. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Cara Islam menghormati Hari Besar Agama Lain

Muslim moderat, radikal, bgm pemikiran mereka & bgm hubungan mereka dgn NON-Muslim, sejarah perlakuan Muslim terhdp NON-Muslim, Dhimmi & Jizyah

Cara Islam menghormati Hari Besar Agama Lain

Postby pod-rock » Tue Jan 06, 2009 7:03 am

Cara Islam menghormati Hari Besar Agama Lain
Oleh Eeyore

Artikel ini diambil dari Tanya Jawab Muslim dengan Ulamanya, Sheikh Muhammed Salih Al-Munajjid dalam situs IslamQnA

Klarifikasi mengenai bagaimana Islam tidak Toleran terhadap agama lain

Dari tanya Jawab Islam:

Dilarang memberi selamat pada kafir utk perayaan2 mereka dalam bentuk apapun.

Apa aturan makan makanan (nasi, daging, ayam atau kue) yang diberikan pada kita oleh teman kristen, dimana makanan itu dibuat khusus ulang tahun atau Natal atau Tahun Baru Kristen? Apa pendapat anda jika kita memberi selamat dengan berkata, “Insha Allah anda akan mendapat hal baik tahun inipun” agar kita terhindar utk memberi selamat dengan mengatakan Kull’aam wa antum bi khayr (kurang lebih: selamat natal, tahun baru atau ultah).
Praise be to Allah.


Jawaban:
Dilarang bagi muslim utk memakan apapun yang dibuat yahudi atau kristen utk perayaan mereka, atau yang diberikan oleh mereka dalam rangka perayaan mereka, karena itu sama saja dengan bekerja sama dengan mereka dan bergabung dengan mereka dalam tindakan durjana ini.

Dilarang memberi selamat bagi perayaan umat Kristen atau Yahudi apapun, karena secara tidak langsung sama dengan menyetujui perayaan mereka dan bukannya menolak mereka, ini membantu mereka mewujudkan simbol2 dan meluaskan bid’ah2 mereka, dan dilarang juga berbagi kebahagiaan dengan mereka dalam perayaan2 ini, karena perayaan2 itu adalah perayaan bidah yang berasal dari kepercayaan yang salah yang tidak diakui dalam islam.

Dan Allah maha mengetahui.

Mengenai ikut serta Natalan dan Tahun baru

Saya lihat banyak ‘muslim’ ikut natal dan perayaan2 lainnya. Apa ada dalil dari Quran atau/dan Sunnah yang bisa saya tunjukkan pada mereka bahwa tindakan mereka itu adalah dosa?

Jawaban:
Praise be to Allah.

Dilarang ikut/mengikuti perayaan2 orang kafir dengan alasan2 sbb:

Pertama-tama: karena ini sama dengan meniru2 atau memirip2kan dengan mereka, dan “Barang siapa yang meniru sesuatu bangsa, ia adalah termasuk golongan mereka.” (Diriwayatkan dalam Abu Dawud). Ini adalah peringatan yang serius. Abdullah ibn al-Aas berkata:

“Siapapun yang tinggal ditanah musrikin (Kafir) dan merayakan perayaan mereka dan hari2 besar mereka, dan meniru2 mereka hingga dia mati, dia akan jadi pecundang pada hari kiamat”

Kedua: Mengambil bagian dalam perayaan mereka sama dengan berteman dengan mereka dan menunjukkan rasa cinta pada mereka. Allah berkata :

Al-Maidah 5.51: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman-teman (mu); sebahagian mereka adalah teman bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Al-Mumtahanah [60.1] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang

Ketiga: Perayaan2 tsb berhubungan dengan agama dan kepercayaan, bukan masalah kebiasaan atau tradisi, seperti yang disebutkan dalam hadis:

“Setiap bangsa mempunyai Hari Besar (Eid) dan inilah Eid kami.”

Eid atau hari besar mereka melambangkan kepercayaan rusak mereka, yaitu Kafir dan Sirik.

Keempat:

Al-Furqaan [25.72] Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Para ulama menafsirkan ayat ini dengan mengacu pada hari2 besar kaum kafir. Tidak boleh memberi mereka kartu, menjual kartu atau apapun yang mereka perlukan utk merayakan hari besar mereka, seperti lampu2, pohon atau makanan – termasuk ayam kalkun, lilin, dll.

--------------------------------

Klarifikasi tentang mengapa muslim tidak boleh berteman dengan non muslim, kalau-kalau ada pembaca yang tidak yakin tentang hal itu. Ini menolong kita utk menjelaskan kenapa ada pembersihan etnis non muslim disepanjang sejarah Eropa dan Amerika Utara didaerah2 dimana para muslim terkonsentrasi.

Mengambil non-muslim sebagai teman

Haram mengambil kafir sebagai teman atau pelindung.
Kami harap anda bisa menjelaskan, dengan contoh, apa artinya kalimat, “Mengambil kafir sebagai teman dan pelindung itu haram.”


Jawaban:
Praise be to Allaah.
Ya, dengan adanya contoh2 pastinya akan lebih menjelaskan apa arti kalimat tersebut, jadi kami akan langsung mengutip poin2 penting yang didakwahkan para pemimpin dan ulama mengenai cara2 yang berbeda dalam memperlihatkan ‘pertemanan’ dengan kafir.

Menerima dan meragukan kekafiran mereka, atau menahan diri utk menyebut mereka kafir atau memuji agama mereka.

Allah berkata mengenai kafir dan orang yang menerima mereka:

“akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran” Al-Nahl 16.106

Allah berkata, diwajibkan menyebut mereka kafir:

“Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” Al-Baqarah 2.256

Allah berkata tentang orang munafik yang lebih suka pada kafir dibanding muslim:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir, bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” Al-Nisa 4.51

Allah menyebut mereka dihari kiamat. Allah berkata:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” Al-Nisa 4.60

Tentang berteman dan menyukai mereka, Allah berkata:

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” Al-Mujaadilah 58.22

Lebih condong pada mereka, bersandar pada mereka dan mengambil mereka sebagai pendukung, Allah berkata :

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” Hud 11.113

Menolong dan mendukung mereka melawan Muslim. Allah berkata:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.” Al-Tawbah 9.71

Dia juga berkata bahwa Kafir adalah:

“mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.” Al-Maaidah 5.51

Dan Dia berkata:

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” Al-Maaidah 5.51

Dilarang menjadi anggota kelompok mereka, bergabung dalam kelompok mereka, menambah jumlah mereka, masuk warganegara mereka (kecuali jika darurat/mendesak), masuk militer mereka atau membantu mengembangkan senjata mereka. Mendatangkan hukum dan aturan ke negara2 muslim. Allah berkata:

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” al-Maaidah 5.50

Berteman dengan mereka dalam arti luas, mengambil mereka sebagai penolong, pendukung dan menjadi anggota kelompok mereka. Allah melarang semua ini, Dia mengatakan:

Al-Maidah 5.51: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman-teman (mu); sebahagian mereka adalah teman bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Berkompromi dengan mereka, berbuat baik pada mereka. Allah berkata:

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” Al-Qalam 68.9

Ini termasuk duduk bersama mereka dan ikut dengan mereka ketika mereka mengejek pertanda2 Allah. Allah berkata:

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam,” al-Nisa 4.140

Mempercayai mereka dan meminta nasihat dan konsultasi mereka bukannya pada muslim. Allah berkata:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” Al-Imran 3.118-120

Imam Ahmad dan Muslim melaporkan bahwa sang Nabi (pbuh) berangkat perang Badar dan seseorang diantara kaum Musrikin mengikut dan menyusulnya di al-Harrah. Dia berkata, “Aku ingin mengikutimu dan bergabung dengan mu, dan mendapat jarahan perang darimu.” Sang Nabi (pbuh) berkata: “Apa kau percaya pada Allah dan utusanNya?” Dia berkata, “Tidak.” Sang Nabi berkata, “Kembali, aku tidak butuh pertolongan dari orang kafir.”

Dari hadis diatas jelaslah bahwa kita dilarang menunjuk kafir utk posisi yang memungkinkan dia tahu rahasia2 muslim dan lalu berkomplot melawan muslim dengan maksud mencederai muslim.

Menempatkan mereka dalam posisi administratif dimana mereka menjadi boss dari para muslim dan bisa mempermalukan mereka, menjalankan urusan2 muslim dan mencegah mereka mempraktekan agama mereka. Allah berkata:

“dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” Al-Nisa 4.141

Imam Ahmad melaporkan bahwa Abu Musa al-Ashari berkata: “Aku berkata pada Umar. ‘Aku punya ahli tulis orang kristen.’ Dia berkata ‘Kau ini bagaimana, semoga Allah membunuhmu! Tidakkah kau dengan perkataan Allah, “janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman-teman (mu)” [al-Maaidah 5.51]? Kenapa tidak kau pekerjakan seorang Hanif (muslim) saja? Aku berakta, ‘O Amir al-Mumineen, aku mendapat keuntungan dari pekerjaannya dan dia tidak menyebarkan agamanya.’ Dia berkata, ‘Aku tidak akan pernah menghormati mereka ktika Allah mempermalukan mereka, dan aku tidak akan pernah mendekati mereka ketika Allah membuang mereka dari ampunanNya.’”

Juga, kita tidak boleh mempekerjakan mereka dirumah2 muslim dimana mereka bisa melihat urusan2 pribadi kita dan membesarkan anak kita menjadi kafir. Ini yang terjadi sekarang ini dimana para kafir dibawa kenegara muslim sebagai pekerja, supir, pelayan dan pengasuh anak dirumah2 keluarga muslim.

Kita juga jangan menyekolahkan anak kita disekolah kafir, institusi misionari dan universitas2 setan atau membuat mereka tinggal dirumah keluarga kafir.

Dilarang juga meniru cara berpakaian, penampilan dan bicara orang kafir dll, karena ini menunjukkan kecintaan pada orang yang ditiru. Sang Nabi berkata: “Siapa yang meniru sesuatu bangsa, ia adalah golongan mereka.”

Dilarang utk meniru kebiasaan kafir, tradisi atau urusan2 yang menyangkut penampilan dan kelakuan yang menggambarkan kafir. In itermasuk mencukur jenggot, menumbuhkan kumis dan berbicara bahasa mereka, kecuali ketika diperlukan sekali, juga dalam masalah baju, makanan dan minuman, dll.

Dilarang tinggal dinegara kafir ketika tidak ada perlunya. Allah melarang muslim lemah utk tinggal diantara orang kafir, jika mereka mampu pindah. Dia berkata:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),” al-Nisa 4.97-98

Tak seorangpun diijinkan tinggal dinegara kafir kecuali mereka yang sungguh2 lemah dan tertekan dan tidak dapat pindah, atau mereka yang tinggal disana utk tujuan agama yang sah seperti berdakwah dan menyebarkan islam dinegara tsb.

Dilarang tinggal diantara mereka jika tidak ada perlunya. Sang nabi berkata: “Aku tidak mengakui orang yang tinggal diantara kaum kafir.”

Dilarang bepergian kenegara2 kafir utk berlibur dan tujuan2 kenikmatan lain. Tapi bepergian utk alasan sah – seperti berobat, berdagang dan belajar keahlian tertentu yang tidak bisa didapatkan ditempat lain, diijinkan, jika memang diperlukan sangat, dan jika hal itu sudah terpenuh, wajib utk kembali ke dunia muslim.

Ijin ini juga diberikan dalam kondisi bahwa sang peziarah punya pengetahuan yang cukup utk tidak ragu akan agamanya, mengontrol hasrat fisiknya, mendemonstrasikan agamanya, berbangga jadi muslim, menjauh dari tempat2 maksiat, dan berhati-hati akan rencana2 jahat musuh2nya (kafir). Juga diijinkan, bahkan diwajibkan, utk bepergian kenegara kafir dengan tujuan dakwah dan menyebarkan islam.

Dilarang memuji mereka, peradaban dan budaya mereka, membela mereka dan mengagumi tingkah laku serta keahlian mereka tanpa menyebutkan agama rusak dan ideologi salah mereka. Allah berkata:

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” Taha 20.131

Juga dilarang menghormati mereka, memberi mereka gelar kehormatan, memulai menyalami mereka, memberi mereka kursi terbaik dalam perkumpulan2 dan memberi jalan pada mereka ketika bertemu dijalanan. Sang nabi berkata: “Jangan menjadi yang pertama menyalami orang yahudi atau kristen (jangan memulai salam), dan jika bertemu dengan mereka dijalan, dorong mereka ketempat tersempit dari jalan tersebut.”

Mengabaikan kalender islam dan memakai kalender mereka, khususnya ketika itu melambangkan ritual dan hari besar mereka, dalam hal ini kalendar Gregorian, yang berhubungan dengan hari kelahiran sang Messias, yang menjadi bidah yang mereka karang dan tidak ada hubungannya dengan agama Isa (Yesus). Memakai kalendar ini sama saja dengan menyetujui perayaan2 dan simbol2 mereka.

Untuk menghindar dari semua itu, ketika para Sahabat membuat kalendar muslim dijaman Umar, mereka mengabaikan sama sekali sistem orang kafir dan membuat sebuah kalendar baru mulai dari Hijrahnya sang Nabi. Ini menandakan sebuah kewajiban yang berbeda dari kafir dan membedakan ciri-ciri mereka. Dan Allah adalah sumber pertolongan.

Mengambil bagian dalam hari besar dan perayaan mereka, menolong mereka merayakannya, menyalami mereka dalam perayaan ini atau ikut ambil bagian dalam perayaan tsb. Kata al-Zoor dalam ayat:

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu” al-Furqaan 25.72

Artinya adalah perayaan hari besar orang kafir.

Memakai nama2 mereka yang punya arti jelek. Sang Nabi mengubah nama2 yang artinya termasuk sirik, seperti Abd al-Uzza dan Abd al-Ka’bah.

Mencari ampunan utk mereka dan meminta ampunan Allah bagi mereka. Allah berkata:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” Al-Tawbah 9.113

Contoh2 ini bisa memberi gambaran jelas apa artinya LARANGAN BERTEMAN DENGAN KAFIR. Kami meminta Allah utk menjaga agama kita agar tetap kuat dalam iman. Dan Allah adalah sumber pertolongan

Islam Q&A
Sheikh Muhammed Salih Al-Munajjid
User avatar
pod-rock
Translator
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Re: Cara Islam menghormati Hari Besar Agama Lain

Postby cowards » Mon Apr 06, 2009 12:44 pm

Hebat banget euy bahasa Inggrisnya, tapi sayang... aku kurang begitu percaya dengan Isinya. Hehehe..
cowards
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 29
Joined: Mon Apr 06, 2009 12:29 pm

Postby ali5196 » Sat Apr 25, 2009 7:18 pm

Silahkan baca buku 'ANDA BERTANYA, SABILI MENJAWAB.' Bhs Indonesia tuh !

Hukum Mengucapkan Selamat Natal
viewtopic.php?f=121&t=9566
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Sat Jan 23, 2010 1:44 am

rumaysho-com-t36772/


Kesembilan: Wajib membalas salam apabila diberi salam oleh orang kafir. Namun balasannya adalah wa ‘alaikum.[7] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

“Jika salah seorang dari Ahlul Kitab mengucapkan salam pada kalian, maka balaslah: Wa ‘alaikum.”[8]

Akan tetapi, kita dilarang memulai mengucapkan salam lebih dulu pada mereka. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dalam ucapan salam.”[9]


[7] Namun sebagian ulama menjelaskan bahwa jika ahlul kitab mengucapkan salamnya itu tegas “Assalamu’’alaikum”, maka jawabannya adalah tetap semisal dengannya yaitu: “Wa’alaikumus salam.” Alasannya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86). Sebagaimana hal ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.

[8] HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163, dari Anas bin Malik.
[9] HR. Tirmidzi no. 1602 dan Ahmad (2/266). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Sat Jan 23, 2010 1:47 am

rumaysho-com-t36772/


Kesembilan: Wajib membalas salam apabila diberi salam oleh orang kafir. Namun balasannya adalah wa ‘alaikum.[7] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

“Jika salah seorang dari Ahlul Kitab mengucapkan salam pada kalian, maka balaslah: Wa ‘alaikum.”[8]

Akan tetapi, kita dilarang memulai mengucapkan salam lebih dulu pada mereka. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dalam ucapan salam.”[9]


[7] Namun sebagian ulama menjelaskan bahwa jika ahlul kitab mengucapkan salamnya itu tegas “Assalamu’’alaikum”, maka jawabannya adalah tetap semisal dengannya yaitu: “Wa’alaikumus salam.” Alasannya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86). Sebagaimana hal ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.

[8] HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163, dari Anas bin Malik.
[9] HR. Tirmidzi no. 1602 dan Ahmad (2/266). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Re:

Postby Phao » Sun Apr 11, 2010 11:11 am

http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/6388/haram-merayakan-natal-tahun-baru

Haram Merayakan Natal & Tahun Baru

Allah swt. telah memuliaakan umat ini dengan Islam, dan memerintahkan-nya untuk mengimplementasikan-nya. Dia telah menurunkan Islam sebagai cara hidup yang unik. Sebuah pola yang berbeda dalam masalah konsepnya dan peraturan-peraturannya, sebagai sesuatu yang sempurna dan sistem menyeluruh yang mengatur semua urusan kehidupan. Allah swt. berfirman:


"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." (QS Ali Imran 3 : 110)

Namun, sejak Islam diabaikan dari kehidupan sehari-hari sebagai sebuah sistem peraturan, umat telah melaksanakan hal-hal yang buruk dan semakin bertambah buruk; aturan orang-orang kafir telah diimplementasikan atas umat ini dan konsep-konsep kufur telah mendominasi mereka. Invasi barat dengan budaya busuk dan hina dina itu telah berhasil merusak dien Islam, moral umat dan menjadikannya tak bernilai. Slogan barat telah di adopsi oleh kaum Muslimin melalui perayaan-perayaan dan festival-festival barat. Budaya rusak barat ini telah dibantu oleh para penguasa yang mengabdikan dirinya untuk memisahkan Islam dari kehidupan dan melakukan perang pemikiran dan menanamkan konsep-konsep buruknya, kemudian memaksa umat untuk masuk pada apa yang barat selalu inginkan, yakni menjadi individu yang sekuler.

Salah satu dari banyak konsep budaya yang dipaksakan oleh barat atas kaum Muslimin adalah perayaan natal dan tahun baru. Kita memohon pada Allah swt. agar tidak membiarkan diri kita melihat suatu hari dimana kaum Muslimin merayakan hari jadi orang-orang Yahudi (hari raya Yahudi) dan juga melakukan perayaan Natal.

Ini sungguh menyedihkan dan ironis sekali untuk menyaksikan dengan mata sendiri kejadian dan mendengar berita tentang pembunuhan masal, pengusiran dan penghinaan terhadap kaum Muslimin di tangan barat pada hari Natal, musuh-musuh Islam di seluruh penjuru dunia, sambil sebagian kaum Muslimin di negeri ini diundang oleh orang-orang Amerika dan orang Kristen lain-nya masuk ke dalam rumah mereka untuk merayakan natal dan tahun baru. Tentu saja, ini seharusnya tidak terjadi sebagai sebuah goncangan kepada kita sejak umat ini kehilangan pelindungnya yang menjalankan urusannya dengan Islam, melindunginya dari serangan konsep-konsep kufur dan menjalankan peraturan-peraturang diennya, memeliharanya sebagai sebuah perintah Allah swt., sebuah umat yang khas.

Wahai kaum Muslimin! Itu (Perayaan atau mengucapkan natal & tahun baru) adalah sesuatu yang dilarang oleh syariah untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dan untuk mencontoh mereka dalam masalah dien (agama). Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahih-nya melalui Abu Sa'id Al Khudri r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda :

"kamu akan mengikuti cara-cara dari orang-orang yang sebelum kamu sehasta demi sehasta dan selangkah demi selangkah, walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka". Kami berkata: "Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksud (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?" beliau menjawab: "Siapa lagi?"

Dalam Hadits ini Rasulullah mengejek orang-orang yang meniru orang-orang kafir, dan itu adalah sebuah hujjah (dalil/alasan syar'i) bahwa itu (merayakan natal dan tahun baru) adalah haram (tertolak), baik untuk mengikuti mereka dalam perayaan natal dan seremonial-seremonial lainnya mereka. Itu juga jelas bahwa perayaan seremonial orang-orang kafir dan perayaan ulang tahun mereka berarti meniru mereka dan Islam telah menolaknya. Rasulullah saw. telah memberi peringatan kepada kita untuk menolaknya. At-Tirmidzi meriwayatkan melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:

" Bukan seseorang dari kita (kaum muslimin) yang meniru suatu kaum, jangan meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani."

At-Tabrani meriwayatkan melalui Ibnu Umar dan Hudaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Siapa yang mengikuti suatu kaum akan menjadi salah satu dari mereka."

Itu juga merupakan bagian dari teks syariah bahwa itu adalah tertolak bagi seorang Muslim yang telah mempunyai hari raya nya sendiri yaitu I'edul Fitri dan I'dul Adha. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam 'Sunan'-nya dari Anas Bin Malik yang berkata :

" Rasulullah saw. datang ke Madinah pada saat orang-orang Madinah mempunyai dua hari pada masa jahiliah (sebelum Islam) yang mereka rayakan, maka beliau saw. berkata: "Aku datang kepadamu pada saat kamu mempunyai 2 hari dari masa jahiliah yang kamu rayakan, dan Allah swt. telah menggantikannya 2 hari ini dengan dua hari yang lebih baik: hari raya Kurban dan hari Fitri."

Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Uqbah Ibnu Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Dan kami mempunyai hari Fitri, hari Kurban dan hari Tasyriq adalah hari besar kami orang-orang Muslim."

Teks-teks ini disajikan sebagi hujjah yang jelas bahwa itu tertolak bagi kaum Muslimin untuk mempunyai perayaan selain dari pada apa yang telah Allah swt. putuskan. Mereka (kaum muslimin) selanjutnya tertolak untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dari perayaan seperti upacara mereka, adalah sesuatu yang tertolak seperti menghadiri perayaan mereka, walau pun mereka mengundang. Seperti cara upacara akan menghantar kepada kerusakan dan pemutusan mereka akan menjadi sebuah kesempatan bagi setiap orang-orang fasiq untuk melakukan perbuatan yang berdosa, seperti mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang. Media masa yang ada cenderung pada peristiwa ini untuk menayangkan program-program yang mempunyai selera yang buruk dan semua jenis ketidaksopanan dan kerusakan. Mereka mencemari pemikiran orang-orang dan mengikis segala jenis moral yang baik, martabat, dan kesucian mereka.

Wahai kaum Muslimin! Umat akan terus-menerus tertekan di bawah konsep orang-orang kafir dan akan terus terdominasi. Mental kaum Muslimin akan terus tebentuk sesuai dengan sudut pandang orang-orang barat, kecuali kita mulai membuang semua pemahaman barat yang ada pada diri kita dan berjuang untuk menegakkan Khilafah Rasyidah, yang akan mengimplementasikan kitab Allah swt. dan sunnah Rasul-Nya saw., dan akan menumbangkan ketidakadilan, penguasa tiran dan kerusakan yang tampak atas kaum Muslimin, yang kemudian sebagai hasilnya orang-orang kafir akan kehilangan kekuatan dan identitas mereka.

Selanjutnya, itu adalah untuk khilafah bahwa kita menyeru kepada mu (kaum muslimin) untuk memperjuangkannya, wahai kaum Muslimin! Rasulullah saw. bersabda:

"Imam (pemimpin) itu adalah pelindung dimana orang-orang berperang dan terlindung dengannya." (Shahih Bukhari)

Source : Almuhajirun.net

==================
inilah bukti agama damai.. :stun: :stun: :stun: :stun: :stun:
Phao
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 456
Joined: Sun Jul 05, 2009 7:15 pm
Location: 'Atapiluloh Al Ajib' city - Arab Saudi

Re: Cara Islam menghormati Hari Besar Agama Lain

Postby SexPuji » Mon May 17, 2010 9:20 pm

aditya christ wrote:klo santa klaus tuh kakeknya jesus y??? lo pada ngerayain natal krn lo pada seneng klo lo bakal msk neraka soalnya dosa2 lo semua ditanggung ma JESUS!! kasihan bgt dia :stun: :stun: :stun: :stun:


OOT ABISSSS!!!! sama aja 10x10= Cepek dehhhhh
wkwkwkwk, bales pake dalil dong say,kl ga bs jgn nulis,mending kaya saya jd pembaca aja
SexPuji
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 292
Joined: Sun Mar 08, 2009 4:00 pm
Location: Masjidil Aq-So/Bait Ellohim

Re: Cara Islam menghormati Hari Besar Agama Lain

Postby halah » Thu Aug 12, 2010 6:46 pm

klo gw sih seneng malah mereka klo gak boleh ngikutin hari raya dan makan kue natal

soalnya klo mereka dantang ke rumah malah bikin sakit hati

di ajak salaman aja malas
halah
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 8
Joined: Thu Aug 12, 2010 6:34 pm

Postby ali5196 » Mon Dec 20, 2010 6:24 am

ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Mon Dec 20, 2010 6:34 am

hukum-menyambut-dan-merayakan-hari-raya-non-muslim-t4691/

Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti : iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis;memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan, ataupun(yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka--[-Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy[Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1]
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Re: Cara Islam menghormati Hari Besar Agama Lain

Postby Si Amang Miyang » Thu Feb 03, 2011 12:00 pm

krn Eslam,,hlng dah ramah tamah bangsa ini yg sdh trn temurun dr nenek moyang kt... :shock:
User avatar
Si Amang Miyang
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 533
Joined: Thu Dec 16, 2010 9:54 am
Location: sebuah toilet yg bernama ka'bah


Return to Resource Centre MUSLIM & KAFIR



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users

cron