Latar Belakang & Sejarah Konflik Timur Tengah
Dr. Jeff Hammond
Artikel 2: Allah Berkuasa di Wilayah Palestina-Israel – Daniel 2
Sejarah Wilayah Palestina-Israel ada di tangan Allah.
Sejak waktu Allah berfirman kepada Musa dalam Keluaran 6:7, Palestina dinyatakan sebagai milik Allah sendiri yang diserahkan-Nya kepada bangsa Israel. Bahwa tanah itu diserahkan Allah kepada Israel secara sah diteguhkan dalam Al-Qur’an, Surah Al Maidah 5:20-21.
Namun, Israel ternyata adalah bangsa yang keras kepala, pemberontak dan pelanggar hukum Allah di sepanjang sejarah dan sering dimurkai Tuhan karena dosa-dosanya.
Setelah Masa Jaya Israel dalam pemerintahan Saul, Daud dan Solomon terjadi perpecahan sehingga muncul dua Kerajaan di Israel sekitar tahun 922sM. Sepuluh suku di bagian utara Israel yang disebut
Bani Israel, berpisah dari dua suku di bagian selatan Israel yang disebut
Bani Yehuda. Perpecahan dalam bangsa Israel ini membuat dilema bagi Bani Israel karena pusat ibadah dan Bait Suci ada di Yerusalem di daerah Bani Yehuda. Oleh sebab itu Bani Israel membuat pusat ibadah baru di Dan di bagian utara.
Penolakan Bani Israel atas perintah-perintah Allah mengakibatkan Bani Israel diserahkan ke tangan Kerajaan Asyur sekitar tahun 722sM sehingga Bani Israel sampai sekarang lenyap terhilang sebagai kerajaan terpisah sesuai dengan nubuatan-nubatan Firman Tuhan dan akan dipulihkan dalam Kerajaan ”Daud” atau Bani Yehuda (Yehz 37; Amos 9).
Bani Yehuda tidak kelihangan identitasnya sebagai ”Israel” dan hanya masuk ke dalam perhambaan Babel selama 70 tahun dari zaman Nebukadnezar sampai zaman Koresy.
Nubuatan Daniel (Dan.2) menyatakan bahwa akan ada lima kerajaan yang akan berkuasa dan mempengaruhi sejarah Timur Tengah, yaitu Kerajaan Babel, Kerajaan Medi-Farsi, Kerajaan Yunani, Kerajaan Roma dan Kerajaan Allah yaitu, “Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya,” Dan.2:44.
Persis seperti dinubuatkan Daniel, dan juga Yesaya, Yehezkiel dan Yeremia, Allah yang mengangkat dan menurunkan bangsa-bangsa dan raja-raja, telah menguasai sejarah, melakukan penghukuman-Nya dan mempersiapkan Wilayah Palestina-Israel untuk peristiwa yang terajaib dalam sejarah, yaitu lahirnya Mesias, yang akan mengubah sejarah dunia.
Maka jelaslah, bahwa Wilayah Palestina-Israel adalah tanah milik Allah dan dia berhak memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Mengapakah Israel tidak pernah diizinkan hidup dengan tenang dan damai di wilayah itu sepanjang sejarah dan apakah Tuhan dapat mencabut hak-Nya yang sudah diberikan-Nya ke Israel? Kita harus bertanya lagi, siapakah yang sebenarnya berhak atas wilayah itu? Siapakah yang berkuasa untuk menentukan sejarahnya dan apa Kerajaan Allah ini yang dikatakan “kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya”?
Pemahaman hal-hal ini dapat saja mengubah dan membentuk pandangan kita tentang Timur Tengah dan berbagai nubuatan Firman Tuhan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di wilayah itu di akhir zaman. Edisi berikut kita akan membahas kedatangan Kerajaan Allah di wilayah Palestina-Israel di zaman Yesus dan implikasinya untuk kita semua.
Artikel 3: Palestina di Zaman Romawi
Zaman Roma-Byzantin (63 sM-638M)
Selama hampir tujuh abad antara 63 sM dan 638 M, wilayah Palestina terjepit di antara dua kerajaan besar yaitu antara Kerajaan Farsi dan Kerajaan Roma/Byzantin.
Menurut ahli sejarah Timur Tengah,
Bernard Lewis, persaingan antara Farsi dan Roma-Byzantin, menjadi hal utama dalam percaturan politik di kawasan itu sampai kebangkitan Khilafah Islam, yang menghancurkan Kerajaan Farsi dan sangat melemahkan Kerajaan Roma-Bizantin sehingga terpukul mundur dari Timur Tengah.
Roma Berkuasa
Pada tahun 63 sM tentara Roma yang dipimpin Jenderal Pompey telah memasuki dan menguasai wilayah Palestina sehingga Kaisar Julius berkuasa dari Roma ke Palestina bahkan di Mesir. Kuasa Kerajaan Roma telah meluas dan bertambah sehingga pada tahun 37 sM Herodes Agung diangkat menjadi raja jajahan Roma itu. Raja Herod telah memerintah atas seluruh Palestina dari tahun 37 sM sampai tahun kelahiran Yesus, 4 sM.
Dalam pemerintahan Romawi, Yerusalem bertambah besar ke arah utara. Proyek pembangunannya termasuk Tembok Kedua, Kaabah Herodes, Benteng Antonia dan Menara Daud. Juga didirikan istana-istana dan gedung umum seperti pasar, toko dan teater. Walaupun Tanah Palestina dikuasai oleh Kerajaan Roma, Bait Suci dibangun kembali lebih besar dan lebih megah daripada Bait Suci di zaman Salomo.
Setelah Israel mengalami masa perhambaan Asyur, Babel, Mesir, Media-Farsi dan Yunani, kini giliran Roma menjajah wilayah Israel-Palestina dan ternyata ini menjadi masa pahit bagi Israel yang tidak lama kemudian mengalami penghancuran dan penyingkiran ke berbagai bangsa lain.
Yesus dan Kerajaan Allah
Pada zaman Kerajaan Roma inilah Yesus lahir. Yesus telah hidup di wilayah Israel-Palestina dari tahun 4 sM sampai tahun 30 M. Dia lahir pada waktu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah sensus yaitu pendaftaran semua orang di seluruh dunia. Ini terjadi juga pada waktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Luk 2:1-2.
Mendahului pelayanan Yesus, Yohanes Pembaptis telah mulai memberitakan Kerajaan Allah pada tahun ke-15 Kaisar Tiberius. Pada waktu itu Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes Antipas menjadi raja wilayah Galilea, Luk 3:1. Pontius Pilatus yang kemudian memimpin pengadilan terhadap Yesus dan memerintahkan agar Dia disalibkan (Mark 15:1-15; Mat 27:2, 11-26; Luk 23:1-25; Yoh 18:28--19:31; Kis 3:13; 4:27; 13:28; 1Tim 6:13).
Sebelum Yesus disalibkan ada pemberontak-pemberontak Yahudi yang melawan pemerintahan Roma. Ada yang mengklaim diri ”Mesias”. Jadi waktu Yesus disebut ”Mesias” juga Dia hanya dianggap sebagai salah satu pemberontak seperti yang lain sebelumnya dan agar menjamin penguasa Romawi memutuskan untuk menghukum mati Yesus, para imam, ahli Taurat, Farisi dan Saduki mengemukakan bahwa Yesus telah mengklaim dirinya ”Raja” dan dengan demikian musuh Roma. Maka Yesus disalibkan sebagai seorang penjahat dan pemberontak terhadap otoritas Roma.
Penghancuran Bait Suci dan Kota Yerusalem
Ketidaksenangan Israel dengan Kerajaan Roma makin lama makin nyata sehingga hukuman Roma makin keras dan orang Yahudi makin ditindas. Akhirnya pemberontakan orang Yahudi, yang dipimpin kaum Zelot, terjadi pada 66 M dan mereka mengusir penguasa Roma dan memerintah di Yerusalem sampai tanggal 9 bulan Av 70 M.
Demi menyelamatkan bangsa Israel, umat Yahudi telah mempersembahkan ratusan ribu hewan sebagai korban kepada Tuhan dengan mengharapkan keselamatan dari Allah tetapi perbuatan itu akan sia-sia:
1.Karena Yesus telah menyatakan Bait Suci, yang dulu disebut ”Rumah Bapa-Ku”, Yoh 2:13-17, bukan lagi milik Allah tetapi milik Yahudi ”rumahmu” yang akan ditinggalkan sunyi senyap. Waktu Yesus keluar dari Bait Suci ternyata hadirat Allah pun keluar, Mat 23:37-24:1.
2.Waktu Yesus disalibkan, tirai Bait Suci dirobek dari atas ke bawah. Bapa telah merobeknya untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa hadirat Allah tidak ada di dalam gedung Bait Suci, Mat 27:51.
3.Yesus bernubuat bahwa Bait Suci itu akan dihancurkan dan tidak akan tertinggal satu batu di atas yang lain. Ini akan mengekspos bahwa hadirat Allah tidak ada lagi di Bait Suci jasmani tetapi hadirat Allah sekarang ada di dalam Bait Suci rohani, Luk 21:5-6; 21:20-24;1Kor 3:16 ; Ibr.9:24 ;Why 11:19.
Pada tahun 70 M, Yerusalem dibumihanguskan oleh tentara Roma di bawah pimpinan Jenderal Titus, yang atas perintah Kaisar Vespanianus, mengalahkan pemberontakan itu dan menghancurkan dan membakar seluruh Yerusalem dan Bait Suci sampai tersisa hanya sebagian tembok barat Bait Suci, yang kini terkenal sebagai Tembok Ratapan. Menurut ahli Talmud, Bamidbar Rabah, orang Yahudi sampai masa kini, tetap percaya ada Hadirat Allah (shekinah) di sana, dan Tembok Barat itu tetap menjadi tempat paling kudus bagi penyembahan Yahudi di Yerusalem.
Lebih dari sejuta orang Yahudi atau 25% populasi tewas dalam peperangan itu dan 10% dijadikan budak. 50% lari menjadi pengungsi di berbagai bangsa di Eropa dan di Timur Tengah dan hanya 10-15% tertinggal di wilayah Palestina.
Pada waktu penghancuran Yerusalem itu umat Kristen telah luput dan terpelihara karena mereka telah mentaati nasihat dan nubuat Yesus tentang serangan dan pembinasaan yang akan terjadi atas Yerusalem, Mat 24:15-20; Luk 21:20-24.
Masada
Pemberontakan Israel dilanjutkan sampai terjadi tragedi di sebuah bukit di bagian padang pasir Yudea dekat Laut Mati yang disebut Masada.
Menurut Flavius Josephus, ahli sejarah Roma di abad pertama, Masada dibangun sebagai benteng pertahanan oleh Raja Herodes Agung namun kaum Zelot Yahudi, yang dipimpin Eleazar ben Simon berhasil mengalahkan tentara Roma di Masada sehingga menguasainya dari tahun 68 M. Pada tahun 70 M, beberapa Zelot dan orang Yahudi lainnya yang telah lari dari penghancuran Yerusalem telah berkumpul di Masada.
Lalu pada tahun 72 M, Gubernor Yudea Romawi Lucius Flavius Silva menyerang Masada dan mengalahkannya pada tanggal 16 April tahun 73 M. Daripada ditangkap dan menjadi budak, semua orang Yahudi di Masada telah bunuh diri. Maka berakhir pulalah Negara Yahudi II dan mayoritas besar orang Yahudi menjadi diaspora yang dicerai-beraikan di antara bangsa-bangsa menggenapi berbagai nubuatan Firman Tuhan, Luk 21:24; Ul. 28:64-67; Im 26:21-42.
Kaisar Hadrian
Pada tahun 118 M, Hadrian menjadi Kaisar Roma dan dialah Kaisar yang pertama yang toleran kepada orang Yahudi. Dia memberi izin untuk orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan membangun Bait Suci. Mereka membuat persiapan membangun kembali kaabah itu, namun Hadrian tiba-tiba menarik izinnya dan menyuruh mereka membangun di tempat lain. Dia juga mulai mengusir orang Yahudi ke Afrika Utara.
Sesudah Hadrian meninggalkan Yerusalem, pada tahun 132-135 M pemberontakan Bar-Kokhba terjadi. Pada waktu itu masih ada kira-kira 6 juta orang Yahudi yang tinggal di daerah Kekaisaran Roma tetapi hanya 40% yang masih tinggal di Israel. Orang Yahudi yang masih belum mengungsi dari Israel ini mulai memberontak. Selama pemberontakan, orang Yahudi merebut banyak tanah tetapi akhirnya mereka dikalahkan dalam perang Bethar.
Pemberontakan Bar-Kokhba
Di bawah kepemimpinan Shimon Bar-Kokhba, orang Yahudi telah merebut 50 benteng di Palestina dan 985 kota dan desa, termasuk Jerusalem, dari tangan Kerajaan Roma. Mereka mencetak uang logam dengan perkataan “Kemerdekaan bagi Israel” ditulis dalam bahasa Ibrani. Bar Kokhba berhasil mengusir Roma dari Yerusalem dan Israel dan mendirikan negara Yahudi tetapi hanya untuk waktu yang sangat singkat saja. Kemudian datang tentara Roma besar dari Mesir, Inggris, Siria dan lain tempat. Dengan demikian orang Yahudi dikalahkan dan diusir. Sejarahwan Romawi, Dio Cassius, berkata bahwa 580,000 orang Yahudi dibunuh dalam perang itu dan banyak orang lain mati karena kelaparan, penyakit dan api.
Sesudah perang Bethar, orang Yahudi sudah kehilangan kemerdekaan. Banyak dijual sebagai budak dan dibawa ke Mesir. Kota dan desa Yudea tidak dibangun kembali. Nama Yerusalem menjadi Aelia Capitolina dan orang Yahudi dilarang tinggal di situ. Mereka hanya diizinkan masuk Yerusalem sekali setahun pada tanggal 9 bulan Av untuk meratapi kekalahannya. Nama Yudea diubah oleh Hadrian menjadi Siria Palestina. Hadrian melarang pelajaran Torah, Sabat, sunat, pengadilan Yahudi, pertemuan di sinagog dan ibadah lain. Beberapa orang menjadi syahid termasuk Rabbi Akiva dan Asara Harugei Malchut (sepuluh orang yang mati syahid). Zaman aniaya itu atas orang-orang Yahdi telah jalan terus sampai tahun 138 sM.
Bukan hanya orang Yahudi yang dilarang masuk Yerusalem, yang beragama Kristen juga dilarang. Untuk pertama kali dalam 1000 tahun, sejak Raja Daud menguasai Yerusalem, kota Yerusalem kosong dari orang Yahudi.
Zaman Konstantin dan Byzantin
Pada tahun 324 M Konstantin menjadi pemimpin seluruh Kerajaan Roma. Karenanya Kekristenan mengalami perubahan besar. Dari agama yang
dianiaya, Kristen menjadi agama yang sah, bahkan agama kekaisaran Romawi. Dampaknya besar di Yerusalem. Gereja-gereja mulai dibangun di tempat sakral di Yerusalem dan Israel dan banyak orang berziarah ke sana. Kota Yerusalem sendiri bertumbuh besar dan menjadi pusat agama Kristen. Ratu Helena membangun gereja-gereja besar di tempat penyaliban, penguburan dan kebangkitan Yesus. Yerusalem ditransformasin menjadi kota Kristen yang besar dan menarik banyak pengunjung dari seluruh Kerajaan Romawi.
Pada tahun 438 M Ratu Eudocia mengizinkan orang Yahudi kembali lagi ke Yerusalem. Eudocia membesarkan Yerusalem ke sebelah selatan. Dia juga bangun beberapa gereja, rumah sakit, rumah jompoh dan lain-lain.
Zaman Farsi dan Arab mulai menguasai Wilayah Palestina
Pada tahun 614 M Yerusalem dikuasai
orang Farsi di bawah pimpin Chosroes. Ribuan penduduk dibunuh. Banyak gereja dihancurkan dan kerampasan dan pencurian terjadi. Yang disakralkan sebagai Salib Yesus dicuri tetapi pada tahun 628 M, Kaisar Heraclius mengembalikan pemerintahan Byzantium dan Salib pun dikembalikan ke tempatnya.
Tetapi sepuluh tahun kemudian pada
638 M, Yerusalem diserang oleh tentara Arab yang dipimpin oleh Umar, Khalif Islam yang pertama, lalu wilayah Palestina-Israel berada di bawah pemerintahan Khilafah Islam.
Ternyata kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah tidak membawa Israel berkuasa sebagai bangsa dan negara. Namun demikian, s
epanjang zaman, sejak 1500 sM sampai zaman Khilafah Islam pada tahun 638 M, bahkan sampai sekarang, tak pernah wilayah Israel-Palestina kosong dari orang Yahudi. Sepanjang zaman itu jutaan orang Yahudi yang tinggal di Timur Tengah (
Mesir, Siria, Afrika Utara, Arab Saudi dll). Walaupun pada zaman Khilafah Islam jumlah orang Yahudi yang tinggal di wilayah Palestina telah turun sampai 100.000 orang, namun wilayah itu kini
sudah 3500 tahun tanpa putus berpenduduk orang-orang Israel.
Artikel berikut akan melihat wilayah Palestina selama zaman Arab dari 638 M, zaman Perang Salib bahkan sampai Perang Dunia Pertama dan hancurnya Khilafah Ottoman pada tahun 1917.
Artikel 4: Israel di Zaman Byzantin-Arab (638M-1099M)
Masa kini mayoritas penduduk wilayah Palestina-Israel terdiri dari orang-orang Arab. Di dalam sejarah Timur Tengah ditemukan istilah-istilah Arab Yahudi, Arab Kristen dan Arab Muslim. Proses
Arabisasi kebudayaan dan bahasa di wilayah itu telah mulai dari tahun 638M, dan berangsur-angsur terjadi selama 1360 tahun. Walaupun proses itu sering disamakan dengan proses Islamisasi hal itu tidak tentu benar. Arabisasi terutama adalah berkaitan dengan kebudayaan dan bahasa namun dampak perkembangan Islam juga merupakan suatu pengaruh yang sangat besar.
Dalam bukunya,
“Arab and Jew in the Land of Canaan” dijelaskan oleh
Ilene Beatty bahwa ada pelbagai suku bangsa yang datang di Kanaan dan mereka “merupakan tambahan, kelompok-kelompok yang dicangkokkan pada pohon silsilah penduduk. Para penyerbu Arab di abad ke-7M telah mengislamkan sebagian besar penduduk asli, telah bermukim sebagai penduduk, dan kawin-campur dengan mereka, sehingga semua orang di sana kemudian mengalami Arabisasi sampai kita tidak dapat menyatakan kapan peradaban Kanaan berakhir dan kapan peradaban Arab mulai.”
Orang-orang Yahudi dibagikan antara Yahudi Arab, Yahudi Eropa, Yahudi Asia dan Yahudi Afrika. Kenapa ada sekelompok yang disebut ’Yahudi Arab’? Ini terjadi sebab di sepanjang sejarah Timur Tengah ada sejumlah besar orang Yahudi yang mengalami Arabisasi bahasa dan kebudayaan walaupun mayoritas orang Yahudi tidak menjadi penganut agama Islam.
Kemenangan dan Pemerintahan Arab di Israel (635-638)
Sesudah kematian Muhammad, Islam telah mulai berekspansi ke negara-negara yang lain dengan tujuan akhir, menggenapi seruan jihadnya untuk menghancurkan kekuasaan Kerajaan Byzantin dan Kekristenan dan merebut kota Konstantinopel. Tentara-tentara jihad telah masuk dan menguasai kota Yerusalem sekitar tahun 635-638. Namun pada masa itu kota Yerusalem lebih dikenal dengan nama Romanya, Aelia, sampai abad ke-10 ketika diberi nama bahasa Arab, al-Quds (Kota Kudus).
Wilayah Yerusalem ataupun wilayah Palestina-Israel tidak pernah dipimpin bangsa-bangsa Arab sebagai sebuah ’bangsa’. Ketua Delegasi Syria di Konferensi Perdamaian Paris, Februari 1919 mengatakan: "Satu-satunya dominasi Arab sejak dikuasai pada tahun 635 hanya bertahan, pada dasarnya, 22 tahun". Wilayah it hanya didominasi secara "politik" saja sehingga dapat dikatakan bahwa orang-orang Yahudi “kehilangan tanahnya”, karena tidak pernah mereka meninggalkannya sehingga kosong secara fisik, ataupun meninggalkan klaimnya atas wilayah itu sebagai bangsanya.
Selanjutnya kota Yerusalem adalah kota kudus untuk tiga agama keturunan Abraham (Yahudi, Kristen dan Islam).
Waktu tentara-tentara Arab mengambil alih kota Yerusalem, mereka telah menduduki lokasi-lokasi sakral yang telah menjadi tujuan ziarah Kristen dan Yahudi. Mulai dari waktu itu sudah ditanam benih-benih konflik tentang hak milik semua lokasi sakral yang kemudian diperebutkan umat Kristiani selama Perang Salib bahkan sampai masa kini oleh kaum Yahudi, khususnya Bukit Moria, tempat Abraham mau mempersembahkan anaknya kepada Tuhan, yang juga adalah lokasi Bait Suci Solomon dan hari ini lokasi Mesjid Umar dan Mesjid Al-Aqsa.
Membangun Mesjid Umar ‘Dome of the Rock’
Umar (kalif pertama), waktu tiba di Yerusalem meminta agar diantar ke Bukit Bait Suci, suatu pengakuan agama Islam menerima dan mengakui tradisi para nabi Ibrani. Setelah mencapai puncak Bukit itu, Kalif Umar merasa mual melihat daerah itu telah menjadi daerah pembuangan sampah oleh orang-orang Kristen sebagai penghinaannya terhadap agama orang-orang Yahudi. Umar, karena telah menghormati orang-orang Yahudi, memberi perintah agar lokasi itu dibersihkan. Tindakan tersebut menjadi langkah pertama untuk mempersiapkan lokasi sakral Yahudi menjadi lokasi ibadah Muslim.
Pada awal Masa Arab, mayoritas penduduk Yerusalem beragama Kristen. Konstruksi Mesjid Dome of the Rock pada tahun 691, gedung sakral Muslim pertama di Israel, bertujuan menyaingi Gereja Kuburan Kudus (
Holy Sepulchre). Baik Mesjid Dome of the Rock dan Gereja Holy Sepulchre dibangun berdasarkan gambar bentuk dan ukuran yang sama, tetapi Mesjid Dome of the Rock dihiasi dengan ayat-ayat anti Ketritunggalan Allah dari Al-Qur’an.
Awalnya, orang-orang Muslim seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi di Aran Saudi, telah menghadap ke Yerusalem waktu berdoa. Namun, pada waktu orang-orang Yahudi --yang adalah mayoritas penduduk Medina telah menolak kerja sama secara agama dan politik dengan umat Islam bahkan menolak klaim kenabian Muhammad-- maka ada pewahyuan baru yang turun dari Allah yang memerintahkannya memindahkan arah doa dari Yerusalem ke Mekah (
John L. Esposito; Islam: the Straight Path; Oxford University Press: New York, 1991; pg.16).
Mesjid Dome of the Rock dibangun di atas lokasi Bait Suci Herodes dan dekat dengan Tembok Ratapan, satu-satunya bagian Bait Suci Solomon yang masih ada. Ajaran tradisi-tradisi Islam menununjukkan bukit batu kudus itu sebagai tempat awal kenaikan Muhammad ke Surga untuk menerima pewahyuan akhir Allah dalam bahasa Arab.
Dalam membangun Mesjid Dome of the Rock, para pemimpin Arab di Palestina telah menyampaikan respek mereka untuk kota Yerusalem, sebagai kota para nabi dari Abraham ke Musa ke Yesus, dan berakhir dengan Muhammad, “meterai para nabi.” Mesjid Dome of the Rock adalah monumen Islam tertua di dunia dan untuk kebanyakan Muslim adalah yang terhebat. Pembangunan Mesjid Dome of the Rock telah menjadi simbol kemenangan Islam atas agama Yahudi, agama Kristen, dan rasa tidak aman umat Islam di dalam sebuah kota yang mayoritas Kristen sampai Saladin mengusir para Laskar Salib dari Yerusalem pada tahun 1187.
http://en.wikipedia.org/wiki/Saladin
Dalam membuat Mesjid Dome of the Rock sebagai kopian Gereja Holy Sepulchre yang lebih tinggi dan lebih mulia sebagai saksi nyata kepada semua orang Yahudi dan Kristen, tentang kuasa dan keabadian agama Islam di Kota Kudus
(Idinopulos, Thomas A.; Jerusalem Blessed, Jerusalem Cursed; Ivan R. Dee: Chicago; 1991; pg. 207).
Kalif Umar juga telah memenuhi aspirasi umat Yahudi dengan menolak permintaan para pemimpin Gereja untuk menolak izin untuk orang-orang Yahudi memasuki kota Yerusalem. Pada tahun 638, setelah hampir 500 tahun orang-orang Yahudi dilarang masuk Yerusalem, maka komunitas Yahudi dibangun kembali oleh masyarakat Yahudi di kota Solomo ndan Daud
(Idinopulos, Thomas A.; Jerusalem Blessed, Jerusalem Cursed; Ivan R. Dee: Chicago; 1991; pg. 214).
Orang Yahudi di Palestina-Israel di sepanjang zaman
Ada propaganda bahwa orang-orang Yahudi setelah 1900 tahun meninggalkan tanah itu & hanya belakangan mereka “kembali lagi” ke Palestina-Israel dan menemukan tanah itu sekarang diduduki "Arab Palestina". Asumsi itu tidak benar. Walaupun mayoritas orang Israel telah mengungsi dari daerah Palestina-Israel, fakta sejarah menunjukkan bahwa ada
beberapa ratus ribu Yahudi yang tidak pernah meninggalkan daerah itu bahkan ada banyak orang Yahudi yang menjadi penduduk di bangsa-bangsa lain di kawasan itu, seperti di Syria, Arab Saudi, Mesir, Yaman, Irak, Iran, Turki dan Etiopia, selain yang mengungsi ke Eropa (
Palestine Royal Commission Report (London, 1937), pp. 2-5, 7, 9, particularly p. 11, para. 23).
James Parkes, seorang ahli tentang hubungan Yahudi/non-Yahudi di Timur Tengah telah menganalisa “hak milik tanah” masyarakat Yahudi sebelum tahun 1948 dalam bukunya
Whose Land? A History of the Peoples of Palestine (Harmondsworth, Middlesex, Great Britain: Penguin Books, 1970, p. 26,31,266).
Diungkapkannya bahwa ternyata sejarah orang Yahudi dari perlawanan Bar-Cochba tidak berakhir, tetapi mereka mempertahankan eksistensi
mereka sepanjang sejarah, walaupun ada banyak perlawanan terhadap kehadiran mereka secara fisik dan rohani di tanah tersebut, bahkan mereka tidak pernah menyerahkan klaim dan hak milik mereka yang dimilikinya sejak zaman eksodus dari Mesir dan masuknya Kanaan sekitar tahun 1460sM.
Pada tahun 438 orang-orang Yahudi dari Galilea dengan optimis mendeklarasikan bahwa, "masa pembuangan kami sudah berakhir" ketika Ratu Eudocia mengizinkan orang Yahudi berdoa di lokasi Bait Suci, tetapi tak lama kemudian mereka dibuang kembali dari Yerusalem
(Avraham Yaari, Igrot Eretz Yisrael (Tel Aviv, 1943), p. 46).
Penemuan arkeologi telah membuktikan bahwa orang-orang Yahudi telah menyambut dengan senang bahkan bergabung dengan tentara Persia pada tahun 614 "telah mengalahkan pasukan Byzantin, penjaga Yerusalem," dan telah menguasai kota itu selama lima tahun
(A. MaIamat, H. Tadmor, M. Stern, S. Safrai, Toledot Am Yisrael Bi'mei Kedem (Tel Aviv, 1969), p. 348, dikutip oleh Katz, Battleground, p. 88).
Dua dekade kemudian, tahun 635-638, waktu tentara Arab masuk ternyata orang-orang Yahudi “telah menderita intoleransi dan kekerasan rejim Kristen selama tiga abad.”
(Parkes, Whose Land? p. 72.) Karena itu, harapan orang-orang Yahudi adalah mereka menjadi bebas dari dominasi rejim Kristen sehingga mereka menyambut tentara Arab sebagai tentara pemerdeka.
Tentara Arab Muslim yang masuk Yerusalem pada abad ke-7 telah menemukan masyarakat Yahudi yang sangat nyata. Pada waktu itu, "kita memiliki bukti bahwa orang-orang Yahudi telah tinggal di berbagai sudut bangsa itu dan di kedua tepi Sungai Yordan, dan bahwa mereka mendiami baik kota-kota dan desa-desa, dengan tetap melakukan perkebunan dan berbagai kerajinan tangan." Sejumlah orang Yahudi juga telah tinggal di Lydda dan Ramle. ”Masyarakat besar dan penting” orang-orang Yahudi telah tinggal juga di "Askalon, Kaesaria dan lebih lagi di Gaza, yang dijadikan sejenis Ibu Kota setelah mereka diusir dari Yerusalem."
(Parkes, Whose Land? P.72 dan A Mediterranean Society, 3 vols. Berkeley, Los Angeles, London, 1971, vol. 2, p. 61).
Al-Waqidy, ahli sejarah Arab abad ke-9 mengatakan bahwa Yerikho juga punya masyarakat Yahudi. Pada abad ke-7 ada juga bukti masyarakat Yahudi di Yerikho
(Itzhak Ben-Zvi, The Exiled and the Redeemed, Philadelphia, 1961, p. 146). Al-Waqidy yang datang dari Medinah, dan telah mengunjungi Khaibar tak lama setelah terjadi suatu tragedi pembantaian Yahudi di situ pada abad ke-9. Dia mengatakan bahwa masyarakat Yahudi di Khaibar adalah mereka yang telah diusir dari Medinah, dan sejak waktu itu orang-orang Yahudi tidak pernah lagi diizinkan tinggal di Medinah. Dasarnya adalah implementasi dekrit Muhammad oleh Kalif Omar,
“Jangan mengizinkan dua agama berada di Semenanjung Arabia” (Ibid., p. 146).
Masyarakat Yahudi yang pada waktu itu bergabung dengan Islam diizinkan tinggal di Medinah sampai abad ke-13
(Dikutip dari Sheikh Abd Allah Al Meshad, dalam D.F. Green, ed., Arab Theologians on Jews and Israel (Geneva, 197 1), p. 22).
Zaman Khilafah Umayyad dan Abbasid
Khilafah Umayyad telah meluas di seluruh Timur Tengah. Spanyol, Portugal bahkan sampai ke perbatasan Perancis dan India. Memang abad ke-7 dan ke-8 telah menyaksikan kemajuan teratorial Islam yang memulai zaman emas Islam dalam berbagai bidang. Kemajuannya telah melihat Syria jatuh pada tahun 634, Yerusalem 638, Mesir 638, Persia (Iran) 640, Afrika Utara 689, Portugal dan Spanyol 711 sampai Khilafah Umayyad diganti dengan Khilafah Abbasid pada tahun 750.
Setelah bangkitnya Khilafah Abbasid, wilayah Palestina-Israel dan peranan kota Yeruslem menurun drastis. Damaskus adalah ibu kotanya Khilafah Umayyad lalu Bagdad menjadi ibu kota Khilafah Abbasid. Daerah Palestina-Israel tidak lagi menjadi perhatian besar para sejarawan sampai muncul Perang Salib yang telah mulai tanggal 27 Nopember 1099. Masa Perang Salib itu akan dibahas di dalam artikel berikut.
Akhirnya, di sepanjang sejarah, sejak Israel menduduki wilayah Palestina di bawah pimpinan Yoshua pada tahun 1460sM sampai masa jaya Islam di Timur Tengah tak pernah putus ada masyarakat Yahudi yang tetap menduduki wilayah itu, telah mengklaimnya sebagai Tanah Airnya, bahkan yang mengklaim mereka adalah korban jajahan, dari zaman Asyur, Babelonia, Yunani, Romawi, Kristen Bizantin bahkan sampai ke zaman Arab.
Artikel 5: Israel di Zaman Perang Salib (1095-1291M)
Banyak orang percaya bahwa Perang Salib adalah serangan biadab oleh orang Kristen terhadap orang Islam tanpa alasan. Apakah hal itu benar?
Apa Penyebab Perang Salib?
Mula pertama Perang Salib merupakan perang defensif bukan ofensif. Selama lima abad Timur Tengah bagian Israel-Palestina, Yordan, Mesir, Lebanon dan Syria adalah wilayah Kristen. Hal ini terjadi karena pemberitaan Injil dan pertobatan penduduk dan penguasa. Setelah Kaisar Konstantin, agama Kristen berubah menjadi kekuatan politik sehingga makin lama makin kehilangan kuasa rohaninya. Ke dalam situasi ini tentara jihad dari Arab Saudi mengubah peta politik dan agama utama yang dipeluk mayoritas penduduk daerah Timur Tengah dan Afrika Utara. Perubahan ini terjadi dengan penumpahan darah dan pembantaian banyak sekali orang Kristen.
Salah satu alasan Perang Salib diluncurkan adalah untuk membela dan membebaskan orang-orang Kristen yang dijajah oleh orang Islam. Sebagaimana kita sudah selidiki,
dalam waktu kurang dari satu abad Islam sudah merebut dua pertiga dari dunia Kristen: Palestina, Syria, Mesir, Turki, Spanyol, Portugal dll. Juga di bawah Khilafah Fatimid Kalif al-Hakim dua ribu gereja dihancurkan termasuk gereja Kuburan Kudus, (Holy Sepulchre) pada tahun 1009.
Paus Innocent III menulis…
“Apakah kamu tidak tahu bahwa ribuan orang Kristen diperbudak dan ditawan oleh orang Islam, disiksa dengan siksaan yang tak dapat terhitung?” Perang Salib dianggap sebagai kewajiban umat Kristen untuk mengungkapkan kasih mereka bagi saudaranya yang menderita dan untuk mengungkapkan kasih bagi Kristus. Pada waktu itu, Islam dipandang sebagai musuh Kristus dan Gereja dan tujuan perang salib adalah untuk mengalahkan Islam dan membebaskan umat Kristen dari jajahannya. Berdasarkan pandangan itu Gereja membuat sumpah kudus sehingga banyak orang berangkat ke Israel untuk memerdekakan Tanah Kudus dari tangan orang Islam.
Sebabnya kedua terjadi Perang Salib, adalah supaya umat Kristen
merebut kembali Yerusalem, kota kudus, dari tangan dan kuasa orang Islam. Sejak Konstantin, banyak orang Kristen berziarah ke Tanah Suci. Walaupun daerah itu dikuasai Islam sejak tahun 638, mereka masih bisa mengunjunginya. Tetapi pada abad kesebelas, orang Seljuk dari Turki menguasi Yerusalem dan melarang kunjungan orang Kristen ke sana lagi.
Pada tahun 1095 Paus Urban II menyerukan Perang Salib untuk
menghentikan serangan Islam terhadap wilayah-wilayah Kristen. Dalam pidatonya di Musyawarah Clermont di Perancis pada November 27, 1095, dia memanggil orang Kristen dari semua Negara Kristen untuk berziarah ke Tanah Suci dan mengadakan Perang Salib.
Tujuh Perang Salib
I.Yang pertama, 1095-1099, dicanangkan oleh Paus Urban II
II.Yang kedua: 1147-49, dipimpin oleh Raja Louis VII yang gagal, dan mengakibatkan kehilangan salah satu dari empat Kerajaan Latin, yaitu, Edessa
III.Yang ketiga: 1188-92, dicanangkan oleh Paus Gregory VIII sesudah kegagalan perang salib yang kedua. Dipimpin oleh Emperor Frederick Barbarossa, Raja Philip Augustus dari Perancis dan Raja Richard "Coeur-de-Lion" dari England
IV.Yang keempat: di mana Constantinople dihancurkan, 1202-1204
V.Yang kelima: yang termasuk rebutnya Damietta, 1217-1221
VI.Yang keenam: di mana Frederick II ikut (1228-29); juga Thibaud de Champagne dan Richard dari Cornwall (1239)
VII.Yang ketujuh: dipimpin oleh St. Louis (Louis IX dari Perancis), 1248-50
Kerajaan Perang Salib (1099 sampai 1187)
Pada tahun 1099 Yerusalem ditangkap dan diduduki oleh para Laskar Salib. Banyak orang Yahudi dibunuh dan hampir semua diusir. Ada empat “Kerajaan Krusader” yang didirikan di Israel pada waktu itu.
Salah satu Kerajaan Krusader itu didirikan di Yerusalem. Baldwin I diangkat sebagai Raja Yerusalem. Selama kerajaan itu ada banyak perubahan yang terjadi di Yerusalem dan sekitarnya. Orang Yahudi diusir dan mayoritas penduduk Yerusalem menjadi orang Kristen. Yerusalem menjadi satu kota besar, ibu kota kerajaan, pusat penting bagi orang Kristen, suatu perubahan besar dari sebelumnya, waktu Yerusalem hanya merupakan kota kecil di perdalaman.
Banyak pembangunan terjadi pada waktu itu yang menghasilkan gedung yang besar dan membentuk tata kota yang masih tahan dalam bentuk yang hampir sama sampai pada sekarang ini. Yang dibangun terutama adalah gereja, biara, asrama bagi peziarah. Dome of the Rock diubah fungisnya dari mesjid menjadi gereja, mesjid al-Aqsa, diberi nama baru, Kaabah Solomon, dan menjadi tempat tinggal raja.
Harus diakui bahwa walaupun awalnya Perang Salib bersifat defensif, makin lama makin jahat perbuatan yang dilakukan Tentara Salib termasuk pembunuhan banyak orang Yahudi dan Muslim sehingga pada umumnya masa kini, tanggapan di hampir semua kalangan terhadap Perang Salib adalah sangat negative.
Dampaknya atas orang Yahudi
Walaupun orang Yahudi dibunuh dan diusir dari Yerusalem, masih ada yang tetap tinggal di daerah Palestina dan sekitarnya. Pada 1165, Benjamin dari Tudela, seorang Spanyol terkenal, melaporkan bahwa "Akademi Yerusalem" sudah didirikan di Damsyik. Walaupun dari Jerusalem, Acre, Caesarea dan Haifa, orang Yahudi diusir, ada yang tetap tinggal di desa-desa di Galilea.
Pada abad ketigabelas Acre memiliki suatu akademi Yahudi. Selama abad keduabelas dan ketigabelas dilaporkan ada orang Yahudi yang tetap masuk daerah Palestina dari daerah Islam lain, khususnya dari Afrika Utara.
1187 - 1291 Zaman Islam di bawah Khalifah Ayyoubite
Pada tahun 1187, Salah al-Din (Saladin) seorang Kurdi, sesudah mendirikan pemerintahan Abbasid atas Fatimid Mesir, menangkap kota Yerusalem dalam Perang Hattin. Tentaranya mengalahkan tentara Kristen dan kota-kota Kristen lain mulai menyerah. Benteng Krusader terakhir, Acre, jatuh pada tahun 1291. Pada waktu itu tidak lagi ada sisa dari kerajaan dari Perang Salib dan semua dibunuh atau diusir. Walaupun ada berbagai usaha dan rencana lagi, orang Kristen tidak pernah lagi berkuasa di daerah itu sampai kepada abad kesembilanbelas.
Akhirnya orang Yahudi dan orang Islam diizinkan kembali tinggal di Yerusalem. Pada tahun 1192, Richard “the Lion Heart” berusaha merebut kembali Yerusalem namun gagal. Diadakan perjanjian dengan Saladin yang mengizinkan orang Kristen mengunjungi dan beribadah di tempat kudus mereka.
Sesudah Yerusalem direbut kembali, Saladin tidak membunuh penduduknya dan tidak menghancurkan gedung-gedungnya. Namun ada usaha besar oleh orang Kristen selama Perang Salib untuk menghapuskan tanda penguasaan Islam di sana. Gedung seperti Dome of the Rock, dijadikan mesjid lagi dan banyak gedung lain dijadikan institusi Islam.
Waktu diancam dengan Perang Salib ketiga, Saladin membangun kembali tembok Yerusalem. Namun pada tahun 1219, al-Malik al Mu’azzam ‘Isa, menyuruh temboknya dihancurkan kembali. Waktu itu hampir semua penduduk Yerusalem meninggalkan kota itu. Sampai zaman Ottoman, 320 tahun kemudian, kota Yerusalem tetap tidak memiliki tembok.
1244 Orang Turki Khawariz menangkap Yerusalem
Waktu orang Turki Khawariz merebut Yerusalem semua orang Kristen yang sekitar 7.000 di Yerusalem dibunuh selain 300 orang yang lari ke Jafa. Ada banyak serangan di seluruh daerah itu oleh orang Mongol dan banyak penduduk mengungsi mencari tempat yang aman.
Pada tahun 1260 orang Mamluk, mengalahkan orang Mongol pada Perang Ein Jalut di Lembah Jezreel. Sesudah semua serangan oleh Khawariz dan Mongol Yerusalem hampir kosong, tetapi sesudah orang Mamaluk dapat menetapkan suatu pemerintahan, kota itu diduduki lagi. Namun pemerintahan Mamluk itu tidak mengembangkan ekonomi Yerusalem dan kota itu tidak berkembang. Yang dibangun adalah institusi agamawi - mesjid, madrasa, zawia (biara), khanakah (pusat mistik Sufi) dan rumah sakit.
Setelah itu Yerusalem bukan lagi ibu kota suatu kerajaan tetapi kembali menjadi kota yang kecil tanpa tembok dan dengan hanya sedikit penduduk. Keadaan Yerusalem begitu terus sampai awal abad ke-20.
Edisi berikut kita akan melihat bagian sejarah Israel-Palestina dari Abad ke-14 sampai dengan Abad ke-20.