. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Kawruh Kejawen

Benturan dan bentrokan antara Islam dengan agama-agama dan peradaban lain di seluruh penjuru dunia.

Kawruh Kejawen

Postby MasCebolang » Sun Sep 21, 2008 8:21 am

Kawruh Kejawen(kejawaan) adalah suatu konsep falsafah hidup yang digali terus menerus sepanjang masa. Dimana konsep dasar kawruh (pengetahuan) Jawa adalah “laku” yaitu pengalaman pribadi sang pencari. Namun kenyataan sekarang opini public mengatakan bahwa Kejawen identik dengan “aliran kepercayaan” atau ada yang menganggap Kejawen adalah “agama”.
Karena sebenarnya kawruh kejawen adalah filosophy hidup yang menyangkut berbagai aspek ide dasar (falsafah) yangterdiri dari 6 falsafah dalam postingan awal saya dulu. Yaitu konsep dasar tentang hidup itu sendiri sebagai tuntunan hidup di dunia.. Disamping itu dalam kesempatan ini akan saya coba sedikit uraikan tentang konsep filoshopi hidup Kejawen dalam ranah ide dasar tentang filsafat hidup yang selain tuntunan hidup di dunia juga ngancik/masuk ke ranah filsafat kehidupan lain yaitu tentang iman dan peradaban. Memang kalau dilihat agak memper dengan konsep dasar agama yaitu faith. Namun yang membedakan adalah Kejawen tidak punya yang namanya “kitab suci”, namun mengandalkan pada “laku” menuju ke pencerahan kepribadian yaitu cipta, budi, rasa dan karsa.
Memang bener semua penganut/pencari Kejawen dipaksa harus mencantumkan kolom agama yang direstui di RI dengan memilih kelima agama yang ada. Tidak diperbolehkan mencantumkan Kejawen kalo dilihat dari kaca mata agama-agama yang direstui. Meski tidak mathuk/sesuai orang jawa selalu nrima (menerima) karena memang bukan ranah agama yang dicari. Namun ranah spiritualnya yang dicari. Orang yang ber”Tuhan” atau ber”ingsun” atau ber”aku sejati” tidak perlu harus mempunyai agama (agama yang direstui). Namun Jawa tidak pernah 100% menolak agama karena memang ide dasarnya adalah “Tuhan/Gusti/Ingsun” atau apalah konsep sesembahan itu adalah satu , satu dalam arti tunggal atau majemuk, dan manembah/menyembah adalah laku pribadi dan unik, mungkin bisa berbeda satu dan lainnya. Ini yang membuka peluang Kejawen identik dengan klenik, mistik dan lain-lainnya. Karena memang tidak ada syariat atau ritual baku dalam menyembah cuma ada konsep/ide dasar saja yang tidak mau menggurui karena ide dasar tadi adalah konsep universal yang tidak memandang minoritas dan mayoritas serta mengakomodasi sifat makluk dan manusia yang unik, tidak di gebyah uyah (tidak bisa disamakan) satu dan lainnya.

Laku peradaban jawa didasari pada konsep kesadaran religius spiritualis dimana tujuannya adalah bukan “hasil akhir” yang dicapainya namun “laku” yang memperhatikan dan menikmati “perjalanan” itu sendiri. Bertemu atau tidak tujuannya itu tidak perlu dipersoalkan namun perjalanan "laku" itu sendiri yang perlu dinikmati. Inilah kenapa jawa mengadopsi keadaan "Owah Gingsir", dimana tujuan dan cara laku bisa berubah dan berbeda setiap saat. Disini akan saya utarakan tentang konsep filosofi iman dan peradaban Jawa yang memuat 5 bahasan kawruh yaitu :

1.Adanya Tuhan/Gusti
2.Asal muasal Universe/Alam semesta
3.Mitologi Jawa
4.Peradaban Jawa
5.Penanggalan Jawa

Semoga bermanfaat dalam mengarungi samodra kehidupan yang “owah gingsir” dan “tan kena kinaya ngapa” ini , suatu jaman yang selalu berubah dan tidak bisa dipastikan.

Rahayu
Mas Cebolang
User avatar
MasCebolang
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 22
Joined: Fri Mar 16, 2007 1:59 pm
Location: Ngawi

1. Gusti

Postby MasCebolang » Mon Sep 22, 2008 5:37 pm

Sesembahan

Konsep tentang Tuhan/Gusti mencakup konsep tentang siapa yang disembah (sesembahan) dan tentang siapa yang menyembah dan caranya (panembah).
Sebelum datangnya Hindu & Budha banyak yang mengira Jawa menganut faham animisme & dinamisme bahkan ada yang menyebut sebagai polytheisme. Karena memang lain dari konsep yang ada kalau sekarang konsep Jawa ini lebih bisa diartikan ke arah “new age” atau malah agnostik yaitu dengan ber”tuhan” namun tidak mempercayai atau mengadopsi cerita nabi/malaikat. Karena memang mengedepankan “laku” pribadi dan menolak adanya konsep “malaikat”. Seperti yang ditelusuri oleh Prof, Purbacaraka dan juga dalam kitab tamtu panggelaran, dimana konsep awal Tuhan Jawa adalah tunggal/esa yaitu Sang Hyang Tunggal/ Sang Hyang Wenang yang merupakan konsep transendent dan Immanent dan Esa.
Setelah Hindu Budha masuk konsep tadi tersingkir dengan adanya Sang Hyang Mahadewa (Bathrara Guru) dilanjutkan dengan jaman Islam dengan masuknya Sang Hyang Adhama dan Sang Hyang Nurcahya dimana Sang Hyang Wenang “mengalah” dengan menempati posisi di bawah Sang Hyang Adhama.
Meskipun dinalar rumt dan mbulet namun dalam keberadaban Jawa yang mengutamakan “laku” hal tersebut nggak ada masalahnya, karena pada kenyataanya yang “nyanthel” atau yang melekat dalam sanubari Jawa adalah sebutan “Pangeran” atau “Gusti” yang lebih pas dirasa di kalbu Jawa bila menyebutkan konsep Tuhan. Bila menyebut Gusti rasanya “mak nyes” neng ati...seperti mas Bondan yang menyebut “mak nyus” dikala mencicipi kuliner yang nikmat.
Inilah konsep kuliner sesembahan Jawa ..”mak nyes” , yangmemang untuk dirasakan bukan untuk dianalogikan atau direkadaya (dicari-cari) namun diresapi.
Adapun mbah R. Ng. Ranggawarsito dalam bukunya Paramayoga pernah mengutarakan sesebutan sesembahan Jawa antara lain : Sang Hyang Suksma Kawekas, Sang Hyang Suksma Wisesa, Sang Hyang Amurbeng Rat, Sang Hyang Sidhem Permanem, Sang Hyang Maha Luhur, Sang Hyang Wisesaning Tunggal, Sang Hyang Wenanging Jagad, Sang Hyang Maha Tinggi, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Maha Sidhi, Sang Hyang Warmana, Sang Hyang Atmaweda dan lain-lainnya.




Panembah

Meskipun Kejawen bukan agama namun memberikan tata-cara atau tuntunan bagaimana “mamenbah” itu sendiri, namun tidak mengajarkan “how “ manembahnya. Lebih ke arah why-nya.
Why manembah ? Adalah memberikan tuntunan laku supaya bener lan pener untuk tujuan hidup yang berguna. Berguna bagi siapa ? Ya temtunya awalnya pada diri sendiri setelah itu the universe itu sendiri dalam ikut membangun peradaban dunia “melu memayu hayuning bawana” membuat cantik yang sudah tercipta cantik. Ada yang mengatakan memayu hayuning bawana adalah sesanti/filosofi yang mokal/tidak mungkin dicapai (sulit). Karena mengurusi diri sendiri dan keluarga , bebrayan saja kadang susah dan tidak sanggup kok mau mengurusi dunia. Inilah yang dulu saya sebut “kadohan panjangkamu ngger !”, seperti yang tertulis di Wedhatama. Yang disebut memayu hayuning bawana adalah wujud dari asung tuladha (budi) baik menghidupi atau menjalankan laku pribadi dengan pedoman-pedoman ide dasar jawa dulu. Contohnya : Untuk berbuat demi masyarakat sekitar tidak perlu ikut-ikutan ikut partai peserta pemilu (aku gak ngajak lho ..ini cuma perumpamaan). Namun untuk menjadi pemimpin kita bisa kok membuat (misal mampu) usaha swadaya dan swakarsa yang mengakomodasi masyarakat sekitar, sehingga bisa membantu dalam kehidupannya sehari-hari menyantuni masyarakat yang kurang mampu dan membangkitkan mereka. Rasanya lebih baik dari pada hura-hura politik apalagi dengan embel-embel agama segala. Hasilnya adalah “mbel gedhes” !


Kembali ke topic , awalnya adalah menyembah/percaya marang diri pribadi dalam menjalankan hidup dengan berdasar falsafah ke 6 dulu dengan puncaknya adalah sembah keharibaan pribadi dengan “nitisake pati” (memprioritaskan/menuju) sembah mati kembali ke asal muasal. Adapun penjelasan ringkas dari “titising pati”itu adalah bisa mengembalikan semua bahan pinjaman penyusun hidup kita yangtelah diberikan Gusti dengan bener lan pener (dengan benar dan tepat waktu serta tempat). Yang awalnya berupa materi alam semesta kembali ke alam semesta dan yang berupa materi cahaya serta teja kembali ke sumber cahya dan teja, sedangkan urip (suksma) kembali ke Gusti. Inilah konsep baku jawa yang disebut Sangkan Paraning Dumadi (nanti tak posting kapan-kapan) , namun secara singkat bisa dijelaskan bahwa sangkan paraning dumadi itu adalah 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu :

Aku berasal dari mana (lahir)
Aku mau kemana/ngapain (hidup)
Akhirnya aku ngapain dan bagimana caranya (mati)

Maka dari itu dalam peradaban jawa dikedepankan tata cara “olah rasa” sehingga bukan “hasilnya” yang dituju namun “melakukannya”. Contohnya adalah beberapa ilustrasi berikut :
Di Jawa ada yang namanya “beksan” yaitu suatu bentuk tari-tarian, coba diperhatikan tingkah laku penarinya. Untuk nyemplak selendang sang penari kadang harus muter dulu seperti tata cara olah raga melempar martil, namun tidak dengan kekeuatan tapi kualitas semplakan yang di cari.
Demikian juga untuk tembang/lagu Jawa, ada yang aneh-aneh namun kalau diperhatikan akan mengesankan dengan mengedepankan “memayu hayuning bawana” tadi. Seperti lagu/tembang “laler mengeng” (lalat berbunyi)...lha wong lalat bunyi kok dibahas ! Juga tentang lagu “tebu rubuh” (tebu jatuh” serta suluk dalang. Semua itu adalah memperhatikan konsep natural life yang harmoni.
Menjalankan sembah sejati tidak hanya urusan lahir, namun sebaiknya dilakukan dan diresapi seperti memahami lagu/tembang laler mengeng diatas. Apa sih indahnya bunyi lalat, apa sih indahnya bunyi air hujan jatuh ?. Itulah keindahan irama jiwa.

Ngelmu Karang

Ilmu sejati adalah ilmu /pengetahuan yang telah diuraikan diatas untuk mencicipi sangkan paraning dumadi, dengan olah rasa/kebatinan.spiritual. Namun ada ngelmu/pengetahuan yang tidak ada sangkut pautnya dengan memayu hayuning bawana atau sangkan paraning dumadi. Namun hanya mengedepankan “bagaimana hidup” dan “menikmati” keduniaan yaitu seperti ilmu-ilmu yang disebut ilmu karang (kekarangan = persekutuan). Yang hanya pengin hidup enak dengan kenikmatan dunia seperti “kumrubuking iwak, gumrincing ringgit lan kumlerape pupu kuning” enaknya makanan, banyaknya harta benda dan nikmatnya paha putih syahwat.
Sehingga banyak ilmu kebatinan yang dipakai untuk mencari kepuasan dunia tersebut seperti pesugihan, aji-aji, jimat, pusaka dan lain-lainnya. Di Wedhatama hal tersebut disentil oleh pengarangnya dengan menyebut kekarangan (bersekutu) dengan bangsa goib adalah tidak benar dan adakalanya bisa mencelakanan / luput saking tujuwan urip.

“Kekerane ngelmu karang, kekarengan saking bangsaning gaig, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jagad, amung aneng jabaning daging kulub, yen kapengkok ppancabaya , ubayane mbalenjani”

Ngelmu karang itu bersekutu dengan gaib, yang seperti itu ibarat boreh (pupur/kosmetik) yangtidak merasuk ke jiwa raga. Tempatnya hanya diluar daging. Bila suatu saat ingin digunakan kadang tidak mumpuni.

To be continued ...
User avatar
MasCebolang
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 22
Joined: Fri Mar 16, 2007 1:59 pm
Location: Ngawi

Re: Kawruh Kejawen

Postby caberawit » Fri Nov 07, 2008 3:34 am

MasCebolang wrote:. Namun kenyataan sekarang opini public mengatakan bahwa Kejawen identik dengan “aliran kepercayaan” atau ada yang menganggap Kejawen adalah “agama”.


Nuwun sewu, mas Cebolang..

Setahu saya, Kejawen itu pernah diperjuangkan untuk diakui sebagai agama, oleh sodara-sodara kita, penganut faham Kejawen di DPR dulu.... Namun hal tersebut ditentang habis-habisan oleh muslimer kaffah (mengapa hanya muslim yang menentang?).

Berkat perjuangan itu pula-lah, akhirnya pemerintah mengakui "aliran kepercayaan" berdampingan dengan agama, dan Kejawen digolongkan ke dalamnya.

Dan sebetulnya kalau ditinjau lebih jauh... konsep Kejawen sama saja dengan konsep agama... hanya saja... sekarang kondisinya berantakan... :?


MasCebolang wrote:. Memang kalau dilihat agak memper dengan konsep dasar agama yaitu faith. Namun yang membedakan adalah Kejawen tidak punya yang namanya “kitab suci”, namun mengandalkan pada “laku” menuju ke pencerahan kepribadian yaitu cipta, budi, rasa dan karsa.


Sebetulnya, hal ini pun tidak beda dengan agama-agama lainnya. Munculnya kitab suci dalam agama-agama lain (Kristen, Hindu, maupun Budha) adalah belakangan. Jadi umatnya dulu ada, baru kemudian disusun kitab sucinya. Contohnya, orang-orang Kristiani ada ketika Yesus mulai mengajar --> orang-orang Kristen sudah ada sebelum kitab sucinya tersusun. Demikian juga Hindu, umatnya sudah ada, ritualnya sudah ada terlebih dahulu, baru kemudian kitab sucinya tersusun.

Kalo Islam memang beda, karena umat Islam pecaya koran turun dari langit.
Menurut saya, kitab suci islam, koran, adanya berbarengan dengan pembentukan umat islam oleh muhammad. Karena pada jaman muhammad, korannya (kitabsuci-nya) hidup, bisa makan, bisa bobo, bisa ngesex, yaitu muhammad sendiri.

Bagaimana dengan Kejawen?
Jelas penganutnya sudah ada (apalagi pada jaman dulu, bejibun!). Hanya saja ada permasalahan pada kitab suci. Seandainya pada waktu itu (th 70-an) pemerintah mau mengakui Kejawen sebagai agama, mungkin kita sudah punya lembaga resmi (seperti Hindu - PHDI, atau Katolik - KWI, dlsb) dan mungkin kitab-sucinya sudah tersusun.

Namun ada permasalahan dalam pembentukan Kitab Suci, yaitu bahwa sebagian besar literatur-literatur Jawa kuna, sudah musnah. Pemusnahan secara sengaja mulai terjadi sejak penyebaran Islam dan runtuhnya kerajaan Majapahit. (Oleh siapa? Tebak aja sendiri...!) Tentu saja hal itu merupakan kerugian yang sangat besar, karena tentunya sangat banyak informasi mengenai Kejawen yang hilang seiring musnahnya literatur2 jawa kuna tersebut.

Rahayu,
Caberawit
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Re: Kawruh Kejawen

Postby caberawit » Wed Apr 01, 2009 8:40 am

Mas Cebolang ke mana ya?
Kok ngga diterusin tulisannya..
:roll:
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Re: Kawruh Kejawen

Postby walet » Fri Apr 03, 2009 4:46 am

Kalau bisa kejawen kumpul disini. Soalnya Islam adalah musuh bersama. Semua agama harus diakui di Indonesia. Ahmadiah sama Lia Eden sekalipun.
walet
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5863
Images: 15
Joined: Wed Feb 11, 2009 4:52 am

Re: Kawruh Kejawen

Postby tanyakenapa » Wed Feb 16, 2011 2:22 am

Saya agak miris dengan klaim2 bahwa konsep sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawulo gusti merupakan filosofi jawa asli. Di berbagai situs, blog, maupun statement2 sesepuh jawa.

Tidakkah kita tau, bahwa konsep diatas dibawa oleh Syeh SIti Jenar ?
Dan tidakkah kita tau bahwa hal itu diadopsi dari filosofi Ibnu Arabi, sufi asal damaskus abad 12 ?

Lalu apa artinya?
Artinya, kita sebenarnya tidak tau menau tentang kepercayaan JAWA yg asli.

Yang ada adalah ke-jawa-an / kejawen / jawa wanna be


Islamisasi dalam rentang waktu yang lama, telah mengaburkan apa dan bagaimana sejatinya, kepercayaan jawa.
tanyakenapa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 331
Joined: Sun Jun 20, 2010 7:17 am

Re: Kawruh Kejawen

Postby kuta bali » Wed Feb 16, 2011 5:14 am

Kita murnikan ajaran agama asli Indonesia. Hapuskan pengaruh sesat Islam.
Makanya kalau ada info bagi2 dong.
kuta bali
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2187
Joined: Tue Mar 02, 2010 3:55 am


Return to Islam vs Agama & Peradaban Lain



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users