. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Wed Dec 29, 2010 12:52 pm

iluvboy.blogspot wrote:Saya jujur ga mengerti bahasa arab, tapi saya sudah dapat memastikan bagaimana etika orang gila yg bernama pusing ini.. dia tidak mencari kebenaran, dia hanya memaksakan kebenaran versi dia, bahkan sebagai slimer dia tidak jarang berbeda pandangan secara fundamental dengan slimer yg lain, coba tantang dia untuk mempublikasikan pandangannya ke dunia slimer secara nyata (misalnya seperti kesaksian lia eden bahwa dia seorang rasul) saya ga yakin dia mau mempublikasikan pandangannya itu, karena diapun takut dianggap bid'ah dan diincar batang kepalanya oleh slimer2 di seluruh planet bumi, tapi saya masih berharap keberanian dan keteguhan sikap si gila pusing ini akan terlihat dan terdengar di televisi untuk menyatakan quran tidak berbahasa arab :yawinkle:


HEH.. anak anak kecil kapir yang ga mau belajar menangkap maksud tulisan orang.. :lol: tunjukkan yang mana saya ngaku ngakku RASUL?? Jangan asal fitnah !!

Kalau kebenaran yang anda klaim sebagai versi saya itu dibenarkan alquran Gimana hayoo?? :lol:

Emangnya ga boleh ya ALFURQAN dalam ALQURAN berfungsi membelah isi OTAK anda dan isi otak dunia?? :lol: Ini lah mU`jizat alquran.. Bisa membelah dunia bukan?? :lol:

Satu pun anda tidak sanggup menyanggah apa yang saya sampaikan malah memfitnah terus :lol:

Nih saya kasih sanggahan atas kesalahan doktrin logika Ilmiah anda disini.

Langsung sanggah ya!! Jangan nanya nanya melulu... Cape saya ngetiknya :lol:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby Doc Holliday » Wed Dec 29, 2010 4:06 pm

pusing wrote:Sudah saya katakan berulang kali kalau saya sudah menjawab semua pertanyaan anda dan itulah pertanggung jawaban bagi apa yang saya samapaikan. Hanya saja Kemampuan anda (maaf) belum memadai untuk mencerna apa yang disampaikan orang. Dan Ingat !! Ujian Nasioanal di Pending dulu, Karena Ketua panitia Ujian Nasionalnya sedang ke Bali ya?? atau sedang mencari bahan bahan ujian. :lol: .

Nah, karena Ujian telah usai / Pending, Sekarang giliran anda sebagai anggota panitia yang menilai dimana letak salahnya. Nanti saya janji akan perbaiki. Atau anda takut ya salah menilai? :rolling: lalu dengan mudahnya saya Hajar??

Masak panitia Ujian Nasional tidak bisa menilai sih. dan masak juga bertanya yang itu itu saja. Katanya anda pernah Kuliah.. :---) . Bukankah kalau sudah selesai skripsi harus ada penilaian?? :lol:

Sudah laah.. dinilai dulu nanti saya janji deh kalau salah pasti saya perbaiki. Tapi kalau anda yang salah, Saya hajar ya??

:rofl: :rofl:
oaaalah pus,pus..
tertawa pahit menutup malu tanpa dapat mempertanggungjawabkan logika ilmiah anda? :green: :---) :yawinkle:
masa utk menjawab pertanyaan anak bayi/sd saja anda masih belum sanggup. berpusing-pusing ria, membekukan otak dengan mengklaim telah menjawab. eh malah menambah kan lagi dengan segala macam "kisah" demi membenarkan syahwat dan kebebalan pikiran anda. malah menjadi cermin dari ketakutan anda akan ketidakmampuan mempertanggungjawabkan klaim anda sendiri. seperti yg pernah sy sampaikan, perhatikan input-input dr kafir-kafir yg ada, sehingga anda dapat memahami apa yg diminta, agar anda tidak terlihat semakin konyol saja anda ini pus. :lol:
bagaimana utk yg berikut ini pus..tak sanggup kah? :green: :-"

tentu anda memiliki pertimbangan objektif ilmiah, dalam mengklaim :
1. tulisan- bahasa yg mana yg dimaksud satu ilmu yg diturunkan allah tersebut.

dengan pernyataan anda berikut:
pusing wrote:[b]Jawab:Yang inilah Image yang dapat disebutkan sebagai tulisan- bahasa dalam alquran yg dimaksud satu ilmu yg diturunkan allah tersebut pada zaman/era tersebut .....

Atas dasar objektif ilmiah apa anda mengklaim hal tsb sebagai yg dimaksud sebagai ALQURAN,BAHASA, SATU ILMU yg diturunkan allah swt? sudahkah anda memberikan ke valid an objektif ilmiah yg ada utk mendukung KLAIM anda itu? tidak semata hanya berdasarkan syahwat anda saja. sekali lagi, sudahkah pus?
sementara, dilain hal anda bahkan dengan HEBAT dan MANTAPnya mengklaim bahwa:
pusing wrote:Artinya tulisan zaman dahulu yang tidak terpakai lagi, belum lah urgen untuk saya periksa. Tulisan yang terpakai saat inilah yang urgen telah saya periksa kebenarannya.
Anda minta diajari tulisan zaman dahulu yang tidak terpakai lagi dan tidak minta diajari tulisan yang semua orang telah pakai di saat ini. padahal kudua dua tulisan itu saya yakin sampai saat ini belum juga anda pahami
Lucu sekali

Siapa, apa, dengan obyektif ilmiah mana anda, menyatakan hal itu sebagai suatu kebenaran yg ilmiah? ingat, kita membahas tidak hanya SEMATA-MATA bentuk tulisan, tetapi ALQURAN,BAHASA, SATU ILMU, ALLAH SWT sebagai yg menurunkan, MUHAMMAD dengan GEMA yg anda klaim sebagai pelaksana .:green: :---) :yawinkle:
untuk yg berikut kah yg anda maksud dengan "logika ilmiah ala mahasiswa " sebagai suatu "kebenaran" dan telah terbukti "ilmiah" itu?
pusing wrote:Untuk apa anda mohon mohon mengklarifikasi sesuatu yang bagi saya saat ini memang belum urgen untuk saya periksa.
........................
Sadarkah anda bahwa fenomena alam,alat peralatan dan sosial budaya tidak perlu dibuktikan.

Validkah "logika ilmiah" di atas untuk mengklaim segala sesuatu? :green: :---) :yawinkle:

Mengapa hal ini sulit sekali ditelaah "logika ilmiah ala mahasiswa" anda itu dimana anda sendiri tidak dapat mempertanggungjawabkan objektif ilmiah yg anda klaim itu? sehingga malah meminta anak bayi/sd ini yg membuktikan klaim anda.Bukankah sudah berulang kali sy sampaikan, jika klaim dasar saja, anda tidak dapat mempertanggungjawabkan nya sebagai "kebenaran" yg tlh terbukti "logis dan ilmiah", masihkah dapat dipertanggungjawabkan segala klaim anda selanjutnya? tunjukkan terlebih dahulu dimana objetif ilmiah yg anda maksud itu,pus. Jangan hanya bermodalkan klaim sepihak semata. Kecuali anda menyatakan sama sekali tidak ada "keilmiahan" yg terkandung dr setiap klaim anda itu, barulah dapat dipahami. Dan ini belum lagi disesuaikan dengan klaim2 ilmiah anda yg lain yg menyatakan BAHASA (ingat: termasuk seluruh kaedah2 yg terkandung di dalamnya) sebagai SATU ILMU yang TERSENDIRI dan STATIS dari ALLAH SWT kepada MUHAMMAD dengan GEMA nya pada era tersebut bla bla bla bla.....apalagi prihal air hujan yg anda sendiri blum dapat membuktikan secara "ilmiah" itu adalah air hujan..:green:

dapatkah anda menjelaskan dasar objektif ilmiah ala "logika ilmiah mahasiswa" anda itu pus? sehingga anda terhindar dari asal klaim, yg artinya sama saja dengan :
pusing wrote:ALASAN ANAK SD!!!

PAHAM???
btw, masihkah ada :
pusing wrote:Salam bagi semua orang yang berfikir objectif apa adanya... :heart:

:rolling:
:green: :-" :heart:
Doc Holliday
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 355
Joined: Sat Oct 09, 2010 9:27 am
Location: Old Wild West

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Wed Dec 29, 2010 5:36 pm

Karakteristik kapir FFI kalau ga bisa jawab. Membunuh karakter dan menghindar:

Pusing wrote:
Sudah laah.. dinilai dulu nanti saya janji deh kalau salah pasti saya perbaiki. Tapi kalau anda yang salah, Saya hajar ya??


Anjing Berlibur menggonggong:
:rofl: :rofl:
oaaalah pus,pus..
tertawa pahit menutup malu tanpa dapat mempertanggungjawabkan logika ilmiah anda? :green: :---) :yawinkle:
masa utk menjawab pertanyaan anak bayi/sd saja anda masih belum sanggup. berpusing-pusing ria, membekukan otak dengan mengklaim telah menjawab. eh malah menambah kan lagi dengan segala macam "kisah" demi membenarkan syahwat dan kebebalan pikiran anda. malah menjadi cermin dari ketakutan anda akan ketidakmampuan mempertanggungjawabkan klaim anda sendiri. seperti yg pernah sy sampaikan, perhatikan input-input dr kafir-kafir yg ada, sehingga anda dapat memahami apa yg diminta, agar anda tidak terlihat semakin konyol saja anda ini pus. :lol:
bagaimana utk yg berikut ini pus..tak sanggup kah? :green: :-"


tentu anda memiliki pertimbangan objektif ilmiah, dalam mengklaim :
1. tulisan- bahasa yg mana yg dimaksud satu ilmu yg diturunkan allah tersebut.

dengan pernyataan anda berikut:
[b]pusing wrote:
Jawab:Yang inilah Image yang dapat disebutkan sebagai tulisan- bahasa dalam alquran yg dimaksud satu ilmu yg diturunkan allah tersebut pada zaman/era tersebut .....


Atas dasar objektif ilmiah apa anda mengklaim hal tsb sebagai yg dimaksud sebagai ALQURAN,BAHASA, SATU ILMU yg diturunkan allah swt? sudahkah anda memberikan ke valid an objektif ilmiah yg ada utk mendukung KLAIM anda itu? tidak semata hanya berdasarkan syahwat anda saja. sekali lagi, sudahkah pus?
sementara, dilain hal anda bahkan dengan HEBAT dan MANTAPnya mengklaim bahwa:
Pusing wrote:
Artinya tulisan zaman dahulu yang tidak terpakai lagi, belum lah urgen untuk saya periksa. Tulisan yang terpakai saat inilah yang urgen telah saya periksa kebenarannya.
Anda minta diajari tulisan zaman dahulu yang tidak terpakai lagi dan tidak minta diajari tulisan yang semua orang telah pakai di saat ini. padahal kudua dua tulisan itu saya yakin sampai saat ini belum juga anda pahami
Lucu sekali


Siapa, apa, dengan obyektif ilmiah mana anda, menyatakan hal itu sebagai suatu kebenaran yg ilmiah? ingat, kita membahas tidak hanya SEMATA-MATA bentuk tulisan, tetapi ALQURAN,BAHASA, SATU ILMU, ALLAH SWT sebagai yg menurunkan, MUHAMMAD dengan GEMA yg anda klaim sebagai pelaksana .:green: :---) :yawinkle:
untuk yg berikut kah yg anda maksud dengan "logika ilmiah ala mahasiswa " sebagai suatu "kebenaran" dan telah terbukti "ilmiah" itu?
pusing wrote:
Untuk apa anda mohon mohon mengklarifikasi sesuatu yang bagi saya saat ini memang belum urgen untuk saya periksa.


[b]Anjing berlibur wrote:........................
Sadarkah anda bahwa fenomena alam,alat peralatan dan sosial budaya tidak perlu dibuktikan.[/b]

Validkah "logika ilmiah" di atas untuk mengklaim segala sesuatu? :green: :---) :yawinkle:

Mengapa hal ini sulit sekali ditelaah "logika ilmiah ala mahasiswa" anda itu dimana anda sendiri tidak dapat mempertanggungjawabkan objektif ilmiah yg anda klaim itu? sehingga malah meminta anak bayi/sd ini yg membuktikan klaim anda.Bukankah sudah berulang kali sy sampaikan, jika klaim dasar saja, anda tidak dapat mempertanggungjawabkan nya sebagai "kebenaran" yg tlh terbukti "logis dan ilmiah", masihkah dapat dipertanggungjawabkan segala klaim anda selanjutnya? tunjukkan terlebih dahulu dimana objetif ilmiah yg anda maksud itu,pus. Jangan hanya bermodalkan klaim sepihak semata. Kecuali anda menyatakan sama sekali tidak ada "keilmiahan" yg terkandung dr setiap klaim anda itu, barulah dapat dipahami. Dan ini belum lagi disesuaikan dengan klaim2 ilmiah anda yg lain yg menyatakan BAHASA (ingat: termasuk seluruh kaedah2 yg terkandung di dalamnya) sebagai SATU ILMU yang TERSENDIRI dan STATIS dari ALLAH SWT kepada MUHAMMAD dengan GEMA nya pada era tersebut bla bla bla bla.....apalagi prihal air hujan yg anda sendiri blum dapat membuktikan secara "ilmiah" itu adalah air hujan..:green:

dapatkah anda menjelaskan dasar objektif ilmiah ala "logika ilmiah mahasiswa" anda itu pus? sehingga anda terhindar dari asal klaim, yg artinya sama saja dengan :[/quote]

pusing wrote:
ALASAN ANAK SD!!!
PAHAM???


anjing berlibur wrote
;
btw, masihkah ada :
pusing wrote:
Salam bagi semua orang yang berfikir objectif apa adanya... :heart:
:rolling:
:green: :-" :heart:


Yho huiss anggap saya tidak dapat menjawab atau salah dan tidak bertanggung jawab. Maaf ya, lain kali kita bertemu dibahasan lain. :heart:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby iluvboy.blogspot » Thu Dec 30, 2010 9:47 am

Si gila pusing kayanya emang gelar yg udah klop buat elu, sapa yg bilang lu rasul? gw cuma nantang lu buat publikasikan pandangan lu kl quran tidak berbahasa arab di televisi, masa ga bisa ladenin tantangan anak kecil :lol:
iluvboy.blogspot
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 951
Joined: Wed Oct 21, 2009 6:18 pm

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby HILLMAN » Thu Dec 30, 2010 6:08 pm

pusing wrote:
(quote)Hillman wrote:
Alasan-alasan kosong lagi anda kemukakan untuk menghindar dan melewati bahasan yang tidak dapat anda bantah dengan "menguji" saya. :lol:(/quote)

Baiklah, tanpa panjang lebar lagi kita buktikan bersama.

Dibawah ini saya tunjukkan kesalahan dalam penggunaan kaedah tata bahasa Hillman bagi tata bahasa alquran.

Ada 234 ayat yang menggunakan fi`il madhi جعل - ja`ala. Dan kesemuanya membawa 2 buah maf`ul(object) kedalam kalimatnya. Inilah yang justru akan membuktikan kalau yang diajukan bung Hillman adalah alasan alasan kosong. :lol: Sederhana dan simple bukan kaedahnya?? :lol:

Dilihat dari kesempurnaan susunan secara keseluruhan, Fi`il madhi tersebut memilki ketetapan hukum/kaedahnya yang tidak berubah. Artinya kalau berubah atau ada yang merubah, pasti akan menunjukkan makna yang saling kontradiktif dalam hal ini pada masing masing 234 ayat tersebut. Dan dalam hal ini Bung Hillmanlah yang bisa dipastikan adalah orang yang sedang berupaya ingin merubah kaedah tersebut.

Kaedah fi`il madhi جعل - ja`ala tersebut adalah sebuah kata kerja telah yang unik karena selalu membawa 2 buah maf`ul(object) kedalam kalimatnya. Artinya fi`il madhi tersebut selalu mengerjakan dan mempekerjakan 2 buah maf`ul(object)nya. Atau dengan kata lain fi`il madhi جعل - ja`ala tersebut menentukan kerja maf`ul(object) ke 1 menjadi maf`ul(object) ke 2. Disinilah inti permasalahannya. Mari kita buktikan bersama kaedah tersebut sekaligus saya tunjukkan kesalahan kesalahan kaedah yang menjadi alasan alasan kosong dibawah ini:

Pada ayat إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا - innaa ja`alnaahu qur aanan `arabiyyan. perhatikan pada kalimat sifah maushuf قُرْآنًا عَرَبِيًّا. Shifah maushuf ini selamanya tidak akan bisa dirubah menjadi kalimat mudhaf wa mudhaf ilaihi. Berikut kaedahnya:
SHIFAT ( صِفَة ) dan MAUSHUF ( مَوْصُوْف )
Bila rangkaian dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau semuanya dalam keadaan Ma'rifah (alif-lam) maka kata yang di depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang yang di belakang adalah Shifat. Artinya atribut sifah selalu mengikuti atribut maushuf.


Kenapa dan bagaimana kalau dirubah kaedahnya??

Alasannya:
1. Karena kaedah sifah maushuf tersebut akan menyalahi atau menggugurkan atau memanipulasi mudhaf wa mudhaf ilaihi yang sudah memiliki kaedahnya sendiri. Ibarat masyarakat desa yang harus patuh pada aturan desanya sendiri, melanggar dengan mengikuti aturan selainnya.

2. Dari pelanggaran point ke 1, maka sudah pasti penterjemahan dan maknanya menjadi tidak mengikuti kaedah sebenarnya, akhirnya menjadi fatal dan mengakibatkan kontradiktif sesama masing masing ketetapan hukum didalam alquran.

Selengkapnya sudah saya jelaskan sebelumnya dan sekarang saya tegaskan lagi.


اِنَّا - inna = Sesungguhnya Kami.-->> نَحْنُ - nahnu manshuubun bi اِنَّ - inna. Jadi nahnu adalah mubtada`nya

جَعَلْنَا - ja`alnaa = fi`il madhi bi fa`il nahnu = Kami membuat/membikin (maf`ul ke 1 ) menjadi (maf`ul ke 2 ) --->> Selalu membawa 2 buah ma`ful kedalam kalimatnya.

هُ - hu = maf`ul (abject) ke 1 = dia (kata pengganti nama untuk pihak ketiga 1 maskulin)

قُرْاٰنًا - quraanan = maf`ul (object)ke 2 sebagai isim maushuf bagi sifah عَرَبِيًّا - `arabiyyan (dengan harokat yang sama dengan sifah dan sama sama tidak ber alif lam) = bacaan.

عَرَبِيًّا - `arabiyyan = sifah bagi isim maushuf قُرْاٰنًا - quraanan (dengan harokat yang sama dengan isim maushuf dan sama sama tidak ber alif lam) = yang mengandung sifat arab = yang mengandung nilai bahasa arab.

Lihatlah bagaimana seseorang berupaya dengan atraktifnya dihadapan para pembaca yang tidak menguasai tata bahasa alquran Bermaksud menggeser makna sedikit demi sedikit dari kaedahnya.

(quote)Hillman wrote:
Perhatikan kata جَعَلْنَاهُ - ja'alnaaHU - jadikan DIA, yang dituliskan sebelum kata idhafat sifah maushuf قُرْآنًا عَرَبِيًّا - quraanan 'arabiyyan. (/quote)

Perhatikan yang saya beri warna merah diatas. Itulah kesalahannya. :lol:
Sampai disini orang tersebut tidak memberikan sumber sebagai referensi seperti yang sudah sudah yang menguatkan argumen syahwatnya yaitu istilah yang berkaedah idhafat sifah maushuf . Karena bisa dipastikan istilah tersebut tidak akan pernah ada diinternet maupun dunia nyata.Kalaupun ada hanyalah di otak Hillman dan harus menghadapi ratusan bahkan ribuan kalimat sifah maushuf dalam alquran. :lol:

Dia beruntung karena dari awal saya konsisten tidak mau mempermasalahkan. :lol:

Yang benar adalah:DIA yang dituliskan sebelum kata sifah maushuf قُرْآنًا عَرَبِيًّا - quraanan 'arabiyyan adalah maf`ul(object) ke 1 (alquran) yang dibuat/dibikin oleh fa`il(subject) نَحْنُ - nahnu menjadi maf`ul(object) ke 2 قُرْاٰنًا - quraanan dengan tanda nashabnya adalah Fhatah tanwin.
dan عَرَبِيًّا - `arabiyyan adalah tetap menjadi sifah bagi isim maushuf قُرْاٰنًا - quraanan (dengan harokat yang sama dengan isim maushuf dan sama sama tidak ber alif lam).

(quote)Hillman wrote:
Jadi hanya isapan jempol, jika kata idhafat sifah maushuf قُرْآنًا عَرَبِيًّا - quraanan 'arabiyyan tersebut dipisahkan menjadi “bahasa Al Quran serumpun dengan bahasa Arab” seperti syahwat anda. (/quote)

Jadi hanya isapan jempol, jika kata sifah maushuf قُرْآنًا عَرَبِيًّا - quraanan 'arabiyyan tersebut menjadi bentukan murakkab dari dua buah isim menjadi satu isim tunggal baru(Mudhaf wa mudaf ilaihi) yaitu “bacaan orang-orang Arab :toimonster: ”. seperti syahwat anda.

Agar lebih mengena lagi kebohongan Hillman ini, mari saya tunjukkan kebingungan kebingungan beliau ketika menghadapi sistimatik ayat yang saya ajukan>

Atraksinya untuk mengelabui para pembaca yang tidak mengerti tata bahasa alquran adalah begini:
Atraksi 1
.

(quote)Hillman wrote:
Tetapi jika anda ingin “menguji” saya dengan ayat tersebut, artinya memang anda tidak paham dan salah contoh ( ), kemudian apakah anda tidak melihat perbedaan pola fi’il dan maf”ul dari kedua ayat tersebut ? (/quote)

Yang diatas ini adalah teknik mengelabui pembaca agar terkesan saya tidak mengerti akan perbedaan pola fi’il dan maf”ul dari kedua ayat tersebut.

(quote)Hillman wrote:
Surah Al Araaf ayat 27 ----- > جَعَلْنَا - ja'alnaa = jadikan ----- > Fi’il (kata kerja) tanpa Ma’ful (objek), dimana objeknya adalah الشَّيَاطِينَ – alsysyayaathiina(/quote)

Memang benar pada pola Fi’il (kata kerja)جَعَلْنَا - ja'alnaa tanpa Ma’ful (objek).
Yang saya maksud disana adalah ketika Fi’il (kata kerja)جَعَلَ - ja'ala dan 14 pemecahan bentuk lainnya tanpa Ma’ful (objek)berada didalam kalimat sempurna, maka fa`il(subject) pada fi`il tersebut selalu menentukan kerja bagi 2 buah maf`ul(object)nya menjadi sama dengan membawa 2 buah maf`ul(object) kedalam kalimat nya dan 234 ayat itulah buktinya. :lol:

Atraksi ke 2.

(quote)Hillman wrote:
Ragam kalimat pertama “ Sesungguhnya Kami menjadikan DIA” ----- > Pola kalimat sempurna, taukid, fa’il, fi’il dan maf’ul…. Paham ?

قرءنا - qur-aanan = bacaan ------- > Isim alam manshub, isim taukid fathah tanwin adalah maushuf dari “ عربيا

عربيا - 'arabiyyan = orang-orang Arab ------- > fathah tanwin adalah sifah dari “ قرءنا

قرءنا عربيا - qur-aanan 'arabiyyan = bacaan orang-orang Arab ------- > Isim idhafat sifah maushuf “ قرءنا عربيا“, manshub taukid “ان “ dan merupakan mubtada dari khabar ghair mufrad “تعقلون لعلكم (/quote)

Perhatikan yang saya warnai merah. Itulah salahnya. :lol:

Yang benar adalah kalau misal قرءنا عربيا - qr aanan `arabiyyan adalah sebuah isim atau kalimat kata majemuk(mudhaf - mudhaf ilaihi) dan dia mubtada`yang di`irab nashab oleh ان - inna, maka harus ada waw athaf sebelum قرءنا عربيا - qr aanan `arabiyyan karena taukid ان - inna juga menashabkan نَحْنُ - nahnu. Jadi jelas terbukti bahawa i`rab nashab idhafah sifah maushuf قرءنا عربيا - qr aanan `arabiyyan adalah nyata nyata karang karangan dan alasan kosong dari seseorang yang seenak udelnya merubah kaedah yang berlaku dalam alquran.

(quote)Hillman wrote:
لعلكم - la'allakum = agar kamu ------- > Taukid “لعل “ dengan isim dhamir “كم ” nashab.

تعقلون - ta'qiluunaa = mengerti ------- > Fi’il mudhari “تعقلو “ dari dhamir “كم ”. rafa
(/quote)

Yang saya beri warna merah diatas juga SALAH. Yang benar adalah "Kalian" pihak kedua untuk jamak maskulin.

(quote)Hillman wrote:
Ragam kalimat 2 : إِنَّ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ Inna qur-aanan ‘arabiyyan la'allakum ta'qiluunaa = Sesungguhnya “bacaan orang-orang Arab” agar (membuat) kamu mengerti, dimana Fa'il "QUR-AANAN 'ARABIYYAN" melakukan pekerjaan "MENGAJARI" agar "MAF'UL" KAMU mengerti. (/quote)

Lihat lagi yang saya beri warna merah diatas ini. Beliau tidak menjelaskan yang mana kata kerja(fi`il) bagi Fa'il "QUR-AANAN 'ARABIYYAN" melakukan pekerjaan "MENGAJARI" agar "MAF'UL" KAMU mengerti. :lol: . Mengajukan sumber sebagai referensi pun tidak :lol: . Karena tidak menunjukkan kata kerja(fi`il)nya, maka dinyatakan SALAH! :lol:

(quote)Hillman wrote:
1. Ragam kalimat pertama “Dan Kami menjadikan MEREKA” ----- > Pola kalimat sempurna, Fa’il, Fi’il dan Maf’ul…. Paham ?

أئمة - a-immatan = pemimpin pemimpin ------- > Isim manshub, fa’il dari fi’il mudhari “يدعون “ (/quote)

Lihatlah kebingungan beliau diatas yang saya beri warna merah juga. :lol:

Taukid inna ga ada :-k , tapi harus di`irab nashab tapi yang menashabkan apa ya? :lol: Ah tulis begitu aja ah #-o :rolling: :partyman:

(quote)Hillman wrote:
يوم - yawma = pada hari, ------- > Isim manshub.

القيمة - alqiyaamati = kiamat ------- > Isim majrur dari “ يوم
(/quote)

Terakhir perhatikan kembali yang saya beri tanda merah diatas ini. Itulah SALAHNYA :lol:

Yang benar adalah:
يوم - yawma = pada hari, ------- > di`irab nashab karena dia adalah Zharfun lizamaanin. Dan menjadi mudhaf bagi القيمة - alqiyaamati
القيمة - alqiyaamati = kiamat ------- > mudhaf ilaihi bagi “ يوم

Untuk pembaca yang belum memahami kaedah kalimat kata majemuk(mudhaf wa mudhaf ilaihi) berikut kutipannya:
MUDHAF ( مُضَاف ) dan MUDHAF ILAIH ( مُضَاف إِلَيْه )
Rangkaian dua buah Isim atau lebih, satu kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi tanpa tanwin) dinamakan Mudhaf sedang kata yang paling belakang adalah Ma'rifah dinamakan Mudhaf Ilaih. Contoh:
بَيْتُ الْمُدَرِّسِ (=buku guru)
بَيْتُ زَيْدٍ (=rumah Zaid) -->; Zaid = Isim 'Alam (Ma'rifah)
مِفْتَاحُ بَيْتِ الْمُدَرِّسِ (=kunci rumah guru)
Silahkan cari sendiri dialquran contohnya sangat banyak . :heart:
Bila Mudhaf berupa Isim Mutsanna atau Jamak Mudzakkar Salim maka huruf Nun di akhirnya dihilangkan. Perhatikan contoh di bawah ini:
مُسْلِمَا الْجَاوِيِّ (=dua muslim Jawa)
مُسْلِمُو الْجَاوِيِّ (=muslimin Jawa)
مُسْلِمَا dari kata مُسْلِمَانِ (=dua orang muslim) --> Mutsanna
مُسْلِمُو dari kata مُسْلِمُوْنَ (=orang-orang muslim) -->; Jamak Salim
Contoh lain silahkan cari sendiri dialquran.
Baik Shifat-Maushuf maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih, bukanlah merupakan sebuah JUMLAH MUFIDAH (جُمْلَة مُفِيْدَة) atau Kalimat Sempurna.

Dengan demikian terbukti alasan alasan kosong Hillman propaganda terjemah alquran agar terkesan alquranlah yang salah. :heart:


Di atas adalah contoh bualan manusia yang menilai tingginya langit hanya setinggi panjang tangannya dan tanpa memiliki dalil selain syahwat untuk mengatakan orang lain “salah” :lol:

Pertama, tulisan anda justru membuktikan bahwa Al Quran bahkan tidak lulus “BATU UJI” dari tulisan anda sendiri mengenai “maful”, apalagi dari “TATABAHASA ARAB” yang saya kutipkan, mungkin ( :lol: ) itulah sebabnya anda menghisap jempol dengan sekuat tenaga ber- propaganda bahwa “bahasa Al Quran bukan bahasa Arab”.

Image

alladziina ja'aluu alqur-aana 'idhiina

QS 15:91. Barangsiapa yang telah menjadikan Al-Qur'an terbagi-bagi.

Yang mana maf’ul (objek penderita) 2 dari fi’il madhi pada ayat Al Quran tersebut ?

Jika anda dengan “teori” milik anda menjadikan 2 “objek penderita” dalam kalimat tersebut, maka artinya :

1. “Barangsiapa” itu menjadikan 1 benda yang bernama "Al Quran" ? Btw, siapakah “barangsiapa” itu jika Al Quran dijadikan oleh"Nya" ?

2. Lalu “barangsiapa” itu menjadikan 1 benda lain bernama "Terbagi-bagi" ? Jadi apakah “Terbagi-bagi” itu kata benda “objek penderita” ?

3. Apakah dalam kalimat itu dimaksudkan ada 2 benda berbeda yaitu 1 benda "Al Quran" dan 1 benda "Terbagi bagi" ?



Kedua kali, kembali tulisan anda justru membuktikan bahwa Al Quran bahkan tidak lulus “BATU UJI” dari tulisan anda sendiri mengenai “isim sifah maushuf sebagai mubtada”, dan pastinya anda tidak akan berani mempermasalahkannya.

Perhatikan kutipan kaidah tatabahasa ARAB di bawah ini, bahwa mubtada dapat berupa kata idhafah sifah maushuf.

Image

Image

Image


Dan saya kutipkan berdasarkan ayat yang tertulis dalam Al Quran:

Image

wa-ilaahukum ilaahun waahidun laa ilaaha illaa huwa alrrahmaanu alrrahiimu

[QS 2:163] Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

1. Apakah “TUHAN YANG MAHA ESA” bukan satu KATA TUNGGAL yang terbentuk dari DUA KATA?

2. Lalu artinya dalam ayat tersebut ada 2 sosok berbeda yaitu 1 sosok "TUHAN" dan 1 sosok "YANG MAHA ESA" ?


Dari kedua contoh tersebut, maka kita dapat membaca sebuah kata yang jelas menuliskan sebuah “RUMAH BARU”, yang pastinya BUKAN dimaksudkan menjadi 2 benda berbeda, yaitu sebuah “RUMAH” dan sebuah “BARU”, seperti juga pada surah Al Baqarah ayat 163, kata “TUHAN YANG MAHA ESA” , BUKAN dimaksudkan sebagai "2 sosok berbeda", yaitu 1 sosok “TUHAN” dan 1 sosok “YANG MAHA ESA”.

Dan pastinya, "QUR-AANAN 'ARABIYYAN", BUKAN dimaksudkan 1 bahasa "QUR-AANAN" dan 1 bahasa "ARABIYYAN" seperti syahwat isapan jempol anda.

Kata bentukan sifah maushuf "ba'itun jadidun", "ilaahun waahidun" dan "qur-aanun 'arabiyyun" ini memiliki makna yang mengikat sifah dan maushufnya, dimana apabila di"pisah"kan akan memberikan makna yang sangat berbeda.

Bagi pembaca yang (maaf) awam, saya berikan contoh kata dalam bahasa Indonesia yaitu "Rumah Sakit", dimana apabila kita membaca kata tersebut maka kita akan melihat :

Image

Apakah kita semua akan mengatakan kata itu adalah 1 Rumah dan 1 Sakit atau kita akan memaknai kata tersebut sebagai sebuah kata bentukan "Rumah Sakit" ?

Paham ?

Bagi orang yang berpikir pasti memahami penjelasan sederhana di atas. :lol:

Salam bagi semua orang yang berpikir tanpa perlu pusing.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Fri Dec 31, 2010 2:17 am

Sebenarnya pada dasarnya saya sangat respek dan menghormati anda bung Hillman. Anda orang yang teguh memegang sesuatu yang anda yakini dengan tanpa syndrome beo dan menerima begitu saja apapun yang anda hadapi. Berhari hari anda mencari tanpa ngalor ngidul lari dari bahasan. Dengan begitu saya ucapkan Salut bung Hillman. :finga: =D>

Hillman wrote:
Di atas adalah contoh bualan manusia yang menilai tingginya langit hanya setinggi panjang tangannya dan tanpa memiliki dalil selain syahwat untuk mengatakan orang lain “salah” :lol:

Tapi kenapa orang yang saya hormati berkata seperti itu?? =;

Hillman wrote:
Pertama, tulisan anda justru membuktikan bahwa Al Quran bahkan tidak lulus “BATU UJI” dari tulisan anda sendiri mengenai “maful”, apalagi dari “TATABAHASA ARAB” yang saya kutipkan, mungkin ( :lol: ) itulah sebabnya anda menghisap jempol dengan sekuat tenaga ber- propaganda bahwa “bahasa Al Quran bukan bahasa Arab”.

Image

alladziina [color=red]ja'aluu
alqur-aana 'idhiina

QS 15:91. Barangsiapa yang telah menjadikan Al-Qur'an terbagi-bagi.


Hillman wrote:
Yang mana maf’ul (objek penderita) 2 dari fi’il madhi pada ayat Al Quran tersebut ?

Jika anda dengan “teori” milik anda menjadikan 2 “objek penderita” dalam kalimat tersebut, maka artinya :
1. “Barangsiapa” itu menjadikan Al Quran ? Jadi siapakah “barangsiapa” itu jika Al Quran dijadikan olehnya ?

2. Lalu “barangsiapa” itu menjadikan terbagi-bagi ? Jadi apakah “terbagi-bagi” itu kata benda “objek penderita” ?

3. Apakah dalam kalimat itu dimaksudkan ada 2 benda berbeda yaitu 1 benda "Al Quran" dan 1 benda "Terbagi bagi" ?


Kalau otak anda belum mampu menangkap makna bagi kaitan ayat sebelumnya dengan ayat sesudahnya, lebih baik anda bertanya seperti yang diatas itu. Dari pada anda menghinakan diri anda sendiri dengan sok tahu menterjemahkan seenak udelnya seperti dibawah ini:
Hillman wrote:
QS 15:91. Barangsiapa yang telah menjadikan Al-Qur'an terbagi-bagi.


Perhatikan kaedah dibawah ini:

اَلَّذِيْنَ - alladziina adalah isim maushul yang pada ayat ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ Berfungsi sebagai penghubung bagi fa`il هُمْ - hum pada kata kerja(fi`il) جَعَلُوْا - ja`aluu terhadap isim pada ayat sebelumnya كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ.surat(15;90)

Jadi yang dimaksud ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ - Almuqtasimiina ialah ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ . PAHAM!?

Jadi, apa hubungan kedua ayat tersebut dengan "Barangsiapa" itu.?? :lol:

Maka, Berdasarkan kaitan dua ayat tersebut, Terjemah "barangsiapa" dinyatakan SALAH! :green:


Hillman wrote:
Kedua kali, kembali tulisan anda justru membuktikan bahwa Al Quran bahkan tidak lulus “BATU UJI” dari tulisan anda sendiri mengenai “isim sifah maushuf sebagai mubtada”, dan pastinya anda tidak akan berani mempermasalahkannya.

Kalau anda tidak tau dan ingin sekali bertanya, jangan malu malu bung Hillman. :lol: . tidak perlu memancing mancing orang agar menjawab yang anda tidak tahu dan memfitnah. :rofl:

Kalimat yang mana yang saya tulis isim sifah maushuf sebagai mubtada?? :lol:

Kalaupun misal di irab nashab oleh inna, pasti saya menulisnya begini: Isim maushuflah yang dii`rab nashab oleh inna dan isim sesudahnya adalah sifah bagi isim maushuf.
Jadi, kalimat yang mana berkaedah isim sifah maushuf sebagai mubtada???? :rolling:

Hillman wrote:
Perhatikan kutipan kaidah tatabahasa ARAB di bawah ini, bahwa mubtada dapat berupa kata idhafah sifah maushuf.

Image

Walaupun saya belum sepakat dengan kaedahnya, Tapi Saya perjelas lagi point yang nomer 4 dibawah ini:
4. Mubtada` yang terdiri dari beberapa kata bisa merupakan shifah maushuf maupun mudhaf mudhaf ilaihi.

Apakah maksud anda begini: Mubtada` yang terdiri dari beberapa kata bisa merupakan shifah maushuf yang menjadi mudhaf mudhaf ilaihi.?? :rolling: Paham?

Image

Image

Yang diatas ini saya tidak ada masalah. Semuanya benar menurut kaedah tata bahasa alquran.


Hillman wrote:
Dan saya kutipkan berdasarkan ayat yang tertulis dalam Al Quran:

Image

wa-ilaahukum ilaahun waahidun laa ilaaha illaa huwa alrrahmaanu alrrahiimu

[QS 2:163] Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

1. Apakah “TUHAN YANG MAHA ESA” bukan satu KATA TUNGGAL yang terbentuk dari DUA KATA?
2. Lalu artinya dalam ayat tersebut ada 2 sosok berbeda yaitu 1 sosok "TUHAN" dan 1 sosok "YANG MAHA ESA" ?


Kalau anda pernah lulus "SEKOLAH DASAR", Tentu anda bisa membedakan makna dibawah ini:

Tuhan itu Esa---> (Kalimat Ibtida`) Unsurnya adalah mubtada dan khabar.

Tuhan yang Esa---(kalimat shifah maushuf) Unsurnya adalah isim shifah dan isim maushuf.

Tuhan Esa--->(kalimat idhafat mudhaf wa mudhaf ilaihi) unsurnya adalah Isim mudhaf dan isim mudhaf ilaihi.-->SATU KATA TUNGGAL yang terbentuk dari DUA KATA


Hillman wrote:
Dari kedua contoh tersebutm kita dapat membaca sebuah kata sebuah “RUMAH BARU”, yang pastinya BUKAN dimaksudkan menjadi 2 benda berbeda, yaitu sebuah “RUMAH” dan sebuah “BARU”, seperti juga pada surah Al Baqarah ayat 163, kata “TUHAN YANG MAHA ESA” , BUKAN dimaksudkan sebagai "2 sosok berbeda", yaitu 1 sosok “TUHAN” dan 1 sosok “YANG MAHA ESA”.

Dalam TATA BAHASA, bukan dikatakan sosok. Paham?? Tapi jenis kata atau jenis isim. Paham??

APAKAH jenis maskulin = JENIS KELAMIN??.. :lol: PAHAM??

Saya ulangi lagi. Kalau anda pernah lulus "SEKOLAH DASAR", Tentu anda bisa membedakan makna dibawah ini:

Rumah itu Baru---> (Kalimat Ibtida`) Unsurnya adalah mubtada dan khabar.

Rumah yang Baru---(kalimat shifah maushuf) Unsurnya adalah isim shifah dan isim maushuf.

Rumah baru atau Rumah Baru itu--->(kalimat idhafat mudhaf wa mudhaf ilaihi) unsurnya adalah Isim mudhaf dan isim mudhaf ilaihi.-->SATU KATA TUNGGAL yang terbentuk dari DUA KATA

Hillman wrote:
Dan pastinya, "QUR-AANAN 'ARABIYYAN", BUKAN dimaksudkan 1 bahasa "QUR-AANAN" dan 1 bahasa "ARABIYYAN" seperti syahwat isapan jempol anda.

Paham ?

Salam bagi semua orang yang berpikir.

Ngutak ngatik ngalor ngidol propaganda untuk merubah kaedah yang benar.

Yang pasti benarnya adalah "QUR-AANAN" adalah isim maushuf bagi "ARABIYYAN" dan "ARABIYYAN" adalah sifah bagi "QUR-AANAN" PAHAM?? :lol:

Hillman wrote:
Kata bentukan sifah maushuf "ba'itun jadidun", "ilaahun waahidun" dan "qur-aanun 'arabiyyun" ini memiliki makna yang mengikat sifah dan maushufnya, dimana apabila di"pisah"kan akan memberikan makna yang sangat berbeda.

Sungguh benar benar keras kepala menjadi pemaksaan luar biasa. [-X

yang Mengikat antara sifah maushufnya, apakah berarti sifah maushuf menjadi mudhaf mudaf ilaihi ?? paham?? \:D/

apabila sifah dan maushuf menjadi isim tunggal baru, akan memberikan makna yang sangat berbeda. PAHAM?? \:D/

Hillman wrote:
Bagi pembaca yang (maaf) awam, saya berikan contoh kata dalam bahasa Indonesia yaitu "Rumah Sakit", dimana apabila kita membaca kata tersebut maka kita akan melihat :

Image

Apakah anda semua akan mengatakan kata itu 1 Rumah dan 1 Sakit atau sebuah kata bentukan baru "Rumah Sakit" ?

Paham ?

Bagi orang yang berpikir pasti memahami penjelasan sederhana di atas. :lol:

Salam bagi semua orang yang berpikir tanpa pusing.

Lagi lagi anda ber atraksi didepan pembaca. :rofl:
Anak anak kecil seperti batdaniel, oglikom dll juga tau kalau "Rumah Sakit" itu adalah sebuah kata majemuk. Paham?

Disana anda memberi penjelasan tidak ada hubungannya dengan Shifah maushuf Quraanan arabiyyan yang telah anda jelaskan bukan??

Dapat dipastikan kalau anda hubungkan Kaedah shifah maushuf dengan kaedah majemuk pada kata "RUMAH SAKIT", Maka hasilnya anda akan menjelaskan begini: Apakah Quraanan itu bukan yang disifati `arabiyyan?? atau apakah`arabiyyan itu bukan sifat bagi qur aanan?

Maka idhafat Rumah yang disifati dan sifat sakit adalah murakkab gabungan 2 buah isim sifat sakit dan rumah yang disifati menjadi isim tunggal baru yaitu rumah sakit. :rolling:

Atau rumah yang sakit menjadi rumah sakit. :rolling: :rofl:

Btw, banyak sanggahan saya yang anda lewati .

Saya minta pertanggung jawaban anda tentang yang anda tulis ini saja:
أئمة- a-immatan = pemimpin pemimpin ------- > Isim manshub.

Kenapa أئمة - a-immatan Berharokat fathatain dan bukan kasrotain atau dhammatain.?? :lol:

Kalau orang mau dihormati, maka hormatilah hukum hukum yang berlaku yang sudah ditetapkan :heart:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby HILLMAN » Fri Dec 31, 2010 4:01 am

pusing wrote:Sebenarnya pada dasarnya saya sangat respek dan menghormati anda bung Hillman. Anda orang yang teguh memegang sesuatu yang anda yakini dengan tanpa syndrome beo dan menerima begitu saja apapun yang anda hadapi. Berhari hari anda mencari tanpa ngalor ngidul lari dari bahasan. Dengan begitu saya ucapkan Salut bung Hillman. :finga: =D>


Khas pengikut ajaran Islam (bukan muslim), semua harus memaklumi kesibukan anda, tetapi tidak bagi orang lain. Toleransi bagi kepentingan Islam dan tidak bagi kepentingan orang lain. :rofl:

Hillman wrote:
Di atas adalah contoh bualan manusia yang menilai tingginya langit hanya setinggi panjang tangannya dan tanpa memiliki dalil selain syahwat untuk mengatakan orang lain “salah” :lol:


pusing wrote:Tapi kenapa orang yang saya hormati berkata seperti itu?? =;


Apa yang anda sematkan pada orang lain, itulah yang anda dapat.

Hillman wrote:
Pertama, tulisan anda justru membuktikan bahwa Al Quran bahkan tidak lulus “BATU UJI” dari tulisan anda sendiri mengenai “maful”, apalagi dari “TATABAHASA ARAB” yang saya kutipkan, mungkin ( :lol: ) itulah sebabnya anda menghisap jempol dengan sekuat tenaga ber- propaganda bahwa “bahasa Al Quran bukan bahasa Arab”.

Image

alladziina [color=red]ja'aluu
alqur-aana 'idhiina

QS 15:91. Barangsiapa yang telah menjadikan Al-Qur'an terbagi-bagi.


Hillman wrote:
Yang mana maf’ul (objek penderita) 2 dari fi’il madhi pada ayat Al Quran tersebut ?

Jika anda dengan “teori” milik anda menjadikan 2 “objek penderita” dalam kalimat tersebut, maka artinya :
1. “Barangsiapa” itu menjadikan Al Quran ? Jadi siapakah “barangsiapa” itu jika Al Quran dijadikan olehnya ?

2. Lalu “barangsiapa” itu menjadikan terbagi-bagi ? Jadi apakah “terbagi-bagi” itu kata benda “objek penderita” ?

3. Apakah dalam kalimat itu dimaksudkan ada 2 benda berbeda yaitu 1 benda "Al Quran" dan 1 benda "Terbagi bagi" ?


pusing wrote:Kalau otak anda belum mampu menangkap makna bagi kaitan ayat sebelumnya dengan ayat sesudahnya, lebih baik anda bertanya seperti yang diatas itu. Dari pada anda menghinakan diri anda sendiri dengan sok tahu menterjemahkan seenak udelnya seperti dibawah ini:


Tidakkah dapat anda jawab pertanyaan mudah di atas ?

Hillman wrote:
QS 15:91. Barangsiapa yang telah menjadikan Al-Qur'an terbagi-bagi.


pusing wrote:Perhatikan kaedah dibawah ini:

اَلَّذِيْنَ - alladziina adalah isim maushul yang pada ayat ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ Berfungsi sebagai penghubung bagi fa`il هُمْ - hum pada kata kerja(fi`il) جَعَلُوْا - ja`aluu terhadap isim pada ayat sebelumnya كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ.surat(15;90)

Jadi yang dimaksud ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ - Almuqtasimiina ialah ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ . PAHAM!?

Jadi, apa hubungan kedua ayat tersebut dengan "Barangsiapa" itu.?? :lol:

Maka, Berdasarkan kaitan dua ayat tersebut, Terjemah "barangsiapa" dinyatakan SALAH! :green:


Menghisap jempol kosong tanpa menjawab pertanyaan mudah di atas ? :lol:

Hillman wrote:
Kedua kali, kembali tulisan anda justru membuktikan bahwa Al Quran bahkan tidak lulus “BATU UJI” dari tulisan anda sendiri mengenai “isim sifah maushuf sebagai mubtada”, dan pastinya anda tidak akan berani mempermasalahkannya.


pusing wrote:Kalau anda tidak tau dan ingin sekali bertanya, jangan malu malu bung Hillman. :lol: . tidak perlu memancing mancing orang agar menjawab yang anda tidak tahu dan memfitnah. :rofl:

Kalimat yang mana yang saya tulis isim sifah maushuf sebagai mubtada?? :lol:

Kalaupun misal di irab nashab oleh inna, pasti saya menulisnya begini: Isim maushuflah yang dii`rab nashab oleh inna dan isim sesudahnya adalah sifah bagi isim maushuf.
Jadi, kalimat yang mana berkaedah isim sifah maushuf sebagai mubtada???? :rolling:


Rupanya anda memiliki masalah pemahaman kalimat. :lol:

Baca kembali tulisan anda pada halaman sebelumnya yang membantah tulisan saya yang menyatakan "quraanan 'arabiyyan" sebagai mubtada, dan kaidah tatabahasa Arab yang saya kutipkan untuk semua pembaca ini menuliskan kebenarannya dengan gamblang.

Hillman wrote:
Perhatikan kutipan kaidah tatabahasa ARAB di bawah ini, bahwa mubtada dapat berupa kata idhafah sifah maushuf.

Image


pusing wrote:Walaupun saya belum sepakat dengan kaedahnya, Tapi Saya perjelas lagi point yang nomer 4 dibawah ini:


4. Mubtada` yang terdiri dari beberapa kata bisa merupakan shifah maushuf maupun mudhaf mudhaf ilaihi.


pusing wrote:Apakah maksud anda begini: Mubtada` yang terdiri dari beberapa kata bisa merupakan shifah maushuf yang menjadi mudhaf mudhaf ilaihi.?? :rolling: Paham?


Baca baik-baik, apakah "kepintaran" anda tidak mampu menyerap kalimat, mubtada dapat berupa kata bentukan "sifah maushuf", juga berupa kata bentukan "mudhaf mudhaf ilaihi", sesuai dengan apa yang saya tuliskan pada halaman sebelumnya.

Image

Image


pusing wrote:Yang diatas ini saya tidak ada masalah. Semuanya benar menurut kaedah tata bahasa alquran.


Tatabahasa Arab.... bukan tatabahasa "alquran".
Tatabahasa Inggris .... bukan tatabahasa "harry potter". :lol:

Hillman wrote:
Dan saya kutipkan berdasarkan ayat yang tertulis dalam Al Quran:

Image

wa-ilaahukum ilaahun waahidun laa ilaaha illaa huwa alrrahmaanu alrrahiimu

[QS 2:163] Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

1. Apakah “TUHAN YANG MAHA ESA” bukan satu KATA TUNGGAL yang terbentuk dari DUA KATA?
2. Lalu artinya dalam ayat tersebut ada 2 sosok berbeda yaitu 1 sosok "TUHAN" dan 1 sosok "YANG MAHA ESA" ?


pusing wrote:Kalau anda pernah lulus "SEKOLAH DASAR", Tentu anda bisa membedakan makna dibawah ini:

Tuhan itu Esa---> (Kalimat Ibtida`) Unsurnya adalah mubtada dan khabar.

Tuhan yang Esa---(kalimat shifah maushuf) Unsurnya adalah isim shifah dan isim maushuf.

Tuhan Esa--->(kalimat idhafat mudhaf wa mudhaf ilaihi) unsurnya adalah Isim mudhaf dan isim mudhaf ilaihi.-->SATU KATA TUNGGAL yang terbentuk dari DUA KATA


:rofl: Kenapa tidak dalam bahasa Arab dan melenceng bahasannya ? Baiklah, saya arahkan kepembahasan yang benar.

Kata ilaahun waahidun jika anda konsisten memaknai seperti kata "quraanan 'arabiyyan" versi isapan jempol anda, maka akan bermakna "Tuhan yang ke-esa-esa-an" ?


Hillman wrote:
Dari kedua contoh tersebutm kita dapat membaca sebuah kata sebuah “RUMAH BARU”, yang pastinya BUKAN dimaksudkan menjadi 2 benda berbeda, yaitu sebuah “RUMAH” dan sebuah “BARU”, seperti juga pada surah Al Baqarah ayat 163, kata “TUHAN YANG MAHA ESA” , BUKAN dimaksudkan sebagai "2 sosok berbeda", yaitu 1 sosok “TUHAN” dan 1 sosok “YANG MAHA ESA”.


pusing wrote:Dalam TATA BAHASA, bukan dikatakan sosok. Paham?? Tapi jenis kata atau jenis isim. Paham??

APAKAH jenis maskulin = JENIS KELAMIN??.. :lol: PAHAM??


Apakah anda bingung menjawabnya sehingga ngalor ngidul pada bahasan yang tidak berkaitan ? :lol:

pusing wrote:Saya ulangi lagi. Kalau anda pernah lulus "SEKOLAH DASAR", Tentu anda bisa membedakan makna dibawah ini:

Rumah itu Baru---> (Kalimat Ibtida`) Unsurnya adalah mubtada dan khabar.

Rumah yang Baru---(kalimat shifah maushuf) Unsurnya adalah isim shifah dan isim maushuf.

Rumah baru atau Rumah Baru itu--->(kalimat idhafat mudhaf wa mudhaf ilaihi) unsurnya adalah Isim mudhaf dan isim mudhaf ilaihi.-->SATU KATA TUNGGAL yang terbentuk dari DUA KATA


:rofl: Kedua kalinya, kenapa tidak dalam bahasa Arab dan melenceng bahasannya ? Baiklah, saya arahkan kepembahasan yang benar.

Kata ba'itun jadidun jika anda konsisten memaknai seperti kata "quraanan 'arabiyyan" versi isapan jempol anda, maka akan bermakna "Rumah yang ke-baru-baru-an" ?


Hillman wrote:
Dan pastinya, "QUR-AANAN 'ARABIYYAN", BUKAN dimaksudkan 1 bahasa "QUR-AANAN" dan 1 bahasa "ARABIYYAN" seperti syahwat isapan jempol anda.

Paham ?

Salam bagi semua orang yang berpikir.


pusing wrote:Ngutak ngatik ngalor ngidol propaganda untuk merubah kaedah yang benar.

Yang pasti benarnya adalah "QUR-AANAN" adalah isim maushuf bagi "ARABIYYAN" dan "ARABIYYAN" adalah sifah bagi "QUR-AANAN" PAHAM?? :lol:


:rofl: Jadi jika "quraanan 'arabiyyan" = bahasa Al Quran bukan bahasa Arab, maka "ilaahun waahidun" = sosok Tuhan bukan sosok Yang Maha Esa .

Paham ?

Hillman wrote:
Kata bentukan sifah maushuf "ba'itun jadidun", "ilaahun waahidun" dan "qur-aanun 'arabiyyun" ini memiliki makna yang mengikat sifah dan maushufnya, dimana apabila di"pisah"kan akan memberikan makna yang sangat berbeda.


pusing wrote:Sungguh benar benar keras kepala menjadi pemaksaan luar biasa. [-X

yang Mengikat antara sifah maushufnya, apakah berarti sifah maushuf menjadi mudhaf mudaf ilaihi ?? paham?? \:D/

apabila sifah dan maushuf menjadi isim tunggal baru, akan memberikan makna yang sangat berbeda. PAHAM?? \:D/


Apakah anda akan memisahkan kaedah sifah dan maushuf kata "quraanan 'arabiyyan" pada ayat tersebut agar sesuai syahwat anda ?

Hillman wrote:
Bagi pembaca yang (maaf) awam, saya berikan contoh kata dalam bahasa Indonesia yaitu "Rumah Sakit", dimana apabila kita membaca kata tersebut maka kita akan melihat :

Image

Apakah anda semua akan mengatakan kata itu 1 Rumah dan 1 Sakit atau sebuah kata bentukan baru "Rumah Sakit" ?

Paham ?

Bagi orang yang berpikir pasti memahami penjelasan sederhana di atas. :lol:

Salam bagi semua orang yang berpikir tanpa pusing.


pusing wrote:Lagi lagi anda ber atraksi didepan pembaca. :rofl:
Anak anak kecil seperti batdaniel, oglikom dll juga tau kalau "Rumah Sakit" itu adalah sebuah kata majemuk. Paham?

Disana anda memberi penjelasan tidak ada hubungannya dengan Shifah maushuf Quraanan arabiyyan yang telah anda jelaskan bukan??

Dapat dipastikan kalau anda hubungkan Kaedah shifah maushuf dengan kaedah majemuk pada kata "RUMAH SAKIT", Maka hasilnya anda akan menjelaskan begini: Apakah Quraanan itu bukan yang disifati `arabiyyan?? atau apakah`arabiyyan itu bukan sifat bagi qur aanan?

Maka idhafat Rumah yang disifati dan sifat sakit adalah murakkab gabungan 2 buah isim sifat sakit dan rumah yang disifati menjadi isim tunggal baru yaitu rumah sakit. :rolling:

Atau rumah yang sakit menjadi rumah sakit. :rolling: :rofl:


Kata "Rumah Sakit" itu adalah contoh sederhana sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang apabila dipisahkan antara "Rumah" dan "Sakit" akan memberi makna berbeda yang tidak melekat pada "gambar" yang saya tampilkan. Paham ?

Btw, apabila anda paksakan kata dalam bahasa Indonesia itu sebangun dengan kata dalam bahasa Arab “quraanan ‘arabiyyan”, sesuai tulisan anda di atas, maka makna kata “quraanan ‘arabiyyan” = bacaan yang Arab atau bacaan Arab ? Setuju ? :rofl:

pusing wrote:Btw, banyak sanggahan saya yang anda lewati .

Saya minta pertanggung jawaban anda tentang yang anda tulis ini saja:
أئمة- a-immatan = pemimpin pemimpin ------- > Isim manshub.

Kenapa أئمة - a-immatan Berharokat fathatain dan bukan kasrotain atau dhammatain.?? :lol:

Kalau orang mau dihormati, maka hormatilah hukum hukum yang berlaku yang sudah ditetapkan :heart:


Loh, anda menunjuk saya "salah" atas dalil apa ?

Saya perlihatkan pada anda pembandingnya dan apakah saya salah ? :lol:

Image

waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna

QS 28:41 Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Bagaimana anda akan dihormati jika anda mengada-adakan "salah" bagi orang lain tanpa dalil ? Dipersilahkan anda menunjukan "salah" tersebut.

Salam bagi semua orang yang berpikir.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Sat Jan 01, 2011 4:14 pm

Hillman wrote:
Khas pengikut ajaran Islam (bukan muslim), semua harus memaklumi kesibukan anda, tetapi tidak bagi orang lain. Toleransi bagi kepentingan Islam dan tidak bagi kepentingan orang lain. :rofl:


Lho yang saya tulis diatas sebelumnya apakah bukan sesuatu yang memaklumi kesibukan anda dalam menjawabnya?? apakah mencari jawaban bukan salah satu kesibukan??

Hillman wrote:
Apa yang anda sematkan pada orang lain, itulah yang anda dapat.

Apa yang saya dapat salah satunya adalah apa yang anda tulis. :lol:

Hillman wrote:
Tidakkah dapat anda jawab pertanyaan mudah di atas ?

Apa yang saya sudah jawab berupa kaedah yang berlaku pada semua fi`l ja`ala yang bisa terapkan pada ayat manapun yang terdapat fi`il ja`ala, tidak perlu saya jawab lagi, kecuali kalau anda mengatakan begini: " maaf Otak saya bebal. tolong terapkan lagi kaedah tersebut pada ayat yang saya tanyakan ini.

Maka akan saya terapkan untuk membantu anda yang bebal itu. :lol:

Hillman wrote:
Menghisap jempol kosong tanpa menjawab pertanyaan mudah di atas ? :lol:

:lol: Kenapa anda tidak buktikan dengan membantah sanggahan saya tersebut dengan kepintaran Ilmu anda?? Kalau memang benar otak anda berisi Ilmu. :lol:

Hillman wrote:
Rupanya anda memiliki masalah pemahaman kalimat. :lol:

Baca kembali tulisan anda pada halaman sebelumnya yang membantah tulisan saya yang menyatakan "quraanan 'arabiyyan" sebagai mubtada, dan kaidah tatabahasa Arab yang saya kutipkan untuk semua pembaca ini menuliskan kebenarannya dengan gamblang.

Ternyata anda memang tidak mampu menunjukkannya. :lol:
Hillman wrote:
Baca baik-baik, apakah "kepintaran" anda tidak mampu menyerap kalimat, mubtada dapat berupa kata bentukan "sifah maushuf", juga berupa kata bentukan "mudhaf mudhaf ilaihi", sesuai dengan apa yang saya tuliskan pada halaman sebelumnya.


Entah apapun maknanya hasil dari utak utik syahwat anda, Yang pasti bukan bermakna bahwa sifah maushuf bisa berubah menjadi mudhaf ilaihi yang satu isim tunggal. :lol: :rolling:

Hillman wrote:
Tatabahasa Arab.... bukan tatabahasa "alquran".
Tatabahasa Inggris .... bukan tatabahasa "harry potter". :lol:


Tata bahasa yang ada dalam quran adalah tata bahasa alquran. Tata bahasa yang ada dalam bangsa arab adalah tata bahasa arab. kalau ada Tata bahasa yang berbeda antara harry potter dengan inggris berarti tata bahasa hari potter tidak mengikuti tata bahasa inggris. Sama halnya sebaliknya. kalau ada tata bahasa alquran yang sama dengan tata bahasa arab berarti tata bahasa arab mengikuti tata bahasa alquran.PAHAM?? Itu bisa dilihat dari fakta fakta pengakuan para ahli perumus tata bahasa arab. Semua mengambil rumusan tata bahasa arab dari alquran. PAHAM??

Hillman wrote:
Kenapa tidak dalam bahasa Arab dan melenceng bahasannya ? Baiklah, saya arahkan kepembahasan yang benar.

Kata ilaahun waahidun jika anda konsisten memaknai seperti kata "quraanan 'arabiyyan" versi isapan jempol anda, maka akan bermakna "Tuhan yang ke-esa-esa-an" ?


Yang penting saya tidak memaknai Tuhan orang orang esa. :lol: :green: :rolling:

Hillman wrote:
Apakah anda bingung menjawabnya sehingga ngalor ngidul pada bahasan yang tidak berkaitan ? :lol:


Hillman wrote:
Kenapa anda tidak menyanggah sanggahan saya tesebut dan kenapa selalu bertanya?

:rofl: Kedua kalinya, kenapa tidak dalam bahasa Arab dan melenceng bahasannya ? Baiklah, saya arahkan kepembahasan yang benar.

Kata ba'itun jadidun jika anda konsisten memaknai seperti kata "quraanan 'arabiyyan" versi isapan jempol anda, maka akan bermakna "Rumah yang ke-baru-baru-an" ?

karena anda tidak mampu menterjemah menurut kaedah yang benar dan mencari makna sinonim yang mendekati, Maka saya katakan: " yang penting Saya tidak memaknakan : "RUMAH ORANG ORANG BARU" :rolling: :lol:

Hillman wrote:
:rofl: Jadi jika "quraanan 'arabiyyan" = bahasa Al Quran bukan bahasa Arab, maka "ilaahun waahidun" = sosok Tuhan bukan sosok Yang Maha Esa .


Untuk kesekian kalinya, karena anda tidak mampu memahami makna secara sinonim kalimat, Maka saya cukup menjawab:

Yang penting saya tidak memaknakan : "TUHAN ORANG ORANG ESA" :lol: :rolling: PAHAM??

Hillman wrote:
Apakah anda akan memisahkan kaedah sifah dan maushuf kata "quraanan 'arabiyyan" pada ayat tersebut agar sesuai syahwat anda ?


Tentu akan saya pisahkan antara kaedah sifah maushuf dengan kaedah mudaf wa mudaf ilaihi. Tidak seperti anda yang Tanpa dalil seenak udelnya menganggap sama antara kaedah sifah maushuf dengan kaedah mudaf wa mudaf ilaihi. atau merubah kaedah sifah maushuf menjadi kaedah mudaf wa mudaf ilaihi.

Hillman wrote:
Kata "Rumah Sakit" itu adalah contoh sederhana sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang apabila dipisahkan antara "Rumah" dan "Sakit" akan memberi makna berbeda yang tidak melekat pada "gambar" yang saya tampilkan. Paham ?

Btw, apabila anda paksakan kata dalam bahasa Indonesia itu sebangun dengan kata dalam bahasa Arab “quraanan ‘arabiyyan”, sesuai tulisan anda di atas, maka makna kata “quraanan ‘arabiyyan” = bacaan yang Arab atau bacaan Arab ? Setuju ? :rofl:


SAngat sangat setuju sekaleee..KArena kata " rumah sakit" adalah bentuk majemuk (mudhf wa mudhf ilaihi) dan bukan bentuk sifah mushuf. jadi tidak boleh di pisah pisah maknanya.

Lain halnya dengan sebuah fungsi kata yang disifati oleh fungsi sifatnya dirubah menurut syahwat menjadi bentuk majemuk. SETUJU?? :lol: (ingat kata kata anda yang tidak menyetujui orang merubah A menjadi B?? dan ingat dukungan saya terhadap anda terebut. :lol: )

Hillman wrote:
Loh, anda menunjuk saya "salah" atas dalil apa ?

Saya perlihatkan pada anda pembandingnya dan apakah saya salah ? :lol:

Image

waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna

QS 28:41 Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Bagaimana anda akan dihormati jika anda mengada-adakan "salah" bagi orang lain tanpa dalil ? Dipersilahkan anda menunjukan "salah" tersebut.

Salam bagi semua orang yang berpikir.

:lol: Akui saja kalau anda banci yang tidak sanggup menjawab pertanyaan saya. Jangan mengalihkan orang keterjemahnya. :lol: Buktikan kalau anda bukan banci FFI. :lol:
أئمة - a-immatan. alasan apa yang menyebabkan isim tersebut berharokat fathah tain dan bukan dhommah tain ataupun kasroh tain?? JAWAB BANCI!! :lol:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby HILLMAN » Sat Jan 01, 2011 9:57 pm

Karena ketidak mampuan membuktikan "kesalahan" pada diri saya, maka topeng "damai" pun telah terlepas, wajah asli penuh benci saat ini sangat jelas tergambar pada diri pengikut ajaran Islam ini.

Mohon sahabat IFF tidak terpancing wujud keputus-asaan orang ini dalam menerima kenyataan pahit isapan jempolnya.

Btw, apa yang anda sematkan pada orang lain, itulah yang kembali pada anda. :lol:

Hillman wrote:
Khas pengikut ajaran Islam (bukan muslim), semua harus memaklumi kesibukan anda, tetapi tidak bagi orang lain. Toleransi bagi kepentingan Islam dan tidak bagi kepentingan orang lain. :rofl:


pusing wrote:Lho yang saya tulis diatas sebelumnya apakah bukan sesuatu yang memaklumi kesibukan anda dalam menjawabnya?? apakah mencari jawaban bukan salah satu kesibukan??


Sebuah "aquarium" yang merasa seperti lautan dalam.
Maaf, diri anda tidak memiliki kapasitas yang dapat dan yang akan "menyita" kesibukan saya.

Hillman wrote:
Apa yang anda sematkan pada orang lain, itulah yang anda dapat.


pusing wrote:Apa yang saya dapat salah satunya adalah apa yang anda tulis. :lol:


??? .... :lol:

Hillman wrote:
Tidakkah dapat anda jawab pertanyaan mudah di atas ?


pusing wrote:Apa yang saya sudah jawab berupa kaedah yang berlaku pada semua fi`l ja`ala yang bisa terapkan pada ayat manapun yang terdapat fi`il ja`ala, tidak perlu saya jawab lagi, kecuali kalau anda mengatakan begini: " maaf Otak saya bebal. tolong terapkan lagi kaedah tersebut pada ayat yang saya tanyakan ini.

Maka akan saya terapkan untuk membantu anda yang bebal itu. :lol:


Mana maf'ul 2 (objek penderita 2) yang anda propagandakan ? Tidak dapat menunjukan ?

Hillman wrote:
Menghisap jempol kosong tanpa menjawab pertanyaan mudah di atas ? :lol:


pusing wrote: :lol: Kenapa anda tidak buktikan dengan membantah sanggahan saya tersebut dengan kepintaran Ilmu anda?? Kalau memang benar otak anda berisi Ilmu. :lol:


Tunjukanlah mana maf'ul 2 (objek penderita 2) dan saya akan berikan dalamnya "lautan" untuk anda, semoga saja "aquarium" anda mampu menampung "lautan" tersebut.

Hillman wrote:
Rupanya anda memiliki masalah pemahaman kalimat. :lol:

Baca kembali tulisan anda pada halaman sebelumnya yang membantah tulisan saya yang menyatakan "quraanan 'arabiyyan" sebagai mubtada, dan kaidah tatabahasa Arab yang saya kutipkan untuk semua pembaca ini menuliskan kebenarannya dengan gamblang.


pusing wrote:Ternyata anda memang tidak mampu menunjukkannya. :lol:


Anda cukup klik disini bahasa-alquran-bukan-bahasa-arab-t40934/page280.html

Hillman wrote:
Baca baik-baik, apakah "kepintaran" anda tidak mampu menyerap kalimat, mubtada dapat berupa kata bentukan "sifah maushuf", juga berupa kata bentukan "mudhaf mudhaf ilaihi", sesuai dengan apa yang saya tuliskan pada halaman sebelumnya.


pusing wrote:Entah apapun maknanya hasil dari utak utik syahwat anda, Yang pasti bukan bermakna bahwa sifah maushuf bisa berubah menjadi mudhaf ilaihi yang satu isim tunggal. :lol: :rolling:


Ah, itu hanya masalah batas kemampuan pemahaman "aquarium" anda terhadap "lautan" tatabahasa Arab.
Saya tidak dapat memaksakan kapasitas "aquarium" anda. :lol:

Hillman wrote:
Tatabahasa Arab.... bukan tatabahasa "alquran".
Tatabahasa Inggris .... bukan tatabahasa "harry potter". :lol:


pusing wrote:Tata bahasa yang ada dalam quran adalah tata bahasa alquran. Tata bahasa yang ada dalam bangsa arab adalah tata bahasa arab. kalau ada Tata bahasa yang berbeda antara harry potter dengan inggris berarti tata bahasa hari potter tidak mengikuti tata bahasa inggris. Sama halnya sebaliknya. kalau ada tata bahasa alquran yang sama dengan tata bahasa arab berarti tata bahasa arab mengikuti tata bahasa alquran.PAHAM?? Itu bisa dilihat dari fakta fakta pengakuan para ahli perumus tata bahasa arab. Semua mengambil rumusan tata bahasa arab dari alquran. PAHAM??


Alhamdulillah tidak ada orang Inggris yang berkapasitas "aquarium" seperti anda, jika ada maka akan terwujud tatabahasa harry potter. Kacau.... :lol:

Hillman wrote:
Kenapa tidak dalam bahasa Arab dan melenceng bahasannya ? Baiklah, saya arahkan kepembahasan yang benar.

Kata ilaahun waahidun jika anda konsisten memaknai seperti kata "quraanan 'arabiyyan" versi isapan jempol anda, maka akan bermakna "Tuhan yang ke-esa-esa-an" ?


pusing wrote:Yang penting saya tidak memaknai Tuhan orang orang esa. :lol: :green: :rolling:


Bahkan tulisan anda ini menunjukkan "aquarium" anda yang tidak dapat membedakan antara "wahidun" dengan "wahidiyyun", "sosok yang maha esa" dengan "orang-orang Wahidi", "Tuhan bersosok Yang Maha Esa" dengan "Tuhan orang-orang Wahidi". Paham ?

Hillman wrote:
Apakah anda bingung menjawabnya sehingga ngalor ngidul pada bahasan yang tidak berkaitan ? :lol:


pusing wrote:Kenapa anda tidak menyanggah sanggahan saya tesebut dan kenapa selalu bertanya?


Apakah tulisan anda itu sanggahan yang berkaitan dengan tulisan saya ? Jauh..... :lol:

Hillman wrote:
:rofl: Kedua kalinya, kenapa tidak dalam bahasa Arab dan melenceng bahasannya ? Baiklah, saya arahkan kepembahasan yang benar.

Kata ba'itun jadidun jika anda konsisten memaknai seperti kata "quraanan 'arabiyyan" versi isapan jempol anda, maka akan bermakna "Rumah yang ke-baru-baru-an" ?


pusing wrote:karena anda tidak mampu menterjemah menurut kaedah yang benar dan mencari makna sinonim yang mendekati, Maka saya katakan: " yang penting Saya tidak memaknakan : "RUMAH ORANG ORANG BARU" :rolling: :lol:


Kedua kalinya tulisan anda menunjukkan "aquarium" anda yang tidak dapat membedakan antara "jadidun" dengan "jadidiyyun", "sosok baru" dengan "orang-orang Jadidi", "rumah bersosok baru" dengan "rumah orang-orang Jadidi". Paham ?

Hillman wrote:
:rofl: Jadi jika "quraanan 'arabiyyan" = bahasa Al Quran bukan bahasa Arab, maka "ilaahun waahidun" = sosok Tuhan bukan sosok Yang Maha Esa .


pusing wrote:Untuk kesekian kalinya, karena anda tidak mampu memahami makna secara sinonim kalimat, Maka saya cukup menjawab:

Yang penting saya tidak memaknakan : "TUHAN ORANG ORANG ESA" :lol: :rolling: PAHAM??


Maaf, karena perbedaan "kapasitas" antara anda dan saya, maka saya akan memaknai "TUHAN sebagi SOSOK MAHA TUNGGAL". Paham ? Pasti tidak.... :lol:

Hillman wrote:
Apakah anda akan memisahkan kaedah sifah dan maushuf kata "quraanan 'arabiyyan" pada ayat tersebut agar sesuai syahwat anda ?



pusing wrote:Tentu akan saya pisahkan antara kaedah sifah maushuf dengan kaedah mudaf wa mudaf ilaihi. Tidak seperti anda yang Tanpa dalil seenak udelnya menganggap sama antara kaedah sifah maushuf dengan kaedah mudaf wa mudaf ilaihi. atau merubah kaedah sifah maushuf menjadi kaedah mudaf wa mudaf ilaihi.


Sederhananya begini saja, anda bingung menentukan "quraanan 'arabiyyan" itu sifah maushuf atau mudaf mudaf ilaihi, sehingga berputar-putar mengulur waktu ? :lol:

Hillman wrote:
Kata "Rumah Sakit" itu adalah contoh sederhana sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang apabila dipisahkan antara "Rumah" dan "Sakit" akan memberi makna berbeda yang tidak melekat pada "gambar" yang saya tampilkan. Paham ?

Btw, apabila anda paksakan kata dalam bahasa Indonesia itu sebangun dengan kata dalam bahasa Arab “quraanan ‘arabiyyan”, sesuai tulisan anda di atas, maka makna kata “quraanan ‘arabiyyan” = bacaan yang Arab atau bacaan Arab ? Setuju ? :rofl:


pusing wrote:SAngat sangat setuju sekaleee..KArena kata " rumah sakit" adalah bentuk majemuk (mudhf wa mudhf ilaihi) dan bukan bentuk sifah mushuf. jadi tidak boleh di pisah pisah maknanya.

Lain halnya dengan sebuah fungsi kata yang disifati oleh fungsi sifatnya dirubah menurut syahwat menjadi bentuk majemuk. SETUJU?? :lol: (ingat kata kata anda yang tidak menyetujui orang merubah A menjadi B?? dan ingat dukungan saya terhadap anda terebut. :lol: )


Semua orang yang berpikir akan menyebut "Rumah Sakit" jika melihat gambar yang saya posting.
Atau hanya anda akan memisahkan menjadi "Rumah" dan "Sakit" atau "Rumah yang kesakit-sakitan" ?

Itulah gambaran "quraanan 'arabiyyan" yang telah anda pisahkan menjadi "quraanan" dan "arabiyyan", "quran yang kearab-araban ?

Kacau.... :lol:

Hillman wrote:
Loh, anda menunjuk saya "salah" atas dalil apa ?

Saya perlihatkan pada anda pembandingnya dan apakah saya salah ? :lol:

Image

waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna

QS 28:41 Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Bagaimana anda akan dihormati jika anda mengada-adakan "salah" bagi orang lain tanpa dalil ? Dipersilahkan anda menunjukan "salah" tersebut.

Salam bagi semua orang yang berpikir.


pusing wrote: :lol: Akui saja kalau anda banci yang tidak sanggup menjawab pertanyaan saya. Jangan mengalihkan orang keterjemahnya. :lol: Buktikan kalau anda bukan banci FFI. :lol:
أئمة - a-immatan. alasan apa yang menyebabkan isim tersebut berharokat fathah tain dan bukan dhommah tain ataupun kasroh tain?? JAWAB BANCI!! :lol:


Sumpah serapah ini membuktikan anda tidak mampu menunjukan "salah" saya sesuai tuduhan syahwat anda. :lol:

Untuk pembaca semua, tulisan saya untuk Surah Al Qashash ayat 41ini, karena (maaf) saya sudah paham "aquarium" beliau maka dengan sengaja saya memberikan penekanan pada "wawu ataf", yang saya beri warna merah. Sahabat-sahabat IFF dapat membaca kembali tulisan saya di halaman-halaman sebelumnya yang berkaitan dengan QS 28:41 ini, maka anda akan anda temukan "red marked" ini.

Surah Al Qashash ayat 41 ini berkaitan dengan ayat 40 dikarenakan "wawu ataf", dan ayat 40 ini memiliki amil "KAANA". Perhatikan kutipan kaidah dan kedua ayat tersebut di bawah ini :

Image


Image

fa-akhadznaahu wajunuudahu fanabadznaahum fii alyammi faunzhur kayfa kaana 'aaqibatu alzhzhaalimiina

[QS 28:40] Maka Kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim


Image

waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna

QS 28:41 Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.


Dengan dalil kaidah tatabahasa Arab di atas, amil "KAANA" ini merafa’kan mubtada, menashabkan khabar dan khabar "KAANA" adalah manshub. Maka kata "a-immatan" ini termasuk dalam khabar KAANA maka pasti "ia" adalah "isim manshub".

Jadi siapakah yang "salah" serupa dengan isapan jempol "bahasa Al Quran bukan bahasa Arab" telah terlihat jelas bukan ?

Paham ?

Salam bagi semua orang yang berpikir tanpa pusing, apalagi dengan sumpah serapah.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby iluvboy.blogspot » Sun Jan 02, 2011 10:56 am

:heart:
iluvboy.blogspot
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 951
Joined: Wed Oct 21, 2009 6:18 pm

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Sun Jan 02, 2011 12:31 pm

Hillman wrote:
Karena ketidak mampuan membuktikan "kesalahan" pada diri saya, maka topeng "damai" pun telah terlepas, wajah asli penuh benci saat ini sangat jelas tergambar pada diri pengikut ajaran Islam ini.


Baiklah, karena anda tidak sanggup menjawabnya dengan benar, maka Saya buktikan kesalahan tata bahasa menurut syahwat Hillman dalam menerapkan penggunaan kaedah kaana pada ayat dibawah ini:
Image
waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna

Diatas ini adalah ayat yang tidak menggunakan kata kerja bantu Kaana, tetapi Syahwat Hillman yang berisi otak Udang telah nyata nyata menerapkan kaedah Kaana di bawah ini pada ayat tersebut diatas:
Image

Dengan demikian menjadi nyata kembali fakta ketidak pahaman Hillman dalam menerapkan fungsi kaedah kaana pada ayatnya.

Kalau anda masih tidak mau dikatakan banci, Tunjukkan pada ayat dibawah ini mana kata kerja bantu Kaana- nya:
Image
waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna
.
Sekali lagi, Tunjukkan yang mana kata kerja bantu kaana pada ayat diatas?? :lol: , agar anda tidak diklaim oleh para pembaca sebagai tukang sulap yang membohongi diri sendiri.

Yang benar adalah yang dibawah ini:
جَعَلْنَا - ja'alnaa = Kami membikin/membuat maf`ul (object) ke 1 menjadi maf`ul(object) ke 2 ----- > Fi’il (kata kerja) yang pada asal mulanya tanpa Ma’ful (objek), kemudian membawa 2 buah maf `ul (objek) ke 1 yang adalah الشَّيَاطِينَ – alsysyayaathiina dengan tanda nashab nya adalah harokat fathah akhir pada isim ma`rifat الشَّيَاطِينَ – alsysyayaathiina tersebut.

Dan
أئمة - a-immatan adalah maf`ul(object) ke 2 Bagi Fi’il (kata kerja)جَعَلْنَا - ja'alnaa dengan tanda nashabnya adalah harokat Fathah tanwin diakhir isim tersebut.

Jadi alasan yang menyebabkan isim أئمة - a-immatan berharokat fathah tanwin dan bukan kasroh tain atau dammah tanwin adalah karena ia berupa maf`ul(object)ke 2 bagi fi`il جَعَلْنَا - ja'alnaa makanya harus di `irab nashab, dan tanda nashabnya adalah harokat fathatain pada akhir isim tersebut.

Dengan demikian, maka semakin jelas bahwa kesempurnaan hukum alquran yang tetaplah yang menjadi batu uji bagi semua kaedah tata bahasa arab apalagi tata bahasa syahwat Hillman. :lol:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Sun Jan 02, 2011 12:37 pm

iluvboy.blogspot wrote::heart:

Saya sangat terenyuh dan kasihan sekali melihat anda yang kena tipu oleh pesulap amatiran yang anda sendiri tidak menyadari kalau anda ditipu.

Karena ketidak pahaman anda akan tata bahasa baik arab maupun alquran. :rolling:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby betdaniel99 » Sun Jan 02, 2011 1:41 pm

pusing on Sat Jan 01, 2011 4:14 pm wrote:Tata bahasa yang ada dalam quran adalah tata bahasa alquran. Tata bahasa yang ada dalam bangsa arab adalah tata bahasa arab. kalau ada Tata bahasa yang berbeda antara harry potter dengan inggris berarti tata bahasa hari potter tidak mengikuti tata bahasa inggris. Sama halnya sebaliknya. kalau ada tata bahasa alquran yang sama dengan tata bahasa arab berarti tata bahasa arab mengikuti tata bahasa alquran.PAHAM?? Itu bisa dilihat dari fakta fakta pengakuan para ahli perumus tata bahasa arab. Semua mengambil rumusan tata bahasa arab dari alquran. PAHAM??

Jadi, tata bahasa Alquran (yang diajarkan oleh Allah Swt via Jibril) itu yang ditulis dalam huruf gundul, seperti Mushaf berikut:
(a) Image

atau sudah lengkap dengan tanda baca, seperti Alquran moderen:
(b) وَاذكُروا إِذ جَعَلَكُم خُلَفاءَ مِن بَعدِ قَومِ نوحٍ

Silakan, dijawab: (a) atau (b).

Sekalian, mohon disebutkan donk, siapa ahli perumus tata bahasa arab yang Ente tulis di atas (saya tebal-merah kan).

Syukron & Salaam.
User avatar
betdaniel99
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2373
Joined: Thu May 22, 2008 9:55 pm

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby HILLMAN » Mon Jan 03, 2011 11:57 pm

pusing wrote:Baiklah, karena anda tidak sanggup menjawabnya dengan benar, maka Saya buktikan kesalahan tata bahasa menurut syahwat Hillman dalam menerapkan penggunaan kaedah kaana pada ayat dibawah ini:


pusing wrote:Diatas ini adalah ayat yang tidak menggunakan kata kerja bantu Kaana, tetapi Syahwat Hillman yang berisi otak Udang telah nyata nyata menerapkan kaedah Kaana di bawah ini pada ayat tersebut diatas:


pusing wrote:Dengan demikian menjadi nyata kembali fakta ketidak pahaman Hillman dalam menerapkan fungsi kaedah kaana pada ayatnya.

Kalau anda masih tidak mau dikatakan banci, Tunjukkan pada ayat dibawah ini mana kata kerja bantu Kaana- nya:


pusing wrote:Sekali lagi, Tunjukkan yang mana kata kerja bantu kaana pada ayat diatas?? :lol: , agar anda tidak diklaim oleh para pembaca sebagai tukang sulap yang membohongi diri sendiri.

Yang benar adalah yang dibawah ini:
جَعَلْنَا - ja'alnaa = Kami membikin/membuat maf`ul (object) ke 1 menjadi maf`ul(object) ke 2 ----- > Fi’il (kata kerja) yang pada asal mulanya tanpa Ma’ful (objek), kemudian membawa 2 buah maf `ul (objek) ke 1 yang adalah الشَّيَاطِينَ – alsysyayaathiina dengan tanda nashab nya adalah harokat fathah akhir pada isim ma`rifat الشَّيَاطِينَ – alsysyayaathiina tersebut.

Dan
أئمة - a-immatan adalah maf`ul(object) ke 2 Bagi Fi’il (kata kerja)جَعَلْنَا - ja'alnaa dengan tanda nashabnya adalah harokat Fathah tanwin diakhir isim tersebut.

Jadi alasan yang menyebabkan isim أئمة - a-immatan berharokat fathah tanwin dan bukan kasroh tain atau dammah tanwin adalah karena ia berupa maf`ul(object)ke 2 bagi fi`il جَعَلْنَا - ja'alnaa makanya harus di `irab nashab, dan tanda nashabnya adalah harokat fathatain pada akhir isim tersebut.

Dengan demikian, maka semakin jelas bahwa kesempurnaan hukum alquran yang tetaplah yang menjadi batu uji bagi semua kaedah tata bahasa arab apalagi tata bahasa syahwat Hillman. :lol:


Percuma anda menghisap jempol panjang lebar sambil bersumpah serapah tetapi kosong tak bermakna selain syahwat anda, bahkan dalam membaca Al Quran saja, dari tulisan anda untuk menanggapi fakta tulisan saya mengenai “kaana” di atas, (maaf) saya pastikan kalau anda tidak paham bahwa setiap urutan angka ayat yang tertulis didalamnya adalah berkaitan, dan pemberian angka ayat hanyalah mempermudah inventarisasi tulisan dalam Al Quran.

Mirisnya, dengan "kepandaian" anda yang "luar biasa", anda memaknai urutan ayat tersebut sebagai pemenggalan kalimat tersendiri dan menafikan kaidah-kaidah tatabahasa yang berlaku atasnya.

Saya hanya tersenyum maklum dengan sabar saja, karena apa yang saya tuliskan sudah teramat sangat jelas bagi orang yang berpikir dan sebaliknya bagi yang tidak mau dan tidak mampu untuk berpikir. :lol:


Kali ini, saya berikan secara singkat saja sebuah fakta yang menyatakan tulisan anda di atas adalah isapan jempol tanpa dalil dalam upaya menghindari "BATU UJI TATABAHASA ARAB" terhadap Al Quran.


Surah Al Qashash ayat 41

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنصَرُونَ

waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna

QS 18:41 Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.


Ketika anda memaksa kaidah-kaidah untuk ayat tersebut di atas sesuai "aquarium syahwat" anda dengan menjadikan kata "a-immatan" sebagai maf'ul 2 (objek penderita 2).


MAKA

Fi'il ma'lum "yad'uuna" (menyeru) yang tertulis setelah kata "a-immatan" (pemimpin-pemimpin), menjadi TIDAK lagi memiliki fa’il (subjek pelaku) sebagai satu kalimat sempurna, sedangkan berdasar pada kaidah tatabahasa Arab "fi'il ma'lum" adalah kata kerja yang membutuhkan "fa'il" (subjek pelaku) dalam sebuah kalimat sempurna.

Dengan demikian, menurut isapan jempol anda, DAPATKAH ANDA TUNJUKAN kata yang manakah merupakan fa’il (subjek pelaku) dalam ayat tersebut, jika kata "a-immatan" anda jadikan maf’ul (objek penderita 2) sesuai syahwat anda ?

Di bawah ini, saya berikan pada semua sahabat IFF dalil yang mendasarinya, sebagai berikut :

Image


Salam bagi semua yang berpikir tanpa menghisap jempol.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby HILLMAN » Wed Jan 05, 2011 1:00 pm

Untuk mempermudah membaca dan mempelajari, posting pada tanggal Tue Dec 21, 2010 6:17 pm, yang berkaitan dengan kaidah fi'il ma'lum di atas saya kutipkan kembali di halaman ini.

HILLMAN wrote:
Saya tuliskan bagi semua pembaca contoh ayat yang sebangun dengan Surah Az Zukhruf ayat 3, contohnya sebagai berikut :

Surah Al Qashash ayat 41

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنصَرُونَ

waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna

QS 18:41 Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.


Mari kita lihat :

و - wa = dan ------- > Wawu ataf.


جعلنهم - ja'alnaaHUM = jadikan MEREKA, ------- > Fi’il madhi “جعلن “ dengan dhamir “هم “ sebagai maf’ul (objek penderita).


1. Ragam kalimat pertama “Dan Kami menjadikan MEREKA” ----- > Pola kalimat sempurna, Fa’il, Fi’il dan Maf’ul…. Paham ?

أئمة - a-immatan = pemimpin pemimpin ------- > Isim manshub, fa’il dari fi’il mudhari “يدعون “

يدعون - yad'uuna = yang menyeru ------- > Fi’il mudhari “يدعو “ dari isim manshub “أئمة ”

إلى - ilaa = kepada ------- > Huruf “jer” dari isim majrur “النار “

النار - alnnaari = api neraka ------- > Isim majrur dari huruf jer “إلى “


2. Ragam kalimat kedua “pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka” ----- > Pola kalimat sempurna, Fa’il, Fi’il dan Maf’ul


و - wa = dan ------- > Wawu athaf.

يوم - yawma = pada hari, ------- > Isim manshub.

القيمة - alqiyaamati = kiamat ------- > Isim majrur dari “ يوم “

لا - laa = tidak ------- > Harfu nafy.

ينصرون - yunsharuuna = mereka ditolong ------- > Fi’il mudhari mabni majhul dhamir muthasil rafa naibul fa'il.


3. Ragam kalimat ketiga “dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” ----- > Pola kalimat sempurna, Fi'il dan Naibul fa’il



Dengan demikian dapat di lihat ada 3 ragam kalimat dalam 1 ayat Surah Al Qashash ayat 41, yang menunjukan dalil bantahan untuk isapan jempol anda bahwa " bahasa Al Quran bukan bahasa Arab"


Paham ?

Salam bagi semua yang berpikir.


Salam bagi semua orang yang mau berpikir.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Thu Jan 06, 2011 2:08 pm

Hillman wrote:
Percuma anda menghisap jempol panjang lebar sambil bersumpah serapah tetapi kosong tak bermakna selain syahwat anda, bahkan dalam membaca Al Quran saja, dari tulisan anda untuk menanggapi fakta tulisan saya mengenai “kaana” di atas, (maaf) saya pastikan kalau anda tidak paham bahwa setiap urutan angka ayat yang tertulis didalamnya adalah berkaitan, dan pemberian angka ayat hanyalah mempermudah inventarisasi tulisan dalam Al Quran.

Mirisnya, dengan "kepandaian" anda yang "luar biasa", anda memaknai urutan ayat tersebut sebagai pemenggalan kalimat tersendiri dan menafikan kaidah-kaidah tatabahasa yang berlaku atasnya.

:lol: Anda cocoknya menjadi petinju yang pintar ngeles kalau dipukul. :lol:
:lol: maksud anda
أَئِمَّةً - a immatan di i`rab nashab menjadi khabar atau badal pada kalimat dibawah ini:???
فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَsurat(28;40)

Lalu bagaimana dengan ayat dibawah ini??


وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً - wa idz ja`alnaa lbaita matsaabatan surat (2;125)dimana


الْبَيْت albaita adalah maf`ul (object) ke 1 bagi جَعَلْنَا - ja`alnaa
dan
مَثَابَةً - matsaabatan adalah maf`ul(object) ke 2 bagi جَعَلْنَا - ja`alnaa. masing masing isim tersebut dii`rab nashab karena isim yang menjadi maf`ul harus dii`rab begitu. PAHAM?? :lol:

Hillman wrote:
Saya hanya tersenyum maklum dengan sabar saja, karena apa yang saya tuliskan sudah teramat sangat jelas bagi orang yang berpikir dan sebaliknya bagi yang tidak mau dan tidak mampu untuk berpikir. :lol:


anda tertawa termehek mehek juga tidak ada yang melarang, karena Anda penganut paham demokrasi yang Liberal. Kaedah dalam alquran yang sedemikian gamblang dan sederhana saja masih juga anda paksakan dengan alasan alasan kosong yang bernilai subjectif. :lol:


Hillman wrote:
Kali ini, saya berikan secara singkat saja sebuah fakta yang menyatakan tulisan anda di atas adalah isapan jempol tanpa dalil dalam upaya menghindari "BATU UJI TATABAHASA ARAB" terhadap Al Quran.


Surah Al Qashash ayat 41

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنصَرُونَ

waja'alnaahum a-immatan yad'uuna ilaa alnnaari wayawma alqiyaamati laa yunsharuuna

QS 18:41 Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.


Ketika anda memaksa kaidah-kaidah untuk ayat tersebut di atas sesuai "aquarium syahwat" anda dengan menjadikan kata "a-immatan" sebagai maf'ul 2 (objek penderita 2).


Fakta yang mana?? anda tidak sanggup meng i`rabnya bukan?? :lol:

Hillman wrote:
MAKA

Fi'il ma'lum "yad'uuna" (menyeru) yang tertulis setelah kata "a-immatan" (pemimpin-pemimpin), menjadi TIDAK lagi memiliki fa’il (subjek pelaku) sebagai satu kalimat sempurna, sedangkan berdasar pada kaidah tatabahasa Arab "fi'il ma'lum" adalah kata kerja yang membutuhkan "fa'il" (subjek pelaku) dalam sebuah kalimat sempurna.

Dengan demikian, menurut isapan jempol anda, DAPATKAH ANDA TUNJUKAN kata yang manakah merupakan fa’il (subjek pelaku) dalam ayat tersebut, jika kata "a-immatan" anda jadikan maf’ul (objek penderita 2) sesuai syahwat anda ?


Sebaiknya anda pahami kaedah tata bahasa Indonesia dalam kalimat dibawah ini sebelum subjectif anda memaksa alquran untuk mengikuti anda.

1.Yang memukul membikin yang dipukul menjadi yang babak belur (karena) dia mencuri dan pada hari pengadilan tidaklah dia akan ditolong .
-Yang memukul adalah subject bagi kata kerja membikin/membuat.
-Yang dipukul adalah Object ke 1 bagi kata kerja membikin.
-Yang babak belur adalah Object ke 2 bagi kata kerja membikin.
-dia adalah subject bagi kata kerja mencuri dan dia yang dimaksud adalah merujuk kepada yang dipukul menjadi yang babak belur.
-Pada hari pengadilan adalah kata majemuk menunjuk keterangan waktunya adalah pada hari.

Kaedah tata bahasa Indonesia saja anda belum memahami, bagaimana mau membahas tata bahasa alquran?? :lol:

Hillman wrote:
Di bawah ini, saya berikan pada semua sahabat IFF dalil yang mendasarinya, sebagai berikut :

Image


Yang diatas ini saya tidak ada masalah karena benar menurut yang berlaku didalam tata bahasa alquran.

Tapi adakah dalam Lautan anda sebuah fi`il(kata kerja) yang selalu membawa 2 buah maf`ul didalam kalimatnya?? :lol:

Atau tidakkah sesempurna kaedah bahasa indonesia diatas sebelumnya?? :lol:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby iluvboy.blogspot » Fri Jan 07, 2011 12:47 pm

pusing wrote: :heart:
Saya sangat terenyuh dan kasihan sekali melihat anda yang kena tipu oleh pesulap amatiran yang anda sendiri tidak menyadari kalau anda ditipu.

Karena ketidak pahaman anda akan tata bahasa baik arab maupun alquran. :rolling:


:rofl: saya kenal ffi baru tahun 2008 pus, sedangkan hati nurani dan akal sehat saya udah dijungkir balik oleh quran dan kelakuan slimer sedunia dari jauh jauh hari bahkan dari saaya sd :lol:
btw yakinkan saya sekali lagi pus: apakah tata bahasa quran beda dgn tata bahasa arab?
iluvboy.blogspot
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 951
Joined: Wed Oct 21, 2009 6:18 pm

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby betdaniel99 » Fri Jan 07, 2011 9:53 pm

Ternyata, metode ilmiah Ente cuma sesumbar kosong..
Silakan dijawab pertanyaan di bawah ini:
betdaniel99 on Mon Dec 27, 2010 6:12 pm wrote:Pak Pusing,
Numpang tanya: Dengan metode ilmiah yg seperti apa, untuk membuktikan 'keterangan isi koran' tentang kemungkinan hujan itu? Dengan melakukan analisa tata bahasa di dalam koran tersebut kah?

Syukron & Salaam.
User avatar
betdaniel99
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2373
Joined: Thu May 22, 2008 9:55 pm

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Fri Jan 07, 2011 11:38 pm

iluvboy.blogspot wrote:
:heart:

pusing wrote:
Saya sangat terenyuh dan kasihan sekali melihat anda yang kena tipu oleh pesulap amatiran yang anda sendiri tidak menyadari kalau anda ditipu.

Karena ketidak pahaman anda akan tata bahasa baik arab maupun alquran. :rolling:


iluvboy.blogspot wrote:
:rofl: saya kenal ffi baru tahun 2008 pus, sedangkan hati nurani dan akal sehat saya udah dijungkir balik oleh quran dan kelakuan slimer sedunia dari jauh jauh hari bahkan dari saaya sd :lol:

Sayangnya ketika anda mengenal FFI dari tahun 2008, anda tidak membawa dan bermodalkan sebuah nilai kebenaran, melainkan membawa ketidak mengertian akan islam sebenarnya. Sedangkan hati nurani dan akal sehat anda yang sudah dijungkir balik itu ternyata bukanlah oleh quran melainkan oleh terjemah secara harfiah semata yang harus jauh lebih ditinjau lagi secara mendalam. Satu lagi sayangnya anda melihat kelakuan slimer sedunia dari jauh jauh hari bahkan dari anda sd itu, tidak anda lihat dari sudut sejarah yang sebenarnya.

Maka dapat dipastikan kalau anda tidak memahami sejarah bagaimana masuknya Islamisme(bukan Islam) dan apa yang dibawa mereka ke Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya. Semua saya ringkas dalam tulisan yang saya sampaikan dibawah ini.

Jauh sesudah Muhammad rasulullah wafat, tepatnya setelah wafatnya Ali bin Abi thalib dan Sebelum masuk ke Indonesia, Islam yang sebenarnya sudah berwarna kelabu. Tidak hitam dan juga tidak putih.

kita lihat masih pada Zaman Muawwiyah(sepeninggalan Rasul dan khulafaaurraasyidiin) keadaan konkubinat(ada pemeliharaan Gundik) diperbolehkan. Musik dan nyanyian serta minuman keras serta perjudian yang semula dilarang Rasul, disambung kembali dengan megahnya dalam dinasty Abbasyah---->adalah kelanjutan dari bani ummayyah yang lampau yaitu Zaman kebudayaan Yunani shiria dan persi(---->Idealisme).

DiZaman abbasyah kekhalifahan Al maun(anak Harun arrasyid), Pengaruh Kebudayaan yunani begitu hebatnya sehingga beliau sendiri menggunakan Kitab kitab Filsafat Yunani untuk membuktikan dalilnya yang menyatukan ayat keagamaan haruslah sesuai dengan Hukum hukum akal budi. Pada tahun 830M beliau mendirikan "Gedung Ilmu" di baghdad yang merupakan kombinasi perpustakaan, Akademi, dan Balai penterjemahan Kitab Yunani---->kebahasa arab(siria)---->ke bahasa arab yang kata mereka, kitab Yunani tersebut adalah bahasa Nabi Isa.

Penterjemah: Hunien Ibnu Ishak(Josimitius 809-873) Seorang Kristen Historian yang menjadi tabib pribadi Khalifah Al maun. Dia menterjemahkan Kitab kitab seperti REUBLIK karya PLATO, Katagoris metafisika dan makna moralita karya Aristoteles.

Selain itu pada masa itu juga diterjemahkan Kitab kitab seperti: Organon, Rhetorica dan poetica karya Aristoteles, Isagoge karya Phorphyrius.
Kitab kitab tersebut menjadi dasar humanisme dalam dunia Islamisme(bukan Islam).

Akibatnya:

Filsafat Yunani yang diciptakan oleh Plato dan Aristoteles, dipergunakan sebagai dasar dalam pandangan/pendapat didunia Islamisme(Bukan Islam) terutama dalam lapangan kerohanian. Peristiwa dalam lapangan Sufisme, misticisme Islamisme dapat dijumpai pengaruh yang jelas dari Neo Platonisme ini.

Masih pada kejayaan Muawwiyyah dan tegaknya dinasti ummayyah pada tahun 622 M menghasilkan kehidupan bermewah mewah dalam istananya. sementara diluar banyak kelaparan sehingga banyak golongan oposisi yang kontra dengannya. Untuk meredamnya maka dibentuklah kelompok yang dikenal sebagai Ulama Murji`ah. Dari sini melahirkan pergeseran makna Iman menjadi اَلْاِيْمَانُ عَقْدٌ بِالْقَلْبِ فَقَطَّ Iman = cukup percaya saja atau disingkat Iman = percaya.

Anda lihat dari gunung sampai kota makna Iman seperti itu bukan??. Kalaupun ada yang mendapatkan pemahaman istilah tersebut secara benar, tapi kerap kali sulit bahkan tidak sanggup untuk menerapkannya kedalam terjemah alquran. Alhasil yang anda lihat pada terjemah alquran yang beredar, Istilah Iman tersebut tidaklah diterjemahkan.

Setelah itu kemudian Muawwiyyah memperluas imperium arabnya termasuk keIndonesia, Afrika, Eropa selatan sampai dengan Rusia selatan.

Jalur perdagangan rempah rempah dari Indonesia lewat China, dipotong oleh Muawwiyyah dari damaskus. Hal ini terbukti ditandai dengan Islamnya kerajaan melayu lama yang berpusat di Jambi dan Riau(budha) kemudian Jepara tahun 725 M. Kelihatannya masalah Ekonomi. Tapi dibalik itu mereka juga membawa paham atau doktrin yang salah satunya adalah doktrin Iman = Percaya. Muawwiyyah inilah yang kemudian kita kenal dengan aliran Sunni.

Penguasaan Jambi oleh Arab mengakibatkan penguasaan Rempah rempah diIndonesia yang kemudian dibalas oleh dendam lama China dengan menghancurkan kerajaan Jambi pada tahun 727 M. Diatas puing puing nya, didirikanlah kerajaan Sriwijaya. Sedangkan sisa sisa keajaan Jambi lari kesumatera barat menjadi kerajaan Pagaruyung.

->Sesudah muawwiyyah Hancur, tegaklah Abbasyah. Masuk ke Indonesia pada pertengahan abad 11 M dengan membawa doktrin Syiah lewat Aceh mengembangkan Doktrin kultus Individu seperti kepada Ali, Habib, Sayyid dan lain lain hingga berkembang lahirnya istilah istilah seperti Kyai, pangkubumi dan lain sebagainya.

Kesimpulan:
-Sebelum Islamisme(bukan Islam) yang dibawa Ummayyah dan abbasyah masuk ke Indonesia, Alam fikiran atau paham Animisme pada sebelum masehi, Hinduisme pada awal masehi, Budhaisme pada 500-700 M, sudah lebih dulu mendarah daging diIndonesia. Belum lagi Ilmu pengetahuan Barat yang pertama kali dibawa oleh Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dengan menyelipkan alam fikiran Kristenisme keIndonesia. Lengkap sudah kebudayaan Indonesia kalau kelima Isme tersebut Ibarat Kue lapis legit.

Jadi wajar kalau kelima isme yang saya beri warna merah tersebut dapat dipastikan sangat mempengaruhi kita dalam memahami Alquran dan Islam secara benar. Dan memang konsekwensinya juga wajar kalau terjadi banyak kesalahan terjemah alquran disana sini walaupun secara harfiah(bahasa) benar.

Dengan demikian juga wajar kalau anda adalah salah satu gelintir orang yang menjadi korbannya. Sekali lagi. Sayangnya anda belum mencapai kepada pemahaman yang benar akan Islam, anda termasuk Ali sina sudah keburu Murtad. :lol: . Dan itupun saya tidak keberatan, karena sekali lagi saya katakan itu adalah sebuah kewajaran. :lol:

iluvboy.blogspot wrote:
btw yakinkan saya sekali lagi pus: apakah tata bahasa quran beda dgn tata bahasa arab?

Keyakinan akan anda dapat kalau anda sudah dapat membandingkan melalui tahapan belajar mengajar dan saya sama sekali disini tidak sedang meyakinkan anda.Paham?. Jadi percuma kalau anda meminta saya untuk membuat anda menjadi yakin.PAHAM?? :lol:

Sekarang anda renungkan pepatah dibawah ini:

-Tak kenal maka tak cinta.
-Salah paham sumber bencana.
-Karena kenal maka cinta.
-Cinta yang wajar itu hidup sadar.
-Sadar diri tahu Ilmu.
-Pengetahuan luas syarat membanding.
-Nilai bandingan ukuran kebenaran.
-Nilai yang benar mampu ditantang (Ingat!..Bukan menantang...tapi mampu ditantang!)
-Mimbar Ilmu batu ujian.
-Ukuran Ilmu dasar penilaian.

Dari tulisan yang saya sampaikan diatas sebelum ini, dan kalau anda memahami Tata bahasa alquran hanya semata mata menurut yang berlaku didalam alquran saja, pasti anda akan melihat persamaan dan perbedaan diantara keduanya tersebut. Artinya Untuk menguji kebenaran sebuah kaedah tata bahasa pada contohnya salah satu ayat dalam alquran, maka pada ayat lainlah yang menjadi batu ujinya(bukan tata bahasa Hillman yang menjadi batu uji). Jadi kalau hasilnya sama dengan kaedah tata bahasa arab, hal itu sama sekali tidak berarti alquran mengikuti kaedah tata bahasa arab. Paham?? :lol: sebaliknya juga akan anda lihat perbedaannya. :lol:

Note: Mohon maaf kalau uraian diatas pasti akan mengejutkan Bangsa Indonesia khususnya dan dunia pada Umumnya. :heart:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

Re: Bahasa Alquran bukan Bahasa Arab

Postby pusing » Sat Jan 08, 2011 12:00 am

betdaniel99 wrote:
Ternyata, metode ilmiah Ente cuma sesumbar kosong..

Sayangnya saya belum mengeluarkan jurus metode ilmiah saya, anda sudah menganggap itu adalah methode ilmiah saya. Itu membuktikan kalau anda belum cukup pandai menangkap isi tulisan saya. :lol:

betdaniel99 wrote:
Silakan dijawab pertanyaan di bawah ini
betdaniel99 on Mon Dec 27, 2010 6:12 pm
Pak Pusing,
Numpang tanya: Dengan metode ilmiah yg seperti apa, untuk membuktikan 'keterangan isi koran' tentang kemungkinan hujan itu? Dengan melakukan analisa tata bahasa di dalam koran tersebut kah?
Syukron & Salaam.


Bagaimana saya nanti akan menjelaskan dengan tulisan yang demikian panjang lebar, Kalau klaim salah dari saya bagi tulisan anda dan koreksi saya tidak sanggup anda bantah atau sanggah? Maaf, kredibilitas anda dimata saya hanyalah seperti anak kecil yang banyak tanya tanpa mau belajar menangkap dan membandingkan semua tulisan orang. Saya tidak mau terulang lagi dimana saya menulis panjang lebar, anda hanya bengong dan terus menerus bertanya tanpa menyanggah dan meluruskan.

Saya butuh orang yang sanggup meluruskan dengan disiplin Ilmu yang memadai. :lol:
User avatar
pusing
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 648
Joined: Wed Sep 08, 2010 6:10 am

PreviousNext

Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users