. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Kesaksian Ali SINA

SAMBUTAN, PENJELASAN, artikel dan debat dari PENDIRI SITUS; ALI SINA. Artikel2 A Sina lainnya masih bisa ditemukan dalam Ruang REFERENSI sesuai dgn topiknya.

Kesaksian Ali SINA

Postby pod-rock » Sun Aug 10, 2008 6:59 am

Kesaksian Ali Sina

Dari buku Kumpulan kesaksian para Murtadin:
WHY WE LEFT ISLAM
(Kenapa kami meninggalkan islam)
http://www.nydailynews.com/gossip/2008/ ... wrath.html
http://www.prweb.com/releases/2008/04/prweb885574.htm

Image

Saya lahir dari keluarga yang cukup religius. Dari pihak Ibu malah punya kerabat yang jadi Ayatollah. Meski kakek (yang tak pernah kulihat) agak sedikit skeptis, tapi kami semua orang percaya. Orang tuaku tidak begitu suka pada para mullah. Malah, kami jarang gaul dengan kerabat2 yang fundamentalis. Kami suka berpikir bahwa keluarga kamilah yg “Islam sejati,” bukan yang diajarkan dan dipraktekan oleh para mullah.

Saya ingat waktu diskusi agama dengan suami bibi saya, umur saya baru 15 tahun. Dia muslim fanatik yang sangat peduli akan Hukum Islam. Hukum ini mengatur bagaimana muslim menjalankan hidupnya, sholat, puasa, serta kehidupan umum dan pribadinya sehari-hari, berbisnis, membersihkan diri, memakai WC bahkan bersetubuh sekalipun. Saya mendebat bahwa semua itu tidak ada hubungannya dengan “Islam Sejati”, bahwa itu semua Cuma karangan para mullah belaka, perhatian yang berlebihan terhadap fiqh menghilangkan akibat dan kepentingan dari pesan2 murni Islam – yaitu utk menyatukan umat manusia dengan penciptanya.. Pandangan ini kebanyakan diilhami oleh Sufisme. Banyak orang Iran, berkat puisi2 nya Rumi, sangat suka akan sufisme hingga tingkat tertentu.

Pada masa muda saya, saya memperhtaikan diskriminasi dan kekejian terhadap pengikut agama minoritas di Iran. Ini lebih terlihat lagi dikota kecil dimana tingkat pendidikannya rendah dan para Mullah lebih berkuasa atas orang2 yang mudah dibohongi ini. Karena Pekerjaan ayah saya, kami tinggal beberapa tahun dikota kecil, jauh dari ibu kota. Saya ingat salah seorang guru renang, dimana kami sangat senang sekali dan menunggu-nunggu pelajaran renang ini, melarang dua orang anak (mereka Baha’i dan Yahudi). Sang guru melarang mereka berenang bersama-sama kami, katanya mereka dilarang berenang dikolam yang sama dengan para muslim. Saya tidak akan pernah lupa roman muka kecewa dua anak itu ketika dilarang berenang, ketika mereka pulang dengan menangis, pasrah dan sakit hati. Diumur sekian itu, mungkin 9 atau 10 tahun, saya tidak mengerti dan ikut sedih atas ketidak adilan ini. Dulu itu saya pikir salah anak itu sendiri kenapa ngga jadi muslim.

Saya beruntung punya orang tua yang pikirannya agak terbuka, yang mengajarkan saya utk berpikir kritis. Mereka mengajarkan dan menanamkan rasa cinta Tuhan dan UtusanNya, tapi sambil tetap mempertahankan nilai2 kemanusiaan seperti kesetaraan hak antara lelaki perempuan, dan cinta bagi seluruh umat manusia. Intinya, demikianlah keluarga2 modern Iran diajarkan, mayoritas muslim berpendidikan percaya bahwa Islam adalah agama manusiawi yang menghargai HAM, yang mengangkat status wanita dan membela Hak2 mereka. Kebanyakan muslim percaya bahwa islam artinya damai. Tak perlu dikatakan, sedikit sekali dari mereka yang membaca dan mengerti Quran.

Saya menghabiskan masa muda saya dalam mimpi2 manis ini, membela “Islam Sejati” seperti yang saya pikir sudah seharusnya saya lakukan, dan mengkritik para Mullah serta penyimpangan2 mereka dari ajaran asli Islam. Saya mengidealisasikan islam yang sesuai dengan nilai2 kemanusiaan yang saya bentuk. Tentu saja Islam khayalan saya adalah islam yang indah. Sebuah agama yang damai dan menyetarakan seluruh umat manusia. Sebuah agama yang mendorong para pengikutnya utk mengejar ilmu pengetahuan dan haus akan rasa ingin tahu. Agama yang selaras dengan sains dan akal. Malah, saya pikir sains itu diilhami dari islam. Islam yang saya percaya adalah sebuah agama yang bertaburan dengan sains modern, yang pada akhirnya membuahkan hasil di negara2 barat dan membuat penemuan2 modern dihasilkan dan dimungkinkan. Islam, saya percaya, adalah penyebab utama dari peradaban modern sekarang ini. Alasan kenapa bukan muslim yang menemukan dan kenapa muslim hidup dalam ketidak tahuan yang menyedihkan akan ilmu pengetahuan, saya pikir, karena salah para mullah yang self-centered dan para pemimpin agama yang menafsirkan ajaran asli Islam demi keuntungan pribadi mereka sendiri.

Banyak muslim percaya bahwa peradaban Barat yang hebat itu akarnya adalah dari Islam. Mereka menyebut-nyebut pemikir2 sains timur Tengah yang hebat2 yang menyumbangkan hal2 penting bagi kelahiran dari sains modern. Omar Khayyam adalah matematikawan yang besar yang mengukur panjangnya waktu setahun persis 0.74 persen hingga kedetiknya. Zacharia Razl dianggap sebagai salah seorang pelopor sains empirik yang mendasarkan pengetahuannya pada riset dan eksperimen. Ensiklopedia Kedokteran dari Avicenna yg monumental diajarkan diuniversitas2 Eropa selama berabad-abad. Ada banyak sekali ilmuwan2 hebat yang punya nama “Islam” yang menjadi pionir/pelopor dari sains modern ketika Eropa masih dalam Zaman Kegelapan. Seperti semua muslim, saya percaya bahwa semua ilmuwan2 yang disebutkan itu adalah muslim, bahwa mereka mendapatkan ilmu pengetahuannya itu dari Quran, dan jika saja sekarang ini para muslim bisa kembali mendapatkan ajaran murni Islam, maka zaman2 keemasan islam itu akan kembali dan para muslim akan memimpin dunia kembali dalam hal ilmu dan peradaban.

Iran adalah negara muslim, tapi juga negara yang korup. Kesempatan masuk universitas sangat kecil. Hanya satu dari 10 pelamar yang bisa masuk. Sering mereka terpaksa belajar dijurusan yang tidak mereka suka hanya karena mereka tidak punya nilai cukup utk jurusan yang mereka inginkan. Para pelajar yang punya koneksi sering mendapatkan jurusan yang populer.

Standar pendidikan di Iran tidaklah ideal. Universitas kurang dana, karena pemerintah lebih suka membangun militer yang kuat daripada membangun infrastuktur negara dan berinvestasi dalam pendidikan warganya. Inilah alasan2 kenapa ayah saya pikir lebih baik saya keluar Iran dan belajar dinegara lain.

Kami mempertimbangkan Amerika dan Eropa, tapi ayah, karena nasihat dari teman religiusnya, berpikir bahwa negara islam akan lebih baik bagi anak umur 16 tahun. Kami diberitahu bahwa Moralitas di barat terlalu longgar, orang2 jadi aneh, pantai2 penuh orang telanjang, dan mereka minum minuman keras serta gaya hidupnya berantakan, semuanya bahaya bagi anak muda. Jadinya saya dikirim ke Pakistan, dimana orang2nya religius dan jadinya aman serta bermoral. Teman dari keluarga bialng Pakistan sama dengan Inggris, kecuali lebih murah doang.

Ini, tentunya, terbukti tidak benar. Saya mendapatkan orang2 Pakistan sama tidak bermoral dan korupnya seperti orang Iran. Ya, mereka religius. Mereka tidak makan babi dan saya tidak melihat ada yang minum alkohol dimuka umum, tapi saya perhatikan banyak yang berpikiran kotor, berbohong, munafik, kejam pada wanita dan terlebih, penuh kebencian akan orang2 India. Saya tidak mendapatkan mereka lebih baik dari orang Iran dalam hal apapun. Mereka religius tapi tidak bermoral dan tidak beretika.

DiUniversitas, bukannya mengambil jurusan Urdu, saya ambil Budaya Pakistan utk melengkapi tingkat FSc (Fellow of Science) saya. Saya mempelajari alasan pemisahan Pakistan dari India dan utk pertama kali kudengar tentang Mohammad Ali Jinah, orang2 Pakistan menyebutnya Qaid-e A’zam, Pemimpin Besar. Dia ditampilkan sebagai orang pintar, Bapak Bangsa, sementara Gandhi disebut dalam cara yang menyepelekan. Bahkan saat itupun saya tidak bisa tidak harus berpihak pada Gandhi dan tidak suka Jinnah sebagai orang sombong, ambisius ayng menjadi biang keladi perpecahan sebuah negara dan menyebabkan kematian jutaan orang. Saya selalu punya pemikiran sendiri dan saya cukup percaya diri dalam pemikiran itu. Apapun yang diajarkan pada saya, saya selalu menyimpulkan kesimpulan sendiri dan tidak percaya begitu saja apa yang dikatakan.

Saya tidak melihat perbedaan agama sebagai alasan sah utk memisahkan sebuah negara. Kata “Pakistan” itu sendiri merupakan hinaan bagi orang India. Orang2 Pakistan menyebut diri mereka Pak (Bersih) utk membedakan mereka dari orang India yang adalah najis (kotor). Ironisnya, saya tidak pernah melihat orang sejorok orang Pakistan, baik secara fisik maupun menatl. Mengecewakan sekali melihat sebuah negara islam dengan kebangkrutan intelektual dan moral sedemikian parah. Dalam diskusi dengan teman, saya gagal meyakinkan tentang “Islam Sejati”. Saya mengutuk kefanatikan dan fanatisme mereka sementara mereka tidak setuju dengan pandangan2 ‘tidak islami’ saya.

Saya sampaikan ini semua pada ayah dan memutuskan utk belajar di Italia. Di Italia, orang minum arak dan makan babi, tapi mereka lebih ramah tamah, menyambut dan tidak munafik dibanding muslim. Saya lihat orang mau menolong tanpa mengharapkan imbalan. Saya bertemu pasangan manula yang sangat ramah, yang mengundang makan siang dihari minggu agar saya tidak sendirian dirumah. Mereka tidak menginginkan apapun dari saya. Mereka Cuma ingin membagi kebahagiaan mereka. Saya dianggap cucu mereka. Hanya seorang asing yang berada dinegara asing, yang tidak kenal siapa2 dan tidak bisa bicara bahasa mereka, yang bisa sungguh2 menghargai nilai pertolongan dan keramahan dari orang2 lokal.

Rumah mereka sangat bersih cemerlang, dengan lantai marmer yang mengkilat. Ini mengkontradiksi gagasan saya tentang orang barat. Meski keluarga saya sangat terbuka terhadap orang lain, Islam mengajarkan bahwa non muslim adalah najis (QS 9.28) dan kita tidak boleh berteman dengan mereka. Saya masih punya Quran terjemahan Farsi yang suka saya baca. Salah satu ayat yg saya garis bawahi adalah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman-teman (mu); sebahagian mereka adalah teman bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS 5.51)

Saya sulit mengerti “bijaknya” ayat demikian. Saya membayangkan kenapa tidak boleh berteman dengan pasangan yg baik ini yang tidak punya motif lain dalam menunjukkan keramahan mereka selain agar saya merasa betah. Saya pikir merekalah yang patut disebut “Muslim Sejati” dan saya mencoba membicarakan masalah agama, berharap mereka bisa melihat kebenaran islam dan memeluknya. Tapi mereka tidak tertarik dan dengan sopan mengganti subjek pembicaraan. Saya tidak begitu **** utk percaya begitu saja bahwa semua kafir akan masuk neraka. Say baca ini dalam Quran sebelumnya tapi tidak pernah ingin memikirkan lebih jauh tentangnya. Saya hanya mengabaikannya saja. Tentu saja, saya tahu bahwa Tuhan akan senang jika ada orang yang mengenal utusanNya tapi tidak pernah berpikir bahwa Dia akan sangat kejam utk membakar seseorang dineraka selamanya, bahkan jika orang itu hanya berlaku baik sekalipun, Cuma karena dia bukan muslim belaka. Saya baca peringatan berikut:

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” QS 3.85

Tapi saya tidak mengindahkan itu dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa arti sebenarnya bukanlah demikian. Saat itu ini bukanlah sebuah subjek yang siap utk saya tangani atau pikirkan, jadi tidak begitu saya indahkan.

Saya nongkrong dengan teman2 muslim dan melihat kebanyakan hidup tidak bermoral dan berstandar ganda. Kebanyakan punya pacar dan meniduri mereka. Itu sangat tidak islami, atau saya pikir demikian saat itu. Yang mengganggu saya adalah mereka tidak menghargai para pacar mereka itu sebagai manusia yg patut. Para gadis ini bukan muslim maka Cuma mereka pakai utk seks saja. Sikap ini bukan sikap umum muslim, para muslim yang kurang religius justru menunjukkan sikap hormat dan jujur terhadap pacar barat mereka bahkan ada yang sungguh2 mencintai dan ingin menikahi mereka. Sebaliknya, mereka yang religius Cuma pura-pura setia terhadap pacar mereka. Saya selalu berpikir bahwa “islam sejati” itu adalah yang Benar. Jika suatu hal itu tidak bermoral, tidak jujur tidak etis, atau keji, maka tidak mungkin itu islam. Saya tidak melihat bahwa tingkah laku tidak bermoral dan tidak berperasaan para muslim adalah hasil dari yang diajarkan islam.

Bertahun kemudian, saya sadar bahwa kebenaran sesungguhnya adalah sebaliknya. Saya menemukan banyak ayat yang sangat mengganggu saya dan membuat saya mengubah selurup pendapat saya akan islam. Seperti saya lihat, tragedinya adalah orang yang sama ayng hidup tidak etis dan tidak bermoral adalah mereka yang menyebut diri mereka muslim, rajin sholat, puasa dan yang pertama marah dan membela islam jika orang mempertanyakannya. Merekalah orang yang akan ngamuk dan mulai mengajak berkelahi jika ada orang berani menghina atau menentang islam.

Pernah saya berteman seorang Iran di kantin Universitas, belakangan mengenalkan dia kepada dua teman muslim saya. Kami hampir sebaya. Dia sangat terpelajar, saleh dan bijak. Dua teman saya kagum akan karisma dan nilai2 moral dia. Kami suka menunggunya dan duduk disebelah dia ketika waktu makan, karena kami selalu belajar sesuatu darinya. Kami makan banyak spagheti dan risotto dan sangat rindu akan makanan Persia, ghortrie sabzi dan cielow. Teman kami itu bilang ibunya mengirim makanan kering dan mengundang kerumahnya minggu nanti utk makan. Kami melihat kamar dia sangat bersih, tidak seperti kamar2 kami. Dia membuat Ghorme Sabzi yang sangat lezat, yang kami makan dengan rakus, lalu kami duduk ngobrol sambil menyeruput the. Saat itulah saya perhatikan buku2 Baha’i berjejer disana. Ketika kami tanya, dia bilang dia pengikut Baha’i

Hal itu tidak mengusik saya sama sekali, tapi dijalan waktu pulang kedua teman saya bilang tidak mau berteman lagi dengan dia. Saya terkejut dan bertanya kenapa? Mereka bilang karena dia Baha’i maka dia itu Najis, kalau saja tahu sebelumnya dia itu Baha’i mereka tidak mau datang dan berteman dengannya. Saya bingung dan bertanya2 kenapa mereka pikir dia itu najis padahal sebelumnya kita memuji-muji kebersihan dia. Sebelumnya kami semua setuju bahwa moral dia jauh lebih tinggi dari pemuda2 muslim yang kami kenal, jadi kenapa sikap mereka mendadak berubah begini? Respon mereka sangat mengusik nurani saya. Kata mereka nama Baha’i itu sendiri mengandung arti yang membuat mereka tidak suka agama ini. Tahu tidak mengapa semua orang membenci Baha’i? Tanya mereka. Saya tidak tahu, dan bilang bahwa saya suka semua orang. Tapi karena mereka tidak suka atau membenci Baha’i, mungkin mereka harus menjelaskan alasannya kenapa. Mereka sendiri ternyata tidak tahu! Orang ini adalah Pengikut Baha’i pertama yang mereka kenal baik dan sebelumnya jadi panutan contoh mereka, saya ingin tahu kenapa mereka berbalik sikap. Tidak ada alasan khusus, kata mereka. Tapi mereka Cuma tahu bahwa Baha’i itu jelek.

Saya senang tidak meneruskan persahabatan saya dengan dua orang bigot ini. Dari mereka saya belajar bagaimana prasangka buruk itu berbentuk dan bekerja.

Belakangan saya sadar bahwa prasangka buruk dan kebencian yang ada pada diri muslim terhadap semua non muslim bukanlah hasil dari salah tafsir ajaran Quran, tapi justru karena Buku Sial ini mengajarkan kebencian dan mendorong prasangka buruk. Para muslim yang ke mesjid dan mendengarkan khotbah2 terpengaruh demikian. Ada banyak sekali ayat2 dalam Quran yang menyerukan orang Percaya agar membenci kafir, melawan mereka, menyebut mereka najis, menaklukan dan mempermalukan mereka, memotong kepala dan tangan mereka, menyalibkan mereka dan membunuh mereka dimanapun ditemukan.

Saya simpan agama dibelakang rumah utk beberapa tahun. Bukan karena pandangan saya tentang agama telah berubah atau saya tidak menganggap diri saya religius lagi. Hanya saya sibuk hingga tidak punya waktu utk menyisakan waktu memikirkan agama. Sementara itu saya sedikit demi sedikit mulai mengerti tentang demokrasi, HAM dan nilai2 kemanusiaan lain, seperti HAM antara lelaki dan wanita, dan saya suka semua yang saya dapatkan ini. Apa saya sholat? Jika sempat, tapi tidak fanatik. Lagi pula, saya hidup dan bekerja dinegara bArat dan tidak mau terlihat terlalu berbeda.

Satu hari, saya memutuskan bahwa sudah waktunya utk memperdalam pengetahuan saya akan Islam serta membaca sekaligus mengerti Quran sampai Tamat (sebelumnya hanya membaca saja, qatham, tanpa mengerti artinya). Saya punya Quran arab dan terjemahan Inggrisnya. Sebelumnya hanya Quran Arab saja. Kali ini saya pelajari semua, dari cover depan sampai cover belakang.

Saya baca ayatnya dalam huruf Arab, lalu baca terjemahannya, lalu kembali ke arabnya lagi, saya tidak maju ke ayat berikutnya sebelum saya benar2 puas dan mengerti maksudnya baik dalam Arab maupun dalam terjemahannya.

Tidak terlalu lama bagi saya menemukan ayat2 yang sulit utk saya terima. Salah satu ayat itu adalah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS 4.48)

Saya sulit menerima bahwa Gandhi akan dibakar dineraka selamanya karena dia seorang politeis tanpa harapan diampuni, sementara seorang muslim pembunuh punya harapan diampuni Allah. Ini mengangkat pertanyaan yang mengusik saya: Kenapa Allah begitu kebelet utk dipuja dan dikenal sebagai satu-satunya Tuhan? Jika tidak ada Tuhan selain Dia, ngapain repot2? Saingan ama siapa Dia sebenarnya? Kenapa dia mesti ribut2 mengenai apakah orang kenal dia dan menyembah dia atau tidak?

Sekarang karena saya tinggal di barat dan punya banyak teman barat yang baik, suka pada saya, terbuka hati dan rumahnya utk saya dan menerima saya sebagai teman mereka, sulit sekali utk menerima bahwa Allah tidak menginginkan saya berteman dengan mereka.

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi teman dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS 3.28)

Bukankah Allah juga pencipta orang kafir? Bukankah Dia itu Tuhan utk semua orang? Kenapa harus jahat pada kafir? Bukankah lebih baik jika muslim berteman dengan kafir dan mengajar mereka islam dengan contoh2 yg baik? Dengan membuat kita menjaga jarak dan jauh dari kafir, jurang ketidak mengertian tidak akan dijembatani. Bagaimana bisa kafir belajar tentang islam jika kita tidak bergaul dengan mereka? Ini adalah pertanyaan2 yang berputar dikepala saya. Jawaban dari pertanyaan2 ini muncul dari ayat yang sangat mengganggu benak. Perintah Allah adalah untuk:

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka” (QS 2.191)

Saya teringat teman2 saya, ingat kebaikan mereka dan sayang mereka pada saya, dan membayangkan Kok bisa Tuhan Sejati meminta orang membunuh orang lainnya hanya karena orang itu tidak eprcaya. Ini tidak masuk akal, tapi konsep ini diulang2 begitu sering dalam Quran hingga tidak ada keraguan lagi tentang itu. Dalam ayat 8.65, Allah mengatakan pada sang Nabi:

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS 8.65)

Saya membayangkan kenapa Allah mengirim utusanNya utk berperang. Bukankah seharusnya Tuhan mengajar kita agar saling mencintai satu sama lain dan toleran akan agama satu sama lain? Dan jika Allah sungguh2 peduli utk membuat orang2 percaya padanya hingga dia tega menyuruh bunuh jika mereka tidak percaya, kenapa bukan Dia sendiri saja yang membunuh mereka langsung? Kenapa meminta kita utk melakukan Pekerjaan KotorNya? Apa kita ini Tukang Pukulnya Allah?

Meski saya tahu tentang Jihad dan tidak pernah mempertanyakan sebelumnya, saya temukan sulit utk diterima Tuhan akan memaksakan kekerasan demikian pada orang2. Yang lebih mengejutkan lagi adalah kekejaman Allah ketika menangani kafir:

“Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (QS 8.12)

Kelihatannya Allah tidak cukup puas dengan membunuh kafir doang; dia menikmati penyiksaan mereka sebelum membunuh mereka. Memenggal kepala orang, memotong ujung2 jari mereka adalah tindakan yang sangat biadab. Apa Tuhan sungguh2 memberi perintah demikian? Tapi itu belum apa2, yang lebih parah lagi adalah kebiadaban yg dia janjikan terhadap kafir dineraka nanti.
Gimana bisa pencipta Jagat Raya begitu kejamnya? Saya kaget mendapati bahwa Quran menyuruh Muslim untuk:

-Membunuh kafir dimanapun mereka ditemukan (Q 2.191)-
-membunuh mereka dan memperlakukan mereka dengan keras (9.123),
- memerangi mereka (8.65)
- sampai tidak ada agama lain selain Islam (2.193),
- mempermalukan mereka dan memaksakan mereka pajak khusus jika mereka kristen atau yahudi (9.29),
- membunuh mereka jika mereka penyembah berhala (9.5),
- menyalibkan atau memotong tangan dan kaki mereka dan mengusir mereka dari kampung mereka dengan dipermalukan.


Dan seakan semua ini belum cukup, Muslim diberitahu bahwa kafir itu

-akan mendapatkan hukuman berat diakhirat nanti (5.34),
- jangan berteman dengan ayah atau saudara mereka sendiri jika mereka itu kafir (3.28; 9.23),
- bunuh keluarga sendiri jika mereka murtad dan
- berjihadlah melawan mereka dengan jihad yang besar (25.52)
- Keraslah pada mereka karena tempat mereka dineraka jahanam (66.9)


Gimana bisa orang waras tidak tergerak hatinya ketika membaca ayat Quran yang mengatakan: “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka” (Q 47.4)? dan setelah “dikalahkan, tawanlah mereka dan minta tebusan”.

Saya juga tersentak kaget mendapatkan bahwa Quran menolak kebebasan agama bagi semua orang dan dengan jelas dinyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima (Q3.85). Allah menyatakan bahwa mereka yang tidak percaya Quran akan masuk neraka (5.11) dan menyebut mereka najis (9.28). Dia bilang kafir akan masuk neraka dan diberi minum air mendidih (14.17). Lebih jauh lagi, “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” (Q22.19). Betapa sadisnya!

Buku Allah bilang wanita lebih rendah dari lelaki dan suami2 mereka punya hak memukul istri (4.34), dan wanita akan masuk neraka jika tidak patuh pada suami (66.10). Dikatakan lelaki punya kelebihan atas wanita (2.228). Bukan saja menyangkal Hak wanita mengenai Warisan (4.11-12) tapi juga menganggap mereka dungu dan menetapkan bahwa kesaksian mereka (wanita) saja tidak berlaku di pengadilan (2.282). Ini artinya wanita yg diperkosa tidak bisa menudup pemerkosanya kecuali dia bisa menghadirkan saksi lelaki yg menyaksikan pemerkosaan itu terjadi, ini tentu saja gila! Pemerkosa tidak akan memperkosa dihadapan saksi. Tapi ayat yang paling mengejutkan adalah ketika Alloh mengijinkan muslim untuk memperkosa tawanan wanita dalam perang, meski mereka (tawanan wanita) itu sudah bersuami sebelum ditangkap (4.3,24). Sang nabi Suci memperkosa wanita tercantik yang tertangkap dalam perampokkannya dihari yang sama ketika dia bunuh suami dan kerabat2nya. Ini sebabnya kenapa setiap kali tentara muslim menaklukan negara lain, mereka menyebut orang2 itu kafir dan memperkosa wanita2nya.

Tentara Pakistan memperkosa hingga 250 RIBU (250.000) wanita bengali tahun 1971 dan membantai TIGA JUTA (3.000.000) rakyat tak bersenjata ketika ulama mereka menetapkan orang2 Bangladesh bukan muslim (kafir). Itu sebabnya penjaga penjara di rejim Islam Iran memperkosa wanita lalu membunuh mereka setelah menyebut mereka murtadin dan musuh Allah.

Quran penuh ayat2 yang mengajarkan pembunuhan orang tidak percaya (kafir) dan bagaimana Allah akan menyiksa mereka setelah mereka mati. Tidak ada pelajaran moralitas, keadilan, kejujuran atau cinta. Pesan satu-satunya Quran adalah utk percaya hadiah Seks tak Terhingga di Surga dan mengancam mereka dengan api neraka. Ketika Quran ngomong kebajikan, bukan berarti kebajikan yang kita biasa kenal, tapi kebajikan yg artinya Percaya pada Allah dan utusanNya. Seorang muslim bisa menjadi pembunuh dan membunuh non muslim tapi tetap menjadi orang saleh. Tindakan baik Cuma sekunder belaka. Percaya Allah dan UtusanNya menjadi tujuan Utama dari kehidupan seseorang manusia.

Setelah membaca Quran saya jadi depresi. Sulit menerima semua itu. Pertamanya saya menyangkal dan mencari arti tersembunyi lain dari ayat2 keji Quran ini, semuanya sia-sia. Tidak ada kesalah pahaman! Quran sangat penuh dengan ketidak manusiawian. Tentu saja juga berisi penghujatan2 dan kemustahilan sains, tapi itu tidak berakibat banyak pada saya dibanding dengan ayat2 keji itu. Kekejian dari buku ini lah yang menyentak dan menggoyahkan dasar2/fondasi kepercayaan saya.

Setelah pengalaman pahit dengan Quran, saya mulai melakukan perjalanan batin yang menyiksa. Saya ditendang keluar dari Ruang kebodohan, dimana semua pertanyaan2 saya terjawab sudah. Diruang itu dulu saya tidak perlu berpikir. Cukup percaya saja. Sekarang, pintu masuk sudah tertutup bagi saya selamanya. Saya telah berkomitmen tuk melakukan perbuatan yang sebelumnya mustahil meski utk dipikirkan saja. Saya telah memakan buah terlarang, yaitu buah pengetahuan, dan mata saya terbuka lebar. Saya bisa melihat semua buah2 pikiran yang keliru dalam Islam dan juga melihat ketelanjangan saya sebelumnya. Saya tahu saya tidak akan diijinkan masuk surga “Kebodohan” itu lagi. Sekali saja anda mulai berpikir, anda tidak patut tinggal disana lagi. Cuma satu jalan, KELUAR.

Jalan pencerahan terbukti lebih sulit meski diri saya telah saya persiapkan. Jalannya licin, segunung penghalang utk dilalui dan banyak jurang kesalahan utk dihindari. Saya berjalan di daerah asing sendirian, tidak tahu apa yang akan saya temukan besok. Ini menjadi Pengembaraan dalam dunia pengertian dan penemuan kebenaran, yang pada akhirnya membawa saya ke tanah pencerahan dan kebebasan.

Saya akan membuat peta daerah asing ini bagi mereka semua yang melakukan ‘dosa’ karena telah berpikir, bagi mereka yang mendapatkan dirinya tertendang dari ruang pembodohan dan berada dijalan menuju daerah tak dikenal.

Jika ragu, jika jubah kebodohan yang kau pakai mulai tersobek sedikit demi sedikit dan akhirnya anda sadar telah telanjang, sadarlah bahwa anda tidak bisa lagi tinggal diruangan pembodohan lebih lama lagi. Anda telah diusir utk selamanya. Seperti bayi yang keluar dari rahim ibunya, juga tidak bisa kembali, anda tidak akan bisa diterima dalam ruang ‘pelupaan’ itu lagi. Dengarkan mereka yang pernah tinggal disana dan jangan berpegangan pada pintu yang menutup. Pintu itu terkunci rapat.

Tataplah kedepan, perjalanan anda masih panjang. Anda bisa terbang ke tujuan anda atau anda bisa merangkak. Saya merangkak! Karena itu saya kenal jalan ini dengan cukup baik. Saya akan gambarkan peta jalan tersebut, hingga semoga saja anda tidak perlu lagi merangkak seperti saya.
User avatar
pod-rock
Translator
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Postby pod-rock » Sun Aug 10, 2008 7:00 am

Jalan dari ‘iman’ ke pencerahan terdiri dari tujuh lembah.

Lembah pertama adalah Kaget (Shock/Kejut). Setelah membaca Quran, pemikiran saya tersentak kaget. Saya mendapatkan diri saya berhadapan muka dengan kebenaran dan saya takut utk menatapnya. Pastinya bukan itu yang saya harapkan utk saya tatap. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, mengutuk atau memaki siapa-siapa. Saya temukan kemustahilan dari Islam dan ketidak manusiaan ‘Pengarang’ Quran dengan membacanya. Dan saya Kaget. Hanya, kekagetan/Kejutan inilah yg membuat saya sadar dan berhadapan dengan kebenaran. Sayangnya, hal ini adalah sebuah proses yg sulit dan menyakitkan. Para pengikut Muhammad harus melihat Kebenaran Nyata dan mereka haruslah terkejut. Kita tidak bisa terus menerus menutupi kebenaran dengan yang manis-manis. Kebenaran itu terasa pahit dan harus diterima. Fakta2 itu sangat keras kepala, tidak mau pergi2. Hanya dengan demikianlah proses pencerahan bisa dimulai.

Karena setiap orang itu tingkat sensitivitasnya berbeda, yang dirasakan sebagai shock bagi orang lain mungkin bukan shock bagi yang lainnya. Tapi bahkan sebagai seorang lelakipun saya shock ketika membaca bahwa Muhammad memerintahkan pengikutnya utk memukul istri2 mereka dan menyebut wanita itu “kurang pintar.” Tapi saya sudah mengenal banyak wanita muslim yang tidak sulit menerima perintah ini. Bukan karena mereka itu ‘kurang pintar’ atau mereka percaya bahwa penghuni neraka itu kebanyakan wanita hanya karena nabi bilang begitu, tapi karena mereka menjegal, memblok informasi tsb. Mereka baca tapi tidak meresapinya. Mereka dalam mode penyangkalan. Tindakan penyangkalan berlaku sebagai perisai yang menutupi dan melindungi mereka, yang membantu mereka menghadapi sakitnya realitas. Sekali saja perisai itu dilepas, tak ada satupun yang bisa mengembalikannya. Pada titik ini kepercayaan mereka harus diserang dari segala arah. Kita harus membombardir mereka dengan ajaran mengejutkan lainnya dari Quran. Mereka mungkin punya titik kelemahan. Itulah yang diperlukan: Shock yang tepat. Shock itu menyakitkan tapi bisa menyelamatkan. Shock dipakai dokter utk mengembalikan kehidupan pada para pasien.

Utk pertama kalinya, internet telah mengubah Keseimbangan Kekuatan. Sekarang kekuatan brutal senjata, penjara dan pasukan pembunuh tidak berdaya dan ‘tinta’ jauh lebih berbahaya. Utk pertama kalinya, para muslim tidak bisa menghentikan kebenaran dengan membunuh pembawa pesannya. Sekarang banyak diantara mereka bersentuhan dengan kebenaran dan merasa tdk berdaya. Mereka ingin membungkam suara ini tapi tidak bisa. Mereka ingin membunuh pembawa pesan, tapi tidak bisa. Mereka mencoba mem-ban (melarang) situs2 yang mengungkapkan agama sesembahan mereka; kadang mereka berhasil sementara, tapi kebanyakan gagal. Saya membuat sebuah situs utk mengajar muslim tentang islam yang sebenarnya. Saya pasang di tripod.com. Para islamis memaksa tripod utk menutupnya dan secara pengecut eksekutif Tripod memenuhi keinginan mereka. Saya dirikan domain dan situs saya lagi dalam waktu dua minggu saja. Dg demikian, cara kuno dengan membunuh murtadin, membakar buku2 mereka, dan membungkam dengan teror tidak bisa dipakai lagi. Mereka tidak bisa mencegah orang utk membaca. Meski situs saya dilarang si Saudi Arabia, Emirat dan banyak negara2 lain, sejumlah besar muslim yang tidak pernah tahu kebenaran tentang islam telah dikenalkan dengan kebenaran utk pertama kalinya, dan terkaget-kaget.

Saya bertemu seorang wanita di internet yang telah masuk islam, ia mulai memakai jilbab. Dia punya situs web dengan fotonya yang tertutup dengan cadar hitam bersama dengan kisahnya tentang bagaimana dia menjadi muslim. Dia sangat aktif dan suka memberi nasihat pada yang lain agar jangan membaca situs saya. Tapi, ketika dia membaca kisah dari Safiyah, wanita yahudi yang ditangkap Muhammad dan diperkosa dihari yang sama ketika ayah, suami serta kerabatnya dibunuh, dia terkaget-kaget. Dia bertanya pada muslim lain tentang ini, tapi percuma. Pintu itu terbuka dan dia tertendang keluar dari ruang pembodohan. Dia terus menulis pada saya dan bertanya-tanya. Akhirnya, dia mampu meliwati tahap2 mulai dari percaya buta hingga kepada pencerahan dengan sangat cepat dan berterima kasih pada saya karena telah membimbing dia melalui jalan yang berliku itu. Dia menarik diri dari situsnya di Yahoo! Islamic club.

Jika orang tahu tentang kehidupan najisnya Muhammad dan kemustahilan dari Quran, mereka kaget. Saya ingin menelanjangi Islam: menulis kebenaran tentang hidup najisnya Muhammad, kata2 kebenciannya, pengakuan tak berdasarnya; dan membombardir muslim dengan fakta2. Mereka akan marah, mengutuk, menghina dan bilang bahwa setelah membaca artikel2 saya iman mereka MAKIN KUAT. Tapi itulah saatnya saya tahu bahwa saya telah menanam bibit keraguan dalam benak mereka. Mereka bilang semua ini karena mereka kaget dan telah masuk TAHAP PENYANGKALAN. Bibit keraguan telah tertanam dan akan tumbuh berkembang. Pada diri sebagian orang itu akan memakan waktu tahunan, tapi jika dibiarkan akan tumbuh membesar pada akhirnya.

Ragu adalah berkat terbesar yang bisa kita berikan pada satu sama lain. Ragu adalah Berkat bagi Pencerahan. Keraguan akan membebaskan kita, akan memajukan pengetahuan dan akan mengungkap misteri2 jagat raya.

Salah satu rintangan utk dilalui adalah tradisi dan nilai2 yang salah yang dimasukkan dalam diri kita selama ribuan tahun berdirinya Islam. Dunia masih menghargai agama dan menganggap bahwa keraguan adalah pertanda kelemahan. Orang2 banyak membicarakan orang2 beriman dengan rasa kekaguman dan menghina orang yang lemah iman. Kita diperkosa oleh nilai2 kita sendiri.

Keraguan, dilain pihak, punya arti sebaliknya. Artinya adalah berkemampuan untuk berpikir mandiri, bertanya dan menjadi skeptis. Kita berhutang sains dan peradaban modern kita pada orang2 (lelaki dan wanita) yang meragukan banyak hal – bukan mereka yang percaya banyak hal. Mereka yang ragu itulah yang menjadi pionir/pelopor; mereka Pemimpin2 Pemikiran Baru. Mereka filsuf2; pencipta2 dan penemu2. Mereka yang percaya, yg hidup dan mati sebagai pengikut, sedikit sekali atau malah bisa dibilang tidak menyumbang pada kemajuan sains dan pengertian umat manusia.

Setelah dikejutkan, atau mungkin secara simultan, penyangkalan. Mayoritas muslim akan terjebak dalam penyangkalan ini. Mereka tidak bisa dan tidak mau mengakui bahwa Quran Cuma tipu-tipu belaka. Mereka jungkir balik mencoba menjelaskan hal yang tidak bisa dijelaskan, jungkir balik mencoba menemukan mukjijat didalamnya dan akan rela membengkokkan semua aturan logika utk membuktikan bahwa Quran itu benar.

Setiap kali mereka terkena efek kejut dari pernyataan mengejutkan dalam Quran atau tindakan menjijikan yg dilakukan Muhammad, mereka ngumpet dalam penyangkalan. Ini yang kulakukan dalam fase pertama ‘Perjalanan’ saya. Penyangkalan adalah tempat aman. Ketidak relaan utk mengakui bahwa anda telah ditendang dari ‘ruang pembodohan’. Anda mencoba utk kembali, tidak mau mengambil langkah pertama utk menjauhi pintu ruang itu. Dalam penyangkalan anda menemukan zona nyaman. Dalam penyangkalan anda tidak merasa tersakiti, segala sesuatu oke oke saja; segala sesuatu is fine.

Kebenaran itu sangat menyakitkan, khususnya jika orang telah terbiasa dijauhkan dari kebenaran sepanjang hidupnya. Tidak mudah bagi seorang muslim untuk melihat Muhammad apa adanya. Ini sama seperti bilang pada anak kecil bahwa ayahnya adalah seorang penjahat besar, pemerkosa dan pencuri. Anak yang mengidolakan ayahnya tidak akan mampu menerima hal itu, meskipun jika semua bukti2 nyata ditunjukkan padanya. Kejutannya akan sangat besar hingga yang mampu dia lakukan hanya menyangkal. Dia akan menyebut anda pembohong, membenci anda hingga ingin menyakiti anda, mengutuk, menganggap musuh, bahkan akan meledak dalam kemarahan dan membunuhmu.

Ini adalah TAHAP PENYANGKALAN. Sebuah mekanisme Self-Defense (Pertahanan Diri). Jika rasa sakit terlalu besar, penyangkalan akan menghilangkannya. Jika seorang ibu diberitahu anaknya mati dalam kecelakaan, reaksi pertama dia sering berupa penyangkalan. Disaat bencana besar menimpa, orang biasanya diliputi oleh rasa letih dan merasa bahwa semua itu hanya mimpi buruk dan pada akhirnya dia nanti akan bangun dan segalanya oke-oke saja. Sayangnya, fakta itu keras kepala dan tidak mau pergi. Orang bisa saja hidup dalam penyangkalan utk sementara tapi cepat atau lambat kebenaranlah yang harus dia terima.

Muslim diselimuti oleh kebohongan. Karena bicara hal yang menentang Islam bisa dihukum mati, tak seorangpun berani mengatakan kebenaran. Mereka yang melakukannya tidak hidup lama. Mereka dengan cepat dibungkam. Jadi bagaimana bisa anda tahu kebenaran jika semua yang anda dengar Cuma kebohongan2? Disatu pihak Quran mengklaim sebagai mukjijat dan menantang setiap orang utk membuat Surah sepertinya:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” Q2.23

Tapi lalu memerintahkan pengikutnya utk membunuh siapa saja yang berani mengkritik atau menantangnya. Jika anda berani mengambil tantangan dan membuat surah sejelek Quran, anda akan dituduh telah mengejek Islam, dimana hukumannya adalah mati. Dalam atmosfir ketidak jujuran dan penipuan ini, kebenaran jadi korbannya.

Rasa sakit karena berhadapan dengan kebenaran dan menyadari semua yg kita percaya Cuma bohong sangatlah menyengsarakan. Mekanisme dan cara alami satu-satunya utk menghadapi itu hanya penyangkalan. Penyangkalan menghilangkan rasa sakit. Sebuah berkat yang membuat nyaman, meski seperti menyembunyikan kepala dalam tanah belaka.

Orang tidak bisa hidup dalam penyangkalan selamanya, cepat atau lambat malam akan tiba dan dingin akan menyelimutinya dan akhirnya anda sadar bahwa anda sudah ditendang dari ruang pembodohan. Pintu telah tertutup dan kunci telah dibuang. Anda tahu terlalu banyak. Anda orang buangan. Dengan gentar anda menatap jalan yang berliku yang samar-samar dalam temaram sinar ketidak menentuan, dan pelahan anda terpaksa mengambil langkah pertama kearah ‘takdir tak dikenal’. Anda menggapai dan tersandung-sandung, mencoba tetap fokus. Tapi rasa takut menyelimuti anda dan tiap kali mencoba lari balik ke ‘ruangan’ itu anda sekali lagi berhadapan dengan pintu yang tertutup.

Mayoritas muslim hidup dalam penyangkalan. Mereka tinggal didalam ruang pembodohan. Mereka tidak bisa keluar atau lari dari situ. Mereka yang ada paling dalam adalah mereka yang tidak pernah beranjak pergi. Yang disediakan bagi orang2 ‘beriman’, mereka yang tidak pernah ragu setitikpun, mereka yang tidak mau berpikir. Mereka percaya apa saja. Jika dikatakan malam itu siang dan siang itu malam, akan ditelan mentah2 oleh mereka. Mereka percaya begitu saja bahwa Muhammad naik ke surga ketujuh, bertemu Tuhan, membelah bulan dan bicara dengan para jin.

Para orang percaya in itidak akan pernah bisa melihat kebenaran jika mereka secara permanen ditutupi oleh kebohongan. Semua yang mereka dengar selama ini Cuma kebohongan bahwa Islam itu baik dan kalau saja para muslim mempraktekan islam sejati, dunia akan menjadi surga; bahwa masalah2 dalam islam adalah kesalahan orang2nya (muslim). Ini semua bohong. Kebanyakan orang2 muslim adalah orang2 baik. Mereka tidak lebih buruk atau lebih baik dari orang lainnya. Islamlah yang membuat mereka melakukan kekejian2. Para muslim yang melakukan kekejian itulah yang sungguh2 islam sejati. Islam memunculkan insting kejahatan didalam diri orang. Semakin islami seseorang, semakin haus darah orang itu, semakin penuh kebencian dan semakin menjadi zombie orang tsb.

Ingin sekali saya menyangkal semua yang kubaca ini. Saya ingin percaya bahwa arti sesungguhnya dari Quran itu bukan begini, tapi tidak bisa. Saya tidak bisa lagi membodohi diri sendiri dengan bilang bahwa ayat2 tidak manusiawi ini diartikan keluar konteks. Quran tidak punya konteks. Ayat2nya berjubelan, berdesakan secara acak, kadang tidak ada koherensi satu sama lain.

Mereka yang baca artikel saya dan tersakiti akan apa yang saya katakan tentang Quran dan Islam sebenarnya beruntung. Mereka bisa menyalahkan saya. Mereka bisa membenci saya, mengutuk dan mengarahkan semua kemarahan mereka pada saya. Tapi, ketika saya membaca Quran dan mempelajari isinya, saya tidak bisa menyalahkan siapapun. Setelah meliwati TAHAP KEJUTAN DAN PENYANGKALAN, saya bingung dan menyalahkan diri sendiri. Saya membenci diri kenapa memakai otak, kenapa meragukan hingga menemukan kesalahan dari sesuatu yang saya anggap sebagai perkataan Tuhan.

Seperti muslim lain, saya dibohongi dan menerima saja semua kebohongan, kemustahilan dan ketidak manusiawian. Saya dibesarkan sebagai orang yang religius. Saya percaya semua yang diajarkan. Kebohongan2 ini diberikan pada saya pelahan2 dalam dosis2 kecil, sejak masa kanak2. Saya tidak pernah diberi alternatif lain utk perbandingan. Ini sama seperti vaksinasi. Saya kebal akan kebenaran. Tap ketika mulai baca Quran secara serius sampai tamat dan mengerti apa isinya, saya merasa pusing. Semua kebohongan2 itu mendadak muncul dihadapan saya.

Saya pernah mendengar semuanya dan menerima begitu saja. Dulu pemikiran rasional saya beku. Saya jadi tidak sensitif pada kemustahilan dari Quran. Ketika saya menemukan hal yang tidak masuk akal, saya kesampingkan dan bilang pada diri sendiri, kita harus lihat gambarannya secara luas. Gambaran Luas tsb, ternyata tidak ditemukan dimanapun kecuali dalam benak **** saya belaka. Saya menggambarkan Islam yang sempurna; jadi semua kemustahilan tidak mengganggu saya karena saya tidak perhatikan. Ketika saya baca seluruh Quran, saya menemukan gambaran yang sangat berbeda dari yang ada dalam benak saya selama ini. Gambaran baru islam muncul dari halaman2 Quran yang keji, tidak toleran, irasional, arogan; jauh dari islam agama damai, kesetaraan dan toleransi.

Dalam kemustahilan ini, saya harus menyangkal agar tetap waras. Tapi sampai berapa lama saya bisa menyangkal kebenaran ketika kebenaran itu bersinar begitu terangnya seperti matahari diwajah saya? Saya menbaca Quran Arab agar tidak bisa menyalahkan terjemahan. Lalu saya baca terjemahannya. Saya sadar banyak terjemahan yang tidak begitu tepat. Para penterjemah berusaha keras menyembunyikan ketidak manusiawian dan kekejian Quran dengan memelintir kalimat dan menambahkan perkataan mereka sendiri dalam kurung utk memperlunaknya. Quran Arab jauh lebih mengejutkan dari yang terjemahan.

Saya bingung dan tidak tahu harus lari kemana. Iman saya terguncang dan dunia saya jatuh bangun. Saya tidak bisa lagi menyangkal yang saya baca. Tapi, saya tidak mau menerima kemungkinan bahwa ini semua hanya kebohongan besar. Gimana bisa begitu, saya bertanya terus, gimana bisa begitu banyak orang tidak melihat kebenaran tapi saya melihatnya? Gimana bisa orang besar seperti Jalaladin Rumi tidak melihat Muhammad sebagai penipu dan Quran sebagai tipuannya, tapi saya bisa melihatnya? Saat itu lah saya memasuki TAHAP RASA BERSALAH.

Rasa salah ini berbulan2 membebani saya. Saya benci diri sendiri karena berpikiran seperti ini. Saya merasa Tuhan sedang menguji saya. Saya malu. Saya bercakap-cakap dengan orang2 terpelajar yang saya percaya, orang yang bukan saja berpengetahuan banyak tapi yang saya pikir juga bijaksana. Yang saya dengar sedikit sekali menyejukkan hati saya. Salah seorang malah menyarankan jangan dulu baca Quran utk sementara. Dia bilang sholatlah dan baca buku2 yang menguatkan iman saya saja. Saya lakukan itu, tapi tidak membantu. Pemikiran tentang kemustahilan, kekejian dan keanehan ayat2 Quran terus berputar2 dalam pemikiran saya. Tiap kali melihat lemari buku dan menatap Quran, saya merasa sakit didalam diri. Saya ambil dan sembunyikan dibelakang buku lain. Saya pikir jika tidak memikirkannya utk beberapa waktu, pemikiran negatif saya akan hilang dan iman saya akan kembali lagi. Tapi tidak begitu. Saya menyangkal sebisa saya, sampai tidak sanggup lagi. Saya terkejut, bingung, merasa bersalah dan semua itu sangat menyakitkan.

Perioda rasa bersalah ini berakhir terlalu lama. Satu hari saya memutuskan CUKUP!! Saya bilang ini bukan salah saya. Saya tidak mau menanggung rasa salah ini terus menerus, memikirkan hal2 yang tidak masuk akal saya. Jika Tuhan memberi otak pada saya, ini karena Dia kepingin saya memakainya. Jika yang saya anggap benar dan salah dibanding Quran ternyata terbalik-balik, maka itu bukan salah saya.

Dia mengatakan pembunuhan itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya sendiri tidak mau dibunuh. Lalu kenapa UtusanNya membunuh begitu banyak orang tak bersalah dan memerintahkan pengikutnya membunuh mereka yang tidak percaya?

Jika pemerkosaan itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya tidak mau hal itu terjadi pada orang yang saya cintai, lalu kenapa Nabi Allah memperkosa para wanita yang tertangkap dalam perang?

Jika perbudakan itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya juga tidak suka kehilangan kebebasan dan jadi budak, lalu kenapa nabinya Tuhan memperbudak begitu banyak orang dan membuat dirinya kaya dengan menjual para budak itu?

Jika memaksakan agama itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya juga tidak mau orang lain memaksa saya masuk agama dia, lalu kenapa Nabi menyerukan Jihad dan memerintahkan para pengikutnya untuk membunuh orang kafir, merampas harta mereka dan membagikan wanita serta anak2 sebagai rampasan perang?

Jika Tuhan mengatakan sesuatu itu baik, dan saya tahu itu baik karena terasa baik bagi saya dan semua orang, lalu kenapa NabiNya melakukan kebalikan dari semua itu?


Ketika rasa salah ini terangkat dari pundak saya, cemas, kecewa dan sinisme muncul. Saya merasa sedih karena telah membuang percuma banyak tahun2 dalam hidup saya, dan sedih pada semua muslim yang masih terperangkap dalam kepercayaan **** ini, sedih bagi mereka yang telah kehilangan nyawanya dalam nama doktrin palsu ini, sedih bagi para wanita di semua negara islam yang menderita segala macam aniaya dan tekanan. Mereka itu bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang dianiaya.

Terpikir oleh saya semua perang yang dilakukan atas nama agama – begitu banyak orang mati sia-sia. Jutaan muslim meninggalkan rumah dan kerabat utk berperang atas nama Allah, tidak kembali, mereka pikir mereka sedang menyebarkan iman Allah. Mereka membantai jutaan orang tak bersalah. Peradaban dihancurkan, perpustakaan dibakar dan begitu banyak pengetahuan hilang – semuanya utk kesia-siaan. Saya ingat ayah bangun subuh2 setiap hari dan dengan air sedingin es ketika musim dingin ia memaksakan diri melakukan wudhu. Sasya ingat pulang ke rumah kelaparan dan kehausan selama bulan puasa, dan saya pikir jutaan orang yang menyiksa diri mereka dengan puasa, semuanya sia-sia belaka. Kesadaran bahwa semua yang saya percayai ternyata kebohongan dan semua yang saya lakukan Cuma kesia-siaan, dan fakta bahwa jutaan orang masih terperangkap dalam gurun kebodohan mengejar fatamorgana yang kelihatan seperti air, sangatlah mengecewakan.

Sebelum itu, Tuhan selalu ada dalam pikiran saya, saya biasa bicara padaNya dalam imajinasi saya dan percakapan itu terasa nyata bagi saya. Saya pikir Tuhan sedang mengawasi dan mencatat setiap tindakan baik yang saya lakukan. Perasaan ada yang mengawasi, membimbing langkah dan melindungi saya, sangatlah nyaman. Sulit sekali utk menerima bahwa ternyata tidak ada yang namanya ALLAH, misalnya ada Tuhan itu, pastilah bukan ALLAH SWT. Saya tidak berhenti percaya pada Tuhan, tapi sejak saat itu saya yakin bahwa jika jagat ini ada penciptanya, pastilah bukan makhluk yang dipuja Muhammad, yang digambarkan Muhammad. Allah terlalu ****, **** hingga ketulang-tulangnya. Quran penuh kesalahan. Tidak mungkin pencipta Jagat begitu bodohnya, sebodoh Tuhannya Quran. Allah tidak mungkin ada dimana-mana, Allah cuma ada diotaknya orang gila belaka Saya mengerti bahwa Allah Cuma isapan jempol imajinasi Muhammad, tidak lebih dari itu. Betapa mengecewakan sekali bagi saya ketika sadar bahwa saya telah sekian tahun berdoa pada sebuah khayalan.

Perasaan hilang dan kecewa ini ditemani oleh rasa sedih dan semacam rasa depresi, seakan dunia saya runtuh, saya merasa tanah tempat saya berdiri menghilang dan saya jatuh kedalam jurang yang tak berdasar. Tanpa membesar-besarkan, saya merasa ada dalam neraka.

Saya kebingungan, minta-minta tolong, tapi tak ada yang bisa menolong. Saya malu akan pemikiran saya dan benci diri saya karena berpikir demikian. Rasa salah ini muncul bersamaan dengan rasa kehilangan dan depresi. Biasanya saya seorang yang berpikir positif, saya lihat sisi baik dalam segala hal. Saya selalu berpikir hari esok akan lebih baik dari hari ini. Saya bukan semacam orang yang mudah depresi. Tapi, perasaan kehilangan ini sangat meluap-luap. Saya masih ingat rasa berat dalam hati saya. Saya pikir Tuhan telah meninggalkan saya dan saya tidak tahu kenapa Dia berbuat demikian. “Apakah ini Hukuman Tuhan?” Saya terus bertanya diri demikian. Saya tidak ingat pernah menyakiti siapapun. Saya berusaha menolong orang2 yang hidupnya bersinggungan dengan hidup saya dan yg meminta tolong. Jadi, kenapa Tuhan ingin menghukum saya dengan cara ini? Apa dia menguji saya? Lalu dimana jawaban dari doa2 saya? Jika saya lulus apakah akan jadi **** dan berhenti pake otak? Jika demikian, utk apa dia kasih saya otak? Apakah hanya orang **** saja yang lulus test keimanan ini?

Saya merasa dikhianati dan diperkosa. Saya tidak bisa bilang perasaan mana yang lebih dominan. Kadang saya kecewa, sedih atau cemas. Bahkan jika iman itu palsu, tetap saja terasa manis. Sangatlah nyaman utk percaya saja.

Mensejajarkan perasaan sedih dan kehilangan, saya merasa terbebaskan. Anehnya saya tidak lagi merasa bingung atau bersalah. Saya tahu dengan pasti Quran itu Tipuan dan Muhammad itu penipu.

Utk menaklukan rasa sedih ini saya mencoba menyibukkan diri dengan aktivitas lain. Bahkan saya ambil les dansa dan merasakan bagaimana hidup itu sebenarnya, bebas dari rasa bersalah, menikmati kehidupan dan menjadi normal. Saya sadar betapa banyak yang saya tidak dapatkan dan betapa bodohnya telah menghalangi diri dari kesenangan2 yg sederhana sekalipun. Tentu saja, penyangkalan adalah cara kultus melingkup pengaruh pada pengikutnya. Saya menyangkal diri sendiri dari kesenangan sederhana sekalipun, hidup dalam rasa takut akan Tuhan yang terus menerus, dan saya pikir itu normal2 saja. Saya bicara tentang kesenangan seperti tidur sampai pagi, berdansa, berteman bebas tanpa pilih gender atau ras, menyeruput segelas anggur dll.

Dititik ini, saya memasuki tahap lain dari perjalanan spiritual saya menuju pencerahan. Saya menjadi marah. Marah karena telah percaya kebohongan2 itu selama bertahun-tahun, menyia-nyiakan begitu banyak tahun2 kehidupan saya mengejar hantu. Marah pada budaya saya yang mengkhianati saya, karena nilai2 salah yang mereka tanamkan; pada orang tua saya karena mengajarkan sebuah kebohongan; pada diri sendiri karena tidak berpikir dari dulu, karena percaya kebohongan, karena percaya pada seorang penipu; pada Tuhan karena membiarkan saya, tidak bertindak dan menghentikan kebohongan yang dilakukan dalam nama Dia.

Ketika saya melihat gambaran jutaan muslim yang, dengan begitu penuh pengabdian, pergi ke Saudi Arabia, malah banyak dari mereka yg menghabiskan tabungan mereka utk melakukan Ibadah Haji. Say amarah pada kebohongan yang membesarkan orang2 ini. Ketika saya baca ada orang yang mualaf, sesuatu yang sangat disuka muslim utk digembar-gemborkan kemana-mana dan menjadi isu besar, saya jadi sedih dan marah. Saya sedih utk jiwa malang itu dan marah pada kebohongan2 yang membuatnya terperangkap.

Saya marah pada dunia yang mencoba melindungi kebohongan ini, yang membelanya bahkan menganiaya orang yang berani angkat suara utk mengatakan yang sebenaranya. Bukan Cuma orang muslim, bahkan orang barat sekalipun yang tidak percaya Islam. Oke-oke saja mengkritik apapun, asal jangan mengkritik Islam. Yang mengherankan saya dan membuat saya tambah marah adalah perlawanan yang saya dapati ketika mencoba memberitahu orang lain bahwa Islam bukan kebenaran.

Untungnya, kemarahan ini tidak lama. Saya tahu Muhammad bukan Utusan Tuhan tapi tukang tipu-tipu, seoarng demagog yang niatnya adalah membodohi orang dan memuaskan ambisi narsisisnya belaka. Say atahu semua kisah2 kekanak-kanakan tentang neraka dng api hebatnya dan surga dg sungai arak, susu dan madu adalah khayalan orang sakit, liar, tidak waras dan keji dari orang yang sangat butuh utk mendominasi dan memastikan otoritasnya sendiri.

Saya sadar saya tidak bisa marah pada orang tua saya; karena mereka melakukan yang terbaik utk mengajarkan saya apa yang mereka pikir terbaik. Saya tidak bisa marah pada masyarakat atau budaya karena orang2 saya juga sama salah informasinya seperti orang tua dan saya sendiri. Setelah memikirkan ini, saya sadar setiap orang menjadi korbannya. Ada lebih dari semilyar korban. Bahkan mereka yang menjadi pelaku sekalipun sebenarnya adalah korban islam juga. Bagaimana bisa saya salahkan muslim jika mereka sendiri tidak tahu apa yang dimaksud Islam dan secara jujur mereka percaya, meski salah, bahwa islam adalah agama damai?

Bagaimana dengan Muhammad? Apa saya harus marah padanya karena berbohong, menipu dan menyesatkan orang? Bagaimana bisa saya marah pada orang mati? Muhammad adalah orang sakit yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia dibesarkan sebagai yatim dalam rawatan lima orang tua yang berbeda-beda sebelum dia mencapai umur delapan tahun. Segera setelah dia dekat pada seseorang, dia dilepaskan dan diberikan pada orang lainnya lagi. Ini pastilah sulit baginya dan mengubah emosinya. Sebagai anak kecil, kekurangan cinta dan sayang, dia tumbuh dengan rasa takut dan kurang percaya diri. Dia menjadi seorang narsisis. Narsisis adalah orang yang tidak cukup menerima cinta dimasa kanak-kanaknya, yang tidak mampu mencintai malah lapar perhatian, penghormatan dan pengenalan. Dia melihat dirinya pantas dipandang oleh orang lain sekeinginan dia. Tanpa pengenalan demikian dia bukan siapa-siapa. Dia menjadi seorang manipulator dan pembohong yang menyedihkan.

Orang narsisis adalah Pemimpi Hebat. Mereka ingin menaklukan dunia dan mendominasi semua orang. Hanya dalam angan megalomania merekalah rasa narsisisme itu dipuaskan. Beberapa narsisis terkenal adalah Hitler, Mussolini, Stalin, Saddam Husein, Idi Amin, Pol Pot dan Mao. Orang Narsisis biasanya pintar, tapi secara emosi hancur. Jauh didalam dirinya mereka adalah orang2 ‘terganggu’. Mereka mengeset tujuan yang sangat tinggi. Tujuan mereka selalu berhubungan dengan dominasi, kekuasaan dan penghormatan. Mereka bukan siapa-siapa jika diacuhkan. Orang narsisis sering mencari pembenaran utk memaksakan kuasa mereka terhadap korban2 tak berdaya mereka. Bagi Hitler adalah partai dan ras. Bagi Mussolini adalah fasisme atau Kesatuan Bangsa melawan bangsa lain. Bagi Muhammad adalah agama.

Penyebab2 ini adalah alat semata bagi usaha mereka mencari kekuasaan. Alih-alih mengenalkan dirinya, orang narsisis mengenalkan tujuan, ideologi atau agama sambil menyebutkan bahwa dirinya menjadi satu-satunya otoritas dan wakil dari tujuan2 itu. Hitler tidak meminta orang Jerman utk mencintai dirinya sebagai pribadi tapi mencintai dan menghormatinya karena dia seorang Fuhrer. Muhammad tidak meminta orang utk mematuhinya. Tapi, dia dg mudah menuntut pengikutnya mematuhi Allah dan UtusanNya. Tentu saja, Allahnya Muhammad Cuma alter ego dirinya sendiri, jadi semua pengabdian sebenarnya ditujukan pada dirinya. Dengan cara ini Muhammad bisa menerapkan kuasa atas hidup semua orang dengan bilang bahwa Dia adalah wakil Tuhan dan apa yang dia katakan adalah yang diperintahkan Tuhan.

Muhammad adalah orang keji tanpa perasaan. Ketika dia merasa orang Yahudi tidak berguna lagi buatnya, dia berhenti menghormat mereka dan memusnahkan mereka semua. Dia membantai semua lelaki Bani (Suku) Quraiza dan mengusir atau membunuh yahudi2 atau kristen2 lain dari Arabia. Pastinya jika Tuhan mau memusnahkan orang2 ini dia tidak perlu pertolongan utusanNya.

Dg demikian, saya lihat tidak ada alasan utk marah pada orang ‘gila dan sakit’ yang sudah mati dulu kala ini. Muhammad sendiri menjadi korban dari budaya **** bangsanya, korban kebodohan ibunya yang tidak memberi dia kasih saya ketika dia sangat membutuhkannya, malah memberikannya pada wanita Bedouin yang membesarkannya semata hanya agar ibunya itu tidak terhalangi dan bisa mendapatkan suami baru.

Saya tidak bisa mengkritik atau menyalahkan orang2 Arab abad 7 yang **** karena tidak bisa membedakan Muhammad itu orang ‘sakit’ bukannya nabi, bahwa janji2 keterlaluannya, mimpi2 hebatnya itu semua hanya keinginan Muhammad belaka, disebabkan oleh komplikasi emosi patologis dan bukan karena kuasa Yang Maha Tinggi. Bagaimana bisa saya menyalahkan Arab2 **** itu karena mereka jadi krban orang seperti Muhammad, padahal abad kemarin saja jutaan orang Jerman jadi korban yang sama oleh Karisma Narsisis lain, yang seperti Muhammad, membuat janji2 besar dan sama2 kejinya, sama-sama manipulatif dan ambisiusnya?

Setelah dipikirkan dengan lama dan berat, saya sadar tidak ada satu orangpun yang bisa jadi sasaran kemarahan saya. Saya sadar kita semua adalah korban dan sekaligus dikorbankan. Biang kerok dari semua ini adalah kebodohan. Karena kebodohan kita sendiri yang percaya pada Dukun Lepus dan dusta2nya, membuat mereka bisa menaburkan benci diantara kita dalam nama Tuhan, Ideologi dan agama Palsu. Kebencian ini yang memisahkan kita satu sama lain dan mencegah kita dari kesatuan dan pengertian bahwa kita semua adalah sama-sama umat manusia, saling tergantung satu sama lain.

Saat itulah kemarahan saya hilang dan berganti dengan perasaan empati, sayang dan cinta. Saya berjanji pada diri sendiri untuk melawan kebodohan yang memisahkan umat manusia ini. Kita telah membayar dan masih membayar besar atas perpecahan kita. Perpecahan ini disebabkan oleh kebodohan dan kebodohan adalah hasil dari kepercayaan palsu dan ideologi jahat yang ditanamkan oleh orang yang secara emosi tidak sehat dan punya tujuan pribadi.

Ideologi memisahkan kita. Agama menyebabkan perpecahan, benci, perang, pembunuhan dan antagonisma. Sebagai anggota umat manusia, kita tidak perlu ideologi, sebab atau agama utk bersatu.

Saya sadar bahwa tujuan hidup bukan untuk percaya tapi utk meragukan. Saya sadar bahwa tak seorangpun bisa mengajar kita kebenaran karena kebenaran tidak bisa diajarkan. Kebenaran hanya bisa dialami. Tidak ada agama, filosofi atau doktrin yang bisa mengajar anda kebenaran. Kebenaran ada dalam cinta yang kita punya bagi sesama manusia, dalam tawa anak2, dalam persahabatan, dalam pertemanan, dalam cinta antara orang tua dan anaknya dan dalam hubungan kita satu sama lain. Kebenaran bukan ada dalam ideologi. Satu2nya yang nyata hanyalah Cinta.

Proses dari iman menuju pencerahan adalah proses berliku dan menyakitkan. Saya pinjam istilah dari sufisme dan menamakan tujuh “Lembah” Pencerahan - Iman adalah kondisi yang pasti dalam kebodohan/ketidak tahuan. Anda akan terus berada dalam kondisi ini sampai anda dikejutkan dan dipaksa keluar dari dalamnya. Kejutan ini adalah “Lembah Pertama

Reaksi alami pertama dari kejutan ini adalah penyangkalan. Penyangkalan itu seperti perisai. Menahan rasa sakit dan melindungi anda dari derita karena keluar dari daerah nyaman. Daerah nyaman dimana kita merasa enak, akrab, tidak menemui tantangan2 baru atau yang tidak dikenal. Ini adalah “Lembah Kedua”.

Pertumbuhan tidak terjadi dalam daerah nyaman. Utk maju dan berkembang serta tumbuh kita perlu keluar dari daerah nyaman ini. Kita tidak akan melakukan itu kecuali kita dikejutkan. Juga alami sekali utk menahan rasa sakit kejutan itu dengan penyangkalan. Saat beginilah kita perlu kejutan lain, dan kita mungkin memutuskan melindungi diri lagi dengan penyangkalan lain. Semakin banyak orang dihadapkan dengan fakta dan kejutan, semakin sering dia mencoba utk melindungi dirinya dengan penyangkalan2.
Tapi penyangkalan tidak menghilangkan fakta2. Cuma melindungi kita sementara saja. Ketika kita dihadapkan pada fakta, pada titik tertentu kita tidka bisa terus menerus menyangkal. Mendadak kita tidak akan bisa melindungi diri lagi, dan perisai penyangkalan akan hancur. Kita tidak bisa terus menerus sembunyi. Sekali saja keraguan muncul, akan terjadi efek domino dan kita mendapatkan diri kita diserang dari semua arah dengan fakta2 yang sebelumnya kita hindari dan sangkal. Mendadak semua kemustahilan2 yang sebelumnya kita terima bahkan bela tidak lagi logis diotak kita dan kita mulai menolaknya.

Kita ditarik kedalam tahap menyakitkan yaitu Kebingungan dan ini adalah “Lembah Ketiga”. Kepercayaan lama terasa tidak masuk akal, **** dan tidak bisa diterima, kita tidak punya pegangan lagi. Lembah ini, saya kira, adalah tahap yang paling menderita dalam perjalanan ini. Dilembah ini kita kehilangan iman kita tanpa/sebelum mendapatkan pencerahan. Kita berdiri sendiri tidak tahu dimana. Kita serasa terjun bebas. Kita meminta tolong tapi yang didapat hanya omong kosong2 yang itu-itu saja. Sepertinya mereka yang mau menolong kita itu sendiri sedang tersesat, tapi mereka seperti yakin diri. Mereka percaya apa yang mereka tidak tahu. Argumen2 mereka tidak logis sama sekali. Mereka minta kita percaya tanpa banyak tanya. Mereka memberi contoh iman orang lain. Tapi intensitas iman orang lain itu bukanlah bukti kebenaran dari apa yang mereka percaya.

Kebingungan ini akhirnya menuntun kita ke “Lembah Keempat”, Rasa Salah. Anda merasa salah karena berpikir demikian. Anda merasa bersalah karena telah meragukan, telah mempertanyakan, telah tidak mengerti. Anda merasa telanjang dan malu akan pemikiran2 anda. Anda pikir ini semua salah anda sendiri jika kemustahilan yang ditampilkan dalam Kitab Suci tidak masuk akal anda. Anda pikir Tuhan meninggalkan anda atau dia sedang menguji anda. Dalam lembah ini anda dirobek-robek oleh emosi dan intelektualitas anda. Emosi tidaklah rasional, tapi sangat kuat. Anda ingin kembali ke ‘Ruang Pembodohan’: anda mati-matian ingin percaya, tapi tidak bisa. Anda telah berdosa karena berpikir. Anda telah memakan buah Kholdi, buah terlarang dari pohon Pengetahuan. Anda membuat marah Tuhan imajinasi anda.

Akhirnya anda memutuskan tidak perlu lagi merasa salah karena pengertian2 belaka. Rasa salah ini bukan milik anda. Anda merasa dibebaskan tapi sekaligus dilingkupi rasa sedih utk semua kebohongan yang membuat anda ada dalam kebodohan dan membuang2 waktu. Inilah Lembah Kelima, Kekecewaan. Disaat yang sama anda dilingkupi rasa sedih. Anda merasa bebas, tapi seperti baru keluar dari penjara seumur hidup anda merasa depresi berat. Anda merasa kesepian dan, meski telah bebas, anda merasa kehilangan sesuatu. Anda merenungkan waktu2 yang terbuang. Anda pikir banyak orang percaya kebohongan dan secara **** mengorbankan segala sesuatu utk itu, termasuk nyawa mereka. Sejarah ditulis dengan darah orang yang terbunuh dalam nama Allah atau Tuhan2 lain. Semuanya sia-sia. Semuanya utk sebuah kebohongan!

Saat itulah anda memasuki “Lembah Keenam”: Kemarahan. Anda menjadi marah pada diri anda, dan pada segalanya. Anda sadar betapa banyak hidup berharga anda sia-siakan dalam banyak kebohongan.

Lalu anda sadar bahwa andalah yang beruntung telah sanggup berjalan sekian jauh dan bahwa ada banyak ratusan juta lain yang masih terkungkung dalam penyangkalan dan tidak berani keluar dari daerah nyaman mereka. Mereka masih berputar-putar di Lembah Pertama. Pada tahap ini anda sepenuhnya bebas dari agama, iman, rasa salah dan amarah, anda siap utk mengerti Kebenaran Mutakhir dan mengungkap misteri2 kehidupan. Anda penuh dengan empati dan rasa sayang. Anda siap untuk dicerahkan. Pencerahan datang ketika anda sadar bahwa kebenaran itu ada dalam cinta dan hubungan kita dengan sesama umat manusia bukan dalam sebuah agama dan kultus. Anda sadar bahwa Kebenaran itu adalah Dataran tak berjalan. Tidak ada nabi atau guru bisa mengantar anda kesana. Anda sebenarnya sekarang sudah ada disana, di Lembah Ketujuh, Lembah Pencerahan.
User avatar
pod-rock
Translator
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Postby DHS » Sun Aug 10, 2008 2:52 pm

PODROCK >>>> Top Markotop!

7 Lembah fase kemurtadan ini hasil karya anda sendiri kan?

Angkat topi! :lol:
User avatar
DHS
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4377
Images: 4
Joined: Sat Jan 05, 2008 7:56 pm

Postby sinar » Sun Aug 10, 2008 7:49 pm

Podrock kayanya jarang muncul, tapi sekali muncul langsung menghentak dunia persilatan....
Salut atas kerjanya, makasih banyak.
User avatar
sinar
Translator
 
Posts: 874
Joined: Mon May 19, 2008 4:34 am
Location: Europe

Postby ali5196 » Tue Aug 12, 2008 1:14 am

Sori man, udah dimuat di:

Latar belakang A SINA: From belief to Enlightenment
http://www.indonesia.faithfreedom.org/o ... php?t=6478
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Re: Kesaksian Ali SINA

Postby Beyond_logic » Sat Jan 03, 2009 9:25 pm

memang sepertinya islam adalah lingkaran setan yang sangat mematikan....

kebenaran tidak sama dengan allah..
dan TUHAN tidak membutuhkan pengakuan...
gunung tetaplah gunung...


TUHAN adalah apa yang kita tuju...( entah intu berkepribadian atau tidak )
TUHAN tidak membutuhkan kita...kita lah yang membutuhkan dia ( bagi yang tidak membutuhkanNya ya tak apa )

bagi saya memang pribadi allah ini maha sadis...
Beyond_logic
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 112
Joined: Sat Jan 03, 2009 2:57 pm

Re: Kesaksian Ali SINA

Postby Jebot » Sat Jan 03, 2009 10:02 pm

@Beyond_logic,
that's right brother! (bukan Republik Mimpi).

Beyond_logic wrote:
TUHAN tidak membutuhkan kita...kita lah yang membutuhkan Dia.

=========================

Ané pikir énté bener, kité² yang membutuhkan Tuhan.
Tuhan tetap Tuhan, tanpa kita sembah, tanpa kita béla.
Tuhan tidak perlu kita béla, Dia sanggup melakukan segala sesuatu.
Ngga perlu tuh demo² :turban: bélain Tuhan, cepééé déch.
Terimakasih Beyond_logic.
User avatar
Jebot
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 580
Joined: Sat Sep 13, 2008 8:16 pm
Location: SomeWhere

Re: Kesaksian Ali SINA

Postby Beyond_logic » Sat Jan 03, 2009 10:19 pm

@jebot
terimakasih kembali
Beyond_logic
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 112
Joined: Sat Jan 03, 2009 2:57 pm

Re: Kesaksian Ali SINA

Postby JIMMY05 » Sun Jan 04, 2009 9:53 pm

andaikata ajaran setan ini gak ada di indonesia,,, ato katakanlah penganutnya hanya dibawah 5% ,,, ana yakin sekali bangsa kita sudah menjadi salah satu superpower dalam dunia internasional,,,

abad 8 aja,,, udah bisa bangun borobudur,,, tapi karna masuknya ajaran setan yg dipimpin oleh seorang yg bernama muhamad_hiv,,, habislah sudah bangsa ini,,, udah gak karuan lagi,,, karna masyarakat berpedoman pada kitab setan yaitu al quran( didalamnya berisi perintah kebencian dan cerita cabul )
by jimmy05
JIMMY05
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 15
Joined: Sun Jan 04, 2009 8:55 pm
Location: IN INDONESIA

Re: Kesaksian Ali SINA

Postby Pek Tay » Sun Jan 04, 2009 11:57 pm

gajahngepot wrote:Apalagi setelah masuknya penjajah2 eropa kapir kresten yang kerjanya memperkosa moyang netter2 ffi sama ngerampokin bangsa lain... benar2 ajaran kasih...
:rofl:


Akhi tahu nggak perbedaan nyata dari letak penyebaran agamanya?

Penjajahan Belanda di Indonesia ini tidak didasari ajaran agama mereka. Akhi suka baca buku sejarah-sejarah kuno nggak? Belanda menjajah bukan didasari agama mereka. Bahkan ajaran agama mereka melarang keras hal ini. Atau mungkin Akhi membaca buku-buku sejarah terbitan Ponpes ya?

Tapi lain lagi dengan invasi dari para muslim yang mengatasnamakan islam. Sudah jelas-jelas mereka didasari oleh agama mereka dalam menginvasi negara-negara lain. Dan hal itu di halalkan oleh allah.

Kalau Akhi bilang islam masuk dan disebarkan di Indonesia ini karena perdagangan, itu karena taqiyya belaka.
Silahkan baca buku-buku sejarah bangsa Indonesia ini (dari sumber yang kompeten tentunya, bukan terbitan Ponpes).
Akhi akan bisa melihat dengan jelas kenyataan tersebut. Memang sangat sakit ketika kita mengetahui realita tersebut.
Tapi jika kita mengesampingkan ego dan berpikir jernih dengan akal sehat dan nurani, Akhi pun akan bisa sadar.
Pek Tay
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 26
Joined: Sun Jan 04, 2009 4:44 am


Return to ONE STOP SHOP FFI



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users