Perangi Pengaruh Barbie, Iran Luncurkan Fatima Minggu, 21 November 2010 12:26
Penjualan boneka Barbie telah membanjiri pasar Iran, dikhawatirkan dapat merusak nilai-nilai moral generasi muda. Untuk mengatasi hal itu, Iran meluncurkan boneka penangkalnya. (Foto: AP)
TEHERAN (Berita SuaraMedia) – Iran telah mendeklarasikan perlawanan melawan musuh baru – Barbie!
Sebuah perusahaan mainan di negara itu lelah melihat gadis-gadis kecil Iran membeli boneka terkenal dari Amerika ini dan keluar dengan lawannya, sebuah "Barbie Islami".
Boneka baru Iran itu bernama "Fatima" dan dibungkus dalam jilbab dan jubah panjang tradisional Iran.
Hossein Homay Seresht, yang perusahaannya, Fam, memproduksi boneka itu, memperjelas bahwa dia tidak ingin anak-anak Iran dicemari oleh Setan Besar, saat dia menyatakan bahwa dirinya akan melawan invasi budaya musuh.
"Dengan membuat Barbie dan memasarkannya, orang Barat mendorong berpakaian yang buruk dan tidak memakai jilbab. Semua faktor ini mendorong kami untuk melaksanakan tugas kami menyajikan boneka Islami ke pasar," ujarnya.
Upaya untuk menegakkan hukum Syariah pada pesta teh anak-anak di seluruh Iran mungkin gagal karena gadis-gadis kecil Iran sudah menunjukkan bahwa mereka lebih memilih Barbie daripada boneka Islami berjilbab manapun.
Di tahun 2008, Iran merespon boneka Ken dan Barbie dengan Dara dan Sara.
Sepasang boneka Muslim itu dikembangkan oleh badan pemerintah untuk mempromosikan nilai-nilai tradisional, dengan busana mereka yang tradisional dan latar belakang yang pro-keluarga.
Mereka dipandang luas sebagai upaya untuk melawan boneka aksesoris Amerika yang sudah membanjiri pasar Iran.
Penjual mainan, Masoumeh Rahimi, menyambut baik boneka itu, mengatakan bahwa Barbie asing bagi kebudayaan Iran karena beberapa dari boneka berambut pirang itu memakai pakaian yang terbuka.
Dia mengatakan bahwa gadis-gadis kecil yang bermain dengan Barbie bisa tumbuh menjadi wanita yang menolak nilai-nilai agama dan negara.
"Saya rasa setiap boneka Barbie lebih berbahaya daripada sebuah rudal Amerika," ujar Rahimi.
Dara dan Sara lahir sebagai karakter dalam buku pelajaran sekolah dan kehidupan mereka juga telah tumbuh dalam cerita-cerita yang dijual di dalam kaset bersama dengan bonekanya.
Kedua boneka itu dikembangkan dan dipasarkan oleh Institut Perkembangan Intelektual Anak dan Dewasa Muda, sebuah badan pemerintah yang berafiliasi dengan Kementerian Pendidikan.
Kedua bersaudara ini saling membantu untuk memecahkan masalah dan beralih ke orangtua mereka yang penyayang untuk bimbingan.
Setiap model Sara dijual dengan jilbab putih untuk menutupi rambutnya yang cokelat atau hitam. (rin/nyp/it) www.suaramedia.com
http://www.suaramedia.com/berita-dunia/ ... atima.html


