. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Forwarding Message dari Milis Minangnet

Artikel dan pertukaran pikiran mengenai SYI'AH, Ahmadiyah, Sufi, Salafi, Wahabi, dan berbagai aliran dan sekte Islam selain Sunni.

Forwarding Message dari Milis Minangnet

Postby Uwan N.S. » Wed Jun 21, 2006 4:59 pm

From: edizal
To: minang
Sent: Tuesday, June 20, 2006 6:07 PM
Subject: [m] Apa itu Ahmadiyyah?


Ahmadiyyah

Ahmadiyyah (Urdu: احمدیہ Ahmadiyyah) atau sering pula disebut
Ahmadiyah, adalah sebutan untuk pengikut ajaran Mirza Ghulam Ahmad,
seorang yang mendirikan gerakan ini yang lahir pada 13 Februari 1835
dan wafat 26 Mei 1908 di India.
Ahmadiyyah juga merupakah suatu jamaah dalam Islam.

Sejarah penyebaran di Indonesia

Ahmadiyyah masuk ke Indonesia tahun 1935, tapi penganutnya mengklaim
telah menyebarkan ajaran sejak tahun 1925.
Tahun 2000, mendiang khalifah Ahmadiyah dari London, Tahir Ahmad,
bertemu dengan Presiden Abdurahman Wahid.

Perkembangan
Kini Ahmadiyah mempunyai sekitar 200 cabang, terutama Jakarta, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Palembang, Bengkulu, Bali, NTB
dan lain-lain. Basis-basis Ahmadiyah di Kuningan, Jawa Barat dan
Lombok telah diserang massa (2002/2003) karena dianggap mengandung
ajaran sesat.

Kontroversi ajaran Ahmadiyah

Menurut sudut pandang umumnya umat islam, ajaran Ahmadiyah (Qadian)
dianggap melenceng dari ajaran Islam sebenarnya karena mengakui Mirza
Ghulam Ahmad sebagai Nabi yaitu Isa Al Masih dan Imam Mahdi, hal yang
bertentangan dengan pandangan umumnya kaum muslim yang mempercayai
Nabi Muhammad sebagai nabi Terakhir walaupun masih menunggu
kedatangan Isa as dan Imam Mahdi.
Sementara itu pengikut Ahmadiyah Lahore mengaku mempercayai Mirza
Ghulam Ahmad hanya sebagai Mujaddid dan tidak disetarakan dengan
posisi Nabi Muhammad, sesuai keterangan Ahmadiyyah Lahore untuk
Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.

Ahmadiyah Menurut Ahmadi

Nama Ahmadiyah mengindikasikan kebangkitan kembali agamanya Al-Quran
dan suatu dakwah yang terlahir berdasar bimbingan Ilahi kepada sang
Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Sebutan Ahmadi atau Ahmadiyat hanyalah
sebagai pembeda bagi Muslim Ahmadi dari umat Muslim lainnya yang
masih saja sedang menunggu kedatangan Al-Masih dan Imam Mahdi yang
Dijanjikan. Muslim Ahmadi meyakini bahwa pendiri Jemaat mereka adalah
Al-Masih yang Dijanjikan tersebut.

Sekarang ini, penganut dari semua agama besar di dunia masih sedang
menunggu kedatangan kedua kalinya dari pendiri agama mereka. Apakah
pesan dan fungsi dari masing-masing pembaharu itu akan sama dan
identik? Ataukah masing-masing dari mereka membawa pesan sendiri-
sendiri yang berbeda dan bertentangan satu sama lain dengan pesan
dari para guru akbar tersebut pada saat Kedatangan yang Kedua kalinya
itu? Jika pesan mereka adalah identik satu sama lain maka akan
diperlukan lebih dari satu wujud guna menyampaikan pesan dan memberi
teladan yang selaras dengan yang dimaksud. Kalau sampai pesan-pesan
itu saling bertentangan, maka kedatangan sekian banyak pembaharu,
alih-alih menciptakan kedamaian, pemenuhan ruhani dan kesatuan, malah
hanya akan membuncahkan permusuhan, perselisihan dan chaos.

Al-Quran seperti juga kitab-kitab suci agama lainnya, mengandung
nubuatan-nubuatan akbar mengenai kemunculan seorang guru universal
dan pembaharu di akhir zaman, yang akan menghidupkan kembali dan
memperbaharui keimanan kepada Tuhan serta membawa persatuan,
kedamaian dan kepuasan ruhani. Umat Muslim seperti juga umat
Kristiani, sama sedang menunggu kembalinya sang Al-Masih dan juga
turunnya Imam Mahdi. Umat Buddha juga sedang mengharapkan kedatangan
kembali Buddha, sedangkan umat Hindu menunggu kembalinya Krishna.
Semua nubuatan itu terpenuhkan dalam kedatangan wujud satu orang.
Karena Tuhan itu Maha Esa, maka kebenaran tidak bisa terbagi dan
petunjuk bagi umat manusia serta penawar dari segala penyakit zaman,
tentunya juga harus berbentuk satu, komprehensif dan konsisten.

Pada tahun 1835, di sebuah desa bernama Qadian, di daerah Punjab,
India, lahir seorang anak laki-laki bernama Ghulam Ahmad yang
kemudian diagungkan sebagai sang Mujaddid dari zaman ini oleh para
cendekiawan Muslim. Ia bukan seorang anak laki-laki biasa. Orang
tuanya Muslim dan ia tumbuh dewasa menjadi seorang Muslim yang luar
biasa. Sejak awal kehidupannya, Mirza Ghulam Ahmad sudah amat
tertarik pada telaah dan khidmat agama Islam. Beliau sering bertemu
dengan individual Kristiani, Hindu atau pun Sikh dalam perdebatan
publik serta menulis dan bicara tentang mereka. Hal ini menjadikan
lingkungan keagamaan menjadi tertarik kepadanya dan beliau jadinya
dikenal baik oleh para pimpinan komunitas.

Semua mereka itu, baik Hindu, Kristiani atau Muslim, sependapat bahwa
hidup beliau bersih dari cacat cela, selalu menunjukkan belas kasih
dan perhatian kepada yang lainnya dan selalu bersikap jujur dan lurus
dalam semua urusannya. Beliau dipercaya oleh semua orang. Singkat
kata, orang-orang mengenal beliau sebagai orang yang paling terhormat
dan dipercaya, seseorang yang tidak pernah mau kompromi jika
menyangkut kebenaran dan keadilan. Walau orang-orang Kristiani, Hindu
dan Sikh amat tidak sependapat dengan beliau mengenai hal-hal
keagamaan, mereka mengakui kesucian kehidupan dan karakter pribadi
beliau. Bahkan para ulama Muslim pun menganggap beliau sebagai
pembela Islam.

Hazrat Ahmad.as mulai menerima wahyu Ilahi sejak usia muda dan dengan
berjalannya waktu maka pengalaman perwahyuannya berlipat kali secara
progresif. Setiap wahyu yang diterimanya kemudian terpenuhi pada
saatnya, sebagian di antaranya yang berkaitan dengan masa depan masih
menunggu pemenuhannya. Dakwah beliau menyatakan diri sebagai Imam
Mahdi dan Masih Maud di lakukan di akhir tahun 1890 dan
dipublikasikan ke seluruh dunia. Pernyataan beliau seperti juga
halnya para Pembaharu Ilahiah lainnya seperti Nabi Isa dan
Muhammadsaw langsung mendapat tentangan luas. Sebelum menyatakan diri
sebagai Masih Maud, Allahswt telah menjanjikan melalui wahyu bahwa:
‘Aku akan membawa pesanmu sampai ke ujung-ujung dunia.’

Wahyu ini memberikan janji akan adanya dukungan Ilahi dalam
penyebaran ajaran Jemaat yang telah dimulainya di dalam Islam.
Mentaati perintah Tuhan, Hazrat Ahmadas menyatakan diri sebagai Al-
Masih bagi umat Kristiani, sebagai Mahdi bagi umat Muslim, sebagai
Krishna bagi umat Hindu, dan lain sebagainya. Jelasnya, beliau adalah
Nabi yang Dijanjikan bagi masing-masing bangsa dan ditugaskan untuk
menyatukan umat manusia di bawah bendera satu agama. Muhammadsaw,
Nabi Suci umat Islam adalah seorang nabi yang membawa ajaran yang
bersifat universal dan sosok Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang
menyatakan diri sebagai Al-Masih yang Dijanjikan, juga menyatakan
dirinya tunduk dan menjadi refleksi dari Muhammad, Khataman Nabiyin.

Menjelaskan tentang tujuan diutusnya wujud Masih Maud, beliau
menjelaskan:
‘Tugas yang diberikan Tuhan kepadaku ialah agar aku dengan cara
menghilangkan hambatan di antara hamba dan Khalik-nya, menegakkan
kembali di hati manusia, kasih dan pengabdian kepada Allah. Dan
dengan memanifestasikan kebenaran lalu mengakhiri semua perselisihan
dan perang agama, sebagai fondasi dari kedamaian abadi serta
memperkenalkan manusia kepada kebenaran ruhaniah yang telah
dilupakannya selama ini. Begitu juga aku akan menunjukkan kepada
dunia makna kehidupan keruhanian yang hakiki yang selama ini telah
tergeser oleh nafsu duniawi. Dan melalui kehidupanku sendiri,
memanifestasikan kekuatan Ilahiah yang sebenarnya dimiliki manusia
namun hanya bisa nyata melalui doa dan ibadah. Di atas segalanya
adalah aku harus menegakkan kembali Ketauhidan Ilahi yang suci, yang
telah sirna dari hati manusia, yang bersih dari segala kekotoran
pemikiran polytheistik.’ (Khutbah Islamiah, h. 34)

Hazrat Masih Maud.as menekankan peningkatan nilai-nilai akhlak dan
keruhanian serta mematuhinya secara ketat dalam segenap lingkup
kehidupan. Hasilnya ialah beliau telah berhasil mengukuhkan suatu
komunitas beranggotakan banyak orang yang hidup berdasar petunjuk dan
teladan beliau, mengikuti ajaran Islam selaras dengan fitrat dan
kemampuannya masing-masing. Pola dan tradisi yang beliau terapkan
telah menjadi jaringan alamiah dalam diri para anggota komunitas
tersebut sehingga bisa dikatakan kalau Jemaat yang beliau dirikan itu
adalah satu-satunya yang mencerminkan tujuan hakiki kehidupan manusia
dan cara-cara pencapaiannya.

Menyusul wafatnya Hazrat Masih Maudas pada tahun 1908, para Muslim
Ahmadi memilih seorang pengganti beliau sebagai Khalifah. Sistem
khilafat merupakan rahmat Ilahi yang turun setelah seorang nabi dan
meneguhkan solidaritas, kohesi dan persatuan di antara para mukminin.
Sosok Khalifah merupakan pimpinan keruhanian dan administratif dari
Jemaat Islam Ahmadiyah. Pimpinan tertinggi dari Jemaat Ahmadiyah di
seluruh dunia pada saat ini (2002) adalah Hazrat Mirza Tahir Ahmad
(1928-2003)yang berkedudukan di London dan terpilih sebagai Khalifah
keempat pada tahun 1982. Beliau ini memiliki bakat spiritual dan
mendapat petunjuk samawi, penuh dengan ilmu pengetahuan,
kebijaksanaan dan kerendahan hati.

Pengetahuannya mengenai sejarah dan dunia Islam bersumber pada telaah
Islam sepanjang hayat. Beliau banyak berjalan ke berbagai negara dan
cermat mengamati budaya dan masyarakat lainnya. Tidak terbilang
pidato dan kuliahnya berkaitan dengan topik keagamaan dan telah
menjawab ribuan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah-masalah di
masa kontemporer ini. (Pada tahun 2003 terpilih Khalifah V yaitu
Mirza Masroor Ahmad atba).
Dengan bimbingan seorang Khalifah, Jemaat ini selalu berada di
barisan terdepan dalam khidmat dan kesejahteraan kemanusiaan. Banyak
sudah sekolah-sekolah, klinik dan rumah sakit yang didirikan di
berbagai negeri. Dalam rumah-rumah sakit tersebut, mereka yang papa
dan miskin dirawat secara gratis. Pada saat-saat bencana alam di
seluruh dunia, Jemaat ini selalu membantu secara sukarela untuk
menolong mereka yang terkena dan akan terus demikian Insha Allah,
baik secara finansial atau pun phisikal, tanpa membedakan agama,
warna kulit atau pun bangsa. Jemaat ini juga telah memiliki jaringan
televisi global yang bernama MTA International yang mengudara
duapuluh empat jam sehari dalam beberapa bahasa dunia. Layanan ini
diberikan tanpa memungut biaya.

Di negeri mana pun mereka tinggal, Muslim Ahmadi selalu mematuhi
hukum di tempat itu serta memberikan kesetiaannya kepada negeri
kediamannya dan kepada bangsa yang mendiaminya.

Dunia ini yang telah demikian banyak menyaksikan tragedi seabad
terakhir dan yang sekarang juga masih belum lepas dari kungkungannya,
sesungguhnya sedang berada di tepi jurang mala petaka yang pasti tiba
sebagai ganjaran dari keserakahan, sikap mementingkan diri sendiri,
prasangka dan terutama sekali karena ketiadaan keadilan yang absolut
dan hakiki. Hazrat Masih Maudas telah memberikan petunjuk bagi
manusia akhir zaman ini tentang bagaimana berperilaku di tengah
komunitas dunia guna mencapai kedamaian dan keharmonisan. Beliau
berujar:
‘Nasihatku kepada kalian adalah agar kalian ini menjadi teladan
dalam semua kebaikan. Jangan sampai kalian malas dalam melaksanakan
kewajiban kalian kepada Tuhan dan jangan juga mengabaikan kewajiban
kalian kepada sesama manusia.’ (Malfuzat vol. II, h. 298)

Hazrat Masih Maud.as telah diberitahukan bahwa pesan-pesannya akan
sampai ke pelosok-pelosok dunia. Dari tempat terpencil di Qadian
tersebut, sekarang Jemaat ini berkat rahmat Allahswt, telah menyebar
ke lebih dari 170 negara di dunia dan populasinya sudah demikian
banyak dimana sebanyak 80 juta manusia telah baiat ke dalam Jemaat
pada tahun lalu (artikel ini ditulis tahun 2002). Saya sendiri
mengakui kebenaran Ahmadiyat lebih dari 14 tahun yang lalu dan
sedetik pun saya tidak pernah menyesalinya, bahkan saya bersyukur
setiap hari kepada Tuhan karena telah menuntun saya kepada ajaran
universal yang bernama Islam. Saya tidak tertarik kepada agama ini
karena paksaan, karena anda tidak bisa memaksakan hati untuk
mencintai sesuatu. Saya tertarik karena keindahan ajarannya dan orang-
orang yang melaksanakan ajaran tersebut yang menyebut diri mereka
sebagai Muslim Ahmadi.

Jemaat Islam Ahmadiyah meyakini dirinya sebagai perwujudan dari Islam
hakiki. Fungsinya adalah untuk mempersatukan manusia dengan sang
Khalik-nya dan menciptakan kedamaian, baik di tingkat individual mau
pun kolektif. Saya menganjurkannya bagi siapa saja yang ingin mencari
makna kehidupan yang hakiki.

Sumber: Wikipedia Indonesia

__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages

You are receiving Individual Emails Change Delivery Settings
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Uwan N.S.
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 78
Joined: Sat Jun 17, 2006 1:45 am

Postby curious » Wed Jun 21, 2006 5:30 pm

trus kenapa? mo dakwa di sini soal ahmadiyah?

nggak laku tuh.
User avatar
curious
Translator
 
Posts: 3705
Joined: Wed Mar 22, 2006 5:08 am

Postby H.Nadri Saaduddin » Thu Jun 22, 2006 8:34 am

PENGAKUAN MIRZA GHULAM AHMAD SEBAGAI IMAM MAHDI DAN MASIH MAU'UD

Oleh: H. Nadri Saaduddin *)

Pengakuan Pendiri Jema'at Ahmadiyah dalam perkataannya sendiri

Dalam sebuah bukunya FATHI ISLAM (Kemenangan Islam), mungkin inilah bukunya yang pertama kali dimana Mirza Ghulam Ahmad membentangkan pengakuannya secara terperinci sebagaimana dijelaskan oleh kutipan berikut ini:

" Aku diutus dengan cara yang serupa dengan cara orang dari Tuhan itu (yakni Isa) diutus sesudah perkataan Tuhan (yakni Musa) dalam masa pemerintahan Herodias. Maka ketika "perkataan Tuhan" yang kedua , yang sebenarnya adalah yang terutama dan penghulu dari nabi-nabi (yakni Muhammad SAW) muncul untuk menghancurkan Firaun-firaun kedua, yang tentang dirinya telah ditulis :

" Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul , seorang saksi terhadapmu, sebagaimana kami telah kirimkan kepada Firaun" (73:15), baginya
(Muhammad SAW) juga yang merupakan padanan Musa dalam kebanyakan kegiatannya, tetapi lebih tinggi dalam martabat dan kemuliaan, telah dibuat sebuah janji mengenai padanan Al-Masih, yang akan mewarisi sifat-sifat , tanda-tanda dan ciri-ciri Putera Maryam yang datang pada abad yang sama dan sesudah jangka waktu yang sama dengan yang yang sudah berlalu diantara pemunculan "perkataan Tuhan" yang pertama ( yakni Musa ) dan pemunculan Al-Masih putera Maryam , yakni dalam abad keempat belas. Dan turun itu hanya secara rohani , persis seperti orang-orang sempurna sesudah kenaikan mereka turun untuk perbaikan manusia. Dan padanan Al-Masih itu (yakni Penulis ini ...maksudnya Mirza Ghulam Ahmad) telah turun kebumi dalam abad yang dalam segala hal menyerupai abad diwaktu mana Al-Masih Putera Maryam telah turun, sehingga hal itu dapat menjadi tanda bagi orang-orang yang mempunyai pengertian".(Triumph of Islam ,Guardian Press, Madras, 1923 hal. 15-17).

Kemudian Mirza Ghulam Ahmad memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai bagian terakhir dari perkataan diatas:

“ Karena Nabi Muhammad SAW telah menubuwatkan bahwa kepada pengikut-pengikutnya ‘akan datang masa yang serupa benar dalam segala hal dengan masa kaum Yahudi, dan bahwa mereka akan melakukan segala-galanya yang telah dilakukan orang-orang Yahudi dalam masa mereka, demikian halnya sehingga kalau orang-orang Yahudi telah masuk kedalam lobang biawak, pengikut-pengikutnya (..maksudnya umat Nabi Muhammad SAW) juga akan masuk kedalam lobang itu. Maka dalam masa itu akan lahir dari garis keturunan Persia seorang guru agama , dan sekiranya iman telah terbang ke bintang Suraya , ia akan mengambilnya ‘. Ini adalah nubuwatan Nabi Muhammad SAW yang kebenarannya telah dinyatakan kepada hamba yang lemah ini dengan perantaraan wahyu....”.

Mengenai perkataan “nuzul” (turun) yang sering digunakan berbagai hadits dalam hubungan dengan kedatangan Al-Masih, Mirza Ghulam Ahmad menulis yang berikut ini dalam pengantar dari bukunya “ Khutbah Ilhamiyah “ (khotbah yang diilhamkan) yang diberikannya dalam rangka Idul Adha pada tahun 1900... (khutbah ini tidak dipersiapkan dan sebagaimana katanya...atas perintah Tuhan dalam bahasa Arab.....ketika diucapkan , dicatat oleh beberapa pengikutnya):

"Hendaklah kamu ketahui bahwa perkataan "nuzul" dipilih untuk Masih Mau'ud karena dua alasan:

1. untuk membuktikan bahwa alat-alat pendekatan duniawi sudah terputus, yaitu pemerintahan, kepemimpinan dan penggunaan senjata dalam kerajaan dimana dia dibangkitkan oleh Tuhan Keesaan , supaya itu menjadi isyarat dari kenyataan bahwa Masih Mau’ud akan muncul hanya dalam satu kerajaan dimana Islam tidak punya kekuasaan dan kaum Muslim tidak punya kekutan, dan bersama-sama dengan ini mereka akan bangun menyangkalnya dan ingin hendak memadamkan cahaya dan rahmat Allah yang akan pembantu-pembantunya, sehingga Al-Masih akan dibantu hanya oleh Tuhan Dari Langit , dan tak ada restu baginya dari kerajaan-kerajaan bumi, penduduk dari negara, dan orang-orang yang berkuasa, dan bahwa ia tidak akan menggunakan pedang atau tombak , sehingga ia seolah-olah akan turun dari langit , dan Allah sendiri yang membantunya dan datang menolongnya.

2. untuk mempertunjukkan kemasyhuran Al-masih dalam waktu yang secepat-cepatnya disemua negeri, karena suatu barang yang turun dari langit terlihat oleh setiap orang - yang berada dekat atau jauh- dan dari sisi-sisinya (bumi) dan dari bagian -bagian tengahnya,dan ia kan dilihat seperti datangnya kilat dari suatu suatu sisi kesisi lainnya, sampai ia meliputi semua bagian sebagai suatu lingkaran” (Khutbah Ilhamiyah, Diyaul Islam, Qadian, 1319 H, catatan kaki).

Mengenai dasar pengakuannya Mirza Ghulam Ahmad berkata dalam suatu konteks yang lain:

“Sebagian orang menyangka bahwa nubuwatan tentang kedatangan Masih Mau’ud hanya terdapat dalam hadits-hadits dan tidak dalam Al-Qur’an , dan karena itu mereka menuntut bukti untuk itu dari Sabda Tuhan.... dalam Surah Tahrim (66:11) diisyaratkan bahwa beberapa orang dari kalangan Muslim (akan memperoleh martabat) ibnu Maryam, karena dalam surah itu mula-mula orang beriman diumpamakan Siti Maryam dan sesudah itu disebutkan peniupan ruh kedalamnya (yakni orang beriman seperti Siti Maryam). Ini menunjukkan bahwa orang beriman yang melaksanakan perintah-perintah Tuhan dengan sepenuhnya, dan membuat diri mereka seperti Siti Maryam , akan diberi ganjaran oleh Tuhan dengan dibuat menjadi Al-Masih.” (Dalam sebuah pidato diberikan di Lahore pada 3 September 1904, dikutip oleh Abdus Salam Madsen dari Islam and its Comparison with other Religions , Anjuman Tarraqi Islam, Sakkandarabad, cet 9, tanpa tahun , hal 137).

Dalam berapa kalangan terutama sekali di lingkungan musuh-musuh Jemaat Ahmadiyah, terdapat pendapat bahwa bahwa pengakuan-pengakuan Mirza Ghulam Ahmad adalah proses berangsur-angsur dari ulah yang bertambah-tambah (mula-mula mengaku mujaddid, lalu Al-Masih , kemudian Nabi dan lain-lainnya ; umpamanya lihat M.E. Burney: Qadiani Movement , Maki Publ. Durban , 1955, hal XV), tetapi dalam pernyataannya yang pertama mengenai pengakuannya dalam Barahin Ahmadiyah dalam tahun 1880 (yang disiarkan juga berupa pamflet khusus) kita membaca:

“ Pengarang ini telah menerima pemberitahuan dari Tuhan bahwa ia adalah mujaddid dari masa kita dan bahwa secara ruhani ia mempunyai kesamaan paling besar dengan Al-Masih Ibnu Maryam.” (Kutipan terjemahaan Barahin Ahmadiyah dari Mir Mas’ud Ahmad , bekas muballigh Ahmadiyah di Scandinavia).


Dalam buku Khutbah Ilhamiyah yang sudah disebutkan itu ia menulis:

"Tidakkah engkau lihat kedua gerakan yang bersamaan itu atau keputusasaan telah begitu menguasaimu sehingga kamu tidak melihat? Dan kamu mengatakan bahwa tak ada disebutkan Masih Mau'ud dalam Al- Qur'an , dan sesungguhnya Al-Qur'an banyak menyebutkannya, tetapi kamu tidak melihat .. Dan kedatanganku sebagai mata rantai terakhir dari penggantian Muhammad SAW, adalah hanya penyempurnaan persamaan ini" (dari rantai Musa dan Muhammad ). Cukup jelas bahwa adalah ayat Al-Qur'an; " Allah telah menjanjikan kepada orang-orang dari antara kamu yang beriman dan berbuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka khalifah-khalifah dimuka bumi ini, sebagimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah sebelum kamu....."(24:55) yang melatar belakangi maksud terutama dari argumentasi diatas.

Mengenai Mahdi, Mirza Ghulam Ahmad menulis,

“ Sekiranya kamu menolak aku maka tolaklah hadits-hadits Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa Masih Mau’ud akan mempunyai persamaan jasmani dan ruhani yang demikian besar dengan tuannya sehingga ia akan dikenal dengan nama-nama yang dengannya dikenal Nabi Muhammad SAW, yakni ia akan dipanggilkan Muhammad dan Ahmad dan menjadi ahli bait beliau. (A Misunderstanding Removed, hal 14).

Pada suatu catatan kaki dari bagian tulisan ini ada tertulis: "Secara historis telah dibuktikan bahwa seorang leluhur dari aku adalah keturunan Syyid, keturunan Fatimah puteri Nabi Muhammmad SAW." (ibid).

Ketika orang-orang Muslim Mainstream ini membantah dengan mengatakan bahwa Al-Masih dan Mahdi adalah dua orang berlainan, mereka senantiasa ditangkis dengan hadits “Tiada Mahdi melainkan Isa” (Ibnu Majah).Juga ada dikemukakan bahwa Mahdi tidak disebut-sebut dalam Bukhari dan Muslim , yang dianggap membuktikan bahwa kedua sumber utama ini hanya menunggu satu orang .(lihat Muhammad Ali: Promised Messiah & Mahdi hal.32, Ahmadiyah Anjuman Ishaat Islam, Lahore, 1957).

Suatu perbedaan besar terdapat mengenai nubuwat Isa ibnu Maryam tentang seorang, yang namanya Ahmad. (Surat Ash Saff ayat 6).Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad berkata dalam bukunya "The Truth about the Split": " Aku berpendapat bahwa tujuan dari Nubuwat ini terutama sekali ialah Masih Mau'ud ... Tetapi Fazal Illahi Bashir dan umumnya orang-orang Ahmadi tidak mau beranjak dari pendirian mereka bahwa orang yang dinubuwatkan itu ialah Masih Mau'ud , Ahmad dan bukan nabi suci yang dikenal dengan Muhammad itu.

Demikian pula kita dapati tafsir kiasan (dan tampaknya secara ilmu bahasa mempunyai dasar) dari ungkapan-ungkapan lainnya dalam hadits yang dibicarakan . Kami kutip hadits yang paling terkenal mengenai kedatangan Al-Masih: “ Demi Dia yang jiwaku berada dalam tangan-Nya. Mungkin sekali bahwa putera Maryam akan turun ditengah-tengah kamu sebagai seorang penengah dan hakim (atau dalam versi lain: sebagai seorang imam diantara kamu) dan ia akan memecahkan salib dan membunuh babi dan meletakkan pedang.. ..... dst.” (Bukhari: Bakda al Khalq).

Buku-buku Ahmadiyah penuh dengan keterangan-keterangan bahwa “memecahkan salib” berarti membantah ajaran-ajaran Kristen yang salah, “membunuh babi” berarti membasmi tindakan-tindakan yang tidak bermoral dan “meletakkan pedang” menegakkan kebebasan beragama yang sempurna, dan lain-lain. Dalam perpustakan Ahmadiyah semuanya ini bisa dibaca untuk memperoleh penjelasan-penjelasan luas dan yang memberikan penerangan mengenai hal-hal ini.

*) H. Nadri Saaduddin
Pemerhati masalah sosial dan keagamaan domisili di Payakumbuh
H.Nadri Saaduddin
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 160
Joined: Sun Jun 11, 2006 4:30 am
Location: Payakumbuh

Postby blackhairm » Mon Oct 09, 2006 1:20 pm

ahmadiyah tidak lebih dari ciptaan penjajah inggris di tanah india supaya agama islam terpecah belah. ghulam reza ahmad sendiri sekolahnya di inggris.
blackhairm
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 94
Joined: Mon Oct 02, 2006 3:42 pm


Return to Aliran dan Sekte2 Dalam Islam

 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests