muslim_netral wrote:Ya, ampuuunn... liat konteks dong , jangan mengambil kesimpulan generalisasi, saya menyebutkan duit bisa mengangkat martabat, ini bukan dalam hal ruang lingkup moral, idealisme, religius ataupun apalah, duit memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya pake duit, coba misalkan anda orang pintar, berprilaku baik, berpakaian sederhana, kemudian saya misalkan orang kaya, banyak duit, berpakaian mewah, kita kebetulan bareng masuk hotel mewah, saya turun dari mobil mewah, anda turun dari angkot, kira-kira penjaga hotel akan menyambut siapa? mungkin mereka tidak akan menyapa Anda karena dikira mau minta sumbangan, sebaliknya saya akan disambut dengan keramahtamahan, senyuman, barang bawaanya mereka jinjing.... itu karena apa? mereka lihat ada DUIT di kedatanganku, duit mengangkat posisi orang menjadi lebih tinggi, mengangkat derajat, begitu juga dengan Khadijah, jadi di konteks ini kita sedang membicarakan posisi Khadijah, bukan bikin thread baru mengenai "tolak ukur kriteria martabat", bukan hal itu yang sedang diperdebatkan, kalau mau ngotot debat martabat, ada tuh depan rumahku, mau? ada martabat rasa coklat, martabat rasa keju, satu porsi 8000 rupiah, kalau saya pribadi sukanya martabat yang pake ketan item... gurih...
Netral,
Secara umum nih ya, ga usah mengkaitkan dgn agama:
pendapatmu benar di negara kita, orang masih mengukur status dari materi. ANe pikir nih, ada hubungan dengan budaya tuan dan majikan yang sudah mengakar dimasyarakat. Tapi lambat laun semakin maju pendidikan semakin hilang budaya seperti ini.
Tapi kalau kita lihat di beberapa negara yg maju, perlakuan yg kita dapatkan disini, jarang kita dapatkan disana. Yah, orang naik trem belum tentu miskin malah bisa jadi seorang ceo. Orang naik sepeda belum tentu nobody bisa jadi seorang perdana mentri.
yah mudah mudahan someday somehow bisa kejadian dinegara tercinta hehehe