. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

KEDUDUKAN HADIS NABI SAW DALAM SYARIAT AGAMA ISLAM

Kehidupan, pengikut, kepercayaan, pikiran dan ucapan Muhammad.

KEDUDUKAN HADIS NABI SAW DALAM SYARIAT AGAMA ISLAM

Postby somad » Mon Apr 16, 2007 2:14 am

KEDUDUKAN HADIS NABI SAW
DALAM SYARIAT AGAMA ISLAM


Sdr netters FFI,
Judul dan isi materi topik ini saya salin sebagai referensi pengetahuan tentang Islam dari buku
MUTIARA HADITS
yang disepakati
BUKHARI dan MUSLIM
(Al-Lu'lu' wal Marjan)
Terjemahan
H. SALIM BAHREISY

Halaman awal xxxic s/d xliv

Nampaknya bagian ini bertujuan untuk membentuk paradigma muslim dalam membaca buku ini.


BAGIAN 1

Asyhadu Laa ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah saw.
Sebagai dasar kedua dalam hukum syariat Islam, tetapi sebagai dua serangkai.
Al-Quran sebagai kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi saw dengan perantaraan
Jibril a.s.
Sedang Hadis sebagai wahyu yang langsung kepada Nabi saw sebagaimana firman Allah
dalam An-Najm 3-4

Waman yanthiqu anil hawa in huwa illa yuha
(Tiada ia berkata-kata menurutkan hawa nafsu, hanya semata-mata wahyu yang diwah-
yukan Allah kepadanya)

S:Apakah ada hadis sahih yang berentangan dengan ayat Al-Quran?
J:Tidak ada.
S:Apakah dalil(sebabnya)
J:Dalil (sebabnya) karena kita telah beriman (percaya) pada Allah. maka siapa yang
percaya kepada Allah (wajib) dan percaya kepada Rasulullah saw.
Beriman dan percaya berarti tidak ragu, tidak menentang, tidak membantah dan tidak
mengoreksi.
Beriman dan percaya berarti menyerah sebulat-bulatnya pada keterangan Nabi saw.
sebagai perintah Allah pada tiap muslim/mukmin Aat 65 An-Nisa'

Demi Tuhanmu. mereka tidak beriman (percaya), mereka bertahkim (minta hukum/fatwa)
kepadamu dalam menyelesaikan segala sengketa yang terjadi diantara mereka.Kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka untuk menerima putusan dan menyerah-
kan sebulat-bulatnya.


Sedangkan orang-orang ragu terhadap putusan Nabi saw. termasuk orang munafik,
sebagaimana tersebut dalam An-Nur 48.

Dan apabila mereka diajak bertahkim kepada Allah (al-Quran) dan Raslulullah (hadis)
untuk memutuskan persoalan mereka, tiba-tiba sebagian mereka mengabaikan.


Sedang pada awal ayat 51 Allah memuji kaum Mukminin.

Sesungguhnya
perkataan orang mukmin jika diajak kembali kepada hukum Allah dan Rasulul=
lah untuk memutuskan urusan merekam hanya berkata: Sami'na wa atha'na: kami mendengar
dan kami patuh taat. Dan nerekalah yang pasti beruntung bahagia
Last edited by somad on Thu Apr 19, 2007 4:16 am, edited 3 times in total.
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Mon Apr 16, 2007 2:23 am

BAGIAN 2

Dengan dua ayat ini nyatalah perbedaan jiwa orang munafik dengan orang mukmin ketika
menerima sabda keterangan Rasulullah saw. sangat banyak, yaitu yang berbunyi:

"Athi'uiiaha wa athi'urrasula" (Taat kepada Allah dan kepada Rasulullah)

Dan tidak ada satu ayatpun yang membolehkan tidak taat, membantah, menentang, menya-
lahkan keterangan. ajaran Rasulullah saw. meskipun dengan dalil bertentangan dengan
ayat Al-Quran, tetap tidak boleh menolak Hadis yang sahih. Sebab mustahil Rasulullah saw.
bertentangan dengan ajaran Allah sedang Rasulullah saw sangat taat kepada Allah
melebihi dari semua manusia Bahkan yang ada adalah ancaman Allah terhadap orang yang
bertentangan dengan Rasulullah saw. ayat 63 An-Nur:

Jangan kamu samakan panggilan (ajaran) Rasulullah dengan panggilan sesamamu.Allah telah
mengetahui adanya orang-orang yang berusaha meloloskan diri diantara kamu. Maka hendaknya
waspada benar orang yang menyalahi (menentang) perintah Nabi saw. itu akan terkena fitnah
(yakni jadi munafik) atau, terkena siksa yang sangat pedih.


Jika terjadi seseorang mengira bahwa keterangan Nabi saw bertentangan dengan ayat
Al-Quran,maka disitu terjadi perbedaan paham (tanggapan) antara dirinya dengan
Rasulullah saw.lalu ia membenarkan dirinya dan menganggap keterangan Nabi saw. yang
bertentangan dengan ayat Al-Quran maka harus diingat yang pertama kali menerima
Al-Quran hanya Nabi saw. dan kita tidak mengenal atau paham Al-Quran kecuali dari ajaran
Nabi saw. Dan Allah telah menyuruh bahkan mewajibkan kita taat,patuh, menurut sebulat-
bulatnya kepada Nabi saw. sebagaimana firman Allah di AN-Nisaa 64

Tiada kami mengutus seorang utusan kecuali supaya ditaati dengan izin Allah.
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Mon Apr 16, 2007 4:07 am

BAGIAN 3

Nyata dalam ayat ini Nabi saw. diutus untuk ditaati tidak untuk dibantah atau ditentang
keterangannya.

Juga ayat 44 surat An-Nahl

Dan kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) zikir (Al-Quran) supaya engkau terangkan
pada semua manusia apa yang diturunkan kepada mereka.


Disini Allah menetapkan bahwa menerangkan Al-Quran adalah tugas Rasulullah saw.
maka semua keterangan yang lain tunduk kepada keterangan Rasulullah saw.
Apabila ternyata bahwa Allah telah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menerangkan wahyu
yang diturunkan semua manusia, apakah mungkin Nabi pilihan Allah itu akan bertentangan
dengan Allah, sedangkan Allah telah berfirman;di Al-An'am 124;

Allah lebih mengetahui dimana meletakkan tugas risalah-Nya (yakni kepada siapa yang
tepat dipilih-Nya)


Karena itu ketika Nabi saw. membagi ghanimah (hasil perang) Hunain dan ditegur oleh
seorang karena dianggap tidak adilm maka jawaban Rasulullah saw. Siapakah yang adil
jika Allah dan Rasulullah saw. dianggap tidak adil? Apakah Allah mempercayakan hal ini
kepadaku kalian tidak percaya kepadaku?
An-Nisa ayat 80

Siapa yang taat patuh kepada Rasulullahm maka sungguh ia telah taat pada Allah

Ayat ini jelas menunjukkan kepercayaan Allah kepada Nabi saw. sehingga menetapkan
siapa yang taat kepada Nabi saw, langsung dianggap taat kepada Allah.
Mungkinkah Nab saw. yang mendapat kepercayaan dari Allah sedemikian itu bertentangan
dengan ajaran tuntunan Allah?
Tiada yang mengira adanya pertentangan itu kecuali orang munafik, Juga berarti siapa yang
menentang Nabi saw, berarti menentang Allah, sebagaimana sabda Nabi saw: Man ashani faqad
ashallaha (siapa menentangku berarti maksiat pada Allah)
Sebab Allah menganggap taat hanya pada orang yang taat pada Nabi-Nya. Bahkan bagi siapa
yang menentang Nabi diancam menjadi munafik atau siksa yang sangat pedih
(Ayat 63 An-Nur ayat 21 Al-Ahzab)

Sungguh telah ada bagi kamu dalam pribadi (sabda amal kelakuan)
Rasulullah itu contoh teladan yang utama dan baik. bagi orang yang mengharap karunia
rahmat Allah dan bahagia dihari kemudian, dan banyak zikir (ingat) pada Allah.


Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa nabi Muhammad saw. dijadikan contoh teladan yang
baik dan utama bagi orang uang beriman dan mengharap rahmat karunia Allah serta selamat
bahagia di akhirat. Hanya orang munafik yang ragu terhadap kebaikan, kebenaran ajaran
Rasulullah saw. sebab ia memandang Nabi Muhammad saw. dari manusianya tidak diingat
bahwa Nabi itu utusan dan pesuruh Allah. Karena itu ia ragu, lalu menyalahkan perbuatan
dan ajaran Nabi saw. Dan dengan demikian berarti menentang perintah Allah yang menyuruh
kita supaya taat kepada Nabi saw, lahir batin dalam semua sabda dan amal perbuatannya,
kecuali jika Nabi saw. melarang kita yakni dalam hal-hal yang khusus untuk
Rasulullah saw. seperti puasa sambung siang malam.
Juga Allah berfirman dalam surat Asy=Syura ayat 52-53

Sesungguhnya engkau (Muhammad) menunjukan (pemimpin) kr jalan yang lurus (mustaqim)(52)
Ialah jalan yang diridhai Allah (Agama yang diridhai Allah (53)
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Mon Apr 16, 2007 4:13 am

BAGIAN 4 (habis)

Juga Surat AL-Hasyr ayat 7

Dan semua yang diajarkan (diberikan) kepadamu oleh Rasulullah maka harus kamu terima,
dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah dalam
melaksanakan perintah Allah ini.


Ayat ini tegas mewajibkan pada tiap mukmin muslim supaya menerima dan melaksanakan semua
ajaran Rasulullah saw. tanpa kecuali, bahkan dijamin akan mencapai takwa Allah jika menurut
dengan sungguh sungguh pada Rasulullah saw. sedang jaminan kebenaran kebaikan ajaran Nabi
itu tidak dapat diragukan, sebab Allah sendiri yang menjamin. Jika keliru bagaimana?
Jawabannya: Sebab Allah yang mengutus dan menyuruh kita menerimam sudah menurut saja pada
perintah Allah, dan itulah arti ucapan kita masuk Islam: Asyhadu an la illallah wa asyhadu
anna Muhammad Rasulullah.
Berdasarkan semua ayat yang tersebut ini semoga aku dan saudara-saudara kaum muslimin
menyadari benar-benar kewajiban taat menurut pada ajaran tuntunan dan amal Nabi saw.
Suatu contoh terjadi pada sahabat Abdullah bin Umar ra Numailah Al-Fazari berkata ketika
aku dimajelis Ibn Umar ra tiba-tiba seorang bertanya pada Ibn Umar tentang hukum binatang landak.
Maka oleh Ibn Umar dibacakan ayat Qul laa adjidu fima uhiya ilayya miharraman ala tha imin
yath'amuhu illa an yakuna maitatan. (Katakanlah aku tidak mendapatkan dalam apa yang diwahyukan
kepadaku sesuatu yang haram bagi orang yang akan memakannya kecuali bangkai atau darah
yang mengalir atau daging babi sebab ia najis attau perbuatan fasik yaitu menyembilih dengan
menyebut selain Allah), yang berkesimpulan bahwa landak halal. Tetapi ada seorang tua
dimajelis itu berkata: Aku telah mendengar Ab Hurairah berkata: Pernah disebut landak itu
kepada Nabi saw. Maka Nabi saw bersabda: Khabitsun minal khaba'its.(Sesuatu yang keji dari
golongan yang keji-keji) dan ini berarti haram, berdasarkan wahyuharrimu alaihimul khaba;its.
Maka Ibn Umar ketika mendengar berita itu langsung ia menarik pendapatnya sebagaimana yang
disabdakan Nabi saw. itu. (R. Said bin Manshur)
Sedang yang terjadi pada Abdullah bin Mas'ud ra, ketika ditanya tentang hukum wanita yang ditinggal
mati oleh suaminya padahal belum disentuh (dijimak), Jawab Ibn Mas'ud: Aku akan menjawab menurut
pendapatku, kika benar maka itu dari taufik rahmat Allah, tetapi jika salah maka itu daripadaku
sendiri dan dari setan, Kemudian dia berkata: Harus menjalani iddah dan mendapat warus, Tiba-tiba
seorang sahabat berkata: Aku telah mendengar Nabi saw. menghukum seperti terhadap Burwa' binti Wasyiq.
Ketika Ibn Mas'ud mendengar keterangan itu ia berkata: Jika telah demikian Rasulullah saw. maka
laksanakan sabda Nabi saw.

Demikianlah sahabat-sahabat Nabi saw. jika mereka belum mengetahui keterangan sabda Nabi saw. mereka
berijtihad tetapi jika telah bertemu sabda Nabi saw. maka Ijtihadnya dibuang untuk berpegang pada sabda
dan ajaran Nabi saw.Demikianlah pengertian Islam, Iman yang sebenarnya dan asli dalam tanggalan ahabat-
sahabat Nabi saw. dan harus sedemikian untuk selamanya.
Semoga kita dapat mengikuti jejak sahabat Nabi saw. itu Amin.
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo


Return to Muhammad



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users