. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

ISLAM TERPECAH BELAH OLEH ULAH ISLAM SENDIRI

Pembuktian bahwa Islam bukanlah ajaran dari Tuhan.

ISLAM TERPECAH BELAH OLEH ULAH ISLAM SENDIRI

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 8:30 am

Mungkin judul ini terlalu Vulgar kedengarannya,

Namun sebaiknya kita melihat kenyataan yg terjadi di Indonesia.

Beberapa bulan yg lalu kita disugguh oleh berita media tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh FPI terhadap Perguruan ACHMADIAH di Daerah BOGOR.
Peristiwa itu menimbulkan pertanyaan
Apa sih ACHMADIAH itu bukankah mereka juga Islam Mengapa FPI yang seharusnya membela Islam malah menyerang salah satu element Islam itu sendiri sehingga banyak yg menjuluki
FPI=Front Perusak Islam.

Untuk mengerti semua ini baiklah kita melihat apa Acmadiah itu dan bagaimana perkembangannya di Indonesia.

Saya bersama ini akan berusaha untuk menayangkan artikel artikel tentang ini yg saya petik dari berbagai sumber namun terutama dari Milis Apakabar.net yg sudah dicontinued.

AHMADIYAH, PENDIRINYA DAN AJARANNYA......1)

PENGANTAR......

Uraian berikut ini adalah disarikan dari sebuah makalah yang
diketengahkan oleh pengarangnya dalam sebuah diskusi forum ilmiyah
yang diselenggarakan oleh IAIN Sunan Kalijaga , Yogyakarta pada hari
Jum'at tanggal 10 Mei 1985. Professor Dr. Mukti Ali mantan Menteri
Agama RI bertindak sebagai moderator dalam diskusi itu.
Pengarang makalah adalah Drs. Aly Abubakar Basalamah MA (almarhum
wafat di Bandung 1997 yang lalu) adalah seorang pengikut aktif dari
Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang juga sampai akhir hayatnya adalah
dosen tetap pada pada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
NAMANYA MIRZA GHULAM AHMAD......
Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad berasal dari
keluarga terhormat. "Mirza" adalah gelar yang biasa diberikan kepada
kaum ningrat keturunan raja-raja Islam dari dinasti "Moghul" yang
berasal dari Persia. Sebutan "Hazrat" biasa diberikan orang kepada
wujud-wujud suci , atau para 'alim rabbani. Sedangkan sebutan
"Ghulam" merupakan nama famili. Jadi nama asli beliau hanyalah
"Ahmad". Hazrat Ahmad dilahirkan pada tanggal 13 Pebruari 1835
bertepatan dengan 14 Syawal 1250 Hijriah, tepat hari Jum'at
dikediaman orang tua beliau sendiri, "Mirza Ghulam Murtaza", di desa
Qadian, 24 kilometer dari kota Amritsar di Propinsi Punjab , India.
Keluarga Mirza yang menetap didesa Qadian itu mempunyai hak atas
seluruh desa itu dan juga berhak memungut pajak 5% dari tiga desa
sekitarnya. Setelah mengalami kejayaan, kerajaan Moghul mengalami
kepudarannya dan kemudian terpecah-pecah yang selanjutnya lalu
dilanda oleh kebangunan kembali raja-raja Hindu dan Sikh, hingga
musnah sama sekali dengan datangnya Inggeris.
Dizaman penjajahan Inggeris inilah ayahanda beliau berusaha
mendapatkan kembali hak-hak atas tanah milik leluhur beliau dengan
membelanjakan puluhan ribu rupees , untuk memenangkan
tuntutan-tuntutan dimeja hijau, akan tetapi semuanya tidak berhasil.
Sebagai ayah Mirza Ghulam Murtaza menumpahkan banyak harapan kepada
puteranya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, agar sang putera itu kelak dapat
berjuang memulihkan kejayaan dan pamor duniawi keluarga Mirza. Akan
tetapi Hazrat Ahmad berkecenderungan sebaliknya, bahkan beliau
mengungkapkan perasaan beliau "Aku tidak menghendaki kekayaan dalam
arti kata duniawi, akan tetapi kaya dalam arti rohani.....".
Sekedar hormat dan dan taat kepada ayahanda , beliau sering juga
menyelesaikan perkara-perkara itu di pengadilan dengan membantu ayah
beliau. Akan tetapi sebenarnya beliau merasa enggan dan hati beliau
selalu dekat dengan urusan rohani dan mencari-cari kepuasan dalam
asyiknya "berzikir" dan "beribadah" kepada Allah SWT. Beliau berkata
dalam sebuah sya'irnya sbb:
"Aku punya teman dan dipenuhi kecintaanNya...
Aku merasa muak dengan segala pangkat dan kehormatan...
Kulihat dunia dan pengikutnya menderita kelaparan....
Namun negeri cintaku tak pernah mengalami kekurangan...
Manusia cenderung kepada kesenangan dunia....
Sedang aku cenderung ke wajah yang memberi kenikmatan dan kesyahduan..."
Hazrat Ahmad tidak pernah menduduki bangku sekolah, karena memang
sekolah-sekolah tidak ada waktu itu di Qadian. akan tetapi sebagai
anak keluarga terhormat , beliau diasuh oleh guru-guru pribadi yang
mengajarkan Al-Qur'an dan Bahasa Persia. Beliau menunjukkan bakat dan
keinginan belajar yang luar biasa sehingga dengan demikian kecintaan
kepada Al-Qur'an tumbuh dan semakin meresap kedalam hati sanubari
beliau. Sebagai orang yang mempunyai pembawaan suci, kebanyakan waktu
beliau, beliau lewatkan didalam masjid , dengan keasyikan membaca dan
"mutalaah" Al-Qur'an. Sering sekali orang-orang mendapati beliau
berjalan mondar-mandir di masjid dengan sebuah kitab ditangan dan
sebuah pertanda bahwa otak beliaupun penuh dengan daya dinamika dan
kecintaan yang penuh kepada Al-Qur'an....(Hayatul Ahmad, 1960:4).
Beberapa waktu sebelum Mirza Ghulam Murtaza wafat, Hazrat Ahmad
bermimpi bahwa seseorang malaikat datang kepada beliau dan menasehati
beliau supaya menjalankan ibadah puasa tertentu sesuai dengan
"sunnah" para rasul Allah dan Waliiullah untuk memungkinkan diri
beliau menerima rahmat dari Allah. Maka beliaupun menjalankan
puasa-puasa itu dengan diam-diam tanpa diketahui orang. Beliau
tinggal disebuah kamar di tingkat atas dan mengatur agar makanan
dibawakan orang kekamar beliau. Dengan diam-diam beliau suka
mengundang anak-anak miskin dan anak-anak yatim makan bersama-sama.
Sesudah dua atau tiga minggu berikutnya, beliau memutuskan mengurangi
makan beliau sedikit demi sedikit sampai akhirnya beliau cukupkan
hanya makan sekerat roti saja untuk mengisi perut beliau sehari
semalam. Dalam hari-hari itu banyak "ru'ya" dan "pemandangan ghaib"
yang beliau saksikan.
Pada tahun 1876, ketika Hazrat Ahmad tinggal di Lahore , beliau
menerima ilham yang maksudnya bahwa ayahanda beliau akan segera tutup
usia. Beliaupun pulang ke Qadian dan memang mendapati ayahanda sedang
sakit menderita disentri. Beliau diberi lagi kabar ghaib oleh Allah
bahwa ayahanda belaiu akan wafat sesudah matahari terbenam.....Dan
memanglah menjelang senja sehabis matahari terbenam, ayah beliau
wafat sesuai dengan ilham yang diterima beliau itu....
PEMBELAAN TERHADAP ISLAM......
Pada masa itu badai perlawanan terhadap Islam menjadi-jadi, menerjang
dari segala jurusan. Perlawanan yang sengit adalah datang dari
golongan Kristen dan dari Sekte Hindu Arya Samaj, yang
memburuk-burukkan serta mencerca nama dan pribadi Nabi Muhammad SAW,
sedangkan orang-orang Islam ketika itu mereka jadikan bulan-bulanan
dan bahan olok-olok tak ubahnya seperti perahu yang terombang ambing
ditengah lautan yang bergelombang.
Serangan-serangan terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW mereka lakukan
dengan tulisan dan artikel yang dimuat di beberapa majalah yang
terbit di India. Dengan rasa pedih Hazrat Ahmad menangkis
serangan-serangan itu dengan mengirimkan artikel-artikel kepada surat
kabar-surat kabar dan majalah-majalah itu. Disaat menghebatnya
serangan-serangan itu beliau sering sekali menerima ilham-ilham yang
mengandung kabar ghaib yang kelak menjadi sempurna pada waktunya.
Ketika serang-serangan musuh-musuh Islam itu semakin gencar,
sementara Ulama-Ulama Islam ketika itu diam tidak berdaya buat
menangkisnya, beliau mengambil keputusan menulis buku yang terbit
dengan nama "Barahin Ahmadiyah". Jilid pertama buku itu terbit pada
bulan Mei 1879. Untuk menerbitkan buku itu beliau tidak mempunyai
dana, dan untuk itu beliau berdo'a kepada Allah dan hasilnya
bantuanpun mengalirlah.....
.....bersambung......
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 8:44 am

AHMADIYAH, PENDIRINYA DAN AJARANNYA.....2)

BAI'AT YANG PERTAMA DI KOTA LUDHIANA.........
Didalam buku Barahin Ahmadiyah itu beliau mengungkapkan keluhuran dan
keindahan Islam serta mengumumkan, bahwa bila seorang penganut agama
lain dapat menampilkan keluhuran dan ketinggian agamanya melebihi ajaran
Islam seperti yang diuraikannnya, maka beliau bersdia memberi hadiah
10,000 rupees dan ternyata tidak seorangpun yang tampil menyambut
tantangan beliau itu. Para Alim Ulama Islam ketika itu mengakui
keunggulan dan kehebatan kitab ini, sebagaimana yang diutarakan oleh
salah seorang diantara mereka yakni Husain Batalwi (yang belakangan
adalah merupakan musuh sengit dari Ahmadiyah) yang mengakui keunggulan
kitab itu dan emeuji pengarangnya. Bahkan ulama besar itu telah
menyebutnya dalam majalahnya "Ishatus Sunnah , volume VII" bahwa dalam
jangka 13 abad sepeninggal Rasulullah SAW tidak pernah terbit satu
kitabpun seperti "Barahin Ahmadiyah".......
Kitab itupun semakin terkenal dikalangan Ulama-Ulama dan orang-orang
Islam, sehingga dari beberapa kalangan datang anjuran agar beliau
menerima "bai'at" dari orang-orang, tetapi beliau selalu mengelak,
sampai akhirnya atas perintah Tuhan , Desember 1888 beliau mengumumkan
penerimaan bai'at dari orang-orang Islam yang bersedia menjadi
pengikutnya. Penerimaan bai'at untuk pertama kalinya terjadi pada
tanggal 23 Maret 1889 di kota Ludhiana yang ketika itu ada sekitar 40
orang yang menyatakan bai'atnya ditangan beliau. Salah satu diantaranya
adalah Hakim Nuruddin, seorang tabib terkemuka dari Jammu Kashmir, yang
belakangan terpilih sebagai "Khalifatul Masih" pertama setelah Hazrat
Ahmad wafat....(Hayatul Ahmad, 1960:15).
PENDAKWAAN SEBAGAI IMAM MAHDI DAN MASIH MAU'UD A.S.
Dalam tahun 1890 beliau membuat sebuah karya tulis yang bernama "Fath
Islam", disusul oleh kemudian karya berikutnya "Taudhih Maram" dan kedua
buku ini terbit pada tahun 1891, bersama-sama dengan kitab lain "Izala
Auham". Didalam buku-buku tersebut beliau mengumumkan bahwa berdasarkan
wahyu kepada beliau, Allah SWT telah menunjuk dan mengangkat beliau
sebagai Almasih dan Mahdi yang dijanjikan. Pengakuan beliau ini
ditunjang banyak ayat-ayat Al-Qur'an (diantaranya 1:7, 24:55, , 61:6,
73:15 dllnya), serta hadits-hadist Rasulullah SAW dan perkataan Nabi
Isa sendiri dalam Bibel (diantaranya Yohanes 14:3, Iberani 4:28, Matius
29:39, dll).
Dapat dicatat disini bahwa dalam Kitab Barahin Ahmadiyah beliau masih
memegang keyakinan yang sama sebagaimana kebanyakan kaum Muslimin ketika
itu tentang masalah hidupnya Nabi Isa diatas langit. Akan tetapi pada
tahun 1891 ketika beliau diberi tahukan oleh Allah lewat wahyu bahwa
Nabi Isa a.s. itu telah wafat , beliau kemudian mengubah pendirian
beliau itu dengan mengumumkan kepada dunia bahwa nabi Isa a.s. telah
wafat seperti nabi-nabi lain juga telah wafat sebagaimana umumnya
manusia yang ada didunia ini. Dan beliau menyebutkan juga bahwa kuburan
Isa a.s. terdapat di kota Srinagar, Kashmir ....(lihat, Dard AR, Life
of Ahmad, 1948:221). Ilmu pengetahuan modern belakangan ini telah
mengungkapkan penemuan-penemuan baru yang mendukung dan membenarkan
pernyataan beliau diatas....(Majalah Selecta 616, Juli 1973 dan majlah
Varia Juni 1973).
Pada tahun 1896 di kota Lahore diadakan seminar agama-agama atas
prakarsa bebrapa tokoh yang bercita-cita hendak menghentikan
sengketa-sengketa diantara agama-agama yang ada di India. Dalam seminar
itu wakil-wakil berbagai agama menampilkan lima pokok masalah , dengan
syarat isinya tidak menyerang agama lain dan agar diketengahkan
argumentasi-argumentasi yang langsung diambil dari Kitab Sucinya
masing-masing. Kelima pokok masalah yang yang dijadikan topik
perbincangan dalam seminar itu adalah sbb:
1. Keadaan jasmani, akhlak dan rohani manusia.
2. Keadaan manusia sesudah mati.
3. Maksud hidup manusia di dunia ini dan jaln untuk mencapainya.
4. Akibat dan natijah perbuatan dan amal manusia didunia dan di akhirat.
5. Jalan-jalan untuk memperoleh ilmu dan ma'rifat.
Oleh panitia seminar tersebut beliaupun diminta ikut ambil bagian dengan
mengetengahkan makalah-makalah yang berkaitan dengan topik-topik diatas
dan mengetengahkan ketinggian-ketinggian Islam dengan dalil-dalil dari
Al-Qur'an. Sebelum seminar itu berlangsung , dari awal beliau telah
mendapat wahyu dari Allah bahwa makalah beliau akan mengungguli semua
makalah yang dibacakan dalam seminar itu. Kabar itu beliau umumkan dalam
surat-surat selebaran dan brosur-brosur di kota Lahore. Beliau sendiri
tidak dapat menghadiri seminar itu, tetapi mengirimkan utusannya salah
seorang pengikut beliau yakni Maulvi Abdul Karim yang mendapat
kehormatan untuk membacakan makalah beliau itu.
Surat-surat kabar saat itu mengakui dalam laporannya masing-masing akan
keunggulan makalah beliau beliau tadi seperti yang diutarakan:
"Penampilan tentang agama Muhamammad yang terbaik dan paling menarik
yang baru kita jumpai"....(The Theosophical Book Notes, dikutip dari
Sinar Islam April 1981).
Makalah tersebut telah diterbitkan dalam berbagai bahasa dunia,
diantaranya bahasa Arab dengan nama "Falsafah al ta'alim al Islamiyah",
edisi Inggeris dengan nama "The Philosophy of the Teaching of Islam" dan
edisi Bahasa Indonesia dengan nama "Filsafat Ajaran Islam"....(Pada
tanggal 6 Januari 1997 buku tersebut kembali dibahas daalm suatu Seminar
diantara para Rektor Universitas di Yogyakarta dalam acara "Bedah Buku"
yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Seminar
tersebut dihadiri 11300 orang peserta dari berbagai kalangan Ahmadi dan
non Ahmadi....(NS)...).
Mengenai buku "Filsafat Ajaran Islam" itu pujangga kenamaan Leo Tolstoy
dari Rusia menulis komentarnya: "The ideas are very profound and very
true" yakni bahwa gagasan-gagasannya sangat mendalam dan benar". Harian
"Bristol Times and Mirror" memberikan ulasan: "Jelas, orangnya bukanlah
orang sembarangan, yang berdialog dengan orang-orang Eropa dan Amerika
dengan corak demikian". "The Moslem Review meberikan komentarnya:
"Penelaah buku-buku ini akan menjumpai banyak pikiran yang benar,
mendalam, orisinil, dan mengilhami"....(Sinar Islam April 1981:25).
Semenjak beliau "mendakwakan" diri sebagai "Al-Masih" dan "Al-Mahdi"
yang dijanjikan tak ada lagi waktu terluang bagi beliau. Beliau seorang
diri banyak menghadapi perlawanan dari pihak-pihak anti Islam dan juga
dari pihak Ulama-Ulama Islam yang melancarkan berbagai tuduhan terhadap
beliau. Pada tahun 1900 belaiu menyempurnakan "dakwah" beliau kepada
pihak Kristen dengan mengajak "padri-padri" Kristen di kota Lahore
supaya "meminta keputusan ilahi" untuk menentukan siapa yang berdiri
dipihak yang benar dan siapa pula yang berdiri dipihak yang batil.
Tetapi tantangan itu pun tidak ditanggapi oleh mereka.
Pada tahun 1893, terbit pula karya beliau "Aina Kamalti Islam" berisi
uraian-uraian yang mencerminkan keindahan dan keluhuran agama Islam dan
didalamnya juga termuat ajakan dan dakwah beliau kepada kepada Ratu
Victoria dari Inggeris dan seruan kepada Ratu Inggeris itu untuk memeluk
agama Islam. Dengan kata-kata yang penuh keberanian beliau menulis:
" Wahai Sri Baginda Ratu, Berlimpah-limpah kebajikan Tuhan telah
dianugerahkan Tuhan kepada Sri Baginda Ratu daalm urusan duniawi. Kini
dambakanlah kerajaan rohani. Bertaubatlah dan taatilah Dia yang tidak
mempunyai anak dan tidak mempunyai serikat dalam KerajaanNya dan
sanjunglah Dia.......Wahai Sri Baginda Ratu, terimalah Islam dan Baginda
akan selamat....."( Dard, Life of Ahmad, 1960:9).
bersambung....
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 8:48 am

PENDIRIAN AHMADIYAH.....3)

Masih dari Afrika, seorang anggota terkemuka dari Missi Kristen di
Nigeria berkata: "Mereka itu (orang-orang Islam) adalah masyarakat
yang paling terkebelakang kira-kira tiga puluh tahun yang lalu,
tetapi semenjak kaum Ahmadiyah memulai perjuangan mereka yang
progressif maka terjadilah perubahan-perubahan ajaib diantara
mereka".....(Catholic Herald, Nigeria 19 August 1955).
Dalam pendahuluan dari Terjemahan Al-Qur'an Suci oleh Ashraf Ali
Thanwi peristiwa ajaib itu itu diceritakannya pula dalam kata-kata
sbb: "Dalam periode ini Uskup Lefroy meninggalkan Eropa dengan
disertai suatu regu besar Missionaris Katolik dimana dia bersumpah
bahwa dalah waktu yang pendek ia akan memasukkan penduduk anak benua
India kepada agama Katolik. Dengan dibekali bantuan keuangan yang
sangat besar sekali dan janji-janji bantuan uang yang terus menerus,
ia tiba di India dan menimbulkan kegemparan besar. Ia melancarkan
serangan terhadap Ulama-Ulama Islam dengan dalil bahwa Yesus masih
hidup dilangit dengan tubuh jasmaninya, sementara Nabi-Nabi lainnya
termasuk Nabi Muhammad SAW terkubur ditanah. Dalil itu nampaknya amat
effektif tetapi pada saat yang bersamaan , ketika itu Hazrat Mirza
Ghulam Ahmad mengibarkan panji-panji pertahanan Islam justeru
mengatakan kepada Uskup Lefroy dan kawan-kawannya bahwa Isa al Masih
sudah mati dan telah dikuburkan seperti makhluk-makhluk fana lainnya.
"Isa al Masih yang akan datang itu tak lain adalah saya. Kalau Tuan
jujur, Tuan harus membenarkan saya", katanya. Dengan strategi ini ia
menyerang pertahanan Uskup Lefroy begitu keras sehingga baginya tak
mungkin melepaskan diri sendiri dari kedudukan yang sulit itu. Karena
itu ia menghalau semua Missionaris Katolik itu dari India ke
Eropa".......(Pendahuluan Tafsir, hal 30 dan diterbitkan oleh Maulwi
Nur Muhammad Qadri Naqsyabandi, Chisti, Karachi).
Pendiri Jemaat Ahmadiyah selanjutnya mengatakan bahwa oleh karena
beliau dibangkitkan untuk menegakkan syariat Islam dan kebenaran
Khaatamannabiyin Muhammad SAW serta untuk melancarkan perang
dalil-dalil dengan semua agama palsu, Allah Taala mewahyukan kepada
beliau kejadian-kejadian dimasa datang dan mengaruniai tanda-tanda
langit kepada beliau dan membukakan keapda beliau kabar-kabar tentang
yang ghaib. Keadaan ini dinamakan kenabian dalam bahasa Arab. Beliau
mengatakan bahwa beliau hanyalah Nabi dalam arti ini. Beliau
menambahkan: "Perkataan "Nabi" adalah serupa dalam bahasa Arab dan
bahasa Iberani. Dalam bahasa Iberani perkataan itu diucapkan "Naabi"
yang diambil dari "Naba" yang berarti pemberian nubuwatan dari Tuhan.
Seorang nabi tak harus pembawaq syariat dan keadaan ini adalah
anugerah Tuhan dengan mana dikabarkan peristiwa-peristiwa masa
datang."........(Ek Ghalti ka Izala, halaman 8, 1901).
Sehari sebelum Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. wafat beliau
menyatakan:"Tuduhan yang dilemparkan kepada saya ialah bahwa bentuk
kenabian yasng saya akui buat diri saya menyebabkan saya keluar
Islam. Dengan perkataan lain saya dituduh mempercayai bahwa saya
adalah nabi yang berdiri sendiri, seorang nabi yang tak perlu
mengikuti Al-Qur'an Suci, dan bahwa kalimah saya lain dan qiblah saya
berobah. Juga saya disangkakan menghapus syariat dan memutuskan tali
kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tuduhan itu adalah samasekali
palsu. Sesuatu kenabian seperti itu adalah kufur dan ini jelas. Bukan
hanya kini tetapi sejak dari permulaan sekali saya selalu
mengemukakan dalam buku-buku saya bahwa saya tidak mengakui kenabian
seperti itu untuk saya. Itu sama sekali adalah tuduhan kosong dan
suatu cercaan terhadap saya. Keadaan sebenarnya hanyalah ini, bila
saya menyebut diri saya seorang Nabi, saya maksudkan hanyalah bahwa
Allah Taala berbicara dengan saya, bahwa Dia sangat sering
berkata-kata dengan saya dan Dia bercakap-cakap dengan saya dan
menerima pengabdian saya dan mewahyukan kepada saya hal-hal ghaib,
dan membukakan kepada saya rahasia-rahasia yang berhubungan dengan
masa datang dan yang tidak akan Dia bukakan kepada seseorang yang
tidak Dia cintai dan dekat kepadaNya. Sesungguhnya Dia mengangkat
saya sebagai nabi dalam arti itu....(Akhbar-i-Am, Lahore, 26 Mei
1908, halaman 7, juga Tabligh-i-Risalat , Jilid X, halaman 132-134).
bersambung
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 8:57 am

AHMADIYAH, PENDIRINYA DAN AJARANNYA.....4)

Hazrat Ahmad wafat pada tanggal 26 Mei 1908 di Lahore dan
dikembumikan di Qadian setelah berpesan kepada jemaat beliau dalam
kitab beliau yang terakhir "Al-Washiyat" ( Lihat, Dard, Life of
Ahmad, 1960:15). Beliau meninggalkan ±400,000 orang pengikut yang
sekarang meningkat menjadi ±15 juta orang (1985) yang tersebar di
seluruh pelosok dunia. Menarik kesimpulan dari kehidupan beliau,
bahwasanya beliau melaksanakan tugas-tugas suci sebagai berikut:
1. Memperkenalkan kepada dunia Tuhan Yang Hidup dan Berkata-kata
seperti juga dahulu Dia berkata-kata.
2. Menghilangkan segala rintangan dan hambatan yang menghalangi
hubungan antara Khaliq dan makhluNya.
3. Memperkenalkan kepada dunia bahwa Qur'anlah satu-satunya kitab
suci dan Muhammad SAW satu-satunya nabi yang sanggup menuntun manusia
ke jalan kebenaran.
4. Membendung arus orang Islam yang menyeberang keagama Kristen dan
menarik orang-orang Kristen kepada Islam.
5. Mengembalikan ummat Islam dibawah naungan satu Imam dengan
perantaraan khalifah-khalifah pilihan Tuhan.
6. Membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang hidupyang
hidup dan sanggup menjawab segala tantangan dan persoalan yang
menyangkut kehidupan ummat manusia di segala zaman.
Ahmad berkata:
"Dengarlah hai segala manusia dan saksikanlah bahwasanya Allah yang
menjadikan langit dan bumi ini telah memberi kabar ghaib ini
kepadaku, bahwa Dia akan menyebarkan jemaat ini keseluruh dunai dan
Dia akan memberikan kemenangan kepada jemaat ini di atas golongan
lain, semuanya dengan jalan keterangan dan "hujjah"....Aku datang
hanya untuk menanam benih ini, dan aku telah menanamnya. sekrang
benih ini akan senatiasa tumbuh terus dan niscayalah akan berbuah
pula, lagi pula tak ada siapapun yang dapat menghalangi kemajuannya
(Ahmad, Tazkirah, tt:635, Dard, 1948:445).
MASALAH KHAATAMANNABIYYIN.......
Pendiri Jemaat Ahmadiyah dengan tegas menyatakan imannya kepada
"Khaatamun Nubuwwah". Ia mengemukakan dengan gtandas bahwa Nabi
Muhammad SAW adalah manusia pilihan Allah, betul-betul beliau adalah
"khaatamannabiyyin".
a. "Dengan sungguh-sungguh saay percaya bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah Khaatamun Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khaatamun
Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW) adalah orang yang tidak beriman dan
berada diluar lingkungan Islam"......(Ahmad, Taqrir wajibul I'lan,
1891).
b. "Inti dari kepercayaan saya ialah: "La Ilaaha Illallah, Muhamadur
Rasulullah" (Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhamamd adalah utusan
Allah). Kepercayan kami yang menjadi pergantungan kami dalam hidup
ini dan yang padaNya kami , denagn rahmat dan karunia Allah berpegang
sampai saat terakhir dari hayat kami dibumi ini, ialah bahwa
junjungan dan Penghulu kami, Nabi Muhammad SAW adalah
"khaatmannabiyin dan khairul mursalin" , yang termulia diantara
nabi-nabi. Ditangan beliau hukum syariat telah disempurnakan. Karunia
yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya sarana
untuk mencapai "kesatuan" dengan Tuhan Yang Maha Kuasa".....(Ahmad,
Izala-i-Auham, 1891:137).
c. "Martabat luhur yang diduduki junjungan dan Penghulu kami, yang
terutama dari semua manusia, nabi yang paling besar, Hazrat Khaatamun
Nabiyyin SAW, telah berakhir dalam diri beliau yang didalamnya
terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tak dapat dicapai
manusia"....(Ahmad, Taudhih Marram, 1891:23).
d. "Yang dikehendaki Allah supaya kita percaya hanyalah ini, bahwa
Dia adalah Esa dan Muhamammad SAW adalah Nabi-Nya dan bahwa beliau
adalah Khaatamul Anbiya dan lebih tinggi dari semua
makhluk"....(Ahmad, Kishti-i-Nuh, 1902:15).
e. "Saya katakan dengan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai
dengan ular berbisa dan serigala buas, tetapi kami tak dapat
berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji
terhadap Nabi Muhammad yang kami cintai, orang yang lebih kami
hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami"....(Ahamd,
Paigham-i-Sulh, 1908:30).
f. "Sekiranya orang-orang ini membantai anak-anak kami dimuka kami
dan mencincang apa-apa yang kami kasihi sampai berkeping-keping dan
membuat kami mati dengan hina dan malu dan merampas semua harta dunia
kami, maka demi Tuhan semua itu tidak akan begitu menyakitkan hati
kmai seperti yang kamim alami atas cacian dan hinaan yang dilancarkan
kepada nabi kami Muhammad SAW"..(Ahmad, Aina Kamalat-i-Islam,
1893:52).
Sesudah adanya pernyataan yang sungguh-sungguh dan tandas di atas
timbul pertanyaan: Kenabian macam apakah yang didakwakan oleh Pendiri
Jemaat Ahmadiyah untuk dirinya? Adakah pernah macam kenabian itu
disebutkan dalam tulisan-tulisan ulama-ulama Islam masa lampau, dalam
hubungan dengan Pembaharu yang dijanjikan yang akan diangkat dari
antara orang-orang Islam? Jika tulisan ulama-ulama Islam tempo dulu
dengan tegas menyatakan kemungkinan adanya macam kenabian itu, maka
mengapa ulama-ulama masa sekarang menfatwakan Pendiri Jemaat
Ahamdiyah sebagai kafir oleh karena pendakwaan ats macam kenabian
itu?
Perlu dicatat bahwa Pendiri Jemaat Ahmadiyah tidka mendakwakan macam
kenabian yang dipercayai masyarakat ramai dan ulama-ulama.Menurut
mereka seorang Nabi tidak pengikut dari nabi sebelumnya , bahwa ia
mencapai kenabian itu tidak karena taat dan mengikuti nabi lain,
tetpai bahwa ia menjadi nabi karena dirinya sendiri dan bukan menjadi
pengikut dari seorang nabi lainnya.
Pendiri Jemaat Ahmadiyah dengan tandas menolak kepercayaan itu. Ia
berkata : "Lembaga kenabian telah tertutup , kecuali melalui dan
didalam Nabi Muhammad SAW. 'Nabi pembawa syariat tidak mungkin lagi
datang'. Seorang nabi tanpa syariat baru bisa datang, tetapi lebih
dahulu ia harus seorang Ummati, yakni seorang pengikut Nabi Muhammad
SAW.".......(Ahmad, Tajalliyat-i Ilahiyah, 1906:20).
Jika demikian apa hubungannya pendiri Jemaat Ahmadiyah dengan
junjungan dan Penghulunya, junjungan dan Penghulu kita semua, Nabi
Muhammad SAW? Pendiri Jemaat Ahmadiyah secara terperinci menerangkan
bahwa kedudukannya dalam hubungan dengan Nabi Muhammad SAW adalah
sebagi "khadim" dan hamba yang lemah dan rendah terhadap majikannya.
Beliau berkata; "Hamba yang hina ini mendapat kehormatan juga untuk
menjadi salah seorang dari hamba-hamba yang hina dari Nabi Agung itu
yang menjadi Penghulu Nabi-nabi dan Raja Rasul-rasul."...(Ahmad,
Barahin Ahmadiyah, 1884:572).
Berulang-ulang beliau menegaskan bahwa beliau bukan nabi pembawa
syariat dan beliau adalah pengikut Al-Qur'an Suci. Benar beliau
adalah Mahdi dan Masih yang dijanjikan tetapi beliau bukanlah nabi
yang berdiri sendiri. Beliau adalah seorang khadim yang hina dari
Rasulullah SAW dan ummati dan telah diangkat untuk menyempurnakan
janji-janji nubuwatan-nubuwatan beliau SAW. Lebih lanjut beliau
berkata: "Sesudah Nabi Muhammad SAW tidak boleh lagi mengenakan
istilah "Nabi" kepada seseorang, kecuali bila ia lebih dahulu menjadi
seorang ummati dan pengikut Nabi Muhammad SAW. ".......(Ahmad,
Tajalliyat-i-Ilahiyah, 1906:9).
..........bersambung
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 9:00 am

AHMADIYAH, PENDIRINYA DAN AJARANNYA.....5)

Hal ini berarti bahwa tiap karunia yang diterima beliau telah
menjadikan beliau mendapat kehormatan untuk mengikuti Nabi Muhammad
SAW. Beliau mendapat karunia Tuhan, bukanlah secara berdiri sendiri.
"Suatu ketinggian, suatu keistimewaan, suatu kehormatan, suatu
persatuan dengan Tuhan tak akan dapat dicapai kecuali dengan
pengabdian sesempurna-sempurnanya kepada Nabi Muhamammad SAW. Apa
juga yang kita terima adalah karena beliau dan dari
beliau."..............(Ahmad, Izala-i-Auham, 1891:138).
"Semua pintu kenabian telah tertutup kecuali pintu penyerahan
seluruhnya kepada Nabi Muhammad SAW dan pintu fana seluruhnya ke
dalam beliau"....(Ahmad, Ek Ghalti ka Izala, 1901:3). "Saya mendapat
karunia ini begitu sempurna bukanlah tersebab sesuatu jasa saya
sendiri, tetapi hanya karena rahmat Allah. Karunia itu ialah yang
telah dianugerahkan kepada Nabi-nabi, Rasul-rasul dan orang-orang
pilihan Tuhan, yakni sebelum saya. Hal itu tak akan mungkin saya
capai sekiranya saya tidak mengikuti junjungan dan Penghulu saya,
kebanggaan nabi-nabi dan yang paling sempurna dari mereka, Nabi
Muhammad SAW. Apa juga yang saya terima, hal itu adalah karena
penyerahan diri saya kepada beliau. Saya yakin sepenuh-penuhnya dan
sebesar-besarnya bahwa tak seorangpun akan mencapai kedekatan dengan
Tuhan dan memperoleh ilmu-nya yang sejati , kecuali dengan mengikuti
Rasulullah SAW.".....(Ahmad, Haqiqatul Wahyu, 1907:62).
"Tuhan yang mengetahui rahasia hati beliau SAW, meninggikan beliau
diatas semua Nabi-Nabi, yang mendahului beliau dan mereka yang akan
mengikuti beliau. Allah memenuhi semua keinginan beliau dalam masa
hidup beliau. Sesungguhnya beliau adalah mata air dari sesuatu yang
baik. Seorang yang mengatakan memperoleh kesempurnaan tanpa mengakui
berhutang budi kepada beliau, bukanlah seorang manusia melainkan
setan, karena hanya beliau saja yang dikaruniai kunci kepada segala
kesempurnaan. Dan memang beliau telah dianugerahi khazanah ilmu
pengetahuan Ilahi. Orang yang tidak menerima apa-apa dari beliau,
tidak akan menerima apa-apa dari seseorang lainnya. Jika terpisah
dari beliau, saya tak berarti apa-apa, sama sekali tak apa-apa. Kita
sama sekali berada di puncak kedurhakaan bila kita tidak mengakui
beliau, bahwa hanya melalui Nabi Muhammad SAW saja kita memperoleh
pengetahuan yang sebenarnya tentang tauhid Tuhan Yang Maha Esa.
Sebenarnya adalah dengan perantaraan beliau dan melalui cahaya
kesempurnaan beliau kita memperoleh kesadaran tentang Tuhan Yang
Hidup"......(Ahmad, Haqiqtul Wahyi, 1907:116).
"Saya tak dapat berbuat lain selain mengulangi dan menyatakan dengan
nyaring bahwa kecintaan sejati kepada Al-Qur'an suci dan Nabi
Muhammad SAW serta penyerahan sepenuhnya kepada beliau memungkinkan
seseorang untuk melakukan mukjizat dan bagi orang semacam itu terbuka
pintu menuju pengetahuan yang tersembunyi. Seorang pengikut agama
lain tak akan dapat bertanding melawannya dalam persoalan kerohanian.
Kebetulan saya mempunyai pengetahuan tangan pertama tentang
keajaiban ini. Saya naik saksi bahwa kecuali Islam , semua agama lain
sudah renta, Tuhannya telah mati dan pengikut-pengikutnya hanya
tinggal bangkai. Sama sekali tak mungkin, saya ulangi lagi tak
mungkin untuk mengadakan hubungan yang hidup dengan Tuhan, kecuali
jika orang menerima Islam".....(Ahmad, Zamima Anjam-i-Atham,
1897:61-62).
Pendiri Jemaat Ahmadiyah menunjukkan berulang-ulang bahwa beliau
tidak tidak mempunyai kedudukan yang berdiri sendiri, dan bukanlah
seorang nabi yang berdiri sendiri. Beliau hanya nabi dalam arti bahwa
beliau tidak membawa syari'at baru dan beliau diserahi tugas untuk
menegakkan kembali dan memperkuat hukum sempurna yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau juga menyatakan bahwa oleh karena
beliau seorang hamba yang hina dari Muhammad SAW beliau telah
dikaruniai dua senjata yang sangat ampuh untuk mewujudkan rencana
luhur ini. Senjata-senjata ini pada satu pihak adalah dalil-dalil
yang rasionil dan objektif dan pada pihak lain ialah tanda-tanda
langit dan itu sesungguhnya adalah karunia Tuhan dan telah
dianugerahkanNya untuk menunjang agamaNya yang terpilih.
Ketika menguraikan kemajuan Islam di Afrika Barat, "Cecil Northcatt"
berkata: "Sierra Leone adalah tanah pilihan di Afrika Barat untuk
orang-orang Muslim Ahmadiyah yang membuat kubu pertahanan mereka
dalam negara kecil ini dengan pengendalian kuat dari Pakistan".
Tentang misi kedokteran dan sekolah-sekolah ia berkata: "Jemaat
Ahmadiayh menyatakan bahwa menafsirkan Islam dalm
pengertian-pengertian modern dan menjawab tantangan dari agama
Kristen. Jemaat itu kini sedang meencanakan akan mendirikan suatu
missi kedokteran di Sierra Leonne, dan jumlah sekolahnya sedang
bertambah. Menurut penyelidikan resmi yang palingh baru, Islam maju
sepuluh kali lebih cepat dari Agama Kristen di Afrika
Barat".....(Pakistan Times, 11 Desember 1960, Sinar Islam nomor 11,
Nopember 1978, hal 9).
Seorang anggota terkemuka dari Missi Kristen di Nigeria, berkata"
"Mereka (orang-orang Islam) adalah masyarakat yang paling
terkebelakang kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, tetapi sejak kaum
Ahmadiyah memulai perjuangan mereka yang progressif maka terjadilah
perubahan-perubahan ajaib diantara mereka"...(Catholic Herald,
Nigeria, 19-8-1955, Sinar Islam Nopember 1978, hal 9).
Dalam pendahuluan terjemahan Al-Qur'an Suci oleh Asyraf Ali Thantawi
peristiwa ajaib itu itu dibicarakan pula dalam kata-kata berikut:
"Dalam periode ini Uskup Lefroy meningalkan Eropa dengan disertai
satu regu besar Misionaris Kristen dan ia bersumpah bahwa dalam saat
pendek ia akan memasukkan penduduk anak benua India kedalam agama
Kristen. Dengan dibekali bantuan uang yang besar sekali dan
janji-janji bantuan uang yang terus menerus , ia tiba di India dan
menimbulkan kegemparan besar. Ia melancarkan serangan dengan dalil
bahwa Yesus masih hidup dilangit dengan tubuh jasmaninya , sedangkan
nabi-nabi lainnya terkubur di tanah. Dalil-dalil itu tampaknya
effektif, justru disaat ini MIrza Ghulam Ahmad mengibarkan
panji-panji pertahanan Islam dan ia mengatakan kepada Uskup Lefroy
dan kawan-kawannya bahwa: "Isa al Masih sudah wafat dan telah
dikuburkan seperti makhluk-makhluk fana lainnya. Almasih yang akan
datang itu tak lain, tak bukan adalah saya. Kalau Tuan jujur , tuan
harus membenarkan saya"....Dengan strategi ini ia menyerang
pertahanan Uskup Lefroy begitu keras sehinga baginya tak mungkin
melepaskan diri sendri dari kedudukan yang sulit itu. Karena itu ia
menghalau seluruh missionaris Kristen dari India ke Eropa".....(Sinar
Islam, Nopember 1978, hal 10).
Pendiri Jemaat Ahmadiyah selanjutnya mengatakan bahwa oleh karena
beliau dibangkitkan untuk menegakkan kebenaran Islam dan kebenaran
Hazrat Khaatamul Anbiya dan untuk melancarkan dalil-dalil terhadap
semua agama yang tidak benar, Tuhan mewahyukan kepada beliau
kejadian-kejadian dimasa datang dan mengaruniakan tanda-tanda langit
kepada beliau , membukakan kepada beliau kabar-kabar tentang yang
ghaib. Keadaan ini dinamakan "kenabian" dalam bahasa Arab. Beliau
menambahkan: "Perkataan "nabi" adalah serupa dalam bahasa Arab dan
Ibrani. Dalam bahasa Ibrani perkataan itu diucapkan "naabi" yang
diambil dari "naba" yang berarti pemberian nubuwatan dari Tuhan.
Seorang nabi tidak harus membawa syariat . Keadaan ini adalah
anugerah Tuhan dengan dikabarkan peristiwa-peristiwa masa
datang."....(Ahmad. Ek Ghalti ka Izala, 1901:8).
bersambung.....
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 9:05 am

AHMADIYAH, PENDIRINYA DAN AJARANNYA.....6)

PENGAKUAN KENABIAN........
Sehari sebelum beliau wafat beliau menyatakan dalam tulisan beliau
sbb: "Tuduhan yang dilemparkan kepada saya ialah bahwa bentuk
kenabian yang saya akui buat diri saya menyebabkan saya keluar dari
Islam. Dengan perkataan lain saya dituduh mempercayai bahwa saya
adalah nabi yang berdiri sendiri, seorang nabi yang tak perlu
mengikuti Al-Qur'an Suci dan bahwa "kalimah" saya lain dan "qiblat"
saya berubah. Juga saya disangkaakn menghapus syariat dan memutuskan
tali kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tuduhan itu sama sekali
palsu. Suatu pengakuan kenabian seperti itu adalah "kufur", ini
jelas. Bukan hanya kini, tetapi sejak dari permulaan sekali saya
selalu mengemukakan dalam buku-buku saya , bahwa saya tidak mengakui
kenabian seperti itu untuk saya. Itu sama sekali adalah suatu tuduhan
kosong dan suatu cercaan terhadap saya. Keadaan sebenarnya hanyalah
ini, bila saya menyebutkan diri saya seorang nabi, saya maksudkan
hanya bahwa Allah SWT, berbicara dengan saya dan Dia bercakap-cakap
dengan saya dan menErima pengabdian saya dan mewahyukan kepada saya
hal-hal ghaib, dan membukakan kepada saya hal-hal ghaib dan
membukakan kepada saya rahasia-rahasi yang berhubungan dengan masa
datang dan yang tidak akan Dia bukakan kepada seseorang yang tidak
Dia cintai dan dekat kepadaNya. Sesungguhnya Dia mengangkat saya
sebagi Nabi dalam arti itu."......(Ahmad, Akhbar-i-Am, 26 Mei 1908:7;
juga Tabligh-i-Risalat, t.t.: 132-134).
Bentuk kenabian yang diakui Pendiri Jemaat Jemaat Ahmadiyah untuk
diri beliau juga disebutkan dalam tulisan-tulisan Ulama-Ulama
terdahulu. Nabi Muhammad SAW sendiri menyebutkan Al-Masih yang
dijanjikan sebagai "nabi Allah" , sekurang-kurangnya empat kali . Ini
diriwayatkan melalui Nawas bin Sam'an dalam Sahih Muslim, salah satu
kumpulan hadits-hadist yang paling sahih. (Lihat Shahih Muslim, jilid
II, cetakan Mesir).
Ahli Hadits, Imam Ahlu Sunnah, Al-Imam Ali Alqari (wafat 1014 H/1606)
berkata: "Meskipun begitu kalau Ibrahim (putera Nabi Muhammad SAW)
hidup dan diangkat sebagai nabi, juga sekiranya Umar (Umar ibn
Khaththab) menjadi Nabi , tentu keduanya beliau akan (tetap) menjadi
pengikut Nabi SAW, seperti Isa, Khidir dan Ilyas.... maka ini tidak
bertentangan dengan firman Tuhan "Khaatamun Nabiyyin" karena
khaatamannabiyyin" berarti bahwa sesudah Nabi Muhammad SAW tidak akan
ada datang seorang nabi yang akan menghapus syari'at beliau dan tidak
akan menjadi ummati dan pengikut beliau".....(Ali Alqari, Maudhuat
Kabir, t.t. 69).
Dalam sebuah penerbitan Muhammadiyah dinyatakan sbb: "Tentang
kedatangan tuan Jesoes kedunia kembali, memang rata-rata kaoem
Moeslimin mempertjajainja . Hal kepertjajaan Moeslimin tentang
kedatangan Jesoes kedoenia lagi itoe demikianlah : Sungguh Baginda
Nabi Isa (Jesoes Kristoes) itu akan toeroen ke doenia lagi pada achir
zaman dan beliaoe itoe menghoekoemi dengan sjariat nabi kita
Moehammad SAW, tidak dengan sjariatnya karena sjariat Jesoes itoe
telah terhapoes sebab soedah laloenja waktoe jang sesoeai oentoek
mendjalankannya. Maka kedatangan Jesoes itoe nanti mendjadi sebagai
chalifah ataoe pengganti Nabi kita, di dalam mendjalankan sjariat
Baginda nabi SAW pada ini oemat" ....(Windon Nomer "Mutiara" terbitan
madjlis H.B. Moehammadiyah, Taman Pustaka , Pebruari 1940/Moeharram
1359 Th. ke IX hal 32-34).
Dari kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah terbesar di Indonesia ,
Nahdatul Ulama berpendirian bahwa: "Kita wajib berkeyakinan bahwa
nabi Isa a.s. akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai
"nabi" dan "rasul" yang melaksanakan syari'at Nabi Muhammad SAW ,
sebagai Nabi terakhir, sebab Nabi Isa hanya akan melaksanakan syariat
Nabi Muhamamd SAW. Sedang madzhab yang empat pada waktu itu hapus,
sebab Isda lebih berhak melakukan ijtihad".......(Ahkam-al-Fukaha I,
1960:35). Bahkan Nahdatul Ulama juga berpedirian bahwa Nabi 'Isa
nanti akan mendapat wahyu melalui malaikat Jibril : " Bahwa 'isa a.s.
akan mendapat wahyu menurut syariat Nabi Muhammad SAW, melalui
malaikat Jibril"....(Ibid).
Ulama besar dan pendiri 'Ulum Deobandi, India, Maulana Muhammad Qasim
nanutvee (lahir 1248 H/ 1833M, wafat 1297 H/ 1880 M) telah menulis;
"Taruhlah seorang Nabi diutus sesudah Nabi Muhammad SAW, maka hal itu
sedikitpun tidakl menyinggung "khaatamiyah" dari Nabi Muhamamad
SAW".........(Tahzirunnas, Kharikhwah Sarkar Press, Sharanpur, hal
25, dikutip dari Majalah Sinar Islam Nopember 1978). Demikianlah
sekedar pendirian para 'Ulama dan kalangan ummat isalm yang dapat
diketengahkan , yang tentunya tidak begitu saja berpendapat tanpa
landasan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya.
Dari kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, antara lain Prof. Drs. KH
hasbullah Bakry SH, menyatakan bahwa: "Menurut pendapat saya adalah
suatu kesalahan yang amat besar telah dilakukan oleh Majlis Ulama
kita baru-baru ini tanpa mendengar dahulu pendapat ulama lain,
menyatakan "Ahmadiyah bukan Islam" (hal ini pasti bertentangan dengan
ayat Al-Qur'an Annisa:94, yang mencegah kita mengjapfirkan sesama
Islam). Kalau kita tidak boleh mengkafirkan golongan Syi'ah, begitu
juga kita tidak boleh mengkafirkan golongan Ahmadiyah, sebab mereka
tetap masih mengaku Islam dengan iman Islam. Kiranya para Ulama di
Indonesia dapagt menempatkan posisinya yang benar dalam membangun
Bangsa dan Negara, Amien.... (Majalah Kiblat , nomor 16/XXVII tahun
1984, hal 26).
..........bersambung

User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 9:09 am

AHMADIYAH, PENDIRINYA DAN AJARANNYA.....7)

Terhadap sebahagian Ulama yang "suka" mengkafirkan orang-orang Islam
yang tidak sepaham dengan mereka, nampaknya awal-awal telah mendapat
sentilan dari Sufi Besar Muhyiddin ibnu Arabi: "Bila Imam Mahdi
muncul, tak ada orang yang lebih menentang dari pada yang dinamakan
kaum "fuqaha", karena mereka kuatir akan kehilangan kedudukan dan
sikap mereka tidak bisa dibedakan dari masyarakat
awam".....(Al-Futuhat al Makkiyah III , hal 374).
Adalah pantas untuk direnungkan bahwa sejauh yang bersangkutan
dengan pernyataan "kufur" tak ada satu mazhabpun yang terhindar dari
tuduhan tersebut. Sebagaimana ditunjukkan oleh "Laporan Penyelidikan
Munir", yaitu laporan Hakim Munir tentang keributan di Punjab,
Pakistan pada tahun 1953. Bahwa kalau seorang akan menuruti tuduhan
kafir itu maka tak seorang pun yang akan dapat dinamakan lagi Muslim.
Ini adalah akibat diabaikannya oleh sebahagian besar Ulama-Ulama
Islam tuntutan yang diketengahkan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi:
"Seorang yang bersalat sebagai yang kita lakukan, menghadap ke arah
kiblat, memakan apa yang kita sembelih, adalah seorang Islam yang
berada dalam lindungan Allah dan RasulNya. Karena itu, janganlah kamu
membuat malu Allah berkenaan dengan perjanjiannya".....(Shahih
Bukhari, Kitab Ash-Shalah, bab Fadhlu istiqbal al Qiblah, I: hal 56).
Untuk melengkapi uraian ini, berikut diketengahkan kepercayaan
penting yang dianut Ahmadiyah.
Pertama, Ahmadiyah menyakini sepenuhnya Allah itu Esa, tidak ada
sekutu bagiNya. Esa (tunggal) dalam DzatNya, dalam sifat dan dalam
perbuatanNya. Penyembahan yang ditujukan kepada-Nya (ibadat) juga
tidak ada yang menyamai kedudukanNya. Ahmadiyah meyakini bahwa
DzatNya, sifatNya dan perbuatan (fi'il)Nya , serta dalam ibadat
kepadaNya tidak boleh dipersekutukan dengan apapun juga.
Kedua, Ahmadiyah mempercayai bahwa Kalam Ilahi sejak alam semesta ini
Dia jadikan , Sifat Allah Yang Mutakallim (berbicara dengan
hamba-hambanya) senantiasa hidup , tidak pernah terhenti pada masa
apapun juga. Oleh karena itulah Ahmadiyah mempercayai semua KitabNya,
semua wahyuNya. Ahmadiyah mempercayai Kalam Ilahi yang diturunkan
dalam bahasa apa saja dan didaerah , wilayah atau negeri apa saja.
Dalam hubungan itu Ahmadiyah meyakini bahwa Qur'an suci adalah
syari'at terakhir, sempurna dan lengkap lagi paripurna. Dia adalah
syariat bagi seluruh ummat manusia berlaku selama dunia dan
penghuninya masih ada. Kitab Suci Al-Qur'an inilah yang diyakini oleh
orang-orang Ahmadi sebagai satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan
manusia kepada Ilahi, Tuhan Yang menciptakannya. Didalam Kitab Suci
Al-Qur'an pula semua kebenaran dalam bentuknya yang sempurna yang
terdapat di dalam Kitab-Kitab Taurat, Zabur, Injil, dan sebagainya
tercakup. Ahmadiyah juga meyakini pula bahwa Qur'an Suci adalah Kitab
yang diatur tertib dan tersusun baik sebagai layaknya.Dalam Al-Qur'an
tak ada sepotong ayatpun yang mansukh atu dimansukhkan (dibatalkan).
Seluruh isinya adalah syariat yang muhkam, bahasanya adalah bahasa
Arab yang menjadi induk semua bahasa dunia. Semua Kitab Suci yang
turun sebelum Qur'an telah dihapuskan dan tidak berlaku lagi.
Kebalikannya sesudahnya tak ada dan tak akan ada satu Kitabpun
apapun yang akan menghapuskan (memansukhkan) Kitab Suci Al-Qur'an
itu.
Ketiga, setiap orang Ahmadiyah (Ahmadi) meyakini dan beriman kepada
semua nabi-nabi, yang pernah ditus Tuhan kepada suatu kaum dan bangsa
tertentu. Dalam kepercayaan Ahmadiyah sesuai dengan ajaran Al-Qur'an
, Allah SWT mengutus utusanNya dalam tiap-tiap ummat dan kaum.
Ahmadiyah mempercayai semua Nabi itu benar, suci dan mashum, yaitu
tidak melanggar hukum Tuhan dan tidak berbuat dosa. Dalam
kepercayaan Ahmadiyah junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW adalah
pemimpin semua Nabi dan beliau adalah yang "paling mulia dan paling
afdhal" diantara para utusan Tuhan dan semua manusia ini. Kedatangan
beliau adalah untuk seluruh ummat manusia dan semua masa dan waktu
serta misi beliau akan berlanjut terus sampai hari kiamat. Martabat
beliau jauh lebih luhur dan mulia dari semua nabi. Beliau selalu
"hidup". Oleh karena itu, maka beliau dinamakan "khaatamannabiyin".
Semua nabi memperoleh nikmat rohaniah karena beliau. Baik dimasa lalu
ataupun dimasa yang akan datang datang Ahmadiyah mempercayai bahwa
orang yang memisahkan diri dari beliau dan ummatNya, dan Kitab Suci
Al-Qur'an , dan kalau ada yang mendakwakan diri memperoleh nikmat
rohaniah tanpa mengikut beliau SAW , dia adalah pendusta, lancang dan
pembohong. Ahmadiyah mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai "Sayyidul
Mashumin" (pemimpin dari semua orang suci tak berdosa), meyakini
bahwa beliau adalah jalan dan sebab untuk memperoleh nikmat rohani,
kebajikan dan berkat Ilahi.
Keempat, Ahmadiyah mempercayai Malaikat. Malaikat sebagai ciptaan
Tuhan yang mashum, tidak berdosa. Malaikat sebagai alat melaksanakan
semua perintah Allah. Malaikat tidak dapat berbuat dosa. Malaikat
pengantar Kalam Ilahi, dahulu maupun sekarang, turun kepada
orang-orang (hamba) suci, memberikan piagam "thumanina ilahi".
Kelima, Ahmadiyah mempercayai bahwa hari Qiamat adalah "hak" dan
kebenaran "Hasyar dan Nasyar" tepat dan benar. Surga dan Neraka juga
"hak". Sesudah mati setiap insan akan memperoleh ganjaran atau
siksaan sesuai dengan amal perbuatannya. Menurut kepercayaan
Ahmadiyah surga adalah kekal abadi yang tak kenal henti atu putus.
Kebalikannya neraka adalah tempat menghukum orang berdosa, guna
memperbaiki dan meluruskan mereka yang harus dihukum. Allah SWT
adalah "Arhamur-Rahimin" paling pengasih dan paling penyayang.
Ahmadiyah mempercayai sesudah penghuni Neraka itu menjalankan
hukumnya dan mereka telah menjadi lurus mereka juga dimasukkan
kedalam surga. Tuhan sendiri berfirman. "Wa rahmati wasi'at kulla
syaiin", bahwa rahmat Ilahi itu meliputi segala yang ada termasuk
Neraka. Rahmat Ilahi itu harus terwujud, nyata dan terbukti.
Berdasarkan kepercayaan dasar Ahmadiyah kami meyakini bahwa
kepercayaan tersebut adalah selaras dengan petunjuk dan kemauan
Qur'an sepenuhnya. Ahmadiyah meyakini, bahwa penyimpangan sehelai
rambutpun dari petunjuk Al-Qur'an adalah penyelewengan yang tak dapat
dibenarkan. Kepercayaan terhadap ajaran Qur'an itu dipegang teguh
oleh Ahmadiyah, merupakan pegangan utama dalam semua soal dan
mengenai semua masalah. Qur'an adalah pedoman hidup di didunia
akhirat dalam keyakinan Ahmadiyah.....(Al-Bushra, 1970:15).
Sepanjang yang berhubungan denga tauhid ajaran Qur'an sepanjang
kepercayaan Ahmadiyah diamalkan sebagai kegiatan hidup beragama,
orang-orang Ahmadi tidak bersujud kepada siapapun kecuali kepada
Allah Yang Esa dan Tunggal itu. Tidak bersujud kepada kuburan dan
tidak pula kepada sesama manusia, dan juga Ulama-Ulama. Orang-orang
Ahmadiyah hanya mengenal "Al -Hayyul-Qayyum", Allah yang berdiri
sendiriNya, Tuhan semesta alam "Rabbul 'alamiin" dalam arti yang
sebenarnya.
bersambung.....

User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 9:11 am

AHMADIYAH, PENDIRINYA DAN AJARANNYA.....8)

BEBERAPA PERBEDAAN......
Menurut orang-orang Ahmadi, yang menjadikan Al-Qur'an sebagai
referensi mereka bahwa Nabi Isa a.s. yang diutus kepada Bani Israil
600 tahun sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW telah mati secara
wajar. Sama dengan nabi-nabi yang lainnya sebelum beliau SAW juga
telah berpulang kerahmatullah...(QS. 3:143). Kepercayaan seolah-olah
Isa al Masih a.s. masih hidup dilangit itu sebagaimana yang diyakini
oleh kebanyakan Ulama-Ulama Islam dianggap oleh orang-orang Ahmadi
bertentangan dengan dengan Tauhid Ilahi. Mempercayai Nabi Isa a.s.
hidup sejak 2000 tahun yang lampau diatas langit dengan jasad
kasarnya dipandang bertentangan dengan "Keesaan Tuhan". Oleh sebab
itu orang-orang Ahmadi mempecayai Isa al Masih a.s telah wafat
seperti manusia lainnya juga telah wafat.
Kepercayaan ini ini berdasarkan bukti-bukti nyata dari Al-Qur'an.
Dalam kepercayaan orang-orang Ahmadi , sesudah Dzat suci Allah SWT,
diantara semua Nabi dan Rasul , insan yang paling bermartabat luhur
dan mulia adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Menurut pengertian
Ahmadiyah kepercayaan terhadap kehidupan Isa al Masih secara luar
biasa itu adalah kepercayaan kaum Nasrani yang kemudian diadopsi dan
dianut sebahagian orang Islam sebagai kepercayaannya. Kepercayaan ini
jelas bertentangan pula dengan dengan keluhuran dan kemuliaan
Rasulullah SAW. Oleh sebab itulah maka orang-orang Ahmadi tidak
keberatan kalau dikatakan bersikeras terhadap kematian Isa al Masih
itu, dan senantiasa berusaha meyakinkan semua orang terhadap kematian
Nabi yang ditus kepada Bani Israel itu. Ini adalah merupakan salah
satu kepercayaan yang membedakan orang-orang Ahmadi dengan dengan
orang-orang Islam lainnya.....(lihat Al-Qaul Ash Sharih, 1960:12).
Hal lainnya yang membedakan orang-orang Ahmadi dalam kepercayaannya
dari orang-orang Islam lainnya ilah masalah "nasikh dan mansukh".
Kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan kalngan Syi'ah menganut paham
nasikh mansukh. Kalau mereka berbeda, hanya dalam masalah banyaknya
ayat yang dimansukhkan. Ada yang mengakui lima ratus ayat yang
mansukh, ada yang yang mengakui dua ratus, dan ada yang kurang dari
itu. Ahmadiyah dalam hal ini berpendapat bahwa tak sebuah ayatpun
yang mansukh, bahkan satu kata atau satu hurufpun tak ada yang
mansukh. Seluruh isi Al-Qur'an untuk sempurna dan tak ada yang
"dimansukhkan".
Seperti telah disebutkan diatas, orang-orang Ahmadi mempercayai bahwa
Rasulullah SAW itu adalah satu-satunya wujud suci yang menjadi jalan
dan sumber kelimpahan nikmat rohani yang berkelanjutan. Kepercyaan
ini didasarkan kepada Kitab Suci Al-Qur'an... (lihat QS. 4:69).
Berdasarkan ayat diatas dan ayat-lainnya , maka Ahmadiyah mempercayai
bahwa dengan pengikutan sempurna kepada Rasulullah SAW, dengan
karunia dan "fadhl" Allah maka, didalam ummat Muhammad SAW,
orang-orang Islam dapat menjadi "nabi ummati", "orang-orang shiddiq"
(benar dan membenarkan Allah dan RasulNya), "orang-orang syahid" dan
juga wali-wali atau "orang-orang saleh" dan baik-baik. Kepercayaan
orang-orang Ahmadi ialah dengan pengikutan sempurna kepada Nabi
Muhammad SAW yang "hidup" itu dengan pengikutan sempurna kepada
Al-Qur'an, Kalam Ilahi yang penuh kehidupan dan kasih sayang itu
senantiasa dapat turun dan ini berlangsyung terus sampai hari
kiamat...(QS. 4:69).
Setelah wafatnya Rasulullah SAW dalam hubungannya dengan masalah
"khilafah" antara kalangan "Sunni" dan "Syi'ah" terdapat pertentangan
yang sengit . Kalangan Sunni menerima dan mengakui susunan para
"Khalifah Rasyidin" yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kalangan
Syi'ah dalam hal ini hanya mengakui Ali r.a.sebagai khalifah yang tak
terputuskan dan yang benar. Sedangkan para khalifah yang lain
(naudzubillah) bukan khalifah dan bukan pula orang mukmin dalam arti
sebenarnya.
Berkenaan dengan para Khalifah Rasyidin r.a., Ahmadiyah mempercayai
mereka semuanya sebagai khalifah yang benar, keempat-empatnya benar,
suci dan memiliki kebajikan. Mengenai para "Ulama-Rabbani" , para
Imam, terutama yang berjasa kepada Islam, pendirian Ahmadiyah ialah
meghormati mereka. Khusus para Imam dan Ulama rabbani baik dari
kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah maupun dari kalangan Syi'ah , bagi
Ahmadiyah menghormati mereka adalah satu "syi'ar" yang diutamakan.
Mengenai masalah fikih, pendirian kalangan Sunni berbeda dengan
kalangan Syi'ah sampai kepada masalah penting seperti masalah
halal-haram, keduanya mempunyai pandangan yang berlainan. Dalam
pegangan dasar urusan ibadah, antara keduanya juga terdapat perbedaan
yang menonjol . Dalam urusan shalat, adzan, wuduk, antara kedua
kalangan ini juga terjadi perbedaandapat menyolok. Dalam masalah
fikih Ahmadiyah berpendirian bahwa harus mengutamakan Al-Qur'an
dahulu diatas segalanya, karena ia sebagai landasan dasar, sesudah
itu Sunnah Rasul menempati urutan kedua, baru kemudian Hadits Nabi.
Sesudah itu barulah para fukaha meletakkan dasar ijtihad dan ijmak
yang bertitik tolak dari ketiga sumber diatas.
Dalam hal urusan "juziyyat", Ahmadiyah mengamalkan fikih Imam Hanafi.
Akan tetapi masalah-masalah baru yang timbul pada suatu kondisi atau
keadaan, maka dengan dasar petunjuk-petunjuk Pendiri Jemaat
Ahmadiyah, dimanfaatkan sebaik-baiknya hukum fikih dari semua imam
dan semua golongan dalam Islam , guna memecahkan semua persoalan,
mengadakan ijtihad. Dengan demikian Ahmadiyah mengganggap pintu
ijtihad itu tetap terbuka bagi 'alim ulama Ahmadiyah.....(Al-Busyra,
Juni 1970:5).
Mengenai tafsiran Al-Qur'an dan cara penafsirannya Ahmadiyah
mempunyai pandangan dan pendirian sebagai berikut:
Pertama, memberikan tafsir dengan berpedoman kepada Al-Qur'an
sendiri, dimana ayat Al-Qur'an yang satu ditafsirkan dengan ayat
Al-Qur'an yang lain. Dengan pengertian petunjuk "Al-Qur'an yufassiru
nafsahu", yaitu suatu bagian Al-Qur'an menafsirkan bagian yang
lainnya.
Kedua, tafsir itu berdasarkan pedoman Sunnah Rasulullah SAW, dimana
Imam Syafi'i berkata: "Segala yang dihukumkan kepada Rasulullah SAW
itu semuanya adalah dari apa yang dipahami beliau dari Al-Qur'an.
Ringkasnya, Imam Syafi'i dalam "Ar-Risalah" menyatakan bahwa sunnah
itu menjadi keterangan yang menjelaskan ayat-ayat yang "mujmal", maka
sunnah menjadi "bayan takhsis" , keterangan yang menentukan sesuatu
dari yang umum.
Ketiga, berpedoman kepada Hadits-Hadist Nabi Muhammad SAW, yang
banyak membantu dan memahami makna dan tujuan tiap-tiap ayat
Al-Quran. dengan sendirinya, Hadist Nabi Muhammad SAW itu tidak
bertentangan dengan Al-Qur'an dan tidak pula bertentangan dengan
sunnah atau amal perbuatan beliau SAW.
Keempat, berpedoman kepada "lughah" yaitu bahasa Arab, bahasa Kitab
Suci Al-Qur'an sendiri. Untuk itu orang-orang Ahmadi sedapatnya
mempelajari masalah ini sampai kepada akar-akar bahasa, terutama
manakala terbentur pada soal-soal pelik yang memerlukan ketelitian
dan kejelian.
Kelima, berpedoman kepada akal, salah satu "ni'mah" Allah yang
penting dan diperlukan untuk menghadapi segala masalah. Akal adalah
anugerah Allah yang di dalam Al-Qur'an sendiri diakui bahkan
diajurkan untuk dimanfaatkan. Allah berulangkali menyebutkan dalam
Al-Qur'an seperti "afala ta'qilun, afala tatafakkarun", apakah kamu
tidak memanfaatkan akal dan fikiran?
Dalam tafsir Ahmadiyah tidak terdapat kisah-kisah kosong
"Israiliyat", atau dongeng-dongeng yang bertentangan dengan kesucian
dan kemurnian Al-Qur'an sendiri, tidak akan didapat hal-hal yang
menyinggung kehormatan para Nabi, para malaikat, apalagvi kesucian
dan keluhuran Allah SWT dan para RasulNya. Bahwa tafsir Ahmadiyah
dapat diterima baik oleh para ahli, sarjana dan cerdik pandai Muslim
dapat dibuktikan dengan dipergunakannya tafsir Ahmadiyah itu oleh
para sarjana dan Ulama yang menafsirkan Al-Qur'an dalam Panitia
Penterjemah Al-Qur'an yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI.
Demikian juga oleh para cendekiawan dinegara-negara lain.
bersambung ....
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Oct 07, 2005 9:14 am

AHMADIYAH, PENDIRINYA DAN AJARANNYA.....9(Habis)

Dapat ditambahkan disini bahwa di Mesir juga karya-karya Ahmadiyah itu
mendapat sambutan dan pujian. Ahmadiyah juga menyebarkan Al-Qur'an
kedalam berbagai bahasa dunia. Dalam hubungan karya Ahmadiyah yang
mempersembahkan Al-Qur'an kedalam Bahasa Jerman, berkala Perguruan
Tinggi Al-Azhar di kairo, yang paling terkenal memberikan sambutan dan
ulasan yang cukup menarik . Sambutan dan ulasan itu dikemukakan oleh Dr.
Muhammad Abdul Wahab, Direktur Istitut Urusan Agama yang disiarkan dalam
majalah "Majalatul Azhar" terbitan Pebruari 1959.
Baik pula dikemukakan bahwa orang-orang Ahmadi menganut satu kepercayaan
pokok, bahwa segala kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran Tauhid
atu kepercyaan yang dapat menyentuh kehormatan dan nama baik Rasulullah
SAW, oleh mereka tidak diterima dan tidak mungkin dianut dikarenakan
dasar akidah orang-orang Ahmadi adalah tauhid Allah yang murni dan
keagungan serta kemuliaan Rasulullah SAW.
Semua orang Islam sepakat bahwa Rasulullah SAW adalah
"khaatamannabiyyin" , karena memang Allah yang menamakan beliau
demikian. Namun mengenai makna dan pengertian 'khaatamannabyiin" beserta
tafsirnya terdapat perbedaan antara Ahmadiyah dan Ulama-Ulama Islam
lainnya. Ahmadiyah memandang Rasulullah SAW sebagai "khaatamannabiyyin"
dengan kedudukan paling luhur dan afdal dalam segala hal. Ahmadiyah
tidak melihat suatu kelebihan dalam arti "penutup nabi-nabi" atau "nabi
penutup" atau nabi penghabisan dari segi masa dan waktu sebagimana yang
umumnya ditafsirkan oleh sebahagian besar kaum Muslimin dewasa ini.
Rasulullah SAW dipandang oleh orang-orang Ahmadi sebagai
"khaatamannabiyyin" dengan pengertian martabat yang paling luhur yang
beliau miliki itu melebihi siapapun juga......(lihat, Al-Qaulush Sharih,
1961: halaman 170).
Dari uraian-uraian terdahulu dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
berikut:
Pertama, dari kehidupannya yang lurus dan penuh cinta pada Islam,
pendiri Jemaat Ahmadiyah diakui oleh pengikutnya sebagai Al-Masih dan
Mahdi yang dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Muhammad SAW. Dan ini
diterima oleh orang-orang Ahmadi setelah Pendiri Jemaat Ahmadiyah
menyatakan pengakuannya sebagai Masih Mau'ud dan Imam Mahdi dengan
pangkat nabi yang tidak membawa syariat baru. Ia menjalankan syari'at
Islam yang dibawa oleh Nabi Muhamamd SAW.
Kedua, Pendiri Jemaat Ahmadiyah telah banyak berbuat untuk
mempertahankan kehormatan Islam dan Nabinya Muhammad SAW, diantaranya
nampak dari karya tulisnya yang banyak dan diakui oleh kalangan lain.
Ketiga, Nabi yang tidak membawa syari'at baru setelah Nabi Muhammad SAW
dapat terjadi dan ini bukan sekedar pendirian Ahmadiyah, tetapi juga
kalngan ummat Islam yang lain.
Keempat, Ahmadiyah berkeyakinan bahwa kepercayaannya adalah kepercayaan
Islam, berdasarkan Al-Qur'an , Ass-Sunnah dan Al-Hadits. Dan kemenangan
dan kebangkitan Islam akan terjadi melalui ilmu, akhlak karimah dan
secara damai.
Kelima, Perbedaan pemahaman dan penafsiran tentang masalah agama, tidak
perlu membawa ummat Islam saling mengkafirkan. Banyak petunjuk dari
Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW agar ummat Islam saling hormat
menghormati meskipun mepunyai pemahaman keagamaan yang berbeda.
Sampai jumpa pada kesempatan berikutnya.......
DAFTAR KEPUSTAKAAN:
1. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Barahin Ahmadiyah III, Al-Syarikah al
Islamiyah, Rabwah, Pakistan.
2. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Izalah-i-Auham II, Al-Syarikah al
Islamiyah, Rabwah, Pakistan.
3. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Aina Kamalati Islam II, Al-Syarikah al
Islamiyah, Rabwah, Pakistan.
4. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Maktubu Ahmad, Wakalah al Tabsyir li
al tahrik Jadid, Rabwah Pakistan 1959.
5. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Al-Istifta, Waklah al Tabsyir li
al-Tharik al-Jadid, Rabwah, Pakistan, 1956.
6. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Al-Masih al-Nashiri fi al-Hind (di
Arabkan oleh Mubarak Ahmad Malik) Waklah al-Tabshir li al-Tahrik
al-Jadid, Rabwah, Rabwah, Pakistan.
7. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Taqrir Wajib al-I'lan, Al-Nushrah,
Rabwah, Pakistan.
8. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Kishti-i-Nuh, Al-Nushrah, Rabwah,
Pakistan 1961.
9. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Hakiqiqat al Wahyi, al-Syarikah al
Islamiyah, Rabwah, Pakistan.
10. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Ek Ghalti Ka Izala, al-Nushrah,
Rabwah Pakistan 1951.
11. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Zamima Anjam-i-Atham, al-Nushrah,
Rabwah Pakistan.
12. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Tabligh-i-Risalat X, al-Nushrah,
Rabwah, Pakistan.
13. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Hamamah al-Bushra, al-Syarikah
al-Islamiyah, Rabwah, Pakistan.
14. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Al-Khutbah al Ilhamiyah, al-Tabshir,
Rabwah, Pakistan 1388.
15. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Perlunya Seorang Imam Zaman
(terjemahan Indonesia oleh R. Ahmad Anwar) Majlis Khudamul Ahmadiyah,
Ahmadiyah Indonesia, Jakarta.
16. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Falsafah al Ushul al Islamiyah
(terjemahan Arab oleh Munir al-Hishny al- Husaini), Ibn Zaidun,
Damaskus.
17. Ahmad, Hazrat Mirza Ghulam, Ajaranku, (terjemahan Indonesia oleh
R. Ahmad Anwar) Yayasan Wisma Damai, Bandung 1964.
18. Ahmad, Mirza Mubarak, Islam Dalam Derapan maju, (di Indonesiakan
oleh Mian Abdul Hayee HP), Yayasan Wisma Damai, Bandung.
19. Ahmad, Mirza Mubarak, Islam in Africa, Ahmadiyah Muslim Foreign
Missions Office, Rabwah, Pakistan 1962.
20. Ahmad, Mirza Bashir, Hayatu ahmad (terjemahan Arab oleh Mubarak
Ahmad Malik, al Tabshir, Rabwah, Pakistan.
21. Ali, A. Mukti, Alam Pikiran Modern di Indonesia, cet II, Yayasan
Nida Yogyakarta.
22. Ali, A. Mukti, Pemikiran Dialog antar Agama Departemen Agama RI.
23. Ali, A. Mukti, Ilmu Perbandingan Agma, Yayasan Nida Yogyakarta 1975.
24. Arabi, Muhyidin Ibnu, Al-futuhat al Makkiyah-II, Mushtofa
al-Babi al-Halaby, Mesir 1951.
25. Al-Khatib, Muhibbuddin, mengenal Pokok-poko Ajaran Syi'ah
Al-Imamiyah(Di Indonesiakan oleh Munawar Putera), PT Bina Ilmu
Surabaya 1984.
26. Al-Husaini, Munir al Hishny tt. Al-Maudududi fi al-Mizan, Damaskus.
27. Dard, A.R. 1948 Life of Ahmad, Founder of the Ahmadiyya Movement
part I, Nafees Printers 26, Patiala Ground Lahore.
28. Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan terjemahannya, juz 1-30,
Proyek Pengadaan kitab Suci Al-Qur'an, Jakarta 1978.
29. Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Al-Qur'an dengan Terjemah dan Tafsir
Singkat, jilid I, II dan II, Yayasan Wisma Damai, Bandung 1970.
30. Lubis, H.M. Arsyad Thalib, Imam Mahdi, Firma Islamiyah, Medan 1967.
31. Malik, Mubarak Ahmad, Ma Hiya al Ahmadiyah, fi al Raddi 'ala ma
Hiya al-Qadianiyah li Abi al Hasan al Nadwi, al-Bushra 30: 1970,
Rabwah.
32. Massignon, Louis, Wijhah al islam, Nazrah fi al Harakah al
hadistsah fi al'alam al Islami, (di Arabkan oleh Muhammad Abd.
Al-Hadi Abu Ridhah) al Mthba'ah al Islamiyah, Cairo.
33. Nahdatul 'Ulama, PB. Syuriyah, Ankam al Fuqaha fi Muqarrat
Mu'tamarat Nahdhah al Ulama, Juz I, Al-Idarah al Ulama, Jakarta.
34. Shahih Muslim II, Maba'ah Isa al babi al Halabi, Mesir.
35. Al Siyalkuti, Nasir Mubasysyir, Al-Qaul al Sharih fi Zuhur al
Mahdi wa al Masih, al Tabshir Rabwah, Pakistan 1961.
36. Zahir, Ihsan Ilahi, Al-Qadianiyah, Idharah Turjuman al Sunnah,
Lahore, Pakistan 1976.

oleh:
Nadri Saaduddin,
Jalan Rambutan 23,
Telp. +62-0765-93072 Duri 28884
Riau Daratan INDONESIA
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Mon Oct 10, 2005 1:08 pm

ACHMADIYAH DI INDONESIA.


SEBUAH ULASAN PENGANTAR...1)

Seratus tahun yang lampau, dipenghujung akhir abad kesembilan belas,
dari sebuah desa terpencil, jauh dari keramaian kota, Qadian yang
terletak di Propinsi Punjab, India telah terjadi suatu peristiwa yang
menakjubkan yang telah ditakdirkan Allah akan merubah masa depan
ummat manusia. Dari sana muncul seorang pemimpin agama yang diyakini
oleh para pengikutnya sebagai seorang dibangkitkan Tuhan yang sengaja
diutusNya untuk membimbing ummat manusia, sebagai pembaharu atau
mujaddid yang merupakan reformer yang dijanjikan kedatangannya
diakhir zaman. Orang tersebut bernama Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908),
Pendiri Jemaat Ahmadiyah sebuah sekte dalam Islam yang didirikannya
pada tanggal 23 Maret 1889 di India.
Mirza Ghulam Ahmad diyakini oleh pengikutnya sebagai Masih Ma'ud dan
Imam Mahdi itu telah meletakkan suatu fondasi untuk mempersatukan
ummat manusia dengan suatu cara yang mandiri. Beliau juga telah
memecahkan masalah-masalah pertentangan dan paradoks-paradoks yang
berkembang luas didunia keagamaan mengenai turunnya seorang Juru
Selamat untuk seluruh dunia, dimana pengikut-pengikut semua agama
besar seperti ummat Kristen, ummat Hindu, ummat Islam, ummat Budha,
ummat Zoroaster dan juga pengikut-pengikut Kong Hu Chu....yang
kesemuanya menantikan kedatangan Juru Selamat Yang Dijanjikan ,
sebagaimana dinubuwatkan dalam Kitab-Kitab Suci mereka.
Ummat Yahudi mengharapkan kedatangan Messiah untuk meremajakan agama
Yudaisme, ummat Kristiani juga mendakwakan akan kedatangan Yesus
kedua kalinya untuk menghakimi semua manusia dengan mendekatkan
kerajaan Langit ke Bumi, ummat Islam juga mempercayai bahwa Isa al
Masih dan Imam Mahdi akan berjuang keras untuk mendatangkan
Kebangkitan dan Kejayaan Islam kembali, ummat Hindu menantikan
kedatangan Tuhan sendiri dalam rupa Kresna, dan ummat Budha dengan
penuh pengharapan menunggu penjelamaan kembali Budha.
Betapa mungkin Tuhan akan mengutus berbagai Rasul secara serempak
yang masing-masingnya mengajak kepada Tuhan yang itu juga, dengan
cara mereka masing-masing lagi berbeda untuk menyeru ummat manusia
menempuh jalan-jalan yang paham yang satu dan yang lainnya
bertentangan? Masalah yang rumit itulah yang diangkat kepermukaan
oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. asal Qadian itu atas petunjuk dan
dan wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya.
Berdasarkan pengakuan beliau, kepada beliau telah diwahyukan bahwa
semua nubuwatan-nubuwatan mengenai kedatangan berbagai Juru Selamat
itu tidak syak lagi kebenarannya. Namun , pada hakikatnya apa yang
dimaksudkan oleh nubuwatan-nubuwatan tersebut adalah bahwa hanya akan
dibangkitkan satu pendakwa yang akan menyatu dalam wujudnya semua
sifat , peranan dan kekuatan-kekuatan rohani yang oleh
Mushlih-mushlih Rabbani atau Juru-juru Selamat Besar yang kedatangan
mereka kedua kalinya telah dijanjikan. Sesungguhnya pribadi itu akan
menjadi prajurit Tuhan yang menyandang busana berbagai nabi. Hazrat
Mirza Ghulam Ahmad juga mengumandangkan bahwa agama yang dipilih oleh
Tuhan Yang Mahakuasa untuk menjadi wahana perwujudan TauhidNya yangh
universal dan terakhir yakni ISLAM. Maka beliaupun sesuai dengan
perintah Allah mengumumkan pengakuan sebagai Juru Selamat dunia
tersebut , dengan sepenuhnya tunduk dan taat kepada Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wasallam.......
Pengakuan ini adalah suatu pengakuan yang berani dan mencengangkan
banyak orang dari berbagai pemeluk agama dunia terutama penganut
agama Islam. Dan lebih mencengangkan lagi, seruan ini disuarakan
oleh orang yang sebelumnya tidak terkenal dan dikumandangkan dari
sebuah desa terpencil yang juga tidak dikenal, lagi pula tampaknya
tidak bermakna bagi khalayak dunia yang pada umumnya ini mendapat
sambutan. Sebahagian orang-orang menyambut seruan ini dengan beriman
kepadanya dan membaktikan diri sepenuhnya kepadanya. Dan tidak
sedikit dikalangan ummat Islam yang membangkitkan taufan perlawanan
sesengit-sengitnya, yang sebangsa itu jarang kita saksikan dalam
lembaran sejarah ummat manusia.
Para pengikutnya menanggung tindakan aniaya sekejam-kejamnya. Mereka
hampir-hampir kehilanganan kebebasan menjalankan kewajiban agama dan
kehilangan hak azazi manusia. Bahkan dibeberapa negeri undang-undang
diberlakukan supaya mereka dapat dikenai hukuman berat dan
penganiayaan hanya karena menganut dan mengamalkan kepercayaan
mereka. Kendatipun demikian semua tantangan dan perlawanan yang maha
hebat ini sama sekali telah gagal menghalangi dan menghentikan
lajunya kemajuan Ahmadiyah yang berderap maju bahkan lebih cepat dari
yang sudah-sudah. Semua orang fanatik yang tidak bersahabat, baik
mereka yang terdiri dari perseorangan-perseorangan,
kelompok-kelompok, atau pemerintah-pemerintah, telah sama sekali
gagal dalam usaha mereka mengikis habis Ahmadiyah dari permukaan bumi
ini.
Orang-orang Ahmadi senantiasa mengatakan bahwa Tuhan senatiasa
berdiri disamping hambaNya Mirza Ghulam Ahmad, memenuhi segala yang
dijanjikan Allah kepadanya sebagaimana telah dinubuwatkan pada tahun
1889, "Dia menyampaikan tablighnya kepelosok-pelosok ujung dunia".
Sekarang, setelah lebih dari seratus tahun berlalu, semenjak berdiri
pertama kalinya, Jemaat Ahmadiyah telah berkembang dan menyebar di
lebih 140 negara di dunia dan langkah pertumbuhannya telah
ditakdirkan untuk merangkum seluruh ummat manusia ini. Allah Ta'ala
telah menyelamatkan para pengikutnya (orang-orang Ahmadi), melindungi
mereka, dari segala rencana-rencana jahat dan menurunkan hujan
rahmatNya dengan lebat kepada mereka.
Orang-orang Ahmadi diseluruh dunia ini, dengan segala kerendahan hati
mereka serta perasaan tulus ikhlas senantiasa merasa terpanggil untuk
menyampaikan seruan ini kepada saudara-saudara mereka sesama manusia
agar mengkaji apa yang disampaikan oleh Jemaat Ahmadiyah ini dengan
sungguh-sungguh lalu menggabungkan diri kedalamnya. Seruan ini tidak
lain adalah seruan kebenaran dan Ahmadiyah adalah Islam dalam
bentuknya yang sejati. Keselamatan manusia seutuhnya hanya bergantung
kepada penerimaan agama damai ini. Islam adalah agama yang
menghilangkan segala perbedaan antara manusia dan manusia dan
menghancur luluhkan semua perintang kelainan ras, warna kulit dan
agama yang memecah belah ummat manusia.
Islam membebaskan manusia dari belenggu dosa dan mempererat tali
silaturrahmi manusia dengan Al-Khalik mereka. Islam adalah agama yang
demikian sederhananya, namun begitu rupa terorganisasinya sehingga
dapat memenuhi segala tuntutan dan tantangan dunia yang terus menerus
mengalami perubahan. Islam tidak mengizinkan pemerasan tenaga
manusia, baik daalm segi sosial, politik, ekonomi ataupun agama.
Filsafat politik agama Islam tidak memberi ruang kepada diplomasi
culas (palsu) atau tipu daya. Islam menjunjung tinggi nilai akhlak
luhur, menggalakkan berlakunya keadilan hukum dan keadilan dalam
perilaku terhadap sahabat maupun musuh sekalipun, dalam segala iklim
kepentingan manusia. Islam tidak mengizinkan penggunaan kekerasan
guna "penyebarluasan" seruannya sendiri, tidak pula memberi peluang
kepada agama-agama lainnya untuk berbuat hal yang serupa. Kesenangan
menyebarkan terorisme, sekalipun atas nama tujuan semulia-mulianya ,
sama sekali tidak sejalan dengan ajaran Islam.......
Menjadi keyakinan dari Jemaat Ahmadiyah ini bahwa Islam adalah obat
penyembuh bagi segala penyakit dan penderitaan yang melanda ummat
manusia dewasa ini. Islam mengajarkan kepada kita bahwa andaikata
manusia tidak belajar hidup secara damai dengan dirinya sendiri serta
sesamanya, ia tidak akan dapat hidup secara damai dengan Tuhan.
Orang-orang Ahmadi meyakini sepenuhnya , kepada Islam yang
demikianlah citranya mereka mengajak dan menghimbau khalayak ramai
untuk bergabung.....
Orang-orang Ahmadi juga menyadari sepenuhnya bahwa pada pemandangan
banyak pemerhati yang perhatiannya hanya selintas, Ahmadiyah belum
lagi tampil sebagai kekuatan yang potensial untuk menciptakan suatu
revolusi moral dan spritual, namun doa-doa mereka senantiasa
mengiringi perjuangan mereka dan mereka meyakini bahwa karunia Allah
telah tercurah kepada mereka dan mereka telah dipilih oleh Tuhan
menjAdi pirantiNya guna mengumandangkan terbitnya fajar zaman baru
perdamaian semesta dan persatuan sekalian ummat manusia.
.......bersambung
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Mon Oct 10, 2005 1:10 pm

Mengundang Ahmadiyah ke Indonesia....2)


Ahmadiyah di tanah Minangkabau.... 1)
Tiga Serangkai dari Sumatera Barat berangkat ke India......


Benih yang pertama kalinya ditaburkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad
pada tanggal 23 Maret 1889 dari kota Ludhiana India itu dalam
perjalanan waktunya telah tumbuh dengan suburnya dan berkembang
menjadi sebuah pohon raksasa yang pucuknya menjulang tinggi keangkasa
menyapu awan dan akarnya menghujam dalam keperut bumi.Tiada prahara
dan badai taufan yang sanggup mengungkit dan menumbangkannya. Pohon
itu kemudian berbunga dan berbuah bagaikan pohon mahoni raksasa
menyebarkan benih-benihnya jauh-jauh ke segala penjuru dunia dihembus
angin kencang. "Aku akan menyampaikan tabligh engkau
kepelosok-pelosok dunia", demikian wahyu Allah kepada Hazrat Mirza
Ghulam Ahmad yang diyakini oleh orang-orang Ahmadi sebagai janji
kemenangan dari Tuhan kepada beliau dan Jemaat Ahmadiyah yang
didirikannya.
Salah satu benih dari pohon raksasa itu kini diterbangkan angin
atas takdir Ilahi terdampar di Kepulauan Nusantara yang subur makmur
yang berada ditengah-tengah lintasan khatulistiwa ini. Kedatangan
Misionaris Ahmadiyah pertama ke Indonesia Maulana Rahmat Ali
didahului dengan kisah keberangkatan dua orang pemuda Indonesia ke
India. Kedua pemuda itu adalah Abu Bakar Ayub dan Ahmad Nuruddin yang
kedua-duanya berasal dari Sumatera Barat dan mereka merupakan lulusan
Sekolah Sumatera Tawalib di Padangpanjang yang ketika itu dipimpin
oleh Dr. Haji Abdulkarim Amarullah ayahandanya Buya Hamka Ulama
terkenal Indonesia itu.
Setelah selesai mengikuti pelajaran di perguruan Agama terkemuka di
Sumatera itu , kedua pemuda itu mengambil keputusan untuk melanjutkan
studi mereka ke Mesir. Akan tetapi mereka dinasehati oleh Zainuddin
Labay el Yunusiah dari Dinniyah School Padangpanjang dan Syekh
Ibrahim Musa Parabek Ulama terkemuka di Bukittinggi agar melanjutkan
pelajaran mereka ke India saja. Alasan kedua tokoh Ulama itu ialah
karena orang-orang yang menuntut ilmu di Mesir sudah cukup banyak
sehingga mereka dianjurkan ke Hindustan saja yang mutunya juga tidak
kalah dengan perguruan agama di Timur Tengah itu.
Alkisah pada bulan Desember 1922 berangkatlah mereka ke India dengan
tujuan Lucknow. Dikota ini mereka jadi tiga orang dengan kedatangan
seorang kawan lagi yaitu Zaini Dahlan yang juga berasal dari
Padangpanjang. Karena tidak mendapat kepuasan belajar di Madrasah
Darun Nadwah mereka berpikir-pikir untuk mencari perguruan lain.
Mereka teringat akan seorang yang bernama Kwaja Kamaluddin yang
pernah mereka baca dalam surat kabar "Cahaya Sumatera", ketika
ditanah air sebagai orang yang pernah menjadi Imam mesjid London.
Setelah bertanya-tanya kesana kemari maka mereka berhasil menemukan
alamat "Islamic College" di kota Lahore yang disebelahnya Kwaja
Kamaluddin tinggal. Mereka tidak sempat bertemu dengan Kwaja
Kamaluddin karena ketika itu beliau sedang berada di London, tetapi
"tiga serangkai" itu diterima oleh wakilnya Maulana Abdussatar,
seorang tua yang alim dan hafiz Qur'an.
Maulana itu mengajar mereka tanpa kitab tafsir seperti ulama-ulama
yang pernah mereka jumpai , yang kesemuanya ini membangkitkan
kekaguman mereka. Mereka mulai merasa puas dan tertarik oleh
keterangan-keterangan yang diberikan Maulana itu. Dalam pelajaran
tafsir sampailah mereka pada satu ayat mengenai Nabi Isa a.s. dan
Maulana Abdussatar bertanya kepada mereka, bagaimana pendapat
guru-guru dan ulama mereka di Indonesia tentang Nabi Isa a.s. itu.
Mereka menjawab bahwa di Indonesia ada dua pendapat mengenai hal ini
yakni:
1. Nabi Isa masih hidup dilangit, ini pendapat Haji Abdulkarim
Amarullah (.... kemudian berubah seperti tercantum dalam "Al-Qaulus
Shahih" yang menyatakan Nabi Isa a.s. telah wafat).
2. Nabi Isa a.s. mungkin diangkat ke langit dan mungkin juga pergi
entah kemana, serta wafat entah dimana. Ini pendapat Zainuddin Labay
El Yunusi.
Menanggapi kedua pendapat ini Maulana Abdussatar berkata bahwa yang
kedua pendapat itu adalah tidak benar, karena bertentangan dengan apa
yang difirmankan Allah dalam Kitab Suci Al-Qur'an. Maulana itu
mengatakan bahwa ada tiga macam pendapat yang dikemukakan orang
tentang Nabi Isa al Masih itu.
Pertama, adalah pendapat orang-orang Yahudi yang menolak kerasulan
Isa yang memandang Isa hanyalah sebagai manusia biasa yang lahir dari
seorang wanita yang berselingkuh dengan laki-laki lain. Isa hanya
seorang Nabi Palsu yang mencoba menghujat Tuhan.
Pendapat kedua, adalah pendapat yang mengatakan bahwa Isa adalah
manusia biasa yang dilahirkan dari seorang perawan suci Siti Maryam,
seorang Rasul dan Nabi yang diutus Allah kepada Bani Israel. Ini
adalah pendapat ummat Islam.
Sedangkan pendapat ketiga, adalah yang mengatakan bahwa Isa adalah
"ma'buud" yang dipuja dan disembah sebagai Tuhan dan anak Tuhan dan
Isa menurut mereka adalah identik dengan Allah sendiri. Yang
berpendapat dan berkeyakinan seperti ini adalah kaum Nasrani atu
orang-orang Kristen.
Kitab Suci Al-Qur'an secara jelas dan gamblang menerangkan bahwa Nabi
Isa a.s. dalam ketiga macam pandangan itu sudah mati dan tidak dapat
dikatakan hidup lagi. Manusia keturunan Adam, hidup, mati dan
berbangkit nanti tempatnya dibumi ini juga. Jika Nabi Isa a.s. masih
hidup tentu saja kehidupan beliau itu tempatnya dibumi ini juga dan
tidak dilangit karena beliau tidak bisa terlepas dari manusia.
Menurut Qur'an, hidup mati, dan berbangkitnya manusia adalah di bumi
ini juga, tidak ada yang dikecualikan...(QS. 7:25).
Mengenai Rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad SAW semuanya telah wafat.
Nabi Isa a.s. adalah seorang Rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad
SAW dengan sendirinya juga telah wafat...(QS. 3:144). Mengenai
"ma'buud" (yang disembah) dikatakan oleh Al-Qur'an bahwa semua yang
pernah disembah oleh manusia itu tidak ada yang hidup dan mati
semuanya.....(QS. 16:20). Nabi Isa a.s pernah disembah bahkan
sekarang juga masih dianggap Tuhan atau anak Tuhan dengan sendirinya
tentu saja juga sudah wafat.
Sejak itulah ketiga pemuda itu mendapat ilmu baru bahwa:
1. Nabi Isa telah wafat seperti sekalian nabi lainnya.
2. Keadaan dunia sekarang telah rusak dan membutuhkan seorang dokter
rohani. Dokter rohani tersebut adalah Imam Mahdi yang dijanjikan
kedatangannya oleh Rasulullah SAW.
Pada mulanya mereka tidak begitu saja menerima pendapat Maulana
tersebut. Mereka mengirim surat kepada beberapa orang Ulama dan
guru-guru mereka di Sumatera Barat seperti Dr. Haji Rasul Abdul
Karim Ammarullah, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Muhammad Djamil
Djambek, dan lain-lainnya untuk meminta fatwa dan keterangan
Ulama-Ulama di Sumatera guna menangkis pendapat Maulana Abdussatar
itu. Bahkan ketiga pemuda Minangkabau itu juga mengirimkan buku-buku
berbahasa Arab yang membahas masalah Nabi Isa itu. Ditekankan juga
oleh mereka bahwa fatwa salah atau benar dari Ulama-Ulama itu sangat
mereka harapkan agar mereka jangan sempat tertipu. Akan tetapi
surat-surat tersebut satupun tidak berbalas kecuali surat yang mereka
kirim kepada Syekh Ibrahim Musa Parabek di Bukitinggi yang
menyatakan bahwa Nabi Isa memang telah wafat. Akhirnya mereka
terpaksa membahas dan memutuskan sendiri masalah itu dan karena
mereka tak mempunyai senjata lagi untuk menyerang dan membantah
pendapat Maulana itu sehingga kesudahannya bisa ditebak dan mereka
bertekuk lutut dan membenarkan paham yang dikemukakan oleh Maulana
tersebut.
Ketiga pemuda Indonesia itu yakni Abu Bakar Ayub, Ahmad Nuruddin dan
Zaini Dahlan bai'at bersama-sama langsung ditangan Maulana Muhammad
Ali , pemimpin Gerakan Ahmadiyah Lahore pada musim panas bulan Juli
1923. Dan disinilah pertama kalinya mereka mengenal Ahmadiyah yang
selanjutnya akan merubah sejarah dan perjalanan hidup mereka.
Bergabungnya mereka kepada Ahmadiyah, mereka umumkan pula lewat
surat-surat kepada kawan-kawan mereka di Sumatera Barat. Dengan
tersiarnya berita bahwa tiga orang pemuda tamatan Perguruan Sumatera
Tawalib Padangpanjang telah masuk Ahmadiyah, maka gegerlah masyarakat
Sumatera Barat dan mulailah orang ribut memperkatakan dan
memperbincangkan Ahmadiyah. Di Sumatera Barat seperti di kota Padang
orang-orang Ahmadiyah dipanggil dengan sebutan ejekan "orang-orang
Lahore" , karena ketiga pemuda Sumatera Barat itu masuk Ahmadiyah di
Lahore. Sampai sekarangpun orang-orang Ahmadi di Sumatera Barat
disebut "Orang Lahore" sebuah panggilan ejekan yang dilontarkan oleh
orang-orang yang membenci Ahmadiyah itu. Banyak mereka mendengar
berita yang simpang siur tentang Ahmadiyah tetapi sayang sekali
mereka tidak menyelidiki langsung kepada yang bersangkutan.
Enam bulan lamanya mereka berada di Lahore dan mereka betul telah
meyakini bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang "mujaddid"
dan Imam Mahdi yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah SAW
untuk memenangkan Islam diatas semua agama. Karena kecintaan mereka
kepada Imam Mahdi a.s. timbullah keinginan mereka untuk berziarah
ketempat kelahiran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad di Qadian. Maulana
Abdussatar menasihatkan supaya mereka meminta izin kepada Sekretaris
Ahmadiyah Lahore yang bernama Babu Mansur. Ketika mereka menyatakan
keinginan mereka itu, berubahlah air muka Sekretaris yang biasanya
berseri-seri itu menjadi kecut dan pucat. Ia mengatakan bahwa tidak
baik bagi mereka pergi ke Qadian. Sikap Sekretaris itu menimbulkan
tanda tanya dihati mereka. Mengapa tidak baik mengunjungi tempat
kelahiran Imam Mahdi? Apa salahnya ziarah ketempat yang dianggap
suci?
Hal ini disampaikan mereka kepada guru mereka Maulana Abdussatar,
dengan desakan supaya mereka diizinkan pergi. Karena desakan itu
akhirnya Maulana Abdussatar tak dapat menyembunyikan lagi apa yang
harus dirahasiakannya. Ia lalu berkata:
"Kalau kalian betul-betul ingin belajar, tinggalkanlah Lahore dan
pergilah ke Qadian , sebab disanalah terdapat pusat Ahmadiyah
sebenarnya."
Diakuinya juga bahwa ia hanya mencari nafkah bekerja pada Ahmadiyah
Lahore sebagai korektor karangan-karangan Maulana Muhammad Ali . Ia
sendiri telah bai'at di tangan Hazrat Khalifatul Masih II.
Sementara itu datanglah dari Qadian kira-kira sepuluh orang pelajar
(Ahmadi) yang akan ikut menempuh ujian gelar H.A. (Honour of Arabic)
di Lahore. Pelajar-pelajar dari Qadian tersebut telah mendengar
kedatangan Abu Bakar Ayub dan kawan-kawan ke Lahore. Itulah sebabnya
mereka datang berkunjung ke asrama untuk menemui ketiga pemuda
Indonesia itu. Diantara mereka terjadi tanya jawab antara lain
menganai fasilitas pendidikan di Qadian. Mendengar
keterangan-keterangan pelajar dari Qadian itu, ketiga orang pemuda
ini tertarik dan tidak sabar lagi untuk berangkat kesana.
Maka minta izinlah mereka kepada pemimpin-pemimpin Ahmadiyah Lahore
dan ketika mereka menemui Dr. Muhammad Hussein , ia tampak marah dan
melarang mereka pergi ke Qadian. Akan tetapi pemuda-pemuda ini tetap
pada pendirian mereka , dengan alasan ingin belajar secara teratur
disana. Akhirnya pemimpin-pemimpin Ahmadiyah Lahore itu tidak bisa
berbuat apa-apa dan tidak melarang mereka lagi, karena sebagaimana
dikatakan mereka bahwa mereka bebas memilih tempat belajar dan mereka
tidak terikat dengan siapa-siapapun.
Pada akhir tahun 1923 , berangkatlah mereka menuju Qadian. Dari
Lahore mereka naik kereta api sampai di Batala yang jaraknya sekitar
70 mil. Dari kota kecil Batala ke Qadian mereka harus menempuh jarak
11 mil lagi yang terpaksa mereka tempuh dengan menaiki delman. Hujan
menyebabkan jalan becek dan penuh lumpur. Kendatipun demikian , ada
suatu keanehan yang mereka rasakan. Ada perasaan senang dan tenteram
didalam hati mereka . Begitu memasuki Qadian dari jauh mereka lihat
sebuah menara yang menjulang diatas sebuah bukit kecil. Menara
tersebut belakangan mereka kenal dengan nama Minaratul Masih.
Setelah mereka beberapa lama tinggal di dalam asrama dan belajar
secara teratur, mereka mengirim surat kepada keluarga dan teman-teman
mereka ditanah air. Dan dengan menceritakan tentang sekolah tempat
mereka belajar sekaligus mereka mengajak teman-teman mereka itu untuk
datang ke Qadian. Maka berdatanganlah pemuda-pemuda lainnya dari
Indonesia ke Qadian untuk menuntut pelajaran agama sehingga semuanya
berjumlah 19 orang.
Bersambung......
Last edited by somad on Mon Oct 10, 2005 1:17 pm, edited 1 time in total.
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Mon Oct 10, 2005 1:13 pm

Mengundang Ahmadiyah ke Indonesia.....3)


Ahmadiyah di Tanah Minangkabau.......2)
Missionaris Pertama Ahmadiyah sampai di Tapaktuan Aceh.....
Pada bulan Juli 1924 Hazrat Khalifatul Masih II , Mirza Basyiruddin
Mahmud Ahmad mengadakan perjalananan ke Eropa sekali gus menghadiri
konperensi Agama-agama di London. Dihadapan pemuka-pemuka berbagai
agama beliau menyampaikan sebuah makalah yang berjudul"Ahmadiyyat or
the True Islam" yang diterjemahkan dan dibacakan oleh Choudry
Muhammad Zafrullah Khan Menteri Luar Negeri Pakistan yang kebetulan
adalah seorang Ahmadi yang mukhlis. Beliau kembali ke Qadian pada
tanggal 24 nopember 1924. Dan sebagaimana biasa, umum diizinkan
mengundang Hazrat Khalifatul Masih sekembali dari perlawatan itu.
Atas anjuran dari Maulana Abdur Rahman Jat, para pemuda Indonesia
yang berjumlah 19 orang itu mengundang Hazrat Khalifatul Masih II
dalam suatu jamuan teh, disamping itu juga diundang sekitar 40 orang
pemuka Jemaat lainnya. Dalam pertemuan "tea party" dengan Khalifatul
Masih II itu Ahmad Nuruddin membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an,
Abdul Qoyyum bersenandung dengan syair Masih Mau'ud a.s. dan Haji
Mahmud mengucapkan pidato sambutan dalam bahasa Arab. Inti pidato
sambutan itu menyampaikan permohonan atas nama seluruh pemuda
Indonesia agar Hazrat Khalifatul Masih , sebagaimana telah berkenan
melawat ke Barat , begitu pula hendaknya sudi berkenan melawat ke
Timur, terutama ke Indonesia. Pidato itu dibacakan oleh Haji Mahmud
dengan suara terputus-putus dan air mata yang berhamburan menahan
haru yang tidak tertahankan. Hazrat Khalifatul Masih II menjawab
pidato Haji Mahmud itu yang juga disampaikan dalam bahasa Arab yang
menyatakan bahwa beliau sekarang belum sempat melawat kesana, tetapi
untuk memenuhi permintaan para pemuda Indonesia itu beliau akan
mengirim utusan ke Indonesia.
Sebagai realisasi dari janji Huzur tersebut maka pada bulan Agustus
1925 Depatemen Da'wat wa Tabligh atas perintah Hazrat Khalifatul
Masih II telah mengutus Maulana Rahmat Ali HAOT ke Indonesia. Sebelum
berangkat ia mempelajari bahasa Indonesia dahulu dari pelajar
Indonesia yang ada diasrama dengan memakai buku "Empat Serangkai"
yang sengaja di pesan dari Indonesia.
Adapun riwayat hidupnya antara lain:
Dilahirkan pada tahun 1893 . setelah lulus sebagai pelajar generasi
pertama dari Madrasah Ahmadiyah di Qadian tahun 1917 menjadi guru
Bahasa Arab dan Agama pada Ta'limul Islam High School di Qadian.
Tahun 1924 dipindahkan ke Departemen Tabligh (Nizarat Da'wat
Tabligh). Dari tahun 1925 sampai 1950 bertugas sebagai Muballigh di
Indonesia. Bebrapa tahun kemudian ditugaskan sebagai muballigh di
Pakistan Timur. Tanggal 31 Agustus 1958 wafat di Rabwah Pakistan.
Pada tanggal 15 Agustus 1925, berlangsunglah sebuah upacara melepas
Utusan pertama Jemaat Ahmadiyah untuk Indonesia, Maulana Rahmat Ali
HAOT di Qadian. Sebuah pesan disampaikan oleh Hazrat Khalifah kepada
Maulana Rahmat Ali bahwa :
"Hendaklah ia senantiasa berdoa, Jika kita mempunyai sesuatu , maka
sesuatu itu adalah doa, dan berdoalah kepada Tuhan dalam setiap
pekerjaan"....
Ketika bunga-bunga di awal musim rontok akan mulai berguguran , pada
tanggal 17 Agustus 1925 , Maulana Rahmat Ali dilepas oleh Hazrat
Khalifatul Masih II dan handai tolan dari Qadian menuju Batala,
kemudian Calcutta selanjutnya berlayar menuju Indonesia. Beliau
sampai di kota Penang yang selanjutnya menyeberang ke Medan dan
mendarat di Sabang dan akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1925 sampailah
ia di Tapaktuan Aceh. Disinilah benih pertama Ahmadiyah mulai
ditabur.
Sebagaimana ditempat-tempat lainnya masyarakat Tapaktuan sudah lama
mengenal kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi. Begitu juga beberapa
pelajar Indonesia di Qadian sering mengirim surat, agar apabila
utusan pertama dari Imam Mahdi datang supaya diterima sebaik-baiknya.
Itulah sebabnya ketika Maulana Rahmat Ali tiba dipantai Tapaktuan ia
disambut ratusan penduduk yang menunggu kedatangan Utusan Imam Mahdi.
Selaku juru bahasa dalam bahasa Arab bertindak pemuda Abdul Wahid.
Walaupun Maulana Rahmat Ali belum menguasai bahasa dan adat istiadat
setempat, namun berkat sifat ramah tamah, suka bergaul dengan setiap
orang, disamping berilmu , pandai bersenda gurau , sifat pemberani
yang ia miliki , ia mudah diterima orang.
Maka dalam waktu beberapa bulan saja setelah kedatangannya, di
Tapaktuan telah berdiri Jemaat Ahmadiyah. Sambutan penduduk amat
hangat dan sudah berpuluh-puluh orang membenarkan pendirian Ahmadiyah
dan ratusan orang yang bersimpati. Kebetulan sekali dalam
minggu-minggu setelah kedatangan Rahmat Ali di Tapaktuan itu, telah
terjadi perlawanan hebat dari Tengku Abasah didaerah Bakongan
terhadap pemerintah Belanda, sehingga pemerintah Belanda merasa
bimbang untuk memperpanjang waktu seorang asing berdiam didaerah yang
bergolak itu. Kontroler Belanda di Tapaktuan berkali-kali memanggil
Rahmat Ali dan menyarankan agar ia bersedia meninggalkan daerah
Aceh. Tetapi anjuran ini ditolak oleh Rahmat Ali dengan alasan bahwa
ia adalah seorang Misionaris Islam yang menurut hukum yang berlaku
tidak ada halangannya untuk tinggal didaerah ini. Dan mengenai
keselamatan dirinya tidak ada orang Aceh yang mengganggu karena
semuanya orang-orang beragama Islam.
Tetapi keadaan itu semakin menggelisahkan Gubernur Aceh. Akhirnya
dengan perintah halus ia dipaksa juga meninggalkan Aceh. Setelah ia
tinggal selama di Tapaktuan tiga bulan , maka pada tahun 1926 ia
berangkat menyusur pantai barat Sumatera menunju selatan dan
sampailah di Padang. Ditempat yang baru ini ia tinggal dirumah famili
Daud gelar Bangso dirajo di Pasarmiskin, atas petunjuk Abdul Aziz
Shreef yang ketika itu sedang belajar di Qadian.
Keadaan Jemaat di Tapaktuan sepeninggal Rahmat Ali tetap berkembang.
Orang-orang Ahmadiyah tetap mendirikan sembahyang Jum'at dirumah
Sulaiman . Oleh Datuk Raja Ahmad pernah diadakan perdebatan antara
Ahmadiyah dengan Ulama-Ulama yang berada di Tapaktuan dua malam
berturut-turut. Pendek kata seluruh daerah Tapaktuan ramai
memperbincangkan soal-soal Ahmadiyah yang berkaitan dengan Imam
Mahdi, wafatnya Nabi Isa a.s. dan masalah Khaatamannabiyin.
Perlu ditambahkan disini, bahwa pemuda Zaini Dahlan yang telah
tinggal di Qadian, dua tahun kemudian pulang kekampungnya di
Padangpanjang. Ketika dia kembali lagi Qadian pada bulan Maret 1926
dengan melalui Tapaktuan ia membawa empat orang pemuda Tapaktuan yang
telah masuk Ahmadiyah ditangan Rahmat Ali. Mereka berangkat dari
Tapaktuan pada tanggal 9 Juni 1926 untuk memperdalam studinya dalam
agama dan tiba di Qadian tanggal 3 Juli 1926.
Akan tetapi setelah rombongan tersebut meninggalkan tanah airnya ,
pemerintah Belanda di Tapaktuan menjalankan siasat untuk mengikis
pertumbuhan Ahmadiyah disana. Mereka dilarang melakukan sembahyang
Jum'at ditempat sendiri dan harus sembahyang bersama-sama di Mesjid
umum. Setiap orang Ahmadi dipanggil Raja dan mereka tidak boleh
berkumpul lagi . Diantara orang-orang yang anti Ahmadiyah itu
terdapat Mamak Haji Abdullah.
Setibanya Maulana Rahmat Ali di Padang, sebagaimana layaknya seorang
Ahmadi, ia tidak tinggal diam. Ia bertabligh kemana-mana
menyampaikan Ahmadiyah sampai kedaerah-daerah Bukitinggi,
Padangpanjang dan Payakumbuh yang berakibat bertambahnya reaksi yang
menentangnya. Akhirnya dikota Padang berdirilah sebuah komite yang
bernama"Komite Mencari Hak" yang dipimpin oleh Tahar Sutan Marajo.
Tujuan komite ini adalah untuk mempertemukan Muballigh Ahmadiyah
Maulana Rahmat Ali dengan Ulama Minangkabau. Pada awal tahun 1926
Komite tersebut telah berusaha mengundang para alim ulama Minangkabau
dan Muballigh Ahmadiyah , bertempat di Pasar Gadang , pada sebuah
gedung pertemuan milik Bagindo Zakaria. Pada waktu yang sudah
ditentukan untuk mengadakan perdebatan antara Muballigh Ahmadiyah dan
para alim ulama Minangkabau itu ternyata yang disebut belakangan
tidak muncul dan hanya diwakilli oleh murid-murid mereka saja.
Setelah peristiwa di Pasar Gadang tersebut , "Komite Mencari Hak"
dengan serta merta membubarkan diri dan bersamaan dengan peristiwa
tersebut berdirilah Jemaat Ahmadiyah di Padang , dengan beranggotakan
seluruh anggota Komite dan simpatisan lainnya sebanyak 15 orang
termasuk antara lain Muhammad Tahar Sutan Marajo, Daud gelar Bangso
Dirajo dan juga Bagindo Zakaria seorang pengusaha terkemuka di Padang
asal Pariaman .
Setelah terjadinya peristiwa berdiri Ahmadiyah di Padang pada tahun
1929 itu, maka Muballigh Ahmadiyah dan pengikutnya selalu mendapat
ejekan, penghinaan bahkan penganiayaan. Dimana saja mereka berada dan
kemana saja mereka pergi selalu diiringi oleh bunyi-bunyian
kaleng-kaleng dan sorak-sorai "lahore, lahore, kodian... dsb". Akan
tetapi bak kata pepatah '"anjing menggonggong kafilah berlalu" begitu
pulalah Muballigh Ahmadiyah dan pengikut-pengikutnya tidak
henti-hentinya mengadakan pertablighan dan perdebatan, mengunjungi
daerah-daerah Minangkabau lainnya di Padangpanjang, Batusangkar,
Bukitinggi, Payakumbuh dll. Dalam pertablighan didaerah Sumatera
Barat ini , Rahmat Ali dibantu juga Haji Mahmud yang ketika itu baru
saja menyelesaikan studinnya dan kembali dari Qadian.
Sementara itu pada akhir tahun 1929, tiba kembali pemuda-pemuda Ahmad
Nuruddin dan Zaini Dahlan dari Qadian sehingga dengan demikian
menambah tenaga bidang pertablighan di Indonesia. Setelah semakin
lama semakin banyak juga jumlah orang-orang yang menjadi pengikut
Ahmadiyah maka secara bergotong-royong mereka menyewa sebuah rumah
yang cukup besar milik seorang Hoofd Jaksa.
........bersambung
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Mon Oct 10, 2005 1:15 pm

Mengundang Ahmadiyah ke Indonesia.....4)

Ahmadiyah di Tanah Minangkabau.........3)
Setahun setelah menyewa rumah tersebut, seorang tokoh masyarakat
terkemuka di Padang Demang Sutan Rajad yang juga telah bergabung
denga Ahmadiyah menyerahkan sebuah suraunya untuk digunakan
sembahyang berjamaah , dan pengikut Ahmadiyah di kota Padang
diperkirakan telah mencapai 80 orang. Maka mereka pun memilih seorang
Amir sebagai pimpinan mereka yang kebetulan juga seorang tokoh
masyarakat Abubakar Bagindo Marajo. Ketika Demang Sutan Rajad
meningggal beberapa bulan kemudian terjadilah peristiwa yang
menyedihkan dimana surau yang biasannya digunakan oleh Jemaat ditutup
dan dikunci oleh kemenakan-kemenakannya yang merupakan orang-orang
yang anti Jemaat. Amir Jemaat kemudian menganjurkan sembahyang Jum'at
diadakan lagi di rumah Hoofd Jaksa yang disewa itu.
Setelah empat tahun berada di Sumatera, pada tahun 1930 Maulana
Rahmat Ali kembali ke Qadian untuk mengambil cuti selama satu tahun.
Pada akhir tahun itu juga ia kembali ke Sumatera dengan membawa
seorang muballgh muda berperawakan kecil bernama Muhammad Sadiq HA.
Karena Muhammad Sadiq ini mirip dengan Maulana Rahmat Ali maka para
pengikut Ahmadiyah menjuluki Maulana Rahmat Ali sebagai muballigh
yang membawa anaknya. Setelah tiga bulan kedua muballigh itu tinggal
bersama-sama di Padang, Maulana Rahmat Ali meninggalkan Sumatera
untuk berpindah ke Jawa melebarkan sayap Ahmadiyah selanjutnya.
Maulana Rahmat Ali sampai di Jakarta pada tahun 1931 dan menopang
tinggal disebuah rumah petak kecil didaerah Bungur yang didiami
famili Daud yang juga orang Padang itu.Dirumah itu tinggal juga
famili Daud yang lain yakni Jamal dan Acin. Rumah tersebut dirasakan
oleh penghuninya kurang memadai dan tidak representatif untuk
kegiatan Ahmadiyah. Kemudian mereka pindah kesebuah rumah yang besar
yang terletak di Defensielijn van den Bosch nomor 139, Weltevreden
dengan sewa 40 gulden sebulan.
Pada waktu itu di Jakarta sudah ada pula pengikut Ahmadiyah yang lain
dari Padang yaitu Abdul Gani, Abdul Jalil dan Maralin. Setelah
pindah kerumah baru itu Rahmat Ali mulai melakukan kegiatan
tablighnya, sehingga tidak berapa lama rumah tersebut ramai
dikunjungi orang yang ingin mendapat penjelasan tentang Ahmadiyah.
Diantara usaha yang dilakukannya untuk menghimpun orang adalah dengan
mengadakan kusus Bahasa Arab. Kursus ini diikuti oleh beberapa orang
pegawai antara lain Soemarna, RO Hidayat, R. Moh. Anwar yang berasal
dari Garut. Dan juga Tahar Sutan Marajo dari Padang serta Hasan
Delais dari Palembang.
Dari Sawah Besar seorang Menado, bernama Th, Dengah beserta isterinya
Nyi R. Soekarsih dari Sukabumi dan Simon Kohongia yang menompang
pada keluarga Dengah itu sering juga berkunjung mendatangi Maulana
Rahmat Ali. Akhirnya rumah di Jalan Defensielijn van den Bosch itu
merupakan tempat serba guna untuk dakwah, untuk kursus dan juga
sebagai mesjid.Kesudahannya sudah bisa ditebak bahwa keluarga Dengah
dan Simon Kohongia akhirnya bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah dan
sampai sekarang keluarga tersebut mewariskan kepada anak cucunya,
dimana turunan-turunan mereka adalah orang-orang Ahmadi yang mukhlis.
Oleh karena dari kehari pengikut Maulana Rahmat Ali bertambah banyak
juga maka mereka bersepakat membentuk pengurus. Susunan pengurus
Ahmadiyah pertama Betawi terbentuk pada tahun 1932 dengan ketua
Abdurrazak dan Sekretaris Simon Kohongia yang juga diperlengkapi
dengan beberapa Sekretaris lainnya yang beranggotakan lebih kurang
27 orang.
Kendatipun Ahmadiyah Betawi sudah cukup berkembang, tetapi untuk
melebarkan sayapnya Maulana Rahmat Ali mengalami berbagai kesulitan
antara lain disebabkan dia belum begitu menguasai Bahasa Melayu
(Indonesia). Untuk itu sesuai dengan permintaannya kepada Ahmadiyah
Padang maka dikirimlah untuknya seorang anggota Jemaat dari Padang
Haji Marah Wahab yang kebetulan juga mempunyai adik Taher Sutan
Tumenggung yang menjabat President Landraad Bogor. Disamping sebagai
President Landraad Bogor, Taher Sutan Tumenggung juga Ketua dari
sebuah perkumpulan dikalangan intelek muda "Jong Islamieten Bond"
Cabang Bogor.
Sekali seminggu "Jong" Islamieten Bogor mengadakan pertemuannya di
gedung Rumah Bola " Harsono" di Jalan Kebon Jae untuk membicarakan
berbagai masalah agama Islam. Oleh SAS Pontoh seorang anggota
perkumpulan itu pernah dikemukakan pertanyaan "apa sebabnya babi
diharamkan" yang memberikan kesempatan kepada para kiayi dan ulama
untuk membahasnya. Akan tetapi penjelasan mereka itu tidak memuaskan
para cendekiawan yang tergabung dalam perkumpulan itu . Taher Sutan
Tumenggung , ketua Perkumpulan itu pernah mendengar berita bahwa
Ahmadiyah pernah menghebohkan kota Padang , maka ia meminta kepada H.
Marah Wahab untuk membawa Maulana Rahmat Ali ke Bogor.
Dengan adanya permintaan itu itu kini terbukalah daerah pertablighan
baru dikalangan kaum intelektual muda. Setiap masalah yang dikemukan
kepadanya termasuk soal"apa sebabnya babi haram" mendapat penjelasan
yang memuaskan bagi mereka. Berkat keuletan dan kesabaran perjuangan
Muballigh Ahmadiyah itu akhirnya berhasil juga memasukkan beberapa
orang kaum intelek dari Jong Islamieten Bond itu kedalam Ahmadiyah.
Beberapa bulan kemudian, yakni pada bulan Nopember 1932 terbentuklah
Cabang kedua di Pulau Jawa yaitu BOGOR yang diketuai oleh Raden
Hidayath dan Sekretaris Jakaria.
Sebuah peristiwa lagi yang patut dicatat dalam pertablighan Ahmadiyah
ini ialah ketika pada tahun 1932 seorang Ahmadi bernama Sajim
kedatangan seorang tamu yakni kenalan dirumahnya , seorang jagoan
dari Tangerang bernama Gomar. Gomar mengatakan bahwa ia pernah
bermimpi telah bertemu dengan orang berjenggot yang menyuruhnya
supaya mengikutinya. Begitu Sajim mendengar cerita temannya itu,
tidak ayal lagi ia mengajak Gomar mendatangi rumah Maulana Rahmat
Ali. setelah mereka tiba dirumah Maulana Rahmat Ali , maka apa yang
dilihat Gomar dalam mimpinya persis sama dengan Maulana itu. Dan
sejak itu Gomar langsung jadi pengikut Ahmadiyah dan setelah mendapat
pelajaran seperlunya dari Maulana Rahmat Ali, Gomar ditugaskan
bertabligh kepada teman-temannya yang lain dan mengajak mereka masuk
kedalam Ahmadiyah. Ada lima orang teman Gomar yang akhirnya merupakan
tenaga-tenaga inti yang mengembangkan Ahmadiyah didaerah Tangerang,
Kerendang, Gondrong, Perigi , Pinang dan Cikarang.
Ketika Ahmadiyah pada tahun 1932 telah mulai berkembang di Jakarta
dan Bogor, dari beberapa orang Ahmadi timbul keinginan untuk
menerbitkan sebuah majalah bulanan, agar seruan Ahmadiyah itu lebih
meluas. Ketika itulah Hasan Delais, Taher Marajo , Abul Aziz Shreef ,
Abdul Samik, Yahya Pontoh, Th. Dengah, Abdul Razak dan Abdul Gani
berusaha untuk menerbitkan majalah bulanan yang diberi nama "Sinar
Islam". Majalah tersebut dipimpin oleh sebuah komisi yang bernama
"Commissie van Redactie", beralamat di Def. v.d. Bosch 139
Weltevreden. Mulai saat itulah Ahmadiyah melancarkan pertablighan
melalui Majalah "Sinar Islam" yang sekali gus dipergunakan juga untuk
menjawab tuduahan dan fitnahan yang dilontarkan berbagai organisasi
dan majallah seperti: Muslim India (Padang), Pembela Islam(Bandung),
Batu Ujian (Payakumbuh), Dewan (Yogya), Sinar Atjeh (Kuraraja),
dllnya. Dummy -number "Sinar Islam" diterbitkan pada bulan September
1932, dicetak di Percetakan van Velthuysen, Weltevreden (Jakarta).
Oleh orang-orang Ahmadi majalah yang baru terbit dijadikan mass media
yang giat sekali diedarkan sehingga sampai pula dikalangan kaum
intelek. Dengan berpindahnya pusat kegiatan Ahmadiyah dari
Defensielijn v.d. Bosch ke gang Blunder, maka alamat "Sinar Islam"
pun dalam penerbitannya selanjutnya memakai alamat yang sama. Patut
juga diketengahkan disini Majalah "Sinar Islam" terbit terus hingga
tahun 1987. Pada awal tahun 1987 Majalah ini dibreidel oleh
Departemen Penerangan karena majalah ini banyak menarik minat
kalangan terpelajar dan beredar luas diantara Universitas dan
Perguruan tinggi lainnya, tidak hanya dikalangan orang-orang Ahmadi
saja. Sejak itu misi Majalah ini dilanjutkan oleh berbagai bulletin
lainnya seperti "Edaran Khusus", " Suara Ansharullah", "Suara Lajnah
Imailiyah", dan lain-lainnya.
bersambung
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Tue Oct 11, 2005 1:56 pm

Mengundang Ahmadiayh ke Indonesia......5)

Pedebatan demi demi perdebatan..............................................4)
Perdebatan dan diskusi terbuka adalah suatu metode tabligh yang sangat
ampuh dipergunakan oleh Ahmadiyah. Dengan semakin meluasnya daerah
pertablighan, semakin banyak pula reaksi dan perlawanan umum terhadap
Ahmadiyah. Salah satu penantang sengit Ahmadiyah adalah organisasi
"Persis"(Persatuan Islam) yang dipimpin oleh A. Hassan yang lebih
dikenal dengan "Hassan Bandung" guru dari Almarhum Mohammad Natsir
mantan Ketua Rabithah Alam Islami dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
(DDII) yang terkenal itu. Berkali-kali terjadi surat menyurat dan
diskusi antara Ahmadiyah dan "Pembela Islam" yang merupakan media Persis
itu, yang selanjutnya menimbulkan kesepakatan diantara kedua belah pihak
untuk mengadakan suatu pertemuan yang ketika itu disebut "Openbare
Debatvergadering (Pertemuan Debat Terbuka) yang pertama kalinya
diadakan pada bulan April tahun 1933, bertempat di gedung Sociteit "Ons
Genoegen" Naripanweg, Bandung, dengan acara sebagai berikut:
Tanggal 14 April 1933 : Tanya Jawab
Tanggal 15 April 1933 : Masalah hidup matinya Nabi Isa a.s.
Tanggal 16 April 1933 : Lanjutan masalah hidup matinya Nabi
Isa a.s.
Debater dari Ahmadiyah : 1. Maulana Rahmat Ali HAOT
2. Maulana Abubakar Ayub HA
3. Maulana Muhammad Sadiq HA
Debater dari Pembela Islam : A. Hassan cs.
Verslaggever : Taher Gelar Sutan Tumenggung
Pimpinan : Muhammad Syafi'i dari PSII Bandung
Pengunjung : ± 1000 orang
Perdebatan ini mendapat perhatian luar biasa dari pengunjung yang
terdiri dari orang-orang Ahmadi dan masyarakat Islam kota Bandung.
Ketika perdebatan berlangsung selama beberapa hari di Bandung beberapa
media pers di Bandung dan Jakarta meliput peristiwa yang jarang terjadi
ini. Nama Ahmadiyah semakin terkenal dan hal demikian sangat
menguntungkan tablighnya. Banyak diantara pengunjung memuji ketangguhan
Ahmadiyah dalam perdebatan itu, tetapi tidak sedikit juga diantara
mereka yang memutar balikkan fakta dengan mengatakan Ahmadiyah telah
dikalahkan oleh A. Hassan dengan dalil-dalil yang tangguh . Beberapa
Ulama-Ulama dari Bandung, Singaparna, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan
Sukabumi yang dipelopori oleh Anwar Sanusi dan Al-Hadad lewat surat
kabar Al-Mukmin mencaci maki habis-habisan Ahmadiyah. Sebagai hasil
dari perdebatan itu telah diterbitkan buku "Verslg Debat resmi" yang
ditanda tangani oleh kedua belah pihak yang berdebat, pemimpin dan
Verslaggevernya.
Sementara itu masih ada pihak-pihak yang belum puas dengan hasil
perdebatan itu dan mereka berusaha mempertemukan kembali kedua belah
pihak itu dalam suatu perdebatan yang kedua. Setelah diadakan
persiapan-persiapan seperlunya maka ditetapkanlah bahwa perdebatan
kedua itu akan diadakan di Gedung Permufakatan Nasional di Gang Kenari,
Jakarta dengan acara-acara sebagai berikut:
Tanggal 28 September 1933 : Hidup matinya Nabi Isa a.s.
Tanggal 29 September 1933 : Ada tidaknya Nabi sesudah Nabi
Muhammad SAW.
Tanggal 30 September 1933 : Kebenaran pendakwaan Hazrat Mirza
Ghulam Ahmad a.s.
Debaters pihak Ahmadiyah : 1 . Maulana Rahmat Ali HAOT
2 . Maulana Abubakar Ayyub HA
Debaters pihak Pembela Islam : A. Hassan cs.
Verslaggever : M. Saleh SA.
Pemimpin : R. Muhyiddin
Pengunjung : ± 2000 orang
Perdebatan ini mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat
Jakarta dan empat puluh tahun kemudian Majalah Tempo (almarhum) mengutip
halaman pertama dari Verslag Debat tersebut pada laporan Utama Majalah
itu yang berjudul "Ahmadiyah , Sebuah Titik Yang Dilupa" (.....lihat
Majalah Tempo nomor 29, 21 September 1974). Perdebatan ini juga
dibukukan oleh kedua belah pihak dan Pihak Jemaat Ahmadiyah telah
berkali-kali mencetak ulang "Verslag Debat tahun 1933" itu sebagai alat
pertablighan mereka kepada orang-orang yang ingin mengenal Ahmadiyah.
Dalam tahun 1933 itu saja telah terjadi tiga kali perdebatan Jemaat
Ahmadiyah dengan pihak Pembela Islam yang kesemuanya memberikan effek
yang bagus bagi pertablighan Ahmadiyah . Banyak juga orang-orang
bergabung kepada Jemaat Ahmadiyah sehabis menyaksikan perdebatan itu .
Umumnya Panitia penyelenggara perdebatan-perdebatan tersebut yang
sebelumnya adalah orang-orang independen, setelah menyaksikan
berkali-kali jalannya perdebatan itu tidak biasa mengelak lagi dan
kemudian masuk kedalam Ahmadiyah. R.Mohammad Muhyidin yang bertindak
sebagai Moderator pada perdebatan di Gang Kenari itu adalah salah
seorang diantara mereka yang kemudian memilih untuk bergabung dengan
Jemaat Ahmadiyah, merupakan Ketua PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang
pertama pada tahun 1935.
Selain perdebatan dengan Pembela Islam, Jemaat Ahmadiyah juga ikut
dalam perdebatan antara pihak Islam dan pihak Kristen yang diadakan di
akhir tahun 1933 di kota Garut. Dari pihak Kristen Advent diwakili oleh
pendeta-pendeta Wedding, Francis dan Meyers sedangkan dari pihak Islam
diwakili oleh Maulana Rahmat Ali dari Ahmadiyah, KH Moestafa Kamil dari
PSII dan Haji Ahmad Soebandi dari Muhammadiyah. Baik pihak PSII ataupun
pihak Muhamadiyah kedua-duanya menyerahkan waktunya kepada Maulana
Rahmat Ali untuk mengemukakan hujjah-hujjahnya kepada pihak Kristen
Advent tesebut. Masalah kematian Yesus ditiang salib dan penebusan dosa
menjadi topik yang diperbincangkan dalam perdebatan itu. Maulana Rahmat
Ali dengan tangkas dan cekatan sekali mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru yang membuat pendeta-pendeta itu kagum, betapa
Maulana Rahmat Ali mempelajari juga Bibel ,tidak seperti kebanyakan
Ulama-Ulama Mainstream Islam yang lainnya yang sama sekali tidak mau
menyentuh Al-Kitab orang Kristen tersebut.
Perdebatan-perdebatan di tahun 1933 merupakan titik tolak perkembangan
Ahmadiyah selanjutnya. Perdebatan-perdebatan itu telah mengundang
beratus-ratus orang untuk memasuki Ahmadiyah dan mereka adalah
benih-benih yang kemudian menyebar dan tumbuh lagi ditempat lain. Sebuah
kesempatan mengembangkan Ahmadiyah dengan jalan pertemuan umum,
ceramah-ceramah, diskusi dan bertukar pikiran kini terbuka lebar. Metode
cara pertablighan ini tetap dilakukan oleh orang-orang Ahmadi diberbagai
belahan dunia hingga sekarang ini. Suatu metode yang sangat ampuh untuk
memperkenalkan Ahmadiyah dan menghimpun orang kedalam Jemaat ini.
Setelah sepuluh tahun Ahmadiyah ada di Indonesia dan sudah mendirikan
Cabang-cabangnya di Bogor , Padang dan Jakarta, maka dirasakan perlu
oleh mereka untuk membentuk Hoofdbestur atau Pengurus Besar (PB) menurut
istilah sekarang. Untuk keperluan tersebut pada tanggal 25 dan 26
Desember 1935 berkumpullah 13 tokoh terekmuka Ahmadiyah di Clubgebow
Kleykampweg 41 Jakarta antara lain: 1. Maulana Rahmat Ali HAOT, 2. R.
Mohammad Muhyiddin, 3. R. Kartaatmaja, 4. Taher Gelar Sutan Tumenggung,
5. Sirati Kohongia, 6. R. Sumadi Gandakusumah. 7. Mohammad Tayib, 8. Th.
Dengah, 9. Syagaf Tormulo, 10. R. Hidayath, 11. M. Usman Natawijaya, 12.
Sulaiman Effendi, 13. R. Sudita.
Pada Konfrensi ini terbentuklah susunan Hoofdbestuur Ahmadiyah
Departemen Indonesia sebagai berikut:
Presiden A'la (Ketua) : R. Mohammad Muhyiddin,
Sekretaris : Sirati Kohongia
yang kemudian dilengkapi oleh beberapa Sekretaris lainnya dan anggota.
Pada tahun 1937 susunan tersebut dilengkapi lagi dengan Sub Office
Tahrik Jadid yang dipegang langsung oleh R. Abdurrahman Ahmadi. Beberapa
organisasi lainnya dibawah Jemaat Ahmadiyah menyusul terbentuk seperti
Majlis Ansharullah, Lajnah Imailah, dan Majlis Khudamul Ahmadiyah.
Imam Jemaat Ahmadiyah Internasional, Hazrat Khlaifatul Masih II pada
tahun 1936 telah mengirim dua orang Muballigh lagi dari Qadian menyusul
permintaan orang-orang Ahmadi di Garut. Mereka itu ialah Maulana Abdul
Wahid HA dan Maulana Malik Aziz Ahmad Khan yang diperbantukan kepada
Maulana Rahmat Ali. Kedua orang Muballigh dari Pusat itu sampai di
Jakarta pada tanggal 13 April 1936, yang dijemput oleh Abdul Jalil dkk,
dan untuk sementara ditempatkan di Gang Kleykamp 41 Jakarta.
Maulana Rahmat Ali mengambil cuti lagi pada tahun 1937 dan kembali
pulang ke Qadian selama satu tahun. Untuk itu diangkat R. Kartaatmaja
dengan jabatan Pembantu Amir Muballigh menggantika Maulana Rahmat Ali
selama menjalankan cutinya itu. Sebelum Maulana Rahmat Ali mengambil
cutinya barisan Muballigh Indonesia diperkuat lagi dengan kedatangan
Missionaris Tahrik Jadid pindahan dari Singapore yakni Sayyid Shah
Muhammad al-Jaelani yang ditempatkan oleh Maulana Rahmat Ali di
Purwokerto. Pada tahun 1938 Maulana Rahmat Ali kembali lagi ke Jakarta
sehabis menjalankan cutinya di India dan langsung memangku jabatan
sebagai Missionary -in-Charge (Kepala Muballigh-Muballigh).
Selama masa pendudukan Jepang (1941-1945) kegiatan pertablighan secara
terbuka praktis tidak dapat dilaksanakan, tetapi Maulana Rahmat Ali
mengisi waktunya pada masa itu dengan menulis beberapa buku. Selama
dalam tiga tahun itu telah dipersiapkan bebrapa naskah buku-buku
pertablighan dalm bahasa Indonesia seperti "Kebenaran Al-Masih akhir
zaman", "Masyarakat Islam", "Rukun Iman mengenai malaikat", " Islam dan
Dunia Baru", "Rahasia Isra' dan Mikraj" dan beberapa judul lainnya.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, buku-buku tersebut diterbitkan
oleh Penerbit "Neratja Trading Coy" dan disebar luaskan keseluruh
Indonesia.
bersambung
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Tue Oct 11, 2005 1:58 pm

Mengundang Ahmadiyah ke Indonesia......6)

Ahmadiyah dan Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia...........1)
Untuk menyegarkan kembali ingatan kita kepada sejarah , berikut ini
diterangkan kembali selintas peristiwa yang melatar belakangi
peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Dalam bulan Agustus 1945, tiga hari sebelum diproklamirkannya
kemerdekaan Republik Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta,
Amerika menjatuhkan bom atomnya di kota Hiroshima dan Nagasaki yang
selanjutnya memaksa Kaisar Hirohito menyerah dan bertekuk lutut
kepada Sekutu, dan melepasakan cengkeramannya dinegeri-negeri Asia
Tenggara, termasuk Indonesia yang telah dikuasainya selama tiga
setengah tahun.
Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta
atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan bangsa
Indonesia dan serentak menyusun pemerintah Republik Indonesia. Dalam
pada itu Tentara Sekutu yang diwakili oleh Balatentara Inggeris
mendarat di kota Surabaya dengan tugas melucuti senjata balatentara
Jepang. Belanda yang merasa masih berkuasa di Indonesia mempergunakan
kesempatan itu dengan membonceng Tentara Sekutu masuk ke Indonesia
dengan nama NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
Para anggota Jemaat Ahmadiyah, baik anggota biasa maupun
pemimpin-pemimpinya senantiasa ikut aktif bersama-sama reka
sebangsanya memasukkan diri dalam kancah perjuangan baik secara
langsung mengangkat senjata sebagai anggota BKR-TKR ataupun sebagai
lasykar-lasykar rakyat seperti TRIP dan dalam badan-badan perjoangan
lainnya seperti "Kowani", KNI, dsbnya. Ketika itu Pemerintah RI
merasa sukar untuk melanjutkan perjuangan di ibukota Jakarta , dan
oleh Presiden Sukarno ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke
Jogyakarta.
Ketua PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada waktu itu adalah almarhum R.
Mohammad Muhyiddin pegawai tinggi Kementerian Dalam Negeri , aktif
dalam mempertahankan kedaulatan RI di Jakarta , pada tahun 1946 telah
diangkat sebagai Sekretaris Panitia Perayaan Kemerdekaan RI yang
pertama, yang sedianya juga akan memegang bendera Sang Merah Putih di
muka barisan. Akan tetapi delapan hari sebelum sebelum HUT RI yang
pertama itu beliau telah diculik oleh Belanda dan hingga kini hilang
tak tentu rimbanya. Menurut keterangan Suwiryo mantan Walikota
Jakarta, beliau telah dibawa serdadu-serdadu Belanda kesuatu daerah
di Depok dan ditembak mati disana.
Sebelum Balatentara NICA memasuki dan merebut kota Bandung dua orang
Muballigh Ahmadiyah almarhum Abdul Wahid HA dan almarhum Malik Aziz
Ahmad Khan telah aktif sebagai penyiar RRI untuk siaran Bahasa Urdu
untuk memperkenalkan perjuangan bangsa Indonesia ke benua alit India.
Juga bebrapa orang Ahmadi di Padang dan Medan tidak ketinggalan
mengambil bagian dalam perjuangan fisik melawan Belanda. Perlu
kiranya menjadi catatan, ketika pemerintah RI memrlukan pinjaman uang
dari rakyat maka anggota Jemaat Ahmadiyah telah memberikan segenap
kemampuan yang ada pada mereka. Sebagai contoh Jemaat Ahmadiyah
cabang Garut telah menyumbangkan sejumlah uang kepada pemerintah
ketika itu.
Pada akhir tahun 1946, tepatnya hari Selasa Legi tanggal 10 Desember
1946, tersiarlah sebuah pernyataan dari Imam Jemaat Ahmadiyah,
Pimpinan tertinggi Jemaat Ahmadiyah Internasional yang dimuat dalam
surat kabar-surat kabar antara lain "Kedaulatan Rakyat" dengan judul:
MEMPERHEBAT PENERANGAN TENTANG REPUBLIK , GERAKAN AHMADIYAH TURUT
MEMBANTU. Berikut ini kutipan langsung berita itu dengan ejaan yang
telah disempurnakan:
"Betapa besarnya perhatian gerakan Ahmadiyah tentang perjuangan
kemerdekaan bangsa kita dapat diketahui dari surat-surat kabar harian
dan risalah-risalah dalam bahsa Urdu yang baru-baru ini diterima
dari India. Dalam surat-surat kabar tersebut, dijumpai banyak sekali
berita-berita dan karangan-karangan yang membentangkan sejarah
perjuangan kita, soal-soal yang berhubungan dengan keadaan ekonomi
dan politik negara, bilografi pemimpin-pemimpin kita , terjemahan
dari Undang-Undang Dasar Negara Republik dll.
"Selain itu tercantum juga beberapa pidato yang panjang lebar,
mengenai "seruan dan anjuran kepada pemimpin-pemimpin negara Islam,
supaya mereka dengan serentak menyatakan sikapnya masing-masing untuk
mengakui berdirinya pemerintahan Republik Indonesia. Hal yang
mengharukan ialah suatu perintah umum dari Mirza Bashiruddin Mahmud
Ahmad, pemimpin gerakan Ahmadiyah kepada pengikut-pengikutnya di
seluruh dunia yang jumlahnya 1 2 juta orang supaya mereka selama
bulan September dan Oktober yang baru lalu ini, tiap-tiap hari Senin
dan Kemis berpuasa dan memohonkan do'a kepada Allah SWT guna menolong
bangsa Indonesia dalam perjoangannya, memberi semangat hidup untuk
tetap bersatu padu dalam cita-citanya , memberi ilham dan pikiran
kepadsa pemimpinnya guna memajukan negaranya menempatkan ru'b
(ketakutan) didalam hati musuhnya serta tercapainya sekalian
cita-cita bangsa Indonesia.
"Ketika diadakan peringatan genap satu tahun berdirinya Republik
Indonesia, pemimpin tersebut menurut harian "Al-Fazl" -berpidato
diantaranya sbb:
"Jika bangsa Indonesia akan mendapat kemerdekaan 100%, tentulah hal
ini akan berfaedah besar bagi dunia Islam. Untuk hal itu ada baiknya
jika negara-negara Islam pada masa ini dengan serentak
memperdengarkan suaranya untuk mengakui kemerdekaan Indonesia serta
meminta supaya negara-negara lain juga mengakuinya. Selain itu saya
berharap supaya seluruh muballigh (utusan) Ahmadiyah yang kini ada di
India dan diluar India yaitu Palestina, Mesir, Iran, Afrika, Eropa ,
Kanada, Amerika Selatan dll, mendengungkan serta menulis dalam dalam
surat-surat kabar harian dan majalah -majalah yang mereka keluarkan,
karangan-karangan yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan
bangsa Indonesia , khususnya meminta kepada negara-negara Islam untuk
membantu bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya. Soal kemerdekaan
Indonesia harus tiap-tiap waktu didengung-dengungkan, supaya
negara-negara didunia ini memperhatikan hal itu. Sudaj menjadi haknya
bangsa Indonesia untuk merdeka dimasa ini. bangsa ini adalah bangsa
yang maju, memiliki peradaban tinggi serta mempunyai
pemimpin-pemimpin yang bijaksana. Mereka dalah suatu bangsa yang
besar dan bersatu . Bangsa Belanda yang jumlahnya begitu kecil
sekali-sekali tidak berhak untuk mmerintah mereka
".............("Kedaulatan Rakyat" Selasa Legi, tanggal 10-12-1997).
bersambung
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Tue Oct 11, 2005 1:59 pm

Mengundang Ahmadiyah ke Indonesia.....7)

Jemaat Ahmadiyah dan perjuangan kemerdekaan RI........................2)
Ketika pecah Revolusi kemerdekaan Indonesia pada waktu itu seorang
Muballigh Ahmadiyah didaerah Purwokerto dan berdomisili di Kebumen
,Sayyid Shah Muhammad al Jaelani sempat berkenalan dengan Mr. Widagdo
seorang aktifis perjuangan kemerdekaan RI. Karena beliau berdomisili
di Kebumen, beliau juga pernah diangkat sebagai Wakil Ketua Badan
Sosial Kabupaten Kebumen yang bertugas menyelenggarakan dapur umum
bagi pejuang-pejuang dan rakyat di Kabupaten itu yang ketika itu
banyak yang menderita kekurangan makanan dan pakaian yang terutama
kaum ibu-ibu yang ketika itu tidak bisa keluar rumah karena tak
mempunyai sehelai benangpun yang menutupi auratnya .
Sang Muballigh kemudian menghubungi Sekjen Kementrian Pertanian dan
Perkebunan waktu itu, Mr. Amin dan kemudian berhasil memperoleh
rekomendasi dari beliau untuk selanjutnya menghubungi beberapa pabrik
gula di Jawa Tengah. Dengan surat rekomendasi dari Mr. Amin tersebut
Muballgih Ahmadiyah tersebut dua buah pabrik gula di daerah Surakarta
memberikan sumbangan beratus-ratus karung goni yang digunakan untuk
membuat sarung bagi kaum ibun dan celana kolor bagi kaum prianya.
Penyelenggaraan penjahitan pakaian -pakaian dan dapur umum tersebut
mendapat bantuan juga dari perkumpulan ibu-ibu "fujinkai" yang
dikoodinir oleh isteri dari dr. Gularso.
Dalam sepucuk suratnya kepada Sekretaris Negara, Mr. A.G.
Pringgodigdo menyatakan bahwa Sayyid Shah Muhammad al Jaelani
Mubalkligh Ahmadiyah untuk daerah Purwokerto dan Kebumen telah banyak
menyumbangkan darma bakti dan usahanya untuk membantu kelancaran roda
pemerintahan diaerah kabupaten Kebumen dan Purwokerto dan ia
bermaksud akan menghadap Bapak Presiden dan Perdana Menteri St.
Syahrir dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menyampaikan hadiah
berupa buku "Ahmadiyayat or the true Islam". Dalam surat itu juga
disebutkan bahwa Muballigh Ahmadiyah tersebut telah mengurus dan
mendidik 42 orang cacat serta membekali mereka denagn bebrapa
keterampilan sehingga dapat mencari nafkah sendiri.
Pada tanggal 10 Maret 1947, Sayyid Shah Muhammad al Jaelani menerima
surat dari Sekretaris Negara yang menyatakan bahwa Paduka Yang Mulia
Presiden Sukarno berkenan menerima Muballgih Ahmadiyah itu dan
memintanya menghadap di Kepresidenan Yogyakarta pada jam 11.00 pagi
tanggal 11 Maret 1947. Pada kesempatan itu Sayyid Shah Ahmad Jaelani
telah mempersembahkan sebuah buku "Ahmadiyyat or the true Islam
kepada Presiden Republik Indonesia yang pertama itu. Lebih lanjut
Muballigh Ahmadiyah itu menceritakan pertemuannya dengan Presiden
Sukarno:
"Tuan akan berbicara dalam bahasa apa ?", demikian Bapak Presiden
Sukarno membuka percakapan setelah kami bersalaman.
"Dalam bahasa persatuan bangsa Indonesia", jawab saya. Atas jawaban
itu nampak benar beliau sangat tereksan dan muka beliau berseri-seri.
Waktu saya menyerahkan bingkisan kepada beliau saya ucapkan kata-kata
demikian:
"Kami menghadiahkan kitab ini kepada Bung Karno dengan khidmat dan
penuh hormat dengan penghargaan agar Paduka Yang Mulia sudi
mempelajari kitab ini. Dikala kena peluru karena isi kitab ini, kami
harap Paduka Yang Mulia berani memproklamirkan keimananan kesuciannya
sebagaimana Paduka yang Mulia berani memproklamirkan kemerdekaan
Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
"Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan penuh kesungguhan dan
khidmat tapi sederhana itu, beliau tersentak berdiri dari duduknya
lalu sambil memegang tangan saya mengucapkan kata-kata, "la haula
wala quwwata illa billah ...... minta didoakan......minta didoakan"
Kata-kata itu diucapkan dengan berulang-ulang sedang mata beliau
tampak berkaca-kaca seakan-akan air mata beliau mau keluar.
"Sementara kami minum-minum beliau mengatakan . "Saya sangat gembira
dan berterima kasih kepada tuan atas segala bantuan dan perjoangan
serta darma bakti pada bangsa kami dan pemerintah didaerah kabupaten
Kebumen. Selanjutnya beliau mengatakan , "Ahmadiyah sangat kurang
dikenal terutama dikalangan kaum Nasionalis." dan beliau
menganjurkan, "Baiklah tuan pindah ke di Yogyakarta saja, supaya kita
dapat sering bertemu dan membicarakan soal-soal agama." Saya
menjawab: "Saya akan akan istikharah dahulu, setelah itu baru dapat
mengambil keputusan ."Setelah melakukan sembahyang istikharah
diambillah keputusan untuk pindah ke Yogyakarta sesuai anjuran Bung
Karno. Semenajk itu mulailah saya memberikan sumbangan tenaga dan
pikiran dalam perjuangan memperthankan
kemerdekaan..............(dikutip dari Majalah Sinar Islam nomor
Jubilium , Maret 1976)....
Untuk pertama kalinya Jemaat Ahmadiyah mengadakan Kongresnya di
Jogyakarta pada awal tahun 1947 yang dihadiri oleh beberapa utusan
yang ada di pulau Jawa.Konperensi juga memikirkan langkah-langkah
yang akan diambil sehubungan dengan pertablighan Jemaat Ahmadiyah.
Pada pertemuan itu juga dibicarakan perintah dari Hazrat Khalifatul
Masih II, Imam Jemaat Ahmadiyah agar sermua orang Ahmadi diseluruh
dunia membantu perjoangan Republik Indonesia yang pada waktu itu
belum mendapat pengakuan dari dunia luar. Status tanah air Indonesia
ketika itu masih dipersengketakan dengan Belanda. Hal kedua yang
menajdi pokok acara pada pertemuan itu adalah masalah Anggaran Dasar
& Anggaran Rumah Tangga Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Pada konperensi
itu telah terpilih R. Hidayath sebagai Ketua Pengurus Besar Jemaat
Indonesia didaerah RI dan Ahmad sarido sebagai Sekretari Jendral dan
beberapa anggota Jdemaat lainnya seperti Sukri Barmawi dan Suroso
Malangyudo duduk dalam Dewan Komisaris. Dan Badan inilah yang menjadi
wadah bagi Jemaat untuk membantu perjuangan kemerdekaan bangsa
Indonesia pada masa itu.
Sebagaimana lazimnya sebuah organisasi yang memerlukan Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga sebagai landasan untuk mendapatkan
pengakuan sebagai Badan Hukum, maka hal demikian juga dirasakan oleh
Jemaat Ahmadiyah. Maka dalam rapat Majlis Syura Muballighin bersama
Pengurus Besar pada tanggal 17 Nopember 1949 telah dibentuk sebuah
Panitia untuk merumuskan AD/ART tersebut. Kongres seanjutnya
diadakan di Jakarta pada tangal 9, 10, dan 11 Desember 1949 yang
memutuskan untuk menyetujui AD/ART rancangan Panitia tsb dan
menetapkan nama organisasi sebagai JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA.
Menteri Kehakiman RI dengan surat keputusan nomor :J.A/5/23/13
tanggal 13 Maret 1953 telah mensahkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia
sebagai Badan Hukum yang mendapat per-
lindungan dalam negara Republik Indonesia. Surat Keputusan ini
dimuatdalam Tambahan Berita Negara RI,
bersambung
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Tue Oct 11, 2005 2:01 pm

Mengundang Ahmadiyah ke Indonesia.....8)

Apa kata orang lain tentang Ahmadiyah......
Kalau ada orang yang memuji dirinya sendiri sedangkan pujian itu
tidak sesuai dengan kenyataan di daerah Minangkabau dikatakan
"mangapik daun unyik". Mangapik daun kunyik adalah ejekan yang
diberikan kepada rang yang yang suka membanggakan diri sendiri
sedangkan apa yang dibanggakannya itu tidak sesuai dengan realita
sebenarnya. Kalau saya atau orang-orang Ahmadi menceritakan
keunggulan Ahmadiyah bisa saja orang lain menuduh orang-orang Ahmadi
adalah ibarat "mangapik daun kunyik" tadi dan tentu saja "ketiak
sendiri yang bakalan bau"...
Untuk mengenal diri sendiri dan orang lain , kita juga harus
mendengar pendapat dan komentar orang lain tentang diri kita. Berikut
ini kami kutipkan pendapat orang lain mengenai Ahmadiyah. Diantara
mereka ada yang secara terus terang memuji Ahmadiyah dan tidak
sedikit pula yang secara sembunyi-bunyi mengakui kebenaran Ahmadiyah
itu.
Dr. Haji Abdul Karim Amarullah alias Haji Rasul, yang merupakan
doktor pertama dari orang Indonesia lulusan Al-Azhar Kairo yang juga
merupakan ayahanda Buya Hamka ulama terkenal Indonesia itu. Beliau
adalah seorang lawan sengit dari Ahmadiyah, namun nampaknya tidak
bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Ahmadiyah.
"Di atas nama Islam dan kaum Muslimin sedunia kita memuji sungguh
kepada pergerakannya Ghulam Ahmad tentang mereka banyak menarik kaum
Nasrani (Kristen) masuk agama Islam ditanah Hindustan dan lain-lain
tempat............." (Al-Qaulus-Shahih, halaman 149, Bukitinggi
1926).
Zainuddin Labay, pendiri Dinniyah School Padang Panjang menulis dalam
majalah "Al-Munir" tanggal 23 Desember 1923"
"Tentang kaum Ahmadiyah pintar mengembangkan Islam dan pintar menarik
orang-orang Kristen kedalam Islam. Maka lebih dahulu kita pujikan
setinggi-tingginya karena mereka itu sangat berjasa di dalam
Islam..."
Dalam uraiannya tentang gerakan Ahmadiyah "Almanak Muhammadiyah" yang
dikeluarkan oleh Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka di Yogyakarta
tahun 1346 H (1926) menyebutkan antara lain:
"Baru saja Mujaddid buat abad ke 14 itu berdiri, maka yang
pertama-tama sekali memanggil dia, ialah propaganda Islam adanya.
Semenjak waktu itu, benar-benar ini, iapun menjunjung tinggi akan
bendera Islam itu. Dia punya hati ada menyala dengan pengharapan
,bahwa pada suatu hari benderanya Islam akan berkibar-kibar baik di
Negeri Timur maupun di Negeri Barat......" (halaman 141).
Kalau kiranya Hazrat Mirza bukannya Mujaddid bagi abad yang ke 14 ini
, siapakah lagi orang yang yang ahrus melakukan jabatan ini? Apakah
kamu mengira bahwa janjinya Nabi yang Suci yang sungguh benar itu
bakal tidak kepenuhan selama-lamanya?"....(halaman 143).
Haji Rosihan Anwar, wartawan senior, kolumnis dan budayawan terkemuka
Indonesia sepulang mengikuti seminar pers di Universitas Dakkar,
Afrika Barat, dalam laporan perjalannya menyinggung juga tentang
Ahmadiyah sebagai berikut:
"....Ketika saya tanyakan apa agama rakyat Gambia, maka
dijawabnya,bagian terbesar Islam. Dan tanpa ditanya Jones meneruskan
bahwa Islam dinegerinya sangat ortodok, tidak membantu kepada
kemajuan negeri. Rakyat membutuhkan amat sekolah-sekolah dan
pendidikan. Tetapi kepala-kepala kabilah lebih suka melihat rakyat
tetap **** dari pada disuruh bersekolah. "Coba kalau Ahmadiyah boleh
masuk dan bergerak di Gambia seperti halnya di Afrika Timur, kan
pendidikan bisa dimajukan oleh Ahmadiyah ", ujar Jones pula. Ia
sendiri beragama Kristen ........" (Harian Pedoman, 30 Juni 1960).
Almarhum Haji Agus Salim dan HOS Tjokroamninto dalam pandangan mengen
ai
tafsir Al-Qur'an terbitan Ahmadiyah:
"Kongres Serikat Islam 26 Januari 1928 di Yogyakarta memperingati
hari jadi SI 15 tahun............. Di Kongres itu dibicarakan juga
juga tafsir Qur'an yang sedang dikerjakan oleh Tjokroamnito. Dari
penerbitan-
penerbitan yang pertama ternyatalah bahwa tafsir itu didasarkan atas
tafsir Ahmadiyah. Lantaran itu timbullah dalam kalangan sendiri
perlawanan yang keras. Salim menerangkan bahwa dari segala jenis
tafsir Qur'an , yaitu dari dari kaum kuno , kaum Muktazillah, ahli
sufi, dan golongan modern (antaranya Ahmadiyah, Wahabi baru, dan kaum
Theosofi) tafsir Ahmadiyahlah yang paling baik untuk memberikan
kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar."......(Mr.
A.K. Pringgodigdo Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia; cetakan
kelima halaman 47, Penerbit Pustaka Rakyat).
Sebuah suratkabar Al-Fatah terbitan Kairo Mesir memberikan ulasannya
tentang Ahmadiyah sbb:
"Gerakan Qadiani (Ahmadiyah, red) adalah gerakan yang menakjubkan.
Orang-orang Qadiani mengumandangkan suaranya melalui lisan dan
tulisan. Di Asia, Eropa, Amerika dan Afrika telah berdiri pusat-pusat
pertablighan mereka. Dari segala segi baik dafri segi ilmiah dan amal
perbuatan sama kuatnya dengan missi-missi Kristen. Akan tetapi , dari
segi pengaruh dan keberhasilan tidaklah sama dengan Kristen. Karena
Qadiani menampilkan kebenaran dan ungkapan-ungkapan ilmiah dari Islam
yang jauh lebih berhasil dari pada orang-orang
Kristen.".....(Al-Fatah, Kairo, 20 Jumadil Akhir 1351 H).
Presiden Pertama RI Sukarno dalam pembuangannya di Ende pernah
dituduh oleh lawan-lawan politiknya sebagai propagandis Ahmadiyah.
Beliau juga mengemukakan pandangannya tentang Ahmadiyah sbb:
"Ya.... Ahmadiyah tentu ada cacadnya-dulu pernah saya terangkan di
dalam suratkabar "Pemandangan" apa sebabnya saya tidak mau masuk
Ahmadiyah - tetapi satu hal adalah nyata sebagai batu karang yang
menembus air laut. Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting didalam
pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula
didalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum
intelektuil seluruh dunia umumnya.
"Buat jasa ini-cacad saya tidak bicarakan disini - ia pantas menerima
salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih. Salut
penghormatandan terima kasih itu , marilah kita ucapkan kepadanya
disini dengan cara yang tulus dan ikhlas......" (Dibawah Bendera
Revolusi jilid I, halaman 389).
Sinyalemen kami sebagai seorang Ahmadi bahwa tulisan-tulisan Bung
Karno tentang Islam banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Ahmadiyah,
dan ia sangat berterima kasih atas itu, namun ia bukanlah orang
Ahmadiyah seperti dikatakannya.
Kalaulah orang membaca tulisan-tulisan atau pidato-pidato Bung Karno
mengenai yang berhubungan dengan agama Islam dengan teliti, orang
sering akan menemukan bahwa sumber pendapatnya itu adalah buku-buku
Ahmadiyah. Bung Karno sering menyebut-nyebut istilah-istilah "ilmul
yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin" diwaktu menunjukkan
tingkat-tingkat pengetahuan manusia. Pembahagian tingkat-tingkat ini
diambil oleh Bung Karno dari buku "The Philosophy of the Teachings of
Islam", karya monumental Hazrat Mirza Ghulam Ahmad , pendiri Jemaat
Ahmadiyah. Buku tersebut telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa
dunia ter masuk bahasa Indonesia dengan judul Filsafat Ajaran Islam.
Buku ini baru-baru ini telah diseminarkan dalam acara bedah buku pada
Universitas Gadjah Mada tanggal 6 Januari 1997 yl.
Mengenai pengaruh Ahmadiyah terhadap pemikiran orang-orang terpelajar
Indonesia, Majalah Tempo (almarhum) dalam edisinya tanggal 21
September 1974 menulis:
"Tapi itu berarti bahwa jalan pikiran Ahmadiyah diterima orang boleh
dikatakan hanya "pada segi-seginya yang praktis untuk membela Islam".
Bila seorang khatib muda naik di mimbar Jum'at dan mengupas Bibel dan
mengutip Muhammad Ali atau kadang-kadang Mirza Basyiruddin Mahmud
Ahmad tanpa menyebut sumber , dan dengan itu telah mengesankan
keluasan berfikir yang cukup , galibnya ia tidaklah bermaksud
mempropagandakan Ahmadiyah. Fikiran-fikiran Ahmadiyah itu telah
demikian saja merupakan satu bagian tak terpisahkan dari pemikiran
Islam mutakhir.
"Tetapi kesimpulan yang paling menonjol dari peninggalan Ahmadiyah
ialah bahwa mereka telah memberikan senjata yang bagus bagi umat
Islam , setidak-tidaknya dalam apologi menghadapi serangan Eropa yang
yang terutama santer sampai sesudah Perang Dunia Pertama. ........
dan buku-buku kaum Ahmadi telah "menyerang dengan lebih langsung".
Buku-buku yang mengupas Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan
kitab-kitab agama lain berasal dari mereka - hal-hal yang tidak
pernah muncul dari bumi Mesir atau Arab umumnya sampai pada
tahun-tahun yang lebih akhir.....(Majalah Tempo, 21 September 1974,
Laporan Utama, "Ahmadiyah sebuah Titik yang Dilupa"....)
"Adapun Bahrum Rangkuti, (...mantan Sekjend Depatemen Agama RI,...)
pada tahun 1949 seniman ini menterjemahkan "Bentuk Dasar Ekonomi
Dunia karangan Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, khalifah kedua
Ahmadiyah Qadiani. Setelah itu bisa pula ditunjuk Tafsir Qur'an
Departemen Agama. Tafsir ini tidak hanya menukil "The Holy Qur'an"
Muhammad Ali maupun "The Holy Qur'an" Yusuf Ali , tetapi bahkan
menterjemahkan mentah-mentah sebahagian pengantar "The Holy Qur'an"
Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad diatas ( Majalah Tempo , 12 Januari
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Tue Oct 25, 2005 7:19 am

Islamic ideology of the Lahore Ahmadiyya Movement

Ref: http://www.muslim.org/our-ideo.htm

The beliefs of the Lahore Ahmadiyya Movement are the same as those held by other Muslims, namely, that:

the Holy Quran is the word of God which is to guide mankind forever,
and
the Holy Prophet Muhammad was the perfect model of Islamic teachings whose example shall forever be binding on every Muslim to follow.
We believe that, as the principles and teachings of religion reached perfection and completion in the Holy Quran and the example displayed by the Holy Prophet, it follows that the Quran is the final Book of God, and Muhammad (may peace and the blessings of Allah be upon him) is His Last Prophet, after whom no prophet can appear.
The Lahore Ahmadiyya Movement highlights certain features of the Islamic teaching which have been ignored over the course of time, but which are now crucial to the needs of the age. We summarise below the main aspects of Islam which the movement has thus brought to the fore.


We proclaim that Islam is:

    1. International -- God raised Prophets in all nations, not only among the Israelites (as already accepted by Muslims) but also in India, China, Persia etc. A Muslim must believe in and respect all these prophets and their scriptures. Islam restores the original purity of the eternal truths taught by them, and broadens the scope of their national teachings to provide a faith for all humanity. Goodness, good people and truth may be found in all nations. God is equally just to all human beings, irrespective of their race, nationality or religion.

    2. Tolerant -- It gives full freedom to everyone to hold, practise and adopt any belief and religion. Differences of belief and interpretation, with whomsoever these may occur, must be tolerated. Criticism against Islam must be answered only by word, and any offence felt must be borne with patience; responding by physical violence is alien to the teachings of Islam. The common image of Islam as an intolerant faith is completely false.

    3. Peaceful -- It condemns all use of force except in unavoidable self-defence. All battles of early Islam were purely defensive. Muslims must live peacefully under any rule which grants them freedom of religion. The impression that Islam urges its followers to wage war or rebellion to establish its rule is entirely wrong. The concept of Jihad is greatly misunderstood: it primarily signifies a spiritual, intellectual and moral struggle to reform oneself and others.

    4. Non-sectarian -- Any person professing the words "There is no god but Allah, and Muhammad is the Messenger of Allah" must be treated as one's fellow Muslim. No inquisition is allowed into anyone's beliefs or motives. Issuing so-called rulings, on some pretext, to expel from Islam those who profess the Kalima is entirely against Islamic teachings.

    5. Rational -- It urges use of reason and knowledge in all matters, including religious affairs. Blind following and acceptance are disallowed, and independence of thought is granted. Blind, unthinking obedience to religious leaders is condemned.

    6. Living -- Acts of worship are not rituals to be performed without thought or feeling. They are meant to put the human soul in living contact with a Living God. We must know the purpose of prayer, fasting, etc. and carry them out in their true spirit. God listens to man's supplications and answers his prayers. In every age there arise, among Muslims, saints who have closeness and communication with God. Their example shows others that there is a Living God Who speaks to man.

    7. Supporter of women -- A great deal of misunderstanding prevails on this point, mainly due to local customs being confused with the teachings of Islam. According to Islam, a woman is a full, responsible human being, just as a man is. She should have the same control over determining the course of her life (including matters of marriage and divorce) as a man has over his life.

    8. Highly moral -- It requires Muslims to develop the highest personal moral virtues, and display these qualities even at the cost of personal or national interest. An Islamic society is not created by imposing laws and regulations on people. It is only created by reforming the character of individuals through moral training and example, and this was what the Holy Prophet Muhammad did.

    9. Heart-winning -- It seeks to conquer hearts and minds by showing the logic, truth and beauty of its teachings, in a gentle, loving spirit. It condemns force or coercion to spread the faith or make people conform to it.

    10. Complete -- The Holy Quran and the Holy Prophet provide complete and perfect guidance for all mankind, for all time to come. The Holy Prophet is the perfect exemplar of the highest moral virtues. After him, no prophet or authority is to arise. As Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, the Founder of the Ahmadiyya Movement, wrote
:
"I firmly believe that our Holy Prophet Muhammad is the Last of the Prophets, and after him no prophet shall come for this nation, neither old nor new." (Nishan Asmani, p. 28 )
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Wed Nov 02, 2005 1:45 pm

Rabu, 02 Nov 2005,

Ahmadiyah Tetap Tunaikan Salat Id

REF: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=196092

Dibantu LBH, Adukan ke Komisi HAM PBB

JAKARTA - Kendati belum memperoleh izin untuk menggunakan fasilitas tempat ibadah, jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) akan tetap melaksanakan salat Idul Fitri. Salat itu akan diselenggarakan di Kampus Mubarak, Parung, Bogor.

Hal ini terungkap saat jumpa pers di Ruang Adam Malik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta kemarin. Acara tersebut dihadiri staf Humas JAI A. Mubarik Ahmad dan Syaif Ahmad. Hadir juga Ketua LBH Jakarta Uli Parulian Sihombing dan Sekretaris Umum Persatuan Gereja Indonesia (PGI) DKI Jakarta Pendeta Chevrolet.

"Kami memperoleh izin secara lisan dari polisi untuk mengadakan salat Id bagi warga Ahmadiyah yang tinggal di kompleks Mubarak. Mungkin jumlahnya tidak lebih dari 200 orang dan tidak dilakukan secara mencolok. Hanya salat Id," kata Mubarik.

Tetapi, dia mengaku hingga saat ini belum mendapatkan izin untuk menggunakan fasilitas ibadah yang selama ini disegel polisi. "Sampai hari ini, belum ada pemberitahuan boleh tidaknya menggunakan fasilitas rumah ibadah," ujarnya.

Menurut dia, rumah-rumah ibadah yang disegel tersebut secara hukum masih milik JAI. Keberadaan garis polisi (police line) bukan berarti tempat tersebut disita, melainkan hanya upaya polisi melindungi aset-aset JAI dari pihak lain yang tidak bertanggung jawab. "Sebagai warga yang baik, kami tetap menghormati police line tersebut," katanya.

Soal teror terhadap JAI, dia mengaku telah berkoordinasi dengan polisi agar membantu mengamankan salat Id tersebut. "Mereka bersedia membantu pengamanan," ungkapnya. Dia menolak bantuan pihak lain, seperti Garda Kemerdekaan, karena percaya kepada polisi.

Ditambahkan, beberapa cabang JAI di Indoensia masih rawan. Selain Parung (Bogor), juga cabang Mataram (Lombok) dan Sintang (Kalimantan Barat). "Paling rawan daerah Lombok. Di Cianjur mulai menurun karena sudah dikuasai oleh pemerintah," ujarnya.

JAI memiliki 309 cabang di Indonesia. Pengikutnya mencapai 500 ribu orang. Mereka tersebar di beberapa daerah, seperti Lombok, Kuningan, Kalimantan Barat, dan Bogor. Sebanyak 50 masjid JAI rusak berat pasca penyerangan terhadap kelompok itu.

Dia juga mengimbau pengikut JAI agar tidak melanggar hukum, menjadi warga negara yang baik, dan taat kepada pimpinan cabang. "Kami tidak akan melanggar hukum. Kami percaya kepada pemerintah," terangnya.

Aksi penutupan tempat ibadah juga dilakukan terhadap umat Nasrani. Menurut Sekretaris Umum PGI DKI Jakarta Pendeta Chevrolet, saat ini terdapat tiga gereja di Bekasi yang belum dapat digunakan. "Di Jawa Barat ada 63 buah," ujarnya. Chevrolet menceritakan, akibat penutupan itu, pihaknya terpaksa beribadah di luar.

Di bagian lain, Kuasa Hukum JAI yang juga Ketua LBH Jakarta Uli Parulian Sihombing kecewa kepada polisi. Gara-garanya, polisi tidak segera menangkap para pelaku perusakan dan penutupan tempat ibadah. "Dari sejumlah gereja yang ditutup, polisi belum menetapkan tersangka. Begitu juga kasus Ahmadiyah," ujarnya.

Uli mengatakan, pemerintah tidak memiliki komitmen untuk menghormati kebebasan beragama warganya karena tidak merespons berbagai peristiwa yang terjadi. Karena itu, LBH mengadukan masalah ini ke Komisi HAM PBB.

"Kami harap Komisi HAM PBB membuat rekomendasi dalam persidangan untuk menekan pemerintah Indonesia agar menghormati kebebasan beragama. Minimal segera menangkap pelaku perusakan," ujarnya. (yog) ,

User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby somad » Fri Nov 04, 2005 10:06 am

SALAT IED JEMAAT AHMADIYAH BERLANGSUNG AMAN

03/11/2005 15:05 - Sosial Budaya/Headline News

REF: http://www.metrotvnews.com/berita.asp?id=4530


Image
Jemaat Ahmadiyah Ciledug yang sedang melaksanakan salat Ied di Masjid Ar Rahmat.
(Metro TV)

Jemaat Ahmadiyah Ciledug yang sedang melaksanakan salat Ied di Masjid Ar Rahmat.
(Metro TV)
Metrotvnews.com, Tangerang: Ratusan anggota jemaat Ahmadiyah melaksanakan salat Ied di Masjid Arrahmat, Ciledug, Tangerang, Kamis (3/11) pagi. Masjid Ar Rahmat dikelola oleh pengurus cabang jemaat Ahmadiyah Indonesia cabang Peninggilan, Ciledug. Ramainya jemaat yang hadir hingga meluber hingga keluar masjid.

Meski sempat menyebar isu bahwa akan ada gangguan keamanan, salat berlangsung tanpa pengamanan polisi. Khatib menyampaikan tema khotbah mengenai peningkatan tali kasih sayang dalam momentum Idul Fitri. Ia juga menghimbau para jemaat agar tidak berkecil hati.

Meski pun ada pihak-pihak yang mendiskreditkan mereka, namun khatib mengimbau agar mereka tetap menyayangi sesama umat Islam. Seusai menunaikan salat Ied, jemaat di masjid lainnya saling bersalaman dengan jemaat Ahmadiyah saat berpapasan.
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Next

Return to Pandangan Berlawanan Terhadap Islam



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users