. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di Indonesia.

Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby little_david » Wed Dec 23, 2009 12:46 am

SUMBER : http://surabaya.detik.com/read/2007/06/ ... gkat-ngaji

Fatichatun Nadhiroh - detikSurabaya


Surabaya - Bagi yang biasa mengenakan kerudung hendaknya wajib berhati-hati.
Jika tidak pengalaman yang menimpa Roikhanah (13) asal Sidomukti Krian Sidoarjo bisa menimpa Anda. Jarum pentul yang dipakai ke kerudung malah tertelan.
Ceritanya, Roikhanah ketakutan terlambat belajar mengaji sehingga siswi kelas I SMP di kawasan Krian tersebut mengalami nasib sial. Anak kedua dari Musyarifah tertelan jarum dan harus dilarikan ke rumah sakit. "Waktu itu anak saya buru-buru ikut mengaji di masjid dekat rumah. Karena kerudungnya belum dipasang, anak saya memasang jarumnya sambil lari," kata Musyarifah kepada salah satu petugas RSU dr Soetomo Surabaya, Jumat (29/6/2007).
Saat mengetahui jarumnya tertelan dan masuk ke tenggorokan, Roikhanah langsung kembali ke rumah dan mengaku kesakitan pada tenggorokannya. "Anak saya berusaha bercerita jika tenggorokannya kemasukan jarum. Saat ditunjukkan jarumnya 'nyangkut' di tenggorokan, saya kaget dan langsung saya bawa ke rumah sakit," tambahnya.
Roikhanah pun langsung dibawa ke RS Anwar Medika. Oleh tim dokter dirujuk ke RSU dr Soetomo karena harus menjalani perawatan lebih intensif.
Saat ini, Roikhanah menjalani perawatan di ruang THT setelah menjalani operasi pengambilan jarum di tenggorokannya.



SUMBER : http://surabaya.detik.com/read/2007/06/ ... il-diambil

Surabaya - Setelah menjalani proses pengambilan jarum pentul yang tertelan dan nyangkut di tenggorokannya, kini Roikhanah (13) menjalani perawatan dan observasi di RSU dr Soetomo Surabaya, Jumat (29/6/2007).
Remaja berkerudung yang masih duduk di bangku SMP kelas 1 asal Sidomukti Krian Sidoarjo ini menjalani perawatan di ruang THT , setelah tim medis melakukan endoskopi atau pemasukan selang ke dada melalui mulut yang terdapat kameranya.
Kepala Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSU dr Soetomo, dr Urip Murtedjo SpB-KL mengatakan, tim medis telah berhasil melakukan pengambilan jarum pentul. "Pasien harus menjalani pembiusan total untuk mengambil benda itu. Setelah itu sebuah selang yang dilengkapi komputer dimasukkan dan mengambil jarumnya," katanya saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (29/6/2007). Urip menambahkan, setiap pasien yang telah menelan benda asing harus menjalani observasi.
Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya infeksi dan pembengkakkan. Tim dokter akan melihat sejauh mana benda tersebut mengganggu. "Bila terdapat luka atau pembengkakan, maka harus dilakukan rawat inap. Jika tidak, pasien tetap menjalani observasi," jelasnya.
Menurut salah satu petugas di rumah sakit, si pasien mengeluhkan dadanya yang terasa sakit. "Saat dirujuk ke RSU dr Soetomo, jarum yang nyangkut di tenggorokan, pelan-pelan turun ke dada.
Pasien sempat merasakan nyeri pada tenggorokan dan dadanya," tambahnya. Rencananya, bila kondisi sudah membaik siang ini pasien diperbolehkan pulang.
Seperti diberitakan, jarum pentul yang biasa digunakan untuk kerudung tertelan Roikhanah ketika buru-buru berangkat mengaji di masjid dekat rumah.
Karena kerudungnya belum dipasang, dia memasang jarumnya sambil lari. Naas, jarumnya justru tertelan.



Wah,pasti ntar ngajinya tambah nyaring kayaknya suaranya.Pake dipasang susuk " JARUM PENTUL " dulu sih ?
Inilah salah satu kelebihan memakai jilbab
little_david
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 489
Joined: Fri Oct 16, 2009 8:12 am

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby a_man » Wed Dec 23, 2009 10:06 am

Makanya jangan berlebihan, slim. Untung ada alat canggih kapir, klo gak gimana nasib tu anak ?

Mau ibadah pake pakaian taqwa, koq malah sial kena azab.
DIMANAKAH KEBENARAN ?
User avatar
a_man
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4320
Joined: Mon Sep 01, 2008 5:12 pm
Location: http://code.google.com/p/a-manffi/downloads/list

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Pederasty » Wed Dec 23, 2009 11:07 pm

Roikhanah beruntung jarum-nya cuman pentul, ada alat canggih buatan kafir yang bisa tolong...,
coba deh kalo jarumnya syekh puji, ketelan lewat mulut manapun alat canggih buatan kafir nggak boleh menolong...,
Jarumnya syekh puji HALAL!!!

:finga: :lol: :green: :rolling: ImageImageImage :rolling: :green: :lol: :finga:
Pederasty
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 403
Joined: Sat Jul 18, 2009 2:27 am
Location: Indonesia Bagian Kafir

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Yes Nobody » Sat Dec 26, 2009 10:23 pm

Kenapa anda begitu bahagia dengan penderitaan orang lain hanya karena berbeda agama?
Yes Nobody
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 138
Joined: Wed Dec 23, 2009 7:51 pm

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby walet » Sat Dec 26, 2009 11:02 pm

Yes Nobody wrote:Kenapa anda begitu bahagia dengan penderitaan orang lain hanya karena berbeda agama?


Emang Islam gak gembira melihat Amerika di bom al qaeda?
Disini semua teriak sukurin, akhirnya amerika hancur.
Ingat kata Amin Rais saat amerika kena krisis?
Akhirnya saya bisa tidur dengan nyenyak.
walet
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5973
Images: 16
Joined: Wed Feb 11, 2009 4:52 am

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Yes Nobody » Sat Dec 26, 2009 11:13 pm

walet wrote:
Emang Islam gak gembira melihat Amerika di bom al qaeda?
Disini semua teriak sukurin, akhirnya amerika hancur.
Ingat kata Amin Rais saat amerika kena krisis?
Akhirnya saya bisa tidur dengan nyenyak.


Tidak benar bahwa kita senang dengan penderitaan orang lain. Orang lain yang ditimpa musibah harus ditolong sesuai dengan kemampuan kita. kalau kita melihat orang di jalan kecelakaan misalnya, ya kita harus menolong sesuai kemampuan kita. Kan kita gak nanya dulu, apa agama kamu, kalau satu agama saya tolong, kalau gak ya udah, mati aja.

Apa begitu, tentu tidak kan?
Yes Nobody
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 138
Joined: Wed Dec 23, 2009 7:51 pm

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby little_david » Mon Dec 28, 2009 8:17 am

Yes Nobody wrote:
Tidak benar bahwa kita senang dengan penderitaan orang lain. Orang lain yang ditimpa musibah harus ditolong sesuai dengan kemampuan kita. kalau kita melihat orang di jalan kecelakaan misalnya, ya kita harus menolong sesuai kemampuan kita. Kan kita gak nanya dulu, apa agama kamu, kalau satu agama saya tolong, kalau gak ya udah, mati aja.

Apa begitu, tentu tidak kan?



Typical orang eslam...

Dibantu salah,gak dibantu apalagi......Enaknya ya disukurin aja kayak gini.SUKURR......SUKURRR.......RASAIN
little_david
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 489
Joined: Fri Oct 16, 2009 8:12 am

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby walet » Mon Dec 28, 2009 9:13 am

Yes Nobody wrote:Tidak benar bahwa kita senang dengan penderitaan orang lain. Orang lain yang ditimpa musibah harus ditolong sesuai dengan kemampuan kita. kalau kita melihat orang di jalan kecelakaan misalnya, ya kita harus menolong sesuai kemampuan kita. Kan kita gak nanya dulu, apa agama kamu, kalau satu agama saya tolong, kalau gak ya udah, mati aja.

Apa begitu, tentu tidak kan?


Itu cuma berlaku untuk sesama Islam.
Di Islam dijelaskan kalau orang lain selain Islam susah, gak boleh dibantu.
walet
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5973
Images: 16
Joined: Wed Feb 11, 2009 4:52 am

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Yes Nobody » Mon Dec 28, 2009 10:08 pm

little_david wrote:

Typical orang eslam...

Dibantu salah,gak dibantu apalagi......Enaknya ya disukurin aja kayak gini.SUKURR......SUKURRR.......RASAIN


Terima kasih bang David atas kemurahan hatinya.
Yes Nobody
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 138
Joined: Wed Dec 23, 2009 7:51 pm

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Yes Nobody » Mon Dec 28, 2009 10:13 pm

walet wrote:Itu cuma berlaku untuk sesama Islam.
Di Islam dijelaskan kalau orang lain selain Islam susah, gak boleh dibantu.


Tolong menolong berlaku buat siapa saja. Tolonglah orang lain semampu kita tanpa memandang agamanya.

Bahkan orang jahat sekalipun kalau melihat orang kecelakaan akan dibantunya. (Walaupun memang ada orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan).
Yes Nobody
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 138
Joined: Wed Dec 23, 2009 7:51 pm

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby walet » Mon Dec 28, 2009 11:16 pm

Yes Nobody wrote:Tolong menolong berlaku buat siapa saja. Tolonglah orang lain semampu kita tanpa memandang agamanya.

Bahkan orang jahat sekalipun kalau melihat orang kecelakaan akan dibantunya. (Walaupun memang ada orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan).


Tapi tidak demikian dengan orang Islam, orang Islam dilarang membantu Kafir khususnya Kristen.
Silakan tanya ayat lengkapnya sama netter pembawa pedang, dia sudah nulis ayatnya lengkap.
Kalau kamu gak tahu berarti kurang baca.

Bisa dibaca disini: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/zakat-tidak-boleh-diberikan-fakir-miskin-yg-kafir-t29347/

daniel-ntl wrote:http://detikislam.com/2008/09/28/seputar-zakat-mal-dan-zakat-fitrah/
SEPUTAR ZAKAT MAL DAN ZAKAT FITRAH


1. Membagikan Zakat Kepada Non Muslim

Tanya :

Mau tanya, bolehkah zakat dibagikan kepada fakir dan miskin yang non muslim? (Wito, Yogyakarta).

Jawab :

Zakat fitrah ataupun zakat mal hanya boleh dibagikan kepada muslim saja. Tidak boleh dibagikan kepada non muslim (kafir).
(Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 94; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 2/883).

Dalil tidak bolehnya memberikan zakat kepada non muslim, adalah sabda Nabi SAW kepada Muadz bin Jabal RA yang diutus oleh Nabi SAW ke Yaman :

“…Maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat pada harta-harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka [di kalangan muslim] dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka [di kalangan muslim].” (HR Bukhari, no 1308; Muslim, no 27; Abu Dawud, no 1351; At-Tirmidzi, no 567; An-Nasa`i, no 2392; Ibnu Majah, no 1773; Ahmad, no 1967).

Namun kepada non muslim yang fakir boleh diberi harta selain zakat, seperti shadaqah, kaffarah, nadzar, dan lain-lain. Demikian pendapat Imam Abu Hanifah, Muhammad bin Al-Hasan, dan Zufar. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 2/883). Hal itu berdasarkan keumuman lafazh “al-fuqara`” (orang-orang fakir) pada nash-nash Al-Qur`an, seperti dalam firman-Nya (artinya) :

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah [2] : 271).

2. Membayar Zakat Perdagangan dalam Bentuk Sembako

Tanya :

Bolehkah zakat perdagangan diwujudkan dalam bentuk sembako (sembilan bahan pokok), seperti beras, gula, minyak goreng, dll? (08122773405).

Jawab :

Para ulama berbeda pendapat mengenai cara mengeluarkan zakat perdagangan (zakat ‘uruudh at-tijarah). Ada dua pendapat :

Pertama, pendapat ulama Hanafiyah (madzhab Hanafi), bahwa boleh memilih antara mengeluarkan zakat dalam bentuk ‘ain (barang dagangannya) atau qimah (nilai barang dagangannya).

Kedua, pendapat jumhur ulama (Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah) bahwa wajib dikeluarkan dalam bentuk nilainya (qimah), bukan dalam bentuk barang yang diperdagangkan. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 2/794-795).

Pendapat yang dianggap rajih (kuat) dan dipilih oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum, adalah pendapat ulama Hanafiyah, yaitu boleh memilih antara membayar dalam bentuk barang dagangannya atau nilainya. Karena terdapat dalil-dalil yang membolehkan amil zakat mengambil nilai (qimah) sebagai ganti dari mengambil harta zakatnya itu sendiri (‘ainul mal). Di antaranya, sebagaimana disebutkan oleh Abu Ubaid, bahwa ‘Amr bin Dinar RA meriwayatkan dari Thawus RA, bahwa Nabi SAW telah mengutus Muadz ke Yaman. Maka Muadz mengambil baju (tsiyab) sebagai ganti zakat gandum (al-hinthah) dan jewawut (asy-sya’ir). (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 168-169; 178).

Jadi zakat perdagangan boleh dikeluarkan dalam bentuk barang yang diperdagangkan atau dalam bentuk nilai barangnya (qimah), yaitu dikeluarkan dalam bentuk mata uang yang beredar (an-naqd al-mutadawal). (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 180).

Berdasarkan ini, maka pedagang yang menjual suatu barang dagangan (misalnya baju), jika nilai barang dagangannya telah mencapai nishab (senilai 85 gram emas atau 595 gram perak; dan sudah berlalu satu tahun / haul), wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 % (dari seluruh nilai barang dagangan termasuk labanya). Bentuknya, dapat berupa barang dagangannya itu sendiri, yaitu baju, atau berbentuk mata uang yang beredar yang senilai. (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 180).

Jadi, bolehkah membayar zakat perdagangan dalam bentuk sembako? Menurut pemahaman kami, boleh. Dengan catatan, sembako itu harus mempunyai nilai (qimah) yang sama dengan nilai zakat perdagangan yang wajib dikeluarkan. Ini dikarenakan zakat perdagangan boleh dikeluarkan dalam bentuk barang yang diperdagangkan, atau dalam bentuk nilainya (qimah). Wallahu a’lam.

3. Membayar Zakat Padi

Tanya :

Kalau zakat pertanian, yaitu padi, bolehkah dikeluarkan sebagian dalam bentuk beras (digiling dulu) dan sisanya dikeluarkan dalam bentuk uang? (Ojon, Yogyakarta).

Jawab :

Menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum, padi (al-aruz) tidaklah termasuk hasil pertanian yang wajib dizakati. Menurut beliau, hasil pertanian yang wajib dizakati hanya 4 (empat) saja, tidak ada yang lain, yaitu : (1) jewawut (asy-sya’ir), (2) gandum (al-hinthah), (3) anggur kering/kismis (az-zabib), dan (4) kurma (at-tamr). (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 162).

Pendapat Syaikh Zallum ini dekat dengan pendapat Imam Ibnu Hazm (madzhab Zhahiri), yang menyatakan bahwa dalam zakat pertanian hanya ada 3 (tiga) jenis yang wajib dizakati, tidak ada yang lain, yaitu : kurma (at-tamr), jewawut (asy-sya’ir), dan gandum (al-qamhu). (Lihat Ibnu Hazm, Al-Muhalla, 2/193, Kitabuz Zakat, mas’alah no 640).

Namun semua fuqaha sepakat (ijma’) bahwa empat jenis tersebut, yaitu jewawut (asy-sya’ir), gandum (al-hinthah), anggur kering (az-zabib), dan kurma (at-tamr) wajib dizakati. Demikianlah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Abdil Barr. (Lihat Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 2/49, Kitabuz Zakat; Ibnul Mundzir, Kitab Al-Ijma’, hal 10, pasal 93; Ibnu Hazm, Maratibul Ijma’, hal. 18, Kitabuz Zakat). Sementara itu para fuqaha berbeda pendapat mengenai wajibnya hasil pertanian lainnya di luar empat jenis di atas. (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, 2/193).

Dalil yang menunjukkan pembatasan (hashr) zakat pertanian hanya pada empat komoditas itu, adalah sabda Nabi SAW kepada Mudaz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ari ketika Nabi SAW mengutus keduanya ke Yaman :

Laa ta’khudza ash-shadaqah illa min haadzihi al-ashnaaf al-arba’ah asy-sya’ir wal-hinthah wa az-zabib wa at-tamr

“Janganlah kamu berdua mengambil zakat, kecuali dari jenis yang empat, yaitu : jewawut (asy-sya’ir), gandum (al-hinthah), anggur kering (az-zabib), dan kurma (at-tamr).” (HR Al-Baihaqi, As- Sunan Al-Kubro, 4/125).

Dalam hadits di atas, kata “janganlah” (laa) dirangkaikan dengan kata “kecuali” (illa). Ini menunjukkan adanya pembatasan (qashr), bahwa zakat yang diambil hanyalah dari empat jenis itu, tidak diambil dari yang lain. (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 162).

Dengan demikian, jelaslah, bahwa padi tidak termasuk hasil pertanian yang terkena kewajiban zakat, maka tidak wajib mengeluarkan zakat padi baik dalam bentuk beras maupun uang yang senilai. Namun jika padi tersebut diperdagangkan, maka padi itu terkena kewajiban zakat perdagangan (‘urudh at-tijarah), jika sudah memenuhi nishab zakat perdagangan dan sudah berlalu satu tahun (haul). Wallahu a’lam.

4. Ukuran Satu Sha’ dalam Zakat Fitrah

Tanya :

Ustadz, tanya, 1 (satu) sha’ itu berapa kilogram? Dan sha’ itu ukuran berat atau volume? (081323174117).

Jawab :

Ukuran zakat fitrah adalah satu sha’ bahan makanan pokok. Sha’ itu adalah ukuran takaran (al-kail), bukan ukuran berat (al-wazan) atau volume. Satu sha’ gandum (al-qamhu) beratnya adalah 2176 gram. (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 60).

Walaupun takarannya sama (satu sha’) akan tetapi setiap biji-bijian akan mempunyai berat yang berbeda. Satu sha’ gandum beratnya tidak sama dengan satu sha’ beras, tidak sama pula dengan satu sha’ jagung, dan seterusnya.

Kami sendiri belum pernah mengadakan percobaan untuk mengukur satu sha’ itu berapa gram untuk beras. Namun ada ulama Indonesia yang sudah mengukur dan menghitungnya. Di antaranya adalah Prof. Mahmud Yunus. Menurut Prof. Mahmud Yunus dalam kitabnya Al-Fiqhul Wadhih Juz 2 hal. 10, 1 sha’ beras itu setara dengan 2187,5 gram beras. Beliau menyatakan :

“Wa yukhriju al-muzakkiyyu ‘an kulli syakhsin shaa’an min al aruz, wa qadruhu kiluwaani wa mi’atun wa sab’atun wa tsamaanuuna wa nishfu qiraamin”

“Muzakki mengeluarkan (zakat fitrah) untuk setiap jiwa sebesar satu sha’ beras, dan kadarnya (beratnya) adalah dua kilogram dan seratus delapan puluh tujuh setengah gram ( 2187,5 gram).” (Mahmud Yunus, Al-Fiqhul Wadhih, Juz 2 hal. 10).

5. Zakat Uang Tabungan

Tanya :

Ustadz, apakah uang tabungan selama satu tahun sama dengan gaji (penghasilan)? Apakah ada zakatnya? Nishabnya berapa? Apakah termasuk zakat penghasilan (zakat profesi)? (Apu El Indragiri)

Jawab :

Uang kertas (an-nuquud al-waraqiyah; fiat money) –baik disimpan di tabungan maupun tidak– wajib dizakati jika memenuhi dua kriteria sebagaimana zakat emas dan perak. Pertama, telah mencapai nishab, yaitu senilai nishab emas (20 dinar/85 gram emas), atau senilai nishab perak (200 dirham/595 gram). Kedua, telah berlalu satu tahun (haul). Zakatnya adalah sebesar 2,5 %. (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 177).

Kewajiban zakat atas uang kertas itu diqiyaskan dengan kewajiban zakat atas emas perak, karena ada kesamaan ‘illat (sebab hukum) pada keduanya (uang kertas dengan emas-perak), yaitu sifat sebagai mata uang (an-naqdiyah) dan sebagai harga (ats-tsamaniyyah). Illat ini adalah illat yang diistinbath (‘illat istinbath) dari berbagai hadits yang mengisyaratkan adanya sifat sebagai mata uang (an-naqdiyah) dan sebagai harga (ats-tsamaniyyah), yang menjadi landasan kewajiban zakat pada emas dan perak. (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 177). Misalnya hadits Nabi SAW :

Fa-haatuu shadaqata ar-riqqah

“Maka datangkanlah (bayarlah) zakat riqqah (perak yang dicetak sebagai mata uang).” (HR Bukhari, dari Ali bin Abi Thalib RA).

Penyebutan kata “riqqah” (perak yang dicetak sebagai mata uang) –dan bukan dengan kata fidhdhah (perak)— menunjukkan adanya sifat sebagai mata uang (an-naqdiyah) dan sebagai harga (ats-tsamaniyyah). Dan sifat ini tak hanya terwujud pada perak atau emas yang dijadikan mata uang, tapi juga pada uang kertas yang berlaku sekarang, meski ia tidak ditopang dengan emas atau perak. Maka uang kertas sekarang wajib dizakati, sebagaimana wajibnya zakat atas emas dan perak. Karena itu, siapa saja yang mempunyai uang yang telah memenuhi dua kriteria, yaitu nishab dan haul, wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5 %. (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 177).

Mengenai nishab, mungkin ada pertanyaan, manakah standar yang dipakai, nishab emas (85 gram emas) ataukah nishab perak (595 gram perak), jika fakta (manath) uang kertas yang ada tidak dijamin oleh emas dan perak seperti halnya di Indonesia?

Dalam masalah ini kami cenderung pada pendapat Wahbah Az-Zuhaili, yang menyatakan bahwa pendapat yang lebih tepat (ashoh), adalah mengunakan nishab emas untuk zakat uang, bukan nishab perak. Sebab nishab emas itu nilainya setara dengan nishab binatang ternak (onta, sapi, dan kambing), juga mengingat meningkatnya standar biaya hidup dan melonjaknya berbagai kebutuhan. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 2/773).

Contoh kasus : jika sekarang (September 2008) harga emas adalah Rp 200 ribu per gram (sebagai contoh saja), berarti nishab zakat uang adalah = 85 gram emas x Rp 200 ribu = Rp 17 juta. Kalau misalkan seseorang punya uang tabungan sebesar Rp 20 juta, berarti uangnya sudah melebihi nishab (Rp 17 juta). Kalau uang yang telah mencapai nishab ini sudah dimilikinya selama satu tahun (haul), dengan standar tahun hijriyah bukan tahun syamsiyah, maka zakatnya adalah = 2,5 % x Rp 20 juta = Rp 500 ribu.

Uang tabungan tidaklah sama atau tidak selalu sama dengan gaji (penghasilan). Uang tabungan dapat berasal dari gaji, sebagaimana dapat pula berasal dari selain gaji, misal dari warisan, pemberian, hadiah, zakat, dan sebagainya.

Jadi, yang ada dalam Syariah Islam itu adalah zakat uang, bukan zakat penghasilan (zakat profesi). Zakat uang itu bersifat umum ditinjau dari segi asal uangnya, baik uang itu berasal dari penghasilan (gaji), maupun dari selain penghasilan.

Kami sendiri tidak setuju dengan apa yang disebut dengan zakat profesi, karena dalil-dalil yang mendasarinya sangat lemah dan terdapat istidlal (penggunaan dalil) yang keliru. Namun bukan di sini tempatnya untuk membentangkan kekeliruan zakat profesi tersebut. Mudah-mudahan di lain waktu kami mendapat kesempatan untuk membahas kekeliruan zakat profesi itu. Sebagai informasi, untuk kritik yang mendalam terhadap zakat profesi, silakan telaah kitab Dr. Al-Yazid bin Muhammad Ar-Radhi, berjudul Zakat Rawatib Al-Muwazhzhafin wa Kasb Ash-hab Al-Mihan Al-Hurrah, (http://www.saaid.net).

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Yogyakarta, 27 September 2008

(27 Ramadhan Mubarak 1429 H)

Muhammad Shiddiq Al-Jawi


sebenarnya zakat itu seperti ini:

http://mengenal-islam.t35.com/MengenalM ... c173760166
ali sina :

Saat ini, para Muslim yang tidak sanggup berperang, menggantinya dengan menyumbangkan zakat. Zakat ini tidak untuk membangun rumah sakit, yayasan yatim piatu, sekolah atau rumah jompo. Sebaliknya, zakat ini digunakan untuk mengembangkan Islam, untuk membangun mesjid, madrasah, melatih teroris, dan membiayai jihad. Badan2 sosial Islam membantu kaum miskin hanya demi tujuan politis semata. Contoh yang tepat bisa dilihat dari banyaknya jumlah uang yang dibayar Pemerintah Iran kepada Hezbollah di Lebanon. Sumbangan ini tentunya bukan untuk tujuan sosial. Kebanyakan masyarakat Iran saat ini hidup dalam kemiskinan. Mereka yang beruntung bisa kerja, berusaha hidup dengan gaji tak lebih dari $100 per bulan. Mereka sangat butuh sandang, pangan, papan. Kenapa Pemerintah Iran malah memberi uang negara ke Lebanon dan bukannya menolong rakyat sendiri? Tujuannya adalah untuk membuat Islam terasa manis di mulut orang2 Lebanon dan membujuk mereka berperang melawan Israel.

Jika orang2 tidak cukup menyumbang bagi usaha militernya, Muhammad dengan marah akan menegur mereka:

Q.57:10 Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang memusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.



Dengan cerdik Muhammad menyamakan uang yang dikeluarkan Muslim bagi usaha militernya sebagai “pinjaman” yang diberikan kepada Tuhan, dan menjanjikan mereka “bunga illahi” bagi uang mereka:

Q.57:11 Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,



Dengan cara ini, dia membuat pengikutnya percaya bahwa Allâh berhutang pada mereka karena membantu Muhammad dalam perang2 penjajahannya. Dia bahkan lebih mempermanis perjanjian utang piutang itu dan membuatnya lebih menggiurkan lagi dengan janji2 seksual surgawi:

Q. 71:12 dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.



Meskipun Muhammad membuat Allâh mengatakan pada pengikutnya betapa besar upah Muslim yang menyumbang usaha militernya, tapi dia tidak mau pengikutnya bangga terhadap sumbangan dan pengorbanan mereka. Berkorban itu adalah keberuntungan. Pengikutnyalah yang harus berterima kasih padanya karena diberi kesempatan melayaninya, dan bukan sebaliknya:



Q. 2:262 Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.



Setelah membangkitkan semangat mereka untuk mengobarkan perang dan memerintahkan mereka untuk menebas leher2 kafir, Muhammad meyakinkan pengikutnya bahwa “perbuatan2 baik” mereka tidak akan dilupakan.



Q. 47:4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.



Dengan kata lain, Allâh dapat membunuh kafir tanpa bantuan Muslim, tapi dia ingin Muslim melakukannya untuk menguji iman mereka.

Dengan demikian, Muhammad menggambarkan Allâh sebagai gembong mafia, pemimpin gerombolan rampok, yang ingin menguji kesetiaan orang2nya dengan menyuruh mereka membunuh. Dalam Islam, iman Muslim akhirnya diuji dari niat membunuh mereka, kesiapan mereka untuk membunuh demi Allâh. Maka katanya:



Q. 8:60 Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).



Muhammad memberi janji2 kosong bahwa mereka yang berperang (yang melakukan kegiatan berperang atau yang menyumbang uang) melawan kafir dan menerima dia sebagai Rasul Allâh akan menerima harta selangit banyaknya di alam baka. Sewaktu menjelaskan hadiah2 ini, dia membualkan kemulukan luar biasa. Dia berjanji akan ada berbagai barang indah dan kepuasan seksual tak terbatas di surga, dan memperingatkan bahaya hukuman bagi mereka yang pedit menyumbang usaha militernya: [33]



Q. 61:10-11 (10) Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (11) (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,



Q. 55:53-56 (54) (Di Surga) Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. (55) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (56) Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.



Q. 78:32-34 (32) (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, (33) dan gadis-gadis remaja yang sebaya, (34) dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).



Q. 57:7 Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.[34]



Ayat2 di atas dan yang serupa dalam Qur’an dengan mudah menjelaskan mengapa demikian banyak badan Islam yang mengumpulkan zakat ternyata membiayai kegiatan terorisme.[35] Orang awam akan mengira sumbangan sosial (zakat) dan kegiatan terorisme adalah dua hal yang bertentangan, tapi Muslim tidak menganggapnya demikian. Zakat dilakukan untuk menyebarkan Islam dan mendukung jihad. Bagi orang awam, ini adalah tindakan terorisme; tapi bagi Muslim, ini adalah perang suci, suatu kewajiban dan tindakan tersuci dalam pandangan Allâh.

Karena itu, berperang demi Allâh menjadi kewajiban dalam Islam yang mengikat semua Muslim. Muhammad membuat Muslim Mekah yang hijrah ke Medina untuk melawan masyarakat Mekah mereka sendiri, dan menyebut perbuatan ini sebagai balas dendam terhadap mereka yang menindas Muslim.



Q. 8:40 Perangi sampai tiada fitnah (perlawanan) lagi dan agama adalah agama Allâh.



Ketika beberapa pengikutnya ragu2 untuk berperang, dia menegur mereka untuk taat padanya sambil “mengeluarkan” ayat2 baru dari Allâh yang mengancam mereka yang tidak taat.



Q. 47:20 orang-orang yang beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka



Dari ayat2 ini bisa dilihat bahwa Islam itu adalah agama perang. Selama orang percaya pada Islam dan mengira Qur’an adalah firman Tuhan, terorisme Islam akan selalu menang. Muslim yang berusaha memperbaharui Islam, bersikap toleran, dan mengadakan “dialog antar budaya” dengan mudah diberangus oleh otoritas Qur’an yang memuat begitu banyak ayat2 yang memerintahkan Muslim berperang melawan kafir.



Q. 4:84 Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).



Ayat2 ini menjamin keberhasilan bagi Muslim:



Q. 4:141 … Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.



Dan janji2 hadiah illahi:



Q. 9:20 Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.[36]



Ilmuwan2 Muslim di mana2 pun menyuarakan dorongan untuk melakukan kekerasan. Tokoh agama utama Arab Saudi, sang Mufti Agung, membela semangat jihad atau perang suci sebagai hak yang diberikan Tuhan. “Penyebaran Islam terjadi dalam beberapa tahap, rahasia, dan lalu umum, di Mekah dan Medina,” yang adalah kota2 tersuci dalam Islam, kata Sheikh Abdel Aziz Al Sheikh dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh badan berita Pemerintah SPA. “Tuhan memerintahkan Muslim untuk membela diri dan berperang terhadap siapapun yang menentang mereka, dan ini merupakan hak yang dihalalkan oleh Tuhan. Ini merupakan hal yang sangat masuk akal dan tidak dibenci Tuhan,” katanya.[37]

Imam Arab Saudi paling senior menjelaskan bahwa perang bukanlah pilihan utama Muhammad: “Dia memberi tiga pilihan: menerima Islam, atau menyerah dan bayar pajak jizya dan mereka boleh tetap tinggal di tanah mereka dan melakukan ibadah mereka di bawah perlindungan Muslim.” Pak Mufti Agung memang benar. Kekerasan terhadap non-Muslim memang merupakan pilihan terakhir, jika non-Muslim tidak mau memeluk Islam atau menyerah kepada tentara Islam. Ini bukan aturan asli ciptaan Muhammad. Perampok2 bersenjata lain juga tidak melakukan kekerasan jika korban mereka menyerah dan tak melawan. Memang para kriminal biasanya menggunakan kekerasan hanya jika korbannya melawan.



Aku melakukan perdebatan di internet melawan Pak Javed Ahmed Ghamidi, yang dipandang sebagai ahli Islam Pakistan paling terkemuka. Melalui muridnya yang bernama Dr. Khalid Zaheer, Pak Ghamidi menulis: “Pembunuhan yang dinyatakan di Qur’an ditujukan bagi mereka yang bersalah melakukan pembunuhan, atau melakukan kekacauan di bumi, atau mereka yang tidak layak hidup di dunia karena menolak pesan Tuhan yang sudah jelas disampaikan dan dimengerti.” Pak Ghamidi adalah Muslim moderat. Akan tetapi, dia tahu sekali agamanya dan yakin mereka yang menolak Islam “tidak layak hidup di dunia lagi” dan harus dibunuh.[38]
walet
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5973
Images: 16
Joined: Wed Feb 11, 2009 4:52 am

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Yes Nobody » Tue Dec 29, 2009 12:53 am

Bang walet. Mantap deh. Banyak tahu tentang ayat-ayat Al-qur'an. Tapi saya gak bisa jawab semuanya sekarang. Satu dulu deh: zakat Fitrah

Pertama saya ingin menegaskan kembali bahwa Islam menganjurkan umatnya menolong siapa saja tanpa memandang agamanya. Saya sudah berikan contohnya dalam menolong orang kecelakaan dijalan raya.

Kemudian ketika zakat tidak boleh dibagikan kepada non-muslim, bukan berarti Islam tidak menolong orang non-muslim. Zakat memang diperuntukkan bagi para mustahiq (orang yang layak dan pantas menerimanya). Bahkan ada orang Islam yang haram menerima Zakat Fitrah.

Islam mempunyai saluran -saluran lain untuk menolong non-muslim secara ekonomi, seperti: sedekah, hadiah, dan lain-lain.
Yes Nobody
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 138
Joined: Wed Dec 23, 2009 7:51 pm

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby walet » Tue Dec 29, 2009 2:41 am

Yes Nobody wrote:Bang walet. Mantap deh. Banyak tahu tentang ayat-ayat Al-qur'an. Tapi saya gak bisa jawab semuanya sekarang. Satu dulu deh: zakat Fitrah

Pertama saya ingin menegaskan kembali bahwa Islam menganjurkan umatnya menolong siapa saja tanpa memandang agamanya. Saya sudah berikan contohnya dalam menolong orang kecelakaan dijalan raya.

Kemudian ketika zakat tidak boleh dibagikan kepada non-muslim, bukan berarti Islam tidak menolong orang non-muslim. Zakat memang diperuntukkan bagi para mustahiq (orang yang layak dan pantas menerimanya). Bahkan ada orang Islam yang haram menerima Zakat Fitrah.

Islam mempunyai saluran -saluran lain untuk menolong non-muslim secara ekonomi, seperti: sedekah, hadiah, dan lain-lain.


Udahlah, di alam nyata semua muslim kaya gitu.
Saudara jauh saya yang masih muslim bahkan gak mau kasih uang ke tantenya sendiri yang non muslim. Padahal kekurangan sekali.
Alasannya karena bukan muslim.
walet
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5973
Images: 16
Joined: Wed Feb 11, 2009 4:52 am

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Yes Nobody » Tue Dec 29, 2009 1:15 pm

walet wrote:Udahlah, di alam nyata semua muslim kaya gitu.
Saudara jauh saya yang masih muslim bahkan gak mau kasih uang ke tantenya sendiri yang non muslim. Padahal kekurangan sekali.
Alasannya karena bukan muslim.


Wah kalau itu kasusnya, harus didalami lagi kenapa sampai demikian.


Persoalan tidak memberi ke orang lain yg membutuhkan, bisa menimpa siapa saja. Bahkan seorang anak bisa menolak membantu orang tuanya yang kesusahan. Ini bisa terjadi pada umat manapun. Itulah pentingnya penanaman ajaran-ajaran moral sejek dini.
Yes Nobody
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 138
Joined: Wed Dec 23, 2009 7:51 pm

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby AkuAdalahAing » Tue Dec 29, 2009 2:13 pm

Yes Nobody wrote:Pertama saya ingin menegaskan kembali bahwa Islam menganjurkan umatnya menolong siapa saja tanpa memandang agamanya. Saya sudah berikan contohnya dalam menolong orang kecelakaan dijalan raya.

Wah ternyata mulia sekali ya ajaran islam itu bro =D>

Agar tidak menimbulkan fitnah baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, mohon berikan referensi (seperti yang ditulis bro walet di atas itu loh broyes)

Misalnya alquran menyatakan dengan tegas "Islam menganjurkan umatnya menolong siapa saja tanpa memandang agamanya" ada di surat apa ayat berapa, atau muhammad saw berfirman di hadits siapa buku volume berapa hadits nomor berapa.

Begitu dulu ya broyes. O:)
User avatar
AkuAdalahAing
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6603
Joined: Sat Oct 28, 2006 5:20 pm

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby AkuAdalahAing » Tue Dec 29, 2009 2:16 pm

Yes Nobody wrote:Persoalan tidak memberi ke orang lain yg membutuhkan, bisa menimpa siapa saja. Bahkan seorang anak bisa menolak membantu orang tuanya yang kesusahan. Ini bisa terjadi pada umat manapun. Itulah pentingnya penanaman ajaran-ajaran moral sejek dini.

betul... betul... betulll...

Pendidikan moral pancasila pastinya oklah bro, sayangnya tidak didukung oleh moral islam :(


broyes, agar tidak menimbulkan fitnah baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, bisakah anda mulai saat ini menggunakan referensi yang islami dalam hal berpendapat ???
User avatar
AkuAdalahAing
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6603
Joined: Sat Oct 28, 2006 5:20 pm

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby walet » Tue Dec 29, 2009 5:56 pm

Yes Nobody wrote:Bang walet. Mantap deh. Banyak tahu tentang ayat-ayat Al-qur'an. Tapi saya gak bisa jawab semuanya sekarang. Satu dulu deh: zakat Fitrah

Pertama saya ingin menegaskan kembali bahwa Islam menganjurkan umatnya menolong siapa saja tanpa memandang agamanya. Saya sudah berikan contohnya dalam menolong orang kecelakaan dijalan raya.

Kemudian ketika zakat tidak boleh dibagikan kepada non-muslim, bukan berarti Islam tidak menolong orang non-muslim. Zakat memang diperuntukkan bagi para mustahiq (orang yang layak dan pantas menerimanya). Bahkan ada orang Islam yang haram menerima Zakat Fitrah.

Islam mempunyai saluran -saluran lain untuk menolong non-muslim secara ekonomi, seperti: sedekah, hadiah, dan lain-lain.


Maaf ya Mas,
Disini kita tidak bisa terima apapun tanpa referensi.
Kita bukan orang pesantren yang harus bilang ya apapun yang orang katakan.
Saya sudah kasih referensi dari sumber Islam sendiri.
Silakan selipin ayat-ayat pendukungnya.

Ini salah satu praktek yang terjadi dilapangan.
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/padang-tionghoa-korban-gempa-diperas-t35489/

Disitu thionghoa ya notabene non muslim harus membayar kalau ada yang minta keluarganya ditolong.
Apa Masjid mas sendiri pernah menolong orang Kristen, Hindhu, Budha?
walet
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5973
Images: 16
Joined: Wed Feb 11, 2009 4:52 am

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Pederasty » Tue Dec 29, 2009 11:21 pm

Yes Nobody wrote:Persoalan tidak memberi ke orang lain yg membutuhkan, bisa menimpa siapa saja. Bahkan seorang anak bisa menolak membantu orang tuanya yang kesusahan. Ini bisa terjadi pada umat manapun. Itulah pentingnya penanaman ajaran-ajaran moral sejek dini.


Ajaran moral ala islam:

walet wrote:Zakat fitrah ataupun zakat mal hanya boleh dibagikan kepada muslim saja. Tidak boleh dibagikan kepada non muslim (kafir). (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 94; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 2/883).

Dalil tidak bolehnya memberikan zakat kepada non muslim, adalah sabda Nabi SAW kepada Muadz bin Jabal RA yang diutus oleh Nabi SAW ke Yaman :

“…Maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat pada harta-harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka [di kalangan muslim] dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka [di kalangan muslim].” (HR Bukhari, no 1308; Muslim, no 27; Abu Dawud, no 1351; At-Tirmidzi, no 567; An-Nasa`i, no 2392; Ibnu Majah, no 1773; Ahmad, no 1967).


Duuuh..., koq nggak dibaca seeeh???
Duuuh..., koq musti di-post ulang seeeh???

Apa perlu jibril nyamperin & nyekik dulu baru mau baca & bisa ngeh..., persis The Lust Prophet...

:finga: :lol: :green: :rolling: :green: :lol: :finga:
Pederasty
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 403
Joined: Sat Jul 18, 2009 2:27 am
Location: Indonesia Bagian Kafir

Re: Berangkat Ngaji, Roikhanah Tertelan Jarum Pentul

Postby Yes Nobody » Thu Dec 31, 2009 11:29 am

AkuAdalahAing wrote:Wah ternyata mulia sekali ya ajaran islam itu bro =D>

Agar tidak menimbulkan fitnah baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, mohon berikan referensi (seperti yang ditulis bro walet di atas itu loh broyes)

Misalnya alquran menyatakan dengan tegas "Islam menganjurkan umatnya menolong siapa saja tanpa memandang agamanya" ada di surat apa ayat berapa, atau muhammad saw berfirman di hadits siapa buku volume berapa hadits nomor berapa.

Begitu dulu ya broyes. O:)


Sebagai orang yang serius mempelajari Islam, pasti pak Aing sudah tahulah itu.
Yes Nobody
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 138
Joined: Wed Dec 23, 2009 7:51 pm


Return to Islam Dalam Gambar Dan Berita Nasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: Google [Bot]