. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Benturan dan bentrokan antara Islam dengan agama-agama dan peradaban lain di seluruh penjuru dunia.

Apakah Anda Yakin Bahwa Mayoritas Penduduk indonesia Beragama Islam

tidak, Karena Sebagai Negara Berbhinneka Tunggal Ika , Mushtahil Mayoritas Penduduk indonesia memilik Islam
72
91%
ya, Saya Yakin Muslim Indonesia Sekitar 90%
7
9%
 
Total votes : 79

Postby swatantre » Tue Jan 15, 2008 9:09 pm

Negara yang mau hancur memang kian gede gembar-gembornya.....
Sedang negara yang kemakmurannya merayap tapi pasti mah....diem2 aja... Heheh.......
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4164
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Postby Laurent » Wed Jan 16, 2008 7:43 am

Selain di atas , mungkinkah ini penyebab Islam jadi mayoritas di indonesia

Ancaman Serius Umat Kristen Di Indonesia


LP3ES mengeluarkan buku mengnai Sensus Etnis dan Agama di Indonesia.
Tahun perbandingan yang dipakai adalah tahun perbandingan tahun 1971 dan
2000. Yang akan kami soroti adalah disini Sensus Agama.

Berdasarkan sensus tersebut, maka % agama Kristiani meningkat dari
7,39% menjadi 8,92%. % Agama Islam juga meningkat dari 87,51% menjadi
88,22%. Sebaliknya agama Budha dan Konghucu mengalami penurunan drastis.
Pertumbuhan agama Kristiani di Indonesia meningkat 2,48% paling tinggi bila
dibandingkan dengan pertumbuhan agama lainnya.

Sekilas tampak baik-baik saja. Tetapi jika dicermati lebih lanjut,
hasil sensus tersebut memperlihatkan ancaman strategis terhadap umat
Kristiani. Lebih-lebih jika kita menyimak juga hasil sensus tahun 1985 yang
dalam buku tersebut tidak diteliti.

Ancaman tersebut nampak dari penetrasi agama Islam ke daerah-daerah
dan kantong umat Kristiani. Ini tampak dari mengecilnya % umat Kristiani
dan meningkatnya % umat Islam di propinsi-propinsi yang mempunyai
kantong-kantong umat Kristiani cukup besar:

1. Di Papua, % umat Islam meningkat sehingga menjadi 24%, bahkan di
Jayapura % umat Islam sudah mencapai 46%.
2. Di Maluku, % umat Islam meningkat dari 47% menjadi 60%. Bahkan
dengan adanya pemisahan Maluku Utara (yang 85% Muslim), % umat Islam di
Maluku (tidak termasuk Maluku Utara) hampir menyamai umat Kristiani. Dengan
trend seperti itu dalam waktu 30 tahun ke depan, di Maluku umat Kristiani
akan menjadi minoritas seperti di Lebanon.
3. Di Sumatera Utara, % umat Islam meningkat dari 60% menjadi 65%,
umat Kristen sudah mulai menjadi minoritas.
4. Di Kalimantan Barat, % umat Islam yang semula 42% menjadi 57%.
5. Di Sulawesi Tengah, % umat Kristiani turun dari 24% menjadi 17%
6. Di Sulawesi Utara, umat Islam yang semula sedikit lebih kecil
menjadi lebih besar dari umat Kristiani. Dengan adanya pemisahan Gorontalo,
umat Kristen memang masih mayoritas dengan 69%.
7. Di Nusa Tenggara Timur % umat Kristiani turun dari 88% menjadi
87%.

Kita melihat bahwa propinsi dimana umat Kristiani menjadi mayoritas
kini hanya ada 3 yaitu Papua yang mengalami Islamisasi secara drastis,
Sulawesi Utara yang mungkin akan cukup bertahan dalam jangka waktu relatif
lama, dan Nusa Tenggara Timur satu-satunya propinsi dimana umat Kristiani
masih cukup mempertahankan posisinya. Sulawesi Utara sebagian besar
Protestan, NTT kebanyakan Katolik, Papua mayoritas Protestan di sebelah
utara dan Katolik di sebelah selatan.

% umat Kristen meningkat di propinsi lainnya. Namun peningkatan
tersebut walaupun secara kuantitatif cukup besar namun secara substansial
tidak berarti karena dari sudut % umat Kristiani jarang yang mencapai 10%.

Apa yang menyebabkan terjadinya peristiwa di atas:
1. Migrasi umat Kristiani dari daerah Kristen ke wilayah Diaspora.
Sebagai contoh banyak orang Batak pergi ke daerah Sumatera lainnya dan pulau
Jawa.
2. Sebaliknya umat Islam transmigrasi dari wilayah Islam ke wilayah
bukan Islam. Hal ini bukan saja ke wilayah Kristen, tapi juga ke Propinsi
Bali yang notabene Hindu, disana umat Islam meningkat dari 5% menjadi 10%.
Suku yang migrasi antara lain suku Jawa dan Makassar/Bugis. Mereka tetap
mempertahankan Islamnya dan tidak ada indikasi yang membuktikan bahwa mereka
berpindah menjadi Kristen dalam jumlah besar.
3. Jika kita melihat Sensus 1985 maka migrasi tersebut lebih pesat
lagi terjadi setelah tahun 1990 saat Soeharto merangkul ICMI. Di Papua
misalnya menurut Sensus 1985, umat Kristen masih 88% tapi kini tinggal 75%.
Hal ini menunjukkan bahwa ada program Islamisasi Indonesia yang terencana
dan terkoordinasi.
4. Keberhasilan penginjilan terutama terjadi pada etnis Tionghoa yang
semula beragama Budha atau Konghucu.
5. Dari unsur strategi, tampak bahwa strategi umat Protestan kurang
begitu canggih. Umat Katolik lebih mampu mempertahankan diri dalam
membendung Islamisasi.

Trend dan bahaya apa yang akan terjadi di masa yad?

1. % umat Kristiani masih akan meningkat sampai mencapai 10% dari
penurunan % agama Budha dan Konghucu, tetapi sesudah itu akan mulai
slowdown. Usaha penginjilan terhadap umat islam akan mendapat tantangan
keras dan bukan tidak mungkin umat islam fundamentalis akan bergerak
menghambat umat Kristiani.
2. Kantong-kantong Umat Kristen di Indonesia semakin sedikit. Umat
Kristen menjadi umat diaspora dengan % yang kecil dan posisi yang rentan.
Situasi ini akan menyerupai umat Kristen Nestorian (yang dijuluki Protestan
Timur) yang berdiaspora di awal millenium ke 2 di seluruh Irak, Iran, dan
Asia Tengah, namun saat ini hampir tidak tersisa terutama setelah penumpasan
sistematis oleh Timurlan (baca Anne Ruck dalam bukunya Gereja di Asia).

Ancaman Strategis ini tidak akan dirasakan seketika. Ada masa-masa
pertumbuhan dan kemunduran. Namun trend jangka panjangnya akan memburuk.
Memburuknya trend secara perlahan-lahan akan membuat umat Kristiani
terperangkap, mirip dengan gejala "the Frog in the Kettle". Mungkin
generasi kita tidak akan merasakannya, namun anak-cucu kita tidak mustahil
akan merasakan tekanan yang berarti. Tekanan tersebut akan semakin besar,
sehingga sedikit demi sedikit umat Kristiani akan semakin berkurang.
Pengurangan tersebut bisa diakibatkan oleh % pertumbuhan yang lebih kecil
dibandingkan orang Islam, oleh konversi karena tekanan sosial ekonimi dan
politis, dan oleh migrasi umat Kristiani yang lebih mampu secara ekonomis
(sebagaimana yang dilakukan umat Kristen Irak atau Lebanon). Migrasi
tersebut akan semakin menyudutkan umat Kristiani yang tertinggal, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif karena jumlah
mereka akan berkurang, dan secara kualitatif kar ena mereka akan dinilai
tidak patriotik dan antek Barat.

Semoga Tuhan tidak membiarkan ini terjadi, dan banyak umat Kristiani
yang dilimpahi kebijaksanaan. Bagaimanapun kita sudah diingatkan untuk
cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Juga adalah lebih baik bagi
para pendeta untuk berhenti gontok-gontokan dan rebut merebut umat tetangga,
sebab masa seperti itu seharusnya sudah lama berlalu, tetapi kini saatnya
untuk menyatukan diri dan merapatkan barisan untuk menghadapi ancaman
strategis yang berbahaya di masa yang akan datang.

http://www.freelists.org/archives/mahas ... 00002.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby islambuster » Wed Jan 16, 2008 7:53 am

toyib wrote:diambang kehancuran, sedang Ringgit sahaja Naik terus dibanding Rupiah. tengok laman finance yahoo.

WANTED DEATH
Image
EARTH OR HELL
US $ 0.25
User avatar
islambuster
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1035
Joined: Fri Sep 01, 2006 1:12 pm

Postby Laurent » Wed Mar 05, 2008 7:40 am

Islam Ka-Te-Pe Dec 13, '07 11:16 PM
for everyone

Apa yang terbayang di pikiran anda saat mendengar kata "Islam KTP"? Kalau anda berpikir Islam KTP adalah orang-orang beragama Islam yang malas menjalankan ibadahnya, maka mungkin anda salah. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak mau masuk Islam tetapi terpaksa harus mencantumkan "Islam" di KTP mereka karena alasan politis.


Di Jawa, orang-orang seperti ini juga dikenal sebagai penganut Kejawen. Terdapat beberapa kesalahpahaman mengenai orang-orang ini, antara lain:

1. aliran ini sering dianggap sebagai satu aliran, yaitu Kejawen [2]. Kenyataannya, yang disebut Kejawen sebenarnya adalah aliran-aliran yang kebetulan pendirinya adalah orang Jawa. Walaupun beberapa dari kepercayaan-kepercayaan ini memiliki persamaan, tetapi tetap saja satu dan yang lainnya mempunyai perbedaan-perbedaan. Dengan kata lain, tidak pernah ada sebuah kepercayaan tunggal yang disebut Kejawen, yang ada adalah sekelompok aliran di Jawa yang mempunyai beberapa ciri. Bahkan beberapa kepercayaan menolak sebutan Kejawen karena menyempitkan makna kepercayaan mereka hanya dianut oleh orang-orang Jawa, sementara para penghayatnya tidak hanya orang Jawa.


2. aliran-aliran ini sering dituding sebagai tak lebih dari aliran sinkretis yang mencampuradukkan antara Islam, Buddha, dan Hindu. Kenyataannya, walau beberapa dari aliran ini tergolong baru, namun fondasi yang melandasi aliran ini sudah ada jauh sebelum agama Buddha dan Hindu masuk [3].

3. aliran-aliran ini juga dituding sebagai animisme (mempercayai semua benda memiliki roh) dan dinamisme (mempercayai semua benda memiliki kekuatan batin [tidak harus mempunyai roh]). Kenyataannya, walau beberapa aliran mempunyai corak dinamisme (saya pribadi belum pernah menemui corak animisme), secara prinsip dasarnya, aliran-aliran ini lebih bersifat Panentheism [4].


Dari definisi-definisi mengenai agama yang diberikan oleh beberapa orang luar negeri (yang berusaha netral, mengakui pengaruh agama dalam masyarakat, dan obyektif tanpa mereduksi maknanya) [5], aliran-aliran kepercayaan ini mungkin bisa dianggap sebagai agama tersendiri (walau masih perlu dikaji lebih lanjut). Hal ini pernah saya utarakan kepada salah satu Pelaku Kepercayaan namun ia menolak dengan alasan "definisi" yang saya berikan tidak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tetapi memang orang-orang Kepercayaan tampaknya tidak nyaman bila Kepercayaan mereka disebut sebagai agama, mungkin karena istilah "agama" di masa sekarang terkesan eksklusif dan menyeramkan. Mereka lebih suka istilah "Kepercayaan". Namun Penghayat Kepercayaan yang saya ajak diskusi, sepakat bahwa Kepercayaan yang ia anut bukanlah bagian dari agama-agama resmi yang diakui Indonesia.



Seorang bapak yang walau sudah tua namun selalu tampak bersemangat[6] bercerita di depanku tentang masa mudanya, di era Sukarno, saat-saat ia selalu menuliskan "berTuhan tapi tak beragama" di kolom agama dan tidak pernah mendapatkan masalah selama dinasnya sebagai tentara. Namun ketika era berganti menjadi era Orde Baru, barulah ia dipaksa memilih di antara 5 agama yang diakui pemerintah. Merasa familiar? Tentu saja! Kalian pasti pernah mendengar bagaimana penganut-penganut Kong Hu Cu dipaksa memilih di antara 5 agama resmi dan baru di masa Gus Dur-lah mereka bisa dengan percaya diri menyatakan diri sebagai penganut Kong Hu Cu. Apa yang dialami oleh penganut Kong Hu Cu, juga dialami oleh para Penghayat Kepercayaan(!). Mereka tidak bisa mencantumkan nama kepercayaan mereka. Mereka hanya bisa menikah bila menggunakan cara agama yang diakui pemerintah. Beberapa isu yang saya dengar lebih menyeramkan seperti pelarangan penguburan jenazah di TPU.


Seperti yang disebutkan oleh kawanku, Jan Peter [7], mayoritas Pelaku Kepercayaan di Jawa mengaku sebagai Islam (karena terpaksa tentunya). Bapak yang saya sebutkan di atas tadi mengatakan alasan memilih "Islam" untuk dicatut bukan karena "Islam" adalah agama yang paling mendekati paham kepercayaannya melainkan karena pemerintah tidak mempersyaratkan surat-surat dari Masjid. Berbeda dengan menjadi Kristen dan Katolik yang membutuhkan pengakuan dari Gereja.

Sekarang pertanyaannya:

1. Apakah mereka harus terpaksa mengakui salah satu agama "resmi" sementara seharusnya "tiada paksaan dalam agama"(Quran 2: 256)?
2. Apakah umat muslim tidak malu memaksa mereka mengikuti syariat Islam sementara mereka mencatut nama "Islam" karena tekanan politis?
3. Apakah umat muslim tidak malu mengaku sebagai mayoritas sementara mungkin saja yang selama ini mengisi "Islam" dalam KTP mereka, dalam lembaga-lembaga sensus bukanlah Muslim?

http://rajaratukumis.multiply.com/journ ... m_Ka-Te-Pe
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Wed Mar 05, 2008 7:47 am

Kemayoritasan Islam di indonesia adalah kemayoritasan palsu karena banyak sekali penganut aliran kepercayaan yg terpaksa mengaku sbg Islam sebab Kepercayaan tdk diakui oleh negara bahkan oleh sejumlah Ormas Radikal. Jangan lupa juga masalah agama2 asli Indonesia mjd perhatian Internasional soal Kebebasan Beragama selain penutupan sejumlah gereja & penyerangan kelompok Ahmadiyah. Melalui forum ini, mari kita bongkar kebohongan mengenai kemayoritasan Islam di indonesia. Jangan Mau jika disuruh Mengisi Islam pada kolom Agama kalai Anda Merasa Tdk Beragama Islam. Tampak Bahwa Agama2 Asli Indonesia tidak Diakui Keberadaannya agar Islam tetap Mjd Mayoritas
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Fri Oct 03, 2008 7:19 am

sejujurnya Kemayoritasan Islam di Indonesia bukanlah karena ketertarikan penduduk Indonesia pd agama tsb melainkan justru dibangun dgn Kemanufikan, Intimidasi, Pemaksaan, bahkan Kekerasan & diskriminasi . Anda sdh th , Peristiwa2 mana yg membuat Islam Di Indonesia mid mayoritas
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Fri Oct 03, 2008 7:30 am

salah satu penyebab Islam jadi mayoritas di Indonesia :

Mereka Terpaksa Memilih Islam atau Kristen


Beginilah nasib pihak yang kalah dan dipinggirkan. Para pengikut Parmalim, agama masyarakat Batak sebelum Kristen dan Islam datang, kini terpaksa berpura-pura menjadi pemeluk agama Kristen arau Islam. Pasalnya, eksistensi Parmalim tidak diakui oleh para penyelenggara pemerintahan di Sumatera Utara.

Oleh : Jarar Siahaan

SUDAH 61 tahun lamanya Indonesia merdeka, sudah selama itu pula Undang-Undang Dasar kita menjamin kebebasan beragama, tapi sampai kini masih ada kelompok warga yang belum diberi kemerdekaan sepenuhnya dalam urusan agama. Satu dari sekian kelompok itu ialah para penganut Ugamo Malim — lebih dikenal sebagai Parmalim — yang oleh pemerintah tidak diakui sebagai agama resmi, melainkan aliran kepercayaan.

Memang mereka bebas menjalankan ritual agamanya. Namun saat berhadapan dengan aparat pemerintahan, mereka tidak merdeka. Contohnya saat mengurus surat-surat kependudukan, mereka terpaksa memilih agama lain — biasanya Islam atau Protestan. Tentu tak terbayangkan betapa sakitnya batin mereka karena harus membohongi nurani sebagai pengikut Parmalim.

“Banyak teman terpaksa memilih Islam dan Kristen agar surat-suratnya keluar. Memang sakit. Nurani kami dibantai,” ujar Monang Naipospos, Sekretaris Parmalim, saat ditemui di rumahnya di Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tobasa, beberapa waktu lalu.

Warga Parmalim di seluruh Indonesia umumnya kesulitan mendapatkan KTP dan akte perkawinan. Naipospos mencontohkan seorang pria pengikut Parmalim di Propinsi Papua yang bekerja di PT Freeport. Kala itu dia menikah secara Parmalim di Laguboti dan diberi surat bukti perkawinan oleh pengurus Parmalim. Tapi surat perkawinan ini tidak diakui pihak Kantor Catatan Sipil (Capil) di sana, sehingga akte perkawinan pun tidak terbit. Capil lalu meminta yang bersangkutan mengurus surat dari pengadilan negeri (PN) bahwa perkawinan mereka sah. Surat dari PN ternyata diberikan, tapi tetap juga Capil tidak membuat akte tersebut.

“Padahal akte itu sangat perlu untuk mengurus tunjangan bagi istrinya dari perusahaan tempatnya bekerja,” kata Naipospos. Alasan pejabat pemerintah dari kantor kecamatan maupun Catatan Sipil tidak mudah memberikan surat kependudukan bagi mereka ialah adanya surat edaran Menteri Dalam Negeri pada 1995 yang melarang dikeluarkannya akte perkawinan bagi penganut aliran kepercayaan.

Akhirnya kebanyakan warga Parmalim memilih tunduk pada peraturan birokrasi asalkan urusannya selesai. Seperti mengurus KTP, banyak mereka yang mencantumkan agama Islam. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Batam, lanjut Monang Naipospos, warga Parmalim harus memilih satu dari lima agama resmi karena sistem komputerisasi KTP mengharuskan demikian. Paling banyak mereka memilih Islam dan bukan Kristen. “Saya tidak tahu kenapa lebih banyak pilih Islam,” katanya saat ditanya.

Di beberapa daerah yang KTP-nya masih diketik manual memang kadang bisa diperoleh KTP dengan mencantumkan “Parmalim” pada kolom agama. “Tapi itu pun tergantung camatnya.” Di Tobasa sendiri umumnya jemaat Parmalim harus memilih satu dari lima agama resmi agar diberi KTP. Dalam hal ini Naipospos agak istimewa. Dia tidak pernah dipersulit mengurus KTP dan agamanya pun tidak diubah. Mungkin karena dia termasuk tokoh Parmalim dan punya akses ke birokrasi. “Mungkin begitu,” ucapnya.

Parmalim adalah agama pertama orang Batak sebelum masuknya Islam dan Kristen ke kawasan Tapanuli. Tokoh besar yang menjadi penganut Parmalim generasi pertama adalah pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja XII. (www.ayomerdeka.wordpress.com)

—————————————————————————–

Catatan : artikel ini dikutip utuh dari blogberita.net. Lead berita yang ditampilkan miring (italic) adalah tambahan dari pengelola blog ini.

http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04 ... u-kristen/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby swatantre » Wed Oct 08, 2008 12:33 am

Laurent wrote:Islam Ka-Te-Pe Dec 13, '07 11:16 PM
for everyone

Apa yang terbayang di pikiran anda saat mendengar kata "Islam KTP"? Kalau anda berpikir Islam KTP adalah orang-orang beragama Islam yang malas menjalankan ibadahnya, maka mungkin anda salah. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak mau masuk Islam tetapi terpaksa harus mencantumkan "Islam" di KTP mereka karena alasan politis.


Di Jawa, orang-orang seperti ini juga dikenal sebagai penganut Kejawen. Terdapat beberapa kesalahpahaman mengenai orang-orang ini, antara lain:
.................


NB:Grrrrr....knp di saat2 gw nulis panjang2 koneksinya selalu bermasalah, kayak islam, agama bermasalah itu ya? Tpaksa deh gw tulis ulang, dg penekanan, intonasi dan emosi yg berbeda...

Hanya mau menambahkan tulisan di atas, jadi sekali lagi tolong begitu saja diidentikkan bahwa abangan itu kejawen. Pada kenyataannya, banyak sekali yg abangan itu bukan kejawen, tapi semata hanya karena malas beribadah, atau beribadah secara minimal. Kagak solat (tapi anehnya kalo tapa/semadi/meditasi getol), puasa ngejalanin, tapi bolong2 (tapi kalau puasa ngebleng, dll puasa cara nenek moyang bisa niat), kagak bisa baca quran, iqra pasti jeblok, ngarti arabpun sepotong2 (tapi anehnya banyak juga yg mempunyai wawasan luas, bahkan poliglot, ngarti bahasa selain Jawa, Inggris, ato Belanda dan Indonesia (tentu saja!), gak mau jadi dai/ngasih ceramah tapi banyak yg punya pekerjaan profesional macam dosen dan dokter. Banyak di antara org2 yg saya jumpa dan kenal ini adalah keluarga saya, atau teman dan sekadar kenal.

Adapun, yang menjadi abangan karena kejawen itu ialah yg juga tidak ngarti (dan tidak mau) jadi islam (mana mungkin kebudayan asli yg sudah lebih tinggi dari kebudayaan islam mau tunduk sama kebudayaan dan agama padang pasir begitu aja...) tapi memiliki perasaan spiritualitas yang lebih peka. Mereka menghayati rasa itu dengan cara khas nenek moyang mereka (di Jawa, terutama), dan itulah org2 Kejawen. Adapun yg abangan dan biasa2 saja bukan berarti sekuler dan anti agama serta anti Tuhan. Orang Jawa tidak pernah diajari utk membenci agama, tuhan orang lain, atau kepercayaan orang lain (karena itu, banyak juga dari mereka yang tertipu dg islam, kejahatan yg menyamarkan diri menjadi agama... :(). Hanya saja rasa dan penghayatan spiritualitasnya kurang peka/diasah, tapi mereka tetap memiliki dasar pengajaran moral etika, namanya ialah budi-pekerti.

Satu lagi, banyak istilah2 kejawen yg tampknya mengambil/bersetuju dg ajaran islam. Padahal sebenernya tidak. Ini pinter2nya org2 tua jaman dulu, mengambil istilah2 islam utk menyelamur, mengelabui, sehingga tidak perlu timbul cekcok bahkan perang hanya karena agama. Mereka mengambil istilah2 islam, bahkan dengan terpaksa mengambil agama islam (mengingat natur islam dengan pedangnya yg bengis), tapi esensinya sebenernya khas jawa, dengan aroma hindu-budhanya. Banyak yg pake istilah nur muhammad atau apalah, tapi tentu yg dimaksud bukan si muh dari arab.... Banyak lagi, tiap aliran punya interpretasi sdr2..... Ini semata2 agar kejawaan mereka tidak hilang, tapi agar mereka tetap bisa diterima sebagai WNI normal dan seutuhnya thd WNI lain yg beragama mayoritas.......
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4164
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Postby Balthazar » Tue Oct 14, 2008 11:25 am

@Laurent

Sekedar untuk informasi ya, khusus untuk Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Peningkatan persentase penduduk muslim, lebih banyak dikarenakan perpindahan penduduk (pendatang) dan kelahiran. Sedangkan penduduk aslinya, mayoritas masih memeluk agama kristen dan hindu kaharingan. Soalnya orang dayak doyan makan babi. Wew, jadi lapar neh...
User avatar
Balthazar
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 48
Joined: Mon Sep 22, 2008 10:44 am
Location: Somewhere in Hell

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby Anti-Fascist » Tue Sep 22, 2009 4:14 pm

weezzzz... biar transmigran dari mnapun juga, paling banter mereka dagang somay euy, ato maling jemuran
Anti-Fascist
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 71
Joined: Sat Sep 19, 2009 10:28 am

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby Laurent » Sat Sep 25, 2010 1:16 pm

Saturday, January 24, 2009
Muslim di Indonesia hanya 55.8 %?

Saat berada di swalayan Publix, iseng-iseng aku membaca Times Almanac yang isinya kurang lebih seperti Buku Pintar-nya Iwan Gayo . Cukup terkejut saat membaca artikel tentang Indonesia.

Islam 55.8 %
Neoreligion (syncretist) 21.2%
Traditional religion 2.2 %
Non-Religious 1.8 %

Tentu saja ketepatannya perlu diragukan apalagi di almanak yang sama dinyatakan Timor-Timur merdeka dari Indonesia tahun 2002 (seharusnya 1999).

Namun almanak yang sama mengatakan Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya tahun 1945 dan diakui Belanda tahun 1949.

Kembali ke topik,
bukan rahasia lagi bahwa beberapa dari mereka yang beragama "Islam" di KTP-nya
adalah 'Islam' karena keterpaksaan, kewajiban untuk mengisi kolom agama. Pertanyaannya, berapakah sesungguhnya jumlah mereka?

Posted by kunderemp at 3:45 AM

Labels: jalan-jalan, politik

http://cacianqalbukunderemp.blogspot.co ... a-558.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby Peaceandlove » Sun Sep 26, 2010 9:18 pm

Guru Jawaku yg beragama Buddha, beliau pernah bercerita, kalo dulu orang jawa yg tidak beragama Islam di paksa untuk menganut agama Islam, bila tidak mereka akan dibantai / dibunuh...
Nah, Guru saya adalah salah satu dari pelarian untuk menghindari pembantaian ke kedalaman hutan..

Beliau juga bercerita, banyak orang yg juga rela mati dari pada mesti masuk Islam. Sungguh menyedihkan, dari kebanyakan cara penyebaran Islam rata2 dari kekerasan, Pedang & darah. Agama Islam tidak patut dikatakan sebuah agama, Karna dari ajarannya penuh dengan pertumpahan darah Alias anarkis. Maaf, saya berbicara sesuai fakta!
User avatar
Peaceandlove
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 86
Joined: Fri Aug 06, 2010 5:05 pm

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby Laurent » Thu Oct 28, 2010 11:03 am

Dapat info terbaru dari KASKUS , ternyata Jumlah muslim Indonesia bertambah di masa ORDE BARU justru dengan Paksaan bahkan di masa ORDE LAMA, Indonesia bukan negara MUslim. Kalo nggak salah sih baca aja artikel di bawah ini :

ear All,

I**** menyebar di Jawa awalnya melalui jalan kekerasan yaitu ketika Demak menghabisi Majapahit dan kemudian melalui jalan budaya yaitu dengan pendekatan wayang.

Di antara Wali-wali terjadi perdebatan mengenai pendekatan budaya ini sebelum dicapai kata sepakat bahwa strategi ini terpaksa dipakai karena pengaruh Hindu masih kuat di Jawa. Mereka yakin kelak, beberapa abad kemudian, barulah mereka bisa menjadi M*sl*m sejati, meninggalkan adat istiadat Hindu seperti wayang dan mengikuti ada istiadat I**** (baca: Arab).

Dan kini 500 tahun kemudian, budaya Jawa secara bertahap telah pudar termakan budaya Arab. Tidak percaya? Coba lihat mana yang lebih banyak, orang pakai kopiah atau orang pakai blangkon?

Mana yang lebih banyak, yang pakai jilbab dan yang pakai selendang? Kecenderungannya adalah semakin banyak yang pakai jilbab yang sebenarnya tidak cocok untuk negeri tropis.

Dari nampak luar saja sudah ketahuan bahwa radikalisasi itu telah dan sedang terjadi dan semakin banyak yang menjadi radikal.

Memang sudah ada I**** Liberal yang dipelopori Ulil dkk yang mendirikan JIL (Jaringan I**** Liberal) yang mendukung pluralisme, demokrasi, dan humanisme. Namun yang bisa mengikuti gerakan liberal ini jauh lebih kecil dibandingkan yang mengikuti gerakan radikal. Mengapa? Karena JIL dianggap murtad dan sesat.

Di Indonesia ini terlalu banyak massa M*sl*m yang mengambang yang saya perkirakan masih lebih dari 50%. Ini mengacu pada sensus yang dilakukan pemerintah Belanda tahun 1930-an yang mencatat bahwa penganut I**** hanya 30-an% di seluruh Indonesia, mayoritas beragama lokal seperti Kejawen, Wiwitan (>> Jawa Barat >> kini hanya tersisa di komunitas Baduy), dll.
Mayoritas penduduk Jawa adalah Kejawen (sebuah sintesis antara I**** dan Hindu) pada zaman Sukarno. Sukarno menyebut mereka sebagai I**** Abangan yang mana Sukarno mengakui bahwa dia sendiri adalah Abangan yang tak terikat kaku dengan doktrin I****.

Mengapa? Karena Sukarno memiliki background ibu Hindu dan bapak Kejawen. Dan selain itu Sukarno sejak berjuang melawan Belanda adalah fans berat Mustafa Kemal yang mendirikan negara Turki modern sekuler yang mengakhiri kekhalifahan I**** terakhir di muka bumi ini: Usmaniyah/Ottoman. Mustafa Kemal adalah seorang I**** Liberal yang nasionalis-sekuler sehingga Sukarno kemudian menjadi I**** Liberal yang nasionalis-sekuler pula.

Dan lawan I**** Abangan ala Sukarno adalah I**** Santri (NU & Muhammadiyah). Sukarno rajin mengunjungi pesantren-pesantren baik Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah untuk memperkenalkan nasionalisme dan I**** Liberal. Sukarno-lah yang kemudian membuka pikiran Gus Dur mengenai negara sekuler dan I**** Liberal yang kemudian membuat Gus Dur menjadi seorang freethinker I**** yang tiada banding di Indonesia ini yang jauh melebihi Sukarno itu sendiri.

Pada zaman Orde Lama, kebebasan agama berjalan dengan baik. Namun ketika Orba memaksa penduduk memilih satu dari lima agama maka mereka yang kejawen/abangan terpaksa menjadi I**** maka terjadilah Is*m*s*s* secara paksa dan lahirlah I**** KTP. Dan I**** KTP inilah yang merupakan massa mengambang di Indonesia.
Namun massa mengambang ini setelah reformasi justru paling mudah dipengaruhi paham radikal dibandingkan paham moderat. Nahdlatul Ulama yang moderat karena pengaruh Gus Dur makin merosot pengikutnya dan Muhammadiyah yang radikal makin membengkak pengikutnya. Ini nampak sekali di Jawa bagian Barat dan kini menjalar ke Jawa bagian Tengah, dan mungkin nanti hanya Jawa Timur merupakan benteng terakhir Nahdlatul Ulama dari agresi I**** radikal.

Sukarno memang tidak memperkaya diri namun bersikap otoriter terutama dalam hal memaksakan nasionalisme yang dia anggap sebagai jalan tengah antara agama (kanan) dan komunisme (kiri) sehingga lahirlah doktrin Nasakom dan Demokrasi Terpimpin yang jelas-jelas ganjil dalam pengertian demokrasi yang sebenarnya.

Suharto memang memperkaya anak cucunya sendiri, otoriter, memberangus kebebasan berpikir, namun bagaimanapun juga dialah yang berusaha mensistematisasi Pancasila dengan P4-nya yang kemudian terkesan hipokrit/munafik karena Suharto yang sebenarnya juga Kejawen/Abangan ini tak bisa memberikan teladan sebagaimana mestinya.

Itulah sebabnya Gus Dur, sang pemikir bebas/freethinker luar biasa dari Indonesia, yang bisa membuat raja Arab Saudi yang otoriter dan presiden Amerika yang demokratis tertawa dan terpingkal-pingkal karena humornya, pernah melontarkan humornya yang khas pemikir bebas/freethinker:

Gus Dur dalam sebuah acara talk show melontarkan humor: “Sukarno itu gila wanita. Suharto itu gila harta. Habibie itu gila beneran.” >>note: karena Habibie benar-benar "gila" ketika memerdekakan Timor Timur
Pembawa acara bertanya, ‘Kalau Gus Dur sendiri?’ Jawab Gus Dur, “Yang milih saya itu gila.” >> note: Gus Dur menyindir I**** radikal yang dipimpin Amien Rais, dkk yang memilihnya menjadi presiden hanya karena tak mau Indonesia dipimpin seorang presiden wanita : Megawati. Ha..ha...ha…

Humor Gus Dur yang paling berkesan bagi saya adalah humor mengenai Paus dan Ulama yang menyindir agama K**** yang terlalu “pintar” sehingga malah kelihatan jadi “****” sebaliknya agama I**** yang terlalu “****” itu malah kelihatan jadi “pintar”. Seorang freethinker memang tak segan-segan mentertawakan agamanya sendiri.

Banyak orang yang tak memahami jalan pikiran Gus Dur tapi saya sangat paham sekali karena saya juga seorang freethinker walau dari latar belakang yang berbeda: Buddhist.

Gus Dur yang terkenal sebagai presiden yang dikritik menghabiskan lebih dari separuh masa jabatannya untuk “plesiran” ke luar negeri menjawab dengan ringan: “Saya plesiran untuk mengembalikan citra Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim yang moderat agar dunia mau berinvestasi di Indonesia kembali pasca kerusuhan.”

Dalam masa pemerintahannya, Gus Dur memenjarakan Abu Bakar Ba’asyir. Hanya Gus Dur yang berani melakukan itu dan hanya Gus Dur yang memiliki visi jauh ke depan bahwa orang radikal yang satu ini sangat berbahaya pikirannya. Gus Dur pula yang memberitahu SBY ketika naik jadi presiden bahwa dia harus berhati-hati dengan Abu Bakar Ba’asyir, dan sekarang SBY mungkin baru percaya dengan ucapan Gus Dur itu.

Kita harus menyadari bahwa Clash of Civilization bukanlah dongeng namun kenyataan. Kita membutuhkan berjuta freethinker seperti Gus Dur dalam I**** untuk mencegah hal itu terjadi.

Menurut teori saya pribadi, hanya Gus Dur dengan kekuatan pikiran bebasnya yang sanggup “memformat ulang” posisi A**** SWT dari koordinat monotheisme ekstrem (x=10, y = 10) menjadi koordinat nibbana (x=0 dan y=0)! Tak aneh bila ulama dari I**** radikal (Abu Bakar Ba’asyir, Habib Riziq, dkk >> kebetulan dua-duanya orang keturunan Arab!) menyebut Gus Dur sebagai KYAI MURTAD dan KYAI GILA karena "membelakangi" A**** SWT, dan analisis mereka tak sepenuhnya salah bila ditinjau dari ajaran I**** yang murni (baca: I**** ala Arab) dan bukan I**** Pribumi ala Gus Dur yang pluralis dan nasionalis, yang merangkul semua agama dalam bingkai NKRI.

Bila semua Muslim, Nasrani, Hindu dan Buddhist bisa menjadi freethinker/pemikir bebas (sebagaimana yang dianjurkan sang Buddha: kebebasan berpikir!), yang berani meruntuhkan ego agamanya masing-masing (seperti yang telah dipelopori Gus Dur), dan saling memahami satu sama lain sebagai sesama manusia, saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang damai dan sejahtera.

Semoga semua makhluk berbahagia

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5697061&page=10
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby Laurent » Mon Nov 08, 2010 2:47 pm

Mirza Ahmad: Indonesia Mayoritas Islam?

User Rating: / 6
PoorBest
Sekali lagi saya mendengar ucapan bahwa Indonesia ini mayoritas Islam. Dulu waktu saya kecil, zaman orde baru, hal ini sudah sangat lumrah, dan tak ada yang mengangkat isu biasa ini. Kini pada zaman pasca orde baru ini, dimana pemerintah sedang linglung untuk mempertahankan kekuasaannya, isu Islam sebagai mayoritas di Indonesia diangkat menjadi isu besar, beberapa kelompok mengangkat isu ini untuk kepentingannya.


Saya bertanya-tanya, buat apa isu ini diangkat? apa ini tidak termasuk SARA? Secara sekilas isu ini biasa saja, tidak SARA, karena sejak ORDE BARU kita memang diberi tahu mayoritas, atau 80% penduduk Indonesia beragama Islam menurut statistik.

Semenjak saya bergulat dengan teman-teman yang memperhatikan masalah HAM, saya mendapatkan gambaran kenyataan dari masalah mayoritas dan minoritas Indonesia saat Orde Baru dan pasca Orde Baru.

Bahwa Zaman ORBA, Soeharto menambahkan 1 keyakinan, yaitu "Keyakinan kepada Tuhan YME" selain 5 agama resmi di Indonesia, bahkan ada acara rohani-nya di TVRI, Kenapa? Hal itu terkait bahwa Soehartodan beberapa pejabat masa itu konon meyakini Keyakinan tersebut, ada yang menyebutnya "Kejawen". Pasca lengsernya Soeharto, maka Agama Keyakinan ini pun hilang dari publisitas.

Pasca Reformasi, Agama Keyakinan menghilang, pada Pemerintahan GUS DUR, dia mengangkat Kong hu cu sebagai Agama Resmi, yang menjadi pertanda juga sebagai pengakuan atas keberadaan etnis Cina.

Sejak dulu, Agama Resmi menjadi masalah diranah masyarakat bawah. Bayangkan, bagaimana menyebutkan Agama Anda saat pendataan, entah itu SENSUS, membuat AKTA KELAHIRAN, membuat KTP dan lainnya jika Agama Anda selain yang resmi. Di zaman Soeharto mungkin bisa dialihkan menjadi Agama keyakinan tadi, tapi pasca Reformasi? susah lagi.

Akhirnya menjadi pertanyaan, memang ada agama di Indonesia selain yang disebutkan menjadi agama RESMI? jawabannya ADA, baik agama yang berasal dari luar Indonesia, alias Agama Import, dan juga Agama yang sidah ada sebelum Agama Import masuk ke Indonesia. Selain Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Kong hu cu, masih ada Sikh, Bahai, bahkan Yahudi di Indonesia. Dang taukah kamu Agama Kaharingan? yang di anut oleh masyarakat Dayak kalimantan dan masih ada sampai sekarang? Agama Parmalin yang berkembang di Sumatra Utara dan Barat? dan pernahkan kalian bertanya apakah agama yang dianut oleh suku BADUI DALAM di Banten, atau SUKU ASMAT di papua? Masih banyak Agama Adat yang tidak sama sekali dihargai di negri ini bahkan untuk dicatatankan di KTP saja tidak bisa.

Kenapa saya bicarakan ini, sebelum masuk ke isu mayoritas, saya hanya ingin menggambarkan adanya kelompok-kelompok di Indonesia yang ternyata di abaikan, tidak diakui, bahkan ditutup-tutupi masalahnya, macam anak haram. Pemerintah hanya meng-Eksploitasi kebudayaannya untuk dijual sebagai objek pariwisata. Dari wawancara masyarakat adat, diketahui, kalo akhirnya, demi agar diakui sebagai masyarakat Indonesia, mereka harus merubah kolom Agamanya ke agama Resmi, yah, kolom tinggal kolom, kenyataannya mereka tetap menganut agama keturunan. Ini seperti memaksa orang untuk pindah agama or paling tidak memaksa orang berbohong tentang agamanya secara legal

Nah, sekarang kita masuk ke Isu mayoritas Islam ini. Dari masalah diatas terlihat benar bagaimana semrawutnya pendataan agama penduduk di Indonesia, tidak jelas dikemanakan data kelompok-kelompok yang tidak dikenal sebagai agama RESMI itu. mungkin sepertinya jumlah penganut agama selain agama RESMI ini sedikit, mungkin, secara jumlah memang sepertinya harus di hitung ulang. Coba lihat link ini:

http://www.datastatistik-indonesia.com/ ... temid,165/

ini link data kependudukan masyarakat Indonesia berbanding luas kepulauan. Jika diurutkan berdasarkan jumlah penduduk dari terbesar hingga terkecil:
1. Jawa & Madura terbesar 58.8%
2. Sumatra 21.0%
3. Pulau lainnya (Papua dan pulau lainnya) 7.5 %
4. Sulawesi 7.2%
5. Kalimantan 5.5%

Jika diurutkan berdasarkan luas pulau:
1. Pulau lainnya (Papua dan pulau lainnya) 30.4%
2. Kalimantan 28.1%
3. Sumatra 24.7%
4. Sulawesi 9.9%
5. Jawa & Madura terbesar 6.9%

Ada yg menarik, coba kita tambah susunan jumlah orang Islam berdasarkan kepualannya:
1. Jawa & Madura (terbesar)
2. Sumatra
3. Sulawesi
4. Kalimantan
5. Pulau lainnya (Papua dan pulau lainnya) (terkecil)

kenapa menarik? karena kalo dilihat ternyata mayoritas Umat Islam terbesar di Indonesia terletak dipulau Jawa dan madura yang pulaunya bahkan terkecil di Indonesia. Sedangkan Pulaiu terluas di Indonesia, papua dan pulau-pulau kecil laiinya memiliki jumlah umat beragama Islam terkecil.

Data ini menunjukkan BAHAYANYA isu Mayoritas ISLAM yang sering dikumandangkan beberapa pihak. ISU itu yang membuat perpecahan di Indonesia, yang membuat masyarakat non Islam berfikir untuk memisahkan diri. Isu Mayoritas Islam juga yang sering dipakai untuk membiarkan beberapa kelompok melakukan diskriminasi kepada kelompok diluarnya ternyata hanya berdasarkan sudut pandang PULAU JAWA dan MADURA, bahkan sudut pandang ibukota negara, JAKARTA, yang penduduknya padat. Hal yang SEBALIKNYA jika dilihat dari sudut pandang WILAYAH NEGARA.

Maka betapa berbahayanya Isu Indonesia Mayoritas Islam. Saya juga orang Islam, tapi usaha meraih keuntungan dengan menjual ke-mayoritas-an agama tertentu berdasarkan jumlah penduduk itu SEMU, karena bukan hanya karena tidak melihat wilayahnya tapi juga PENDATAAN penduduk yang KACAU karena diskriminasi AGAMA LOKAL pada administrasi NEGARA.

http://www.apakabar.ws/content/view/3114/88888889/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby justlie » Tue Nov 09, 2010 2:53 pm

dari dulu saya dengar gitu. cuman kalo bisa sifat anarkis nya di kurangi. :supz:
justlie
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 7
Joined: Tue Nov 09, 2010 1:53 pm

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby Laurent » Fri Nov 19, 2010 5:13 pm

justlie wrote:dari dulu saya dengar gitu. cuman kalo bisa sifat anarkis nya di kurangi. :supz:


anda bisa sendiri belum tahu, proses Islam menjadi mayoritas di Indonesia seperti apa ??
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby agis » Fri Nov 26, 2010 3:33 pm

Laurent wrote:Para Peserta FFi, Apakah Anda Yakin Bahwa Mayoritas Penduduk Indonesia beragama Islam , Bahkan jumlah penduduk Muslim Indonesia diklaim mencapai 90% berdsr Statistik Pemerintah yg resmi. Padahal aja sbg negara bersemboyan Bhinneka Tunggal ika , Nggak mungkin Islam di Indonesia mencapai 90% , juga kenyataannya jmlh NonMuslim Indonesia jg lebih byk dr berdsr Statistik Pemerintah. Sekarang Menurut Anda, benarkah 90 % Penduduk Indonesia beragama islam



AGAMA yang benar untuk zaman sekarang adalah Agama Jalan Satu Hati, Ali Sina adalah Nabi, dan kita harus mendukung keNabian Alisina, yang membawa lentera perdamaian Dunia. \:D/
agis
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 57
Joined: Thu Nov 25, 2010 6:32 pm

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby embun » Mon Nov 29, 2010 5:03 pm

menurut wikipedia,silakan simak catatan Islam di Indonesia
Islam adalah agama dominan di Indonesia, dengan populasi Muslim terbanyak di dunia, sekitar 202.900.000 ribu jiwa diidentifikasi sebagai Muslim (atau 88,2% dari total penduduk Indonesia pada tahun 2009)

jadi ada penurunan 1,8% berdasar perhitungan tahun 2009 bisa jadi penurunan tersebut akan terjadi terus seiring dengan berita2 aksi2 radikalisme atas nama Islam yang justru tidak menguntungkan siar agama Islam itu sendiri

untuk melengkapi catatan diatas patut disimak tulisan disini dan disini :-k
User avatar
embun
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 743
Joined: Thu Nov 04, 2010 8:23 am
Location: diatas daun di pagi hari

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby Laurent » Wed Jan 19, 2011 12:13 pm

HD. Haryo Sasongko: Agama KTP, Agnostik dan Macan Kertas

User Rating: / 0
PoorBest
Konflik-konflik horisontal yang terjadi di negeri kita, salah satunya disebabkan adanya watak arogansi akibat rasa unggul sebagai pemeluk agama yang berdasarkan sensus kependudukan dinyatakan sebagai agama yang dipeluk oleh mayortas rakyat Indonesia.

Islam, disebut-sebut sebagai agama yang dipeluk oleh 87% rakyat Indonesia. Dan inilah yang kemudian melahirkan sebutan Islam sebagai agama mayoritas. Dengan demikian, pemeluknya disebut (atau menyebut dirinya) sebagai golongan mayoritas, sementara agama lainnya adalah minoritas dan pemeluknya pun disebut sebagai golongan minoritas.

Penggolongan ini menjadi biang yang melahirkan watak diskriminatif dan membuka peluang bagi kelompok-kelompok minoritas garis keras dalam komunitas Muslim untuk melakukan tindak represif bahkan anarkhis terhadap pemeluk agama lain atau penganut kepercayaan yang dianggap “tidak benar” dengan mengatasnamakan dirinya sebagai golongan mayoritas.

Padahal, komunitas Muslim yang mayoritas bukanlah yang menganut garis keras, melainkan kaum moderat, seperti NU dan Muhammadiyah misalnya, dan mereka tidak memusuhi apalagi bertindak anarkhis terhadap pemeluk agama bukan Islam atau terhadap golongan minoritas.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga terjadi di berbagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, di mana kelompok radikal atau garis keras selalu merupakan kelompok minoritas dari mayoritas. Mereka sebenarnya macan kertas, namun orang takut karena radikalismenya dan selalu meminjam jaket Islam sebagai agama mayoritas.

Mereka maju dengan membawa konsep bellum contra omnes (siapa kuat, menang), padahal “kekuatan”nya karena merasa sebagai bagian (bahkan merasa mewakili) dari yang 87% itu. Nenek moyang kita bilang mereka itu pronken met andermans veren. Berbangga diri dengan bulu orang lain. Setiap tindakannya selalu dilampiri label “atasnama umat Islam”.

Yang dipertanyakan, sampai sejauh mana sebenarnya validitas angka 87% (atau 90% atau 95%) sebagai data statistik yang menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam? Sekali lagi, sumbernya adalah sensus penduduk berdasarkan pengakuan yang kemudian dicantumkan dalam kolom agama di KTP (Kartu Tanda Penduduk), di mana (ada kemungkinan) angka tersebut semu.

Menurut UU No. 23/2006 tentang Administrasi dan Kependudukan (Adminduk), dalam KTP harus dicantumkan agama si pemilik pada kolom agama (Pasal 64 Ayat 1).Sialnya, dalam Ayat 2 pasal tersebut ada keterangan bahwa “bagi peduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, atau penghayat kepercayaan, tidak diisi”. Maksudnya cukup diberi tanda strip (-) saja.

Sialnya lagi, sebelum itu Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 yang diundangkan melalui UU No. 5/1969 yang menjelaskan bahwa “agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu adalah agama yang dipeluk penduduk di Indonesia” ditafsirkan bahwa hanya itulah agama yang diakui pemerintah. Artinya, pemeluk agama selain yang enam itu dan juga penganut aliran kepercayaan yang amat banyak jumlahnya, tidak diakui.

Padahal sebagaimana dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ”Di negeri kita tidak dianut istilah agama yang diakui atau tidak diakui negara. Prinsip yang dianut UUD adalah negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat sesuai dengan kepercayaannya itu. Negara tidak akan pernah mencampuri ajaran agama”.

Dua sial ini mengakibatkan berjuta-juta penganut aliran kepercayaan (demi keamanan dan kemudahan dalam mencari kerja, pernikahan dll) mencantumkan salah satu agama yang disebut dalam UU No.5/1969 tersebut sebagai agamanya. Dan kebanyakan mereka memilih Islam, padahal mereka bukan pemeluk Islam. Mereka agnostik. Percaya kepada Tuhan, menyembah Tuhan, namun tidak beragama.

Berapa jumlahnya? Tidak diketahui pasti. Apalagi komunitas agnostik bukan hanya para pemeluk aliran kepercayaan. Bahkan juga yang tidak beragama dan tidak menjadi pengikut aliran kepercayaan, hanya mempercayai adanya Tuhan dan jumlah mereka yang religius namun tidak memiliki religion ini mungkin amat banyak sebagai “silent mayority” dalam suatu komunitas agama.

Keberadaan mereka yang seperti gunung es itu pernah dimanfaatkan oleh Orde Baru untuk memasukkan para penghayat aliran kepercayaan ke dalam GBHN berdasarkan TAP No.IV/MPR/1978 dengan alasan untuk pembinaan “agar tidak menjadi agama baru”, padahal karena secara politis dapat mendongkrak perolehan suara Golkar.

Karena itu muncullah sebutan “Islam KTP” dan ini yang “menghasilkan” atau “mendongkrak” angka statistik 87%. Mereka yang termasuk "silent mayority " lebih merasa aman dengan mencantumkan “Islam” dalam kolom agama di KTP-nya daripada memberi tanda strip atau kosong.

Alasannya, mudah ditebak. Dengan mengosongkan kolom agama di KTPnya bisa diartikan sebagai “tidak beragama” dan ini cukup rawan bagi datangnya tuduhan sebagai orang atheis, tidak sesuai dengan Pancasila dan bahkan bisa mengundang stigmatisasi sebagai orang komunis.

Kondisi menggelembungnya “Islam KTP” inilah yang kemudian diklaim oleh kelompok ekstrimis, radikalis dan fundamentalis untuk dijadikan senjata guna melakukan tindak kekerasan atau represif terhadap golongan minoritas karena merasa digdaya, bahkan ingin mengganti Pancasila dengan Syariat Islam sebagai dasar negara.

Padahal kelompok ekstrimis itulah yang sesungguhnya minoritas. Karena itu cita-citanya selalu kandas bukan karena ditentang oleh golongan minoritas (non Islam), tetapi justru oleh umat Islam sendiri yang mayoritasnya berpandangan moderat, pluralis dan karena itu tetap mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara.

http://www.apakabar.ws/content/view/2152/88888889/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Benarkah Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam ????

Postby Laurent » Thu Jun 02, 2011 11:32 am

Mayoritas Penduduk INdonesia beragama ISlam, belum tentu semua penduduknya senang beragama ISLAM / Menjalankan ajara ISlam dengan Baik
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5918
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

PreviousNext

Return to Islam vs Agama & Peradaban Lain



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users