seterusnya, tapi kalo mau agak akademis sedikit, mohon dipersiapkan punya disiplin ilmunya, seperti menguasi ilmu Nahwu, Shorof, Mantiq, Balaghoh, dengan argumen seperti sdr. Hillman bukannya orang islam jadi ragu, tapi malah menertawakannya, karena kelihatan anda tidak menguasai tata bahasa arab bahkan permasalahannya. mending pake bahasa kasar aja deh, karena sampeyan lebih menghayati dan lebih pakar. gak usah masuk wilayah akademis, malu mas.
Sartono SJ
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 3
Joined: Thu Feb 07, 2008 10:22 am

Postby Mbah » Wed Feb 27, 2008 12:41 am

Maaf, tapi ini menandakan anda tdk mampu membantah argumen Hillman dan mulai melakukan ad Hominem, kalau anda memang merasa Hillman tdk menguasai tata bahasa Arab, seharusnya anda dapat dgn mudah membantah argumen-nya, tetapi nyatanya anda tdk memberi faedah apapun
User avatar
Mbah
Translator
 
Posts: 27
Joined: Tue Dec 11, 2007 12:40 pm

Postby HILLMAN » Wed Feb 27, 2008 10:11 am

Sartono SJ wrote:Mendingan ngolok-ngolok islam aja atau menghujat islam, atau sumpah-serapah dan seterusnya, tapi kalo mau agak akademis sedikit, mohon dipersiapkan punya disiplin ilmunya, seperti menguasi ilmu Nahwu, Shorof, Mantiq, Balaghoh, dengan argumen seperti sdr. Hillman bukannya orang islam jadi ragu, tapi malah menertawakannya, karena kelihatan anda tidak menguasai tata bahasa arab bahkan permasalahannya. mending pake bahasa kasar aja deh, karena sampeyan lebih menghayati dan lebih pakar. gak usah masuk wilayah akademis, malu mas.


Terima kasih mas Sartono, saya menunggu petunjuk dan pelajaran dari mas yang dapat membuat saya yang **** ini menjadi pintar. :)

Monggo mas. :)

Wassalam
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby osho » Wed Feb 27, 2008 12:39 pm

HILLMAN wrote:= Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".


Dia siapa.. berada dimana.. di langit atau dibumi..?
setelah Dia menuju di langit berarti udah di langit .. bertamu dengan yang namanya langit... kenapa memerintah langit datang lagi...?
User avatar
osho
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Postby HILLMAN » Wed Feb 27, 2008 1:28 pm

pinginkaya wrote:
HILLMAN wrote:= Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".


Dia siapa.. berada dimana.. di langit atau dibumi..?
setelah Dia menuju di langit berarti udah di langit .. bertamu dengan yang namanya langit... kenapa memerintah langit datang lagi...?


Mas pinginkaya, berdasarkan arti kata "Dia" adalah "Allah", berada diluar langit dan bumi, karena "langit" dan "bumi" di gambarkan sebagai 2 sosok.

Personifikasi 2 sosk inilah yang menjadi katagori isim ganda.

Insyaallah jelas.

Wassallam
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby osho » Wed Feb 27, 2008 2:19 pm

ya udah jelas...

hanya cerita dongeng....
User avatar
osho
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Postby HILLMAN » Sat Mar 01, 2008 1:57 pm

Oleh-oleh jalan ke situs www.myquran.org mengenai topik ini.

Ingat browsing kesini pakai proxy ya. Dan baca saja tidak perlu ikut, lucu sekali komentar-komentarnya :)

http://myquran.org/forum/index.php/topic,34641.0.html

Kalau mau hal akhir, lebih lucu :) kesini

http://myquran.org/forum/index.php?PHPS ... =34641.195

Btw. thanks for Mr. Teddy.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby HILLMAN » Fri Mar 07, 2008 2:50 pm

Jawaban saya yang terakhir di myquran.org dan saat ini saya di BANNED tidak dapat login, lucu... :)



abie1102 wrote:
Kalau dusta itu mbok yo ojo nemen-nemen (jangan terlalu) ...

Saya udah cek ke searchtruth.com

ﺫ itu tranliterasi inggrisnya nya adalah dh (dhāl) atau zal

silahkan cek ke http://searchtruth.com/arabic/lessons/unit1_writing.php


Apakah huruf ي sama dengan huruf ??
Lebih teliti dalam mencari, dan jangan main-main seperti yang anda anjurkan untuk lynxluna, mas abie1102 :)

Mengenai dusta, siapakah yang berdusta saat ini?

abie1102 wrote:
Kesalahan susunan dan tata bahasa!!

Ini benar benar suatu pernyataan (tanpa bukti) yang sangat aneh.

Bagian besar tata bahasa arab justru ditemukan dalam alquran dan tidak pernah dicatat hingga ratusan tahun setelah quran diturunkan. Bahasa arab klasik menjadi suatu bahasa yang bisa kita perbincangkan itu karena mempunyai tata bahasa tetap dari alquran. Kamus kamus dan buku tata bahasa pertama kali ditulis untuk memelihara bahasa alquran dan hadist dari perubahan bahasa arab yang terjadi akibat pertumbuhan pesat dari kekhalifahan islam ke dalam populasi baru yang terbentang dari pakistan hingga portugal. Buku tata bahasa arab menggunakan kutipan dari quran sebagaimana ini membuktikan lebih dari 500 kaidah tata bahasa.

Satu lagi yang aneh bahwa tuduhan ini datang dari orang kristen. Alasannya, perjanjian baru seluruhnya ditulis dalam bentuk bahasa yunani slang, koine greek, bahasa yunani pasaran/biasa. Dan itu merupakan suatu bentuk bahasa yang buruk dari dari bahasa yunani klasik yang sedikit sekali memperhatikan kaidah tata bahasa.

Saya ingin coba menjawab dari tiga sisi, logika, tata bahasa, balaghah, dan saya kutipkan maknanya dari para penafsir.


Perhatikan kalimat yang saya warnai, terutama huruf yang saya besarkan.
Dan bandingkan dengan tulisan anda sendiri dibawah ini:


abie1102 wrote:1. Logika

Suatu bahasa telah diucapkan jauh sebelum tata bahasa (grammar)-nya diciptakan. Bahasa Inggris jauh telah digunakan untuk berbicara sebelum seseorang duduk dan menetapkan aturan english grammar. English grammar memang telah ditetapkan tapi jauh setelah bahasa inggris digunakan untuk berkomunikasi.

Ambil contoh lain adalah bahasa yunani. Kita semua tahu, bahwa yunani adalah bahasa yang sangat tua. Namun baru abad ke 2 SM, Dionysius Thrax baru membuat buku tata bahasa (grammar)nya. Itupun masih terbatas pada bentuk kata saja. Karyanya ini adalah suatu karya yang sistematis pertama dalam sejarah barat. Sebelum abad 2 M, barulah Apollonius Dyscolus melakukan study terhadap sintaksis ('nahwu') bahasa yunani, dan saat itulah Dionysius Thrax mentapkan tata bahsa yunani. Dan penetapan itu berdasarkan poet dan penulis-penulis yunani.



Dari mana kesimpulan anda yunani bahasa yang buruk? Apakah pernah saya mengatakan bahasa Arab adalah bahasa yang buruk? Kita tidak pantas berkata seperti itu. Paham?

Bahasa yunani sudah membuat buku tata bahasa pada abad 2 M. , berapa abad sebelum Alquran turun? Apakah anda mempelajari penyebaran bahasa dan alphabet?

Sekarang perhatikan tulisan anda atau “copas” anda dibawah ini:

abie1102 wrote:
Bagaimana dengan arab?

Ada dua sumber utama dari tata bahasa arab yaitu quran dan sajak/puisi islam maupun pra islam. As-Sibawayh, Az- Zamakhsariy, Ibn Hisyam, Malik, Al-Akhfasy, Al-Kasai, Al-Farazdaq, Al-Farra', Khalil, Al-Farahidi adalah para pakar tata bahasa arab yang kita kenal dan mereka mengakui Quran sebagai sumber tata bahasa.

Bagaimana bisa quran bisa didakwa memiliki kesalahan tata bahasa padahal quran sendiri adalah sumber penetapan tata bahasa??

Gimana logikanya, kita menyalahkan mistar karena menurut kita salah ukuran?


Ini yang disampaikan Dr. Zakir naik dalam video debat versus William Campbell ketika menjawab pertanyaan audiens berkaitan dengan tata bahasa arab.



Dengan tulisan anda berarti tatabahasa sudah ada sebelum Alquran turun, yaitu bentuk-bentuk sastra Arab masa pra Islam. Benar bukan?

Suatu pola pikir yang berputar-putar.
Jadi yang mana ada terlebih dulu mistarnya atau ukurannya?

Bagaimana pendapat saya sebagai berikut:

Karena ada “ukuran” maka dibuat mistar, bukan sebaliknya karena dibuat mistar, jadi kita harus mengukur.
:)

abie1102 wrote:2. Tata bahasa

Dari sudut tata bahasa, 'kesalahan tata bahasa' (menurut Hilman, yang dicopy paste dari tulisan Newton Faith Freedom) bukan sama sekali tidak bisa dijelaskan.

Sangat aneh bila Hilman (atau bahkan newton) yang 'ahli' tata bahasa arab melewatkan penjelasan para pakar tata bahasa arab mengenai ayat ini dalam kitab-kitab mereka.

Menurut Sibawaih dan Al-Khalil, Sabi'uuna ialah mubtada. Ini adalah salah satu kasus ’adhf dan sering dijumpai di bahasa Arab. Bagian kalimat itu menunjukkan maksud kadzaalika (juga). Karenanya, kalimat itu maksudnya
"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, dan juga Shabiin dan orang-orang Nasrani, ..."

Abu Jafar Al-Nahhas dalam A'raab al-Qur'an juga menyatakan serupa bahwa maksud dari Al maidah:69 adalah:

Innal-ladziina 'aamanuu wal-ladziina haaduu man 'aamana bilaahi MIN-HUM wal-Yaumil-'Aakhiri wa 'amila saali-han falahum ajruhum ... was-Shaabi'uuna wan-Nasaaraa KADZAALIK.

(Ditulis kapital dengan cetak tebal warna biru untuk menjelaskan maksudnya)

Terjemahan depag rupanya merujuk pada penjelasan ini.

Menurut Al-Farra', pada kalimat ini, fungsi Inna menjadi "lemah" karena sebab di antara yang saya sebutkan: efek Inna muncul hanya pada beberapa isim. Di kasus ini, kata al-ladziina hanya mempunyai satu bentuk pada semua kasus gramatikal. Contoh lain diambil dari bahasa Arab:
"Inna haa'ulaa'i wa ikhwatuka yukrimuunanaa."
(orang orang ini dan saudaramu berbaik hati pada kami).


Kata haa'ulaa'i tak berubah ubah. Dengan begitu, kita bisa mengatakan ikhwatuka atau ikhwatika dan keduanya benar. Bila kita menggunakan ikhwatuka, maka maksudnya adalah ’orang orang ini dan juga saudaramu berbaik hati pada kami'

Tambahan:

إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا

Inna tanshibull Asma wa tarfa'ul khabar, إِنَّ itu tugasnya menasbkan isim me-raf'a kan khabar .

الَّذِينَ Alladziina Isimnya إِنَّ
آمَنُواْ jumlah ( fi'il fa'il ) menjadi khabar inna إِنَّ .

Sampai disini kalimat sudah sempurna dan إِنَّ sudah tidak berpengaruh lagi , lantaran kalimat sudah sempurna sampai آمَنُواْ

وَالصَّابِئُونَ = وَ ( waw ) nya waw isti'naf yang menjadi awal kalimat , dikarenakan ada waw الصَّابِئُونَ ( As Shaabi'uuna ) menjadi mubtada.


Abu Ubaidah yang menulis dan menjelaskan kata demi kata Al Qur’an yang dilihat dari segi majaz, kinayah serta keindahan struktur kalimat Al Qur’an dalam kitab yang diberi judul Majazul Qur’an, menjelaskan:

Dari segi tata bahasa, di rafa’ kannya shabiun pada kalimat itu disebabkab orang Arab tidak membiarkan dua kata isim fa'il berdampingan sebagai khabar dari Inna menjadi mansub keduanya. Mereka (orang Arab) biasanya merafa' kata yang terakhirnya. Akibatnya, kata Inna pada kalimat itu yang berposisi sebagai mubtada’ tidak atau menjadi lemah fungsinya.

Kendati peraturan nahwu menetapkan bahwa setiap kata khabar yang mengikuti Inna menjadi mansub, tetapi jika khabar itu terdiri dari dua kata isim fail maka kata yang kedua menjadi marfu’.

Struktur kalimat pada ayat Al Maidah 69 merupakan salah satu bentuk keindahan gramatikal Al Qur’an yang mendahulu khabar dari kata Inna. Jika dilihat dalam kalimat ayat itu, frase ولا هم يحزنون sebenarnya merupakan khabar Inna yang berstatus marfu. maka والصابئون juga khabar Inna yang marfu. Dua frase itu merupakan mubtada dan khabar yang saling terikat satu sama lainnya.


Terima kasih, jawaban ini yang saya harapkan.

Perhatikan kalimat yang saya kutip dari mas abie1102 dan saya besarkan yaitu “ Inna tanshibull Asma wa tarfa'ul khabar, إِنَّ itu tugasnya menasbkan isim me-raf'a kan khabar . , sampai disini kesepakatan teori yang saya tuliskan adalah benar. Sehingga kata Shaabiina tidak boleh ditulis Shaabi'uuna.


Kemudian perhatikan kalimat yang saya kutip dari mas abie 1102 dan saya beri warna biru, yaitu:


“ Sampai disini kalimat sudah sempurna dan إِنَّ sudah tidak berpengaruh lagi , lantaran kalimat sudah sempurna sampai آمَنُواْ

وَالصَّابِئُونَ = وَ
( waw ) nya waw isti'naf yang menjadi awal kalimat , dikarenakan ada waw الصَّابِئُونَ ( As Shaabi'uuna ) menjadi mubtada. “


Benarkah demikian? Kita lihat terjemah dari kalimat yang dikatakan sudah sempurna.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ


Inna allatheena amanoo waallatheena hadoo

= Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi,

Apa yang sempurna? Ini adalah kalimat yang menggantung. Apa yang dilanjutkan dari kata sesungguhnya di awal?

Kemudian kita lanjutkan kalimatnya.


وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى

مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وعَمِلَ صَالِحًا فَلاَ خَوْفٌ

عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ


waalssabioona waalnnasara
man amana biAllahi waalyawmi alakhiri waAAamila salihan fala khawfun
AAalayhim wala hum yahzanoona

= Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Kalimat ini pun menggantung. Apakah orang mu’min dan orang Yahudi, tidak termasuk dalam keberkahan yang diberikan?


Kalimat yang sempurna adalah mencakup kedua potongan kalimat tersebut. :)


Dan sebagai penutup jawaban saya pada mas abie1102 adalah yang saya kutip dari mas sendiri yaitu “Dari segi tata bahasa, di rafa’ kannya shabiun pada kalimat itu disebabkab orang Arab tidak membiarkan dua kata isim fa'il berdampingan sebagai khabar dari Inna menjadi mansub keduanya. Mereka (orang Arab) biasanya merafa' kata yang terakhirnya.”

Bukankah kalimat tulisan mas abie1102 ini membenarkan Alquran dibuat oleh manusia, berdasarkan kebiasaan orang Arab, bukan Allah yang membuat itu. :)


Mengenai iltifat ini, mas abie menyembunyikan kalimat ini : “Para ulama menyebut iltifat sebagai salah satu dari kelompok gaya bahasa “yang bukan pada tempatnya" (khuruj 'an muqtadha al-zhahir).” Seperti yang mas copy dan paste dari sebuah situs, dibawah ini:

:)
abie1102 wrote:
3. Balaghah

Sekali lagi sangat ganjil, bila Hilman (-sekali lagi- yang mencopy paste tulisan newton) juga melewatkan penjelasan pakar tata Bahasa arab lainnya dari sisi Balaghah.

Az Zarkasyi dalam kitabnya Al Burhan, yang merupakan kitab terbesar tata bahasa arab, mendefinisikan contoh pada ayat ini (almaidah:69) sebagai ILTIFAAT. ILTIFAAT jenis ini sama dengan ILTIFAAT pada Al Baqarah:177 dan An Nisa':162 yang keduanya juga dianggap 'salah tata bahasa' oleh Hilman (-sekali lagi- mengcopy paste tulisan Newton) di situs FFI.

Iltifat artinya menoleh, berbelok atau beralih. Iltifat disini berarti membelokkan salah satu diksi kepada diksi yang lain. Umumnya diksi yang dimaksud adalah kata ganti orang baik pertama (takallum), kedua (khitab), atau ketiga (ghaib). Namun Iltifat tidak hanya terbatas itu saja, bisa mencakup tenses dan beberapa hal lainnya. Jadi, jika kita menggunakan kataganti orang ketiga, lalu tiba-tiba diganti dengan menggunakan kataganti orang kedua atau orang pertama, inilah yang disebut dengan iltifat, alias pembelokan. Karena gaya bahasa yang satu ini dianggap nyeleneh, maka para ulama menyebut iltifat sebagai salah satu dari kelompok gaya bahasa "yang bukan pada tempatnya" (khuruj 'an muqtadha al-zhahir).

Silakan ambil satu contoh:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53).

Kita bisa perhatikan, pada ayat ini dibuka dengan "seruan" dari pihak pertama (Allah swt) kepada hamba-hamba-Nya, lalu kalimat seterusnya malah mengarah pada orang ketiga.

Menurut awam, seharusnya ayat tersebut berbunyi seperti ini:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat-Ku, sesungguhnya Aku mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Itu sedikit menyinggung ILTIFAAT secara umum.

Dari sisi tata bahasa Az zarkasyi juga memberikan penjelasan yang kurang lebih sama bahwa 'shaabi'uuna' adalah marfu'.

contoh lain iltifat yang sejenis adalah Al baqarah: 177 (As Shabiriina bukan As Shobiruuna) dan An Nisa ( Wal muqiimina bukan wal muqimuuna)

Penjelasan tersebut juga diulas panjang lebar dalam tafsir al kasyaf-nya Zamakhsary, Al Itqannya As suyuthi, dan tafsir Tabari.

Bahkan Az Zamakhsary, dalam komentarnya mengenai ayat tersebut mengutip syair arab pra islam


Bagian 'anna wa antum' seharusnya 'anna waiyyakum'. Tapi kita bisa melihat suatu 'gaya bahasa' yang berbeda dari aturan. Gaya bahasa semacam ini tidak dapat dikatakan sebagai 'kesalahan tata bahasa'. Sebagaimana kita tahu tidak ada nazhim (penyair) arab yang mengkritik tata bahasa quran.



Inilah yang saya katakan “membenarkan sebuah kesalahan, dengan aturan yang dibuat terpisah dalam rangka mengakomodir kesalahan”, dan maaf itulah yang selalu dilakukan oleh ajaran Islam.


abie1102 wrote:
Makna

Shaabi'uun

Surat Al Maidah ayat 69 terutamanya kata “wa shaabi'uuna” perlu dipahami terlebuh dahulu artinya kata itu. Para pakar Ilmu Tafsir memiliki perbedaan pendapat dalam mengartikan kata itu.

Menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, kata itu menggambarkan kelompok manusia yang bukan dari kaum Yahudi sebagai pengikut ajaran Taurat maupun Nasrani yang mengikuti ajaran Injil atau pun Majusi yang menyembah api. Kelompok Shaabi'un ini tidak jelas agama mereka, bahkan patut diduga mereka tidak beragama.

Ibnu Katsir mengutip pendapat berbeda dari Qotadah yang mengatakan bahwa kelompok ini menyembah malaikat, menyembah ke arah tertentu,, mereka membaca Zabur sebagai kitab suci mereka. Sementara Ibnu Wahab mengatakan bahwa mereka hidup di wilayah Irak dan mereka yang percaya kepada Allah SWT tapi tidak sampai kepada mereka tabligh Nabi SAW karena mereka hidup pada zaman yang berbeda. Sedangkan pada riwayat yang lain disebutkan bahwa mereka tidak termasuk dalam agama Yahudi, Nasrani maupun Majuzi. Mereka tidak termasuk dalam agama-agama yang demikian. Mujahid berpendapat mereka tidak beragama.

Dalam bukunya, Abu Ubaidah cenderung mengartikan Shoiibin adalah kelompok yang sering keluar-masuk agama. Mereka sering berganti-ganti agama. Anutan mereka tidak tetap.

Shabiin

Sama dengan penjelasan di atas kata ”وَالصَّابِئِينَ “ mengandung arti kelompok umat atau entitas tersendiri, bukan Yahudi, Nasrani maupun Majusi. Maka dalam ayat di atas pun kata itu mewakili arti tersendiri yang tidak tersandar dengan lainnya. Sama halnya dengan kata هَادُوا atau والنَّصَارَى , kata وَالصَّابِئِينَ (shobiin) adalah ma’tuf (mengikuti) kata sebelumnya. Jadi, tidak ada masalah sama sekali sebab ketiga kata itu merupakan nasb dari Inna. Sedangkan kalimat selanjutnya merupakan khabar Inna. Seperti dalam kalimat Innallaha Ghofurur Rahim. Allaha merupakan Mubtada namun Nasb karena huruf Inna sedangkan Ghofurur Rohim adalah khabar Inna yang marfu.


Kesimpulan:

Adalah sangat konyol menyatakan bahwa ada 'kesalahan tata bahasa', alasannya:

1. Mustahil quran dihakimi salah tata bahasa karena quran sendiri adalah rujukan tata bahasa arab yang terbesar disamping syair-syair arab.
2. Pengkritik tampaknya tidak paham benar tata bahasa arab. Bagaimana tidak? mereka bahkan melewatkan sejumlah penjelasan pakar tata bahasa arab yang terkenal. Tidak tahu atau tidak mau tahu??Dua-duanya parah!!
3. Pengkritik tampaknya juga melewatkan beberapa aspek pemahaman quran. Padahal ada enam aspek yang disebut oleh Al Andalusy: Al Lughoh (linguistik), sharf (morfologi kata), nahu (sintaksis), balaghah, dst. Sangat parah sebagai 'ahli' bahasa arab' tidak mengetahui kasus ini digolongkan sebagai iltifaat dalam nahjul balaghah. Bahkan orientalis sekaliber J Burton dalam jurnalnya juga menyertakannya.


Referensi:

1. kutuub : al burhan, al itqan, at tabari, al kassyaf dll
2. berbagai situs internasional yang membantah langsung: islamic.org.uk, understanding-islam.com, answeringchristianity.org, islamic awareness.org, angel-fire.com
3. berbagai tulisan dalam forum dan blog: *FFI ('kong naif' dan 'dark'), ummah.com, religusta @multiply.com, dan tulisan Newton di FF, Sam Shamoun di Answering islam, dan tentunya copi pastenya Hilman di FFI.
4 buku tulisan barat, R. Paret, The Cambridge History Of Arabic Literature; 'Linguistic errors in the Qur'ān', Journal of Semitic Studies, J. Burton.
5. Tulisan bebas di situs islam: MS Abdel Halim, Khalid dan Wail Ibrahim serta video debat Dr. Zakir naik vs dr. William Campbell

NB: Last but not least, karena saya gak punya banyak waktu untuk mantengin thread ini, saya keluarin semua deh ...Kalo ada komentar dari yang lain ntar saya komentarin balik, insyaallah ...


Jawaban saya atas kesimpulan
1. Inilah yang saya maksud “memper-Tuhan-kan sesuatu selain Allah. Yang mustahil di hakimi itu hanya Allah. Paham?
2. Anda lupa atau diusahakan lupa kalau Nabi Muhammad SAW buta huruf?
3. Mengingatkan “ maka para ulama menyebut iltifat sebagai salah satu dari kelompok gaya bahasa "yang bukan pada tempatnya" (khuruj 'an muqtadha al-zhahir). bukan pada tempatnya apakah artinya sempurna?



Wassalam.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby HILLMAN » Fri Mar 07, 2008 4:16 pm

Saya lupa, bagaimana mereka yang menyebut diri MyQers, memberikan pertanyaan yang sebenarnya mereka jawab sendiri, dan terlihat bagaimana mereka sangat tergantung pada "pendapat dan opini" orang lain. Sangat disayangkan. :)

Simak dibawah ini:

[quote=" tuingtuing "]

sejak kapan Allahussomad artinya ALlah maha Kuasa?

Qul = “Katakanlahâ€
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby osho » Fri Mar 07, 2008 5:10 pm

HILLMAN wrote:Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Ash-Shomad ialah yang sempurna Keilmuan-Nya, Yang sempurna Kesantunan-Nya, Yang sempurna Keagungan-Nya, Yang sempurna Kekuasaan-Nya. Sampai akhir perkatan-Nya [2]. Ini artinya bahwa Allah Ta’ala tidak membutuhkan makhluk karena Dia Maha Sempurna. Dan juga tertera dalam tafsir bahwasanya As-Shamad ialah yang menangani semua urusan makhluk-Nya.

Perhatikan kalimat yang paling besar dan berwarna merah diatas:

As-Shamad ialah yang menangani semua urusan makhluk-Nya.

Jadi kata yang paling tepat adalah MAHA KUASA.

Sekalian menjawab post Al_Hasyim:

Al-qodir = yang berkuasa, tok…. Bukan MAHA KUASA.


Belajar lagi.

Wassalam.


Dia juga tak memerlukan makhluk yang namanya Jibril untuk menyampaikan firman-Nya kepada makhluk yang namanya Muhammad dalam mimpi-mimpinya...
karena Dia Maha Kuasa....

belajar lagi...
Wassalam...
User avatar
osho
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Postby mainaki » Sat Mar 08, 2008 10:27 am

tahu apa kalian tentang islam?
gw kasih tahu nih yah!
kalian nggak bakalan bisa mempelajari islam? selagi kalian nggak bisa mengimaninya!

makanya kalian kalau debat agama jarang menang!

sebenarnya kitab kalian yang sudah di ganti ?
apa al-qur'an memang buatan manusia?

kalian terlalu banyak omong! tanpa baca-baca dulu sejarahnya!

mudah-mudahan kalian diberi hidayah ..
supaya bisa mengenal islam!


************************************************************
mainaki
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 3
Joined: Mon Mar 03, 2008 7:29 pm

Postby osho » Sat Mar 08, 2008 11:46 am

mainaki wrote:apa al-qur'an memang buatan manusia?


kalau bukan buatan manusia..
Alquran itu buatan mana...?
User avatar
osho
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Postby audy_valentine » Sat Mar 08, 2008 1:47 pm

alquran di jatohin dari surga ke kepala nya Muhammad... makanya abis dapet quran Muhammad jadi rada2 sinting

(ya semua kitab dibikin manusia lah... cuman ada kitab yg dibikin manusia YG DIBIMBING DAN DISURUH TUHAN dan ada yg dibikin oleh manusia yg ngaku2 Tuhan)
User avatar
audy_valentine
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2672
Joined: Sun Feb 17, 2008 2:51 am
Location: wherever I live

Postby nasigoreng » Sat Mar 08, 2008 5:00 pm

Mainaki wrote :

tahu apa kalian tentang islam?
gw kasih tahu nih yah!
kalian nggak bakalan bisa mempelajari islam? selagi kalian nggak bisa mengimaninya!


gimana orang kapir bisa mengimaninya? kalo ga di pelajari terlebih dahulu? setelah di pelajari ga ada keunggulan, buat apa?

mainaki wrote :

makanya kalian kalau debat agama jarang menang!


tergantung..debat di mana nih? debat di indo mah cape.. calon di gorok pulang nya..sapa yang maw? :D
gini kok bisa di bilang menang...

mainaki wrote :

sebenarnya kitab kalian yang sudah di ganti ?
apa al-qur'an memang buatan manusia?


sebener nya sudah banyak permintaan kami dari kafir2 ini yang bilang, tunjukin dulu kitab asli kami baru kami dapat bilang palsu kitab di rumah kami..

mainaki wrote :
kalian terlalu banyak omong! tanpa baca-baca dulu sejarahnya!

mudah-mudahan kalian diberi hidayah ..
supaya bisa mengenal islam!


sapa yang ngasi hidayah? Tuhan palsu gitu kok...


Tapek deh :D :D :D
User avatar
nasigoreng
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 247
Joined: Mon Jul 23, 2007 7:57 pm

Postby willie » Thu Mar 13, 2008 11:24 am

Boleh minta penegasan gak?

Sebenarnya aturan tata bahasa arab yang katanya indah itu ada sebelum atau sesudah Islam sih?
- Kalau sebelum Islam, bukankah zaman pra Islam adalah era jahil dan **** menurut Islam? Lalu mengapa allah swt harus tunduk dan mengikuti aturan gramatika yg dibikin orang2 jahil dan ****?
- Kalau sesudah Islam, bukankah aturan2 gramatika yg dibuat hanyalah adaptasi dari Quran agar keliatan bener?

Gimana dong?
User avatar
willie
Translator
 
Posts: 638
Joined: Tue Jan 30, 2007 1:39 pm

Postby murtad mama » Fri Mar 14, 2008 11:31 am

willie wrote:Boleh minta penegasan gak?

Sebenarnya aturan tata bahasa arab yang katanya indah itu ada sebelum atau sesudah Islam sih?
- Kalau sebelum Islam, bukankah zaman pra Islam adalah era jahil dan **** menurut Islam? Lalu mengapa allah swt harus tunduk dan mengikuti aturan gramatika yg dibikin orang2 jahil dan ****?
- Kalau sesudah Islam, bukankah aturan2 gramatika yg dibuat hanyalah adaptasi dari Quran agar keliatan bener?

Gimana dong?


mau penegasan bahwa qouran itu banyak error dri segi grammaticalnya??

mama punya linknya

sila didengar


Qouran error -1-


Qouran error -2-


Seru banget loh itu semuanya ulasan dari El Qamush Zakariya Boutros (Bishop Zakariya Boutros) :lol:

taukan kalian siapa Zakariya Boutros??!! itu loh Uskup coptic yang mau diincar oleh muslim kaffah gara2 mengkritik Islam :lol:


pssst .... mama dapat emailnya loh :wink:
User avatar
murtad mama
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4284
Joined: Tue Feb 06, 2007 7:16 pm
Location: Jl veteran 48 Kota Bekasi 17141 Jawa Barat <==== Alamat VOA-Islam :) :) :)

PreviousNext

Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users