




iamthewarlord wrote:Thanks bang Kipkay..
sambil menandai thead yg bagus ini.

KipKay wrote:Bagi umat muslim Al-Quran merupakan mukjizat terbesar Muhammad. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5.
Mari kita lihat sejarah Al-Quran :
Al-Qur'an memberikan dorongan yang besar untuk mempelajari sejarah dengan secara adil, objektif dan tidak memihak. Dengan demikian tradisi sains Islam sepenuhnya mengambil inspirasi dari Al-Qur'an, sehingga umat Muslim mampu membuat sistematika penulisan sejarah yang lebih mendekati landasan penanggalan astronomis.
Al-Qur'an tidak turun sekaligus. Al-Qur'an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.
Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur'an.
Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih:
Suwaid bin Ghaflah berkata, "Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman. Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Qur'an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, 'Bagaimana pendapatmu tentang isu qira'at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira'atnya lebih baik dari qira'at orang lain. Ini hampir menjadi suatu kekufuran'. Kami berkata, 'Bagaimana pendapatmu?' Ia menjawab, 'Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.' Kami berkata, 'Pendapatmu sangat baik'."
Menurut Syaikh Manna' Al-Qaththan dalam Mahabits fi 'Ulum Al Qur'an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur'an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).
Anda sudah melihat ada tulisan yang saya bold, Mari kita diskusikan :
1. Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan.
Jika begitu, Al-Quran itu tidak hanya dituliskan oleh Muhammad sendiri, Al-Quran bahkan ditulis oleh banyak orang. Jika begitu bukankah seharusnya yang digelarkan Nabi bukan hanya Muhammad sendiri, bisa juga Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab bahkan sahabat2 Muhammad? Apakah Al-Quran masih merupakan mukjizat terbesar dari Muhammad. Pikirkan lagi.
2. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.
Jika begitu, bukankah ada kemungkinan masih ada tulisan yang telat dikumpulkan atau bahkan sudah mati bersama penghafalnya? Dan jika begitu, masih beranikah umat Islam menyebut Al-Quran sebagai kitab yang paling lengkap dan paling sempurna?
3. Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku.
Standarisasi Al-Quran? Bukankah kata umat Islam, Al-Quran merupakan kitab langsung dari Allah ke tangan Muhammad? Jika mengalami standarisasi itu berarti Al-Quran juga karangan manusia bukan? Jika mengalami standarisasi dan penulisan yang baku, tidak menepis kemungkinan isi dalam Al-Quran juga dapat berubah bukan?

"pusing"
Point POint pertanyaan yg saya perbesar yg anda ajukan sama sekali tidak menunjukkan bukti kebohongan alquran..itu hanya pertanyaan2 pancingan yg mengarahkan org lain agar menjadi bingung...didunia ILMIAH harus ada disiplin ilmu untuk menguji benar atau tidaknya suatu teori.terbukti anda tidak menggunakannya.hanya didunia plotonoisme sajalah ada praduga tetapi tidak ada bukti..sebaiknya anda belajar alquran dulu secara benar baru buktikan,disini jelas jelas anda tidak sanggup mengajukan ayat2 mana yang kata anada bohong.
NOTE BOOK:
1. JAngan asal ngomong kalo ilmu cuma secuil.
2.BELAJAR yang rajin yah! baru nanti anda ajak diolag saya.
3.Saya insyaAllah siap diajak dialog kalo cuma menghadapi satu org kafir seperti anda.
4.Jangan laaah membuat thread yang anda yakini salah atau benar tetapi anda tidak tau mana yang benar dan mana yg salah!



pusing wrote:Bagi saya sama sekali tidak terperinci alasannya:
1.Standart kebenarannya belum jelas menggunakan teori apa?
2.Anda belum mengajukan ayat2 mana saja yang mendukung semua yg anda ajukan,jadi belum menentu salah benarnya.
2.Judul thread dan rinciannya belum ada kesimpulannya dalam arti baru hanya bolak balik dari cerita ke praduga.
3.Saya sendiri belum menemukan bukti kebohongan alquran selama saya belajar alquran.
kalo boleh saya sarankan noh kaya bung hilman.ajukan ayat2 yg menurutnya salah,baru nanti saya ajukan dalil untuk meluruskan.Kalo begini mah kaya anak2 nakal yang ga mau belajar kerjaannya cuma maen doang.
.....!!!! mengajukan ayat qoran (kayaknya pola pikir kamu kagak nyambung deh)..??? kita ini KAFIR disini menyatakan qoran itu cuma kebohongan dan karangan muhammad saja...??? yang nanya kamu belajar Qoran siapa..?? lagi pula siapa yang ngomong soal kelemahan ayat-ayat qoran di tread ini..?? bedakan pemahaman :

pusing wrote:Bagi saya sama sekali tidak terperinci alasannya:
1.Standart kebenarannya belum jelas menggunakan teori apa?
1. Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan.
Jika begitu, Al-Quran itu tidak hanya dituliskan oleh Muhammad sendiri, Al-Quran bahkan ditulis oleh banyak orang. Jika begitu bukankah seharusnya yang digelarkan Nabi bukan hanya Muhammad sendiri, bisa juga Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab bahkan sahabat2 Muhammad? Apakah Al-Quran masih merupakan mukjizat terbesar dari Muhammad. Pikirkan lagi.
1. Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan.
Jika begitu, Al-Quran itu tidak dituliskan oleh Muhammad sendiri, Al-Quran bahkan ditulis oleh banyak orang. Jika begitu bukankah seharusnya yang digelarkan Nabi bukan hanya Muhammad sendiri, bisa juga Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab bahkan sahabat2 Muhammad? Apakah Al-Quran masih merupakan mukjizat terbesar dari Muhammad. Pikirkan lagi.







6986. (HR: Bukhari)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata:"Ketika Nabi saw dikunjungi di dalam rumah itu terdapat beberapa orang lelaki, termasuk Umar bin Al-Khatab, beliau bersabda :"Kemarilah, aku akan menulis untuk kalian sebuah catatan, yang kalian tidak akan tersesat setelah itu selamanya".
6073. (HR: Bukhari)
Dari Sa`d bin Abi Waqqash ra. ia berkata: "Nabi saw. pernah mengajarkan beberapa kalimat kepada kami sebagaimana diajarkan tulis menulis, yaitu " "Wahai Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari sifat kikir, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari rasa takut, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kembali ke usia renta, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari cobaan dunia dan siksa kubur" ".
Terbukti sudah bahwa Muhamad bukanlah **** seperti yang diyakini oleh umatnya, Muhamad adalah seorang figur yang cerdik dan terpelajar.

iamthewarlord wrote:Mas HvD, selamat datang di FFI
Salam kenal dan selamat merayakan Idul Fitri.
Semoga mas Hvd dapat memberikan argumen dan pencerahan di forum ini dengan lebih baik dan tentunya berdasarkan Quran dan hadist shahih.
iamthewarlord wrote:Mengedani apakah muhammad dapat membaca, anda dapat merefer ke :
6986. (HR: Bukhari)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata:"Ketika Nabi saw dikunjungi di dalam rumah itu terdapat beberapa orang lelaki, termasuk Umar bin Al-Khatab, beliau bersabda :"Kemarilah, aku akan menulis untuk kalian sebuah catatan, yang kalian tidak akan tersesat setelah itu selamanya".
6073. (HR: Bukhari)
Dari Sa`d bin Abi Waqqash ra. ia berkata: "Nabi saw. pernah mengajarkan beberapa kalimat kepada kami sebagaimana diajarkan tulis menulis, yaitu " "Wahai Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari sifat kikir, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari rasa takut, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kembali ke usia renta, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari cobaan dunia dan siksa kubur" ".
Terbukti sudah bahwa Muhamad bukanlah **** seperti yang diyakini oleh umatnya, Muhamad adalah seorang figur yang cerdik dan terpelajar.
Atau anda bisa ke thread ini :
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/buku-islam-runtuhnya-mitos-kebutahurufan-nabi-muhammad-t14511/
iamthewarlord wrote:Terbukti sudah bahwa Muhamad bukanlah **** seperti yang diyakini oleh umatnya, Muhamad adalah seorang figur yang cerdik dan terpelajar.

Pada suatu malam sekitar tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611, ketika Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira', Malaikat Jibril mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia diminta membaca. Ia menjawab, "Saya tidak bisa membaca". Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama.

Users browsing this forum: No registered users