. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di seluruh dunia.

Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby pikir dulu napa » Thu Sep 23, 2010 3:00 pm

http://www.detiknews.com/read/2006/01/1 ... sejak-1987

Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Arry Anggadha - detikNews

Jakarta - Setidaknya sudah 345 jamaah haji dipastikan tewas dan ribuan jamaah luka-luka dalam insiden yang terjadi saat ritual pelemparan jumroh di Jamarat (tempat melempar jumroh), Kamis (12/1/2006). 2 Jamaah asal Indonesia dipastikan menjadi korban. Namun kejadian itu bukanlah yang pertama. Berikut ini sejumlah catatan musibah selama pelaksanaan ibadah haji sejak 1987 yang dihimpun dari berbagai sumber:

- Pada 5 Januari 2006: sebanyak 76 orang meninggal dunia akibat runtuhnya sebuah bangunan (Al Rayahin) di Jalan Ghazah sekitar 200 meter sebelah barat Masjidil Haram.
- 23 Januari 2005: setidaknya 29 jamaah meninggal dunia akibat banjir terburuk dalam 20 tahun terakhir di Madinah.
- 1 Februari 2004: 251 jamaah meninggal dunia di Jamarat-Mina akibat berdesak-desakan dan terinjak-injak saat melakukan lontar jumrah.
- 11 Februari 2003: 14 jamaah haji meninggal dunia di Jamarat, Mina, enam di antaranya wanita.
- 5 Maret 2001: 35 jamaah meninggal dunia serta puluhan lainnya luka-luka karena berdesak-desakan di Jamarat.
- 9 April 1998: 118 jamaah meninggal dunia karena berdesak-desakan saat pelaksanaan lontar jumrah.
- 15 April 1997: 343 meninggal dunia dan 1.500 lainnya luka-luka karena kehabisan nafas akibat terjebak dalam kebakaran di dalam perkemahan di Mina.
- 7 Mei 1995: tiga jamaah meninggal dunia akibat kebakaran di Mina.
- 24 Mei 1994: 270 jamaah meninggal dunia akibat saling dorong dan injak di Mina.
- 2 Juli 1990: 1.426 jamaah meninggal dunia yang kebanyakan dari Asia akibat terperangkap dalam terowongan Mina.
- 15 Juli 1989: lima jamaah asal Pakistan meninggal dunia dan 34 lainnya luka-luka akibat insiden penembakan oleh sekelompok orang bersenjata di perumahan mereka di Makkah.
- 10 Juli 1989: satu jamaah meninggal dunia dan 16 terluka akibat penembakan di dalam Masjidil Haram. Buntutnya 16 orang Kuwait yang melakukan penyerangan dihukum tembak mati.
- 31 Juli 1987: 402 jamaah meninggal dunia, 275 di antaranya dari Iran, setelah ribuan jamaah Iran yang melakukan demonstrasi mendapat perlawanan fisik dari keamanan Arab Saudi.


mina 2.jpg


mina 3.gif


Jamarat 1.jpg
pikir dulu napa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 269
Joined: Tue Apr 27, 2010 9:38 pm

Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby pikir dulu napa » Thu Sep 23, 2010 3:10 pm

http://www.forumbebas.com/thread-38695.html

1975 - 2006

- Desember 1975: 200 jamaah tewas di dekat kota Makkah setelah sebuah pipa gas meledak dan membakar sepuluh tenda.
- 4 Desember 1979: 153 jamaah tewas dan 560 lainnya terluka setelah petugas keamanan Arab Saudi yang dibantu tentara Perancis mencoba membebaskan Masjidil Haram yang disandera sekelompok militan selama dua minggu.
- 31 Juli 1987: 402 jamaah tewas, 275 diantaranya dari Iran, setelah ribuan jamaah Iran yang melakukan demonstrasi mendapat perlawanan fisik dari keamanan Arab Saudi. Akibat dari insiden itu Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, yang akhirnya tidak mengirimkan jamaahnya ke Makkah hingga tahun 1991.
- 10 Juli 1989: satu jamaah tewas dan 16 terluka akibat penembakan didalam Masjidil Haram. Akibatnya 16 orang Kuwait yang melakukan penyerangan dihukum tembak mati.
- 15 Juli 1989: lima jamaah asal Pakistan tewas dan 34 lainnya terluka akibat insiden penembakan oleh sekelompok orang bersenjata di perumahan mereka di Makkah.
- 2 Juli 1990: 1.426 jamaah tewas kebanyakan dari Asia akibat terperangkap didalam terowongan Mina.
- 24 Mei 1994: 270 jamaah tewas akibat saling dorong dan injak di Mina.
- 7 Mei 1995: tiga jamaah tewas akibat kebakaran di Mina.
- 15 April 1997: 343 jamaah tewas dan 1.500 lainnya terluka karena kehabisan nafas karena terjebak didalam kebakaran tenda di Mina.
- 9 April 1998: 118 jamaah tewas karena berdesak–desakkan saat pelaksanaan lontar jumroh.
- 5 Maret 2001: 35 jamaah tewas serta puluhan lainnya luka – luka karena berdesak – desakan di Jammarat.
- 11 Februari 2003: 14 jamaah tewas di Jumrotul Mina – enam diantaranya wanita.
- 1 Februari 2004: Sebanyak 251 jamaah tewas selama pelaksanaan lontar jumrah.
- 23 Januari 2005: 29 jamaah tewas akibat banjir terburuk dalam 20 tahun terakhir di Madinah.
- 5 Januari 2006: Sebanyak 76 tewas akibat runtuhnya sebuah penginapan al-Rayahin di jalan Gaza, sekitar 200 meter sebelah barat Masjidil Haram.
- 12 Jan 2006: Sedikitnya 345 jamaah tewas di Jammarat selama pelaksanaan lontar jumrah. Insiden ini terjadi pada pukul 15.30 waktu setempat usai shalat dzuhur, setelah jutaan jamaah saling berdesak–desakkan di pintu masuk sebelah utara lantai dua Jammarat.
- Selama lebih dari 30 jam, sebanyak 189 ribu jemaah sejak Kamis sampai Sabtu (28-30/12/2006) terpaksa menahan lapar karena ransum makanan tidak datang. (yg plus ga kelaparan nih...)

Jamarat 2.jpg


tragedi mina.jpeg
pikir dulu napa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 269
Joined: Tue Apr 27, 2010 9:38 pm

Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby pikir dulu napa » Thu Sep 23, 2010 3:18 pm

http://www.suaramerdeka.com/harian/0302/13/nas1.htm

14 Tewas Terinjak di Mina

* Saat Melontar Jumrah

MAKAH - Musibah Mina terulang lagi. Kali ini, sebanyak 14 orang tewas terinjak-injak dalam salah satu prosesi ibadah haji, yakni saat pelemparan jumrah (melempar batu) di Mina, Arab Saudi, Selasa (11/2/2003).

Menurut Jenderal Abdul Azis bin Muhammad bin Said, komandan pasukan keamanan di Makah, selain jamaah meninggal, sejumlah jamaah lainnya terluka. "Tiga korban tewas di antaranya adalah perempuan," kata Azis.

Wartawan Suara Merdeka, Agus Fathuddin Yusuf, semalam dari Makah melaporkan, sekelompok orang dari jamaah haji telah selesai melakukan lempar jumrah, dan ketika meninggalkan tempat tersebut bertemu kelompok lain yang hendak melakukan pelemparan. Jamaah pun saling berdesakan. Akibatnya, banyak yang terjatuh dan terinjak-injak jamaah lainnya.

Mereka yang tewas itu terdiri atas 3 warga India, 4 Pakistan, 2 Mesir, seorang Iran dan seorang Yaman. Lainnya belum teridentifikasi.

Kawasan berbahaya di dekat lokasi pelemparan jumrah adalah jalan yang menyempit (bottle neck). Di situlah musibah sering terjadi.

Pada 2001, 35 orang tewas terinjak di tempat itu. Pada 1998, jamaah yang tewas dalam musibah Mina mencapai 180.

Berdesakan

Melempar jumrah merupakan salah satu ritual haji. Ada tiga jumrah yang ditandai dengan tugu yang harus dilempar dengan batu yang diambil di Muzdalifah. Kegiatan ini mengingatkan akan permusuhan antara Nabi Ibrahim melawan syetan yang menggoda iman beliau ketika akan melaksanakan perintah Allah, mengorbankan Ismail.

Jumrah terbesar bernama Jumrah Aqabah, yang sedang Jumrah Wusta, dan terkecil Jumrah Ula. Jumrah Aqabah terletak paling dekat dengan Makah (atau paling jauh dari Mina). Karena tanggal 10 Zulhijjah hanya melempar jumrah Aqabah saja, maka jumrah inilah yang paling dikerumuni orang.

Yang dilempar adalah tugu, yang melambangkan syetan. Untuk menuju tempat pelemparan, dari Mina harus jalan kaki sekitar 3,5 km. Pulangnya tentu jalan kaki juga.

Saat pelemparan jumrah, terutama hari pertama, tidak bisa dihindari desakan banyak orang. Sayangnya, tempat yang sekarang dibangun bertingkat dua ini belum ada pembagian jalan untuk jamaah yang baru akan dan sudah selesai melempar jumrah. Akibatnya ya tabrakan.

Dibantah

Dalam musibah tersebut, tersiar kabar tiga orang dari jamaah haji Indonesia jadi korban. Namun kabar itu dibantah pihak Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia di Arab Saudi.

Wakil Ketua II PPIH Indonesia di Arab Saudi, dr Muhammad Nadhirin, mengatakan hingga pukul 12.15 waktu Arab Saudi atau pukul 16.15 WIB, Rabu (12/2/2003), pihaknya tidak menerima informasi soal tewasnya tiga orang dari Indonesia.

Nadhirin juga membantah ada jamaah haji yang wafat dalam tragedi taraddudi (perjalanan bolak-balik) yang diterapkan tahun ini untuk mengangkut jamaah haji Asia Tenggara dari Arafah ke Muzdalifah dan dari Muzdalifah ke Mina.

Sementara itu, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Makah, Wardhani Muchsin juga mengemukakan, jika memang ada jamaah haji yang meninggal saat melontar jumrah di Mina, maka itu bukan jamaah Indonesia. "Kami sudah cek itu di Sektor Khusus Mina tadi pagi," katanya.

Ia juga membantah kabar bahwa Khaidar Ali bin Abdul Khail dari kloter 41 asal Solo meninggal dunia terinjak-injak ketika melontar jumrah. Justru nama itu tidak ada di dalam Siskohat Depag Jawa Tengah. Yang ada, menurut Nadhirin, Choidir Ali bin Abu Choir dari kloter-86 Surabaya, meninggal di Muzdalifah akibat radang paru-paru. Seorang lagi Tarman S Achmadi asal kloter 41 Solo.

Nadhirin mengatakan, jamaah haji Indonesia yang meninggal di Mina sampai Rabu pukul 09.00 waktu setempat sebanyak 17 orang, dan tidak ada satu pun yang meninggal dunia karena terinjak-injak.(B13,rtr,ant-29)

1..jpg
pikir dulu napa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 269
Joined: Tue Apr 27, 2010 9:38 pm

Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby pikir dulu napa » Thu Sep 23, 2010 3:21 pm

http://dekade80.blogspot.com/2008/12/tragedi-mina.html

Tragedi Mina

Tahun 1990 diwarnai kabar duka dari Mekah. Yaitu tewasnya 1.426 orang jemaah haji akibat saling injak di terowongan Haratul Lisan, Mina. Dari seluruh korban tersebut sebanyak 649 jemaah asal Indonesia menjadi korban insiden maut tersebut. Itu terjadi karena jemaah, baik yang akan pergi melempar jumrah maupun yang pulang, berebutan dari dua arah untuk memasuki satu-satunya terowongan yang menghubungkan tempat jumrah dan Haratul Lisan.

Musibah itu terjadi karena masing-masing ingin mendapatkan yang afdhal atau utama dalam ibadahnya. Sehingga terjadi konsentrasi manusia dalam waktu yang bersamaan. Diawali dengan puluhan hingga ratusan ribu jemaah haji dari berbagai penjuru dunia berjalan lewat terowongan Haratul Lisan. Kekacauan itu segera berubah menjadi tragedi. Mereka berdesakan, berimpitan, dan lalu berguguran.

Lebih dari seribu orang gugur sebagai syuhada. Kebanyakan di antara mereka adalah saudara-saudara kita, yang datang jauh dari belahan dunia lain, Indonesia. Mereka telah berjalan jauh, membayar ongkos perjalanan hampir dua kali lipat dari perjalanan biasa. Mereka telah membayar pajak untuk mendapatkan visa haji dan ongkos-ongkos lain untuk kepuasan ibadah mereka di Tanah Suci.

Peristiwa terjadi karena jemaah haji baik yang akan pergi melempar jumrah maupun yang pulang, berebutan dari dua arah untuk memasuki satu-satunya terowongan yang menghubungkan tempat jumrah dan Haratul Lisan. Puluhan orang telah berjatuhan, tapi dorongan massa seolah tak peduli. Desakan terasa semakin kuat karena massa di belakang tidak tahu apa yang terjadi dan terus merangsek.

Petugas keamanan Arab Saudi tidak memadai tak berdaya. Ribuan anggota jemaah bahkan mulai naik lewat lewat pintu barat, yang seharusnya menjadi pintu keluar. Tak ayal, massa yang terus terdorong akhirnya menginjak-injak tubuh mereka yang telah tersungkur. Sebagian tersandung, lalu terjatuh pula.

Kepanikan semakin menjadi-jadi. Mereka yang di tengah tergencet, sementara yang di pinggir terjepit di pagar dan bahkan terlempar ke lantai bawah ketika pagar jebol. Setelah melayang enam meter ke bawah, mereka menimpa jemaah di lantai satu. Gema basmalah dan takbir "Bismillahi Allahu Akbar" kini bercampur dengan rintihan, teriakan, dan lolongan kesakitan jemaah yang terdesak, tersikut, jatuh, terimpit, tertimpa, dan terinjak jemaah lainnya.

Jemaah haji asal Indonesia yang kebanyakan sudah berusia lanjut dengan kondisi fisik yang memang relatif lebih lemah, akibat terpaan cuaca di Mekah yang kurang bersahabat banyak menjadi korban dalam tragedi tersebut. Keesokan harinya ambulans dan mobil-mobil polisi terlihat sibuk menyingkirkan orang-orang dari lokasi musibah untuk memudahkan upaya penyelamatan. Mayat-mayat bercampur dengan yang masih hidup diangkut ke dalam truk bertumpuk-tumpuk seperti tak terpakai.

Kini, di tengah semua perdebatan tentang siapa yang harus bertanggung jawab, serta iringan derai air mata saudara, anak, istri, teman, dan kerabat di Tanah Air, jenazah para syuhada Mina telah dikebumikan di Ma'la. Di pekuburan khusus jemaah haji di kawasan Jakfariyah, Mekah, Nazaruddin bersama para syuhada Mina lainnya beristirahat dengan tenang. Cita-cita mereka untuk memenuhi panggilan Allah telah terkabul.
pikir dulu napa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 269
Joined: Tue Apr 27, 2010 9:38 pm

Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby pikir dulu napa » Thu Sep 23, 2010 3:30 pm

http://www.gatra.com/2004-02-06/artikel.php?id=33680

Drama Maut Berebut Haji Mabrur

Cover GATRA Edisi 13/2004 (GATRA/Tim Desain/Enggar Yuwono)MATANYA sembap. Sampai hari ketiga musibah Mina, butir-butir air mata tak juga berhenti membasahi kedua pipinya. Hanya satu-dua patah kata yang keluar dari bibirnya, kala pelayat menyalaminya. Begitulah derita Kalsum, istri Muhammad Saleh Tawang bin Paraga, satu dari 54 jamaah haji Indonesia yang tewas di lokasi pelemparan jamrah di Mina, Ahad lalu.

Lambaian tangan Saleh, sesaat setelah dilepas di Asrama Haji Sudiang, Makassar, 20 Januari lalu, belum terhapus dari memorinya. "Saya tak tahan lagi menyaksikan wajahnya saat melambaikan tangan, tanda kepergiannya ke Tanah Suci," kata Kalsum kepada Anthony dari GATRA. Kepedihan hatinya makin dalam mengenang suara Saleh, yang berjanji akan menelepon dia sebelum lohor, pada Ahad itu.

Sehari sebelumnya, Saleh sempat menelepon. Tapi Kalsum dan keempat anaknya sedang keluar rumah. Kepada Taufik, kakak Kalsum yang menerima telepon, Saleh sempat bercerita bahwa pelaksanaan haji tahun ini lebih baik. Ia juga mengabarkan dirinya sehat-sehat saja. Lalu Saleh berpesan, esok hari, sekitar pukul 11.00 Waktu Indonesia Tengah, ia akan menelepon lagi.

Setengah jam sebelum pukul 11.00 yang dijanjikan, Kalsum bersama empat anaknya bersiap-siap menunggu telepon dari Mina. Tapi dering telepon yang ditunggu-tunggu dari suaminya, seorang pedagang rumput laut di kawasan Sulawesi Selatan itu, tak juga terdengar.

Malamnya, keluarga Saleh mendengar kabar dari televisi bahwa telah terjadi musibah di Mina, sekitar pukul 09.00 waktu setempat atau pukul 13.00 Waktu Indonesia Barat. Baru esok harinya, kepastian berita tragedi itu datang dari Departemen Agama (Depag) setempat. Isinya mengabarkan, Saleh meninggal dalam tragedi tersebut.

Lempar Jamrah di Mina (AP Photo)Saleh adalah jamaah haji kloter 79 embarkasi Hasanuddin, Makassar. Tragedi Mina telah menewaskan 151 jamaah, 54 di antaranya berasal dari Indonesia. Mereka tewas setelah terjadi saling dorong, saling injak, di antara jamaah yang melempar jamrah aqabah pada hari nahar, Ahad lalu.

Korban terbanyak asal Indonesia yang meninggal adalah dari Jeneponto: 23 orang. Disusul jamaah asal Kota Madya Prabumulih, Sumatera Selatan, yang mencapai 18 orang. Untuk menyatakan rasa dukacita, hampir di setiap halaman rumah warga di Prabumulih Timur dan Barat terkerek bendera Merah-Putih setengah tiang. Tahlil pun berkumandang sampai hari ketujuh.

Drama Mina bukan terjadi kali ini saja. Di musim haji tahun 1990, tak kurang dari 1.426 jamaah meninggal di Terowongan Al-Muashim, Haratsul Lisan, Mina. Musibah terjadi kala mereka yang tengah menuju jamarat (tempat melempar jamrah) bertemu dengan jamaah yang pulang ke tenda-tenda penampungan di terowongan.

Situasinya tak terkendali. Mereka berdesakan, saling dorong berebut keluar terowongan. Oksigen menipis, dan membuat para jamaah lemas, tak berdaya terjatuh di jalan. Sebagian terinjak-injak oleh mereka yang berfisik kuat. Kematian ribuan jamaah tak terhindarkan.

Di tahun-tahun berikutnya, tragedi di Mina seperti tak pernah sepi. Korban tewas berjatuhan. Dan, lagi-lagi, tempatnya di Mina, terutama di sekitar lokasi pelemparan jamrah.

Mengapa musibah terjadi pada saat melempar jamrah? Penyebabnya, jamaah haji berkonsentrasi pada waktu afdhal-nya. "Padahal, waktu melempar masing-masing jamrah (ula, wustha, dan aqabah) ada 24 jam," kata Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Prof. Dr. Syechul Hadi Permono.

Menurut Syech, kecelakaan itu tak perlu terjadi apabila sirkulasi waktu pelemparan memanfaatkan semua waktu yang diperbolehkan. Itu sebabnya, ia mengajak jamaah Indonesia meninjau kembali pelaksanaan jamrah pada waktu-waktu afdhal. "Kalau saya, melempar jamrah selalu mengambil malam hari," kata Syech, yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur itu.

Tragedi di Mina, 1 Februari 2004 (AP Photo/Okaz-Ahmed Babakr)Atas kejadian ini, Syech kembali mengajak para guru dan pembimbing manasik untuk menyosialisasikan waktu lain, selain waktu-waktu afdhal. "Jamaah bisa bergiliran, dan lebih aman," tuturnya.

Guru besar Fakultas Syariah IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Prof. H. Acep Jazuli punya pandangan serupa dengan Syech. Menurut Acep, ibadah haji itu mengandung empat unsur: rukun haji, wajib haji, sunah haji, dan keutamaan haji. Dalam menjalankan syariat Islam, umat harus mendahulukan yang wajib ketimbang yang sunah.

Kaidah fikih menyebutkan, "Dahulukan yang wajib daripada yang sunah." Tragedi Mina, masih kata Acep, terjadi karena umat Islam terlalu mendahulukan unsur keutamaan. Yakni keutamaan melempar jamrah pada waktu tertentu. "Itu kan hanya keutamaan, sunah aja enggak," katanya kepada Ismail Fahmi dari GATRA.

Pihak Depag sendiri sebenarnya sudah mengeluarkan aturan, agar jamaah haji asal Indonesia melaksanakan jamrah selepas magrib di hari pertama. Pelemparan pada hari kedua dan ketiga dilakukan pagi atau malam hari. Mereka yang menjadi korban tersebut melaksanakan jamrah pagi hari di hari pertama, pukul 09.00-10.00 waktu Mina.

Munculnya jamaah haji Indonesia yang melempar jamrah di luar pengaturan Depag itu membuat Sekretaris Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Depag, Fauzi Amnur, punya dugaan lain. "Ada upaya dari kelompok bimbingan ibadah haji yang mencoba melempar jamrah pada waktu afdhal itu sebagai sarana promosi," katanya. "Hal itu dijadikan trade-mark untuk memperoleh jamaah lebih banyak di tahun depan," kata Fauzi.

Lepas dari kebenaran dugaan itu, inti soal adalah membludaknya jamaah. Daya tampung Mina, misalnya, hanya sekitar dua sampai tiga juta jamaah. Berdasar pengamatan Pradjoto --pengamat perbankan yang tahun ini berhaji bersama istri-- jumlah jamaah saat itu mencapai lebih dari empat juta orang. "Meskipun ada kuota, ternyata jamaah haji ilegal cukup banyak," katanya.

Tragedi di Mina, 1 Februari 2004 (AP Photo/Okaz, Ahmed Babakr)Ini terlihat, misalnya, di sepanjang jalan di Mina, jamaah haji ilegal dari berbagai negara di sekitar Arab Saudi merebahkan badan seenaknya, ditemani tas-tas berukuran besar miliknya. "Mereka memadati sepertiga badan jalan," katanya. Melihat gelagat yang cukup membahayakan kala melontar jamrah itu, Pradjoto memilih pelaksanaan jamrahnya di malam hari.

Meski sudah ada kesepakatan soal kuota, di mana satu jamaah untuk 1.000 umat muslim di sebuah negara, toh Pemerintah Arab Saudi masih juga kebobolan. Warga Saudi, misalnya, boleh melaksanakan haji lima tahun sekali. Tapi tahun ini, menurut Pemerintah Saudi, sedikitnya 20.000 warganya beribadah haji secara ilegal. Soal kuota ternyata tak konsisten dijalankan. Selain itu, kalau dibatasi, besar kemungkinan terjadi jual-beli kuota yang selama ini dikeluhkan kalangan biro perjalanan haji dan disorot tajam oleh lembaga swadaya masyarakat.

Solusi lain adalah menjebol batas-batas ruang manasik haji. Menurut Masdar Farid Mas'udi, Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang juga anggota Dewan Fatwa MUI, solusi ini pada dasarnya tak bisa diterima karena secara syar'iy bermasalah. Solusi untuk mencapai keseimbangan antara jumlah jamaah dan menjebol batas-batas ruang di Mina justru bertentangan dengan konsep dasar ibadah haji sebagai "napak tilas". "Sebagai napak tilas, maka ketepatan atau kepersisan dimensi ruang menjadi hal yang fundamental," kata Masdar.

Karena itu, sejak tiga tahun lalu, Masdar mencoba menawarkan alternatif baru. Yakni meninjau kembali waktu pelaksanaan haji. Ia mengajak umat mengkaji tafsir surat Al-Baqarah ayat 197, "Al-hajju asyhuurun ma'luumat/Waktu haji adalah beberapa (3) bulan yang sudah maklum."

Ayat Al-Quran itu, menurut Masdar, secara terang benderang (sharih) menegaskan bahwa pelaksanaan ibadah haji adalah beberapa bulan yang sudah maklum. Para mufasir dan para ulama mengatakan, yang dimaksud adalah Syawal, Zulqaidah, dan Zulhijah. Menurut ulama Hanabilah, waktu haji yang dimaksud adalah keseluruhan hari selama tiga bulan tersebut. Menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi'iyah, yang dimaksud adalah seluruh hari di bulan Syawal dan Zulqaidah ditambah 10 hari pertama bulan Zulhijah.

Tragedi di Mina, 1 Februari 2004 (AP Photo/Okaz-Tamir Al Anzar)Dengan argumen seperti itu, menurut Masdar, waktu pelaksanaan ibadah haji tak hanya sekitar enam hari, yakni hari-hari ke-8, 9, 10, 11, 12, 13 pada bulan Zulhijah. Ia tidak menafikan adanya hadis sahih yang berbunyi, "Khudzuu 'anniy manasikakum/Ambillah dariku manasik kalian." Tapi, "Hadis ini harus kita ikuti sebatas menyangkut prosesi (manasik) ibadah haji, bukan menyangkut waktu dalam arti tanggal atau hari-harinya," paparnya.

Lalu, bagaimana dengan hadis yang berbunyi, "Al-hajju 'arafah/Haji adalah Arafah?" Masdar mengamininya. "Tapi pada tanggal berapa haji dengan puncaknya berupa wukuf di Arafah itu dilaksanakan adalah "selama beberapa (3) bulan musim haji itu," tutur Masdar berargumen.

Namun Umar G. Budiargo, pimpinan Pondok Pesantren Taruna Al-Quran, Yogyakarta, tak sependapat dengan usulan Masdar. Menurut dia, wukuf di Arafah itu harus tanggal 9 Zulhijah. Dalam pandangan Umar, pelaksanaan haji sudah pasti jadwalnya. "Kalau mau ikut sunah Nabi SAW, dari tanggal 8 sampai 13," katanya. Bahkan masih bisa dipercepat. "Boleh tanggal 9 atau 10 Zulhijah, tapi itu pun sangat rawan pelanggaran hukum dan bisa mengurangi kemabruran haji," ujarnya. "Pelaksanaan haji pada lima hari di bulan Zulhijah itu sudah baku, menjadi kesepakatan para ulama," ia menambahkan.

Syechul juga menolak ide Masdar. "Saya tidak sependapat," katanya, keras. Dalilnya memang al-hajju asyhuurun ma'luumat. Haji itu pada bulan-bulan yang sudah tertentu. Adapun yang disebut bulan haji adalah Syawal, Zulqaidah, dan Zulhijah. Namun menurut syariat, wukuf harus dilakukan pada 9 Zulhijah, melempar jamrah harus tanggal 11, 12, 13 Zulhijah. Menurut Syech, haji itu persoalan ritual. Waktunya sudah ditentukan seperti salat. "Kalau dilakukan pada waktu yang di luar ketentuan, tidak berarti apa-apa," katanya.

Pengarahan Sebelum Berangkat Haji (GATRA/Astadi Priyanto)Usulan Masdar memang barang baru di Indonesia. Tapi tidak untuk dunia Islam. Pada 1999, misalnya, di Mesir pernah ada usulan serupa, dipelopori Jenderal (purnawirawan) Muhammad Syibil. Sebagaimana Masdar, ide Syibil tak juga mendapat respons positif, baik dari para ulama maupun Pemerintah Arab Saudi.

Karena itu, masih perlu upaya ekstra untuk bisa merealisasikan ide Masdar tersebut. Ini bukan hanya menyangkut ketentuan baku, melainkan merupakan kemauan politik Pemerintah Arab Saudi. Meyakinkan para jamaah agar dalam melontar jamrah memanfaatkan sirkulasi selama 24 jam, sebagaimana usulan Syechul Hadi Permono, masih belum bisa optimal. Soalnya, waktu afdhal dan keinginan mati pada saat melaksanakan haji adalah dambaan sebagian jamaah. Apalagi, ini mengubah pakem ritual haji yang sudah berusia 15 abad.

Tapi seorang kiai kampung di pelosok Jawa Timur pernah berujar, "Lebih baik jadi haji mabrur yang bisa pulang kampung dengan mujur." Artinya, ibadahnya diterima Tuhan, bisa pulang selamat, dan menjalani kehidupan pascahaji dengan lebih bermanfaat buat lingkungan sosialnya. Kalau Tuhan memberi kemudahan, mengapa kita mesti mengabaikannya?

Herry Mohammad, Mujib Rahman, dan Alfian
[Laporan Utama, GATRA, Edisi 13 Beredar Jumat 6 Februari 2004]

2.jpg


1.jpg
Last edited by pikir dulu napa on Thu Sep 23, 2010 3:48 pm, edited 1 time in total.
pikir dulu napa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 269
Joined: Tue Apr 27, 2010 9:38 pm


Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby saksang » Thu Sep 23, 2010 8:25 pm

ini sama dgn data mudik kemarin bro... data dari kepolisian jumlah korban tewas turun 50% dari tahun lalu , yaitu 200an jiwa tewas di tahun ini...

benar benar ISLAM PENUH TUMBAL!!
saksang
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 780
Joined: Tue Mar 17, 2009 10:25 pm

Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby pikir dulu napa » Thu Sep 23, 2010 8:39 pm

iya bro, tapi lucunya Muslim selalu teriak kalau Bush akan diazab lah, pendeta akan diazab lah, inilah itulah.tapi ga sadar kalau Awlohnya sendiri justru yg sering minta tumbal sama umatnya yg justru sedang sembahyang kepadanya :snakeman:
pikir dulu napa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 269
Joined: Tue Apr 27, 2010 9:38 pm

Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby saksang » Thu Sep 23, 2010 8:50 pm

dari kasus2 diatas, sebenarnya para muslimers bisa mengkaji lebih dalam... kenapa hal hal yg menyangkut islam penuh dgn hawa kematian? lepas dari tindakan teroris yg membunuhi manusia tak berdosa...toh dikalangan muslimers sendiri banyak yg mampus dgn konyol.... ck..ck...
saksang
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 780
Joined: Tue Mar 17, 2009 10:25 pm

Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 1987

Postby iamthewarlord » Fri Sep 24, 2010 7:50 pm

allah swt kemana yah..?
kok membiarkan para tamu allah swt banjir darah?
ternyata allah swt bukan tuan rumah yang baik.

:lol:
User avatar
iamthewarlord
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4494
Images: 6
Joined: Sun Feb 08, 2009 11:07 pm
Location: “Ibadah lelaki akan diputus dengan lewatnya keledai, wanita dan anjing hitam.” Muhammad.

Re: Detiknews : Sebuah Catatan Musibah Ibadah Haji Sejak 198

Postby avantasia » Fri Dec 09, 2011 1:11 am

malah pada setor nyawa ke "ARAB".....
User avatar
avantasia
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 29
Joined: Fri Mar 26, 2010 8:54 pm

Postby ali5196 » Fri Dec 09, 2011 1:37 am

pikir dulu napa wrote:iya bro, tapi lucunya Muslim selalu teriak kalau Bush akan diazab lah, pendeta akan diazab lah, inilah itulah.tapi ga sadar kalau Awlohnya sendiri justru yg sering minta tumbal sama umatnya yg justru sedang sembahyang kepadanya :snakeman:


Muslim mode on: 'ini semua cobaan allah, tabahlah tabaaahh, pahala dapat belakangan nanti'
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Islam /Muslim dlm Gambar Dan Berita Internasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: Google [Bot]