. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Sat Aug 14, 2010 9:39 pm

Nasib penganut aliran kepercayaan di Cireundeu
Diterbitkan : 6 Agustus 2009 - 5:00pm | Oleh KBR 68H
Diarsip dalam: aliran kepercayaan Cimahi Cireundeu Sunda Wiwitan
Konstitusi jelas menyatakan, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya masing-masing. Namun ini ternyata tak berlaku di kampung Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat.

Para penganut kepercayaan Sunda Wiwitan di kampung ini tak dijamin kemerdekaannya untuk menjalankan keyakinan. Anak-anak yang terlahir dari penganut kepercayaan, bahkan tak diakui oleh negara.

Di sekolah, mereka terpaksa mengakui dan mempelajari agama lain, supaya nilai pelajaran agama tak kosong di rapor. Reporter KBR68H Suryawijayanti berbincang dengan remaja Sunda Wiwitan yang tak sudi jadi pengkhianat kepercayaan mereka.

Takut FPI
Setahun lalu gerombolan beratribut Front Pembela Islam menyerbu Aliansi Keberagaman di Tugu Monas Jakarta. Deis, Irma, Rini dan Enci saat itu ada di sana. Di kepala mereka, masih terekam jelas peristiwa beringas di hari jadi Pancasila itu.

Anak-anak: "Takut, kayak dilempar-lempar batu, takut saja ... Ya tegang terus, pokoknya takut aja, ngumpet di mobil ... takut diserang. Soalnya khan pake baju adat, takutnya pas FPI liat langsung diserang, kita langsung pake jaket lalu masuk mudik. Sadis ah. Kenapa sih sampai begitu, meski kita beda. Apa sih salah kita ... IyaTeh, apa salah kita sih ..."

Ya, apa salahnya? Anak-anak yang belum genap berusia tujuh belas tahun itu bertanya. Tak pernah terbayang, mereka harus menjadi saksi kejadian beringas. Mereka adalah anak-anak penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan yang tinggal di Kampung Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat.

Di kampung Cireundeu ada sekitar 800an warga yang masih memegang teguh ajaran Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini dikembangkan oleh Pangeran dari Cigugur, Kuningan. Kepercayaan ini dikenal juga sebagai Cara Karuhun Urang atau tradisi nenek moyang. Mereka percaya pada Tuhan, dan teguh menjaga kepercayaan serta menjaga jatidiri sebagai orang Sunda.

Saling menghargai
Menurut Abah Emen, Ketua Kampung Adat Cireundeu ajaran ini menekankan manusia harus saling menghargai dan berdampingan dengan makhluk hidup lainnya.

Abah Emen: "Tekad, ucap dan perilaku. Yang penting adalah bagaimana perilaku kita, bukan apa yang keluar dari mulut. Yang diucapkan harus benar, semua tak boleh berdusta dan berbohong, jangan dilakukan semua larangan. Itu saja kok prinsipnya. Kita harus berbuat baik sesama manusia, tolong menolong, jangan menyakiti manusia, perkataan hati-hati, jangan asal saja."

Selain itu masyarakat Cireundeu menghormati leluhur mereka dengan tidak memakan nasi melainkan singkong. Bagi warga, tak makan nasi berarti menjalankan ajaran leluhur untuk mempertahankan apa yang mereka sebut, jati diri yang asli. Yana, pemuka Masyarakat Adat Kampung Cireundeu.

Yana: "Kami pun dalam kehidupan keseharian selalu menerapkan filosofi leluhur, dan selalu diingatkan inilah garis hidup yang harus kita jaga, mengemban sampai akhir hayat hidup kita."

Didikskriminasi
Sebagai penganut kepercayaan, Yana kenyang dengan perlakuan diskriminatif dari negara.

Yana: "Kami kesulitan untuk mencatatkan data sipil, pernikahan, kependudukan lah, semuanya. Dan kami di sekolah juga kebingungan, harus mengikut ke mana. Walaupun kami sudah mengaku sebagai penganut, tapi sekolah tak mau ngasih soal dan nilai, karena bukan agama resmi. Kami pernah datang ke sekolah, kami seperti ini, tapi katanya tak ada Undang Undang dan dasar hukumnya."

Maka, anak-anak Sunda Wiwitan mau tak mau harus mencantumkan salah satu agama yang diakui oleh pemerintah ketika berada di sekolah. Itu kalau tak ingin nilai agama di rapor kosong.

Rini baru saja lulus SMA. Pelajaran agama Islam ia pilih karena mayoritas siswa di sekolahnya adalah Muslim.

Rini: "Rini ikut agama Islam, Dari SD sampai SMA ikut agama Islam, kalo Rini bisa ngerjain, nurutin agama lain, yak bisa sih."
KBR68H: "Di satu kelas ada berapa penganut penghayat Rin?"
Rini: "Rini aja Teh."

Rini mengaku pertanyaan aneh kerap dilontarkan teman-temannya atas pilihan keyakinan yang dianutnya.

KBR68H: "Suka ditanyain ama temen-temen?"
Rini: "Suka sih, paling ditanya apa sih agamanya, bagaimana cara doanya, Rini sih jawab."
KBR68H: "Trus apa yang Rini jawab?"
Rini: "Yah Rini bilang sih kalo sama aja ama agama kalian, Cuma beda cara doanya."
KBR68H: "Trus gimana temen menyikapinya?"
Rini: "Ada sih yang bilang penghayat sih apaan. Khan agama cuma lima doank."

Irma Gusriani, baru saja naik kelas 3 SMA Warga Bhakti, Cimahi. Di sekolah, ia menjadi satu-satunya penghayat kepercayaan. Di rapor tercantum nilai 80 untuk pelajaran agama Islam.

Irma: "Di sekolah ikut agama Islam."
KBR68H: "Susah gak?"
Irma: "Gampang-gampang susah."
KBR68H: "Dapat nilai berapa?"
Irma: "80."
KBR68H: "Apa sih yang dipelajari?"
Irma: "Ya baca Al Qur'an, sholat, teori dan praktek-praktek, khan di situ mayoritas agama Islam, jadi yang dipelajari agama Islam."
KBR68H: "Suka ditanya ama teman-teman?"
Irma: "Iya, yah soal kitab-kitab dan cara doanya. Kadang dijawab kadang juga tidak."

Meski harus mempelajari dan bergelut dengan keyakinan lain selama bertahun-tahun, Irma dan Rini tak goyah memegang teguh keyakinan Sunda Wiwitan.

Irma: "Karena khan ini agama dari nenek moyang, jadi harus tetap dipertahankan."
Rini: "Karena Rini sudah yakin dengan agama ini, yang lain tak percaya."

Belajar aksara Sunda
Lalu bagaimana anak-anak ini tetap yakin memeluk Sunda Wiwitan, di tengah gempuran ayat-ayat suci agama lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Belasan anak-anak Sekolah Dasar masih asyik bermain petak umpet di sekitar Balai Kampung Cireundeu.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Empat remaja sudah tiba di Balai, akan mengajarkan aksara Sunda. Ada sekitar 15an anak usia Sekolah Dasar yang ikut belajar mengeja aksara Sunda. Tak ketinggalan lagu-lagu dengan lirik aksara Sunda kuno juga diajarkan ke anak-anak ini.

Ini kelas rutin, seminggu sekali, tiap akhir pekan. Meskipun tak ada paksaan, namun kursi-kursi di ruangan yang bersebelahan dengan Balai Kampung Cireundeu selalu penuh. Pengajarnya adalah anak-anak muda Cireundeu.

KBR68H: "Kenapa sih pingin tetap ngajari bahasa Sunda?"
Rini: "Rini pingin ngembangin aksara Sunda, Rini khan bisa maka ngajari aksara Sunda."
KBR68H: "Tapi ini khan hari minggu, yang harusnya harus santai, trus mesti ngajari, hari gini?"
Rini: "Yah sudah kewajiban sih Mbak. Dulu memang kita juga diajari ... ada sih yang suka bilang anak muda koq mau-maunya ngajari, khan gengsi ..."

Melestarikan warisan
Bagi penduduk Cireundeu, sekecil apapun warisan karuhun itu harus dilestarikan. Termasuk dalam urusan bahasa dan aksara. Melalui aksara dan lagu inilah keyakinan Sunda Wiwitan diturunkan dan dilestarikan. Yana, seorang pemuka Masyarakat Adat Kampung Cireundeu.

Yana: "Kami sebagai satu bangsa mempunyai, cara dan ciri, rupa, bahasa, aksara, adat budaya, itu adalah ciri, yang harus dipertahankan."

Anak-anak inilah yang nantinya menjadi penerus ajaran Sunda Wiwitan agar tetap bertahan di Bumi Cireundeu. Meskipun berbagai persoalan sudah membentang di depan mata, bahkan sejak mereka dilahirkan dari orangtua penghayat.

Anak-anak penghayat yang tak diakui negara, bukan cerita baru lagi. Akibat perkawinan orangtuanya yang tak didaftarkan di Catatan Sipil, anak-anak ini ikut-ikutan tak mendapatkan pengakuan negara. Tak satu pun dari anak-anak ini yang punya Akte Kelahiran, dokumen resmi pertama yang mestinya dimiliki setiap anak.

Salah seorang warga Cireundeu, Sudrajat, bercerita bagaimana susahnya penghayat kepercayaan harus berurusan dengan birokrasi yang diskriminatif. Negara menganggap para penghayat kepercayaan tidak menganut salah satu agama yang diakui pemerintah. Karenanya, tak dianggap sebagai warga negara.

Sudrajat: "Kita dituntut harus punya KTP, padahal untuk bikin KTP harus punya KK. Nah untuk punya KK harus punya akte nikah. Nah orang tua saya mah tak punya KTP,maka saya tak punya akte kelahiran. Saya juga prihatin, menjadi anak tiri di negeri sendiri."

Sudrajat dengan senyum getir, mengaku terpaksa mengucap kalimat syahadat, agar perkawinannya diakui di lembar negara. Tujuannya hanya satu, agar anaknya nanti tak dicap sebagai anak haram jadah hasil kumpul kebo.

Sudrajat: "Terpaksa berbohong memeluk agama Islam, pdahal saya bukan Islam biar saya bisa mendapatkan surat nikah. Karena surat ini menjadi syarat untuk mendapatkan akte kelahiran anak saya. Saya sih intinya hanya ingin anak saya punya akte, jangan seperti saya yang tak punya akte nikah, karena orangtua dulu nikah adat."

Himpunan Penghayat Kepercayaan
Kasus Sudrajat hanyalah satu dari sekian banyak yang dialami para penghayat kepercayaan. Sekretaris Jenderal, Himpunan Penghayat Kepercayaan, A.A. Sudirman menyatakan hingga kini sedikitnya ada 10 juta penghayat kepercayaan yang bergabung dalam organisasi Himpunan Penghayat Kepercayaan.

Dalam perkembangannya, kelompok penghayat kepercayaan ini masih saja terbentur dengan tetek bengek urusan birokrasi.

Sudirman: "Tak tahu, lalu urusan komputer yang katanya gak ada formnya. Nah itu berlanjut ntar pas nikah, lalu Kantor Catatan Sipil menolak. Mereka tak tahu apa-apa, saya pikir mereka menganggap para penghayat ini bukan warga negara."

Di dunia pendidikan, ternyata negara masih gagap untuk menyusun kurikulum untuk anak-anak penghanyat. Akibatnya, anak-anak dipaksa untuk mengkhianati keyakinan sendiri.

Sudirman: "Kasihan anak dipaksa, terpaksa belajar yang berbeda hati nurani, tapi soalnya kalo di sekolah diajar keyakinan lain. Ini khan mereka menjadi pembohong-pembohong semua. Bagi saya ini menyedihkan dan ironi."

Garis hidup sebagai anak penghayat kepercayaan semestinya tak membuat anak-anak penghayat sulit meraih mimpi dan menggapai cita-cita mereka.

Ikuti laporan KBR68H selengkapnya dengana meng-klik link di bawah ini:

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/arti ... -cireundeu
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby kuta bali » Sun Aug 15, 2010 6:07 am

Tolong lacak email mereka dan kirimi link ke FFI melalui fasilitas tell a friend, biar kubu FFI menjadi semakin kuat.
kuta bali
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2187
Joined: Tue Mar 02, 2010 3:55 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby little_david » Sun Aug 15, 2010 10:19 am

@kutabali:Ane setuju dengan maksud dan tujuan ente.Tapi meskipun FFI dapat bala bantuan dari penganut paham kepercayaan,ane berani taruhan kalau muslim tetap nganggap kita-kita ini kristen/nasrani.Dan muslim pasti susah untuk percaya kalau elemen-elemen yang menentang islam itu ada banyak unsur.
Termasuk penganut kepercayaan dan agama selain nasrani adalah yang tidak setuju dengan islam.
Tetapi bisa anda lihat pasti mereka akan bilang kalau member disini adalah nasrani dan yahudi.wkwkwkwwkwkwk :rofl: :rofl:
little_david
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 489
Joined: Fri Oct 16, 2009 8:12 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby swatantre » Tue Aug 17, 2010 1:41 am

Jadi, siapa bilang Islam itu agama toleransi, agamaku agamaku,agamamu agamamu?
Toleransi ama ajaran leluhur aja gak bisa. Kualat lu...!!!

*Belanda dibilang ingin menjajah agama di Indonesia, kenyataannya sampai Belanda hengkangpun Indonesia masih MAYORITAS islam tuh...malah islam2 itu yg sekarang melecehkan dan menindas para kafir dan agama leluhur mereka SENDIRI!!!!! Tak heran orang islam di Indonesia kini kena banyak bencana, dilaknat Tuhan, Alam, dan Leluhur...
Last edited by swatantre on Wed Aug 18, 2010 3:16 am, edited 1 time in total.
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4173
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby iamthewarlord » Tue Aug 17, 2010 8:17 pm

tragiss...
tragiss...

seperti kacang lupa dengan kulitnya.
User avatar
iamthewarlord
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4494
Images: 6
Joined: Sun Feb 08, 2009 11:07 pm
Location: “Ibadah lelaki akan diputus dengan lewatnya keledai, wanita dan anjing hitam.” Muhammad.

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby love_peaceful2 » Tue Aug 17, 2010 8:41 pm

iamthewarlord wrote:tragiss...
tragiss...

seperti kacang lupa dengan kulitnya.

Kisah penganut agama Sunda Wiwitan setali tiga uang dengan nasib penganut agama2 asli/nenek moyang di belahan lainnya di Indonesia. Secara tidak sadar nonmuslim juga mengadopsi mental muslim memaksakan agamanya kepada penganut2 agama leluhur ini. Kisah2 pembakaran rumah beserta isinya terhadap org2 yg diduga menganut aliran kepercayaan nenek moyang ini di Tanah Batak dlm beberapa bulan terakhir menjadi bukti.

Ini semua akibat iklim kondusif "hanya mengakui 5 agama [produk Soeharto]" yang sebenarnya adalah produk Islam yg disisipkan dlm kehidupan "syariah terselubung" bernegara kita. Simplifikasi varian agama di Indonesia memudahkan muslim utk mengkontrol aliran2 islam yg dianggap melawan mainstream dan meng-Islam-kan penganut non-5-agama atas perintah negara secara eksplisit. Ini terjadi pada masyarakat Badui di Tanah Sunda hingga detik ini. Bahkan lebih parah lagi adalah kasus islamisasi di Mentawai (kepulauan di Sumbar) yang notabene mayoritas katolik, tapi didiskreditkan sebagai mayoritas pemeluk agama nenek moyang/animisme dinamisme utk memuluskan islamisasi paksa oleh muslimin Sumbar/Minang di depan hidung umat/pemuka gereja katolik. Mesjid dibangun, syiar penuh kebencian pada kristen didoktrinasi, kearifan lokal diinjak2, akses pembangunan diutamakan bagi mualaf, dan sejumlah trik2 kotor lainnya.

Secara khusus melalui tulisan ini saya mengajak org2 Batak nonmuslim utk merenungkan kembali apakah sikap kita selama ini sudah menjunjung tinggi faithfreedom bagi penganut agama Parmalim yang merupakan agama asli yg menjadi sumber filosofi hidup nenek moyang kita. Isu-isu pemelihara begu ganjang yang sering dialamatkan pada mereka adalah salah kaprah dan tidak berdasar. Jika itupun yang terjadi biarlah itu adanya selama tidak menimbulkan kriminal. Jika kristen mengajarkan utk tidak percaya pada takhyul mengapa pula kita menjadi brutal krn ada org percaya pada takhyul??


LP2
Be It unto Me (Maria - 2.000 thn yg lalu)
User avatar
love_peaceful2
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1764
Joined: Fri May 09, 2008 2:01 pm
Location: Di Surga Islam, provokator para houris berontak dr perbudakan olloh w*s demi ego nabi sakit jiwa.

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby swatantre » Wed Aug 18, 2010 12:35 am

Karena kualat,orng islam indonesia sekarang mendapat kutuk dan murka dari Tuhan Sejati, Alam, dan Para Leluhur...
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4173
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Sun Aug 29, 2010 10:51 am

sekarang aja kita sudah tahu mengapa penduduk Indonesia mayoritasnya beragama ISLAM bahkan diklaim sampe 90%. Ternyata bukan karena penduduknya suka pada agama tersebut tetapi justru dibangun dengan kekerasan & diskriminasi pada masa rezim diktator SUHARTO yang kemudian diterurskan kembali oleh kelompok radikal seperti FPI, MMI, dll. Kalo ISLAM INDONESIA sampe 90% itu artinya Masyarakat Indonesia sudah jatuh ke tangan MUSLIM & hanya tinggal sistem aja yang belum jatuh. ADa yang bilang INDONESIA merupakan satu-satunya NEGARA ASEAN yang jatuh ke tangan ISLAM bahkan sebelum rezim SUHARTO berkuasa, ISLAM INDONESIA cuma separuhnya
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby rongrong » Sun Aug 29, 2010 12:57 pm

Hanya islam yg merusak budaya leluhur dengan memaksakan baca tulis arab dan budayanya. Kemana budaya asli Indonesia kalau jaipong dan tari-tari tradisional diharamkan, sedangkan tari perut nggak masalah.

Back to topic.

Miris.. Miris melihat aliran kepercayaan yg jelas-jelas mengakui Tuhan diperkosa oleh aliran sesat dari padang pasir! Soeharto bagaikan 'muhamad kecil' yg kalap melihat kafir-kafir di Indonesia. Padahal kalau dipikir-pikir, urusan ibadah adalah hak asasi manusia utk berhubungan dengan penciptanya.
User avatar
rongrong
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 167
Joined: Sat Jul 03, 2010 9:10 am
Location: Barat Laut sebelah Utara Timurnya Kabah

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Sat Sep 25, 2010 12:52 pm

http://agama.kompasiana.com/2010/06/09/ ... %e2%80%9d/

“Kami dicap Penganut Aliran Sesat…”
OPINI M.Taufik Budi Wijaya| 9 Juni 2010 | 11:4521411



1 dari 3 Kompasianer menilai Menarik.


Penganut Sunda Wiwitan (Sumber foto: sundawiwitan.blogspot.com)
Suatu hari di tahun 1980-an. Warga Cigugur, Kuningan, Jawa Barat tengah menyiapkan perayaan Seren Taun. Dewi Kanti Setianingsih kecil, ikut sibuk menyiapkan tradisi pergantian tahun sekaligus ungkapan rasa syukur penganut agama Sunda Wiwitan tersebut. “Waktu itu saya masih balita. Ketika upacara Seren Taun itu sudah kami siapkan dengan baik. Saya melihat bagaimana antusiasme sesepuh bagaimana menyiapkan umbarampai upacara, hiasan dari janur . Dan Tiba-tiba, sejumlah aparat keamanan datang meluruk. Ruangan itu dirusak. Dapur kami dihancurkan, diberantakan oleh aparat-aparat, ada yang ditendang. Kami dianggap sebagai aliran sesat. Kami akhirnya melindungi diri. Itu sangat menyakitkan… Maaf saya jadi teringat lagi,” kenang Dewi . Perempuan 34 tahun itu, terdiam, matanya berkaca-kaca. Pipinya basah dengan air mata. Saya ikut terdiam. Turut merasakan kesedihannya.


Ancaman Kekerasan dan Diskriminasi


Tindakan sewenang-wenang aparat adalah salah satu perlakuan buruk yang kerap diterima penganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Alasannya keyakinan yang datang sebelum masuknya Islam itu dinilai sesat. “Sebenarnya Sunda Wiwitan itu tradisi leluhur yang secara turun temurun baik spiritual maupun seni budaya. Pada era penjajahan itu direvitalisasi oleh Pangeran Madrais. ” Menurut Dewi Kanti, kitab suci penganut Sunda Wiwitan diantaranya Sang Hyang Siksa Kanda Karsian. Artinya hukum menuju kesejatian, suatu tuntunan manusia Sunda. “Juga ada Amanat Galunggung, kalau di Cigugur kami bukukan yang namanya Pikukuh Tilu,”jelasnya.


Selain mengalami kekerasan, penganut agama Sunda Wiwitan rentan terhadap diskriminasi. Mendapatkan dokumen kependudukan seperti KTP bukan hal yang mudah. Juga kartu keluarga sampai surat nikah. Persoalannya berpangkal kepada kepercayaan yang dianut Dewi Kanti yang belum diakui negara. Saat ini baru 6 agama yang mendapat pengakuan, Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. “Negara belum mengakui kami,” keluh Dewi Kanti. Meski belum mendapat pengakuan negara, itu tak membuat Dewi Kanti menanggalkan ajaran Sunda Wiwitan. Justru hal ini jadi amunisi perjuangan bagi kaum Sunda Wiwitan. “Jadi lewat Yayasan Trimulya salah satunya advokasi, pengembangan budaya, bagaimana mempertahankan kearifan lokal, bagaimana menjembatani dialog antar agama adat dan keyakinan di nusantara,” terang Dewi Kanti.


Marko Mahin dan Kaharingan


Selain Dewi Kanti penganut kepercayaan lain yang saya temui adalah Marko Mahin. Saat bertemu dengannya tahun lalu, Marko tengah menuntaskan studi doktoralnya di Universitas Indonesia. Dia adalah penganut Kaharingan. “Kaharingan adalah nama Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Agama ini sudah ada sebelum masuknya agama lain di Kalimantan yakni Budha, Kristen, dan Islam. Kemudian berkembang. Jika kita tanya orang Dayak agamanya apa? Dia akan menyebut agama Kaharingan,” beber Marko membuka perbincangan kami di bawah pohon rindang Kampus UI Depok.


Kaharingan kata Marko artinya kehidupan. Sejak 1972, ibadah rutin penganut Kaharingan berlangsung saban Kamis atau malam jumat di tempat ibadah yang disebut balai basarah. Sementara kitab sucinya bernama Panaturan, yang bersumber dari tradisi lisan yang ditulis dan dikhotbahkan. “Para penganut Kaharingan percaya kepada Allah yang satu, yang mereka sebut Ranying Maha Thala Langit . Allah itu monotheis, dia tuhan yang maha esa, “jelas Marko.


Di KTP Marko, kolom agama diisi dengan tulisan ‘Kristen’. Tapi dalam keseharian, ia menjalankan tradisi dan ritual Kaharingan. “Saya mendalami sejak tahun 1997. Kenapa itu terjadi? Karena Kaharingan itu menyangkut identitas Orang Dayak. Jadi orang Dayak yang ingin mengetahui identitas dirinya minimal dia harus menoleh kepada Kaharingan. Itu alasan saya mengapa memilih Kaharingan.”


Meski pemerintah daerah Kalimantan Tengah telah mengakui keberadaan agama Kaharingan, namun cap buruk bagi penganutnya, kata Marko masih ada. “Saya pernah dikatakan murtad, kawan kawan menyebut saya seperti itu. Dituding penyembah berhala dituding melakukan praktik perdukunan. Tujuannya agar saya tak menoleh pada saudara-saudara yang menganut Kaharingan. ”


Hak Sipil Terlanggar


Marko meneliti agama Kaharingan untuk studi doktoralnya di Universitas Indonesia. Ia mencatat sejumlah pelanggaran hak-hak sipil penganut Kaharingan. Misalnya di bidang pendidikan. “Karena di sekolahnya tak ada guru Kaharingan, mereka disuruh ikut pelajaran agama lain, misalnya di sekolah itu ada 2-3 orang, maka dia disuruh gabung, walaupun caranya halus. Dan itu juga menyulitkan akhirnya itu mendapatkan nilai agama dia harus datang ke rumah ibadah Balai basyarah untuk mendapatkan nilai,”paparnya.


Marco dan Dewi Kanti berharap kepercayaan yang mereka anut mendapat pengakuan dari negara. Mereka juga berharap para penganut kepercayaan yang berakar dari adat dan tradisi mendapat hak yang sama. Dan tak lagi dicap sebagai penganut aliran sesat. (Fik)


Bersambung
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Sat Sep 25, 2010 12:58 pm

“Kami Dicap Penganut Aliran Sesat…” (Bagian 2)
OPINI M.Taufik Budi Wijaya| 11 Juni 2010 | 13:12


Ruangan pertemuan di Gedung Dewan Pers, di bilangan Kebon Sirih, Jakarta mulai dipadati peserta diskusi. Rabu pagi, 11 November 2009 silam, dihelat diskusi tentang kebudayaan tradisional. Acara digagas Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI). Koordinator ANBTI, Nia Syarifuddin mengatakan organisasi ini dibentuk sebagai wadah, menentang upaya penyeragaman budaya dengan mengatasnamakan agama dan etnis. Nia mengakui, stigma atau cap buruk adalah masalah yang kerap dihadapi penghayat kepercayaan. “Seringkali mereka dicap beraliran sesat, tidak bertuhan dan penyembah berhala. Kedua, kadang-kadang mereka terbentur pada masalah administrasi kependudukan. Sulit sekali mereka mencantumkan agama dikolom agama sesuai keyakinan kalau tidak “distrip”. Dan kalau distrip, ini akan jadi masalah saat mereka misalnya mengurus ke bank, sekolah dll. Ini stigma yang paling berat secara psikologis,” jelas Nia.


Penganut Parmalim di Sumatera Utara tengah beribadah (Sumber foto: http://wongalus.files.wordpress.com)


Masalah Teknis Semata


Undang-undang Administrasi Kependudukan (Adminduk) yang disahkan DPR pada tahun 2006 rupanya belum cukup ampuh untuk mengakomodasi kepentingan penghayat kepercayaan. Di situ, misalnya, pemerintah meminta para penghayat membentuk organisasi. Agama lokal pun diminta menginduk kepada salah satu agama resmi yang diakui Negara. Dengan kata lain, kepercayaan mereka tak diakui. Organisasi untuk para penghayat itu dijamin bisa mempermudah pengurusan dokumen kependudukan, kata Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Departemen Agama, Abdul Fatah. Selain itu, Negara jadi lebih mudah mengawasi kegiatan penghayat.


Tapi bagaimana kalau ada penghayat yang tak masuk ke organisasi tersebut? Dewi Kanti, penghayat Sunda Wiwitan, memilih untuk tak bergabung. “Belum mengakomodir semua, baru mengakomodir penghayat yang berorganisasi. Tapi kalau masyarakat adat atau tradisional , itu gak butuh sebuah lembaga organisasi seperti Sikep atau Kanekes. Kami di Cigugur, itu sudah cukup kecewa dengan lembaga lembaga yang bisa saja dibubarkan saban waktu,”papar Dewi. Akibatnya konsekuensi pun mesti ditanggung Dewi. Pengurusan KTP, surat nikah dan administrasi kependudukan lainnya: sulit. Ia tak kunjung bisa mencantumkan kata ‘Sunda Wiwitan’ di KTP.


Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama, Abdul Fatah menilai situasi yang dialami Dewi saat mengurus masalah administrasi kependudukan, semata-mata persoalan teknis semata, “Saya kira itu kan dari formulir lama (KTP), Jadi formulir baru nanti ada kolom lain-lain. Di KTP itu nanti ada kolom agama lain-lain. Karena akan muncul pertanyaan penghayat kepercayaan yang mana karena ada 200 lebih. Betapa banyaknya kolom (di KTP). Ini kan masalah teknis dalam administrasi,” jelasnya.


Masalah yang dihadapi penghayat ini, kata Nia Syarifuddin akibat keberadaan mereka berada di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, bukan Kementerian Agama. Koordinator ANBTI, Nia Syarifuddin mengatakan, ini karena agama dan kepercayaan kebanyakan lahir dari adat dan tradisi lokal. “Kalau pemerintah mau mengimplementasikan pasal 29 di konstitusi (UUD ) ya harusnya mereka diperlakukan sama. Mungkin ini akan diperdebatkan ini agama atau bukan. Tapi itu kan esensi yang lain. Tapi mereka sebagai warga negara, sama sama bayar pajak, sama sama diakui oleh sila 1 pancasila,” kritik Nia.


Sosialisasi UU Adminduk Minim


Kemenbudpar mengaku tak melihat persoalan yang dihadapi para penghayat. Kepala Adat dan Upacara di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Julianus Limbeng mengatakan, jika ada kesulitan yang dialami kaum penghayat saat mengurus masalah yang terkait administrasi kependudukan, lebih akibat belum tersosialisasinya Undang-undang Administrasi Kependudukan. Ini bukan soal diskriminasi. “Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini kan lebih banyak membantu dan memberdayakan mereka. Kita lebih cenderung melihat mereka kepada aspek kebudayaannya. Mungkin tidak tepat mereka berada di bawah Kementerian kebudayaan dan pariwisata. Atau mungkin mereka ditempatkan di Kementerian Agama dan Kepercayaan misalnya,” kata Limbeng


Aturan hukum setingkat Undang-undang yang lahir empat tahun lalu rupanya tak mampu mengubah kondisi mereka. Penghayat tetap mendapat stigma, mengalami diskriminasi, dipersulit pengurusan dokumen kependudukannya. Untuk itu Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika kata Nia Syarifuddin berencana mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi.


Nyaris 30 tahun lalu, Dewi Kanti menjadi saksi kekerasan terhadap kepercayaan Sunda Wiwitan yang dianutnya. Puluhan tahun berlalu ternyata tak banyak berpengaruh. Bisa jadi anak, mungkin cucu, Dewi Kanti masih harus melalui stigma, diskriminasi dan kekerasan dari negara. Hanya karena mereka dianggap berbeda. (Fik)

http://agama.kompasiana.com/2010/06/11/ ... -bagian-2/
Last edited by Laurent on Fri Oct 15, 2010 2:18 pm, edited 1 time in total.
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby siberat » Sat Sep 25, 2010 2:03 pm

swatantre wrote:Jadi, siapa bilang Islam itu agama toleransi, agamaku agamaku,agamamu agamamu?
Toleransi ama ajaran leluhur aja gak bisa. Kualat lu...!!!

*Belanda dibilang ingin menjajah agama di Indonesia, kenyataannya sampai Belanda hengkangpun Indonesia masih MAYORITAS islam tuh...malah islam2 itu yg sekarang melecehkan dan menindas para kafir dan agama leluhur mereka SENDIRI!!!!! Tak heran orang islam di Indonesia kini kena banyak bencana, dilaknat Tuhan, Alam, dan Leluhur...



yang Betul : Untukku Agamaku tapi untukmu harus Agamaku...itulah ISLAM ...
siberat
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 126
Joined: Tue Jul 21, 2009 2:11 pm

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Fri Oct 15, 2010 2:23 pm

tragis....tragis.....NASIB negeri KU. Bagaimana mau melestarikan budaya bangsa sendiri jika agama asli-nya disingkirkan & digantikan dengan agama impor yang belum tentu cocok dengan bangsa Indonesia, terutama AGAMA 'I' dari padang pasir. Bukan hanya masalah umat Kristen & ahmadiyah yang menjadi perhatian International soal kekebebasan beragama di INDONESIA , tapi juga masalah agama-agama asli INDONESIA.
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Thu Dec 23, 2010 4:08 pm

Monopoli Surat Kawin (Wajah Nusantara kini)
Berita TV dan Koran tentang Umat Konghucu tidak bisa mengurus Surat Kawin karena Konghucu bukan Agama hal yang biasa, Bahkan sampai Gus Dur pun ikut membela di Sidang Pengadilan Negeri Surabaya Jawa Timur, Tetap saja Konghucu di Kalahkan karena Konghucu bukan Agama, Inilah bukti Kekejaman Islam yang tidak mengakui Agama selain Islam atau Kafir dan sekarang Konghucu sudah di Akui Agama tapi di TV 2010 Tulisan Kolom Agama "Konghucu" di KTP kembali dihilangkan karena alasan nya pakai file lama hingga membuat Umat Konghucu frustasi melihat Alasan Mundur yang tidak masuk Akal sehat, jadi hanya Tulisan di Kolom Agama demikian Pelit nya Islam yang di Anut Pegawai bagian computer KTP yang merasa se Iman dan se Agama Islam dan suatu Kebanggaan bila bisa mempersulit Orang yang bukan Islam inilah Watak yang sudah mengakar dan Ngoyot di Otak Bangsa ini, Hal ini biasa, Tapi Nasib Orang kecil di Desa Lamongan juga sama, Orang Kejawen yang bernaung di Himpunan Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa [HPK] pun Tidak bisa mendapatkan Surat kawin karena di Tingkat Desa hanya Kantor Urusan Agama Islam [KUA] yang ber Hak membuat Surat Kawin, Hingga DOKTOR Seomono Soemodisastro Ketua HPK Jawa Timur dan Team nya mewakili Direktur Jendral [DIRJEN] Kebudayaan ketika di Pengadilan Negeri Lamongan juga kalah dengan Surat Edaran Mentri Agama kalau tidak salah No 11 atau 16 ? yang mengalahkan Undang Undang Dasar 45 dan Hukum di Negeri ini, Yang tidak jelas arti nya, akhir nya gagal lah Masyarakat Desa untuk diakui Perkawinannya karena bukan Islam, Juga waktu itu Orang Hindu Bali pun kalau kawin belum ada Surat nya hanya Sah didepan mangku dengan Sesaji Kawin juga tidak di Akui Republik ini, Jadi Surat Kawin yang Sah adalah Surat kawin Islam yang ada Tanda Tangan mentri Agama Islam nya, lainnya tidak sah karena Bukan Agama Islam.


Demikianlah Contoh diatas dalam hal Surat Kawin setelah Islam berkuasa sejak 1965-1966 dengan di Tumpas nya Bung Karno Pendiri Republik ini, Yang dengan Pancasila nya membentuk Kerukunan AGAMA-NASIONAL-KOMUNIS [NASAKOM] untuk kesatuan yang Pluralisme nya Bangsa ini serta Pancasila sebagai Dasar Negara yang diambil dari Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular "Bhinneka Tunggal Ika", Tapi Islam tidak mau dan Menumpas Nasional dan Komunis dengan Cap tidak ber Tuhan, Terbukti Jutaan Orang di bunuh termasuk Bayi nya dituduh Komunis dan mayat nya memenuhi Kali Brantas dan Bengawan Solo, Termasuk Sekolah China, juga Tulisan China dilarang karena China di tuduh Negara Komunis dan demi Islam Bangsa ini harus putus hubungan dengan saudara dari China, yang kini jauh Menyalip Negeri ini dengan bisa memproduksi Barang murah, dan Kebohongan Tidak ber Tuhan terungkap dengan Film Dewi Kwan Im dan Klenteng serta Vihara di China Lestari hingga menjadi Parawisata Ibadah umat Buda, Tao dan Konghucu negeri ini yang di Hancurkan Islam itu Kelenteng, Candi dan Patung Patung Leluhur nya, Memang Agama Budha yang di Akui saja memuja Sidarta Gautama kan Leluhur bukan Tuhan ? sedang Islam langsung Allah / Tuhan Jadi Tidak salah Islam mengatakan China dan Bangsa ini Komunis Tidak ber Tuhan karena memuja Leluhur / Pik Kong yang bukan Tuhan padahal di Hukum Tuhan ke V disebutkan. "Hormatilah Orang Tua mu Supaya dapat Surga dan Usia yang Panjang" 10 Hukum Allah yang diterima Nabi Musa dan ada dalam kitab Taurat, Nabi Muhammad pun berkata di Quran "Pelajari Injil Taurat dan Jabur" malah Aliran Kepercayaan Injil, Taurat dan Jabur di Jakarta di Tangkap dengan Alasan Melecehkan Islam [TV] kena gebug Undang Undang / PNPS 1965 juga Aliran Aliran Sesat menurut Islam banyak di Hancurkan seperti Saptodarmo di Jogja. Aneh Tapi Nyata bukan ?


Jadi kalau Islam Datang berkata dengan Damai adalah Omong Kosong dan Penipuan, Melihat Tulisan lama Sejarah Kadhiri dimana Islam yang membakar Kitab kitab Budha diganti Quran dan Hadist Arab, Penduduk yang bukan Islam di Aniaya dan di Tumpas, hingga lari ke Gunung Gunung jadi Orang Hutan, yang untung ke Bali hingga bisa lestari melaksanakan Adat Budaya nya hingga detik ini, Juga melihat Kejadian 1965-1966 dimana masih didepan Pelupuk Mata Kekejaman / Kebengisan Islam menumpas bangsa ini hanya untuk menegakkan Sariat Islam Quran dan Hadist dengan membunuh Bangsa ini yang dituduh Kafir bahkan ketika Memotong Leher Orang Kafir berteriak "Allahuakbar" dan saksi nya banyak yang masih hidup kebanyakan Usia nya diatas 60 tahun mereka Trauma dan jadi sangat Pengecut, Keturunannya di Awasi dan KTP nya diberi Tanda ET [Ex Tahanan Politik] kalau pernah di Tahan dan OT [Organisasi Terlarang] untuk Para Keturunannya sedang Etnis China diberi Kode K [Keturunan] hingga bisa di Persulit setelah Aparat melihat Kode ini, Masih Untung Belanda datang dan Melindungi Candi Candi Peninggalan Leluhur juga Merestorasi nya, Serta menulis Sejarah Majapahit, Juga berhasil memperoleh Kitab Negarakertagama sebagian besar Terbakar dan Tak terbaca yang sebagian masih bisa diterjemahkan sekarang ini dan Demikian Indah dan Sempurnanya Maha Karya Sastra waktu itu dimana Nusantara berhasil di satukan sampai kalau kita ingin bisa membaca Kitab Kuna sejenis Negarakertagama harus Sekolah di Leden Belanda karena di Negeri ini bisa nya hanya membaca dan menulis Tulisan Arab.


Juga Buku Sabdopalon Noyogenggong yang meramalkan Kebangkitan majapahit 500 tahun dengan tanda tanda yang sudah bisa dilihat sekarang ini, Alun Minggah Ing Daratan atau Air Laut Naik ke Daratan Pagi ini TV menyiarkan Probolinggo, Semarang, Cirebon dll Air Laut Naik Kedaratan melanda Desa, Belum lagi Banjir Bandang, Gempa dan Terakhir Pageblug Pagi sakit sore mati, Juga TV memberitakan Kebakaran, Kematian Celaka bahkan sekeluarga dll ini mirip 1965-1966 dimana Kebrutalan dilakukan Islam terhadap Bangsa ini dengan Cap Komunis dengan Pembakaran dan Pembunuhan seperti di Blitar Selatan Penumpasan hingga 1970 an dan sudah di Ungkap berbagai Media juga TV seperti Kebohongan Media dan Film G 30 S PKI masa lalu hingga ada Alasan untuk Menumpas selain Islam dengan tuduhan Komunis yang tidak ber Tuhan sampai detk ini dengan UU / PNPS 1965 yang di Tolak Pencabutannya oleh Mahkamah Konstitusi 2010, Akibat nya ini Alam pun membalas jadi Brutal dan Ganas dikarenakan Penduduk nya sudah melupakan Alam Subur Makmur Gemah Ripah Loh Jinawi yang di Pijak nya dan lebih mencintai Padang Pasir di Arab yang disebut Tanah Suci, Padahal Lagu Indonesia Raya 3 Stansa juga disebutkan Indonesia Tanah yang Suci tapi tidak pernah di Nyanyikan karena akan menyaingi Tanah Suci Arab.


Pengungkapan Sejarah Tentang Kekejaman Islam tidak akan Terjadi bila Islam tidak Menyerbu dan Nge Bom serta Menutup Rumah / Puro / Griyo / Dalem Raja majapahit Hyang Bhatara Agung Surya Wilatikta Brahmaraja XI di Trowulan, Sebab Beliau adalah biarpun dianggap Orang Kecil yang JUJUR-SABAR-NARIMO tapi Seorang Diri dan Mandito tapi masih dilecehkan dan di Injak Injak Islam padahal Beliau masih sebagai Simbol Majapahit Nusantara [Bukan Indonesia kalau Indonesia nanti di Tuduh Makar] jadi Nusantara saja seperti Hal nya Republik Mimpi di TV kan bebas berkreasi dan di Tampilkan di TV di Era Globalisasi ini dengan Sindiran Nyata nya, Kami dari Team Universitas Marhaen, The Majapahit Center, The Sukarno Center dibawah Universitas Marhaen yang didirikan Bung Karno 1963 dan karena nama Bung Karno serta Buku Bukunya seperti Sukarnoisme, Marhaenisme di Larang Maka Universitas ini berganti Nama Mahendradata, akan terus mengungkap Sejarah yang selama ini di Tutupi dengan alasan SARA [Suku, Ras dan Agama] agar Masyarakat tahu Kebenaran Sejarah yang Hakiki dan jangan Takut dengan Sejarah itu Sejarah Perang Dunia sudah di Ungkap dalam Film Dokumenter Sejarah Penghancuran Patung Terbesar Budha di Afganistan oleh Islam juga Film Dokumenter nya di Putar di TV sangat detail dan Lengkap, Perang Vietnam dll yang tidak mempengaruhi Hubungan Antar Negara dan Investasi karena hanya Sejarah masa lalu yang di Anjur kan Pendiri Bangsa ini Bung Karno dalam Pidato Terakhir nya "Jangan sekali kali meninggalkan Sejarah" atau JASMERAH selamat mengikuti Blog ini seterusnya...


Salam MARHAEN !!!!!


[Juru Tulis dan Ilustrasi ditangani Team yang dipimpin Pandita GRP Nakha Prawiradipura yang didukung Kesejarahan dari Universitas mahendradata yang didirikan Bung Karno 1963 serta berpredikat Universitas Ter Tua di Nusa Tenggara dan The Sukarno Center, The Majapahit Center dan Perpustakaan lainnya dari Seluruh Dunia hingga menambah ke Akuratan dan Kasunyatan nya Sejarah ini]

http://www.majapahit-masakini.co.cc/201 ... ntara.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Wed Jan 19, 2011 12:17 pm

Rintihan Sunyi Masyarakat desa adat Cirendeu



Dalam rangka membuat foto story ketahanan pangan untuk National Geographic edisi Oktober 2008 saya mengunjungi Desa Adat Cirendeu, Cimahi Selatan - Jawa Barat. Mengapa harus ke desa ini? Desa inilah salah satu yang sering dijadikan contoh oleh pemerintah untuk keberhasilan ketahanan pangannya. Sering kali datang rombongan-rombongan dari daerah lain yang dikoordinasikan oleh pemda setempat mengunjungi desa ini untuk melihat dan belajar bagaimana desa ini bisa mempunyai ketahahan pangan yang kuat.



Berawal dari krisis pangan yang terjadi di desa itu pada sekitar awal tahun 1900-an dimana tanaman padi mereka terkena hama dan gagal panen. Para tetua desa mendapat petunjuk dari langit bahwa kelak Indonesia di masa depan akan menghadapi krisis beras maka dianjurkan agar penduduk desa Cirendeu yang sampai saat ini memeluk kepercayaan Sunda Wiwitan untuk mengubah kebiasan memakan padi menjadi memakan singkong. Dan berlanjutlah budidaya menanam singkong sebagai makanan pokok sampai sekarang.



Ketika beberapa waktu lalu Negara kita terkena krisis beras warga Cirendeu tak merasakannya, mereka tak perlu antri untuk bias mendapat beras. Maklum sehari-hari mereka mengkonsumsi singkong yang diolah menjadi beberapa varian makanan seperti Rasi (nasi dari singkong, di Jawa di sebut Tiwul), gaplek, sagu, rengining, dan lain-lain. Berkat singkong mereka tak mengalami krisis berat tersebut. Maka oleh pemerintah desa Cirendeu sering dijadikan tempat studi banding untuk daerah lain sebagai daerah yang mempunyai ketahanan pangan yang baik.



Di satu sisi akibat kepercayaan yang mereka anut mereka bisa bertahan dalam krisis pangan dan dijadikan contoh yang baik untuk ketahanan pangan. Di sisi yang lain akibat kepercayaan yang diyakini mereka termajinalisasi . Mereka jadi masyarakat terpinggirkan di tengah keyakinan mayoritas penduduk negeri ini.



Akibat terpinggirkan ini mereka susah (atau dipersusah) mendapat pengakuan identitas mereka dari pemerintah. Untuk bikin KTP saja mereka tidak bisa, karena KTP mensyaratkan harus tercantum agama yang dianut, sementara keyakinan mereka tidak bias terakomodasi di KTP. Akibat tidak memiliki KTP maka masalah menjalar ke hal lain misalnya akte pernikahan. Tak akan bisa memilik akte nikah jika tidak memiliki KTP. Dan jika tak punya akte nikah maka anak-anak mereka pastinya tak akan memiliki akte kelahiran. Dan jika tak memiliki akte kelahiran bagaimana bias membuat KTP? Semua menjadi lingkran setan dan memaksa mereka untuk meninggalkan kepercayaan mereka.



Kasihan sekali mereka terzalimi oleh sistem yang memaksa mereka untuk meninggalkan kepercayaan yang mereka anut dan masuk salah kepercayaan yang tertulis di KTP. Suatu penindasan kebebasan beragama yang jahat tapi terselubung oleh birokrasi. Akhirnya mereka mengakali dengan cara pura-pura pindah agama dan menikah di KUA.. Dengan cara ini kelengkapan administrasi kependudukan mereka akan dengan mudah dibantu.



Tapi dalam hati mereka yang melalukan hal tersebut mereka sangat menyesali karena menjadi orang yang munafik. Hal ini dikatakan salah seorang warga yang sempat saya tanyakan seputar pernikahannya. Ia mempertanyakan mengapa sistem yang membuat orang jadi munafik ini dipertahankan? Apakah negara ini memang ingin memelihara orang munafik? Padahal katanya semua restribusi yang diminta pemerintah selalu mereka bayar , seperti PBB misalnya.



Cara lain yang mereka lakukan untuk mensiasati sistem pemaksaan terselubung itu (ini dari dulu mereka lakukan) adalah dengan menerbitkan surat akte nikah adat khusus untuk warga desa Cirendeu. Tapi tetap saja dengan surat akte nikah adat tersebut tidak terakomodasi oleh hokum positif negara. Tapi setidaknya ada hukum adat yang menjadi pijakan sehingga mereka tak di “ganggu” terus untuk pindah agama.



Tapi sampai kapan mereka bisa bertahan dengan hal tersebut, bisa saja pemerintah lalu melarang hukum adat dan memaksakan hukum positif kepada mereka, maka habislah mereka. Sebenarnya mereka boleh mendapatkan KTP dengan syarat kepercayaan mereka ditampung dalam sebuah organisasi, tapi mereka menolaknya. Karena belajar dari organisasi keagamaan seperti Ahmadiyah yang dipaksa juga untuk bubar bukan tidak mungkin organisasi yang mereka bentuk pun akan dibubarkan dan mereka akan lebih merana lagi nantinya.



Di negara yang katanya kebebasan beragama dan berkeyakinan dilindungi oleh negara malah kepercayaan minoritas yang asli dari Indonesia bukan impor dari Timur Tengah dihalang-halangi bahkan dberusaha dimatikan. Di negara yang katanya setiap orang bebas menentukan kepercayaan dan keyakinannya malah untuk dapat KTP saja mereka susah! Padahal sudah jelas kearifan ajaran yang mereka anut berhasil menyelamatkan mereka dari krisis pangan sekarang dan mungkin juga yang nanti terjadi. Bahkan mereka sering dijadikan contoh untuk wilayah-wilayah lain di Indonesia bagaimana mengatasi krisis pangan.



Aneh di satu sisi mereka dimintai pajak dan dijadikan contoh teladan, tapi di sisi lain hak-hak mereka sebagai warga negara diinjak-injak. Hak-hak sipil mereka diambil secara halus namun memaksa. Bukankah setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama apapun kepercayaan dan keyakinan yang mereka anut?

Sementara ini mereka memang tak berdaya, dalam kesunyian desa adat Cirendeu banyak hati merintih pilu…ah, biarlah rintihan pilu mereka terbawa angin dan bergaung di semesta…semoga Tuhan cepat menolong mereka.



http://matakumatamu.multiply.com/journa ... Jawa_Barat.
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Wed Jul 27, 2011 7:52 pm

Polarisasi dan Politisasi Agama
REP | 05 October 2010 | 09:50 72 3 1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif
--------------------------------------------------------------------------------


Berikut petikan wawancara Hatib dari Center for Religious & Cross-Cultural Studies UGM Yogyakarta dengan MC Ricklefs, penulis buku <!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]--><!--[if gte mso 9]> <![endif]--> <!--[endif]-->Polarizing Javanese Society. Islamic and Other Visions (C. 1830-1930) (2007).

Isu menarik yang diangkat adalah polarisasi dan politisasi agama di Indonesia, di mana kian kemari semakin marak terjadi. Selain itu nampak pula pendapat beliau terhadap kelompok-kelompok keagamaan yang beraliran puritan berupaya untuk menggeser tradisi, budaya, dan nilai-nilai yang telah menjadi titik tolak berdirinya sebuah negara bangsa seperti Indonesia.

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]--><!--[if gte mso 9]> <![endif]--> <!--[endif]-->

Polarisasi Aliran dan Politisasi Agama dalam Masyarakat Indonesia


Sebuah Wawancara dengan MC Ricklefs


Hatib: Apa kabar baru dari bentuk polarisasi Islam di Indonesia?


Ricklefs: Ya sangat dinamis, di Jawa itu ada hal yang umum dimana orang yang bekas PKI, lalu masuk Kristen, dan juga banyak yang berlatar belakang kebatinan, ya sebagian memang masuk Islam, tapi sebagian juga masuk Kristen. Baru baru ini ada informasi dari Jawa Barat, oleh kolega saya, Pak Ali, itu menarik sekali, karena ada satu kelompok yang mempunyai agama tersendiri, agama Jawa Sunda Wiwitan, itu jadi semacam kebatinan, lalu mereka menganut itu. Dan pada awal Orde Baru mereka itu merasa terancam, lalu masuk Kristen, sekarang keluar lagi dan mendirikan lagi agama Jawa Sunda Wiwitan itu.


Hatib: Kenapa mereka tidak masuk Islam?


Rickflefs: Nah itu masih kami selidiki.


Hatib: Ini saya juga sedang melakukan penelitian tentang gang di sekolah-sekolah Islam di Yogyakarta, yang ternyata mereka mempunyai afiliasi kuat terhadap kampung-kampung Islam seperti Kauman, dan partai politik Islam seperti PPP, dan mereka juga punya rivalitas yang kuat dengan gang sekuler, atau mungkin abangan, dan geng sekolah Non Muslim dan kampung kampung abangan, seperti salah satu penelitian gangster di antropologi juga mengungkapkan bahwa ada permusuhan mendalam antara warga kampung Islam di Kauman dengan kampung “abangan” Mergangsan yang juga berafiliasi ke PDI P.


Ricklefs: Wah ya, menarik sekali itu, saya dapat kesan bahwa politik aliran itu sebetulnya melemah, kepentingan dan pertentangan antara abangan dan Islam itu tidak begitu berarti. Karena sekarang pihak abangan tidak lagi diwakili oleh salah satu parpol, meski PDI P dan Golkar itu sangat mendekati pihak Golkar, tapi mereka tidak mau mewakili salah satu pihak saja, dan mencoba merasa di tengah. Rupanya banyak politisi mencegah adanya politik aliran, karena ini berbahaya. Tapi dalam hal penelitian Hatib ini rupanya jangan-jangan masih berlaku politik aliran atau mungkin bahwa parpol-parpol sebenarnya hanya kendaraan bagi gang-gang itu. Jadi sebenarnya mereka tidak mempunyai kesadaran aliran, dan parpol apapun bisa menjadi kendaraannya.


Hatib: Ya, itu khusus pada pemilu tahun 1999 dan 2001 dimana partai politik juga masih menggunakan kekuatan politik aliran dan massa seperti gangster gangster yang dianggap punya masa loyal.


Ricklefs: Ya Jogja memang selalu menarik sekali, lantas bagaimana peran Sultan dalam politik aliran itu juga penting untuk dipertanyakan. Seminggu sebelum Pemilu di Yogya, saya pernah ikut pengajian di sebuah kampung yang sangat kuat PPP nya. Jadi pemisahannya itu dibedakan berdasarkan orang yang pro demokrasi dan yang anti demokrasi, ada yang tidak anti tapi demokrasi digunakan semacam “parlemen dakwah” dan ada juga orang yang anti parlemen, termasuk salah satunya Abu Jibril. Tentu orang yang dari PKS ini menarik sekali, karena mereka bilang bahwa demokrasi sebetulnya merupakan peluang yang harus diambil. Tapi tujuannya juga sama, yakni Khilafah,. Hehehehe…Tapi mereka juga menganggap membela demokrasi, padahal salah satu dari anggotanya pernah bilang bahwa demokrasi dan Islam itu sama sekali tidak cocok, hehehe, dia seorang anggota partai PKS di DPP Sleman.


Hatib: Lantas kemana sekarang entitas “abangan” itu?


Ricklefs: Nah kesan saya begini, sampai abad pertengahan sembilan belas itu, kelompok abangan baru muncul. Dan pada tahun 1950 an kelompok abangan itu ada yang merepresentasikan mereka, yakni dua partai yang sangat kuat sekali pada waktu itu PNI dan PKI. Kalau kita lihat pada kampanye tahun 50 an itu menarik sekali, ya dalam kelompok santri memang ada perbedaan cukup tajam juga, seperti Masyumi dan NU yang sangat berbeda sekali. Pada waktu itu, mayoritas orang Jawa, yang sama juga dengan mayoritas orang Indonesia lainnya, buta huruf, mereka tidak bisa membaca, yang penting adalah slogan-slogan, symbol, nyanyian dsb, dan itu adalah kendaraan politik. Misalnya PKI di cap sebagai Partai Kriminal Indonesia, kenapa PKI dianggap seperti itu, karena mereka akan mencuri tanah. Sedangkan NU dianggap sebagai partainya wong Nunggu Udan (Menunggu Hujan), karena mereka dianggap tidak bergerak. Malah ada perpindahan, orang santri yang tinggal dalam kampung abangan itu pindah ke kampung santri, demikian juga sebaliknya. Menarik juga ada laporan dari tim penelitian Geertz itu, Robert Jay, dia kesana dengan Geertz pada tahun 1953 kalo nggak salah, tapi Jay kembali lagi pada tahun 1958, dan ada satu laporan yang menarik sekali, dia bilang pada waktu pertama kali dia datang, biasanya perempuan santri tidak selalu memakai kerudung, perempuan abangan biasanya tidak pakai kerudung, tapi kadang kadang kalau keluar itu pakai kerudung. Sedangkan pada tahun 1958 perempuan santri itu tidak pernah keluar tidak pakai kerudung, dan perempuan abangan tidak pernah sama sekali pakai kerudung lagi. Ini adalah satu tanda bahwa perbedaan itu sangat digarisbawahi. Dan puncak perbedaan ini adalah pada pertengahan tahun 60 an yang berakhir dengan pembunuhan massal. Tapi menurut saya ada satu langkah lagi, yakni fusi parpol2 pada tahun 70 an. Nah pihak abangan itu selalu diwakili oleh Parpol, tapi selain itu tidak ada, malah budaya abangan agak anti institusi sebenarnya. Semua institusi yang tidak begitu kuat mewakili agamanya, seperti abangan itu dihapuskan.


Melainkan pada pihak santri, walaupun parpol parpol dianggap tidak ada, masih ada pengajian, rumah sakit, ada badan amal usaha, ada sekolah, ada pesantren. Jadi banyak sekali institusi yang masih membela dan mewakili pihak santri. Nah oleh karena itu, gelombang islamisasi itu, bisa berjalan tanpa ada halangan sama sekali, tidak ada institusi yang menghalangi sama sekali, oleh karena itu sebetulnya agak susah sekali untuk menghitung berapa banyak orang abangan, berapa banyak orang Islam, semua survey dan sebagainya agak kesulitan. Menurut perhitungan saya, pada tahun 50 an, mungkin kira kira ¼ orang jawa adalah santri, itu berdasarkan berapa banyak orang yang membayar zakat. Misalnya orang2 abangan banyak sekali yang memilih parpol NU, karena mereka mengakui kepemimpinan seorang kyai, walaupun tidak bersembahyang, tidak berpuasa, dan sebagainya, tapi mengakui bahwa kyai sebagai pemimpin masyarakat. Tapi sekarang itu orang yang mengaku diri sebagai abangan mungkin tidak lebih dari 1/4. Tapi semua survey itu memang diragukan juga.


Tapi itu juga masalah metode juga, karena kalo ada tim dari UIN mau melakukan penelitian turun ke masyarakat dan bertanya pada seseorang “apakah kamu bersembahyang?” jawabnya “woo bersembahyang” walaupun mungkin tidak. Heheheheh….Tapi walaupun begitu orang2 yang dianggap santri memang dianggap mayoritas. Ada perubahan sosial yang sangat mendasar, hipotesis saya ialah berdasarkan satu proses di seluruh dunia, semenjak tahun 1960 an, hampir semua agama di seluruh dunia menguat, yang pertama adalah gerakan protestan di Amerika, lalu sesudah itu tahun 70 an itu Islam, tahun 80 an malah Hindu. Dan Indonesia merupakan sebagian dari fenomena itu. Kesadaran agama itu hampir menguat di seluruh tradisi keagamaan di seluruh dunia, kecuali di Eropa, itu yang menarik sekali, kenapa tidak terjadi di Eropa? Ini suatu pertanyaan yang besar sekali.


Hatib: Jadi mereka yang belong to PDI itu belum dianggap abangan pada tahun 70 an?


Ricklefs: Orang orang yang masih dianggap sebagai abangan masih ada, mereka akan berkoalisi dengan Golkar, dan PDI P juga masih ada banyak. Justeru sebaliknya, dari informasi kami, ada satu kasus yang menarik di Kediri. Karena keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) yang menetapkan kemenangan calon legislative berdasarkan suara terbanyak itu mempunyai dampak penting sekali. Karena pada umumnya, partai politik di Indonesia itu lemah, nah sekarang lebih lemah lagi. Karena orang memilih berdasarkan orang, bukan partai. Di sana ada contoh kasus kader PPP yang menarik sekali, ada orang dari satu kampung yang menganggap diri sebagai abangan yang kuat sekali, tidak pernah sembahyang, tidak pernah ke mesjid dan sebagainya, tapi ia menjadi calon kader PPP yang mendukung PPP bukan karena partai itu, tapi karena dari kampungnya.


Hatib: Kalau relasi antara santri-abangan; santri-priyayi; priyayi-pemerintah kolonial sejak usainya Perang Jawa; gerakan mesianistik-pemerintah kolonial; SI-Muhammadiyah, Boedi Oetomo-Taman Siswa; dan relasi gerakan tarekat naqsabandiyyah dan Satariyyah itu telah terpetakan, baik relasi maupun polarisasinya, lantas bagaimana dengan relasi abangan dengan pemerintah kolonial?


Ricklefs: Begini, pemerintah kolonial Belanda selalu mengajak kerjasama dengan elit. Kalau ingin memperdayakan masyarakat itu sebenarnya hanya pada tingkat politik, jadi supaya melancarkan upaya-upaya pasti mereka memilih priyayi yang punya ketaatan tinggi. Mereka juga sering mencurigai misionaris misionaris, karena mereka menganggap bahwa misionaris itu sebagai orang orang yang akan menimbulkan kesulitan dalam masyarakat. Jadi sebenarnya bukan orang Kristen yang mendapatkan dukungan, melainkan orang Islam kebanyakan yang juga priyayi. Jadi orang abangan kebanyakan yang tinggal di kampung hubungannya agak jauh dengan pemerintah kolonial, jadi hubungan mereka dengan Priyayi. Kalau pemerintah Jepang, justeru memobilisasikan kaum abangan, berbeda dengan tujuan Belanda yang selalu untuk mengontrol masyarakat, tujuan jepang memobilisasi.


Hatib: Lantas bagaimana dengan gerakan mesianistis sempalan atau juga gerakan kebathinan yang muncul sejak 1850 dan marak di 1870-1880 an?


Ricklefs: Hampir semuanya itu berasal dari pihak abangan, karena kehidupan spiritualitas mereka juga sangat kental sekali, penuh dengan roh-roh, dan kekuatan ghaib. Tapi biasanya kalo kita melihat gerakan kebathinan seperti ini selalu hampir bergantung kepada pemimpin, jadi sesudah pemimpinnya meninggal, biasanya gerakan ini akan mati. Kalau kita melihat sekarang misalnya, setahun yang lalu saya di Surabaya dan melihat ada seorang tokoh kebathinan dan bapak itu bilang ada suatu pertemuan kebathinan di Jawa Timur, saya lupa persis tempatnya, dan menurut dia ada 4000 orang yang hadir, dan dia bangga sekali. Kalau kita kembali pada awal tahun 1970 an, ada sensus di Solo, pada waktu itu mereka belum punya kategori-kategori agama yang resmi, itu mereka masih mencatat kebathinan dan jumlah penganutnya sekitar 40 ribu orang. Kalo misalnya masing-masing di seluruh kota Jawa Tengah ada 40 ribu orang, maka itu jumlah merupakan suatu perbedaan yang besar sekali dibanding sekarang. Jadi dahulu mereka kuat sekali.


Hatib: Dalam gambaran sejarawan, Sartono Kartodirdjo, sepanjang tahun-tahun 1860-1890 banyak sekali gerakan-gerakan mesianistik Islam yang muncul secara sporadis, apa penyebabnya?


Ricklefs: Salah satunya ialah perubahan abad Masehi yang dibarengi dengan perubahan abad dalam perhitungan Jawa, ini banyak sekali gerakan millenarian yang mempercayai bahwa abad baru akan mendatangkan penyelamat baru terhadap situasi yang buruk. Juga di Eropa terjadi seperti ini, dalam peralihan antara abad ke 19 dan 20. Tapi yang paling penting adalah lebih ditekankan pada penanggalan Jawa.


Hatib: Munculnya gerakan seperti HTI, MM, yang tidak sudi mengakui sistem demokrasi di Indonesia, apakah ini ada cerminan dari adanya polarisasi di abad pertengahan abad 19?


Ricklefs: Biasanya, dimana saja, dalam agama apapun, dalam masyarakat apapun, kalau ada suatu gerakan baru yang datang dan bilang mereka datang kesini untuk memurnikan “kamu” pasti ada suatu reaksi, ada yang ikut, dan selalu ada banyak yang menentang, dan rupanya HTI adalah gerakan2 wahabi pada umumnya yang melihat masyarakat dianggap belum sempurna, sehingga mereka hendak memurnikan. Sudah lihat buku baru yang dikeluarkan oleh Wahid Institute, “Ilusi Negara Islam”. Itu salah satu langkah oposisinya.


Hatib: Tapi bagaimana dengan nasib gerakan radikal seperti ini kedepannya?


Ricklefs: Gerakan radikal itu selalu terpecah di dalamnya.


Hatib: Oya, itu seperti FPI, di Bantul ada pecahannya, FJI (Front Jihad Islam) yang anggotanya 135 orang, dan tidak setuju dengan tindakan tindakan Habib Rizieq.


Ricklefs: Ya, ada juga kelompok baru Abu Bakar Ba’asyir yang pecah dari Majelis Mujahidin, tapi itu masih kecil barangkali. Di sisi lain, ini ada juga fenomena menarik bahwa ada suatu gejala hampir di seluruh Indonesia, pasca otonomi daerah, semua daerah mencari sesuatu yang khas dari daerahnya, dan maskot lokal, dan sebagainya. Itu sering yang dicari adalah dari jaman Pra Islam, seperti tarian lokal, kerajaan lokal. Apalagi Ini merupakan suatu proses yang memperkuat heterogenitas antar daerah. Melainkan Islam hendak menghomogenisasikan. Jadi memang ada dua gelombang yang bertentangan pada tingkat kebudayaan. Misalnya di Kediri lagi, dari pemerintahan lokal, mereka mau menggunakan tarian tayub sebagai maskot daerah, dan wah semua kyai memberontak, itu dianggap terlalu sensual. Sekarang jaranan juga sangat kuat, karena persis pada masa Soeharto itu agak lemah, sekarang itu kuat sekali ada dimana2, karena bukan hanya dianggap bermuatan lokal, tapi juga mempunyai kekuatan ghaib, dan kyai2 memang agak kurang senang dengan itu. Dan saya mempunyai empat rekan, dari Yogya, Solo, Kediri dan Surabaya yang memperkaya bahan2 saya, yang dari Kediri menarik sekali. Dalam pilkada baru2 ini ada beberapa calon yang didukung oleh para kyai, termasuk Gus Riza anaknya kyai Imam, malah ada beberapa calon dari keluarga kyai, dan semuaaaaaanya kalah. Satupun tidak lolos dari sekitar 8 calon. Apalagi setahun yang lalu, ada pemilihan walikota, ada sekitar 5 calon pasangan, 4 dari pasangan calon itu di dukung oleh para kyai, dan yang menang adalah seorang dari Muhammadiyah, dengan wakil walikota yang malah seorang keturunan Arab. Jadi jelas pengaruh kyai2 dalam kepemimpinan politik mulai menurun, dan masyarakat tampaknya ingin mencari sesuatu hal yang baru.


Hatib: Yah, kemarin Jusuf Kalla dan Wiranto masih datang ke para kyai untuk mengumpulkan suara dan mencari dukungan.


Ricklefs: Ya tapi memang selalu ada yang begitu untuk mencari dukungan, meski belum tentu mereka menang. Dulu ada orang berpendapat pengaruh tokoh-tokoh itu memang penting, tapi sekarang menurun, termasuk pengaruh politik Sri Sultan, di Yogyakarta. Yogyakarta tidak pernah untuk mendukung Golkar secara resmi, meski Sultan menganggap dirinya adalah seorang tokoh Golkar. Kelihatannya kehidupan tokoh-tokoh politik di Indonesia itu sangat individual sekali, misalkan tahun 2004 orang yang mendukung parpol salah satu partai pemilu yang pindah pada pemilu presiden itu banyak sekali. Jadi memang tidak ada loyalitas terhadap parpol. Jadi mereka mendukung PDI P sebagai seorang yang loyal, ndak, mereka mendukung PDI P pada bulan april dan berganti pada bulan depan.


Hatib: Apa yang menyebabkan munculnya gerakan radikal di Indonesia demikian berkembang demikian pesat pasca Orde Baru, bahkan HTI mengklaim sudah punya anggota lebih dari 1 juta, padahal gerakan ini kan dilarang tidak hanya di Jerman, tapi juga di negara-negara Timur Tengah?


Ricklefs: Pertama, itu karena HTI dianggap tidak mengancam keamanan oleh tentara. Di luar dianggap sebagai gerakan ekstrim, tapi tidak pernah terlibat dalam kegiatan terorisme. Dan kesan saya kelompok2 yang ekstrim itu sudah mengakui bahwa terorisme hanya akan menghilangkan dukungan dari banyak orang, terutama dukungan dari klas menengah, karena klas menengah itu yang selalu menentukan nasib politik suatu negara, dan HTI ini memang cukup pintar, apalagi PKS, kecuali kalau kasus seperti di Monas kemarin, itu cukup membahayakan, tapi gerakan seperti HTI ini, mereka selalu mengajak diskusi dan sejenisnya. Oleh karena itu mereka bergerak secara damai agar tidak bisa dihapuskan oleh negara dan militer. Juga terutama dari militer, kalau politik sipil itu gagal, itu merupakan keuntungan militer dan sebuah peluang untuk merebut kekuasaan lagi.


Hatib: Lantas bagaimana dengan partai-partai Islam yagn menjadi “rising star” pada pemilu kali ini seperti PKS?


Ricklefs: Ya partai ini di luar perkiraan, karena telah mematok 20 persen suara, kenyataannya hanya dapat 7 persen. PKS memang lebih profesional, dan berdisiplin. Tapi secara metode gerakan, partai PKS ini mempunyai banyak kesamaan dengan PKI, keduanya lebih aktif pada tingkat akar rumput, mereka sangat berdisiplin, jauh lebih profesional dan dicurigai oleh partai lain punya hidden agenda. Ada satu tesis dari Masdar Hilmi yang sangat bagus sekali, dia membedakan orang2 di PKS itu antara utopian yang percaya kepada khalifah dan millienaris yang merupakan gerakan dari Kristen, mereka menganggap dunia ini sebagai dunia yang tidak sempurna, oleh karena itu mereka mencari perbaikan. Ini bukan utopian, karena hanya mencari sesuatu yang lebih baik. Kesan saya, dalam parpol PKS mereka semuanya bias bekerja sama kalau arahnya sama, meski tujuannya berbeda. Dan dari kaum utopian itu juga berdekatan dengan HTI, asal mereka bekerjasama dengan orang lain itu pasti maju. Kalau melihat pada Pemilu 1999 hanya mencapai kurang dari 6% dan pemilu sekarang sudah 7% dan itu merupakan bukti bahwa strateginya memang berhasil mencapai kemenangan. PKS itu selalu mencari dukungan dari medan politik yang tengah, yang bersih dan peduli, dan tidak menekankan dukungan terhadap syariah, karena itu akan malah mengancam keberedaan masa depannya.


Hatib: Menanggapi buku terbaru dari Wahid Institute, “Ilusi Negara Islam” yang kemudian ditentang keras oleh HTI, kira-kira bentuk polarisasi apa lagi yang akan terjadi 10-20 tahun ke depan, apakah sejarah akan berirama seperti polarisasi antar kepercayaan dan agama seperti pada tahun 1830-1950?


Ricklefs: Yang paling mengesankan saya ialah, bahwa parpol-parpol sekarang rupanya semuanya berupaya untuk menjembatani perbedaan aliran untuk mencegah adanya polarisasi. Dulu Partai Demokrat dianggap sebagai partai sekuler, tapi mereka mencari dukungan dari PKS, PBB, PPP dan sebagainya, meskipun ada selalu banyak slogan, itu partai agamis, sekularis. Kondisi ini juga berdasarkan pendidikan dari berbagai gerakan-gerakan islamis. Apakah itu akan menimbulkan bentuk polarisasi baru? Kemungkinan bahwa suatu politik aliran akan muncul lagi, saya kira tidak bakal terjadi, karena politik aliran itu akan sangat berbahaya sekali. Tapi ada polarisasi antara gerakan-gerakan di dalam Islam itu sendiri, jadi bukan polarisasi antara Islam dan abangan, melainkan polarisasi antara NU-Muhammadiyah, PKS-MMI. Saya pernah tanya kepada Kyai Idrus Marzuki, dia bilang bahwa Negara kita akan dihancurkan oleh pihak HTI, MMI, lalu saya tanya, kalau begitu bagaimana pihak NU akan dia bilang bahwa kami masih mempunyai ilmu, heheheheheee….


Hatib: Ya, dulu Farish Noor pernah wawancara dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, kata Ba’asyir segala bid’ah dan sesuatu yang syirik harus dihilangkan dari muka bumi Indonesia, lantas ketika ditanya, bagaimana dengan keberadaan Candi Prambanan dan Borobudur, apakah perlu dihancurkan, lantas jawab ba’asyir, “oh kalau itu jangan itu bagian dari peninggalan budaya”


Ricklefs: Saya juga bertanya kepada Abu Bakar Ba’asyir mengenai hal itu. Dan dia bilang bahwa apa saja yang tidak menganut syirik dan maksiat, itu boleh diterima. Lantas saya tanya, ok kalau begitu bagaimana dengan wayang kulit? “Oh itu Syirik” jawabnya, lantas bagaimana dengan tarian Bedhaya, dia jawab “oh itu syirik”, saya bertanya bagaimana dengan keris? “Oh itu syirik”. Jadi pada prinsipnya semua budaya Jawa itu diterima oleh Abu Bakar, tapi pada praktiknya semua itu tidak diterima. Lantas ketika saya tanya bagaimana dengan Bahasa Jawa, dijawabnya “yah itu akan hilang dengan sendirinya”. Di daerah ini, di dekat Ngruki, dia bilang sudah hampir tidak ada orang yang berbahasa Jawa, semua berbahasa Indonesia. Dia orangnya menarik, sangat baik, tapi sangat sempit pikirannya. Sesungguhnya sangat susah berjumpa dengan dia, karena orang yang membela dia itu, mencurigai semua orang. Saya bisa ke sana dengan kolega saya, sejarawan dari UNS, Pak Soedarmono, dan jelas Abu Bakar Ba’asyir melihat pak Darmono sebagai orang kejawen. Dia menjelaskan sesuatu mengenai syariat Islam, lalu saya tanya, bagaimana itu bisa diketahui dengan pasti, karena sejak 1400 tahun yang lalu itu juga terjadi perdebatan tentang syariat Islam, dengan keberadaan agama lainnya, seperti Kristen dan Yahudi. Lalu saya tanya, apakah anda diarahkan atau pasti ada ilham? Karena tuduhan dari orang lain, anda ini semacam Syiah. Lalu dia mengatakan bahwa Tuhanlah yang telah mengarahkan saya, wah ini menarik, karena terdengar sangat arogan.


Kami juga mewawancarai seorang anggota HTI di Surabaya, dia bilang bahwa sistem khilafah itu merupakan sebuah sistim politik yang sempurna. Lalu saya tanya, mengapa tiga khalifah sebelumnya mempunyai kesulitan dan melakukan korupsi yang cukup besar, bahkan juga khilafah turki utsmani itu melakukan korupsi yang sangat besar, lalu dia bilang itu bukan sistem yang salah, melainkan orangnya. Lalu kolega saya Haidir bertanya, kalau begitu bagaimana menjalankan sistem tanpa orang? Pembelaan anggota HTI itu sama dengan pembelaan para penganut sistim komunisme, padahal banyak sekali orang yang mengkritik sistim komunis itu. Karena mereka melihat Negara-negara di Eropa Timur, Uni Soviet dan sebagainya, lalu mereka membela bahwa itu bukan sistem yang salah, melainkan orang yang menjalankannya. Hehehe, sistim tanpa orang itu kan aneh…hehehe…


Hatib: Oke baik pak, terima kasih atas waktu bincang-bincangnya. Salam kami dari CRCS.


Ricklefs: Ya ya, tolong sampaikan salam saya kepada Mas Suhadi.


http://politik.kompasiana.com/2010/10/0 ... asi-agama/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby akuadalahkafir » Wed Jul 27, 2011 8:22 pm

Maaf saya kurang begitu mengerti... sunda wiwitan itu hampir kaya kejawen di jawa ya? :-s
User avatar
akuadalahkafir
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 424
Images: 2
Joined: Wed Jun 08, 2011 8:57 pm

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!!!!

Postby Laurent » Mon Nov 07, 2011 2:33 pm

Sunda Wiwitan Masih Indonesia

Thursday, 20 October 2011 13:09
Bambang Hari
Hits: 196

0 Comments
Share
0

Ilustrasi

Ilustrasi
KBR68H - Sunda Wiwitan merupakan sebuah agama yang lahir di tanah air. Namun pemeluk agama ini mengalami diskriminasi layaknya penganut agama-agama lain yang tidak "diakui" di Indonesia. Para penganut ajaran ini mengaku kesulitan mendapatkan identitas diri dan kerap dikucilkan dari masyarakat.

Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli nusantara yang diakui di Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil.

Apa Sebenarnya Sunda Wiwitan itu?

Salah satu yang menganut ajaran Sunda Wiwitan adalah Dewi Kanthi Setyaningsih. Ia menjelaskan lebih jauh soal latar belakang paham yang dianutnya. Menurutnya Sunda Wiwitan adalah sebuah agama yang memang diyakini oleh sejumlah orang di daerah Sunda. Salah satu daerah yang menganut ajaran agama ini adalah Suku Baduy. "Wiwitan mengandung arti sebagai permulaan awal. Pemahaman Sunda Wiwitan sendiri adalah sebagai sistem keyakinan yang merupakan tradisi nenek moyang dari masyarakat Sunda kuno. Itu jauh sebelum ada agama-agama dari luar nusantara masuk," papar Dewi.

Namun lebih jauh ia juga menjelaskan, pemeluk agama ini tidak hanya berasal dari etnis Sunda saja. Filosofi Sunda mengandung makna damai atau cahaya. "Nah. Cahaya awal kehidupan itulah yang kami maknai lebih dalam," jelas Dewi singkat. Pemaknaan kata 'Wiwitan' itu sendiri lanjutnya, masih dilandasi oleh kesadaran tetap menjunjung nilai-nilai kodrati dari pencipta kehidupan. Intinya kata dia, penganut ajaran itu ingin membangun kesadaran untuk membangun tradisi spiritual.

Praktik Diskriminasi Akrab Dengan Penganut Paham Minoritas

Selain mengalami kekerasan, penganut agama Sunda Wiwitan rentan terhadap diskriminasi. Mendapatkan dokumen kependudukan seperti KTP bukan hal yang mudah. Juga kartu keluarga sampai surat nikah. Persoalannya terpaku pada kepercayaan yang dianut Dewi Kanti yang belum diakui negara. Saat ini baru 6 agama yang mendapat pengakuan, Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. “Negara belum mengakui kami,” keluh Dewi Kanti.

Sekretaris Jenderal Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), Nia Syaifuddin menyayangkan dengan apa yang terjadi terhadap para pemeluk paham minoritas, termasuk Sunda Wiwitan ini. Menurutnya, negara dalam konstitusinya memang menjamin kebebasan setiap warganya untuk memeluk dan beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. "Tapi itu hanya berlaku bagi bagi agama yang diakui oleh pemerintah saja, yakni Kristen, Protestan, Budha, Hindu, Konghucu, dan Islam. Sementara bagi sekian banyak penganut ajaran lain, itu tak berlaku," sesalnya.

Pemerintah Harus Mengakui

Pemerintah kata Nia, seharusnya melihat fakta yang ada di masyarakat bahwa masih banyak orang-orang yang belum bebas menjalankan dan meyakini ajaran yang mereka ingin yakini. "Pemerintah membuat aturan seolah ingin membunuh banyak kepercayaan lokal. Seharusnya bila mengacu pada Pasal 29 soal kebebasan beragama, seharusnya negara menjamin setiap warganya untuk memeluk serta beribadah sesuai dengan apa yang ia yakini. Tak perlu mengkotak-kotakkan pada situasi 'ajaran lokal' dan 'ajaran impor'," harapnya.

Ia juga berasumsi bahwa banyaknya diskriminasi terhadap kaum-kaum minoritas yang terjadi belakangan ini sangat dipengaruhi oleh stigma semacam itu. “Jadi bagi mereka yang menganut ajaran di luar yang enam itu, dianggap sesat,” kata Nia. Padahal seharusnya Pemerintah justru menjamin kerukunan umat beragama sesuai dengan semboyan bangsa ini, yakni Bhineka Tunggal Ika.

http://www.kbr68h.com/perbincangan/agam ... -indonesia
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Sun Apr 15, 2012 1:04 pm

Perlawanan Kultural Sunda Wiwitan
19/03/2012 | By: mukhlisin

Sunda Wiwitan. Sumber: vhrmedia.com“Kami dilahirkan sebagai orang Sunda bukan atas pilihan dan kehendak kami, ditakdirkan sebagai masyrakat Nusantara juga bukan pilihan kami, tetapi kehendak Sang Hyang Maha Kersa, maka izinkan kami hingga akhir kami menutup mata kembali padaNya dalam “keutuhan” menjaga tradisi leluhur kami, sembari mengejar “kebutuhan” administrasi negara.” Demikian ungkap penganut agama Sunda Wiwitan, Dewi Kanti, dalam Workshop Media Monitoring and Religious Intolerance yang diselenggarakan Freedom House di Jakarta, Minggu (18/03/2012) kemarin.

Sunda Wiwitan merupakan salah satu kepercayaan spiritual asli nusantara yang sudah lama berada di tanah air. Bahkan sebelum agama-agama “impor” datang, Sunda Wiwitan telah ada dan secara turun temurun dituturkan dan dilestarikan dari generasi ke generasi hingga kini.

Seiring berjalannya waktu, budaya spiritual dari luar mulai masuk, mendominasi, dan mengikis tradisi-tradisi asli nusantra layaknya Sunda Wiwitan. “Hal itu disebabkan karena pada metode penyampaian ajaran, budaya spiritual nusantara tidak menggunakan cara seperti misionaris dari luar nusantara” tegas Dewi Kanti.

Imbas dari dominasi tersebut adalah diskriminasi terhadap agama-agama lokal seperti Sunda Wiwitan, Jawa Kawitan, Bissu, Marappu, Tolotang, dll. Menurut Dewi Kanti, meskipun konstitusi melalui UUD 1945 melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, tetapi pada kenyataanya konstitusi itu diingkari.

Salah satu pendiskriminasian yang dirasakan Dewi Kanti adalah implementasi dari Undang-Undang Nomer 23 tahun 2006 pasal 61 tentang Administrasi Kependudukan. Salah satu pengalaman Dewi Kanti adalah disaat membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). ”Pengalaman saya, harus berkalki-kali mengajukan koreksi kepada instansi terkait. Hingga diterbitkan 3 kali cetakan KTP. KTP pertama ditulis Islam, KTP kedua ditulis Aliran, KTP ketiga ditulis (-)” Pungkasnya.

“Meskipun begitu kami tetap cinta Indonesi. Sampai menutup mata tetap Bhineka Tunggal Ika” Simpulnya. [Mukhlisin]

http://icrp-online.org/032012/post-1733.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: CIREUNDEU : Nasib Penganut Agama SUNDA WIWITAN tragis !!

Postby Laurent » Sun Apr 15, 2012 1:06 pm

Posts RSSComments RSSEditKamis, 17 November 2011
Kisah yang Terkubur di Seren Taun Cigugur

Awal tahun 2009 lalu, saya pernah ikutan bantuin kegiatan Festamasio (Festival Teater Mahasiswa Nasional) yang sedang berlangsung di Jakarta. Saya di sana berperan sebagai LO bagi komunitas teater mahasiswa Univ. Syiah Kuala, Aceh (saya lupa nama teaternya). Saya pun berkenalan dengan banyak orang, ketemu teman-teman dari Aceh, termasuk teman-teman si anak-anak Aceh ini yang berkuliah di Bandung. Ada satu nama, saya lupa juga (saya sulit mengingat nama orang-orang yang hanya sebentar bgt singgah--panggil saja dia Bang), mahasiswa STSI Bandung, seorang petualang, suka budaya, seni, dan semacamnya, yang lantas kita ngobrol banyak tentang lumayan banyak hal. Salah satunya, ketika dia tahu saya berasal dari Desa Cigugur, Kuningan, dia langsung cerita tentang upacara adat Seren Taun yang tiap tahun berlangsung di situ.


"Apa? Kamu gak tahu suka ada Seren Taun di sana?" kata si Bang.
Tertohok saya. Mendadak ada yang mendesir di hati ini, semacam rasa malu, norak, kampungan, masa acara di kampung halaman sendiri gak tahu.. Kok, sodara-sodara saya gak pernah ada yang ngasih tahu soal ini ya?
"Gak tau, Bang. Hehe.. numpang lahir, doang. Kelamaan di Bogor," saya pun beralibi.
Dan.. tahun 2010 kemarin, akhirnya saya sempat ngikutin upacara adat Seren Taun di Desa Cigugur-Kuningan lengkap (enggak lengkap banget juga, sih.. minimal setiap hari saya datang dan ngekorin ritual mereka). Akhirnya...


Beberapa Langkah Saja
Parah banget emang saya. Pantas kalau saya merasa tertohok oleh perbincangan bareng anak Aceh-Bandung tahun 2009 itu. Setahun kemudian barulah semua ketertohokan saya itu terbukti sebab helaran upacara Seren Taun tersebut terletak beberapa langkah saja dari rumah mama di Cigugur, yaitu bernama Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Setiap hari saya bisa lewatin tempat itu kalau mau ke kota lewat jalur yang memutar. Saya bisa tiap pagi jalan kaki ke situ sambil olahraga atau main-main di balong (kolam) Cigugur yang sangat tidak asing lagi. Pantaslah kalau saya malu. Sementara acara budaya ini diikuti oleh bahkan budayawan maupun wisatawan mancanegara, saya sendiri yang kelahiran desa itu tidak tahu?! Sungguh ter-la-lu.


Akhir tahun kemarin itu, 2010, saya sempat beberapa bulan di Kuningan, lepas dari satu pekerjaan dan mencoba rehat sejenak di suasana pedesaan. Entah kebetulan atau mungkin memang sudah begitu saja jalan-Nya (ciee, sok bersinergi dengan alam Cigugur), Seren Taun Cigugur-Kuningan 22 Rayagung 1943 Saka Sunda digelar saat saya berada di sana. Senangnya.. bisa mengikuti acara kampung halaman sendiri meskipun tidak terlibat jauh dan hanya mencoba memahami, tapi buat saya ini sudah cukup. Ada rasa entah apa yang membuat saya gimana.. gitu. Rasanya seperti perasaan bangga bercampur takjub. Cigugur, kampung halamanku. :)


Terkubur Sebuah Cerita
Saya ingat, deh. Itu terjadi bulan November 2010. Ritual Seren Taun pertama yang saya ikuti adalah kegiatan pembuangan hama. Pagi-pagi betul saya sudah bersiap diri sebab acaranya berlangsung pagi hari di sebuah bukit yang menurut keluarga saya angker. Konon dahulu tiap malam sering terdengar suara gamelan dari bukit itu. Ritual pembuangan hama ini memang diiringi oleh gamelan dan permainan seribu kentongan.


Selanjutnya, hampir setiap hari saya ke acara Seren Taun ditemani adik atau saudara-saudara lainnya; menyaksikan nyiblung, pertunjukan kesenian, dan sebagainya. Tapi, banyak juga acara yang tidak saya hadiri, tidak ada teman alasannya--selain adik saya. Sebagian keluarga besar tampaknya kurang antusias bahkan cenderung skeptis. Suatu kali salah satu saudara malah bilang saat kita akan pergi ke acara Seren Taun, "Jangan sampai Enih (nenek) saya tahu." Maaf, katanya, itu acaranya orang Katolik. What? Saya melongo.


Telusur demi telusur, saya pun akhirnya mengerti mengapa ada sebagian masyarakat yang bersikap tak acuh begitu. Tersebutlah sebuah nama, Madrais, yang melegenda banget hingga menjadi semacam mitologi yang berkembang di Desa Cigugur.


Legenda Madrais
Saya mendadak jadi "peneliti" cabutan dan "wartawan" kelas teri dengan mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang Seren Taun Cigugur-Kuningan dan hubungannya dengan tokoh bernama Madrais ini. Saya googling, tanya-tanya keluarga (terutama orang-orang sepuh termasuk nenek saya dan tetangga mama yang sudah tua), juga wawancara penduduk Cigugur dan salah satu panitia yang merupakan anggota masyarakat adat Cigugur-Kuningan sekaligus dosen Antropologi Unpad, Ira Indrawardana. Tersimpullah bahwa masyarakat adat Cigugur ini, sebagiannya merupakan "asap" dari para pengikut tokoh bernama Madrais pada masa dahulu. Beliau ini adalah seorang yang sakti dan hidup atas jati dirinya sendiri sebagai manusia, tak mengidentifikasikan diri pada suatu sistem agama tertentu sebab tampaknya beliau telah melampaui semua itu sebagai seorang makhluk Tuhan dan semesta alam. Ajaran Madrais ini lantas dimaknai dan diaplikasikan oleh sebagian masyarakat Cigugur. Mereka melakukan ritual-ritual sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada alam. Salah satunya adalah yang kemudian dikemas dan dikenal dengan Seren Taun.


Mereka ini adalah orang-orang yang kembali kepada "agama" buhun mereka, seperti masyarakat Baduy. Kita mengenalnya sebagai Sunda Wiwitan. Namun, pada suatu era, kepercayaan kepada selain 5 agama legal di Indonesia, dilarang. Maka, sebagian besar pemeluk Sunda Wiwitan di Cigugur ini, berbondong-bondong beralih agama ke Katolik atau Kristen. Ya, bukan ke Islam sebab ada satu kisah tersendiri mengenai hal ini yang berkaitan dengan tokoh bernama Madrais tersebut. Orang-orang tua di Cigugur akrab betul tentangnya.


Madrais adalah keturunan sultan Kerajaan Gebang Cirebon yang sedari kecil telah diungsikan ke Cigugur dari kejaran penjajah Belanda. Ia lalu diasuh oleh kepala desa bernama Ki Sastrawardana. Untuk mengelabui penjajah dan menghilangkan jejaknya, disebarkanlah informasi bahwa Madrais (maaf) anak haram, tak jelas orangtuanya. Maka, begitulah yang dikenal masyarakat, termasuk nenek saya.



Dahulunya Madrais adalah seorang muslim yang taat. Namun, seperti dijelaskan Kang Ira (keturunan Ki Sastrawardana), suatu kali pernah terjadi tindakan tidak menyenangkan yang dialami ketika Madrais tengah melakukan khotbah Salat Jumat di masjid. Beliau dinilai oleh salah seorang jemaah tidak pantas melakukan khotbah. Ini berkaitan dengan labelnya sebagai anak haram. Orang-orang tua di Cigugur mengungkap, Madrais sakit hati kemudian "murtad" dan mendirikan kepercayaan sendiri (begitu juga yang dibilang nenek soal sakit hati). Sementara itu, Kang Ira membenarkan bahwa telah terjadi semacam "pengkhianatan" di antara saudara sendiri dan inilah yang menjadi awal sebuah sejarah.


Madrais melestarikan kembali ajaran Sunda asli dalam bentuk tarian, tembang, dan kesenian lainnya. Mereka membangun masyarakat adat yang kuat, bukan hanya di Cigugur, melainkan ke wilayah Jawa Barat lainnya. Hingga pada suatu era itu, ketika mereka tidak boleh mengosongkan kolom agama pada KTP oleh pemerintah, maka mereka memilih Katolik atau Kristen. "Yang penting bukan Islam, aja," sahut Kang Ira mengisyaratkan "dendam" leluhur.


Maka, ketika penganut kepercayaan kepada Tuhan YME kembali dibangkitkan pada masa pemerintahan Gus Dur tahun 2006 dan Seren Taun kembali digiatkan yang pada tahun itu pula presiden RI ke-4 ini menghadiri acaranya di Cigugur, masyarakat kolot menilai bahwa ini adalah acaranya orang Katolik. Setengah warga Desa Cigugur memang beragama Katolik dan keluarga Madrais (beragama Katolik pula) secara temurun menjadi penggagas masyarakat adat dan acara Seren Taun di Cigugur, namun bukan berarti ini acaranya salah satu agama. Sayangnya, itulah pola pikir yang berkembang di masyarakat kolot Cigugur, termasuk nenek saya dan beberapa keluarga besar saya lainnya. Mereka juga menganggap ini sebagai sebuah bentuk kemusyrikan.


Agama vs Budaya
Saya hanya mengkombinasikan cerita yang saya dapat dari keluarga saya dengan sejarah yang faktual. Saya hendak mencari sisi objektivitasnya. Kini saya mengerti kenapa nenek saya bilang begitu, kenapa Seren Taun kurang populer di keluarga besar saya, kenapa Madrais bersikap "keluar". Masalahnya sangat sederhana (baca: klise), yaitu "perang" antara agama dan budaya. Kebanyakan masyarakat agama (macam Enih dan keluarga lainnya) sulit memakai kacamata lain untuk melihat suatu fenomena yang terjadi sebab bagi mereka agama adalah kebenaran mutlak yang tak bisa ditawar lagi. Namun, berapa banyak kekaosan terjadi di dunia akibat perang agama?!
Ketika agama tidak lagi mampu menjadi solusi dan malah jadi sumber perpecahan, maka budaya adalah jalan tengahnya. Di sana ada pembauran yang netral, sesuatu yang lebih ke akar. Di sana tidak ada Islam atau Katolik, yang ada hanya Sang Hyang.


Seren Taun di Cigugur bukan acaranya orang Katolik, ini acara budaya. Masyarakat Cigugur tumplak menyatu di pesta rakyat itu. Puji-pujian dilisankan dalam bahasa Sunda. Ada doa bersama lintas agama di suatu malam puncaknya. Pemimpin dari tiap-tiap agama berkumpul, memanjatkan puji syukur atas hasil bumi (panen) yang melimpah di tanah mereka: Tanah Sunda.
Maka, hasilnya, pluralisme terjalin hangat di desa kami. Leluhur Cigugur senantiasa menjaganya. Semoga tetap lestari. Amin.

When you learn something from people, or from a culture, you accept it as a gift, and it is your lifelong commitment to preserve it and build on it. (Yo-Yo Ma)
Saya pengen banget enih atau keluarga lainnya mengerti, tapi sulit. Mereka cukup menghargai, tapi cynical. Yah, mudah-mudahan ada pencerahan bagi mereka.
Tahun ini saya gak bisa liat Seren Taun Cigugur-Kuningan 1944 Saka Sunda, tapi akan ada Seren Taun Guru Bumi di Sindang-Barang Bogor Januari 2012 nanti. Saya pengen tahu, apakah ada bedanya?



Kang Ira Indrawardana.

Upacara pembuangan hama.

Seribu kentongan;
yang dipayungi cucu Madrais.

Nyiblung.

Paseban Tri Panca Tunggal
*Foto koleksi pribadi pada Seren Taun 1943 Saka Sunda, November 2010.
Salam Jitay (Jiwa Santay)

http://capnonamanis.blogspot.com/2011/1 ... -taun.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Next

Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users