. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

BAT Ye'or : Tercabik2nya Kristen Timur Tengah [DHIMMI]

Muslim moderat, radikal, bgm pemikiran mereka & bgm hubungan mereka dgn NON-Muslim, sejarah perlakuan Muslim terhdp NON-Muslim, Dhimmi & Jizyah

BAT Ye'or : Tercabik2nya Kristen Timur Tengah [DHIMMI]

Postby willie » Tue Jul 31, 2007 2:48 pm

http://www.islamreview.com/articles/eas ... ians.shtml

Image

Siapa Bat Ye'or?
http://en.wikipedia.org/wiki/Bat_Ye'or
Ia adalah Yahudi asal Mesir yang mengkhususkan dirinya pada sejarah umat non-muslim di Timur Tengah, terutama ttg sejarah Kristen dan Yahudi yang hidup sebagai kaum dhimmi dibawah khalifah Islam.

Tercabik2nya Kristen Timur Tengah
Oleh Bat Yeor

Mentalitas kaum dhimmi tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena berkembangnya sejarah peradaban kaum dhimmi yang meliputi wilayah 3 benua dan jangka waktu 14 abad. Secara umum, populasi kaum dhimmi terombang-ambing antara kehidupan di pengasingan dan kewajiban untuk tunduk pada sistem Islam.

Aspek dasar mentalitas dhimmi berhubungan dengan karakteristik dari status dan lingkungan mereka, karena pen-dhimmi-an hanya dijalankan dalam lingkungan jihad.

Jihad tidak hanya berarti perang secara militer. Jihad juga mencakup semua strategi, termasuk cara-cara damai, yang bertujuan bagi penyatuan semua agama ke dalam dogma Islam. Lebih lanjut, sebagai susunan yuridis-teologis, jihad menentukan semua aspek dari hubungan umat muslim dengan non-muslim.

Menurut penafsiran klasik, jihad menggolongkan 3 jenis non-muslim, yi sebagai:
1. musuh
2. non-muslim yang sedang dalam keadaan damai /rekonsiliasi untuk sementara waktu
3. atau non-muslim yang sudah ditaklukkan
-> ternyata benar, selain terpaksa masuk Islam, maka tidak ada pilihan yang bagus bagi non-muslim di bawah sistem Islam... :twisted:

Karena jihad dan pen-dhimmi-an sama sekali tidak pernah dianalisa secara kritis, muslim pada umumnya dan dinegara manapun memandang hubungan mereka dengan non-muslim sebagai jihad tradisional dalam konteks perang, gencatan senjata, dan penaklukan.

Kaum dhimmi sekarang dianggap sebagai sisa2 non-muslim di negara2 yang telah di-Islamisasi dalam 1 milenium era penaklukan Islam, yaitu orang2 Kristen, Hindu, Yahudi yang tersebar2, dan Zoroastrian.
Orang-orang Kristen adalah kelompok dhimmi yang paling dikenal karena lebih dekat dengan orang2 Barat baik secara posisi, budaya, agama, dan juga karena status orang Kristen di bawah Islam adalah sama dengan Yahudi, yaitu sebagai kaum ‘Ahli Kitab’. Namun sebutan status ‘Ahli kitab’ yang terkesan baik ini ternyata menipu, sebagaimana penampilan luar yang menyenangkan ternyata seringkali menyesatkan (karena sikap muslim yang ternyata tidak baik terhadap kaum yang diberi status ‘Ahli Kitab’ tersebut).

Kaum Kristen dhimmi memiliki perilaku yang berbeda menurut negara, kategori sosial, dan persatuan mereka dengan kelompok-kelompok yang berkuasa, misalnya, partisipasi mereka dalam partai Baath di Irak atau di PLO, sebuah organisasi militer Arab untuk jihad melawan Israel.
Kaum Kristen dhimmi, yang diangkat untuk posisi penting oleh penguasa-penguasa Muslim, seringkali berperan sebagai agen-agen antara dunia Arab dan pusat-pusat strategis di dunia Barat, seperti: Gereja, pemerintah-pemerintah, industri, universitas, media, dsb.

Karena populasi Kristen dhimmi pada umumnya memiliki keahlian yang tinggi dan tingkat edukasi yang lebih baik dibandingkam masyarakat sekitarnya, mereka seringkali menderita karena iri hati dan prasangka buruk umat Islam yang anti-Kristen. Ketabahan Kristen di lingkungan Muslim menunjukkan kualitas daya tahan kesabaran dan kemampuan adaptasi mereka. Namun kaum dhimmi yang bertahan harus membayar harga, yaitu dgn mengidap penyakit dhimmi (dhimmi pathology).

Secara singkat, sikap Kristen dapat dibagi dalam 3 kategori:
Kristen yang melawan secara aktif,
Krisiten yang melawan secara pasif, dan
Kristen yang mau berkolaborasi / bekerjasama dengan sistem Islam.

Ketiga sikap ini terdapat dalam satu dan masyarakat yang sama, tapi sikap mereka dapat berubah dari satu sikap ke sikap yang lain tergantung dari kondisi geografis atau keadaan tertentu.

PERLAWANAN AKTIF

Baru-baru ini ada contoh perlawanan aktif yang patut dicatat. Penindasan terhadap perlawanan Kristen terhadap upaya penegakan syariah Islam di Sudan tahun 1983 menyebabkan lebih dari 2 juta orang tewas dan lebih dari 4 juta orang terlantar di pengungsian.

Kristen Lebanon bertempur melawan Islamisasi selama perang saudara di negara itu yang dimulai tahun 1975.

Pada akhir abad ke-20, Kristen Armenia dan Syria dibunuhi melalui praktek genocide karena mereka berusaha untuk merdeka.

Sekarang ini, perlawanan aktif Kristen melawan Islamisasi di Indonesia, Nigeria, dan negar-negara Afrika lainnya telah menimbulkan pembantaian penduduk sipil Kristen, pembakaran desa-desa, dan pengungsian masyarakat.

Orang-orang Barat, khususnya orang Eropa, se-akan2 buta atas penderitaan orang-orang Kristen yang melawan Islamisasi secara aktif dan kadang bahkan menyalahkan orang-orang Kristen itu sendiri atas ketidakberuntungan mereka.

PERLAWANAN PASIF

Contoh perlawanan pasif dapat ditemukan di Mesir, Pakistan, dan Iran. Orang Kristen Mesir melaporkan kekerasan yang terjadi pada mereka dan berusaha keras untuk melindungi martabat mereka, mengurangi diskriminasi yang terjadi pada mereka secara legal dan professional, dan mengamankan hak-hak asasi mereka seperti hak untuk membangun atau merenovasi Gereja mereka. Di sini, Barat juga memilih untuk tidak menghiraukan situasi mereka yang menakutkan atau malah meremehkannya dengan hanya memberikan perhatian pada waktu-waktu tertentu saja.

Perlawanan Kristen baik aktif ataupun pasif telah menguras sumber daya mereka yang hanya sedikit, untuk menjadi usaha yang hanya sia-sia belaka, yaitu untuk memperingatkan teman-teman Kristen mereka untuk ikut membantu.

KOLABORASI / KERJASAMA

Image
Hanan Ashrawi, mantan jubir PLO : The Voice of Reason atau Kristen Kolaborator ?

Image
Janda Yasser Arafat, SUHA, Kristen kolaborator l'extraordinaire

Kaum dhimmi Kristen yang bekerja sama dengan sistem akan disebut sebagai Kristen kolaborator.

Kristen kolaborator direkrut di antara orang-orang Kristen yang menyebut diri mereka sebagai orang Arab. Bentuk kerjasama, yang menyebabkan pertempuran tanpa akhir selama berabad-abad ini, telah dicela oleh kaum dhimmi yang berjuang selama beraba-abad melawan dominasi Islam yang berkembang berkat bantuan Kristen kolaborator ini.

Kristen kolaborator telah mengambil beberapa bentuk, sesuai dengan keadaan dan kesempatan politik yang ada. Bentuk kerjasamanya sendiri dapat dilihat dalam 2 hal, yaitu proyek politis dan proyek teologi.

Proyek politis diimplementasikan melalui penggabungan trans-Mediterania, dengan konstruksi dari sebuah entitas ekonomi, budaya, politik, dan geografis yang disusun oleh Uni Eropa dan Negara-negara Arab dan Afrika.

Kebijakan persatuan dan penyatuan ini berjalan di bawah ide ‘legitimasi internasional’ (Arab dan Eropa), sekalipun sebenarnya lebih tepat dikatakan di bawah kekuasaan diktator totaliter Arab.

Kristen kolaborator yang bekerja sama dengan sistem Islam berfungsi sebagai mekanisme intelektual dan ekonomi dari proyek ini karena mereka adalah milik kedua dunia (Uni Eropa / Barat dan Arab). Peranan mereka adalah untuk menemukan hubungan indah Islam-Kristen untuk menegakkan konstruksi politik masa depan Eurabia dan untuk menyembunyikan dasar-dasar doktrin dan sejarah Islam yang sebenarnya adalah anti-Kristen.

Kerjasama dhimmi pada level teologi disesuaikan dalam 2 arah: menuju Kristen dan menuju Islam. Bentuk radikal dari level ini adalah ‘Palestinian Liberation Theology’, yang berarti pembebasan teologi Kristen dari hal-hal yang berbau Yahudi. Pusat dari teologi ini ada di institute al-Liqa di Yerusalem, yang dibangun pada tahun 1983 untuk studi warisan budaya Muslim dan Kristen di Tanah Suci. Insistut ini adalah institut yang di-politisasi secara kuat dan didanai oleh organisasi Kristen internasional yang mengkhusukan dirinya untuk menyebarkan propaganda anti-Israel melalui saluran-saluran agama dan media internasionalnya.

Mempersatukan teologi bidat Marcion dan Gnostik, teologi Palestina ini membuang ke-Yahudi-an Yesus dan membuat Yesus menjadi sosok Arab-Palestina, seorang kembaran dari Isa. Kristen, yang dibebaskan dari akar Yahudi-nya, dapat ditempelkan dalam Arab-Islam. Maka Palestina-lah, dan bukan Israel, yang menjadi asal Kristen, dan kemudian mereka menuduh orang Israel sebagai perampas Palestina yang mereka klaim tanah air Islam-Kristen.

Teori ini menyangkal semua kesinambungan sejarah di antara Israel modern dan buku-buku nenek moyang yang juga menyebabkan timbulnya Kristen itu sendiri.

Teologi Palestina yang menggabungkan semua tema-tema anti-Yahudi tersebut ditujukan kepada orang-orang Kristen di seluruh dunia, mengundang mereka semua untuk mengakui Yesus versi Arab-Palestina itu sbg lambang dari seorang Palestina yang disalib oleh orang-orang Israel. Tema ini membuat kita kembali ke abad ke-19. Namun pada saat itu, peranan penyatuan Palestina ditetapkan untuk nasionalisme Arab.

Teologi Palestina tersebut menyokong kebijakan Euro-Arab kepada Kristen-Muslim dan penyatuan Eropa-Arab: Negara modern Israel – yang dianggap sebaai kecelakaan sementara dalam sejarah - dilewatkan dan asal-mula Kristen Eropa dilabuhkan ke dalam Islam-Kristen Palestina. Dgn mempersatukan 2 musuh (Islam-Kristen) ini, Israel sekarang harus dimusnahkan, sebagai tanda keberhasilan penyatuan Eropa dan Arab.

Peran penyatuan tersebut bergantung kepada Islam-Kristen Palestina; rekonsiliasi Islam-Kristen akhirnya dapat dinikmati di atas debu kehancuran dan pemusnahan Israel.

Inilah sebabnya mengapa Uni Eropa –dan terutama Perancis- memuduh Israel sebagai biang konflik antara Eropa dan Arab/dunia muslim, dan sebagai penyebab timbulnya terorisme Islam yang anti-Barat.

Kontribusi Kristen kolaborator untuk Islam bisa jadi lebih penting lagi. Ini karena mereka mampu memenuhi 3 tujuan Islam:
1. Kristen kolaborator dapat digunakan sebagai propaganda untuk menopang mitos kebersamaan Islam-Kristen yang penuh damai di masa lalu dan masa kini serta menegaskan kesempurnaan Islam, jihad, dan syariah,

2. Kristen kolaborator mempromosikan ekspansi demografi dan propaganda Islam di dunia Barat.

3. Pada level teologi, Kristen kolaborator menghapuskan Yesus Yahudi dan menanamkan kekristenan kepada Yesusnya Islam, atau dengan kata lain: Kristen kolaborator adalah proses Islamisasi pada semua teologi Kristen.

Menurut dogma Islam, Islam meliputi Yahudi dan Kristen. Islam mengklaim bahwa kedua agama tersebut telah dipalsukan dan bahwa sebenarnya awal dan asas kedua agama tersebut adalah Islam. Semua tokoh dalam Bible, dari Adam ke Abraham, Musa ke Daud, nabi-nabi Yahudi, Maria, Yesus, dan rasul-rasul murid Yesus adalah nabi-nabi muslim yang mengajarkan Islam, dan karena kualitas mereka sebagai muslim, mereka dikenali dan dihormati. Mereka adalah milik Quran dan bukan milik Bible, karena turunan Kristen adalah Islam, dan bukan Yahudi. Kristen diturunkan/dihasilkan dari Islam yang diklaim sebagai agama pertama bagi semua umat manusia (din al-fitra). Kristen adalah bentuk penyimpangan dari Islam, dan Kristen sebenarnya adalah milik Islam.

Menurut hadits, pada saat Yesusnya Islam kembali nanti, Ia akan mematahkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah (pajak bagi kafir non-muslim), dan uang akan mengalir seperti aliran air. Para ahli tafsir mengartikan hadits tersebut sebagai penghancuran symbol-simbol yang berkaitan dengan Kristen –salib dan babi- sebagai kepunahan agama itu; dan melimpahnya kekayaan dalam hadits itu melambangkan harta rampasan yang diambil dari kafir non-muslim. Atau dengan kata lain, kembalinya Yesus Islam akan mengakibatkan kehancuran Kristen.

Jihad global telah menciptakan masalah-masalah pen-dhimmi-an dalam realitas dunia. Proses pen-dhimmi-an Eropa terjadi secara perlahan-lahan dan dapat dilihat dalam penolakan mereka akan rancangan konstitusi yang bernilai peradaban ‘Yahudi-Kristen’. Penolakan itu menjadi satu dari elemen-elemen penting perpecahan Eropa-Amerika sekarang ini.


— Bat Yeor adalah penulis dari ”The Decline of Eastern Christianity under Islam: From Jihad to dhimmitude”. Buku terakhirnya yang berjudul, “Islam and dhimmitude: Where Civilizations Collide” telah dicetak ulang. Sebuah versi dari artikel ini dipublikasikan pertama kali di Perancis dan diterjemahkan oleh Nidra Poller dalam kerjasama dengan penulisnya.
User avatar
willie
Translator
 
Posts: 638
Joined: Tue Jan 30, 2007 1:39 pm

Postby ali5196 » Fri Dec 03, 2010 11:39 pm

http://pajamasmedia.com/blog/islamists- ... each-them/
http://www.raymondibrahim.com/9504/isla ... scapegoats

Fenomena Muslim serang Kristen di Timur Tengah karena kelakuan Kristen di Barat memiliki akar dalam syariah (hukum Islam). Ini dijelaskan Pakta Umar/Omar, teks fondasi perlakuan Islam terhdp dhimmi (yi non-Muslim yang menolak masuk Islam setelah tanah mereka direbut Islam). Kristen dipaksa untuk hidup dalam kondisi terhina dan memalukan (seperti menawarkan tempat duduk bagi Muslim untuk menunjukkan hormat) sebagai ganti perlindungan badan dari Muslim:

“If we in any way violate these undertakings for which we ourselves stand surety, we forfeit our covenant [dhimma], and we become liable to the penalties for contumacy and sedition [that is, they become viewed as “unprotected” infidels, and thus exposed to the same treatment, including slavery, rape, and death.].”

[TERJEMAHAN: JIKA kami (Kristen) dengan cara apapun melanggar perjanjian yang memberi kami perlindungan, kami mencabut perjanjian tsb dan oleh karenanya kami bertanggung jawab atas hukuman bagi fitnah (yi pihak nonMuslim kemudian dianggap sebagai kafir yang tidak lagi dilindungi hukum negara yg memberi mereka keselamatan), dan kami semua akan mendapat perlakuan sama, seperti PERBUDAKAN, PEMERKOSAAN DAN KEMATIAN.]

Terlebih lagi, kelakuan seorang individu bisa berdampak pada seluruh kelompok/umat. Ini bisa dilihat dalam kasus pembakaran Quran di AS yang berdampak pada dibakarnya gereja2, rumah2 dan penyerangan/penculikan/pemerkosaan/pembunuhan terhdp orang2 Kristen di bagian dunia lain.
Bahkan kesalahan seorang individu dhimmi saja bisa berakibat jihad terhadap seluruh umat.

Juris Muslim menjelaskan prinsip dhimmi ini secara eksplisit. Juris Yaman, al-Murtada, menulis bahwa:
‘Perjanjian (perlindungan dhimmi) bisa dicabut jika seorang atau semua dari mereka melanggarnya …’ Juris Maroko, al-Maghili, mengajarkan, ‘Fakta bahwa seorang individu (atau satu kelompok) diantara mereka melanggar perjanjian sudah cukup untuk dianggap sebagai pelangaran seluruh kelompoknya.’” (The Third Choice, p.160 http://www.markdurie.com/The_Third_Choice.html).

Prinsip ini jelas nampak di Mesir secara teratur. Menurut Uskup Kyrillos, “setiap kali ada desas desus adanya hubungan antara seorang lelaki Koptik dengan seorang Muslimah [yang dilarang syariah], seluruh umat Koptik harus membayar harganya: ‘Ini baru2 terjadi di Kom Ahmar (Farshout) dimana 86 rumah dan bisnis Koptik dibakar habis dan di Nag Hammadi kami dibunuh selain tentunya juga 43 rumah dan toko kami dibakar. Dan kini di desa Al-Nawahed, hanya karena seorang gadis dan seorang lelaki berjalan berdampingan, seluruh daerah dihancurkan.’”

Image

Image
http://www.realcourage.org/2010/01/copt ... ch-attack/
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Thu May 05, 2011 2:41 pm

sundul
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Resource Centre MUSLIM & KAFIR



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users