. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Tue Jan 31, 2012 2:47 pm

Ketahuilah Wahai Muslimin & Muslimah Jangan Ucapkan Kata TUHAN
January 19, 2012 7:52 am

Risalah ini Insya Alloh akan menjelaskan dari 2 pendapat tentang arti kata TUHAN yang sebenarnya, Silakan disimak dengan teliti.

1. Pendapat Pertama

Berikut adalah nukilan dari seorang ahli bahasa Indonesia Remy Sylado ketika beliau mencari asal kata TUHAN dalam bahasa Indonesia.

Perkataan yang dimaksudkan adalah Tuan dan Tuhan.

Pemakai bahasa Indonesia semuanya mengerti bahwa perkataan tuan sifatnya insani, dan perkataan tuhan sifatnya ilahi. Artinya, walaupun dalam kata tuan diterangkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan beberapa catatan, antara lain: satu orang tempat mengabdi, dua yang memberi pekerjaan, tiga orang laki-laki yang patut dihormati, tetap saja dalamnya tidak mengandung pengertian ilahi.

Sebentar lagi kita akan melihat perubahan ejaan dari Tuan ke Tuhan dalam kitab suci Nasrani terjemahan Melayu dengan huruf Latin. Melalui itu dapat gerangan kita simpulkan bahwa pencarian ejaan yang lebih aktual untuk sebutan khusus bagi Isa Almasih dalam terjemahan bahasa Melayu beraksara Latin-yang bersumber dari injil asli bahasa Yunani untuk perkataan Kyrios-menjadi Tuhan dan sebelumnya Tuan, serta-merta telah melahirkan juga eksegesis yang jamak. Sebelum kita memeriksa bukti itu dengan membuka berbagai versi terjemahan kitab suci Nasrani tersebut-semuanya masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan Lembaga Alkitab Indonesia, yang sebagian fotokopinya kami sertakan di sini-patutlah terlebih dulu kita melihat juga bagaimana orang Nasrani sekarang mencatat perkataan Tuhan dalam kamus-kamusnya tentang gereja.

Agaknya buku pertama yang memberi keterangan tentang Tuhan dengan cara yang mungkin mengejutkan awam adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. Keterangannya di situ, Tuhan, “arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik.” Ensiklopedia yang hanya satu jilid ini pertama terbit pada tahun 1976. Keterangan tersebut masih kita baca lagi dalam ensiklopedianya yang lebih paripurna, terdiri dari lima jilid, terbit pada tahun 1991, yaitu Ensiklopedi Gereja.

Melihat keterangan itu, dan melihat pula pemakaian kata Tuhan merupakan sesuatu yang mudasir dalam agama Kristen, maka boleh dibilang hal itu sepenuhnya merupakan masalah teologi Kristen. Sesuai data yang kita punyai, istilah Tuhan yang berasal dari kata Tuan, pertama hadir dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitabsuci Nasrani tersebut. Perkataan ini dimaksudkan untuk mewakili sifat-sifat omnipresensi atas kata bahasa Yunani, Kyrios, dengan kaitannya pada tradisi Ibrani untuk kata Adon, Adonai, dengan aktualitas sebagai raja dalam kata Yahweh. Maka, memang akan membingungkan, jika orang membaca kitabsuci Nasrani terjemahan Indonesia. Dalam kitab pertama, Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, untuk kata-kata Adonai dan Yahweh semua diterjemahkan menjadi Tuhan, sementara dalam kitab kedua, Perjanjian Baru, untuk kata Kyrios juga diterjemahkan menjadi Tuhan.

Dalam kitab suci Nasrani bahasa Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, untuk kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan ini diperuntukkan bagi Isa Almasih, diterjemahkannya menjadi tuan. Coba kita periksa itu dalam buku kelima Perjanjian Baru, dari bagian surat injil Paulus kepada umat di Roma. Kita baca bagian 1:1-4, yaitu, “Paulo Jesu Christo pounja hamba, Apostolo bapangil, bertsjerei pada Deos pounja Evangelio, (Nang dia daulou souda djandji derri Nabbi Nabbinja, dalam Sagrada Scriptoura). Derri Annanja lacki lacki (jang souda berjadi derri bidji David dalam daging: Jang dengan coassa souda caliatan jang Annac Deos, dalam Spirito yang bersaksiakan carna bangon derri matti) artinya Jesu Christon Tuan cami.”

Berhubung terjemahan Brouwerius ini dianggap sulit, antara lain banyaknya serapan kata bahasa Portugis, dan karenanya hanya mudah dipakai di kalangan komunitas bekas-bekas budak Portugis, para Mardijker, maka timbul gagasan orang-orang saleh di antara bedebah-bedebah VOC untuk menerjemahkan kembali seluruh bagian Alkitab: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan bahasa Melayu yang benar-benar bagus. Tugas itu diserahkan kepada Melchior Leijdecker, pendeta tentara yang berlatar pendidikan kedokteran.

Melalui terjemahan Leijdecker-lah kita menemukan perubahan harafiah dari Tuan menjadi Tuhan. Dalam kitab terjemahannya ini, ‘Elkitab, ija itu segala suat Perdjandjian Lama dan Baharuw atas titah Segala Tuawan Pemarentah Kompanija, pada perikop yang sama dengan terjemahan Brouwerius di atas, teksnya adalah, “Pawlus sa’awrang hamba ‘Isaj ‘Elmeseih, Rasul jang terdoa, jang tasakuw akan memberita Indjil Allah, (Jang dihulu telah dedjandjinja awleh Nabijnja, didalam Suratan yang khudus). Akan Anaknja laki (jang sudah djadi deri beneh Daud atas perij daging: Jang telah detantukan Anakh Allah dengan kawasa atas perij Rohu-’Itakhdis, deri pada kabangkitan deri antara awrang mati,) janij ‘Isaj Elmeseih Tuhan
kamij.”

Jelas, yang tadinya oleh Brouwerius diterjemahkan Tuan-sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, Inggris Lord, Belanda Heere-melalui Leijdecker berubah menjadi Tuhan. Nanti pada abad-abad berikut, sepanjang 200 tahun, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang mula-mula ditemukan Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani & ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih-masalah rumit yang memang telah menyebabkan gereja bertikai dan setelah itu melahirkan kredo-kredo: Nicea, Constantinopel, Chalcedon-akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.

Apa yang dilakukan Leijdecker, mengapa Tuan menjadi Tuhan, merupakan masalah khas bahasa Indonesia. Hadirnya huruf ‘h’ dalam beberapa kata bahasa Indonesia, seperti ‘asut’ menjadi ‘hasut’, ‘utang’ menjadi ‘hutang’, ‘empas’ menjadi ‘hempas’, ‘silakan’ menjadi ‘silahkan’, agaknya seiring dengan kasus nominatif dan singularis dalam tatabahasa Sansekerta ke Kawi dan Jawa. Misalnya tertulis ‘hana’ dibaca ‘ono’, ‘hapa’ dibaca ‘opo’. Di samping itu gagasan Leijdecker mengeja Tuhan untuk mengiring lafaz palatal ‘n’ dengan tepat. Banyak orang yang baru belajar Melayu, bekas budak Portugis asal Goa, terpengaruh Portugis, melafaz ‘n’ menjadi ‘ng’. Juga di Ambon, di pusat tujuan bangsa-bangsa Barat untuk memperoleh rempah-rempah, Tuan dibaca Tuang. Bahkan setelah Leijdecker mengeja Tuhan pun, orang Ambon tetap membacanya Tuang, sampai sekarang. Maka, di Ambon Tuang Ala berarti Tuhan Allah. Selain itu orang Kristen Ambon menyebut Allah Bapa sebagai Tete Manis, harafiahnya berarti ‘kakek yang baik’.

Leijdecker sendiri banyak melakukan kerancuan transliterasi atas kata-kata Melayu dari aksara Arab gundul ke Latin. Melalui contoh acuan perikop di atas, terlihat jelas, bahwa ia tidak mengetahui ketentuan menulis kata-kata Melayu dalam aksara Arab gundul. Umpamanya, agar ‘w’ dan ‘y’ berbunyi ‘o’ dan ‘i’ di depannya harus dipasang alif. Contohnya ‘orang’ adalah (), ‘oleh’ adalah (), ‘itu’ adalah ().

Sudah tentu terjemahan Leijdecker itu tidak mudah dipahami oleh pembaca awam. Karenanya, di abad berikut, di zaman penjajahan Inggris, timbul gagasan untuk merevisi terjemahan Leijdecker tersebut. Robert Hutchings, pastor gereja Anglikan, menghitung sekitar 10.000 kata yang diacu Leijdecker itu tidak tersua dalam kamus Melayu karya William Marsden yang standar baru itu. Terjemahan revisi ini terbit pada tahun 1817, dicetak di Serampura, India.

Sebelum itu, dua tahun setelah Gubernur Jenderal Inggris Raffles, menggantikan kedudukan Gubernur Jenderal Belanda Janssens, telah datang seorang zending dari lembaga London Missionary Society, yaitu William Milne, ke Malaka menemui Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, meminta bantuannya untuk merevisi terjemahan Leijdecker. Lalu, bersama Claudius Thomsen, mereka mengerjakan revisi atas terjemahan Leijdecker tersebut. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi merasa ganjil khususnya pada sebutan ‘bapa’ kepada Allah, dan ‘anak Allah’ kepada Isa Almasih. Memang, perkataan itu dipahami pihak Nasrani sebagai acuan teologis, bukan antropologis, untuk mengaktualkan hakikat masyiah dari leluri Ibrani, yang berkonteks diurapi dan bangkit dari kematian.

Setelah itu masih dilakukan lagi revisi-revisi terjemahan Melayu atas kitabsuci Nasrani tersebut oleh pihak zending Inggris. Yang berikut dipimpin oleh Benjamin Keasberry, dan karyanya itu dibantu pula oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Revisi terjemahan ini terbit pada tahun 1852, dicetak di Singapura.

Namun, di antara sekian banyak revisi yang dikerjakan sepanjang abad ke-19 sampai abad ke-20, bahkan sampai bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan Indonesia, terlihat dengan jelas, bahwa lema yang digagas Leijdecker untuk menyebut Isa Almasih adalah Tuhan, namun kini telah terus terpakai. Penyusun kamus di abad ke-19 pun membakukannya sebagai lema tersendiri di luar Tuan.

Terjemahan kitabsuci Nasrani yang dianggap tertib bahasa Melayunya adalah yang dikerjakan Klinkert. Ia membakukan Tuhan dalam kitab terjemahan itu menurut pengertian yang sama dengan bahasa sekarang. Klinkert menulis dua versi, yaitu edisi Melayu rendah, Wasijat Yang Baroe, terbit pada tahun 1875; dan edisi Melayu tinggi, Kitaboe’lkoedoes, terbit pada tahun 1879. Versi yang kedua ini merupakan kitab yang paling populer di Minahasa. Di Minahasalah tempat lahirnya gereja protestan yang berorientasi kebangsaan, lima tahun setelah Sumpah pemuda, yaitu KGPM.

-Selesai kutipan-

Narasumber: Remy Sylado ahli bahasa Indonesia yang berasal dari Makassar
URL source:

http://www.perisai.net/artikel/dari_man ... kata_tuhan

http://clubbing.kapanlagi.com/showthread.php?t=8106

http://smystery.wordpress.com/2008/07/2 ... ata-tuhan/

Sumber : http://jalanibrahim.wordpress.com/2011/ ... indonesia/

http://murtadinkafirun.forumotion.net/t ... -indonesia

2. Pendapat Kedua

kata Tuhan berasal dari kata bahasa Sansekerta yang diserap dari bahasa Jawa Kuno yaitu Tuh Hyang. Tuh = Tuan, Hyang = dewa, jadi Tuh Hyang = Tuan segala dewa atau kepala para dewa, begitu juga asal kata sembahyang, ini berasal dari kata “Sembah Hyang” atau menyembah sang Dewa (referensi google.com) 4. dari asal kata (sangsekerta) TU =
Kepala dan HAN = Dewa. Tuhan itu dari kata Tuh dan Hyang bahasa Sangsekerta. Cocok dengan literature asal kata tuan yang dari kata Tuh, bahasa Sangsekerta. Dipadukan dgn Hyang yang artinya dewa, jadi Tuan segala dewa. (referensi google.com) Sebuah tulisan di internet patut direnungkan: http://hanyandi.blogdetik.com/2010/0…- di-nusantara/ Asal-usul Agama dan Tuhan di Nusantara Posted by hanyandi on March 30, 2010 Berikut keterangan ahli SENO ADININGRAT yang disampaikan dalam sidang di MK, pada waktu dulu: “Yang pertama bahwa sebenarnya menurut hasil penelitian dari para ahli. Saya mencoba mengacu pada Pr. Dr. Purbocaroko dan Prof. Mr. Muhammad Yamin. Kemudian Prof. Purbocaroko mencatat bahwa sebelum kedatangan agama Hindu dan Budha, bangsa kita sudah memiliki keyakinan mengenai Tuhan Yang Maha Esa dan menyembahnya menurut tata cara nya sendiri. Salah satu sebutan untuk Tuhan dalam bahasa pra Hindu yang jelas itu berakar dari bahasa rumpun Nusantara adalah kata “ziang ”. Dari kata ini muncul kata sembahyang yaitu menyembah “ziang ” yaitu menyembah Tuhan. Dan salah satu prasasti dari Kedukan Bukit abad ketujuh di Sriwijaya itu jelas-jelas mengatakan Dapunta Hyang pendiri Kerajaan Sriwijaya itu dikatakan bahwa mereka melakukan ngalap berkah atau Widyasra yang jelas-jelas itu menunjukkan bahwa sebelum kedatangan agama-agama India, Arab, Barat itu sudah ada kearifan lokal yang percaya pada eksistensi Tuhan Yang Maha Esa. Jadi intinya kata Tuhan berasal dari sansekerta yang diserap dari jawa kuno yang berarti Kepala Dewa, Kemudian ada juga yang mengartikan Kepala Dewa dengan arti : Kepala (sebuah kepala lengkap dengan atribute muka). Dewa (yang menurut suatu kepercayaan adalah sesuatu yg ada diatas sana)
Lalu jika kita telaah arti Tuhan secara bahasa sansekerta tadi mempunyai arti bahwa Kepala Dewa bisa dijabarkan seperti ini :

Kepala : Sebuah profesi yang tingkatannya diatasnya dewa. Jadi dewa masih ada yang memimpin. sedangkan dewa sendiri adalah bawahannya.
Dewa : mempunyai makna wakil dari kepala dewa tersebut.

Demikianlah informasi yang telah penulis sampaikan, Jadi kedua pendapat diatas yang mendekati kebenaran atau pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua. Karna pendapat kedua ini sudah lama sekali mengenal atau memakai kata TUH HYANG (yang sekarang disebut TUHAN) yang kemudian teradobsi oleh masyarakat Hindu dan Budha yang pada saat itu Islam belum masuk ke Indonesia. Jadi seorang Muslim dan Muslimah janganlah sekali-sekali menyebut kata TUHAN didalam Du’a (Do’a) atau pujian-pujian kepada Robbuna Jalla Wa ‘Aalaa,dll yang berhubungan dengan Diinul Islam didalam kehidupan kita sehari-hari. Berhati-hatilah terhadap bahasa yang akan kita pakai yang berhubungan dengan Diinul Islam. Kecuali bahasa ‘Arob yang sudah Alloh Jalla Wa ‘Aalaa pilih atau ridhoi untuk hambanya.

http://cyberwap.net/blog/view.php?id=110354

Terima Kasih atas Perhatiannya

Informasi Tambahan

Selanjutnya ada juga yang perlu kita bahas dari penulis ini yang berkaitan dengan perkara yang menyangkut tentang Tuhan. Jadi ada sebuah kalimat yang mungkin sering kita ucapkan diantaranya Alloh Maha Kuasa,Maha Esa,Maha Mulia,dll. Lalu dalam pembahasan ini yang mesti kita bahas adalah kata MAHA. Jadi ada yang harus kita teliti lagi dari kata MAHA tersebut, Telah diketahui bahwa kata MAHA sudah dimiliki oleh keyakinan agama Hindu. Jadi kata MAHA didalam keyakinan Hindu akan kita dapati didalam Sifat-Sifat Tuhan agama Hindu. Berikut ini akan dijelaskan tentang Sifat-Sifat Tuhan agama Hindu :
Di dalam kitab Wrhaspatitattwa terdapat keterangan tentang sifat- sifat Tuhan agama Hindu yang disebut Asta Sakti atau Astaiswarya yang artinya delapan sifat kemahakuasaan Tuhan.
1. “Hana Anima ngaranya”, Kesaktian Tuhan yang disebut Anima “Anu” yang berarti “atom”. Anima dari Astaiswarya, ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
2. “hana Laghima ngaranya”, Kesaktian Tuhan yang disebut Laghima Laghima berasal dari kata “Laghu” yang artinya ringan. Laghima berarti sifat- Nya yang amat ringan lebih ringan dari ether.
3. ”hana Mahima ngaranya”, Kesaktian Tuhan yang disebut Mahima, Mahima berasal dari kata “Maha” yang berarti Maha Besar, di sini berarti Sang Hyang Widhi Wasa meliputi semua tempat. Tidak ada tempat yang kosong (hampa) bagi- Nya, semua ruang angkasa dipenuhi.
4. “hana Prapti ngaranya”, Kesaktian Tuhan yang disebut Prapti Prapti berasal dari “Prapta” yang artinya tercapai. Prapti berarti segala tempat tercapai oleh- Nya, ke mana Ia hendak pergi di sana Ia telah ada.
5. “hana Prakamya ngaranya”, Kesaktian Tuhan yang disebut Prakamya Prakamya berasal dari kata “Pra Kama” berarti segala kehendak- Nya selalu terlaksana atau terjadi.
6. “hana Isitwa ngaranya”, Kesaktian Tuhan yang disebut Isitwa Isitwa berasal dari kata “Isa” yang berarti raja, Isitwa berarti merajai segala- galanya, dalam segala hal paling utama.
7. “hana Wasitwa ngaranya”, Kesaktian Tuhan yang disebut Wasitwa Wasitwa berasal dari kata “Wasa” yang berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa.
8. “hana Yatrakamawasayitwa ngaranya”, Kesaktian Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya.

http://www.hukumhindu.com/2011/06/panca-sradha/

http://www.babadbali.com/canangsari/pa-brahman.htm/

Kepada para pembaca, perlu diperhatikan bahwa dikeyakinan agama Hindu telah memiliki atau di hak patenkan kata MAHA tersebut. Sedangkan kata MAHA bukanlah berasal dari agama Hindu atau pun Budha, Lalu berasal darimana? Yang jelas berasal dari zaman sebelum Hindu dan Budha. Lantas siapa yang mencetuskan kata MAHA? Yang jelas seseorang yang hidup pada zaman sebelum agama Hindu dan Budha masuk ke Indonesia. Dan kata MAHA itu pun kini sudah menjadi pembendaharaan kata dalam agama Hindu atau Budha. Wahai kaum Muslimiin dan Muslimaat, kita tidak tau siapa yang mencetuskan kata MAHA dan apa agamanya yang mencetuskan kata MAHA tersebut.
Wahai saudara seiman gunakanlah bahasa Diinul Islam di-keseharian dalam hidup kita yaitu bahasa ‘Arab, jika tidak bisa belajarlah. Kemudian pergunakanlah bahasa Indonesia jika lawan bicara antum hanya bisa berbahasa Indonesia. Mulailah saat ini bangga terhadap bahasa Diin(agama) sendiri yang sudah terjaga dan aman lagi ni’mat,yaitu bahasa yang terbaik yang sebagaimana firman Alloh Ta’Aalaa:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” {QS.Yusuf:2}
Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullooh), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhoon), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Alloh menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rosuul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu ‘Umar Ibnul Khothoob RodhiyAllohu’anhu mengatakan yang diantaranya adalah: memahami bahasa Arab merupakan bagian dari Diin(agama) kita. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami Diin(agama) Alloh dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Catatan Kaki:
Penulis khawatir sekali. Apakah mungkin masih ada lagi kata-kata yang kita tidak tau arti sebenar-benarnya.Bisa saja dalam percakapan kita sehari-hari ternyata percakapan itu mengandung arti yang sudah menyimpang jauh dari apa-apa yang kita maksudkan atau kita inginkan dalam pembicaraan kita. WAllohu’Alam, Berdu’alah kepada Allohu Robbuna Jalla Wa ‘Aalaa agar selalu dalam perlindungan-Nya.Allohumma Aamiin



http://ansharullah.com/?p=755
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Momad Narsis » Tue Jan 31, 2012 7:05 pm

xixixixi
panjang-panjang nih penulis ngebahas asal kata Tuhan doank tau-taunya ujung-ujungnya cuma menghimbau muslim buat belajar bahasa Arab toh..
menjadikan bos Arab di gurun pasir sono seneng..
emang kalau sudah menghamba kpd yg berbau Arab muslim langsung bersedia jadi jongosnya..
"Oh Arab sungguh engkau sudah membuat rakyat indonesia menjadi kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.."
Salam Damai
User avatar
Momad Narsis
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3460
Joined: Sun Jan 02, 2011 4:35 pm

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Berto@ » Tue Jan 31, 2012 7:29 pm

silakan muslim aja deh yang tanggepin :green:
gw dah gk heran kalo muslim pola pikirnya kayak gini [-(
User avatar
Berto@
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 747
Joined: Thu May 05, 2011 1:27 pm

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Steviant » Tue Jan 31, 2012 8:13 pm

Thanks penjelasannya, jadi tambah ilmu sejarah nih, tapi ya ujung ujungnya harus jadi orang arab juga dan melupakan apa yg dimiliki oleh bangsa sendiri. Beruntung yg w sembah adalah penguasa alam semesta, bukannya alloh yg hanya menguasai bahasa arab aja. Kafirun tidak terbatas dalam hal penyebutan untuk DIA yg kami sembah,karena DIA lebih mengerti apa yg ada di dalam hati dari penyembahNYA.
User avatar
Steviant
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 352
Joined: Thu Nov 24, 2011 9:28 pm
Location: In ur heart

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby harahap » Wed Feb 01, 2012 12:18 am

muslim jongos arab :lol:
User avatar
harahap
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2123
Joined: Mon Sep 27, 2010 12:09 pm

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby keeamad » Wed Feb 01, 2012 2:27 am

Haram ?

Ngembat anak ingusan aja gak haram .....
User avatar
keeamad
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6764
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby biksu sonje » Wed Feb 01, 2012 4:53 pm

buat muclim nyang pake kata tuhan:
hiiiiiyyyyyyyyyy,,,, atut bin seyem dah kena azab auwloh wts
ayo muclim pade ditunggu murtat-nye
biksu sonje
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 464
Images: 0
Joined: Thu Sep 09, 2010 5:18 pm

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Sun Feb 05, 2012 10:32 am

kira2 gimana reaski FPI, MMI, HTI jika tahu asal kata tuhan yang sebenarnya
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby harahap » Sun Feb 05, 2012 11:19 am

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

muslim jongos iblis arab

:vom:
User avatar
harahap
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2123
Joined: Mon Sep 27, 2010 12:09 pm

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby mamatmaniak » Sun Feb 05, 2012 3:43 pm

Kalo gitu Sila pertama diganti KE OUWLOH AN YANG MAHA ESA aja ... :rolling:
User avatar
mamatmaniak
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 253
Joined: Mon Sep 01, 2008 9:21 pm

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby keeamad » Sun Feb 05, 2012 3:52 pm

parahnya udah dikasi tahu sekalipun,
muslim gak ngrasa jadi jongos iblis arab ...
User avatar
keeamad
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6764
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Mon Feb 06, 2012 4:01 pm

Gunakanlah Istilah God atau Allah, Bukan Istilah Tuhan
Leonardo Rimba II: Untuk teman-teman yg tertarik untuk memperlurus cara berpikir, ingatlah bahwa saya menulis tentang asal-usul. Asal-muasal. Kalau kita mengerti asal-usul, kita tidak akan rancu. Kita akan pegang arti asli. Kalau kemudian ada arti baru, yg tidak dilarang, kita akan tahu bahwa itu perkembangan kemudian, dan bukan asal muasal.

So, saya mengerti asal muasal kata Tuhan, yaitu kata Tuan, dan berarti Tuan. Pertama kali digunakan untuk Yesus ketika dilakukan penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu 300 tahun lalu.

Kalau kemudian kata Tuhan menjadi begitu populer di Indonesia, sehingga orang lupa asal-usulnya, dan mengira Tuhan berarti Allah, maka itulah yg namanya kerancuan.

Tulisan saya bermaksud meluruskan kerancuan, dan bukan menambah-nambahinya. Bukan bermaksud melarang, karena tidak ada yg larang kalau anda mau bilang Tuhan = Allah.

Saya cuma mau menunjukkan, bahwa aslinya kata baru Tuhan berarti Tuan. Sinonim dengan kata Gusti di bahasa Jawa. Dan sinonim dengan kata Lord di bahasa Inggris.

Sudah terlalu banyak salah kaprah di alam pemikiran manusia Indonesia. Segala macam disalah-kaprahkan.

Gunakanlah Istilah God atau Allah, Bukan Istilah Tuhan

by Leonardo Rimba on Wednesday, January 11, 2012 at 10:44pm


Sungguh menyebalkan menemukan hampir semua orang Indon mengira kata "God" di bahasa Inggris berarti "Tuhan" di bahasa Indonesia.



Mereka yg aslinya berbahasa Inggris cukup banyak pakai kata "God" dalam percakapan sehari-harinya. Artinya "Allah". Kalau yg mereka maksud "Tuhan", orang berbahasa Inggris akan pakai istilah "the Lord". The Lord itu Tuhan, sedangkan God itu Allah.



Naskah Pembukaan UUD 45 yg asli memuat kata-kata "Atas berkat rahmat Tuhan yang maha kuasa". Dalam perkembangannya, kata Tuhan diganti dengan kata Allah, diganti begitu saja, tanpa pernah dibahas. Makanya sekarang kita dapati kata-kata "Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa" di dalam Pembukaan UUD 45.



Mungkin ini alasan utama kenapa kata Tuhan dan Allah menjadi rancu di dalam bahasa Indonesia. Tuhan otomatis dianggap berarti Allah. Pedahal tidak. Tuhan = Tuan atau Gusti. Allah = God.




Allah = God = Allahuma = Elohim. Ini juga bukan nama, melainkan kata ganti. Di kitab tertua, yaitu taurat, tertulis: "Tuhan, Allahmu". Jadi, bahkan Allah itu pun merupakan kata generik. Masih ada nama personal yg bisa ditarik dari kata Allah.



Untuk nama personalnya, orang Yahudi cuma menyebut Adonai, artinya Tuan atau Gusti (atau Tuhan).



Tapi, bahkan itu pun masih kata ganti juga.



Semuanya berputar-putar, Allahuma (Elohim, Allah) merupakan kata ganti untuk menyebut Tuan, Gusti, atau Adonai.



Yg disebut Tuhan.



Masih kata ganti juga, nama personal yg paling personal cuma simbol JHVH di dalam agama Yahudi.



Simbol belaka.



Semuanya permainan kata saja. Artinya simbolik. Sama saja seperti slogan di mata uang dollar AS yg bunyinya "In God we trust". Artinya, "Dalam Allah kita yakin".



Lagu kebangsaan Inggris "God Save the Queen", artinya "Allah Menyelamatkan Sri Ratu".



Jangan terjemahkan God menjadi Tuhan. God itu Allah.



Dan Allah adalah konsep, tergantung bagaimana anda mengkonsepkannya. Dan itu boleh saja, suka-suka. Makanya Barack Obama bisa bilang semua orang "Children of God". Artinya "Anak-anak Allah". Itu bisa, tinggal bilang saja. Dari dahulu sampai sekarang seperti itu cara kerjanya. Manusia tinggal mengkonsepkan mau Allah yg seperti apa. Dan tentu saja tidak bisa diperdebatkan karena ini soal taste, selera. Setiap orang berhak mengkonsepkan sesuai dengan seleranya sendiri. Dan Allah tentu saja akan diam. Karena Allah itu sebuah kata. Kata yg digunakan. Artinya tergantung apa yg anda konsepkan. Apa yg anda pikirkan.



Saya sendiri lebih suka pakai kata God atau Allah. Jadi tidak rancu. Kalau yg kita maksud adalah konsep Allah, maka pakailah kata Allah. Negara-negara Barat yg sekuler itu juga pakai kata God atau Allah. Dipakai di lagu-lagu kebangsaan mereka. Dipakai di slogan-slogan kebangsaan mereka. Semuanya pakai hiasan God atau Allah. Dan itu tidak apa-apa.



Yg tidak boleh adalah memaksakan interpretasi dari kata God atau Allah itu. Kalau pakai saja, tidak apa-apa. Maksudnya apa tentu saja tergantung dari tiap-tiap orang.



Kalau kata God atau Allah dipakai dalam konteks kenegaraan, maka kita bisa beralasan tradisi atau azas kepantasan. Pantas kalau menyebut kata God atau Allah. Cuma untuk disebut saja, dan bukan untuk memaksakan interpretasi tentang God atau Allah apa yg dimaksud, apalagi memaksakan praktek keagamaan terhadap God atau Allah itu.



Interpretasi dan praktek keagamaan terhadap God atau Allah merupakan urusan masing-masing warganegara. Mau praktek agama boleh, mau tidak praktek agama juga boleh.



Makanya negara-negara Barat yg sekuler tenang-tenang saja, walaupun mereka pakai kata-kata God atau Allah. Walaupun, penggunaan kata ini sudah semakin terdesak. Didesak untuk dibuang total. Tapi, kita lihat sendiri, bahkan AS dan Inggris saja masih pakai kata God atau Allah.



Dipakai sebagai pemanis. And no more than that.



Mungkin naskah Pembukaan UUD 45 yg asli memperoleh kesulitan ketika diterjemahkan ke bahasa Inggris. Saya bisa bayangkan bagaimana bingungnya orang yg mau menerjemahkan kata-kata "Atas berkat rahmat Tuhan yang maha kuasa" ke dalam bahasa Inggris.



Kalau diterjemahkan secara harafiah, maka harusnya menjadi "With the blessing of the Lord Almighty".



The Lord Almighty tidak dikenal di bahasa Inggris. Yg ada cuma istilah God Almighty. Artinya Allah yg maha kuasa.



Makanya, terjemahannya akhirnya langsung pakai kata God. Dan naskah aslinya langsung diubah diam-diam menjadi "Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa".



Allah yang maha kuasa = God Almighty.



-



Konsep Allah di kitab-kitab Yahudi dan Kristen otomatis menjadi kata God di dalam bahasa-bahasa Barat. Banyak variasinya, seperti:



German - Gott

French - Dieu

Croatian - Bog

Spanish -Dios

Swedish - Gud



Di bahasa Indonesia, God adalah Allah.



Kalau konsep "Tuhan" lain lagi. Artinya adalah Tuan. Bukan Allah. Di bahasa Inggris dikenal Lord Jesus.



Masuk ke bahasa Indonesia menjadi Tuhan Yesus.



Dan di bahasa Jawa menjadi Gusti Yesus.



Tuhan artinya Tuan, Master, Gusti.



-



Tetapi di Indonesia sudah kadung salah kaprah berkepanjangan, dikira Tuhan itu Allah. Pedahal beda. Beda pengertiannya. Tuhan artinya Tuan, Master, Gusti.



Makanya ada istilah Gusti Allah di bahasa Jawa. Di bahasa Indonesia, istilahnya Tuhan Allah. Tuhan disitu artinya Tuan.



Bahasa Inggrisnya Lord God.



Di dalam bahasa Inggris tidak dikenal Tuhan-tuhanan. Tidak gila Tuhan seperti orang Indonesia. Orang berbahasa Inggris menggunakan kata God. Artinya Allah.



Allah adalah Allah. Bahasa Inggrisnya God. Kenapa di Indonesia bisa jadi Tuhan, tentu saja salah kaprah. Orang Indon mengira God adalah Tuhan. Pedahal God itu Allah.



Asli.



Untuk mengerti ini semua, anda harus buang pengertian salah kaprah, dan mengerti bahwa Tuhan itu kata baru. Artinya Tuan. Waktu penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu. Harusnya digunakan istilah Tuan Yesus dan Tuan Allah.



Tetapi jadi Tuhan Yesus dan Tuhan Allah.



Di bahasa Jawa, menjadi Gusti Yesus dan Gusti Allah.



Artinya tetap sama, Tuhan itu Gusti, Tuan.



Itu pengertian dalam konteks aslinya.



Tetapi orang Indon mengira bahwa kata Tuan (yg diucapkan sebagai Tuhan oleh orang Kristen) berarti Allah.



Pedahal artinya tetap saja Tuan. Bahkan sampai sekarang. Ada Tuan Yesus. Ada Tuan Allah.



Bahasa Inggrisnya, Lord Jesus dan Lord God.



Kalau yg dimaksud adalah God, maka orang berbahasa Inggris akan langsung pakai kata itu God. Bahasa Indonesianya Alah, bukan Tuhan.



Tuhan itu Tuan, bahasa Inggrisnya Lord. Bahasa Jawanya Gusti.



Makanya akan terasa janggal kalau Pembukaan UUD 45 pakai kata Tuhan. Di dalam bahasa Inggris tidak bisa keterima itu. Reject.. reject.. (and that's possibly the reason kenapa naskah Pembukaan UUD 45 yg asli diam-diam diganti katanya, kata Tuhan diam-diam diganti dengan Allah).



God atau Allah memang pantas ditulis di dalam pembukaan UUD 45. Tetapi Tuhan (yg berarti Tuan, Gusti, atau Lord), tidak pantas. Tidak memenuhi azas kepatutan berbahasa.



Ada kemungkinan awal kerancuan ini bermula ketika naskah Pembukaan UUD 45 yg asli (yg mengandung kata Tuhan) diterjemahkan ke bahasa Inggris. Tentu saja, berdasarkan azas kepatutan berbahasa, kata Tuhan itu otomatis akan diterjemahkan menjadi God.



Akhirnya orang Indon mengira Tuhan di bahasa Indonesia artinya God di bahasa Inggris.



Pedahal tidak begitu. God di bahasa Inggris adalah Allah di bahasa Indonesia. Dan Tuhan di dalam bahasa Indonesia, di dalam bahasa Inggris adalah Lord. Artinya Tuan, Gusti, Master. Tidak pantas masuk Pembukaan UUD 45.



Saya pernah baca pertanyaan: "Kenapa orang Kristen menuhankan Yesus?" Nah, ini juga pertanyaan yg salah kaprah. Kenapa? Karena dari semula Yesus memang disebut Lord. Lord Jesus. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Tuhan Yesus.



Artinya Tuan Yesus. Gusti Yesus. Master Yesus. Itu panggilannya.



Sama saja seperti kita panggil nama bangsawan Inggris. Ada yg namanya Lord Churchill, Lord Mountbatten, Lord Voldermort, dll.



Jadi, pertanyaannya yg pas: "Kenapa orang Kristen meng-Allah-kan Yesus?".



Dan bukti memperlihatkan, orang Kristen tidak pernah menyebut Allah Yesus. God Jesus itu tidak ada.



Yg ada cuma istilah Lord Jesus. Artinya Tuan Yesus. Walaupun pengucapannya pakai huruf h, menjadi Tuhan, pengertiannya tetap, yaitu Tuan Yesus. Gusti Yesus. Master Yesus.



Dari dahulu sampai sekarang begitu prakteknya, dan pengertiannya.



Yesus adalah Tuan, Lord, Gusti.



Allah lain lagi. Allah adalah God.



Makanya, untuk mengurangi kerancuan, saya himbau agar gunakan saja kata Allah. Kalau yg anda maksud God (di bahasa Inggris), gunakan saja kata Allah.



Kata God atau Allah tidak harus disikapi dengan sinis, karena ini kata umum, digunakan oleh ribuan sekte keagamaan di seluruh dunia. Pengertiannya tergantung dari masing-masing sekte. Sekarang, malahan, pengertiannya tergantung dari masing-masing orang. Kita pakai kata God atau Allah. Lalu kita jelaskan apa yg kita maksud dengan God atau Allah itu.



-



Yg berikut sudah sedikit keluar konteks, tetapi mungkin perlu saya tuliskan juga, yaitu asal-usul kata Allah di bahasa Arab. Saya tidak percaya ini asalnya dari nama Dewa Bulan. Impossible. Allah di bahasa Arab asalnya dari istilah Allahuma, yaitu peng-arab-an dari istilah Yahudi, yaitu kata Elohim.



Elohim menjadi Allahuma di bahasa Arab. Nah, Elohim inilah yg diterjemahkan menjadi God di alkitab berbahasa Inggris, dan menjadi Allah di alkitab berbahasa Indonesia.



Kenapa? Karena orang Kristen Arab sudah pakai kata Allah sejak 2,000 tahun lalu. Sampai sekarang. Kristen sudah berusia 2,000 tahun, sudah pakai kata Allah sejak dahulu.



Balik lagi ke kata Adonai di bahasa Yahudi (Ibrani), yg diterjemahkan menjadi Lord di bahasa Inggris, dan menjadi Tuhan di bahasa Indonesia. Pengertiannya, Tuan.



Adonai Elohim (Ibrani)



Lord God (Inggris)



Tuhan Allah (Indonesia)



Gusti Allah (Jawa)



Bisa dilihat disitu, bahwa Tuhan itu Lord, Gusti.



Elohim itu God, Allah.



Beda jauh.. beda jauh..



-



That's all, my friends. Ini permainan kata. Anda terjebak dalam salah kaprah berkepanjangan. Anda masuk dalam alam pikiran Yahudi dan Kristen, tapi anda tidak bisa mengerti essensinya. Lord atau Tuan, atau Junjungan, atau Master, adalah konsep Judeo-Christian (Yahudi-Kristen). Dituliskan di bahasa Indonesia sebagai Tuhan. Artinya Tuan. Tetap seperti itu.



Kalau yg dimaksud Allah, orang Kristen Indonesia langsung menyebut Allah saja. Orang berbahasa Inggris langsung menyebut God saja.



Tidak pakai kata Lord atau Tuhan. Kalau pakai kata Lord atau Tuhan (yg artinya Tuan), orang akan bisa bertanya lagi, siapa yg dimaksud? Apakah Yesus atau Allah?



Keduanya bisa disebut dengan awalan Lord. Lord Jesus atau Lord God. Awalan Lord dituliskan dan diucapkan sebagai Tuhan di bahasa Indonesia. Maksudnya Tuan.



Begitu konsepnya, pengertiannya.



Perlu waktu 30 tahun bagi saya untuk mengerti ini. Tidak ada yg kasih tahu. Semua orang sudah rancu. Saya harus belajar sendiri. Dari nol, satu demi satu. Itulah hasilnya. Clean. Sharp. To the point. Tidak mencla-mencle. Tidak main Tuhan-tuhanan.



Kalau anda sudah bisa mengerti satu yg basic itu, maka akan sangat mudah bagi anda untuk mengikuti aliran pemikiran Kristen, dan juga Islam. Semuanya ternyata bermula dari kata Lord itu.



Lord memang berarti Tuan, Gusti, Master. Tetapi mau kemana ini dibawa tentu saja tergantung dari kepentingan politik anda. Anda mau uang dan kekuasaan? Pelintirlah ini konsep, dan paksakan orang lain untuk menerimanya.



Dan jadilah agama, dengan bermacam-macam sektenya. Yg memang bisa hidup, sampai saat ini.



Tapi saya rasa kita tidak bermain agama. Kita mau tahu pengertian yg asli. Dan sudah saya tuliskan. Pengertian asli dari kata Lord adalah Tuan, Gusti. Diucapkan Tuhan di bahasa Indonesia, tetapi artinya tetap, yaitu Tuan.



Bukan Allah.



Kalau Allah, bahasa Inggrisnya God, konsepnya lain lagi. Pengertiannya beda.



Mereka yg tidak berlatar-belakang Samawi juga bisa pakai konsep Allah kok. Tidak dilarang. Mahatma Gandhi saja bicara dan menulis tentang God. Osho juga. Dalai Lama juga. God atau Allah itu istilah umum. Bisa digunakan siapa saja. Pengertiannya beda-beda, tergantung penggunanya. Yg sama cuma istilah yg digunakan, yaitu istilah God atau Allah.



Gunakanlah istilah God atau Allah, bukan istilah Tuhan

http://danikhardi.blogspot.com/2012/01/ ... bukan.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Steviant » Mon Feb 06, 2012 8:19 pm

:stun:
whaduh...! Ternyata ribet juga yah, kalo pengertian TUHAN dan Alah dilihat dari konsep terjemahan kata2? Btw, dari penjelasan arti kata2 di atas w jadi tahu kalo satu kata bisa punya banyak arti. Tapi kalo menurut pendapat pribadi ttg pengertian dari kata TUHAN dan Alah adalah: TUHAN adalah satu,sbg pencipta alam semesta beserta semua yg ada di dalamnyaj. Sedangkan Allah,adalah jamak,sbg sesuatu yg disembah dan diyakini oleh tiap2 penganut suatu keyakinan dg pengertian yg ber-beda2, misal: Allah orang Budha, Allah orang Hindu,Allah orang kristen dsb. Dan tentang keyakinan w, TUHAN ku adalah Allah yg disembah oleh Abrahm,Ishak dan Yakub.
User avatar
Steviant
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 352
Joined: Thu Nov 24, 2011 9:28 pm
Location: In ur heart

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Tue Feb 07, 2012 6:33 pm

Asal Usul Nama Tuhan
Kurang lebih 5000 tahun SM, suku bangsa Mongoloid purba di Asia Tengah telah memiliki kepercayaan pada Tu. Dia adalah sesembahan agung mereka yang diyakini sebagai dzat suci yang telah menciptakan alam semesta beserta segala isinya.


Kurang lebih 5000 tahun SM, suku bangsa Mongoloid purba di Asia Tengah telah memiliki kepercayaan pada Tu. Dia adalah sesembahan agung mereka yang diyakini sebagai dzat suci yang telah menciptakan alam semesta beserta segala isinya.

Suku Mongoloid purba adalah bangsa petualang ulung yang terbiasa menjelajah permukaan bumi hingga komunitasnya tersebar di seluruh wilayah Asia Tengah. Pada tahun 3500 SM, mereka tiba di Yunau (China Selatan) dan berkembang di sana. Kedatangan mereka disertai kepercayaan mereka yang lambat laun berkembang menjadi agama Tao.

Tahun 2500 SM, suku Mongoloid ini terdesak oleh suku Tsiu sehingga mereka melakukan eksodus ke Lembah Menam, Mekong dan Irawadi di Indocina. Mereka berbaur dengan bangsa Proto Melayu dan melahirkan bangsa Anam dan Siam. Masyarakat Indocina mengadopsi keyakinan suku Mongoloid purba yaitu menyembah Tu atau disebut juga Tuh.

Tahun 2000 SM, sebagian masyarakat Proto Melayu menyebar ke kepulauan Indonesia, Philipina, kepulauan Polynesia dan kepulauan micronesia. Di daerah daerah tersebut kepercayaan pada Tu berkembang sendiri-sendiri. Kepercayaan pada Tu juga berkembang sampai ke Jepang menjadi cikal bakal agama Shinto.

Tuhan itu dinamakan Tao, Toa, Toh, Tuh, Tou, To, dll yang berakar dari kata yang sama yaitu Tu. Tuhan adalah Illah selain Allah yang tidak berhak untuk diibadahi, diagungkan namanya serta ditaqdiskan (disucikan) oleh kaum Muslim.

Oleh karena itu wahai Kaum Muslim, janganlah mengganti nama Allah dengan Tuhan karena sebutan itu bathil. Allah memiliki 99 nama yang baik (Asmaul Husna).

Sebutlah nama-nama agung itu dalam doa kita dan janganlah menggantinya dengan nama yang tidak dikenal dalam Al Qur’an dan Hadist Nabi. Wallahu Alam.

http://muslimthinking.com/

http://harddian.com/2008/09/02/asal-usul-nama-tuhan/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Sat Feb 11, 2012 11:04 am

Bener2 Keterlaluan !!!! Indonesia ngakunya Negara berketuhanan, tapi sayangnya Muslim malah Jijik pake kata 'Tuhan'. Katanya Haram hukumnya & Produk Kafir.S ebentar lagi Kata 'agama' bakal difatwa haram karena berasal dari Musyrikin Hindu
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Sun Feb 12, 2012 10:43 am

Tuhan Artinya Tuan, Bahasa Inggrisnya “Lord”
OPINI | 07 January 2012 | 13:34 173 7 Nihil
--------------------------------------------------------------------------------




Tuhan ilts

Saya suka dengar dan baca kalimat “Tuhan Memberkati”. Menurut saya itu tidak lengkap, harusnya “Tuhan Yesus Memberkati Anda”. Bisa saja diucapkan oleh siapapun. Tidak ada yg larang, tidak haram.

Dalam bahasa Inggris, ucapannya “God Bless You”. Itu lain lagi. Kalau kalimat itu mau diterjemahkan, maka jadinya “Allah Memberkati Anda”. God itu Allah, dan bukan Tuhan.

So, anggaplah “Tuhan Memberkati” merupakan terjemahan umum saat ini dari ungkapan “God Bless You”. - Menurut saya, terjemahannya harusnya “Allah Memberkati Anda”. Dan bukan “Tuhan Memberkati”.

Kata “Tuhan” di bahasa Indonesia berasal dari kata “Lord” di bahasa Inggris. Kalau God Bless You, jadinya Allah Memberkati Anda. Bukan Tuhan memberkati.

Salah kaprah penerjemahan juga terjadi di film-film. Tadi malam saya lihat teks terjemahan film di TV. Pemainnya mengucapkan “God”. Tetapi di teks terjemahannya tertulis “Tuhan”. Itu salah, harusnya “Allah”.

God di dalam bahasa Inggris menjadi Allah di bahasa Indonesia. Jangan tolol!

Mungkin anda sering bertemu dengan orang-orang yg fasih berbahasa Inggris saling mengucapkan “God Bless You”. Atau dituliskan GBU (bentuk singkatnya). Dalam bahasa Indonesia, ucapan seperti itu harusnya menjadi “Allah Memberkati Anda”.

Kata Tuhan lain lagi. Bahasa Inggrisnya “Lord”, dan itu jarang dipakai dalam ucapan sehari-hari. Tetapi orang Indon dengan semena-mena telah pakai kata Tuhan, pedahal yg dimaksud adalah God.

God itu Allah, terjemahan langsung dan tidak bertele-tele. Tidak salah kaprah.

Tapi jarang yg tahu itu. Orang Indon kebanyakan masih berpikir bahwa God di bahasa Inggris menjadi Tuhan di bahasa Indonesia.

Itu salah. 100% salah. God itu Allah. God Bless You menjadi Allah Memberkati Anda. Dan bukan Tuhan Memberkati.

Ada buku yg aslinya berjudul “The History of God”, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi “Sejarah Tuhan”.

Itu penerjemahan salah kaprah. Harusnya diterjemahkan sebagai “Sejarah Allah”.

So, saya memang hati-hati sekali menggunakan istilah. Sudah terlalu banyak salah kaprah di bahasa Indonesia. Tidak perlu ditambah-tambahi lagi.


Kata “Tuhan” pertama-kali digunakan terhadap Yesus, yg di bahasa Inggris disebut “Lord Jesus”.

Konteks aslinya tetap “Lord” yg bahasa Indonesianya adalah “Tuan”. Tetapi, waktu itu digunakan kata “Tuhan”.

Harusnya diterjemahkan menjadi “Tuan Yesus”. Tetapi saat itu diterjemahkan menjadi “Tuhan Yesus”.

Itu kata baru, pertama-kali digunakan terhadap Yesus. Jadi, Yesus disebut sebagai Tuhan sejak awal abad ke 18, ketika penerjemahan itu dicetak dan disebarkan.

Di bahasa Inggris, Yesus tetap saja disebut “Lord” sampai detik ini. Lord artinya master, tuan.

Bahkan Allah juga disebut “Lord”. Jadi, istilah “Lord God” di bahasa Inggris akhirnya menjadi “Tuhan Allah” di bahasa Indonesia.

Harusnya “Tuan Allah”.

Kita ini semuanya sudah demam Tuhan gara-gara penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu di awal abad ke 18.

Kata Tuhan, yg aslinya digunakan oleh orang Kristen akhirnya masuk ke dalam pembukaan UUD 45 juga, yaitu dalam kalimat: “Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa…”

Dan masuk ke dalam Pancasila dalam sila pertama yg berbunyi (semua orang sudah tahu).

Tuhan artinya Tuan, no more and no less. Tapi orang Indon sudah membawa the istilah menjadi salah kaprah berkepanjangan juga.

So, untuk memperjelas apa yg sudah jelas saya ulangi sekali lagi disini, bahwa kata “God” di bahasa Inggris adalah “Allah” di bahasa Indonesia. Kata “Lord” di bahasa Inggris adalah “Tuan” di bahasa Indonesia. Tetapi menjadi “Tuhan” ketika Alkitab diterjemahkan ke bahasa Melayu di awal abad ke 18.

Tuhan artinya Tuan. Tuhan Yesus artinya Tuan Yesus. Tuhan Allah artinya Tuan Allah.

Begitu pengertiannya di bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lainnya. Cuma di Indonesia saja pengertian Tuan (yg dituliskan sebagai “Tuhan”) akhirnya dimengerti sebagai Allah. Leonardo Rimba


http://bahasa.kompasiana.com/2012/01/07 ... snya-lord/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Sun Feb 12, 2012 10:44 am

Allah Bukanlah God, Jangan Disamakan !!!

Presiden Bush dalam pembukaan pidatonya pada pembentukan barisan "war on terror" memerangi teroris jihad Islam, menyatakan bahwa "Allah" bukanlah God dan ini ditunjang dengan rujukannya ke kalimat Syahadat yang menjadi kewajiban setiap umat Islam untuk mengucapkannya setiap harinya, ".... tiada Tuhan selain Allah...", yang artinya Tuhan tidak ada, yang artinya tidak mempercayai adanya Tuhan, hanya mempercayai adanya Allah bukan Tuhan.

Jadi kalo di Indonesia diterjemahkan secara salah bahwa Allah itu disamakan dengan Tuhan, maksudnya untuk mengecoh, menjebak, dan menipu umat yang bukan Islam yang waktu itu masih mayoritas didominasi oleh pemeluk2 Hindu ini, agar mereka beralih mempercayai agama Islam menggantikan agama mereka.

Jadi pemerintah Malaysia melarang pemakaian nama Allah dalam semua agama yang bukan Islam adalah tepat dan harus dicontoh oleh pemerintah di Indonesia.

> Bing Petri <kebunroek@...> wrote:
> Tindakan yang justru membuat citra
> Islam itu menjadi buruk. Menurut
> saya, pendapat ulama dan sikap
> pemerintah Malaysia itu adalah
> salah satu contoh tindakan *****.

Sebenarnya tindakan pemerintah Malaysia itu justru paling tepat, paling benar, dan memang demikianlah yang menjadi kenyataan.

Anda mau akui atau menyangkalnya tidak merubah kenyataan bahwa kata "Allah" memang hanya ada dalam bahasa Arab, dan juga merupakan pusat yang disembah umat Islam.

Jadi sebagai kenyataan yang tidak bisa disangkal, ternyata dalam kalimat shadat juga dikatakan, "tiada Tuhan selain Allah", cukup jelas khan artinya bahwa Islam menolak adanya Tuhan, hanya Allah yang disembah dalam Islam.

Urusan orang2 Nasrani di Indonesia mengganti kata Tuhan menjadi Allah bukanlah asalnya dari Kristen, melainkan asalnya dari Departement Agama yang memaksa organisasi2 Kristen untuk mengganti kata2 Tuhan ini menjadi Allah dengan maksud nantinya terjadi hubungan sambung menyambung antara Islam dan Nasrani sehingga memudahkan umat Nasrani untuk pindah dan masuk Islam.

Begitulah, kalo anda baca bible dibawah tahun 1970 kebawah, tidak satupun dalam bible ada kata2 Allah, mereka menyebutnya Tuhan bukan Allah, sama dengan terjemahan dalam bible berbahasa Inggris tidak menggunakan Allah tetapi "God".

Munculnya dominasi Islam yang menguasai pemerintahan di Indonesia semenjak penumpasan G30S telah mendorong menteri Agama untuk melarang bible2 yang masih menggunakan kata Tuhan ini sehingga lembaga Alkitab Indonesia ini mencetak ulang bible2nya dengan edisi baru dimana semua kata2 Tuhan diganti dengan nama Allah.

Memang, cita2nya tadinya untuk mendorong umat Nasrani masuk Islam dengan menceritakan bahwa sejarah keduanya berasal dari sumber yang sama namun bible katanya telah terkontaminasi dengan cerita2 bohong dari setan sehingga umat Kristen yang ingin mendalami ajaran Yesus yang sebenarnya dirujuk untuk mempelajari AlQuran.

Demikianlah, cita2 cuma tinggal impian tidak pernah tercapai sehingga digunakannya kata Allah dalam Bible bukan mendorong lebih banyak orang2 Kristen masuk Islam, sebaliknya jadi lebih banyak orang2 Islam yang pindah ke agama Kristen dimana puncaknya ulama besar Islam yang bernama Jusuf mendadak masuk Islam dan mengganti namanya jadi Jusuf Roni. Pergolakan terjadi sehingga Jusuf Roni karena merasa terancam pembunuhan oleh umat Islam di Indonesia terpaksa meminta suaka politik di Amerika dan sekarang menjadi pendeta di Amerika entah dimana dia menetapnya saya sendiri kurang jelas.

http://alt.nntp2http.com/comp/malaysia/ ... f5b30.html

Demi keamanannya, Jusuf Roni yang sangat terkenal dikalangan umat Islam tadinya, sekarang se-olah2 hilang sementara dikalangan Kristen sendiri diapun tidak terkenal hanya ada yang menyatakan dia menjadi pendeta Kristen di Amerika. Ini adalah pukulan hebat yang memalukan dan menimbulkan luka dendam dihati umat Islam di indonesia. Jadi silahkan para pembaca membaca sendiri riwayat ulama besar Islam dari Indonesia yang terpaksa keluar dari Indonesia mendapatkan asylum di Amerika untuk menghindari pembunuhan umat Islam yang juga bekas umat beliau di Indonesia.

Berita besar yang merupakan pukulan bagi umat Islam di Indonesia betul2 dikubur berita2nya hingga sekarang untuk keselamatan Jusuf Roni sendiri dan juga untuk menghindari konflik berdarah antara Islam dan Kristen di Indonesia. Jusuf Roni sendiri adalah uztad dan pemimpin sebuah pesantren di Palembang turun temurun sejak kakeknya masih hidup.

Untuk mendalami kejadian ini, saya ajak anda menonton langsung video pengakuan ulama besar Islam ini didalam website Youtube dibawah ini:

http://www.youtube.com/watch?v=19FU7Yyx4D4

http://sahabat-gembala.blogspot.com/200 ... yusuf.html

http://febrina.wordpress.com/kesaksian- ... usuf-roni/

Demikianlah dari urutan2 diatas, sudah jelas, kata "Allah" tidak seharusnya ada dalam Bible di Indonesia, karena diseluruh duniapun tidak pernah ada kata "Allah" dalam Bible manapun juga.

Allah bukanlah Tuhan, tapi sejenis dewa atau setan yang disembah dalam agama Islam. Hal inilah yang membedakan sekalian menjadi bukti bahwa Islam bukan berasal dari agama Kristen, juga bukan dari pecahan aliran Kristen atau Yahudi, Islam memang merupakan agama yang asal usulnya lebih dekat ke agama Hindu, namun cerita2 atau dongeng2nya dikaitkan ke agama2 Kristen dan Yahudi karena niat untuk menyebarkan agama Islam kepada umat Kristen dan Yahudi.

Jadi kalo pemerintah Malaysia melarang penggunaan nama Allah diagama lain atau di bible agama Nasrani, maka pemerintah RI harusnya mengikuti jejak ini dan membuang rencana gagal dizaman dulu untuk memancing atau menggunakan kata ini sebagai umpan untuk memancing atau menjebak umat Nasrani masuk ke agama Islam.

Presiden Bush sendiri dalam pidatonya juga telah menjelaskan, bahwa Allah itu bukanlah God, melainkan devil yang disembah umat Islam.

Jadi janganlah menyesatkan menganggap dunia Barat membenci Islam dikarenakan mereka menyembah Allah, sama sekali bukan begitu karena dunia Barat tidak peduli apapun yang anda sembah.

Yang menimbulkan kebencian dunia Barat kepada Islam adalah ajaran Islam itu sendiri yang membenci orang2 yang bukan Islam dan mewajibkan untuk membantai mereka dalam menegakkan Syariah Islam. Dan ini bukan cuma terjadi didunia Barat, tapi juga di Cina, di India, di Indonesia dan kegemparan baru bukan yang terakhir adalah peristiwa teror 911 yang menyatakan seperti apa ajaran Islam itu sendiri. Jadi untuk memahami ajaran Islam tidak perlu membaca Alquran tetapi cukup memahaminya dari teror2 umat Islam yang menjalankan kewajiban2 agamanya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

http://www.opensubscriber.com/message/z ... 94654.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Sun Feb 12, 2012 10:45 am

Blog Entri Allah ya Allah, Bukan "GOD" Sep 28, '06 5:09 AM
untuk semuanya
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-162







Oleh: Adian Husaini



Salah satu pandangan yang senantiasa dilempar oleh kaum Pluralis Agama dalam
'mengelirukan' pemikiran kaum Muslim, adalah mengatakan, "semua agama adalah
jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang satu".



Mereka mengatakan, soal nama "Yang Satu" itu tidaklah penting. Yang Satu itu
dapat dinamai Allah, God, Lord, Yahweh, The Real, The Eternal One, dan
sebagainya. Bagi mereka, nama Tuhan tidak penting. Ada yang menulis: "Dengan
nama Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan
Segala agama."



Kita ingat, dulu, ada cendekiawan terkenal yang mengartikan kalimat syahadat
dengan: "Tidak ada tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan T besar).



Tradisi yang tidak tahu dan tidak mempersoalkan nama Tuhan bisa kita
telusuri dari tradisi Yahudi. Kaum Yahudi, hingga kini, masih berspekulasi
tentang nama Tuhan mereka.



Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan
pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah
Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan
'Yahweh' sebagai "The God of Judaism as the 'tetragrammaton YHWH, may have
been pronounced. By orthodox and many other Jews, God's name is never
articulated, least of all in the Jewish liturgy."



Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka
kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf "YHWH". Mereka
hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca Yahweh.
Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati
tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya
dengan Adonai (Tuhan).



Spekulasi Yahudi tentang nama Tuhan ini kemudian berdampak pada konsepsi
Kristen tentang "nama Tuhan" yang sangat beragam, sesuai dengan tradisi dan
budaya setempat. Di Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya, kaum Kristen
menyebut nama Tuhan mereka dengan lafaz "Alloh", sama dengan orang Islam;
di Indonesia mereka melafazkan nama Tuhannya menjadi "Allah"; dan di Barat
kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan "God" atau "Lord".



Bagi orang Kristen, "Allah" bukanlah nama diri, seperti dalam konsep Islam.
Tetapi, bagi mereka, "Allah" adalah sebutan untuk "Tuhan itu" (al-ilah).
Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah Tuhan disebut God, Lord, Allah,
atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk kepada "Tuhan itu". Ini
tentu berbeda dengan konsep Islam.



Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kelompok-kelompok
Kristen yang menolak penggunaan nama "Allah" untuk Tuhan mereka dan
menggantinya dengan kata "Yahwe". Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang
menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM) yang
melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah.
Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH).
Kelompok ini mengatakan: "Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi
bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.''



Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan
Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000. Kitab Bibel versi
BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata "TUHAN" diganti menjadi
"YAHWE"; kata "Yesus" diganti dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah
menjadi "Yesua Hamasiah".



Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya "Jaringan
Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh" yang menerbitkan Bibel sendiri dengan
nama "Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini". Kelompok ini menegaskan,
"Akhirnya nama "Allah" tidak dapat dipertahankan lagi." (Tentang
kontroversi penggunaan nama Allah dalam Kristen, bisa dilihat dalam
buku-buku I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press,
2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005);
juga Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005,
cetakan ke-3).



Itulah tradisi Yahudi-Kristen dalam soal penyebutan nama Tuhan. Sayangnya,
oleh sebagian kaum Muslim atau orientalis Barat, tradisi Yahudi dan Kristen
ini kemudian dibawa ke dalam Islam. Pada berbagai terjemahan Al-Quran dalam
bahasa Inggris, kita menemukan tindakan yang tidak tepat, yaitu
menerjemahkan semua lafaz Allah dalam Al-Quran menjadi "God". Dalam konsep
Islam, Allah adalah nama diri (ismul 'alam/proper name)dari Dzat Yang Maha
Kuasa.



Maka, seharusnya, lafaz "Allah" dalam Al-Quran tidak diterjemahkan ke dalam
sebutan lain, baik diterjemahkan dengan "Tuhan", "God", atau "Lord".



Beberapa terjemahan Al-Quran bahasa Inggris telah menerjemahkan lafaz Allah
menjadi God. Misalnya, Abdullah Yusuf Ali - dalam The Holy Qur'an --
menerjemahkan "Bismillah" dengan "In the name of God".



Begitu juga, "Alhamdulillah" diterjemahkan dengan "Praise be to God", dan
"Qul Huwallahu ahad" diterjemahkan dengan "Say: He is God, the One and
Only". Kasus yang sama - penerjemahan nama Allah menjadi God - juga bisa
dilihat dalam Terjemah al-Quran bahasa Inggris yang dilakukan oleh J.M.



Rodwell (terbitan J.M. Dent Orion Publishing Group, London, 2002. Terbit
pertama oleh Everyman tahun 1909). Harusnya, kata Allah dalam al-Quran tidak
diterjemahkan, karena "Allah" adalah nama. Seperti halnya kita tidak boleh
menerjemahkan kata "President Bush" dengan "Presiden semak", atau nama Menlu
AS "Rice" dengan "Menteri Nasi".



Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sesuai dengan konsep Pandangan
Hidup Islam (Islamic worldview) yang bersifat otentik dan final, maka konsep
Islam tentang Tuhan, juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep
Tuhan dalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Al-Quran yang juga
bersifat otentik dan final.



Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan
konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam
tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat
modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur. (Syed Muhammad Naquib
al-Attas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC,
1995).



Bait pertama dalam Aqidah Thahawiyah yang ditulis oleh Abu Ja'far
ath-Thahawi (239-321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf,
Imam Syaibani, menyatakan: "Naquulu fii tawqiidillaahi mu'taqidiina -
bitawfiqillaahi: Innallaaha waahidun laa syariikalahu." Dalam Kitab
Aqidatul Awam - yang biasa diajarkan di madrasah-madrasah Ibtidaiyah -
ditulis bait pertama kitab ini: "Abda'u bismillaahi wa-arrahmaani-wa
bi-arahiimi daa'imil ihsani." Ayat pertama dalam al-Quran juga berbunyi
"Bismillahirrahmaanirrahiimi", dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang.



Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah' dibaca dengan
bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi
harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana
bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al-Quran.



Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad - yang sampai pada
Rasulullah saw - maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam
penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama
Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah.



Dengan demikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan
final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai
kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis'
untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh
Allah SWT - melalui Al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh
Nabi Muhammad saw.



Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang
Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah
dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak
memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini.
Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan
tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang

serupa dengan Dia. (QS 112). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: "La ilaha
illallah, Muhammadur Rasulullah" -- Tidak ada tuhan selain Allah, dan
Muhammad adalah utusan Allah". Syahadat Islam ini tidak boleh diterjemahkan
dengan "Tidak ada tuhan kecuali Tuhan dan Yang Terpuji adalah utusan Allah".



Kaum Muslim di seluruh dunia - dengan latar belakang budaya dan bahasa yang
berbeda - juga menyebut dan mengucapkan nama Allah dengan cara yang sama.
Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam
masalah konsep 'Tuhan'. Karen Armstrong menulis dalam bukunya:



"Al-Quran sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai
zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau
dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas
tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat
Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan." (Karen Armstrong,
Sejarah Tuhan (Terj), 2001), hal. 199-200).



Bagi kaum Pluralis Agama, siapa pun nama Tuhan tidak menjadi masalah, karena
biasanya mereka memandang, agama adalah bagian dari ekspresi budaya manusia
yang sifatnya relatif. Karena itu, tidak manjadi masalah, apakah Tuhan
disebut Allah, God, Lord, Yahweh, dan sebagainya. Mereka juga mengatakan,
bahwa semua ritual dalam agama adalah menuju Tuhan yang satu, siapa pun
nama-Nya. Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan, bahwa:



"... setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan
yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu
adalah jalan dari berbagai Agama." (Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan,
(1999), hal. xix).



Seorang Pluralis pendatang baru, juga menulis dalam buku terbarunya, "Semua
agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi,
kembalinya kepada Allah."



Pandangan yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama,
yaitu Allah, adalah pandangan yang keliru. Hingga kini, sebagaimana
dipaparkan sebelumnya, di kalangan Kristen saja, muncul perdebatan sengit
tentang penggunaan lafal "Allah" sebagai nama Tuhan. Sebagaimana kaum
Yahudi, kaum Kristen sekarang juga tidak memiliki 'nama Tuhan' secara
khusus. Kaum Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain juga tidak mau
menggunakan lafaz "Allah" sebagai nama Tuhan mereka.



Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan
"Allah" sama dengan orang Islam. Nama itu juga kemudian digunakan oleh
Al-Quran. (Al-Quran memang menyebutkan, jika kaum musyrik Arab ditanya
tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menyebut
"Allah". (Lihat QS 29:61, 43:87).



Tetapi, perlu dicatat, bahwa Al-Quran menggunakan kata yang sama namun
dengan konsep yang berbeda. Bagi kaum musyrik Arab, Allah adalah salah satu
dari Tuhan mereka, disamping tuhan Lata, Uza, Hubal, dan sebagainya. Karen
Armstrong menyebut, ketika Islam datang, 'Allah' dianggap sebagai 'Tuhan
Tertinggi dala keyakinan Arab kuno'. (Lihat, Karen Armstrong, op cit, hal.
190).



Karena itu, dalam pandangan Islam, mereka melakukan tindakan syirik terhadap
Allah. Sama dengan kaum Kristen, yang dalam pandangan Islam, juga telah
melakukan tindakan syirik dengan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan. Karena
itulah, Nabi Muhammad saw - sesuai dengan ketentuan QS al-Kafirun - menolak
ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan
masing-masing secara bergantian.



Jadi, tidak bisa dikatakan, bahwa orang Islam menyembah Tuhan yang sama
dengan kaum kafir Quraisy. Jika menyembah Tuhan yang sama, tentulah Nabi
Muhammad saw akan memenuhi ajakan kafir Quraisy.



"Katakan, hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu
sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak
pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula)
menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah
agamaku." (QS 109).



QS al-Kafirun ini menjadi dalil bahwa karena konsep Tuhan yang berbeda -
meskipun namanya sama, yaitu Allah -- dan cara beribadah yang tidak sama
pula, maka tidak bisa dikatakan bahwa kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy
menyambah Tuhan yang sama. Itu juga menunjukkan, bahwa konsep Tuhan kaum
Quraisy dipandang salah oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga cara (jalan)
penyembahan kepada Allah. Karena itulah, nabi Muhammad dilarang mengikuti
ajakan kaum kafir Quraisy untuk secara bergantian menyembah Tuhan
masing-masing.



Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita
Allah, yang nama-Nya diperkenalkan langsung dalam Al-Quran. Tidaklah patut
kita membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan
menyama-nyamakan Allah dengan yang lain, atau menserikatkan Allah dengan
yang lain, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Pluralis
Agama. Wallahu a'lam. (Bojonegoro, 15 September 2006/www.hidayatullah.com ).



Catatan Akhir Pekan adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
www.hidayatullah.com <http://www.hidayatullah.com/>

http://kickzionism.multiply.com/journal ... nal%2Fitem
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby Laurent » Mon Mar 05, 2012 2:42 pm

sebentar lagi Tuhan bakal difatwa HARAM sama MUI karena identik dengan kafir HINDU
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: HARAM HUKUMNYA, MUSLIM MEMAKAI KATA TUHAN

Postby 1234567890 » Mon Mar 05, 2012 2:50 pm

muslim harus memakai kata onta yah ?

keontaan yang maha arab ?
1234567890
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3860
Joined: Sun Aug 09, 2009 2:31 am

Next

Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users