. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Laurent » Sun Feb 26, 2012 11:01 am

Gustrisehat’sWeblogDesember 3, 2008
Islam bukanlah AGAMA
Filed under: Artikel,TAUHID — Gustri @ 7:36 am

Islam bukanlah AGAMA (judul ini saya ambil agar anda tertarik)


inna-diin-a ‘indallahil islam (Ali Imroon 19).
Islam adalah nama untuk sebuah DIIN, Diin artinya “jalan hidup” atau “the way of life”. Agama artinya “ajaran tidak merusak” atau ”religion”. Agama dan Diin adalah dua hal yang berbeda jauh, Agama ada didalam Diin, Sedangkan Diin lebih Syumul dibandingkan dengan agama. Agama hanya seputar tataran moral etika baik horisontal maupun ritual vertikal,
sedangkan Diin lebih komplit meliputi agama “PLUS” semua aspek kehidupan, politik, kenegaraan, mencakup seluruh demensi sosial sampai derajat tertinggi, amalan pribadi, keluarga, kelompok, masyarakat, negara, antar negara, semuanya tercakup didalam Diin.



Menyebut Islam sebagai agama sebenarnya menurunkan derajat Islam dan bisa membuat kita beranggapan Islam tidak mengatur masalah hukum/politik ketatanegaraan (Islam menjadi tidak sempurna) atau Islam menjadi setara dengan –ajaran-ajaran yang memang pantas disebut sebagai agama– seperti Hindu, Budha, Kristen dsb. Padahal Islam jauh lebih sempurna dibandingkan ajaran ajaran tersebut. Selain dari itu bisa membuat pemahaman kita terbelokkan menjadi berpandangan—Islam itu agama dan Demokrasi (atau isme-isme yang lain) adalah sesuatu yang berbeda.

Kalau kita konsisten dalam terminology bahasa, maka “DIIN” dalam bahasa Arab, “Jalan Hidup” dalam rumpun bahasa Melayu, “ISME” dalam rumpun bahasa Eropa. Jika Islam itu DIIN, maka Demokrasi itu juga DIIN, Kapitalisme juga DIIN, Marxisme,Komunisme, semuanya DIIN. Bedanya kalau Islam DIENU-LLOH (Dien yang berasal dari Alloh), selain Islam itu DIENU-NAS (Dien yang berasal dari manusia). Islam itu sebuah ISME, Demokrasi itu juga ISME, Sosialis itu ISME, Komunis itu ISME dll. Bedanya Islam ISME dari ALLOH, yang lainnya ISME dari Manusia. Islam itu JALAN HIDUP, Komunis itu JALAN HIDUP, Nasionalis itu JALAN HIDUP dll. Bedanya Islam itu JALAN HIDUP dari ALLOH, yang lainnya adalah JALAN HIDUP dari Manusia.

Maka kita tentu mengerti Ustadz Abu Bakr Ba’asyir dalam buku “SURAT KEPADA PRESIDEN” berfatwa Demokrasi itu “SYIRIK”.

Kebenaran itu datangnya dari ALLOH, kesalahan tentu dari hawa nafsu saya.

Wassalaam,

http://gustrisehat.wordpress.com/2008/1 ... h-agama-3/

http://forum.arrahmah.com/showthread.ph ... 85&pid=769
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby spaceman » Sun Feb 26, 2012 11:13 am

Pendukung kambing ba'asyir ternyata banyak juga ya
User avatar
spaceman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2095
Joined: Thu Sep 18, 2008 12:23 pm
Location: Green Planet

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby keeamad » Sun Feb 26, 2012 4:29 pm

Islam is way of life atau nafas kehidupan itu sendiri .....

Manusia islam itu hidup dengan menjalankan semua hukum dan aspek kehidupan yg ditentukan owloh (yg mengaku tuhan) di "langit" (kalo memang si owloh itu di langit ....)

ADAKAH HAL YANG ANEH ... ???

Faktanya manusia hidup di BUMI, dan agama2x lain juga meyakini bahwa TUHAN memang MENGKEHENDAKI MANUSIA HIDUP DI BUMI,
bukan di LANGIT .....

TUHAN SELAIN ISLAM, "Hanya" memberikan PETUNJUK kepada manusia, agar manusia bisa Menemukan TUHAN yang sesungguhnya.
Tapi TUHAN tahu betul bahwa MANUSIA yang hidup DI BUMI itu, harus menjalankan segala aspek dan hukum kehidupan di muka berdasarkan HUKUM MANUSIA BUMI .....
Itulah salah satu sebab mengapa TUHAN memberikan akal untuk BERPIKIR (dari dan ttg petunjuk2x TUHAN tsb) .....
Tuhan memberikan petunjuk, manusia menggunakan akalnya ........

Lalu mengapa owloh islam (Yang Aktif Menemukan Manusia) memberikan dan MENGHARUSKAN semua hukum langitnya kepada manusia sehingga manusia bumi wajib meyakini dan mengikuti saja semua perintah "Langit" - nya tanpa boleh lagi manusia tsb menggunakan akal pikirannya (kecuali hanya untuk makin meyakini owlohnya saja) ???
User avatar
keeamad
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6771
Joined: Tue Aug 23, 2011 4:06 pm

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Laurent » Mon Mar 05, 2012 2:39 pm

agama ternyata berasal dari bahasa kafirun yaitu Sansekerta HINDU

kata-agama-tuhan-ternyata-produk-kafir-bukan-islam-t47096/

dinuel-islam-bukan-agama-islam-t43859/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby 1234567890 » Mon Mar 05, 2012 2:46 pm

islam adalah buku panduan bagi gerombolan pemalas yang suka membuat onar dan memperkosa wanita

yang malas ... dikasih lampu hijau untuk menjadi makin malas dengan islam
dengan alasan nungging 5 waktu ... gerombolan ini bisa korupsi waktu kerja
break makan siang mau ... break untuk nungging pun dia tuntut
jadinya kerja yang harusnya 7 jam + 1jam makan siang menjadi 4 jam kerja, 1 jam makan siang, dan 3 jam nungging
dan pas bulan puasa, dengan alasan lagi puasa, muslim minta jam kerja lebih pendek

tukang buat onar .... merampok demi islam halal .. ngebom demi islam juga halal
ngebunuh karena islam .... sangat dibolehkan

memperkosa wanita .... zinah halal .. poligami halal .. perkosa non muslim juga halal

jadi kesimpulan, islam memang bukan agama .... tapi panduan kejahatan
1234567890
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3860
Joined: Sun Aug 09, 2009 2:31 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby manforU » Tue Mar 13, 2012 11:07 am

Laurent wrote:Gustrisehat’sWeblogDesember 3, 2008
Islam bukanlah AGAMA
Filed under: Artikel,TAUHID — Gustri @ 7:36 am

Islam bukanlah AGAMA (judul ini saya ambil agar anda tertarik)


inna-diin-a ‘indallahil islam (Ali Imroon 19).
Islam adalah nama untuk sebuah DIIN, Diin artinya “jalan hidup” atau “the way of life”. Agama artinya “ajaran tidak merusak” atau ”religion”. Agama dan Diin adalah dua hal yang berbeda jauh, Agama ada didalam Diin, Sedangkan Diin lebih Syumul dibandingkan dengan agama. Agama hanya seputar tataran moral etika baik horisontal maupun ritual vertikal,
sedangkan Diin lebih komplit meliputi agama “PLUS” semua aspek kehidupan, politik, kenegaraan, mencakup seluruh demensi sosial sampai derajat tertinggi, amalan pribadi, keluarga, kelompok, masyarakat, negara, antar negara, semuanya tercakup didalam Diin.



Menyebut Islam sebagai agama sebenarnya menurunkan derajat Islam dan bisa membuat kita beranggapan Islam tidak mengatur masalah hukum/politik ketatanegaraan (Islam menjadi tidak sempurna) atau Islam menjadi setara dengan –ajaran-ajaran yang memang pantas disebut sebagai agama– seperti Hindu, Budha, Kristen dsb. Padahal Islam jauh lebih sempurna dibandingkan ajaran ajaran tersebut. Selain dari itu bisa membuat pemahaman kita terbelokkan menjadi berpandangan—Islam itu agama dan Demokrasi (atau isme-isme yang lain) adalah sesuatu yang berbeda.

Kalau kita konsisten dalam terminology bahasa, maka “DIIN” dalam bahasa Arab, “Jalan Hidup” dalam rumpun bahasa Melayu, “ISME” dalam rumpun bahasa Eropa. Jika Islam itu DIIN, maka Demokrasi itu juga DIIN, Kapitalisme juga DIIN, Marxisme,Komunisme, semuanya DIIN. Bedanya kalau Islam DIENU-LLOH (Dien yang berasal dari Alloh), selain Islam itu DIENU-NAS (Dien yang berasal dari manusia). Islam itu sebuah ISME, Demokrasi itu juga ISME, Sosialis itu ISME, Komunis itu ISME dll. Bedanya Islam ISME dari ALLOH, yang lainnya ISME dari Manusia. Islam itu JALAN HIDUP, Komunis itu JALAN HIDUP, Nasionalis itu JALAN HIDUP dll. Bedanya Islam itu JALAN HIDUP dari ALLOH, yang lainnya adalah JALAN HIDUP dari Manusia.

Maka kita tentu mengerti Ustadz Abu Bakr Ba’asyir dalam buku “SURAT KEPADA PRESIDEN” berfatwa Demokrasi itu “SYIRIK”.

Kebenaran itu datangnya dari ALLOH, kesalahan tentu dari hawa nafsu saya.

Wassalaam,

http://gustrisehat.wordpress.com/2008/1 ... h-agama-3/

http://forum.arrahmah.com/showthread.ph ... 85&pid=769


Islam memang bukan agama, hanya seonggok koran berisi kebohongan, kebodohan, dan panduan BERBUAT JAHAT dimuka bumi.. Diin tertinggi dari ajaran islam adalah =PECUNDANG! :prayer:
manforU
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 18
Joined: Fri Aug 28, 2009 10:47 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Laurent » Sun May 20, 2012 1:36 pm

ISLAM Bukan Sekedar Agama

Label: ARTIKEL UTAMA, Dakwah, Pengantar Dinul Islam, Wawasan Islam

Islam adalah nama (ismun), nama bagi suatu “Dien” seperti dalam firman Allah: “Warhoditu Lakumul Islaama Diina…” (dan kuridhai bagimu Islam sebagai Dien) (QS 5/3).

Al-Islam itu sendiri diambil dari bahasa arab yang memiliki arti: Aslama (tunduk/ menyerah), Assalaam (menyelamatkan), Assilmu (damai) dan assulaam (tangga). Dengan demikian maka Dinul Islam adalah Dien yang berporos pada kepasrahan hamba kepada Allah, yang dengan ketundukannya manusia akan menemukan ketentraman jiwa, ketinggian derajat dan keselamatan jiwa raga, dunia dan akhirat.

Karena Islam itu adalah Dien, maka sangat pentinglah kita membongkar makna / pengertian Ad-Dien itu, sehingga kita dapat dengan persis memahami apa itu Islam.

Ad-Dien dalam padanan bahasa Indonesia diartikan dengan istilah AGAMA. Pengalihan dari terminology “Dien” kepada term “AGAMA” tidaklah semuanya tepat. Sebab Agama (terutama) dalam pengertian yang berkembang dimasyarakat adalah suatu tata aturan kepercayaan dan hubungan dengan Tuhan / Dewa, sperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia.

Tentusaja sangat keliru dan mengandung potensi menyesatkan jika Dien diartikan hanya sebatas “Kepercayaan” dan hubungannya dengan Tuhan. Mari kita periksa maksud Allah didalam Al-Qur’an.

Didalam Qur’an, term DIEN digunakan dalam beberapa penggunaan:
1.Undang-Undang (hukum / aturan) Kerajaan, dalam QS 12/76. Dalam ayat itu disebut “Diinil Maliki” yang artinya Undang-undang kerajaan. Lihat juga Qs 24/2, 42/13, 24 dll.
2.Kekuasaan, dalam QS 56/86-87. Dalam ayat itu disebut “Madiiniin” yang artinya KEKUASAAN.
3.Ketaatan, dalam QS 98/5. Dalam ayat itu ad-dien diartikan Ketaatan.
4.Pembalasan / sangsi, dalam QS 1/4. Dalam ayat itu Addien diartikan pembalasan / sangsi.

Dari pengertian diatas dapatlah kita simpulkan bahwa dien adalah SUATU SISTEM KEHIDUPAN YANG DIDALAMNYA TERDAPAT SISTEM HUKUM, SISTEM KEKUASAAN (PEMERINTAHAN) DAN SISTEM KETAATAN MASYARAKAT (SISTEM KEMASYARAKATAN), YANG MANA SISTEM HIDUP ITU MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MEMAKSA MASYARAKAT YANG ADA DIDALAMNYA UNTUK TAAT KARENA JIKA TIDAK PASTI AKAN MENDAPAT SANGSI.

Sistem kehidupan yang terdiri dari Sistem Hukum, Sistem Pemerintahan dan Sistem ketaatan itu, zaman sekarang lebih dekat dengan pengertian “state” (Negara). Sebab Negara itu memiliki ketiga unsur Dien seperti yang diungkapkan Qur’an. Dan Negara adalah Institusi social yang bersifat memaksa dan dapat memberi sangsi kepada rakyatnya, jika melanggar aturan.

Al-Qur’an menjelaskan lebih visual tentang Dien ini dengan kisah Fir’aun (QS 40/26-29). Kerajaan Fir’aun sebagai system pemerintahan dinegeri Mesir ketakutan akan gerakan Nabi Musa As yang dikuatirkan akan membuat revolusi bagi “Dien” (system hidup) mereka dengan Dien yang dibawa oleh Nabi Musa. Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar DIEN-MU atau menimbulkan kerusakan di muka bumi".. (40/26).
Apa yang dikuatirkan oleh Raja Fir’aun, bukanlah isapan jempol. Sebab sebelumnya Nabi Musa memproklamirkan “KERAJAAN”.

Tentu saja kerajaan yang didirikan Musa adalah kerajaan Islam. “(Musa berkata): "Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita! Fir'aun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar".. (40/29).

Berdasar QS 40 ayat 26 dan 29, Fir’aun adalah Raja bagi kerajaan Mesir dan Qur’an menyebutnya " Dien-nya Fir’aun". Nabi Musa adalah Raja bagi kerajaan Islam dan Qur’an menyebut sebagai "Dien" yang akan dimenangkan Musa diatas Dien-nya Fir’aun.

Disini nampaklah secara visual makna Dien yang dimaksud Al-Qur’an yaitu system hidup, yang pada masa Nabi Musa di nampakan adanya dua system Hidup, yaitu KERAJAAN MESIR yang dipimpin oleh Fir’aun dan Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Nabi Musa.

Tentu saja diwilayah yang sama tidak mungkin ada dua kerajaan kecuali yang satu sudah mapan (merdeka) dan yang satunya sedang BERJUANG (terjajah), negara yang belum memiliki wilayah yang dikuasai secara de facto. Kalau zaman sekarang (mungkin) istilah "Dien" sepadan dengan istilah Negara seperti amerika, Inggris, Arab Saudi dan lain-lain. ISLAM adalah Dien, tidak dapat dibandingkan dengan agama Kristen, agama Yahudi, kecuali dengan kerajaan kristen, kerajaan Yahudi, negara sekuler dan lain lain.

Sangatlah tidak sepadan jika istilah Dien dipadankan (dalam bahasa Indonesia) dengan pengertian agama.

Dien Islam berarti system hidup Islam yang wujudnya adalah Kerajaan / Negara yang bersumberhukumkan Al-Qur’an. Kesimpulannya:
•ISLAM adalah nama bagi suatu Dien Dien adalah sistem hidup yang divisualkan oleh Allah dalam Qur'an seperti KERAJAAN FIR'AUN
•Kerajaan / negara adalah wujud Ad-Dien, bisa dalam pengertian Negara yang sudah berkuasa secara de facto seperti kerajaan Fir'aun atau bisa juga Negara yang sedang berjuang seperti Kerajaan Musa
•Kerajaan Fir'aun adalah Dinul Bathil karena tidak bersumber hukum Kitab Allah, sementara Kerajaan Musa adalah Dinul Haq karena bersumber hukumkan KITAB ALLAH
•ISLAM adalah Dinul Haq
*Pengantar Dinul Islam No. 2*



Anda sedang membaca artikel tentang ISLAM Bukan Sekedar Agama dan anda bisa menemukan artikel ISLAM Bukan Sekedar Agama ini dengan url http://militansicerdas.blogspot.com/201 ... agama.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel ISLAM Bukan Sekedar Agama ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link ISLAM Bukan Sekedar Agama sumbernya.

http://militansicerdas.blogspot.com/201 ... agama.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Laurent » Sun May 20, 2012 1:38 pm

KATA TUHAN & AGAMA !?
Communication By : ~∂eanny♥divΞ
Jakarta, 19 April 2012





Bismillaahir rohmaanir rohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wa barokaatu


Saudara-saudariku tercinta yang dirahmati oleh Allah ta'ala...

Ketika (cukup banyak) terdapat pertanyaan; "Mengapa kami tidak sudi menggunakan kata agama atau kata tuhan dalam setiap penulisan atau pun ucapan..?" Maka secara singkat, insyaAllah dapat Jean terangkan sebagai berikut :

Memang benar bahwa penulisan kata DIEN/DIIN/DEEN dalam bahasa Indonesia disebut agama, atau RABB/ROBB dalam bahasa Indonesia di sebut menjadi Tuhan. Namun afwan, (menurut kami), orang-orang kafir juga menggunakan kata tersebut untuk keyakinan mereka.

Maka terbentuklah kata-kata atau kalimat dalam bahasa Indonesia yang (senantiasa) mereka katakan; agama Kristen, agama Hindu, agama Budha, dll. Begitu juga menurut mereka; tuhan Yesus, tuhan Wishnu, tuhan Sidharta Gautama, dll.

Sementara ISLAM menurut kalimat terakhir dari surah al-Maa'idah ayat 3 mengatakan, "...al yauma akmaliu lakum DINAKUM wa atmamtu 'alaikum ni'mati wa raditu lakumul islama DINA..." Begitu juga dalam ayat-ayat-Nya yang lain, Allah ta'ala menegaskan bahwa DIEN itu HANYA ISLAM. Dengan kata lain, bahwa selain Islam tentu saja bukan dien yang diridhai oleh Allah.

Dalil selanjutnya yang berkorelasi dengan penjelasan ini, sehingga menyebabkan kami TIDAK SUDI MENGGUNAKAN KATA AGAMA ATAUPUN TUHAN adalah:

"Kamu adalah umat yang TERBAIK yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran:110); Artinya, kami mengimani bahwa kami adalah umat Baginda Rasulullah yang EKSKLUSIF, yang sungguh berbeda dari umat-umat kafir lainnya. Atau sebagaimana pernyataan mereka (JIL) bahwa SEMUA AGAMA SAMA!? Lantas apa yang menjadi pembedan apabila kita pun turut MENYEBUT atau MENULISKAN hal yang sama seperti mereka!?

Sedangkan ayat Allah ta'ala menegaskan, "...Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS. al-An'aam:50). Begitu juga dalil-dalil larangan Allah lainnya, yang memerintahkan agar kita tidak mengikuti/meniru mereka, pemimpin mereka, dan atau MILLAH mereka. Naudzubillah tsumma naudzubillah...

Maka wallahi, prinsip yang kami yakini ini BUKAN UNTUK DIPERDEBATKAN bila kemudian di dalih dengan, "toh itu hanya sekadar bahasa?" Maka silakan saja bagi siapapun yang ingin tetap menggunakan kata agama dan tuhan, atau DIEN dan RABB menurut kami... (tidak pakai wallahua'lam, sebab begitulah kata atau kalimat dari ASLI-nya..:)

Demikian penjelasan (menurut) kami untuk penulisan ataupun pengucapan kata DIEN untuk agama, dan RABB untuk tuhan... ^_^


Barakallahu fiikum,
Wassalamu'alaykum wr.wb.
~∂eanny♥divΞ



♥♥♥♥ DIEN DAN Al-ISLAM ♥♥♥♥
Communication By : Abu Nabeel


A. Pendahuluan

Fenomena yang terjadi sekarang adalah banyaknya kekeliruan pemahaman terhadap dien al-Islam. Dien banyak didefinisikan dengan istilah “agama”. Istilah ini berasal dari bahasa sansekerta A” artinya tidak dan ”Gama” artinya kacau. Apabila digabung, secara bahasa agama memiliki arti tidak kacau. Jadi apapun yang dapat membuat sesuatu tidak kacau atau stabil -dengan melihat definisi diatas- maka dapat kita sebut sebagai agama. Dari istilah Agama ini kemudian muncul istilah Tuhan, dimana ”Tu” adalah kepala dan ”Han” adalah dewa, jadi Tuhan adalah kepala/tetua dewa (berbeda dengan Allah yang Esa). Terlebih lagi umat Islam sekarang hanya memahami Islam sebatas ritual-ritual belaka yang dapat mengakibatkan munculnya paham sekuler di negeri ini. Berdasarkan keadaan ini perlulah kiranya kita memahami lebih mendalam tentang makna dien dan Islam, baik secara etimologi maupun terminologi dengan tujuan supaya kemuliaan, ketinggian, dan kesempurnaan Islam dapat terlihat dan terpahami.


B. Pembahasan

Kata Islam sering dikaitkan dengan kata Dien di dalam Al-Quran. Kata Dien diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (dalam terjemahan DEPAG) sebagai Agama. Sebagai contoh pada Qs. 3:19 ” Sesungguhnya agama (read.Dien) yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam.........” serta dalam Qs.3:85 ” Barang siapa mencari agama selain agama (read.Dien) Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. Jadi Dien Islam secara umum diterjemahkan sebagai Agama Islam. Akan tetapi, di dalam Al-Quran, kata Dien tidak selalu diterjemahkan Agama, sebagai contoh dalam Qs.1:4, Dien diterjemahkan sebagai hari pembalasan, pada Qs.12:76 Dien diterjemahkan undang-undang, dll. Bahkan jika ditinjau dari etimologi dan terminologi Arab (sebagai bahasa Al-Quran), Dien tidak selalu dimaknai sebagai agama atau ritualisme. Melihat hal tersebut, kita tidak bisa menerjemahkan Dien Islam hanya sebagai Agama Islam, apalagi mendefinisikannya. Kalau begitu apa definisi dari Dien Islam itu? Di sini kita akan mencoba mendefinisikan Dien Islam dari berbagai sisi di antaranya, etimologi Arab, terminologi Arab, terminologi Al-Quran beserta sifat-sifatnya dan tentunya Hadits.

I. Definisi Dien

a. Menurut Etimologi Bahasa Arab

Dien secara etimologi bahasa Arab bermakna ketaatan, kepatuhan dan ketundukan.

b. Menurut Terminologi Bahasa Arab

Sedangkan secara terminologi bahasa Arab Dien bermakna:

1. Al jaza wal mukaffah yang artinya ketundukan total.
2. Al-Kodha yang artinya aturan atau undang-undang
3. Atadbir yang artinya hukum.
4. Al mulk wa sulthan yang artinya kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan
5. Al hisab yang artinya Haari Pembalasan.

c. Menurut terminologi Al-Quran

Secara terminologi Al-Quran, Dien bermakna:

1. Undang-undang atau aturan (Dien dikaitkan dengan undang-undang)/القانون أو النظام “.....undang-undang (read.Dien) raja. .....” (Qs. 12:76)
2. Hukum (dien dikaitkan dengan hukum)“...agama (Hukum) Allah,....”. (Qs.24:2)
3. Militer (Dien dikaitkan dengan perintah perang)“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”. (Qs. 8:39)
4. Hari Pembalasan (Dien diartikan hari pembalasan/الجَزَاء)
“Yang menguasai hari pembalasan (read. Dien)”. (Qs. 1:4)
5. Cara/Metode Ilahiah (الطريقة الإلهية)“ Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam.........” (Qs. 3:19)
Dan Q.S. Ali Imran: 83, yang berbunyi:
“Maka apakah mereka mencari ‘agama’ yang lain dari ‘agama’ Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah saja mereka dikembalikan”
6. Millah atau sunnah.
Seperti millah Ibrahim dan tidak disandarkan kepada Allah (tidak dikatakan millatullah). Makna ini terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 135 dan surat Yusuf ayat 37.
7. Jalan/sistem
Terdapat dalam surat at-taubah ayat 33.

d. Menurut hadits

Sedangkan makna Dien menurut hadits dalam kitab tuhfah al-ahwadzi adalah Nasihat

"الدين النصيحة" أي عماد الدين وقوامه هو النصيحة
Artinya: “Dien merupakan nasihat”.
Hadits ini bermakna tiang dan fondasi dien adalah nasihat.

Dari etimologi dan terminologi bahasa Arab serta terminologi Al-Quran, dan Hadist kita bisa melihat ciri-ciri dari Dien yaitu Universal (umum, mencakup Dunia dan Akhirat), Komperhensif (lengkap/menyangkut semua dimensi kehidupan), dan Integral (menyeluruh). Dari sini kita dapat mendefinisikan bahwa Dien adalah sebuah sistem yang mengatur semua dimensi kehidupan, baik itu personal (ritualism) ataupun sosial (adanya undang-undang dan hukum). Jadi Dien bukan agama sebagaimana yang dipahami oleh mayarakat kita, tapi Dien adalah sebuah sistem kehidupan.

II. Definisi Islam.

a. Menurut etimologi bahasa Arab

Makna Islam secara etimologi bahasa Arab adalah selamat, kemuliaan dan tanggal yang mulia.

b. Menurut terminologi Bahasa Arab

Makna Islam secara terminologi Bahasa Arab adalah ketundukan dan keselamatan.

c. Menurut etimologi Al-Quran

Islam adalah ketundukan total dan berserah diri.“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri (read.Aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”. (Qs.3:83)

d. Menurut terminologi Al-Quran

Makna Islam menurut terminologi Al-Quran adalah:1. Dienul Hak (Dien yang Benar)“....agama yang hak...”. (Qs.48:28)2. Dienul Hanif (Dien yang lurus)“....dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Qs.98:5)3. Dien yang Sempurna“..... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,...”. (Qs. 5:3)4. Dinullah (Agama Allah)“....agama Allah..........” (Qs.3:83)

e. Menurut hadist

Islam menurut hadits adalah:1. syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji2. tidak marah3. kedamaian4. keadilan5. akhlak yang mulia
Dari etimologi terminologi bahasa Arab, etimologi Al-Quran, terminologi Al-Quran, dan terminologi hadist, maka terlihat bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang datang dari Allah (dienullah) yang mana ajaran tersebut bersifat benar, lurus, komprehensif, integral, menyelamatkan, mulia dan sempurna.
Apabila Dien dan Islam digabung maka terbentuklah Dienul Islam. Dienul Islam dapat didefinisikan sebagai ajaran yang Allah turunkan kepada Muhammad -melalui malaikat Jibril- untuk dijadikan sebuah sistem kehidupan, supaya manusia yang berserah diri kepadanya selamat di dunia dan di akhirat. Secara singkatnya Dienul Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang dilandasi oleh ajaran Islam. Karena sifatnya yang universal maka Dienul Islam cocok disemua tempat dan zaman. Karena sifatnya yang konferhensif maka Dienul Islam mencakup semua dimensi kehidupan dari mulai yang terkecil sampai yang terbesar, baik itu ideoligi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, pribadi, mayarakat, negara, dan dunia. Karena kesempurnaannya maka dinul Islam tidak perlu dicampur dengan yang lain. Karena kebenarannya maka segala sesuatu di luarnya adalah kebatilan. Karena keintegralannya maka untuk orang-orang yang beriman diwajibkan untuk memasuki sistem tersebut (Dienul Islam) secara keseluruhan/kaffah atau tidak sebagaian-sebagaian, dan apabila sengaja untuk mengambil sebagiannya saja, maka otomatis tidak ada Islam bagi dia. Hal inilah yang harus dipahami oleh umat Islam, bahwa Dien Islam yang Allah ridhai berbeda dengan Agama Islam yang sekarang dipahami.


C. PENUTUP

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka jelaslah bahwa tugas kita bersama untuk meluruskan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Memang tidaklah mudah untuk mengubah suatu masyakarat yang sudah terkontaminasi oleh pemahaman-pemahaman sekuler, materialistis, dan hedonis. Tetapi dengan bersatu padu dan dalam ikatan yang kokohlah kita akan dapat membentengi diri dari berbagai pemahaman yang destruktif. Wallahu a’lam bi al-shawwab


Referensi :
-Al-Quran-Bukhari-muslim-Kamus Al munjid-ma’alim fi tarik-Mafhumul Hakimiyyah fi fikri

http://radiokonsultan.multiply.com/jour ... nal%2Fitem
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby 1234567890 » Sun May 20, 2012 4:06 pm

berarti , kalau kita menghina islam, itu bukan penghinaan agama dong ?
ga bisa di tuntut di pengadilan ... karena bukan menghina agama
:rolling:
muslim kebanyakan ngebacot, kejeblos got sendiri lagi
1234567890
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3860
Joined: Sun Aug 09, 2009 2:31 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby omega phoenix » Sun May 20, 2012 6:46 pm

ISLAM BUKAN AGAMA?? :shock:

Lalu >> ISLAM adalah agama yang diridhoi awloh itu apa dong jadinya?? :green:
User avatar
omega phoenix
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1689
Joined: Sun Aug 21, 2011 6:39 pm

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Laurent » Mon Jun 25, 2012 6:26 pm

Mengapa Harus Banyak Agama ? Islam bukan AgamaOPINI | 30 January 2011 | 05:25 Dibaca: 325 Komentar: 7 3 dari 3 Kompasianer menilai Menarik

Mengapa harus banyak agama ?, apa memang dunia ini tidak menemukan solusi yang benar, sehingga keinginan menyelesaikan masalah manusia harus standar agama, kendati agama tak urung mnciptakan masalah. Sebabnya banyak, diantaranya agama tidak mampu menolak keinginan manusia untuk merobah keberadaan agama. Status agama adalah statuskou, berdiri tepat pada landasan agama, tanpa mau diusik oleh pengikut agama. Agama merantai pemikiran manusia menjadi tidak sehat, karena harus mati dan menghukum orang karena kepentingan agama.

Tetapi Islam bukan agama, sebab dari awal Islam tidak pernah memperkenalkan diri sebagai agama, walaupun ada yang menyamakan Islam dengan agama. Islam dikenal dalam bahasa Quran dengan bahasa Din, Dinul Islam yang bermakna bahwa Islam hadi sebagai pandangan hidup manusia di dunia dan akhirat, aturan yang mengatur hidup pemeluknya menurut aturan Quran. Sedangkan kata Din itu banyak ragamnya, awalnya bermakna menghutangkan, artinya seluruh umat Islam memiliki saham untuk mendpatkan hasilnya kelak bilamana Allah harus membayar, itulah sebabnya dial-quran selalu ada kalimat; “siapa yang meminjamkan pinjaman yang “, yang mengharuskan ada pengembaliannya kelak.

Sedangkan agama menurut lazimnya diartikan “Tidak Kacau”, lalu agama mana yang tidak kacau, bahkan sejak awal lahirnya agama agama bukan menjadi solusi terhadap permasalahan yang menimpa manusia, tetapi menjadi beban masalah makin bertambah dan memicu munculnya banyak masalah didunia. Itulah sebabnya Islam menyebut dirinya bukan “Agama”, tetapi Dinul Islam, bermakna Islam tidak mengajarkan keyakinan dan ibadah semata, tetapi juga menjadi sumber pembangunan manusia dalam segala bidangnya.

Agama (tidak Kacau) dalam perjalanan sejarahnya semata memperkarangan keyakinan terhadap tuhan dan membawa umatnya hidup dlam belenggu keyakinan semata, tanpa bisa berkembang atau statis pada bentuk keyakinannya belaka. Agama telah membuat peta pertikaian berkepanjangan selama berabad, tanpa memberi solusi pemecahan masalah, karena doktrin agama melahirkan banyak orang orang yang berkepentingan yang satu sama lainnya memicu terjadinya persaingan dan harga diri. Didalam Islam tidak ada manusia yang disakralkan didepan hukum, melainkan tetap mendudukan kedudukan manusia sebatas manusia.

Sedangkan agama menciptakan orang orang suci yang dianggap sederajat dengan tuhan, mereka merasa mewakili tuhan didunia, untuk menyampaikan pesannya tuhan yang ada di langit. Agama mengajarkan bentuk bentuk keyakinan berdasarkan sintesis dari banyak permasalahan umat yang terjadi ditengah perdaban manusia dari zaman ke zaman. Hanya saja agama terkadang menjadi warna abu abu dalam menyelasaikan pertikaian umatnya.

Beda dengan Islam, mengapa disebut millata Ibrahim, millata hanifa, tentu artinya pegangan hidup Ibrahim atau jalan Ibrahim yang ketika disinergikan dengan kata Islam, menjadi dinul Islam yang bersifat Universal dan sempurna sesuai dengan firman Allah:” Pada hari ini telah aku sempurnakan Islam sebagai Din”, bukan dengan kalimat “pada hari ini telah aku sempurnakan Islam sebagai agama”. Karena penterjemahan Din menjadi kata agama, tidaklah tepat menurut bahasa Al-quran, dan hanya akan mempersempit pengertian kata “Islam”

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/3 ... kan-agama/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby harahap » Mon Jun 25, 2012 10:38 pm

Laurent wrote:Tetapi Islam bukan agama, sebab dari awal Islam tidak pernah memperkenalkan diri sebagai agama,.,.....


lapak penting ......

hayo sundul tiap hari lapak2 penting biar naik rating terus .....
User avatar
harahap
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2123
Joined: Mon Sep 27, 2010 12:09 pm

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby jemplank » Tue Jun 26, 2012 4:21 pm

all
Kalo gitu harus ditambah kolom baru di ktp,
JALAN HIDUP : ISLAM
AGAMA : SESAT
jemplank
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 763
Joined: Tue May 15, 2012 2:43 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby angky » Tue Jun 26, 2012 6:35 pm

Laurent wrote:Menyebut Islam sebagai agama sebenarnya menurunkan derajat Islam dan bisa membuat kita beranggapan Islam tidak mengatur masalah hukum/politik ketatanegaraan (Islam menjadi tidak sempurna) atau Islam menjadi setara dengan –ajaran-ajaran yang memang pantas disebut sebagai agama– seperti Hindu, Budha, Kristen dsb. Padahal Islam jauh lebih sempurna dibandingkan ajaran ajaran tersebut. Selain dari itu bisa membuat pemahaman kita terbelokkan menjadi berpandangan—Islam itu agama dan Demokrasi (atau isme-isme yang lain) adalah sesuatu yang berbeda.


Anehnya, ustad CS pun tidak berani menunjuk negara syariah yang SUKSES dan menjadi acuan negara lain dalam bernegara. :finga:
Jika empat kekhalifahan menjadi acuan, mari teliti betapa amburadul dan penuh intrik, saling curiga dan bunuh membunuh, power abused dijaman itu. Jadi jelas kekhalifahan pun tidak bisa dijadikan acuan, kecuali kita setuju dengan saling fitnah dan kudeta.

Laurent wrote:Maka kita tentu mengerti Ustadz Abu Bakr Ba’asyir dalam buku “SURAT KEPADA PRESIDEN” berfatwa Demokrasi itu “SYIRIK”.


atas nama demokrasi, pengacara TPM ABB juga naik banding dan minta PK. :lol: :lol: Beleguk!
angky
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3329
Joined: Wed Aug 18, 2010 11:11 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Mohmed Bin Atang » Tue Jun 26, 2012 6:46 pm

Muslim selalu ngeributin hal yg nggak penting! Yang model beginian katanya pernah berjaya?
:butthead: Prreeeettt!

Dominate the world naon slim? tunggu bumi pindah galaxy dulu pun nggak bakal!
User avatar
Mohmed Bin Atang
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2329
Joined: Sun Feb 19, 2012 5:45 pm
Location: Surga Islam, bermain rudal bersama 72 bidadari

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby duren » Tue Jun 26, 2012 6:53 pm

angky wrote:Anehnya, ustad CS pun tidak berani menunjuk negara syariah yang SUKSES dan menjadi acuan negara lain dalam bernegara. :finga:
Jika empat kekhalifahan menjadi acuan, mari teliti betapa amburadul dan penuh intrik, saling curiga dan bunuh membunuh, power abused dijaman itu. Jadi jelas kekhalifahan pun tidak bisa dijadikan acuan, kecuali kita setuju dengan saling fitnah dan kudeta.

Ada kok

Tuh di ACEH ... begitu khilafahnya turun panggung , langsung deh CONGORNYA digebukin dengan SUKSES :rolling:
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11104
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby 1234567890 » Tue Jun 26, 2012 7:58 pm

Mohmed Bin Atang wrote:Muslim selalu ngeributin hal yg nggak penting! Yang model beginian katanya pernah berjaya?
:butthead: Prreeeettt!

Dominate the world naon slim? tunggu bumi pindah galaxy dulu pun nggak bakal!


slimin bermimpi dominate the world ..... tapi apa daya ... impian cuman jadi impian ...
slimin cuman mampu dominate 4 wives only
itu juga perlu beking dari qoran
(tapi begitu gebukin bini di negara kapir ... masuk bui dah tuh muslimin)
1234567890
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3860
Joined: Sun Aug 09, 2009 2:31 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Laurent » Wed Jul 11, 2012 6:36 am

mau tahu asal usul kata agama yang sebenarnya

http://en.m.wikipedia.org/wiki/Agama
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Laurent » Sat Aug 18, 2012 9:15 am

sundul lagi, karena kata agama bukan produk islam melainkan hindu
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Forum Arrahmah : Islam bukanlah AGAMA !

Postby Laurent » Mon Dec 17, 2012 10:09 pm

Eksistensi “Agama Asli Indonesia” Dan Perkembangannya Dari Masa Ke Masa






1 Votes


http://www.facebook.com/#!/notes/dullna ... 8637844662

ditulis di Facebook oleh Dullnaif Skeptyo

Hari ini jam 3:40

Oleh: K.P. Sena Adiningrat

*) Disampaikan dalam Sidang Mahkamah Konstitusi dalam rangka Permohonan Uji Materi Undang-undang Nomor 1/PNPS/ 1965, di Jakarta, 23 Maret 2010.

I. Pendahuluan

Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan dan Penyalahgunaan/ Penodaan Agama − terlepas dari maksud untuk menjaga dan melindungi keluhuran nilai-nilai agama − kenyataannya jelas-jelas mengandung diskriminasi terhadap agama-agama tidak resmi, khususnya penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa.

Penjelasan Pasal 1 undang-undang ini jelas hanya memprioritaskan 6 agama yang diakui pemerintah, sekaligus mendapat bantuan dan perlindungan, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Kongfusius. Sedangkan agama-agama lain, misalnya Yahudi, Sarazustrian, Shinto, Thaoism, sekalipun tidak dilarang tetapi terkesan dinomor duakan, seperti tampak pada rumusan “…dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundang-undangan lainnya”.

Ada lagi penjelasan Undang-undang ini yang jelas-jelas merendahkan eksistensi aliran kepercayaan yang berbunyi: Terhadap badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalur-kan kearah pandangan yang sehat dan ke arah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ungkapan ini jelas-jelas menempatkan para penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa seolah-olah mereka menjadi “objek binaan”, karena karena pandangannya tidak sehat dan tidak mengarah kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bahkan dalam Penjelasan Umum angka 2, disebutkan bahwa kelahiran undang-undang ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan “… bahwa pada akhir-akhir ini hampir di seluruh Indo-nesia timbulnya aliran-aliran dan organisasi-organisiasi kebatinan/kepercayaan masyarakat yang bertentangan dengan ajaran-ajaran dan hukum agama”. Terkesan bahwa tolok ukur “ajaran-ajaran dan hukum agama” yang dimaksud di sini adalah agama-agama resmi yang diprioritaskan negara (Penjelasan pasal 1), dan aliran-aliran tidak resmi (termasuik yang muncul dari salah satu agama) harus tunduk pada definisi agama-agama resmi.

Karena itu, agama-agama resmi itu perlu dijaga dengan Pasal 1 Undang-undang ini, dimana “penafsiran yang berbeda” dan “membuat kegiatan keagamaan yang menyerupai” dari agama-agama resmi tersebut dianggap sebagai delik penodaan agama. Inilah letak masalah-nya, siapakah yang harus menentukan standarisasi tafsir agama, atau siapakah yang berhak menentukan salah atau benarkah suatu keyakinan? Jadi, sama sekali bukan menyetujui agama dinodai, tetapi masalahnya pada kriteria penodaan agama dalam undang-undang ini didominasi oleh agama-agama yang diakui pemerintah.

Kembali kepada eksistensi aliran kepercayaan yang terdiskriminasi, selanjutnya Penjelasan Umum angka 2 juga menyebutkan: “Di antara ajaran-ajaran/peraturan-pe

raturan pada pemeluk aliran-aliran tersebut sudah banyak yang menimbulkan hal-hal yang melanggar hukum, memecah persatuan nasional dan menodai agama”. Sejarah membuktikan justru ekstrimisme yang membahayakan persatuan nasional sering tumbuh subur dalam agama-agama resmi, bukan kepercayaan tradisional.

Sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia justru menunjukkan bahwa “agama asli” bersikap sangat ramah, inklusif, dan toleran terhadap agama-agama pendatang. Lalu mengapa yang jadi “tolok ukur” justru agama-agama pendatang, dan bukan pada keyakinan tradisional yang memang jarang mendefinisikan atau membuat pembakuan keyakinan? Di bawah ini akan dibuktikan eksistensi agama asli Indonesia dan bagaimana perkembangannya dari masa ke masa. Dalam lintas sejarah dibuktikan bahwa agama-agama pendatang disambutnya ramah, bukan dianggap sebagai musuh dan ancaman, sebaliknya dihargai, diadaptasi dan diterima untuk menghiasai mozaik keyakinan asli yang menyangga dan mendasarinya.

II. Definisi Agama (Religion)

Sebelum menguraikan apakah yang disebut “Folk Religion” (agama asli) dan bagaimana perkembangannya dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, izinkanlah saya menguraikan dahulu definisi agama itu sendiri dari beberapa bahasa yang akhirnya diserap dalam bahasa Indonesia.

H. Zainal Arifin Abbas dalam bukunya Perkembangan Pemikiran terhadap Agama, kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta “tidak kacau”: a berarti “tidak”, dan gama berarti “kacau”. Sedangkan menurut P.J. Zoelmulder dan R.O. Robson dalam Kamus Jawa Kuno-Indonesia, kata “agama” telah diserap dalam bahasa Jawa kuno yang mengandung beberapa arti: “doktrin atau ajaran tradisional yang suci”, “himpunan doktrin”, “karya-karya suci”. Dalam makna ini kata agama muncul dalam berbagai karya sastra Jawa kuna, antara lain: Adiparwa, Wirataparwa, Ramayana, dan sebagainya.

Tidak jauh berbeda dengan P.J. Zoelmulder, menurut L. Mardiwarsito dalam Kamus Jawa Kuna-Indonesia kata agama berarti: (1) ilmu, ilmu pengetahuan; (2) hukum atau perundang-undangan; dan (3) agama atau religi. Kata “agama” dalam makna religi ini misalnya dijumpai dalam Kakawin Negarakertagama (XXV,2): “Mapanji santara widagdheng agama wruh kawi”. Artinya: “Para panji yang lain ahli dalam pengetahuan agama dan mahir pula dalam kesusastraan”.

Kata “agama” memang diserap dari bahasa Sanskerta: a berarti “tidak” dan gama “bergerak”, artinya sesuatu yang dianut dan dianggap pasti dan mengikat bagi yang mempercayainya. Dalam makna seperti ini, dalam bahasa Jawa kuna “agama” berarti “aturan-aturan hukum” yang salah satu aspeknya “kepastian”. Karena itu, kitab undang-undang Majapahit yang berlaku pada zaman Prabu Hayamwuruk (1350-1389 M) disebut Sang Hyang Agama (nama lain dari Kutaramanawa), dan kitab undang-undang yang berlaku pada zaman Prabu Wikramawardhana (1389-1427 M) disebut Sang Hyang Adi Āgama. Perlu dicatat pula, bahwa Undang-undang Adi Agama warisan Majapahit ini sampai sekarang masih diberlakukan di Bali, khususnya berkaitan dengan tindak pidana adat Lokika Sanggraha yang diatur dalam Pasal 384 Adi Agama jo. Pasal 5 ayat (3) sub b Undang-undang Nomor 1/Drt/1951.

Ungkapan lain yang diserap dari bahasa-bahasa Barat adalah “Religi”, “Religion”. Kata religi berasal dari bahasa Latin religio yang akar katanya religare yang berarti “mengikat”. Jadi, arti “religio” disini adalah way of life lengkap dengan peraturan-peraturannya tentang kebaktian dan kewajibannya, sebagai alat untuk mengikat seseorang atau sekelompok orang dalam relasinya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta.

Sedangkan dalam bahasa-bahasa semitik di Timur Tengah, “agama” disebut dalam bahasa Arab “Dîn”, yang sering dimaknai sebagai lembaga ilahi yang memimpin manusia untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Terlepas dari makna syar’i dalam konteks Islam, kata Arab dîn ternyata cognate dengan bahasa-bahasa semitik: danu (Akkadia), den (Ibrani), dîn/dîna (Aramaik/Suryani) yang berarti “religion”, “cult”. Selain itu dalam bahasa Ibrani dan Aramaik, kata den juga berarti “pengadilan”, misalnya seperti ungkapan Ibrani: Yom ha-Den (hari Pengadilan), yang sejajar juga dengan bahasa Arab: Yaum ad-dîn (hari pembalasan/ hari pengadilan).

Selain kata din, dalam bahasa Arab juga dikenal kata Millah, yang juga sejajar dengan bahasa Aramaik Milta (firman, kata). Sekali lagi, terlepas dari makna syar’i-nya, kata Arab millah juga berkaitan dengan “ketaatan”, “kepasrahan” manusia kepada Allah, yang dalam agama-agama semitik diteladankan dari sosok kepasrahan Ibrahim kepada Sang Pencipta (Abraham), yang dijuluki “Bapa orang-orang beriman” (Arab: Abu al-Mu’minin, Ibrani: Ab ha Ma’a-minim) dalam Yudaisme, Kristen dan Islam.

Dari ungkapan-ungkapan berbagai bahasa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa agama atau religi mengandung baik unsur “pengabdian”, “kepasrahan” − sebagai kata kerja − maupun “sekumpulan ajaran yang dianggap benar” − sebagai kata benda. Yang pertama “agama” sebagai gerak hati dan religiusitas, yang kedua “agama” sebagai “ajaran-aajran baku”, atau “ajaran-ajaran yang dibakukan” oleh lembaga keagamaan (the organized religion). Jadi, dalam makna di atas maka apa yang disebut “kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa” adalah agama (religion) dalam makna yang semurni-murninya secara ilmu agama-agama (Inggris: the sciense of religions, Jerman: Religionswisseschaft; Perancis: la science de religion).

Bahwa definisi agama atau religion ini tidak sesuai dengan definisi yang diberikan oleh agama-agama besar dunia (Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan sebagainya) ini adalah masalah lain. Lebih tegasnya, “dîn” atau “millah” dalam Islam, “dîn/dîna” atau “religio” dalam Kristen, atau “agama”, “dharma”, “dhamma” dalam Hindu dan Buddha adalah makna teologis yang diberikan oleh agama-agama tersebut terhadap suatu ungkapan yang secara bahasa adalah netral. Padahal soal teologi atau akidah adalah “wilayah” keyakinan, dan soal itu di luar wewenang ilmu agama-agama, yang tidak berpretensi membenarkan atau menyalahkan keyakinan suatu agama.

III. Eksistensi “Agama Asli” dan Perkembangannya Dari Masa Ke Masa

Sebelum masuknya agama-agama besar dunia ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah berTuhan dan menjunjung tinggi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa di atas segala-galanya. Di bawah ini adalah bukti-bukti bahwa prinsip “Ketuhanan Yang Maha Esa” dijunjung tinggi, dan meskipun agama-agama dalam perjalanan selanjutnya diterima, tetapi direfleksikan kembali dalam prinsip Ketuhahan yang lebih universal, mengatasi “agama-agama terorganisasi” (organized religions) yang sepanjang sejarah masuk dan diterima ramah oeh bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia dalam lintasan sejarahnya selama beribu-ribu tahun adalah bangsa yang luwes, toleran dan terbuka. Sejak awal sejarahnya yang paling dini, pengaruh agama-agama luar diterima dengan ramah, tetapi direfleksikan kembali dalam konteks ke-budayaannya sendiri.

Beberapa bukti sejarah membuktikan kesimpulan di atas, antara lain dapat diikuti dari bukti-bukti di bawah ini:

1. “Agama Asli” Pada Era Pra-Hindu

Prof. Dr. Purbatjaraka mencatat bahwa jauh sebelum kedatangan Hindu/Buddha sudah mempunyai keyakinan mengenai Tuhan Yang Maha Esa, dan menyembah-Nya menurut tatacaranya sendiri. Salah satu sebutan untuk Tuhan dari era pra-Hindu dapat dilacak dari penggunaan bahasa-bahasa Nusantara asli, sebelum dipengaruhi bahasa Sanskerta, Arab atau bahasa-bahasa Barat. Salah satu sebutan untuk Sang Pencipta adalah Hyang (Tuhan, yang diagungkan), Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), dan Sang Hyang Taya (Sang Maha Tiada). Maksudnya “tiada kasat mata namun ada”, kata Jawa kuna ini masih terpelihara dalam bahasa Sunda Teu Aya (tidak ada).

Prof. Mr. Muhammad Yamin dalam bukunya Sapta Parwa (Jilid II) membuktikan eksistensi keyakinan asli jauh sebelum kedatangan agama-agama besar dunia, antara lain mengutip ungkapan Van Vollenhoven: “In den beginne was de magie” (Pada mulanya adalah kesaktian). Ide tentang “alam gaib” yang penuh tuah (Melayu), kacaktyan (Jawa kuna), sati (Batak), dan lain-lain, menunjukkan ada keyakinan tentang Yang maha Gaib yang menyebar di seluruh wilayah Nusantara. Akar kata bahasa-bahasa Austronesia tuh, tuah inilah yang menjadi kata Tuhan, sejajar dengan bahasa Nusantara kuna lainnya: Hyang. Kata Hyang (Tuhan) sampai kini masih terpelihara menjadi kata “sembahyang” (Sembah dan Hyang, “menyembah Tuhan”).

J. Ensink, seorang sarjana Belanda, mendukung kesimpulan Pigeaud, sarjana Peran-cis pendahulunya, yang mencatat salah satu ciri kepercayaan asli Indonesia antara lain tercermin dalam klasifikasi alam “serba dua” (mono-dualistis): Bapa angkasa-Ibu pertiwi; Nini among-Kaki among, Kiri-Kanan, Kaja-Kelod, dan sebagainya, dimana keduanya berbeda tetapi saling berdampingan secara abadi. Filosofi inilah yang menyangga pendekatan alam yang serba harmoni, yang terbukti menjadi tiang penyangga tradisional perekat kebangsaan kita dari zaman pra-sejarah hingga NKRI.

Selanjutnya, kekuatan Yang Maha tinggi itu sering diibaratkan dengan “gunung”. Simbol keyakinan asli Indonesia ini, meskipun tidak dibuktikan oleh tradisi tertulis tertua dari Indonesia sendiri, uniknya justru diabadikan dalam syair India Ramayana, berbahasa Sanskerta (150 M) yang berbunyi: “Yavadwipa matikramya sisiro nama parwatah, diwam sprasati srngena Dewa danawasevitah” (Di ujung Nusantara, berdiri gunung Sisira, yang puncaknya bersaju menyaput langit, dikunjungi oleh para dewa dan danawa).

Jadi, sebelum bangsa India datang ke Nusantara, sudah terdengar dari India sendiri tentang negeri Nusantara dengan gunung Parwata-nya yang dikunjungi Dewa. Maksudnya, gunung yang menjadi simbol penyembahan kepada Sang Pencipta. Akan dibuktikan dalam tulisan ini selanjutnya, bahwa pemujaan kepada Sang Pencipta dengan simbol “gunung Parwata” ini, masih terus bertahan di tengah-tengah berjayanya agama Hindu/Buddha pada zaman majapahit. Sebab tenyata Mpu Tantular sendiri (abad XIV M) bukan pemuja Siwa maupun Buddha, melainkan seorang yang memuja Sri Parwata Raja, istilah yang lahir dari local genius bangsa Indonesia pada zamannya. Istilah ini kini sejajar dengan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. “Agama Asli” Pada Era Hindu-Buddha

Pada masa kejayaan Hindu-Buddha, konsep agama asli secara ramah menyambut kedatangan Hindu/Buddha. Namun pengaruh Hindu/Buddha ini hanya memperindah mozaik spiritualitas Nusantara, tetapi sama sekali tidak sampai larut dalam samudera spiritualitas India. Bahkan sering kali spiritualitas asli ditempatkan di atas agama-agama India. Ungkapan-ungkapan India sering dipinjam tetapi disesuaikan dengan alam pikiran asli Indonesia. Beberapa contoh di bawah ini membuktikannya:

2.1. Zaman Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Kedukan Bukit (683 M). Prasasti yang berasal dari kerajaan nasional pertama, yaitu kedatuan Sriwijaya ini, menyebutkan bahwa Dapunta Hyang melakukan “ziarah raja” (siddhiyatra) demi kejayaan Sriwijaya: Dapunta Hyang nayik di samwau manalap siddhayatra. Artinya: “Dapunta Hyang naik naik ke bahtera pergi menjemput berkah keba-hagiaan tuah-kesaktian”. Menurut Mr. Muhammad Yamin, siddhiyatha adalah perjalanan “ngalap berkah” kepada kekuatan adikodrati yang disebutnya Hyang (Tuhan Yang Maha Esa). Bahkan dibuktikan bahwa nama Dapunta Hyang secara jelas membuktikan pemujaan kepada Sang Hyang (Tuhan) sebelum masuknya pengaruh Hindu/ Buddha.

2.2. Zaman Kerajaan Sunda

Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian dari kerajaan Sunda kuno, ditulis kira-kira abad V M. Ketika pengaruh Hindu dan Buddha mulai masuk, keduanya disambut ramah: Hongkara namo Siwa (Selamatlah dengan nama Siwa), dan Sembah ing Hulun di Sanghyang Pancatatagatha (Sembah hamba kepada Sang Panca Tatagata). Keduanya disambut baik, karena “ya eta pahayuon sareanana” (Itu demi kebaikan semuanya). Meskipun demikian, agama-agama yang datang – yang diwakili dengan kata “Bathara” – ditempatkan di bawah Hyang (prinsip Ketuhanan universal, penghayatan asli bangsa Indonesia): “…mangkubhumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di Hyang” (Mangkubumi berbakti kepada Raja, Raja berbakti kepada dewa-dewa, dan dewa-dewa berbakti kepada Hyang/Prinsip Ketuhanan yang universal).

2.3. “Agama Asli” Pada Era Kerajaan Mataram Kuno, Kediri, Singasari dan Majapahit

Perkembangan kedua agama selanjutnya menarik untuk disimak. Hindu, khususnya madzab Siwa dan Buddha, pada masa-masa sesudah itu sangat menonjol. Pada era kerajaan Mataram Hindu (Jawa Tengah), kedua agama itu masih terpisah, berjalan sendiri-sendiri tanpa saling menganggu (co-existence), tetapi pada masa kerajaan-kerajaan Jawa Timur secara bertahap, dari relasi co-exixtence meningkat menjadi relasi “pro-existence” (saling ada dan saling berbagi). Tahap-tahap itu misalnya dapat dibaca pada karya-karya sastra sebagai berikut:

Dalam Kunjarakarna (abad XI) dari Kerajaan Singasari) ditekankan kerukunan antara kedua agama: Tunggal ika kabeh, kami Siwa kami Buddha (Semua menjadi satu, kita yang Siwa, maupun kita yang beragama Buddha), tetapi rupanya masih dalam tahap co-existence sebagai satu kesatuan sosiologis. Sedangkan dalam Sang Hyang Kamahayanikan (abad X, Mpu Sindok) ungkapan: Buddha tunggal lawan Siwa (Buddha dan Siwa itu satu), mulai merenungkan relasi keduanya secara metafisik. Raja Kertanegara, pencetus politik persatuan Nusantara, menyebut “Sang Hyang Siwa-Buddha” dalam praxis Sangkan Paraning Dumadi (asal muasal dan tujuan Kehidupan). Ungkapan Sang Hyang Siwa-Buddha disini dipahami dalam makna prinsip tertinggi Ketuhanan yang Maha Esa, yang mengatasi baik Siwa maupun Buddha itu sendiri.

Puncak dari refleksi mengenai prinsip universal Ketuhanan Yang Maha Esa yang “beyond religions” (mengatasi agama-agama) ini terjadi pada era kejayaan Majapahit. Majapahit adalah negara nasional kedua, yang jelas-jelas bukan negara Hindu. Sekalipun sebagian besar masyarakatnya beragama Hindu, tetapi Majapahit tidak menjadikan hukum Hindu sebagai “hukum negara”. Pada era keemasan Majapahit, prinsip Ketuhahan Yang Maha Esa itu disebut oleh Mpu Prapanca dan Mpu Tantular sebagai Sri Parwatharaja, yang bukan Siwa dan bukan Buddha, melainkan mengandung unsur-unsur prinsipil baik Siwa maupun Buddha.

Prinsip Ketuhanan yang lebih universal tersebut dapat dibaca dalam Kakawin Sutasoma Pupuh 89,5 sebagai berikut:

Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen. Mangkang Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal Bhinneka Tunggal ika, Tan Hana dharma mangrwa. Artinya: “Disebutkan bahwa Sang Hyang Buddha dan Sang Hyang Siwa adalah dua substansi yang berbeda. Keduanya sungguh-sungguh berbeda, namun bagaimana mungkin mengenal sekilas perbedaan keduanya. Karena hakikat Siwa dan hakikat Buddha adalah tunggal. Berbeda-beda tetapi satu juga, dan tidak ada kebenaran yang mendua”.

Siapakah Sri Parwataraja? Seperti telah disinggung sebelumnya dalam tulisan ini, Sri Parwata Raja adalah istilah bagi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa pada zaman Majapahit, terlepas dari melalui agama-agama India (Siwa, Buddha) atau penghayat kepercayaan asli (karesian). Bahwa Sri Parwata Raja adalah “prinsip tertinggi, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa”, terbukti dari syair Mpu Prapanca dalam Negara Kertagama bahwa Sri Parwataraja adalah “Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai konsep penyatu nasional, bukan Siwa dan bukan Buddha, melainkan Sang Hyang Siwa-Buddha, “Pelindung Mutlak” (Natha ning anatha), “Raja dari segalka raja di dunia” (Pati ning Jagad pati), dan “Tuhan dari segala konsep Tuhan personal dalam masing-masing agama (Hyang ning hyang inisthi).

Ungkapan Parwatharaja, Girinatha, Girindra yang semuanya menunjuk kepada “Sang Raja Gunung”, maksudnya “Sang Penguasa tertinggi”, berakar pada ungkapan bahasa Nusan-tara Dapunta Hyang (yang menguasai alam tertinggi). Jadi, kesadaran rohani akan Ketuhanan Yang Maha Esa sudah ada jauh sebelum kedatangan agama-agama ke Indonesia. Dan terbukti pula, bahwa kesadaran itu yang memandu bangsa Indonesia untuk menerima, sekaligus mengolah pengaruh-pengaruh luar, yang ternyata tidak pernah menenggelamkan jatidiri bangsa kita.

Spiritualitas agung Nusantara yang mengatasi aspek lahiriah agama-agama itu, telah memandu bangsa Indonesia dalam menapaki perjalanan sejarahnya yang panjang. Prinsip itu pula yang mempersatukan Sriwijaya dan Majapahit, dan mengantarkan kedua negara nasional itu ke puncak kemegahannya.

2.4. Kerajaan Demak dan Pajang

Kebebasan beragama yang bersumber pada kesadaran Holistic spirituality ini hilang pada masa Demak dan Pajang, ketika prinsip negara nasional digantikan dengan prinsip “negara agama” (theokrasi). Bukti bahwa prinsip “Negara agama” yang intoleran dan rawan memecah belah Nusantara itu, antara lain ditunjukkan dengan “pengadilan atas keyakinan yang berbeda” berdasarkan tafsir tunggal sebuah (aliran) agama. Kasus hukuman mati atas Syekh Siti Jenar pada zaman kerajaan Demak dengan jelas membuktikan kebangkrutan sebuah ideologi agama yang bercorak “imperialisme doktriner” yang kurang memberi tempat pada keyakinan iman yang berbeda-beda.

Dalam kaitannya dengan paham kebangsaan, Bung Karno, dalam pidatanya tanggal 1 Juni 1945 ketika mengusulkan Dasar negara Pancasila, mengatakan bahwa kita hanya memiliki dua kali negara nasional (Nationele Staat) sebelum NKRI, yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Karena keduanya bukan “negara agama”, maka keduanya pernah berhasil mempersatukan Nusantara. Pada masa kedua “negara nasional” sebelum NKRI ini tidak pernah ada orang yang berbeda dalam formula iman dipidana, rumah-rumah ibadah dibakar apapun alasannya. Tetapi ketika Demak menjadi “negara agama” dan filosofi Bhinneka Tunggal Ika diganti dengan Agama ageming aji (agama raja, agama negara) barulah muncul kasus Syek Siti Jenar, dan sejak Demak Nusantara terpecah-pecah. Jangankan mempersatukan Nusantara, sesama Jawa saja tidak mau mengakui kedaulatan Demak.

2.5. Kerajaan Mataram

Mataram mulai menyadari kegagalan ideologi agama, dan mencoba mengembalikan “spirit Majapahit”, namun gagal dan kalah cepat dengan kekuatan kolonialisme dan Impe-rialisme Barat. Salah satu indikator kebebasan beragama yang mulai dirintis dan dikembalikan oleh Mataram adalah diampuninya Haji Mutamakin yang mengajarkan ajaran Manunggaling Kawula-Gusti berdasarkan “Serat Dewa Ruci”, atas laporan dari Ketib Anom yang mewakili Islam Santri. Serat Dewa Ruci adalah salinan dan pengembangan dari naskah Jawa kuna berjudul Nawa Ruci, karya Mpu Siwamurti dari masa akhir Majapahit. Kasus “beda tafsir agama” ini dicatat dalam Serat Cabolek.

Selanjutnya menarik untuk dicatat pula, bahwa dibiarkannya kedua pendapat ber-kembang, di kemudian hari masing-masing telah mengkristal menjadi dua kelompok: Santri (Islam ortodoks), dan Abangan-Priyayi (yang cenderung kepada Kejawen). Serat Cabolek sendiri lebih condong ke pandangan santri, karena itu kita tidak bisa menyalahkan Haji Muta-makin yang “dituduh mengajarkan aliran sesat”, tanpa kita mendengar dan membaca sendiri argumentasi teologisnya. Sinuhun Paku Buwana II tampaknya tidak suka kepada para ulama yang berusaha mengadili keyakinan Mutamakin, sehingga Mutamakin dibebaskan dari tuduhan mengajarkan ajaran sesat. Kedua paham yang berbeda tersebut akhirnya boleh berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa negara secara bijak mengambil jarak dari soal-soal yang termasuk dalam ”ruang privat” warganega.

Bercermin dari “kaca benggala” sejarah di atas, patut dipertanyakan apakah beberapa kasus pengadilan atas keyakinan seseorang atau sekelompok orang a la Syeh Siti Jenar ini akan terus berlangsung, gara-agara negara terlalu turut campur dalam menentukan sesat tidaknya sebuah aliran agama, seperti tersirat dan tersurat dari Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1965? Sekali lagi, dengan mengatakan bahwa undang-undang penodaan agama harus dicabut tidak berarti bahwa saya menyetujui penodaan terhadap nilai-nilai luhur agama. Sama sekali bukan, melainkan jangan sampai negara terlalu jauh mencampuri urusan sesat/ tidaknya sebuah agama atau aliran kepercayaan yang sepanjang sejarah dari zaman ke zaman selalu tumbuh dalam masyarakat Indonesia.

IV. Mengkritisi unsur-unsur Tindak Pidana Penodaan Agama

Jelaslah bahwa pembatasan terhadap hanya 6 agama yang diakui pemerintah, ditinjau dari sudut ilmu agama-agama − dan ini jelas di luar kewenangan pemerintah untuk mengu-rusinya − jelas-jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tampak sekali “definisi agama” yang melatarbelakangi munculnya undang-undang diskriminatif ini adalah jelas-jelas definisi agama menurut agama tertentu. Misalnya, syarat-syarat bahwa agama harus mempunyai konsep Tuhan, Kitab Suci, dan Nabi adalah jelas-jelas definisi Islam. Diantara agama-agama semitik saja (Yahudi, Islam dan Kristen), konsep Nabi, Kitab Suci dan pe-wahyuan saja sudah berbeda, lebih-lebih lagi agama-agama non-Semitik, seperti Hindu dan Buddha.

Agama-agama semitik mengklaim diri sebagai “agama monoteis”, dan bisa saja menuduh agama lain “politheis”, atau minimal “kurang monotheis”. Padahal baik tradisi monotheisme, monisme dan pantheisme semua ada dalam agama Hindu. Sebaliknya, agama Buddha jelas-jelas terpaksa menerima syarat harus ber-“Ketuhanan Yang Maha Esa”, padahal filosofi ajaran Buddha jelas-jelas bersifat non-theis (bukan atheis, melainkan non-theis sebab tidak mengenal konsep Tuhan sebagai Personal God). Lebih-lebih lagi dalam satu agama, misalnya Kristen/ Protestan, ada lebih dari “satu penafsiran”. Begitu juga dalam Islam, Hindu, Buddha dan sebagainya. Lalu apabila terjadi lebih dari satu tafsir terhadap kitab suci masing-masing, bagaimana harus menerapkan ketentuan dalam pasal 1 “melakukan penafsiran ter-hadap suatu agama yang berlaku di Indonesia?”

Ketentuan dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 juga bisa menghalangi studi ilmu agama-agama. Misalnya, dalam Kristen kadang-kadang berkembang penafsiran akademis atas agama Islam. Tentu saja “penafsiran Kristen” atas Islam ini berbeda dengan Islam. Apakah ini termasuk penodaan agama? Sebaliknya, apabila seorang teolog Muslim mengembangkan penafsiran atas Kristen dengan memakai ayat-ayat Alkitab yang jelas-jelas berbeda dengan pandangan Kristen sendiri. Apakah perbedaan penafsiran ini juga melanggar undang-undang penodaan agama? Kalau dijawab, “Ya!”, berarti Ibnu Taimiyyah dan Imam al-Ghazali juga bisa dikenakan tuduhan melakukan penodaan terhadap agama Kristen. Karena Ibnu Taimiyyah dalam bukunya Al-Jawâb ash-Shahîh li Man Baddala Dîn al-Masîh (Jawaban yang Benar atas orang Yang mengubah agama Kristus), yang menafsirkan ayat-ayat Alkitab berbeda dengan “penafsiran resmi” Kristen.

Begitu juga dengan Imam al-Ghazali (wafat 1111 M), dalam bukunya Ar-Radd al-Jamîl li Ilahiyyati ‘Isa bi Syarîh al-Injîl (Penolakan Sempurna atas keilahian Yesus berdasarkan Injil yang Otentik), seharusnya juga bisa dikenakan Pasal 1 Undang-undang Penodaan Agama, karena buku ini berisi penafsiran a la Islam atas teks-teks Suci Kristen demi mendukung pandangan teologis Islam sendiri. Kalau kita menengok sejarah agama-agama dan penyiaran-nya, pertanyaan bisa semakin panjang. Misalnya, proses “islamisasi” (yang bisa disambung dengan “kristenisasi”) cerita-cerita wayang yang cerita-ceritanya banyak mengadaptasi dari India.

Jangan-jangan penulis “Babad Cirebon” dapat dikenai delik penodaan agama, karena menafsirkan pustaka Kalimasada dengan tafsiran Islam Kalimat Syahadat. Padahal Kalimasada berasal dari bahasa Sanskerta Kalimahosadha (Kali, “zaman Kali”, “zaman Kegelapan”; maha, “besar” dan usadha “penyembuh”), artinya “Penyembuh besar pada zaman Kegelapan”. Keterangan mengenai pustaka Kalimahosada ini dapat dibaca dalam Kakawin Barata Yuddha (syair XLI,5), karya Mpu Sedah (1135-1157 M), seorang pujangga Prabu Jayabaya Kediri, sebagai berikut:

“….enget ring wekasan Yudhisthira sukang pinituturan tan dwang sanjata pustaka Kalimahosada rinegepira. Sampun sida sinidikara dadi tomara mangarab-arab. Artinya: “Akhirnya Yudistira menemukan kembali kesadarannya dan ia suka dalam hati, karena ada orang-orang yang mengingatkannya. Dengan wajarnya ia memegang senjata pu-saka Kalimahosada, mantera-menteranya diucapkan secara sempurna, sehingga sen-jata itu memiliki kekuatan gaib dan menjelma menjadi tombak sakti yang berkobar-kobar”.

Kalau kita lacak lebih jauh lagi, sebagaimana disimpulkan dari hasil penelitian Hazeu, Rassers dan Kruyt, wayang adalah seni pertunjukan asli Jawa yang berfungsi untuk pe-nyembahan kepada Sang Pencipta. Pada awal kerajaan Hindu, wayang masih berfungsi se-bagai ritual penyembahan”, sekalipun sudah diisi dengan cerita-cerita Hindu. Hal ini terbukti dari prasasti Balitung (905 M): “…Si Galigi mawayang bwat Hyang, macarita Bhima ya kumara” (Si Galigi memainkan wayang untuk menyembah Tuhan, bercerita tentang Bhima ketika masih muda).

Apakah memakai pertunjukan wayang Jawa demi menyiarkan prinsip-prinsip ajaran Hindu dan kemudian dilanjutkan oleh Islam adalah “penodaan agama”? Pada zaman Islam para wali memakai wayang demi dakwah Islam, dan kisah-kisah Hindu di-“islam”-kan habis-habisan, sampai-sampai dalam Serat Kanda Bathara Guru (Sang Hyang Siwa), Dewa Pralina dalam agama Hindu, diidentikkan dengan Iblis, yang mengaku diri Tuhan? Begitu juga, dalam sejumlah naskah Jawa-Islam dewa-dewa Hindu diturunkan derajatnya menjadi keturunan Nabi Adam? Bukankah ini memenuhi rumusan delik “… atau membuat kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu”?

Memang, bagi orang Muslim dan Kristen, pertunjukan wayang hanyalah tontonan, tetapi bagi orang Jawa kuna adalah kegiatan keagamaan. Jadi, apakah menggunakan istilah-istilah Jawa-Hindu dan menafsirkan dengan ajaran Islam bukan merupakan penodaan agama menurut Penjelasan pasal 2 Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965?

“Dengan kata-kata “kegiatan keagamaan” dimaksudkan segala macam kegiatan yang bersifat keagamaan, misalnya menamakan suatu aliran dengan agama, mempergu-nakan istilah dalam menjalankan atau mengamalkan ajaran-ajaran kepercayaannya dan sebagainya (Penjelasan Pasal 2).

Perlu dipertanyakan “menggunakan istilah dalam menjalankan atau mengamalkan ajaran-ajaran kepercayaannya”. Siapakah yang bisa mengklaim bahwa suatu “pola ibadah” dan term-term keagamaan tanpa pengaruh dari bahasa-bahasa yang digunakan oleh komunitas agama sebelumnya. Misalnya, membaca Kitab dengan tartil yang dikenal Tilawat Al-Qur’an dalam Islam, ternyata sebelumnya sudah ada dalam komunitas Kristen Ortodoks di Timur Tengah dengan sebutan “mulahan Injil”. Dari zaman pra-Islam sampai sekarang adab pembacaan Kitab Suci ini dikenal di seluruh gereja-gereja ortodoks, baik di Timur Tengah, Ero-pa Timur dan Rusia. Kita semua bisa menyaksikan di negera-negara Arab, bagaimana orang Kristen mengajikan Injil sangat mirip dengan umat Islam mengajikan ayat-ayat Al-Qur’an.

Begitu juga pemakaian jilbab sudah dikenal di Code Hamurrabi (abad XIV SM), yang kemudian dilestarikan oleh orang Yahudi, Kristen Timur dan kemudian dilanjutkan oleh Islam. Bagi kita yang hidup di Indonesia, kalau ada orang Kristen membaca Injil dengan dingajikan bisa dituduh membuat “kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu (Islam)”, padahal di Timur Tengah orang Yahudi, Kristen dan Islam mempunyai adab ibadah yang hampir sama, karena ketiga agama itu memang mempunyai akar dan rumpun yang sama.

Khususnya untuk penghayat Kepercayaan dilarang menggunakan istilah “agama” (se-telah istilah yang diambil dari bahasa Jawa kuna ini mengalami pembakuan oleh pemerintah), secara historis bisa dipertanyakan: “Siapakah yang lebih dahulu memakai istilah agama”? Bukankah kata “agama” telah terlebih dahulu diserap dalam bahasa Jawa kuna, sedangkan kata ini tidak dijumpai baik dalam Injil maupun Al-Qur’an? Begitu juga soal pembakuan bahwa agama harus mempunyai konsep “Tuhan”, “Nabi”, “Kitab Suci”, ini benar-benar sebuah bentuk imperialisme doktriner yang menggunakan kekuasaan negara, bahkan tidak sesuai dengan jalannya logika dan fakta sejarah.

Sebab faktanya kaum penghayat mempunyai konsep yang sama sekali berbeda. Orang Jawa tidak pernah mengenal nabi atau rasul. Kasunyatan Jawi, misalnya, memandang bahwa ibu kita sendiri adalah utusan Tuhan untuk melahirkan kita. Tentu saja konsep “utusan” ini sangat berbeda bila dipahami menurut logika agama-agama Yahudi, Kristen dan Islam. Namun paham Kristen atau Islam ini tentu tidak bisa dijadikan “tolok ukur” untuk menilai keyakinan atau pandangan lain yang berbeda. Sebab sekali lagi, dalam konteks ilmu agama-agama, Keper-cayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah “agama dalam pengertian yang sebenar-benarnya”.

V. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas maka kami memandang bahwa Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 tidak diperlukan dan harus dicabut, karena telah mendeskriminasi agama dan kepercayaan lain di luar yang diakui oleh Pemerintah. Rumusan delik sebagaimana yang terdapat dalam pasal 1 sangat sulit dilaksanakan, karena secara faktual bertentangan dengan sejarah agama-agama itu sendiri:

Pertama, kriteria “melakukan penafsiran terhadap suatu agama yang berlaku di Indonesia” bertentangan dengan fakta bahwa tidak pernah ada tafsir tunggal dalam satu agama itu sendiri, apalagi antara agama yang satu dengan agama lainnya. Kegiatan saling menaf-sirkan agama dari perspektif agama yang dianut oleh penafsirnya, justru sepanjang sejarah telah terjadi. Lebih-lebih dalam prakteknya selama ini, perbedaan tafsir dengan “versi agama resmi” ini telah menjadi justifikasi terhadap tindakan kekerasan atas nama kebenaran agama, seperti yang khususnya dialami oleh kaum penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, kriteria “membuat kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu” juga bertentangan dengan fakta sejarah agama. Kesamaan istilah atau term-term keagamaan, pola ibadah, dan sebagainya, kadang-kadang muncul karena keserumpunan aga-ma (misalnya: Yahudi, Kristen dan Islam di Timur Tengah; Hindu dan Buddha di India; Konfusius dan Tao di Cina, dan sebagainya), atau beberapa agama dalam perkembangannya tumbuh di suatu tempat yang sama.

Sekali lagi harus ditekankan bahwa pencabutan Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 tidak berarti membiarkan terjadi penodaan agama, sebab pasal-pasal KUHP sudah menga-turnya. Pada prinsipnya, usulan pencabutan Undang-undang Penodaan Agama ini salah satunya dilandasi oleh alasan bahwa keberadaan Undang-undang ini telah membuat peme-rintah terlalu jauh mengintervensi keyakinan seseorang, yang seharusnya termasuk “wilayah privat” masing-masing orang dalam tanggungjawab penuh kepada Sang Hyang Tunggal, Gusti Kang Akarya Jagad (Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta) dan sesame manusia, dan segenap makhluk ciptaan-Nya.

—–

http://triwidodo.wordpress.com/2010/03/29/eksistensi-“agama-asli-indonesia”-dan-perkembangannya-dari-masa-ke-masa/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5959
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Next

Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users