. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Israel di mata seorang muslim

Artikel2, ajaran Islam, diskusi yang membahas konflik Islam vs. Zionisme secara umum dan masalah Palestina secara khusus.

Israel di mata seorang muslim

Postby Ehud Olmert » Wed Feb 25, 2009 6:29 pm

Pengalaman menarik seorang Muslim yang traveling
di Israel.

BEBERAPA CATATAN DARI ISRAEL
(Oleh : Luthfi Assyaukani - Paramadina Mulia Jakarta)


Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang
saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh
memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga
keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani
pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan
orang-orangnya.

Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada
saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks
dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena
yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak
Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira).
Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang
berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang
berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan
informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan
joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku
mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang
katanya "more jewish than me." Dalam jamuan lunch, seorang diplomat
Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang
persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang
Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan
tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua
budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini
yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel
di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita
dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas.
Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya
itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika
kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang
perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan
itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar
adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak
para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional,
yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab.
Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab.
Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya
ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel. Orang Israel
boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang
pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan
sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel.
Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah
barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab
tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani
adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci
dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio,
dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa
Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita
melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan
tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang
harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang
diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor2
imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari
sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi
sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti
avenues di New York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya
pada Seattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik
di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan
hektar taman dan pepohonan di sepanjang jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada
memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri
yang berdaulat, tapi karena mereka betul-betula bekerja keras menyulap
ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami.
Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun
dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya
teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah satu-satunya Nabi yang
berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan
itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan)disematkan
kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel menang telak
bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap
dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan
historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa,
seperti kata Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia
lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas.
Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya:
"orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina,
setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka
buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?" Problem
besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima
"two state solution," meski itu adalah satu-satunya pilihan yang
realistik sampai sekarang. Jika saja orang-orang Palestina dulu mau
menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak
akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak akan
ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi orang-orang Arab,
Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang
Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem, tentang
al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota Tua
tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada
persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah
Abang lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu
saja,sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang membentuknya
seperti sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki
atau
Muenster di Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur
tanahnya. Kota Tua Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan
sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas
bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak
menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan
pertikaian ribuan tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika
tak ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah
sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya
terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion
Heart, the Templer, dan para penziarah Eropa yang berbulan-bulan
menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib.
Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari
Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967.
Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dari Israel. "Dulu," katanya, "ada
tembok tinggi yang membelah Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat.
Persis seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi
satu kembali." Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi
pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat
dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan kerontang,
Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian
besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, "Mengapa itu bisa terjadi, mengapa
pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?" Dengan senyum sambil
melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan:
"ya akhi ya habibi, kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada
urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah,
yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah
mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari
sini, mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang."
Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: "What went wrong?"

Ada banyak pertanyaan "what went wrong" setiap kali saya menyusuri
tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat
perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian
ini sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan
Yahudi sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang
cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia.
Tibalah saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang
quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di
mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim, tampak
tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu soal
pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi
pedagangnya juga punya hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di perkampungan
Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya
Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak
tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You know
what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu Tuhan di tembok
ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan
sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara
Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju Arab,
menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan masuk.
Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: "enta Muslim (apakah kamu
Muslim)?" Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua: "iqra
al-fatihah(tolong baca al-fatihah). " Kalau hafal Anda lulus, dan bisa
masuk, kalau tidak jangan harap bisa masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan
bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, "kaffi, kaffi, ba'rif enta
muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim)." Saya ingin meledak
menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim
mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan
bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya
menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung,
tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.

Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa
superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat
screening yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk
Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf,
itupun tak penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh
latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di
Madinah. Rumah Tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim
haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak
pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu
menganggap non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok
ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja
dengan kebodohan yang tak masuk akal.

---------
Luthfi Assyaukani (orang Paramadina Mulia Jakarta) yang menganggap teks
Al-Qur'an mengalami copy editing oleh para sahabat. Ungkapan untuk
meragukan kemurnian Al-Qur'an ini disiarkan lewat internet JIL,
islamlib.com : "Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya
adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami
berbagai proses copy-editing oleh para sahabat, tabi'in, ahli bacaan,
qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan." (Islamlib.com
Ehud Olmert
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 12
Joined: Wed Feb 25, 2009 1:42 pm

Re: Israel di mata seorang muslim

Postby ISLAM IS THE BEaST » Thu Feb 26, 2009 1:25 pm

sarapanbabidotbiz wrote:Repost yang ke-33 kalinya...

Bro, ente sepertinya sudah kenal ffi cukup lama. Kalau ente tidak dapat memetik manfaat ffi meskipun ente sudah disuguhi kebenaran, sangat menyedihkan bro. Kenapa ente tidak teruskan menerobos penjara islam yang memenjara akal sehat dan nurani ente dengan licik, keji dan jahat, bro. Masak ente takut sama neraka yang berisi mahatma gandhi, alfred nobel, mother theresa dan orang-orang yang hatinya penuh cinta akan sesama, yang sudah check out dari planet ini? Orang-orang yang selama hidupnya mencintai sesama manusia tanpa pandang bulu?
ISLAM IS THE BEaST
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 60
Joined: Fri Feb 20, 2009 10:35 pm

Re: Israel di mata seorang muslim

Postby ISLAM IS THE BEaST » Thu Feb 26, 2009 2:02 pm

sarapanbabidotbiz wrote:Ya memang saya termasuk senior disini... sudah gonta-ganti nick, gonta-ganti IP, gonta-ganti proxy...
saya kesini bukan cari murtad... tapi jujur saya butuh FFI, habis lucu sih...
bagaimanapun muslim butuh hiburan dan kesenangan...

Bro, di satu sisi saya sedih. Sebagai sesama apalagi sebangsa saya sedih anda memilih membiarkan akal sehat dan nurani anda tetap berada dalam penjara islam yang licik, jahat, dan biadab. Tapi bagaimanapun saya menghargai pilihan anda. Anda dianugerahi kebebasan memilih. Anda bukan robot.
Bro, di sisi lain saya senang tapi bukan kesenangan yang berlebihan. Muslim-muslim seperti anda sangat bermanfaat bagi ffi. Pengunjung-pengunjung ffi akan jadi tahu seperti apa cara berpikir, cara bicara, cara berkomunikasi muslim-muslim yang sudah menolak bulat-bulat untuk lepas dari penjara islam.
===
Tidak selalu ada hari esok bagi semua orang. Saya mendukung anda sepenuh hati bila suatu saat anda memikirkan kembali pilihan anda. Tidak selalu ada hari esok, bro.
ISLAM IS THE BEaST
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 60
Joined: Fri Feb 20, 2009 10:35 pm

Re: Israel di mata seorang muslim

Postby ISLAM IS THE BEaST » Thu Feb 26, 2009 4:09 pm

sarapanbabidotbiz wrote:memangnya akal sehat dan nurani itu monopoli FFI? lihat saja


Tidak dong, bro. Semua manusia asal tidak mengalami cacat fisik/mental, semua punya akal sehat dan nurani. Bahkan mayoritas muslim indonesia masih berfungsi akal sehat dan nuraninya. Akal sehat dan nurani mayoritas muslim indonesia akan takluk dan tidak berfungsi ketika berhadapan dengan islam. Ketika melihat non muslim terbunuh oleh jihadist muslim, akal sehat dan nurani muslim takluk. Ketika non muslim ingin jadi presiden, akal sehat dan nurani muslim takluk. Anda tahu rincinya, bro.

kelakuan netter FFI... itu kah akal sehat?


Menurut pengamatan saya banyak yang terjebak dalam irama islam. Sadar tidak sadar cara bicaranya jadi ikutan nyungsep jadi islami.

bilang tuhan muslim = setan itu kah nurani?


Pilihan kata itu menurut saya terlalu menusuk buat muslim. Tapi di ffi kan muslim diajak untuk menguji apakah tuhan muslim dapat melewati ujian dengan akal sehat dan nurani? Saya mengajak anda untuk menguji dengan akal sehat dan nurani melalui perincian ciri-ciri kafir dan non kafir menurut islam vs menurut non muslim.
Pengetahuan keislaman anak2 FFI hanya jadi bahan tertawaan muslim saja, sadarkah anda?


Saya ragu anda berkata jujur, bro. Saya menduga malah sangat banyak pengetahuan keislaman yang anda temui di ffi. Anda pasti tahu mayoritas muslim tidak pernah membaca dan mempelajari quran, hadis dan sirah muhammad. Anda pasti tahu beda mempelajari dan mengaji secara islami.
Menghujatkah cara terbaik anda?


Bro, anda sebagai seorang yang dikaruniai akal sehat dan nurani pasti tahu beda menghujat dan mengatakan kebenaran yang didasari akal sehat dan nurani.

Mencacikah cara terbaik FFI?
ayolah... semakin kalian mencaci semakin kalian menyuruh muslim keluar dari sini...
klo anda punya istri, semakin sering anda mencaci istri semakin anda tidak menginginkan keberadaan istri anda di rumah...
see?

Saya tidak percaya bahwa caci-maki adalah cara yang baik dalam edukasi. Seorang bapak yang mencaci-maki anaknya bisa membuat anaknya menerima citra dari kata-kata cacian itu. Kalau bapaknya mencaci: kamu buodoh, kamu tuolol, maka anaknya bisa jadi **** benaran.
===
Tapi saya melihat caci maki di ffi adalah dari islam, disodorkan islam. Anda pasti tahu bagaimana islam memandang non muslim. Muslim kaget begitu tahu apa islam yang sebenarnya lewat ffi. Lalu muncul denial, penolakan. Tentu sangat sulit menerima kenyataan bahwa apa yang muslim percayai dari kecil ternyata primitif, licik, jahat, dan biadab setelah melalui ujian akal sehat dan nurani. Karena itu sering terlontar kata caci-maki dari muslim. Dengan maksud muslim berharap apa yang dia baca di ffi tidak benar, hanya mimpi. Kata cacian yang dilontarkan muslim kaffah itu berbeda. Lebih ke arah bullying dan teror mental, bukan denial. Saya harap anda tidak sampai jadi muslim kaffah.
===
Non muslim membeli kata cacian itu. Sehingga terjadi saling caci-mencaci. Akhirnya semua masuk ke dalam irama islam. Ini semua ulah islam. Pada diri muslim, islam yang disorot oleh cahaya kebenaran membuat akal sehat dan nurani muslim tergugah. Lalu akibatnya membuat muslim itu marah, terlalu sulit untuk menerima kebenaran itu. Terlalu sulit untuk menerima bahwa muhammad yang dimuliakan muslim ternyata melakukan perbuatan keji, quran salah diuji secara akal sehat/ilmu pengetahuan dan seterusnya.
===
Lalu muslim mencaci di ffi. Dengan harapan bahwa bila mencaci kebenaran itu cuma jadi mimpi. Ini fase yang paling sulit bagi seorang muslim. Tapi bila diteruskan dengan tekad kuat untuk menerobos penjara islam yang licik, keji dan biadab, muslim akan memasuki gerbang bernama 'kemanusiaan' setelah melalui rasa sakit yang amat sangat. Dan rasa sakit itu akan berganti dengan kelegaan.
Bro, tinggal tekad anda yang dibutuhkan. Anda yang sudah lama kenal ffi pasti dapat menguji islam dengan akal sehat dan nurani anda. Apapun akhirnya pilihan anda, islam atau kemanusiaan, saya hargai. Anda bukan tercipta jadi robot.
===
Bro saya menanti anda sebagai sesama di pintu gerbang kemanusiaan itu dengan penuh harap. Saya percaya netter-netter non muslim lain juga.
ISLAM IS THE BEaST
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 60
Joined: Fri Feb 20, 2009 10:35 pm

Re: Israel di mata seorang muslim

Postby ISLAM IS THE BEaST » Thu Feb 26, 2009 4:47 pm

sarapanbabidotbiz wrote:jangan panjang2... kapasitas otak muslim cuma 1 byte...

Bro, jangan dong anda menghina diri sendiri. Anda punya kapasitas intelektual. Dan saya yakin anda pintar. Cukuplah islam menghina muslim. Saya tidak ikhlas anda dan semua muslim dihina islam.
Saya kira kita sudah jauh oot, bro.
ISLAM IS THE BEaST
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 60
Joined: Fri Feb 20, 2009 10:35 pm

Re: Israel di mata seorang muslim

Postby Ehud Olmert » Sat Feb 28, 2009 3:25 pm

Inilah artikel yang yang patut dibaca oleh "petinggi Islam" negeri ini,disadur dengan sangat jeli oleh Pemerhati bangsa, agar bangsa Indonesia(baca :masyarakat Muslim) bisa menelaah dengan bijak dan penuh pemahaman, karena artikel ini berdasarkan laporan pandangan mata langsung seorang travelling Muslim.
Menurut keyakinan orang-orang beragama, Israel adalah tempat turunnya tiga agama samawi (diistilahkan juga sebagai agama langit, agama yang bersumber kepada Kepercayaan pada Tuhan), yaitu : Agama Yahudi, Agama Nasrani dan Agama Islam).

Dari sinilah para cucu buyut sampai sekarang menyangkutkan keyakinanannya bahwa Israel adalah Jazirah penuh histori religius dan dengan segala keyakinan itu juga hubungan emosional kegamaan dan kebangsaan terjalin dengan begitu kental.

Namun bagi kebanyakan muslim Indonesia, sangat sering memahami sejarah hanya dari sisi religius-nya saja tanpa memahami hal2 yang lebih urgent dari pada sekedar sari-pati agama. Dari dulu kegaduhan2 yang terjadi antara Israel dan Palestina tidak lebih dari hanya sekedar masalah sengketa tanah, bukan" sengketa agama", dan umat Islam disini selalu kebakaran jengggot kalau kegaduhan itu memuncak..!! Ada yang pengen berjihat, pengen bergabung dengan pasukan hamas untuk ikut campur,ingin mati dalam kegaduhan itu.

Dalam Islam ada keyakinan dan pandangan miring tentang Israel ini,yaitu :"Bangsa Israel belum akan senang kehidupan mereka berbangsa sebelum umat Islam terhapus didunia ini."
Artinya dalam "benak umat Islam itu" yang ada hanya negative thinking melulu tentang bangsa Israel, dan itu ada dalam Alquran, katanya...!
Kalau memang itu ada dalam alQuran, berarti Allah telah membiarkan makhluk ciptaan-Nya selalu berada dalam gelimangan darah karena perang,apakah Allah memang begitu..!!??

Berpijak kepada anggapan Luthfi Assyaukani diatas, sangat mungkin sekali para sahabat meng-edit kandungan Al-Quran untuk lebih memperjelas makna yang terkandung kepada masyarakat yang masih awam. Angapan seperti ini seharusnya disikapi dengan positif oleh umat Islam, tidak perlu dengan tudingan miring, negatif yang pada akhirnya merugikan umat Islam itu sendiri.Sebab sangat tidak mungkin Tuhan akan membiarkan makhluk-Nya selalu dalam keadaan perang terus..!
Makanya sangat mungkin Peng-Editan alQuran itu dilakukan oleh para sahabat dan tabiin...!!

Solusi terbaik bagi kedua suku bangsa yang bertikai ini adalah berunding, hidup berdampingan dengan damai dan tenang, caranya seluruh bangsa2 didunia harus ikut menciptakan perdamaiaan itu, termasuk Indonesia tentunya. Alangkah bodohnya PBB kalau tidak bisa menciptakan perdamaian itu.Alangkah bodohnya Amerika Serikat kalau mereka tidak sanggup menciptakan itu, Alangkah bodohnya Israel kalau tak mau hidup tenang, alangkah bodohnya Palestina kalau pengen perang terus, padahal mereka tahu takkan bakalan menang, alangkah bodohnya Indonesia kalau hanya ikut2an latah apalagi gak ngerti dengan sejarah....!!
Ehud Olmert
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 12
Joined: Wed Feb 25, 2009 1:42 pm


Return to Islam vs YAHUDI



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users