. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Benarkah Al-Quran Adalah Wahyu Dari Allah?

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Benarkah Al-Quran Adalah Wahyu Dari Allah?

Postby Judas » Tue Nov 01, 2005 10:01 pm

(B). Benarkah Al-Quran Adalah Wahyu Dari Allah?

Apa benar Al-Quran itu diturunkan langsung secara utuh (sudah berbentuk buku) dari Allah kepada nabi Muhammad saw? Jawabnya: tidak. Al-Quran itu tidak diturunkan secara utuh (sudah berbentuk buku) dari Allah kepada nabi Muhammad saw. Al-Quran telah diturunkan kepada nabi Muhammad saw melalui ilham (wahyu) dari Allah lalu nabi Muhammad saw ceritakan/ucapkan itu kepada teman-temannya, barulah teman-temannya menuliskannya dan yang lain menghafalkannya. Lalu setelah nabi Muhammad saw wafat barulah dipandang perlu untuk membukukan tulisan-tulisan ilham yang telah diterima oleh nabi Muhammad saw. Untuk melestarikannya dikumpullah tulisan-tulisan yang pernah ditulis oleh teman-teman nabi Muhammad saw dan teman-teman yang telah menghafal tuturan nabi Muhammad saw itu. Setelah terkumpul tulisan-tulisan itu dan setelah mendengar akan hafalan-hafalan itu, barulah diketahui ada beberapa perbedaan tulisan dan hafalan. Maka untuk mendapatkan keaslianya, satu panitia telah dibentuk untuk memeriksa, mengseleksi atau memilih mana yang asli dan mana yang sudah berobah. Panitia ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit sebagai ketuanya.

Jadi jelaslah kitab Al-Quran tidak diturunkan secarah utuh (sudah berberntuk buku) dari surga, tapi melalui proses. Yaitu dari Allah melalui ilhamNya kepada nabi Muhammad saw lalu ditulis dan dihafalkan oleh kawan-kawannya. Setelah dikumpulkan tulisan dan hafalan itu diperiksa/diseleksi mana yang benar, barulah disahkan untuk menjadi patokan asli dari kitab Al-Quran. Al-Quran yang sudah disahkan ini dinamai Al-Mushhaf dan oleh panitia ditulis lima buah buku Al-Mushhaf. Empat buah diantaranya dikirim ke Mesir, Syria, Basrah dan Kufah, agar ditempat–tempat itu disalin pula dari masing-masing Mushhaf itu dan satu buah ditinggalkan di Madinah untuk Utsman dan itulah yang dinamakan Mushhaf Al-Imam. Sesudah itu Utsman mengumpulkan semua lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Quran yang ditulis sebelum itu lalu membakarnya. Maka dari Mushhaf yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum Muslimin di seluruh pelosok dunia menyalin Al-Quran itu. (Muqaddimah Al-Quran Departemen Agama R.I. hal.25-26).

Menelusuri proses terjadinya kitab Al-Quran seperti dipaparkan itu, apakah tidak mungkin isi Al-Quran itu ada terdapat kesalahan? Yaitu kekeliruan yang tak disengaja dari panitia yang dibentuk untuk menyeleksi (memilih-milih, memilah-milah) mana yang benar dan mana yang tidak benar. Secara akal sehat memang mungkin ada kesalahan. Tapi bagi kami yang percaya kepada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Bisa, tentu Allah telah memberikan taufik dan hidayahNya kepada panitia tersebut sehingga pekerjaan mereka itu sempurna tidak ada salah. Kami percaya secara iman kepada Allah, tentu Allah sudah memimpin, sudah campur tangan dalam pekerjaan panitia yang mulia ini. Tidak mungkin Allah membiarkan kesalahan tersebut karena itu adalah firmanNya.

Q.S. Al-Hijr (15):9 "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya".

Jadi, dari manakah pengertian keaslian Al-Quran yang katanya tidak berobah dari aslinya? Jawabnya: Pengertian tidak berobah dari aslinya adalah, tidak berobah dari hasil setelah dipilih oleh panitia penyeleksi Zaid bin Tsabit itu (Al-Mushhaf). Jadi bukan pengertian dari asli yang diturunkan oleh Allah langsung dari surga yang sudah berbentuk buku. Sehingga kalau terjadi kekeliruan dalam terjemahannya, itu harus dicocokkan/ disesuaikan pada hasil yang telah dipilih/ditetapkan oleh panitia itu.

Apakah ada kesalahan dalam terjemahan/tafsiran Al-Quran? Sebenarnya tidak ada kesalahan, tapi ada yang kurang tepat terjemahannya (tafsirannya). Ini disebabkan karena perbendaharaan kata dari bahasa yang dipakai terjemahan itu tidak lengkap seperti perbendaharaan kata dibahasa Arab. Maka sipenterjemah memakai kata-kata yang mirip atau yang paling dekat dengan pengertian dalam kata Arabnya, sehingga meyebabkan kadang-kadang terjemahannya tidak tepat, tapi bukan salah. Kasus yang sama seperti inilah yang terjadi pada terjemahan ayat-ayat Alkitab.

Maka untuk mengetest akan keaslian Alkitab dan Al-Quran baiklah kita pakai standar jujur. Pakailah standart yang sama. Jangan kepada Alkitab di test pada kesalahan terjemahan dibandingkan dengan test keaslian dari text huruf Arab yang telah dipilih oleh Panitia. Yang cocok untuk disetarakan (dibandingkan) adalah Codex dengan Hasil panitia Al-Quran (Al-Mushhaf) dan Terjemahan dengan Terjemahan, barulah fair (adil) dalam mengetest Alkitab dan Al-Quran. Inilah yang kami maksudkan dengan janganlah menutup-nutupi, terbukalah apa adanya pada saat menerangkan proses terjadinya Al-Quran dan Alkitab.

Janganlah membiarkan anggapan yang salah bahwa Al-Quran itu diturunkan langsung dari Allah secara utuh hingga keasliannya terjamin, sedangkan katanya Allkitab itu sudah dirobah-robah dan tidak asli lagi, karena terbukti pada terjemahannya yang tidak tepat.

Sekali lagi demi kebenaran marilah kita memakai standar test yang sama. Terjemahan Alkitab dibangdingkan dengan Terjemahan Al-Quran dan Codex Alkitab dibandingkan dengan Al-Quran hasil dari panitia yang dipimpinan oleh Zaid bin Tsabit. Yang terjadi sekarang ini, sarjana-sarjana yang mengetest kebenaran Alkitab, mengetest dengan membandingkan Terjemahan Alkitab dengan Al-Quran dari hasil panitia (Al-Mushhaf). Cara ini tidak tepat (tidak adil). Janganlah berat sebelah. Terang saja, hasilnya tidak seimbang dan akan berat sebelah. Karena kalau berbicara tentang terjemahan/tafsiran Al-Quran, kami dapat buktikan ada banyak terjemahan Al-Quran yang sekarang sudah dirobah/sudah diperbaiki dari terjemahan yang lalu. Tapi kalau Al-Quran hasil panitia itu (Al-Mushhaf) tidak pernah berobah. Demikian pula Codex Alkitab tidak pernah berobah tapi terjemahannya dapat berobah.

Bukti terjemahan/tafsiran Al-Quran dapat berobah ada banyak tapi cukup kami berikan satu saja seperti dibawah ini:

Dalam buku Al-Quran terbitan bulan Juli tahun 1989 yang terjemahannya telah disahkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia, pada kitab 114 buku An Naas ayat pertama tercantum "Qul a’uuzu bi robbinnaas" diterjemahkan "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia".

Dalam buku Al-Quran Al Karim cetakan tahun 1990 pada ayat yang sama diterjemahkan "Aku berlindung kepada Tuhan yang mendidik manusia".
Dalam buku Al-Quran yang diterbitkan oleh Toha Putra, Semarang thn. 1989 ayat yang sama diterjemahkan "Aku berlindung kepada Tuhan Manusia".

Dari ketiga terjemahan Al-Quran yang berbeda-beda ini, pertama diterjemahkan "Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia", yang kedua diterjemahkan: "Tuhan yang mendidik manusia" dan yang ketiga diterjemahkan: "Tuhan Manusia". Apakah kita langsung cepat-cepat mengatakan bahwa Al-Quran itu berobah-robah? Atau tidak asli lagi? Tentu tidak.

Untuk mendapatkan kebenaran yang sebenarnya kita harus kembali kepada Al-Quran hasil panitia Zaid bin Tsabit karena itulah yang menjadi patokan kebenaran. Kalau kita kembali pada Al-Quran yang menjadi patokan tersebut, maka kita akan dapatkan kebenaran terjemahannya adalah terjemahan yang ketiga yaitu: "Tuhan Manusia". Kata "yang memelihara", "yang menguasai", "yang mendidik" itu, adalah tambahan dari sipenterjemah. Robbin=Tuhan, Naas=Manusia. Tidak ada kata lain diantara Robbin dan Naas. Jadi terjemahan yang benar adalah "Robbinnaas"="Tuhan Manusia". Tanpa ada sisipan/tambahan kata-kata yang lain diantaranya. Demikian pula terjadi pada terjemahan-terjemahan Alkitab, kadang terdapat perbedaan dalam terjemahan. Maka untuk mendapatkan kebenarannya kita harus kembali kepada Codex Alkitab yang sekarang sedang tersimpan di Musium di Inggris dan di Perpustakaan Roma Itali. Sekali lagi janganlah mengadakan test perbandingan yang tidak seimbang. Jujurlah, gunakanlah test yang seimbang. Dan jangan cepat-cepat mempersalahkan "sudah dirobah", "sudah tidak asli lagi", pada hal pendapat salah itu, disebabkan karena pengetahuan untuk mengetes firman Allah masih sangat kurang.

Saya dapat menerkah bahwa ada umat Kristiani dan umat Islam yang tidak sepenuhnya setujuh bahwa Islam dan Kristen adalah seiman meskipun telah dibuktikan bahwa firman Allah yang telah diturunkan Allah kepada nabi-nabiNya adalah sama. Ketidak setujuannya ini berdasarkan, pada kenyataan sekarang ini, ada banyak perbedaan dalam kepercayaan. Memang benar, kalau ditinjau dari kenyataan sekarang ini demikianlah adanya. Tapi janganlah terlalu cepat mengambil kesimpulan demikian. Perbedaan-perbedaan sekarang ini adalah hasil dari ulah manusia

Q.S. Al Mu’minuun (23):52 "Sesunguhnya agama tauhid ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepadaKu" ayat 53 "Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka masing-masing" ayat 54 "Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu".

Jadi jelaslah bahwa perbedaan itu adalah ulah manusia, maka janganlah kita mengikuti ulah manusia itu karena nanti sampai waktu tertentu Allah akan bertindak (ayat 54). Marilah kita jujur dalam menilai keadaan sekarang ini. Bukan semua orang yang mengaku Islam menjalankan ajaran Islam yang sebenarnya. Juga bukan semua orang yang mengaku Kristiani menjalankan ajaran Kristen yang sebenarnya. Maka janganlah mempersalahkan atau mengukur doktrin Islam/doktrin Kristen dengan cara kehidupan orang yang mengaku-ngaku Islam/Kristen pada hal dia tidak menjalankan syarat Islam/ syarat Kristen yang tertulis dalam Al-Quran dan Alkitab. Kalau sungguh-sungguh kita menjalankan apa yang diturunkan oleh Allah dalam firmanNya tentu akan berada dalam satu iman. Karena sangat jelas Al-Quran menganjurkan agama kita semua harus mengikuti agama nabi Ibrahim. Sedangkan agama nabi Ibrahim itu adalah agama Kristiani juga.

Memang kalau kita perhatikan keadaan umat Kristiani sekarang ini, bukan semua orang Kristiani yang mengaku-ngaku mengikuti ajaran nabi Isa (Yesus) telah menjalankan apa yang Yesus ajarkan. Sudah banyak ajaran Yesus yang diselewengkan dari ajaran yang sebenarnya. Sehinga nampaknya perbedaan itu lebih besar. Maka untuk mendapatkan ajaran yang masih asli dan belum tercemar, baiklah kita dengan cermat memilih dan mencarinya dengan pertolongan Roh suci (taufik dan hidayahNya), pasti kita akan mendapatkannya. Karena itu telah dijanjikan Allah kepada umatNya yang sungguh-sungguh mau mencari kebenaran.

Setelah kita mengetahui bahwa sesungguhnya firman Allah yang diturunkan kepada nabi-nabiNya, seperti kepada nabi Musa, kepada nabi Isa dan kepada nabi Muhammad adalah sama dalam maksud dan tujuannya, dan masih dapat dipercaya akan keasliannya, maka ada pertanyaan yang perlu dijawab yaitu, Kenapa Allah membiarkan firmanNya itu harus melalui proses yang berbelit-belit agar dapat dipahami/agar dapat dipercaya oleh manusia? Bukankah lebih baik Allah menyajikan firmanNya itu secara utuh turun dari surga sehingga tanpa susah-susah mengadakan penyelidikan, sudah dengan jelas terpapar didepan mata dan langsung mudah di mengerti dan di terima apa adanya tanpa ada usaha yang berbelit-belit untuk menyelidiki dan membuktikan akan keaslian isinya".

Nampaknya pertanyaan atau ajuran ini cukup baik untuk diterima, tapi sebelum kita menerimanya, perlu kita ketahui dan insyafi bahwa Allah itu adalah Allah yang Maha Bijaksana, apapun yang dibuat oleh Allah tentu lebih baik dari apa yang kita manusia dapat pikirkan atau anjurkan. Jadi sebelum kita menerima ajuran agar firmanNya itu diturunkan secara utuh agar mudah dan langsung dapat dimengerti dan diterima, lebih baik kita berhenti sejenak dan insyafilah siapa kita ini. Kita ini hanyalah makhluk ciptaaNya. Janganlah terlalu banyak mempertanyakan akan tindakan kebijaksaan Allah yang Maha Bijaksana itu. Secara akal sehat perlu kita akui bahwa firman Allah itu bukanlah filsafat manusisa yang mudah dimengerti. Kalau filsafat manusia, setinggi apapun filsafat itu, kalau kita mau pelajari kita dapat memahaminya dengan sempurna. Tapi firman Allah bukan begitu. Firman Allah sungguh ajaib. Firman Allah itu dapat dimengerti oleh orang yang tidak berpendidikan, tapi kepada para sarjana setinggi apapun titelnya dia tidak dapat mengerti sepenuhnya filsafat firman Allah itu. Lebih digalinya, lebih dalam penyelidikannya, lebih luas lagi yang dia belum ketahui. Sungguh luar biasa dan ajaib firman Allah itu. Titel sarjana memang sangat diperlukan. Jadi janganlah kita meremehkannya. Tapi bukan titel/gelar itulah yang terpenting dalam menyelidiki firman Allah, karena firman Allah itu hanya dapat dimengerti berkat pimpinan Roh Allah/ Taufik dan HidayahNya. Dalam buku Selected Messages Vol. I pp 411 "No one is able to explain the Scriptures without the aid of the Holy Spirit. But when you take up the Word of God with a humble, teachable heart, the angels of God will be by your side to impress you with evidences of the truth." pp 415 "God can teach you more in one moment by His Holy Spirit than you could learn from the great men of the earth".

Jadi jangalah tawar hati dalam usaha menyelidiki dan mencari kebenaran friman Allah. Kalau kita sungguh-sungguh mau mencari dan mau mengetahui akan kebenaran firman Allah itu, Allah telah berjanji akan memberikannya. Asalkan kita sungguh-sungguh datang kepadanya dalam doa permohonan kita. Pasti Allah akan memberikannya. Itulah janji Allah.
Maka dapatt disimpulankan bahwa:

(1). Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Teguh. Berarti FirmanNya itu juga teguh dan tidak berobah-robah.

(2). Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Bisa (maha sanggup). Berarti Allah sanggup menjaga dan memelihara FirmanNya sehingga tidak hilang dan tidak dirobah-robah.

(3). Kalau ada yang mengatakan firman itu masih ada, tapi itu sudah dirobah-robah. itu berarti orang itu melecehkan dan merendahkan derajat / kemampuan Allah yang dia sembah. Dengan kata lain orang itu menyembah allah yang tidak sannggup menjaga akan firmannya. Manusia saja sanggup menyimpan arsip dokumennya. Mana mungkin Allah yang Maha Kuasa, yang Maha Bisa (maha sanggup), tidak sanggup menyimpan dan menjaga kemurnian firmanNya?

Bapak K.H. Hasyim Musadi sebagai Ketua Umum NU dalam wawancara di RCTI pada tgl. 18 September 2000, saat ditanyakan apa anjuran Bapak tentang keadaan sekarang ini? Dengan bijaksana Bapak K.H. Hasyim Musadi menjawab: "Yang penting sekarang ini adalah "kesadaran" dan "jangan menutup-nutupi", Baiklah kita sadar dan tebuka. Karena kalau tidak, Allah akan bertindak. Ingatlah tindakan Allah sangat pedih. Jangan tunggu sampai Allah bertindak". Anjuran / nasihat dari Bapak K.H. Hasyim Musadi ini dapat juga ditujukan kepada mereka yang coba-coba mau menyampaikan hasil reset / pendapatnya dengan mengatakan Firman Allah yang diturunkan kepada nabi Musa dan nabi Isa (yaitu Tourat dan Injil) itu, sudah tidak ada dan kalaupun ada itu sudah tidak asli lagi. Pernyataan mereka ini telah merendahkan derajat dan kemampuan Allah yang kita sembah Allah yang Maha Bisa (maha sanggup) melestarikan firmanNya. Jadi "sadarlah" "terbukalah" saudaraku sebelum terlambat. Insyah Allah kita akan bersatu dalam satu iman sesuai firman Allah yang diturunkan kepada nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Q.S Al Maidah (5):68 "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Quran". Q.S. An Nahl (16):123 "Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim’.

LAST EVENTS DUTY INSTITUT
P.O. Box 6056, Jakarta, Indonesia
Web site: www.worldnet-id.com/Jawaban/No16.htm
E-mail : lasteventsduty@yahoo.com

:D
User avatar
Judas
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 38
Joined: Mon Oct 17, 2005 10:20 pm
Location: The dark side of your mind

Postby Judas » Wed Nov 02, 2005 7:51 am

Utk bagian A-nya dapat dilihat di sini

http://indonesian.knowislam.info/forum/ ... =3451#3451

:D
User avatar
Judas
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 38
Joined: Mon Oct 17, 2005 10:20 pm
Location: The dark side of your mind

Inikah yang namanya wahyu Allah???

Postby hell.boy » Thu Dec 08, 2005 9:52 am

Dari keterangan muslim yg awal2 bahwa Muhammad pernah "kecolongan" ayat2 yg diakui beliau sebagai bukan dari Alloh dalam Alquran, melainkan dari Setan yg kemudian dibatalkan olh Muhammad sendiri.

1. Ibn Sa`d (d. 230) in his al-Tabaqat al-Kubra (reprint Beirut: Dar Sadir), vol. 1 said:
[p. 205] Muhammad ibn `Umar(*) narrated to us: (1) Yunus ibn Muhammad ibn Fadala al-Zafari narrated to me: From his father who said: (2) From Kathir ibn Zayd: From al-Muttalib ibn `Abd Allah ibn Hantab who said:-

[(*) Muhammad ibn `Umar al-Waqidi (d. 207), Ahmad ibn Hanbal said of him: "He is a liar." Al-Bukhari and Abu Hatim al-Razi said: "Discarded." Ibn `Adi said: "His narrations are not retained, and their bane comes from him." Ibn al-Madini said: "He forges hadiths." Al-Dhahabi said: "Consensus has settled over his debility." Mizan al-I`tidal (3:662-666 #7993).]

Allah's Messenger - Allah bless and greet him - saw rejection coming from his people, so he sat in isolation, wishing to himself: Would that nothing is revealed to me that would drive them away from me. Thereafter Allah's Messenger - Allah bless and greet him - approached his people again and made overtures to them, and they responded to him. One day he sat with them in one of the usual public gatherings around the Ka`ba and he recited to them "By the Star when it setteth" (Sura 53, al-Najm). When he reached the words:


19. Have ye thought upon Al Lat and Al Uzza? 20. And Manat, the third, the other?
the devil interjected two phrases (kalimatayn) upon his tongue:

"Those are the elevated cranes: truly their intercession is dearly hoped!"

Allah's Messenger spoke these two phrases then went on to finish the entire Sura, then he prostrated and all those in attendance prostrated. Al-Walid ibn al-Mughira took a handful of earth and [applying it to his forehead] prostrated on it, for he was an aged old man who could not prostrate. It is also said that Abu Uhayha Sa`id ibn al-`As was the one who did this.... and some say both did it.

They [the Quraysh] were elated at what Allah's Messenger - Allah bless and greet him - had spoken, saying: "We definitely know that Allah gives life and gives death as well as creates and sustains, but these our gods intercede for us before Him, so if you give them their share, we are with you." This statement of theirs bore heavily on the Prophet - Allah bless and greet him - and he withdrew to his house. When evening came, Gibril came to him and rehearsed the Sura with him, whereupon Gibril said: "Did I bring you those two phrases (al-kalimatayn)?" Allah's Messenger said: "Have I said on Allah's part something He never said?" Whereupon Allah revealed to him [p. 206] the verse: { And they indeed strove hard to beguile thee (Muhammad) away from that wherewith We have inspired thee, that thou shouldst invent other than it against Us; and then would they have accepted thee as a friend.} (17:73)


2. Imam al-Baghawi (d. 510) said in his commentary of the Qur'an entitled Lubab al-Ta'wil fi Ma`alim al-Tanzil (Dar al-Fikr ed. vol. 3) concerning the story of the cranes (qissat al-gharaaneeq):
[p. 293] Ibn `Abbas, Muhammad ibn Ka`b al-Qurazi and others of the commentators of Qur'an said that when the Prophet - Allah bless and greet him - saw the turning away of his people from him and it bore heavily on him to see the distance grow between them and what he brought them on Allah's part, he desired in his soul (tamanna fi nafsihi) that there come from Allah something that would bridge the gap between him and his people, for he was deeply concerned that they should have faith. As he was in a gathering of the Quraysh one day, Allah revealed Sura al-Najm (53), whereupon Allah's Messenger - Allah bless and greet him -- began to recite it, until he reached His saying:


19. Have ye thought upon Al Lat and Al Uzza? 20. And Manat, the third, the other?
whereupon the devil interjected upon his tongue (alqa al-shaytan `ala lisanihi) in connection with that of which he spoke to himself and was hoping for:


"Those are the elevated cranes: truly their intercession is dearly hoped!"
When the Quraysh heard this, they rejoiced greatly. Allah's Messenger proceeded with his recitation until the end of the Sura, at which point he prostrated, and the Muslims prostrated with him as well as all those of the pagans that were in the mosque. There remained no-one in the mosque, neither believer nor non-believer, except he prostrated, but for al-Walid ibn al-Mughira and Abu Uhayha Sa`id ibn al-`As who took a handful of earth and applied it to their foreheads, prostrating on it, for they were aged old men who could not prostrate. Then the Quraysh dispersed in elation at the way they had heard their gods mentioned, saying: "Muhammad has mentioned our gods in the best way possible." They also said: "We definitely know that Allah gives life and gives death as well as creates and sustains, but these our gods intercede for us before Him, so if Muhammad gives them their share, we are with him." When evening came, Gibril came to Allah's Messenger - Allah bless and greet him - and said: "O Muhammad! What have you done? You have recited to the people something which I never brought you from Allah Exalted and Almighty." Hearing this, the Prophet - Allah bless and greet him - was deeply grieved and feared much from Allah . So Allah revealed to him the following verse in which he consoled him , as He was ever merciful towards him:

{ Never sent We a messenger or a Prophet before thee but when He recited (the message) Satan proposed (opposition) in respect of that which he recited thereof. But Allah abolisheth that which Satan proposeth. Then Allah establisheth His revelations. Allah is Knower, Wise} (22:52)

Meanwhile those of the Prophet's Companions who were in Abyssynia heard the news of the prostration of the Quraysh and the rumor that the Quraysh and the Meccans had accepted Islam, so most of them returned to their kindred. But when they neared Mecca the news reached them that what they had heard of the Islam of the Meccans was false. So no-one actually entered Mecca except under protection or stealthily. When the above verse was revealed, the Quraysh said: "Muhammad regrets his words about the status of our gods before Allah and has now changed them." The two phrases that the devil had interjected upon the tongue of Allah's Messenger - Allah bless and greet him - by then were in the mouth of every idolater, and their hostility increased in intensity against those who had accepted Islam.


3. Al-Tabari (d. 310) said in his commentary entitled Jami` al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an (30 vols.) Beirut: Dar al-Fikr, 1405/1985, reprint of the Bulaq 1322-1330/1904-1911 ed. vol. 17:
[p. 186] The sayings concerning the interpretation of the verse:

{ Never sent We a messenger or a Prophet before thee but when He recited (the message) Satan proposed (opposition) in respect of that which he recited thereof. But Allah abolisheth that which Satan proposeth. Then Allah establisheth His revelations. Allah is Knower, Wise} (22:52):

It was said that the reason for which this verse was revealed upon the Messenger of Allah - Allah bless and greet him - is that the devil had interjected upon the Prophet's tongue - Allah bless and greet him - during some of his recitation of the Qur'an as it had been revealed to him by Allah, something which Allah had not revealed. Then this bore heavily on Allah's Messenger - Allah bless and greet him - who became despondent, whereupon Allah Almighty comforted him by revealing to him the above....

[Then al-Tabari proceeds to narrate reports to that effect, all of them weak, but the collective weight of which suggests authenticity as stated by Ibn Hajar in Fath al-Bari (see below).]

[p. 190] The gist of the interpretation of the verse is: "We never sent before you any Messenger nor Prophet except that, when he uttered Allah's Book in recitation, or discoursed and spoke, the devil interjected something into what he uttered of Allah's Book in recitation or into his discourse and speech, { But Allah abolishes that which the devil interjects} , i.e. He removes whatever suggestion the devil interjects upon the Prophet's tongue and nullifies it."

[Al-Tabari goes on to state that the verses that follow make explicit the fact that the reason for this incident was to test the belief of those who harbored a disease in their hearts and increase the belief of those who were rightly-guided - and this test continues until our time:

22:53 { That He may make that which the devil proposeth a temptation for those in whose hearts is a disease, and those whose hearts are hardened. Lo! the evil-doers are in open schism.}

22:54 { And that those who have been given knowledge may know that it is the truth from thy Lord, so that they may believe therein and their hearts may submit humbly unto Him. Lo! Allah verily is guiding those who believe unto a right path.}

22:55 { And those who disbelieve will not cease to be in doubt thereof until the Hour come upon them unawares, or there come unto them the doom of a disastrous day.}

22:56 { The Sovereignty on that day will be Allah's. He will judge between them. Then those who believed and did good works will be in Gardens of Delight,}

22:57 { While those who disbelieved and denied Our revelations, for them will be a shameful doom.} ]


4. Al-Jassas (d. 370), Ahkam al-Qur'an (5 vols.), ed. Muhammad al-Sadiq Qamhawi (Beirut: Dar Ihya' al-Turath al-`Arabi, 1405/1985) 5:83-84:
Concerning the verse:

{ Never sent We a messenger or a Prophet before thee but when He recited (the message) Satan proposed (opposition) in respect of that which he recited thereof. But Allah abolisheth that which Satan proposeth. Then Allah establisheth His revelations. Allah is Knower, Wise} (22:52):

It was narrated from Ibn `Abbas, Sa`id ibn Jubayr, al-Dahhak, Muhammad ibn Ka`b, and Muhammad ibn Qays that the circumstance of revelation fof this verse was that when the Prophet - Allah bless and greet him recited { Have ye thought upon Al Lat and Al Uzza? And Manat, the third, the other?} (53:19-20), the devil interjected (alqa) into his recitation: "Those are the elevated cranes: truly their intercession is dearly hoped!"

There is difference of opinion over the meaning of "the devil interjected." Some said that when the Prophet - Allah bless and greet him - recited this sura and mentioned in it the idols, the pagans knew that he would vilify them and so one of them said, at the time the Prophet - Allah bless and greet him - reached the words { Have ye thought upon} etc. "Those are," etc. in full presence of the multitude of the Quraysh in the holy Mosque. At that time the generality of the pagans who were far back said: "Muhammad just praised our divinities!" and they conjectured that this was part of his recitation. Thereafter, Allah declared this claim of theirs false, and showed that the Prophet - Allah bless and greet him - never recited it in the first place, but that it was only recited by one of the pagans. Allah named that person "Satan" because he was one of the devils of humankind... "shaytan" being a name for every obdurate rebel among jinn and humankind. It was also said that it is possible that he was one of the devils of the jinn.


5. Al-Tha`alibi's (d. 876) al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Qur'an (4 vols.), Beirut: Mu'assasa al-A`lami li al-Matbu`at, 1970?, Reprint of the original 1323/1905 Algerian edition, 3:84:
Al-Qadi `Iyad said [in al-Shifa]: "Suffice it for you that this narration was not documented by any of the scholars of sound hadith, nor have any of the trustworthy narrators related it with a healthy, uninterrupted chain. The only ones to be interested in it are the type of commentators and historians who are interested in every strange matter, blindly compiling from the books everything their hands fall upon, whether it is sound or feeble." Qadi Abu Bakr told the truth.


6. Abu al-Su`ud's (d. 951) Irshad al-`Aql al-Salim ila Mazaya al-Qur'an al-Karim (9 vols.), Dar Ihya' al-Turath al-`Arabi, 6:113:
Concerning the verse:

{ Never sent We a messenger or a Prophet before thee but when He recited (the message) Satan proposed (opposition) in respect of that which he recited thereof. But Allah abolisheth that which Satan proposeth. Then Allah establisheth His revelations. Allah is Knower, Wise} (22:52):

It was said that he [the Prophet - Allah bless and greet him] hoped, because of his yearning that his people should have faith, that there be revealed to him something that would bring them nearer to him, and he persisted in this until he was among them and Sura al-Najm was revealed; whereupon he began to recite it, and when he reached { And Manat, the third, the other} , the devil whispered to him with the result that his tongue tripped in inattention and he said "Those are the elevated cranes: truly their intercession is dearly hoped!" Whereupon the pagans rejoiced and joined him in prostration when he prostrated at the end of the Sura, and there remained none in the Mosque - whether believer or pagan - except they all prostrated. After this, Gibril - upon him peace - warned him of the mistake, then Allah the Exalted rebuked him with this verse. This account is rejected by the scholars of verification.


7. Ibn Hajar in Fath al-Bari, 1959 ed. vol. 8:
[p. 439] All the paths of this hadith are either weak or cut off, except for that of Sa`id ibn Jubayr... However, the profusion of the chains show that the story has a basis, furthermore, there are two other "mursal" chains whose narrators are those of Bukhari and Muslim. The first one is that narrated by al-Tabari through Yunus ibn Yazid from Ibn Shihab [al-Zuhri]: "Abu Bakr ibn `Abd al-Rahman ibn al-Harith ibn Hisham narrated to me," etc. The second is what al-Tabari also narrated through al-Mu`tamir ibn Sulayman and Hammad ibn Salama from Dawud ibn Abi Hind from Abu al-`Aliya.... Contrary to what Abu Bakr ibn al-`Arabi and al-Qadi `Iyad have claimed whereby the story has no basis at all.... When the paths of a hadith are many and distinct, it shows that the report has a basis.... So, as I said, there are three sound but 'mursal' chains for it, among them what meets the criteria of the two Sahihs but for the fact that they are 'mursal'. These constitute proof for both those that accept 'mursal' reports as proofs and those that do not, due to the mutual strengthening of the chains.

This said, it is required to interpret the incident and address what appears to be reprehensible, namely the statement "the devil interjected upon the Prophet's tongue - Allah bless and greet him - the words 'Those are the elevated cranes: truly their intercession is dearly hoped.'" Such a thing is precluded from being accepted in literal terms for it is impossible for the Prophet - Allah bless and greet him - to add something to the Qur'an that does not belong to it whether deliberately (`amdan) or erroneously (sahwan). ...

[p. 440] Al-Qadi `Iyad did well when he said: "It is possible the Prophet - Allah bless and greet him - was mentioning the belief of the pagans by way of derision, noting that at that time it was permitted to speak in the midst of prayer. To this position leaned Ibn al-Baqillani. It was also said that when he reached the words { Have ye thought upon Al Lat and Al Uzza? And Manat, the third, the other?} the pagans feared lest he would add something to mock their gods, so they hastened to interject and jeer so as to cover up what was coming next, as was their habit stated in the verse { Those who disbelieve say: Heed not this Quran, and drown the hearing of it; haply ye may conquer} (41:26). This act on their part was attributed to the devil as it was he that inspired it to them. Or, what was meant by the devil was the devil of humankind.... It was also said that the Prophet - Allah bless and greet him used to recite the Qur'an slowly, so that the devil lay in wait for one of the pauses and uttered the words in question with the same timbre of voice. Those that were near him heard it as if coming from the Prophet - Allah bless and greet him - and attributed it to him. This is the best of all interpretations."

Ibn al-`Arabi also approved of the latter interpretation, saying: "This verse [{ Never sent We a messenger or a Prophet before thee but when He recited (the message) Satan proposed (opposition) in respect of his amaniyya (="that which he recited thereof")} (22:52)] is an explicit proof-text, in our school, to the innocence of the Prophet - Allah bless and greet him - of what was imputed to him. The meaning of 'amaniyya' in the verse being: 'recitation'. Allah Almighty therefore informed us in this verse that His way with His Messengers is that when they say something, Satan adds something to it on his part. This is an explicit proof-text that it is Satan that conveys this statement inside the Prophet's words


----------------------------


Keterangan dari tulisan sejarah kehidupan Muhammad yg mula2 dari Muslim utk melihat ayat2 setan yg diucapkan olh Muhammad :

Never did We send a Messenger or a Prophet before you but when he did recite the revelation or narrated or spoke, Shaitan (Satan) threw (some falsehood) in it. But Allah abolishes that which Shaitan (Satan) throws in. Then Allah establishes His Revelations (Qur'an 22:52, Taqi-ud-Din Al-Hilali)

Tdk pernah Kami kirim seorang Utusan atau Nabi sebelum kamu tetapi ketika dia membacakan wahyu atau menceritakan atau membacakan, Syaitan(Setan) melemparkan (beberapa kebohongan) didalamnya. Tetapi Allah menghapuskan apa yg telah Syaitan (Setan) lemparkan kedalamnya. Kemudian Allah mendirikan wahyu2Nya (Qur'an 22:52, Taqi-ud-Din Al-Hilali)

Mari kita lihat latar belakangnya lebih lanjut ketika Muhammad mengucapkan ayat2 Setan sebagai bagian dari wahyu2nya yg diterimanya tanpa mengetahui bahwa itu dari Setan, setelah melihat reaksi kaum jahilliyah bergembira ketika Muhammad memuji-muji ilah2 kafir mereka kemudian Muhammad membatalkanya(Konsep Nasikh dan Mansukh dalam Alqur'an atau pembatalan dan penghapusan ayat2 "suci" Alqur'an) yg diakui olh beliau sendiri datangnya dari Setan(beliau mengclaim bhw Jibril kemudian datang dan menegor Muhammad krn Muhammad tdk tahu bahwa ia telah mendapat wahyu dari Setan (menurut pengakuan beliau) lalu Jibril menyatakan bahwa itu bukan dari Allah(menurut pengakuan beliau)) Kemudian kembali kaum jahilliyah tdk menyukai Muhammad setelah membatalkanya dan Muhammad kembali ke konsep monotheistmenya kaum Yahudi dan Nasrani.

Mari kita lihat keterangan latar belakang sejarah hal tsb dari keterangan muslim yg mula2 :

Ketika Muhammad masih di Mekah dia mencoba utk menarik org2 kafir Quraisy (Mekah) utk menerima Islam ajaran yg dibawakanya (yg sangat kental sekali dgn pengaruh monotheisme dari agama Yahudi dan Nazrani yg memang sudah ada ditanah Arab dan Muhammad mengenalnya, olh sebab itu tdk heran Muhammad memilih menjadi monotheist). Tetapi Muhammad dan ajarannya tdk diterima olh mereka dan lebih menyusahkan baginya dan para pengikutnya sampai suatu saat Muhammad membacakan ayat2 berikut ini :

Surah Al-najm 53:19-20 ;
Have ye seen Lat and 'Uzza, And another, the third (goddess), Manat? [These are the high-flying ones, whose intercession is to be hoped for!]

Yg dalam kurung kemudian bagian dari ayat yg dibatalkan. Muhammad menyatakan bahwa ilah2 kafir yg dalam kaabah sebagai ilah2/pengantara yg terbang tinggi, yg pengantaraanya utk diharapkan. Terjemahan lain menyatakan : "These are the exalted cranes (intermediaries)
Whose intercession is to be hoped for."

Dari keterangan Ibn Ishaq :

When Quraysh heard that, they were delighted and greatly pleased at the way in which he spoke of their gods and they listened to him ... Then the people dispersed and Quraysh went out, delighted at what had been said about their gods, saying, "Muhammad has spoken of our gods in splendid fashion". (Ibn Ishaq, p. 166)

Ketika Quraisy mendengarkan itu, mereka bergembira dan senang dgn cara Muhammad membicarakan mengenai dewa2 mereka dan mereka mendengarkan dia..Kemudian org2 berpisah dan Quraisy pergi, gembira dgn ketika dikatakan mengenai dewa2 , berkata, "Muhammad telah mengatakan mengenai dewa2 kita dalam gambaran yg luar biasa.(Ibn Ishaq, p. 166)

Lebih lanjut dari keterangan Ibn Ishaq :

Then Gabriel came to the apostle and said , "What have you done, Muhammad? You have read to these people something I did not bring you from God and you have said what He did not say to you." (Ibn Ishaq, p. 166)

Kemudian Jibril datang kepada rosul dan mengatakan, "apa yg telah kamu lakukan, Muhammad? Kamu telah membacakan kepada mereka sesuatu yg aku tdk berikan kepadamu dari Allah dan kamu telah katakan apa yg Dia tdk katakan kepadamu."(Ibn Ishaq, p. 166)

When the annulment of what Satan had put upon the prophet's tongue came from God, Quraysh said: "Muhammad has repented of what he said about the position of your gods with Allah, altered it and brought something else." (Ibn Ishaq, p. 166-167)

Ketika pembatalan dari apa yg telah Setan taruh pada lidah nabi datang dari Tuhan, Quraisy berkata : "Muhammad telah mengulangi apa yg telah ia katakan mengenai dewa2mu dengan Allah, mengubah itu dan membawakan yg lainya.(Ibn Ishaq, p. 166-167)

Kemudian kemungkinan besar sebagai penjelasan atas ayat2 Setan yg telah terlanjur diucapkan maka muncul surah 22:52

Never have We sent a single prophet or apostle before you with whose wishes Satan did not tamper. But God abrogates the interjections of Satan and confirms His own revelations. (Qur'an 22:52, Dawood)

Tdk pernah Kami kirim seorang Utusan atau Nabi sebelum kamu tetapi ketika dia membacakan wahyu atau menceritakan atau membacakan, Syaitan(Setan) melemparkan (beberapa kebohongan) didalamnya. Tetapi Allah menghapuskan apa yg telah Syaitan (Setan) lemparkan kedalamnya. Kemudian Allah mendirikan wahyu2Nya (Qur'an 22:52, Taqi-ud-Din Al-Hilali)

Dari dari keterangan mula2 seperti Ibn Ishaq, Wakidi, Ibn Sa'd, and Tabari yg mencatat lebih detail peristiwa itu.


--------------------------------------

Menurut QS 5 (almaida) :21 TANAH PALESTINA ITU DISERAHKAN TUHANNYA ALQURAN KEPADA YAHUDI - sampai sekarang ayat ini belum dirubah / dinasakh oleh ALLOH pertanyaannya kenapa para pemimpin islam melawan ALLOH DAN MELAWAN QS 5:21 ?????????? UMAT ISLAM PENGEN YAHUDI KELUAR DARI TANAH PALESTINA ! PADAHAL ALLOHNYA BELUM MERUBAH / MENASAK AYAT INI -- SEHARUSNYA
APAPUN ALASANNYA - ALLOHNYA ORANG ISLAM BELUM MERUBAH / MENASAK AYAT INI ! - KALAU ORANG ISLAM MAU MENEGAKKAN AJARAN QURAN - MEREKA SEMUA HARUS MENYURUH ORANG PALESTINE UNTUK MENINGGALKAN TANAH YAHUDI - kalau mau menegakkan QURAN 5:21 karena ayat ini belum dibatalkan ALLOH AKBAR



TUH LIAT UDA JELAS PAKE BAHASA INDONESIA BAHWA TANAH ITU DIKASI ALLOH UNTUK ISRAEL - eh imams buat - buat ALASAN dengan berbagai argumen argument HAHAHAH


-------------------------------------------

Bagaimana menurut Boss mengenai pernyataan tentang hadis-hadis berikut ini:
· Adalah menarik untuk menunjukkan adanya sejumlah riwayat di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang menyatakan adanya ayat Qur'an yang hilang. [Al-Bukhari, Al-Sahih, vol. 8 p. 208; Muslim, Al-Sahih, vol. 3 p. 1317]
· Bukan hanya itu. Juga disebutkan adanya dua surat yang hilang dari Qur'an dan salah satunya panjangnya mirip dengan surat ke-9! [Muslim, Al-Sahih, Kitab al-Zakat, vol. 2 p. 726]
· Beberapa riwayat mengklaim bahwa Surat al-Ahzab (surat 33) semula panjangnya sama dengan Surat al-Baqarah (surat 2)!! Surat al-Baqarah adalah surat Qur'an yang paling panjang. Riwayat di Sahih Bukhari dan Muslim malah menulis secara rinci tentang ayat-ayat yang hilang itu. [Al-Bukhari, Al-Sahih, vol. 8 p. 208]

--------------------------------------------


Dengan adanya pengakuan akan perantaraan Al-Lat, Al-Uzza dan Manat yang diterima oleh Allah tentunya hal ini sangat menggembirakan para penyembah berhala sehingga mereka ikut bersujud bersama-sama dengan para Muslim dan para Jin setelah ayat tsb selasai diwahyukan:

Sahih Bukhari. Vol 6, Book 60. Prophetic Commentary On The Qur'an (Tafseer Of The Prophet (pbuh)). Hadith 385.
Narrated By Ibn Abbas:
The Prophet performed a prostration when he finished reciting Surat-an-Najm, and all the Muslims and pagans and Jinns and human beings prostrated along with him.

Terjemahan NoMind
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas,
Nabi melakukan sujud ketika dia selesai melafalkan Sura An-Najm, dan semua Muslims dan penyembah berhala dan Jin dan manusia bersujud bersama dengan dia.


Tanpa ayat yang dihilangkan (ayat setan) diantara ayat 5:20 dan 5:21 yang isinya menyatakan bahwa perantaraan anak2 perempuan Allah, Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat, maka surah 53:19-25 berubah menjadi hinaan kepada anak2 perempuan Allah tsb.

Bisakah Anda menjelaskan untuk apa para musyrik yang katanya sangat membenci Muhammad dan selalu memerangi dia dan para pengikutnya, bersujud bersama-sama dengan para Muslim dan Jin setelah Surah An-Najm selesai di wahyukan?

Apakah ayat 53:19-25 yang isinya meremehkan dan mengejek dewa-dewi para musyrik yang menyebabkan mereka bersuka cita sehingga bersujud setelah ayat tsb di wahyukan?

Apakah orang-orang musyrik tsb yang adalah mayoritas sudah gila dan takut sehingga saat dewa-dewi mereka diremehkan oleh Muhammad (yang saat itu pengikutnya sangat sedikitm) dengan senang hati bersujud mengamini ayat-ayat tsb?

Dan untuk apa para jin ikut bersujud setelah mendengarkan Surah An-Najm selesai di wahyukan?


-------------------------------------------


a). Pemutar-balikan Alkitab hanyalah merupakan product iblis dan telah di ramalkan oleh rasul Paulus dan sangat dikutuk olehnya.

Galatia 1:
6. Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain a),
7. yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.
8. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.
9. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah diac).

Salah satu ayat yang memutar-balikan Injil Kristus adalah :
An-Nisaa’ 4 :
[157] dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Sedangkan Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes mewartakan bahwa Yesus mati di kayu salib.
Baca kisah penyaliban Yesus yang ditulis dalam Matius 26 dan 27, Markus 14 dan 15, Lukas 22 dan 23 dan Yohanes 18 dan 19.

Sebelum disalib, Yesus sendiri mengatakan kepada murid2Nya bahwa Dia akan disalib :
Matius 26:
1. Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya:
2 "Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan."

Kesimpulan :
Alquran telah memutarbalikan Injil Kristus, berarti Alquran adalah kitab setan.

b) Peristiwa gua Hira adalah pertemuan Muhammad dengan iblis/setan yang mengaku bernama Jibril.

Mungkinkah seorang Malaikat (dikabarkan sebagai Gabriel atau Jibril dalam bahasa Arab) membawa Firman Tuhan untuk diserahkan kepada Muhammad, dengan cara MEMAKSA Muhammad dan MENCEKIK Muhammad ?
Baca peristiwa saat Muhammad bertemu dengan Jiblis di gua Hira.

Kesimpulan :
Digua Hira atau dimanapun saat Jibril menemuai Muhammad, Jibril itu adalah jelmaan iblis/setan yang membawa pemutar-balikan Injil Kristus.

Dalam Injil diingatkan kepada kita mengenai Setan (Iblis) yang menyamar menjadi malaikat:
2 Korintus 11:
14 Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.

c). Peristiwa diterimanya firman Aullah oleh Muhammad adalah peristiwa yang aneh. Seorang yang diamggap nabi, menerima firman Aulloh dengan cara dipaksa, dicekik dan kejang2 dengan mulut berbusa ... bukanlah cara yang norman seorang (nabi) menerima Firman Allah.
Ditambah lagi, didalam darah manusia terdapat setan2, menunjukan betapi mudahnya seorang walaupun dia nabi, dirasuki oleh setan.
User avatar
hell.boy
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 6
Joined: Thu Dec 08, 2005 9:16 am

Postby ali5196 » Thu Dec 08, 2005 4:34 pm

hell.boy, gua nggak ngerti posting elu diatas ... coba dipersingkat dong biar jelas gitu !
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: Google [Bot]