Tell A Friend

Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Moderator: Forum Watch

Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Sat Nov 07, 2009 4:40 am

Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad
Oleh Dr. A.A. Ahmed

Image

Mengenang Almarhum Ibu Mathai


Daftar Isi

1. Asal Usul Islam
2. Nabi Muhammad
3. Peperangan di Jaman Awal Islam
4. Kalifah Abu Bakr Al-Sidiq
5. Kalifah Umar Ibn Al-Khattab
6. Kalifah Uthman Ibn ‘Affan
7. Nasikh dan Mansukh
8. Sayyid Al-Qimni
9. Ajaran Muhammad tentang Wanita
10. Ajaran Muhammad tentang Nikah
11. Muhammad Sang Poligamis
12. Skandal² Pernikahan Muhammad
13. Muhammad SangPerampok
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Sat Nov 07, 2009 4:55 am

Pendahuluan

Sangat jarang ditemukan buku di sekolah² atau perpustakaan umum yang membicarakan sejarah Muhammad. Kebanyakan buku² Islam saat ini hanya membicarakan tentang agama Muhammad, sang pendiri Islam. Di buku ini aku menjelaskan tentang sejarah Muhammad – kehidupannya, peperangannya, dan ajaran²nya. Sumber keterangaku berasal dari “Ibu dari Segala Sumber Literatur Islam,” [1] juga tulisan² para pemikir Mesir Muslim liberal yakni Sayyid Mahamoud Al-Qimmi, dan tulisan² dari beberapa penulis Muslim dan non-Muslim modern. Keterangan “Ibu dari Segala Sumber Literatur Islam” dikenal dalam istilah Arab sebagai “Al-Maskut Anho” yang berarti keterangan yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh Muslim dan kafir.

Image
Sayyid Mahamoud al-Qimmi

Image
Faraj Foda (sebelah kanan)

Image
Nasr Hamid Abu Zayd

Sangat sedikit ulama atau ahli Islam dari Universitas Al-Azhar Al-Sharif yang membaca keterangan² ini dan mereka bahkan tidak membicarakannya satu sama yang lain. Akan tetapi, para penulis Muslim Mesir modern seperti Sayyid Mahamoud al-Qimmi, Faraj Foda, dan Nasr Hamid Abu Zayd membahayakan diri mereka sendiri dengan membuka buku² ini dan menyatakan pada umum keterangan tentang Muhammad yang tak pernah mereka dengar sebelumnya. Karena alasan inilah maka Faraj Foda ditembak mati di depan kantornya di Kairo, Nasr Hamid Abu Zayd melarikan diri meninggalkan Mesir untuk menghindari hukuman mati, dan Sayyid Mahmoud al-Qimmi dipaksa mengganti tulisan²nya. Sayangnya, sebelum dunia luar dapat membaca tulisan² mereka, para penulis ini dibungkam melalui pembunuhan, teror, dan ancaman mati, dan tulisan² mereka dilarang diedarkan di dunia Muslim. Selain itu, buku² mereka juga tidak pernah diterjemahkan dalam bahasa Inggri atau bahasa Barat lainnya.

Dalam buku ini aku mengungkapkan pada para pembaca salah satu sumbangan terpenting dari Dr. Sayyid Mahmoud al-Qimmi. Meskipun telah banyak buku yang ditulis mengenai kehidupan dan ajaran² Nabi Muhammad, bukuku tetap unik karena menyatakan hal² yang belum pernah kau dengar sebelumnya dan kau pun tidak menemukannya di buku² biografi Nabi lainnya. Tidak peduli apapun latar belakang agamamu, buku ini akan mengubah pendanganmu tentang Islam dan kau nantinya akan mengerti permasalahan Islam yang dihadapi dunia saat ini.

Penulis: Dr. A.A. Ahmed
21 Oktober, 2005


Tentang Pengarang

Dr. A. A. Ahmed lahir di Sudan dan meraih gelar Ph.D di bidang Filosofi dari Universitas Bombay, India. Dia punya lima gelar akademis - Sarjana S1 bidang Komunikasi, Master (S2) dan Ph.D (S3) di bidang Filosofi dari India, dan Sarjana S1 dan Sarjana S2 di bidang Penelaahan Filosofi dan Agama dari Canada. Dia adalah peneliti masalah Muslimah dalam dunia Islam, dan telah meninggalkan Islam.

Buku "Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad" merupakan bukunya yang kesembilan dan inilah daftar buku² yang diterbitkannya:
1. Intisar: Kisah Muslimah Cilik
2. Insaaf: Kisah Gadis Arab
3. Ikhlas: Kisah Budak Perempuan Cilik Sudan
4. Ibtisam: Kisah Tiga Guru Muslimah
5. Ikram: Kisah Gadis Pelacur
6. Ijilal: Kisah Ibu dan Anak² Perempuannya
7. Inshirah: Kisah Gadis Tertindas
8. Ina'am: Kisah Gadis Tak Berdosa
9. Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Dr. Ahmed punya pemahaman dan pengalaman menyeluruh akan Islam karena dia melihat sendiri realitas keadaan dan penyebabnya. Gaya tulisannya mendobrak segala perbedaan sosial, agama, dan budaya.

[1] Berikut adalah daftar buku² “Ibu dari Segala Sumber Literatur Islam“:
1- Qur’an.
2- Hadis Sahih Al-Bukhari
3- Hadis Sahih Muslim
4- Hadis Sunan Abu Dawud
5- Hadis Sunan Al-Tirmizi
6- Ibn al-Atheer, 1965. Al-Kamil fi Al-Tarikh. Dar Sadir, Beirut, Lebanon.
7- Al-Asfani. Al-Agani. Dar al-Kotob al-Musria, Cairo, Mesir.
8- Al-Awsi. Ruh al-M’aani, 12/353.
9- Al-Bihaqi, 1988. Dalail al-Nobwa, diedit oleh Abd al-Mu’ati Qaligi, Dar al-Kotob al-‘Alimia, Beirut, Lebanon.
10- Ibn Timiah. Iqitida al-Sirat al-Mustaqim, Dar al-Mu’arifa, Beirut, Lebanon.
11- Tha’alab, 1964. Shireh Diwan Zuhir, Al-Dar al-Qumia liltiba’at wa al-Nashir, Cairo, Mesir.
12- Al-Nisaboori, al-Tha’alabi. Qisas al-Anbia al-Musama ‘Arais al-Mugalis, al-Muktabah al-Thaqafi a, Beirut, Lebanon.
13- Ibn al-Gawzi. Talbos Iblis, diperbaiki oleh Muhammad Manir al-Dimishaqi, Al-Mutab’ah al-Munira.
14- Ibn al-Gawzi, Jamal al-Deen, 1985. Nawasikh al-Qur’an, Dar al-Kotob al-‘Alimia, Beirut, Lebanon.
15- Ibn Habib, 1964. Al-Munamaq fi Akhabar Qurish, diedit oleh Khorshid Ahmed Faroq, Daeirat al-Mu’aarif al-Uthmania, Hidar Abad, India.
16- Al-Halabi. Al-Sira al-Halabia fi Sirat al-Amin al-Amoon Insaan al-‘Uioon, Dar al-Mu’arifa, Beirut, Lebanon.
17- Ibn Hanabal, 1978. Kitab al-Zuhud, Dar al-Kotob al-‘Alimiah, Beirut, Lebanon.
18- Ibn Khaldun. Al-Muqadimah, Dar al-Sha’ab, Cairo, Mesir.
19- Ibn al-Khiat, Khalifa, 1967. Al-Tabaqaat, diedit oleh Akaram
al-‘Amari, Mutbaat al-Mu’ani, Bagadad, Iraq.
20- Dalo, Burahan al-Deen, 1985. Musahama fi I’adat Kitabat al-Tarikh al-‘Arabi al-Islami, Al-Farabi, Beirut, Lebanon.
21- Al-Dinoori, 1960. Al-Akhbaar al-Tiwal, diedit oleh Abd Al-Mu’anim ‘Amir, Wazarat al-Thaqafa wa al-Irishad al-Quami, Cairo, Mesir.
22- Al-Zabadi, 1306 H.65 Tag al-‘Aroos, Cairo, Mesir.
23- Ibn Sa’ad. Al-Tabaqaat al-Kubrah, Dar al-Tahiri li al-Tiba’ah lil al-Nishir, Cairo, Mesir.
24- Ibn Sa’ad, 1933. Al-Tabaqaat al-Kabeer, dicetak di London.
25- Al-Sohili, 1978. Al-Rwad al-Anif fi Tafi seer al-Sira al-Nabawia Libni Husham, Dar Al-Mu’arifa, Beirut, Lebanon.
26- Ibn Said al-Nas, 1980. ‘Uyun al-Athar fi Finoon al-Mugazi wa al-Shamail wa al-Sira, diedit oleh lignaat Ihia al-Turath al-‘Arabi, Dar al-Afaq al-Gidida, Beirut, Lebanon.
27- Al-Shahristani, 1961. Al-Milal wa Al-Nahl, dicetak oleh al-Babi al-Halabi, diedit oleh Muhammad Said Kilani, Cairo 961 and al-Mutab’a al-Azharia, Cairo 1951, Mesir.
28- Al-Shibani, 1972. Al-Ikitisaab fi al-Riziq al-Mustatab, disarikan oleh Muhammad Bin Samah, diedit oleh Muhammad ‘Arnoos, Mutabat al-Anwar, Cairo, Mesir.
29- Al-Shiban, 1972. Shireh Kitab al-Siar al-Kabeer, diedit oleh Salahal-Deen al-Mugid, Mu’ahad al-Mukhtootat bi Jamiyat al-Dwal al-‘Arabia, Cairo, Mesir.
30- Al-Tabari. Tarikh al-Rusul wa al-Mulook, edited by Muhammad Abu al-Fadol, Dar al-Mu’arif, Cairo, Mesir.
31- Al-‘Asaqalani, 1323 H. Al-Isabah fi Tamiz al-Sahabah, Mutab’at al-Sa’adah, Cairo, Mesir.
32- Ibn Qitibah, 1969. Al-Shi’ar wa Al-Shu’arah, Dar al-Thaqafa, Beirut, Lebanon.
33- Ibn Qitibah-, 1986. ‘Aiuoon al-Akhbar, al-Kotob al-‘Almia, Beirut, Lebanon.
34- Al-Qizwani, Ahmed. Fagi’at al-Taf, Mutabat al-Ahram, Kirbila, Iraq.
35- Ibn Kathir, 1988. Al-Bidaiah wa al-Nihiah, Dar al-Kotob al-‘Alimiah, Beirut, Lebanon.
36- Al-Kilabi, 1924. Al-Asnaam, Dar al-Kotob al-Musirish, Cairo, Mesir.
37- Al-Maroodi, 1978. Al-Ahakam al-Sultania wa al-Wiliat al-Diniah, Dar al-Kotob al-‘Alimiah, Beirut, Lebanon.
38- Al-Maqadisi, 1916. Al-Bid wa al-Tarikh, Muktabat al-Muthni, Bagadad, Iraq.
39- Al-Nahas, Abu Ja’afar, 1986. Al-Nasikh wa al-Munsukh fi al-Qur’an al-Kareem, diedit oleh Dr. Sha’aban Muhammad Ism’ail, Muktabat “Alam al-Fikir, Cairo, Mesir.
40- Ibn Hisham, 1974. Al-Sirah al-Nabawia, diedit oleh Taha Abd Al-R’uf and Muhammad Mahi, Shirikat al-Tiba’ah al-Faniah al-Mutahidah, Cairo, Mesir.
41- Al-Hamadani, 1931. Al-Aklil, Bagadad, Iraq.
42- Al-Waqidi, 1966. Kitab al-Mugazi, diedit oleh Marisidan Joniz, Minshurat Jamiyat Iksaford, London.
43- Al-Yaqubi, 1974. Al-Tarikh, al-Muktabah al-Hidiriah, al-Najaf, Iraq. Abu Yusif, 1979. Al-Khiraj, Dar al-Mu’arifa, Beirut, Lebanon.


Kesaksian Murtad Dr. A.A. Ahmed

Aku meninggalkan Islam karena saudara perempuanku. Dia menolak dimadu oleh suaminya. Hal ini membuka mataku lebar². Faktor lain yang membuatku benci Islam adalah penindasan akan wanita dan pembunuhan orang² tak berdosa di Sudan Selatan dalam nama Jihad.
Aku telah menulis sebuah buku yang menunjukkan kekejaman Islam terhadap wanita, Judulnya adalah Intisar: A Story of a Muslim Girl (bisa dibeli di Amazon.com)
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Sat Nov 07, 2009 5:02 am

Bab I – Asal Usul Islam

Dalam bukunya yang berjudul Al-Hizb Al-Hashmi Wa Tasis Al-Dawla Al-Islamya (Kelompok Hasmit dan Dasar Negara Islam), Sayydi Mahamoud al-Qimmi [3] menelusuri asal-usul agama Islam dari tokoh bernama Abd Al-Mutalab, kakek Nabi Muhammad. “Jika Tuhan ingin mendirikan sebuah negara, maka Dia akan menciptakan orang² seperti ini,” kata Abd Al-Mutalab sambil menunjuk putra²nya (al-Qimmi 1996: 51). Menurut al-Qimmi, gagasan mendirikan negara dan agama Islam berasal dari kakek Nabi Muhammad. Abd Al-Mutalab mengerti bahwa suku² Arab tak mungkin bersatu di bawah satu kerajaan karena tiadanya unsur pemersatu suku² tersebut. Dalam sebuah kerajaan, suku yang berkuasa akan mendominasi suku² lain dan hal ini tentunya tak dapat diterima suku² yang tak berkuasa. Karena itulah, satu²nya cara menyatukan suku² Arab adalah dengan menciptakan Raja-Nabi yang berkuasa atas mereka semua. Kesatuan seperti ini tidak dapat ditolak karena dianggap sebagai perintah Illahi. Tatkala Abd Al-Mutalab mengerti permasalahannya, dia meminjam contoh kisah Raja-Nabi Yahudi yakni Raja Daud dan anaknya yakni Raja Salomo. Setelah itu, dia menciptakan agamanya sendiri yakni Al-Hanafiya [4], yang dia telusuri asalnya dari kakek moyang masyarakat Arab yakni Ibrahim atau Abraham.
[3] Sayyid Mahmoud al-Qimni is a “penulis progresif dan dosen Universitas Cairo di bidang Sosiologi Agama.” Dia memegang gelar akademis Ph.D. dari Universitas Al-Azhar Al-Sharif, Cairo, Mesir.
[4] Al-Hanafiya adalah agama monotheis di jaman pra-Islam. Islam dianggap sebagai lanjutan dari agama itu.


Dalam menyelidiki asal-usul Negara Islam, al-Qimni juga menyelidiki tentang kakek buyut Muhammad, yakni Qusay Ibn Kilab. Di jaman pra-Islam, banyak suku² Arab yang bertikai untuk memiliki kontrol atas kota penting Mekah. Suku Ibn Najjar mengambil alih Mekah dari suku Guraban, dan lalu suku Madar mengalahkan Ibn Najjar dan mengambil alih kekuasaan Mekah. Dari Madar, kontrol kota Mekah diteruskan ke suku dari Yemen yakni Khazah. Dan akhirnya suku Quraish, di bawah pimpinan Qusay Ibn Kilab, menguasai Mekah. Melalui “tipu muslihat, Qusay Ibn Kilab membawa kunci² al-Ka’bah [5] dari Gebshan al-Khousa’I, melalui pertukaran dengan sebotol minuman anggur” (al-Qimni 1996:115). [6] Tatkala dia menguasai kota Mekah dan Ka’bah, Qusay mendirikan Dar Al-Nadwa atau “Rumah Bersama” (ibid: 82, mengutip dari Ibn Kathir, al Bedya wa al-Nihaia, hal. 192). Di bawah kekuasaan Qusay, Mekah jadi negara kecil dan Dar al-Nadwa menjadi tempat demokrasi bagi suku² Baduy Arab. Menurut Ibn Kathir, Qusay menjadi raja dan seluruh suku² Arab tunduk padanya (ibid).
[5] Bangunan keramat kuno di Mekah, yang disebut sebagai Rumah Allâh dalam Islam.
[6] Aku akan mencantumkan sumber yang digunakan oleh al-Qimni.



Bangunan² Ka’bah

Di masa itu, Mekah bukanlah satu²nya kota Arab yang memiliki ka’bah. Terdapat ka’bah di Najran, ka’bah di Shadad al-Aiadi, dan ka’bah di Qatafan (ibid:65). Setiap ka’bah didirikan sebagai rumah bagi tokoh pemimpin besar suku, yang dijuluki sebagai Rabb atau “tuan”, atau rumah bagi batu suci. Batu² gunung berapi dan batu² meteor merupakan benda² yang disembah oleh masyarakat Arab Baduy. Mereka menganggap kedua jenis batu tersebut keramat karena batu berapi datang dari dalam bumi dan batu meteor datang dari dinding² rumah Tuhan di surga. Richard Burton, bintang film terkenal AS, dulu pura² jadi Muslim dan mengunjungi Mekah, sambil mengambil sedikit bagian dari Batu Hitam (Hajar Aswad) dan lalu meneliti jenis batu tersebut. Penelitian membuktikan bahwa Batu Hitam merupakan serpihak dan batu meteor (ibid: 25). Terdapat berbagai versi dongeng² Islamiah tentang asal-usul Batu Hitam. Sebuah dongeng menyatakan bahwa Adam diusir keluar dari surga dan dia membawa Batu Hitam ini dari surga dan turun ke bumi. Batu itu dulu sangat cemerlang dan putih tapi menjadi hitam karena menyedot semua dosa orang² yang menciumnya setiap tahun di ibadah Haji. Dongeng lain mengatakan Batu Hitam ini milik Abraham dan putranya Ishmael. Dikatakan bahwa Abraham dan putranya menggunakan Batu Hitam ini sebagai tangga untuk membangun Ka’bah.

bersambung ...
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby I Want You » Sat Nov 07, 2009 10:56 am

asyik ada buku baru lagi ! mantab ! =D> =D> =D>
User avatar
I Want You
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1035
Joined: Thu May 07, 2009 2:20 pm

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Sat Nov 07, 2009 2:37 pm

Tahun Gajah

Sebuah kejadian penting terjadi di tahun 569 atau 570 M, yang dikenal oleh masyarakat Arab sebagai Tahun Gajah, yang menambah pentingnya bangunan Ka’bah di Mekkah (ibid: 76, al Suhaili mengutip dari Ibn Hisyam, di bukunya al-Rawd, hal. 77). Pemimpin Ethiopia yang bernama Abraha berusaha untuk menghancurkan Ka’bah, tapi tidak berhasil. Legenda Islam mengatakan bahwa burung² dari surga yang disebut sebagai “Tair al-Aba’abil” menjatuhkan batu² pada tentara² penyerang. Akan tetapi, penulis Ethiopia bernama Abbas Mahmoud al-Agaad yakin bahwa tentara Abraha terserang penyakit cacar (ibid: 76, mengutip dari Al-Agaad, T’awal’ai al-Bi’atha al-Muhammadia, hal. 145-146). Al-Agaad mengambil kesimpulan ini dari catatan² sejarah Byzantium yang ditulis oleh ahli sejarah bernama Procope, yang mengunjungi Mekah di Tahun Gajah. Mundurnya pasukan Abraha membuat masyarakat Mekah yakin bahwa tuhan suku Quraish telah menang berperang bagi mereka.

Ketika Qusay Ibn Kilab meninggal, dia meninggalkan warisan Ka’bah dan pemimpinan Mekah pada putra pertamanya adalah Abd Al-Dar. Akan tetapi, putra keduanya yakni Abd Manaf menginginkan kedudukan abangnya dan mencoba merebut kekuasaan dengan kekerasan. Al-Qimni menganggap penulis² sejarah dan penafsir Islam tidak adil karena berpihak pada Abd Manaf dan bukannya berpihak pada Abd Al-Dar (ibid:89). Putra² Abd Manaf yakni Hasyim, Abd Shams, Abd Mutalab, dan Nawfal, semuanya ingin berperang melawan putra² Abd Al-Dar. Akan tetapi, putra² Abd Al-Dar mengambil keputusan untuk menghormati ayah mereka dengan menghindari pertumpahan darah dan perpecahan sehingga mereka menyerahkan kekuasaan pada saudara² misannya. Al-Qimni menjelaskan perbuatan putra² Abd Manaf sebagai berikut: “Dan kepemimpinan yang diambil alih melalui kekerasan dari rumah Abd Al-Dar, akhirnya jatuh ke tangan Hasyim, putra Abd Manaf.” (ibid: 90, mengutip al-Tabari, al-Tarikh, hal. 123). Tak lama setelah Abd Shams wafat, putranya yakni Umayyah mencoba mengambil alih kekuasaan dari pamannya Hasyim dengan kekerasan. Suku Quraish sekali lagi mencegah peperangan dengan cara meminta keputusan adil dari seorang imam Khazai. Imam ini menetapkan bahwa Umayyah harus diasingkan secara sukarela selama 10 tahun. Cucu Umayyah yang bernama Mu’awiyya nantinya mencoba merebut kekuasaan yang dirampas dari kakek buyutnya, dan dia lalu mendirikan kekalifahan Umayyah dan membunuh habis keturunan Hasyim sampai tiada yang tersisa lagi (ibid).


Keturunan Putra² Qusay Ibn Kilab

…………………….Qusay Ibn Kilab…………………….

Abd al-Dar ……………………………………Abd Manaf
…………………………………..Hashim/ Abd Shams/ Al-Mutalab/ Nawfal
………………………………..Abd al-Mutalab/ ………..Umayyah/
………………………………………………………………………Abu Sufyan Ibn Hareb
………………………………………………………………………Mu’awiyya
………………………………………………………………………(Kekalifaham Umayyah)



Keturunan Putra² Abd al-Mutalab

…………………….Abd al-Mutalab…………………….

Abd al-‘Aizi [8] / Abd Allah/ Talib/ Abbas/ Hamzah
Nabi Muhammad/ ‘Ali (Shi’a)/ (Kekalifahan Abbasid)
[8] Muhammad memberinya nama ejekan Abu Lahab dalam Qur'an, Sura al-Masad (111), ayat 1.

Abd Al-Mutalab
Setelah kematian Hasyim, kepemimpinan Mekah dan Ka’bah diwariskan pada Abd Al-Mutalab (ibid: 98). Tak lama setelah dia menjadi pemimpin, Abd Al-Mutalab mulai “meletakkan fondasi agama baru di mana semua hati harus disatukan bagi satu Tuhan” (ibid: 99). Dia memerintahkan penghapusan berhala². Tuhan tidak akan menerima ibadah seseorang kecuali melalui perbuatan² baiknya. Tuhan yang dimaksudnya adalah Tuhan Ibrahim atau Abraham, bapak segala suku² Arab dan Yahudi. Abd Al-Mutalab mendapat penglihatan ketika dia sedang tidur di halaman Ka’bah bahwa Tuhannya Ibrahim telah memerintahkannya untuk menggali sumur Zamzam [9] (ibid: 100, mengutip dari Ibn Hisyam, al Sira, hal. 136, 139). Dia lalu melarang semua penyembahan dan ibadah pada berhala² dan meminta masyarakat Mekah kembali pada agama Ibrahim, yang disebutnya sebagai agama Hanafiya. Ketika bulan Ramadhan tiba, dia akan pergi ke gua Hirah [10] untuk bertapa di sana. Abd Mutalab mulai mengajak masyarakat Mekah untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan karena dia percaya akan kebangkitan jiwa² orang mati dan penghakiman di hari kiamat. Sebenarnya Abd Al-Mutalab bukanlah pendiri pertama agama Hanafiya. Menurut al-Qimni, beberapa orang dari Yemen mendirikan agama ini di abad pertama Masehi sebelum kelahiran Yesus (ibid:111, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mufasal, hal. 59, dan Thuria Manquosh, al-Tawhid, hal. 159). Abd Al-Mutalab tidak tahu asal-usul agama Hanafiya dan karenanya dia memilih saja nabi Yahudi yakni Ibrahim (ibid, mengutip dari al-Fakhr al-Razi). Masyarakat Yemen sudah terbiasa menyembah satu tuhan yang mereka sebut sebagai Al-Rahman (ibid, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mufasal, hal. 59).
[9] Sumur suci di Mekah
[10] Nabi Muhammad mengaku bahwa malaikat Jibril datang padanya untuk pertama kali di gua ini dan menyampaikan ayat pertama Qur'an. Di jaman pra-Islam, gua ini dikenal sebagai "Khar Khirah", yang merupakan julukan tempat masyarakat Mekah buang hajat. Di jaman itu masyarakat Arab tidak punya WC di dalam tenda mereka.


Banyak orang yang lalu menerima agama Abd Al-Mutalab dan beberapa dari mereka juga mengembangkannya. Pengikut² agama Hanafi [11] yang paling utama adalah:

Qas Ibn Sa’ad al-Ia’adi
Dia mengajak orang² untuk mengikuti “Satu Tuhan, yang tidak melahirkan dan dilahirkan, dan padaNyalah segala sesuatu akan kembali” (ibid: 112, mengutip dari al-Shahirstani, al-Milal wa al-Nihel 1951, hal. 96). Karenanya, dialah orang pertama di Jazirah Arabia yang menyebut tentang Tauhid atau Tuhan yang Esa.

Suaid Ibn A’amir al-Mustalaq
Dia mengatakan “orang tidak berdaya mengalami hal yang jelek atau baik. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan.” (ibid, mengutip dari al-Awasi, Boloq Alarab, hal. 219, 259). Maka al-Mustalaq menetapkan pengertian tentang takdir.

‘Awkia Bin Zohir al-Ia’adi
Dia mengaku sebagai Nabi (ibid, mengutip dari Ibn Habib, al-Mahbar, hal.136, and al-Awasi, Boloq Alarab, hal. 260). Dia dulu sering pergi ke tempat yang rendah di Mekah, lalu naik tangga, dan mengatakan pada orang² bahwa Tuhan berkata padanya dari tempat ini. Akan tetapi ‘Awkia tidak berhasil dalam usahanya mengaku sebagai Nabi (ibid).

Waraqa Ibn Nawfal
Dia mengajak orang² untuk beribadah pada Tuhannya Ibrahim dan mengikuti agama Hanafiya pada mulanya, tapi dia lalu memeluk agama Kristen. Dia adalah saudara sepupu istri pertama sang Nabi, yakni Khadijah. Melalui Nawfal, Khadijah jadi yakin bahwa suaminya adalah seorang Nabi (ibid: 114, mengutip Ibn Hisyam, al-Sira, hal. 511-512).

Ala’af Ibn Shihab al-Tamimi
Dia percaya keesaan Tuhan, kebangkitan jiwa² yang mati, dan pahala bagi perbuatan baik dan hukuman bagi perbuatan jahat (ibid: 115, mengutip dari al-Awasi, Boloq Alarab, hal. 277).

Umat Hanafiya melakukan praktek² ibadah seperti “sunat, naik haji ke Mekah, wudhu setelah bersetubuh, menolak penyembahan berhala, percaya pada satu Tuhan yang menentukan nasib baik dan jelek, dan semua di jagad raya ini telah ditakdirkan dan ditulis nasibnya.” (ibid: 116, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mafasal, hal. 290). Menurut al-Qimni, satu²nya yang belum ada bagi umat Hanafiya adalah seorang Nabi (ibid: 116). Ketika umat Hanafiya sadar pentingnya memiliki seorang Nabi, mereka lalu bersaing satu sama lain untuk menentukan siapa diantara mereka yang layak jadi Nabi. Mereka mengira wahyu akan dinyatakan pada satu orang yang mencapai tingkat spiritual dan kesucian yang tinggi (ibid: 117). Salah satu dari mereka, yakni Zayd Ibn ‘Umar Ibn Nafil, tenar akan kerohaniannya dan dia tidak minum minuman beralkohol, tidak makan bangkai, darah, babi dan semuanya yang disembelih tanpa menyebut nama Allâh atau apapun yang dipersembahkan pada berhala (ibid:118, mengutip Ibn Hisyam, hal. 206). Umat Hanafiya lainnya adalah Umaiyya Ibn Abd Allah Ibn Abi al-Salt yang tidak pernah menerima Islam karena mengira dia sendiri akan jadi Nabi (ibid: 121, mengutip Dr. Jawad ‘Ali, hal. 280-281, Ibn Hisham hal. 208-209, dan Ibn Kathir hal. 206, 208). Ketika dia diberitahu bahwa Nabi Muhammad membunuh orang² Mekah dalam perang Badr, dia menyobek-nyobek bajunya dan meratap-tangis dan berkata jika dia adalah Nabi, maka dia tidak akan membunuhi keluarganya sendiri (ibid, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, hal, 377, 378, 383).

Al-Qimni menyatakan banyak sajak² yang ditulis oleh kedua pemeluk Hanafiya, yang lalu dimasukkan ke dalam Qur’an (ibid, hal. 118-123). Berikut adalah contoh ayat yang ditulis oleh Umaiyya Ibn Abd Allah Ibn Abi Salt dan dimasukkan ke dalam Qur’an:

bersambung ...
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Mon Nov 09, 2009 11:42 am

Tentang Ibrahim ketika dia bermimpi akan membunuh putranya Ismail,
Umaiyya berkata, “Wahai putraku, aku telah memberikanmu sebagai persembahan pada Tuhan, bersabarlah karena Allah akan menggantimu. Putranya menjawab bahwa segalanya milik Allâh tanpa perkecualian. Lakukan apa yang telah kau janjika pada Allah dan jangan melihat darahku yang menutupi bajuku. Dan saat dia menanggalkan baju anaknya, Allâh mengganti putranya dengan persembahan halal seekor domba.

Tentang Maria dan putranya Yesus, Umaiyya berkata,
Dan adalam agamamu karena Tuhannya Maria adalah sebuah tanda, yang tentang Yesus putra Maria. Seorang malaikat datang pada Maria pada saat orang² sedang tidur, dan malaikat itu tampil nyata dan tidak tersembunyi. Dia berkata, “Jangan takut atau tak percaya pada para malaikat Tuhan dari ‘Aad dan Jariham. Aku adalah utusan al-Rahman yang memberimu seorang putra.” Maria berkata, “Bagaimana mungkin aku punya putra sedangkan aku tidak pernah jadi wanita jalang atau mengandung?

Tentang Musa dan Harun dan kisah mereka dengan Firaun, Umaiyya berkata,
Karena kebaikan dan pengampunanMu kau mengangkat Musa sebagai seorang Nabi. Kau berkata padanya, pergilah kau dan Harun menghadap Firaun yang congkak. Katakan padanya, apakah kau membuat bumi tanpa gunung² untuk melindunginya? Dan katakan padanya, apakah kau membuat langit tanpa pilar² pendukung?

Tentang Hari Kiamat, Umaiyya berkata,
Ketika mereka menghadap pada Takhta Allâh, yang mengetahui yang tersembunyi dan yang nyata. Ketika kami datang menghadapNya, Dia adalah Tuhan yang pengasih dan janjiNya dipenuhi. Dan kaum berdosa dibawa dengan telanjang ke tempat terkututk bagi mereka. Di sana mereka tidak mati untuk beristirahat, dan mereka tetap berada dalam lautan api.

Al-Qimni mengutip pernyataan Dr. Jawad ‘Ali sebagai berikut:
Terdapat banyak kesamaan pendapat dalam ayat² puisi di atas dengan apa yang tertulis dalam Qur’an tentang Hari Kiamat, Surga, dan Neraka. Terlebih lagi, kita dapatkan dalam puisi² Umaiyya konstruksi dan isi kalimat yang sama seperti yang tercantum dalam Qur’an dan ahadis. Tentu saja tidak mungkin bahwa Umaiyya menjiplak puisi tersebut dari Qur’an sebab saat itu Qur’an belum diwahyukan. Meskipun dia meninggal di tahun ke 9 Hijriah, kita tidak bisa membuat kesimpulan bahwa dia mencuri ayat² Qur’an karena saat itupun Qur’an belum selesai diwahyukan. (ibid: 123-124, Dr. Jawad ‘Ali, al-Mafsal, hal. 384-385).

Selain tentang agama Hanafiya, al-Qimni juga membahas sedikit tentang agama Al-Sabiah atau Sabian. Menurut dia, umat Sabian “biasa sembahyang berkali-kali setiap hari dan hal ini merupakan kewajiban ibadah. Dalam sembahyang mereka melakukan qiyam (berdiri) dan ruk’u (berlutut dan bersujud), melakukan wudhu sebelum sembahyang, dan mencuci tubuh mereka setelah berhubungan sex, dan mereka punya beberapa ketentuan yang membatalkan wudhu.” (ibid: 111, mengutip dari Mahmoud al-‘Aqaad 1967, hal. 144).


Munculnya Nabi yang Ditunggu-tunggu

Setelah penjelasan latar belakang keadaan, al-Qimni berkata, “dan setelah Muhamad SAW mulai mengikuti jejak langkah kakeknya Abd Al-Mutalab di gua Hira, dan gua ini berubah jadi tempat suci dan terkenal dalam sejarah … dan dia beriman pada agama Hanafiya, dan sebelum mencapai usia 40 tahun, dia menyatakan diri sebagai Nabi ummat [12], setelah Tuhan Ibrahim menyatakan diri padanya.” (ibid: 132).
[12] Qalam 68:13 “yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.”

Pada mulanya, masyarakat Mekah tidak menentang atau menerima agama baru Muhammad. Akan tetapi, para pemimpin Mekah mulai protes ketika ayat² Qur’an mulai menghina mereka (ibid: 134). Contohnya, dalam Sura Qalam (Pena), ayat 68:13, Qur’an menyebut Al-Akhnas Ibn Shariq sebagai anak haram karena dia menyebut Muhammad sebagai orang sakit jiwa atau orang kesurupan (ibid, mengutip dari Ibn Kathir, hal. 243). [13] Dalam Surah Al-Muddaththir, ayat 74:50, Qur’an menyatakan bahwa para ketua masyarakat suku sebagai keledai² karena mereka menolak masuk Islam (ibid). [14] Dalam Sura Al-Masad 111 (Api), Qur’an membantah pernyataan paman Muhammad yang bernama Abd al-‘Aizi, dan menyebut dia sebagai Abu Lahab atau “Ayah Api,” dan menyebut istrinya yang merupakan saudara perempuan Abu Sufyan, sebagai pembawa kayu bakar di neraka. Dan di Sura Al-Kafirun 109, Qur’an menyebut masyarakat Mekah sebagai kafir (ibid:135). Akan tetapi, para ketua Mekah tidak melihat bahaya dari Islam sampai Muhammad mulai membujuk para budak untuk memberontak terhadap majikan² mereka. Pada saat ini kelompok Abd Al-Dar mulai bersekutu dengan suku² Mekah lainnya untuk mencegah Islam berkembang (ibid: 141, mengutip Ibn Hisyam, hal. 238, 241). Mereka sekarang melihat bahwa putra² Abd Manaf mencoba menguasai seluruh suku² Arab melalui cara sebagai Nabi baru.
[13] Muddaththir 74:50 “seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut”
[14] Nabi Muhammad mengganti nama kota Yathrib jadi Medina.



Persekutuan dengan Suku² Medina

Ketika Muhammad mulai kehilangan harapan untuk mendapat dukungan di Mekah, dia menerima ajakan orang² Yahtrib [15] dari suku Al-Khaoz dan Al-Khazrig untuk tinggal di Yathrib dan jadi ketua mereka (ibid:150). Suku² Yathrib ingin menguasai kota Mekah dengan cara menyerang dan mencegat kafilah² dagang Mekah yang datang dari Al-Sham atau Syria menuju ke Mekah. Perbuatan penyerangan ini dihalalkan dalam Islam (ibid). Suku² Yahudi yang saat itu tinggal di Yathrib menerima persetujuan dari suku² Al-Khaoz dan Al-Khazrig, dan berjanji untuk berperang bersama dengan mereka. Dengan begitu, ayat² Qur’an memuji-muji kaum Yahudi dan nabi²mereka mulai bermunculan. Ayat² ini menyatakan masyarakat Yahudi melebihi segala masyarakat lain di seluruh dunia [lihat Qur’an, Sura² Al-Baqarah 2: 62, Al-Maidah 5: 44, Al-A’raf 7: 157, and As-Saff 61: 6] (Ibid: 150). Akan tetapi, sikap ramah Muhammad terhadap kaum Yahudi ini tidak lama berlangsung. Sang Nabi “bersikap ramah untuk beberapa saat pada kaum Yahudi, lalu mulai berdebat dengan mereka, dan menunggu bertindak sampai datang kesempatan baik untuk mencabut kuku² mereka (menyiksa mereka), dan akhirnya menghancurkan mereka sepenuhnya” (ibid: 151, mengutip dari Ahmed al-Sharif, Makka wa al-Madina, hal. 415).
[15] Kaum Ansar merupakan pendukung Nabi dari Medina, dan kaum Mujahirin adalah umat Muslim Mekah yang hijrah bersama Nabi ke Medina.

Tak lama setelah sang Nabi pindah ke Yahtrib, yang lalu dinamakannya sebagai Medina, dia membuat perjanjian dengan kaum Yahudi dan mulai menyerang kafilah² dagang Mekah, yang datang dari Al-Sham atau Syria (ibid: 153). Persekutuan antara suku² Medina dan Muhammad berperanan penting dalam mengalahkan suku² Mekah. Dan akhirnya memang Mekah jatuh dan kelompok keluarga Hashmi mengambil alih kekuasaan di kota Mekah dan Medina. Ketika Muhammad menguasai Ka’bah, suku² Arab menerima agama baru Islam (ibid: 154). Akan tetapi, kekuasaan keluarga Hashmi tidak berlangsung lama setelah sang Nabi wafat. Putra² Umayyah, yang diasingkan ke Syria, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam terhadap keluarga Hashmi. Dan ketika kesempatan baik tiba, mereka tidak hanya mengambil alih kekuasaan, tapi juga membunuh semua anggota keluarga Hashmi. Mereka membunuh cucu² Muhammad yakni Hasan dan Husyein, dan memusnahkan seluruh keluarga Hashmi dari muka bumi. Mereka juga bahkan menghancurkan Ka’bah dengan ketepel² raksasa (ibid: 154). Ma’uwiyah, yang merupakan kalifah pertama bani Umayyad menulis syair yang menyarikan buku yang ditulisnya yakni Al-Hizb Al-Hashmi:

Suku Hashmi bermain-main dengan kepemimpinan
Tiada kabar atau wahyu yang datang dari surga

(ibid: 154, mengutip dari Muhammad al-Qazuni, hal. 9, dan Ibn Kathir, al-Bedayia wa al-Nihaia, hal. 227).

Akan tetapi, kisahnya tidak berhenti dengan kesimpulan itu, tapi diteruskan dalam buku Al-Qimni dalam bab Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi).
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Wed Nov 11, 2009 3:29 am

Bab 2 – Nabi Muhammad

Dalam bab Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi), al-Qimni menelaah secara detail peperangan yang dilakukan Nabi Muhammad dan dasar utama negara Islam pertama. Penelaahan al-Qimni berbeda dengan apa yang biasanya diungkapkan penulis sejarah. Dia menyingkirkan segala kisah muzizat² atau campur tangan illahi dalam peperangan tersebut, yang dipercaya para sejarawan Muslim sebagai alasan utama kemenangan perang di Negara Islam milik Nabi. Sebaliknya, al-Qimni menilai kemenangan ini terjadi karena kepemimpinan dan taktik militer Nabi Muhammad. Terlebih lagi, al-Qimni yakin bahwa kemenangan inilah yang membuat Nabi Muhammad mengganti nama kota Yathrib menjadi Medina. Sebelum hijrah dari Mekah ke Medina, pesan Islam berdasar pada pendekatan damai tanpa pemaksaan. Saat itu, ajaran Islam mengajak umat Muslim untuk bersabar dan menunggu pahala mereka di surga. Akan tetapi, setelah hijrah ke Medina, “semua umat Muslim, baik Muslim Ansar maupun Muslim Muhajirin, [16] diubah jadi tukang perang, penyerang², dan prajurit Negara Islam di Medina. Semua perubahan ini terjadi setelah tujuan berubah dari masyarakat yang beribadah pada tuhan kakek moyang menjadi pendirian sebuah Negara , yang diwakili oleh prajurit perang dan darah.” (al-Qimni 2001: 164). Dengan adanya perubahan itu, pengikut Nabi pun jadi melonjak lebih banyak jumlahnya dan hal ini mengakibatkan kemenangan di Badr, seperti yang dijelaskan al-Qimni sebagai berikut:
[16] Muslim Ansar adalah pendukung Nabi yang hidup di Medinah, sedangkan Muslim Muhajirin adalah umat Muslim asal Mekah yang ikut hijrah bersama Nabi ke Medina.

Dan ini adalah perubahan materi yang paling berbahaya, yang berperan sangat penting untuk menarik minat bergabung para tukang perang dari suku² yang lebih lemah, setelah sang Nabi berusaha selama tiga belas tahun di Mekah mengajak orang² memeluk agamanya tanpa keberhasilan nyata. Dulu di Mekah, ajakan memeluk Islam dilakukan dengan janji nikmat dan hidup berkelimpahan nantinya di surga… Akan tetapi, setelah Allâh memberi ijin pada Nabi dan umat Muslim yang setia untuk mengambil harta kafir, maka tujuan adalah memiliki harta duniawi dan ini tentunya menarik minat orang² miskin. Iming² harta jarahan duniawi ini membuat orang² lemah miskin bergabung jadi prajurit di Negara Islam baru. (ibid: 165).

Menurut al-Qimni, sang Nabi berusaha bersekutu dengan tiga suku Yahudi utama yakni Quaynuqa, al-Nadir, dan Qurayzah di Medina, ketika dia masih lemah dan tidak punya banyak pengikut (al-Qimni: 141). Pada saat itu, ayat² Qur’an mengatakan “kedudukan umat Israel yang tinggi dalam sejarah politik di daerah kekuasaan Daud dan Salomo, dan tempatnya yang terhormat di sejarah agama Nabi² dari Nuh sampai Abraham dan Ishak dan Yusuf dan Musa, dll” (ibid). Qur’an dengan jelas menghormati dan mengakui Taurat milik umat Yahudi (ibid). Pada saat itu, Nabi puasa di hari Paskah Yahudi dan saat sholat berqibla [17] ke Yerusalem, kota suci umat Yahudi.
[17] arah sholat.

Al-Qimni yakin bahwa kaum Yahudi Medina menerima persekutuan dengan Muhammad karena adanya kemungkinan hal ini mendatangkan keuntungan pula bagi mereka di masa depan (ibid). Akan tetapi, “Yahudi Medina, yang mengharap peruntungan masa depan, mendapatkan bahwa mereka sangat salah duga, terutama setelah mengalahkan pasukan Quraish di Badr. Sudah jelas sekarang bahwa para Muslim merampas harta benda Quraish di Badr dan mereka jadi penuh percaya diri dan tidak butuh persekutuan dengan kaum Yahudi lagi” (ibid: 141-142). Tak lama setelah Nabi menang perang di Badr, “dia mengumpulkan orang² Yahudi di pasar Quaynuqa dan berkata pada mereka: ‘wahai masayarakat Yahudi, terimalah Islam sebelum terjadi padamu apa yang telah terjadi pada suku Quraish’ “ (ibid:243, mengutip dari al-Bihaqi, hal. 173). Meskipun Nabi tidak memberi Yahudi Quaynuqa pilihan lain kecuali Islam atau mati, al-Qimni menjelaskan bahwa buku² Sira Islam [18] menunjukkan penghalalan sikap pembantalan perjanjian dengan kaum Yahudi (ibid: 244). Menurut para penulis sejarah di Sira Islam, seorang Muslimah datang ke pasar Quaynuqa untuk belanja dan sekelompok pemuda Yahudi menggodanya dan hal ini mengakibatkan bagian tubuhnya tersingkap. Karena itu seorang Muslim membunuh salah seorang dari pemuda² Yahudi itu, dan para Yahudi lalu membalas bunuh Muslim tersebut. Al-Qimni menolak menerima keterangan ini sebagai penghalalan pengusiran seluruh suku Yahudi Quaynuqa dari Yathrib sehingga mereka terpaksa keluar dari Jazirah Arabia dan tinggal di al-Sham atau Syria (ibid: 246, mengutip dari al-Halabi, hal. 478).
[18] Sira adalah buku² yang menuliskan kehidupan sang Nabi.

Suku Yahudi yang kedua adalah suku al-Nadir, yang dituduh Nabi berencana untuk membunuhnya. Al-Qimni sekali lagi meragukan alasan seperti itu sebagai penghalalan pengusiran seluruh suku al-Nadir dari Arabia setelah merampas semua harta benda dan kekayaan mereka dan lalu membagi-bagikannya diantara umat Muslim. Akan tetapi, kali ini penghalalan dinyatakan dari surga karena “surga memberitahu sang Nabi melalui malaikat Jibril bahwa sebagian Yahudi berkata satu sama lain, ‘kau tidak akan mendapatkannya seperti dia sekarang ini,’ dan Rasul Allâh sedang duduk dekat salah satu tembok mereka, ‘seseorang harus naik ke atas rumah dan menjatuhkan batu padanya sehingga membunuhnya dan kita lalu bisa hidup dengan tenang” (ibid: 355, mengutip Ibn Kathir, al-Bedya, hal. 76). Setelah malaikat Jibril menyatakan rencana pembunuhan itu pada Nabi, dia lalu menyerang suku Nadir dan memaksa mereka menyerah padanya. Setelah itu, lagi² sang Nabi membagi-bagikan harta kekayaan kaum Yahudi diantara umat Muslim dan kaum Yahudi pun harus keluar dari Arabia dan akhirnya tinggal di Palestina (ibid: 360).


Pembantaian Yahudi Qurayzah

Suku Yahudi Qurayzah dituduh bersekongkol dengan musuh di Khazwat al-Khandaq atau Perang Parit. Menurut al-Qimni, pihak sekutu Mekah mengepung Medina dan berusaha menyerang Muhammad dan umat Muslim. Ketika Muhammad tahu tentang penyerangan ini, dia menggali parit di sekeliling Medina untuk mencegah musuh masuk kota itu. Satu²nya tempat yang tidak dilindungi adalah tempat tinggal bani Qurayzah yang hidup dalam benteng² mereka yang kuat. Nabi tahu titik lemah persetujuannya dengan umat Yahudi. Ketika pihak musuh sedang mengepung Medina, Muhammad mendengar berita bahwa kaum Yahudi setuju untuk membuka benteng² mereka sehingga pihak musuh dapat masuk dan menghancurkan pasukan Muslim. Akan tetapi, al-Qimni meragukan kebenaran rencana rahasia karena kenyataan suku Yahudi tidak pernah membuka benteng mereka untuk musuh. Al-Qimni berpendapat, jikalau sekalipun kaum Yahudi setuju untuk membuka benteng² mereka tapi pada kenyataan mereka tidak mekalukan hal itu, maka seharusnya mereka tidak bisa dituduh melanggar perjanjian dengan Nabi (ibid: 384).

Dalam keterangan rinci yang tragis dan dramatis, al-Qimni mengisahkan bagaimana suku Qurayzah dipenggal tanpa ampun tak lama setelah tentara sekutu Mekah meninggalkan Medina. Sekali lagi, Jibril-lah yang membisiki sang Nabi untuk maju dengan pasukannya ke suku Qurayzah.

Dikisahkan oleh Aisyah: ketika Rasul Allâh bebas dari serangan sekutu, dia masuk rumah lalu melakukan wudhu untuk sholat, Jibril datang padanya, kulihat kepala Nabi ditutupi debu. Jibril berkata pada Nabi ‘Oh Muhammad, apakah kau telah meletakkan senjatamu?’ Nabi berkata padanya, ‘Kami telah meletakkan senjata² kami.’ Jibril berkata padanya, ‘Kami belum meletakkan senjata² kami. Bangkit dan pergilah ke Banu Qurayzah…’
Rasul Allah memerintahkan muzzein
[19] untuk memanggil orang², yang mendengar harus menurut untuk tidak melakukan sholat Asyar kecuali di tempat Banu Qurayzah (ibid: 390-391, mengutip dari Ibn Kathir, hal. 119).
[19] Panggilan untuk Sholat atau Perang.

Suku Qurayzah tidak punya pilihan kecuali menyerah pada pasukan Muslim dan menunggu nasib mereka. Mereka mengira Nabi akan mengsusir mereka seperti yang dilakukannya pada kedua suku Yahudi terdahulu, dan juga merampas semua harta kekayaan, ternak mereka. Akan tetapi Muhammad menyerahkan keputusan akan nasib mereka pada seorang ketua Arab yang bernama Sa’ad bin Mu’aaz (yang luka parah akibat perang Khandaq). Sa’ad mengusulkan semua pria dibunuh dan wanita, anak², dan kekayaan dibagi-bagi diantara umat Muslim. Usul ini diterima Nabi dan dia berkata pada Sa’ad bin Mu’aaz, “Kau telah menghakimi mereka dengan penghakiman Allâh, yang diberikan padamu dari tujuh surga” (ibid: 395, mengutip dari al-Tabari, hal. 587-588). Al-Qimni melanjutkan, “Dan kami mengetahui sesuatu yang baru dari pembantaian ini. Ternyata pembantaian tidak dilakukan hanya pada pria dewasa saja, tapi juga pada anak² laki yang masih kecil (ibid: 398, mengutip dari al-Tabari, hal. 591).

Menurut penulis² sejarah Sira, Allâh menghadiahi Sa’ad bin Mu’aaz karena usul pembantaiannya dan dia mati seketika setelah pembantaian dilakukan. Malaikat Jibril datang kepada Nabi di tengah malam dan mengatakan padanya bahwa Sa’ad bin Mu’aaz mati dan takhta Allâh berguncang untuk menghormati Sa’ad. Upacara penguburan jenazah Sa’ad dikunjungi oleh tujuh puluh malaikat (ibid: 397, mengutip dari al-Bihaqi, hal. 28-29). Al-Qimni menyalahkan para penulis Sira terutama Ibn Hisyam karena menambah-nambahi muzizat² di sana-sini guna menunjukkan penghalalan pembantaian masyarakat Yahudi Banu Qurayzah dan kegagalan tentara sekutu Mekah menduduki Medina. Al-Qimni menulis, “Meskipun Ibn Hisyam mengetahui di mana penipuan dilakukan, bagaimana penipuan itu dilaksanakan, dan siapa yang melaksanakan untuk mengikutsertakan Qurayzah dengan tentara sekutu Mekah, tapi Ibn Hisyam tetap saja sebagai Muslim mengatakan dengan yakinnya bahwa ‘Allâh menggagalkan rencana² mereka” (ibid: 388). Dan intervensi illahi ini dinyatakan pula di Qur’an 33:9 yang mengatakan,
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” Para tentara malaikat tidak berperang di Perang Khandaq seperti di Perang Badr, tapi mereka menciptakan badai keras yang membuat pihak tentara sekutu kalah dan akhirnya mundur (ibid: 389).

Menurut al-Qimni, kekalahan dan mundurnya tentara sekutu Mekah tidak ada hubungannya dengan segala muzizat illahi. Sang Nabi tahu akan hal ini. Sama seperti kaum Muslim punya titik lemah yakni perihal Banu Qurayzah, pihak sekutu pun punyha titik lemah yakni suku Gathafan, yang merupakan ranting suku² Fazari (ibid: 385). Melalui mata²nya, sang Nabi tahu bahwa suku Gathafan bergabung dengan pasukan sekutu Mekah untuk balas dendam karena Muhammad membunuh pemimpin wanita mereka yang bijak yakni Umm Qirfa dengan cara menarik tubuhnya dengan dua ekor unta sampai tubuhnya terbelah dua (ibid: 299, mengutip dari al-Tabari, hal. 643, dan al-Suhaili, hal. 237). Umm Qirfa saat itu berusia 100 tahun dan dia dibunuh dengan cara sangat keji tanpa alasan apapun, kecuali karena dia terkenal sebagai wanita bijaksana di Arabia (ibid). Muhammad tahu bahwa dia dapat meredakan amarah suku Ghatafan dengan memberi mereka harta benda jika mereka mau meninggalkan tentara sekutu Mekah.

Sang Nabi secara rahasia mengirim utusan kepada kedua tokoh pemimpin Ghatafan yakni Husn dan Haris bin ‘Awf, dan meminta mereka mengundurkan diri dari tentara sekutu dengan janji memberi mereka sepertiga hasil panen al-Medina. Tapi ‘Ainiah yang serakah meminta separuh hasil panen Medina. Sang Nabi setuju untuk memberikan separuh hasil panen dengan syarat para pemimpin Ghatafan harus memecah-belah suku Qurayzah dan tentara sekutu Mekah (ibid: 385, mengutip dari Ibn Sa’ad, hal. 52).

Melalui perjanjian dan penipuan rahasia ini, ketua Ghatafan yang bernama Nai’am bin Mu’aaz, yang diam² jadi Muslim, berhasil menciptakan perpecahan antara tentara sekutu Mekah dan Qurayzah (ibid: 386-387). Dia berhasil meyakinkan Yahudi Qurayzah untuk tidak membuka benteng² mereka untuk tentara sekutu Mekah karena mereka tinggal di Medina dan akan berakibat buruk bagi mereka jika pasukan Quraish Mekah dan Ghatafan kembali ke kota asal mereka. Nai’am bin Mu’aaz juga berhasil meyakinkan pemimpin Quraish Mekah yakni Abu Sufyan bin Harb bahwa Yahudi Qurayzah menyesal atas keputusan mereka dan meminta ampun pada sang Nabi. Katanya, para Yahudi berkata pada sang Nabi, “Apakah kau akan senang jika kami menangkap kedua pemimpin suku² Quraish dan Ghatafan, dan menyerahkan mereka padamu agar kau bisa memenggal kepala mereka? Lalu, kami akan bergabung bersamamu di medan perang sampai kita berhasil menghancurkan tentara mereka. Sang Nabi menjawab pada mereka, ‘Ya’” (ibid: 387). Al-Qimni menyarikan kesimpulannya tentang Perang Khandaq dan pembantaian Banu Qurayzah dengan mengutip perkataan Nabi pada Nai’am bin Mu’aaz, Tipulah mereka bagi kami jika kau bisa, karena perang merupakan penipuan (ibid: 386), dari Ibn Hisyam, hal 265).

Setlah pengusiran dua suku Yahudi Quaynuqa dan Nadir dan pembantaian suku Yahudi Qurayza, maka tak ada satu pun suku Yahudi yang tersisa di Medina. Yang masih ada hanyalah suku Yahudi yang tinggal di kota Khaybar. Seluruh kota dihuni masyarakat Yahudi. Kota ini memiliki benteng² yang kuat. Sang Nabi memberitahu umatnya bahwa dia menerima wahyu surgawi untuk mengalahkan kota ini (ibid: 442, mengutip dari al-Bihaqi, hal. 197). Tak lama setelah kejadian Perjanjian Hudaybiyah, [20], Nabi mengambil keputusan menyerang Khaybar. Menurut al-Qimni, saat ini sang Nabi benar² telah memerangi masyarakat Yahudi dan agama mereka sepenuhnya dan mulai menerapkan ibadah² agama pagan Mekah ke dalam Islam. Tentang hal ini al-Qimni berkata, “Sang Nabi tahu sekali bahwa kaum Yahudi dengan kitab suci dan warisan budaya sejarah mereka, tidak akan pernah mengakuinya sebagai Nabi di kota Medina, di negara Islamnya yang kecil. Karena itulah dia melakukan serangan cepat membersihkan Yathrib dari kaum Yahudi” (ibid: 367). Selain itu, al-Qimni yakin bahwa masyarakat pagan Mekah senang dengan kenyataan Muhammad memasukkan unsur ibadah pagan Mekah ke dalam Islam.

Sekarang semua simbol² agama Yahudi dalam Islam ditanggalkan. Qibla ke Yerusalem diganti jadi qibla ke Ka’bah di Mekah. Sang Nabi lalu mulai memuji-muji Ka’bah yang senantiasa disembah kaum pagan Arab di sepanjang sejarah mereka di masa Jahiliyah. Perubahan ini diketahui oleh suku² Quraish di Mekah. Mereka tahu bahwa setelah Perang Khandaq, Nabi menyingkirkan suku Yahudi terakhir di Yathrib, dan dengan perjanjian Hudaybiyah, hati Nabi kembali kepada asal-usulnya yakni Arab-Mekah-Quraish. Dia lalu menyerap tatacara ibadah pagan Quraish (ibid: 437).
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby I Want You » Wed Nov 11, 2009 10:51 am

Adadeh wrote:Bab 2 – Nabi Muhammad

Suku Qurayzah tidak punya pilihan kecuali menyerah pada pasukan Muslim dan menunggu nasib mereka. Mereka mengira Nabi akan mengsusir mereka seperti yang dilakukannya pada kedua suku Yahudi terdahulu, dan juga merampas semua harta kekayaan, ternak mereka. Akan tetapi Muhammad menyerahkan keputusan akan nasib mereka pada seorang ketua Arab yang bernama Sa’ad bin Mu’aaz (yang luka parah akibat perang Khandaq). Sa’ad mengusulkan semua pria dibunuh dan wanita, anak², dan kekayaan dibagi-bagi diantara umat Muslim. Usul ini diterima Nabi dan dia berkata pada Sa’ad bin Mu’aaz, “Kau telah menghakimi mereka dengan penghakiman Allâh, yang diberikan padamu dari tujuh surga” (ibid: 395, mengutip dari al-Tabari, hal. 587-588). Al-Qimni melanjutkan, “Dan kami mengetahui sesuatu yang baru dari pembantaian ini. Ternyata pembantaian tidak dilakukan hanya pada pria dewasa saja, tapi juga pada anak² laki yang masih kecil (ibid: 398, mengutip dari al-Tabari, hal. 591).

Menurut penulis² sejarah Sira, Allâh menghadiahi Sa’ad bin Mu’aaz karena usul pembantaiannya dan dia mati seketika setelah pembantaian dilakukan. Malaikat Jibril datang kepada Nabi di tengah malam dan mengatakan padanya bahwa Sa’ad bin Mu’aaz mati dan takhta Allâh berguncang untuk menghormati Sa’ad. Upacara penguburan jenazah Sa’ad dikunjungi oleh tujuh puluh malaikat (ibid: 397, mengutip dari al-Bihaqi, hal. 28-29).


saya pengen komentar dikit , mohon ijin Senior Adadeh ! coba perhatikan bagian yang saya tebalkan , bagaimana mungkin allah begitu menghargai orang yang memberikan ide pembunuhan dengan kejamnya ? allah model apa itu ? bahkan tahta allah berguncang untuk menghormati orang yang memberikan ide begitu kejam? tidakkah kita bisa menilai , menggunakan akal , nalar , dan logika kita ?? :stun:
[-( [-X
User avatar
I Want You
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1035
Joined: Thu May 07, 2009 2:20 pm

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Lost In Imagination » Wed Nov 11, 2009 7:37 pm

Ngga bisa di donlod yah ? Cuma bisa copas ?
User avatar
Lost In Imagination
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 130
Joined: Thu Nov 05, 2009 8:55 pm
Location: HERE

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby berani_murtad » Wed Nov 11, 2009 9:07 pm

@moderator
saya harap tulisan bung adadeh saja diselesaikan dahulu untuk kelengkapan buku yang sedang ditranslate. jadi tidak dimasuki oleh netter-netter lain. dan setelah selesai bung adadeh membuat translatenya, baru dilanjutkan perdebatannya. sehingga tulisan bung adadeh akan terangkum bagai satu buku. hanya saran yah @mod? salam
berani_murtad
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2498
Joined: Sat May 19, 2007 3:11 pm
Location: Surga 72 bidadari

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Thu Nov 12, 2009 4:14 am

Penyerangan Khaybar

Duapuluh hari setelah Perjanjian Hudaybiyah, sang Nabi memimpin pasukan Muslim menyerang Khaybar. Khaybar adalah kota kedua, setelah Mekah, yang terpenting dan terbaik kekuatan militernya. Masyarakat Yahudi Khaybar tidak mengira Muhammad akan menyerang mereka sehingga ketika tentara Muslim tiba, mereka sangat kaget. Akan tetapi, kota ini dilindungi oleh benteng² Khaybar yang kokoh dan mereka menolak tuntutan Nabi agar mereka menyerah (ibid: 444). Ketika kota Khaybar menolak untuk menyerah, “Sang Nabi mengambil keputusan untuk menggunakan ketepel² raksasa” untuk menghancurkan benteng (ibid). Menurut al-Qimni, ketepel² seperti itu belum pernah digunakan sebelumnya di Arabia (ibid). Ketika pasukan Yahudi melihat ketepel² tersebut, “mereka tahu kematian mereka sudah hampir tiba, dan jika Nabi menembak kota dengan ketepel² itu, maka kota itu akan hancur berantakan dan semua penduduk kota akan mati” (ibid). Untuk menghindari kehancuran hebat seperti itu, pemimpin Khaybar yakni Kinanah bin Abi al-Haqiq muncul dari kota dan memegang bendera tanda menyerah. Dia menghadap Nabi dan mengatakan keinginan masyarakat Khaybar untuk menandatangani perjanjian damai dengan Nabi. Sang Nabi setuju untuk membuat perjanjian dengan syarat “mereka harus mengosongkan kota dan menyerahkan pada Nabi semua uang, benteng², dan tanah mereka, dan mereka tidak boleh membawa benda kuning atau putih kecuali baju yang menutupi tubuh mereka” (ibid, mengutip dari Ibn Kathir, al-Bedaia, hal. 200). Selain itu, Nabi mengatakan pada Kinanah jika dia berani menyembunyikan sesuatu dari Nabi maka Allâh dan RasulNya tidak lagi terikat perjanjian (ibid: 445, mengutip Ibn Kathir, hal. 204). Al-Qimni juga mengambil sumber lain tentang peristiwa ini dan menulis bahwa Nabi berkata pada Kinanah, “Dan jika kau menyembunyikan sesuatu dan aku nantinya mengetahui hal itu, maka darahmu dan wanita²mu halal bagi kami” (ibid: 445, mengutip dari Ibn Sa’ad, al-Tabaqaat, hal. 81).

Image
Ketepel raksasa kuno untuk melontarkan batu² besar ke benteng musuh.

Setelah Kinanah setuju untuk menyerahkan segala harta dan uang mereka, Nabi bertanya padanya tentang harta karun yang dimiliki Yahudi Khaybar (ibid). Kinanah menyangkal harta itu benar² ada. Menurut al-Qimni, pertanyaan Nabi hanyalah jebakan saja karena “Nabi sudah tahu tentang harta karun yang banyak itu dan di mana harta itu disembunyikan” (ibid: 445, mengutip Ibn Sa’ad, hal. 77). Keterangan tentang harta karun itu telah diketahui Nabi dari seorang Yahudi yang “menjual masyarakatnya dan mengungkapkan rahasia persembunyian harta karun itu” (ibid:446). Sang Nabi memerintahkan al-Zibiar bin al-’Awam untuk menyiksa Kinanah sampai dia menyatakan persembunyian harta karun tersebut. Menurut Ibn Hisyam, “Al-Zibair menggunakan obor api dan membakar pemimpin Yahudi itu sampai dia mati. Setelah itu, Nabi menyuruh Muhammad bin Salamah memancung leher Kinanah dan leher saudara Kinanah yakni Mahamoud bin Muslamah” (ibid, mengutip dari Ibn Hisyam, hal. 43).

Setelah Kinanah dan saudara lakinya dipancung, “pedang Islam membabati para Yahudi yang telah menyerah, dan membunuh sembilan puluh tiga orang Yahudi, begitu menurut penjelasan Ibn Sa’ad” (ibid:447, mengutip dari Ibn Sa’ad, hal. 77). Harta rampokan dan para wanita Yahudi lalu dibagi-bagi diantara para Muslim (ibid: 448). Menurut “semua penulis Sira dan sejarah Islam, dalam penyerangan Khaybar ini, para Muslim memaksa wanita² Yahudi untuk berhubungan seks dengan mereka di tempat terbuka, dan wanita² Khaybar diperkosa beramai-ramai, sampai Nabi menghentikan perkosaan terhadap wanita² yang sedang hamil (ibid, mengutip dari Ibn Said al-Nas, ‘Uyun al-Athar, hal, 176). Sang Nabi sendiri mengambil Safiya bint Huaya (istri ketua Yahudi Khaybar Kinanah bin Abi al-Haqiq) setelah Nabi membunuh suaminya dan ayah Safiya (di pembantaian Yahudi Qurayza di pasar Medina) (ibid: 448-449), mengutip dari Ibn Kathir, hal. 197). Akan tetapi, seorang wanita Yahudi Khaybar bernama Zainab bint al-Harith berusaha membunuh Nabi dengan menyuguhkan daging kambing beracun di rumah Safiya bint Huaya (ibid: 453, mengutip dari Ibn Kathir, hal. 211). Ketika Nabi menanyai Zainab mengapa dia berusaha membunuhnya, Zainab menjelaskan pada Nabi, “kau telah membunuh ayahku, pamanku, suamiku, dan saudara lakiku” (ibid: 454, mengutip dari al-Bihaqi, hal. 257). Zainab dibunuh seketika. Racun dari daging kambing tersebut terus tinggal dalam tubnuh Nabi selama tiga tahun sampai akhirnya menyebabkan kematian Nabi (ibid: 454, mengutip Ibn Kathir, hal. 211). Dengan demikian, umat Muslim yakin bahwa Nabi mati sebagai syahid (ibid: 454, mengutip Ibn Kathir, hal. 216).
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Thu Nov 12, 2009 4:16 am

Usaha Menyerang Kekaisaran Romawi

Al-Qimni mengisahkan secara detail berbagai penyerangan yang dilakukan tentara Muslim terhadap suku² Arab, di bawah perintah dan komando sang Nabi. Serangan militer itu terus dilakukan sampai hampir seluruh suku² Arab dikalahkan dan tunduk di bawah kekuasaan negara Islam sang Nabi. Satu²nya kota yang masih belum dikuasai negara Islam adalah kota Mekah. Nabi mengatakan pada pasukannya bahwa Allâh telah berjanji untuk menyerahkan harta kekayaan Kekaisaran Romawi dan Persia. Untuk memenuhi janji ini, Nabi mengirimkan panglima militernya yakni Zayd bin Harith (bekas anak angkat Muhammad) untuk memimpin tiga ribu pasukan Muslim ke Syria untuk menyerang Kekaisaran Romawi, dan “Nabi tahu sekali bahwa pertempuran dengan pasukan Romawi akan terjadi, dan bagaimana hasil akhirnya” (ibid: 469, mengutip Ibn Kathir, hal. 241). Ketika panglima perang Romawi yakni Hercules mendengar kedatangan tentara Muslim, “dia sendiri memimpin pasukan Romawi untuk menghadapi pasukan penyerang yang berani mendekati kekaisarannya, dengan jumlah 100.000 tentara Romawi dan 100.000 tentara dari suku² Arab yang hidup dekat perbatasan Syria dan bersekutu dengan pihak Romawi” (ibid). Pasukan Hercules yang amat besar ini membunuh tiga panglima pasukan Muslim dan banyak tentara Muslim lainnya. Ketika Khalid bin al-Walid (salah satu pemimpin pasukan Muslim) mleihat tentara Muslim kalah, dia mengambil bendera Islam dan memerintahkan pasukan Muslim mundur dan kembali ke Medina. Di pintu gerbang kota Medina, umat Muslim melempari pasukan Muslim dengan pasir dan mengutuki mereka karena meninggalkan medan perang (ibid: 470). Akan tetapi sang Nabi memenangkan umat Muslim dan berkata pada mereka, “tentara Muslim tidak melarikan diri, tapi mengundurkan diri untuk sementara waktu” (ibid: 470). Perkataan Nabi ini mengungkapkan keinginannya untuk “terus menyerang kekuasaan Romawi dan Caesar)” (ibid).

Dalam kesempatan selanjutnya, Nabi sendiri pergi memimpin 30.000 pasukan Muslim dengan 10.000 kuda untuk menyerang Syria. Ketika pasukan Muslim tiba di perbatasan Kekaisaran Romawi di Syria, pasukan Romawi yang besar dan dipimpin Hercules telah siap menghadapi mereka. Sang Nabi berubah pikiran dan kembali ke Medina (ibid, mengutip Ibn Kathir, hal. 178 dan Ibn Said al-Nas, hal. 277). Untuk membenarkan tindakan Nadi mundur dari medan perang melawan Romawi, para penulis Sira menyalahkan Yahudi yang dituduh mereka melakukan rencana licik. Menurut al-Bihaqi, “alasan yang membuat Nabi pergi melawan Romawi adalah karena rencana licik Yahudi… tapi Allâh menyelamatkannya dari rencana licik tersebut” (ibid). Rencana licik ini dinyatakan oleh Jibril pada Nabi ketika Nabi mencapai Tabuk, sehingga dia membatalkan penyerangan dan kembali ke Medina (ibid: 533, Qur’an, Sura Al-Israa (17), ayat 76, 77). Dengan demikian, janji Nabi untuk mengalahkan orang² Romawi dan mengambil harta kekayaan mereka dan para wanitanya tetap tidak terpenuhi di jaman Nabi. Malah sebenarnya nubuat Nabi dalam hadis berikut tetap tidak terpenuhi sampai hari ini: “Serang Tabuk agar kau bisa mengambil gadis² berwarna kuning dan wanita² kaum Romawi. Algid berkata, berikan ijinmu, tapi jangan goda kami dengan wanita²” (al-Tabari menjelaskan ayat Qur’an di al-Tauba (9), ayat 49).

Ketika Nabi hampir tiba ajal, dia mengirim panglima militernya yakni Usama bin Zayd bin al-Harith (anak Zayd bin al-Harith yang adalah bekas anak angkat Nabi), untuk menyerang pasukan Romawi di al-Sham atau “Bulan Sabit Subur”. Bersama Usama, Nabi juga mengirim dua sahabatnya yakni menteri² Abu Bakr dan Umar bin al-Khattab (ibid: 553). Akan tetapi kedua menteri Abu Bakr dan Umar tahu bahwa Nabi mengirim mereka berdua bersama tentara Islam agar mereka berdua tidak terpilih sebagai Kalifah pertama karena Nabi ingin Ali yang jadi Kalifah pertama menggantinya. Akan hal ini al-Qimni menulis, “Tapi mereka tahu rencana Nabi, dan karenanya mereka menolak penunjukkan Usama bin Zayd. Mereka menunda pengiriman tentara di Jiraph [21] sampai Nabi wafat. Pada saat itu, mereka membatalkan rencana penyerangan dan mencopot kedudukan Usama sebagai panglima tentara Muslim” (ibid: 556).
[21] Nama tempat di daerah sekitar Medina.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Thu Nov 12, 2009 4:18 am

Penaklukan Mekah

Menurut Perjanjian Hudaybiyah, seharusnya perdamaian antara umat Muslim dan masyarakat Quraish Mekah berlangsung selama 10 tahun. Ketika perjanjian ini ditandatangani, suku² Arab lainnya diberi pilihan untuk bergabung bersama Muhammad atau Quraish (ibid: 473). Karena itu, “suku Khoza’a bergabung bersama Muhammad … dan sewajarnya pula musuh suku Khoza’a yakni suku Bakr, bergabung bersama Quraish” (ibid). Permusuhan suku Khoza’a dan suku Bakr sudah berlangsung lama sebelum Perjanjian Hudaybiyah ditandatangani. Penjelasan dari buku² Sira:

Kembali ke masa sebelum ajakan masuk Islam dimulai. Buku² ini menyatakan pada kita rahasia di belakang pelanggaran Perjanjian Hudaybiyah … Buku² ini menjelaskan pada kita permusuhan penuh dendam antara suku² Khoza’a dan suku² Bakr dimulai ketika seorang pedagang Bakr melakukan perjalanan melewati daearah suku Khoza’a. Ketika dia tiba di perumahan Khoza’a, masyarakat Khoza’a membunuhnya dan merampas barang dagangnya (ibid).

Pembunuhan pedagang Bakr ini mengakibatkan perang berdarah antara kedua suku tersebut dan permusuhan terus terjadi ketika Perjanjian Hudaybiyah ditandatangani. Setahun setelah Perjanjian ditandatangani “terjadi perang antara suku² Bakr dan Khoza’a, dan penulis² Muslim menyalahkan suku Bakr … buku² Sira menyatakan: keadaan jadi lebih buruk ketika sejumlah orang Quraish memberi bantuan senjata pada suku Bakr, dan beberapa orang Quraish mungkin ikut berperang dengan suku Bakr melawan suku Khoza’a” (ibid: 474, mengutip dari Ibn Hisyam, hal. 84-85). Ketika berita ini didengar Nabi, dia lalu mengumumkan perang melawan Quraish, dan memerintahkan pasukannya untuk bersiap menyerang Mekah (ibid: 477).

Ketika pihak Quraish mendengar akan rencana penyerangan ini, “mereka mengirim ketua suku Quraish dan pemegang bendera Quraish yakni Abu Sufyan Sakhar bin Harb untuk menemui pemimpin Medina” (ibid: 475-476). Pemimpin Quraish meminta Nabi untuk tidak menyerang karena Quraish tidak ikut campur dalam pertikaian kedua suku yang bermusuhan, dan masih tetap memegang teguh Perjanjian Hudaybiyah. Akan tetapi Nabi menolak permintaan Abu Sufyan. Nabi bahkan tidak mau bicara dengan pemimpin Quraish. Karena itu, Abu Sufyan mendatangi Abu Bakr dan Umar bin al-Khattab dan meminta mereka untuk mencegah perang. Tapi Abu Bakr dan Umar tidak bersedia melakukan itu sehingga pemimpin Quraish pergi ke rumah ‘Ali bin Talib dan meminta dia untuk mencegah perang, tapi ‘Ali pun tidak mau melakukannya. Setelah itu Abu Sufyan mendatangi Fatima, istri ‘Ali dan juga putri Nabi, dan memohon Fatima untuk mencegah perang. Meskipun Abu Sufyan telah memohon dengan menyinggung perihal putranya yakni al-Hussein, Fatima tetap tidak mau membantu Abu Sufyan (ibid: 476-477).

Pemimpin Quraish terus mengunjungi satu rumah ke rumah lainnya di Medina sampai dia bertemu dengan al-‘Abass, paman Muhammad. Akan tetapi al-‘Abbas berkata padanya, “Hati²lah kau, terima Islam dan bersaksilah tiada tuhan selain Allâh, dan Muhammad adalah Rasul Allâh, sebelum lehermu dipotong. Seketika itu pula pemimpin Quraish mengucapkan Syahadah [22] dan menjadi Muslim” (ibid: 480, mengutip Ibn Hisyam, hal. 99). Menurut al-Qimni, pemimpin Quraish mengucapkan Syahadah karena takut dibunuh, tapi dalam hati dia tetap mengikuti agama kakek moyangnya (ibid). Setelah Abu Sufyan mengucapkan Syahadah, dia bertanya pada Nabi, “Apa yang harus kulakukan dengan Dewiku ‘Uzza? Umar bin Khattab mendengar pertanyaan Abu Sufyan karena dia berada di sebelah tenda Nabi. Umar menjawab Abu Sufyan dengan suara keras penuh ejekan, “Kami akan buang hajat di atas Dewi itu.” Abu Sufyan berkata, “Hati²lah kau Umar. Kau adalah orang keji. Biarkan aku bersama dengan saudara sepupuku, karena dengan dialah aku berbicara” (ibid: 481, mengutip Ibn Hisyam, hal 99).
[22] Syahada adalah pengakuan “aku bersaksi tiada illah lain selain Allâh, dan Muhammad adalah Rasul Allâh.”

Sebelum kembali ke Mekah, Abu Sufyan ingin menyelamatkan masyarakat Quraish dari pembantaian oleh tentara Muslim yang bergerak mendekat. Karenanya, dia meminta paman Nabi yakni al-‘Abass untuk menghadap Muhammad untuk menjamin keselamatan masyarakat Mekah. Nabi menjawab permintaan ini sebagai berikut, “Siapapun yang masuk rumah Abu Sufyan akan selamat, siapapun yang menutup pintu rumahnya dan diam di dalam rumahnya akan selamat, dan siapapun yang masuk Mesjid suci akan selamat” (ibid: 481). Dengan demikian, sewaktu pasukan Muslim masuk Mekah, kota itu tampak kosong. Nabi langsung mengunjungi Ka’bah dan memerintahkan penghancuran patung² berhala di sekitarnya. Selain itu, dia memerintahkan pembunuhan beberapa pria dan wanita yang dulu menyakiti hatinya ketika dia masih tinggal di Mekah (ibid: 487). Sesuai dengan perintah Nabi, orang² ini tidak boleh diampuni, “bahkan jika mereka kedapatan bersembunyi di balik tirai² Ka’bah” (ibid). Akan tetapi, karena beberapa orang diampuni atas permintaan sahabat Nabi.

Menurut al-Qimni, belas kasihan Nabi terhadap masyarakat Quraish di Mekah mengejutkan umat Muslim, terutama Muslim Ansar atau “pembantu²nya” dari Medina.

Dengan demikian, Muslim Ansar terkejut, dan masyarakat Quraish pun terkejut, ketika mereka melihat Nabi menahan tangan² Muslim Ansar terhadap masyarakat Mekah, dan menahan tangan orang² terhadap satu sama lain, mengumumkan kesucian Ka’bah untuk selamanya, membebaskan masyarakat Quraish tanpa syarat, dan boleh beribadah semua agama di Mekah, bahkan juga menghormati dan mengakui kesucian Batu Hitam (ibid: 489, mengutip Ibn Hisyam, hal. 94-95).

Setelah menaklukkan Mekah tanpa pertumpahan darah, Nabi kembali ke ibukotanya yakni Medina, dan di sana dia terus mengirimkan Sariha-nya atau “penyerangan militer Islam” untuk menyerang suku² Arab lainnya dan memaksa mereka tunduk dengan pedang di bawah kekuasaan negara Islam. Dengan begitu, suku² Arab tak punya pilihan kecuali bergabung dengan negara Islam yang kuat dan menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman bunuh tentara Muslim, dan juga menyelamatkan wanita² mereka agar tidak jadi Sabaia atau “tawanan perang wanita sebagai bagian dari jarahan perang.” Karena itulah tahun penaklukkan Mekah dikenal sebagai tahun pelaksanaan (ibid: 543). Banyak suku² Arab yang mengirimkan wakil² mereka untuk menyatakan ingin bergabung dengan negara baru Islam dan memeluk Islam. Al-Qimni menyimpulkan dalam bukunya Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi) melalui perkataan Nabi yang dikatakannya di hari² menjelang kematiannya, “Allâh memberikan kemenangan² bagiku melalui teror (usaha membuat takut), dan memberikan padaku harta² jarahan perang” (ibid: 553, mengutip dari Ibn Kathir, hal. 197).
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Akukomkamu » Thu Nov 12, 2009 7:18 am

All muslimer harus baca INI , jangan di forum sebelah yg cuman TAQIYA tok dan di bodoh-bodohi araf!!!
Akukomkamu
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 608
Joined: Sat Jul 11, 2009 11:34 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby JCfollower » Thu Nov 12, 2009 2:41 pm

ikutan ngepos biar tar gw carinya gampang..
om duladi keren..
hehe
User avatar
JCfollower
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 311
Joined: Fri Jul 31, 2009 4:52 pm

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Sat Nov 14, 2009 4:06 am

Bab 3 – Peperangan di Masa Awal Negara Islam

Jumlah peperangan di masa awal Negara Islam adalah banyak. “Ibu dari Segala Sumber Literatur Islam” menjabarkan dengan detail setiap perang. Untuk menghindari detail² mengerikan, maka kucantumkan daftar perang keji yang dilakukan Muhammad dan umatnya. Muhammad berkata, “Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang² sampai mereka berkata “tiada illah lain selain Allâh dan Muhammad adalah Rasul Allâh”, melakukan sholat, dan bayar zakat. Jika mereka melakukan itu, maka nyawa dan harta mereka selamat.” (Sahih Muslim, #0033, dan Sahih al-Bukhari, volume 1, #387).

Ini adalah isi surat Nabi Muhammad pada Julanda bersaudara yang disampaikan oleh utusan Nabi yakni ‘Amr bin al-‘As al-Sahmi dan Abu Zaid al-Ansari:

Damai beserta dia yang mengikuti jalan yang benar! Aku memanggil kau untuk memeluk Islam. Terimalah panggilanku, dan kau tak akan dilukai. Aku adalah Rasul Allâh bagi umat manusia, dan dunia harus bebas dari para pengacau. Jika kau menerima Islam, aku akan beri kau kekuasaan. Tapi jika kau menolak Islam, kekuasaanmu akan hilang, kuda²ku akan bertambat di daerahmu dan nubuatku akan terjadi terhadap kerajaanmu.


• 623 – Perang al-Nakhala
• 623 - Perang Waddan
• 623 - Perang Safwan
• 623 - Perang Dul-Ashir
• 624 - Muhammad mulai menyerang kafilah², suku² Arab dan Yahudi
• 624 - Perang Badr
• 624 - Perang Bani Salim
• 624 – Perang Zee Amr
• 624 - Perang Bani Qainuqa
• 624 - Perang Sawiq
• 624 - Perang Ghatfan
• 624 - Perang Bahran
• 625 - Perang Uhud
• 625 – Perang Dumatul Jandal.
• 625 - Perang Humra-ul-Asad
• 625 - Perang Banu Nudair
• 625 - Perang Dhatur-Riqa
• 626 - Perang Badru-Ukhra
• 626 - Perang Banu Mustalaq
• 627 – Perang Parit/Khandaq
• 627 - Perang Ahzab
• 627 - Perang Bani Quraiza
• 627 - Perang Bani Lahyan
• 627 - Perang Ghaiba
• 627 - Perang Khaibar
• 628 – Perang Humain.
• 628 - Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaybiyah dengan suku Quraish.
• 630 - Muhammad menaklukkan Makka.
• 630 - Perang Hunayn
• 630 – Usaha menyerang Tabuk
• 632 - Muhammad wafat
• 632 - Abu-Bakr, Kalifah pertama, bersama dengan Umar, Kalifah kedua, meneruskan penyerangan militer untuk menaklukan Arabia di bawah Islam.
• 633 - Perang Oman
• 633 - Perang Hadramaut
• 633 - Perang Kazima
• 633 - Perang Walaja
• 633 - Perang Ulleis
• 633 - Perang Anbar
• 634 - Perang Basra
• 634 - Perang Damascus
• 634 - Perang Ajnadin
• 634 - Kalifah Abu Bakr wafat. Umar Ibn al-Khattab jadi Kalifah kedua
• 634 - Perang Namaraq
• 634 - Perang Saqatia
• 635 - Perang Jembatan
• 635 - Perang Buwaib
• 635 - Penaklukan Damascus
• 635 - Perang Fahl
• 636 - Perang Yermuk
• 636 - Perang Qadsiyia
• 636 - Penaklukan Madain
• 637 - Perang Jalula
• 638 - Perang Yarmouk
• 638 – Tentara Muslims menaklukan tentara Romawi dan masuk ke Yerusalem
• 638 - Penaklukan Jazirah
• 639 - Penaklukan Khuizistan dan Usaha Menyerang Mesir
• 642 - Perang Sinar di Persia
• 643 - Penaklukan Azarbaijan
• 644 - Penaklukan Fars
• 644 - Penaklukan Kharan.
• 644 - Umar dibunuh. Uthman Ibn ‘Affan jadi Kalifah ketiga
• 647 - Penaklukan pulau Cypress
• 648 – Perang terhadap Byzantium
• 651 – Perang Naval melawan Byzantium.
• 654 - Islam menyebar ke Afrika Utara
• 656 - Uthman dibunuh. Ali jadi Kalifah keempat
• 658 - Perang Nahrawan
• 659 – Perang Mesir
• 661 - Ali dibunuh
• 662 - Mesir jatuh dalam kekuasaan Islam
• 666 - Sisilia diserang Muslim
• 677 - Pengepungan atas Constantinople
• 687 - Perang Kufa
• 691 - Perang Deir ul Jaliq
• 700 - Perang Afrika Utara
• 702 - Perang Deir ul Jamira
• 711 – Muslim menyerang Gibraltar
• 711 – Penaklukan Spanyol
• 713 - Penaklukan Multan
• 716 - Perang Konstantinopel
• 732 - Perang Tours di Perancis
• 740 - Perang Nobles.
• 741 - Perang Bagdoura di Afrika Utara
• 744 - Perang Ain al Jurr.
• 746 - Perang Rupar Thutha
• 748 - Perang Rayy.
• 749 - Perang Isfahan
• 749 - Perang Nihawand
• 750 - Perang Zab
• 772 - Perang Janbi di Afrika Utara
• 777 - Perang Saragossa di Spanyol


PEPERANGAN NEGARA NABI SETELAH KAFILAH UTHMAN [23]
[23] Timeline of Islamic History, 7th Century, “Wikipedia” Answers.com
http://www.answers.com/topic/timeline-o ... th-century


• 656 - Uthman dibunuh. Ali ibn Abi Talib menjadi Kalifah keempat.
• 656 - Perang Onta. (Tentara Ali vs. tentara Aisyah).
• 657 - Ali memindahkan ibukota dari Medina ke Kufa di Iraq, 170 km sebelah selatan Baghdad.
• 657 - Perang Siffin
• 658 - Perang Nahrawan.
• 659 - Mesir ditaklukkan oleh Muawiyah I.
• 660 - Ali menguasai kembali Hijaz dan Yemen dari kekuasaan Muawiyah.
Muawiyah I mengumumkan sebagai Kalifah di Damascus.
• 661 - Ali dibunuh. Digantikan oleh anaknya Hasan bin Ali dan pengikutnya. Muawiyah jadi satu²nya Kalifah.
• 662 - Muslim Kharijit memberontak
• 666 - Penyerangan atas Sicily
• 670 - Maju terus ke Afrika Utara. Uqba bin Nafe menemukan kota Qairowan di Tunisia. Penaklukan atas Kabul.
• 672 - Penaklukan kota Rhodes. Penyerangan atas Khurasan.
• 674 - Tentara Muslim menyebrang ke Oxus. Bukhara menjadi negara kapal.
• 677 - Penaklukan Samarkand dan Tirmiz. Pengepungan atas Konstantinopel.
• 680 - Muawiyah wafat. Yazid I jadi Kalifah.
• 680 - Perang Karbala dan Husayn bin Ali dibunuh.
• 682 - Dari Afrika Utaram Uqba bin Nafe menyebrang samudra Atlantis dan diserang tiba² dan dibunuh di Biskra. Muslim meninggalkan Qairowan dan mundur ke Burqa.
• 683 - Yazid wafat. Muawiya II jadi Kalifah.
• 684 - Abd Allah ibn Zubayr mengumumkan diri sebagai Kalifah di Mekah. Marwan I jadi Kalifah di Damaskus. Perang Marj Rahat.
• 685 - Marwan I wafat. Abd al-Malik jadi Kalifah di Damaskus. Perang Ain ul Wada.
• 686 - Mukhtar mengumumkan diri sebagai Kalifah di Kufa.
• 687 - Perang Kufa antara pasukan Mukhtar and Abd Allah ibn Zubayr. Mukhtar dibunuh.
• 691 - Perang Deir ul Jaliq. Kufa jatuh ke tangan Abdul Malik.
• 692 - Mekka jatuh. Kematian ibn Zubayr. Abdul Malik jadi satu²nya Kalifah
• 695 - Muslim Kharijite memberontak di Jazira dan Ahwaz. Perang
Karun. Penyerangan atas Kahina di Afrika Utara. Tentara Muslim lagi² mundur ke Barqa. Tentara Muslim memasuki Tranoxiana dan menduduki Kish.
• 700 - Penyerangan terhadap kaum Berber di Afrika Utara.
• 711 - Muslim mulai menaklukan Sindh di Afghanistan.
• 717 - Muslims berusaha menguasai ibukota Byzantium dan gagal.
• 732 - Di Perang Poitiers, serangan Islam ditahan di Perancis, tapi terus masuk ke Asia dan Afrika.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Sat Nov 14, 2009 7:15 am

Bab 4 – Kalifah Abu Bakr Al-Sidiq

Abu Bakr merupakan Kalifah pertama yang menggantikan Muhammad. Dia adalah ayah dari Aisyah, istri favorit Nabi Muhammad. Al-Qimni menulis tentang Abu Bakr dalam bukunya yang berjudul: Shukran … Ibn Laden (Terima kasih … Ibn Laden), di bawah artikel yang berjudul “Murtad dalam Islam.” Dia ingin membuktikan bahwa aturan murtad adalah hasil karangan Kafilah pertama Abu Bakr untuk menyingkirkan para saingan politiknya yang menentang kepemimpinannya. Para Muslim ahli Islam jaman sekarang bersikeras bahwa aturan murtad sah berdasarkan hadis Sahih Al-Bukhari, dengan demikian Abu Bakr hanyalah mengikuti apa yang ditetapkan Nabi, yakni membunuh Muslim yang murtad meninggalkan Islam. Dalam artikel ini, al-Qimni membantah pandangan itu.

Sumber pertama bagi para ahli Islam adalah hadis di mana Nabi berkata, “Siapapun yang meninggalkan agamanya, bunuh dia” (Qimni 2004:202). Ini adalah hadis Sahih Bukhari [24] dan merupakan hadis terpercaya bagi umat Muslim dan para ahli Islam. Sumber kedua adalah kisah di mana para sahabat Nabi membunuh seseorang yang meninggalkan Islam. ‘Umar Ibn Al-Khatab protes terhadap pembunuhan itu karena para sahabat tidak memberi makan orang tersebut selama tiga hari dan tidak memintanya untuk kembali memeluk Islam sebelum mereka membunuhnya. Sumber ketiga, yang bahkan lebih dipercaya para ahli Islam adalah Perang Murtad yang terkenal di mana Abu Bakr sebagai Kalifah Pertama memerangi beberapa suku Arab yang tidak mau bayar zakat setelah kematian Nabi. Al-Qimni mempertanyakan ketiga sumber ini dan juga mempermasalahkan penafsiran baru akan murtad yang diciptakan para ahli Islam dari Pusat Riset Islam Universitas Al-Azhar.


Tafsir Baru Murtad

Beberapa ahli Islam Al-Azhar yang terkenal dan terpandang mengeluarkan anjuran baru akan hukum murtad dalam Islam. Menurut anjuran ini, jika seorang Muslim murtad dan meninggalkan umat Islam maka nasibnya terserah pada walinya. Jika kemurtadannya tidak membahayakan umat Muslim maka walinya harus selalu memintanya bertobat sepanjang hidupnya dan karenanya dia tidak usah dibunuh. Tapi jika kemurtadannya membahayakan umat Muslim maka walinya diperbolehkan untuk membunuhnya
(ibid: 199)

Penafsiran murtad yang baru ini bertentangan dengan aturan klasik Hudd [125] tentang murtad yang disetujui oleh semua aliran Islam. Berdasarkan Syariah Islam, Muslim melakukan murtad jika dia meninggalkan Islam dan memeluk agama lain. Murtadin harus diberi waktu tiga hari untuk bertobat dan dibunuh di hari keempat. Dalam penafsiran lama, murtadin diberi waktu tiga hari untuk bertobat dan kembali memeluk Islam dan jika tak mau maka akan dibunuh di hari keempat. Tapi dalam penafsiran baru terdapat dua jenis tindakan murtad dan masing² jenis mendapat penanganan yang berbeda. Dalam kasus pertama: Muslim meninggalkan Islam dan memeluk agama lain tapi tindakannya tidak membahayakan Islam dan umat Muslim sehingga walinya tidak perlu membunuhnya. Tapi jika murtadin membahayakan Islam dan umat Muslim, maka walinya harus membunuhnya. Bagi Qimni, penafsiran baru oleh ilmuwan Al-Azhar ini bertujuan untuk menyingkirkan para pemikir liberal sekuler di Mesir dan menghalalkan pembunuhan atas Faraj Foda.

Sumber aturan murtad pertama berasal dari Sahih Bukhari yang “dianggap sebagai buku Islam yang paling dipercaya setelah Qur’an” (ibid:202). Al-Qimni menolak hadis ini atas beberapa alasan. Pertama, jika memang betul Nabi yang mengatakan isi hadis itu maka mengapa Kalifah Abu Bakr tidak menyinggung hal ini tatkala ‘Umar Ibn Al-Khattab dan beberapa sahabat Nabi lainnya tidak setuju dengan keputusan Abu Bakr melakukan Perang Murtad? (ibid: 205). Terlebih lagi, jika hadis itu memang benar² ada mengapa para sahabat tersebut berani menentang perintah Nabi bunuh murtadun? Dari pemikiran ini, Qimni mengambil kesimpulan bahwa isi hadis ini hanyalah hasil karangan di masa selanjutnya. Qimni juga menolak sumber kedua yang berdasarkan kisah ‘Umar, dengan alasan yang sama.

Tentang Peperangan Murtad di jaman Kalifah Pertama Abu Bakr, ‘Umar Ibn Al-Khattab berkata, “Kekalifahan Abu Bakr merupakan suatu kesalahan, semoga Allâh melindungi umat Muslim dari kejahatan kekalifahan tersebut dan jika ada orang lain yang mencoba mengulangi kesalahan kekalifahan itu, maka dia harus dibunuh” (ibid: 213). Tampaknya, ‘Umar menentang tindakan Abu Bakr membunuhi masyarakat suku² Arab yang menolak kepemimpinannya dan caranya dia dipilih jadi Kalifah pertama. Menurut Qur’an, pemilihan pemimin harus dilakukan melalui Shura (setiap suku ditanyai pendapatnya dan harus mendapatkan persetujuan mereka). Sewaktu Abu Bakr jadi Kalifah pertama, banyak suku² yang tidak diberitahu dan mereka yang menolak dituduh sebagai murtad dan lalu dibunuh. Al-Qimni menyinggung satu kejadian di mana ketua suku² Khazrig yang sangat tua dan tidak bisa jalan lagi, tidak mau mengakui kekalifahan Abu Bakr. ‘Umar jadi jengkel terhadap ketua suku tersebut dan menginjak tubuhnya sewaktu dia berbaring di lantai saat berbicara bersama ‘Umar dan Abu Bakr. Ada pula pemimpin lain yang menolak mengakui kekalifahan Abu Bakr dan melarikan diri ke Syria. Abu Bakr mengirim seseorang untuk membunuhnya. Beberapa sumber Islam lain mengatakan bahwa jin telah membunuhnya karena dia buang air kecil di sebuah tembok dan berdiri di atas kaki jin itu. Al-Qimni mengatakan banyak Muslim ahli Islam jaman sekarang yang masih percaya cerita takhayul seperti itu.

Menurut al-Qimni, peperangan yang dikobarkan Abu Bakr bertujuan untuk menundukkan suku² Arab yang tidak mau menerimanya sebagai Kalifah setelah kematian Nabi karena mereka tidak diminta pendapatnya terlebih dahulu dan karenanya mereka berhenti bayar zakat. ‘Umar dan beberapa sahabat protes terhadap peperangan ini karena masyarakat suku² tersebut masih Muslim dan membunuh mereka tentunya bertentangan dengan Hadis Nabi di mana dia mengatakan “Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang² sampai mereka mengaku tiada illah lain selain Allâh dan Muhammad adalah Rasul Allâh” (ibid: 214). Selama Perang Murtad, para tentara Kalifah “melakukan perbuatan kriminal mengerikan karena menenggelamkan para Muslim di dalam sumur², mendorong mereka dari gunung² yang tinggi, dan membakar yang lain dengan api” (ibid). Al-Qimni mengisahkan bagaimana komandan tentara Islam yakni Khalid Ibn Al-Walid, salah satu orang yang dijanjikan surga oleh Nabi, telah membunuh ketua suku Kana’a karena memiliki istri yang cantik jelita. Ketua suku dan masyarakatnya memberitahu Khalid bahwa mereka adalah Muslim. Untuk membuktikan bahwa mereka beriman pada Islam, mereka memberitahu Khalid bahwa mereka baru saja melakukan sholat maghrib. Khalid memerintahkan mereka untuk menyerah dan meletakkan pedang² mereka dan berjanji untuk negosiasi setelah itu. Ketika masyarakat Kana’a telah menyerah, Khalid memerintahkan tentaranya untuk membunuh mereka. Menurut al-Qimni, tujuan Khalid membunuh ketua suku Kana’a adalah karena dia menginginkan istrinya yang cantik. Khalid meniduri wanita ini di malam yang sama Khalid membunuh suaminya dan ini berarti dia melanggar Qur’an karena dia tidak menunggu masa ‘Ida (tiga bulan dan sepuluh hari). Ketika Khalid kembali ke Medina, ‘Umar menemuinya dan berkata padanya, “Kau telah membunuh Muslim dan mengambil istrinya. Aku bersumpah demi Allâh aku akan merajam kamu sampai mati” (ibid: 217). Akan tetapi, Kalifah Abu Bakr tidak menganggap Khalid berzinah dan karenanya Khalid tidak perlu dirajam. ‘Umar tidak menerima keputusan Abu Bakr dan berkata pada Khalid, “Kau adalah musuh Allâh karena kau telah membunuh seorang Muslim dan memperkosa istrinya” (ibid).

Bagi al-Qimni, orang² seperti Khalid dan Abu Bakr tidak layak dihormati karena pelanggaran² yang mereka lakukan. Al-Qimni lalu menjelaskan bahwa sejarah peperangan ini lalu dipalsukan dan diajarkan pada anak² sekolah sebagai peperangan yang benar (ibid 219). Peperangan ini merupakan peperangan politik dan bertujuan untuk memaksa suku² Arab mengakui Kalifah Abu Bakr, yang sebenarnya dipaksakan pada mereka. Dengan begitu, Muslim manapun yang protes terhadap kepemimpinan Abu Bakr lalu dituduh sebagai murtadin dan layak dibunuh, istrinya dirampas, uangnya dirampok, dan anak²nya dijual sebagai budak di pasar budak (ibid 248). Keputusan Abu Bakr ini “sangat mengerikan dan merupakan hukum teroris yang sampai hari tetap berlaku di Syariah Islam dengan merampas iman orang², mencekik leher² mereka, mempermalukan wanita² mereka, menghancurkan kehormatan mereka, memperbudak anak² mereka, dan merampas uang dan kekayaan mereka” (ibid: 250). Tiada ahli Muslim yang berani mengatakan pada para Muslim bahwa “para sahabat Nabi protes terhadap keputusan Kalifah, dan diantara mereka adalah ‘Umar Ibn Al-Khatab meskipun ‘Umar menarik kembali protesnya ketika dia mengucapkan “Aku melihat Allâh meletakkan keputusan dalam hati Abu Bakr dan aku lalu tahu itu merupakan hal yang benar” (ibid:251). Al-Qimni menyimpulkan bahwa, “kebanyakan keputusan dibungkus sebagai perintah illahi untuk menjadi pedang bagi leher para Muslim, padahal keputusan itu dibuat oleh manusia biasa saja. Contohnya, Al-Bukhari memilih sebagian hadis sebagai Sahih dan menolak hadis lainnya karena berdasarkan alasan perasaannya menentukan yang mana hadis yang benar dan yang salah. Dengan demikian, al-Bukhari telah berperan sebagai tuhan dan pengarang buku illahi yang disetujui semua ahli Islam sebagai buku yang paling dipercaya setelah buku Allâh”(ibid).

Penafsiran baru Hukum Murtad oleh ilmuwan Al-Azhar berarti, “dapat mengartikan hasil penyelidikan ilmiah ahli Islam manapun sebagai tindakan kriminal, melarang pemikiran baru apapun, sehingga akal ini tidak boleh berpikir, dan ketika kau melakukan penyelidikan dan mendapatkan kesalahan dalam Syariah, maka kau dengan cepat lalu dituduh murtad dan darahmu jadi halal, hanya karena kau telah menemukan kesalah dari hukum itu dan kesalahan penerapan hukum dan juga hakim pelaku hukum” (ibid: 252). Al-Qimni menunjuk pada tiga peristiwa baru² ini di mana para ahli Islam menggunakan Hukum Murtad untuk mencegah para pemikir Islam mengulas pandangan mereka akan Islam.

Kejadian pertama adalah pembunuhan pemikir liberal Muslim Mesir yakni Dr. Faraj Foda. Salah seorang ahli Islam Al Azhar bernama Dr. Mahmoud Mazroat berkata “siapapun yang mencoba mencegah Syariah Allâh dan ingin menerapkan hukum buatan manusia adalah seorang murtad dan halal bagi umat Muslim untuk memilih siapapun untuk melaksanakan Hudd bagi murtadin tersebut” (ibid: 208). Karena Fatwa ini dan banyak Fatwa lainnya yang dikeluarkan para ahli Al-Azhar, Dr. Faraj Foda dibunuh di tahun 1992 oleh sekelompok Muslim fanatik.

Kejadian kedua terjadi pada diri al-Qimni sendiri. Sebuah Fatwa dari editor koran Islam The Truth (Kebenaran) dikeluarkan bagi al-Qimni di tanggal 8 Mei, 1999. Fatwa ini menyatakan, “Dr. Sayyid Al-Qimni berani menciptakan keraguan akan kewajiban Syariah atau kepercayaan yang penting dalam Islam yang tidak akan diragukan oleh Muslim manapun, kecuali jika orang itu adalah murtadin. Dia menyangkal Sunnah Nabi dan orang yang berani menyangkal hal itu adalah Kafir dan hal ini disetujui oleh berbagai ahli Islam” (ibid: 209). Karena Fatwa ini al-Qimni mengalami banyak penindasan dan penyerangan dari pihak hukum, Muslim fanatik, dan para ahli Islam Al-Azhar.

Kejadian ketiga berhubungan dengan ahli Islam Al-Azhar Nasr Hamid Abu Zayd yang berbeda dengan kebanyakan ahli Islam Al-Azhar dalam segala hal. Nasr Hamid Abu Zayd merupakan seorang Mujtahdin (ahli Islam, dipercaya layak menafsirkan Syariah) terbaik diantara para ahli Islam Al-Azhar. Akan tetapi, karena pandangan barunya akan Islam, maka “polisi menyerang rumahnya dan merampas semua tulisan dan penanya karena dianggap berbahaya bagi ketenangan negara Mesir” (ibid).

Al-Qimni menyimpulkan penjelasannya yang panjang lebar tentang murtad dengan mengatakan “berdasarkan apa yang kami ungkapkan, menuduh Muslim sebagai murtadin karena dia menyangkal satu dari kewajiban Islam, merupakan tindakan hukum teror, di tangan teroris, digunakan oleh teroris, dan dilakukan oleh teroris” (ibid: 239). Dengan demikian, al-Qimni menganggap bahwa Hukum Murtad Islam adalah hukum teroris untuk mengontrol dan meneror siapapun yang berani menolak sebagian hukum fundamental Islam dalam Syariah. Pada kenyataannya, banyak pandangan fundamental yang tidak berasal dari Islam karena tidak terdapat dalam Qur’an atau Sunah. Aturan fundamental Islam ini diciptakan oleh para Kalifah dan diterapkan oleh para ahli Islam untuk menghalalkan pembunuhan terhadap siapapun yang tidak setuju dengan mereka. Oleh karenanya, tindakan mereka bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Al-Qimni menyalahkan Abu Bakr, Kalifah Pertama, karena tidak mengijinkan Fatima putri Nabi mewarisi kekayaan ayahnya setelah Nabi wafat. Abu Bakr mengaku mendengar Nabi berkata, “Kami para Nabi tidak menyerahkan harta warisan kami pada keluarga kami” (Al-Qimni 2004: 242). Selain Abu Bakr, tiada seorang pun yang mengaku mendengar hadis ini dari Nabi. Jadi satu²nya sumber hadis ini adalah Abu Bakr sendiri. Al-Qimni berkata secara sarkastik bahwa mungkin Abu Bakr mendengar hadis ini ketika dia berduaan saja dengan Nabi dalam sebuah gua. Selain hadis ini, Abu Bakr mengisahkan hadis satu lain yang menghalalkan keputusannya untuk mewarisi tanah² milik Nabi sebelum Nabi wafat. Ketika Ali dan Fatima datang menemui Abu Bakr untuk meminta tanah² milik Nabi sebagai warisan bagi mereka, Abu Bakr mengaku mendengar Nabi berkata, “jika Allâh memberi makan seorang Nabi, Dia menyerahkan makanan bagi orang yang berkuasa setelah Nabi itu” (ibid, hal. 243). Dan orang yang berkuasa setelah Nabi wafat tentunya adalah Abu Bakr. Al-Qimni mengutip perdebatan antara Fatima dan Kalifah Abu Bakr, yang tercantum dalam kitab Tabaqaat dari Ibn Sa’ad [26]:
[26] Kitab Tabaqaat dari Ibn Sa’ad merupakan salah satu tafsir Qur’an, kumpulan Hadis yang paling terpercaya dalam literatur Islam. Ibn Sa’ad hidup di jaman Kalifah² dan pemimpin awal Islam.

Fatima: Siapakah yang mewarisi harta milikmu setelah kau mati?
Abu Bakr: Putraku dan keluargaku.
Fatima: Kalau begitu, mengapa kau mewarisi harta Nabi dan bukan kami yang mewarisinya?
Abu Bakr: Wahai putri Rasul Allâh, aku tidak mewarisi emas dan perak dari ayahmu.
Fatima: Dan bagianmu dari Khaybar dan tanah² milik ayahku.
Abu Bakr: Aku mendengar Nabi berkata, “Kami para Nabi, tidak mewariskan harta kami pada keluarga kami.”
Fatima: Allah telah berkata dalam bukuNya “Sulaiman mewarisi harta Daud.”


Ketika Fatima menyadari bahwa Abu Bakr tidak akan menyerahkan harta Nabi padanya, Fatima datang ke mesjid untuk menghadapi Abu Bakr di depan para Muslim Al-Ansar atau Muslim Medina dan mengucapkan pesan yang panjang lebar dan berakhir dengan kata² “perangi imam² Kafur [27] yang tak beriman sampai mereka tobat” (ibid, hal. 244). Yang dimaksud Fatima sebagai imam² adalah Abu Bakr dan ‘Umar karena mereka tidak mengijinkan Fatima mewarisi harta dan tanah Nabi.
[27] Kafur = kafir, yakni orang² yang tak beriman pada Islam.

Al-Qimni menerangkan bahwa Fatima wafat di usia 30 tahun, hanya enam bulan setelah kematian ayahnya. Fatima tidak pernah mengeluh sakit apapun sebelumnya, dan penyebab kematiannya pun tak diketahui. Karena alasan ini, al-Qimni menduga bahwa Abu Bakr membunuh Fatima sama seperti yang dilakukannya terhadap pemimpin² suku² Arab Muslim yang menentangnya.

====================================
Ini tambahan keterangan tentang pertikaian Fatima dan Abu Bakr berkenaan tentang harta warisan Nabi.
Sahih Bukhari Volume 4, Book 53, Number 325
Dikisahkan oleh Aisyah:
Setelah kematian Rasul Allâh, Fatima putri Rasul Allâh meminta Abu Bakr As-Siddiq untuk memberikan bagian warisannya yang diterima Rasul Allâh dulu sebagai Fai (jarahan perang yang didapat tanpa peperangan karena kafir melarikan diri) yang diberikan Allâh pada Nabi. Abu Bakr berkata pada Fatima, “Nabi suci SAW berkata, ‘Kekayaan kami tidak boleh diwariskan, apapun yang kami (para Nabi) tinggalkan adalah Sadaqa (digunakan jadi sedekah).” Fatima, putri Rasul Allâh jadi marah dan tidak mau lagi berbicara pada Abu Bakr, dan terus berlaku demikian sampai dia mati. Fatimah tetap hidup sampai enam bulan setelah kematian Nabi suci SAW.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Sun Nov 15, 2009 5:00 am

Bab 4 – Kalifah ‘Umar ibn al-Khattab

Muhammad wafat sebelum mampu mewujudkan impiannya untuk merampok dan menjarah kekayaan, wanita² dan anak² di luar wilayah Arabia. Pengganti Muhammad yang pertama yakni Abu Bakr juga wafat sebelum bisa mewujudkan impian Nabi. Kalifah Abu Bakr menghabiskan dua tahun masa kekuasaannya untuk menaklukkan suku² Arab yang dituduh murtad dari Islam setelah Nabi wafat. Akan tetapi, di masa Kekalifahan Kedua ‘Umar bin Al-Khattab (10 tahun) dan masa Kekalifahan Ketiga Uthman ibn ‘Affan (13 tahun), dunia non-Arab diserang tentara Muslim dan para sahabat Nabi mewujudkan impian Nabi.

Di masa pemerintahan Kalifah Umar, tentara Muslim menyerang banyak negara dan mencapai daerah Asfahan di Iran sampai Tripoli di Libya.

1. Di tahun 14 H (14 Hijriah = 635 M), Damaskus, Hams, Balabak dan al-Basra diserang dan ditaklukan.
2. Di tahun 15 H (636 M), Yordania diserang dan tentara Muslim mengalahkan tentara Romawi di Perang al-Yarmuk, dan menaklukan Persia di Perang al-Qadisia.
3. Di tahun 16 H, tentara Muslim menyerang al-Ahwaz dan al-Madain di Perang Jawala, dan Kaisar Persia kalah dan melarikah diri di Perang Yazidiger. Di tahun yang sama Takrit di sebelah selatan Irak diserang, dan tentara Muslim juga menyerang Qansarin, Halab, Antakia, Soroog, dan Qirqasa.
4. Di tahun 18 Hijriah, Jawan, al-Rahad, Simisa, Haran, Nasibien, al-Mawsil, dan al-Jazeera diantara Iraq and Syria diserang dan dijarah.
5. Di tahun 19 Hijriah, sebagian tanah kekuasaan Caesar ditaklukan.
6. Di tahun 20 H, tentara Muslim menyerang sebelah barat Mesir dan kota Tastar di Iran.
7. Di tahun 21 H, tentara Muslim menyerang Alexandria di Mesir, Nahawand di Iran, dan Barqah di Libya.
8. Di tahun 22 H, tentara Muslim menyerang Azerbaijan, al-Dinior, Masibzank, Hazan, al-Rai, dan Asker dan Qamwams di Asia Tengah, dan Tripoli di Libya.
9. Di tahun 23 H, Kalifah Umar dibunuh, tentara Muslim menyerang Kerman, Sajistan, Makran, dan Isfahan.

Dalam pertempuran berdarah ini, ribuan kafir dibunuh oleh tentara Muslim. Banyak para wanita yang diperkosa dan banyak anak² yang diperbudak. Banya rumah² yang dibakar, dijarah, dan ribuan keluarga dihancurkan. Para Muslim merampoki dan menjarahi kekayaan daerah² tersebut, membagi-bagi kekayaan, para wanita, dan anak² diantara mereka sendiri. Mereka tidak ingin berkhotbah tentang Islam, tapi hanya ingin merampok, memperbudak, dan memperkosa. Hal ini mengingatkan kita akan perkataan Yesus tentang Setan di mana dia berkata, “Pencuri (Setan) datang hanya untuk mencuri, untuk membunuh dan untuk merusak. Tetapi Aku datang untuk memberi kehidupan dan hidup yang berkelimpahan.” Untuk mengetahui seberapa besar kerusakan dan kehancuran yang dilakukan para Mulsim Mujahidin terhadap negara² yang mereka serang, mari baca keterangan penulis sejarah Islam al-Tabari di buku²nya yang berjilid-jilid banyaknya, yang berjudul al-Tarik atau Sejarah. Salah satu tentara Muslim Arab yang bernama Mahafaz mengisahkan pengalamannya dalam peperangan itu. Di tahun 16 H, dia ikut dalam Perang Jawala di Iran. Dia berkata, “Kami memasuki kota dan aku melihat wanita yang bagaikan seekor kijang dalam kejelitaannya dan wajahnya bercahaya bagaikan matahari. Aku ambil dia dan bajunya dan dia jadi Jariah atau ‘budak wanita’ milikku.” (al-Tabari, volume 4, hal. 26-27).

Tujuan peperangan dan penyerangan ini tidak hanya untuk memperbudak dan memperkosa para wanita di negara² tersebut, tapi juga untuk merampok harta kekayaan. Dalam beberapa tahun saja, para sahabat Nabi jadi begitu kayaraya sehingga kekayaan mereka berjumlah jutaan dinar. Beberapa contoh berikut menunjukkan berapa banyak harta yang dirampas para sahabat Nabi dari negara² yang mereka serang.

1. Ketika Kalifah ketiga Uthman dibunuh, dia memiliki ‘ribuan atas ribuan’ dan lima ratus rib dirham dan seratus ribu dinar. Hal ini sama dengan kekayaan jaman modern jutaan dollar AS.
2. Al-Ziabri ibn al-Awam memiliki harta sebanyak limapuluh dari ribuan atas ribuan dirham dan dua ratus ribu dinar. Selain itu dia punya banyak perumahan di Alexandria, Basra, dan Kufa. Ketika dia mati, dia meninggalkan sebuah taman yang besar yang berharga ribuan atas ribuan dan enam ratus ribu dinar.
3. Abd el-Rahman ibn Awof ketika wafat meninggalkan emas yang dipecah-pecahkannya dengan menggunakan kampak.
4. Sa’ad ibn Abi Waqas meninggalkan harta sebanyak dua ratus dan limapuluh ribu dirham.
5. Ibn Masood meninggalkan harta sebanyak sembilan puluh ribu dirham.
6. Talha bin Abdi Allâh memiliki cincin emas yang bertakhtakan berlian. Nafkahnya sehari-hari datang dari tanahnya di Irak yang menghasilkan uang sebanyak seribu dirham atau empat ratus atau lima ratus dirham setiap tahun. Ketika dia wafat, dia meninggalkan dua ribu dan dua ratus ribu dirham dan dua ratsu ribu dinar. Selain itu, dia memiliki ratusan kendi penuh dengan emas.
7. Umar bin al-A’as meninggalkan harta sebanyak tujuh puluh kendi berisi emas murni. Ketiak dia hampir mati, dia menawarkan emasnya pada putra²nya tapi mereka menolaknya karena yakin harta itu dimiliki melalui cara yang tidak benar.
8. Ketika Zayd wafat, dia meninggalkan emat yang dipotong-potong dengan kampak.

(Tabaqat dari ibn Sa’ad, hal. 53, 76, 77, 157; al-Masoodi dalam buku Murouj al-Zahab, volume 1, hal. 544-545, Khitat al-Maqarizi, volume 1, hal. 140, 564).


Pembunuhan Kalifah ‘Umar

‘Umar seringkali memperingatkan gubernur² Muslimnya untuk tidak mengirim budak apapun atau mualaf manapun ke ibukota negara Islam di Medina. Dia takut bahwa orang² yang kehilangan istri, anak, dan sanak keluarga gara² diserang Muslim akan balas dendam terhadapnya. ‘Umar menyebut orang² non-Arab dengan sebutan ‘Alwoj yang berarti kotor atau najiz. Di dalam setiap suratnya pada para gubernurnya, dia memerintahkan agar mereka menjauhkan para ‘Alwoj dari dia. Meskipun demikian, salah satu ‘Alwoj ini berhasil datang ke Medina dan membunuh ‘Umar dalam usaha balas dendam atas kehancuran keluarganya.

Abu Loloa adalah seorang Persia yang jadi tawanan perang Muslim di kota Nahawand, Persia. Tentara Arab Muslim menghancurkan rumahnya, keluarganya, anak²nya, dan negaranya, padahal masyarakat Iran tidak pernah mengganggu umat Muslim sama sekali. Setelah Abu Loloa kehilangan segalanya, dia dijadikan budak milik majikan Muslimnya yakni al-Muqirah bin Sha’ba. Untuk alasan tertentu, al-Muqirah mengirim Abu Loloa ke Medina. Ketika Abu Loloa masuk Medina, dia sedih sekali melihat anak² Persia dan negara² lain memenuhi jalanan Medina. Dia mencari anak²nya sendiri diantara mereka tapi tak mendapatkannya. Tangisan anak² ini membuat hatinya semakin hancur. Menurut Ibn Sa’ad, “Abu Loloa sering menemui anak² tawanan perang dan dia menangis tiap kali dia melihat mereka dan mengusap kepala mereka dengan tangannya, dan dia berkata, ‘Orang² Arab memakan hatiku.’ Maka dia membunuh ‘Umar atas pembalasan bagi yang dilakukan ‘Umar terhadap para tawanan perang.” (Ibn Sa’ad, al-Tabaqat al-Kubara, volume 3, hal. 271). Abu Loloa membunuh Kalifah ‘Umar di dalam mesjid saat sholat subuh. Dia berpura-pura jadi Muslim dan masuk mesjid untuk sholat di belakang Kalifah ‘Umar. Saat Kalifah ‘Umar dan umat Muslim sedang berlutut dalam bersholat, Abu Loloa maju dan menusuk mati ‘Umar.

Setelah pendahuluan singkat tentang kepemimpinan ‘Umar, mari kita kembali pada al-Qimni dan apa pendapatnya tentang ‘Umar. Al-Qimni menyalahkan ‘Umar ibn al-Khattab, sang Kalifah kedua, karena melarang apa yang diijinkan dalam Qur’an. Qur’an mengijinkan praktek nikah Muta’a (nikah sementara atau nikah untuk senang² saja) (Q 4:24), tapi Kalifah ‘Umar melarangnya dan mengancam menghukum siapapun yang berani melakukan hal itu (Al-Qimni 2004: 236). Ketika Nabi hampir meninggal, Nabi meminta pengikutnya untuk memberinya sebuah kertas agar dia menulis surat untuk mencegah umat Muslim menyeleweng dari aturan Islam. ‘Umar berkata, biarkan dia sendirian, dia itu gila (ibid) (*). Selain itu, setelah berkuasa ‘Umar terkenal suka menyuruh pengikutnya memata-matai rumah² orang di malam hari.
=================
(*)Adadeh: Keterangan 'Umar menuduh Muhammad xintink ini bisa dilihat pula di sini: Succession to Muhammad (Penggantian Jabatan Muhammad).
Penyakit Muhammad yang Terakhir
Muhammad meminta ijin dari istri²nya untuk boleh menghabiskan hari² terakhirnya bersama istri favoritnya Aisyah dan dia mati dalam keadaan kepalanya berbaring di pangkuang Aisyah. Dikisahkan bahwa sebelum dia mati, Muhammad memberi kepercayaan besar pada Ali dengan meminta Ali memimpin sholat² di mesjid sebagai imam - ini merupakan peranan besar dan penting yang ditunjukkan Muhammad sendiri. Berdasarkan sejarah Islam, imam mesjid selalu merupakan pemimpin umat Muslim; Muhammad meminta sebuah secarik kertas dan pena tapi Umar menolaknya dan mengatakan Muhammad mengalami gangguan di kepalanya.

Keterangan lain akan hal ini bisa juga dilihat dalam berbagai hadis Sahih:
Sahih Muslim Book 013, Number 4016:
Ibn Abbas reported: When Allah's Messenger (may peace be upon him) was about to leave this world, there were persons (around him) in his house, 'Umar b. al-Kbattab being one of them. Allah's Apostle (may peace be upon him) said: Come, I may write for you a document; you would not go astray after that. Thereupon Umar said: Verily Allah's Messenger (may peace be upon him) is deeply afflicted with pain. You have the Quran with you. The Book of Allah is sufficient for us. Those who were present in the house differed. Some of them said: Bring him (the writing material) so that Allah's Messenger (may peace be upon him) may write a document for you and you would never go astray after him And some among them said what 'Umar had (already) said. When they indulged in nonsense and began to dispute in the presence of Allah's Messenger (may peace be upon him), he said: Get up (and go away) 'Ubaidullah said: Ibn Abbas used to say: There was a heavy loss, indeed a heavy loss, that, due to their dispute and noise. Allah's Messenger (may peace be upon him) could not write (or dictate) the document for them.
terjemahan:
Ibn Abbas melaporkan: Ketika Rasul Allâh hampir meninggal dunia, ada beberapa orang di sekitarnya di dalam rumahnya, dan 'Umar bin al-Khattab adalah salah satu dari mereka. Rasul Allâh berkata: Mari, aku akan menulis sebuah keterangan bagi kalian, agar kalian tidak sesat setelah ini. Mendengar itu 'Umar berkata: Sudah jelas Rasul Allâh sangat terganggu karena sakit. Kalian sudah punya Qur'an. Buku Allâh itu sudah cukup bagi kita. Orang² di rumah itu saling berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berkata: Ambilkan alat² tulis agar Rasul Allâh bisa menulis keterangan bagimu dan kamu tidak jadi sesat setelah dia wafat dan sebagian yang lain setuju dengan apa yang dikatakan 'Umar. Tatkala mereka mulai bertengkar di hadapan Rasul Allâh, Rasul Allâh berkata: Pergi kalian. 'Ubaidullah berkata bahwa Ibn Abbas sering mengatakan: Ini merupakan kehilangan yang besar, benar² kehilangan yang besar karena terjadi keributan dan pertikaian itu. Rasul Allâh tidak jadi menulis keterangan bagi mereka.

Sahih Muslim Book 013, Number 4014:
Sa'id b. Jubair reported that Ibn 'Abbas said: Thursday, (and then said): What is this Thursday? He then wept so much that his tears moistened the pebbles. I said: Ibn 'Abbas, what is (significant) about Thursday? He (Ibn 'Abbas) said: The illness of Allah's Messenger (may peace be upon him) took a serious turn (on this day), and he said: Come to me, so that I should write for you a document that you may not go astray after me. They (the Companions around him) disputed, and it is not meet to dispute in the presence of the Apostle. They said: How is he (Allah's Apostle)? Is he talking nonsense? Try to learn from him (this point). He (the Holy Prophet) said: Leave me. I am better in the state (than the one in which you are engaged). I make a will about three things: Turn out the polytheists from the territory of Arabia; show hospitality to the (foreign) delegations as I used to show them hospitality. He (the narrator) said: He (Ibn Abbas) kept silent on the third point, or he (the narrator) said: But I forgot that.
terjemahan:
Sa'id bin Jubair mengisahkan bahwa Ibn 'Abbas berkata: Kamis dan lalu berkata: Apakah sekarang hari Kamis? Dia lalu menangis tersedu-sedu sampai air matanya jatuh membasahi kerikil². Aku berkata: Ibn 'Abbas, memangnya ada apa dengan hari Kamis? Ibn 'Abbas berkata: Penyakit Rasul Allâh jadi tambah parah di hari itu, dan dia berkata: Mari ke sini, agar aku bisa menuliskan padamu sebuah keterangan yang mencegahmu sesat setelah aku mati. Mereka (para sahabat di sekelilingnya) bertengkar, dan seharusnya mereka tidak bertengkar di hadapan Rasul. Mereka berkata: Bagaimana keadaan Rasul Allâh? Apakah dia menceracau (ngomong ngawur)? Coba belajar dari dia sekarnag. Sang Nabi berkata: Tinggalkan aku. Keadaanku lebih baik (daripada keadaan kalian). Aku membuat tiga keinginan: Singkirkan masyarakat pagan dari daerah Arabia; bersikap ramahlah terhadap para utusan asing seperti yang biasa kulakukan. Penyampai kisah berkata bahwa: Ibn Abbas diam saja tentang hal yang ketiga, atau dia (penyampai kisah) berkata: Tapi aku lupa pesan yang ketiga.

Sahih Muslim Book 013, Number 4015:
Sa'id b. Jubair reported from Ibn Abbas that he said: Thursday, and what about Thursday? Then tears began to flow until I saw them on his cheeks as it they were the strings of pearls. He (the narrator) said that Allah's Messenger (may peace be upon him) said: Bring me a shoulder blade and ink-pot (or tablet and inkpot), so that I write for you a document (by following which) you would never go astray. They said: Allah's Messenger (may peace upon him) is talking nonsense.
terjemahan:
Sa'id bin Jubair melaporkan dari Ibn Abbas bahwa dia berkata: Kamis, dan ada apa sih di hari Kamis? Lalu airmatanya berjatuhan sampai membasahi pipinya bagaikan untaian permata. Dia (pengisah) berkata Rasul Allâh berkata: Bawa padaku tulang bahu dan botol tinta (atau meja tulis dan tinta), agar aku bisa menulis keterangan yang bisa diikuti kalian agar kalian tidak sesat. Mereka berkata: Rasul Allâh menceracau (ngomong ngawur).

bersambung ...
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby I Want You » Mon Nov 16, 2009 12:07 pm

di tunggu lanjutannya ! ngk mau debat dulu :green: , ceritanya seru nih. =D> =D> =D>
User avatar
I Want You
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1035
Joined: Thu May 07, 2009 2:20 pm

Re: Buku: Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad

Postby Adadeh » Wed Nov 18, 2009 5:15 am

Peraturan ‘Umar

Ketika tentara Islam menyerang daerah² Kristen seperti Mesir, Yordania, Syria, Palestina, dan Lebanon, Kalifah kedua yakni 'Umar ibn al-Khattab memaksa penduduk daerah itu untuk menandatangani peraturan dengan Pemerintah Muslim yang menjajah mereka:

1. Kami tidak akan membangun dalam kota kami dan lingkungan perumahan kami, biara² baru, gereja² baru, tempat² ibadah baru, dan kami pun tidak akan memperbaiki di siang atau malam hari bangunan² itu jika rusak atau jika terletak di daerah umat Muslim.
2. Kami akan membiarkan pintu pagar kami terbuka bagi orang yang bertamu atau pengelana. Kami akan menyediakan tempat tinggal bagi semua Muslim yang melewati jalanan kami selama tiga hari.
3. Kami tidak akan menyediakan tempat persembunyian bagi mata² yang dicari Muslim di dalam gereja² atau rumah² kami.
4. Kami tidak akan mengajar Qur’an kepada anak² kami.
5. Kami tidak akan menyebarkan agama kami di muka umum atau mengajak siapapun memeluk agama kami. Kami tidak akan menghalangi siapapun anggota keluarga kami memeluk Islam jika mereka menghendakinya.
6. Kami akan menunjukkan rasah hormat pada Muslim, dan kami akan berdiri dari tempat duduk jika Muslim ingin duduk di situ.
7. Kami tidak akan meniru Muslim dalam memakai pakaian, turban, sepatu, atau cara menyisir rambutnya. Kami tidak boleh bicara seperti cara mereka berbicara, dan kami pun tidak boleh meniru cara Muslim memberi julukan hormat (kunya).
8. Kami tidak akan naik pelana, tidak akan mengasah pedang, atau mengenakan atau membawa senjata.
9. Kami tidak akan menorehkan tulisan Arab pada tanda cap/stempel kami.
10. Kami tidak akan menjual minuman beralkohol.
11. Kami akan mencukur bagian depan kepala kami (tanda Arab yang berarti hinaan)
12. Kami akan pakai pakaian dengan cara sama dan akan selalu mengikatkan zunar di sekeliling pinggang kami.
13. Kami tidak akan menunjukkan salib² kami atau buku² kami di jalanan atau di pasar Muslim. Kami akan bertepuk tangan perlahan dalam gereja² kami. Kami tidak akan menangis keras² jika ada anggota kami yang mati. Kami tidak akan menggunakan penerang di jalanan atau pasar Muslim. Kami tidak akan mengubur jenazah kaum kami dekat umat Muslim.
14. Kami tidak mengambil budak yang telah disediakan bagi Muslim.
15. Kami tidak akan membangun rumah yang lebih tinggi daripada rumah² Muslim.
16. (Ketika aku membawa surat ini pada Umar, semoga Allâh berkenan padanya, dia menambahkan, “Kami tidak akan menyerang Muslim.”)
17. Kami menerima keadaan² ini bagi kami dan bagi masyarakat kami, dan sebagai imbalan kami menerima keamanan.
18. Jika kami melanggar peraturan ini, kami kehilangan status dhimmi, dan kami akan dihukum.
19. ‘Umar ibn al-Khattab memerintah: Tandatangani pernyataan mereka, tapi tambahkan dua hal dan tetapkanlah mereka dengan tambahan persyaratan ini: “Mereka tidak boleh menebus siapapun yang dijadikan tawanan oleh umat Muslim,” dan “Siapapun yang menyerang Muslim dengan sengaja akan kehilangan perlindungan yang disetujui dalam perjanjian ini.”

‘Umar Ibn dikenal umat Muslim sebagai sebagai hakim atau penguasa yang paling bijak yang pernah ada di muka bumi. Karena alasan inilah maka dia dijuluki ‘Umar al Faruq yang berarti ‘Umar yang Bijak. Akan tetapi Aturan ‘Umar di atas tidak sesuai dengan julukan itu. Al-Qimni mengutip keterangan Ibn Kathir bagaimana ‘Umar memutuskan masalah tuduhan zinah.

Ini merupakan kasus penting yang menunjukkan bagaimana ‘Umar ibn al-Khattab menerapkan hukum rajam dalam kasus zinah … Kisah ini merupakan kisah sejarah terkenal dalam sejarah Arab. Kisah ini terjadi di tahun 17 Hijriah. Tiada buku Islam yang tidak memuat kisah ini. Tiga sahabat Nabi yang penting yakni Abi Bikra, Nafi ’a bin al-Harith, dan Shibal binMa’abad mengaku di hadapan ‘Umar ibn al-Khattab bahwa mereka menyaksikan al-Mughirah ibn Shu`bah berzinah dengan Um Jamil sewaktu al-Mail masuk ke dalam al-Mukahal. Para tiga sahabat mengaku melihat perzinahan tanpa rasa malu atau takut. Ketika sahabat Nabi yang keempat yakni Zaiad ibn Shamalah muncul, Kalifah ‘Umar meyakinkannya bahwa dia tidak akan mengecewakan al-Mughirah ibn Shu`bah. Lalu dia menanyakan apa yang dilihat Zaiad.
Dia menjawab, “Aku melihat mereka, dan mendengar dengusan nafas yang kuat, dan kulihat dia telungkup di atas perut dan payudara Um Jamil.”
‘Umar berkata, “Apakah kau melihat dia memasuk-keluarkan penisnya saat al-Mail masuk ke dalam al-Mukahal?”
Dia menjawab, “Tidak. Tapi aku melihat dia mengangkat kedua kaki Um Jamil dan tubuhnya naik turun diantara kedua kaki Um Jamil. Dan aku melihat dia melakukannya dengan sepenuh tenaga dan aku mendengar dengusan nafas yang keras.”
‘Umar bertanya, “Apakah kau melihat dia memasuk-keluarkan penisnya saat al-Mail masuk ke dalam al-Mukahal?”
Dia menjawab, “Tidak.”
‘Umar berkata, “Allahu Akbar.
[28] Panggil al-Mughirah ibn Shu`bah kemari dan beri ketiga saksi delapan puluh cambukan.” (ibid: 2001, mengutip dari Ibn Kathir, al-Bedyia wa al-Nihaia, hal. 83-84).
[28] Allah Maha Besar

Untuk membuktikan tuduhan zinah dalam Islam, harus ada empat saksi yang mengaku di pengadilan bahwa mereka menyaksikan pelaku melakukan perzinahan. Sebelum istri favorit Nabi yakni Aisyah dituduh berzinah dengan pemuda Muslim tampan Safwan bin Al-Muatal Al-Sulami, perzinahan bisa dibuktikan cukup dengan saksi 2 Muslim saja atau 1 Muslim + 2 Muslimah saja. Akan tetapi, setelah kasus Aisyah dan Safwan, Qur’an lalu menambahkan jumlah saksi jadi 4 Muslim. [29]
[29] Lihat kasus “Aisyah Dituduh Berzinah” di hal. 131 → belon diterjemahin.

Qur’an, Sura An-Nuur (24), ayat 4:
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.

Meskipun demikian, setelah kasus al-Mughirah ibn Shu`bah dan Um Jamil, Kalifah ‘Umar ibn al-Khattab memperkenalkan penggunaan benang sebagai metoda penting dalam membuktikan tuduhan zinah. Jadi, selain harus ada 4 saksi, Syariah menuntut saksi membawa sebuah benang dan memasukkan benang itu diantara tubuh pezinah wanita dan tubuh pezinah pria. Jika benang tidak berhasil melalui kedua tubuh mereka, maka hal ini membuktikan penis pria masuk ke dalam vagina wanita. Beginilah bukti yang diminta Kalifah ‘Umar dari keempat saksi yang memang melihat al-Mughirah ibn Shu`bah dan Um Jamil bersetubuh. Melihat cara ‘Umar menangani kasus zinah ini, apakah ‘Umar itu layak dijuluki sebagai hakim yang paling bijak yang pernah ada di muka bumi?
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 6615
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Next

Return to Buku2 bhs Inggris yg Diterjemahkan kedlm bhs Indonesia

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests