. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby Duladi » Thu Apr 08, 2010 3:10 pm

Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Kalau kita simak ayat-ayat Alquran, banyak sekali kalimat-kalimat yang tidak jelas, sehingga para penerjemah perlu menambahkan kata-katanya sendiri ke dalam ayat tersebut dengan tujuan agar kalimatnya bisa dimengerti.

Ada kalanya, tambahan kata-kata penerjemah di dalam ayat itu tepat, tetapi lebih banyak lagi tambahan kata-kata penerjemah di dalam ayat itu tidak tepat dan cenderung untuk mengaburkan makna sesungguhnya dari suatu kalimat.

Mengapa ayat-ayat Alquran yang kata Muhammad adalah ayat-ayat yang jelas dan terperinci (QS 6:114, QS 11:1, QS 2:99, QS 47:20, QS 45:25, QS 36:17, QS 26:194-195, QS 24:1, QS 6:149), ada sebagian kalimat-kalimatnya yang tidak jelas dan seolah-olah ada beberapa kata yang memang sengaja dihapus/dihilangkan agar makna suatu ayat menjadi kabur?

Contoh 1: kalimat pertama dari QS 4:24

    QS 4:24. dan wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki

Kalau kita baca ayat di atas, kita akan bingung apa sebenarnya yang dimaksud ayat tersebut. Karena itu kita perlu mengetahui apa latar belakang dikarangnya ayat tersebut, dari situlah kita dapat mengerti maksudnya. Menurut Kitab Asbabun Nuzul Jalaludin As-Suyuti, halaman 158-159, sebab-sebab dikarangnya ayat tersebut oleh Muhammad adalah sebagai berikut.

Image

Anda lihat, ketika itu muslim ingin menggauli para tawanan wanita yang bersuami. Catat: MENGGAULI.

Kemudian Muhammad berkata:

    dan wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (QS 4:24)

Jelaslah bahwa kata-kata Muhammad itu tidak lengkap. Seharusnya kalimatnya berbunyi:

    dan diharamkan menggauli wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (QS 4:24)

Konteks ayat itu bukan MENIKAHI, melainkan MENGGAULI.

Tetapi penerjemah yang malu terhadap konteks ayat itu, dengan sengaja mengubah makna ayat itu dari menggauli menjadi menikahi, sehingga jadilah kalimatnya seperti berikut:

    QS 4:24. dan (diharamkan juga kamu menikahi) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki

Penerjemah rupanya hendak menyembunyikan makna bejat dari ayat tersebut.

Jika kalimat asli QS 4:24 tersebut adalah “dan diharamkan menggauli wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki” Lalu kenapa kata-kata “DIHARAMKAN MENGGAULI” itu tidak ada lagi pada ayat tersebut?

Apakah para penyalin Quran di masa khalifah Usman merasa malu mencantumkan kata-kata tersebut sehingga kemudian mereka menghapusnya?

Bagi orang-orang muslim pada zaman itu, mungkin tidak ada masalah walau kata-kata itu dihapus, karena mereka sudah mengerti apa yang dimaksud dalam ayat itu, sehingga kata-kata yang dihapus itu sebenarnya ada namun dibaca di dalam hati, dan tidak tercantumkan di dalam ayat itu secara eksplisit.

Jadi sewaktu orang-orang di jaman Usman itu membaca: “dan wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki” mereka mengerti maksudnya, dan kata-kata “DIHARAMKAN MENGGAULI” itu adalah kata-kata yang tak terucapkan secara lisan namun hanya terucapkan dalam batin.

Hal itu menimbulkan kebingungan bagi orang-orang di masa selanjutnya, terutama mereka yang tidak tahu ASBABUN NUZUL-nya.

Dan penghapusan kata-kata dalam ayat tersebut memberi peluang bagi para penafsir di masa selanjutnya untuk menyisipkan kata-kata mereka sendiri agar ayat tersebut menjadi jelas sesuai dengan pemahaman masing-masing, dan tidak lagi sesuai dengan aslinya seperti sewaktu Muhammad mengarangnya.

Kita memang tidak bisa mengatakan para penerjemah mengubah isi Alquran, karena apa yang mereka tambahkan itu hanya terjemahannya (dan itu pun dengan jujur ditandai dengan kurung), bukan naskah bahasa Arabnya.

Tetapi patut kita sesalkan, Alquran yang diklaim isinya akan tetap murni sampai hari kiamat, dan tidak berubah (masih tetap sama seperti sewaktu Muhammad mengucapkannya), ternyata ada oknum yang dengan sengaja melakukan “korupsi” atau “menghapus” beberapa kata dalam ayat-ayatnya sehingga ayat tersebut bagi orang-orang yang hidup di masa selanjutnya menjadi ayat-ayat aneh dan sukar untuk dipahami kecuali mereka harus mempelajari asbabun nuzulnya.

Dengan demikian, Alquran, tidak hanya raib beberapa ayat sebagaimana dilaporkan Aisyah bahwa ada ayat-ayat rajam yang hilang dimakan kambing, namun juga ada kesengajaan dari pihak penyalin Quran di masa awal menghapus beberapa buah kata dalam sebuah ayat.

Kalau kita tidak ingin menuduh pihak penyalin, maka alternatif kedua adalah kita menuduh Muhammad sebagai seorang pengarang ayat yang ****, karena ia mengucapkan kalimat tak sempurna, di mana kalimatnya tak lengkap dan ada beberapa kata yang seharusnya ada namun tidak ia ucapkan.

Ada beberapa orang berpendapat bahwa QS 4:24 merupakan kelanjutan dari QS 4:23. Memang, para penyalin rupanya sengaja menempatkan ayat itu setelah QS 4:23, yang mengatur tentang perempuan-perempuan mana saja yang boleh dan tidak boleh dikawini/digauli. Itu bukan Muhammad yang menentukannya. Muhammad tidak pernah menentukan satu ayat harus ditempatkan di mana dan di surat apa, melainkan itu sepenuhnya adalah atas inisiatif dari para penyalin Quran. Dan berdasarkan asbabun nuzul, QS 4:23 dan QS 4:24 tidak berhubungan, dan kedua ayat itu diturunkan di saat yang berlainan dan di tempat yang berbeda pula.

Selanjutnya saya akan tunjukkan bahwa ada lagi kata-kata dalam ayat Quran yang sengaja dihapus atau dibikin raib oleh para penyalin.

Bersambung……….
Duladi
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby Duladi » Thu Apr 08, 2010 6:24 pm

Contoh 2: kalimat ketiga dari QS 4:24

Simak ayat berikut.

    Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban. (QS 4:24)

Ayat di atas sedang membicarakan apa ya? Hemmm…….

Apakah mahar itu diberikan belakangan sebagai bayaran atas kenikmatan yang telah diberikan istri kita? Hmm…..

Agar tidak bingung dan menerka-nerka, mari kita selidiki asbabun nuzul ayat tersebut dari Literatur Islam tertua.

Image

Image

Jadi, berdasarkan mushaf Ubai bin Ka’b yang dibaca Abu Khuraib dan bacaan lisan Ibnu Abbas, kalimat ayatnya seharusnya berbunyi:

    Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara mereka sampai pada batas waktu yang ditentukan, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban. QS 4:24

Lalu siapakah yang telah menghapus kalimat “sampai pada batas waktu yang ditentukan” dari dalam ayat tersebut?

Jawabannya ada di sini:

Image

Jadi, kalifah Umar tampaknya sebagai orang yang patut dicurigai sebagai oknum yang menghapus kata-kata tersebut, karena dia tidak menyetujui nikah mut’ah, yang kemudian dilanjutkan oleh kalifah Usman dengan membakari mushaf-mushaf untuk menghilangkan jejak. Inilah kelicikan Islam. Namun kita beruntung karena ternyata masih ada beberapa mushaf yang lolos dari pembakaran, yaitu mushaf milik Ubai bin Ka'b.

Dihapusnya kata-kata “sampai pada batas waktu yang ditentukan” dari dalam kalimat ketiga ayat 24 itu menyebabkan makna kalimat tersebut menjadi kabur dan membingungkan.


Kesimpulan kita terhadap ayat tersebut adalah:
Kalimat ketiga dalam ayat surat An-Nisa (QS 4): 24 itu ternyata adalah tentang nikah mut’ah, yaitu kawin kontrak, di mana laki-laki dan perempuan terikat dalam hubungan suami-istri hanya sampai pada batas waktu tertentu yang telah disepakati bersama dalam akad. Setelah lewat waktu tersebut, keduanya menjadi bebas dan bukan suami-istri lagi.

Kalau sekarang kaum sunni mengatakan nikah Mut’ah sudah dibatalkan, maka logikanya, bagaimanakah ayat Alquran bisa dibatalkan oleh hadist?

Tidak ada satupun ayat dalam Alquran yang memansokh nikah mut’ah kecuali ucapan Muhammad yang terekam dalam hadist. Manakah yang lebih tinggi hukumnya: Firman Alloh ataukah Perkataan Muhammad?

Tapi di topik ini bukan itu yang saya persoalkan, melainkan persoalan “RAIBNYA BEBERAPA KATA DALAM ALQURAN”, di mana hal itu menjadi bukti bahwa Alquran tidaklah semurni dugaan kita selama ini.

Kita menjadi sadar, bahwa Alquran, sebagaimana buku-buku biasa pada umumnya, tidak luput dari “jamahan” orang-orang yang berkuasa karena ada unsur kepentingan, baik untuk menyembunyikan makna sesungguhnya dari suatu ayat, maupun untuk maksud lain.

Kadang agar ayat-ayat itu terkesan suci, maka dihapuslah beberapa kata yang dianggap dapat merusak kesan suci tersebut.

Jadi di situlah kebohongan Islam semakin sempurna, ketika Muhammad dahulu tidak mampu menyembunyikan kebobrokannya di muka umum, lambat laun kebobrokan perilaku dan ajaran-ajarannya tertutupi lewat pengikisan demi pengikisan (seperti kasus raibnya beberapa kata dalam Quran) dan polesan-polesan karangan fiksi agar KOTORAN KUCING berubah jadi EMAS MURNI.


Wassalam.
Duladi
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 7103
Joined: Thu Apr 12, 2007 10:19 pm
Location: Samarinda

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby duren » Thu Apr 08, 2010 7:19 pm

Kalau begitu si CS dah mintar mintarin awlloh mengenai Q 4.24
adalah-dusta-menyimpulkan-q-33-37-sebagai-pelarangan-adopsi-t37571/
CRESCENT-STAR wrote:.........
karena hukum menikahi wanita yang masih bersuami adalah HARAM, sbgmana firman Allah ..
Annisa : 24.
"dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami,...."
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby CRESCENT-STAR » Fri Apr 09, 2010 8:24 am

saya tdk faham arah topik ini, bisa bung bantu saya memahami ?
User avatar
CRESCENT-STAR
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 8235
Joined: Wed Nov 04, 2009 10:48 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby duren » Fri Apr 09, 2010 10:50 am

CRESCENT-STAR wrote:saya tdk faham arah topik ini, bisa bung bantu saya memahami ?


Versi Duladi
dan diharamkan menggauli wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (QS 4:24)
SAMA DENGAN
Dihalalkan kamu ngesek dengan bini orang ( tanpa nikah ) ASAL SAJA dia/suaminya kau perbudak .
..........
Versi CS
karena hukum menikahi wanita yang masih bersuami adalah HARAM, sbgmana firman Allah ..
Q 4.24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki

SAMA DENGAN
Q 4.24. dan (diHALALKAN kan juga kamu [b]mengawini) wanita yang bersuami[/b], ASAL SAJA dia /suaminya kau PERBUDAK
Tentu mustahil menikahi istri orang lain (walau pun dia memang budak mu ) .

TAPI Islam memberi jalan keluar ( TIDAK PERLU NIKAH ) KALAU HANYA SEKEDAR NGESEKS dengan bini orang .
Dihalalkan kamu ngesek dengan bini orang ( tanpa nikah ) ASAL SAJA dia/suaminya kau perbudak .
...........
Ga usah kait kaitkan dengan perang . Memperbudak seseorang bisa dilakukan walau tanpa melalui perang . Bukankah Islam jagoan nya mendegradasi mental manusia agar bermental budak !! Ayat ini sekaligus merupakan proklamasi bahwa Islam MEMANG melegalisasi PERBUDAKAN .
Ayat ini membuat kita lebih mudah memahami apa yang terjadi dengan nasib para TKI di arab

Janganlah sekali sekali meng_kadalin ayat awlloh
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby CRESCENT-STAR » Fri Apr 09, 2010 11:17 am

Ga usah kait kaitkan dengan perang

tapi kata "MA MALAKAT AIMA NUKUM" itu istilah wanita tawanan perang. jadi HARUS ada kaitannya dgn PERANG
User avatar
CRESCENT-STAR
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 8235
Joined: Wed Nov 04, 2009 10:48 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby duren » Fri Apr 09, 2010 1:04 pm

Ga usah kait kaitkan dengan perang
CRESCENT-STAR wrote:tapi kata "MA MALAKAT AIMA NUKUM" itu istilah wanita tawanan perang. jadi HARUS ada kaitannya dgn PERANG

Perang yang dilakukan muhammad adalah penggarongan .
Coba saja ente menggarong rumah seseorang ... itu namanya sudah ngajak perang kepada yang punya rumah.
Tangkap suaminya ==> namanya sudah menjadi tawanan perang
Ambil pengertian yang dimaksud oleh muhammad BAHWA tawanan perang adalah budak.
Yahh udah sah lah memaksa istrinya ngesek sesuai Q 4.24

Sama juga dengan orang arab yang memperkosa TKI ... Bukankah itu sudah merupakan ajakan perang terhadap bangsa kita ??
BUKTINYA
Presiden Filipina langsung turun tangan membereskan masalah TKI nya KARENA menganggap ini adalah masalah negara .
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby CRESCENT-STAR » Sun Apr 11, 2010 10:10 pm

hadits mana, ulama mana yg mengatakan TKI halal disetubuhi ?
User avatar
CRESCENT-STAR
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 8235
Joined: Wed Nov 04, 2009 10:48 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby duren » Sun Apr 11, 2010 10:18 pm

CRESCENT-STAR wrote:hadits mana, ulama mana yg mengatakan TKI halal disetubuhi ?

Rasa rasanya ane ga ada bicara kan hadis blehhh
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby CRESCENT-STAR » Sun Apr 11, 2010 10:27 pm

ya itu kebiasaan bung, kalau ada yg negatif pasti dialamatkan pada Islam dan kemudian membuat pernytaan bahwa itu bagian dari hukum Islam. kalau penyimpangan ya sebutkan saja itu penyimpangan dan jangan berkhayal seolah memperkosa TKI bagian dari kehalalan dalam Islam.
sikap spt itu ga baik bung.
User avatar
CRESCENT-STAR
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 8235
Joined: Wed Nov 04, 2009 10:48 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby duren » Sun Apr 11, 2010 10:43 pm

CRESCENT-STAR wrote:ya itu kebiasaan bung, kalau ada yg negatif pasti dialamatkan pada Islam dan kemudian membuat pernytaan bahwa itu bagian dari hukum Islam. kalau penyimpangan ya sebutkan saja itu penyimpangan dan jangan berkhayal seolah memperkosa TKI bagian dari kehalalan dalam Islam.
sikap spt itu ga baik bung.

Ada nyang ngomel ngomel nihh ... Aku membuat aplikasi didunia nyata sesuai Q 4.24
Enyah deh loe kalo mau teori doang
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby CRESCENT-STAR » Sun Apr 11, 2010 11:51 pm

ya bagi saya sederhana saja, itu aplikasi yang salah.
User avatar
CRESCENT-STAR
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 8235
Joined: Wed Nov 04, 2009 10:48 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby duren » Sun Apr 11, 2010 11:56 pm

CRESCENT-STAR wrote:ya bagi saya sederhana saja, itu aplikasi yang salah.

SILAHKAN LAH KAU MAKAN HATI BERULAM JANTUNG
Karena
Orang arab menggunakan aplikasi ku :lol: :rolling: :lol:
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11068
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby bluelotus » Fri Apr 16, 2010 11:23 am

boleh saya tambah sedikit ??

CS : siapa yang tambah kata-kata dalam kurung yang selalu ada dalam tafseer alquran ?? apa jaminan bahwa mereka tak rubah arti verse itu ?? sementara dengan atau tak ada tanda itu, suatu arti bisa beda banyak ...

what I mean adalah : authority apa yang buat mereka tambah-tambah informasi itu ?? dan siapa yang beri authority itu ??

contoh :

Q 4:74
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.


mari kita hilangkan tanda kurung itu

Q 4:74
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.


mohon kesediaan anda jawab ...
regards
bluelotus
bluelotus
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 578
Joined: Mon Jan 11, 2010 10:56 am

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby BerjayalahKebenaran » Mon Mar 26, 2012 10:38 pm

Wah kok gk dibantah lagi? Padahal ini topik yang menarik, bantah dong?
BerjayalahKebenaran
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 489
Joined: Sat Oct 15, 2011 5:48 pm

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby Captain Pancasila » Wed Mar 28, 2012 10:53 am

BUDAK TETAP HARUS DINIKAHI TERLEBIH DAHULU :
dari : http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j& ... 7w&cad=rja

Sahih Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 459:

Dikisahkan oleh Ibn Muhairiz: Aku masuk ke dalam mesjid dan melihat Abu Khudri dan lalu duduk di sebelahnya dan bertanya padanya tentang coitus interruptus (Al-Azl). Abu berkata, “Kami pergi bersama Rasul Allah untuk Ghazwa (penyerangan terhadap) Banu Mustaliq dan kami menerima tawanan2 perang diantara para tawanan perang dan kami berhasrat terhadap para wanita itu dan sukar untuk tidak melakukan hubungan seksual dan kami suka melakukan coitus interruptus (=membuang sperma di luar vagina). Maka ketika kami bermaksud melakukan azl/coitus interruptus kami berkata: “Bagaimana kami dapat melakukan coitus interruptus tanpa menanyakan Rasul Allah yang ada diantara kita?” Kami bertanya padanya tentang hal ini dan dia berkata: “Lebih baik kalian tidak melakukan itu, karena jika jiwa (dalam hal ini jiwa bayi) manapun (sampai hari Kebangkitan) memang ditentukan untuk menjadi ada, maka jiwa itu pun akan ada.’”

Sahih Bukhari: Volume 9, Book 93, Number 506:

Dikisahkan oleh Abu Said Al-Khudri: Ketika dalam peperangan dengan Bani Al-Mustaliq, mereka (tentara Muslim) menangkap tawanan2 wanita dan ingin menyebuhi wanita2 itu tanpa membuat mereka hamil. Maka mereka (tentara Muslim) tanya pada Nabi tentang azl/coitus interruptus …

JAWABAN:

Hadits di atas memang berbicara mengenai hubungan seksual antara kaum muslimin dengan tawanan perang wanita namun kita harus menyadari bahwa ada dua hal yang menjadi persoalan disini, pertama benarkah hubungan seksual tersebut tanpa dilandasi pernikahan, kedua apa yang menyebabkan Abu Sa’id al khudri melakukan azl?.

Pertama kita harus mengetahui bahwa perang bani musthaliq di mana peristiwa itu terjadi (Imam Muslim meriwayatkan kejadian tersebut terjadi ketika selesai perang bani musthaliq lihat kitab Shahih Muslim, kitab pernikahan hadits nomor 2599) kaum muslimin masih diperkenankan melakukan pernikahan mut’ah, yaitu pernikahan sementara yang dilakukan tidak lebih dari tiga hari .

Diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah dan Salama bin Al-Akwa’ : “Ketika kami berada dalam peperangan, Rasulullah Saw datang kepada kami, “Kamu telah diperbolehkan untuk melakukan nikah mut’ah, jadi lakukanlah. “Salama berkata : Rasulullah saw berkata:”Jika laki-laki dan wanita setuju melakukan nikah mut’ah pernikahan mereka berlangsung selama tiga malam, dan jika mereka suka untuk melanjutkan mereka dapat melakukannya, dan jika mereka mau berpisah mereka dapat melakukannya. (HR Bukhari 62:52)

Akan tetapi jenis pernikahan ini kemudian dilarang oleh Rasulullah semenjak perang khaibar.

Ali meriwayatkan pada waktu perang Khaibar, Rasulullah saw melarang nikah mut’ah (HR Bukhari 59:527)

Perang terhadap bani musthaliq memang terjadi sebelum perang khaibar dari sinilah kita dapat menyimpulkan mengapa Abu sa’id al khudri melakukan azl, yaitu dikarenakan tawanan perang tersebut beliau nikahi secara sementara, sehingga dia tidak ingin pernikahan sementara tersebut berbuntut terhadap kelahiran seorang anak yang mengakibatkan munculnya beban dan tanggungjawab baru terhadap dirinya dan wanita tawanan perang tersebut.

Bagaimana sebenarnya status seorang tawanan perang yang statusnya bisa berubah menjadi budak dan bagaimana memperlakukannya? Dalil-dalil di bawah ini yang akan menjawab persepsi yang salah dari asumsi Kristen terhadap Islam dalam soal tawanan:

QS. 4.24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [282] (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian [283] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni’mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu [284]. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

[282] Maksudnya : budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya. [283] Ialah : selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam ayat 23 dan 24 surat An Nisaa’. [284] Ialah : menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang telah ditetapkan.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Muslim, Abu Daud, Tirmizi meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, katanya, “Kami beroleh wanita-wanita tawanan dari Bani Authas yang masih mempunyai suami. Mereka tidak bersedia kami campuri disebabkan masih bersuami itu. Lalu kami tanyakan hal itu kepada Nabi saw., maka turunlah ayat, ‘Dan diharamkan mengawini wanita-wanita yang bersuami kecuali hamba sahaya yang menjadi milikmu.‘ (Q.S. An-Nisa 24) maksudnya kecuali yang diberikan Allah kepadamu sebagai orang-orang tawanan, maka dengan ayat itu halallah bagi kami kehormatan mereka.”

Thabrani dari Ibnu Abbas mengetengahkan, katanya, “Ayat itu turun di waktu perang Hunain tatkala kaum muslimin diberi kemenangan oleh Allah di perang Hunain, mereka mendapatkan beberapa orang wanita dari kalangan Ahli Kitab yang masih mempunyai suami. Jika salah seorang di antara mereka hendak dicampuri maka jawabnya, ‘Saya ini bersuami’, maka turunlah ayat, ‘Dan diharamkan pula kamu mengawini wanita-wanita yang bersuami…’ sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 24)

Ibnu Jarir mengetengahkan dari Muammar bin Sulaiman, dari bapaknya, katanya, “Seorang laki-laki dari Hadramaut mengajukan soal, ‘Bagaimana bila suami-suami telah menetapkan maskawin lalu siapa tahu mereka ditimpa oleh kesulitan’, maka turunlah ayat, ‘Dan kamu tidak berdosa mengenai sesuatu yang telah saling kamu relakan, setelah mahar ditetapkan itu.’” (Q.S. An-Nisa 24)

QS. 8.70. Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: “Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

QS. 8.71. Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Memang benar Islam mengajarkan boleh menikahi budak wanita dan status wanita tersebut tetap budak tangan kanan, namun Allah Azza wajalla lebih senang lagi terhadap orang yang membebaskan wanita tersebut dan menikahinya dan menjadikan statusnya menjadi istri bukan hanya seorang budak.

Ada sebuah catatan yang harus dipahami bahwa di dalam Islam terdapat istilah “milkul yamin” yang artinya budak milik tangan kanan dan ini adalah istilah yang biasanya dikorelasikan dalam konteks hubungan seksual antara budak dan majikan, Quran selalu menggunakan istilah ini didalam korelasi hubungan seksual tersebut

QS. 23:5-6. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki (aumaamalakat aimaanuhum) ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

QS.4.3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki (aumaamalakat aimaanukum). Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

QS. 70.30. Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki (aumaamalakat aimaanuhum) , maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Dari sini kita harus membedakan istilah milkul yamin dengan istilah budak biasa dimana istilah milkul yamin tidak digunakan, yaitu dimana konteks korelasinya berbeda yaitu pada bukan pada konteks hubungan suami istri. Sebagai contoh istilah yang digunakan untuk menggambarkan kedudukan budak mukmin dengan wanita musyrik.

QS.2.221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak (amatun) yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.

Quran menjelaskan bahwa milkul yamin adalah budak yang dinikahi atau dengan kata lain budak yang dalam konteks hubungan seksual sah secara hukum karena telah melalui proses pernikahan.

QS. 4.24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

At Tabarani meriwayatkan ayat ini turun pada waktu perang Hunain di mana kaum muslimin menang dan mendapatkan beberapa tawanan wanita, ketika akan dicampuri mereka menolak dengan alasan bersuami, lalu kaum muslimin bertanya mengenai hal ini kepada Rasulullah saw, lalu turun ayat ini, hadits yang sama diriwayatkan imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i.

Quran dengan jelas menyatakan bahwa haram hukumnya menikahi wanita-wanita yang telah bersuami kecuali wanita yang telah menjadi tawanan perang, mengapa demikian karena wanita yang menjadi tawanan perang terputus hubungannya dengan suaminya karena posisi suaminya adalah sebagai musuh yang memerangi Islam dan kaum muslimin, selain daripada mereka termasuk golongan yang musyrik, dari sini juga dapat kita pahami bahwa yang dimaksud dengan “dicampuri” adalah menikahi mereka terlebih dahulu hal ini jelas dengan redaksi ayat diatas yang mengatakan:

QS.4.24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.

Ayat lain yang mempertegas diwajibkannya seorang majikan untuk menikahi budaknya sebelum berhubungan seksual dengannya adalah:

QS. 4.25. Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki.

Hadits mengenai pernikahan antara shafiyyah dan Rasulullah Saw juga memperkuat tentang pernikahan yang diwajibkan untuk menghalalkan hubungan suami istri antara budak dengan majikan:

Diriwayatkan oleh Anas : “Rasulullah tinggal selama tiga malam antara khaibar dan madina dan telah menikahi shafiya. Aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri pesta pernikahan dan di sana tidak ada daging dan roti di dalam pesta tersebut, akan tetapi rasulullah memerintahkan Bilal untuk menggelar tatakan kulit yang di atasnya terdapat biji, mentega dan susu masam kental mengeringkan ditaruh. Kaum muslimin bertanya diantara diri mereka, “apakah Shafiyya akan menjadi salah satu ummul mukminin (istri Rasulullah) ataukah hanya menjadi budaknya saja” (Bukhari 59:524)

Dalam hadits diatas para sahabat masih bertanya-tanya tentang kedudukan Shafiya, padahal nampak jelas bagi kita semua bahwa Rasulullah telah mengadakan pesta pernikahan antara dirinya dengan Shafiya. Jawabannya dari teka teki ini adalah walaupun telah dinikahi tidak ada kejelasan tentang status Shafiya sebagai Istri atau budak tangan kanan (milkul yamin), artinya pemahaman kaum muslimin pada waktu itu sejatinya adalah bahwa untuk menghalalkan hubungan seksual dengan budak harus dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan proses pernikahan. Dari sini jelaslah bagi kita bahwa nikah hukumnya wajib terhadap budak sekalipun.

Dan Islam menjadikan mereka memiliki beberapa hak yang menjamin mereka hidup dengan mulia bersama saudara-saudara mereka dan menjadikan mereka dimuliakan. Mereka juga memiliki hak-hak seperti manusia lainnya. Islam juga mengharamkan menzhalimi mereka dengan cara apapun dan memerintahkan para pemilik untuk tidak memberikan pekerjaan yang tidak sanggup mereka lakukan. Jika memang harus memberikan pekerjaan itu maka para pemilik harus membantu mereka.

Rasul SAW bersabda:

“Sesungguhnya saudara kalian itu adalah khawal (pembantu) kalian yang Allah jadikan mereka di bawah tangan kalian. Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah tangannya, maka hendaklah memberinya makan dari apa yang dia makan dan hendaklah memberinya pakaian dari apa yang dia pakai, dan janganlah kalian membebani mereka dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka kerjakan. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.” (Shahih Bukhari)

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan: budak laki-lakiku dan budak perempuanku. Kalian, semua laki-laki adalah hamba Allah, dan kalian, semua perempuan adalah hamba Allah. Akan tetapi hendaklah mengatakan: ghulaamii (anak kecil laki-lakiku) dan jaariyatii (anak kecil perempuanku), fataaya (anak muda laki-lakiku) dan fataatii (anak muda perempuanku).” (Shahih Muslim)

“Barangsiapa yang memukul seorang ghulam karena suatu batasan yang belum dia datangi, atau menamparnya, maka kafaratnya adalah memerdekakannya.” (Shahih Muslim)

“Barangsiapa yang mengebiri budaknya maka kami akan mengebirinya.” (Sunan An-Nasa’i)

“Barangsiapa yang membunuh budaknya, maka kami akan membunuhnya, dan barangsiapa yang memotong budaknya, maka kami akan memotongnya.” (Sunan Abu Daud dan At-Tirmidzi)

QS.24.33. Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka[1036], jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu[1037].

Catatan kaki: [1036]. Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi perjanjian itu dengan harta yang halal.

[1037]. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.

Hadist Nabi SAW yang lain juga mengatakan:

“Jagalah shalat dan budak-budak kalian. Jagalah shalat dan budak-budak kalian.” (Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Shahih Al-Jami’ 3873)
User avatar
Captain Pancasila
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3460
Joined: Wed Jun 01, 2011 1:58 pm
Location: Bekas Benua Atlantis

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby Captain Pancasila » Wed Mar 28, 2012 11:15 am

Duladi wrote:Simak ayat berikut.

Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban. (QS 4:24)


Ayat di atas sedang membicarakan apa ya? Hemmm…….

Apakah mahar itu diberikan belakangan sebagai bayaran atas kenikmatan yang telah diberikan istri kita? Hmm…..

artinya, mahar tidak harus dibayar secara kontan (boleh dibayar belakangan/secara mencicil), dasarnya adalah kalimat berikut :
4:24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
User avatar
Captain Pancasila
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3460
Joined: Wed Jun 01, 2011 1:58 pm
Location: Bekas Benua Atlantis

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby Captain Pancasila » Wed Mar 28, 2012 11:53 am

fayhem wrote: :lol:
Baguslah, tambah 'hebat' aja islam, maharnya bisa dicicil

kelihatannya memang jarang dipraktekkan, karena mana ada orang mencicil seperangkat alat sholat! :lol: tapi kalau dilihat dari filosofinya, "seperangkat alat sholat" melambangkan janji mengajari/memberi contoh keluarganya, untuk menegakkan sholat sebagai tiang utama Islam, kalau dilihat dengan cara seperti itu, mahar "seperangkat alat sholat" tidaklah mungkin bisa dibayar secara tunai/kontan! :turban:
User avatar
Captain Pancasila
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3460
Joined: Wed Jun 01, 2011 1:58 pm
Location: Bekas Benua Atlantis

Re: Kata-kata yang hilang dalam Alquran

Postby sodrun » Fri Mar 30, 2012 7:30 am

Kalau kita simak ayat-ayat Alquran, banyak sekali kalimat-kalimat yang tidak jelas, sehingga para penerjemah perlu menambahkan kata-katanya sendiri ke dalam ayat tersebut dengan tujuan agar kalimatnya bisa dimengerti.

Ada kalanya, tambahan kata-kata penerjemah di dalam ayat itu tepat, tetapi lebih banyak lagi tambahan kata-kata penerjemah di dalam ayat itu tidak tepat dan cenderung untuk mengaburkan makna sesungguhnya dari suatu kalimat.

Mengapa ayat-ayat Alquran yang kata Muhammad adalah ayat-ayat yang jelas dan terperinci (QS 6:114, QS 11:1, QS 2:99, QS 47:20, QS 45:25, QS 36:17, QS 26:194-195, QS 24:1, QS 6:149), ada sebagian kalimat-kalimatnya yang tidak jelas dan seolah-olah ada beberapa kata yang memang sengaja dihapus/dihilangkan agar makna suatu ayat menjadi kabur?

Itu karena transmisinya jelek,.. transmitternya yang kurang bagus,.. bisa juga receivernya yang error !
sodrun
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1948
Joined: Sat Apr 30, 2011 8:38 pm


Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users