. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

DEBAT: Islam, Agama DAMAI atau PERANG? Bagian I-III

Informasi tentang masa pra-Islam dan perkembangan Jihad di seluruh dunia

DEBAT: Islam, Agama DAMAI atau PERANG? Bagian I-III

Postby Volunteer » Wed Nov 16, 2005 5:32 am

http://www.frontpagemag.com/Articles/Re ... sp?ID=6431

Symposium: Islam, sebuah Agama Damai atau Perang? Bagian I
By Jamie Glazov
FrontPageMagazine.com | March 4, 2003

Selagi ancaman terror melanda Amerika ketika negara itu berperang dengan Iraq, muncullah sebuah pertanyaan kritis: Apakah Barat diancam kaum militan Islam ataukah justru oleh Islam sendiri ? Apakah terorisme yang mengancam Barat itu hanya kebetulan dipimpin oleh sekelompok ektrimis Islam, ataukah memang ada sesuatu dari dalam Islam sendiri yang mengajarkan dan mengobarkan “bentrokan antar kebudayaan” yang menakutkan itu? Perdebatan hangat semakin panas dan terus berlanjut: apakah mungkin bagi Islam untuk
hidup berdampingan, damai dengan, dan di dalam dunia yang demokratis dan modern?

Dalam ketiga bagian berikut (bagian II, bagian III), tiga hari berturut-turut, Majalah Frontpage mendapat kehormatan untuk menghadirkan empat ahli Islam kelas tinggi, yang memiliki perpesktif berbeda (pro-kontra).

Ibn Warraq, pengarang “Why I am Not a Muslim (Mengapa Saya Bukan Muslim)”;

Hussam Ayloush, (tokoh Muslim) direktur eksekutif dari Council on American Islamic Relations (CAIR) bagian Kalifornia Selatan;

Robert Spencer, anggota Free Congress Foundation dan pengarang “Islam Unveiled (Islam Tanpa Selubung)”;

As`ad AbuKhalil, professor ilmu politik di California State University at Stanislaus, dan asisten professor pada Pusat Studi Timur Tengah di University of California at Berkeley, pengarang buku “Bin Laden, Islam, and America's New War on Terrorism”.
-------------------------------------------------------------------------------------

[1] Hadirin sekalian, pada bagian pertama symposium Islam ini,
saya akan mulai dengan sebuah pertanyaan dan lalu menyerahkannya kepada anda.

Dalam kaitannya dengan ancaman yang sekarang tampak menimpa kepentingan-kepentingan Barat, dan jikalau kita setuju bahwa memang itu adalah sebuah ancaman, apakah dasar dari ini semua ada pada militan Islam atau, benar-benar dari dalam Islamnya itu sendiri ?
Apakah ancaman itu datang dari “ektrimis” saja ataukah memang ada sesuatu dari dalam inti Islam yang tidak bisa cocok berdampingan dengan masyarakat yang liberal, bebas, dan demokratis dan yang jadinya sekarang melancarkan serangan terhadap Barat?

Spencer:
Tidak ada seorang pun yang dapat berbicara tentang Islam secara penuh. Apa yang dianggap sangat penting untuk Islam oleh seorang Muslim bisa dianggap sesat oleh yang lainnya. Dalang teroris yang tertangkap, Sheikh Omar Abdel Rahman, berkata: “Jihad dan pembunuhan adalah yang terutama dari Islam. Jika anda membuang hal ini, berarti anda memenggal kepala Islam.”

Sebelum dipenjara, Sheikh Omar berbicara di masjid-masjid New York atas undangan Imam Siraj Wahaj, anggota penasihat CAIR (Badan Hubungan Kerjasama Amerika-Islam). Saya kira Mr. Ayloush akan menolak pandangan tentang Islam tersebut. Namun pandangan ekstrim yang menyeramkan tersebut diperkuat oleh surah2 dari Quran dan sejarah serta tradisi Islam. Muslim militan mengacu kepada perbuatan-perbuatan Muhamad sebagaimana tertulis dalam hadis yang sahih ini: “Aku telah diperintahkan untuk memerangi umat bangsa, sampai mereka menyerah dan mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan percaya kepada diriku (bahwa) akulah rasul (dari Allah) dan kepada semua yang telah kubawa sertaku. Dan ketika mereka melaksanakan itu, barulah darah dan harta benda mereka akan terjamin perlindungannya. . . “

Jadi apakah militan-militan itu sesat? Mungkin, tapi mereka mewakili tradisi Islam yang usianya setua Islam itu sendiri dan sama sah-nya dengan Islam yang damai. - - jika tidak lebih dari itu.

AbuKhalil:
Spencer (yang bukunya sudah saya baca tapi tidak saya suka) tidak pernah berhenti mempertunjukkan ketololannya tentang Islam, dan lebih dari itu. Ia hanya mengutip pengetahuannya tentang Islam dari jurnalis-jurnalis Barat atau dari imam fanatik di penjara Amerika. Ini sama saja seperti menjadikan David Koresh atau Ted Bundy sebagai penanggungjawab agama Kristen.

Penting untuk menitikberatkan bahwa: tidak satu pun dari tiga agama ini (Islam, Kristen, Yahudi) yang benar-benar bersih berkaitan dengan perdamaian dan kesamaan derajat (tentu saja bukan persamaan derajat antar jenis kelamin). Agama yang sejarahnya paling berdarah (dalam kenyataan dan perbuatan dan dalam ajarannya) tidak bisa dipungkiri lagi adalah Kristen. Spencer tidak boleh mencela Islam tanpa mencela Kristen dengan memakai ukuran yang dia pakai sendiri.

Sebagai pertanyaan, manusia sama derajatnya di seluruh dunia: dan ada kaum fanatik di setiap agama, bahkan di antara humanis-humanis yang sekuler (saya bangga termasuk dalam kelompok ini). Inilah waktunya untuk mengakui bahwa dalam setiap golongan dan bangsa terdapat segolongan yang jahat, gila, dan terorist, dan fakta ini tidak dapat diangkat untuk mempersalahkan agamanya, bangsanya, atau budayanya.

Spencer:
Omar Abdel Rahman adalah seorang profesor di universitas ternama dan terkemuka Al-Azhar, Kairo. Saya tidak yakin bahwa David Koresh atau Ted Bundy bisa sampai begitu berpengaruh dibanding dgn Sheik Omar. Saya mengutip pengetahuan dari “Jurnalis-jurnalis Barat” ? Saya cuma bersandar pada sumber-sumber Islam seperti Ibn Khaldun, Ibn Taymiyya, Muhammad Muhsin Khan, S. K. Malik, dan Sa’id Raja’i-Khorassani.

Barangkali Bpk. AbuKhalil bisa menyebut nama-nama "jurnalis2 Barat" itu ? Menyerang kepribadian seseorang memang jalan yang termudah bagi mereka yang kehilangan akal. Marilah kita kembali ke permasalahan semula.

Memang seolah-olah benar jika kita membela Islam dengan cara menjelek-jelekan Kristen, dan mencaci Kristen dengan mempertanyakan tanggung jawabnya atas kejahatan-kejahatan yang ditimbulkan rejim humanis sekular seperti Hitler (yang n.b. fascist) dan Stalin (yang n.b. atheis). Perbedaan yang sangat mendasar antara Islam dan Kristen adalah bahwa Islam memiliki tradisi dan doktrin/ajaran yang memang mendorong adanya perang terhadap non-Muslim. Hanya Islamlah yang memiliki keseluruhan ajaran perang dan kekerasan yang diramu dan disebarkan oleh ulama-ulamanya yang terbesar dan ahli-ahli tafsir hukumnya mulai dari Islam klasik sampai saat ini. Ahli tafsir Maliki, Ibn Abi Zayd al-Qayrawani berkata: “Jihad adalah prinsip Ilahi . . . . . [Non-Muslim] memiliki pilihan antara masuk Islam atau membayar pajak khusus (jizya), lain dari itu peranglah yang akan dilancarkan terhadap mereka.”

As’ad, tunjukkan saya apakah pernah doktrin ini dibantah oleh satu saja aliran Islam yang terkemuka, sedangkan umat Kristen dari seluruh aliran mereka telah menolak paham perang Salib. Tentu anda tidak mampu melakukannya, karena ini adalah bagian dari Islam sendiri.

AbuKhalil:
Spencer, lagi-lagi, ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memperlihatkan ketotolannya tentang Islam. Ulama fanatik Abdul-Rahman bukanlah professor pada Al-Azhar: dia Cuma mengajar beberapa waktu lamanya pada sebuah cabang yang hanya menumpang nama Al-Azhar, dan segera setelah pandangan-pandangan ekstremnya terbuka, dia langsung diredam oleh pengawas agama yang berwenang.

Jadi sementara administrasi Al-Azhar yang berwenang tentang hal ini menyatakan bahwa Abdul-Rahman tidak mewakili Islam, Spencer, yang tidak mempunyai hak apa-apa dalam Islam, justru berkoar-koar dan ngotot bahwa ‘Abdul-Rahman mewakili seluruh Islam dan semua umat Muslim.' Tidak ada satu demonstrasi pun yang dilakukan umat Muslim untuk membela Abdul-Rahman. Spencerlah yang terobsesi dengan orang itu lebih dari kebanyakan Muslim untuk beberapa alasan. Stalin memang sekuler, tapi Hitler tidak. Hitler menganggap dirinya sebagai seorang Kristen meskipun dia tidak setuju dengan beberapa wadah gereja. Tapi yang lebih penting dari itu, Spencer mungking mengarah kepada suatu hal di sini: dia sekarang sedang mengatakan kepada kita bahwa Gereja Katholik, dan paus-paus masa Perang Salib, organisasi-organisasi anti-Semitism, penganiayaan terhadap kaum penyihir (yang menewaskan antara 3 sampai 9 juta jiwa), dan perang-perang dari theori Thomas Aquinas (bacalah Kristen) semuanya dipimpin oleh humanisme yang sekuler. Spencer saat ini sedang mengelabui kita atau memang dia itu benar-benar ****, tidak tahu apa-apa ketika dia menyiratkan bahwa Kristen tidak memiliki ajaran yang membenarkan perang terhadap para kaum kafir-nya. Pergilah sana, baca deh buku Thomas Aquinas lalu baru balik lagi ke mari kalau mau meneruskan debat ini.

Spencer:
Saya sekarang akan mengutip kata-kata mantan pelajar dan profesor Al-Azhar yang sekarang menjadi orang Kristen dan tinggal bersembunyi dan memakai nama samaran (MARK GABRIEL) demi menghindari hukuman mati dari Islam karena murtad: “Sheikh Omar Abdel Rahman mengajarkan saya tentang topik ‘Komentar Quran’ di Universitas Al-Azhar. Ia telah meninggalkan pekerjaanya di universitas untuk memimpin dua organisasi; ‘Jihad’ dan ‘Jemaah al-Islamiyah’.

Cuma pembaca yang kurang perhatian saja yang membuat seseorang berkata bahwa “al-Rahman mewakili seluruh Islam dan seluruh umat Muslim.” Saya hanya mengatakan bahwa ia mewakili sebuah tradisi yang luas dalam Islam, sebagaimana juga yang dilakukan oleh Syaikh Agung Al-Azhar saat ini, Muhamad Sayyid Tantawi, yang menyatakan bahwa sebuah serangan bom bunuh diri yang menewaskan banyak pelalu-lalang adalah “tindakan yang sah menurut hukum agama, dan itu adalah perintah Islam”. Apakah ini sebuah pandangan ekstrem yang dasarnya ditolak seluruh umat Islam? Bagus sekali, As’ad! Saat rekrutment untuk pembom bunuh diri diadakan belakangan ini di Universitas Aleksandria di Mesir, yagn mendaftar : 2,000 pelajar !

Saya tidak akan ambil pusing dengan urusan nonsense seputar Gereja Katholik, yang sangat dibesar-besarkan oleh As’ad. Cuma seorang **** atau pendusta yang akan berpikir bahwa sayalah yang menyatakan humanisme sekuler bertanggung jawab atas dosa-dosa Gereja, atau bahwa ideologi Hitler yang jelas2 memuja berhala itu dianggap sebagai Kekristenan.

Mencoba membela Islam dengan menjelekkan Kristen memang mudah. Inilah perbedaan antara ektremisme Kristen dan Islam: Jerry Falwell, pendeta US itu, menamakan Muhamad seorang teroris. Falwell TIDAK PERNAH menyuruh siapa pun untuk membunuh apalagi terlibat pembunuhan. Sebagai tanggapan atas ucapan Falwell, delapan orang terbunuh dan 90 luka-luka dalam kerusuhan di India, dan pejabat Iran memerintahkan pembunuhan Falwell. Semua yang terlibat ini memanggil nama Islam.

Seperti demikianlah perbedaan antara Osama dan Hitler atau Karadzic, bahwa Nazisme adalah nyata-nyata anti-Kristen; Nazisme tidak pernah (dan tidak mampu) mengutip Injil untuk membenarkan perbuatannya. Karadzic adalah seorang nasionalis; dia mengincar orang-orang Kristen Kroasia, bukan saja Muslim Bosnia. Tapi lihatlah bagaimana kontras-nya, teroris-teroris Muslim mengutip Quran dan Hadis dan membenarkan diri mereka dengan mengacu kepada ajaran aqidah Islam.

Ketika seseorang terkemuka seperti mantan Dubes Iran untuk PBB, Sa’id Raja’i-Khorassani, mengatakan bahwa konsep hak asasi manusia adalah “bikinan Kristen-Yahudi” dan asing bagi Islam, kita tidak bisa begitu saja mengacuhkannya sebagai pendapat minoritas. Mengapa pandangan-pandangan “ekstrem” seperti ini berkuasa tidak hanya di Iran, tapi juga di seluruh dunia Islam? Muslim moderat harus memperlihatkan secara gamblang mengapa Islam “ekstrem” ini tidak sah – jangan cuma mengutuk Barat. Apalagi mengingat sesama Muslim yang menjadi korban dari “ekstremisme” skala besar ini.

Ayloush:
Saya kira pentinglah untuk kita katakan, saat ini, bahwa menjelekkan agama orang lain adalah berlawanan dengan ajaran Islam. Semua ekstremis memanipulasi agama untuk memenuhi kepentingan agenda kebencian mereka. Dan ya, bahkan Hitler meng-klaim sumber Kristen untuk pandangannya. Dalam sebuah pidato (Ref.: Oxford University Press), Hitler berkata: “Perasaan-perasaan saya sebagai seorang Kristen adalah bahwa Tuhan dan Juruselamat saya menunjuk saya sebagai seorang pejuang. Saya melihat seorang lelaki yang kesepian, dikelilingi segelintir pengikut, untuk mengenali siapa sebenarnya Yahudi-yahudi itu dan memanggil semua orang untuk berperang melawan mereka…”

Sebagai Muslimin, saya tahu bahwa tidak mungkin hal ini mewakili ajaran-ajaran nabi Isa. Namun ini membuktikan bahwa kita tidak boleh menghakimi satu agama berdasarkan sebagian kecil perbuatan sesat pengikutnya.

Islam, Kristen dan semua agama lain dapat hidup berdampingan dengan damai, saat penganut-penganutnya berhenti membenarkan sebagian kecil pembenci di antara mereka. Tidak ada alasan untuk menghilangkan kebaikan dalam diri orang-orang yang berbeda dari kita. Saya orang Islam yang mempelajari Islam. Saya juga mempelajari Kristen dan Judaisme dari saat masih jadi pelajar muda di sekolah swasta Protestan dan dari banyak teman-teman dan anggota keluarga Kristen. Dan saya belajar bahwa lebih banyak kemiripan di antara kita daripada yang diajarkan Bin Laden atau Spencer!

Sekarang, tentang terrorisme, menurut saya lebih penting untuk mengenali bahwa ancaman in berkembang bukan hanya bagi kepentingan-kepentingan Barat saja – namun bagi seluruh dunia. Ancaman ini adalah tumbuhnya ekstremisme religius. Ekstrem Hindu di India, ekstrem Islam di Afghanistan, Pakistan, Timur Tengah, ekstrem Yahudi di Israel, ekstrem Kristen di Serbia dan bahkan di AS.

Ekstremisme tidaklah unik hanya untuk satu agama tertentu. Desember, 1999, PBB mengeluarkan sebuah laporan yang menyatakan kenaikan signifikan dari ekstremisme agama dan intoleransi di seluruh dunia. “Tidak ada agama yang bebas dari ekstremisme” adalah pernyataan laporan 23-halaman itu. Ditambahkan bahwa intoleransi beragama haruslah dipandang dari sudut yang lebih besar yakni secara kondisi ekonomis, sosial, politik yang menumbuhkembangkannya. Studi itu menunjuk bahwa “penting untuk membedakan di antara ekstremis-ekstrimis yang menggunakan Islam untuk tujuan-tujuan politiknya, yang secara fakta adalah minoritas, dengan mayoritas Muslim yang melaksanakan Islam sesuai dengan prinsip toleransi dan non-diskriminasi”.

Islam tidak bertanggung jawab atas perbuatan para ekstremis lebih dari Kristen bertanggung jawab atas Holocaust atau pembunuhan massal di Bosnia dan Kosovo. Kedua perbuatan tersebut membawa konotasi beragama dan didukung dan disoraki oleh jutaan umat Kristen.

Warraq:
Untuk Bpk. Ayloush, semua ekstremisme beragama memiliki sifat yang sama dan didorong oleh kondisi ekonomi dan politik. Hindu, Yahudi, dan fundamentalis Kristen bertanggung jawab atas aksi-aksi kekerasan namun demikian mereka hanya terisolasi di negara-negara tertentu saja. Fundamentalisme Islam memiliki aspirasi global: yakni seluruh bumi harus tunduk kepada Sharia, Hukum Islam. Kaum Hindu dan Yahudi tidak menargetkan seluruh dunia untuk jadi pengikut mereka. Kristen memang melakukan penyebaran agama namun demikian tidak dengan menggunakan terorisme internasional untuk mencapai tujuan mereka.

Ya, agama-agama monotheist memang bertanggung jawab atas banyaknya aksi kekerasan dibandingkan secara kontras dengan agama Budha. Namun Islam belum pernah dijadikan subjek introspeksi yang setara dengan yang sudah dilalui Kristen. Kedua, nilai kekerasan itu mendarah daging sifatnya dalam Islam, ini direfleksikan oleh kampanye-kampanye berdarah dan pembantaian-pembantaian yang dilakukan oleh Nabi Muhamad dan semuanya terabadikan di dalam ayat-ayat Pedang di dalam Quran. (Ada 149 surah jihad dalam Quran)

Ketika kaum Muslim melakukan aksi-aksi kekerasan, mereka melakukannya sesuai dengan aturan main mereka, karena Quran dan Hadis, berikut tafsir-tafsir mereka memang memerintahkannya demikian. Tidak ada perbedaan antara Islam dan Fundamentalisme Islam. Ketika orang Kristen bertindak memakai kekerasan mereka melakukan itu jelas sebagai pelanggaran terhadap ajaran-ajaran Yesus yang jelas-jelas mengkotbahkan toleransi, perdamaian, dan bahkan supaya merelakan pipi yang lain jika pipi yang satu ditampar.

Apa hubungan terbunuhnya 150,000 orang di tangan para Islamis di Aljazair sejak 1992 dengan kebijakan luar negeri AS ? Bukannya para ekstremis menggunakan Islam untuk tujuan-tujuan politis? Tidak ada pembedaan seperti politik dan non-politik dalam Islam, yang mengambil alih dan menghakimi secara penuh kehidupan seorang individual.

AbuKhalil:
Pertama sekali, sebagai tanggapan atas Mr. Warraq, saya merasa sangat geli untuk menjawab seseorang yang memakai nama palsu seperti itu di AS, jika kita tahu di negara ini seharusnya kita bebas dari penganiayaan beragama. Namun biarlah demikian: sekali lagi, tidak ada sebuah agama pun yang bersih prakteknya, dan saya akan benar-benar bahagia jika kita bisa menghapus saja seluruh agama yang ada. Seluruhnya, bukan hanya satu.

Kami, kaum humanis dan anti-theis, tidak menyetujui agama beralaskan dasar-dasar filsafat; namun jika memprotes terhdp satu agama saja dan membiarkan yang lain sama saja seperti fanatisme religius atau kedengkian, atau kedua-duanya. Saya heran melihat mereka yang sekuler atau liberal tapi pilih kasih: mereka repot terganggu oleh agama sebuah golongan, namun mendiamkan yang lain. Sebagai rekor kejelekan Kristen: jutaan yang mati pada abad lalu adalah mereka yang terbunuh oleh pemerintahan dan rakyat yang tidak Islam, melainkan dari dunia Barat yang Kristen. Sekarang saya ngomong tentang pesan damai-nya Kristen: Saya ingatkan kalian bahwa banyak kalangan dalam pemerintahan AS akan tidak setuju, dan Jerry Falwell belum lagi membunuh siapapun (meski dia mungkin telah mengilhami mereka yang menyerang klinik-klinik aborsi, tidak secara damai), tapi orang-orang Kristen lainnya telah membunuh.

Warraq:
Bpk. AbuKhalil silakan baca buku saya, Mengapa Saya Bukan Muslim, untuk melihat bahwa saya kritis terhadap SEMUA agama, khususnya yang monotheistik. Kenyataannya, inilah yang membuat buku saya tidak jadi best-seller, tidak seperti buku-buku anti-Islam yang ditulis orang Kristen.
Juga jelas dari semua tulisan saya bahwa saya seorang humanis sekuler yang menganjurkan pemisahan yang jelas antara urusan gereja dan negara. Orang Kristen memang ada yang membunuh namun seperti yang saya sampaikan sebelumnya, itu mereka lakukan di luar (bertentangan dengan) ajaran-ajaran Kristus mereka, sedangkan kaum Muslimin melancarkan Jihad dan membunuh dalam nama Allah dengan LEBIH DARI CUKUP pembenaran/dukungan dari Qur’an, Hadis, dan Sunnah.

Saya juga ingin menyampaikan bahwa saya merasa nada Bpk. AbuKhalil agresif dan kasar, dengan kecenderungan memperciut setiap argumen menjadi ajang penghinaan pribadi. Lebih dari itu, SEMUA anggota dekat keluarga saya masih Muslim, dan saya mengatakan ini dalam pembukaan buku saya. Kakak saya adalah orang yang paling lemah lembut yang saya tahu, dia bahkan tidak akan menyakiti seekor lalatpun. Jadi saya tidak percaya bahwa semua Muslim adalah maniak pembunuh. Pernyataan yang saya tulis setelah 9/11 (see http://www.secularism.org/) bahwa tidak semua Muslim adalah teroris, dan bahwa perlindungan kaum Muslim harus lebih ditingkatkan. Namun saya juga menunjuk secara khusus bahwa walau Muslim sering moderat, ISLAM sendiri tidaklah moderat; yang ada hanyalah perbedaan tingkatan antara Islam dan fundamentalisme Islam.

Spencer:
THn 1990 di Arizona, seorang Muslim fanatik membunuh Muslim ‘sesat’ Rashad Khalifa. Ibn Warraq tahu persis apa yang ia lawan.

Pengertian bahwa fanatisme dalam semua agama adalah sama rata itu tidak masuk akal. Lihat saja bagaimana anda harus berpayah-payah menghubung-hubungkan Falwell dengan pembunuhan; sayangnya jauh lebih mudah untuk menghubungkan “ekstremis” Muslim dengan pembantaian. Ini karena kaum "radikal" bekerja berdasarkan ajaran-ajaran Islam tradisional yang mengajarkan perang dan kekerasan.

Pandangan “umum” tentang jihad secara historis diutarakan oleh hakim agung Hanbali Ibn Taymiyyah. Dia ini sejalan dengan hukum-hukum aliran Sunni lainnya:

Dikarenakan perang yang diridhoi pada dasarnya adalah jihad dan tujuannya yaitu supaya seluruh umat manusia hanya memiliki satu agama Allah saja (Islam) dan firman Allah-lah yang paling utama, karena itu mereka yang menghalang-halangi tujuan ini haruslah diperangi. Dan bagi mereka (muslim) yang tidak menghalangi atau tidak mampu memerangi … mereka tidak akan dibinasakan kecuali jika
mereka melancarkan perang lewat kata-kata (mis. Melalui propaganda) dan perbuatan (mis. Mata-mata atau membantu lainnya yang berperang)”.


Ini adalah rumusan dari kata-kata Muhamad sendiri dalam Hadis yang sahih dari Muslim, Bukhari, dan Abu Dawud: “Aku telah diperintahkan untuk memerangi bangsa-bangsa, sampai mereka mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah, dan percaya kepada diriku bahwa akulah sang rasul (dari Allah)… Dan pada saat mereka melakukan itu, darah dan harta benda mereka terjamin keamanannya oleh diriku…”

Tidak ada satu doktrin atau ajaran agama lain apa pun yang mirip apalagi bisa menyamai yang satu ini, Islam.

Ayloush:
Islam bukanlah agama pengalah. Islam memang memerintakan pengikutnya untuk mempertahankan diri mereka dan semua umat manusia melawan penindasan, tidak pandang bulu siapapun penyerang mereka. Namun demikian “perang yang adil” ini diatur dengan aturan-aturan yang ketat.

Al Quran berkata:

Berperanglah di jalan Allah terhadap semua yang memerangi engkau, namun janganlah menyerang lebih dahulu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang menyerang”. (2:190)

“Hai orang-orang beriman, tabah dan berdirilah untuk Allah, saksi-saksi dalam keadilan, dan janganlah membiarkan kebencian sebuah bangsa menghalangimu untuk menjadi adil. Bersikaplah adil; itulah yang lebih dekat dengan kebenaran. Dan takutlah akan Allah; sesungguhnya Allah mengetahui segala perkara yang kau lakukan” (5: )


Sebagai halnya untuk kaum Yahudi dan Kristen, Islam menganugerahkan mereka status khusus dan menamakan mereka Umat Kitab (Ahl’ul Kitab) sebab kami percaya bahwa kami menyembah tuhan yang sama, Tuhannya Abraham. Kami juga percaya sejalan dengan para nabi dan kitab-kitab suci. Setelah lebih dari 14 abad pemerintahan Muslim di Timur Tengah, jutaan umat Nasrani masih berdampingan dalam kota-kota dan desa yang sama dengan saudara-saudara Muslim mereka dalam persaudaraan dan rasa saling menghormati. Pengecualian-pengecualian yang jarang terjadi mempengaruhi seluruh komunitas beragama, secara sama rata. Nabi Muhamad saw yang juga pernah mengawini seorang Nasrani dan Yahudi, berkata: “Siapapun yang menyakiti seorang Nasrani atau seorang Yahudi, itu adalah sama seperti menyakiti diriku”.

AbuKhalil:
Lihatlah Spencer bergantung kepada pemikiran Orientalisme Klassik yang tidak dapat dipercaya: dia mengutip Ibn Taymiyyah dan bukan pandangan mainstream Muslim untuk menjelaskan Muslim abad ke-21. Apakah umat Nasrani saat ini menaruh perhatian pada apa yang dikatakan St. Augustine tentang orang-orang kafir yang akan memerintah politik luar negeri mereka?

Masa lalu Islam menghantui Spencer lebih dari kebanyakan Muslim masa kini. Sedangkan untuk arti Jihad itu sendiri: Saya memiliki seluruh bagian lengkap dalam buku saya yang paling akhir (“Bin Laden, Islam, dan Perang Baru Amerika melawan Terorisme”) yang di dalamnya saya perlihatkan bahwa konsep jihad memiliki banyak arti, bukan hanya sekadar pertempuran militer dan bahwa hanya kaum fanatik seperti Bin Laden dan suara-suara anti-Muslim (seperti Spencer) yang ngotot berkata bahwa Jihad hanya berarti “Perang Suci”. Dan buku itu telah diterbitkan dalam bahasa Arab dan saya tidak terbunuh oleh Muslim fanatik karena pandangan-pandangan sekuler saya.

Saya pikir saya masih hidup, meskipun Spencer mungkin mengkutip ulama Muslim abad ke-10 untuk membuktikan bahwa sesungguhnya saya ini sudah mati. Itulah cara yang dia pakai.

Dan untuk Warraq, apakah dia ingin saya menganugerahinya penghargaan karena kebaikannya yang sudah mengakui bahwa memang tidak semua Muslim adalah teroris ? Ini mirip dengan anti-Semit yang menyatakan bahwa dia tidak anti semua Yahudi. Persis seperti yang dikatakan menlu Hitler, Von Ribbentrop, saat diadili di Nuremberg.

Spencer:
Saya mampu mengutip lusinan ayat dari sumber yang berwenang yang menganjurkan jihad, mulai dari awalnya Islam sampai saat ini. Dan AbuKhalil tentunya akan mencantol pada salah satu saja yang saya pilih untuk mengatakan bahwa saya ini tidak memaparkan pandangan yang menyeluruh. Sebenarnya As’ad, masih ada orang Kristen yang membaca St. Augustine, seperti juga masih ada Muslim yang membaca Ibn Taymiyya dan sumber-sumber lainnya yang membela jihad kekerasan.

Buku S. K. Malik yang berargumentasi bahwa Quran mengajarkan Muslim untuk memerangi kaum kaffir diterbitkan di Pakistan tahun 1979. Presiden Pakistan Zia-ul-Haqberkata bahwa itu menjelaskan “SATU-SATUNYA pola perang” yang harus dianut sebuah negara Muslim.

Yah, yah, saya tahu: pandangan marginal. Dia cuma seorang presiden saja, begitu khan ??

Anda benar, tentu saja, bahwa jihad memiliki banyak arti disamping perang melulu. Namun jika anda berpikir bahwa jihad tidak pernah, baik dulu maupun sekarang memiliki arti yang berkaitan dengan darah dan kekerasan, anda sesat, atau anda memang sedang mencoba untuk menyesatkan rakyat Amerika, inilah elemen yang sangat besar dari sejarah Islam dan kenyataan masa kini.

Ayloush:
Agama tidak boleh dinilai oleh segelintir dari bacaan kitabnya. Dan dalam kitab apapun, ekstremis bisa mencari pembenaran atas perbuatan mereka. Lihat, nih, bagaimana ayat-ayat Alkitab berikut dipakai untuk membenarkan Perang Salib dan pembunuhan ratusan ribu umat Nasrani Timur dan Muslim, Inquisition, perbudakan dan penganiayaan orang-orang kulit hitam Afrika, pemberkatan untuk tentara Nazi Jerman, Apartheid di Afrika Selatan, lingkaran pembunuhan Katholik-Protestan di Eropa, dan pemboman klinik-klinik aborsi. Semuanya di dalam nama palsu Yesus atau Tuhan.

Dalam Matius 10:34 Yesus berkata: “Janganlah berpikir bahwa aku datang membawa damai untuk dunia… tapi sebuah pedang”.

Hezekiel 9:6 “bantailah baik yang tua maupun yang muda, baik gadis maupun anak-anak, dan perempuan”

Imamat 25:44-46: “Sedangkan untuk budak-budak lelaki maupun perempuan yang boleh kau miliki: engkau boleh membeli budak laki-laki dan perempuan dari antara bangsa-bangsa yang ada di sekitarmu” engkau boleh memberikan mereka kepada anak-anakmu sesudah engkau, supaya mewarisi sebagai kepunyaannya selamanya”

Tentu saja kami Muslim tidak menilai Kristen atau Judaisme dari perbuatan-perbuatan di atas, namun lebih berdasarkan keyakinan kami sendiri kepada keseluruhan pesan damai dari nabi-nabi terhormat Musa dan Isa. Dengan cara yang sama, Islam seharusnya dinilai berdasarkan pesan damai dan kesama-rata-an sebagaimana yang dianut oleh hampir 1.3 milyar pengikutnya. Saya mengundang anda para pembaca untuk pertama-tama membaca seluruh Quran, tanpa prasangka-prasangka dari para komentator yang Islamofobis.

Warraq:
Ketika hanya sebagian kecil fundamentalis Kristen yang mempercayai bahwa Alkitab adalah betul-betul firman Tuhan, SEMUA Muslim percaya bahwa Quran adalah seyakin-yakinnya firman Allah. Ketika kebanyakan kaum Kristen tidak memiliki masalah untuk menolak ayat-ayat barbar dari Alkitab mereka, orang Muslim tidak bisa dengan mudah menolak ayat-ayat biadab mereka, yang ratusan jumlahnya dalam Quran.

Lebih dari itu, Al Quran adalah salah satu sumber dasar Syariah, Hukum Islam, sehingga jadilah Quran sebagai sumber hukuman yang biadab (potong sana-sini, penyaliban, bui), status perempuan yang lebih rendah (warisan, suami yang boleh mencambuk mereka, dsb.), racun kebencian terhadap kaum-Yahudi (anti-Semitism), kedengkian terhadap non-Muslim, dan Jihad, dari segi militer (bunuhlah kaum kafir dimanapun kau temukan mereka).

Teori dan praktek Jihad, dari segi militer diturunkan oleh ulama-ulama Muslim klasik dari Al Qur’an; para pemikir Muslim terkemuka seperti Ibn Tamiyyah, Averroes, dan Ibnu Khaldun, dan bukanlah kelompok-kelompok kelas teri yang terus-menerus mengacu kepada Quran untuk membenarkan Jihad, Perang Suci (dan berdarah-darah). Walaupun memang ada TIGA ayat Quran yang mengajarkan toleransi, mereka itu
semuanya sudah DIBATALKAN/DIABROGASI/NASKH oleh ayat-ayat Pedang yang menganjurkan pembunuhan non-Muslim.

Akhirnya, dari membaca Quran itulah ketika saya masih Muslim yang akhirnya membuat saya sadar betapa biadabnya buku tersebut, dan membuat saya mengambil keputusan untuk murtad.

AbuKhalil:
Ya baguslah, kalau kamu sampai pada kesimpulan seperti yang kau mau itu. Saya ingin mengakui, bahwa kalian (dan saya telah membaca bukumu dan buku Spencer), kalian memperlakukan Muslim sama seperti anti-Yahudi memperlakukan Yahudi: Kalian berpikir bahwa Muslim membentuk sebuah group raksasa, dan tentu saja konyol untuk berargumen bahwa “semua Muslim” berpikir bahwa Quran sebagai firman Allah dan bertindak sesuai dengan itu.

Jika kalian berpikir sedemikian, pastilah kalian juga berpikir bahwa setiap Muslim saat ini sedang mencari orang kafir untuk dibunuh, atau bahwa setiap Muslim terlibat dalam penganiayaan istrinya (sesuai dengan Surat An-Nisa’). Kenyataannya, masyarakat (dari setiap agama) bereaksi terhadap kitab suci mereka, apakah itu firman Tuhan atau nabi, dengan lebih banyak kelonggaran. Adalah sebuah perintah dalam Quran yang mengizinkan Mut’ah (nikah sementara), walaupun kaum Sunni menghilangkan hal itu beberapa tahun setelah wafatnya Muhamad.

Unsur-unsur yang menggangu, tidak toleran, dan eksklusif dari ketiga agama suci ini hanya diimani dan diikuti oleh kaum militan fanatik, tapi yang terus-menerus dinyatakan oleh Spencer dan Warraq sebagai yang mewakili seluruh Muslim di dunia.

Spencer:
As’ad, saya menyarankan anda untuk mengambil kursus membaca. Saya tidak pernah menulis atau mengatakan bahwa militan fanatik adalah yang mewakili seluruh umat Muslim. Yang saya tegaskan adalah hal-hal yang mendasar: Quran, sebagaimana anda sendiri kelihatannya sudah mengakui, isinya penuh dengan hal-hal yang menjurus kepada fanatisme yang militan dan keji.

Pun jika Quran serta Sunnah di-evaluasi ulang secara besar-besaran, fanatisme kejam masih akan selalu menjadi bagian dari Islam, dan bukan bagian kecil Islam, namun bagian yang sangat besar. Jika anda mampu menghilangkan yang satu ini, saya akan sangat kagum. Tetapi saya rasa anda tidak akan mungkin mampu melakukannya.

Oleh karena itu, perbedaan antara “bunuhlah kafir di manapun kau temukan mereka"(Sura 9:5) dengan ayat-ayat Injil yang dia kutip di atas adalah bahwa dalam Islam, kekerasan bukan akibat salah mengartikan ayat2; tetapi karena kekerasan memang terabadikan di dalam tradisi dan aqidah Islam.

Dr. Muhamad Muhsin Khan, penerjemah kumpulan Hadis Sahih Bukhari, menjelaskan bahwa ayat-ayat keras Al-Quran sebenarnya lebih diutamakan daripada ayat-ayat damainya: “Pada awalnya ‘perang’ itu dilarang dan lalu diijinkan, dan setelah itu malah diwajibkan”.

S. K. Malik dalam Konsep Perang yang Qurani menjelaskan bahwa Allah memberikan kepada kaum Muslim “Perintah Ilahi yang menjadikan perang sebagai sebuah kewajiban agama bagi orang-orang yang beriman”.

Keempat badan hukum berwenang Muslim Sunni – Shafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali – mengajarkan doktrin lengkap dari jihad yang meridhoi pembunuhan atas nama Islam. Dikatakan oleh hakim agung, filsafat dan sejarawan besar Muslim Ibnu Khaldun (wafat 1406): “Di dalam komunitas Muslim, perang suci/syahid adalah sebuah kewajiban agama, karena tujuan/misi dan kewajiban umat Muslim yang universal yaitu untuk meng-Islam-kan semua jiwa baik lewat cara pembujukan maupun lewat cara paksaan. Kaum-kaum beragama lainnya tidak memiliki tujuan yang universal, dan perang suci bukanlah kewajiban agama mereka, kecuali untuk tujuan membela diri… Islam berkewajiban untuk menjadi penguasa seluruh bangsa-bangsa lain”.

Apakah semua Muslim diatas ini lalu “Islamofobis”? Islam mempunyai tradisi kuat dalam penafsiran Qurannya yang mengizinkan kaum Muslim modern berpikir bahwa mereka dibolehkan untuk melakukan aksi-aksi kekerasan demi agamanya. Kristen tidak memiliki tradisi yang sebanding dengan hal ini.

AbuKhalil:
Spencer itu benar-benar ***** sekali ! Dia tidak mampu membedakan antara sumber yang sah dan sumber yang bahkan hampir semua Muslim tidak pernah mendengarnya. Saya akan membuat Spencer terkejut: hampir semua Muslim tidak menjadikan Quran dan Hadis sebagai pedoman hidup mereka sehari-hari; mereka tidak mencari-cari ayat setiap hari dan bertindak berdasarkannya.

Sama seperti halnya kaum Yahudi dan Kristen yang tidak membaca ayat-ayat Perjanjian Lama setiap hari untuk memulai hari mereka. Ayat-ayat yang Spencer kutip diatas itu tidak lebih menyeramkan atau mengerikan dari sejumlah bacaan dalam kitab Perjanjian Lama. Ayat-ayat tersebut hanya berlaku sejauh seseorang berminat mempelajarinya hanya di dalam konteks sejarah, meskipun orang aneh-sesat seperti Bin Laden (dan sayangnya orang-orang aneh/sesat ada di mana-mana) mungkin mengeksploitir ayat-ayat tersebut sampai habis. Untungnya, Bin Laden gagal meng-inspirasi orang kecuali segelintir fanatik yang masih dalam pelarian. Semua permohonannya kepada rakyat Arab dan semua demonstrasi Muslim yang mendukungnya tidak diacuhkan.

Spencer:
As’ad, saya kok kaget benar mendengar pengakuan anda bahwa Muslim tidak dibimbing oleh Quran dan Hadis. Namun, sebetulnya, saya sudah tahu, karena kebanyakan Muslim memang cuma ingin hidup wajar dan tidak ambil serius suruhan-suruhan untuk menumpahkan darah dan untuk membuat kekerasan yang ada dalam buku-buku tersebut. Tapi pertanyaan sekarang adalah “adakah sesuatu yang asli mendarah-daging di dalam Islam yang membuatnya tidak cocok berdampingan dengan masyarakat yang liberal, bebas, dan demokratis” ?
Saya sudah membuktikan bahwa memang ada, dan bukan cuma secuil ayat-ayat yang tersebar di sana-sini yang seenaknya bisa terkutip dari Quran, namun malah memang itu sebuah doktrin/ajaran dan tradisi yang sudah sangat lama, terpelihara dan dikotbahkan persis seperti aslinya yakni jihad kekerasan melawan non-Muslim.

Biarlah saya dikatakan ****, tapi sebodohnya saya tidak akan membiarkan anda mengibuli saya mengenai luasnya terorisme di dalam dunia Islam. Bin Laden mungkin memang seorang aneh-sesat yang belum bisa mengilhami setiap orang, tapi bagaimana dengan Jaffar Umar Thalib dan Laskar Jihad-nya di Indonesia, yang telah membunuh 10,000 orang Kristen? Bagaimana dengan Hamas, yang telah memproklamirkan “Jihad sampai menang atau sampai mati syahid” dan telah juga membunuh tidak terhitung jiwa? Bagaimana dengan Masjid Finsbury Park di Inggris , masjid-nya si teroris yang menyembunyikan bom dlm sepatunya dan ingin meledakkan pesawat AS dan tempat ditemukannya senjata-senjata, alat-alat perang kimia dan paspor palsu ?

Bagaimana dengan kelompok-kelompok teror di seantero dunia seperti organisasi Abu Nidal, kelompok Abu Sayyaf, Ahl-e-Hadees, Brigade Syahid Al-Aqsa, al-Jama’a al-Islamiyah, Al-Ittihad al-Islami, Armed Islamic Movement, ‘Asbat al-Ansar, Fighting Islamic Group, Harakat ul-Jihad-I-Islami, Hizbullah, Islamic Jihad, Jaisy-e-Muhammad, Muslim Brotherhood, dst dst ? Apa semuanya itu sekedar kelompok aneh-sesat? Semuanya mengabdi kepada Islam tapi hanya secara tragis saja menyalahartikannya? Ayolah, sadarlah. :oops: :oops:

AbuKhalil:
Kelompok-kelompok yang anda sebutkan itu terdaftar oleh pemerintah AS, yang notabene cuma menaruh perhatian pada kekerasan dan terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Muslim dan Arab. Jika kita bisa sependapat bahwa pembunuhan orang-orang tak berdosa adalah terorisme lalu Israel dan Hamas pastilah sudah masuk dalam kategori ini, walaupun Israel telah menewaskan jauh lebih banyak rakyat Palestina yang tak berdosa daripada sebaliknya. Tapi, tidak pernah pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap orang Palestina (yang tidak pernah kekurangan dukungan dari banyak kaum religius Yahudi di Israel, terlebih oleh partai-partai religius funtamentalis yang selalu ada di dalam setiap kabinet Israel) digambarkan sebagai “Terorisme Yahudi”. Juga sama seperti itu, apakah terorisme IRA yang menyeramkan itu disebut sebagai “Terorisme Katholik” atau cukup dianggap sekedar terorisme biasa tanpa ada embel-embel agama?

Spencer:
Silakan, As’ad ! Sebutlah itu terorisme Katholik. Sekarang carikan saya contoh yang lain di luar IRA. Yang akan kau dapat malah hanya Paus dan seluruh tradisi Katholik yang menentang IRA. Namun di sisi Islam, saya telah sebutkan untuk anda lusinan kelompok-kelompok yang melakukan aksi kekerasan di dalam nama Islam, dan bahkan saya mampu menyebutkan lusinan lainnya. Dan anda akan kehilangan suara ! Tidak ada satupun ---kecuali para Sufi yang dianggap menyimpang dan dianiaya oleh sesama Muslim di banyak negara--- yang mengutuk ajaran jihad yang mengilhami kekerasan Muslim ini sejak berdirinya Islam sampai hari ini. Saya sebelumnya sudah meminta anda untuk menyebutkan satu saja otoritas Muslim yang telah mengutuk perintah jihad kekerasan tapi anda tidak memberikannya, karena anda tidak mampu.

Jihad dalam pengertian perang melawan kaum kafir yang memberikan mereka pilihan untuk masuk Islam, dihukum mati, atau menjadi hamba/dhimmi adalah bagian dari aqidah Islam. Kenapa ? Karena Nabi Muhamad sendiri yang membuat aturan tentang tiga pilihan ini (Sahih Muslim 4294) dan kayaknya akan selamanya begitu.

AbuKhalil:
Saya akan berikan anda contoh-contoh di mana Muslim menolak Jihad: 1991 pada waktu Saddam mengumumkan Jihad melawan AS, semua orang (alim-ulama dan rakyat jelata) tidak mempedulikannya. Bin Laden dan kelompok sesatnya mengumumkan Jihad sedunia melawan AS setiap pekan, dan kelihatannya, mereka tidak-diindahkan. Sebuah pernyataan oleh tokoh-tokoh cendekiawan Muslim paling ternama di AS (fundamentalis dan yang kurang fundamental), para Mufti, Qadi, dan penulis-penulis dari dunia Arab yang dikeluarkan beberapa hari setelah Sep. 11 (dicetak di koran Al-Quds Al-‘Arabi dan seperti biasa tidak-dipedulikan oleh media AS sebab mereka tidak muncul di MSNBC atau Oprah) mengutuk argumen-argumen teologis Bin Laden.

Dan sebagai dukungan Kristen terhadap perang, Billy Graham belum pernah melewatkan sebuah perang AS tanpa memberikan berkatnya.
B Graham sendiri anti-Semit seperti kita ketahui lewat rekaman-rekaman Gedung Putih Nixon, dan jika Ibn Al Warraq memang peduli dengan anti-Semitisme--karena dia melupakan anti-Islamisme--dia seharusnya sudah mengutuk Graham. Sekitar 63% publik AS (banyak diantaranya orang Kristen) mendukung perang yang sebentar lagi dilancarkan terhadap Iraq, dan di Israel banyak tokoh religius Yahudi yang mengambil bagian dalam teriakan “Mampuslah Arab”, yang adalah juga hampir menjadi sebuah lagu populer di dalam politik Israel.

Spencer:
Sekali lagi, As’ad, anda menolak untuk menghadapi masalah yang ada bersama kita sekarang. Saya tidak minta anda untuk memberikan contoh orang Muslim yang menolak sebuah panggilan jihad tertentu saja. Mereka mungkin saja menolak panggilan Bin Laden karena percaya ia
tidak memiliki kewenangan yang sah untuk mengumumkan jihad jika tanpa seorang kalifah, atau bisa juga karena mereka menganggap situasi yang ada saat ini belum cocok untuk melancarkan jihad. Tetapi penolakan mereka terhadap Osama tidak membuktikan apa yang saya minta anda untuk buktikan: bahwa mereka menolak prinsip2 jihad kekerasan. Bahwa mereka menolak kekerasan sebagai bagian dari Islam. Bahwa mereka tidak percaya bahwa memang bagian dari misi Islam adalah untuk meng-Islamkan, membunuh, atau memperhambakan kaum non-Islam, sebagaimana yang telah diperintahkan Nabi Muhamad.

Anda masih belum, dan tidak akan, memberikan sebuah contoh dari pemimpin Muslim yang mampu melakukan itu.

Anda tidak akan memberikannya karena anda tidak akan bisa. Anda bisa saja menemukan beberapa orang yang bisa mengemukakan alasan pembelaan diri dan yang menghalang-halangi (jihad) dengan berbagai cara, namun kenyataan tidak dapat dipungkiri : jihad berakar kuat dalam Quran dan Hadis dan anda tidak akan mampu untuk menemukan sebuah tradisi Muslim terkemuka--di luar kaum Sufi yang teraniaya-- yang bisa meolak total faham ini.

Sekarang tentang Billy Graham dan dukungannya untuk perang; tidak sedikitpun itu bukti bahwa ada sesuatu yang mendarah-daging dalam Kristen yang membuat perang melawan non-Kristen menjadi bagian dari kewajiban agama Kristen. Berbeda dgn Islam. Syukurlah bahwa banyak Muslim yang tidak memperdulikan ini secara serius, sebagai yang anda tunjukan berulang-ulang dengan mati-matian. Tetapi kaum non-Muslim tidak akan pernah tenang hidupnya sampai doktrin ini benar-benar dihapus dari Islam.

Ayloush:
Usaha Spencer untuk menggambarkan Islam sebagai yang tengah melakukan misi pembantaian atau pengislaman terhadap non-Muslim mencerminkan kegoblokan dan keputusasaannya, atau yang lebih sedih lagi, Islamofobia-nya (ketakutan terhadap Islam) yang tidak kunjung hilang. Taktik kesukaanya tidak lebih dari pengkutipan diluar konteks dari kalimat-kalimat di kitab Islam.

Hubungan Islam dengan non-Muslim telah diatur oleh ayat-ayat Quran seperti:

“Tidak ada paksaan dalam agama” (2:256)

“Allah tidak melarang engkau, terhadap mereka yang tidak memerangi agamamu dan yang tidak mengusirmu keluar dari rumahmu, untuk berlaku baik dan adil terhadap mereka: karena Allah mencintai orang-orang yang adil”. (60: )


Yang lebih penting lagi, sejarah panjang toleransi Islam bersaksi untuk dirinya sendiri. Jika tujuan Islam itu untuk membantai atau meng-Islamkan kaum non-Muslim lalu mengapa setelah lebih 700 tahun kekuasaan Muslim, India masih 80% Hindu? Atau mengapa orang-orang Yahudi melarikan diri dari penganiayaan orang Eropa dari banyak abad untuk lalu tinggal di bawah kekuasaan Muslim di Spanyol yang mana mereka gambarkan sebagai “Zaman Emasnya Judaisme”? Atau mengapa kebanyakan umat Nasrani Timur memilih untuk berperang di pihak saudara-saudara Muslim mereka melawan Pasukan Salib yang menyerang? Atau mengapa puluhan juta umat Nasrani masih bisa tinggal dengan aman-damai di wilayah Muslim setelah lebih dari 1400 tahun kekuasaan Muslim?

Sedangkan kolonis-kolonis Eropa yang memerlukan beberapa dekade untuk menyapu bersih kaum pribumi di Amerika; mengapa Muslim tidak bisa melakukan saja itu selama 1400 tahun? Jawabannya adalah karena tujuan Islam itu adalah untuk membebaskan manusia dari penindasan dan memberikan mereka hak pemberian-Tuhan untuk menjalankan agamanya masing-masing secara bebas dan hidup dengan harga-diri sebagai umat manusia, tidak pandang ras, agama, atau status ekonominya.

Bpk. Spencer, inilah Islam yang mayoritas Muslim mengerti dan menjalankannya.

Spencer:
Apakah “di luar konteks” adalah pembelaan yang terbaik yang bisa anda lakukan? Ini ada beberapa konteks untuk anda: Kaum berwenang Muslim sepanjang sejarah telah bertahan bahwa jihad kekerasan itu adalah bagian dari tanggung jawab komunitas Muslim. Mereka menjelaskannya seperti berikut:

Sura 9:29 berkata: “Perangilah mereka yang tidak percaya kepada Allah maupun Hari Kiamat, yang tidak menganggap haram apa yang dianggap haram oleh Allah dan Rasul-nya, yang tidak menghormati agama Kebenaran, (bahkan jika mereka) termasuk Umat-Kitab [Kristen dan Yahudi] sampai mereka membayar Jizyah [pajak khusus bagi non-Muslim] dengan merendahkan diri mereka, dan merasakan bahwa diri mereka sudah ditundukkan”.

Inilah tiga pilihan itu: masuk Islam, dihukum mati, atau menjadi hamba/dhimmi (warga kelas dua). Ayat ini diambil dari Surah At-Tawba, surah terakhir yang diturunkan. Jika ada suatu ayat berlawanan arti dengannya, Sura 9:29 harus dianggap yang lebih utama sebab surah darimana ayat tersebut berasal adalah kata terakhir Qur’an berkenaan dengan topik ini. Bahkan jika ayat-ayat yang mencerminkan tenggang rasa tidak dibatalkan menurut prinsip pembatalan Muslim (naskh), ayat-ayat toleransi seperti yang anda kutip di atas sebelumnya haruslah diartikan sesuai pertimbangan Surah 9.

Saya tidak mengarang-ngarang penafsiran ini. Ini datang dari sumber autoritas Islam sendiri yang mereka hormati: Ibn Kathir, Ibn Juzayy, Tafsir al-Jalalayn dan tidak terhitung lagi penjelasan-penjelasan Quran klasik lainnya yang diakui dan disegani. Dan mereka beranjak dari penitikberatan Muhamad tentang tiga pilihan bagi non-Muslim ini – pindah agama, mati, atau tunduk – dalam sebuah Hadis yang keras di dalam Sahih Muslim (4294).

Anda bilang, “Jika memang tujuan Islam adalah untuk membantai atau mengislamkan non-Muslim…” Anda lupa menyebutkan pilihan ketiga yaitu: tunduk (jadi hamba). Dengan demikian terjawab sudah pertanyaan anda yang lain. Ketika berhadapan dengan populasi yang sangat besar seperti umat Hindu, secara historis Muslim menempuh rute ini (penghambaan). Catatan-rekor sejarah Muslim di India adalah salah satu dari penindasan dan penzaliman yang masih berlangsung terhadap umat Hindu; inilah sebab ketegangan yang berjalan terus di antara kedua komunitas itu sampai sekarang. Dan untuk para Yahudi dan Nasrani yang hidup ‘aman-damai’ di alam Muslim, mereka pun telah merasakan apa arti dari pilihan ketiga itu, penghambaan.

Bpk. Ayloush, anda sangat paham betul bahwa Syariah (selaras dengan tiga pilihan yang dibuat Muhammad) mengajarkan bahwa kaum Yahudi dan Kristen tidak dapat dan tidak boleh diperlakukan sama dengan kaum Muslim di manapun di dalam dunia Muslim.

Bpk. Ayloush, terangkan kami mengenai konsep rasis dalam hukum Islam yang menggolongkan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai kaum dhimmi dan memaksakan mereka tunduk kepada aturan-aturan yang bersifat mempermalukan mereka dan kepada ancaman penganiayaan jika mereka berani keluar dari jalur ini. Umat Yahudi dan Kristen tidak pernah sekali dan tidak akan pernah selamanya diperbolehkan untuk berdiri sejajar dengan Muslim di bawah payung hukum Syariah.

Jika tujuan Islam adalah untuk “membebaskan manusia dari penindasan”, mengapa tidak anda sebutkan saja bahwa komunitas-komunitas Nasrani kuno berkembang subur di Asia Minor (Turki) dan Afrika Utara? Ooops – mereka sudah tersapu bersih. Mengapa orang-orang Kristen sekarang melarikan diri dari tanah-air nenek-moyang mereka di Timur Tengah secepat yang mereka bisa? Saya senang bahwa, seperti yang anda katakan, kebanyakan Muslim telah menolak semua ini, namun saya ingin melihat beberapa sumber Muslim yang sah dan berwenang melakukan ini di dalam rekaman, dan dalam rekaman mengutuk dan meminta maaf atas jihad dan pen-dhimmi-an.

Ayolah, Bapak Ayloush, marilah kita melakukan tindak nyata atas isu-isu ini. Mengejek-ejek saya tidak akan menjawab hal-hal ini.

Ayloush:
Ya, Bpk. Spencer, konteks sejarah memang sangat penting. Kenyataannya, mereka yang berpengetahuan tentang Islam dapat menjelaskan kepada anda bahwa ada ilmu pengetahuan menyeluruh dalam Islam yang dinamakan konteks penyataan (Asbab An-Nuzul) yang di dalamnya sejarah, waktu, dan kondisi dari masing-masing ayat dijelaskan. Tanpa pengetahuan ini, tidak ada seorang ahli pun yang akan mampu menafsirkan Qur’an dengan benar. Masing-masing dari 6000 ayat di dalam Quran mewakili sebuah penyataan dari Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhamad. Semasa 23 tahun, penyataan itu berkaitan dengan beragam topik mulai dari pendirian system kepercayaan yang monotheistik, sampai nilai-nilai moral, sampai kepada penentangan budaya yang tidak adil masa itu, sampai pemberian pelajaran tentang nabi-nabi dan bangsa terdahulu, dan sampai pada penyediaan bimbingan dan perintah-perintah yang harus dijalankan oleh Muslim di kala terjadinya perubahan lingkungan politik dan sosial.

Sebagai contoh, ketika tawhid pertama kali dikotbahkan oleh Muhamad, para penyembah berhala Arab hanya menjalankan tekanan psikologis. Jadi ayat-ayat Quran (penyataan Allah) memerintahkan Muslim supaya tabah dan tetap tinggal di Mekkah. Kemudian, manakala tekanan itu berubah menjadi kekerasan, ayat-ayat memerintahkan Muslim untuk hijrah ke Madinah. Ketika suku-suku Yahudi di Madinah membuat persekutuan dengan Muslim, ayat-ayat baru dinyatakan yang memerintahkan Muslim untuk memegang teguh perjanjian mereka dan memperlakukan Yahudi dengan hormat dan adil.

Waktu salah satu dari suku Yahudi ingkar dari perjanjian dan membantu musuh, ayat-ayat baru memerintahkan Muslim untuk berlaku adil dan menghukum hanya suku Yahudi yang bersalah dan bukan semua suku Yahudi yang lain. Dan sesuai dengan itu juga, Muslim diperintahkan untuk memegang perjanjian-perjanjian mereka dengan kaum kafir sampai kaum kafir mengingkarinya dengan menyerang Muslim yang tak berdosa.
Lalu penyataan-penyataan baru pun datang dari Allah yang memberikan ridhoi bagi Muslim untuk membalas, dst.

Semua situasi yang khusus memerlukan tanggapan yang khusus pula. Adalah sangat menggelikan apabila sebuah ayat mengenai perlawanan dalam membela diri melawan penyerang disalahartikan dan dipakai di dalam situasi damai melawan orang-orang lain yang tidak bersalah. Cuma ekstremis semacam Bpk. Spencer dan pengikut Al-Qaeda yang akan menganjurkan penyelewengan seperti itu. Hubungan Muslim dan non-Muslim yang normal diatur oleh ayat-ayat yang saya katakan sebelumnya ditambah:

Hai umat manusia! Lihatlah! Kami telah ciptakan kau laki-laki dan perempuan, dan telah membuat engkau menjadi bangsa-bangsa dan suku-suku supaya kalian dapat mengenal satu sama lain. Lihatlah! Yang termulia di antaramu, di mata Allah, adalah yang terbaik ahlaknya”. (49:13)

Spencer:
Anda mengkuliahi saya tentang konteks, tapi pada komentar saya sebelumnya saya juga sudah selesai menjelaskan kepada anda sejumlah konteks dari para penafsir Muslim yang sah, yang tidak sedikitpun anda indahkan. Mengapa, anda tidak bisa ? Tapi yah baiklah, pembaca yang punya perhatian akan melihat hal ini.

MODERATOR: Bapak-bapak, maafkan saya, kita sudah kehabisan waktu untuk bagian pertama dialog Islam ini. Saya ingin masuk ke dalam isu-isu yang lebih spesifik, berkaitan dengan wanita dalam dunia Muslim, apakah demokrasi mungkin, dst., dalam Bagian II, dalam isu Frontpagemag.com berikutnya.

Jadi kita akan berjumpa lagi segera, Ibn Warraq, Hussam Ayloush, Robert Spencer, dan As`ad AbuKhalil.

TAMAT BAGIAN I
Volunteer
Translator
 
Posts: 20
Joined: Mon Nov 14, 2005 6:21 pm

Postby Moderator 3 » Wed Dec 14, 2005 6:27 pm

Diterjemahkan "Volunteer"
Posted: Wed Nov 16, 2005 11:05 pm
Post subject: DEBAT: Islam, Agama DAMAI atau PERANG? Bagian II

--------------------------------------------------------------------------------
PART II : IS ISLAM A RELIGION OF PEACE ??
http://www.frontpagemag.com/Articles/Re ... sp?ID=6460

Islam Symposium Bagian II: Kebebasan Individu
By Jamie Glazov
FrontPageMagazine.com | March 5, 2003

Selamat jumpa ! Hari ini, kita akan lanjutkan diskusi dengan menjelajahi lebih lanjut, kekebasan pribadi untuk memilih dan hak-hak demokratis secara umum.

Sekali lagi, bergabung bersama kami:
Ibn Warraq, pengarang “Why I am Not a Muslim (Mengapa Saya Bukan Muslim)”;

Hussam Ayloush, (tokoh Muslim) direktur eksekutif dari Council on American Islamic Relations (CAIR) bagian Kalifornia Selatan;

Robert Spencer, ajudan dari Free Congress Foundation dan pengarang “Islam Unveiled (Islam Tanpa Selubung)”;

As`ad AbuKhalil, professor ilmu politik di California State University at Stanislaus, dan asisten professor pada Pusat Studi Timur Tengah di University of California at Berkeley, pengarang buku “Bin Laden, Islam, and America's New War on Terrorism”.
------------------------------------------------------------------

[1] Bapak-bapak, jika memang terorisme masa kini bukanlah produk dari Islam dan jika itu memang merusakkan citra Islam atau bahkan menghina Islam, mengapa protes-unjuk rasa dari dunia Muslim tidak bisa terdengar lebih nyata? Mana demonstrasi massa Muslim secara besar-besaran yang marah dan mengutuk Bin Laden karena ia merusak nama baik Islam?

AbuKhalil:
Mengapa harus orang Arab dan Muslim yang selalu menari mengikuti irama AS? Jadi orang Arab dan Muslim barulah dianggap manusia ketika mereka mengikuti perintah AS untuk berdemonstrasi demi hal-hal yang AS tentukan? Di Timur Tengah, masyarakat secara luas dan menyatu mengutuk serangan Sep. 11, jadi mereka merasa tidak perlu lagi untuk mengulang-ulang posisi mereka demi untuk menyenangkan para pembenci anti-Muslim seperti Falwell, Robertson, dan F. Graham.

Orang seharusnya berkabung atas kehilangan dalam keluarganya sendiri daripada kehilangan di keluarga orang lain; orang Amerika tidak berdemonstrasi atas pembunuhan rakyat Kongo, dan seperti itu juga Muslim dan bangsa Arab bersalah untuk tidak menomorsatukan perkabungan atas kematian saudara-saudara mereka sendiri: di Irak dan Palestina.

Idealnya, kita harus memprotes pembunuhan atas orang yang tak berdosa di manapun di seluruh dunia, tapi sayangnya nasionalisme mempengaruhi kita dalam bereaksi atas kematian-kematian tersebut. Bukankah Melvil yang mengatakan: setetes darah orang Amerika yang tertumpah mengguncangkan seluruh dunia? Jadi bagi Muslim, kalau mereka mau saja menerima undangan AS untuk mengutuk teror, itu sama saja dengan menerima dosa, atau menempatkan diri mereka pada posisi bertahan-defensif.

KALIAN juga harus mengerti bahwa banyak Muslim dan Arab saat ini sedang merasa ketakutan dan terintimidasi, dan merasa tidak bisa untuk menyuarakan pendapat mereka baik yang mendukung maupun yang menentang AS. Ini bukanlah tempat yang cocok untuk mendebatkan dan berdikusi mengenai itu secara terbuka.

Spencer:
Bukan berkabung atau memperlihatkan emosi yang dibutuhkan. Jelas memang bahwa memang ada Muslim yang bekerja sama membasmi terorisme. Tapi bukan AS yang menempatkan Muslim pada posisi defensif; Osama bin Ladenlah yang melakukan itu. Bukan orang AS yang
bersorak menari-nari di tempat2 umum di Timur Tengah saat runtuhnya Twin Towers; justru orang-orang Muslim yang melakukan itu. CAIR dan kelompok-kelompok Muslim Amerika lainnya ingin agar non-Muslim menerima saja bahwa Islam mengutuk terorisme. Apakah pengutukan terorisme itu berarti menari mengikuti irama AS ? Apa sulitnya menyatakan sikap menentang kelompok tersangka terorisme seperti Global Relief Foundation dan tersangka pemimpin teroris spt Sami Al-Arian ?

Jika saya seorang Muslim, saya akan lakukan apa saja yang saya bisa untuk membasi terorisme dari Islam dan dunia umumnya. Namun yang ada malah CAIR dsb memprotes usaha-usaha anti-terorisme dan malah menamakannya diskriminasi. Bahkan tidak masuk akal saat mereka sampai menuding2 Ashcroft yg memperingatkan calon2 Haji akan bahaya teror ketimbang menyalahkan Al-Qaeda. Bukan Ashcroft yang menghubung-hubungkan urusan naik Haji dengan teror; Al-Qaedalah yang melakukannya.

Warraq:
Terorisme masa kini adalah produk Islam. Kedua, beberapa kelompok Muslim sekarang juga sudah berani mempertanyakan agama dan nilai-nilai mereka. Tetapi kenapa koq tidak bisa lebih jauh dari itu ?
Alasannya mungkin:
i) Kebencian terhadap Amerika yang sangat mendalam
ii) sebagaimana yang dilontarkan oleh David Pryce-Jones: masyarakat Islam itu adalah budaya rasa malu dan gengsi sehingga mereka segan mengkritik Islam secara terbuka dan lebih segan lagi untuk mengkritiknya di depan kaum non-Muslim
iii) atau barangkali sebagaimana seorang pelajar Arab berkata kepada saya dengan bangga setelah 9/11. “Sekarang barulah kau tahu apa yang kita orang Arab mampu lakukan”
iv) kebanyakan masyarakat Muslim tidak demokratis, di mana diskusi-diskusi terbuka dan bebas itu jarang, sulit, dan berbahaya.

AbuKhalil:
Warraq berpegang pada ajaran dan kata-kata basi dari kebanyakan kaum orientalis klasik. Dia mengkutip dari sumber macam David Pryce-Jones, seorang musuh besar bangsa Palestina, Arab, dan Muslim dan yang dalam bukunya The Closed Circle (Lingkaran Tertutup) dia tidak malu-malu men-generalisasi dan menghina bangsa Arab dan Muslim.

Warraq ini adalah contoh yang menarik: dia seorang yang hanya bisa prihatin oleh diskriminasi jenis kelamin dan intoleransi di dalam Islam, dan bukan di dalam Kristen atau Judaisme. Ini bukti mengapa Kristen fundamentalis sangat suka padanya.

Dia sebenarnya bisa lebih terhormat kalau saja dia berkeberatan dengan berani menentang semua agama yang ada dan semua fundamentalis. Namun sekali lagi, dia kepingin untuk tetap diundang ke Gedung Putih. Dia tahu aturan mainnya. Diskusinya tentang rasa malu dan gengsi adalah sangat menggelikan: orang biasa menulis hal ini pada tahun 1950an. Jika dia memang tahu sesuatu tentang sejarah kebudayaan Arab-Islam, dia sudah akan tahu bahwa banyak yang tidak peduli akan rasa malu dan gengsi, dan banyak yang telah dihukum untuk kelancangan semacam itu. Seperti juga banyak Yahudi dan Kristen yang telah dihukum untuk kelancangan di dalam agama-agama mereka.

Ayloush:
Izinkanlah saya sekali lagi dan untuk selamanya meluruskan ini, bagi mereka yang mungkin mempertanyakan di mana posisi Muslim sehubungan dengan serangan teroris menyeramkan yang menimpa negara kita pada September 11. Dalam satu suara keras dan bulat, Muslim telah mengutuk serangan-serangan itu: dalam tempo dua jam setelah serangan-serangan tersebut, sebuah koalisi dari kelompok-kelompok Muslim AS terbesar yang terdiri atas CAIR, the American Muslim Alliance, the American Muslim Council and the Muslim Public Affairs Council mengeluarkan maklumat bersama yang mengutuk serangan-serangan teroris dan “berlangsungkawa atas keluarga-keluarga dari mereka yang tewas atau terluka…Tidak ada satu alasan politikpun yang bisa membenarkan aksi-aksi immoral seperti itu”.

Muslim di seantero jagad menggemakan sentimen-sentimen ini (lihat http://groups.colgate.edu/aarislam/response.htm) ulama Islam di seluruh dunia dengan keras mengutuk serangan teroris ini dan menyatakan bahwa tindakan-tindakan tersebut bertentangan sama sekali dengan ajaran-ajaran Islam.

Alasan mengapa kita tidak melihat seluruh rakyat datang keluar adalah
karena mereka sibuk berurusan dengan tragedi2 versi Sep. 11 mereka sendiri.

Di Palestina, dalam dua tahun belakangan ini, lebih dari 2,300 orang Palestina tewas di bawah pendudukan Israel. Ini setara dengan 200,000 jiwa (sekitar 66 kali serangan Sep. 11) sanak keluarga populasi kita. Di Iraq, orang Iraq berkabung atas tewasnya 10,000 orang sebulan akibat sanksi ekonomi PBB yang dikeluarkan oleh pemerintah kita, ini sama dengan 140,000 orang (sekitar 45 kali serangan Sep. 11) SEBULAN sanak keluarga di populasi kita. (Ini belum lagi termasuk kematian-kematian yang disebabkan rejim kejam Sadam).

Intinya adalah sementara ini adalah pertama kalinya kita berhadapan dengan tragedi semacam ini, kita juga perlu ingat bahwa di bagian-bagian lain dunia juga ada tragedi-tragedi yang membutuhkan perhatian kita juga. Kapan terakhir kali kita keluar secara massal untuk memprotes kebijakan-kebijakan pemerintahan kita yang mendukung ketidakadilan di Palestina dan Iraq?

[2] Orang Kristen dan Yahudi menyadari bahwa ayat-ayat dalam kitab suci mereka dapat dipelajari secara analitis dan dievaluasi secara kritis. Sedangkan Islam, mengajarkan bahwa Quran adalah firman Allah yang terakhir huruf-per-huruf, diabadikan dalam surga selama-lamanya. Jadi, jika seseorang mengajarkan bahwa ayat-ayat tertentu dalam Quran harus diartikan “sesuai dengan konteks (situasi/kondisi) saat itu” dan tidak diambil secara serius, bukankah ini tidak hanya menyinggung, namun sebenarnya dan akhirnya juga menyimpang dari Islam?

Warraq:
Sangat sulit untuk menyamaratakan seluruh dunia Muslim dengan milyaran pengikutnya. Kebanyakan Muslim tidak mengerti bahkan satu katapun dari Quran karena bahasa ibu mereka bukanlah bahasa Arab. Bahkan orang Arab sendiri kesulitan karena bahasa Quran ini adalah merupakan sebuah jenis bahasa Arab Klasik yang sulit, yang berbeda dari beragam bahasa sehari-hari yang ada saat ini.

Jadi hanya sebagian kecil Muslim terlibat dalam diskusi mengenai apakah ayat-ayat tertentu harus dimengerti menurut konteks sejarahnya. Yang biasanya terjadi adalah bahwa bacaan-bacaan tertentu di dalam Quran biasanya tidak dihiraukan. Hanya beberapa saja negara-negara Islam yang secara harafiah mempraktekkan hukuman-hukuman kejam dan tidak lazim untuk kasus perzinahan, dan pencurian. Para dokter di Pakistan misalnya menolak untuk memotong tangan dan kaki pencuri. Berbicara dari sisi aqidah-theologi, alasan/argumen konteks sejarah itu tidak bisa diterima di dalam Islam.

AbuKhalil:
Setelah menerangkan kepada kita segala bentuk asumsi tentang Islam dan Muslim, Warraq tiba-tiba sadar di sini, mengingatkan bahwa memang tidak semua Muslim mengikuti seluruh ayat dari Al-Quran dan banyak yang sesungguhnya tidak menghiraukan perintah Quran. Kesadaran yang terlambat dari seorang sekuler pilihan kita.

Bagaimanapun, dasar dari pertanyaan ini adalah lemah secara aqidah/theologi. Kata “fundamentalisme” itu muncul pada awal abad ke-20 mengacu kepada kelompok-kelompok Protestan di AS yang berpegangan kepada penafsiran harafiah dari Alkitab. Di Islam, ini jauh lebih fleksibel, meskipun Islam mengakui memiliki kaum fanatik sendiri.

Tidak seperti Warraq, yang pengecut, tidak mau menolak “kebiadaban” dan fanatisme Barat, tapi hanya kebiadaban Islam, saya menentang diskriminasi jenis kelamin, intoleransi, eksklusifisme, fundamentalisme, fanatisme dalam Islam, Judaisme, Kristen, Hindu, Budha. Sebagai contoh, Islam mengharamkan dengan sangat segala minuman beralkohol, namun konsumsi alkohol dinikmati secara luas di Timur Tengah, dan ini akan mengejutkan mereka-mereka yang berpikir bahwa Muslim mengikuti Quran-nya dengan sangat ketat. Saya tidak membual, tapi saya lahir dari keluarga Muslim yang memiliki banyak keturunan pecandu alkohol.

Spencer:
Jawaban As’ad lemah secara logika. Pertanyaan disini bukan ttg “Fundamentalisme”. Fakta bahwa banyak Muslim tidak patuh kepada Quran juga tidak membuktikan apa2. Yang saya khawatirkan justru mereka2 yang patuh. Kecuali As’ad sanggup membuktikan bahwa TIDAK ADA SATU PUN Muslim yang menghiraukan Quran secara serius, Islam akan terus menghasilkan manusia-manusia yang berpikir bahwa kewajiban agama mereka memang untuk memerangi kaum non-Islam.

Pandangan Muslim tradisional adalah bahwa seluruh Quran berlaku secara sah dan untuk selamanya, termasuk ayat “Bunuhlah kafir di mana pun kau menemukan mereka” (Sura 9:5). Bunuhlah kafir jika mereka menolak masuk Islam atau tidak mau tunduk sbg warga kelas dua di bawah kekuasaan Islam.

AbuKhalil:
Lihat bahasa yang digunakan: “Pandangan Muslim tradisional”. Pandangan Muslim tradisional yang mana? Keempat lembaga tafsir hukum Muslim Sunni? Atau lembaga-lembaga Syi’ah yang sangat beraneka-ragam yang memberikan begitu banyak wewenang untuk mentafsirkan di banyak lembaganya? Cukuplah dengan penyamarataan.

Spencer:
Pandangan Muslim yang tradisional diutarakan oleh ya, keempat lembaga hukum Sunni, sebagaimana juga oleh Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Sunan Abu Dawud, Ibn Kathir, Ibn Juzayy, Tafsir al-Jalalayn, Ibn Taymiyya, Ibn Khaldun, Muhamad Muhsin Khan, S. K. Malik, dan lainnya yang pernah saya kutip. Semua mengatakan bahwa perang melawan non-Islam adalah keputusan akhir Quran yang tidak bisa ditawar2.

Anda yang seharusnya tahu sejarah Islam dan aqidahnya dan sumber2
lain yang mengatakan hal yang sama, seperti Averroes, al-Ghazzali, berbagai golongan Syi’ah, dsb.

Anda dengan sewenang-wenang tidak menghiraukan seluruh sumber-sumber di atas dan malah menuduh saya mampet dalam generalisasi. Kenapa sih anda tidak bisa berhenti membual, membacot dan mulai berbincang secara jujur?

Ayloush:
Spencer hendak men-tafsir ulang Al-Quran untuk menghadirkan kedengkiannya. Ayat-ayat yang dia kutip untuk menjelekkan Islam berkaitan dengan insiden bersejarah di mana suku-suku kafir Arab melanggar kesepakatan damai mereka dengan Muslim. Sewaktu kafir-kafir itu membunuh banyak Muslim yang tak bersalah dalam serangan mendadak mereka, Allah memberikan Muslim hak untuk membalas dendam dan menghukum para penyerang. Bahkan demikian, Allah berkata di dalam ayat-ayat selanjutnya bahwa jika mereka ber-taubat biarkanlah mereka bebas tanpa hukuman karena Allah itu Maha-Pengampun, Maha Penyayang. Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan lebih lanjut:

“Tidakkah kalian akan melawan orang-orang yang melanggar sumpahnya, bersekongkol untuk mengusir Rasul, dan yang menyerangmu pertama-tama? Apakah kalian takut kepada mereka? Tidak, hanya Allah yang harus lebih kalian takuti, jika kalian percaya!” (9:13)

Omong-omong, bagaimana orang bisa mengharapkan suatu yang seimbang dari dalam penjelasan Islam seorang Islamofobis? Ini sama seperti meminta seorang anti-Semit berbicara kepada kita mengenai Yahudi dan Judaisme.

Dan untuk pertanyaan yang diajukan, Islam barangkali adalah salah satu agama yang memakai sebuah proses berdasar ilmu pengetahuan untuk menganalisa naskah dan pentafsiran, sebuah proses yang dikenal sebagai Ijtihad. Menurut ulama ahli Islam, pendapat-pendapat beragama (Fatwa) adalah subjek yang bisa diganti-ganti dalam kaitannya dengan waktu dan tempat. Sementara Islam menetapkan aqidah dasar yang berurusan umumnya dengan masalah-masalah iman, nilai-nilai moral, hak-hak individu dan masyarakat, dan ritual ibadah, Islam mengizinkan banyak fleksibilitas untuk membentuk banyak jenis peraturan dan hukum yang berurusan dengan masyarakat, politik, ekonomi, dan aspek-aspek hidup lainnya. Aturan dasarnya adalah bahwa hukum harus membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat yang dibimbing oleh nilai-nilai Islam.

Spencer:
Saya berulang-ulang mengutip alim-ulama Muslim ahli guna menunjukkan bahwa saya tidak menghadirkan tafsir pribadi saya, namun semata-mata
melaporkan apa yang menjadi pengertian umum Muslim.

Ibn Kathir berkata bahwa ayat yang saya kutip di atas, Sura 9:5, “membatalkan semua kesepakatan damai antara sang Nabi dengan seluruh kafir”. Ibn Juzayy juga setuju bahwa salah satu fungsi Sura 9:5 ialah “membatalkan setiap perjanjian damai di dalam Al-Qur’an”. Ini berarti perang adalah keputusan final Al-Qur’an.

Ahmad Von Denffer menyebut penjelasan Ibn Kathir sebagai “yang lebih lazim” dan “buku-buku tafsir yang lebih berharga….. sangat-sangat penting untuk Muslim”. Ulama Muslim lain-lainya juga menambahkan “mayoritas umat Muslim di dunia sekarang ini menganggapnya sebagai sumber yang terbaik untuk mengerti naskah Quran”.

Yusuf Patel berkata bahwa “beberapa orang mengatakan bahwa [ayat ini] mengacu kepada Bani Khuza’a yang sebelumnya adalah merupakan sekutu dari sang Nabi, yang dibantai oleh Bani Bakr” – dalam kata lain, hanya kelompok kafir satu inilah yang harus diperangi, bukan semuanya. Namun Patel berkata: “Ibn Juzayy menambahkan kepadanya sebuah arti luas dan Ibn Kathir juga berpegang kepada pandangan ini. Jadilah ini sebuah janji kemenangan bagi Muslim atas kaum Kuffar [non-Muslim]”.

Ibn Kathir, Ibn Juzayy, Von Denffer, dan Patel adalah ulama ahli Muslim: dua dari abad pertengahan, dua lainnya modern. Namun ketika saya mengkutip mereka saya disebut sebagai seorang Islamofobis? “Fobia” bukanlah sebuah kebencian tetapi "ketakutan", dan saya tidak takut kepada anda dan kampanye fitnah dan intimidasi anda. Dengan cara memfitnah orang-orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara tulus seputar Islam dan ketimbang menghadapi akar-akar terorisme dan bekerja untuk membasmi mereka, anda sebenarnya membuka jalan bagi kemenangan akhir Islam versi kaum teroris.

Ayloush:
Ayat-ayat yang saya kutip adalah bersifat menjelaskan diri sendiri (self-explanatory). Dan bahkan Ibn Kathir yang anda kutip dgn pilih-pilih itu dalam tafsirnya berkata bahwa Muslim tidak terikat kewajiban apa pun terhadap kaum penyembah berhala setelah mereka melanggar perjanjian dengan Muslim dengan cara menyerang. Ia juga menambahkan bahwa Allah secara jelas memerintahkan Muslim dalam ayat 48:26 untuk menjaga kesepakatan-kesepakatan dengan mereka yang berpegang kepada kata-kata mereka. Itu adalah keadilan sesungguhnya. Apakah kita salah menyatakan perang kepada Jepang setelah serangan Pearl Harbor? Apakah kita harus diam berpangku tangan menunggu serangan berikutnya?

[3] Ada beberapa pihak yang mempertanyakan apakah dalam sebuah masyarakat Islami kebebasan dan demokrasi itu dimungkinkan. Dalam sebuah gambaran masyarakat Muslim “liberal” yang futuristik, mungkinkah seorang wanita diperkenankan menjalankan keinginan-hatinya secara bebas dan menjadi seorang wanita yang melakukan sex bebas – tanpa rasa takut akan dianiaya atau disakiti oleh yang penguasa berwenang? Jika jawaban atas pertanyaan tersebut adalah “tidak”, bolehkah seorang pengamat yang kritis meng-iya-kan bahwa definisi “kebebasan” dari kedua kebudayaan kita ini memang berbeda?
Bukankah kebebasan individu terkait secara kompleks pada kebebasan-kebebasan politik yang demokratis dan mendasar?

AbuKhalil:
Jalur pertanyaan ini menyimpang dari topik sexist Moderator. Perhatikan bahwa kebebasan-kebebasan wanita disamakan dengan perilaku “seks bebas”. Kebebasan adalah kebebasan, tentu saja. Dan mohon, janganlah kita membahas topik ini dengan cara membandingkan antara Yang Ideal di Barat dengan Yang Sesungguhnya di Timur. Di AS, sekitar 30% wanita menjadi korban kekerasan domestik sedikitnya sekali dalam hidupnya. Jadi kita-kita ini seharusnya jangan berkotbahlah.

Ya, saya percaya bahwa Islam itu kompatibel dengan aturan main politik apa pun (demokratis maupun yang tyranikal) karena umumnya Islam tidak berkomentar terhadap pertanyaan aturan politik. Jadi, jutaan Muslim (termasuk yang fundamentalis dan yang alim) tinggal di negara-negara terbebas di dunia (Swedia, Denmark, Iceland, dsb.) dan tidak seorang pun mempertanyakan Islam mereka sebab mereka tinggal di dalam masyarakat yang bebas. Jadi jika seorang wanita dapat menjadi Muslim di Swedia, mengapa tidak dia juga bisa menjadi Muslim yang sama derajatnya di sebuah negara Mesir yang bebas?

Moderator:
Topik sexist Moderator? Pertanyaan ini menyamakan kebebasan perempuan dengan perilaku seks bebas? Tunggu sebentar. Supaya semua orang tahu, saya juga bisa saja meng-ideal-kan Bunda Theresa – dan celibacy. Jadi, daripada mengarahkan ini kepada saya, baiklah kita umpamakan bahwa saya menentang perilaku seks bebas wanita. Anggaplah saya ini anti-sex. Walau bagaimana, saya masih sadar bahwa ini bukan urusan saya, sebab kebebasan wanita di dalam masyarakat yang betul-betul demokratis berarti hak menjalani kehidupan pribadinya. Jadi, daripada menjelekkan Moderator, mohonlah jawab saja pertanyaan ini, Prof. AbuKhalil: mungkinkah wanita hidup bebas dari rasa takut dianiaya di dalam sebuah masyarakat Islam?

AbuKhalil:
Bagi saya, debat itu ya debat, dengan siapa saja, termasuk Moderator. Dan saya tidak setuju bahwa kebebasan wanita dari sudut apapun harus disusutkan sampai menjadi masalah perilaku sex ‘bebas’. Kenyataannya, sebagai seorang feminis militan, saya menolak total konsep ‘sex bebas’
dan berpendapat bahwa perilaku sex seorang wanita tidaklah relevan. Dan anda menyebut Ibu Theresa: ini contoh yang bagus: Jika ibu Theresa memang benar seperti itu, tapi juga diketahui banyak berhubungan sex, saya meragukan jika akan banyak menerima pujian seperti yang dia
terima sepanjang hidupnya. Jawaban yang spesifik untuk pertanyaan anda adalah, ya ADA wanita-wanita Muslim yang berperilaku sex bebas, dan mereka biasa-biasa saja, terus hidup.

Di desa tempat keluarga saya berasal di Lebanon Selatan, pernah ada seorang wanita yang sudah menikah tapi yang secara terbuka melakukan selingkuh dengan seorang dokter yang jauh lebih muda, dan mereka bepergian bersama-sama.

Moderator:
Lebanon Selatan?? Maaf, tapi saya tidak yakin bahwa Lebanon Selatan
adalah contoh masyarakat Arab Muslim layaknya. Di wilayah-wilayah seperti Saudi Arabia dan Iran, perilaku “bebas” semacam wanita itu akan membawa hukuman sangat berat. Dan sekarang saya kembali ke pertanyaan semula: mungkinkah kaum perempuan bebas menjalankan pilihan hidup pribadi mereka, baik yang kita setujui maupun tidak, di dalam sebuah masyarakat Muslim Arab tanpa rasa takut akan dihukum?

AbuKhalil:
Taktik licik basi kaum Barat yang bermusuhan dengan Islam dan Arab. Mereka memilih untuk hanya menggunakan contoh-contoh dari Iran dan Saudi Arabia. Biarlah saya mengagetkan mereka: Ya, saya tetap berpegang kepada contoh saya dari Lebanon Selatan. Itu adalah contoh yang jauh lebih mewakili Islam daripada Saudi Arabia. Kebanyakan Muslim hidup dalam kondisi yang fleksibel dan pragmatis, dan aturan-aturan ketat dan legal semacam itu tidak ditemukan di Saudi Arabia. Saudi Arabia dan bahkan Iran adalah contoh-contoh yang ekstrim. Kebanyakan Muslim tinggal di Indonesia, Pakistan, India, Egypt, etc. Dan ya, banyak yang berhasil melakukan sex haram dan tetap hidup. Anda cuma mendengar tentang kasus-kasus di negara2 yang menindas itu.

Moderator:
Terima kasih Prof. AbuKhalil, sebenarnya saya juga tahu di mana kebanyakan Muslim tinggal. Hanya saja saya belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya yang spesifik. Walaupun demikian, secara khusus saya tertarik dengan bagian dari jawaban anda yang menyombongkan bahwa banyak Muslim “berhasil melakukan sex haram dan tetap hidup”. Apakah kita yakin bahwa ini benar menjawab keraguan kita? Bukankah keprihatinan kita seharusnya diperuntukkan bagi umat manusia yang tidak dapat menikmati kebebasan tanpa dizalimi atau, dalam kata2 anda, "tetap hidup"?

Spencer:
Maaf, namun saya ragu bahwa seorang Muslim harus mengangkat Lebanon Selatan sebagai model masyarakat Islam. Sudah sangat diketahui umum di Saudi Arabia bahwa Beirut-lah tempatnya jika anda mau berbuat dosa – yakni, sebuah daerah berbahaya bagi kaum Muslim yang alim. Pertanyaan ini sesungguhnya adalah tentang kebebasan untuk TIDAK menjadi Muslim di dalam masyarakat Muslim. Dan kebebasan itu paling banter cuma bersifat gamang/tidak meyakinkan dan malah tidak ada sama sekali di sejumlah wilayah (khususnya teman dan sekutu kita Saudi Arabia).

Menarik untuk dicatat bahwa negara sekuler Turki didirikan oleh Ataturk sebenarnya menentang Islam. SEMUA negara-negara sekuler dalam Dar’ul Islam ada di bawah tekanan Muslim yang beranggapan bahwa negara itu tidak Islami jika tidak diatur Syariah. Wanita Lebanon Selatan anda itu akan dirajam jika dia di Saudi Arabia, di wilayah Muslim Nigeria, Iran dan banyak lagi wilayah-wilayah sarang Islam. Di wilayah Dubai yang “moderat” itu dia cuma akan dipenjara, seperti halnya wanita Perancis, Touria Tiouli, yang difitnah melakukan percabulan.

AbuKhalil:
Ini adalah pelajaran geografi untuk Spencer: Beirut itu bukan di Lebanon Selatan. Lebanon Selatan dalam pengertian relatif adalah tempatnya tradisionalisme dan contoh saya itu masih berlaku. Catatan bahwa mereka akan dihukum di negara-negara yang anda sebut, memperlihatkan bahwa musuh-musuh Islam dan Arab hanya terobsesi dengan pengecualian-pengecualian yang ekstrim, dan tidak mau mencari kebenaran atau data yang benar mewakili. Ini sama saja seperti mengatakan bahwa karena beberapa Gereja adalah anti-Semit, semua Kristen itu sifatnya anti-Semit. Dan apapun hukum yang diberlakukan di Saudi Arabia atau Iran, yang harus dipersalahkan adalah pemimpin-pemimpin negaranya yang tidak ditunjuk rakyatnya, dan bukan agamanya atau budayanya wilayah tersebut.

Spencer:
Terima kasih, As’ad. Dalam banyak diskusi saya dengan orang-orang Kristen Arab yang rumah-rumahnya di-bulldozer dan tanahnya dirampas oleh Muslim, saya sangat hafal dengan lokasi Beirut dan geografi umum Lebanon.

Jadi, apakah anda membantah bahwa hukum-hukum di Saudi Arabia dan Iran didasarkan kepada Syari’ah, yang isinya tidak pernah berubah-ubah
dan yang selalu tersedia untuk dijalankan kapanpun, dimana saja, oleh
pemerintahan Muslim manapun yang memilih dan memiliki kusa untuk melakukannya ? Jadi ini semua bukannya pengecualian, namun memang begitulah aturannya dimanapun Syariah berkuasa. Saya juga sebutkan Saudi Arabia, Nigeria, Iran, dan Dubai, tapi anda hanya mengacu kepada Saudi Arabia dan Iran. Bagaimanapun, dua wilayah yang lain itu menunjukkan bahwa Syariah itu adalah universal sifatnya.

Ayloush:
Pertama, menurut saya adalah sangat penting untuk menitikberatkan
bahwa penghormatan Islam terhadap kebebasan dan harga-diri manusia tertanam di dalam naskah-naskah religius dan penjelasan-penjelasannya. Sewaktu seorang Muslim zaman awal ditanya untuk menjelaskan misi Islam, dia menggambarkannya sebagai sebuah gerakan untuk membebaskan umat manusia dari penindasan jasmani, rohani, dan akal-budi.

Kedua, pertanyaan diskusi ini menunjukkan salah-pengertian dan bias tentang Islam yang ada saat ini. Marilah saya tanya anda dengan jenis pertanyaan yang sama. Dalam USA kita sendiri ini, bisakah seorang wanita dapat menjalankan kehendak bebasnya dan berkeliaran telanjang atau berperilaku sex bebas secara liar di muka umum jika itu yang dia mau – tanpa rasa takut akan disakiti atau dianiaya oleh yang berwajib? Jawabannya adalah TIDAK. Perempuan ini kemungkinannya akan berakhir di penjara dengan tuduhan pelanggaran norma umum. Mengapa? Sebab tidak ada satu masyarakatpun yang akan membiarkan seseorang untuk melanggar hukum yang disetujui oleh kaum mayoritas. Saya yakin bahwa wanita dlm contoh kasus saya ini akan berpikir bahwa hukum
ini melanggar kebebasan pribadinya, namun, ini adalah keinginan dari mayoritas dalam masyarakat kita. Seperti itu juga, seorang WTS dari Nevada akan menghadapi masalah besar apabila dia mencoba menjalankan perjudian dan pelacurannya di California! Apakah ini membuat “definisi kebebasan antara masyarakat di Nevada dan di California menjadi bertolak belakang?”

Hanya karena mayoritas di sebuah negara memilih hukum yang berbeda dengan kemauan kita, itu tidak akan membuat kita menjadi sebuah kebudayaan yang tidak sesuai. Tidak adil, dan sangat chauvinistik, untuk melihat dan menilai masyarakat dan kebudayaan lain hanya berdasarkan pengertian dan nilai-nilai kita saja. Kita tidak memiliki monopoli atas nilai-nilai absolut. Kita perlu belajar, mengerti, dan menghormati budaya-budaya lain.

Spencer:
Bpk. Ayloush, akhirnya kita sepakat. Pertanyaan aslinya adalah “bolehkah seorang pengamat kritis meng-iya-kan bahwa definisi 'kebebasan' dari kedua kebudayaan kita ini memang betul berbeda?" Anda baru saja mengiyakannya. Dan memang demikian, situasi dari kebanyakan wanita di AS sangat berbeda dari, katakanlah, Pakistan. Menurut Amnesty International, “Menurut Badan Ilmu Kedokteran Pakistan, lebih dari 90% wanita yang sudah menikah melaporkan sudah ditendang, ditampar, dipukul, atau dilecehkan secara seksual sewaktu para suami tidak puas dengan masakan atau pekerjaan bersih-bersih mereka, atau ketika para wanita itu telah ‘gagal’ memberikan anak atau melahirkan anak perempuan dan bukan laki-laki”.

Saya sangat menghormati budaya lain tapi saya yakin anda tidak akan setuju dengan saya. Sekarang mohon terangkan kepada kami apa yang akan anda lakukan untuk menghilangkan pengaruh ini pada kaum lelaki, dari Sura 4:34: “Perempuan baik karena itu adalah penurut… dan (sebagai untuk) mereka yang kalian khawatirkan akan meninggalkanmu, nasihatilah mereka, dan tinggalkan mereka sendiri dalam tempat-tempat tidurnya dan pukullah mereka”. Mohon jelaskan bagaimana kelakuan ini bisa dihapus selagi Al-Quran malah meridhoi-nya. Saya tahu bahwa ada penafsir-penafsir Muslim yang memperingati para suami untuk memukul istri-istri mereka secara ringan saja, namun tentu “secara ringan” bagi seseorang bisa berarti beda kadarnya bagi orang yang lain. Ini sama sekali bukanlah pembebasan dari “penindasan jasmani, rohani, dan akal-budi”. Mohon katakan kami bagaimana ini bisa dihilangkan dari Islam. Dan ingatlah: menunjuk kepada kekerasan domestik di Barat bukanlah jawaban dari pertanyaan. Menunjuk dosa orang lain tidak akan membenarkan dosamu sendiri!

Ayloush:
Tidak, maaf, kami tidak setuju dengan ini. Hak asasi Manusia adalah absolut bagi semua, tanpa memandang ras, jenis kelamin, dan agama. Dan sementara konsep ini secara relatif adalah baru bagi kita di Barat ini, ini sudah menjadi topik yang tertanam lama dalam hukum-hukum Islam dan prakteknya selama 1400 tahun terakhir. Sayang sekali, banyak negara sekarang yang mayoritas penduduknya Muslim mengganti hukum-hukum itu dengan hukum-hukum Perancis dan Inggris; dari situ, mengingkari banyak hak-hak penduduknya. Tidak ada (mungkin kecuali Spencer) yang menganggap Islam bertanggung jawab akan hal ini.

Sebagai tambahan, Muslim diperintahkan untuk menuruti teladan dari Nabi Muhamad sebagai pedoman hidupnya. Nabi tidak pernah memukul satu pun dari isti-istrinya dan sesungguhnya dia mengutuk mereka yang melakukannya. Beliau ini digambarkan sebagai seorang suami dan ayah yang pemerhati dan penyayang. Ulama ahli dulu maupun sekarang menunjuk kepada hal ini dan mengambil posisi yang sangat keras terhadap kaum suami imoral tersebut yang telah melecehkan istri-istri mereka.

Menghubung-hubungkan pelecehan wanita sekarang di sejumlah masyarakat miskin tertentu dengan Islam bukanlah hal yang tidak terpikirkan oleh seseorang macam Bpk. Spencer. Maukah anda menghubungkan pelecehan yang sama di negara kita ini dengan Bible yang berkata:

1 Timotius 2:11-14 “Biarlah perempuan belajar diam dan penurut. Tapi aku tidak mengizinkan seorang perempuan untuk mengajar, atau untuk mengambil-alih kekuasaan dari laki-laki, tetapi supaya diam tenang. Karena Adamlah yang pertama diciptakan, lalu Hawa. Dan bukan Adam yang diperdayai, namun perempuanlah yang diperdayai tinggal dalam pelanggaran”.

Atau doa umat Yahudi Orthodox baik kaum laki-laki:

“Diberkatilah Tuhan Raja semesta alam bahwa Engkau tidak menciptakanku sebagai perempuan”.

Semua naskah semacam itu tidak pernah menjadi alasan untuk melakukan kekerasan apa pun terhadap perempuan. Orang-orang jahat akan menggunakan alasan apa pun untuk melakukan kejahatan.

Moderator:
Misterius sekali mengapa sulit betul mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya yang sederhana. Biarlah saya mencobanya lagi:

Hussam, dengan segala hormat, saya tidak berbicara mengenai prostitusi, ataupun eksposure cabul. Saya sedang menanyakan, sekali lagi: jika seorang wanita memutuskan, dengan pilihannya sendiri, bahwa dia akan mulai menjalani kehidupan sex suka-sama-suka dengan orang dewasa lainnya, pria ataupun wanita, di dalam privasi rumah mereka sendiri, dan dia melakukan ini dengan sering, dan ini menjadi berita umum, dan semua orang tahu, apakah wanita ini akan aman dari rasa takut akan penganiayaan dari negara di sebuah masyarakat Muslim mana pun yang secara taat melaksanakan Hukum Syari’ah? Ya atau Tidak? Saya tidak perlu mendengar tetek-bengek bahwa di Barat pun ada “penindasan” dan seterusnya. Saya hanya ingin pertanyaan sederhana saya terjawab.

Kedua, bukankah sangat penting bagi kita untuk menilai budaya orang lain? Kalau seorang laki-laki dapat dibebaskan dari tuduhan pembunuhan terhadap seorang wanita yang oleh budaya setempat dianggap “merusak” nama baiknya, tidakkah kita berhak untuk berkata bahwa ini salah? Ketika seorang perempuan dihukum penjara atau dihukum mati karena tuduhan-tuduhan ”perzinahan”, tidakkah kita berhak untuk mengatakan ini salah? Ketika klitoris seorang gadis muda dipotong di dalam budaya yang menganggap bahwa itu “lebih bersih” dan “lebih sehat”, tidakkah kita memiliki hak dan kewajiban untuk menilai kultur tersebut? Jika orang-orang kulit hitam tidak dapat pergi ke tempat-tempat tertentu karena budaya masyarakat tsb menganggap orang-orang hitam sbg terhina,
tidakkah kita berhak untuk mengatakan bahwa ini salah?

Ada kebenaran-kebenaran mendasar tertentu di sini, ya kan? Hussam, apakah benar vdugaan saya bahwa anda membela Islam berdasarkan teori relativitas, namun berbeda saat menilai masyarakat Barat ?

Mohon hadapilah kedua bagian dalam pertanyaan yang agak berputar-putar ini.

Ayloush:
Di dalam skenario spesific yang anda hadirkan, wanita ini tidak akan dihukum karena perzinahan (kecuali jika dia telah mengundang empat saksi yang mau bersaksi menghadapinya tentang persetubuhan sebenarnya yang terjadi). Dalam Islam, hukuman adalah upaya terakhir untuk melindungi masyarakat. Fokus utama Islam adalah pencegahan dan pembangunan nilai-moral di dalam masyarakat. Peran dari hukuman adalah untuk mencegah. Sebagai contoh, hukum Islam melarang penggunaan obat terlarang dan alkohol, namun tidak akan menghukum seseorang yang melakukan “dosa” ini jika ini dilakukan sembunyi-sembunyi di dalam rumah seseorang tanpa mencoba untuk mengajak orang lain. Bukti-bukti yang dikumpulkan lewat jalan memata-matai tidak diizinkan di dalam persidangan Islam.

Tapi masalah dari pertanyaan anda adalah bahwa anda menolak untuk memberikan masyarakat-masyarakat Islam hak untuk membuat hukum mengenai apa yang dapat diterima ahlak-moral atau yang tidak. Islam memegang dan mempromosikan nilai-nilai universal yang melindungi hak-hak asasi manusia (Muslim dan non-Muslim) dalam hubungannya dengan hak untuk memiliki harga-diri, keadilan, kesejahteraan, kepribadian, dan harta-benda pribadi, kebebasan berpendapat dan agama. Tidak ada hukum buatan manusia mana pun yang dapat mencabut atau menggoyahkan hak-hak pemberian Allah itu. Namun, hukum-hukum dapat disetujui untuk mengatur implementasi dari hak-hak tersebut, sebagaimana juga yang terjadi di setiap negara. Di negara kita misalnya, walaupun kita memiliki kebebasan berbicara, memfitnah orang lain itu tetap illegal. Walaupun kita memiliki kebebasan berpendapat, telanjang di muka umum atau merokok marijuana dapat membuang anda ke dalam penjara. Walau ada kebebasan untuk memilih jenis pekerjaan, prostitusi itu masih illegal di banyak negara bagian. Walau kita memiliki kebebasan beragama, bahkan pembangunan gereja yang sederhana masih memerlukan izin dari lingkungan tetangga yang “terpengaruh”. Kita juga mengatur toko-toko minuman keras jauh dari sekolah, kadar alkohol dalam darah pengemudi, isi gambar dari televisi, jenis-jenis hukuman bagi pembunuh, dst. Ini bukan tidak masuk akal atau tidak adil. Masyarakat memiliki hak untuk mengatur urusan-urusannya.

Dan anda benar, kita memiliki hak untuk menilai dan mengkritik kultur-budaya lain ketika mereka melanggar hak asasi manusia, seperti pada contoh-contoh yang anda pilih. Membunuh orang tak bersalah, rasisme, dan ketidakadilan tidak pernah boleh diizinkan, bahkan jika sebuah kultur mentoleransikan hal itu. Namun ketika sebuah perbedaan budaya bukan sebuah pelanggaran atas hak-hak asasi seperti di atas, kita harus menghormatinya dan menghargai perbedaan di antara kita.

Spencer:
Kecuali jika dia (wanita itu) telah “mengundang empat saksi-mata untuk bersaksi melawannya”? Apakah anda serius? Saya harus mencatat bahwa lebih sering saksi-saksi ini tidaklah diundang oleh wanita tersebut. Juga, saya memperhatikan dengan seksama bahwa anda dengan ini telah membenarkan point-point saya sebelumnya mengenai hak-hak perempuan dan jahatnya persyaratan empat saksi-mata. Lebih dari itu, saya betul-betul sadar bahwa di Saudi Arabia dan dimanapun kesaksian dari para mata-mata DIIJINKAN (diakui) dalam kasus tuduhan terhadap peminum (alkohol).

“Hak Asasi Manusia” dalam konteks yang Islami dapat berarti sesuatu yang sangat berbeda dari yang ada di Barat, seperti yang dijelaskan Duta Besar Iran untuk PBB beberapa tahun lalu, Sa’id Raja’i-Khorassani. Dia mengatakan bahwa konsep HAM sebetulnya asli ‘penemuan Yahudi-Kristen’, asing bagi Islam. Khomeini menentang persetujuan Shah atas Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Bersama HAM) sebagai salah satu “dosanya yang paling menjijikkan”.

Saya sadar bahwa ini bukanlah sudut pandang setiap Muslim. Namun apakah sudut pandang ini pernah dihilangkan dari Islam?

Ayloush:
Sudut pandang ini tidak pernah menjadi bagian dari Islam. Dubes PBB berhak untuk mengutarakan pandangannya sendiri. Lebih lanjut, Islam tidak bersalah atas praktek-praktek keliru para pengikutnya di Saudi Arabia atau di tempat lain mana pun di dunia; ini sebuah point yang tampaknya sulit bagi anda untuk menerima.

Moderator:
Bapak-bapak, sangat menyesal, kita kehabisan waktu lagi. Tapi setiap orang akan punya kesempatan untuk mempertahankan posisi mereka lebih jauh dan untuk membuat lebih banyak komentar dalam babak berikut dari final-nya dari Symposium Islam besok hari. Sampai jumpa lagi.

TAMAT BAGIAN II
Last edited by Moderator 3 on Wed Dec 14, 2005 6:32 pm, edited 1 time in total.
Moderator 3
Site Admin
Site Admin
 
Posts: 572
Images: 1
Joined: Tue Sep 13, 2005 8:53 pm

Postby Moderator 3 » Wed Dec 14, 2005 6:30 pm

Diterjemahkan "Volunteer"
Posted: Mon Nov 21, 2005 3:16 am
Post subject: DEBAT: Islam, Agama DAMAI atau PERANG? Bagian III (Tamat)

--------------------------------------------------------------------------------
BAGIAN III: APAKAH ISLAM MEMANG AGAMA DAMAI ???
http://www.frontpagemag.com/Articles/Re ... sp?ID=6486

Babak III: Hak Berbeda Pendapat, Komedi (Lelucon yang mengkritik) dan Burqa (Kain selubung untuk perempuan)
Oleh Jamie Glazov
FrontPageMagazine.com | March 6, 2003

Selamat datang kembali di Simposium Islam. Dalam kedua bagian pertama (Bagian I dan II) dari tiga serial ini, para tamu kita telah berdebat tentang apakah Islam itu memang agama damai ataukah agama perang dan apakah Islam cocok dengan hak memilih pribadi dan hak-hak demokratis.

Hari ini, akan kita akhiri dengan diskusi mengenai hak untuk berbeda pendapat secara politis dan bahwa olok-olok/kritik pedas (terhdp Islam maksudnya) dan canda introspeksi diri itu kelihatannya tidak dikenal di dalam kebudayaan Islam, dan akar-akar serta arti dari burqah.

Sekali lagi, bergabung bersama kami adalah:
Ibn Warraq, pengarang “Why I am Not a Muslim (Mengapa Saya Bukan Muslim)”;

Hussam Ayloush, (tokoh cendekiawan Muslim) direktur eksekutif dari Council on American Islamic Relations (CAIR) bagian Kalifornia Selatan;

Robert Spencer dari Free Congress Foundation dan pengarang “Islam Unveiled (Islam Tanpa Selubung):

As`ad AbuKhalil, professor ilmu politik di California State University at Stanislaus, dan asisten professor pada Pusat Studi Timur Tengah di University of California at Berkeley, pengarang buku “Bin Laden, Islam, and America's New War on Terrorism”.

---------------------------------------------------------------------- ----------
[4] Mungkinkah sebuah masyarakat Muslim “liberal” yang saya andai-andaikan akan memperbolehkan sebuah partai politik yang tujuan utamanya adalah untuk merayakan kebebasan bertelanjang (contoh ekstrimnya-lah) dan secara bersamaan menolak terang-terangan dan mengolok-olok agama Islam?

Apakah mungkin bagi seseorang utk dimuka umum berpidato bahwa Al-Quran itu cuma khayalan belaka? Mungkinkah dia melakukan ini tanpa rasa takut akan dianiaya pihak berwenang? Mungkinkah dalam dunia Muslim dapat eksis pakar2 (spt di AS : semacam Noam Chomsky, Bell Hooks, Cornell West, dll.) yang mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk menentang habis nilai-nilai dari masyarakat Muslim milik mereka sendiri dan, bukannya dihukum, malah diberi penghargaan ?
Mungkinkah itu ?

Warraq:
Sederhana-nya anda mengatakan: apakah masyarakat Islam bisa menjadi betul-betul bebas seperti AS dengan toleransi-nya yang luar biasa terhadap segala jenis pola-gaya kehidupan dan kebebasan absolut dalam berekspresi mengeluarkan pendapat. Ya jelas tidak untuk jangka pendek, namun sudah ada organisasi-organisasi HAM di dunia Islam yang sangat gigih memperjuangkan hak-hak yang persis sama seperti yang kita nikmati dan kita hargai sekarang ini di Barat. Saya optimistik dengan hal ini.

AbuKhalil:
Barat memang dianggap sebagai surganya kebebasan, meskipun kebebasan tidak sama rata di semua wilayah Barat, seperti misalnya Swedia dan Denmark, yang memiliki lebih banyak kebebasan daripada negara-negara lainnya. Namun di AS, baru-baru ini ada seorang wanita yang beraksi telanjang di muka umum. Haruskah kita angkat kasus ini sebagai contoh penganiayaan? Ataukah ini hanya akan terjadi (dianggap penganiayaan) jika kejadian dan para penganiaya-nya berada di negara-negara Muslim?

Sekali lagi, orang mengeluhkan posisi-posisi ini tanpa memiliki pemahaman yang cukup tentang sejarah dari kebudayaan Islam. Saya tidak menyangkal bahwa dalam dunia Muslim saat ini memang ada penindasan politik yang parah, umumnya karena alasan-alasan politik dan bukan karena alasan-alasan budaya atau agama.

Dalam sejarah Islam, pernah ada pemikir-pemikir (Ibn Al-Muqaffa', AlHallaj, Ibn Rushd, Ibn AlRiwandi, dan abad ke-20, AlAzm, AzZahawi, Hadi Al-Alwi, dsb) yang merupakan pemikir bebas dalam segala hal.
Saya sendiri, bicara secara rendah hati, sudah menulis artikel-artikel yang keras dan tajam terhadap fundamentalisme dan keagamaan dalam bahasa Arab, dan saya masih tuh, bepergian di dunia Arab.

Adalah lebih berbahaya untuk meng-kritik keluarga-keluarga kerajaan, daripada meng-kritik agama dalam banyak kasus. Baru-baru saja, pemerintahan Yordania yang pro-AS mengadili tiga jurnalis karena mereka mendiskusikan secara terbuka seputar kehidupan seks Nabi Muhamad. Ini adalah keputusan politis (dan AS tidak peduli hal ini, sepanjang tentara-tentaranya diizinkan di sana). Islam zaman dulu, saya “khawatir”, bahkan lebih terbuka dari sekarang, walaupun memang ada kasus-kasus penganiayaan. Namun sekurangnya, orang dapat berdebat secara terbuka tentang aqidah [ah, apa iya non-muslim boleh komentar Islam seenak-udel ...? red], dan di Saudi Arabia yang pro-AS itu anda tidak bisa melakukan itu. Lihatlah betapa banyak pemerintahan yang menindas yang sekarang dilindungi AS, yang karenanya membuat AS ikut berdosa dalam penindasan bangsa Arab.

Spencer:
As'ad, lagi-lagi anda nyasar! Pertanyaan-nya adalah bukan mengenai kebijakan AS. Para pemikir bebas dalam masyarakat Islam selalui ditekan. Mengapa Al-Azm, “Si Murtad dari Damsyik” itu dulu dipenjara? Mengapa Hadi Al-Alwi mati di pengasingan ? Saya senang anda bisa bepergian bebas di dunia Arab. Namun pertanyaannya adalah: apakah itu dikarenakan hukum Islam, ataukah justru sebaliknya?

AbuKhalil:
Al-Azm orang Damsyik itu teman saya, dia atheis dan sekularis berani dan dia sekarang tidak dipenjara. Spencer, silahkan anda meng-update informasi dan cobalah untuk menggunakan sumber-sumber paling akhir. Dia masih menulis-koq, dan belakangan ini secara umum dia mengajukan petisi meminta Sadam supaya turun kuasa. Kini, dia tidak dipenjara.

Spencer:
As’ad, apakah anda benar-benar berniat lari dari ketidakjujuran dan distorsi semacam ini? Saya tidak pernah mengatakan bahwa Al-Azm itu ada di penjara saat ini. Saya bertanya mengapa dia dulu dipenjarakan. Atau apakah anda memang membantah bahwa dia sama sekali belum pernah dipenjara? Dan maukah anda menjelaskan kepada kami tentang mengapa dulu itu ia dipenjara? Karena menerbitkan sebuah buku tahun 1969 yang mengritik kekolotan Islam. Di Syria yang “sekuler”! Apakah anda mengingkari semua ini?

Ayloush:
Islam menganggap kebebasan berpendapat bukan hanya hak, tapi lebih
kewajiban setiap manusia. Adalah kewajiban agama mereka2 yang memiliki argumen, pengetahuan atau pengertian untuk berbicara, untuk menantang segala perilaku beragama, politis, ataupun sosial, penafsiran, atau penerapannya yang dinilai tidak sesuai atau tidak adil. Budaya berdebat ini sudah memenuhi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan ribuan volume dari segala jenis isu-isu yang kontroversial berkaitan dengan segala aspek dari Islam, ilmu pengetahuan, kesenian, dan filsafat, selama 14 abad belakangan ini.

Keterbukaan dalam dunia Muslim inilah yang terpelihara, berkembang, dan disebarkan ke sisa penjuru dunia. Kesenian, iptek, dan filosofi Yunani dan Romawi setelah dicap tidak bertuhan, dimusnahkan oleh bangsa Eropa. Pada masa di mana para ilmuwan dan ahli filsafat dituduh melakukan penghujatan di Zaman Kegelapan di Eropa, rekan-rekan sejawat mereka di dunia Islam malah menerima penghargaan dan rasa kagum untuk pekerjaan mereka, selama berabad-abad.

Namun demikian, saya harus akui bahwa dalam sejarah belakangan ini, banyak bagian dunia Muslim tenggelam dalam zaman kegelapan sosial dan intelektual modern. Ini bukan karena Islam. Ini adalah hasil dari lamanya masa para kolonialis dan pemerintahan-pemerintahan yang tidak demokratis yang mencoba untuk menekan setiap perbedaan pikiran atau pemikiran bebas di dalam masyarakat-masyarakat tersebut. Untungnya, lingkaran ini sekarang sedang dalam masa kemunduran bersamaan dengan munculnya kembali nilai-nilai asli Islam yang menentang ekstrimisme, intoleransi, dan ketidakberdayaan.


[5] Apakah ini hanya sebuah salah persepsi bahwa canda, lelucon, cemoohan terhadap Islam kelihatannya koq tidak ada di dunia Arab Muslim? Koq sulit-ya, sebagai contoh, untuk membayangkan sebuah klub komedi yang buka-bukaan, semacam komedi BET (di AS) di sebuah masyarakat Arab Muslim, dengan seorang wanita Arab Muslim di panggung dan melawakkan “hal-hal yang tidak pantaslah” dan membuat orang-orang jadi heboh – dan seluruh penonton malah tertawa terbahak-bahak?

Mengapa gambaran skenario macam ini sulit untuk dibayangkan? Dan apa artinya ini semua? Apakah kita sepakat bahwa humor, dan ekspresinya secara kreatif, spontan, berani, blak-blakan dan mungkin menghebohkan, ada kaitannya dgn kebebasan berdemokrasi ?

AbuKhalil:
Tidak ada orang yang mampu membaca tulisan Arab bisa membuat generalisasi (penyamarataan) semacam itu. Lelucon-lelucon telah menjadi senjata musuh sampai-sampai Nasser dari Mesir setelah th 67 memperingatkan akan (bahaya) lelucon. Ini juga dilakukan oleh tiranis Sadam. Cemoohan terhadap Sadam dan tiran-tiran lainnya membanjir di Timur-Tengah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka, dan banyak pengarang buku dan pelawak telah menderita akibat cemoohan terbuka mereka melawan kondisi-kondisi politik yang ada. Mesir sangat terkenal oleh hal ini, dan mantan bintang komedi Arab Mesir ‘Adil Imam mendedikasikan seluruh isi film-nya (The Terrorist) untuk mengolok2 sifat-sifat dari aktivis fundamentalis Islam. Mohon, sebelum menghakimi orang Arab dan Muslim, belajarlah dulu sedikit mengenai mereka.

Moderator:
Prof. AbuKhalil, tentu saya sangat menyadari bahwa semua orang di seluruh dunia senang bergurau dan humor – termasuk para Arab Muslim. Pertanyaannya adalah mengapa sebuah bentuk banyolan dan lelucon yang spontan dan blak-blakan kelihatannya hilang dari fenomena budaya di banyak sekali wilayah kaum Arab-Muslim. Jadi saya menanyakan kembali: mengapa sulit yah, untuk membayangkan group komedi yang blak-blakan, semacam BET comedy (di AS) di sebuah masyarakat Arab Muslim, dengan wanita Arab Muslim di atas panggung melawakkan “hal-hal yang tabu” dan menghebohkan masyarakat – dan semua hadirin malah tergelak-gelak ketawanya? Mengapa skenario semacam ini sulit untuk dibayangkan? Dan apa arti ini semua?

AbuKhalil:
Barangkali skenario semacam itu sulit untuk dibayangkan karena anda tidak bisa bahasa Arab, dan tidak mampu mengikuti event-event budaya di Beirut atau Kairo atau bahwa Damaskus, di mana para komedian sering menentang penguasa dan kebijakan-kebijakan dan keluar batas. Di Lebanon, ada banyak sekali nightclub di mana para pelawak menggunjingkan hampir siapa saja dan tentang apa saja, dan sering bahkan di depan para pejabat yang jadi hadirin.

Moderator:
Lebanon?? Apa kita yakin bahwa Lebanon bisa mewakili masyarakat Muslim Arab? Bukankah skenario yg saya sebutkan ini tidak mungkin terjadi di wilayah-wilayah di mana hukum Syari’ah dipakai sebagai pegangan hidup beragama dan berbudaya?

Spencer:
As’ad, para pelawak anda mungkin memang terkenal, namun anda tidak berkata bahwa mereka bekerja di Jeddah atau Qom. Pertanyaan ini sebenarnya mengacu kepada sifat asli Islam, betul tidak? Bagaimana pun, Imam Khomeini berkata: “Allah tidak menciptakan manusia supaya bisa bersenang-senang. Tujuan dari penciptaan adalah supaya umat manusia itu harus diuji melalui kesulitan dan ibadah. Sebuah rejim Islam haruslah serius di dalam segala hal. Tidak ada lelucon main-main di dalam Islam. Tidak ada humor dalam Islam. Tidak ada "fun" dalam Islam. Tidak mungkin ada fun dan rasa senang di dalam segala hal yang segalanya harus serius. Dan selain Khomeini, bukankah kritik-diri di tentang keras dalam Islam yang sering kali disertai oleh tidak ada-nya rasa humor?

AbuKhalil:
Sekali lagi, saya menyerahkan hal ini. Untuk para pengkritik yang tidak adil dan suka memukul-rata, kita akan selalu sampai di Jeddah dan Qom, di mana hanya kurang dari 1% dari seluruh umat Muslim yang hidup di sana. Anda berfokus pada pengecualian, oleh karena itu anda justru membenarkan saya.

Spencer:
Anda sebenarnya paham betul bahwa saya mengacu kepada Jeddah dan Qom sebagai contoh-contoh ideal masyarakat Muslim, bukan sekedar wilayah-wilayah khusus di mana lelucon diharamkan. Saya perhatikan
anda tidak menghiraukan Khomeini yang saya kutip di atas. Apalagi, beliau ini tidak melulu tinggal di Qom dan melakukan khotbah setiap Jumat di mesjid; dia itu adalah pemimpin negara Muslim yang besar. Ataukah semua mereka hanya menganggapnya sebagai orang aneh-sesat sewaktu dia sedang menyokong revolusi Iran 1979? Pertanyaan apakah yang menyebabkan seseorang dengan sudut pandang seperti yang dia punya itu bisa-bisanya menjadi pemimpin sebuah negara Muslim masih tetap belum terjawab.

Ayloush:
Saya heran dari mana anda bisa sampai memiliki kesan seperti ini. Islam sangat menitikberatkan pada pentingnya hidup yang berimbang. Nabi Muhamad sering mengingatkan para pengikutnya bahwa hidup ini bukan melulu ritual ibadah. Seluruh hidupnya adalah sebuah contoh dari keseimbangan ini. Sementara dia sebagai seorang pemimpin agama, seorang kepala pemerintahan, seorang suami, seorang ayah dan teman
banyak orang, dia juga berhasil menikmati dan membawa rasa senang kepada banyak orang di sekitarnya. Sunnah menceritakan kepada kita bahwa beliau ini mengundang para penghibur untuk mengadakan pertunjukan sirkus di dalam Masjidnya, beliau berlomba dengan istrinya, bercanda dan tertawa dengan para sahabatnya, beliau bermain dan mendorong yang lain untuk bermain dengan anak-anak mereka, dan termasuk para penyair di dalam para sahabat dekatnya.

Bahkan hingga kini, di segenap penjuru dunia Muslim (dan, dengan hormat, sangat jelas bahwa anda tidak punya pengetahuan nyata akan hal ini) anda akan menemukan banyak klub-klub komedi, pertunjukan, dan film. Sebetulnya, yang ringan-ringan ini adalah kebiasaan umum bahkan sampai di dalam khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah.

Dan tentang ucapan-ucapan yang “berani, blak-blakan, dan bahkan menghebohkan” itu bisa diterima atau tidak, ini membawa kita ke point yang sudah saya buat sebelumnya mengenai hak dari masyarakat untuk menentukan apa yang bisa diterima atau tidak, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang diharamkan.

Kanada dan kebanyakan negara-negara Eropa memiliki hukum-hukum mengenai pencemaran nama baik dan pelecehan pribadi atau kelompok yang ketat. Di Prancis contohnya, seseorang dapat didenda dan dihukum penjara karena melecehkan suatu agama. Bukankan Prancis sebuah negara demokrasi asli?

Sementara ajaran-ajaran Islam memperbolehkan semua orang untuk mempunyai hak memperdebatkan agama apa saja secara intelektual, pencemaran atau pelecehan terhadap Allah, suatu agama, atau nabi itu tidak diperbolehkan. Dan sekali lagi, hanya karena Islam berbeda dari praktek-praktek kita, tidak berarti kita berhak untuk merendahkannya.


Moderator:
Dan lalu apa yang akan terjadi, jika jenis2 kebebasan berpikir dan bertindak di luar pedoman-pedoman Islam dikategorikan sbg “pencemaran atau pelecehan terhadap Allah, suatu agama, atau nabi”?

[Perhatikan bagaimana manusia di bawah ini dengan lihai-nya memutar-mutar lidah demi menutupi borok kekejaman Islam: hukuman ideal di Islam bagi mereka yang dianggap melecehkan Islam adalah jelas MATI -- Red]

Ayloush:
Ini betul-betul tidak realistis! Jenis-jenis ucapan dan pemikiran seperti demikian hanya merupakan bagian terkecil dari setiap perbincangan dalam masyarakat. Persentasi orang-orang yang ingin terlibat dalam penghinaan dan “pencemaran” agama, nabi, atau tuhan orang lain sangatlah kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang akan merasa terhina atas aksi-aksi mereka tersebut. Karena itu, minoritas yang “secuil” ini harus mau terima kemauan mayoritas yang sangat lebih besar dan kalau mau “mengejek” cari saja orang lain untuk dijadikan korban supaya mereka bisa membuktikan kepintaran mereka!

Saya bingung koq anda menemukan ini sebagai hal yang aneh sedangkan hukum-hukum yang sejenis ada di kebanyakan negara-negara Barat (Eropa dan Kanada khususnya) [apa sampai siksa-siksaan/mati? – Red] dan bukanlah cuma ada di Islam.

Apakah ini OK sementara hukum-hukum sejenis boleh dipakai oleh orang Barat sedangkan kalau dipakai Muslim akan menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan? Mengapa kita menganggap diri kita ini mempunyai hak atau kewajiban untuk mengajari Muslim sedangkan kebanyakan dari kita tahu juga cuma sedikit, malah gak tahu apa-apa, tentang Islam; ketika kebanyakan dari kita menganggap sama ajaran-ajaran Islam dengan perilaku budaya yang dijalankan oleh para Muslim, Nasrani, dan Yahudi di bagian dunia yang dimaksud itu?

Mengapa kebanyakan dari kita mendapatkan informasi tentang Islam dari sumber Islamofobis semacam Tn. Spencer [belum dengar Ali Sina, dkk.? – Red] ? Mungkin inilah saatnya untuk mengenal Islam langsung dari Islam itu sendiri, supaya ada perubahan. Mungkin inilah waktunya untuk menanyakan mengapa ratusan ribu orang Barat telah memilih Islam sebagai agama baru mereka, sekitar 2/3 dari mereka adalah wanita. Mengapa Cat Stevens, Wilfried Hofmann (Mantan direktur informasi NATO), Leopold Wiess (mantan tokoh masyarakat Yahudi Austria), Herbert Hobohm (mantan diplomat Jerman) dan kaum intelektual dan para pemimpin lainnya memilih Islam ? (Dan bgm dgn jutaan orang yang mau meninggalkan Islam ? Kok nggak disebutin ? Rred)

Mengapa Islam menjadi agama yang pertumbuhannya tercepat (??) Yang tercepat adalah atheism ! Tolong koreksi bung ! di Barat sedangkan Muslim tidak memiliki dakwah terorganisir ? (JELAS ADA ! NAMANYA : UMMAH dan prinsip2 DARUL ISLAM-Red)

Pastilah ada sesuatu yang lebih dari sekedar “misi untuk membunuhi kaum non-Muslim” seperti yang Bpk. Spencer ingin kita percaya. (YA! NAMANYA TAQQIYA (membohong demi Islam))

Pastilah ada sesuatu selain dari pada tidak-adanya kebebasan utk “berperilaku seks bebas”. Mungkin inilah kecocokan Islam dengan semua jenis masyarakat yang menghormati HAM, termasuk Barat. Mungkin inilah justru perjuangan Islam demi keadilan dan persamaan derajat manusia. Mungkin inilah fokus Islam kepada kebutuhan-kebutuhan rohani bagi umat manusia supaya dapat mencapai hubungan yang diinginkan dengan Penciptanya, sesama umat manusia, dan alam sekitar. Mungkin inilah kesederhanaan, kerendahan hati, dan toleransi-nya Islam.

Spencer:
Bpk. Ayloush, nada dari jawaban-jawaban anda di sepanjang Symposium ini sangat agresif dan menghina, sama seperti yang Ibn Warraq perhatikan mengenai AbuKhalil. Anda belum SEDIKITPUN menyentuh point-point saya yang sangat simpel, namun melulu memuaskan diri anda sendiri dengan cara mencap saya “Islamofobia” yang menggelikan dan hampa, seolah-olah itu menjawab semua materi dari sumber-sumber Islam yang saya sampaikan. Apakah menyatakan fakta seadanya
mengenai Islam berarti "membenci Islam" ?

Juga, anda terus-terusan salah menilai posisi-posisi saya: Saya tantang anda untuk membuktikan kapan saya pernah menulis bahwa Muslim mempunyai “misi untuk membunuhi non-Muslim”. Anda malah berani-beraninya sembarangan menuding, menghina dan mencemarkan nama-baik orang !

Saya akan senang dan saya rasa semua pembaca Simposium ini juga akan gembira untuk “belajar secara langsung dari Islam sendiri”. Inilah yang telah saya lakukan selama lebih dari 20 tahun: menenggelamkan diri saya dengan tulisan-tulisan dari Muslim dan untuk Muslim. Dalam symposium ini saya telah laporkan beberapa aspek mencemaskan,
karena mereka menjelaskan pertanyaan yang dari awalnya sudah diajukan dalam perbincangan kita ini.

Jika anda ingin orang mempercayai kata-kata anda bahwa
Islam “memperjuangkan keadilan dan persamaan derajat bagi seluruh umat manusia”, anda sedikitnya harus rela untuk menjelaskan hal-hal seputar jihad, dhimmi dan hak2 perempuan yang ternyata itu semua berlawanan dengan pernyataan-pernyataan basi dan bualan anda.

Ejekan-hinaan bukanlah argumen, Bpk. Ayloush. Anda belum menjawab apa-apa dan dengan cara mengejek anda malah merusak klaim-klaim anda sendiri.

Ayloush:
Ya, Bpk. Spencer, andalah yang berkata bahwa: “Islam akan terus menghasilkan orang-orang yang berpikir bahwa memang bagian dari kewajiban agama mereka adalah untuk memerangi kaum non-Islam”, pada bagian kedua simposium ini. Belajar sesuatu selama 20 atau 50 tahun tidak membuat anda menjadi ahli jika tujuan anda dari awal bukanlah untuk berpikir secara imbang. Ada anti-Semit yang menghabiskan lebih dari 20 tahun mempelajari Judaisme untuk menyerangnya dan membantah terjadinya Holocaust. Mengapa ?
Karena mereka anti-Semit dengan pengalaman membenci 20 tahun.

Bpk. Spencer, sudah jelas anda membenci Muslim dan saya yakin anda akan merasa paling hebat (Walau demikian, saya tidak jamin buku anda akan laku).

Spencer:
Pak, mungkin anda puas membandingkan diri saya dengan para anti-Semit, tapi tetap saja anda tidak menjawab satu hal pun dari aqidah Islam yang telah saya kemukakan di tempat ini. Kita belum pernah berjumpa sebelumnya, dan anda sudah harus membuktikan mengapa kutipan saya dari sumber-sumber Muslim membuat saya dianggap “benci” Muslim. Anda bahkan belum sedikit pun menjawab point-point saya.

Sebagai contoh, anda mengatakan bahwa kutipan saya dari Ibn Kathir yang membuktikan bahwa Ayat Pedang itu membatalkan ayat-ayat damai Qur’an adalah “sengaja dipilih-pilih”. Ya tentu saja: setiap kutipan itu sengaja dipilih, kecuali jika keseluruhan isi bukunya ditulis dari awal lagi. Tetapi katakanlah kepada saya kalau ada sebuah kutipan dari Ibn Kathir yang mengatakan bahwa ayat-ayat toleransi Qur’an itu yang membatalkan ayat-ayat kekerasannya dan mengutuk pen-dhimmi-an sebagai pola hubungan antara Muslim dan minoritas non-Muslim.

Memang sulit menjawab hal diatas tetapi lebih mudah menuduh saya
“benci Islam”, bukan?

Warraq:
Mohon maaf sebentar, bapak-bapak, izinkan saya berkomentar tentang seluruh isu dari kebebasan berpendapat ini. Kebebasan berekspresi, seperti yang pernah dikatakan Salman Rushdie, tidak berarti apa-apa jika kita tidak memiliki hak untuk “menghujat”. Menyinggung pertanyaan seputar humor, lihatlah David Pryce Jones, The Closed Circle. Saya pikir renungan Pryce-Jones mengenai kultur rasa malu dan gengsi akan menjelaskan mengapa lelucon/bercanda introspeksi itu tidak ada di dalam kebudayaan Islam.

AbuKhalil:
Menyedihkan, namun ini membuktikan bahwa anda berpedoman kepada sebuah buku yang tidak diakui oleh semua cendekiawan Islam termasuk saya. Ia seorang pengarang yang tidak bisa bahasa Arab, Persia, Turki, atau Urdu dan yang memukulratakan tentang Arab dan Muslim, di dalam edisi pertama dari buku itu, guru anda si Jones itu berpendapat bahwa Turki adalah sebuah negara Arab. Lucu.

Warraq:
Daripada memperdebatkan argumen-argumen si pengarang, Khalil sebaiknya membaca buku Pryce Jones dan mencoba untuk menjawabnya. Pryce-Jones, sejarawan yang jauh lebih andal daripada yang pernah Khalil pikir, tidak berpendapat bahwa Turki itu sebuah negara Arab; Khalil benar-benar sedang kalang-kabut. Ketika membicarakan tentang rasa hormat dan malu, Pryce-Jones bukan sedang berbicara tentang sekedar pembantaian dengan kehormatan, melainkan dia mampu untuk menunjukkan bahwa aturan kode etika ini merembes, menyebar ke semua lapisan masyarakat Islami, politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Baik Taslima Nasreen maupun saya telah sering ditegur/diperingati oleh kawan-kawan Muslim liberal bukan karena kami mengkritik Islam, NAMUN KARENA KAMI MENG-KRITIK ISLAM DI HADAPAN ORANG-ORANG BARAT. Karena ini dianggap sesuatu yang mempermalukan budaya mereka.


[6] Menyinggung tentang burqa (kain selubung bagi perempuan) di bawah kekuasaan Taliban: bagaimana asalnya ide tentang burqah untuk kaum wanita ? Dari manakah keinginan ini berakar? Apakah salah untuk menyiratkan bahwa ini adalah perpanjangan logika dari Islam?

Sumber-sumber dari hal pemisahan dan penutupan seluruh tubuh perempuan, dan pemaksaan supaya mereka tidak boleh tersentuh dan terlihat, adalah, bagaimana pun, berakar di dalam ajaran-ajaran Islam, dan bermacam-macam tingkatan dari “penutupan” badan yang wajib hukumnya adalah sebuah kenyataan yang Islami bagi hampir semua kaum perempuan Muslim di seluruh dunia, bukankah begitu? Jika memang burqah itu “mencemarkan” nama Islam, di mana, sekali lagi, pernahkah ada unjuk-rasa oleh kaum Muslim yang memprotes terjadinya pemfitnahan terhadap agama mereka ini?


Warraq:
Anda seharusnya menanyakan kaum Taliban mengapa mereka berkeras bahwa burqah itu wajib bagi para wanita mereka. Islam adalah sebab yang paling mendasar dari penindasan kaum wanita Muslim dan tetap menjadi halangan utama bagi evolusi dari posisi mereka. Islam selalu menempatkan wanita sebagai ciptaan yang lebih rendah dalam setiap hal: secara jasmani, intelektual, dan moral. Visi negatif ini di-ridhoi secara ilahi di dalam Qur’an, didukung oleh al-Hadis, dan dipelihara oleh para alim-ulama.

AbuKhalil:
Saya tidak pernah mengerti akan keterpakuan kepada jilbab dan Burqah, seolah-olah pakaianlah yang menentukan apakah seorang perempuan itu bebas atau tidak. Betty Friedan, pendiri feminisme AS modern, mengakui dalam memoir-nya baru-baru ini bahwa dirinya juga pernah menjadi korban kekerasan domestik oleh suaminya.

Berkenaan dengan asal-muasalnya jilbab, kami belajar dari ‘Perempuan dan Jenis Kelamin dalam Islam’ (oleh Leila Ahmed diterbitkan oleh Yale University Press) bahwa itu berasal dari masyarakat KRISTEN Byzantine, dan menyebar ke pusat-pusat kota Islam setelah kematian Nabi Muhamad.

Dalam perbincangan mengenai Islam (atau menghakimi Islam, sebagaimana yang selalu dilakukan di Barat) kita harus membedakan antara mana yang kultural dengan mana yang religius. Penyunatan alat kelamin wanita (sebuah praktek barbar) sebagai contoh adalah sesuatu yang kultural dan bukan religius. Pembedaan ini penting.

Dapatkan kita mengatakan bahwa banyaknya kekerasan domestik terhadap kaum wanita di AS itu adalah pasti berkaitan dengan Kekristenan karena Kitab Perjanjian Lama mengizinkan hal tersebut? Dan mohon jangan berkata bahwa orang Kristen tidak mengartikan bible secara sungguh-sungguh: sebuah buku yang terdaftar di bestseller-nya New York Times sekarang ini sedang mencoba menjelaskan kejadian-kejadian masa kini dan masa yang akan datang dengan mengkaitkannya dengan Bible.

Moderator:
Prof. AbuKhalil, anda berkata, “Saya tidak pernah mengerti akan keterpakuan kepada jilbab dan Burqah, seolah-olah pakaianlah yang menentukan apakah seorang perempuan itu bebas atau tidak”.
Tidakkah anda melihat hubungannya dengan isu kebebasan ? Bgm jika seorang perempuan, ya katakanlah di dalam contoh Taliban Afghanistan atau di Saudi Arabia, TIDAK ingin mengenakan jilbab namun tidak bisa
karena bakal dihukum ? Apa pendapat anda mengenai banyaknya wanita di dunia Muslim yang wajahnya telah disirami air keras karena menolak untuk mengenakan penutup wajah? Bukankah ini berhubungan dengan isu kebebasan? Apa yang akan terjadi terhadap seorang wanita di Saudi Arabia atau Iran saat ini jika mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di tempat umum TANPA mengenakan kain tutup yang diwajibkan ? Bukankan ini terkait dengan masalah kebebasan?

AbuKhalil:
Para wanita seharusnya bebas untuk berbusana sesuai keinginan mereka tanpa halangan hukum dan budaya. Kaum wanita di dunia Muslim umumnya berpakaian secara bebas (dan kadang-kadang pilihan bebas itu adalah memakai jilbab atau burqah), dan hanya di Iran dan Saudi Arabia di antara negara-negara Muslim lainnya yang mensyaratkan aturan-aturan berbusana, namun orang terpaku dengan hal ini. Ya, tentu saja, seharusnya ada kebebasan total dalam hal busana wanita, dan saya idamkan bahwa busana barat sebagai contoh mempertimbangkan kesehatan wanita, kenyamanan, dan bentuk tubuh yang sebenarnya. Di Timur, kaum perempuan diselubungi penutup supaya mencegah kaum laki-laki terangsang secara seksual, dan di Barat kaum wanita berbusana untuk merangsang kaum laki-laki. Pada dasarnya ini adalah sama: bahwa wanita adalah objek seksual baik diselubungi penutup maupun terbuka.

Moderator:
Namun tidak bolehkah seseorang berpendapat bahwa manusia itu intinya harus diperbolehkan hidup bebas dari paksaan-paksaan beragama yang mendikte mereka tentang bagaimana harusnya menjalani kehidupan-kehidupan pribadi? Tidak bolehkah sebuah demokrasi yang sejati memberikan para wanita hak pilihan mereka sendiri mengenai apa yang harus mereka lakukan terhadap unsur-unsur seluruh aspek kemanusian mereka, termasuk kecantikan fisik mereka, tanpa rasa takut akan dihukum?

Spencer:
As’ad, bahkan jika jilbab itu asalnya dari masyarakat Nasrani Byzantine dan bukanlah dari Hadis, mengapa lalu Kristen Byzantine membuang kebiasaan jilbab ini dan justru Islam yang memeliharanya?

Jika penyunatan kemaluan wanita itu memang kultural dan bukan religius (dan saya sadar tentunya, bahwa itu tidak dipraktekan oleh kebanyakan Muslim), mengapa Sheikh Tantawi, sumber/tokoh ulama tertinggi dalam Islam Sunni, memujinya sebagai sebuah “kehormatan” bagi para wanita dan memberikan embel-embel Islam tentang hal ini? Saya akan gembira untuk membedakan mana yang kultural dan mana yang religius; Saya hanya bisa berharap Tantawi juga demikian.

Dan apakah kita ini sekarang harus percaya bahwa orang-orang Kristen yang memukuli istri-istri mereka mengartikan Bible secara harafiah namun tidak ada seorang Muslim pun yang mengartikan Qur’an secara harafiah? Sura 4:34 me-ridhoi pemukulan kaum istri; Amnesty International memperkirakan bahwa 9 dari 10 istri di Pakistan telah dipukuli/dianiaya oleh suami-suami mereka. Saya tebak suami-suami ini mestinya semuanya sudah membaca Kitab Perjanjian Lama?

Sekali lagi anda menghindar pertanyaan dan mencoba untuk membelokkan perhatian dari aspek-aspek Islam yang tidak nyaman dibicarakan. Kenyataan bahwa di dalam masyarakat yang sekuler kaum perempuan juga kadang-kadang disakiti tidak menjelaskan apa-apa
ttg perlakuan dan keadaan Muslimah di negara2 Islam.

AbuKhalil:
Aduh, saya mohon ! AS memiliki rekor kekerasan domestik yang memalukan dan kita bukanlah pada posisi untuk berkhotbah tentang hal ini, atau bahkan tentang kejahatan-kejahatan kehormatan terhdp perempuan.

Sekitar 40% atau lebih korban-korban wanita yang terbunuh di AS dibunuh oleh suami atau pacar mereka, dan kekerasan domestik adalah 30% dari seluruh wanita, salah satu dari yang tertinggi di dunia. Pakistan memiliki salah satu dari rekor yang tertinggi, dan juga India dan AS yang
budayanya beda satu sama lain. Dan ya, saya percaya bahwa orang seharusnya hidup bebas dari paksaan-paksaan beragama, dan jika saya merancang republik buatan saya sendiri, saya akan menugaskan semua ulama dari semua agama pada pekerjaan-pekerjaan yang lebih bermanfaat. Menjadi tukang pipa adalah jauh lebih baik bagi mereka.

Moderator:
Tunggu sebentar, tapi kejahatan pribadi dan kejahatan terlembaga adalah dua hal yang sangat berbeda, bukan ? Ada beberapa kejahatan yang tidak satu masyarakatpun mampu untuk memperbaikinya. Namun AS mencuci kekotorannya di hadapan umum (maksudnya fair/terbuka), sementara banyak masyarakat, seperti halnya banyak masyarakat Muslim Arab, tidak melakukan ini, jadi ketika kita mempertimbangkan statistik, tidakkah kita harus mengambil ini semua sebagai bahan pertimbangan?

Lebih lanjut, bukankah kuncinya di sini adalah bahwa di dalam masyarakat AS dan Barat lainnya, sementara kejahatan memang akan selalu ada di dalam hati manusia, hukum negara2 tsb akan mengganjar kekerasan domestik? Seorang wanita yang dilecehkan, meskipun jelas berada dalam keterbatasan yang menyedihkan, masih memiliki kemungkinan untuk mencari pertolongan, melarikan diri dan menuntut pelaku-nya. Nah, bedanya di dalam banyak masyarakat Muslim Arab,
negara dan budaya malah MERESTUI kekerasan domestik terhadap kaum perempuan – tidak ada jalan keluar bagi korban seperti yang ada di Barat ini. Betul tidak ?

Ayloush:
Saya setuju dengan Prof. AbuKhalil bahwa seseorang harus bisa membedakan antara mana yang kultural dan mana yang religius. Dan tentu saya, banyak dari praktek-praktek Taliban seperti perlakuan buruk kepada wanita atau larangan bersekolah bagi gadis-gadis muda adalah bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Di zaman jazirah Arabia pra-Islam, perempuan dianggap sebagai sumber rasa malu bagi sebuah suku, diperlakukan sebagai harta seorang lelaki, tidak mempunyai hak untuk memilih suami, dilarang untuk mewarisi atau memiliki bisnis/usaha sendiri dan dianggap tidak layak di mata para dewa.

Islam merombak habis semua ini dan menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai rekan yang saling melengkapi dalam hak dan kewajiban, untuk isu-isu berkehidupan dan beragama

Sejarah mengatakan kepada kita bahwa salah satu sebab utama bagi para pemimpin suku Arab untuk lalu menentang Islam adalah disebabkan bahwa Islam menantang dominasi status quo terhadap kaum perempuan dan para budak. Pelecehan-pelecehan masa kini terhadap para wanita oleh laki-laki adalah tentu saja tidak Islami dan juga bukan sebuah hal yang eksklusif dari masyarakat beragama tertentu. Hal ini merajalela di wilayah-wilayah miskin dan tidak berpendidikan dari kaum Hindu India, umat Budha di Thailand, Kristen dan Muslim di Afrika. Marilah kita berhenti menuding dan mulai melakukan sesuatu untuk menghentikan hal ini.

Nabi Muhammad berkata: “Mereka yang imannya hampir sempurna di antara kalian (laki-laki) adalah mereka yang terbaik dalam kebajikan dan perilaku terhadap istri-istrinya”.

Mengenai isu “busana”, Islam mengharuskan penampilan yang sopan baik bagi laki-laki maupun bagi wanita. Bagi kaum wanita, ulama-ulama Islam hampir selalu mendefinisikan ini sebagai pakaian longgar penutup tubuh dan penutup kepala (jilbab), dan bukan wajah. Sepanjang sebuah masyarakat melindungi hak-hak dan menyediakan kesempatan berpendidikan dan bekerja yang adil bagi pria dan wanita, maka haruslah juga ia memiliki hak untuk menentukan pedoman-pedoman sosial secara umum. Mengapa sebuah perusahaan diperbolehkan untuk mengharuskan peraturan berbusana berdasarkan alasan-alasan tertentu untuk para pegawainya dan bukan untuk sebuah negara? Negara-negara seharusnya memiliki hak untuk memilih dan menentukan pedoman-pedoman bersosialisasi yang dapat termasuk di dalamnya larangan atau legalisasi perjudian, ketelanjangan, pornografi, aborsi, dan alkohol. Arogansi merasa menjadi super-power/adi daya tidak boleh membuat kita memaksakan sebuah hegemony sosial dan budaya kepada bagian dunia yang lain.

Spencer:
Amin. Saya juga tentu saja tidak ingin melihat pemaksaan apapun dari norma-norma budaya Barat terhadap negara lain. Namun, sederhananya adalah bahwa saat ini anda sedang melemparkan pasir ke mata kami mengenai perempuan di dalam Islam [maksudnya mengibuli kami/membual – red]. “Laki-laki memiliki kuasa atas perempuan karena Allah telah membuatnya yang satu (laki-laki) lebih unggul dari yang lain (perempuan)” (Sura 4:34). Apakah ini kultural saja? Susah dipercaya. Dan itulah dasar dari banyak yang anda utarakan di atas. Anda pasti tahu bahwa Taliban itu memang memaksakan penerapan Syari’ah sesuai yang diajarkan oleh keempat madhhab Sunni, atau lembaga-lembaga hukum: Maliki, Hanafi, Hanbali, dan Shafi’i. Hukum-hukum ini tidak diterapkan di kebanyakan negara Islam masa kini, namun mereka masih berlaku (teoritis), siap untuk kapanpun diterapkan oleh kelompok semacam Taliban, begitu mereka mengambil tampuk kuasa.

Menurut Amnesti Internasional, di Saudi Arabia wanita-wanita “yang berjalan tidak ditemani, atau ditemani oleh seorang lelaki yang bukan se-muhri) akan mengalami resiko ditahan atas dasar kecurigaan prostitusi atau pelanggaran-pelanggaran ‘moral’ lainnya. Apakah itu kultural, ataukah itu adalah bagian dari Syari’ah? Anda tahu betul bahwa itu adalah bagian dari Syari’ah. Dan saya masih bisa menyebutkan ratusan lagi dari unsur-unsur dalam Syari’ah yang menistakan dan menindas kaum perempuan.

Burqah hanyalah masalah yang minor: mengapa kesaksian seorang perempuan tidak sah dalam kasus pemerkosaan atas dirinya sendiri? Mengapa harus ada empat saksi Muslim laki-laki yang melihat sendiri kejadiannya? Anda tentu tahu mengapa: karena dulu Muhamad menuntut adanya empat saksi agar membebaskan Aisha dari tuduhan perzinahan (lihat Surah 24:13 dan Sahih Bukhari vol. 3, book 52, no. 2661). Namun demikian ini telah menimbulkan sebuah situasi di mana para wanita yang telah diperkosa itu lalu malah dituduh berzinah setelah laki-laki tertuduh pemerkosa membantah melakukan pemerkosaan. Sisters in Islam, sebuah kelompok hak-hak wanita Muslim, memperkirakan bahwa sebanyak 75% wanita yang menghuni penjara-penjara Pakistan saat ini sebetulnya adalah korban-korban perkosaan. Ini bukan hal yang kultural: sebelum tuntutan Qur’an mengenai empat saksimata ini dicabut selamanya, hal ini akan berlangsung terus.

Ayolah berhenti menuding dan mengeluh-cengeng tentang “Islamofobia” dan mulailah melakukan sesuatu untuk menghentikan hal ini.

Ayloush:
Terjemahan sejatinya dari ayat tersebut adalah: “Laki-laki adalah pelindung dan pemelihara kaum perempuan, karena Allah telah memberikan yang satu (laki-laki) kelebihan (kekuatan) daripada yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki) menunjang yang lain (perempuan) dengan kemampuan mereka”. (4:34)

Seperti juga dalam Kristen dan Judaisme (seperti di: “Sekarang aku ingin kalian sadar bahwa kepala dari setiap laki-laki adalah Kristus, dan kepala dari perempuan adalah laki-laki, dan kepala dari Kristus adalah Tuhan”, Korintus 11:3; lihat juga Korintus 14:34, Timotius 2:11-14, dan Kejadian 3:12-16), Islam menyatakan bahwa sebagai sebuah masalah organisasional, suami adalah kepala dari rumah tangga karena dia memiliki kewajiban agama untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga. Semua uang yang dimiliki atau dihasilkan oleh seorang istri adalah hak istri tersebut. Ini tidak ada hubungannya dengan superioritas.

Al-Qur’an juga berkata: “Hai orang-orang beriman! Diharamkan atas kalian untuk mewarisi perempuan di luar keinginan mereka. Juga tidak bagi kalian untuk berlaku keras terhadap mereka, supaya kalian bisa membawa lari sebagian mas kawin yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali jika mereka (istri) telah terbukti bersalah melakukan percabulan yang terbuka; sebaliknya hiduplah bersama mereka (istri) dengan dasar kebajikan dan keadilan. Jika kalian tidak menyukai sesuatu dari mereka ini mungkin karena kalian tidak menyukai sesuatu, dan Allah membuatkan sesuatu kebaikan yang besar melalui ini”. (4:19)

“Dan di antaran Tanda-tanda-Nya (Allah) adalah hal ini, bahwa Ia telah menciptakan bagimu pendamping-pendamping dari antara dirimu sendiri, sehingga kalian bisa tinggal dengan sejahtera bersamanya, dan Ia telah menaruh cinta dan belas-kasih di antara (hati-hati) kalian: sesungguhnya dalam hal itu adalah Tanda-tanda bagi mereka yang merenungkannya”. (30:21)

Dalam Islam, sebuah pernikahan didasarkan atas cinta dan belas-kasih yang saling terbalaskan. Adalah kebersamaan untuk membentuk sebuah keluarga yang beriman kepada Allah dan menjalankan perintah-perintahNya. Sekali lagi, jika Saudi Arabia, Taliban, atau bahkan tetangga Muslim anda menyakiti perempuan, itu terjadi di luar/bertentangan dari ajaran-ajaran Islam.

Catatan: Tuduhan-tuduhan perkosaan tidak memerlukan empat saksi. Menurut ulama-ulama Muslim, seorang pemerkosa dapat dihukum mati hanya berdasarkan bukti forensik.

Saya harap saya diberikan waktu untuk menjawab sisa dari klaim-tuduhan palsu anda.

Spencer:
Bahkan jika menggunakan terjemahan anda dari Surah 4:34, harap perhatikan bahwa kata “kekuatan” terdapat di antara tanda kurung karena itu tidak ditulis dalam Bahasa Arab-nya aslinya, yang hanya mengatakan “diberikan kepada yang satu lebih daripada yang lain”. Lebih apanya? Kekuatan, mungkin, namun ini tidak melulu. Pickthall, seorang Muslim, menerjemahkan “Laki-laki adalah yang bertanggung jawab atas perempuan, karena Allah telah menciptakan yang satu lebih unggul daripada yang lain”. “Unggul” ini kan lebih dekat pengertiannya dengan “superior”. Bagaimanapun, ini memperjelas bahwa terjemahan dari ayat yang saya berikan itu dapat diterima artinya.

Sekarang untuk kutipan-kutipan dari Injil: kita saat ini tidak sedang memperdebatkan agama Kristen. (!!!)

Dalam hal empat saksi bagi pemerkosaan, saya mampu mengkutip ratusan nara-sumber. Sheikh Agung Shafi'i Ahmad ibn Naqub al-Misri berkata dalam 'Umdat al-Salik bahwa “jika kesaksiannya berkaitan dengan kasus percabulan atau sodomi, maka diharuskan ada empat saksi laki-laki”. Ini mengutip Sheikh 'Umar Barakat: “di dalam kasus percabulan, di mana mereka (saksi) telah melihat sendiri si pelaku memasukkan kepala zakar-nya ke dalam liang vagina (si korban)”.

Al-Azhar menjamin bahwa Umdat al-Salik “sepakat/selaras dengan penerapan dan iman dari komunitas Sunni yang asli”.

Moderator:
Tunggu sebentar, izinkan saya menyela sebentar. Saya ingin menjernihkan sesuatu. Hussam, jika pengertian saya ini benar, dari yang telah anda katakan sebelumnya, jika seorang wanita dalam sebuah negara Islam memutuskan bahwa dia tidak mau mengenakan hijab, karena dia tidak melihat hal ini sebagai “aturan berbusana yang cukup beralasan” dan lalu dia berjalan-jalan di luar tanpa hijab karena memang dia tidak mau memakainya, anda mendukung supaya si wanita ini dihukum karena “negara-negara seharusnya memiliki hak untuk memilih dan menentukan pedoman/pegangan sosial mereka sendiri”. Betul?

Mohon jangan menceramahi saya mengenai “penindasan” yang di Barat dan mohon langsung saja menjawab pertanyaan yang spesifik itu. Anda mendukung supaya dia dihukum, betul?

Ayloush: Jawaban cepat dari pertanyaan spesifik anda ialah: tidak harus (tidak melulu harus begitu). Tergantung banyak faktor. Apakah hukum demikian adalah keinginan mayoritas atau apakah itu dipaksakan kepada mereka oleh sebuah pemerintahan yang tidak demokratis? Apakah kaum minoritas yang berseberangan menjadi sensitif dan telah dijelaskan kepada mereka mengenai alasan-alasan mengapa kaum mayoritas menginginkan hukum ini? Apakah sebuah masa transisi telah diizinkan, jika perlu?

Jawaban objektif dari pertanyaan anda itu adalah seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa saya mendukung hak setiap masyarakat untuk membentuk hukum-hukum yang tidak melanggar HAM universal dalam upayanya untuk mengatur urusan-urusan mereka. Tentu, hukuman untuk pelanggaran hukum-hukum tersebut tidak boleh kejam dan tidak wajar, tergantung kepada aturan-aturan mana yang telah dilanggar.

Dukungan ini berasal dari kewajiban saya untuk menghormati keinginan mayoritas, tanpa peduli apa yang sebenarnya saya inginkan.

Dunia ini akan menjadi jauh lebih baik jika kita belajar mengenal satu sama lain dari pada saling merendahkan.

Oh, Allah (Tuhan), ampunilah diriku untuk segala kekurangan di dalam apa yang telah saya katakan dan saya tulis.

O Allah (Tuhan), tunjukkan kami kebenaran dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kami kesalahan dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya.

Spencer:
Point dari moderator tentang kejahatan institusional itu sah: perendahan martabat dan pelecehan terhadap kaum wanita itu secara rutin dibenarkan dalam Islam oleh kesaksian-kesaksian Qur’an dan Sunnah. Dalam tahun 2000, ulama Muslim Turki, Kemal Guran, mengekspresikan sebuah pandangan umum Muslim dalam terbitannya, Pedoman Orang Muslim. Di dalamnya, dia mengatakan bahwa “laki-laki diperbolehkan memukuli istrinya sepanjang tidak memukul bagian wajah dan hanya memukul secukupnya”. Guran juga “menyiratkan bahwa kaum lelaki itu lebih unggul secara alami daripada kaum hawa”. Pada tahun yang sama, buku seorang imam Spanyol, Mohammed Kamal Mostafa; Perempuan dalam Islam, “menyarankan koreksi lisan lalu diikuti oleh serentang masa bertarak (tidak bersetubuh) sebagai hukuman yang terbaik bagi seorang istri, namun tidak mengesampingkan pemukulan sejauh itu dilakukan sesuai dengan aturan-pedoman yang ketat”.

AbuKhalil dan Ayloush akan melolong mengatakan bahwa ini barulah cuma 2 contoh saja, tapi awas: saya masih ada banyak lagi yang lain.

Saya gembira bahwa ada “aturan-pedoman yang ketat”, tetapi ini semua kan subjektif (tergantung masing-masing) dalam penerapannya. Dan yang lebih penting, kata sederhananya dari Qur’an mendukung semua ini. Tapi kelihatannya beberapa orang lebih memilih untuk tidak menghiraukan Surah 4:34.

Kesimpulannya, saya hanya ingin menyampaikan yang berikut kepada Bpk. Ayloush: dengan ejekan-hinaan anda yang konyol, bualan-gertakan kasar, gaya mau-menang-sendiri, dan jawaban-jawaban yang tiada berdasar, bagaimana koq bisa-bisanya jadi anda yang menceramahi kami mengenai hal merendahkan satu sama lain. Anda masih belum lagi pernah menyinggung mengenai fakta tentang penindasan terhadap kaum wanita – tidak berlakunya kesaksian seorang perempuan, pembatasan-pembatasan kebebasan bergerak, pem-babu-an seksual yang merendahkan (seorang istri tidak memiliki hak untuk menolak melayani keinginan seks suaminya setiap saat suaminya mau seks, kecuali jika sedang sakit) – semuanya tertulis dalam Syari’ah. Ejeklah saya sesuka hati anda, tapi bukan saya yang membuat Syari’ah.

Dan bangsa AS BERHAK untuk terus-menurus mengincar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengganggu seputar Islam, semacam semua yang diajukan di Symposium ini, sampai akhirnya anda berhenti melontarkan hinaan dan menjawab mereka secara jujur dan penuh. Sebelum itu terjadi, shame on you ! Tidak tahu malu anda.

Ayloush:
Para pengarang tersebut berhak atas pendapat-pendapat mereka sendiri, mereka tidak berbicara secara eksklusif mewakili Islam. Al-Qur’an dapat paling dimengerti di dalam contoh dari bagaimana Nabi Muhamad menerapkannya dalam kehidupannya. Sang Nabi secara sering mencela mereka-mereka yang memukuli istri-istri mereka dan dirinya sendiri tidak pernah memukul seorang pun dari istri-istrinya, tapi malah menjadi seorang contoh suami yang mencintai, mengasihi, dan menghormati. Dan seperti itulah setiap laki-laki Muslim yang benar-benar mengamalkan ajaran agamanya memperlakukan istrinya.

Jika memang Islam sangat buruk bagi kaum perempuan, lalu mengapa kebanyakan (65% - 75%) dari seluruh pemeluk baru dari agama dengan pertumbuhan tercepat ini adalah kaum wanita ? Saya tebak mereka ini tidaklah sepintar Spencer. Si Spencer ini harusnya benar-benar spesial, dia melihat hal-hal yang orang lain tidak dapat melihat!

Dan demi Tuhan, Bpk. Spencer, janganlah coba-coba berbicara mewakili bangsa AS. Prasangka dan ekstrimisme anda adalah penistaan bagi nilai-nilai keadilan dan toleransi AS kita ini. Kemiripan di antara para biang keladi kebencian tidak pernah membuat saya berhenti terheran-heran. Sekelompok kecil minoritas ekstrimis Muslim tidak dapat melihat satu kebaikan pun dalam Kristen dan menjelek-jelekkan ajaran-ajaran mereka. Pada sisi lain, sekelompok minoritas ekstrim Kristen, seperti Spencer, berperilaku yang sama terhadap kaum Muslim. Ironisnya, kedua kelompok ini mempromosikan sebuah benturan kebudayaan bersama.

Untungnya, mayoritas yang jauh lebih banyak dari para pengikut dan pemimpin dua agama yang dekat dan mirip ini tidak tunduk kepada pandangan sempit dan malah mendukung sebuah dialog kebudayaan yang akan membawa damai, kesejahteraan, dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Dan jika ada yang memang perlu untuk merasa malu, Bpk. Spencer, adalah mereka yang bertindak bertentangan dari ajaran-ajaran damai Yesus dan Muhammad (damai untuk mereka)

Dan damai Tuhan (as-salam mu’alaikum) bagi seluruh pembaca.

Spencer:
AMIN ! Pak, saya sudah berulang-ulang kali utarakan mengenai semua bukti yang telah saya kemukakan bahwa SEMUA Muslim tidak berpikir secara demikian. Hanyalah bahwa semua ini memang adalah bagian dari tradisi Islam yang telah tertanam secara permanen, dan kaum non-Muslim memiliki hak untuk mengetahui hal ini. Gambaran-salah anda tentang posisi-posisi saya yang secara terus-menerus anda ungkapkan sebagai “tidak melihat satu kebaikanpun” dari para Muslim, ditambah dengan kegagalan anda yang terus-menerus bahwa anda tidak bisa membahas poin-poin mendasar yang saya ambil dari sumber-sumber Muslim kecuali dengan cara serangan-serangan ad hominem (emosi), harusnya sudah memperlihatkan kepada para pembaca yang berpikir jernih tentang siapa sebenarnya di antara kita yang sedang melakukan kebencian di sini.

Moderator:
Bapak-bapak, saya berfirasat bahwa kita masih memerlukan banyak symposium… sayang sekali, waktu kita sudah habis. Adalah suatu kegembiraan dan kehormatan untuk bisa menghadirkan anda sekalian di dalam tiga babak Symposium Islam. Hussam Ayloush, As'ad AbuKhalil, Ibn Warraq dan Robert Spencer, terima kasih untuk partisipasi anda. Kami berharap bisa menemui anda di lain kesempatan. Selamat tinggal.

TAMAT
Moderator 3
Site Admin
Site Admin
 
Posts: 572
Images: 1
Joined: Tue Sep 13, 2005 8:53 pm


Return to Resource Centre Serba-serbi Jihad



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron