. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Kenapa aku memilih Islam (kisah para mualaf)

Yang bikin tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut.

Kenapa aku memilih Islam (kisah para mualaf)

Postby dua » Sat Apr 01, 2006 10:16 am

Buat temen-temen mualaf silahkan posting pengalaman dan penyebab anda meninggalakan agama yang lama dan meilih Islam....karena kalo gue sendiri yang posting nanti dikira gimana oleh para kulupin itu krn gue sejak lahir sudah Islam. Untuk sementara ane ada copian nih
silahakan dibaca, mudah-mudahan dgn adanya thread ini semakin menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Islam
Maha benar engkau ya Allah dgn segala firmannya

Muslim Tibet dikenal masyarakatnya dengan sebutan "Khache". Diperkirakan sebutan ini muncul karena Muslim pertama yang datang dari Kashmir dikenal dengan nama "Khache Yull". Para Kache ini merupakan kelompok minoritas di Tibet yang didominasi pengikut Budha. Meskipun masuk golongan minoritas dan secara silsilah bukan orang asli Tibet, mereka lebih diakui sebagai orang Tibet daripada kelompok Muslim Hui asal China atau yang disebut Kyangsha.



Dengan populasi yang sangat sedikit, keberadaan Muslim Tibet juga tersebar di seluruh kawasan ini. Sebagian besar menetap di ibukota Tibet Lhasa dan di Shigatse, kota terbesar kedua di Tibet.


Muslim Tibet memiliki keunikan tersendiri. Faktanya mereka sebagian besar merupakan keturunan Kashmir, Persia, atau Arab melalui garis keturunan ayah. Darah Tibet mengalir melalui garis keturunan ibu. Maka tak heran, banyak dari mereka yang bernama depan Tibet namun nama keluarganya Persia.


Komunitas Muslim Tibet memiliki masjid sendiri yang terletak di Lhasa, Shigatse, dam Tsethang. Ciri khas lainnya dari komunitas Muslim Tibet adalah pusat kegiatan mereka yang terkonsentrasi di sekeliling masjid, yang juga menjadi pusat kehidupan sosial Muslim di Tibet.


Mereka juga mendirikan madrasah. Selain mengajarkan agama, madrasah juga mengajarkan bahasa Urdu. Ada dua madrasah di Tibet, satu di Lhasa dan satu lagi di Shigatse.


Namun, madrasah belum diakui pemerintah Cina yang menginvasi Tibet tahun 1959. Lulusan madrasah tidak bisa meneruskan ke sekolah umum yang lebih tinggi. Karenanya, mereka meneruskan studinya ke institut-institut Muslim di India. Salah satu institusi pendidikan favorit mereka adalah Darul-Ulum di Deoband, Nadwatul-Ulema di Lucknow, dan Jamia Millia Islamia di New Delhi.


Akibat keterbatasan transportasi, para siswa yang akan melakukan perjalanan ke India, harus berangkat bersama rombongan dagang. Perjalanan ini memakan waktu berbulan-bulan karena harus berjalan kaki dan naik kuda atau keledai ke India. Biasanya, mereka tidak pulang ke rumah kecuali sudah menyelesaikan pendidikan atau memutuskan drop out.


Tak banyak Muslim Tibet yang berhasil menyelesaikan kuliah mereka di India dan mendapat keahlian bahasa Arab, Urdu, dan Persia. Yang paling terkenal dari mereka adalah Faidhullah, penerjemah puisi sastrawan Persia Syekh Sadi ke dalam bahasa Tibet, Gulestan, dan Boastan.


Selain kesusastraan, Muslim Tibet juga telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kebudayaan masyarakat Tibet, khususnya dalam seni musik. Nangma atau dalam bahasa Urdu disebut naghma, sejenis musik klasik yang sangat populer di Tibet, disebutkan dibawa ke tempat ini oleh Muslim Tibet.


Mereka juga mengadopsi adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Tibet. Salah satunya dalam urusan pernikahan. Di satu sisi mereka menjalankan pernikahan ala Tibet, namun di sisi lain mereka tetap memegang kukuh tradisi pernikahan Islam.


Harmoni yang Hilang di Atap Dunia


Sebelum diinvasi China pada tahun 1959, kehidupan dan toleransi umat beragama yang berlangsung di Tibet sangatlah luar biasa. Komunitas Budha yang mayoritas memberikan tempat dan kebebasan bagi komunitas Muslim yang minoritas untuk berkembang dan menjalankan ritual ibadahnya.


Secara pasti, hingga kini belum diketahui sejarah awal kapan komunitas Muslim datang ke kawasan yang disebut sebagai atap dunia ini. Namun sejarawan Arab, seperti Yaqut Hamawi, Ibnu Khaldun, dan Tabari sudah menyebut-nyebut nama kawasan ini dalam tulisan-tulisan mereka. Bahkan Yaqut Hamawi, dalam bukunya, Muajumal Buldan, atau ensiklopedi negara-negara, menyebut kawasan ini dalam tiga istilah Tabbat, Tibet, dan Tubbet.


Islam datang ke Tibet melalui para pedagang Muslim yang berasal dari empat kawasan yang berbatasan langsung dengan Tibet. Mereka berasal dari Kashmir, Ladakh, Nepal, dan Cina, meski ada pula pengaruh Persia dan Turkistan.


Muslim migran dari Kashmir dan Ladakh, dua wilayah di India, pertama kali memasuki Tibet pada abad ke-12. Melalui pernikahan dan interaksi sosial, komunitas Muslim Tibet mulai terbentuk dan semakin banyak hingga membentuk komunitas Muslim tersendiri di Lhasa, ibukota Tibet.


Adalah Dalai Lama yang memainkan peranan penting dalam membuka jalan bagi kehidupan komunitas Muslim di lingkungan penganut Budha Tibet. Sebagai bagian kebijakan toleransi beragama, Dalai Lama menghadiahi komunitas Muslim Tibet dengan hak-hak istimewa.


Mereka boleh memilih lima anggota komite untuk mengawasi urusan internal mereka. Mereka juga diperbolehkan menangani permasalahan mereka secara independen dengan menggunakan hukum syariah. Muslim Tibet juga boleh membuka toko di seluruh kota di Tibet dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.


Keistimewaan lainnya adalah mereka juga boleh memakan daging selama perayaan Sadakawa yang merupakan perayaan suci umat Budha. Termasuk diperkenankan untuk tidak membuka topi mereka pada perayaan ibadah Monlam untuk membedakan mereka dari pendeta-pendeta Budha. Dalai Lama juga memberikan lahan kosong di Lhasa bagi komunitas Muslim untuk membangun masjid dan juga pemakaman.


Sebelum invasi Cina, diperkirakan ada sekitar 3 ribu Muslim Tibet yang tinggal di seluruh kawasan ini. Jumlah mereka menyusut drastis setelah invasi. Seperti saudaranya yang beragama Budha, Muslim Tibet juga diperas, disiksa, dan dianiaya sehingga terpaksa mengungsi. Pemerintah Cina bahkan memperlakukan mereka lebih kejam daripada kepada orang Budha. Muslim Tibet yang menguasai perdagangan di kota-kota di Tibet dipaksa menyerahkan asetnya agar bisa keluar dari Tibet.


Namun setelah semua aset diberikan, pemerintah China berkhianat. Izin migrasi mereka tidak diberikan dan mereka melarang siapapun menjual makanan kepada Muslim Tibet. Akibatnya banyak orang tua dan anak-anak Tibet yang meninggal karena kelaparan.


Berkat bantuan Dalai Lama yang meminta bantuan pemimpin Jammu dan Kashmir, akhirnya pada tahun 1975, Muslim Tibet yang melarikan diri diberikan lahan untuk tempat tinggal. Meski begitu, Muslim Tibet tetap merindukan kampung halamannya yang damai seperti dulu. "Lebih baik hidup di bawah jembatan namun di kampung halaman sendiri, daripada hidup sebagai pengungsi di tempat lain," begitu semboyan mereka.
Last edited by dua on Sat Jun 03, 2006 3:54 pm, edited 1 time in total.
dua
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 667
Joined: Sat Dec 03, 2005 4:51 pm

Re: Kenapa aku memilih Islam

Postby numplew. » Sat Apr 01, 2006 10:26 am

dua wrote:Buat temen-temen mualaf silahkan posting pengalaman dan penyebab anda meninggalakan agama yang lama dan meilih Islam....karena kalo gue sendiri yang posting nanti dikira gimana oleh para kulupin itu krn gue sejak lahir sudah Islam. Untuk sementara ane ada copian nih
silahakan dibaca, mudah-mudahan dgn adanya thread ini semakin menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Islam

---deleted---


Convert ke Moslem karena blom tahu akan kebrutalan ajaran Mohammed.
Ntar juga kaget, setelah tersingkap segala kebiadaban ajaran Moslem.

Semoga belum terlambat....
User avatar
numplew.
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1686
Joined: Sun Mar 05, 2006 4:27 am
Location: nowhere

Postby father2father » Mon Apr 24, 2006 10:50 pm

numplew :
Convert ke Moslem karena blom tahu akan kebrutalan ajaran Mohammed.
Ntar juga kaget, setelah tersingkap segala kebiadaban ajaran Moslem.


emang sekarang blom ada yg ungkapin kebrutalannya, bukankah di sini aja dah begitu banyak di ungkapin.

kurang banyak kali lo ungkapinnya,
makanya cari trus sebanyak2nya ajaran mohammed, trus lo ungkapin deh disini

jangan lupa ungkapin biar pada kaget
father2father
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 43
Joined: Mon Apr 24, 2006 9:41 am

Postby ali5196 » Mon Apr 24, 2006 11:26 pm

father2father wrote:emang sekarang blom ada yg ungkapin kebrutalannya, bukankah di sini aja dah begitu banyak di ungkapin.

kurang banyak kali lo ungkapinnya,
makanya cari trus sebanyak2nya ajaran mohammed, trus lo ungkapin deh disini

jangan lupa ungkapin biar pada kaget


Dont worry, perjuangan kita berjalan terus. Lihat aja suksesnya forum kita ini. Pengunjung per bulan naik menjadi 800/hari. 2 bulan lalu kita hanya mendapat 500/hari. Sepertinya dgn keributan yg dibuat Islam (termasuk Islamisasi Bali, kekacauan yg diakibatkan oleh Islam diseluruh dunia), orang akan semakin ingin tahu dimana salahnya Islam.

Sayang karena batasan bahasa, Indonesia tidak sepintar orang2 Malaysia.
Bola murtad Malaysia sih sudah semakin membesar:
250.000 orang Malaysia daftar diri utk murtad
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=2153
Last edited by ali5196 on Mon Apr 24, 2006 11:31 pm, edited 1 time in total.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Mon Apr 24, 2006 11:30 pm

dua wrote:"Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk[/color], dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya."
(QS. Ali Imran:19-20)


KATA GUA : "Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk untuk menjadi miskin, terbelakang, picik dan tidak rukun antar sesama (Lihat: SUNNI vs SHIAH vs AHMADIYAH vs MUSLIM YG MENOLAK HADIS vs Muslim Moderat vs Muslim fundamentalis vs Hamas vs Fatah dst dst.) DAN SELAMA2NYA MUSLIM akan TERGANTUNG BANTUAN KAFIR"

Islam isapan jempol Muhamad si bandit dan bandot itu. Murtadlah sebelum terlambat. Kalau saya bisa melakukannya, andapun bisa.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby angels » Mon Apr 24, 2006 11:37 pm

masa sih ???? :D
angels
Banned
 
Posts: 169
Joined: Tue Feb 21, 2006 12:58 am

Postby ahmad666 » Mon Apr 24, 2006 11:41 pm

Astaga Islam kau sungguh binatang buas yg selalu menumpahkan darah di mana mana , gak di dalam negeri gak di luar negeri , kehadiranmu selalu di penuhi darah , apakah aulloh Islam itu selalu butuh tumbal darah setiap hari , jangan 2x auloh mu itu vampire yah , sudahlah tinggalkan Islam agama + ideologi nyamuk penghisap darah

mending ikut Tuhan saya Mickey Mouse , setiap hari penuh canda dan ketawa , bersama para malaikatnya , Donald Duck dan Gober

hai para muslimin/muslimah sampai kapan kau berhenti menumpahkan darah sesamamu yg mengaku manusia .

Muslim2 banci berani nya di kandang , kalau berani lawan denmark pergilah ke negaranya , jgn bacot doang di sini , kalau mau bantai bush kitim tuh para ustad2 horny perang ke AS , AS punya rudal Muslim pakai santet hahahha

Hamas bangkrut Arab saudi dan tetangganya kaga ada yg mau nyumbang , ngemis 2x sama kafir hahahaha .

Indonesia miskin tiap tahun malah nyumbang ke arab buat nyembah batu , apa sih isi batunya ??? ada 72 bidadari lagi striptease yah hahaha

Hari gini masih percaya tukang jual obat yg udah mati selama 1400 thn

:lol: :lol:
ahmad666
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 55
Joined: Thu Feb 09, 2006 12:17 pm

Postby dua » Sat May 06, 2006 5:29 pm

Nama saya Jung Li Fung, itu nama yang diberikan papa saya, Jung Se Hin alias Kartono, WNI keturunan Cina yang lahir di Ketapang. Sedangkan, mama saya berdarah campuran Cina-Dayak, dari pedalaman Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Saya sendiri lahir pada 17 Agustus 1973, sebagai anak tertua dari 6 bersaudara.

Kami dibesarkan di Desa Nanga, Sepauk, dari keluarga yang masih teguh memegang tradisi leluhur, Konghucu. Meskipun begitu, saya dan adik-adik sempat terombang ambing dalam keyakinan yang tidak menentu. Walaupun papa dan mama mengaku beragama Kristen Katolik, tetapi mereka tidak pernah mengarahkan kami, anak-anaknya, untuk menjadi domba Yesus yang baik.



Sewaktu duduk di bangku SMP, saya mulai aktif mengikuti kegiatan keagamaan, baik di sekolah maupun di gereja. Meskipun begitu, teman-teman akrab saya baik di tempat tinggal maupun di sekolah, justru lebih banyak yang beragama Islam. Kebetulan, lingkungan masyarakat tempat tinggal kami mayoritas orang muslim.

Meskipun WNI keturunan Cina juga banyak tinggal di daerah ini, tetapi mereka seperti enggan berbaur dengan pribumi. Keadaan seperti inilah yang mulai mempengaruhi jalan pikiran saya. Saya sering melontarkan kritik kepada teman-teman sesama WNI keturunan. "Mengapa kita masih berkiblat kepada tanah leluhur, sedangkan kita sudah beragama Katolik," tegas saya.

Masa remaja saya berjalan wajar dan kerena pendirian saya itu, saya lebih suka bergaul dengan remaja pribumi. Dari merekalah saya banyak mengetahui seluk-beluk adat istiadat penduduk pribumi. Termasuk agama Islam sebagai agama yang dianut mereka.

Dan, ketika duduk di SMP itu pula saya berkenalan dengan seorang pemuda yang bekerja di toko pakaian jadi. la berasal dari Pasaman, Sumatra Barat, dan lama bermukim di Sintang. Namanya Tasriful. Meskipun usianya terpaut jauh dengan usia saya, tetapi pembawaannya yang ramah dan harmonis telah mempertautkan jiwa kami berdua dalam ikatan batin yang sulit saya lukiskan dengan kata-kata. Kendati keyakinan kami berbeda, tapi itu tak menghalangi kami untuk bersahabat.

Orang tua saya yang sudah maklum dengan pergaulan saya yang lebih suka berteman dengan remaja pribumi, tidak begitu mempersoalkan kedatangan Tasriful. Tetapi, ketika pemuda itu mulai rutin mengunjungi saya, orang tua saya mulai waspada. Papa mengingatkan agar saya menjaga jarak dengan pemuda itu, karena kami berbeda agama. Kami Katolik, sedangkan dia Islam.

Lari dan Masuk Islam

Meskipun orang tua saya, terutama papa telah mencurigai hubungan kami, tapi terus terang, saya amat mengagumi pribadi Tasriful. la pemuda yang bersikap dewasa, penuh tanggung jawab, penyabar, dan bisa membimbing. Saya sudah berbulat hati untuk memilihnya sebagai teman hidup, meski apa pun yang akan terjadi.

Masa pacaran kami lebih banyak diisi dengan perbincangan tentang persoalan keyakinan. Karena penjelasannya yang rasional, saya pun dapat menerima kebenaran Islam. Apalagi saga lihat agama Katolik tidak mampu menjembatani pembauran antara pribumi dan WNI keturunan. Saya melihat hanya Islamlah yang dapat menuntaskan proses pembauran tersebut.

Dan seperti yang sudah saya duga, hubungan kami mendapat tantangan keras dari keluarga. Terutama papa, is bersikap amat keras. Tak perlu saya jelaskan apa yang menimpa diri saya dengan kenekatan saya yang tetap berhubungan dengan Tasriful. justru Tasriful yang prihatin dengan keadaan saya sehingga ia menyarankan agar saya sementara waktu hijrah ke 'suatu tempat yang aman. Katanya, ini demi keselamatanjiwa saya sendiri. Terutama untuk menyelamatkan cita-cita suci, yaitu ingin masuk Islam.

Atas dasar pertimbangan yang seperti itu, akhirnya saya mengambil keputusan lari dari rumah. Meskipun berat, tetapi demi satu pilihan, saya rela berpisah dari keluarga. Alhamdulillah, saya diamankan ke rumah kenalan Tasriful yang menjadi lurah di salah satu kelurahan di Kecamatan Sintang. Namanya Bapak M. Sa'ie Usman. Dengan tulus beliau dan istrinya menerima kehadiran saya.

Sementara itu, dengan kedudukannya sebagai lurah, Bapak M. Sa'ie tentu tak ingin dituduh menyembunyikan anak gadis orang. Apalagi pada waktu itu umur saya barn 17 tahun. Maka, ia pun mendatangi orang tua saya dan menggambarkan bahwa saya, anaknya, ada di rumahnya. Tetapi, ia pun mengingatkan bahwa hal itu ditempuhnya demi keselamatan fisik dan keyakinan saya. Karena yang datang seorang pamong desa maka orang tua saya pun tidak berani macam-macam. Meskipun sangat kecewa dan marah dengan sikap saya, tapi akhimya mereka toh tetap hadir pada hari yang bersejarah dalam hidup saya.

Hari itu, tanggal 13 Oktober 1990, bertempat di rumah Lurah M. Sai'ie Usman yang juga dihadiri tokoh-tokoh masyarakat Sintang, termasuk kerabat saya yang WNI keturunan, berlangsunglah tiga peristiwa yang amatbersejarah sekaligus.

Pertama, serah terima perwalian dari ayah kandung saya, Jung Se Hin alias Kartono, kepada Bapak M. Sa'ie Usman selaku ayah angkat dengan ditandai dan dikuatkan ketentuan adat istiadat yang berlaku.

Kedua, upacara pengislaman (pensyahadatan). Setelah upacara serah terima perwalian selesai, saya pun mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di hadapan ayah angkat saya. Oleh beliau saya diberi sebuah nama baru, Suryani. Sejak itu saya bukan lagi Jung Li Fung yang beragama Katolik, tetapi Suryani yang muslimah.

Ketiga, setelah resmi menjadi seorang muslimah, saya langsung dinikahkan oleh ayah angkat saya dengan Tasriful yang telah menyelamatkan keyakinan saya. Yang membahagiakan diri saya, karena ketiga peristiwa yang bersejarah itu disaksikan langsung oleh papa saya, kerabat, dan keluarga besar WNI keturunan di Desa Nanga Sepauk. Mama amat terharu. Tetapi apa mau dikata, itu sudah takdir bagi saya yang tak terelakkan.

Setelah akad nikah selesai, saya langsung menerima ucapan selamat dari seluruh warga, Keluarga Besar Minang di Sintang. Termasuk dan kawan-kawan sekolah saya yang sangat terharu dan gembira dengan keislaman saya itu.

Setelah kemarahan papa saya sudah agak reda, ayah angkat saya yang selalu memantau keadaan kami, menyarankan agar saya dan suami sowan (berkunjung) ke rumah orang tua saya di Sintang.

Alhamdulillah, sekeras-kerasnya sikap papa, akhirnya luluh juga hatinya dan mau menerima kehadiran kami. Alhamdulillah, berkat bimbingan suami, serta ayah angkat, saya yang mualaf ini sudah bisa melaksanakan shalat, puasa dan lain-lainnya, meskipun belum sempurna.

Saya benar-benar merasa bahagia dan berjanji akan senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dan akan menjadi istri yang baik dan setia, dapat membimbinganak-anak kami kelak menjadi generasi muslim yang baik. Semoga Amin.

Kafirlah mereka yang menyatakan Isa (Yesus) anak Tuhan!!!!!!
dua
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 667
Joined: Sat Dec 03, 2005 4:51 pm

Postby Phoenix » Sun May 07, 2006 7:40 am

Kafirlah mereka yang menyatakan Isa (Yesus) anak Tuhan!!!!!!


SORRY..I SAY: YESUS ANAK ALLAH! SO mo apa lu? Bilang gue kafir..E - G - P - L - Y : EMANG GUE PIKIRIN LAH YAW...


LHA WONG YESUS ITU TUHAN..SOK TEU SALAH LAGE...!
Phoenix
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11175
Joined: Mon Feb 27, 2006 5:33 am
Location: FFI

Postby bono » Sun May 07, 2006 2:44 pm

kasian banget jung li fung itu, dia tidak tahu apa2 soal islam, terbuai oleh perilaku baik seseorang, padahal belum tentu perilaku baik seorang muslim berarti islam mengajarkan kebaikan. sungguh malang nasib si fung ini. :cry:
User avatar
bono
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2013
Joined: Thu Mar 16, 2006 3:30 pm
Location: Israel

Postby curious » Sun May 07, 2006 2:51 pm

iya tuh. ceritanya nggak lengkap. mana bagian dia ditimpuk suaminya, dimaduin, dipaksa have sex waktu dia lagi nggak minat dan..... murtad :D
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby ali5196 » Mon May 08, 2006 3:40 am

Mana bagian cerita bahwa si Jung Li Fung ini oleh umat gerejanya dikejar2 pakai pedang, dicap MURTAD/KAFIR/NAJIS, dipaksa mengucapkan 'Bapak Kami (atau apa kek syahadahnya Kristen), kehilangan hak warisan dan dimusuhi oleh lingkungan Kristennya ?

Ahhhh ... emang dasar centil ia ! Dikasih roti, malah minta batu.

Kasihan gua dgn bapak dan ibunya. Jangan2 mereka juga jadi korban Mei 1998, yg diorganisasikan teman2nya si Jung Fung itu.

Atau kalau nggak salah setelah dia murtad namanya kemudian menjadi WACHDIE JR ... bener nggak tuh wachdie ?


:lol: :lol:
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby -The Archangel- » Mon May 08, 2006 10:11 pm

buat Jung Li Fung :
nikmati aja sebagai mualaf
nikmati aja membunuh orang
nikmati aja menjarah
nimati aja hidup anda selagi suami anda belum jadi bandot
auuoohhhh akkkduarrrr
User avatar
-The Archangel-
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 142
Joined: Sun Apr 30, 2006 11:55 pm

Postby Rezhander » Tue May 09, 2006 4:25 pm

Hhhhmmm... Bagus cerita pengalaman hidupnya si suryani.. Bisa gw jadiiin referensi buat nambah pengetahuan gw.. Makasih byk ya dua....
User avatar
Rezhander
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1321
Joined: Thu Apr 20, 2006 7:10 pm
Location: Dimanmanhathatsen

scientis masuk islam

Postby dua » Fri May 19, 2006 5:12 pm

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang
ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan
antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery'
pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan
ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini
sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia
dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk
ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut,
tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat
sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang
masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang
membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk
mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di
tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau
khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian
tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang
fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim,
kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat
pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat
19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi
"Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun
laayabghiyaan..."Artinya: "Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas
yang tidak boleh ditembus." Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di
atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua
lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai,
di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin
dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari
surat
Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi "Yakhruju minhuma lu'lu`u wal marjaan"
ertinya "Keluar dari keduanya mutiara dan marjan." Padahal di muara
sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur'an itu, melebihi
kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di
lautan yang dalam. Al Qur'an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang
hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang
canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad
yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa
Al Qur'an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang
seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk
Islam.

Allahu Akbar...! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena
teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya hati manusia akan berkarat
sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air." Bila seorang bertanya,
"Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?" Rasulullah
s.a.w. bersabda, "Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran."
dua
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 667
Joined: Sat Dec 03, 2005 4:51 pm

Re: scientis masuk islam

Postby Rezhander » Fri May 19, 2006 5:54 pm

dua wrote:"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang
ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan
antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqan:53)

---deleted---


Iya.. Selat Gibraltar.. Andalusia.. Kalau diliat dgn mata telanjang pun kelihatan gitu air lautnya gak nyatu.. Yg satu warnanya biru tua, sedangkan yg satunya biru muda.. Kyk dipisahin sama garis gitu.. Aneh, gw juga bingung..
User avatar
Rezhander
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1321
Joined: Thu Apr 20, 2006 7:10 pm
Location: Dimanmanhathatsen

Postby ali5196 » Fri May 19, 2006 6:06 pm

dua ... dua ... saya kasihan melihatmu. Orang sepintar kau masih juga percaya kebohongan usang.

Nih surat dari kerabat JACQUES COUSTEAU bahwa ia TIDAK PERNAH MASUK ISLAM : http://www.answering-islam.org/Hoaxes/cousteau.gif
Bahasa Perancis elu OK nggak ?

Apalagi kebohongan yg kau telan mentah2 ? Napoleon masuk Islam ? Astronot AS masuk Islam ?George Washington masuk Islam ? Paus masuk Islam ? Please ... betapa memalukan bahwa Muslim harus menggunakan kebohongan utk menunjukkan kebenaran agamanya.

Kalau Michael Jackson masuk Islam sih GUA NGGAK HERAN ! Islam memang cocok bagi mereka yg memiliki dgn kelainan jiwa dan kelainan seksual.

Sorry, bukannya mau menghina tapi ini fakta.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby dua » Sat May 20, 2006 9:57 am

halo murtadin ali5196
kuman diseberang lautan nampak, gajah dipelupuk mata hilang
muhammad alfatah..itu tuh si murtadun..yang kini jadi pendeta.....bilang zainudin mz masuk kristen...dlm kotbahnya
li kalo lo mau videonya ntar gue cariin
:D :D :D
dua
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 667
Joined: Sat Dec 03, 2005 4:51 pm

Postby Adadeh » Sat May 20, 2006 1:47 pm

dua wrote:bilang zainudin mz masuk kristen

Hmmm .. kemana nih si doi? Kok kagak pernah kedengaran lagi beritanya tahun2 terakhir ini? Jangan2 udah murtad.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Kenapa aku memilih Islam

Postby Klepon » Mon May 22, 2006 1:41 pm

dua wrote:Muslim Tibet dikenal masyarakatnya dengan sebutan "Khache". Diperkirakan sebutan ini muncul karena Muslim pertama yang datang dari Kashmir dikenal dengan nama "Khache Yull". Para Kache ini merupakan kelompok minoritas di Tibet yang didominasi pengikut Budha. Meskipun masuk golongan minoritas dan secara silsilah bukan orang asli Tibet, mereka lebih diakui sebagai orang Tibet daripada kelompok Muslim Hui asal China atau yang disebut Kyangsha.

Dengan populasi yang sangat sedikit, keberadaan Muslim Tibet juga tersebar di seluruh kawasan ini. Sebagian besar menetap di ibukota Tibet Lhasa dan di Shigatse, kota terbesar kedua di Tibet.

Muslim Tibet memiliki keunikan tersendiri. Faktanya mereka sebagian besar merupakan keturunan Kashmir, Persia, atau Arab melalui garis keturunan ayah. Darah Tibet mengalir melalui garis keturunan ibu. Maka tak heran, banyak dari mereka yang bernama depan Tibet namun nama keluarganya Persia.

Komunitas Muslim Tibet memiliki masjid sendiri yang terletak di Lhasa, Shigatse, dam Tsethang. Ciri khas lainnya dari komunitas Muslim Tibet adalah pusat kegiatan mereka yang terkonsentrasi di sekeliling masjid, yang juga menjadi pusat kehidupan sosial Muslim di Tibet.

Mereka juga mendirikan madrasah. Selain mengajarkan agama, madrasah juga mengajarkan bahasa Urdu. Ada dua madrasah di Tibet, satu di Lhasa dan satu lagi di Shigatse.

Namun, madrasah belum diakui pemerintah Cina yang menginvasi Tibet tahun 1959. Lulusan madrasah tidak bisa meneruskan ke sekolah umum yang lebih tinggi. Karenanya, mereka meneruskan studinya ke institut-institut Muslim di India. Salah satu institusi pendidikan favorit mereka adalah Darul-Ulum di Deoband, Nadwatul-Ulema di Lucknow, dan Jamia Millia Islamia di New Delhi.

Akibat keterbatasan transportasi, para siswa yang akan melakukan perjalanan ke India, harus berangkat bersama rombongan dagang. Perjalanan ini memakan waktu berbulan-bulan karena harus berjalan kaki dan naik kuda atau keledai ke India. Biasanya, mereka tidak pulang ke rumah kecuali sudah menyelesaikan pendidikan atau memutuskan drop out.

Tak banyak Muslim Tibet yang berhasil menyelesaikan kuliah mereka di India dan mendapat keahlian bahasa Arab, Urdu, dan Persia. Yang paling terkenal dari mereka adalah Faidhullah, penerjemah puisi sastrawan Persia Syekh Sadi ke dalam bahasa Tibet, Gulestan, dan Boastan.

Selain kesusastraan, Muslim Tibet juga telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kebudayaan masyarakat Tibet, khususnya dalam seni musik. Nangma atau dalam bahasa Urdu disebut naghma, sejenis musik klasik yang sangat populer di Tibet, disebutkan dibawa ke tempat ini oleh Muslim Tibet.

Mereka juga mengadopsi adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Tibet. Salah satunya dalam urusan pernikahan. Di satu sisi mereka menjalankan pernikahan ala Tibet, namun di sisi lain mereka tetap memegang kukuh tradisi pernikahan Islam.

Harmoni yang Hilang di Atap Dunia

Sebelum diinvasi China pada tahun 1959, kehidupan dan toleransi umat beragama yang berlangsung di Tibet sangatlah luar biasa. Komunitas Budha yang mayoritas memberikan tempat dan kebebasan bagi komunitas Muslim yang minoritas untuk berkembang dan menjalankan ritual ibadahnya.
dst..dst


lho..lho..lho! gak salah nih? :shock:

Ini kan justru menunjukan kalo agama lain lebih toleran dan mau menerima agama lain! HAHHAHHAHA :D

Coba liat di negara2 islam, boleh gak dirikan tepekong/kuil budha?
Di Tibet Islam bersuka ria bangun masjid/madrasah

gak jauh dari situ di Pakistan/Afganistan patung2 budha habis dijarah dan dihancurkan?

kok aneh ya pikiran muslim ini hehehehehe :lol:
mau menunjukan kenapa dia milih islam kok malah menunjukkan kebesaran hati agama lain yg mau menerima mereka

eh Dua, di Tibet untuk mendirikan mesjid mesti minta ijin bupati plus minta tanda tangan minimal 90 KK dulu gak kayak disini?

hehehehe :lol:
User avatar
Klepon
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 175
Joined: Thu May 18, 2006 4:03 pm

Next

Return to Humor



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users