. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Bila Al-Quran tanpa kata sisipan (dlm tanda kurung)

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Postby johnlegend » Fri Jan 04, 2008 4:46 pm

loh anda kan bilang begini

quote:
nah karena itu proses penerjemahan al Qur'an tidak bisa asal terjemah, sebagaimana menerjemahkan buku-buku karangan manusia, Dalam al Qur'an harus mengetahui kaidah tafsir dan memperhatikan tafsir-tafsir yang telah masyhur dikalangan ulama' Islam. dan karena itu pula ada tim Pentashih al Qur'an. hal itu dimaksudkan biar tidak terjadi kesalahan dalam proses penerjemahan yang bisa mengakibatkan kesalahan makna yang terkandung jika asal diterjemahkan, secara letter ledge misalnya.

anda, sekali lagi, ternyata tidak mengerti bagaimana proses penerjemahan al Qur'an sehingga tidak menimbulkan salah arti. menerjemahkan dengan sisipan tidak berarti menambah ayat al Qur'an. tentu jelas bedanya antara terjemahan dengan aslinya bukan. atau saya yang gak bias nerangin.? (end of quote)

nah trus gw tanya.. tafsiran ini apa

pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka” (Q 47.4). Ini ditegaskan berulang-ulang: “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Q 9.123).

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (Q 9.5).

Bertempurlah dalam nama Allah dan dijalan Allah. Bertempurlah melawan mereka yg tidak percaya akan Allah. Ciptakan perang suci… Jika kau temui musuhmu yg adalah orang politeis, undang mereka utk memilih tiga pilihan. Jika mereka menjawab salah satu dari tiga ini, kau juga menerimanya dan menahan diri utk melukai mereka. Undang mereka utk menerima islam; jika mereka menerima itu, terimalah dan berhentilah memerangi mereka… jika mereka menolak menerima islam, tuntut jizya (pajak kafir) dari mereka. Jika mereka setuju membayar, terima dan longgarkan tanganmu. Jika mereka menolak membayar pajak, mintalah pertolongan Allah dan lawan mereka.” (Muslim, book 19, no. 4294)

ini kl jadi arti nya apa?
johnlegend
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2058
Joined: Fri Dec 21, 2007 2:14 am

Postby aadil » Sat Jan 05, 2008 9:42 am

Ups. sorry aku mesti baca-baca dulu lagi. tunggu ya
aadil
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 103
Joined: Wed Dec 05, 2007 9:57 am
Location: Surabaya

Postby madison » Sat Jan 05, 2008 11:09 am

iya,
tapi jangan lama-lama yach.
User avatar
madison
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2393
Joined: Tue Sep 25, 2007 6:01 pm
Location: pentagon

Postby aadil » Sat Jan 05, 2008 12:45 pm

Berikut aku kutipkan tafsir dari kedua ayat tersebut, oleh M Guntur Romli:
Ayat-ayat Qital yang bermasalah.
Untuk itu saya mengklasifikannya "ayat-ayat qital" ini menjadi dua:
Pertama, ayat-ayat perang dalam makna defensif (mempertahankan diri).
Ayat-ayat dalam klasifikasi pertama ini menggunakan kata al-qitâl
(peperangan) dan bentuk-bentuk (perubahan) lain dari kata ini, seperti
qâtilû (berperanglah: kata perintah), dan yuqâtilûn (berperang: kata
kerja). Kedua, ayat-ayat perang dalam makna "tekstual" yang ofensif.
Ayat-ayat dalam klasifikasi ke dua ini sangat sedikit ditemukaan
dalaam Al-Quran dan menggunakan kata uqtulû (bunuhlah: kata perintah).

Terdapat makna yang sangat mendasar dan berbeda dari dua macam formasi
kata tersebut. Qâtilû dan yuqâtilûn menggunakan wazn fâ'ala-yufâ'ilu.
Dalam Ilmu Sharaf, jika kata Arab menggunakan wazn tersebut menunjukan
adanya keterlibatan kedua belah pihak dalam satu perbuatan
(al-musyârakah bayn al-itsnayn).

Atas dasar Ilmu Sharaf di atas, makna yuqâtilûn dan qâtilû adalah
keterlibatan dua pihak dalam peperangan (saling berperang). Sedangkan
uqtulû tidak bermakna seperti seperti dua kata di atas. Uqtulû berarti
perbuatan ofensif, membunuh, menyerang dan menyerbu (agresi)

Nah, ayat-ayat Al-Quran yang menggunakan kata qâtilû dan yuqâtilûn
lebih menunjukan makna yang defensif, upaya mempertahankan diri dari
serbuan musuh. Umat Islam diperintah berperang–dengan kata qâtilû atau
yuqâtilûn—karena mereka diserang (diperangi) kaum musyrikin. Menurut
saya ayat-ayat perang dalam klasifikasi pertama tidak bermasalah dan
bisa menjadi tuntutan karena bertujuan mempertahankan diri.

Kita bisa menyimak makna dan tujuan ayat-ayat perang dalam klasifikasi
pertama dari dua ayat di bawah ini: Allah berfirman dalam surat
Al-Hajj ayat 39, Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang
diperangi (li al-ladzîna yuqâtalûna) Dalam Surat Al-Baqarah ayat 190,
dan perangilah (qâtilû) orang-orang yang memerangi kamu (al-ladzîna
yuqâtalûnakum)

Ayat-ayat Al-Quran klasifikasi kedua yang menggunakan uqtulû dalam
arti penyerbuan, pembunuhan, dan penyerangan sepihak. Allah Swt.
berfirman dalam Surat Al-Tawbah ayat 5, Apabila sudah habis
bulan-bulan haram, maka bunuhlah (faqtulû) orang-orang musyrikin di
mana saja kamu jumpai mereka, tangkap, kepung, dan intailah mereka
dari tempat pengintaian. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 191 Allah
berfirman, Dan bunuhlah mereka (uqtulûhum) di mana saja kamu jumpai
mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kamu.

Selintas makna kedua ayat ini sadis dan mengerikan. Tidak
tanggung-tanggung kedua ayat ini sering digunakan untuk menunjukan
Islam sebagai agama yang suka membunuh, menyerang, dan haus darah.
Seorang penulis Barat bernama Robert Spencer menulis dalam prolog
bukunya Islam Unveiled (Islam ditelanjangi: Terbitan Paramadina) dan
antum pasti sangat mengenal buku ini:

….coba buka lembaran-lembaran Al-Quran dan anda pasti menemukan
pernyataan seperti ini: bunuhlah orang-orang yang menyembah berhala
(musyrikin) dimanapun kalian jumpai.

Perintah semacam ini menginspirasikan orang-orang seperti Amir Mawia
Siddiqi, anak seorang pengusaha kecil di Pakistan, untuk bersumpah:
"Saya, Amir Mawia Siddiqi, anak Abdul Rahman Siddiqi, bersaksi di
hadapan Allah bahwa saya akan menyembelih kaum musyrik dalam seluruh
kehidupan saya … Semoga Allah memberi saya kekuatan dalam mewujudkan
sumpah ini…." (halaman 1).

Dua ayat "kontroversial" di atas harus dipahami melalui "konteks
eksternal" yaitu sebab-sebab turunnya ayat (asbâb al-nuzûl) dan
"konteks internal" berkaitan dua ayat tersebut (al-munâsabah baina
al-ayat) dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Sebab turunnya ayat 5 Surat At-Tawbah di atas sebagai respon terhadap
sikap kaum musyrikin yang mengkhianati perjanjian damai Hudaybiyah.
Peperangan ini berkecamuk akibat pengkhianatan kaum musyrikin Makkah
terhadap perjanjian damai dan mereka lah yang memulai peperangan. Hal
ini dipertegas oleh ayat 13 sesudahnya, Mengapa kamu tidak memerangi
(tuqatilun) orang-orang yang merusak sumpahnya, padahal mereka telah
keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan mereka yang memulai memerangimu?

Peperangan tersebut tidak membabi buta, jika di antara kaum musyrikin
bertaubat, atau di antara mereka meminta perlindungan, maka kaum
muslim wajib memberi kesempatan untuk bertaubat dan memberi
perlindungan. Kelanjutan dari ayat 5 disebutkan… tapi jika mereka
bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka berilah
mereka kebebasan berjalan. Sungguh! Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Kemudian dipertegas lagi dengan ayat sesudahnya (ayat 6),
Dan jika seseorang diantara kuam musyrikin meminta perlindungan
kepadamu, maka lindungilah ia, supaya ia sempat mendengar firman
Allah, kemudian antarlah mereka ke temapat yang aman.

Dari perspektif konteks ekternal (asbâb al nuzûl) dan konteks internal
(al-munâsabah baina al-ayât) menunjukan bahwa ayat 5 Surat Al-Taubah
memiliki sebab khusus, yaitu penghianatan kaum musyrikin terhadap
perjanjian damai. Ayat tersebut selain memerintahkan peperangan, tapi
juga menjamin perlindungan bagi kaum musyrikin yang bertaubat dan
meminta perlindungan.

Sedangkan ayat 191 Surat Al-Baqarah tidak bisa dilepaskan dengan
ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Ayat sebelumnya (190) berbunyi, Dan
perangilah (qâtilû) orang-orang yang memerangi kamu (al-ladzina
yuqatilunakum) di jalan Allah, tetapi kamu jangan melampui batas,
karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas. Sedangkan
dua ayat sesudahnya (192-193) berbunyi, Jika mereka berhenti (memusuhi
kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
perangilah mereka sehingga tidak ada "fitnah" lagi sehingga ketaatan
(din) hanya untuk Allah semata, jika mereka berhenti (memusuhi kamu),
maka tidak ada permusuhan lagi kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Jadi perintah membunuh (waqtulû) berada dalam posisi perang dan saling
membunuh. Dalam keadaan seperti ini, seseorang kalau tidak membunuh,
akan dibunuh. Bukan berarti perintah membunuh dalam segala kondisi.
Dalam sepenggal kalimat dalam satu ayat 191 disebut, ...fa'in
qâtalûkum faqtulûhum…(jika mereka memerangi kamu, maka bunuhlah
mereka). Perintah membunuh dalam dua ayat ini tetap dalam konteks
perang yang defensif, mempertahankan diri dari agresi musuh.

Jadi, ini sekelumit pemahaman terhadap "ayat-ayat qital" itu dengan
dua versinya (al-qital; uqtulu) yang menurut hemat saya tetap dalam
konteks defensif (mempertahankan diri) bukan ofensif.

semoga puas.
aadil
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 103
Joined: Wed Dec 05, 2007 9:57 am
Location: Surabaya

Postby johnlegend » Sat Jan 05, 2008 1:26 pm

tong kosong nyaring bunyi nya.. ngga usa panjang2.. kesimpulan nya apa? tafsiran dari ayat mulia dari quran yg gw posting itu apa..

kl mo maen silat lidah.. ngga menunjuk'an yg sebenar nya.
johnlegend
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2058
Joined: Fri Dec 21, 2007 2:14 am

Postby madison » Sat Jan 05, 2008 11:33 pm

@aadil.

lho panjang-panjang ngutip,
pertanyaan gue kok ga dijawab sich?!!
User avatar
madison
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2393
Joined: Tue Sep 25, 2007 6:01 pm
Location: pentagon

Re: Bila Al-Quran tanpa kata sisipan (dlm tanda kurung)

Postby kutukupret » Fri Sep 11, 2009 4:10 pm

mana neh muslimer-nya ???

apa makna bahwa Quran itu Lengkap DENGAN kata SISIPAN (dlm tanda kurung) ???
User avatar
kutukupret
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6400
Joined: Mon Dec 17, 2007 6:31 pm

Re:

Postby RajaPerang » Fri Sep 11, 2009 7:12 pm

Jibaok wrote:Allah yang Maha Suci itu manusia ??? kapir3 bodoh3 berbangga dengan kebodohannya. :lol: :lol: :lol:

Siapa bilang Dia manusia? Dia Tuhan yang menjelma mnjadi manusia....
anda mau bilang mana mungkin? Untuk Tuhan gua GA ADA yang mustahil untuk di lakukan..emang dewa lu yang mesti di tolong
wwwkwkwkwkwkwkkw....
RajaPerang
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 520
Joined: Tue Aug 18, 2009 8:52 pm

Re: Bila Al-Quran tanpa kata sisipan (dlm tanda kurung)

Postby kapal_kertas » Sat Sep 12, 2009 4:18 am

Waduh, dari quran tertua yang ditemukan, boro2 pake sisipan, A-I-U-nya juga ga ada. Satu ayat bisa macem2 artinya. Jadi untuk paham, kudu dibikin teknik tafsir. Nah dari teknik inilah quran dibajak, eh dipahami.

The Quran - written 70 yrs after Mohammeds death?
http://www.youtube.com/watch?v=-x1JsyFrpKg
[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=-x1JsyFrpKg[/youtube]
User avatar
kapal_kertas
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 543
Joined: Wed Nov 05, 2008 5:39 pm

Previous

Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users