. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Isra Miraj Muhammad dan Kitab Enoch.

Kehidupan, pengikut, kepercayaan, pikiran dan ucapan Muhammad.

Postby dago » Sun Sep 03, 2006 8:30 am

Kristen_pusing wrote:Buat dago, bukti ilmiah bahwa Muhammad bertemu dengan Jibril adalah Al Qur'an yang diturunkan sangat-sangat menawan, cuma anda yang sudah ditutup hatinya saja yang tidak melihat itu semua.

Bukti ilmiah Muhammad Nabi ya ajarannya buktinya lagi sekarang kaum Nasrani mati-matian mempelajari Al Qur'an untuk menjelek-jelekkan karena mereka takut akan ajaran Islam dan inilah maksud milis ini hadir hahaha makanya kami kaum muslimin wajib hadir untuk meluruskan pendapat anda semua.


Tahukah anda artinya ilmiah?
Quran itu bukan ilmiah, isinya hanya pernyataan muhammad ynag tak ada sambungan. tiap2 ayat tak ada hubungannya dengan ayat sebelumnya dans sesudahnya.
Bagaimana ini bisa dikatakan ilmiah.
Susunannyapun tak karuan. acak2kan. Payah deh kalau tak ada Hadist.
Tiap Muslims bisa mengartikan semaunya.
Wake up man . Kamu telah tertipu sama agama Arab yang tak ada hubungannya dengan Judaism dan Kristiani.
Cerita injilnyapun dibuat versi Muhammad atau Setan.
Agama kibulan Muhammad.
Sorry.
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Postby dago » Sun Sep 03, 2006 8:41 am

Al Ma'aarij 70:40
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang;sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. Siapakah "Aku" ?


Aku itu Muhammad ngomong pada diri sendiri. :shock:
Kami itu :
1. Muhammad + Jibril
2. Muhammad + Allah
3. Allah + Jibril
4. Allah + 3 anak2 perempuannya
5. Muhammad ngigau dan pusing bagaimana caranya mempersembahan perkataannya bagaikan perkataan dari Allah. (Tuhan ciptaannya) :oops:

Di dalam injil Perjanjian lama. Kalau seorang nabi menyampaikan firman Tuhan, dia selalu berkata " demikianlah firman Tuhan" Dan Tuhan selalu berfirman "Aku" bukan kami.
Yesus bila memerintakan sesuatu selalu bilang "Aku" karena dia adalah firman Tuhan dalam bentuk manusia.
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Postby Kristen_pusing » Sun Sep 03, 2006 5:50 pm

Hehehe dago tambah pusing, makanya banyak belajar, banyak baca buku yang bagus2. Jangan cuma link yang gak karuan hahahaha.

Kalau mau belajar tafsir Al Qur'an belajarlah pada ahlinya. Di Indonesia sekarang ada Quraish Shihab, kalo mau baca buku Tafsirnya. Pake modal kalo mau belajar. Bagaimana Al Qur'an yang berisi perumpamaan, berisi sejarah dituliskan dalam bahasa sastra.

Anda lihat postingan saya tentang Masjidil Aqsa dulu bagaimana Israel mau melenyapkan salah satu bukti sejarah tempat Isra' Mi'raj. Dikasih tau masih ngeyel.
Last edited by Kristen_pusing on Sun Sep 03, 2006 5:52 pm, edited 1 time in total.
Kristen_pusing
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 273
Joined: Thu Aug 24, 2006 1:43 pm

Postby Kristen_pusing » Sun Sep 03, 2006 5:51 pm

Makna Isra' dan Mi'raj

Perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Quran disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa 'ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang.

Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad saw. tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.

Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar AlShiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya." Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.

Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.

Tujuh bagian pertama Al-Quran membahas pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi-pribadi yang secara kolektif membentuk umat.

Dalam bagian kedelapan sampai keempat belas, Al-Quran menekankan pembangunan manusia seutuhnya serta pembangunan masyarakat dan konsolidasinya. Tema bagian kelima belas mencapai klimaksnya dan tergambar pada pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. Dan karena itu, peristiwa Isra' dan Mi'raj merupakan awal bagian ini, dan berkelanjutan hingga bagian kedua puluh satu, di mana kisah para rasul diuraikan dari sisi pandangan tersebut. Kemudian, masalah perkembangan ruhani manusia secara orang per orang diuraikan lebih lanjut sampai bagian ketiga puluh, dengan penjelasan tentang hubungan perkembangan tersebut dengan kehidupan masyarakat secara timbal-balik.

Kemudian, kalau kita melihat cakupan lebih kecil, maka ilmuwan-ilmuwan Al-Quran, sebagaimana ilmuwan-ilmuwan pelbagai disiplin ilmu, menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya.204 Sedangkan inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut, seperti dikatakan oleh Al-Biqai'i.205 Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra' adalah surat yang dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti lebah.

Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaibannya itu bukan hanya terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya, juga tidak hanya terletak pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor "ratu". Lebah yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, karena rasa "malu" yang dimiliki dan dipeliharanya, telah menjadikannya enggan untuk mengadakan hubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, keajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa dan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch.

Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya, manusia mukmin, menurut Rasul, adalah "bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu."

Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita melontarkan pandangan kepada ayat pertama surat pengantar tersebut. Di sini Allah berfirman: Telah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). Oleh sebab itu janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya.

Dunia belum kiamat, mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang? Al-Quran menyatakan "telah datang ketetapan Allah," mengapa dinyatakan-Nya juga "jangan meminta agar disegerakan datangnya"? Ini untuk memberi isyarat sekaligus pengantar bahwa Tuhan tidak mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu. Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat kepadanya, sebab adalah Dia yang menguasai masa. Karenanya Dia tidak membutuhkan batasan untuk mewujudkan sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalam surat pengantar ini dengan kalimat: Maka perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kami menghendakinya, Kami hanya menyatakan kepadanya "kun" (jadilah), maka jadilah ia (QS 16:40).

Di sini terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa.

Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.

Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru," kata David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. "Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.

Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali "a summary o f statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan "kebetulan" dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh "superior reasoning power" (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, "Al-'Aziz Al-'Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra' dan Mi'raj itu dengan firman-Nya: Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) (QS 16:49-50).

Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra' ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.

Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, dalam surat Isra' sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS 16:8); Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS 16:74); dan Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya: Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).

Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun." Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa "pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia."

Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra' dan Mi'raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara "ilmiah" menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.

Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.

Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.

Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah berfirman: Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan. (QS 16:127-128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra' dan Mi'raj.

Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra' dan Mi 'raj terjadi, tetapi mengapa Isra' dan Mi 'raj.

Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan sampai bagian kelima belas, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra'-kan ini, yaitu Muhammad saw., serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra'), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.

Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.

Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya.

Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: "Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut." Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.

Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra' dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga (QS 16:26).

Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah: Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS 17:16).

Ditekankan dalam surat ini bahwa "Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara setan" (QS 17:27).

Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).

Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra' ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya (QS 17: 110).

Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan "jalan tengah" itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat seluruhnya. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah:

Katakanlah wahai Muhammad, "Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing." Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS 17:84).
Akhirnya, sebelum uraian ini disudahi, ada baiknya dibacakan ayat terakhir dalam surat yang menceritakan peristiwa Isra' dan Mi'raj ini: Katakanlah wahai Muhammad: "Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan)." Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud (QS 17: 107).

Itulah sebagian kecil dari petunjuk dan kesan yang dapat kami pahami, masing-masing dari surat pengantar uraian peristiwa Isra ; yakni surat Al-Nahl, dan surat Al-Isra' sendiri. Khusus dalam pemahaman tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas Yang Mahaagung, Tuhan Yang Mahaesa di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memujaNya sekaligus mengabdi kepada-Nya.

Catatan kaki
204 Lihat bukunya, Asrar Tartib Al-Qur'an.

205 Lihat dalam pengantar untuk bukunya, Nazhm Al-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa Al-Suwar.

Silakan kunjungi: penjelasan Isra' Mi'raj melalui cerita sufi.


--------------------------------------------------------------------------------MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
Kristen_pusing
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 273
Joined: Thu Aug 24, 2006 1:43 pm

Postby numplew. » Sun Sep 03, 2006 10:27 pm

Yang juga wajar dipertanyakan itu adalah :

Masa sich bisa ada tawar menawar sholat dari 50 kali menjadi 5 kali ?

Ini sebanarnya adalah mohammed mau rendahin diri ninggiin mutu, di hadapan para pengikutnya.
User avatar
numplew.
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1686
Joined: Sun Mar 05, 2006 4:27 am
Location: nowhere

Postby dago » Mon Sep 04, 2006 11:25 am

Kristen_pusing wrote:Hehehe dago tambah pusing, makanya banyak belajar, banyak baca buku yang bagus2. Jangan cuma link yang gak karuan hahahaha.

Kalau mau belajar tafsir Al Qur'an belajarlah pada ahlinya. Di Indonesia sekarang ada Quraish Shihab, kalo mau baca buku Tafsirnya. Pake modal kalo mau belajar. Bagaimana Al Qur'an yang berisi perumpamaan, berisi sejarah dituliskan dalam bahasa sastra.

Saya baru beli buku Lost of Gospel asyik juga bacanya. Satu bukti saya serius melihat apa yang pernah diturunkan Allah ke bumi ini.

Anda lihat postingan saya tentang Masjidil Aqsa dulu bagaimana Israel mau melenyapkan salah satu bukti sejarah tempat Isra' Mi'raj. Dikasih tau masih ngeyel.


Kamu belum menjawab pertanyaanku apakah artinya diselidiki secara ilmiah.
Quran itu bukan ilmiah, isinya hanya pernyataan muhammad yang tak ada sambungan.
tiap2 ayat tak ada hubungannya dengan ayat sebelumnya dans sesudahnya.
Bagaimana ini bisa dikatakan ilmiah.
Susunannyapun tak karuan. acak2kan. Payah deh kalau tak ada Hadist.
Tiap Muslims bisa mengartikan semaunya.
Wake up man . Kamu telah tertipu sama agama Arab yang tak ada hubungannya dengan Judaism dan Kristiani.
Cerita injilnyapun dibuat versi Muhammad atau Setan.
Agama kibulan Muhammad dan para scholar Muslims.
Scholar Muslims tak ada wibawa dihadapan dunia, karena mereka pintar ngibul, pintar bikin cerita konspirasi.
Lihatlah banyak Muslim percaya bahwa terror 11September diNew York dilakukan oleh Israel, walaupun kenyataannya para jihads
adalah bangsa Arab kebanyakan Aran Saudi. Malah Usama Bin Laden sudah mengakunya.

Contoh kedua pemerintah Iran tak percaya akan terjadinya holocaust yaitu pembantain 6juta yahudi oleh Nazi Jerman.
Padahal bukti dengan foto2 serta tempat2 pembantaian dan kuburan masal.
Makanya penyelidikan Quran oleh scholar Muslims bukan saja tidak scientific. karena mindset /cara Muslims berfikir./ logika Muslims.
Kalau kamu bisa bahasa Inggris bacalah artikel perdebatan antara Dr Zakir Naik dan Dr William Campbell oleh Ali Sina.

Saudara harus pikir. Kalau memang Quran itu scientific, mengapa pengetahuan/science, technology, econony, military, Social welfare (kesejahteraan) diungguli oleh negara2 barat yang adalah berdasarkan Kristiani.?
Mengapa dunia Islam/Muslim, kebanyakan, miskin, keterbelakang disegala aspect kehidupan dan pemerintahnya kebanyakan adalah diktator.?
Contoh extreme presentasi negara2 Muslim yang bisa baca (Literacy) statistik 2005
Negara Islam yang tak punya tambang
Afganistan = 36% berarti 64% buta huruf. Bangladesh = 43.1%
Pakistan= 45.7% , buta huruf = 54.3%. Somalia 37.8% buta huruf 62.2%
Negara islam yang kaya dengan tambang minyakdan gas
Saudi Arabia negara yang mempunyai tambang minyak terbesar didunia literacynya hanya 78% berarti 22% rakyatnya masih buta huruf.
Irak punya sumber minyak sesudah Saudi Arab= 40.4% , 59.6% rakyatnya masih buta huruf, Hasil minyak telah digunakan oleh sadam Husein untuk mendirkan istana2, monument2 , senjata dan membiayai terrorist.
Iran punya sumber minyak ranking ketiga. Literacynya hanya 79%.
United Arab Emirates juga kaya dengan minyak, literacynya hanya77% , 23% masih buta huruf.
Qatar kaya minyak = 82.5%. Indonesia yang kaya dengan berbagai sumber tambang 87.9%.
Nah coba pikirkan mengapa negara2 Islam baik yang tak punya sumber alam maupun yang kaya akan sumber alam, tidak bisa meningkatkan literacy. Dengan kata lain kurang pendidikan.
Inilah hasilnya pendidikan madrasah dalam Islam.


-----------

numplew. wrote:Yang juga wajar dipertanyakan itu adalah :

Masa sich bisa ada tawar menawar sholat dari 50 kali menjadi 5 kali ?

Ini sebanarnya adalah mohammed mau rendahin diri ninggiin mutu, di hadapan para pengikutnya.



Muslim tak mengerti apa artinya maha tahu, maha bijaksana.
Kalau God berfirman and memerintahkan, berarti Dia tahu dan yakin bahwa firmannya sudah dipikirkan secara bijaksana karena Dia adalah maha tahu.

Sebaliknya bukti bahwa Allahnya Islam bukanlah God melainkan ciptaan Muhammad dengan mengambil nama dari salah satu dewa2 agama pagan Arabia.
Makanya Muhammad bisa mengarang cerita Isra Miraj untuk memberi kesan bahwa dia jagoan, nabi pilihan Allah.
Inilah keganjilan cerita Isra miraj belum lagi soal belum adanya Mesjid Al Aqsa waktu itu.
Keganjilan lain adalah, bila Muhammad sudah bisa berhadapan Allah disurga, secara logik dia orang paling suci maka dia tak perlu punya istri dan dia tak akan mati didunia. Tetapi kenyataannya dia punya banyak istri bahkan yang termuda adalah anak kecil umur 6 tahun dan menyetubuhinya pada umur 9 tahun. Lalu keganjilan lain adalah sakit dan mati karena kerajunan. Bahkan doanya untuk sembuh tidak dikabulkan oleh Allah. Dia telah gagal dalam test sebagai nabi dengan makanannya diracuni oleh wanita yahudi. Kalau Muhammad benar2 seorang nabi, racun tidak akan mempan. apalagi dia sudah kesurga ketemu Bossnya.
Didalam Injil nabi2 yang sudah bertemu Tuhan tidak mati didunia.
Contohnya seperti nabi Enoch diangat langsung, Musa, tubuhnya tidak bisa ditemukan digunung sinai , Ellia diangat kesurga melalui kendaraan api. Tentunya Jesus bangkit dari kubur dan kenaikannya ke surga disaksikan oleh murid2nya.
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Postby Kristen_pusing » Sun Sep 10, 2006 7:53 am

Hahahaha Dago Dago, Al Qur'an sudah banyak yang meneliti bahwa banyak pengetahuan ada disana dan tidak bertentangan dengan pengetahuan ilmiah. Tapi kalau diceritakan sama anda yang kafir "tertutup mata hatinya" pasti gak nyambung.

Anda baca sendiri di http://www.keajaibanalquran.com/
Kristen_pusing
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 273
Joined: Thu Aug 24, 2006 1:43 pm

Postby dago » Sun Sep 10, 2006 8:34 am

Sorry kamulah yang menutup mata hati dari kenyataan(truth)
penyelidikan secara Ilmiah atau scientific harus menurut scientific disiplin. Kalu hanya berdasarkan quran itu sama saja penelitian tak berilmiah (unscientific)
Misalnya Allah mencipta manusia dari 1. tanah liat, 2 dari gumpalan darah, 3 dari abu, 4 dari air dan 6 dari gaib(nothing).

Disini sudah terang Muhammad ngaco dia berkata semaunya, karena tak ada seorangpun berani bertanya. Karena muhammad melarang muslims untuk bertanya.

Jadi ulasan anda adalah akibat total submission tampa tanya mengia saja apapun sang imam atau achli quran katakan. walaupun pernyataannya tak masuk akal.
Inilah yang disebut mental fatalisme. :oops: :shock:
User avatar
dago
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1404
Joined: Tue Sep 27, 2005 9:27 am

Yang benar tentang Mi'raj Muhammad saw

Postby abdann » Sun Sep 10, 2006 1:11 pm

Sesungguhnya Alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT berproses secara super matematik dan super logika. Manusia tidak akan mampu menyingkap rahasia ini, kecuali berdasarkan wahyu (Al Qur’an) yang diturunkan-NYA kepada Muhamman saw.
Allah SWT telah memberikan bimbingan untuk memahaminya, yakni menjadikan Al Qur’an sebagai Al Hudan (petunjuk)

Petunjuk tersebut terdiri dua macam, yaitu berupa muhkamat dan mutsyabihaat. Yang muhkamat merupakan ayat-ayat tekstual, sedangkan yang mutasyabihaat di jelaskan berulang-ulang dalam ayat-ayat lain dalam Al Qur’an.

Itulah yang dikatakan Allah SWT dalam Al Qur’an, bahwa ayat-ayat mutsyabihaat ditujukan untuk orang-orang yang berilmu (Ulama). Namun sayang, istilah ini salah peran pula.
Ulama yang dimaksud dalam alquran bukanlah kyai, ustadz, sufi, pendeta, pastor, biksu, dan lain-lain seperti yang kita pahami saat ini.

Ulama dalam istilah Al Qur’an dalam bahasa inggris berarti science. Orangnya kita sebut sebagai scientist. Dan dalam bahasa Indonesia berarti ‘Ilmuwan’
Dengan karakter seorang scientist yang selalu ber-zdikir (mengingat dan memikirkan Allah dan ciptaann-Nya), karena ayat-ayat seperti ini merupakan ‘filsafat ilmu’.
Merekalah yang dapat memahami maksud yang terkandung dalam ayat-ayat mutasyabihaat ini.

Sekali lagi dzikir para kyai, ustadz, sufi, pendeta, dll bukan dzikir yang oleh Al qur’an dimaksudkan. Hasil ‘pemikiran’ mereka malah cenderung berakhir pada hal-hal khurafat (ketidakmampuan akal menganalisa fenomena-fenomena ilmiah), sehingga hasilnya malah berupa mistis, paranormal, klenik, mitos, per-dukunan, dan tahayul-tahayul lainnya.
Maka jangan heran banyak tayangan-tayangan televisi seperti dunia lain, percaya gak percaya, uka-uka, prolognya dengan nara sumber kyai, ustadz yang menjadi PEMBURU HANTU!

Seperti apa yang di post oleh Muridmurtad di bawah ini adalah tafsir ahli sufi mengenai Mi’raj Muhammad saw;

Originally posted by Muridmurtad

Enoch di Bibel ada di Genesis 5:21-24, di Quran di sebut dengan nama nabi Idris, yang diangkat ke surga.
Menurut Genesis 5:24, Enoch diangkat kelangit. Berdasarkan ayat itu dibuat buku berjudul 1 dan 2 Enoch. Buku enoch penuh dengan kejadian spektakuler, dan berbeda dengan Bibel Perjanjuan Lama (Tanakh) yang tidak akrab dengan Neraka dan Sorga yang bertingkat-tingkat.
Buku 2 Enoch ditulis antara 150-80 Sebelum Masehi, yang copynya juga ditemukan di kumpulan naskah Qumran, adalah kitab Apocrypha Yahudi atau Pseudogrypha atau Kitab yang tidak diakui oleh orang Yahudi (juga Kristen), yang isinya menceritakan kenaikan nabi Idris (Enoch)
Sebagai bacaan dan cerita cukup digemari oleh orang Kristen abad-abad pertama sampai ke empat.
ISRA MIRAJ MUHAMMAD.
Muhammad didatangi Jibril. Kemudian dengan menaiki Buraq Muhammad di bawake ke Bayt Al-Maqdis (Jerusalem). Dari situ Muhammad di ajak ke Surga.
Muhammad dibawa ke surga yang pertama. Di sana Muhammad bertemu dengan Adam.
Kemudian Nabi dibawa ke surga kedua, bertemu dengan Yahya dan Isa dan berdoa bersama.
Kemudian Nabi dibawa ke surga ketiga.Nabi bertemu dengan Nabi Yusuf.
Di surga keempat nabi bertemu dengan nabi Idris.
Di surga keempat nabi bertemu dengan nabi Harun.
Di surga keenam Muhammad disambut dan didoakan oleh Nabi Musa.
Di surga terakhir dalam mi'raj Nabi, surga ketujuh, bertemu Ibrahim dan 70 ribu malaikat.
Setelah itu Nabi dibawa ke Sidrat Al-Muntaha, yang dibatasi oleh pohon khuldi, dan tak seorangpun boleh melewati batas ini.
Di Sidrat Al-Muntaha Muhammad menerima perintah shalat langsung dari Allah Mula-muladiperintahkan untuk menjalankan 50 kali sehari ibadah shalat wajib.
Nabi turun sampai ke surga keenam, dan bertemu Nabi Musa. Setelah konsultasi dengan Musa, nabi minta pengurangan Shalat menjadi 5 kali. Yang setiap shalatnya diberi reward 10 point (kayak citi bank aja).
KENAIKAN ENOCH (IDRIS)
Perbedaannya dengan Muhammad, Surga Enoch terdiri dari sepuluh tingkat. dan tidak bertemu dengan nabi, kerena belum ada nabi selain Adam.
Pasal 1 : Enoch didatangi sepasang malaikat, yang sangat besar, dan berbaju putih dan bersayap,
Pasal 3 : Enoch dibawa ke Surga tingkat pertama, dan menempatkannya diawan.
Pasal 4 : Melihat 200 malaikat bersayap mengatur bintang dan melayani sorga.
Pasal 7 : Enoch dibawa ke surga tingkat ke dua,melihat kegelapan, tawanan tawanan yang sedang disiksa. Enoch bertanya jawab mengenai hal tsb.
Pasal 8 : Enoch dibawa ke surga tingkat tiga, melihat taman Eden, dan neraka
Pasal 11 : Enoch dibawa ke surga tingkat empat, mempelajari matahari dan bulan.
Pasal 18 : Enoch dibawa ke surga tingkat lima.
Pasal 19 : Enoch dibawa ke surga tingkat enam.
Pasal 20 : Enoch dibawa ke surga tingkat tujuh.
Pasal 20 : Enoch melewati dan melihat surga tingkat delapan dan sembilan.
Pasal 22 : Enoch sampai ke surga tingkat sepuluh bertemu muka dengan Tuhan
(dalam versi Muhammad, Sidrat Al-Muntaha). Enoch menerima wahyu dan perintah dari Allah. Tentu saja tidak berkonsultasi dengan Musa, kerena Musa belum ada.
Selama perjalanan, Enoch juga berbicara dengan Jibril.
PENUTUP.
Kita tidak tahu, apakah perjalanan Muhammad itu, mimpi, atau kisah perumpamaan.
Yang jelas Muhammad kelihatannya terobsesi oleh cerita Enoch. Entah mimpi atau hayalan, yang jelas shalat wajib didasarkan pada cerita di atas.
Wallahualam bishawab.
HYPERLINK "http://www.thenazareneway.com/book_of_the_secrets_of_enoch.htm" \t "_blank"
http://www.thenazareneway.com/book_of_t ... _enoch.htm
HYPERLINK "http://www.newadvent.org/cathen/01602a.htm" \t "_blank"
HYPERLINK "http://www.newadvent.org/cathen/01602a.htm"
http://www.newadvent.org/cathen/01602a.htm


Oleh aliran sufi, khurafat mengenai burung merak ini dinisbatlan kepada Nur Muhammad dan telah berani memasukan mitos burung merak ini sebagai buraq, kendaraan nabi dalam Mirajnya seperti tercantum dalam kitab Daqaiq Al Akhbar.
Semenjak maas hidup Muhammad saw sampai kepada para sahabat pengaruh theosohia (diarabkan menjadi tasawuf) dari filsafat Yunani belum masuk ke dunia arab. Jadi, aliran sufi bukanlah produk islam!

Jadi jangan heran pula, Enoch yang menurut bible adalah nabi Idris tidak dikenal dalam Al Qur’an dan tidak ada riwayat Nabi Idris seperti itu di dalam Al Qur’an. Itu adalah tafsir ahli Sufi yang menafsirkan sendiri Al Qur’an tanpa menjadikan al Qur’an sebagai Al Hudan.

Muhammad saw selama belasan tahun bertugas sebagai Rasul baik selama di Mekkah dan sesudah hijrahnya ke Medinah telah melakukan shalat sebagaimana yang dilakukan para Nabi sebelumnya yaitu ke Masjidil Haraam di Mekah.
Hanya orang-orang **** sajalah yang mengatas namakan agama menjadikan negeri lain (palestina) sebagai kiblat umat muslim.

Akan berkata orang-orang **** dari manusia: “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblat yang mereka telah ada atasnya?” Katakanlah: “Kepunyaan ALLAH timur dan barat. DIA tunjuki siapa yang DIA kehendaki kepada tuntuntan kukuh. (QS 2/142)

Sungguh KAMI melihat bolak-balik wajahmu pada angkasa lalu KAMI palingkan engkau pada Kiblat yang engkau ridhai. Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haraam. Dimanapun kamu berada. Palingkan wajahmu ke arahnya. Bahwa orang-orang yang didatangkan Kitab akan mengetahui bahwa hal itu logis dari TUHAN mereka, dan ALLAH tidak lengah tentang apa yang mereka kerjakan. (QS2/144)

Sampai sekarang palestina menjadi dispute area, ini adalah keserakahan bangsa-bangsa Arab yang menzalimi Israel di Palestina yang merupakan tanah hak mereka. Namun inipula akibat tipu daya Bani Israel sendiri yang pada masa Muhammad saw sebagai Rasul, berusaha memalingkan kiblat shalat umat muslim dari Masjidil Haraam ke Palestina. Namun setelah Beliau Wafat, tipu daya ini berhasil mereka lakukan, sehingga umat islam merasa bahwa Masjid Sulaeman yang di Palestina merupakan kiblat kedua bagi umat islam.

Jika mereka berpaling maka tidaklah Kami utus engkau jadi pengawas atas mereka, bahwa (tugas) atasmu hanyalah menyampaikan … (QS 42/48)

Dakwah Nabi seperti mengirim surat dan utusan-utusannya ke negeri seperti Parsi (Iran), Roma, dan lain-lain untuk mengajak penguasa-penguasa negeri itu untuk memeluk agama yang meng-ESA-kan Tuhan ditanggapi dengan berbagai response. Sesuai Wahyu pula, Nabi hanya mengajak, masalah mereka mau mengakui atau mengingkari itu adalah urusan mereka dengan tuhan-Nya.
Namun semenjak kekhalifah Umar, semangat ini bergeser menjadi penaklukan negeri-negeri, sampai ke Andalusia, Cordova, diantaranya Palestina.
Terhadap Bani Israel di Palestina, berlaku janjian ALLAH sebagai tercantum dalam ayat 59/3. kekuasaan mereka terusir dari negeri itu dengan kedatangan pasukan Arab Islam yang dipimpin oleh khalifah Umar bin Katab (637 Masehi). Khalifah mengusir kekuasaan roma dari Palestina.

Dengan semangat yang sama pula, Eropa mencoba merebut kembali, sehingga timbul crusade selama beberapa abad. Puncaknya sampai hari ini Palestina menjadi pergolakan perebutan wilayah.

Inilah yang terjadi pada bangsa-bangsa arab, merupakan peringatan dari Allah SWT atas keserakahan mereka;

Ditimpakan atas mereka kehinaan di manapun mereka berada kecuali pada hubungan dengan ALLAH dan hubungan dengan manusia. Dan pantaslah mereka pada kemarahan dari ALLAH dan ditimpakan atas mereka kemiskinan. Demikian karena mereka kafir pada ayat-ayat ALLAH dan membunuh perkabaran-perkabaran tanpa hal logis. Demikian karena mereka menyanggah dan melanggar hukum.

Yang terjadi di Israel sekarang bukanlah soal agama, tetapi soal rebutan wilayah yang telah turun temurun tetapi mengatasnamakan semangat agama. Karena dengan semangat agama, mudah sekali orang mengerahkan masa.

Dan tidaklah beriman seseorang jika dia masih tidak mematuhi hukum ALLAH (QS 4/65 dan 30/30).

Dalam kejadian itu bukanlah hukum Al Qur’an yang salah pasang, bukanlah ajaran islam yang keliru, tetapi manusianya yang tidak mempunyai keteguhan hati.
abdann
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 937
Joined: Fri Sep 08, 2006 2:08 pm

Postby abdann » Sun Sep 10, 2006 1:12 pm

Originally posted by Dago
Muslim netter pada bungkam dalam subject ini karena mereka sadar sekarang bahwa kisah isra dan miraj adalah mimpi, karena mesjid asqa belum ada.
Tetapi mereka tak mau ngaku. karena sudah sangat parah terikat dengan spirit of islam.

Well ini adalah sikap submissive atau fatalis.
So percumahlah Tuhan memberi kita otak dan hati nurani (moral), kalau manusia hidup hanya untuk jadi robot, sesuai dengan konsep Allahnya Islam.
Bukankah tujuan forum ini untuk berdebat berarti harus menggunakan logik critical mind.
Pokok subject Forum ini adalah Islam.


Persoalan Miraj nabi Muhammas SAW dapat dianalisa secara tegas dapat dicapai oleh pemikiran manusia bahkan akan terlaksana diantara manusia ramai kelak. Yg menjadi pokok dasar tentang miraj Muhammad SAW sbg yg terkandung dlm al qur’an ialah ayat 17/1.

(QS:17/1) Maha suci DIA yg memperjalankan hambaNYA suatu malam dari Masjidul Haraam ke Masjidul Aqsha yg kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya dari pertanda kami. Bahwa DIA mendengar dan melihat.

Pada ayat ini terdapat beberapa istilah yg harus dipahami dg serius dan tdk mungkin diartikan sambil lalu saja. Istilah2 itu ialah:

1.DIA yg memperjalankan. DIA dalam hal ini adalah Allah SWT, dg itu mi’raj bukanlah kehendak Muhammad SAW, tetapi kekuasaan Allah yg memperjalankannya.

2.MEMPERJALANKAN, istilah aslinya yaitu ASRAA BI. Dlm ayat 8/70 dan 8/67 terdapat pula istilah “Asraa” yg artinya “tawanan”, berupa isim/noun. Dg berbaik sangka kita artikan “Asraa bi” pd ayat 17/1 ini dg “memperjalankan” sbg fi’il/verb. Al ini dapat dibandingkan pd maksud ayat 26/52 dimana terdapat yg sama tetapi fi’il amar untuk istilah memperjalankan Bani Israel dg penjagaan dlm meyebrangi laut merah.

Jadi ASRAA dlm ayat 17/1 bukanlah berarti perjalanan antara Mekkah dan Palestina. Padahal ayat ini tdk meyebut istilah MI’RAJ.

Persoalan sebenarnya dlm menceritakan kejadian Muhammad memakai istilah Mi’raj yg berarti NAIK dari mekkah ke planet Muntaha. Hal ini wajar, karena beliau memang terbang dari bumi sebagai planet yg mengorbit di bagian bawah dlm daerah tatasurya ke planet yg lebih tinggi.

Tetapi istilah Mi’raj hanya sekedar naik, tdk lengkap Karen ajarak bumi dg muntaha sangat jauh. Dimana terdapat kehampaan yg menyebabkan kematian sebab ketiadaan udara untuk bernafas atau dibentur meteor yg dating.

Karena itulah pd ayat 17/1 istilah ASRAA berarti “Memeperjalankan dalam penjagaa”. Dg demikian dapat diyakini secara ilmiah dlm penerbangan Nabi dlm keadaan aman, tdk terancam olek kekurangan udara, karena dia dilingkupi oleh suatu berkah yg sekaligus menyelamatkannya dari benturan meteor.Jadi, dlm menerangkan istilah Mi’raj Nabi menjelaskan sekedar dpt dimengerti oleh masyarakat umum di zamannya. Ayat 17/1 memakai istilah Asraa yg mengandung pengertian ilmiah yg cocok unruk dipakai di segala zaman di mana berlaku peradaban yg semakin tinggi.

3.HAMBANYA adalah istilah yg mengandung pengertian berlakunya hokum Allah atas seseorang yg tdk memiliki daya untuk membantah kehendaknya. Di sini tdk disebutkan nama seseorang, tetapi kita semua maklum yg dimaksud hamba itu adalah Muhammad SAW.

4.SUATU MALAM, berarti penerbangan antar planet yg dialami Muhammad SAW itu telah terlaksana dalam waktu satu malam saja. Berangkat dari bumi ke planet muntaha dan kembali lagi ke bumi sebelum matahari terbit di timur jika dilihat dari mekkah.

Istilah suatu malam ini menggambarkan betapa cepatnya penerbangan itu. Jarak sejauh minimal 2 x 45 AU telah dilalui Muhammad dlm satu malam, Maka kepatannya yg dipakainya tentu melebihi kecepatan gerak sinar karena jarak sejauh itu bila dicapai dg sinar akan ditempuh 12 jam. Tentu nabi kembalinya kesiangan.

Kenapa Asraa itu malam hari? Kenapa tdk siang? Kita harus tahu bhw jika orang berangkat meninggalkan bumi siang hari dia akan menjurus kea rah matahari yg menjadi pusat orbit bumi dan planet2. Hal ini berarti turun bukan naik. Kalau naik dari bumi ke 7 planet yg mengorbit di atasnya.

Kesimpulannya istilah suatu malam mengandung 2 maksud : pertama kecepatan terbang yg berlaku melebihi kecepatan sinar. Kedua, gerak asraa itu naik meninggalkan bumi semakin menjauh matahari dan hal ini membenarkan keterangan Nabi mengenai Mi’raj yg berarti NAIK.

Maksud ayat 17/1 bahwa dulunya Muhammad Mi’raj meninggalkan Mekkah waktu malam hari atau waktu siang di Tahiti pasifik, maka Nabi dikatakan naik karena terbang semakin jauh dari matahari. Menurut ayat 97/1, Al Qur’an diturunkan waktu malam hari dengan arti datang dari tempat yang jauh ke tempat yang dekat pada matahari.

Semesta, galaxy, tatabintang dan planet masing-masing berputar. Setiap putaran tentunya mempunyai pusat putaran (poros) yang menjadi pusat benda-benda angkasa itu. Maka sesuatu yang menjadi pusat putaran dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat putaran dinamakan semakin atas. Dalam hal ini keadaan bumi dapat dijadikan contoh. Pusat putaran bumi dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat itu dikatakan semakin atas.
Orang yang berdiri di equador amerika dan orang yang berdiri di Sumatra pada waktu yang sama akan menyatakan kakinya ke bawah dan kepalanya di atas, padahal kedua orang itu sedang menghadapkan kaki dari balik belahan bumi, tetapi masing-masing ternyata benar untuk status Bawah dan Atas yang dipakai di permukaan bumi.

Demikian pula jika contoh dipakai untuk status tatabintang dimana matahari sebagai bola api menjadi pusat kitaran. Maka matahari dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari matahari dikatakan semakain atas.
Venus dan merkuri berada di bawah orbit Bumi karena keduanya mengorbit dalam daerah yang lebih dekat pada matahari, jadi jika ada penghuni Bumi pergi ke venus, mercury atau ke matahari maka orang itu turun bukan naik, karenanya juga venus dan mercury itu tidak mungkin dikatakan langit bagi bumi sebab yang dikatakan langit adalah sesuatu yang berada dibagian atas, tetapi benar kedua planet itu jadi langit bagi matahari sendiri.

Sebaliknya Mars, Jupiter, saturnus, Uranus, Neptune, Pluto, dan muntaha beredar di luar orbit bumi keliling matahari berarti semakin jauh dari matahari, sebab itu dikatakan ke tujuh planet tersebut berada di atas orbit bumi atau langit bagi bumi, dan orang yang pergi ke planet-planet itu disebut naik.

5.MASJIDUL HARAAM, adalah di mekkah. Tdk ada suatu tempat di bumi ini yg bernama Majidul Haraam atau yg pantas selain itu kecuali yg ada di mekkah itu. Kenapa Muhammad SAW diberangkatkan dari tempat itu bukan dari tempat lain. Mesjid Haraam mengandung arti yg sangat luas terutama dibidang astronomi dan geologi. Tempat itu adalah kutub utara bumi dulunya. Didirikan oleh Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS. Itulah tempat terpenting di muka bumi dan yg termulia baik ditinjau dari segi ilmiah maupun tuntutan dari agama islam.

6.MASJIDUL AQSHA, tempatnya di muntaha. Derajatnya sama dg masjidul haraam di bumi. Ditempat itulah dulunya kutub utara planet muntaha sebelum topan nabi Nuh AS. Disanalah tempat yg paling tama di muntaha sbg tempat asal usul sejarah manusia yg kini telah berkembang mendiami seluruh planet.

7.BARKAH DISEKELILINGNYA. Istilah “disekelilingnya” berarti disekelilingnya, jadi berkah telah diadakan Allah SWT disekliling Muhammad dlm peristiwa asraa itu.

Apakah Barkah itu? BARKAH adalah penjagaan, yaitu penjagaan yg melingkupi keluarga Ibrahim pd ayat 11/73, atau yg menjaga Nuh bersama pengikutnya dlm perahu hingga Topan besar tdk membahayakan mereka (11/48) atau penjagaan atas mekkah (21/71) dan (21/81). Malah penjagaan/barkah yg melingkupi diri Muhammad dlm asraa itu sama keadaannya dg barkah yg melingkupi bumi (7/96, 7/137).
Kalau dilihat dalam kamus bahasa, maka istilah “buroq” berarti “binatang kendaraan Nabi Muhammad”, dia berwujud kuda bersayap kiri kanan. Dalam kaidah umum “buroq” berarti burung cendrawasih yang oleh kamus diartikan dengan burung dari surga (bird of paradise).
Sebenarnya buroq itu adalah istilah yang dipakai dalam Al Qur’an dengan arti “kilat” (QS 2/19, 2/20, dan 13/2) dengan istilah aslinya BARQU.
Jika benar Nabi memakai kecepatan sinar atau kecepatan buroq dalam Mi’raj itu secara non stop maka Beliau akan kesiangan sampai di Bumi, ini menyalahi maksud ayat 17/1 yang menyatakan satu malam saja, apalagi jika ditambah dengan waktu yang dipakai beliau untuk singgah pada setiap langit/planet yang mengorbit di atas bumi.

Secara nyata keadaan itu membatalkan pendapat yang mengatakan bahwa Nabi memakai kendaran Buroq dalam mirajnya.
Dan amat janggal pula jika buroq tersebut dipahami sebagai binatang atau kuda bersayap yang dapat terbang di angkasa bebas. Kita tahu bahwa sayap hanya berfungsi dalam lingkungan atmosfir planet dimana udara ditunda ke belakang untuk gerak maju ke muka atau ditekan ke bawah untuk melambung ke atas.

Udara seperti itu hanya ada dalam troposfir yang tingginya hanya 11 mil dari permukaan bumi, padahal buroq menempuh jarak 90 x 93 juta mil dimana sayap tidak berguna, malah menjadi beban.

Dengan kecepatan kilat maka binatang kendaraan itu, begitu pula Nabi yang menungganginya akan terbakar dalam daerah atmosfir planet. Sebaliknya ketiadaan udara untuk bernafas dalam menempuh jarak yang sangat jauh, sementara harus mampu menapis dari benturan meteorites yang banyak terdapat di luar angkasa. Semua itu membuktikan bahwa Nabi bukanlah memakai kendaraan buroq dalam mi’rajnya.

Barkah itu merupakan mar’a yg melingkupi Muhammad sehingga tdk terbentur oleh meteoris yg berlayangan di angkasa bebas serta memiliki udara cukup untuk pernafasan selama berada diruang angkasa bebas.

Barkah itu tentunya berupa ionosfir yg melingkupi planet, atau yg pernah bergabung menjadi nebula dan komet dg gerak laying lebih cepat dari sinar. Karenanya barkah mengandung dua fungsi pd ayat 17/1; pertama, menjaga Muhammad agar tdk cedera di angkasa bebas, kedua untuk gerak cepat mengarungi angkasa luas sejauh minimal 45 AU dlm satu malam saja.

Menurut hukum fisika, kecepatan pandangan mata sama besar dengan kecepatan gerak sinar atau gelombang radio. Matahari ada sejauh 8 menit gerak sinar dari bumi. Jika misalnya matahari mendadak hilang dari angkasa, maka keadaan itu baru dapat kita lihat delapan menit kemudian, karena sekianlah kecepatan kejapan atau pandangan mata.
Al Qur’an menyebutkan kecepatan Comet melebihi kecepatan pandangan mata karena memang manusia umumnya menganggap bahwa kecepatan matahlah yang terbesar dari wujud konkrit yang pernah diketahui. Tetapi kalau kita perhatikan secara ilmiah akan nytalah bahwa kecepatan terbesar itu adalah kecepatan gerak Comet.

Ini juga membuktikan adanya gerak yang melebihi kecepatan sinar hingga menggugurkan ketentuan Einstein yang menyebutkan gerak sinar adalah kecepatan yang terbesar.

Pada QS 16/77 disebutkan bahwa kedatangan SA’AH itu lebih cepat daripada kejapan mata. Dikatakan pula dalam Al Qur’an bahwa Sa’ah itu lebih cepat lagi. Maka kecepatan yang melebihi sinar ialah kecepatan gerak Mar’a atau Comet yang kelihatan melayang di antara bintang-bintang angkasa beberapa saat. Padahal kita ketahui bahwa jarak bintang terdekat adalah 4 tahun gerak sinar.
Jadi Sa’ah itu terjadi cepat sekali seperti kecepatan gerak Comet, dan memang Comet itulah yang dijadikan Allah sebagai penyebab terjadinya Sa’ah kelak.

Ayat QS 7/187 menyatakan bahwa tidak seseorang pun dapat meramalkan waktu kedatangan comet itu sebagai penyebab adanya Sa’ah, karenanya pantaslah prediksi para ilmuwan mengenai comet yang dapat dilihat dari Bumi selalu gagal. Begitupun rombongan comet yang dinamakan dengan Kahotek. Hal ini disebabkan oleh kesalahan prinsip mengenai wujud comet itu sendiri. Semua ilmuwan menyatakan comet itu terdiri dari pasir atau es melayang dalam orbit tertentu dalam tatabintang mengelilingi matahari. Padahal benda angkasa itu merupakan kumpulan Mar’a nonpartikel tanpa orbit di angkasa luas dengan masa yang semakin besar. Masing-masing kini jadi jutaan kali besar matahari.

Kalaulah benar comet itu terdiri dari abu, pasir atau es yang tersusun dari molekul seperti benda lainnya maka tentunya comet itu akan jatuh ke planet atau matahari seperti jatuhnya meteorites. Padahal belum pernah diketahui sebuah comet telah jatuh. Dan juga kalau benar comet itu seperti yang disangka para ilmuwan maka haruslah dapat dijawab kenapa dia bergerak dengan kecepatan istimewa melebihi kecepatan sinar melalui orbit yang dikatakan ellips itu.

Telah sama kita ketahui kedatangan suatu comet yang dinamakan comet Hailey diperkirakan besarnya ribuan kali matahari dan panjangnya diperkirakan 500 juta mil lk 6 kali jarak antara matahari dengan Bumi. Pada April 1970 pernah pula tampak comet seperti itu bergerak dari selatan ke utara selama sebulan penuh menjelang subuh.

Sebuah comet tidak dapat diperkirakan besarnya, mungkin ribuan kali besar matahari. Dia bergerak tanpa orbit tertentu karena dia terbentuk oleh Mar’a yang mengapung ke angkasa bebas. Mar’a adalah wujud nonpartikel, lari dari partikel tetapi mempunyai sifat kohesi seperti ionosfir yang melingkupi planet. Demikian pula comet lari dari setiap bintang yang ditemuinya.

Sebuah comet adalah kekosongan yang memantulkan sinar bintang-bintang seperti ionosfir Bumi yang juga kosong memantulkan sinar matahari. Semakin tebal inosfir suatu planet akan semakin keraslah pantulan sinar inosfirnya kelihatan di Bumi ini. Begitu juga comet kelihatan amat cemerlang ketika kebetulan nampak oleh mata.

Bila ada yang pernah menonton film Armagedon yang dibintangi oleh Bruce Willis, atau film Deep Impact dapat dilihat bagaimana gambaran umum ilmuwan Bumi mengenai wujud Comet yang dapat di kejar dan di darati. Tidak apa-apalah itu science fiksi dan saya pun menikmati tontonan seperti itu.

Orang tidak berkesempatan banyak untuk mempelajari comet karena dia terlalu jauh dan jarang kelihatan. Hal ini hendaklah menjadi tantangan bagi setiap orang untu tidak tergesa-gesa dalam menentukan wujud dan fungsi comet.
Satu-satunya cara yang logis untuk persoalan ini hanyalah meneliti maksud ayat-ayat Al Qur’an karena kitab suci ini mengandung ajaran komplit tentang segala problem (QS 16/89), dan memang diturunkan oleh Tuhan yang menciptakan semua benda angkasa ini.

Ayat 37/1 s/d 4 menerangkan bahwa comet itu sebanding dengan semua bintang dalam semesta raya ini. Maka ekor comet yang panjang sebenarnya adalah bintang-bintang atau tatabintang yang telah dibentur dan diseret menjadi ekornya.
Ayat 69/13 – 17 menyatakan jumlah comet itu delapan dalam daerah semesta raya, bukan dalam tatabintang sebagai dinyatakan para ilmuwan.

Untuk memahami bahwa comet bukanlah keluarga tatabintang, dapatlah kita mengambil pelajaran tentang comet Kahotek yang pada Desember 1973 dinyatakan keluar dari gugusan bintang lain, yaitu kelihatan dari celah-celah galaxy lain di semesta raya.

Dr. Feiberg dari Amerika menyatakan pendapatnya pada tahun 1970 bahwa ada unsure yang bergerak amat cepat tak terbatas tanpa magnet. Unsure itu dinakannya TACHION, yang cocok dengan apa yang disebut MESON oleh Jukawa, yaitu bagian atom yang mengapung dan menghilang ke angkasa bebas. Hanya baik Meson maupun Tachion itu masih dianggap partikel yang memiliki inti sendiri. Maka berbagai macam percobaan laboratorium di jepang dan amerika dibangun di bawah tanah untuk menangkap apa yang dikatakan ‘tuhan’ oleh meraka. Ternyata sampai sekarang percobaan itu sia-sia karena baik meson ataupun tachion adalah nonpartikel.

Setelah ilmuwan dapat memanfaatkan pemecahan atom untuk keperluan perang dan lainnya maka konsepsi, yang tadinya menganggap electron mengitari proton seperti planet mengitari matahari, menjadi kabur dan diragukan.
Karena hydrogen sebagai atom asal yang semula diperkirakan memiliki satu proton dan satu electron terbukti tidak cocok dengan kenyataan.
Akhirnya ilmuwan berkesimpulan bahwa di antara electron itu ada yang menjadi positron yang positif. Gabungan electron dengan positron terbentuklah neutrino yang netral. Wujud ini senantiasa meninggalkan atom dan menghilang. Jukawa seorang ahli fisika jepang mengambil suatu kesimpulan dengan Meson untuk ketiga macam istilah tadi, dalam pada itu Eisenberg dari Barat mengemukakan “Uncertainty Theory” tentang atom yaitu yang tidak menentu keadaannya.

Dalam Al Qur’an unsure nonpartikel tersebut disebut dengan MAR’A yaitu yang keluar dari atom, mengapung ke angkasa sebagai non partikel.
Walaupun istilah Mar’a adalah paling tua umurnya disbanding berbagai macam nama yang pernah ada untuk wujud neutrino, namun istilah dalam Al Qur’an itulah yang cocok dan logis.

Mar’a adalah wujud non-partikel dihasilkan oleh adanya rawasia atau proton yang berputar sebagai inti atom pada Alma’. Mar’a berarti yang menjaga atau yang melingkupi, cocok dengan keadaannya yang membungkus atau melingkupi proton kelilinya.
Mar’a senantiasa beredar keliling proton sesuai dengan arah putaran proton itu sendiri. Keadaannya sama dengan ionosfir yang membungkus bumi bukan seperi planet mengitari matahari sebagai anggapan ilmuwan barat selama ini. Dari itu, mar’a atau electron bukanlah partikel malah non-partikel.

Benturan gelombang sinar menyebakan mar’a menjadi aktif dan menimbulkan keaktifan pula pada proton sehingga berputar di sumbunya. Hal ini memperlihatkan warna dan benda sesuatu wujud konkrit. Bila proton berputar semakin cepat maka timbulah panas yang mengubah susunan molekul sambil menimbulkan gelombang sinar yang oleh pandangan mata dilihat sebagai api yang bercahaya.
Sementara terjadi panas itu, keluarlah mar’a mengapung ke angkasa. Sedangkan proton yang ditinggalkannya terus membentuk mar’a yang baru seterusnya berkelanjutan.

Mar’a yang melingkupi proton, maupun yang telah melingkupi planet, dan menimbulkan lapisan ionosfir yang semakin tebal melingkupi planet. Dan memang ionsofir terbentuk oleh mar’a yang mengapung. Dengan kebijaksanaan Allah melalui rawasia simple yang dimiliki setiap planet maka lapisan ionosfir tersebut berada pada ketinggian yang telah ditetapkanNYA sekitar permukaan planet. Lapisan inosfir demikian oleh alquran dinamakan Sakfam Mahfuzda (QS 21/32)

Mar’a yang mengapung dari bintang-bintang dan satellites, dengan sifat kohesinya berubah menjadi nebula yang tampak sebagai awan susu diangkasa luas. Akhirnya nebula itu berkumpul jadi comet. Baik inosfir maupun nebula dan comet, semuanya adalah non-partikel karena wujud-wujud itu berasal dari mar’a yang juga non partikel.


Kembali ke masalah semula, jadi Nabi memakai kendaraan yang kecepatannya melibihi gerak sinar yaitu gerak comet yang ternyata ribuan kali kecepatan sinar. Kalau sinar dapat mencapai bintang terdekat dalam empat tahun maka oleh comet dilalui beberapa saat saja. Kendaraan nabi itu melingkupi beliau berupa penjagaan yang dalam al qur’an disebut BARQAH seperti ionsofir yang melingkupi bumi ini untuk menapis berbagai sinar berbahaya yang dating dari luar sambil mnegungkung udara untuk pernafasan makhluk berparu-paru. Comet dan ionsofir itu adalah Mar’a. itulah kendaraan Nabi dalm Mirajnya yaitu suatu kosntruksi Neutrino atau Mar’a yang sampai kini belum dapat disadari oleh para ilmuwan.


8.DIPERLIHATKAN, kpdnya berarti Muhammad melihat dg mata kepala sendiri, bukan dlm mimpi dan bukanlah rohnya saja yg tdk mungkin melakukan penglihatan.

9.PERTANDA-PERTANDA KAMI, yaitu pertanda2 kebesaran Allah SWT. Istilah aslinya AAYAAT, jamak dari Aayah. Banyak sekali aayat Allah seperti hujan yg turun membasahi bumi, kapal yg dilautan adalah Aayat seperti pd 23/50, dan penciptaan planet2 dan bumi serta pergantian siang dan malam juga Aayah tsb pd ayat 3/190.

Kepada Nabi diperlihatkan betapa susunan tatasurya kita dimana 10 planet beredar keliling matahari selaku titik pusat yg paling bawah. . Jutaan milyar tatasurya banyak dikatakan sbg ‘ARSY Tuhan; nyatalah bahwa bagi Nabi Betapa matahari ini bagaikan noktah kecil diantara jutaan milyar tatasurya.

Istilah KAMI diujung pertanda2 itu membuktikan daerah kekuasaan Allah SWT dan segala sesuatu berlaku menurut ketentuan hukum Allah yg luas hingga jutaan milyar benda angkasa.

10.DIA MENDENGAR DAN MELIHAT, bahwa Allah SWT selaku Pencipta Esa sbg dibicarakan mengenai istilah KAMI di atas, senantiasa melihat, mendengar, memperhatikan dan menentukan setiap gerak tindak zahir bathin dari seluruh wujud di semesta raya. Tidak satupun yg terlepas dari ketentuan Allah walaupun gerak hati dalam dada setiap diri.


Ayat QS 6/116 menyatakan bahwa kalau manusia mengikuti dugaan semata, akan sesatlah manusia itu dalam menetapkan hal-hal selanjutnya.
Satu kesesatan yang tidak diperbaiki akan mendatangkan kesesatan berikutnya berujung dengan kecelakaan.

Dalam hal-hal yang manusia tidak mungkin mendapatkan bahan dan cara untuk mengetahui. Al Qur’an memberikan informasi-informasi logis yang cocok dengan pemikiran wajar.
abdann
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 937
Joined: Fri Sep 08, 2006 2:08 pm

Postby curious » Sun Sep 10, 2006 1:17 pm

dari thread http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 5625#65625

curious wrote:
abdann wrote:Muhammad saw selama belasan tahun bertugas sebagai Rasul baik selama di Mekkah dan sesudah hijrahnya ke Medinah telah melakukan shalat sebagaimana yang dilakukan para Nabi sebelumnya yaitu ke Masjidil Haraam di Mekah.
Hanya orang-orang **** sajalah yang mengatas namakan agama menjadikan negeri lain (palestina) sebagai kiblat umat muslim.

Rupanya muhammad termasuk salah seorang **** tersebut.

Sahih Bukhari
Volume 1, Book 2, Number 39:
Narrated Al-Bara' (bin 'Azib):
When the Prophet came to Medina, he stayed first with his grandfathers or maternal uncles from Ansar. He offered his prayers facing Baitul-Maqdis (Jerusalem) for sixteen or seventeen months, but he wished that he could pray
facing the Ka'ba (at Mecca). ........."


-------------------------------------------------------------

abdann wrote:
curious wrote:
abdann wrote:Muhammad saw selama belasan tahun bertugas sebagai Rasul baik selama di Mekkah dan sesudah hijrahnya ke Medinah telah melakukan shalat sebagaimana yang dilakukan para Nabi sebelumnya yaitu ke Masjidil Haraam di Mekah.
Hanya orang-orang **** sajalah yang mengatas namakan agama menjadikan negeri lain (palestina) sebagai kiblat umat muslim.

Rupanya muhammad termasuk salah seorang **** tersebut.

Sahih Bukhari
Volume 1, Book 2, Number 39:
Narrated Al-Bara' (bin 'Azib):
When the Prophet came to Medina, he stayed first with his grandfathers or maternal uncles from Ansar. He offered his prayers facing Baitul-Maqdis (Jerusalem) for sixteen or seventeen months, but he wished that he could pray facing the Ka'ba (at Mecca). ........."


Sudah sering saya menemukan orang seperti ini. Bisa baca tetapi tidak mengerti apa yang di bacanya. :D

------------------------------------------------------------------

curious wrote:dan sudah sering saya menemukan orang spt yang di atas. membantah tapi tanpa bantahan.

kalau anda memang mengerti hadist yang saya kutip dan memang punya bantahan dan MAMPU menjelaskan, tolong jelaskan apa yang menghalang muhammad menghadap ke Ka'ba pada saat dia menghadap ke Yerusalem?

--------------------------------------------------------------------
tolong dijawab
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby abdann » Sun Sep 10, 2006 1:30 pm

Tidak ada halangan apapun Muhammad saw harus menghadap ke Yerusalem, karena tidak ada keperluannya berkiblat shalat ke yerusalem.
Orang mengira sewaktu Muhammad saw berkiblat shalat bukan ke Ka'bah di Mekkah adalah ke Yerusalem, Padahal ke kutub Utara!

Ka’bah yg tegak dg megah ditengah kota Mekkah adalah titik tepat dari kutub utara dulunya dimana bumi ini berputar disumbunya untuk terjadi pergantian siang dan malam.

Istilah Ka’bah adalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6 menjelaskan istilah itu dg “Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’ dan ayat 5/95-96 mengandung istilah ‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaran utara bumi.
Kerena hal yg demikianlah hanya mekkah satu-satunya tempat ibadah haji dan kiblat shalat dimuka bumi ini. Jika orang mengadakan suatu tempat lain untuk ibadah tsb, maka nyatalah ia tidak mengerti persoalan sebenarnya disamping atas dasar kebodohan belaka (2/144)

Sayang pada saat itu Ka'bah telah dipenuhi berhala-berhala khurafat, sehingga nabi diberi petunjuk oleh ALLAH untuk berkiblat sementara ke kutub utara, sebelum dikembalikan ke kiblat sekarang setelah Beliau berhasil membersihkan khurafat-khurafat itu.

Jangan bingung, Om. Ini baru permulaan. Ka'bah yang didirikan oleh Nabi Ibrahim adalah Ka'bah yang pernah dibangun oleh Adam as.
Semenjak periode Adam as sampai Nuh As Ka'bah merupakan kutub utara Bumi. (Sayang nomind.forumer sudah ditutup, kalo gak saya kasih link nya). :D

Kalo penasaran, terus bertanya-lah, insya allah saya berikan informasi yang hanya di wahyukan ALLAH SWT kepada Muhammad saw, dan tidak kepada Nabi-nabi sebelumnya atau kitab-kitab sebelum Al Qur'an.

------------------------------------------------------------------------------------
berdasarkan kaidah ilmu fiqh, bila terdapat nash dalam Al Qur'an mengenai petunjuk sesuatu maka dengan sendirinya hadist gugur. :)
Last edited by abdann on Sun Sep 10, 2006 1:44 pm, edited 1 time in total.
abdann
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 937
Joined: Fri Sep 08, 2006 2:08 pm

Postby curious » Sun Sep 10, 2006 1:42 pm

abdann wrote:Tidak ada halangan apapun Muhammad saw harus menghadap ke Yerusalem, karena tidak ada keperluannya berkiblat shalat ke yerusalem.

anda sekarang membuktikan diri anda sebagai tipe orang yang anda tuduhkan pada saya, yaitu orang yang bisa membaca tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. atau mungkin anda tidak mengerti bahasa inggris? bolehlah saya terjemahkan bagi keperluan anda.

hadist sahih yang saya kutip mengatakan: Ketika nabi tiba di Medina, mula-mula dia tinggal bersama kakek-kakeknya atau dengan paman-paman dari pihak ibunya dari Ansar. Dia bersolat menghadap Baitul-Maqdis (Yerusalem) selama enam belas atau tujuh belas bulan, tetapi dia berharap dia dapat menghadap Kaba (Mekka)...

Dan pertanyaan saya yang rupanya anda tidak mengerti sehingga salah jawab adalah: JIKA MEMANG KEINGINANNYA SELAMA ENAM BELAS TUJUH BELAS BULAN ITU UNTUK MENGHADAP MEKAH, MENGAPA TIDAK DIA LAKUKAN? APA YANG MENGHALANGINYA (MISALNYA ANCAMAN GOLOK, MAU DIPOTONG LEHERNYA?) MENGHADAP KE MEKKA? MENGAPA MEMILIH MENGHADAP YERUSALEM WALAUPUN BERKEINGINAN MENGHADAP KE MEKKA. Sekali lagi saya tidak bertanya: apa yang menghalang dia menghadap ke Yerusalem, tetapi apa yang menghalang dia menghadap ke Mekka.

anda menulis:
Muhammad saw selama belasan tahun bertugas sebagai Rasul baik selama di Mekkah dan sesudah hijrahnya ke Medinah telah melakukan shalat sebagaimana yang dilakukan para Nabi sebelumnya yaitu ke Masjidil Haraam di Mekah.
Hanya orang-orang **** sajalah yang mengatas namakan agama menjadikan negeri lain (palestina) sebagai kiblat umat muslim.

hadist yang saya kutip jelas-jelas menunjukkan bahwa muhammad sebagai nabi tidak melakukan shalat ke mekah, melainkan ke yerusalem. dan dengan sendirinya anda menuduh dia sebagai orang **** yang menjadikan palestina sebagai kiblat.
Last edited by curious on Sun Sep 10, 2006 1:47 pm, edited 1 time in total.
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby abdann » Sun Sep 10, 2006 1:47 pm

curious wrote:
abdann wrote:Tidak ada halangan apapun Muhammad saw harus menghadap ke Yerusalem, karena tidak ada keperluannya berkiblat shalat ke yerusalem.

anda sekarang membuktikan diri anda sebagai tipe orang yang anda tuduhkan pada saya, yaitu orang yang bisa membaca tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. atau mungkin anda tidak mengerti bahasa inggris? bolehlah saya terjemahkan bagi keperluan anda.

hadist sahih yang saya kutip mengatakan: Ketika nabi tiba di Medina, mula-mula dia tinggal bersama kakek-kakeknya atau dengan paman-paman dari garis ibunya dari Ansar. Dia bersolat menghadap Baitul-Maqdis (Yerusalem) selama enam belas atau tujuh belas bulan, tetapi dia berharap dia dapat menghadap Kaba (Mekka)...

Dan pertanyaan saya yang rupanya anda tidak mengerti sehingga salah jawab adalah: JIKA MEMANG KEINGINANNYA SELAMA ENAM BELAS TUJUH BELAS BULAN ITU UNTUK MENGHADAP MEKAH, MENGAPA TIDAK DIA LAKUKAN? APA YANG MENGHALANGINYA (MISALNYA ANCAMAN GOLOK, MAU DIPOTONG LEHERNYA?) MENGHADAP KE MEKKA? MENGAPA MEMILIH MENGHADAP YERUSALEM WALAUPUN BERKEINGINAN MENGHADAP KE MEKKA. Sekali lagi saya tidak bertanya: apa yang menghalang dia menghadap ke Yerusalem, tetapi apa yang menghalang dia menghadap ke Mekka.


jangan terlalu bersemangat, Om. saya belum selesai menulis dan ada yang perlu saya edit, dong. :D

curious wrote:hadist yang saya kutip jelas-jelas menunjukkan bahwa muhammad sebagai nabi tidak melakukan shalat ke mekah, melainkan ke yerusalem. dan dengan sendirinya anda menuduh dia sebagai orang **** yang menjadikan palestina sebagai kiblat.


Sesuai kaidah ilmu fiqh pula, maka hadist tsb dha'if.
Last edited by abdann on Sun Sep 10, 2006 1:53 pm, edited 1 time in total.
abdann
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 937
Joined: Fri Sep 08, 2006 2:08 pm

Postby curious » Sun Sep 10, 2006 1:49 pm

silahkan mengedit. jika tidak saya reply membetulkan kerancuan pengertian anda, anda akan terus mengira pertanyaan saya adalah tentang halangan menghadap ke yerusalem, maka saya perlu membenarkan dulu
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby abdann » Sun Sep 10, 2006 2:01 pm

curious wrote:silahkan mengedit. jika tidak saya reply membetulkan kerancuan pengertian anda, anda akan terus mengira pertanyaan saya adalah tentang halangan menghadap ke yerusalem, maka saya perlu membenarkan dulu


Sudah, silakan anda baca kembali.

jadi, intinya riwayat yg diceritakan dalam hadist tersebut adalah dha'if alias tidak sahih. Yang benar adalah fakta yang dikisahkan dalam Al Qur'an. :)
abdann
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 937
Joined: Fri Sep 08, 2006 2:08 pm

Postby curious » Sun Sep 10, 2006 2:03 pm

aha.. typical muslim. begitu tidak sesuai kemauannya, hadist sahih pun dituduh palsu.. aduduhhh... gua pikir lu muslim berintelek bermutu, karena menuduh forum-forum mesti ditutup setelah lu hadir. ternyata hahahahhahahah....... sama saja spt yang lainnya di sini alias pengetahuannya cetek..! baca tuh signature gua.
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby abdann » Sun Sep 10, 2006 2:07 pm

curious wrote:aha.. typical muslim. begitu tidak sesuai kemauannya, hadist sahih pun dituduh palsu.. aduduhhh... gua pikir lu muslim berintelek bermutu, karena menuduh forum-forum mesti ditutup setelah lu hadir. ternyata hahahahhahahah....... sama saja spt yang lainnya di sini alias pengetahuannya cetek..! baca tuh signature gua.


Jadi maunya musti ngikutin kemauan anda.
:D

Ayat QS 6/116 menyatakan bahwa kalau manusia mengikuti dugaan semata seperti masalah ini, akan sesatlah manusia itu dalam menetapkan hal-hal selanjutnya.
Satu kesesatan yang tidak diperbaiki akan mendatangkan kesesatan berikutnya berujung dengan kecelakaan.

Dalam hal-hal yang manusia tidak mungkin mendapatkan bahan dan cara untuk mengetahui. Al Qur’an memberikan informasi-informasi logis yang cocok dengan pemikiran wajar.
Last edited by abdann on Sun Sep 10, 2006 2:08 pm, edited 1 time in total.
abdann
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 937
Joined: Fri Sep 08, 2006 2:08 pm

Postby curious » Sun Sep 10, 2006 2:08 pm

Hadist sahih lainnya tentang kiblat menghadap ke yerusalem sebelum diganti ke mekka. sekali lagi, apa alasannya menghadap ke yerusalem pada awalnya (selain daripada menjilat yahudi)?

Volume 1, Book 8, Number 397:
Narrated 'Abdullah bin 'Umar:
While the people were offering the Fajr prayer at Quba (near Medina), someone came to them and said: "It has been revealed to Allah's Apostle tonight, and he has been ordered to pray facing the Ka'ba." So turn your faces to the Ka'ba. Those people were facing Sham (Jerusalem) so they turned their faces towards Ka'ba (at Mecca).
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby curious » Sun Sep 10, 2006 2:11 pm

dan dari sumber islam sendiri http://www.turktakvim.com/code/prayerti ... iqibla.htm


It is to perform namâz towards the Qibla; it does not mean to perform it for the Qibla. Formerly the Qibla used to be Quds (Jerusalem). Seventeen months after the Hegira, at the third rak’at of the early afternoon or late afternoon prayer of a Tuesday in the middle of Sha’bân, Muslims were commanded to turn towards Ka’ba.

Terjemahan: sebelumnya Qibla adalah Quds (Yerusalem). Tujuh belas bulan setelah Hijrah, pada rakat ke tiga solat petang pda hari Selasa di pertengahan Sha'ban, Muslim-muslim diperintahkan berganti arah menuju Ka'ba.

SIAPA KAH ORANG YANG MENYURUH MEREKA MENGHADAP KE YERUSALEM PADA MULANYA. ALANGKAH BODOHNYA DIA MENURUT abdann
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

PreviousNext

Return to Muhammad



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users