. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Kebersihan adlah sebagian dari iman

Pembelaan bahwa Islam adalah ajaran dari Tuhan.

Re: Islam

Postby candra_mukti19 » Wed Sep 10, 2008 4:50 pm

Iamwhoiam wrote:
Candra termasuk KAFIR Muslim gitu??


kafir itu sebutan untuk suatu bentuk mental seperti "marah". jadi ketika anda menyakan apakah saya kafir muslim, merupakan pertanyaan yang sulit di mengerti, seperti saya bertanya kepada anda apakah "apakah anda marah kristen gitu?"
sedangkan pengertian orang kafir seperti pengertian "orang marah". kalau anda bertanya, "apakah anda orang kafir di antara orang islam?" nah itulah yang lebih masuk akal. seperti pertanyaan, "apakah anda marah diantara orang islam"? yah anda harus lihat sendiri, saya sedang marah atau tidak. saya sedang kafir atau tidak?
Islam sendiri mengandung dua arti, yaitu sebagai "agama yang dianut" dan sebagai "bentuk mental". islam yang sejati bukanlah agama, melainkan bentuk mental itu, segolongan dengan sabar, wara, tawadhu dan lain sebagainya.
candra_mukti19
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1492
Joined: Thu Aug 14, 2008 10:19 pm

Candra jangan muter muter!

Postby Eneng Kusnadi » Wed Sep 10, 2008 5:04 pm

Candra, please dong ah!
Jangan melebar ke urusan hadist, kafir dan lain lain. please jawab mengenai yang Eneng tanyain ajah.
candra_mukti19 wrote:
Eneng Kusnadi wrote:Kepada Candra Mukti moohon eneng diberi pencerahan apa sih definisinya iman Islam? Dimanakah kaitannya dengan Islam?
Saya mengerti 100 persen bahwa kebersihan itu sangat penting dan kaum kafirpun sangat mengerti pentingnya kebersihan.
nah Apakah kafir yang memelihara kebersihan itu memiliki sebagian dari Iman Islam?
Salam.
Eneng Anu Geulis tea.


Iman adalah kepercayaan atau keyakinan. Iman kepada Allah berarti percaya kepada Allah, dalam arti percaya kepada keberadaan Allah dan kepada tuntunannya.

siapapun yang berusaha membersihkan dirinya dari kekotoran batin, maka artinya dia memiliki kekuatan iman, terdorong oleh keimanan, memiliki keimanan, apakah itu muslim maupun non muslim.

mungkin Eneng salah mengerti mengenai kata "kafir" yang dimaksud oleh ajaran Islam. apakah kafir menurut orang islam itu kristen, hindu, budha atau atheis? bukan itu neng yang dimaksud kafir dalam ajaran islam, karena dalam alQuran pun tidak ada pernyataan serupa itu. milsanya, Allah berfirman "sesungguhnya orang yahudi dan nasrani, mereka itulah orang-orang kafir". ada gitu pernyataan seperti ini? yang kafir itu ada diantara orang kristen, hindu, budha, dan ada juga diantara orang islam sendiri. yang dimaksud kafir dalam ajran Islam adalah mereka yang suka membuat fitnah atau kerusakan di muka bumi, mereka yang menindas kaum lemah dan mereka yang banyak berprasangka buruk serta melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak berdosa.

Candra, kafir menurut islam adalah disbeliever baca lagi di : http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... .php?t=729
Nih Ayatnya Qurannya :
107. An infidel i.e. a person who does not believe in Allah and His Oneness, is najis. Similarly, Ghulat who believe in any of the holy twelve Imams as God, or that they are incarnations of God, and Khawarij and Nawasib who express enmity towards th e holy Imams, are also najis.

(Terjemahan singkatnya : Kafir adalah orang yg tidak percaya Allah ... adalah NAJIS.)

And similar is the case of those who deny Prophethood, or any of the necessary laws of Islam, like, namaz and fasting, which are believed by the Muslims as a part of Islam, and which they also know as such.

(Juga sama kasusnya dgn mereka yg menolak kenabian (Muhamad) atau hukum2 penting Islam, spt namaz dan berpuasa, yg dipercaya Muslim sbg bagian dari Islam, dan mereka mengetahuinya)

Ente jangan ngarang ya! :D

Dan kebersihan jasmaniah dan lingkungan yang dicanangkan mesjid kamu itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebersihan bathiniah yang anda kemukakan barusan.
Kembali ketopik asal Apakah kebersihan itu sebagian dari Iman? Iman yang mana?
Tidak perlu melebar jauh jauh kemana mana, juga untuk netter nonmuslim (kapir) gak usah posting ayat perang , tak ada hubungannya sama sekali dengan kebersihan jasmaniah.
Eneng harap semua menahan diri dengan mengembalikan topik e asalnya.
Kebersihan adalah sebagian dari Iman itu saja.
Malah menurut hadist sendiri Muhammad berlaku sangat jorok dan tidak higienis. Bagaimana mungkin muslim mempergunakan slogan Kebersihan adalah sebagian dari Iman.
Salam
User avatar
Eneng Kusnadi
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2997
Joined: Sat Dec 30, 2006 1:26 pm
Location: Peternakan Unta/Camelot

Re: Iman Islam

Postby candra_mukti19 » Wed Sep 10, 2008 5:06 pm

Eneng Kusnadi wrote:Kembali ketopik asal Apakah kebersihan itu sebagian dari Iman? Iman yang mana?
Tidak perlu melebar jauh jauh kemana mana, juga untuk netter nonmuslim (kapir) gak usah posting ayat perang , tak ada hubungannya sama sekali dengan kebersihan jasmaniah.
Eneng harap semua menahan diri dengan mengembalikan topik e asalnya.
Kebersihan adalah sebagian dari Iman itu saja.
Malah menurut hadist sendiri Muhammad berlaku sangat jorok dan tidak higienis. Bagaimana mungkin muslim mempergunakan slogan Kebersihan adalah sebagian dari Iman.
Salam


Yee.. tersera kalau Neng mau nganggep itulah ajaran Islam yang sebenarnya. kepecayaan itu kan hak asasi manusia. neng mau percaya kemana silahkan. saya cuma ngasih tau, bukan begitu islam yang sejati. kalau neng gak percaya ke saya ya wis. toh, saya gak ada ruginya. bener kan? neng mau keukeuh "kebersihan sebagian dari iman" itu gak ada hubungannya dengan kebersihan batin, ya wis. berarti neng itu hanya mencari-cari ajaran yang buruk aja! yang walaupun ada orang islam gak mau ngakuin itu ajarannya, trus menerus di debat, "ini lho ajaranmu!" saya hidup di pesantren selama 8 tahun, tapi gak pernah dijarin seperti yang orang-orang FFI ini ajarin. walaupun semua itu dapat saya baca dalam kitab-kitab yang ada di psantren kami, toh ajaran yang benar itu bukan dari kitab.
jadi bagaimana, neng mau terus aja ni berselancar mencari sesuatu yang kira-kira menurut neng itu "ajaran bejat" islam, atau apakah neng mau mulai melirik islam yang sebenarnya? atau neng mau menunjukin kebobrokan islam kepada saya sampai saya menjadi murtad?
kalau mau tetap, ya wis. kalau mau melihat kebenaran islam sejati, ntar saya tunjukin. kalau mau nunjukin kebejatan islam, ya sok. ntar saya pertimbangkan. walaupun saya dah keliling FFI, dan banyak rekan FFI yang kirim artikel tentang "kebusukan Muhammad" trus neng mau nambahin lagi, ya sok, silahkan. yang jelas selama ini, apa yang mereka tunjukin ke saya ngawur sebagiannya. mereka benar dalam menilai islam yang mereka amati dan mereka pelajari, mereka hanya tidak pernah bertemu dengan islam yang sejati. begitulah!
candra_mukti19
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1492
Joined: Thu Aug 14, 2008 10:19 pm

Postby Horbo » Wed Sep 10, 2008 5:12 pm

si dakocan ini mau mereformasi islam yah?
User avatar
Horbo
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 847
Joined: Wed Jun 25, 2008 4:02 pm

Postby Eneng Kusnadi » Wed Sep 10, 2008 5:14 pm

Dear Candra yang desperate dengan pertanyaan sederhana.
Eneng hanya menanyakan saja semboyan /slogan papan mesjid kamu.
Dan kamu tidak mampu menjelaskannya dengan baik.
Saya tidak mengajak kamu murtad, tapi saya mengajak kamu berfikir, dan benarkah semboyan yang ustad kamu ajarkan pada kamu, sesuai ajaran islam yang benarkah? Demikiankah bertapa 8 tahun di Ponpes, tidak mampu menjelaskan hal sesederhana itu?
User avatar
Eneng Kusnadi
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2997
Joined: Sat Dec 30, 2006 1:26 pm
Location: Peternakan Unta/Camelot

Postby AkuAdalahAing » Wed Sep 10, 2008 5:14 pm

Untuk belajar islam lebih lanjut dengan ustadz Candra_mukti, saya sudah bukakan kelas khusus di http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 737#395737
User avatar
AkuAdalahAing
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6603
Joined: Sat Oct 28, 2006 5:20 pm

Re: Hadits boong

Postby Iamwhoiam » Wed Sep 10, 2008 8:01 pm

candra_mukti19 wrote:...itulah alasan mengapa rasulullah dulu melarang penulisan Quran Hadits. tidak ada seorang nabipun yang memerintahkan ajaran-ajarannya untuk di bukukan, karena itu merupakan potensi besar untuk di salah gunakan.

jangankan ilmu agama Neng. saya aja telah menulis kurang lebih 1800 halaman tentang ilmu krachtology yang dibagi kepada 3 jilid, saya tidak pernah berani menerbitkannya satupun sebab dapat menyebabkan fitnah besar kepada diri saya. tidak begitu saja saya menyebarkan buku, tapi saya didik dulu seorang murid selama kurang lebih 4 atau lima tahun, kemudian setelah dia tampak matang, memahami benar apa yang saya ajarakan, barulah saya berani mewariskan buku saya kepada murid ini. mereka, yang mencoba-coba membaca buku saya, mereka menjadi gila. dan itu pernah terjadi beberapa kali, membuat saya dan guru saya kerepotan untuk mewaraskan kembali otaknya.
itu baru ilmu krachtology. ilmu agama lebih dahsyat dari itu. mungkinkah orang sanggup mengerti hanya dengan membaca buku? tidak neng. tidak demikian nabi mengajarkan agama. dia didik dulu para sahabatnya hingga benar-benar memahami, barulah alQuran diwariskan kepadanya. dan tidak akan mungkin seseorang dapat memahami isi kandungan alQuran kecuali bila mau blejar kepada pewaris nabi yang sah. itulah Neng!


Mas Candra...saya agak bingung dengan pola berpikir anda untuk menurunkan ajaran...masa penerbitan buku merupakan sarana fitnah? Anda mengajarkan ilmu apa ini? Crackpot-logy? Ya iyalah...masa ya iya dong? Bikin sekolah...jangan sekodong...
Kalo anda menerbitkan buku, di suatu hari anda di fitnah, tinggal tunjukin buku asli anda dan ngomong...nih buktinya saya ga pernah bilang gitu...gitu aja koq repot? Kecuali memang anda sendiri ga bisa mempertanggung jawabkan ajaran anda, jadi takut ada bukti yang bisa memberatkan anda! Atau ya itu tadi, anda memberikan pelajaran crackpot-logy.
Begini loh Mas, kalo anda benar tulus memberikan pengajaran ilmu yang benar, anda tidak akan takut adanya fitnah seperti yang anda katakan. Kecuali ilmu ngajarin bikin bom misalnya, yang di dalamnya juga ada ajakan untuk menggunakan bom itu buat memusnahkan umat lain, nah sebaiknya memang itu jangan ditulis....dicokok polisi ntar dengan barang bukti buku itu sendiri...gimana sih pola berpikirnya? Pola2 seperti ini yang bikin kita ga maju2...maunya di'suapin' terus. Kapan mo dewasa? Murid dibimbing tanpa buku pedoman selama tahunan...itu mah cara2 pencuci otak...kapan dia mo bisa berpikir kritis? Kalo udah 'matang' baru diberikan bukunya...ya iyalah orang otaknya dah 'ga ada'....sekalian aja di kasih pesan wasiat...'buku ini hanya boleh kamu buka dikala engkau mau mati muridku....karena ilmu yang ada di dalamnya punya potensi untuk menghancurkan alam semesta' (caela...kebanyakan nonton X-files lu)...eh pas dibuka ternyata cuma ada tulisan 'mampus lu!!'....yah apes...
Iamwhoiam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 401
Joined: Tue Jul 22, 2008 9:26 am

Postby bgd » Wed Sep 10, 2008 8:40 pm

perhatikan copasan dari website Islami...

"KEBERSIHAN SEBAGIAN DARI IMAN" BUKAN HADITS NABI SAW

http://www.khilafah1924.org/index.php?o ... &Itemid=34

Ungkapan ”Kebersihan Sebagian Dari Iman” (Arab : an-nazhaafatu minal iimaan) sebenarnya bukanlah hadits Nabi SAW, namun hanya sekedar peribahasa atau kata mutiara yang baik atau Islami.

Ringkasnya, jika ditinjau apakah ungkapan itu hadits Nabi SAW atau bukan, jawabnya bukan hadits Nabi SAW. Sebab tidak terdapat hadits berbunyi demikian dalam berbagai kitab hadits yang ada, sejauh pengetahuan kami. Namun kalau ditinjau apakah ungkapan itu Islami atau tidak, jawabnya Islami. Sebab ungkapan itu didukung oleh sebuah hadits hasan seperti yang akan kami sebutkan.

Memang, ada hadits sahih dari Nabi SAW yang mirip dengan kalimat ”Kebersihan Sebagian Dari Iman”. Hadits itu adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi,”Ath-thahuuru syatrul iimaan...” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir, II/57; Imam Al-Qazwini, Bingkisan Seberkas 77 Cabang Iman (Terj. Mukhtashar Syu’abul Iman Li Al-Imam Baihaqi), hal. 66-67).

Namun arti hadits Nabi tersebut adalah,”Bersuci [thaharah] itu setengah daripada iman....” Kata ath-thahuuru dalam hadits itu artinya tiada lain adalah bersuci (ath-thaharah), bukan kebersihan (an-nazhafah), meskipun patut diketahui ath-thaharah secara makna bahasa artinya memang kebersihan [an-nazhaafah] (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/6). Tetapi dalam ushul fiqih terdapat kaidah bahwa arti asal suatu kata dalam al-Qur`an dan Al-Hadits adalah arti terminologis (makna syar’i), bukan arti etimologis (makna bahasa). Imam Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah Juz III hal. 174 menyebutkan kaidah ushul fiqih yang berbunyi :

Al-Ashlu fi dalalah an-nushush asy-syar’iyah huwa al-ma’na asy-syar’iy

“Arti asal nash-nash syariah [Al-Qur`an dan As-Sunnah] adalah makna syar’i.”

Karenanya hadis Nabi SAW di atas hendaknya diartikan “Bersuci itu setengah daripada iman”, dan bukannya ”Kebersihan itu sebagian daripada iman.”

Suci dan bersih itu berbeda. Suci (thahir) adalah keadaan tanpa najis dan hadas, baik hadas besar maupun hadas kecil, pada badan, pakaian, tempat, air, dan sebagainya. Bersuci (thaharah) adalah aktivitas seseorang untuk mencapai kondisi suci itu, misalnya berwudhu, tayammum, atau mandi junub. (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/6). Sedang bersih (nazhif) adalah lawan dari kotor yaitu keadaan sesuatu tanpa kotoran. Sesuatu yang kotor bisa saja suci, meski ini tentu kurang afdhol. Sajadah yang lama tidak dicuci adalah kotor. Tapi tetap disebut suci selama kotoran yang menempel hanya sekedar debu atau daki, bukan najis seperti kotoran binatang.

Demikian pula sesuatu yang bersih juga tidak otomatis suci. Seorang muslim yang berhadats besar (misal karena haid atau berhubungan seksual) bisa saja tubuhnya bersih sekali karena mandi dengan sabun anti kuman atau desinfektan. Tapi selama dia tidak meniatkan mandi junub, dia tetaplah tidak suci alias masih berhadas besar.

Walhasil, suci atau bersuci berkaitan dengan keyakinan seorang muslim, yang sifatnya tidak universal. Maksudnya hanya menjadi pandangan khas di kalangan umat Islam. Sedang bersih atau kebersihan berkaitan dengan fakta empiris yang universal, yaitu diakui baik oleh umat Islam maupun umat non Islam.

Kembali ke masalah hadits di atas. Kesimpulannya, yang ada adalah hadits Nabi SAW yang berarti ”Bersuci Adalah Sebagian Dari Iman”, dan bukan ” Kebersihan Sebagian Dari Iman.”

Namun demikian, kalimat ” Kebersihan Sebagian Dari Iman” merupakan ungkapan yang baik (Islami), karena didukung sebuah hadits yang menurut Imam Suyuthi berstatus hasan, yakni sabda Nabi SAW :

”Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir, I/70; Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadits Terpilih, [Jakarta : GIP], cetakan keenam, 1993, hal. 311).

Hadits di atas menunjukkan bahwa kebersihan (an-nazhafah) merupakan sesuatu yang dicintai Allah SWT. Maka dari itu ungkapan ” Kebersihan Sebagian Dari Iman” kami katakan sebagai ungkapan yang baik atau Islami karena ada dasarnya dalam Islam yaitu hadits riwayat Tirmidzi di atas. Ungkapan itu dapat diberi arti, bahwa menjaga kebersihan segala sesuatu merupakan bukti atau buah keimanan seorang muslim, karena dia telah beriman bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Mahabersih (nazhiif). Wallahu a’lam.
User avatar
bgd
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 26
Joined: Tue May 27, 2008 11:32 am

Postby bgd » Wed Sep 10, 2008 8:56 pm

tapi ini anehnya sekalipun Islam menganjurkan kebersihan tetapi KOTOR JUGA TIDAK MENGAPA...

lihat hadist ini :

Shahih Sunan Abu Daud No. 407, hadits serupa juga terdapat pada No. 408

Dari “ummu walad”nya Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf bahwasanya ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, istri Nabi SAW, “Sesungguhnya saya ini seorang wanita yang kupanjangkan ekor pakaianku, sedangkan aku berjalan di tempat yang kotor. Bagaimana ini?” Ummu Salamah menjawab: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Tempat yang sesudahnya itu mensucikannya.”"

Dari hadits tersebut, bisa dilihat bahwa kotor itu tidak mengapa. Kalau begitu apa yang salah? Ternyata ketika kita merujuk kembali kepada kitab yang asli, yakni Shahih Muslim bab Thaharah, maka teks yang tercatat di situ adalah:

Bersuci setengah dari iman

wuih .... jadi bingung saya sama Islam neh... :lol: :roll: :wink:
Last edited by bgd on Wed Sep 10, 2008 9:07 pm, edited 1 time in total.
User avatar
bgd
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 26
Joined: Tue May 27, 2008 11:32 am

Postby Eneng Kusnadi » Wed Sep 10, 2008 9:00 pm

Nah lu!
Besok besok cabutin dech papan reklame mesjid , spanduk, banner diseluruh Indonesia. Karena " Kebersihan adalah sebagian dari iman " ternyata tidak islami.
Kacian deh musim percaya aja sama ustad kampung yang asbun.
User avatar
Eneng Kusnadi
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2997
Joined: Sat Dec 30, 2006 1:26 pm
Location: Peternakan Unta/Camelot

Postby DHS » Thu Sep 11, 2008 3:38 am

Namanya juga IMAN!

Iman kan percaya akan apa yang tidak terlihat?

Kenyataan bersih apa kaga, kan ga perlu dibuktikan?

Yang penting percaya kalau itu bersih! Lha wong Iman!

Tul ngga?

Tul KAN???

Image kwek .... kwek .... kwek .....
User avatar
DHS
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4377
Images: 4
Joined: Sat Jan 05, 2008 7:56 pm

Lelet

Postby candra_mukti19 » Thu Sep 11, 2008 9:50 am

Eneng Kusnadi wrote:Dear Candra yang desperate dengan pertanyaan sederhana.
Eneng hanya menanyakan saja semboyan /slogan papan mesjid kamu.
Dan kamu tidak mampu menjelaskannya dengan baik.
Saya tidak mengajak kamu murtad, tapi saya mengajak kamu berfikir, dan benarkah semboyan yang ustad kamu ajarkan pada kamu, sesuai ajaran islam yang benarkah? Demikiankah bertapa 8 tahun di Ponpes, tidak mampu menjelaskan hal sesederhana itu?


Eneng sih, otaknya lelet melulu. kan dah sya jelasin neng, makna slogan itu. slogan itu sesuai dengan ajaran ajaran silam. cuma neng yang belum ngerti. karena neng susah sulit ngertinya
candra_mukti19
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1492
Joined: Thu Aug 14, 2008 10:19 pm

Postby candra_mukti19 » Thu Sep 11, 2008 9:58 am

Hadits “Kebersihan”
Saya menyatakan bahwa makna “kebersihan sebagian dari iman” mengandung arti kebersihan batin, kemudian menyebutkan bahwa dasar dari penafsiran tersebut merupakan ayat alQuran, “Allah tidak melihat kepada harta dan rupa, melainkan kepada hati”. Di situ saya telah menggunakan referensi, walaupun kurang jelas karena tidak menyebutkan surat dan nomor ayatnya. Karena saya benar-benar lupa nomor surat dan ayatnya. Memang saya akui, bahwa kalau saya dapat menyebutkan surat dan ayatnya, maka hal itu lebih baik lagi. Dan saya akui, ketidak mampuan saya menyebutkan nomor surat dan ayat merupakan salah satu kelemahan saya. Sedangkan kelebihan mereka, para anti islam itu, mereka selalu dapat mengemukakan referensi yang jelas untuk setiap pernyataan mereka, terutama refensi mengenai hal-hal yang menurut mereka sebagai “kebejatan islam”. memang itulah pekerjaan mereka sejatinya, yaitu mengumpulkan hal-hal buruk tentang Islam.
Mungkin sebenarnya dalam al-Quran tidak ada ayat berbunyi seperti yang saya kemukakan. Jika demikian halnya berarti saya telah salah dan orang boleh berkata, “kata-kata Anda tidak terbukti benar, karena dalam alQuran tidak ada ayat berbunyi seperti itu. Dan Anda telah melakukan kesalahan”. Ya, maaf bila memang perkataan saya salah. Saya membuat pernyataan seperti itu karena saya sangat yakin bahwa kata-kata seperti itu pernah saya baca dalam Quran dan tidak ada maksud saya untuk berbohong sedikitpun. Mungkin saya termasuk kurang hati-hati dalam membuat pernyataan, tapi tidak ada maksud untuk berbohong sama sekali.
Sangat mengherankan seandainya teman-teman tidak dapat menemukan ayat-ayat yang saya maksud. Ketika saya mencoba untuk mencari sendiri, ternyata benar, bahwa saya sendiri tidak menemukan kata-kata seperti itu dalam digital Quran. Hal itu membuat saya merasa bersalah dan merasa kalah. Sayapun berniat memperbaiki kesalahan ini dalam diskusi-diskusi saya selanjutnya, jikalau ada umur panjang.
Walaupun demikian, hadits kebersihan itu dapat terbukti benar tanpa ayat alQuran. Sebenarnya kesalahan tersebut tidaklah vital, melainkan persoalan kecil. Karena bukan persoalan vital, maka saya kurang mempedulikan ayat argumentasi referentif dalam pernyataan-pernyataan saya. Hanya lawan-lawan debat saya membesar-besarkan kesalahan kecil tersebut dan mereka mencoba membuat hal tersebut sebagai sesuatu yang sangat penting agar semakin besar nilai kesalahan bagi saya. Akhirnya hal itu menjadi persoalan besar bagi saya. Saya pikir, untunglah saya ini orang biasa, hanya rakyat kecil. Jikalau saya seorang yang terkenal, public figur, bisa jadi kesalahan kecil seperti itu dapat mengguncangkan dunia. Seperti orang yang menggambar karikatur Muhammad. Sebenarnya itu hal kecil dan tidak perlu dipermasalahkan seandainya dia membuatnya untuk diri sendiri dan diperlihatkan kepada kawan-kawannya sendiri. Tapi hal itu kemudian menimbulkan masalah internasional yang luar biasa, karena hal kecil itu dipublikasikan secara internasional. Maka dari itu teman, saya sadar bahwa saya telah melakukan kesalahan dan saya berniat tidak akan menyatakan suatu pernyataan yang referensinya tidak jelas. Dalam hal ini, saya berterima kasih kepada lawan-lawan debat saya di FFI, karena telah mengoreksi kesalahan saya dan memberikan saya suatu kesadaran baru tentang hal baik yang harus saya lakukan dalam diskusi atau debat dan juga akan mengubah kebiasaan saya menghafal Quran. Biasanya saya menghafal Quran tanpa menghapal surat dan nomor ayatnya, dan sejak saat ini saya akan mengingat surat dan nomor ayat-ayat alQuran yang saya hafalkan.
Begitu banyak pelajaran yang saya petik dari hadits-hadits, dan menjadi tidak dapat dikemukakan kepada orang lain hanya karena tidak dapat mengingat surat, nomor ayat atau nomor haditsnya. Jika saya harus mengikuti pola pikir mereka yang mengharuskan menyampaikan referensi yang jelas pada setiap pernyataan referentif, maka hal itu akan membuat saya terhenti untuk menyatakan suatu kebenaran, hanya karena sesuatu itu tidak saya ingat referensinya. Hal ini membuat kebenaran menjadi tertutup, dan sampai dengan cara yang begitu lambat.
Mereka ingin menyelidiki dari mana dasar penafsiran saya tentang arti “kebersihan” yang ada dalam hadits tersebut. Sementara muslim lain menerjemahkannya sebagai “kebersihan fisik” sedangkan saya menerjemahkannya sebagai “kebersihan batin”. Mereka menganggap “saya salah kalau mengartikan sebagai kebersihan batin”. Karena tidak sama dengan penafsiran muslim pada umumnya. Mereka menduga saya mengarang penfasiran tersebut. Tapi di sisi lain mereka menganggap “muslim lain salah kalau mengartikan kebersihan jasmani sebagai bagian dari iman. Dan mereka anggap masuk akal kalau arti dari kebersihan dalam hadits itu adalah kebersihan batin” jadi, mereka menyalahkan saya karena suatu penafsiran yang menurut mereka sendiri masuk akal. Atau, mereka sangat ingin saya menyatakan pendapat yang salah, agar mereka bisa puas menyalahkan saya. Maka dari itu ketika saya menyatakan suatu tafsiran yang benar, mereka terus berusaha mengarahkan saya agar saya menerima tafsiran yang salah sebagai pendapat saya. Suatu metoda yang aneh dan licik untuk memenangkan perdebatan.
Untunglah komunitas pengajian kami tidak dengan cara seperti itu dalam menyelidiki kebenaran. Di sana kebenaran diajarkan bukan dengan cara menyertakan dalil-hadits, melainkan harus dilihat buktinya secara langsung dalam realitas. Misalnya, banyak orang anti islam yang menganggap konsep nereka yang diberitakan Quran hanyalah khayalan muhammad sebagai sarana untuk menakut-nakuti orang saja atau sebagai cara untuk mengancam orang agar bisa tunduk kepada Muhammad. Dalam komunitas tersebut, kami tidak berspekulasi seperti itu, melain masing-masing dari kami belajar untuk melihat realitas neraka dan surga secara langsung. Sehingga dapat berkata, “benarlah apa yang dikatakan AlQuran”. Guru kami berkata, “benarlah dulu, baru mengerti, dan bukan mengerti dulu baru benar. Jika untuk benar, harus mengerti dulu, maka itu merupakan suatu cara yang lambat.” Maksud dari perkataannya dalam diartikan “lihatlah dulu surga dan neraka itu secara langsung, barulah baca ayat-ayatnya yang berada dalam alQuran. Bukan membaca ayat dulu. Kalau membaca dulu, maka itu merupakan cara lambat untuk memahami kebenaran.”
Tapi metoda yang kami tempuh, jika dipikir, tidak kalah sulitnya dengan keharusan menyampaikan referensi-referensi, melainkan harus melalui perjuangan yang keras dan melelahkan. Hanya sedikit orang yang mampu melakukannya. Tidaklah mudah mengajari orang untuk “dapat melihat”. Keharusan mencari referensi yang jelas dari pernyataan-pernyataan saya, merupakan 1000 x lebih mudah dibanding dengan perjuangan yang harus dilakukan agar seseorang “dapat melihat” kebenaran secara langsung. Hanya saja, walaupun 1000 x lebih berat, tapi melihat secara langsung 1000x lebih baik, lebih nyata dan sangat meyakinkan, tanpa spekulasi, tanpa keraguan dan tanpa kebingungan. Semua terlihat jelas dan nyata seperti kita melihat bulan ketika purnama diantara bintang-bintang.
candra_mukti19
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1492
Joined: Thu Aug 14, 2008 10:19 pm

Postby infidel » Thu Sep 11, 2008 10:33 am

Mas CM, saya mau nanya nih, sori OOT dikit:
1. Mas CM sepertinya mebenarkan bahwa Nabi Muhammad mengawini Aisyah saat berumur 9 tahun.
Mengapa anda percaya dengan hadits tersebut?
Bukankah banyak Muslim yang mendadak kritis dan mencari sumber2 lain selain hadits untuk membantah hadits tersebut?
2. Bagaimana dengan sejarah pembentukan Quran, di mana pada awal mulanya banyak versi mushaf yang beredar, sehingga saat ini isi Alquran yang mas dan saya baca belum tentu adalah Quran yang benar2 tepat diwahyukan oleh Jibril dan sangat besar kemungkinan terjadinya penambahan dan pengurangan ayat2nya.
3. Anda sepertinya percaya bahwa hadits adalah cerita2 yang dibuat oleh para perawi yang dibayar, apakah Anda pembaca buku Goldziher?
User avatar
infidel
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 633
Joined: Wed Jul 02, 2008 11:00 am

Re: Referen

Postby MaNuSiA_bLeGuG » Thu Sep 11, 2008 3:10 pm

candra_mukti19 wrote:ya. tapi maaf, saya tidak ingat surat dan ayatnya. memang anda boleh menanyakannya kepada saya. dan saya boleh menjawab "tidak tahu" bukan? atau apakah saya harus memaksakan diri berkata, "saya ingat, saya tahu", sedangkan keadaan sebenarnya memang saya tidak ingat, saya tidak tahu. dan hanya itu yang saya tahu, hanya itu yang saya ingat.
Dan memang saya tidak pernah takut untuk menyatakan bahwa apa yang saya sampaikan dari al-Quran, kalau saya merasa jujur bahwa memang itu dari al-Quran. bisa jadi orang lain menyangka saya berdusta, tapi ketika hati saya sendiri menyadari bahwa saya berkata jujur, apa adanya, maka tidak ada hal yang perlu saya khawatirkan.


mending anda tidak usah berdiskusi/berdebat. sudut pandang anda hanya dari sudut pandng diri anda sendiri. dia ini tipe orang egocentris. kebenaran adalah versi dia sendiri. ogah, mencoba menempatakan dirinya di posisi orang lain. orang kayak gini mending ga ush diladeni.
memaksa orang lain untuk percaya bahwa dirinya adalah jujur tanpa membawa bukti. cape degh....

pasti idolanya dia adalah muhammad, tokoh2 nazi, ahmad dhani, lenin, karl marx, dll yg sejenis.
User avatar
MaNuSiA_bLeGuG
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4405
Images: 13
Joined: Wed Mar 05, 2008 2:08 am
Location: Enies Lobby

Postby AkuAdalahAing » Thu Sep 11, 2008 5:55 pm

pak candra mukti, para santri sudah menanti anda di http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... highlight=
User avatar
AkuAdalahAing
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6603
Joined: Sat Oct 28, 2006 5:20 pm

Postby Iamwhoiam » Thu Sep 11, 2008 11:40 pm

candra_mukti19 wrote:Hadits Kebersihan
Saya menyatakan bahwa makna kebersihan sebagian dari iman mengandung arti kebersihan batin, kemudian menyebutkan bahwa dasar dari penafsiran tersebut merupakan ayat alQuran, Allah tidak melihat kepada harta dan rupa, melainkan kepada hati. Di situ saya telah menggunakan referensi, walaupun kurang jelas karena tidak menyebutkan surat dan nomor ayatnya. Karena saya benar-benar lupa nomor surat dan ayatnya. Memang saya akui, bahwa kalau saya dapat menyebutkan surat dan ayatnya, maka hal itu lebih baik lagi. Dan saya akui, ketidak mampuan saya menyebutkan nomor surat dan ayat merupakan salah satu kelemahan saya. Sedangkan kelebihan mereka, para anti islam itu, mereka selalu dapat mengemukakan referensi yang jelas untuk setiap pernyataan mereka, terutama refensi mengenai hal-hal yang menurut mereka sebagai kebejatan islam. memang itulah pekerjaan mereka sejatinya, yaitu mengumpulkan hal-hal buruk tentang Islam.
Mungkin sebenarnya dalam al-Quran tidak ada ayat berbunyi seperti yang saya kemukakan. Jika demikian halnya berarti saya telah salah dan orang boleh berkata, kata-kata Anda tidak terbukti benar, karena dalam alQuran tidak ada ayat berbunyi seperti itu. Dan Anda telah melakukan kesalahan. Ya, maaf bila memang perkataan saya salah. Saya membuat pernyataan seperti itu karena saya sangat yakin bahwa kata-kata seperti itu pernah saya baca dalam Quran dan tidak ada maksud saya untuk berbohong sedikitpun. Mungkin saya termasuk kurang hati-hati dalam membuat pernyataan, tapi tidak ada maksud untuk berbohong sama sekali.
Sangat mengherankan seandainya teman-teman tidak dapat menemukan ayat-ayat yang saya maksud. Ketika saya mencoba untuk mencari sendiri, ternyata benar, bahwa saya sendiri tidak menemukan kata-kata seperti itu dalam digital Quran. Hal itu membuat saya merasa bersalah dan merasa kalah. Sayapun berniat memperbaiki kesalahan ini dalam diskusi-diskusi saya selanjutnya, jikalau ada umur panjang....

Sampai di situ anda gentlemen...begitu mangap lagi dengan...
Walaupun demikian, hadits kebersihan itu dapat terbukti benar tanpa ayat alQuran. Sebenarnya kesalahan tersebut tidaklah vital, melainkan persoalan kecil. Karena bukan persoalan vital, maka saya kurang mempedulikan ayat argumentasi referentif dalam pernyataan-pernyataan saya. Hanya lawan-lawan debat saya membesar-besarkan kesalahan kecil tersebut dan mereka mencoba membuat hal tersebut sebagai sesuatu yang sangat penting agar semakin besar nilai kesalahan bagi saya. Akhirnya hal itu menjadi persoalan besar bagi saya. Saya pikir, untunglah saya ini orang biasa, hanya rakyat kecil. Jikalau saya seorang yang terkenal, public figur, bisa jadi kesalahan kecil seperti itu dapat mengguncangkan dunia. Seperti orang yang menggambar karikatur Muhammad. Sebenarnya itu hal kecil dan tidak perlu dipermasalahkan seandainya dia membuatnya untuk diri sendiri dan diperlihatkan kepada kawan-kawannya sendiri. Tapi hal itu kemudian menimbulkan masalah internasional yang luar biasa, karena hal kecil itu dipublikasikan secara internasional.

Ilang rasa salut ana....eh nyambung lagi
Maka dari itu teman, saya sadar bahwa saya telah melakukan kesalahan dan saya berniat tidak akan menyatakan suatu pernyataan yang referensinya tidak jelas. Dalam hal ini, saya berterima kasih kepada lawan-lawan debat saya di FFI, karena telah mengoreksi kesalahan saya dan memberikan saya suatu kesadaran baru tentang hal baik yang harus saya lakukan dalam diskusi atau debat dan juga akan mengubah kebiasaan saya menghafal Quran.

Kembali saya 'kagum' dengan anda...dan seharusnya anda berhenti di situ dan kita lanjut dengan diskusi topik lain....
Iamwhoiam
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 401
Joined: Tue Jul 22, 2008 9:26 am

Postby Eneng Kusnadi » Fri Sep 12, 2008 12:41 am

Iamwhoiam wrote:
candra_mukti19 wrote:Hadits Kebersihan
Saya menyatakan bahwa makna kebersihan sebagian dari iman mengandung arti kebersihan batin, kemudian menyebutkan bahwa dasar dari penafsiran tersebut merupakan ayat alQuran, Allah tidak melihat kepada harta dan rupa, melainkan kepada hati. Di situ saya telah menggunakan referensi, walaupun kurang jelas karena tidak menyebutkan surat dan nomor ayatnya. Karena saya benar-benar lupa nomor surat dan ayatnya. Memang saya akui, bahwa kalau saya dapat menyebutkan surat dan ayatnya, maka hal itu lebih baik lagi. Dan saya akui, ketidak mampuan saya menyebutkan nomor surat dan ayat merupakan salah satu kelemahan saya. Sedangkan kelebihan mereka, para anti islam itu, mereka selalu dapat mengemukakan referensi yang jelas untuk setiap pernyataan mereka, terutama refensi mengenai hal-hal yang menurut mereka sebagai kebejatan islam. memang itulah pekerjaan mereka sejatinya, yaitu mengumpulkan hal-hal buruk tentang Islam.
Mungkin sebenarnya dalam al-Quran tidak ada ayat berbunyi seperti yang saya kemukakan. Jika demikian halnya berarti saya telah salah dan orang boleh berkata, kata-kata Anda tidak terbukti benar, karena dalam alQuran tidak ada ayat berbunyi seperti itu. Dan Anda telah melakukan kesalahan. Ya, maaf bila memang perkataan saya salah. Saya membuat pernyataan seperti itu karena saya sangat yakin bahwa kata-kata seperti itu pernah saya baca dalam Quran dan tidak ada maksud saya untuk berbohong sedikitpun. Mungkin saya termasuk kurang hati-hati dalam membuat pernyataan, tapi tidak ada maksud untuk berbohong sama sekali.
Sangat mengherankan seandainya teman-teman tidak dapat menemukan ayat-ayat yang saya maksud. Ketika saya mencoba untuk mencari sendiri, ternyata benar, bahwa saya sendiri tidak menemukan kata-kata seperti itu dalam digital Quran. Hal itu membuat saya merasa bersalah dan merasa kalah. Sayapun berniat memperbaiki kesalahan ini dalam diskusi-diskusi saya selanjutnya, jikalau ada umur panjang....

Sampai di situ anda gentlemen...begitu mangap lagi dengan...
Walaupun demikian, hadits kebersihan itu dapat terbukti benar tanpa ayat alQuran. Sebenarnya kesalahan tersebut tidaklah vital, melainkan persoalan kecil. Karena bukan persoalan vital, maka saya kurang mempedulikan ayat argumentasi referentif dalam pernyataan-pernyataan saya. Hanya lawan-lawan debat saya membesar-besarkan kesalahan kecil tersebut dan mereka mencoba membuat hal tersebut sebagai sesuatu yang sangat penting agar semakin besar nilai kesalahan bagi saya. Akhirnya hal itu menjadi persoalan besar bagi saya. Saya pikir, untunglah saya ini orang biasa, hanya rakyat kecil. Jikalau saya seorang yang terkenal, public figur, bisa jadi kesalahan kecil seperti itu dapat mengguncangkan dunia. Seperti orang yang menggambar karikatur Muhammad. Sebenarnya itu hal kecil dan tidak perlu dipermasalahkan seandainya dia membuatnya untuk diri sendiri dan diperlihatkan kepada kawan-kawannya sendiri. Tapi hal itu kemudian menimbulkan masalah internasional yang luar biasa, karena hal kecil itu dipublikasikan secara internasional.

Ilang rasa salut ana....eh nyambung lagi
Maka dari itu teman, saya sadar bahwa saya telah melakukan kesalahan dan saya berniat tidak akan menyatakan suatu pernyataan yang referensinya tidak jelas. Dalam hal ini, saya berterima kasih kepada lawan-lawan debat saya di FFI, karena telah mengoreksi kesalahan saya dan memberikan saya suatu kesadaran baru tentang hal baik yang harus saya lakukan dalam diskusi atau debat dan juga akan mengubah kebiasaan saya menghafal Quran.

Kembali saya 'kagum' dengan anda...dan seharusnya anda berhenti di situ dan kita lanjut dengan diskusi topik lain....

Bukti bahwa candra ngomongnya cuma muter muter gak keruan makin lama makin jauh dari yang Eneng tanyaken. :lol:
User avatar
Eneng Kusnadi
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2997
Joined: Sat Dec 30, 2006 1:26 pm
Location: Peternakan Unta/Camelot

Postby candra_mukti19 » Sat Sep 13, 2008 3:58 pm

infidel wrote:Mas CM, saya mau nanya nih, sori OOT dikit:
1. Mas CM sepertinya mebenarkan bahwa Nabi Muhammad mengawini Aisyah saat berumur 9 tahun.
Mengapa anda percaya dengan hadits tersebut?
Bukankah banyak Muslim yang mendadak kritis dan mencari sumber2 lain selain hadits untuk membantah hadits tersebut?
2. Bagaimana dengan sejarah pembentukan Quran, di mana pada awal mulanya banyak versi mushaf yang beredar, sehingga saat ini isi Alquran yang mas dan saya baca belum tentu adalah Quran yang benar2 tepat diwahyukan oleh Jibril dan sangat besar kemungkinan terjadinya penambahan dan pengurangan ayat2nya.
3. Anda sepertinya percaya bahwa hadits adalah cerita2 yang dibuat oleh para perawi yang dibayar, apakah Anda pembaca buku Goldziher?


1. karena itu haditsnya mutawatir, banyak dan kuat.
2. mushaf yang beredar di kalangan umum itu disebut dengan mushaf usmani di susun pada zaman khalifah usman.
3. saya tidak pernah membaca buku golaziher. tidak semua hadits merupakan hadits palsu dari ulama yang dibayar. tapi, sangat banyak hadtis seprti itu. dan kepalsuannya dapat terbongkar oleh logika serta ungkapan dari hadits-hadits itu sendiri. misalnya, banyak muslim yang menggunakan hadits-hadits abu hurairah dan menganggapnya sahih. sedangkan saya pernah membaca dala kitab hadits lainnya kisah umar yang menampar abu hurairah dan memakinya bahwa abu hurairah adalah pendusta dan membuat hadits-hadits palsu. demikianlah!
candra_mukti19
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1492
Joined: Thu Aug 14, 2008 10:19 pm

belum serius

Postby candra_mukti19 » Sat Sep 13, 2008 4:00 pm

Eneng Kusnadi wrote:Bukti bahwa candra ngomongnya cuma muter muter gak keruan makin lama makin jauh dari yang Eneng tanyaken. :lol:


terserah Eneng. soalnya saya belum merasa "serius debat" sama Eneng. ntar lain waktu. saya mo debat serius ma eneng.
candra_mukti19
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1492
Joined: Thu Aug 14, 2008 10:19 pm

PreviousNext

Return to Pembelaan Terhadap Islam



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users