. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

BANGKITLAH KEJAWEN!!!

Benturan dan bentrokan antara Islam dengan agama-agama dan peradaban lain di seluruh penjuru dunia.

Postby swatantre » Wed May 09, 2007 9:03 pm

Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih pada Moderator yang bersedia membuka lagi topik ini..

Untuk Caberawit, aku akan isi lagi tulisan2 disini sekaligus menanggapi pertanyaanmu, tapi mungkin bukan saat sekarang. Selain lagi menambah literatur, aku juga lagi sibuk.....

Untuk Mbah Somad @atas, bukan 'apakah Kejawen mirip dengan aliran SUBUD', tapi SUBUD memang salah satu aliran Kejawen terbesar, selain Pangestu dan BANYAK LAGI organisasi/paguyuban/fraksi2 Kejawen.
Membaca kecenderungan pemahaman akan Kejawen maupun aliran kepercayaan di Nusantara, saya sebenarnya agak terperanjat dan kecewa karena banyak yang sudah terkotori pikirannya oleh formalisasi keagamaan bahwa agama itu satu.. PAda kenyataannya, aliran kepercayaan itu sangat fleksibel. Saat saya mengikuti seorang Guru, dua orang itu sudah membentuk alirannya sendiri. Sebab ajaran Kejawen bila diringkas dan diperas hanya ada 2: Percaya Tuhan dan Berbuat Baik pada Sesama. Udah, gitu aja. Gak ada dogma2an, cara sembahyang tertentu, atau penggambaran tertentu citra Tuhan. Maka, orang Kejawen banyak yang dengan mudah berasimilasi memeluk agama Semitik dengan mudah tanpa rasa curiga (ini saja sudah menunjukkan ketinggian peradaban mereka dengan tiadanya pembedaan kafir, dhimmi, dst). Yang jadi masalah, kenapa para pemeluk kepercayaan welas asih dan budi pekerti ini justru dikuya2 setelah mereka menerima dengan toleran agama luar ('agama anyar', Islam maksude...).... Gak heran setelah jaman reformasi, banyak orang Kejawen yang kembali jadi 'Kejawen sejati', murtadin diam2, atau convert jadi Hindu atau agama lain yang dianggap lebih sesuai dengan nilai2 Kejawen.....

Juga tentang kitab suci, rasanya gak ada kitab suci tunggal yang dipakai, yang bila dicederai (ditambah/dikurangi) akan dianggap sesat dan kafir karena dianggap mengurangi nilai ajaran Kejawen. Ya, selama nilai2 berpatokan pada dua ajaran pokok di atas, gak apa2....
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4106
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Postby caberawit » Thu May 10, 2007 1:28 am

Kakek Somad yth,

Sebelum saya jawab pertanyaan kakek, saya mau tulis tanggapan saya terhadap postingan swatantre dan santri gagal dulu ya...
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby caberawit » Thu May 10, 2007 1:34 am

swatantre wrote:Kejawen itu muncul sejak jaman keruntuhan MAjapahit atau sejak jaman Pakubuwono X

Tidak keduanya.
Agama Jawa, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Kejawen berakar jauuuuuh sebelum kedatangan Islam.
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... c&start=60

swatantre wrote:Aku justru tertarik dengan kalimatmu:
caberawit wrote:menurutku justru Islam Jawa-lah yang banyak dipengaruhi unsur Kejawen.


Tapi, untuk mempertajam maksudmu, aku mau mempertanyakan batasannya Islam Jawa itu. Bukankah islam jawa itu adalah 'predikat' kejawen itu sdr, kecuali bila maksudmu adalah islam YANG DI jawa.....


Kejawen dengan Islam Jawa, berbeda substansi. Yang jelas, semua orang Islam mengakui Muhammad dan Auloh. Sedangkan tidak semua orang Jawa mengakuinya. Tidak semua orang Jawa merayakan upacara-upacara Islam Jawa seperti Grebeg dan Sekaten. Tanya itu netter Ki Sabdopalon seketurunan pasti tidak merayakannya, juga keluargaku, tidak merayakan upacara-upacara Islam Jawa.

Upacara-upacara selamatan, sukuran, dan ruwatan, jauuuuh lebih banyak yang berasal dari jaman pra-Islam, ketimbang pasca-Islam. Hanya, istilah saja banyak diadakan penyesuaian dengan Islam. Pada jaman perkembangan Islam di Jawa memang banyak penyesuaian-penyesuaian ke arah Islam, contohnya pengislaman penanggalan Jawa oleh Sultan Agung.

Mengenai Islam Jawa, sudah saya jelaskan di:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... c&start=60
Apa yang dimaksud Islam Jawa?
Menurut Geertz – sebagaimana dinyatakan Mark R. Woodward dalam bukunya “Islam Jawa; Kesalehan Normatif versus Kebatinan" (1999) – agama Islam tidak pernah sungguh-sungguh dipeluk di Jawa, kecuali di kalangan komunitas kecil para pedagang dan hampir tidak ada sama sekali di dalam lingkungan kraton jaman dulu.

Bagaimana pun, agama Islam yang berkembang di Tanah Jawa memiliki kekhasan tersendiri. Sebab, masyarakat Jawa sebelum datangnya agama Islam, sudah memeluk agama, yaitu Hindu-Budha dan agama asli. Maka, salah satunya diterapkanlah proses transformasi ‘Islam Jawa’ (semi-kebatinan); yakni lebih menonjolkan kelenturan dan kemoderatan dalam ber-Islam sehari-hari, sehingga tidak mengikis habis sisa-sisa tradisi atau adat-istiadat peninggalan kepercayaan nenek moyangnya.


Aku setuju jika dikatakan aliran kebatinan baru muncul setelah Islam masuk ke Jawa, tapi tidak untuk Kejawen itu sendiri. Sebab Kejawen pada mulanya bukanlah aliran kebatinan. Ia merupakan agama bebas, dimana para penganutnya bebas melaksanakan ritual, bebas mendapat pengajaran, bebas menyatakan keyakinannya, bebas membangun candi.

Setelah Islam masuk ke Jawa, menyebarkan ajarannya, kemudian mendesak serta menekan agama-agama lain di luar Islam. Tidak ada lagi kebebasan menyatakan keyakinan lain selain Islam. Apa yang dahulu bisa dinyatakan, tidak lagi dapat dinyatakan sehingga akhirnya kepercayaan itu hanya tinggal di bathin saja.

Berbeda dengan agama Tirta. Agama tersebut tidak pernah menjadi aliran kebatinan, karena dapat hidup bebas dalam lingkungannya yang tidak dapat dikuasai oleh Islam, bebas dari pengaruh Islam. Maka penganutnya bebas melaksanakan ritual, bebas mendapat pengajaran, bebas menyatakan keyakinannya, bebas membangun candi.
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby caberawit » Thu May 10, 2007 1:49 am

swatantre wrote:
santri gagal wrote:sedikit info ttg kejawen

menurut mereka ini bukanlah agama melainkan kebersamaan ala jawa dlm menyikapi hidup. jawa disini bukan etnis tp kultur.

Aku secara pribadi juga lebih setuju kalau Kejawen dimaknai seperti itu,bukan agama,bukan pula lembaga sosial etnis.


Memang semua santri berpendapat Kejawen bukanlah agama, tak peduli itu santri sukses atau santri gagal. Pendapat orang memang bisa berbeda-beda. Dan, penolakan Kejawen sebagai agama adalah kemenangan Islam dalam usaha menekan agama kafir.

Saya pribadi lebih setuju dengan pendapat Geertz yang menyatakan Kejawen adalah agama. Coba sekarang kita lihat pengertian "agama" itu sendiri. Apa sih yang dimaksud dengan agama?

---maunya buka kamus, tapi ternyata... kamusnya masih di kardus, malas bongkarnya, hehe ---
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby caberawit » Thu May 10, 2007 3:01 am

Mengenai semar
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 4&start=60

Semar bukan Tuhan, tapi semar adalah simbolisasi Tuhan. Sebab Semar memang tidak ada. Itulah sebabnya ia diberi nama Hyang Ismaya. Maya artinya tidak ada. Tokoh semar itu digunakan oleh orang Jawa untuk menggambarkan Tuhan yang sulit digambarkan (tidak dapat dibandingkan dengan apa pun - tan kena kinaya ngapa). Bagi orang Kejawen, Tuhan itu tan kena kinaya ngapa, berbeda dengan Allah Islam yang serba pasti.

Coba kita lihat gambaran semar:
Image

    Tuhan itu Esa. Semar putra dari Hyang Tunggal (Hyang Tunggal yang dimaksud disini adalah Hyang Tunggal sebelum Islam masuk ke Jawa - yaitu istilah yang sama dengan yang digunakan oleh agama Tirta, sama dengan penyebutan bagi Hyang Widhi atau Ekam eva adwityam Brahman)
    Sang Maha Pencipta (yang ditokohkan oleh Hyang Tunggal) itu ada, sementara Semar itu tidak ada. Maka dapat dikatakan Semar adalah penggambaran dari Hyang Tunggal itu sendiri.

    semar itu bukan lelaki dan bukan perempuan (pengertian sebelum Islam masuk ke Jawa)
    Ia tidak berkelamin. Maka bentuk tubuhnya digambarkan seperti perempuan, berpayudara dan berpantat besar, namun ia berkekuatan besar, melebihi kekuatan para dewa.
    santri gagal wrote:maskulin: kaki(kakek) semar
    Tidak. Semar tidak bersifat maskulin saja. Semar bersifat maskulin sekaligus feminin. Ia sakti sekaligus pengasih.

    Lagipula dia bukan kakek-kakek (kaki), bukan pula nenek-nenek. Semar berasal dari kekekalan, tidak berumur. Kemudaan Semar disimbolkan dengan kuncungnya, ketuaan semar digambarkan dengan kerutan wajahnya. Semar berkuncung seperti kanak-kanak, namun juga berwajah sangat tua.

    semar itu kakak dari tejamaya (teja = cahaya). Artinya, dia ada terlebih dahulu, sebelum terang/ cahaya diciptakan, sebelum segala-sesuatu --> menyerupai pengertian di atas, yaitu berasal dari kekekalan.

    Semar itu kakak dari batara guru / manikmaya (batara guru = pemimpin para dewa). Artinya, dia lebih berkuasa dari para dewa.

    semar itu misteri (samar).
    Maka digambarkan warna kulitnya hitam. Hitam adalah lambang/ simbol misteri, ketidaktahuan mutlak. Penggambaran orang Kejawen bahwa Tuhan adalah misteri bagi manusia, sulit digambarkan/ dijelaskan.

    Simbolisasi dari Tuhan yang tak terbandingkan dengan apa pun digambarkan dengan berbagai paradoks dari semar:
    -wajahnya tertawa sekaligus menangis
    -profilnya berdiri sekaligus jongkok

    Semar juga menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, dengan:
    -statusnya sebagai kawula, namun hakikatnya sebagai Gusti
    -kesuciannya, menggambarkan ia sebagai sosok yang telah menep


Waduh cape deh, aku ngetiknya. Masih banyak lagi seh simbolisasinya, tapi mata keburu ngantuk dan tangan keburu pegel....
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby Pandawa » Thu May 10, 2007 1:03 pm

Wah, saya sih paling suka itu jajan semar mendem....nikmat banget !!
Eh, sorry, biar tidak metentheng terlalu serious , soalnya soal kejawen buat saya sangat berat.......dilahirkan sbg orang jawa tapi pengetahuan 0 (null) ttg kejawen.
Senang sekali dapat info banyak di thread ini.

Nah, kalau semar itu bukan maskulin, koq dipanggil romo oleh anak2nya: Gareng,Petruk dan Bagong ?
Atau anak2nya ini hanya tambahan saja ?
Thnx !
Pandawa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 213
Joined: Thu Dec 28, 2006 8:35 pm

Postby somad » Thu May 10, 2007 2:36 pm

caberawit wrote:Mengenai semar
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 4&start=60

Semar bukan Tuhan, tapi semar adalah simbolisasi Tuhan. Sebab Semar memang tidak ada. Itulah sebabnya ia diberi nama Hyang Ismaya. Maya artinya tidak ada. Tokoh semar itu digunakan oleh orang Jawa untuk menggambarkan Tuhan yang sulit digambarkan (tidak dapat dibandingkan dengan apa pun - tan kena kinaya ngapa). Bagi orang Kejawen, Tuhan itu tan kena kinaya ngapa, berbeda dengan Allah Islam yang serba pasti.
..

Sdr Caberawit
bukankah Semar itu saudaranya Batar guru?
Batara guru diciptakan dari sinar yang terang sedangkan Semar dari sinar yang gelap dan merpresentasikan seburuk
buruknya manusia dan bertugas untuk mebimbing Pandawa lima?
Kalau Tuhan kan direpresentasikan oleh Sang Hyang Tunggal. yang tidak pernah dijewantahkan dalam bentuk Wayang
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby 1sht4r » Thu May 10, 2007 5:25 pm

Ayo mas Rawit...
Ditunggu postingannya. Lagi hot² nya baca ttg babagan kejawen ini niiiiiihhh...:D
User avatar
1sht4r
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 124
Joined: Sat Oct 14, 2006 10:24 pm
Location: jakarta

Postby caberawit » Sat May 12, 2007 5:11 pm

Pandawa wrote:Nah, kalau semar itu bukan maskulin, koq dipanggil romo oleh anak2nya: Gareng,Petruk dan Bagong ?


Lha aku juga bingung kok, sebenarnya...
Atau.. mungkin bisa ditanyakan ke orang Kristen, mengapa mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan Bapa (Father) ...

Pandawa wrote:Atau anak2nya ini hanya tambahan saja ?

Aku coba analisa ya...

Sebenarnya dalam ceritera India, bukan tidak ada sama sekali tokoh semacam punakawan. Ada tokoh abdi yang disebut pampara yang bernama Domnya. Hanya saja, Domnya ini sendiri dan tidak berkawan.
Jika Semar ada sesudah Hindu / pengaruh India masuk, maka kemungkinan dia mulanya hanya diceritakan seorang diri, mengikuti kisah pampara (mungkin juga semar ada terlebih dahulu sebelum tokoh Domnya, tak tahulah aku).

Berikutnya, mengikuti perkembangan Hindu-Jawa, maka punakawan menjadi 2 orang, yang besar kemungkinan ada kaitannya dengan alam falsafah kejawen yaitu lambang alam kehidupan manusia yang bersifat roh dan wadag:
- Punakawan pada cerita-cerita panji: Bancak dan Doyok atau Jurudeh/Judeh dan Santa
- Punakawan dalam lakon Damarwulan: Naya Genggong dan Sabdapalon
- Punakawan dalam wayang Jawa Timur: Semar dan Bagong
Jurudeh, Bancak, dan Sabdapalon merupakan titisan Hyang Ismaya yang berperan sebagai semar dalam Wayang Purwa.

Tokoh Punakawan menjadi 4 orang ada kemungkinan masih dalam masa Hindu, sebab, di Bali pun dikenal 4 orang punakawan: Tualen (Semar), Merdah, Sangut, dan Delem.
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby caberawit » Sat May 12, 2007 5:35 pm

somad wrote:Sdr Caberawit
bukankah Semar itu saudaranya Batar guru?
Batara guru diciptakan dari sinar yang terang sedangkan Semar dari sinar yang gelap dan merpresentasikan seburuk
buruknya manusia dan bertugas untuk mebimbing Pandawa lima?


Mbah Somad yth,
Keberadaan Semar sebagai bagian dari tokoh wayang terdapat pada kitab-kitab kuno, relief-relief candi, maupun ceritera-ceritera lisan yang disampaikan secara turun temurun.

Relief / arca candi yang menggambarkan tokoh Semar, antara lain:
- Candi Panataran di Blitar (+/- 1197 - 1454) yang memuat ceritera Sawitri, dalam gambar berupa relief diperlihatkan Semar menyertai Setiawan
- Candi Jago (+/- 1286), para punakawan ditampilkan berupa arca.
- Candi Tegalwangi di Kediri (+/- 1370) yang memuat ceritera Sudamala, dalam gambar berupa relief diperlihatkan Semar mengiringi Sadewa.
- dll

Kitab-kitab kuno memuat tokoh semar, antara lain:
- Kitab Gatotkacasraya, ditulis oleh Mpu Panuluh th 1188 M
- Kitab Korawaçrama, ditulis antara th 1200-1500
- Kitab Sudamala, ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (kira-kira seumur dengan Korawaçrama)
- Kitab Tantu Panggelaran, kira-kira seumur dengan kitab Sudamala dan Korawaçrama
- Kitab Manik Maya, ditulis oleh Karta Mursadah pada abad ke 19
- Kitab Kanda, ditulis oleh Narawita pada abad ke 19
- Kitab Paramayoga, ditulis oleh Ranggawarsita
Dalam kitab Korawaçrama dan Sudamala, dikatakan Semar merupakan anak dari Hyang Tunggal, sementara dalam kitab Tantu Panggelaran dikatakan Semar merupakan anak dari Sang Hyang Wenang. Kitab-kitab berikutnya, ceritera-ceritera wayang menjadi aneh termasuk mengenai Semar. Dalam kitab- kitab terakhir ini (Manik Maya, Kanda, dan Paramayoga) dewa-dewa secara keseluruhan ditempatkan di bawah "nabi" Adam. Aneh memang, Purbacaraka saja protes...

Dalam Kitab Manik Maya, dikatakan Semar merupakan anak dari Sang Hyang Wisesa. Diceritakan bahwa Hyang Manik menjadi Batara Guru, sedang Hyang Maya menjadi Semar. Tapi dalam Kitab Kanda diterangkan bahwa Manik Maya adalah iblis yang bernama Ijajil dan mengaku sebagai Tuhan.

Dalam Kitab Paramayoga diceritakan bahwa Batara Maya dan Batara Manik terjadi dari keajaiban telur dalam tiga kejadian. Kejadian pertama menggambarkan bahwa kulit telur menjelma menjadi Batara Hantaga (Togog) atau Tejamantri, dewa yang gagah perkasa. Kejadian kedua menggambarkan penjelmaan putih telur menjadi Batara Ismaya atau Semar, sedang kejadian ketiga menggambarkan perubahan kuning telur menjadi Batara Manik atau Batara Guru.
Akibat perebutan kekuasaan antara Hantaga dan Ismaya atas tahta Kahyangan yang menyebabkan murkanya Hyang Wenang, akhirnya Togog diperintahkan menjadi pamong para raksasa dan Semar menjadi pamong para satria di Marcapada, sedang Guru menetap di Kahyangan.

Sementara ceritera yang umum yang saya ketahui, Hyang Tunggal melemparkan telur, dan kemudian telur itu bagian-bagiannya menjelma secara bersamaan:
- Putihnya menjadi Semar (Ismaya)
- Kuningnya menjadi Batara Guru (Manikmaya)
- Kulitnya menjadi Togog (Tejamaya)
Putih telur menyimbolkan kesucian, sehingga Semar mewakili kesucian.
Kuning telur/inti menyimbolkan kekuasaan, sehingga Batara guru mewakili para penguasa /pemerintah
Kulit telur menyimbolkan keduniawian, sehingga Togog menjadi pamomong / mewakili orang-orang yang mementingkan keduniawian (para Kurawa / raksasa).
Kalau dihubungkan dengan simbolisasi burung sebagai roh dalam Kejawen, maka ceritera ini cukup "nyambung". Karena ketika orang meninggal, ia akan meninggalkan jasad dan segala keduniawian sedangkan ketika telur menetas menjadi burung ia akan meninggalkan kulit.


somad wrote:Batara guru diciptakan dari sinar yang terang sedangkan Semar dari sinar yang gelap dan merpresentasikan seburuk buruknya manusia dan bertugas untuk mebimbing Pandawa lima?

Mengenai itu saya rasanya memang pernah mendengar. Kalau tidak salah di Kitab Kanda (jaman Islam) yang melukiskan semar sebagai iblis.
Orang islam agaknya suka mengubah-ubah kitab agama lain, mengikuti nabi gila mereka. Kalau saya pribadi sih, jika ada dua kitab yang isinya bertentangan, tentu saya lebih percaya kitab yang umurnya lebih tua sebagai yang lebih asli.


somad wrote:Kalau Tuhan kan direpresentasikan oleh Sang Hyang Tunggal. yang tidak pernah dijewantahkan dalam bentuk Wayang

Ya, memang begitulah seharusnya Mbah, tapi ketika Islam masuk maka tokoh Hyang Tunggal tidak lagi sakral. Dia, kedudukannya diturunkan di bawah "nabi" Adam, kemudian dia dikawinkan dengan Dewi Wirandi, kemudian lagi, tokoh ini dibuat penggambarannya dalam wayang.
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby caberawit » Sat May 12, 2007 7:21 pm

Kembali lagi ke postingan Mbah Somad yang awal:
somad wrote:Sdr Caberawit.
Mbah sangat tertarik ingin tau lebih dalam tentang kejawen.
Saya tertarik mendengar landasan ajaran kejawen adalah welas asih
Dan salah satu ritual OLAH RASA, sepertinya adalah tatacara untuk mengenal diri dan Mawas diri.
Apakah kira kira mirip dengan aliran SUBUD?
Terus terang melihat gambar yang anda sajikan mirip dengan Gunungan di pewayangan namun.
Mbah tidak bisa mengerti maknanya

Apakah ada buku panduan (kitab Sucinya), judulnya apa dan bisa didapat dimana?
Sebelumnya mbah haturkan banyak terima kasih atas masukan yang anda berikan/akan anda berikan.

Wassalam


Iya mbah, sebenarnya landasan ajaran Kejawen itu juga adalah yang disimbolkan oleh tokoh Semar sendiri. Semar adalah tokoh yang welas asih, ia tidak pernah membunuh, seberapa pun jahat orang yang dihadapinya. Namun ia tegas. Ia hanya akan mengeluarkan "senjata" kentutnya jika orang yang dihadapi sudah tidak dapat lagi dinasehati dengan kata-kata. Dan kentut tersebut hanya akan membuat lawannya pingsan (sehingga dengan demikian masih ada kesempatan bagi lawannya untuk bertobat).

Gambar Pranata Mangsa yang saya post-kan beberapa waktu yang lalu tidak ada maknanya, Mbah. Hanya sekedar diagram untuk hari-hari dalam kalender tetanen. Mengenai hubungan Pranata Mangsa dengan Kejawen...
yach, selain digunakan sebagai patokan hari-hari bekerja bagi petani, kalender tersebut adakalanya juga digunakan untuk perhitungan primbon. Untuk informasi lebih lengkap mengenai kalender tetanen tersebut, nanti akan saya pm-kan alamat, no telepon, dan email dari penerbitnya.

Mengenai kitab-kitab Kejawen, sekarang ini kita hanya tinggal sisa-sisa saja, karena semua naskah hasil karya sastra Jawa kuno, sejak jatuhnya Majapahit akhir abad 15 banyak yang dibakar. Naskah-naskah yang masih bisa diselamatkan adalah naskah-naskah yang disimpan oleh kalangan kerajaan yang masih punya power untuk mempertahankan buku-buku kafir tersebut, dan naskah-naskah yang dilarikan ke luar pulau Jawa.

Kalau Mbah Somad berniat mencari, mungkin bisa ke Arsip Nasional atau ke Perpustakaan Nasional yang kalo ngga salah juga melayani umum untuk mendapatkan kopian dalam bentuk CD (atau bawa flash disk sendiri).
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby Pandawa » Sat May 12, 2007 8:06 pm

Mas Cabe !

Apakah banyak bahan2 / kitab2 kejawen bisa didapatkan ( dibaca,dicopy) di perpustakaan2 dinegeri Belanda ?
Saya dengar malah disana ( dibiblothek2 ilmu bangsa2 , misalnya di Leiden ) semuanya yg bersangkutan dg sejarah pulau Jawa jauh lebih lengkap dari di Indonesia sendiri,yg kebanyakan sudah dirusak/dibakar pada jamannya walisongo . Sampai kata orang , masih banyak bisa dilihat daun2 lontar yg tertuliskan riwayat2 tertentu .
Apa mas Cabe sudah pernah kesana ?
Pandawa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 213
Joined: Thu Dec 28, 2006 8:35 pm

Postby somad » Sat May 12, 2007 10:30 pm

caberawit wrote:Kembali lagi ke postingan Mbah Somad yang awal:
Iya mbah, sebenarnya landasan ajaran Kejawen itu juga adalah yang disimbolkan oleh tokoh Semar sendiri. Semar adalah tokoh yang welas asih, ia tidak pernah membunuh, seberapa pun jahat orang yang dihadapinya. Namun ia tegas. Ia hanya akan mengeluarkan "senjata" kentutnya jika orang yang dihadapi sudah tidak dapat lagi dinasehati dengan kata-kata. Dan kentut tersebut hanya akan membuat lawannya pingsan (sehingga dengan demikian masih ada kesempatan bagi lawannya untuk bertobat).

Sdr Cabe Rawit,
Terimakasih atas penjelasan anda, memang saya pernah mambaca dari buku mengenai
wayang purwa tentang ini yang penuh dengan ajaran kemanusiaan nampaknnya Kejawen
juga mengadaptasi falsafah Pewayangan yang sebenarnya berasal dari kebudayaan Sansekerta.


Gambar Pranata Mangsa yang saya post-kan beberapa waktu yang lalu tidak ada maknanya, Mbah. Hanya sekedar diagram untuk hari-hari dalam kalender tetanen. Mengenai hubungan Pranata Mangsa dengan Kejawen...
yach, selain digunakan sebagai patokan hari-hari bekerja bagi petani, kalender tersebut adakalanya juga digunakan untuk perhitungan primbon. Untuk informasi lebih lengkap mengenai kalender tetanen tersebut, nanti akan saya pm-kan alamat, no telepon, dan email dari penerbitnya.

Kalau tentang ini mbah rasa mbah harus mengerti dulu tentang semua parameter tersebut
ya sementara belum perlu dan akan saya coba cari tentang ini di toko Gramedia mungkin
buku buku yang berkenaan dengan primbon budaya jawa.


Mengenai kitab-kitab Kejawen, sekarang ini kita hanya tinggal sisa-sisa saja, karena semua naskah hasil karya sastra Jawa kuno, sejak jatuhnya Majapahit akhir abad 15 banyak yang dibakar. Naskah-naskah yang masih bisa diselamatkan adalah naskah-naskah yang disimpan oleh kalangan kerajaan yang masih punya power untuk mempertahankan buku-buku kafir tersebut, dan naskah-naskah yang dilarikan ke luar pulau Jawa.

Kalau Mbah Somad berniat mencari, mungkin bisa ke Arsip Nasional atau ke Perpustakaan Nasional yang kalo ngga salah juga melayani umum untuk mendapatkan kopian dalam bentuk CD (atau bawa flash disk sendiri).

Memang sayang sekali ternyata Islam telah merusak kebudayaan asli bangsa kita
Dan nampaknya sampai sekarang para penganut kejawen berusaha untuk mencari selamat
dengan membentuk alliran Islam kejawen dan Islam Sunda wiwitan namun juga
tidak luput dari hujatan dan ancaman Muslim Kafah dengan statement statemennya
Yang intinya bersifat provokative bahwa pencampur adukan Islam dan kejawen adalah sesat.
Dan nampaknya para muslim kafah tidak bisa menghargai kebudayaan bangsa mereka lebih
menghargai budaya Arab dari budaya bangsa sensiri

Kita harus malu bahwa bangsa penjajah ternyata lebih menghargai budaya bangsa yang dijajahnya.

OK sdr Caberawit saya akan coba mencari ke Arsip Nasional bila saya ke Jakarta.

Terimakasih atas waktu dan jerih payah anda dalam memberikan info.
Dan salut atas pengetahuan anda yang cukup luas

Wassalam
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby caberawit » Sun May 13, 2007 7:48 am

Pandawa wrote:Mas Cabe !

Apakah banyak bahan2 / kitab2 kejawen bisa didapatkan ( dibaca,dicopy) di perpustakaan2 dinegeri Belanda ?
Saya dengar malah disana ( dibiblothek2 ilmu bangsa2 , misalnya di Leiden ) semuanya yg bersangkutan dg sejarah pulau Jawa jauh lebih lengkap dari di Indonesia sendiri,yg kebanyakan sudah dirusak/dibakar pada jamannya walisongo . Sampai kata orang , masih banyak bisa dilihat daun2 lontar yg tertuliskan riwayat2 tertentu .
Apa mas Cabe sudah pernah kesana ?


Mas Panda!

Kalo ke perpustakaannya sih belum pernah, karena ketertarikan saya akan Kejawen hanya baru-baru ini saja, bukan dari dulu. Mungkin nanti kalau saya ke Belanda lagi, saya akan kunjungi perpustakaannya.
Tapi seorang kawan saya yang dulu kuliah di Fakultas Sastra UI yang mengambil juruan Sastra Jawa, dia pergi ke Belanda khusus untuk menyelesaikan skripsi. Katanya, literatur Jawa di sana jauh lebih banyak dibanding di Indonesia.

Mengenai daun lontar, sebenarnya banyak lontar-lontar Jawa yang diselamatkan ke Bali. Hanya sayangnya, sekarang ini lontar-lontar itu banyak diperjual-belikan dan menjadi salah satu bisnis yang banyak dilakukan disamping penjualan benda-benda seni. :(
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby caberawit » Sun May 13, 2007 7:53 am

somad wrote:Sdr Cabe Rawit,
Terimakasih atas penjelasan anda, memang saya pernah mambaca dari buku mengenai
wayang purwa tentang ini yang penuh dengan ajaran kemanusiaan nampaknnya Kejawen
juga mengadaptasi falsafah Pewayangan yang sebenarnya berasal dari kebudayaan Sansekerta.

Mbah Somad,
Sebenarnya pagelaran wayang sendiri merupakan bagian dari ritual Kejawen. Ritual Kejawen yang lengkap / besar selalu melibatkan wayang. Makanya dalam setiap pagelaran wayang, ada dupa dan sajen, dimaksudkan bahwa pagelaran wayang tersebut juga dipersembahkan kepada Tuhan dan leluhur. Seperti India yang menempatkan Mahabarata sebagai bagian dari agama Hindu, di Jawa wayang juga merupakan bagian dari Kejawen.

Namun tidak semua kebudayaan India diserap ke dalam kebudayaan bangsa kita sendiri. Agama Hindu itu terlalu luas. Dan bangsa kita mempunyai filter untuk memilih mana yang diambil, dan mana yang tidak. Ciri kepercayaan asli Indonesia adalah percaya kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur.

Kalau ditelusuri, sebenarnya bangsa kita penganut monotheisme. Hal itu dapat dilihat pada perkembangan Hindu - Budha di Jawa, dimana pada awalnya agama tersebut berkembang sesuai aslinya. Tapi lama-kelamaan keaslian agama pendatang tersebut mulai memudar dan berpadu dengan karakter agama lokal. Maka terjadilah: Agama Siwa-Budha, dimana secara teori tiada lagi perbedaan antara Siwa dan Budha. Kedua tokoh ini dipandang sebagai satu, bukan dua.

Pada jaman Majapahit, ada 3 aliran yang hidup berdampingan secara rukun dan damai, yaitu agama Siwa, agama Wisnu, dan agama Budha Mahayana. Kemudian terjadi sinkretisme, dimana Siwa, Wisnu, dan Budha dianggap sama sebagai Tuhan. Siwa dan Wisnu digambarkan dengan patung Hari-Hara, yakni sebuah patung setengah Siwa dan setengah Wisnu.

Maka ketika Islam datang dengan mengagung-agungkan Muhammad selayak dewa, kaum tradisional pun serta merta melaksanakan tradisi lama yaitu menaikkan status Muhammad setara dengan Siwa, Wisnu, dan Budha. Maka muncullah istilah: Nur Muhammad, yang diartikan sebagai "Cahaya Ilahi", dimana dimaksudkan bahwa Muhammad itu Tuhan, sementara "nabi" Muhammad yang menyebarkan Islam di dunia hanyalah avatarnya saja.

Agaknya kaum tradisional sulit menerima agama yang berbeda-beda dan dengan sendirinya menyatu-padukan agama-agama tersebut sesuai pandangannya. Mereka percaya, hanya ada satu Tuhan yang tertinggi, hanya ada satu kebenaran mutlak. Maka dewa tertinggi agama Siwa dianggap sama dengan dewa tertinggi agama Wisnu, sama dengan dewa tertinggi agama Budha, sama dengan dewa tertinggi agama Islam.
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby caberawit » Mon May 14, 2007 7:39 am

@ all:
Saya pamit mau melanglang buana selama lebih kurang satu bulan. Sehingga mungkin sampai pertengahan bulan depan saya tidak dapat membuat postingan /mengisi thread ini.

@ swatantre:
Saya mohon maaf jika ada salah kata atau jika ada kata-kata saya yang membuat tersinggung

@ all:
Jangan mudah percaya dengan kata-kata orang Islam mengenai Kejawen, karena mereka tak segan-segan berbohong. Contoh:
- Para panakawan (katanya) diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Pernyataan ini sungguh ngawur, karena punakawan sudah ada sebelum Sunan Kalijaga lahir.
- Jamus kalimasadha (katanya) merupakan kalimat sahadat. Jamus kalimasadha sebenarnya sungguh senjata, bentuknya bukan cakra bukan pedang (ada gambarnya - kalau ketemu aku pos-kan)
- Konsep Manunggaling Kawula Gusti (katanya) berasal dari Islam. Ini juga ngawur, sebab konsep ini sudah ada dalam kitab-kitab Jawa sebelum masuknya Islam (contoh: Kitab Nawaruci). Yang sebenarnya adalah: konsep-konsep Islam sufi banyak mengambil konsep-konsep dalam ajaran Hindu-Budha.
- dll.

Ya sudahlah. Saya cuma berharap, thread ini tidak berkembang ke arah klenik ala Islam.
Hahaha..

Rahayu.
User avatar
caberawit
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Mon Oct 16, 2006 12:59 am

Postby 1sht4r » Mon May 14, 2007 10:28 am

Wah... to be continue neh ceritanya. Yha wes, good luck aja buat cabeh. Jangan lupa oleh²nya yaitu gambar Jamus Klimasada ya :D
User avatar
1sht4r
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 124
Joined: Sat Oct 14, 2006 10:24 pm
Location: jakarta

Postby shoeslover » Sat May 26, 2007 10:46 pm

HALLOO...AKU ENTUK NGRAMEKNO THREAD IKI ORA?
AKU KI WONG JOWO TAPI WUTO SOAL KEJAWEN.

NEK ONO SING GELEM NGENEI AKU REFRENSI-REFRENSI KEJAWEN, AKU MATURNUWUN SANGET.

KALO ADA, MASUKIN AJA LINK2 YG BERBAU KEJAWEN KE
EMAIL AKU YA?


yzrm1800@hotmail.com
User avatar
shoeslover
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 417
Joined: Tue May 22, 2007 11:12 pm
Location: Sarkem/Pasar Kembang

Postby swatantre » Mon May 28, 2007 4:47 am

caberawit wrote:@ all:
Jangan mudah percaya dengan kata-kata orang Islam mengenai Kejawen, karena mereka tak segan-segan berbohong. Contoh:
- Para panakawan (katanya) diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Pernyataan ini sungguh ngawur, karena punakawan sudah ada sebelum Sunan Kalijaga lahir.
- Jamus kalimasadha (katanya) merupakan kalimat sahadat. Jamus kalimasadha sebenarnya sungguh senjata, bentuknya bukan cakra bukan pedang (ada gambarnya - kalau ketemu aku pos-kan)
- Konsep Manunggaling Kawula Gusti (katanya) berasal dari Islam. Ini juga ngawur, sebab konsep ini sudah ada dalam kitab-kitab Jawa sebelum masuknya Islam (contoh: Kitab Nawaruci). Yang sebenarnya adalah: konsep-konsep Islam sufi banyak mengambil konsep-konsep dalam ajaran Hindu-Budha.
- dll.


Ini saya kira merupakan informasi penting bagi para penggelut maupun awam Kejawen. Ajaran Kejawen sudah rusak sejak datangnya Islam!!!!

Ya sudahlah. Saya cuma berharap, thread ini tidak berkembang ke arah klenik ala Islam.
Hahaha..
Rahayu.


Ya enggalah, Kejawen ama klenik itu kan beda.... Islam aja yang demi mempromosikan dirinya membuat kampanye negatif (yang lebih mirp pelecehan dan pemfitnahan) thd agama dan kepercayaan lain bahwa Kejawen itu identik dengan klenik...!!!!!
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4106
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

Postby swatantre » Mon May 28, 2007 4:59 am

shoeslover wrote:HALLOO...AKU ENTUK NGRAMEKNO THREAD IKI ORA?
AKU KI WONG JOWO TAPI WUTO SOAL KEJAWEN.

NEK ONO SING GELEM NGENEI AKU REFRENSI-REFRENSI KEJAWEN, AKU MATURNUWUN SANGET.

KALO ADA, MASUKIN AJA LINK2 YG BERBAU KEJAWEN KE
EMAIL AKU YA?


yzrm1800@hotmail.com


Monggo, selamat datang, selamat meramaikan thread ini. Sinambi kita sama2 belajar Kejawen sebagai WARISAN BUDAYA KITA SENDIRI (INDONESIA)...!!!

Silahkan anda mengikuti thread ini dari halaman 1. Menarik kok....!!!!
swatantre
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4106
Joined: Thu Jul 20, 2006 7:40 pm
Location: Tanah Suci, dalem Ka'bah

PreviousNext

Return to Islam vs Agama & Peradaban Lain



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users