. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

ISLAMISASI TENGGER

Khusus ttg sepak terjang/sejarah jihad dan penerapan Syariah di INDONESIA & negara jiran (MALAYSIA)

ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Fri Feb 10, 2012 8:36 pm

Nestapa Anak Cucu Rara Anteng-Jaka Seger


Miftahuddin | 15 - May - 2008
Panorama pegunungan Bromo yang indah, seringkali membuat para pengunjung Tengger terlena. Keramahan penduduknya yang terkenal ke seluruh penjuru negeri membuat wisatawan dari dalam dan luar negeri terbuai dalam kemanjaan. Tak kurang seorang Bob Hefner yang asli Amerika, setelah sekian lama bergumul dengan warga Tengger, secara lugas mengatakan, ‘Sikap tanggap dalam hubungan antar pribadi telah menantang kepribadian Amerika saya’.

Begitulah, Bromo nyaris menjadi keindahan yang sempurna. Namun di balik pesonanya, Tengger juga menyimpan sejarah yang kelam. Di kawasan yang kini secara administratif berada di empat kabupaten, yakni kabupaten Probolinggo, kabupaten Pasuruan, kabupaten Malang, dan kabupaten Lumajang inilah, para anak cucu Rara Anteng-Jaka Seger menyimpan nestapa mendalam. Meski selama ini sejarah kelam itu hendak ditutupi, tetap saja selalu menyembul dari satu generasi ke generasi berikutnya. Prahara paling parah, tentu saja pasca tragedi 1965. Warga Tengger yang sebelumnya hidup sangat harmonis, aman dan tenteram, tiba-tiba dilanda teror dan penyerbuan berdarah. Menurut kesaksian Hefner, paling tidak situasi penuh teror itu menghantui warga Tengger selama dua bulan sejak kudeta akhir September 1965. “Saat itu sekelompok muslim di daerah bawah yang dipersenjatai dan didampingi oleh sejumlah kecil pengawas tentara, tiba di daerah atas untuk mulai melakukan pembersihan yang berdarah,” tulis Hefner dalam bukunya yang terkenal, The Political Economy of Mountain Java, An Interpretive History (1990).

Beberapa hari sebelum pembantain berdarah, para pegawai pamong praja diminta untuk menahan anggota PKI tingkat lokal, menggunduli kepala mereka untuk memudahkan identifikasi. Pegawai pamong desa yang menolak untuk bekerjasama dianggap sebagai orang komunis yang harus ditumpas pula. Karena itu tidak banyak yang berani menentang. Namun dalam kenyataannya, yang menjadi target bukan hanya orang PKI, tetapi orang kejawen (yang merupakan mayoritas di Tengger) juga menjadi sasaran. Dan belakangan diketahui bahwa para penumpas ternyata memiliki agendanya sendiri-sendiri dalam ‘proyek’ berdarah tersebut. Tentu saja militer juga memainkan peranan yang sangat signifikan. Ujung dari semua tragedi itu adalah hancurnya Tengger!

Tengger pasca 1965 adalah Tengger yang tercabik: tidak hanya dari perspektif politik, namun juga ideologi, identitas sosial dan identitas kebudayaan dalam pengertian yang paling luas sekali pun. Tidak cukup dengan menumpahkan darah warga Tengger, berbagai kebijakan pun dipaksakan kepada mereka. Orang-orang Tengger yang sebelumnya merasa lebih dekat ke agama Hindu, belakangan ‘dipaksa’ untuk berubah agama. Pemerintah mengharuskan mereka memilih satu dari lima agama yang resmi. Melalui Parisada Jawa Timur, orang Tengger kemudian dikategorikan sebagai pemeluk agama Budha Mahayana, dengan Surat Keputusan No. 00/PHB Jatim/Kept/III/1973, tanggal 6 Maret 1973. Padahal, seperti ditunjukkan dalam hasil penelitian Ayu Sutarto, dilihat dari pribadatannya, orang Tengger tidak menunjukkan sifat kebudhaan, kecuali kata hong yang digunakan sebagai pembuka dari setiap mantera. “Tetapi, surat keputusan itu tidak mampu mengubah keimanan orang Tengger,” tulis Sutarto dalam disertasinya, Legenda Kasada dan Karo Orang Tengger Lumajang (1997).

*****

Jauh sebelum berbagai prahara melanda Tengger, masyarakat Tengger dikenal sebagai komunitas yang sangat tenteram, dan dalam tatanan sosialnya mereka memiliki norma-norma tersendiri. Untuk mencapai kesejahteraan hidup, orang Tengger memiliki kewajiban untuk selalu menjauhi malima dan memperjuangkan walima. Yang dimaksud dengan malima adalah maling (mencuri), main (berjudi), madat (minum candu), minum (mabuk karena minuman keras), dan madon (main perempuan); sedangkan walima yang mereka perjuangkan adalah waras (sehat jasmani dan rohani), wareg (cukup makan), wastra (cukup sandang), wasis (cukup ilmu pengetahuan) dan wisma (memiliki tempat tinggal yang layak).

Orang Tengger juga memiliki petunjuk yang mengarah kepada keharmonisan dan kelestarian dalam persaudaraan, seperti yang terdapat dalam sesanti pancasetia (lima petunjuk kesetiaan), yakni setya budaya (taat dan hormat kepada adat), setya wacana (kata harus sesuai dengan perbuatan), setya semaya (selalu menepati janji), setya laksana (bertanggungjawab terhadap tugas) dan setya mitra (selalu membangun kesetiakawanan). Dalam kehidupan sehari-hari orang Tengger juga berpegang kepada pralima yang mereka sebut sebagai kawruh buda, yakni prasaja (sederhana), prayoga (menunaikan kebajikan), pranata (taat kepada penguasa), prasetya (setia kepada janji dan bertanggungjawab) dan prayitna (selalu waspada). Pendek kata, orang Tengger telah memiliki segalanya untuk menjadi ‘diri mereka sendiri’. Tetapi apalah artinya segala macam norma sosial itu bagi warga Tengger ketika sebuah kekuatan yang jauh lebih besar menghancurleburkan diri mereka. Yang tertinggal hanyalah nestapa.

Gunung Bromo dengan panoramanya yang indah, saat ini memang masih tegar berdiri. Setiap saat para wisatawan masih bisa menikmati kesegaran alamnya, dan juga keramahan warganya. Tetapi banyak hal sesungguhnya telah berubah. Apa yang disebut sebagai Desa Tengger sesungguhnya sangat problematis. Banyak desa yang dulu dikenal sebagai desa Tengger, sekarang tidak lagi dimasukkan ke dalam kelompok desa orang Tengger, karena sebagian besar penduduknya beragama Islam.

Menurut Sutarto, anggapan yang berkembang akhir-akhir ini, terutama yang muncul dalam tulisan, brosur, dan penelitian-penelitian tentang Tengger yang dimasukkan ke dalam desa Tengger, adalah desa-desa dalam wilayah keempat kabupaten tersebut yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan masih memegang teguh adat istiadat Tengger, misalnya melempar kurban ke kawah Bromo pada hari raya Kasada dan memuliakan roh nenek moyang, terutama pada hari raya Karo. Desa-desa tersebut adalah Jetak, Wanatara dan Ngadisari (Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo), Tosari, Wonokitri, Ngadiwono, Podokoyo, dan Mororejo (kecamatan Puspo, Kabupaten Malang), dan Argosari (Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang). Namun, yang agak aneh pula, ada beberapa desa di kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo tidak dimasukkan ke dalam kelompok desa Tengger meskipun sebagian warganya masih menganut tradisi Tengger. Begitulah, identitas orang Tengger kadang-kadang terkesan problematis. Jelas, mereka bukan suku primitif, juga bukan suku terasing, atau suku lain yang berbeda dari suku Jawa. Namun jelas mereka juga memiliki sesuatu yang khas dibanding masyarakat Jawa pada umumnya.

Dalam sejarah Jawa, bukti epigrafis Jawa kuno menunjukkan bahwa sudah sejak lama dataran tinggi Tengger dihuni oleh sekte agama Hindu dan Budha. Sebuah piagam yang tertulis pada pelat tembaga yang ditemukan di Desa Wonokitri pada akhir abad ke-19 menyatakan bahwa daerah ini dianggap hila-hila atau suci. Dokumen ini dikenal sebagai Piagam Walandhit, berangka tahun Saka 1303 Masehi. Penghuni daerah ini digambarkan sebagai hulun hyang atau abdi dewata. Dan konon, sebagai akibat dari status keagamaannya yang khas ini, orang-orang Walandhit dibebaskan dari pembayaran pajak keraton.

Orang Tengger dikenal masih menjaga tradisi bukan Islam selama lebih dari lima abad, yakni sejak jatuhnya kerajaan Hindu-Budha yang terakhir di Jawa. Berbagai penelitian etnografi tentang bagaimana kebudayaan Tengger sering tidak menjelaskan apakah orang Tengger itu Hindu, Budha, animis atau kejawen. Bahkan belakangan, ketika mereka telah dikategorikan sebagai pemeluk agama Hindu, toh orang Tengger tidak meninggalkan adat istiadat dan ritual yang diwarisi dari nenek moyang mereka, yang juga berbeda dengan Hindu mainstream.

Sampai hari ini dukun-dukun Tengger masih mempertahankan tradisi keagamaan mereka sendiri, yaitu memuja dewa yang menjadi penguasa gunung Bromo, yang merupakan warisan peribadatan dari nenek moyang mereka, para pengungsi dari Majapahit. Jadi, apakah agama dan kebudayaan orang Tengger yang sesungguhnya? Entahlah. Biarkan ia tetap menjadi rahasia mereka sendiri. Tak perlu mereka dibebani lagi dengan berbagai aturan, yang hanya akan menumpukkan nestapa mereka. Biarkan orang Tengger tetap menjadi diri mereka sendiri: anak cucu Rara Anteng-Jaka Seger yang seutuhnya! Desantara / Miftahuddin

http://www.desantara.org/05-2008/761/ne ... aka-seger/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Fri Feb 10, 2012 8:37 pm

Tengger: Medan Pertarungan Nan Abadi


admin | 15 - May - 2008
Sinar mentari pagi tak mampu mengusir hawa dingin di perbukitan Tengger. Saputan kabut yang sesekali berarak menambah dingin makin menusuk persendian. Meski demikian, di berbagai jalan menuju perladangan, tampak masyarakat Tengger berlalulalang, seakan tak hirau dinginnya pagi. Diantara mereka tampak pula yang sedang membersihkan kuda agar tampak menarik sebelum disewakan kepada para wisatawan yang ramai di sekitar kawah Gunung Bromo.

Dalam buaian alam nan indah masyarakat Tengger lama dikenal sebagai masyarakat yang selalu hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Di sana, waktu seolah tak terasa, berlalu dengan cepatnya. Keindahan ini pula yang memikat peneliti Amerika, Robert W Hefner yang beberapa kali melakukan penelitian di Tengger. Tak bisa menutupi keharuannya, ia menulis, “Orang Jawa di pedalaman itu memiliki kepekaan sosial dan moral yang luar biasa; pelajaran yang saya peroleh dari sikap tanggap dalam hubungan antar pribadi telah menantang kepribadian Amerika saya,” tulisnya dalam buku, Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik (1990). Situasi tenang dan damai di Tengger, disokong oleh tatanan budaya dengan berbagai kepercayaannya. Salah satunya adalah kepercayaan tentang “walat”, yang kurang lebih adalah hukum karma. Dalam ilustrasi Sujai, koordinator dukun Tengger, walat antara lain berarti, “sopo njupuk jarum kudu mbalekno kapak” (barangsiapa mengambil sebatang jarum—dengan tidak sah—maka dia harus mengembalikannya dengan kapak). Sebuah konsep tentang karma dalam kepercayaan Hindu ataupun Budha. Memang, angka kriminalitas di Tengger terbilang sangat sedikit, bahkan bisa dikatakan nol. “Selama dua periode saya menjabat sebagai petinggi (kepala desa) di sini, hanya sekali terjadi kasus perampokan. Itupun dilakukan sekelompok orang dari Surabaya,” ujar Sunomo, Kepala Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Probolinggo.

Pergulatan<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->

Tapi, benarkah kedamaian dan ketenangan itu sejati? Dwi Cahyono, sejarawan dari Universitas Negeri Malang yang banyak melakukan penelitian di Tengger menyangsikan hal tersebut. Menurutnya, di Tengger sejak dulu, bahkan sampai sekarang, terjadi kontestasi antar agama, Budhis dan Hindu, yang berebut klaim atas masyarakat Tengger. Situasi ini memang tidak tampak secara formal, melainkan berlangsung di bawah permukaan.

Satu peristiwa yang dirujuk oleh Dwi Cahyono adalah kasus “Hinduisasi Tengger”, yang terjadi pada 1968 ketika Departemen Kehakiman RI menetapkan status “kepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa” bagi ritual dan adat masyarakat Tengger. Sebelumnya, masyarakat Tengger, yang sudah sering disebut Budho-Tengger, tidak terlalu hirau dengan berbagai penamaan itu. Tetapi, hal ini menjadi masalah ketika pemerintah Indonesia pasca peristiwa 1965 mengharuskan setiap warganya untuk memeluk salah satu agama dari lima agama yang ditetapkan pemerintah.

Dalam konteks kebijakan pemerintah tersebut kepercayaan dan adat masyarakat Tengger tidak termasuk pada salah satu agama yang lima itu. Maka, masyarakat Tengger mendapatkan status baru sebagai “penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa”. Oleh sebagian masyarakat, status tersebut ditolak. Alasan penolakan tersebut, sebagaimana dituturkan Mujono, Dukun Tengger asal Ngadas yang sekarang menjadi ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, “Masyarakat Tengger menolak status 'kepercayaan' karena berarti kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Tengger selama ini bukan merupakan bagian dari agama yang diakui oleh pemerintah.”

Berbagai penolakan muncul terhadap status “kepercayaan” ini. Banyak forum musyawarah digelar, berbagai upaya ditempuh. Hasil akhirnya, tahun 1973 kepercayaan masyarakat Tengger dinyatakan sebagai bagian (varian) dari agama Hindu. Alasannya, dalam peribadatan yang dipakai, banyak ritual yang bersumber dari kitab Weda. Begitupun dengan dewa-dewa yang mereka puja, sebagian merupakan dewa-dewa dari agama Hindu selain beberapa dewa lokal dari nenek moyang.

Hindu versus Budha<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->

Berbagai kebijakan tersebut lambat laun mendorong hilangnya istilah “Budho-Tengger” dan digantikan dengan Hindu Tengger.Hal ini membuat kaum Budha bereaksi keras. Sebutan Budho-Tengger bagi masyarakat Tengger waktu itu sudah menunjukkan bahwa masyarakat Tengger merupakan penganut Budhisme. Dalam kajian Dwi Cahyono, Hinduisasi Tengger telah merisaukan banyak agama, diantaranya Budha. Peninggalan sejarah berupa candi di Tumpang, Kabupaten Malang seharusnya bisa menjadi petunjuk. Ada dua candi di sana, candi Kidal yang merupakan candi Hindu dan candi Jago yang merupakan candi Budha. Candi Jago berada di lereng sebelah atas dengan akses jalan menuju wilayah Tengger, sementara Candi Kidal terletak di lereng bagian bawah.

“Ini jelas menunjukkan bahwa sejak lama ada komunitas Budhis di Tengger. Bahkan kalau benar bahwa prasasti Parameswara Pura yang ditemukan di Desa Sapi Kerep baru-baru ini berasal dari jaman Sri Kertanegara, putra dari Sri Wisnuwardhana, ini semakin jelas menunjukkan keberadaan Budha di Tengger. Kedua raja tersebut kan merupakan penganut Budha,” tambah Dwi Cahyono

Lalu, bagaimana kisah peribadatan Hindu hingga menjadi bagian dari ritual adat Tengger? Menurut Dwi, ini tak lepas dari tipikal masyarakat yang jauh dari keraton sebagai pusat penyebaran agama, yang cenderung sinkretik. Sinkretisasi ini muncul karena informasi tentang ajaran agama induk, entah itu Hindu, Budha atau Islam, bersifat sepotong-sepotong dan lebih sering merupakan terjemahan sang pembawa ajaran. Dalam situasi demikian sangat mungkin telah terjadi reduksi atau mis-interpretasi ajaran.

“Dalam bingkai inilah kita melihat kepercayaan masyarakat Tengger. Artinya, bisa saja dulunya mereka mengaku sebagai kaum Budhis, namun karena lokasi Tengger yang terisolir dari keraton, ditambah dengan masuknya beberapa informasi mengenai pemujaan terhadap beberapa dewa selain dewa lokal yang selama itu mereka puja, terjadi proses kreativitas teologi yang membuat mereka kemudian melakukan sinkretisasi,” tegas Dwi.

Maka memandang Tengger memang tidak bisa secara monolitik. Karena pada kenyataannya memang kompleks. Misalnya ada komunitas Budha “Jawasunyata” yang memuja Semar (tokoh punakawan dalam cerita wayang Mahabarata), komunitas Islam dan bahkan Kristen, meski semua agama tersebut memiliki ciri khas ke-Tengger-an, karena dalam peribadatan mereka selalu melekat adat Tengger.

Islam

Selain komunitas Budhis dan Hindu, komunitas Islam juga telah ada di Tengger sejak dahulu. Bahkan penduduk Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, tercatat seluruhnya telah memeluk Islam. Dalam Serat Centini, dikisahkan bahwa pengembaraan Jayengsari dan Rancangkapti, dua orang anak Sunan Prapen yang melarikan diri dari Giri ketika diserbu oleh balatentara Sultan Agung pada 1635 dalam peristiwa Geger Giri, sampai juga di dataran tinggi Tengger. Selain mempelajari sinkretisme Budha-Hindu dari Resi Satmaka, mereka juga memperoleh pelajaran tentang 20 sifat Tuhan dari Syekh Wahdat di sekitar Lumajang. Peristiwa yang dicatat dalam Serat Centini ini, menurut antropolog Dr. Ayu Sutarto adalah dialog budaya yang luar biasa antara rombongan Jayengsari-Rancangkapti, masyarakat Budo-Tengger dan komunitas Islam yang ada di Tengger.

Pengaruh Islam terhadap kepercayaan masyarakat Tengger, dapat dilacak dari Upacara Karo, salah satu upacara terpenting masyarakat Tengger selain Kasodo. Upacara Karo berpijak pada keberadaan dua tokoh Tengger yang bernama Seco dan Setuhu (salah satunya beragama Islam). Ketika keduanya bertempur dan sama-sama tewas, kepala keduanya terpisah, satunya berada di sebelah utara dan satunya lagi di selatan; ada istilah nggeblak lor nggeblak kidul. “Hal ini kemudian menjadi semacam kiblat bahwa kalau ada orang Islam meninggal, maka jasadnya dikubur dengan kepalanya berada di utara, sedangkan kalau orang Budo Tengger, kepalanya diletakkan di sebelah selatan,” ungkap Ayu Sutarto yang menulis disertasi tentang Tengger.

Dalam kaitannya dengan Hinduisasi di Tengger, Misjono, guru SDN Jetak, Sukapura Kabupaten Probolinggo, mengisahkan zaman kecilnya dulu ketika masih sekolah dan ditanya tentang agama yang dia anut. “Saya yang waktu itu masih SD juga nggak ngerti, Tengger termasuk dalam agama apa. Hanya saja, oleh orang tua, saya disuruh menjawab Budha. Tapi setelah tahun 1973, setelah tahu kalau Tengger merupakan bagian dari Hindu, agama saya ya Hindu,” ujarnya

Penuturan tersebut setidaknya menjelaskan adanya kebingungan masyarakat Tengger dalam mengidentifikasi “kepercayaannya” setelah dipaksa memeluk salah satu agama resmi oleh pemerintah. Kebingungan tersebut membuat mereka memberikan jawaban sesuai dengan identitas yang mereka ketahui. Tetapi, kepercayaan dan ketaatan mereka yang luar biasa terhadap para pemimpin mereka telah menjadikan jawaban itu harus berubah menjadi Hindu, setelah terjadi Hinduisasi.

Pada tahun 1980-an masyarakat Hindu membangun Pura Luhur Poten Bromo, tepat di kaki kawah Gunung Bromo, sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasodo yang disucikan. Dulunya Poten Luhur Bromo hanyalah sebuah situs upacara biasa. Tidak ada bangunan megah di atasnya selain beberapa penanda bahwa tempat tersebut merupakan lokasi upacara suci. Tetapi, dengan alasan agar kekhusyu'an upacara tidak terganggu oleh wisatawan yang mulai ramai, dibuatlah bangunan yang sedianya difungsikan sebagai pembatas antara pelaku upacara dan penontonnya. Dan pilihan bentuk bangunan di situs Poten Luhur tersebut adalah Pura, yang dapat diartikan sebagai simbolisasi kemenangan Hindu dalam kontestasi agama di Tengger.

Tetapi pertarungan belum usai. Di luar perebutan klaim agama di atas, masyarakat Tengger kini menghadapi problem lanjutan, berupa intervensi adat Bali ke dalam struktur adat Tengger. Imbas dari bergabungnya mereka ke dalam agama Hindu, telah menjadikan beberapa tokoh Hindu Dharma berkeinginan untuk “memutihkan” keberagamaan masyarakat Tengger. Kenyataan ini diakui sendiri oleh Mujono. Dukun Tengger yang sekaligus ketua PHDI Kabupaten Probolinggo ini mengakui adanya tekanan langsung untuk mengubah Hindu Tengger menjadi Hindu Bali. “Memang benar, ada beberapa tokoh dari Bali yang sering membantu masyarakat sini dalam pembangunan sanggar dan pura serta membantu pembiayaan upacara-upacara yang mencoba membujuk saya untuk menyertakan adat kebiasaan Bali dalam upacara adat di Tengger. Tentu saja saya enggak mau, lha wong adat Bali sama sekali lain dengan adat Tengger,” tegasnya. Panorama Tengger yang sejuk nan indah, kini tetap menjadi medan pertarungan budaya yang abadi. Tragedi? Desantara

http://www.desantara.org/05-2008/759/te ... nan-abadi/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Fri Feb 10, 2012 8:38 pm

Mujono: Sang Pengawal Budaya Tengger


admin | 15 - May - 2008
Kesan tegas langsung muncul dari lelaki separuh baya ini ketika disinggung mengenai hubungan antara Tengger dengan Bali. Rasa masygul tampak jelas di raut wajahnya. Kisahnya, suatu ketika seorang tokoh Bali menyatakan keinginannya untuk memasukkan budaya Bali di Tengger. “Pak Mujo, bagaimana kalau adat di Tengger disamakan dengan adat Bali?” Langsung saja lelaki ini menjawab, ”Wah saya nggak mau, Pak. Lha kalau disamakan dengan Bali berarti adat Tengger akan hilang! Berarti, nanti kan tidak ada lagi Hari Raya Karo, Hari Raya Kasodo? Terus terang, saya nggak mau, Pak!”

Itulah Mujono. Masyarakat setempat akrab memanggilnya dengan “Pak Mujo”, seorang dukun Tengger dari Desa Ngadas Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Dan kegusarannya itu bukannya tanpa dasar. Predikat dukun yang disandangnya sejak berumur 25 tahun mengharuskannya untuk menjaga eksistensi adat Tengger yang telah diwarisinya turun temurun sejak ratusan tahun lampau. Mujono mengetahui secara persis, bahwa ada usaha terus menerus untuk memasukkan kebiasaan Bali dalam kebudayaan masyarakat Tengger. Sasarannya, terutama, adalah generasi muda. Mereka membawa buku-buku yang berisi kebudayaan mereka untuk dibagi-bagikan kepada para pemuda, mengajak para pemuda untuk ngobrol tentang budaya mereka, serta mengajak untuk memakai pakaian adat seperti mereka. “Lha wong namanya anak muda, gampang terpengaruh dengan hal-hal baru, akhirnya sempat terbawa juga,” ungkap bapak tiga orang anak angkat ini dengan logatnya yang khas.

Sosok Mujono barangkali mewakili karakter asli masyarakat Tengger: ramah, lugas, dan tepa slira, namun watak dasar itu bisa berubah ketika ia merasakan ada yang hendak mengusik ketenteraman masyarakatnya. Dan penolakan Mujono terhadap intervensi budaya Bali ke dalam adat Tengger bukannya tanpa alasan. Adat dan budaya dipandangnya sebagai sesuatu yang plural yang tak perlu dipaksakan. Atas dasar ini, Mujono bisa menerima bila masyarakat Bali, atau siapapun juga, ingin menjalankan agama dan kepercayaan mereka di Tengger, asal tidak memaksakan agama mereka pada masyarakat setempat.

Mujono sendiri ketika menghadiri berbagai undangan pada upacara-upacara keagamaan di Bali, tetap menggunakan kebiasaan-kebiasaannya sendiri sebagai orang Tengger. “Saya tidak mau menggunakan adat Bali sebab itu bukan budaya saya. Kalau mereka hendak memaksakannya kepada masyarakat Tengger, itu yang saya nggak bisa terima,” ujarnya.

Memang, selama ini banyak sekali bantuan yang diberikan oleh tokoh-tokoh Bali kepada masyarakat Tengger. Misalnya dalam bentuk pembangunan sanggar dan pura yang ada di Tengger. Atau juga sewaktu ada pelaksanaan upacara agama Hindu. “Namun, bukan berarti masyarakat Tengger harus menyeragamkan adatnya dengan Bali,” tegas Mujo. Mujono kemudian mencontohkan perbedaan yang sangat mencolok antara Tengger dan Bali. Diantaranya adalah sistem penanggalan atau kalender yang sudah sangat berbeda. Ketika di Bali sudah masuk bulan kesepuluh, di Tengger masih bulan Kepitu (ketujuh) 1936 Tahun Bumi (tahun pada kalender Tengger). Perbedaan itu terjadi, karena di dalam kalender Tengger ada hari-hari yang dinamai dengan istilah mecak, yakni satu hari dengan dua penanggalan pada setiap dua bulan sekali, sedangkan di Bali tidak ada mecak.

“Lha kalau tanggalnya saja sudah berbeda, bagaimana dengan upacara-upacara adat yang di sini? Bisa kacau, kan? Belum lagi jika, misalnya, kami diharuskan untuk melaksanakan upacara ngaben seperti di Bali. Biaya ngaben itu kan sangat mahal, bisa belasan juta rupiah. Masyarakat di Tengger mana mampu melaksanakannya?” ujar Mujono bernada tanya.

Sosok Mujono terbilang unik. Eksistensinya sebagai dukun yang sangat dihormati tidak lantas menjadikannya bersikap pro status quo. Ia cenderung moderat untuk urusan-urusan, yang dalam pandangan para dukun Tengger, masih sangat tabu untuk dilakukan.Misalnya, dalam pelaksanaan upacara-upacara adat di Desa Ngadas, ia selalu menjelaskan kepada masyarakat mengenai mantra-mantra yang dibacakannya serta arti dan makna yang terkandung dalam mantra-mantra dan ritual tersebut. Satu hal yang sangat jarang dilakukan oleh para dukun Tengger pada umumnya.

Hal ini dilakukan Mujono karena ia berpandangan bahwa menjaga warisan adat tidak bisa dilakukan dengan menyimpan pengetahuan untuk diri sendiri. Masyarakat harus tahu dan memahami makna upacara-upacara adat. Hal demikian bertentangan dengan pendirian beberapa tokoh adat yang masih berusaha menyimpan pemahaman mengenai kebudayaan Tengger untuk diri mereka sendiri. Barangkali alasan mereka adalah untuk menjaga agar masyarakat tetap menghormati mereka sebagai kalangan yang paling tahu dan paling paham mengenai budaya Tengger. Tetapi, Mujono beranggapan kalau pengetahuan tentang kebudayaan Tengger tidak dibuka, lama kelamaan adat dan nilai-nilai yang ada dalam kebudayaan Tengger akan hilang, apalagi dengan gencarnya budaya-budaya dari luar yang mencoba masuk ke Tengger. “Lha kalau mereka tidak paham tentang adatnya, jangan salahkan mereka jika mereka lalu meninggalkan kebiasaan para leluhur,” ujarnya.

Mujono juga sosok yang terbuka terhadap kritik, satu sikap yang jarang dijumpai di kalangan pemangku adat. Pernah, dalam sebuah forum dialog selepas upacara Pujan Mapak Kepitu, seorang pemuda mempertanyakan mengenai digunakannya penjor janur (hiasan dari daun pohon kelapa yang masih muda) dalam upacara Galungan. Menurut sang pemuda, selama ini ia tidak pernah menemui penjor dalam kebiasaan Tengger. “Apakah Anda meninggalkan adat dalam melaksanakan upacara agama?,” tanya sang pemuda.

Dengan tenang Mujono lantas menjelaskan mengenai adat upacara-upacara di Tengger, bahwa dalam setiap upacara adat, harus ada 4 unsur: api, air, bunga dan daun. Api dan air melambangkan asal-usul kehidupan, sedangkan bunga dan daun melambangkan kehidupan itu sendiri. Nah, selama ini, memang unsur bunga dan daun hanya dirupakan dalam bentuk ronce dan penjor kecil. “Menurut saya, tidak ada salahnya jika penjor kecil itu kemudian diperbesar untuk menambah semaraknya suasana upacara. Apa demikian itu termasuk meninggalkan adat? Saya kira kok tidak,” ujarnya meyakinkan. Dari kasus tersebut Mujono semakin yakin bahwa generasi muda harus mendapatkan lebih banyak penjelasan mengenai hal-hal di seputar adat Tengger.

Ketokohan Mujono tidak diragukan lagi. Setidaknya, kesimpulan itulah yang diperoleh dari pendapat beberapa kalangan masyarakat mengenai Mujono. Diantaranya, Misjono, seorang pemuda asli Desa Wonotoro yang berprofesi sebagai Guru Agama Hindu di beberapa sekolah di Kecamatan Sukapura. “Memang, Pak Mujo itu lebih dari sekedar pemangku adat. Dia juga guru pelajaran budaya dan adat Tengger bagi kami. Menurut saya, dia adalah seorang tokoh adat yang reformis dan punya visi mengenai kelestarian adat Tengger,” ujar Misjono. Desantara

http://www.desantara.org/05-2008/777/mu ... tengger-2/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Fri Feb 10, 2012 8:40 pm

Nyanyian Tengger


Bisri Effendy | 15 - May - 2008
Hidup survive dan menjadi diri sendiri ternyata tidak gampang. Lebih-lebih ketika pergaulan menjadi sangat terbuka dan komunikasi makin menembus ke segala arah. Itulah paling tidak yang dialami oleh komunitas seperti Tengger di lereng Bromo. Orang-orang Tengger awal, yang hijrah dari pusat kekuasaan Majapahit ini bisa dipastikan ingin hidup tetap menjadi dirinya sendiri. Karena desakan perubahan struktural dan kultural di era Brawijaya V tak memungkinkan mereka bertahan sebagai dirinya. Perubahan besar-besaran sehubungan kekalahan Majapahit oleh Demak di bawah pimpinan Raden Fatah itu memang tidak hanya menyangkut struktural kerajaan (menjadi pupus), tetapi juga derap Islamisasi oleh para wali yang berlangsung dramatis.

Banyak orang mengira, mungkin karena mengungsi dari Majapahit, orang Tengger sebagai penganut Hindu atau Budha (atau Hindu-Budha). Tetapi sampai kini pun ternyata, di sana, tak ada Pemangku, dan tak ada pula biksu sebagai pemimpin Hindu atau Budha. Yang ada di sana hanyalah dukun. Tetapi dukun Tengger dipastikan tak bisa memijit, menyuwuk, atau mengobati kesambet, menggendam perempuan, menyantet, dan semacamnya seperti keterampilan para dukun di luar Tengger. Ia hanya bisa dan terbiasa memimpin upacara ritual, membimbing umat, memberi nasihat, dan melindungi mereka dari gangguan manusia maupun alam. Dus, seorang dukun di Tengger tak berbeda dengan kiai, ……, biksu, romo, pastur, dan pemimpin agama lain.

Tetapi, agama Tengger tak termaktub dalam “kamus” politik Indonesia. Maka Tengger pun lalu menjadi lahan menarik bagi kaum agama resmi untuk diperebutkan, agar mereka masuk ke dalam “kamus” politik Indonesia; bisa bikin KTP, paspor, dicatat statistik, dan tidak masuk daftar “atheis”, hantu yang paling menakutkan di Indonesia hingga sekarang.

Dan kenyataannya, sejak tahun 1968, orang-orang Tengger memang harus menghadapi gesekan agama resmi secara bertubi-tubi. Mula-mula Budha yang bukan saja berhasil mendirikan OABT dan melantik sejumlah dukun menjadi biksu, tetapi juga memasukkan orang-orang Tengger menjadi penganut Budha Mahayana melalui SK No. 00/PHB Jatim/Kept/III/73. Hindu pun tak mau ketinggalan. Melalui seorang tokoh Hindu Surabaya, sejak tahun 1969, sejumlah orang Tengger menjadi Hindu dan banyak dukun, sebagian telah dilantik menjadi biksu, dilantik menjadi Pamangku.

Bahkan Islam sebenarnya telah melenggang di Tengger jauh sebelum itu. Legenda Tengger tentang Ajisaka-Nabi Muhammad yang direkam sebelum abad 20 ini menunjukkan Islam masuk secara kultural sangat lama. Legenda yang beredar luas di kalangan orang Tengger dan bercerita bahwa Ajisaka, salah satu asal-usul orang Tengger, telah belajar agama kepada dan menjadi sahabat Nabi Muhammad ini sekaligus menjustifikasi Islam diterima oleh komunitas Tengger. Dan, mungkin, justifikasi ini pula yang mengilhami Robert W. Hefner untuk membangun tesis: sejawa-jawanya orang Tengger tetap Islam. Sebuah tesis yang berlawanan dengan yang digulirkan Geertz bahwa se-Islam-Islamnya orang Jawa tetap Jawa.

Sungguhkah orang Tengger telah menjadi Budha, Hindu, atau Muslim? Rupannya mereka tetap bernyanyi, melantunkan ke-Tenggeran, meski suara mereka makin lirih. Ayu Sutarto menyaksikan mereka tetap memegang teguh ajaran dan adat Tengger, meski dihimpit masjid, pura, dan wihara. Data Statistik yang memperlihatkan urutan terbanyak: Islam, Hindu, Budha, Katolik, dan Protestan hanya mungkin dapat ditelusur dari membanjirnya para migran terutama Madura, di samping dominasi penduduk ngare atas wong gunung.

Haruskah mereka dikamuskan? Benarkah “kamus” itu satu-satunya jalan selamat? Jawabnya hanya kearifan, bukan apa yang kita konstruksi sebagai kebenaran. Kamus adalah urusan kita, disini, di dunia fana. Sementara keselamatan seratus persen urusan Tuhan. Bukankah selamat atau celaka sepenuhnya tergantung pada-Nya. Apakah kita masih akan mengoper-alih otoritas Tuhan? Silakan.

Benar-benar sulit menjadi diri sendiri.

Desantara / Bisri Effendy

http://www.desantara.org/05-2008/779/ny ... tengger-2/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby walet » Fri Feb 10, 2012 10:56 pm

Islam memang agama bejad, orang2 Hindhu sudah mengalah untuk tinggal ditempat terpencil yang dingin di Tengger, masih dikejar2 juga.
Harusnya kita semakin menggencarkan dakwah Faithfreedom sampai ke Tengger.
walet
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Images: 16
Joined: Wed Feb 11, 2009 4:52 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby swatantre » Fri Feb 10, 2012 11:55 pm

Tolong kawan2 Hindu pembaca pasif FFI dari Bali sebarkanlah artikel2 FFI ini ke kawan2 Hindu Anda dimanapun mereka berada (soalnya saya dengar, di Bali, FFI sudah kian menggema, lumayan jadi pusaka warga Hindu dalam membendung islamisasi...)
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4109
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Thu May 03, 2012 6:35 pm

Review BUKU GEGER TENGGER. Karya: Robert Hefner
April 13, 2012
Dalam buku Geger Tengger karya Robert Hefner ini digambarkan sejarah tentang keadaan di Pegunungan Tengger, Kabupaten Pasuruan, sejak jaman kejayaan Hindu di Jawa sampai periode awal Orde Baru. Pada awal buku ini, Hefner menggambarkan eksistensi Hinduisme di Jawa sampai dengan saat keruntuhannya. Yang ternyata tidak berpengaruh pada eksistensi Hinduisme Tengger. Selanjutnya Hefner menyoroti pasang surut ekonomi di Tengger akibat dari pergantian penguasa maupun politik, yang pada akhirnya membawa perubahan sosial budaya di Tengger. Buku ini diakhiri dengan suatu konflik sosial politik walaupun unsur agama juga masuk dalam pertarungan ini. Bagi antropolog, buku ini memberikan suatu pandangan tentang agama dan politik di Indonesia sekaligus pencarian wacana civil society di bangsa yang beragam agamanya.

Petani gunung yang sederhana sulit dikatakan sebagai pewaris kejayaan Hindu Jawa, karena tidak mengenal kasta, tidak punya keraton, kesenian yang halus, dan kelas aristokrat. Pada akhir abad ke 19 setelah jalan-jalan mulai dibangun, interaksi antara masyarakat pegunungan dengan masyarakat di dataran rendah mulai intensif. Pedagang-pedagang (tani bakul) yang sering berinteraksi dengan masyarakat dataran rendah yang lebih Islami dan sedikit simpati terhadap adat istiadat masyarakat pegunungan mulai berdatangan seiring dengan jalur transportasi yang telah terbuka. Hal ini menjadi awal perubahan masyarakat pegunungan yang lebih Islam dan berjenjang.

Pegunungan Tengger yang berada di wilayah Pasuruan, pada masa Kerajaan Majapahit menjadi tempat penting dalam hal ritual agama Hindu. Ada beberapa analisis yang menyatakan kalau Tengger ini menjadi tempat pelarian orang-orang Hindu Majapahit ketika Islam mulai masuk ke Jawa. Perkembangan Islam yang terus intensif pada masa Mataram semakin menggeser kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur, sehingga orang-orang yang anti Mataram melarikan diri ke Tengger ini dengan membawa ideologi termasuk agamanya.

Kontak awal masyarakat Tengger dengan Belanda terjadi ketika penumpasan Trunajaya yang memberontak kepada Mataram dan mundur kearah Tengger ini. Sebelum datangnya Islam, Kerajaan Singasari didirikan diujung paling barat pegunungan Tengger sampai akhirnya mampu direbut Kediri, dan kemudian direbut kembali serta memindahkan keratonnya lebih ke barat dan dinamakan Majapahit. Pada masa selanjutnya muncul pemberontak baru di Mataram yang dipimpin oleh Surapati. Dia sempat mendirikan pusat kekuasaannya di Pasuruan sebelum akhirnya dapat dikalahkan pasukan Mataram bersama VOC.

Kerajaan Balambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa, Tengger dan Bali menjadi aliansinya yang anti Mataram Islam. Ketika Balambangan mampu diislamkan oleh Mataram, Hinduisme Jawa hanya terdapat pada masyarakat petani di Tengger. Selanjutnya penyerahan pantai utara Jawa ke VOC kompensasi atas penumpasan pemberontakan Mataram, membuat Pasuruan berada di bawah bayang-bayang kolonial. Pada awalnya Tengger menjadi lahan kolonial untuk menanam sayuran sebagai komoditas mereka dalam pemenuhan kebutuhan. Menjelang tanam paksa pada tahun 1828, kecamatan Tengger dihuni oleh duaribuan orang saja yang kebanyakan adalah orang Jawa Hindu.

Pembagunan jalur transportasi di Tengger telah membawa pengaruh besar begi perubahan masyarakatnya. Pembukaan lahan baru serta perdagangan telah menghubungkan antara wilayah atas dan wilayah bawah. Permintaan hasil pertanian di wilayah bawah dari wilayah atas menjadi salah satu penyebabnya. Penduduk Cina dan Eropa merupakan konsumen utama hasil sayur-sayuran dari wilayah atas. Pada tahun 1920an orang-orang Cina, Jawa, dan madura mulai membuka toko-toko di sekitar tengger. Masyarakat Tengger sedikit antipati terhadap mereka, dan hanya lebih toleran terhadap orang Cina daripada orang Jawa dan Madura.

Menurut Hefner, pegunungan Tengger telah berada di tengah-tengah revolusi perdagangan yang sesungguhnya, yang dibuka jalannya oleh kelas pedagang makmur baru. Ketika terjadi krisis ekonomi ditahun 1930an, pedagang di wilayah atas tidak begitu terpengaruh dan masih melanjutkan kegiatn ekonominya. Kepemilikan tanah dan ketenagakerjaan di Tengger sejak abad 19 dibentuk oleh sejumlah institusi. Pemerintah kolonial menguasainya dengan merubah ekonominya. Kebijakan Belanda dengan memindahkan banyak orang luar ke daerah Tengger dengan janji tanah pertanian, membentuk suatu wilayah pemerintahan. Penarikan paja tenaga kerja kepada pemilik tanah menjadi salah satu alasannya.

Pada masa pendudukan (penjajahan) Jepang, awalnya masyarakat pegunungan Tengger (khususnya) menerima kedatangan jepang dengan baik. Akan tetapi kemudian dengan kebijakan tentara Jepang yang semakin kejam membuat mereka menderita. Beban berat kerja paksa dan penanaman pohon Jarak yang ditanggung membuat banyak orang muda yang melarikan diri ke daerah bawah. Setelah merdeka terdapat sedikit kelegaan dan mulai bangkit kembali situasi ekonomi pegunungan.

Konflik politik yang terjadi di Jawa pasca jatuhnya orde lama dan PKI sarat akan kekerasan. Jawa Timur merupakan basis NU secara keseluruhan, dan Pasuruan menjadi basis paling kuat karena banyak pesantren yang didirikan di sana. PKI yang memang berhaluan kiri lebih dianggap sebagai ateis oleh kalangan NU maupun Masyumi. PNI yang lebih nasionalis ternyata juga penuh akan korupsi. NU yang sudah memisahkan diri dengan Masyumi sejak tahun 1950an menjadi kekuatan Islam yang besar di Jawa. Konflik ini diawali ketika berakhirnya orde lama dan diganti oleh orde baru dan hancurnya PKI di Indonesia. Orde baru melakukan pembersihan terhadap sisa-sisa PKI yang masih ada. Hal ini diikuti oleh organisasi muslim yang ada di Jawa Tengah, kemudian diikuti pula oleh pemuda Muslim Jawa Timur, Ansor, yang merupakan organisasi NU. Walaupun begitu sebagian besar organisasi Islam mendukung atas penyerangan dan pembunuhan orang-orang PKI ini.

Gerakan pembersihan PKI ini juga terjadi di Pasuruan, dan tersiar rumor bahwa golongan kejawen yang didukung oleh PNI juga akan diserang. Kelompok kejawen yang berada di lereng tengah pegunungan Tengger panik dan menunda segala upacara ritual pemujaan dhanyang, bahkan peminat Jumatan bertambah banyak. Hal itu dilakukan untuk menghindari kecurigaan orang dataran rendah (NU) agar tidak menyerang mereka. Tersiar kabar pula bahwa konflik yang terjadi adalah konflik agama, tetapi ternyata bahwa organisasi Muslim lebih memilih PKI sebagai sasarannya. PKI di daerah lereng atas yang Hindu malah cenderung sedikit, tokoh-tokoh PKI didominasi oleh para pedagang-pedagang yang berasal dari dataran rendah. PNI yang mendukung kejawen dan dimusuhi oleh NU, dimanfaatkan oleh NU untuk mendata tokoh-tokoh PKI karena PNI banyak anggotanya yang menjadi pamong desa. Kekerasan berdarah ini berlangsung beberpa pekan, walaupun memang yang melakukan organisasi Muslim khususnya NU akan tetapi dibalik semua itu peran militer dan polisi sangat besar.

Hefner secara khusus menjelaskan bahwa konflik berdarah ini adalah buatan dari penguasa negara. Hal itu juga bisa terlihat dari uraian di atas bahwa hanya PKI yang menjadi sasarannya sehingga tidak bisa dikatakan sebagai konflik agama. Akibat dari pertentangan politik (kepentingan penguasa tadi) membawa perubahan besar dalam masyarakat pegunungan Tengger. Di lereng atas orang-orang Hindu tidak dipaksa masuk Islam. Akan tetapi terdapat pembaharuan ritual dan doktrinal dalam konteks nasional sesuai dengan peraturan negara atas agama. Begitu juga di daerah lereng tengah, semakin berkurangnya kejawen dan meningkatnya kegiatan-kegiatan masjid.

Dalam buku ini Hefner menjelaskan bagaimana terjadi proses terjadinya perubahan sosial di pegunungan Tengger, terutama stratifikasi yang semakin mencolok antara petani kaya dan petani miskin. Digambarkan pula pada tahun 1960-an, petani pegunungan mengalami kemandegan dan krisis, akibat dari kebijaksanaan yang datang dari luar serta merosotnya keadaan ekologis, bukan karena irasionalitas petani atau watak tradisional yang pekat. Pada tahun 1970-an revolusi hijau yang digalakan pemerintah dapat meningkatkan produktifitas, namun tidak dapat menghentikan erosi yang terjadi di pegunungan. Jadi, selain terdapat perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat Tengger, perubahan juga terjadi pada keadaan alam di pegunungan Tengger.

http://mohammadgie.wordpress.com/2012/0 ... rt-hefner/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Sat Aug 18, 2012 4:40 am

untuk lebih jelasnya ke link ini aja

teroris-islam-indonesia-t44536/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Sat Sep 08, 2012 2:43 pm

Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Sun Dec 09, 2012 10:37 am

Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Sun Aug 25, 2013 6:37 am

Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ISLAMISASI TENGGER

Postby Laurent » Wed May 21, 2014 11:37 pm

http://budayajaya.com/peminggiran-dan-p ... ku-tengger

Peminggiran dan Penggerusan Identitas Masyarakat Suku Tengger

Desantara Tengger, yang penduduknya dulu dikenal sebagai petani tradisional yang tangguh, yang ramah dan suka memuliakan tamu-tamu mereka, yang tidak mengenal kasta, ini telah sejak lama menjadi medan persaingan (kontestasi) yang kompleks antarberbagai kelompok dan kepentingan dalam bidang ekonomi dan agama—yang berpengaruh besar terhadap perubahan sosial-budaya masyarakat Suku Tengger. Awalnya adalah pembukaan wilayah Tengger pada akhir abad ke-17 sebagai sentra perkebunan yang luas, terutama di lereng bawah, oleh VOC Belanda. Cengkeh, kopi, kakao, tumbuh subur di sana, dan mendorong perpindahan penduduk dari luar Tengger.

Robert Hefner, antropolog dari Boston University, penulis Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik, mencatat, mula-mula banyak warga Madura dan orang-orang Jawa bagian barat pindah mendiami wilayah Pegunungan Tengger di lereng bawah. Seiring makin derasnya arus migrasi, warga di lereng bawah yang rata-rata beragama Islam pun beranjak mendominasi dalam berbagai bidang, mengalahkan masyarakat Tengger di lereng atas. Tak hanya dominan dalam ruang sosial-politik, mereka kemudian juga mendominasi perumusan berbagai kebenaran atas dasar Agama Islam.

Pada zaman pendudukan Jepang, kondisi sosial dan ekonomi Tengger menjadi runyam. Jepang merusak perkebunan-perkebunan milik orang-orang Eropa di lereng bawah, menanaminya dengan pohon jarak untuk bahan bakar kapal dan pelumas senjata. Petani Tengger dipaksa membatasi pengusahaan tanaman perdagangan. Jepang juga menebangi pepohonan di Tengger untuk bahan bakar kereta api dan industri batu bara, padahal pepohonan itu berfungsi penting bagi kelestarian air dan tanah. Perilaku tentara Jepang yang kejam, ditambah beban kerja-paksa, membuat banyak warga muda Tengger melarikan diri ke dataran bawah.

Setelah Indonesia merdeka, keadaan cukup membaik, situasi ekonomi di pegunungan Tengger kembali bangkit. Namun, kondisi itu tak berlangsung cukup lama karena satu generasi kemudian terjadi tragedi G30S/1965, yang lalu menjadi gerbang berbagai perubahan sosial besar bagi Suku Tengger.

Hefner melaporkan, sejak masa penjajahan ada dua golongan utama yang mendominasi kawasan Tengger. Di dataran rendah, di Pasuruan dan sekitarnya, NU (Islam) merupakan organisasi paling besar, sementara kelompok kejawen mendominasi dataran tinggi Tengger. Mayoritas kelompok kejawen inilah yang kelak bergabung dengan PNI dan PKI.

Pada 1960, pemerintah Orde Lama menetapkan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA No. 5/1960), yang menjadi landasan program redistribusi tanah atau landreform. Dalam perkembangannya, di kawasan Tengger, orang-orang PNI banyak yang terlibat kasus-kasus penggelapan tanah-tanah bekas perkebunan untuk kepentingan pribadi, sementara PKI memanfaatkan momentum itu untuk merebut simpati para petani miskin dengan aksi-aksi perampasan tanah dari “tuan-tuan tanah”, para pemilik lahan-lahan luas.

Praktis, ketika G30S meletus, darah segera tumpah-ruah membasahi bumi Tengger. Pembantaian menggila bukan hanya semata karena klaim-klaim kebenaran agama dan keyakinan politik antara orang bawah dengan orang atas (Tengger), tetapi juga bersebab perebutan kepemilikan tanah dan issu-issu landreform. Selain itu, juga disebabkan persaingan berebut ruang sosial antara orang Tengger dengan para migran Jawa-Madura di lereng bawah yang berlangsung sejak zaman penjajahan.

Sepanjang kurun akhir 1960-an sampai pertengahan 1970-an itu, sekadar menjadi Wong Tengger saja sudah merupakan hal mengerikan. Identitas “Tengger” menimbulkan ketakutan tersendiri karena selalu dilekatkan dengan “non-Islam”, antek PKI. Fenomena itu jelas sangat buruk dampaknya bagi Wong Tengger.

Trauma massal tentu saja menghantui masyarakat Suku Tengger pasca-G30S/1965. Dalam kondisi sekelam itu, identitas Wong Tengger kembali dicederai, kali ini oleh kebijakan pemerintah dalam hal beragama. Penguasa Orde Baru hanya mengakui adanya lima agama resmi, dan keyakinan masyarakat Tengger tidak termasuk salah satunya. Mereka adalah penganut Hindu-Jawa, atau Agomo Budo-Tengger—yang berbeda dengan agama Buddha maupun Hindu Dharma.

Lewat perdebatan alot antarpara dukun pandhita (pemuka agama) Tengger pada 1973, akhirnya diputuskan bahwa orang-orang Tengger secara resmi akan memeluk Agama Hindu. Keputusan itu pun tak mencapai mufakat, sebab dukun dari Desa Ngadas-Malang lebih memilih Buddha dibanding Hindu.

Namun, permasalahan agama Tengger rupanya tak kunjung selesai hingga hari ini. Tak sedikit peneliti yang merekam kekuatiran beberapa dukun Tengger akan upaya-upaya pemurnian (purifikasi) agama Hindu, atau tepatnya: intervensi kebiasaan Bali dalam susunan ritual adat Tengger. Kekuatiran itu dibenarkan salah satunya oleh Mbah Mudjono, Koordinator Dukun Tengger sekaligus Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo. Ia mengaku, ada beberapa tokoh Bali yang mencoba membujuknya untuk menyertakan kebiasaan Bali dalam upacara adat di Tengger, dan ia menolaknya karena menurutnya adat Bali sama sekali berbeda dengan adat Tengger.

Selain “Balinisasi”, terjadi juga perebutan klaim antaragama: Islamisasi, Kristenisasi, dan Buddhanisasi. Persaingan antara pendakwah Budha dengan Hindu memang tak begitu kentara, tak tampak secara formal, tetapi terjadi di bawah permukaan sejak 1968 sampai sekarang. Sedangkan Islamisasi dan Kristenisasi berlangsung secara lebih mencolok mata.

Beriringan dengan masalah agama, kultur pertanian tradisional Tengger berubah drastis akibat revolusi hijaunya Orde Baru. Tanaman pangan diganti tanaman komersial. Di lereng tengah, singkong dan jagung (makanan pokok orang Tengger) diganti kopi dan cengkeh. Di lereng atas, jagung diganti kentang, kubis, dan bawang merah. Pertanian baru di Tengger itu dimonopoli orang-orang kaya, karena industri pertanian butuh modal tak sedikit.

Di bidang politik, rezim Orba menerapkan kebijakan massa mengambang, floating mass, yang melarang partai politik punya cabang di tingkat kecamatan ke bawah. Terjadilah depolitisasi rakyat, pembodohan, dan “penjinakan” sikap kritis bahkan sebelum sikap itu dibangun masyarakat.

Pada saat yang sama, sistem pendidikan Orba yang kental unsur dominasi dan submissifnya (cenderung patuh kepada otoritas) lalu menciptakan lulusan bermental pegawai, pencari kerja, yang kehilangan fitrahnya sebagai individu merdeka berakal pikiran, dan lahirnya kaum intelek yang bebal kepekaan sosialnya, serta banyaknya generasi muda yang berpikiran positivistik. Hal-hal itu menjadi salah satu sebab makin banyaknya generasi muda Tengger berpendidikan yang mencari kerja ke luar daerah, yang dampaknya adalah mengaburkan perbedaan wong gunung (orang dataran tinggi: Tengger) dengan wong ngare (orang dataran rendah), serta memperlemah loyalitas kelompok.

Berbagai-bagai masalah yang mendera masyarakat Tengger sejak zaman VOC hingga sekarang seperti terpapar di atas itu memicu krisis identitas dan menipisnya rasa percaya diri akan tradisi lokal mereka. Sebelumnya, pada zaman Jepang, tradisi Tengger sudah mulai terabaikan karena saat itu tak banyak orang Tengger yang cukup mampu untuk membiayai upacara. Masa itu, banyak teks-teks doa Tengger yang disembunyikan, hingga rusak karena cuaca dan dimakan rengat ketika ditemukan beberapa tahun kemudian.

Dalam kondisi krisis identitas tersebut, masyarakat Tengger menghadapi masalah hak ulayat: pada 14 Oktober 1982, dalam Kongres Taman Nasional se-Dunia ke-3 di Denpasar, Bali, pemerintah Indonesia menetapkan dataran tinggi Bromo, Tengger, dan Semeru sebagai Taman Nasional—“suatu kawasan atau wilayah yang dilindungi pemerintah dari perkembangan manusia dan polusi”.

Pagi hari 14 Oktober 1982 itu, masyarakat Tengger bangun dari tidur dan tiba-tiba mendapati tanah-tanah adat mereka berada dalam wilayah terlarang. Terlarang mengambil kayu bakar dari hutan, terlarang memetik tanlayu (edelweiss jawa, Anaphalis javanica) yang diperlukan untuk berbagai upacara adat, tak leluasa lagi berladang gilir-balik karena mungkin saja calon lokasi ladang baru sekarang telah dikapling pemerintah sebagai bukan-zona-pemanfaatan.

Penetapan Taman Nasional tanpa konsultasi publik sebelumnya ini kelak akan menimbulkan berbagai masalah sosial, yang berpangkal pada kecenderungan pemerintah menghegemoni dan meminggirkan masyarakat, dalam hal ini masyarakat adat Tengger.[]

Foto: Sekeluarga bangsa Armenia dalam perjalanan menuju Tosari, Pasuruan. Foto diambil antara tahun 1890–1930, koleksi Tropenmuseum, Belanda. Banyak pedagang Armenia dari Amsterdam merantau ke Hindia-Belanda sejak 1800-an. Mereka terutama menetap di Jawa, mendirikan perusahaan serta perkebunan; Di antaranya di daerah Tosari, Pasuruan, tempat tinggal Suku Tengger.

ISLAMISASI TENGGER
Mirror 1: ISLAMISASI TENGGER
Twitter Logo Follow Twitter: @ZwaraKafir
Faithfreedompedia static
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am


Return to Resource Centre Jihad di INDONESIA



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users