. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Thu Jun 07, 2012 6:32 pm

Potret Angkuh Diskriminasi di Kuningan
admin | 26 - Mar - 2008

Diskriminasi terhadap penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa maupun komunitas adat sampai detik ini masih terus berlangsung. Sejumlah peraturan yang dikeluarkan secara sistematis oleh pemerintah dan menjadi hukum positif telah mendiskriminasi para penganut aliran kepercayaan dan komunitas adat Indonesia. Jangankan untuk mendapatkan pengakuan atas tradisi adat dan spiritual yang diyakini sebagai agama, untuk mendapatkan dokumen sipil dengan pengakuan terhadap kepercayaan mereka, itu masih dapat dikatakan mustahil. Begitulah kesimpulan yang tergambar dari hasil pertemuan Working Groups dengan komunitas adat dan audensi dengan Pemda Kuningan.

Selain merumuskan kertas kerja untuk keperluan penyusunan modul dan kurikulum advokasi HAM kultural, Pertemuan Working Groups di Cigugur yang berlangsung dari tanggal 27-30 Juni 2003 lalu mempunyai dua agenda pokok yakni : pertama, sharing dengan komunitas adat berkaitan dengan tindakan diskriminatif yang selama ini ditunjukkan oleh negara dan agama-agama ‘resmi’ terhadap mereka serta upaya pencarian terobosan solutif atas kasus-kasus diskriminasi terhadap kepercayaan dan komunitas adat. Kedua, menggelar audensi dengan pemda Kuningan sebagai salah satu langkah advokatif dan tindak lanjut dari sharing di atas.

Ungkap dan ulas fakta tindak diskriminatif atas kepercayaan dan komunitas adat begitu gamblangnya dijelaskan –dalam sesi dialog antara anggota Working groups dengan komunitas adat dan penghayat– oleh pak Djatikusumah, Gumirat Barna Alam, Dodo Budiono, Oki Satrio, Ugan Sugandi, Yapto, Wahyu Alamsyah, Rusman, Sudarsa dan Nana Sudarna, yang mewakili para penghayat di Kuningan dan beberapa daerah di Jawa Barat lainnya hingga Save Dagun yang mendeskripsikan tindak diskriminasi di Flores (NTT). Dari pemaparan mereka, tampak sekali bila perlakuan diskriminatif tidak hanya terjadi di Kuningan saja, melainkan juga terjadi diberbagai daerah lainnya. Tidak hanya itu, tindak diskriminatif bukanlah monopoli negara (dari pusat hingga daerah), tetapi juga oleh kelompok agama mayoritas (lima agama resmi versi pemerintah) dan institusi ekonomi, sosial dan politik lainnya.

Dalam konteks negara, bentuk diskriminasi itu bersumber dari sejumlah perundangan dan peraturan yang dinilai sangat merugikan para penganut kepercayaan dan komunitas adat di Indonesia. Gara-gara itu, Pak Djatikusumah harus mendekam di penjara selama beberapa waktu, Gumirat, Oki dan Dewi tidak bisa mendapatkan surat nikah, bahkan anak-anak mereka tidak bisa mendapatkan akte kelahiran. Sedangkan puluhan anggota mereka harus berpindah agama dulu untuk bisa mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Sementara itu, para penghayat yang kebetulan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak bisa melangsungkan sumpah jabatan untuk promosi karir kepegawaian maupun mendapatkan fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan sebagai PNS, seperti tunjangan keluarga (istri dan anak) dan lain sebagainya. Hal ini dialami oleh pak Dodo Budiono, seorang penghayat yang bekerja di dinas Pendapatan Kabupaten Kuningan yang diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil, Agustus 1980, tetapi sampai sekarang belum mendapatkan sumpah atau janji pegawai negeri, dikarenakan tidak ada rohaniawan yang dapat mendampingi pengambilan sumpah pegawai. Selain pak Dodo, ada 2 orang yang belum diambil sumpah, yaitu di BKKBN dan yang tergabung di kantor catatan sipil. Sedangkan, pak Rusman (pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) tidak pernah mendapatkan tunjangan keluarga. Begitu pula dengan pak Sudarsa yang bekerja di Dinas Pendidikan, gagal (tidak jadi) mendapatkan promosi jabatan hanya dikarenakan pak Sudarsa seorang penghayat bukan pemeluk ‘agama resmi’.

Prilaku diskriminatif yang dilakukan institusi ataupun kelompok mayoritas diluar negara terjadi tidak kalah seramnya dengan yang dilakukan oleh negara. Dalam dunia pendidikan misalnya, seperti penuturan Wahyu Alamsyah, kepala sekolah SLTP Yayasan Pendidikan Tri Mulya Kuningan, ada diskriminasi terhadap beberapa siswa yang berasal dari warga masyarakat adat yang tidak memeluk kelima agama resmi versi pemerintah, pada mata pelajaran agama yang diajarkan di sekolah mereka tidak diberi nilai. Kasus ini terjadi di SDN Kancana, Kecamatan Subang Kabupaten Kuningan. Akibatnya, rangking mereka turun drastis dan mengalami tekanan psikologis pada usia yang relatif masih muda.

Dalam dunia kerja (professional), diskriminasi di tempat kerja (perusahaan swasta) menimpa keluarga Ugan Sugandi, penghayat dari Tasikmalaya, yang keponakannya gagal bekerja di sebuah perusahaan, hanya karena sang keponakan itu dan seluruh keluarganya menjadi penghayat.

Sedangkan diskriminasi yang dilakukan oleh kelompok agama besar mengambil bentuk pada kooptasi atas ritual (simbol-simbol budaya) masyarakat adat dan penganut kepercayaan. Apa yang terjadi di Flores menurut Save Dagun (komunitas adat dari Flores), merupakan cerminan nyata adanya diskriminasi kelompok (agama) mayoritas terhadap (kepercayaan dan adat) minoritas. Masyarakat adat di Flores hingga kini menangisi budaya spiritualnya yang sudah dilibas oleh Katolik. Ritual orang-orang adat ditaruhi salib, ada yang diganti dengan masjid. Sampai segitu, ada tempat keramat, kata orang Katolik, ini karamat kita, ganti dengan salib. Kata orang Islam, ini keramat kita. Ini yang paling mendasar.

Untuk itu, forum bersepakat untuk menindak lanjuti sejumlah problem diskriminasi tersebut dengan membuat kertas kerja guna merumuskan bentuk advokasi yang tepat terhadap persoalan diskriminasi yang menimpa komunitas adat dan penghayat di atas. Sebagai langkah pembelaan awal, seluruh peserta pertemuan menindaklanjuti sharing tersebut dengan bersama-sama mendatangi Pemda Kabupaten Kuningan untuk menggelar audensi yang bertujuan mencari kejelasan dan mengukur sejauh mana respon dan tindakan pemerintah daerah atas berbagai persoalan yang menimpa sebagian warganya.

Birokrasi Tuli Diskriminasi

Audensi yang bertujuan untuk mencari kesepahaman dan komitmen atas perjuangan anti diskriminasi ini tidak dihadiri oleh pimpinan teras Pemda Kuningan dan hanya didelegasikan kepada Asda I, serta beberapa perwakilan dari Depdiknas, Depag, PAKEM dan dari pihak catatan sipil Kabupaten Kuningan. Meski begitu, hal itu tidak mengurangi antusiasme dan keseriusan teman-teman peserta Pertemuan Working Groups untuk terlibat dalam dialog tersebut, dengan harapan dapat mengungkap policy dan sikap negara (baca: Pemda Kuningan) mengenai sejumlah persoalan yang sebelumnya dikeluhkan komunitas adat.

‘Enggan disalahkan’, itulah kira-kira kesimpulan dari hasil audensi antara 20 LSM peserta pertemuan Working Group dengan sejumlah aparat pemda Kuningan. Dimata Pemda, mereka merasa telah melakukan tugasnya dengan baik dan tidak menerapkan kebijakan yang diskriminatif terhadap para penghayat dan komunitas adat di Kuningan. Ketika hal ini di-compare dengan sejumlah fakta di atas, mereka serta merta langsung menisbahkan persoalan itu pada pemerintah pusat. Pemda hanyalah meneruskan berbagai peraturan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat (lihat UU No. 22 tahun 1999 pasal 7, mengenai permasalahan agama sebagai salah satu kewenangan yang tidak diserahkan kepada daerah.).

HAM dan nilai-nilai universal demokrasi tidak menjadi dasar bagi pemda Kuningan dalam memutuskan persoalan kepercayaan dan komunitas adat. Keresahan sosial (social disorder) yang dinilai mengganggu stabilitas politik dan keamanan lebih dikedepankan sebagai parameter tunggal segala bentuk pelarangan terhadap komunitas adat dan penghayat. Lantas, apa yang membedakan Pemda di era reformasi dengan Orde Baru ?. Kiranya, persoalan diskriminasi atas komunitas adat dan kepercayaan masih belum menjadi kesadaran bersama seluruh stake holder Kabupaten Kuningan, apalagi pemdanya. Wassalam. Desantara

http://www.desantara.org/03-2008/699/po ... -kuningan/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Thu Jun 07, 2012 6:35 pm

Kolom Isian Agama dalam Buku Raport Saya Tertulis [-]
admin | 2 - May - 2008

Proses diskriminasi tidaklah bersifat alamiah. Diskriminasi bukan gempa bumi, tidak pula angin badai yang datang tiba-tiba. Diskriminasi lebih mirip dengan tindakan akibat sikap rasisme yang memandang budaya dan cara hidupnya terunggul, sementara pilihan hidup yang lain sebagai cacat dan rendah. Selanjutnya, ia dipertahankan dan berjalin-kelidan dengan kekuasaan. Ia direproduksi dan diproduksi terus menerus untuk mengukuhkan dominasi dan kepentingan. Dan salah satu alat reproduksinya adalah melalui kurikulum dan pendidikan sekolah, sebagaimana dialami saudari Tatik, salah satu anak kandung P. Djatikusumah, tokoh penghayat di Cigugur. Berikut ini hasil wawancara Desantara dengan Tatik seputar perlakuan diskriminatif di sekolah yang dialami semasa remajanya.

Bisa diceritakan pengalaman Anda menerima perlakuan diskriminatif di sekolah?

Itu pengalaman spesial yang mungkin saya hadapi sendiri. Waktu itu saya berada di bangku SD kelas 2. Kebetulan saat itu Bapak sudah mengukuhkan diri keluar dari agama Katolik. Meski dulu pun sebenarnya Bapak hanyalah seorang penganut Katolik pasif. Waktu itu berdiri PACKU, Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang.

Namun tidak lama kemudian ada surat edaran dari Kejati melarang kegiatan-kegiatan PACKU, seperti Seren Taun dan sebagainya, karena dianggap mengarah pada pembentukan agama baru. Surat edaran itu lalu dibacakan secara serentak di seluruh sekolah-sekolah di daerah Kuningan. Khususnya pada saat upacara bendera.

Waktu itu aku belajar di sekolah Katolik. Setiap kali upacara dan setiap hari Kamis saya disuruh pergi ke Gereja. Akhirnya saya bilang pada ibu saya, kalau saya ingin belajar sekolah yang netral, dan saya berpikir bahwa sekolah negerilah yang netral.

Nah lalu saya pindah ke sekolah negeri dan mulai beradaptasi dengan pelajaran agama yang lain, yaitu Islam. Di situ saya harus belajar mengaji, sholat, dan lain-lain. Wah saat itu saya betul-betul stress berat. Gimana, orang saya tidak bisa mengaji. Sementara dalam ujian kita dituntut ujian sholat dan ngaji. Ketika ujian tiba, saya dipanggil kepala sekolah dan wali kelas. Mereka menginginkan saya kembali ke akar. Maksudnya kembali ke Islam karena kata mereka Buyut Madrais itu beragama Islam. Dan mereka bilang rumah ini bukan Paseban, tapi Pesantren.

Lalu saya bilang, saya tidak bisa melakukan itu. Padahal mereka sebenarnya sudah siap menggiring saya membaca syahadat.

Apa dasar mereka bilang Madrais itu Islam?

Saya tidak tahu. Mereka bilang rumah ini pesantren dan Madrais itu adalah seorang muslim. Lalu saya bilang bahwa saya tidak bisa melakukan apa yang diinginkan bapak guru. Saya punya orang tua, dan saya tahu apa yang benar dan salah itu berasal dari orang tua. Saya yakin apa yang dilakukan orang tua semuanya benar. Jadi saya tidak bisa berpaling begitu saja. Akhirnya, guru saya menulis kolom agama di Raport saya Katolik. Tapi saya disuruh melakukan sholat dan mengaji. Meskipun tidak bisa.

Lalu ketika di SMP yang waktu itu pelarangan Seren Taun lagi hangat-hangatnya sekitar tahun 1986-1987, pada setiap pelajaran agama guru saya selalu bilang bahwa kafir itu begini atau kafir itu begitu. Perasaan saya waktu itu berontak. Ya mungkin terpengaruh karena saya masih remaja yang butuh eksistensi diri dihadapan teman-teman dan juga perlu pengakuan dalam pergaulan. Tapi sebenarnya setiap pelajaran agama saya menolak itu bukan karena apa, melainkan karena saya mendengar omongannya selalu menyinggung dan menjelek-jelekkan. Jadi saya terpaksa mengikuti terus pelajaran itu karena takut nanti mendapat hukuman.

Di sekolah itu, apakah ada orang lain yang mendapat perlakuan yang sama?

Ya kebetulan waktu di SMP Negeri itu hanya saya yang penghayat ya. Tapi ketika saya sekolah di Cigugur banyak teman-teman yang mendapat perlakuan seperti itu.

Lalu bagaimana pengalaman Anda di SMA?

Waktu di SMA, yang ngomong kafir atau suka mengkafirkan itu justru bukan guru agama. Guru agamanya anteng, baik. Justru guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang suka bicara kafir dan mengkafirkan. Dia menerangkan bahwa di Indonesia hanya ada 5 agama resmi. Sedangkan yang di Cigugur itu bukan agama, melainkan Madraisme. Dia bilang, Madrais itu orang kafir, murtad, dan segala macam. Lalu saya memberanikan diri bicara: ini pelajaran PMP, saya pikir semua agama tidak membenarkan menjelek-jelekkan orang lain. Apalagi orang yang kita tidak tahu, dan kita tidak bisa bersaksi. Saya tanya Bapak, sekarang anda lahir tahun berapa. Saya tanya begitu, dia kaget. Dia bilang lahir tahun 1942. Padahal Madrais meninggal jauh sebelum dia lahir.

Gara-gara itu sampai akhirnya saya tidak bisa naik kelas karena nilai pelajaran PMP mendapat angka lima. Begitu juga nilai pelajaran agama saya. Padahal nilai pelajaran-pelajaran yang lain bagus-bagus.

Lalu kasus itu juga dirapatkan. Saya tidak naik kelas karena angka nilainya lima. Itu karena saya dipermalukan oleh guru saya. Kenapa dia tidak memberi kabar yang benar. Mengapa dia tidak datang ke Cigugur mencari tahu, dan langsung main tuduh dan sebarkan begitu? Saya protes soal itu. Karena, bagi saya, apa yang dikatakan guru adalah pengajaran dan diserap oleh murid-murid yang lain sebagai penambahan ilmu pengetahuan di kelas. Dan karena guru itu mengajar di banyak jurusan, bukan tidak mungkin semua siswa mendengarkan juga. Justeru menurut saya, informasi di kelas lebih terekam di bandingkan di depan umum. Jadi saya waktu itu melawan.

Lalu saya pindah sekolah ke Bandung. Guru saya di Bandung mempertanyakan mengapa kolom isian agama dalam buku Raport saya tertulis: [-]. Artinya, kolom agamanya dikosongi. Guru baru saya itu rupanya kebingungan. Di sekolah itu hanya ada 2 guru agama, Katolik dan Islam. Lalu saya bilang bahwa saya penghayat. Dan saya bisa mengikuti pelajaran agama yang mana saja. Kemudian kami ngobrol dan dia mulai bertanya mengenai agama saya.

Nah bagi saya sebenarnya saya lebih suka guru yang seperti ini. Dia mau bertanya dan saya diberi kesempatan menjelaskan.

Pengalaman ini anda rasakan di setiap sekolah atau…

Ini saya alami bukan hanya di sekolah Islam, tapi juga di sekolah Katolik.[]

http://www.desantara.org/05-2008/675/ko ... -tertulis/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby muslim_netral » Mon Jun 11, 2012 1:23 am

Minggu depan saya mau ke Cireundeu,
kampung ini perlu diislamkan... :rock:

Kalau bro duren, mau ketemu, saya tunggu di sana, jam 10 pagi, hari Minggu
User avatar
muslim_netral
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1701
Joined: Mon Jul 12, 2010 12:58 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby sundamurtat » Mon Jun 11, 2012 10:35 am

gawatt, saya keduluann..

udah ada acara minggu ini saya mau ke situs Gunung Padang di Cianjur.. jalan2 sama pegawai saya, memperkenalkan kehebatan nenek moyang Sunda yg kapir jaman dulu..

ya sudah, yg Cireundeu jadi lalapan Neneng Musnet ajah.. lain kali saya ke sana..

:tonqe:
User avatar
sundamurtat
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 728
Joined: Fri Apr 06, 2012 10:50 am
Location: Bandung - calon Israel Van Java

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby gateway » Mon Jun 11, 2012 11:08 am

sundamurtat wrote:gawatt, saya keduluann..

udah ada acara minggu ini saya mau ke situs Gunung Padang di Cianjur.. jalan2 sama pegawai saya, memperkenalkan kehebatan nenek moyang Sunda yg kapir jaman dulu..

ya sudah, yg Cireundeu jadi lalapan Neneng Musnet ajah.. lain kali saya ke sana..

:tonqe:

biarin aja bro..org geger otak karena demdam kesumat seperti musnet ini biar ngiri sampe koit.
User avatar
gateway
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1031
Joined: Sun Aug 21, 2011 8:59 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Pembawa_Pete » Mon Jun 11, 2012 11:35 am

muslim_netral wrote:Minggu depan saya mau ke Cireundeu,
kampung ini perlu diislamkan... :rock:

Kalau bro duren, mau ketemu, saya tunggu di sana, jam 10 pagi, hari Minggu


wuih serem.
bakal ada teriakan "ouwoh barbar" nih
User avatar
Pembawa_Pete
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 757
Joined: Mon Aug 09, 2010 11:26 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby muslim_netral » Mon Jun 11, 2012 4:19 pm

sundamurtat wrote:gawatt, saya keduluann..

udah ada acara minggu ini saya mau ke situs Gunung Padang di Cianjur.. jalan2 sama pegawai saya, memperkenalkan kehebatan nenek moyang Sunda yg kapir jaman dulu..

ya sudah, yg Cireundeu jadi lalapan Neneng Musnet ajah.. lain kali saya ke sana..

:tonqe:


Hehehe gak jadi ding, di sana sudah berdiri Mesjid Al-Ikhlas, anak-anaknya sudah belajar ngaji, cuma orang-orang tuanya aja masih megang adat lama, anak-anaknya mereka bebasin mau pilih apa, orangtuanya cuma nganjurin aja.
PKS punya gawe :finga:
Alhamdulillah...
User avatar
muslim_netral
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1701
Joined: Mon Jul 12, 2010 12:58 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby paidjoh » Mon Jun 11, 2012 5:36 pm

muslim_netral wrote:Minggu depan saya mau ke Cireundeu,
kampung ini perlu diislamkan... :rock:

Kalau bro duren, mau ketemu, saya tunggu di sana, jam 10 pagi, hari Minggu


mau kebaktian minggu ya neng ??
digereja mana ? :green:
paidjoh
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 907
Joined: Tue Nov 15, 2011 12:45 pm

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby swatantre » Tue Jun 12, 2012 2:23 pm

muslim_netral wrote:
Hehehe gak jadi ding, di sana sudah berdiri Mesjid Al-Ikhlas, anak-anaknya sudah belajar ngaji, cuma orang-orang tuanya aja masih megang adat lama, anak-anaknya mereka bebasin mau pilih apa, orangtuanya cuma nganjurin aja.
PKS punya gawe :finga:
Alhamdulillah...

Membuktikan kalo penganut Sunda WIwitan JAUH lebih beradab daripada islam yg bisa berdiri karena suka memaksa... Emang ente baru tahu? KAlo penganut Agama SW seperti islam, wah udah hancur tuh mesjid dibakar massa yg tersinggung karena sudah maksa2, menekan, dan menista serta menyebarkan agajma silam ke kaum yg sudah berkepercayaan...
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4104
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Sun Jul 01, 2012 5:34 am

http://islamlib.com/id/artikel/agama-sunda-wiwitan

Reportase Program Agama dan Masyarakat
Radio 68 H
Agama Sunda Wiwitan
Oleh Rofi Uddarojat*
Menurut Dewi, intoleransi terhadap
kelompok kepercayaan sebenarnya sudah
terjadi sejak penjajahan Belanda. Pada saat
itu pemerintah kolonial sengaja untuk
mengadu domba institusi agama seperti
pesantren dengan aliran kepercayaan.
Untuk membatasi eksistensi aliran
kepercayaan, pemerintah kolonial membuat
stigma bahwa aliran kepercayaan adalah
kelompok sesat. Kepada kelompok muslim,
pemerintah kolonial mengatakan bahwa
aliran kepercayaan adalah kelompok
murtad. Sehingga resistensi terhadap
kelompok kepercayaan pun semakin besar.
Agama Sunda Wiwitan adalah agama asli
Indonesia. Namun sayangnya, kepercayaan
minoritas ini masih mendapat diskriminasi
dengan tidak diakui sebagai aliran kepercayaan
resmi Indonesia. Sampai saat ini penganut aliran
Sunda Wiwitan sulit mendapat identitas diri
karena belum diakui oleh pemerintah. Untuk
membahasnya lebih jauh, Radio KBR68H
bersama Tempo, melalui Program Agama dan
Masyarakat pada tanggal 19 Oktober 2011
mengangkat sebuah diskusi bertema “Agama
Sunda Wiwitan” bersama seorang penganut
Sunda Wiwitan, Dewi Kanti Setyaningsih dan
aktivis Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika
(ANBTI), Nia Syarifudin.
Menurut Dewi, makna “wiwitan” dalam Sunda
Wiwitan adalah “permulaan” atau “awal”.
Pemahaman Sunda Wiwitan sendiri antara lain
sistem keyakinan tradisi Sunda Lama sebelum
datangnya agama-agama lain ke nusantara.
Kata “Sunda” sendiri bukan hanya bermakna
etnis Sunda, tetapi bermakna filosofis yang
artinya “damai” dan “cahaya”. Dewi sendiri
menghayati ajaran Sunda Wiwitan sebagai
penghayatan terhadap anugerah kodrati sang
pencipta. Kesadaran itulah yang melandasi
kepercayaan terhadap ajaran Sunda Wiwitan.
Sebelum agama-agama lain datang ke
Nusantara, penganut Sunda Wiwitan sudah
terlebih dulu menjalankan tradisi “ageman” atau
pedoman hidup dari leluhurnya. Dalam ajarana
Sunda Wiwitan juga terdapat pikukuh tilu yakni
pedoman kemanusiaan dan kebangsaan. Saat
ini penganut Sunda Wiwitan terdapat di
beberapa tempat, diantaranya Karakas dan
Cigugur Kuningan. Dewi juga membantah
bahwa Sunda Wiwitan dianggap sebagai aliran
animisme, karena menurutnya Sunda Wiwitan
adalah keyakinan yang meyakini tentang sang
pencipta, termasuk lingkungan dan alam
sekitarnya. Ketika penganut Sunda Wiwitan
terlihat menyembah pohon atau bangunan
lainnya, itu hanya dianggap sebagai sarana
penyembahan kepada yang maha pencipta. Jadi
yang diambil adalah spirit dan nilai-nilainya,
bukan materinya.
Selain itu menurut Dewi, intoleransi terhadap
kelompok kepercayaan sebenarnya sudah terjadi
sejak penjajahan Belanda. Pada saat itu
pemerintah kolonial sengaja untuk mengadu
domba institusi agama seperti pesantren dengan
aliran kepercayaan. Untuk membatasi eksistensi
aliran kepercayaan, pemerintah kolonial
membuat stigma bahwa aliran kepercayaan
adalah kelompok sesat. Kepada kelompok
muslim, pemerintah kolonial mengatakan bahwa
aliran kepercayaan adalah kelompok murtad.
Sehingga resistensi terhadap kelompok
kepercayaan pun semakin besar.
Sedangkan menurut Nia, konstitusi Indonesia
menjamin kebebasan beragama. Namun dia
sangat menyayangkan masih banyak terjadi
diskriminasi terhadap penganut Sunda Wiwitan.
Klo pun tidak ada pemaksaan terhadap enam
agama yang diakui, pengosongan kolom agama
di Kartu Tanda Penduduk (KTP) akan
menimbulkan stigma bahwa penganut Sunda
Wiwitan tidak bertuhan, yang akhirnya akan
menimbulkan diskriminasi yang lebih besar.
Selain itu, penganut aliran kepercayaan masih
dipersulit ketika akan melangsungkan
pernikahan, salah satunya dengan diwajibkannya
bergabung dengan organisasi tertentu.
Akibatnya, banyak pernikahan Sunda Wiwitan
yang tidak tercatat oleh negara sehingga
berdampak pada anak-anak yang dilahirkan
tanpa dokumen. Ketika anak-anak penganut
kepercayaan bersekolah, di sekolah tersebut
tidak disediakan guru agama kepercayaan anak
tersebut. Karena pihak sekolah hanya
menyediakan guru agama yang diakui.
Selain itu, hal yang menjadi perhatian serius
lainnya adalah masalah pemakaman umum
yang kian mendiskriminasi penganut aliran
kepercayaan. Pemakaman umum yang
seharusnya menjadi hak setiap warga negara,
kini diperuntukkan bagi agama yang diakui saja.
Akhirnya, tidak sedikit penganut aliran
kepercayaan yang dikuburkan di belakang
rumahnya. Nia juga mengkritik negara yang
belum optimal dalam melaksanakan pasal 29
UUD 1945, dengan adanya diskriminasi dalam
hal mengurus agama dan kepercayaan. Enam
agama ditampung dalam satu kementerian
dibawah menteri, tetapi kepercayaan tidak
mendapat tempat yang sederajat. Hal ini
merupakan bentuk diskriminasi yang paling
nyata. Padahal menurut Nia, dalam deklarasi
HAM internasional semua bentuk agama
(religion) dan kepercayaan (belief) ditempatkan
dalam satu posisi yang sama.
Kaitan kepercayaan lokal dengan lingkungan
hidup, menurut Nia, diskriminasi terhadap
budaya dan kepercayaan lokal mempengaruhi
kerusakan lingkungan di Indonesia. Masyarakat
lokal yang selama ini memegang teguh prinsip
menjaga lingkungan, semakin terpinggirkan
sehingga banyak pihak yang bebas
mengeksploitasi hutan. Padahal selama ini
masyarakat lokal sangat berjasa dalam
pelestarian lingkungan. Nia mencontohkan suku
Dayak di Kalimantan, sangat berjasa dalam
menjaga hutan Kalimantan.
Menanggapi komentar pendengar, Dewi
membenarkan bahwa yang harus diutamakan
adalah titik temu antara agama-agama, bukan
meyibukkan dengan perbedaan simbol dan
istilah. Tidak berbeda dengan Dewi, Nia
membenarkan bahwa kepercayaan lokal harus
dijaga dan menghapuskan segala diskriminasi
yang ada.
*Mahasiswa Universitas Paramadina Jakarta,
aktif di YFN-Freedom Institute.
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby muslim_netral » Wed Jul 04, 2012 1:32 am

Gak ada itu yang namanya agama asli indonesia,
semua agama indo produk impor, mungkin yang lebih mendekati keaslian adalah animisme dan dinamisme
User avatar
muslim_netral
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1701
Joined: Mon Jul 12, 2010 12:58 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Tue Aug 07, 2012 5:58 am

tragis, ini sih lebih kejam dari kasus rohingya di birma
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Wed Aug 08, 2012 3:59 pm

Isteri Alm Gusdur Sahur Bersama di Cigugur

Jumat, 27 Juli 2012 17:04
Mumuh
Kunjungan: 270

Surel
Cetak
PDF

Isteri Alm Gusdur Sahur Bersama di Cigugur

Isteri Alm Gusdur Sahur Bersama di Cigugur

Kuningan News - Isteri mantan Presiden RI ke 4 almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gusdur), Sinta Nuria, menggelar sahur bersama komunitas adat sunda Cigugur dan sejumlah tokoh lintas agama bersama ratusan anak yatim di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kamis kemarin (26/7).

Acara tersebut diselenggarakan berkat kerja sama antara Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Yayasan Tri Mulya Cigugur, Pontren Al-Mizan Majalengka, Fahmina Institute Cirebon, Jemaah Ahmadiyah Indonesia serta Serikat Jurnalis Untuk Kebersamaan. Sahur bersama Sinta juga dihadiri berbagai elemen masyarakat yang peduli pada isu lintas iman dan kebersamaan, seperti Kolom Ciremai Institute, perwakilan Sekolah Luar Biasa, anak yatim piatu, santri di sekitar Cigugur dan kelompok kepercayaan setempat.

Dalam tausiahnya, Sinta mengatakan, jika pelangi yang berwarna warni merupakan ciptaan Tuhan yang indah. Gambaran itulah yang dikatakan Sinta sebagai sebuah perbedaan yang terwujud dalam kebersamaan. Pelangi nusantara harus tetap dirawat dan dijaga sebagai suatu ciri khas negara Indonesia yang berbhineka Tunggal Ika.

“Saya juga mengajak saudara-saudara di Indoensia untuk sama-sama menghormati saudaranya yang sedang menjalankan ibadah Puasa. Tidak boleh lagi saling bertengkar dan saling mengejek, tetapi harus saling tolong menolong dan bahu membahu, agar negara kita tetap kokoh,” kata Sinta seraya menghimbau seluruh hadirin untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan.

Disebutkan Sinta, ibadah puasa mengajarkan kesabaran, kejujuran, saling berbagi, serta harus berjuang dan bekerja demi mencari sesuap nasi untuk bisa merasakan penderitaan orang lain. “Kita semua harus jujur, karena masih banyak dijumpai orang di sekeliling kita yang tidak jujur dan tidak sabar, padahal diantara kita banyak yang beragama Islam,” sebutnya.

Sementara, tokoh masyarakat Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, Rama Jati Kusuma, dalam paparannya menuturkan, paseban selama ini dikenal sebagai pusat perekat keberagaman lintas iman di Cigugur dan dikenal pula sebagai Komunitas Sunda Wiwitan oleh almarhum Gusdur.

“Gusdur mempunyai peran penting dalam menumbuhkan toleransi umat beragama. Oleh karenanya, semasa Gusdur jadi Presiden RI pada tahun 1999, tradisi adat seren tahun yang dilarang oleh pemerintah selama 17 tahun, bisa dihidupkan kembali sebagai sebuah kearifan lokal yang perlu dilestarikan,” tuturnya. (muh)

http://kuningannews.com/index.php/kunin ... gugur.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Thu Aug 16, 2012 5:30 am

sundul lagi karena yang menjadi daya tarik wisatawan asing ke indonesia justru budaya asli bangsa indonesia bukan islam. ingat bali yang lebih dikenal ketimbang negeri ini justru karena budaya aslinya begitu juga dengan solo & yogyakarta
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Sun Aug 19, 2012 2:24 pm

Seni, Siasat Perempuan Adat Cigugur
Anisa Rahmawati Djaelanie | 23 - May - 2008

Apakah berbicara tentang perjuangan bersama melawan diskriminasi hanya monopoli kaum laki-laki? Demikian pertanyaan yang mengemuka dalam forum Pengajian Agama dan Kebudayaan “Islam dan HAM Kultural”, Desantara. Forum yang mengangkat kasus diskriminasi yang dialami komunitas Adat Karuhun Sunda Cigugur memang menampilkan pembicara yang semuanya laki-laki. Meski demikian, ternyata ada sosok perempuan di balik layar yang terlibat bukan hanya dalam men-setting forum tersebut tapi juga aktif membangun siasat-siasat bersama dalam melawan diskriminasi, terutama di lingkungan komunitasnya. Dan itulah yang dilakukan oleh Ibu Emalia Djatikusumah (61 tahun), istri Pangeran Djatiksumah.

Dimulai dari perlakuan diskriminatif yang diterima oleh Komunitas Adat Karuhun Sunda dari negara (state), puncaknya adalah dijebloskannya Pangeran Djatikusumah yang merupakan keturunan langsung dari Pangeran Madrais atas dakwaan “meresahkan masyarakat”, oleh pemerintah ke balik terali besi. Desa Cigugur kemudian menjadi kampung yang senyap dan hampir mati. Akibatnya, komunitas Adat Karuhun Sunda juga mengalami stagnasi. Kebijakan pemerintah yang didasarkan pada stabilitas nasional dan diberlakukannya politik SARA, pada realitasnya kemudian membatasi aktivitas masyarakat, terlebih pada masyarakat Cigugur yang terlanjur diberi label “berbeda” dan menjadi “wong liyan” dari definisi agama yang resmi.

Adalah ibu Emalia Djatikusumah yang dengan caranya sendiri berupaya menerobos sekat-sekat diskriminasi dan sikap represif pemerintah melalui jalur budaya, tepatnya melalui kesenian, melakukan usaha-usaha penghidupan kembali ajaran dan budaya Karuhun Sunda. Di Lingkung Seni yang dirintisnya itu pula terjadi transformasi dan pewarisan nilai-nilai ajaran Sunda. Kelebihan ibu Emalia sebagai koreografer benar-benar mampu dimanfaatkan oleh beliau untuk menjadikan seni (tari) sebagai ladang penanaman kecintaan penghayat atas ajaran leluhur mereka. Dalam konteks sosial, hal ini juga berfungsi sebagai sarana “komunikasi publik” bahwa ajaran dan eksistensi mereka layak untuk diperhatikan dan disikapi secara wajar dan tidak perlu dicurigai oleh masyarakat sekitar. Dan berkat kreatifitasnya itu ia kerap diundang dalam beberapa forum internasional guna menyuarakan hak-hak sipil dan budaya komunitas adat Karuhun.

Dalam aktivitas berkeseniannya, ibu Emalia banyak melahirkan karya yang notabene mengandung filosofi mendalam mengenai konsep ajaran Sunda Karuhun mengenai konsep relasi gender di antara mereka yang kemudian melahirkan Tari Buyung, misalnya. Tarian ini menggambarkan kesetimbangan ajaran Sunda Karuhun dalam relasi maskulinitas dan feminitas dalam diri manusia, serta kaitannya dengan tata laku kehidupan sehari-hari. Tarian ini melukiskan dan dilhami dari ciri khas Desa Cigugur. Yakni kebiasaan mengambil air dengan buyung (sejenis alat yang terbuat dari logam maupun tanah liat yang digunakan perempuan desa mengambil air di sungai, danau atau kolam). Kebiasaan ini sudah lama berakar kuat dan menyatu dengan perilaku masyarakatnya yang suka menolong, hidup bergotong-royong tanpa memandang latar belakang status sosial maupun kepercayaan mereka. Ini dikemas dengan apik oleh Ibu Emalia dalam Tari Buyung ini.

Gerakan-gerakannya menggambarkan para gadis menjunjung kendi di atas kepala sehabis mandi bersama, bercengkerama dengan sebayanya, serta mengambil air di pancuran. Lewat gerak-gerik ini, Ibu Emalia berkehendak mengingatkan para penghayat dan umat manusia pada umumnya apa makna yang tersirat melalui air, buyung dan manusia. Ajaran kesetimbangan Karuhun Sunda tentang Tuhan, manusia dan alam terlukis begitu estetisnya dalam beberapa formasi, Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamulan, dan Nugu Telu.

Selain Tari Buyung, Upacara Seren Taun, yang dirayakan tiap tahun, juga memperlihatkan nilai kesetimbangan tersebut. Juga penghormatan terhadap Sunan Ambu atau Pwah Aci Sahyang Asri (pada daerah agararis lainnya dikenal dengan sebutan Dewi Sri) sang penyedia kehidupan. Kemudian dianalogikan pada sosok perempuan yang juga menyediakan rahimnya bagi kelahiran putra-putri penerus bangsa. Pada upacara inilah kisah-kisah klasik pantun Sunda dituturkan, dan di antaranya kisah perjalanan Pwah Aci dilantunkan.

Sikap yang diperlihatkan ibu Emalia dan perempuan adat Sunda Karuhun lainnya merupakan refleksi dari konstruk yang berkembang bahwa konsepsi perempuan sunda Karuhun berpijak pada kesetimbangan antara maskulinitas dan feminitas, jadi tidak ada hambatan pada tingkat ajaran spiritual yang mengekang aktivitas dan ruang gerak perempuan, melainkan proses saling melengkapi yang kemudian melahirkan harmonisasi yang utuh.

Figur feminin yang dalam tradisi mereka disebut “Sunan Ambu” (the mother of earth) diyakini bertugas untuk membangun fungsi harmonisasi kondisi yang saling berhadapan. Pada energi feminin akan melahirkan “eros” yang bersifat :toleransi, keindahan, pengertian, persaudaraan dan kesinambungan. Untuk mengimbangi energi maskulin yang menghasilkan “thanatos”, yang bersifat: semangat kompetisi, Ambisi, Dominasi dan kekuatan. Sinergitas dari kedua energi itulah yang seharusnya dimiliki secara utuh yang kemudian melahirkan keseimbangan pada diri manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan. Maka tidak ada pemilahan peran sosial dan struktural yang diskriminatif dalam komunitas mereka, yang ada adalah pembagian peran yang proporsional yang saling melengkapi yang pada akhirnya mewujudkan harmoni alami.

Istri Pangeran Djatikusumah ini mampu memposisikan perempuan sebagai garda depan pewaris tradisi leluhur Karuhun Sunda. Peran perempuan Karuhun Sunda tereksperimentasi dengan baik, justru ketika hak-hak politik dan sipil komunitas mereka ‘dikebiri’ oleh negara. Ibu Emalia lewat kesenian telah mampu membangkitkan kepercayaan diri komunitasnya dalam upaya survival living di tengah gerusan rezimentasi kekuasaan yang anti adat dan tradisi komunitasnya.

Ibu Emalia, dan para perempuan Cigugur lainnya, seakan tahu betul, bahasa seni adalah bahasa universal. Ia mampu melewati batas-batas geografis, demografis dan psikografis manusia, negara dan dunia itu sendiri. Karenanya, menjadikan kesenian sebagai ‘senjata perlawanan’ atas diskriminasi hak dan eksistensi sosial mereka merupakan sumbangsih tak ternilaikan dari perempuan Sunda Karuhun bagi kelangsungan Komunitas Adat Karuhun Sunda.

Ketika negara hanya mengakui lima agama, komunitas adat ini pun tergeser ke pinggir. Karena mereka tidak ingin mengakui kebijakan yang sangat diskriminatif itu. Seperti tampak dalam UU Perkawinan beserta instrumen hukum pelaksanaannya. Sekali lagi, Ibu Emalia dan perempuan Penghayat lainnya ikut lantang meneriakkan protes terhadap kebijakan tersebut. Posisi perempuan sangat dirugikan. Status perkawinan mereka tidak diakui keabsahannya oleh negara dan praktik penghukuman tersebut tidak berhenti pada kedua pasangan itu saja, melainkan berimbas pada kelangsungan hidup anak-anak mereka nantinya. Anak-anak mereka tidak diakui sebagai anak sah dalam akta kelahiran, kesulitan dalam kelanjutan pendidikan dan jenjang karir. Kalaupun ada maka redaksinya amat tidak manusiawi dan merendahkan posisi perempuan. Mereka tidak diakui sebagai ibu dari anak-anak mereka, dan bukan istri dari suami mereka. Aktanya jadinya adalah akta pengakuan. Lebih jauh protes sosial mereka ini disuarakan lewat berbagai forum HAM, nasional maupun internasional. Ibu Emalia tidak pernah lelah dalam memperjuangkannya. Justru peran itu dilihatnya sebagai tugas mulia yang sanggup mensejajarkan dirinya dengan para lelaki komunitas Sunda Karuhun lainnya.

Ketika masa pemerintahan berganti, dan mulai terbukanya alam demokrasi yang ditawarkan pasca orba, turut membawa perubahan yang signifikan pada masyarakat Cigugur, berawal dari interaksinya yang intensif dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang ketika itu masih menjabat Ketua Umum PBNU, tradisi spiritual Sunda Karuhun Urang Cigugur (mendapat nama Agama Djawi Sunda pada masa orde Baru) yang sempat dilarang, mulai muncul kembali. Peran publikasi isu hak-hak sipil dan budaya tersebut (baca:diskriminasi) dengan sendirinya berpindah pada sang pewaris zaman, putra-putri Kuningan, yang tergambar dengan sangat jelas pada sosok Dewi Kanti (29 tahun), putri bungsunya sendiri.

Dengan tidak bermaksud menyepelekan peran yang lain, Dewi Kanti adalah sosok yang kemudian lekat di mata teman-teman aktivis HAM karena intensitas dan integritasnya pada perjuangan penolakan diskriminasi pada masyarakat Cigugur. Berawal dari intensitasnya mengawal sang ayah, Pangeran Djatikusumah berinteraksi dengan tokoh-tokoh pejuang demokrasi, HAM, civil society di tingkat nasional, seperti Gus Dur, Bondan Gunawan dan Chandra Setiawan (MATAKIN), membawa Dewi untuk kemudian aktif di ICRP dan MADIA, dua wadah yang kian mengasah kepeduliannya pada segala bentuk tindakan diskriminatif yang dialami oleh masyarakat adatnya.

Perkenalannya dengan DESANTARA dan lembaga lain yang ditindaklanjuti dengan membentuk kelompok “Masyarakat Peduli Hak Sipildan Budaya”, diakui atau tidak, telah membawa Dewi Kanti semakin kencang memperjuangkan perbaikan di tingkat kebijakan dan melakukan kampanye publik atas perlakuan tidak menyenangkan selama ini.

Tulisan ini mencoba mengakhiri dengan sejumlah agenda yang menjadi harapan bagi terwujudnya kehidupan yang menjunjung tinggi dan terpenuhinya dasar-dasar Ham di Indonesia, khususnya bisa memberikan keleluasaan bagi komunitas adat untuk menikmati hak-hak kultural mereka. Dan mudah-mudahan mendapat perhatian khusus dari pemerhati dan aktivis perempuan untuk memberikan sumbangsihnya pada perjuangan ini, karena sampai hari ini, pada level gerakan perempuan sendiri, belum ada satupun organisasi perempuan yang membeikan perhatian dan melakukan advokasi terhadap kasus tersebut. Semoga. Desantara / Anisa Rahmawati Djaelanie

http://www.desantara.org/05-2008/719/se ... t-cigugur/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Sun Aug 19, 2012 2:25 pm

Kami Bertapa dalam Hiruk-pikuk Kehidupan
Dewi Kanti Satria Djati | 23 - May - 2008

Masyarakat adat Karuhun (leluhur) Sunda dengan pusat kegiatannya di Cigugur merupakan komunitas adat yang dilandaskan “spiritual value” yang dinamis. Dalam arti kehidupan bermasyarakat tidak terkungkung pada kekolotan masa lampau, namun tetap berpegang pada nilai spiritual dari leluhur.

Upaya melestarikan adat warisan karuhun, dalam era modern sekarang ini memang bukan sesuatu hal yang mudah. Apalagi dengan derasnya arus globalisasi itu. Namun bagi generasi muda warga Karuhun, dengan mempertahankan budaya spiritual leluhur, hal itu merupakan tantangan tersendiri!

Dalam perkembangannya kini budaya sunda makin asing dan tererosi oleh tradisi budaya lain. Kenyataan ini membuat karakter manusia sunda “saat ini” cenderung menjadi peniru budaya asing. Mungkin ini disebabkan karena karakter dasar manusia sunda yang pada umumnya “mudah menyerap sesuatu hal yang baru” (adaptif-luwes) dan selalu berupaya “ingin seperti”. Atau manusia sunda terbentuk manja oleh suasanan geografis yang tidak terlalu menuntutnya untuk harus bekerja keras dan berfikir cerdas? Seperti yang dikatakan rohaniawan katolik dari Bogor: “Bahwa Tuhan menciptakan bumi Parahyangan saat Dia tersenyum, maka keindahanlah yang terpancar, kesuburanlah yang terhampar”. Mojang dan jajaka Sunda yang terkenal cantik dan tampan pun saat ini terkesan bagai “pohon tanpa akar” yang telah kehilangan karakter “Kasundaan” yang “nyunda”, karena tererosi oleh peradaban materialistik dan kebendaan dan tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk melangsungkan peradaban yang berlandaskan hukum adikorati Maha Pencipta.

Dorongan untuk cenderung meniru orang lain disebabkan krisis kepercayaan kepada diri sendiri, bahkan memang mungkin tidak pernah mengenal cara-ciri diri itu siapa? Padahal dalam filsafat Sunda itu sangatlah penting untuk mengenal “asal usul diri” atau Sangkan Paraning Dumadi.

Dalam filsafat sunda, lingkaran hidup tersimpul dalam Sangkan Paraning Dumadi, yang berisi :

Asaling Dumadi (asal mula wujud)
Sangkaning Dumadi (dari mana datangnya hidup)
Purwaning Dumadi (awal kehidupan)
Tataraning Dumadi (derajat martabat wujud manusia)
Paraning Dumadi (bagaimana dan kemana setelah kehidupan)

Ada perasaan teriris dan miris manakala melihat kenyataan yang ada sekarang. Karena karakter “sunda” yang kami tahu terbentuk karena proses pengenalan diri pribadi dengan alam dan Maha Pencipta serta nilai tradisi geografis yang sesuai dengan karakter masyarakat kami sebagai masyarakata kepulauan.

Kami memaknai globalisasi tidak untuk menjadikan carut-marutnya budaya suatu bangsa, sehingga satu dengan lainnya tidak berkarakter utuh. Disilang dan terpotong (cross-cutting) dengan nilai tradisi dari tempat lain sehingga tahap “penyesuaian nilai budaya” (baik Adopsi dan Adaptasi) yang sebetulnya tahap mendasar menjadi prematur dan artifisial. Dalam analog para sesepuh kami seperti: memasak sayur asem dengan menggunakan vanili, yang mana dua entitas itu sebenarnya tanpa proses penyesuaian namun dipaksa bercampur dan ketikan penjajahan (termasuk budaya) itu sekarang terjadi. Sudah jelaslah di depan mata kita “kehancuran sebuah bangsa” sehingga tidak akan ada lagi “freedom for all nation”. Dimana setiap bangsa selayaknya memiliki kemerdekaan untuk mempertahankan dan melestarikan budaya bangsanya. Dan makin samarlah kita sebagai pewaris masa depan dalam berpijak dan menapaki kehidupan.

Namun bila mau melihat ke belakang bukan untuk mundu, tetapi seperti pesan leluhur “dina kiwari ngancik bihari, sejak ayeuna pikeun jaga” yang berarti “masa kini harus berkaca pada masa lalu, karena untuk mempersiapkan masa depan ditentukan oleh apa yang terjadi pada masa kini”.

Berangkat dari amanat itulah kami sebagai manusia yang telah dikaruniai rasa dan fikir, memiliki perasaan dan pikiran bahkan mampu merasakan dan memikirkan, terus menerus berupaya mengevaluasi perkembangan dari waktu ke waktu, kami memakai kini dan disini sebagai kodrat kami sebagai manusia dan suatu bangsa yang memegang hukum-hukum adikorati dari Maha Pencipta yang harus memiliki kesadaran diri selaku manusia dan kesadaran pribadi selaku suatu bangsa.

Adapun landasan pijak kesadaran kemanusiaan kami pada cara-ciri manusia sebagai makhluk Tuhan yang sempurna adalah bahwa kami memiliki cinta kasih, tatakrama, undak usuk, budi daya budi bahasa, serta wiwaha yuda na raga yang berarti pengendalian dalam memerangi ego di dalam diri. Sedangkan landasan kesadaran pribadi suatu bangsa berdasarkan karakteristik dari bangsa itu sendiri yang unik yakni memiliki rupa bahasa, adat, aksara/huruf dan kebudayaan”.

Ada saat kami melewati kenyataan yang “berbeda” bahkan “diperlakukan beda” dengan masyarakat lain. Baik hak sipil, ekonomi hingga hak budaya kami. Meski dengan tekanan seperti kami merasa hal tersebut sebagai tahap struggle for living. Dan kamin menyemangati kami bahwa kami ini memang terpilih untuk bertapa di bukan di puncak gunung yang sepi, namun kami ditakdirkan bertapa di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Desantara / Dewi Kanti Satria Djati

http://www.desantara.org/05-2008/717/ka ... kehidupan/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Aksara » Tue Sep 04, 2012 3:33 pm

[font=]Islam itu bukan Agama, tetapi ideologi, itu persepsi saya, maaf kalau saya keliru, namun saya yakin seperti itu, dan itu yang saya pelajari mengenai Islam di forum ini selama lebih dari 6 bulan posting.php?mode=reply&f=57&t=39868&sid=935c0dc6a0054f6c8debe518d32cb26b#[/font]
User avatar
Aksara
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 166
Joined: Fri Aug 10, 2012 4:21 pm

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Salam Musa » Tue Sep 04, 2012 11:18 pm

nandain :bear:
User avatar
Salam Musa
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1466
Joined: Wed May 19, 2010 2:51 pm

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby swatantre » Wed Sep 05, 2012 12:18 pm

muslim_netral wrote:Gak ada itu yang namanya agama asli indonesia,
semua agama indo produk impor, mungkin yang lebih mendekati keaslian adalah animisme dan dinamisme

Tuh tahu.... Makanya jangan sok jadi seperti yang punya rumah sendiri di sini, melebihi yang aslinya.. NAH!!!!!!!!
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4104
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Fri Oct 26, 2012 11:10 am

Wednesday, November 29, 2006
Dewi Kanti
Apakah artinya agama resmi? Indonesia hanya mengenal lima agama yang diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah: Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Di luar itu semua bukan agama resmi. Dalam istilah lain, agama "ilegal". Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang tidak mencantumkan agama resmi patut dicurigai, setidaknya oleh para birokrat. Akibatnya, mereka yang menganut agama kejawen, kepercayaan atau konghuchu harus gigit jari, sebab terbuang dari komunitas yang diakui oleh pemerintah. Bukan hanya itu, langkah ini sering berlanjut pada tindakan diskriminiasi, sebab para penganut agama "tidak resmi" itu tidak memperoleh dokumen kewarganegaraan yang semestinya seperti surat nikah, kartu keluarga (KK) sampai surat lain yang dibutuhkan.

Dewi Kanti adalah salah satu contohnya. Sebagai penganut agama kepercayaan Sunda Wiwitan, dia harus berjibaku dengan petugas catatan sipil Kabupaten Kuningan (Jawa Barat), gara-gara dia ingin menikah dengan cara leluhur menikahkan mereka. Padahal sang suami, Okky Satrio yang Katolik tidak keberatan dengan permintaan Dewi. Beberapa tokoh agama lain pun seperti Islam, tidak mempersoalkannya.

Beruntung kini Dewi sudah menikah. Aku bertemu dengannya dalam salah satu acara dialog keagamaan di gedung Jakarta Media Centre (JMC) awal tahun 2006. Dia bukan sebagai pembicara, tapi tampil sebagai juru kawih bersama kelompok kecapi Cianjuran yang dia pimpin. Setelah ngobrol di akhir acara, dia memberi alamat rumahnya. Rupanya, dia tetangga sebelah. Hanya beda RW, tapi masih dalam satu kawasan di Kemanggisan bahkan jaraknya dengan rumahku tidak begitu jauh.

Dewi tinggal di kawasan padat penduduk, tak jauh dari warung Encum yang terkenal dengan nasi uduk dan soto Betawinya. Bersama suami, keduanya menjalani hidup sebagai wiraswasta. Dewi memang belum berani menampakkan identitasnya sebagai penganut kepercayaan. Tapi, bila dibutuhkan, dia akan mengakuinya.

Lingkungan tempat aku dan Dewi tinggal adalah kawasan yang didominasi oleh warga muslim. Mushola dan mesjid mendominasi di sana. Meski tetanggaku sebenarnya lebih banyak warga keturunan Cina yang beragama Katolik dan beberapa konghuchu. Tapi Dewi tetap saja minoritas.

Tapi aku sangat percaya, Kemanggisan adalah kawasan di Jakarta yang paling aman dan paling toleran dari sisi kepercayaan yang dianut penduduknya. Saat kerusuhan berbau etnis berlangsung pada 1998, hiruk pikuk itu tidak sampai ke perumahan di sana.

Aku tidak pernah bertanya pada Dewi, apakah dia merasa nyaman di Kemanggisan. Tapi setahuku dia masih betah di sana.

Dewi adalah buyut dari Madrais. Lelaki asal Desa Cigugur, Kuningan ini adalah salah satu tokoh pendiri sekaligus penyebar agama sunda lama, alias Sunda Wiwitan. Selama hidupnya, Madrais pernah dibuang ke Digul (ada yang bilang ke Ternate, di Maluku) oleh pemerintah Belanda karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. Dia baru pulang ke kampung halamannya pada 1920. Dalam majalah berbahasa Sunda "Mangle" terbitan tahun 1980-an, pernah diulas soal keberadaan Madrais. Aku masih ingat, "Mangle" kala itu menyebut Madrais sebagai tokoh nasionalis yang anti Belanda. Dalam artikel tersebut juga dituliskan aktivitas ritual Madrais dan para pengikutnya, seperti "seba" (memberikan sejumlah hasil bumi) kepada sang hyang wisesa alam.

Menurut Dewi, beberapa ritual para pengikut Madrais hingga kini masih berlangsung di Desa Cigugur. Salah satunya adalah "Upacara Seren Taun", yang dilakukan setahun sekali. Masyarakat Cigugur, secara bergotong royong membawa hasil bumi. Mereka juga mengadakan pagelaran wayang dan kecapi suling pada malam hari.

Penduduk Cigugur sendiri, terbagi dalam dua agama besar: Islam dan Katolik. Banyak orang menduga, itu karena selama rezim Orde Baru, mereka dipaksa harus meninggalkan kepercayaan lamanya dan memilih salah satu agama resmi. Kala itu, dakwah dari kelompok Islam berebut dengan para misionaris Katolik.

Ayah Dewi, Pangeran Jatikusuma, adalah ketua paguyuban penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan di Jawa Barat sekaligus pimpinan yang meneruskan ajaran Madrais. Aku pernah bertemu dengan Jatikusuma di Hotel Preanger, Bandung, dalam acara pentas kecapi suling, ketika aku duduk di bangku SMA. Orangnya tak banyak bicara.

Salah seorang anak Jatikusuma, yang tak lain adalah kakak Dewi, sempat berperkara di pengadilan Jakarta Timur pada 1997. Pasalnya, persis kasus Dewi, mereka ingin menikah dengan cara penganut aliran kepercayaan. Kala itu, kantor catatan sipil tidak mengizinkan hingga berlanjut ke meja hijau.

Buat warga Kemanggisan, sebenarnya ini adalah berkah sebab mereka tidak hanya berdampingan dengan para penganut agama resmi, tapi juga penganut aliran kepercayaan. Aku pernah ditanya oleh Kak Mimi, iparku, penganut kepercayaan itu ada ritualnya nggak? Setahuku ada, tapi tidak rumit. Tapi, mereka lebih menitikberatkan pada ajaran budi dan ahlak yang baik. Bila inti dari agama (agama apa saja) adalah berbuat baik dan mengasihi pada sesama, tak ada alasan untuk menolak kehadiran mereka.

Aku berharap Dewi bebas memeluk dan menjalankan aktivitas kepercayaannya di Kemanggisan. Tanpa cemooh, tanpa diskriminasi.

http://kemanggisan.blogspot.com/2006/11 ... i.html?m=1
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5802
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

PreviousNext

Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: Google [Bot]