. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Sejarah pedang jihad di Timur Tengah, Afrika, Eropa & Asia.

Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby ali5196 » Wed May 17, 2006 5:26 pm

http://www.historyofjihad.org/china.html

JIHAD DI CINA
Banyak orang heran mendengar ttg Jihad Muslim di Cina. Tetapi ini jelas terjadi.

Dawat-ul-Islam (undangan utk memeluk Islam) yg dikirim ke negara2 spt Persia yg Zoroastrian, Bizantin yg Kristen dan raja2 Kerala Hindu, juga dikirim ke kaisar Cina. Cuma kaisar Cina tidak mengerti ultimatum itu dan menyangka bahwa para ini merupakan pesan spiritual. Satu abad kemudian pd thn 751, baru orang Cina bertatapan muka dgn bahaya Islam.

Selama thn 700-an, dibawah dinasti T'ang kekaisaran Cina sukses dlm politik luar negerinya. Mereka merebut kembali wilayah2 mereka dan menstabilisasi frontier Tibet. Mereka mengamankan rute dagang melewati Asia Tengah dan membungkam ancaman2 dari orang2 Khitan dan Hsi. Akhir th 740an, pasukan Cina menyatakan kepemilikan atas Kabul dan Kashmir di India. Tetapi kemenangan ini tidak berlangsung lama.

Mereka harus berhadapan dgn agresi Islam yg datang dari Persia. Kedua kekuatan ekspansionis itu akhirnya bertatapan di Asia Tengah dan pecahlah perang di Sungai Talas, satu2nya perang antara pasukan Muslim Arab dgn tentara Kekaisaran Cina. Cina dipimpin Kao Hsien-chih dgn pasukan 100,000 orang Cina, Muslim dipimpin Ziyad ibn Salih, wakil Abu Muslim (orang Persia yg memeluk Islam), dgn gerombolan 40,000 Ghazi (orang2 yg haus akan janji2 Islam berupa kekayaan rampasan perang, wanita ataupun ke 72 huri di surga nanti).

Tgl 10 Juli 751M, tentara2 Arab dan Cina mengambil tempat di Aulie-Ata di belakang sungai Talas. Kavalri Cina nampak lebih besar dari kavalri Arab, tetapi pihak Arab diam2 bersekongkol dgn kontingen Turki (kaum Qarluq) dalam tentara Cina, dgn menjanjikan mereka kekayaan dan kebebasan kalau memeluk Islam dan mengelabui jendral Cina mereka. Pihak Qarluq yg memang tidak suka dgn majikan Cina mereka, menganggapnya sbg kesempatan utk mengalahkan Cina sambil merencanakan utk nantinya mendepak Arab juga.

Pada perang Sungai Talas, kaum Qarluq memfitnah rakyat mereka sendiri dan membelot ke pihak Arab. Ini meningkatkan kekuatan tentara Arab, alhasil mereka mengepung tentara infanteri Cina dgn mudah dan membantai mereka sampai tidak ada lagi tentara Cina yg bernafas.

Para pemanah Qarluq mengepung Jendral Cina, Kao, dan menembakinya dgn panah berkali2. Dan pihak Arabpun melanjutkan tradisi mereka dgn memotong kepala musuh dan mempertontonkannya didepan tentara musuh. Pihak Cina yg tidak biasa dgn taktik perang biadab macam ini
morat marit dan bingung, tidak tahu siapa yg memerangkap mereka.

Pihak Arab menawan puluhan ribu Cina dan sekutu2 non-Qarluq Turki mereka dan membawa mereka ke Samarqand dan kemudian ke Baghdad dan Damaskus utk dijual sbg budak. Salah seorang tawanan Cina menyebut perlakuan di kamp2 penjara Arab mirip perlakuan terhdp ternak. Abu Muslim dan Ziyad mendapatkan kekayaan besar dari perdagangan budak ini dan menggunakannya utk membayar tentara mereka. Lebih penting lagi, Arab memaksa tawanan Turki dan Cina utk mengajarkan mereka seni membuat mesin2 katapul dan kereta2 penyerang, yg oleh Muslim2 Turki dimanfaatkan secara sukses dlm serangan melawan kota2 Bizantin.

Kaum Qarluq Turki menginginkan kemerdekaan dari Cina shg mereka berpura2 memeluk Islam agar mendapatkan dukungan Arab. Namun mereka tidak sadar bahwa sekali mereka memeluk Islam, mereka tidak boleh meninggalkannya. Pihak Qarluq dipaksa utk tetap memeluk Islam dan mereka yg menolak dihukum mati atau diperbudak.

Sejarah kaum Qarluq kemudian menunjukkan bahwa setelah bebas dari Cina mereka tetap sbg satelit Arab tanpa kemungkinan membebasakan diri dari Islam. Konversi licik terhdp kaum Qarluq ini mengakibatkan konversi bangsa2 Turki kedlm Islam dlm abad 750 sampai 1050. Perjanjian ini mengakibatkan Turki diperbudak Islam selama2nya.

Dampak pertempuran ini sangat penting. Arab kehilangan kesempatan utk mengIslamkan Cina, sementara itu, dinasti T'ang kehilangan kekuasaan karena ekspansi ke wilayah barat terhenti. Walau Muslim menang dlm pertempuran ini, mereka mendptkan lebih banyak musuh. Kebencian dari pihak Turki-Mongol-Cina --yg semakin besar sejak serangan Muslim pertama terhdp wilayah2 Turki di pertengahan abad 7, yg dibawa ke perbatasan Cina th 751 di Pertempuran Sungai Talas-- memprovokasi balasan keras Mongol melawan Muslim. Setelah kemenangan di Talas, perlawanan Cina dan sekutu2 Turko-Mongol mereka terhdp Muslim semakin meningkat. Akhirnya Muslim memutuskan utk berkonsentrasi bagi pemusatan kekuatan di Asia Tengah dan memaksa orang Turki memeluk Islam.

Oleh karena itu mereka menunda invasi mereka ke Cina. Keputusan inilah yg melindungi Cina dari Islam. Di abad2 berikutnya, pihak Mongol mengumpulkan kekuatan utk membalas serangan Muslim yg akhirnya berakibat pd penjarahan dan penghancuran Baghdad oleh Hulagu Khan, pemimpin Mongol.

Namun kemenangan Muslim di sungai Talas sayangnya berakibat pemaksaan Islam terhdp kaum Qarluq Turki, yg kemudian disusul dng kaum Ughir dan Hui (saudara kaum Han). Orang Cina yg memeluk Islam secara bertahap meninggalkan warisan budaya kaya Cina mereka dan mengalami Arabisasi, walaupun tetap berwajah Mongoloid.

Kini, keturunan Hui, Ughir, dan Qarluq menduduki provinsi Cina paling barat, Xinjiang dan menginginkan negara Islam terpisah bernama Turkestan, yg sejauh ini berhasil dibendung Cina. Banyak dari mereka mendukung Al Qaeda.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby Laurent » Fri Aug 25, 2006 3:32 pm

Kenapa Perang Jihad di china gagal total
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby helterskelter_manson666 » Sat Dec 02, 2006 10:28 pm

Cina & Rusia itu emang waspada banget ama islam2x teroris.dua2x-nya punya kelompok islam teror yang besar!
User avatar
helterskelter_manson666
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 57
Joined: Thu Nov 23, 2006 12:57 pm
Location: Tel Aviv,Israel

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby sonicc » Thu Feb 05, 2009 5:29 pm

China memang sangat kesal thd gerakan islam Turkestan di prov Xin Jiang, terutama setelah serangan terakhir beberapa hari sebelum Olimpiade Beijing 2008 kemarin. see http://islamicterrorism.wordpress.com/2 ... -in-china/

Saya sering contact dgn saudara yg di China, Fukien prov, n dia ceita kalau Beijing juga belakangan giat melakukan gerakan "Han"isasi, dengan mengirimkan ratusan ribu suku Han terpilih pertahun yg mostly beragama Buddhist untuk tinggal dan bekerja di Xinjiang.
Mereka dengan cepat menguasai ekonomi dan politik di prov tersebut, hal itu tidak terlepas dari dukungan Beijing yg tdk percaya kepada suku Uigur dan meng"anakemas"kan suku pendatang tsb.
Terlepas dari dukungan pemerintah pusat, suku Han memang lebih kompeten n pintar so mereka dgn cepat mendominasi ekonomi n politik di Xinjiang.
Pemerintah pusat juga diam2 mendorong asimilasi "satu arah" dengan mendorong suku uighur untuk menjauh dari Islam n mengadopsi culture n agama Han.

FYI, sekarang jumlah suku Han di Xinjiang sudah melebihi suku Uighur, so mereka tdk mungkin lagi minta merdeka.

Pemerintah China memang sangat keras menghadapi gerakan separatis baik di Tibet maupun di Xinjiang, kalau perlu mereka akan mengerahkan tank2 untuk menjaga Xinjiang dari gerakan separatis Islam.
sonicc
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 26
Joined: Sun Jan 25, 2009 12:31 am
Location: Jakarta n Northwestern of the United States

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Laurent » Thu Jul 16, 2009 8:53 pm

YG terbaru , Kerusuhan Xinjiang baru2 ini :

‘Perang Salib’ Cina terhadap Muslim di Xinjiang

Dalam perkembangan terakhir di Xinjiang lebih 150 warga tewas dan 1434 dipenjara, artikel ini akan mengupas bagaimana Islam memasuki Cina dan penindasan terhadap muslim oleh rezim pemerintahan Cina. Artikel ini merupakan kompilasi dari publikasi sebelumnya di majalah Khilafah di bulan Maret 1997.

Sejarah Muslim

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam [Al-Anbiyaa, 21:107]

Risalah yang diemban Nabi Muhammad akan mendominasi dunia. Sesuai dengan visi ini para Sahabah yang meneruskan garis perjuangan Nabi berupaya untuk memperluas tapal batas wilayah Negara Islam semakin jauh ke depan. Dengan pandangan untuk mencapai tujuan yang mulia untuk menaungi dunia dengan risalah yang suci, Khalifah Uthman ibn Affan memulai kontak dengan Cina. Setelah menundukkan Romawi dan Persia, Khalifah Uthman bin Affan mengirim delegasi yang dipimpinm Sa’ad ibn Abi Waqqas ra (paman Nabi Saaw) ke Cina pada tahun 29 H (651 M). Misi delegasi ini adalah mengundang kaisar Cina untuk memeluk Islam.

Masjid pertama di Cina dan Pendatang Muslim

Delegasi muslim lalu membangun Masjid di kota Kanton. Masjid ini dikenal hingga hari ini sebagai ‘Masjid Memorial’. Ada beberapa laporang yang mengatakan bahwa Sa’ad juga dikubur di Cina. Selama bertahun-tahun aktifitas perdagangan di Cina, membawa pendatang muslim yang berprofesi sebagai pedagang dan pelaut. Daerah dimana para pendatang muslim tersebut bermukin dikenal sebagai pelabuhan Chen Aan pada masa Dinasti Tang.

Dari sini mulai tumbuh benih kebencian terhadap muslim di Cina. Akan tetapi keberadaan Khilafah, memelihara berkobarnya semangat jihad di antara umat. Maka tidak ada satupun penindasan yang dibiarkan begitu saja kecuali dengan jihad fii sabilillah. Salah satu perang yang berkobar di perbatasan Cina terjadi di tahun 1334H, dimana Ziyad memimpin pasukan jihad. Meski berjumlah lebih sedikit, dengan bantuan Allah SWT, pasukan muslim berhasil menggempur Cina dengan telak. Setelah itu, Muslim pun dihormati sebagai kekuatan yang diperhitungkan hingga mampu mengontrol sebagian besar Asia Tengah. Di tahun 138H, Khalifah Mansur juga mengirim ke sana tidak kurang dari 4000 pasukan muslim bersenjata lengkap sebagai simbol kekuatan adidaya.

Mutiara Rahmat

Kemenangan demi kemenangan ini membuka pintu Cina bagi muslim untuk menyebarkan keindahan dan kebenaran Islam. Dengan demikian kemenangan itu pun terkonsolidasi dengan mengikut metoda Islam. Muslim yang berpindah dan bermukim di Cina juga menikahi gadis Cina. Pendatang muslim generasi awal ini pun juga mendirikan mesjid, sekolah, dan madrasah. Di perkotaan, para ulama mendominasi. Madrasah menjadi tempat menimba ilmu bagi banyak pelajar. Pelajar pun datang dari berbagai wilayah termasuk Rusia dan India, sehingga benar-benar menjadi arti harfiah dari ungkapan ‘Belajarlah hingga ke Cina.” Di tahun 1790an, menurut tradisi, ada sekitar 30 ribu pelajar muslim. Kota Bukhara yang saat itu masih merupakan bagian dari Cina, menjadi terkenal dengan julukan sebagai ‘Pilar Islam.’ Di kota inilah, Imam Bukhari lahir dan dikenal sebagai ahli hadits atau Muhaditsiin.

Jihad menghadapi Ancaman

Pendatang muslim generasi awal di Cina mengalami berbagai kesulitan dan penindasan. Pemerintah Dinasti Manchu (1644-1911) adalah rezim terburuk dan terbrutal yang pernah mempersulit kehidupan umat Islam. Tidak kurang dari 5 kali peperangan dikobarkan Dinasti Manchu terhadap muslim

(1) Perang Lanchu 1820-28
(2) Perang Che Kanio 1830
(3) Perang Sinkiang 1847
(4) Perang Yunan 1857
(5) Perang Shansi 1861

Masa ini adalah masa kebencian Manchu terhadap Islam dan Muslim. Pada zamannya, Muslim dibantai dan Masjid diratakan dengan tanah. Saat itu kaum muslimin masih dipimpin oleh umat yang tidak diam begitu saja tapi mengobarkan jihad terhadap ancaman brutal seperti itu. Salah satu komandan militer umat Islam Yaqoob Beg (1820-77) membebaskan Turkestan dan memerintah dengan aturan Islam di sana. Khalifah yang berkuasa masa itu juga mengakui perjuangan Beg sebagai perjuangan Islam dan gembira dengan berita kemenangannya. Di masa kekuasaannya Beg juga berhasil menghapus tindak kejahatan kekerasan.

Pejabat Rusia dan Inggris sangat khawatir terhadap naik daunnya kekuatan Islam dan mengatakan bahwa kekuatan Islam yang muncul di Asia Tengah, meliputi propinsi-propinsi Yunan, Szechawan, Shensi dan Kansu. Salah satu pejabat Inggris berkata,” Di hadapan kita saat ini ditengah-tengah wilayah yang jauh dari mana-mana nampak tanda-tanda akan adanya kebangkitan besar umat Islam.”

Permusuhan Cina terhadap Islam

Sejak Komunis menguasai wilayah muslim Turkistan Timur (yang oleh kaum komunis dinamai XingXang atau ‘Wilayah Baru’) di tahun 1949, nampaknya terjadi pemutusan komunikasi total sehingga tidak diketahui berita apa saja yang terjadi di sana. Ada dugaan terjadi pembersihan massal ala Stalin di Rusia, namun apa persisnya tidak diketahui pasti. Kunjungan terakhir oleh koresponden majalah Khilafah ke Beijing di tahun 1992 melaporkan adanya penindasan terhadap umat Islam di sana. Saat itu terjadi ketegangan sesama penduduk Turkistan Timur di Beijing. Di sekitar Beijing ada daerah yang sering dikunjungi oleh pedagang Turkistan, yang sebagian besar adalah pedagang sutra, yang dikenal sebagai Kanjacou. Kebencian mereka terhadap petugas pemerintah Cina yang sedang lalu lalang pun nampak, dimana terungkap dengan kata-kata “Kafir, Kafir! Jihad, Jihad!”

Penyelidikan yang semakin dalam menunjukkan mimpi buruk yang sedang dialami kaum muslim di Turkistan Timur. Seseorang diburu polisi karena ‘kejahatannya’ mengajarkan Qur’an ke anak-anak. Sering juga terjadi razia terhadap umat Islam di Beijing. Hal ini terjadi di Beijing, entah di tempat lain, apalagi di Turkistan Timur yang sangat tidak bisa dibayangkan. Penindasan terhadap umat Islam di sana nampaknya memiliki satu tujuan: menghapus identitas Islam dari umat muslim.
Tidak lama setelah komunis mengambil alih kekuasaan di tahun 1949, pemerintah Mao membagi umat Islam ke dalam identitas suku bangsa, sehingga umat dipecah menurut ras mereka, dan bukan lagi oleh kesamaan aqidah, yaitu ‘identitas keislamannya’. Menurut statistik kependudukan di tahun 1936, pemerintahan Kuomintang Republik Cina saat itu memperkirakan jumlah warga muslim sebesar 48.104.240 orang. Sejak diberlakukannya kebijakan Mao, angka tersebut menurun menjadi 10 juta warga saja. Tidak ada penjelasan resmi, kemana hilangnya 38 juta nyawa. Pembersihan massal seperti ini sangat luarbiasa dan membuat apa yang terjadi di Tibet tidak ada apa-apanya. Padahal Barat begitu getolnya membela hak asasi pendeta dan dalai lama Tibet akibat pendudukan Cina di sana dan juga peristiwa Tiannamen Square, tapi tidak pernah mengucurkan air mata untuk nasib umat Islam.

Di samping penghilangan secara fisik, Muslim juga sering dihujani dengan serangan yang mengancam identitas keislaman mereka. Masa Revolusi Budaya (1966-76) menunjukkan bagaimana brutalnya kebijakan dan sikap kaum Komunis. Ini terlihat dari poster yang terpampang di Beijing saat itu di tahun 1966, yang menyerukan penghapusan ritual Islam.

Muslim juga dilarang untuk mempelajari bahasa tulis semasa Revolusi Budaya tersebut. Bahasa tulis muslim di sana memiliki unsur huruf Arab dan dipengaruhi oleh Arab, Turki dan Farsi. Kebijakan ini sangat bahaya karena memisahkan muslim dari bahasa Arab, bahasa Qur’an dan Negara Islam. Taktik seperti ini memang sering dipraktikkan oleh musuh-musuh Islam termasuk Mustapha Kamal, seorang laki-laki yang menghapus Khilafah. Pada masa ini, kaum komunis menutup Masjid dan menyebarkan fitnah tentang Islam dan muslim .

Saat ini kita bisa lihat dari kerusuhan yang terjadi di Turkistan Timur, dimana perlawanan umat terhadap kaum komunis masih menyala. Komunis pun menyadari bahwa semangat kaum muslim tidak mudah dipatahkan, maka mereka pun mengambil kebijakan yang bertujuan untuk menekan Islam sebagai pandangan hidup dengan mendorong berdirinya organisasi dan institut islam yang tidak lain hanya sekedar boneka yang dikendalikan penguasa. Kebijakan licik seperti ini juga dipakai oleh rezim yang berkuasa di Yordania, Sudan dan Kuwait dengan ‘membiarkan’ kaum ‘islamist’ untuk memasuki pemerintahan untuk meredam keinginan umat yang menuntut untuk menerapkan syariah secara total. Contoh di Cina nampak terlihat jelas dengan didirikannya Institut Teologi Islam dan Pusat Asosiasi Islam Cina, dimana keduanya menerima dana dan legitimasi dari pemerintah. Di samping melakukan aktifitas yang pro-kebijakan pemerintah Cina, mengorganisir Haji, para pekerja di kedua organisasi ini diseleksi dengan ketat sekali. Artinya, pemerintah Cina juga tidak ingin bahwa berita tentang penindasan terhadap umat Islam di sana tidak sampai terdengar oleh umat Islam di seluruh dunia.

Sejak terjadinya Revolusi Budaya, properti Wakaf juga disita dan masjid diduduki paksa. Kampanye yang didukung pemerintah membidik sebagian pimpinan umat Islam sebagai tokoh ‘reaksioner’ dan ‘anti rakyat’. Kebijakan untuk membersihkan etnik (baca: muslim) pun masih berlansung. Etnik Han (mayoritas etnik di Cina, yang kafir) mulai banyak bertransmigrasi ke Turkestan Timur untuk memastikan adanya mayoritas non-muslim di sana. Pada tahun 1949 hanya ada 2-3% etnik Han di sana, namun kini mereka mencapai 38%.

Perlawanan masih berlangsung

Meski ditindas oleh tirani pemerintah Cina, muslim di Turkestan Timur masih bertahan. Anak-anak muda mengenakan kalung berlogo bulan bintang, yang mirip dengan simbol yang digunakan Khilafah Uthmani di masa lalu. Mengenakan kalung ini bisa berakibat penjeblosan ke penjara. Di daerah Kajacou di Beijing, seorang muslim ditanya tentang anak-anaknya, yang ia jawab ada 6. Angka ini sangat tinggi karena hukum di Cina mengatakan bahwa muslim di Turkistan Timur hanya boleh punya anak 2 saja! Muslim juga bangga dengan semua hal Islami. Di Kanjacou, ketika mereka mendapat 1 kaset bacaan Quran, maka esoknya kaset itu sudah tersebar kopi-annya. Sikap seperti sempat menyulut demonstrasi masif di tahun 1953 yang memproklamirkan propinsi Islam yang merdeka di wilayah Cina tersebut. Tentu ini mengundang reaksi yang keras dari pemerintah Cina. Namun demikian, ini menunjukkan bahwa umat pun masih tidak menyerah begitu saja. Ikatan dan kecenderungan setiap muslim untuk menjadi bagian dari umat Islam dunia yang lebih besar merupakan bukti penolakan mereka terhadap sistem komunis dan juga menunjukkan bahwa penindasan apapun yang pemerintah Cina perlakukan terhadap mereka tidak akan menggoyahkan semangat juang. Sebagaimana pejabat Cina mengatakan,’ Seperti menikam mereka dengan pisau, mereka tidak akan pernah lupa dengan lukanya.’

Dan juga kita tidak akan boleh lupa dan biarkan mereka semua tahu bahwa Khalifah di masa yang tidak lama lagi, insya ALLAH, akan mengirim pasukan Mujahidin yang siap membela Islam tepat di halaman depan Cina itu sendiri.

(Rusydan : http://www.khilafah.com/index.php/conce ... f-xinjiang)

http://hizbut-tahrir.or.id/2009/07/10/% ... -xinjiang/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby up1234go » Thu Jul 16, 2009 11:02 pm

hizbut-tahrir.or.id wrote:‘Perang Salib’ Cina terhadap Muslim di Xinjiang

Dalam perkembangan terakhir di Xinjiang lebih 150 warga tewas dan 1434 dipenjara, artikel ini akan mengupas bagaimana Islam memasuki Cina dan penindasan terhadap muslim oleh rezim pemerintahan Cina. Artikel ini merupakan kompilasi dari publikasi sebelumnya di majalah Khilafah di bulan Maret 1997.


Udah dendam sama orang2 china kafir... dendam pula sama kafir kristen...

Memang enak jadi muslim!

--- --- ---
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/30/demokrasi-sistem-kufur-menyalahi-orang-yahudi-dan-nashrani-termasuk-prinsip-agama-kita/
Demokrasi Sistem Kufur : Menyalahi Orang Yahudi dan Nashrani Termasuk Prinsip Agama Kita
up1234go
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1910
Joined: Tue Jul 04, 2006 12:05 pm

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Bigman » Thu Jul 16, 2009 11:50 pm

http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/30/d ... gama-kita/
Menyalahi Orang Yahudi dan Nashrani Termasuk Prinsip Agama Kita (islam).

SARA !!
Memang ajaran muhammad alm, ngajarin manusia jadi SARA.


Pantesan ada kata2 di IFF dimana islam mulai kuat, mulai timbul kekacauan.
Islam makin kuat, makin kacao beliao..........

Muslim dan non muslim harusnya berfikir jangan sampe islam makin kuat di Indonesia,
islam makin kuat, makin kacao beliao Republik Indonesia.
Manusia muslim dan nonmuslim yang mampu /kaya pada kabur dari Indonesia.

Republik Indonesia akan tinggal ampasnya doang.
JANGAN SAMPAI TERJADI, trim's.
User avatar
Bigman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3234
Joined: Sat Jan 03, 2009 8:19 pm

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Nonsense » Fri Jul 17, 2009 8:14 am

Laurent wrote:YG terbaru , Kerusuhan Xinjiang baru2 ini :

‘Perang Salib’ Cina terhadap Muslim di Xinjiang

Dalam perkembangan terakhir di Xinjiang lebih 150 warga tewas dan 1434 dipenjara, artikel ini akan mengupas bagaimana Islam memasuki Cina dan penindasan terhadap muslim oleh rezim pemerintahan Cina. Artikel ini merupakan kompilasi dari publikasi sebelumnya di majalah Khilafah di bulan Maret 1997.

Sejarah Muslim
... dst

Artikel dari www.khilafah.com benar2 sampah busuk yg sangat berat sebelah & memihak Islam. Masa' invasi muslim dikatakan sebagai "mencapai tujuan yang mulia untuk menaungi dunia dengan risalah yang suci", sedangkan patriotisme Cina dlm menghadapi invasi dicap sebagai "tumbuhnya benih kebencian terhadap muslim di Cina"
WTF!! :roll:
User avatar
Nonsense
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 178
Joined: Sun Sep 28, 2008 10:58 am

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Laurent » Sat Jul 18, 2009 3:08 pm

Panggilan Jihad Dari Turkistan Timur
Oleh Prince of Jihad pada Rabu 11 Maret 2009, 12:41 AM

Print Recommend (60) Comment (20) International Jihad Analysis - Sesungguhnya sejarah Islam penuh dengan pengorbanan para lelaki perwira yang lebih mengutamakan aqidah mereka daripada diri mereka sendiri secara yakin dan penuh pengharapan pahala dari Allah.


Di awal bulan Robiul Awal, bulan dimana kaum Muslimin biasanya mengenang jejak perjuangan Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam, terdengar panggilan dan teriakan minta tolong dari saudara-saudara Muslim di Turkistan Timur. Sebuah kelompok jihad yang menamakan dirinya Al Hizbul Islamy At-Turkistany, telah menulis sebuah surat, melalui Media Al Fajr, yang ditujukan kepada seluruh kaum Muslimin agar menengok nasib saudara mereka di bumi yang pernah berjaya dengan Islam dan kini berada di bawah penindasan dan kedzoliman rezim Sosialis Komunis Cina. Dengan pasukan bersenjata, dan tekanan politik yang keras, rezim Sosialis Komunis Cina telah menistakan kemuliaan Islam dengan mengatakan bahwa ia (Islam) adalah Candu bagi masyarakat. Bahkan mereka membuat undang-undang khusus yang melarang siapa pun untuk memeluk dan beriltilzam dengan Islam, melarang ta’lim, mengajar dan mempelajari Al Qur’an , dan memenjarakan mereka yang nekat melakukannya.

Sebuah pembantaian dan perang terhadap Islam dan kaum Muslimin saat ini tengah berlangsung di negeri yang dahulu pernah menjadi negeri Islam. Syi’ar-syi’ar Islam dilarang, ribuan mushhaf dan kitab-kitab Islam dibakar. Kumandang adzan dilarang di masjid-masjid. Sungguh sebuah penghinaan dan pelecehan Islam oleh rezim Sosialis Komunis Cina.

Lebih kejam lagi, para pemuda yang berumur kurang dari 18 tahun dilarang menunaikan shalat, perempuan dilarang memakai hijab dan penjara serta siksaan menanti jika kaum Muslimin melawan. Juta’an muslimah dikirim ke Cina dengan alasan memberikan pekerjaan. Sementara itu, sejumlah besar orang-orang Cina dikirim ke Turkistan untuk mencampuradukkan nasab (keturunan) antara mereka dengan kaum Muslimin Turkistan. Setiap perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan ini sudah pasti akan dipenjara, dikenai denda uang dan berbagai jenis penindasan dan penghinaan. Sebuah tindakan yang sudah pasti menimbulkan ghiroh (kecemburuan) di dada setiap muslim dimanapun mereka berada.

Turkistan Timur di Bawah Rezim Sosialis Komunis Cina

Dalam buku Jihad Asia Tengah, Perang Akhir Zaman, karya Syekh Abu Mus’ah As Suri, yang diterbitkan oleh Ar Rahmah Media, di bagian akhir buku tersebut dibahas tentang Turkistan yang merupakan wilayah strategis dan berpotensi untuk menjadi ladang jihad. Berikut analisis beliau.



Wilayah Turkistan berada di Asia Tengah, dimana bagian timur berbatasan dengan Cina dan Mongolia. Bagian Barat dengan Kaspia dan sungai Ural. Bagian selatan berbatasan dengan Tibet, Kashmir, Pakistan, Afghanistan, Iran, Mongolia Utara dan Siberia. Ada dua penjajah yang bergabung untuk menguasai wilayah ini, yakni Uni Soviet (di masa lalu) dan Republik Rakyat Cina (sampai saat ini) di bawah perjanjian Nerchinsk pada bulan Agustus 1689. perjanjian ini berakhir dengan adanya perjanjian St. Petersburg pada bulan Februari 1981.

Wilayah bagian Barat yang (dahulu) dijajah oleh Uni Soviet dikenal dengan nama Turkistan Barat. Sementara itu, bagian Timur dijajah oleh Republik Rakyat Cina dan dikenal dengan nama Turkistan Timur. Turkistan Timur inilah yang saat ini berada di bawah tekanan dan penindasan rezim Sosialis Komunis Cina.

Luas Turkistan Timur adalah 1.750.734 km2 dan ini sekitar dua kali wilayah Mesir dan juga dua kali wilayah Pakistan. Turkistan Timur adalah sebuah wilayah dimana jarak dengan laut terdekat berjarak sekitar 1900 km. Wilayahnya sebagian besar terdiri dari semi-padang pasir dan berbatasan dengan garis-garis batas yang berupa tiga pegunungan dan lembah sungai.

Rezim Sosialis Komunis Cina menyebut Turkistan Timur dengan nama Xinjiang. Daerah ini juga mencakup sebagian besar wilayah Aksai Chin, yang diklaim oleh rezim kafir India sebagai bagian dari negara bagian Jammu dan Kashmir. Xinjiang yang secara harfiah bermakna ‘Perbatasan Baru’ atau ‘Daerah Baru’ menjadi semakin diperebutkan mengingat sumber daya alam dan ekonominya yang sangat luar biasa. Kaum Muslimin lebih suka menyebutnya Turkistan Timur atau Uighuristan.

Syekh Abu Mush’ab As Suri dalam bukunya tersebut juga mengatakan bahwa Turkistan Timur adalah salah satu negara terkaya di antara negara-negara di wilayah itu karena berlimpahnya mineral yang terkandung di tanah ini, yang menyokong tulang punggung perekonomian Cina. Negara ini juga mengandung minyak dan bahan tambang penting lain. Turkistan Timur diperkirakan menjadi penyedia minyak bumi terbesar kedua di dunia setelah Timur Tengah. Produksi rata-rata tahunannya 5 juta ton. Besi juga merupakan hasil tambang dengan jumlah produksi tahunan sekitar 250 juta ton. Terdapat lebih dari 56 tambang emas. Sedang untuk stok uranium, masih sekitar 12 triliun ton. Produksi batu garam rata-rata tahunan adalah 450.000 ton, sedang persediaan (cadangan) batu garam cukup untuk seluruh dunia selama 1000 tahun.

Kekayaan alam Turkistan Timur pastinya menambah kerakusan dan nafsu menguasai dan menindas rezim Cina terhadap kaum Muslimin Turkistan Timur. Sebagaimana disampaikan Pusat Media Al Hizbul Islamy At-Turkistany bahwa sesungguhnya pertarungan yang terjadi antara kaum muslimin Turkistan dan rezim komunis Cina sejatinya adalah pertarungan antara islam dan kekafiran, antara haq dan batil. Lintasan sejarah panjang Turkistan pun menunjukkan hal tersebut.

Islam pertama kali masuk ke Turkistan pada pada masa khalifah Bani Umayyah, yakni Al-Walid bin Abdul Malik pada tahun 96 H (715 M) melalui tangan komandan mujahid, Qutaybah bin Muslim rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) yang berhasil memasuki kota Kashgeer. Ketika berakhirnya Khilafah Bani Umayyah dan dimulainya Khilafah Bani Abbasiah pada abad ketiga hijriyah, Sultan Khakan, "Satok Bograkhan" (dikenal juga dengan nama Abdul Karim) menjadikan agama Islam sebagai Agama negara. Turkistan menjadi negara Islam merdeka selama sembilan abad dan sejak saat itu penduduk negara itu telah menjadi muslim, hingga berakhirnya masa Daulah Islamiyyah terakhir yang runtuh pada tahun 1355 H.

Pada Abad ke 18 M terlihat bahwa beberapa bagian dari dunia Islam menjadi sasaran penjajahan bangsa-bangsa Eropa dan Asia.Di Asia, para penjajah yaitu Rusia dan Cina sepakat membagi tanah kaum Muslimin di Turkish melalui beberapa perjanjian. Jatuhnya wilayah ini dengan penyerahan ke tangan Cina setelah menelan korban 1.200.000 warga Turkistan dan 22.000 keluarga Turkistan terasing ke Cina.

Kaum muslimin yang memendam dendam di Turkistan Timur memberontak melawan penjajah Cina dan penindasan Budha dalam tujuh pemberontakan dengan kekuatan besar. Pemberontakan terakhir terjadi tahun 1863 yang menjadikan Turkistan Timur merdeka dari kekuasaan Cina dan terbentuknya kerajaan yang merdeka pada abad ke-19 M. pembentukan pemerintahan lokal di lima wilayah, kesemuanya di bawah pemerintahan Attalik Ghazi Yakub Bek, yang dianugerahi gelar Sulthan Utsmani dan Amirul Mukminin. Attalik adalah orang yang baik yang membangun masjid-masjid dan sekolah-sekolah Islam, beberapa diantaranya masih berdiri hingga kini. Akan tetapi pembaharuan ambisi kolonial Rusia dan Cina, menjadikan Cina menduduki Turkistan Timur sekali lagi pada tahun 1878. Wilayah ini kemudian dianeksasi pada tanggal 18 November 1884, dan dijadikan sebagai sebuah propinsi bagian kekaisaran Cina. Turkistan Timur kemudian dinamai Xinjiang dan Urumqi dijadikan sebagai ibu kotanya.

Revolusi Turkistan melawan Cina, dengan sejuta kaum muslimin terbunuh ketika mencoba melepaskan diri dari kekuasaan Cina. Pemerintahan Cina secara kejam dan bengis menyiksa dan menekan para pejuang Turkistan. Perburuan terhadap mereka meningkat, akan tetapi perjuangan dan perlawanan mereka makin teguh, hingga salah satu pemimpin harakah Islam, Abdul Qodir Damulla, memerdekakan negeri ini dan mendirikan Republik Turkistan Timur di Kashger pada 12 November 1933. Akan tetapi Raja muda Cina Sheng Shicai mampu mengurangi pemberontakan dan menguasai kembali negara ini bersama Rusia dengan segala kekuatan yang diperlukan dan mengerikan pada bulan Juli 1934. Mereka kembali menduduki negeri kaum muslimin yang masih muda (baru merdeka) ini.

Pada tahun 1949, komandan pasukan Cina di Turkistan Timur menaklukan negeri ini dan menyerahkannya ke Mao Tse Tung, pemimpin Partai Komunis Cina. Pasukan Cina Komunis memasuki Turkistan Timur pada bulan Oktober 1949 dan mulailah era rezim Sosialis Komunis Cina, dan ketidak adilan dalam sejarah muslimin Turkistan Timur.

Kekejaman Rezim Komunis Cina

Sebuah artikel yang ditulis oleh Abdullah Manshur di majalah Turkistan, Al Islamiyah, menceritakan bagaimana kejahatan rezim Komunis Cina di Turkistan Timur. Panjangnya catatan kejahatan rezim Cina ini ironisnya dengan rapi ditutupi dan tidak diketahui oleh kaum Muslimin. Rezim komunis Cina di bawah kepemimpinan Mao Tse Tung telah membantai sebanyak 4,5 juta muslim. Mereka juga mengembargo ekonomi kaum Muslimin di Uighur di Turkistan Timur dan melarang mereka untuk menduduki jabatan pemerintahan serta mencegah mereka dari berhubungan dengan kaum Muslimin lainnya di luar Turkistan, dan juga melarang mereka untuk pergi ke luar negeri. Rezim Cina ini juga memerangi Islam, diantaranya dengan mengumunkan secara resmi bahwa Islam adalah agama di luar undang-undang dan siapa saja yang mengikuti agama ini maka dia akan di cap sebagai teroris fundamental.

Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, mereka juga melarang atau menutup masjid-masjid dan sekolah Islam, memaksa perempuan muslimah untuk membatasi kelahiran, bahkan menggugurkan janin di perut ibunya. Mereka juga menangkapi para ulama dan menjebloskan ke penjara tanpa tuduhan apapun kecuali dengan dalih memberantas terorisme.

Lebih sadis lagi, rezim Cina ini berusaha membumi hanguskan kaum Muslimin Turkistan secara sistematis. Mereka, menyebarkan wabah penyakit di antara penduduk Muslim Turkistan, menerapkan kebijakan pembersihan etnis muslim dengan menculik muslimah Turkistan dan memindahkan mereka ke Cina.



Syekh Abu Mush’ab As Suri dalam bukunya juga memerinci kejahatan dan kekejaman rezim Komunis Cina, tidak jauh berbeda. Tindakan paling biadab yang mereka lakukan adalah melakukan uji coba nuklir di daerah pendudukan Turkistan, yang selain menyebabkan kerusakan lingkungan juga menyebarkan penyakit berbahaya di antara penduduk Turkistan.

Tentu saja tindakan biadab ini akan membangkitkan kemarahan kaum Muslimin dan mengobarkan semangat jihad untuk menghilangkan kesewenang-wenangan dan kedzoliman yang dilakukan rezim Komunis Cina.

Panggilan Jihad Dari Turkistan Timur

Pembentukan gerakan jihad, Al Hizbul Islamy At Turkistany, sebagaimana rilis mereka, adalah panggilan atau kewajiban muslim Turkistan khususnya untuk menghilangkan tragedi yang diderita muslim Turkistan tersebut. Sejak 10 tahun yang lalu, jama’ah jihad Al Hizbul Islamy At-Turkistany ini dibentuk dan dikelola oleh para ulama, dan para pelajar ilmu syar’I, untuk kemudian melaksanakan dakwah dan bimbingan kepada para pemuda muslim dan kepada orang-orang yang awak dengan didasari pada dakwah kepada tauhid dan mengikuti aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menurut Al-Kitab (Al Qur’an ) dan As Sunnah (hadits).

Maka, jama’ah jihad ini pun mulai meretas jalan jihad dan dakwah, I’dad imany dan I’dad askary sebagai bentuk manhaj dalam sebuah jama’ah yang menuju perubahan. Mereka mengatakan bahwa jalan tersebut ditempuh untuk mengembalikan penerapan syari’at Allah di bumi Turkistan dan seluruh negeri Islam. Dalam perjalanan mereka, telah ratusan syuhada, janda, dan anak yatim mereka persembahkan.

Salah satu pejuang Islam, mujahid, yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk jihad di Turkistan adalah Hasan Makhdum, rahimahullah, atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Muhammad, atau Jundullah. Beliau adalah penggagas Al Hizbul Islami At Turkistany, yang pertama kali menyeru mujahidin Turkistan untuk mengambil bagian mereka dalam mewujudkan Khilafah Islamiyah dan jihad fie Sabilillah di Turkistan.

Kini, Jama’ah Jihad, Al Hizbul Islamy At Turkistany, di bawah kepemimpinan Al Akh Abdul Haq, mengajak seluruh kaum Muslimin untuk memberikan dukungan kepada saudara-saudara se-dien dan se-aqidah, baik berupa nasehat, bimbingan, do’a sholih, dan tentu saja bantuan kongkrit lainnya untuk menyelesaikan problem bagi seluruh umat Islam, khususnya di Turkistan Timur. Mereka memanggil kaum Muslimin dimana pun dengan panggilan jihad untuk membantu mereka, saudara-saudara kita seiman hingga penjajah kafir yang atehis itu hengkang dari negeri kaum Muslimin dan hingga daulah Islaiyyah tegak dengan idzin Allah.

Syekh Abu Mush’ab As Suri dalam bukunya Jihad Di Asia Tengah, Perang Akhir Zaman, bahkan menyemangati kaum Muslimin untuk mendukung Jihad Di Asia Tengah, termasuk wilayah Turkistan Timur. Menurut beliau, dalam kegelapan ini, ada seberkas sinar harapan dan tanda-tanda turunnya fajar dari sebuah negara Islam yang gemilang dan tanda-tanda kembalinya Darul Islam dan panji-panji syariah di atas Afghanistan. Kaum muslimin yang berada di tanah-tanah penindasan datang, merangsek, bersama memenuhi puncak-puncak Khurasan. Taliban menerima banyak harapan sebagaimana saya sebutkan dalam laporan riset saya yang terdahulu; "Afghanistan dan Taliban dan peperangan Islam Hari ini", yang menunjukkan tanda-tanda harapan pada jihad di Asia Tengah (di Tajikistan, Uzbekistan, Turkistan Timur dan beberapa wilayah lain).

Sebagai tambahan, seluruh ramalan dan tanda-tanda yang mengindikasi sudah dekatnya waktu berkumpulnya orang-orang di bawah panji kebenaran dan jihad di tanah ini, dan oleh karena itu, hal ini penting. Dari perspektif kaum muslimin, mereka harus menganggap hal ini serius dan berharap mengambil bagian dalam persoalan ini. Sayangnya, sebagian besar kaum muslimin masih berada dalam kebodohan dan sedikit yang menganggap penting mencapai tujuan ini. Dan sayangnya lagi, banyak dari muujahidin yang juga belum mengerti di wilayah ini. Padahal dalam waktu yang dekat ini. Mereka kemudian mengatur rencana agar segala sesuatunya wajar dalam pemikiran kita, bahkan bagi beberapa dari kami. Pentingnya jihad di Afghanistan dan Asia Tengah berasal dari perspektif syariah dan strategi yang meliputi baik aspek politik maupun militer dalam masalah ini.

Kini, jawaban dan pilihan ada pada kita semua, kaum Muslimin. Akankah kita membantu saudara-saudara Muslim kita yang saat ini sedang didzolimi oleh rezim Komunis Cina di Turkistan Timur ? Atau apakah kita akan berdiam diri dan santai-santai saja dengan keadaaan tersebut ?

".. Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Anfal 8:72)


By: M. Fachry
International Jihad Analysis

Ar Rahmah Media Network
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media
© 2009 Ar Rahmah Media Network

http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/3599
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby up1234go » Tue Aug 11, 2009 1:47 am

JIHAD DI CINA
Banyak orang heran mendengar ttg Jihad Muslim di Cina. Tetapi ini jelas terjadi.

Dawat-ul-Islam (undangan utk memeluk Islam) yg dikirim ke negara2 spt Persia yg Zoroastrian, Bizantin yg Kristen dan raja2 Kerala Hindu, juga dikirim ke kaisar Cina. Cuma kaisar Cina tidak mengerti ultimatum itu dan menyangka bahwa para ini merupakan pesan spiritual. Satu abad kemudian pd thn 751, baru orang Cina bertatapan muka dgn bahaya Islam.


Rumahku Punyaku; Rumah-MU Punya-KU juga

Risalah yang diemban Nabi Muhammad akan mendominasi dunia. Sesuai dengan visi ini para Sahabah yang meneruskan garis perjuangan Nabi berupaya untuk memperluas tapal batas wilayah Negara Islam semakin jauh ke depan. Dengan pandangan untuk mencapai tujuan yang mulia untuk menaungi dunia dengan risalah yang suci, Khalifah Uthman ibn Affan memulai kontak dengan Cina. Setelah menundukkan Romawi dan Persia, Khalifah Uthman bin Affan mengirim delegasi yang dipimpinm Sa’ad ibn Abi Waqqas ra (paman Nabi Saaw) ke Cina pada tahun 29 H (651 M). Misi delegasi ini adalah mengundang kaisar Cina untuk memeluk Islam.


Rumahku Punyaku; Rumah-MU Punya-KU juga


Jihad menghadapi Ancaman

Pendatang muslim generasi awal di Cina mengalami berbagai kesulitan dan penindasan. Pemerintah Dinasti Manchu (1644-1911) adalah rezim terburuk dan terbrutal yang pernah mempersulit kehidupan umat Islam. Tidak kurang dari 5 kali peperangan dikobarkan Dinasti Manchu terhadap muslim

(1) Perang Lanchu 1820-28
(2) Perang Che Kanio 1830
(3) Perang Sinkiang 1847
(4) Perang Yunan 1857
(5) Perang Shansi 1861

Masa ini adalah masa kebencian Manchu terhadap Islam dan Muslim.


Rumahku Punyaku; Rumah-MU Punya-KU juga


Permusuhan Cina terhadap Islam

Sejak Komunis menguasai wilayah muslim Turkistan Timur (yang oleh kaum komunis dinamai XingXang atau ‘Wilayah Baru’) di tahun 1949, nampaknya terjadi pemutusan komunikasi total sehingga tidak diketahui berita apa saja yang terjadi di sana. Ada dugaan terjadi pembersihan massal ala Stalin di Rusia, namun apa persisnya tidak diketahui pasti.


Rumahku Punyaku; Rumah-MU Punya-KU juga

YG terbaru , Kerusuhan Xinjiang baru2 ini :

‘Perang Salib’ Cina terhadap Muslim di Xinjiang

Dalam perkembangan terakhir di Xinjiang lebih 150 warga tewas dan 1434 dipenjara, artikel ini akan mengupas bagaimana Islam memasuki Cina dan penindasan terhadap muslim oleh rezim pemerintahan Cina. Artikel ini merupakan kompilasi dari publikasi sebelumnya di majalah Khilafah di bulan Maret 1997.


Rumahku Punyaku; Rumah-MU Punya-KU juga

Sebuah pembantaian dan perang terhadap Islam dan kaum Muslimin saat ini tengah berlangsung di negeri yang dahulu pernah menjadi negeri Islam. Syi’ar-syi’ar Islam dilarang, ribuan mushhaf dan kitab-kitab Islam dibakar. Kumandang adzan dilarang di masjid-masjid. Sungguh sebuah penghinaan dan pelecehan Islam oleh rezim Sosialis Komunis Cina.


Rumahku Punyaku; Rumah-MU Punya-KU juga


Kesimpulan:
ISLAM BUKANLAH SEBUAH AGAMA TAPI PENGKULTUSAN YANG DIINGINKAN MUHAMMAD DENGAN MEMBAWA ALLAH SWT UNTUK MEYAKINKAN SEMUA ORANG. AGAMA PANJUL JUGA SANGGUP MENGHASILKAN KETURUNAN2 UNTUK MENYAINGI MUSLIM2 DALAM BERLOMBA MEMBUKTIKAN KEDIGDAYAAAN TUHAN MELALUI LEVEL SPIRITUAL. AGAMA PANJUL PERCAYA BAHWA DUNIA INI DICIPTAKAN OLEH SANG PENCIPTA. HANYA BEDANYA AGAMA PANJUL TIDAK SEANGKUH MUHAMMAD DAN ANTI MELAKUKAN TEROR KETAKUTAN DALAM HATI (SEPERTI YANG DILAKUKAN MUHAMMAD).

Image
up1234go
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1910
Joined: Tue Jul 04, 2006 12:05 pm

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Zhou Yu » Tue Aug 25, 2009 8:23 pm

Di tahun 138 H, Khalifah Mansur juga mengirimkan ke sana tidak kurang dari 4000 pasukan muslim bersenjata lengkap sebagai simbol kekuatan adidaya

Hmm....sumbernya dari situs muslim. Perlu dipertanyakan kebenaran (keseluruhan) ceritanya.
....
Pernahkan anda mendengar Kisah Tiga Kerajaan (Sam Kok). Masing-masing Kepala Daerah pada jaman Tiga Kerajaan tiap kali bertempur selalu membawa pasukan puluhan ribu orang. Apalagi ketika benar-benar tinggal tiga kerajaan yang bertahan, Wu, Wei, dan Shu. Tiap-tiap negara jika berperang, bisa mengerahkan ratusan ribu pasukan.
....
Jika seperti kata anda, pasukan muslim mengerahkan (cuma) 4000 ribu pasukan untuk menunjukan kekuatan adidayanya, saya ragu hal itu akan membuat bangsa China ciut nyalinya (mungkin jg dijadikan bahan tertawaan bangsa China). Apalagi waktu itu bangsa China dalam keadaan bersatu dalam satu dinasti, pasti jumlah pasukan mereka mencapai ratusan ribu orang. Mustahil pasukan jihad muslim bisa mengalahkan China
menurut statistik kependudukan di tahun 1936, pemerintahan Kuomintang Republik Cina saat itu memperkirakan jumlah warga muslim sebesar 48.104.240 orang. Sejak diberlakukan kebijakan Mao, angka tersebut menurun menjadi 10 juta warga saja

Entah benar atau tidak pernyataan itu, saya cuma bisa mengucapkan: Alhamdulilah. :drinkers:
Zhou Yu
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 200
Joined: Mon Aug 24, 2009 12:26 pm
Location: Somewhere in a peaceful little town

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby RyoBapt » Wed Aug 26, 2009 12:00 am

Masa ini adalah masa kebencian Manchu terhadap Islam dan Muslim. Pada zamannya, Muslim dibantai dan Masjid diratakan dengan tanah. Saat itu kaum muslimin masih dipimpin oleh umat yang tidak diam begitu saja tapi mengobarkan jihad terhadap ancaman brutal seperti itu. Salah satu komandan militer umat Islam Yaqoob Beg (1820-77) membebaskan Turkestan dan memerintah dengan aturan Islam di sana. Khalifah yang berkuasa masa itu juga mengakui perjuangan Beg sebagai perjuangan Islam dan gembira dengan berita kemenangannya. Di masa kekuasaannya Beg juga berhasil menghapus tindak kejahatan kekerasan.


islam kalau dizhalimi dgn kekerasan,berhak melawan dgn peperangan dan halal Hukumnya...dan tegakkan jihad dijalan Allah..
Niscaya akan meraih kemenangan,Alhamdulillah Muslim menang pd waktu itu..pertolongan Allah pasti memberikan pada pasukan jihad.

dan pada zaman sekarang para kafir berusaha ingin mengubah imej kedunia dgn fitnah mengartikan jihad itu jelek..sebelum menghancurkan islam..
RyoBapt
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 443
Joined: Fri May 15, 2009 5:53 am
Location: Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Zhou Yu » Wed Aug 26, 2009 1:22 pm

Dilihat dulu dunk, siapa yang menyerang duluan.
Muslim menginvasi China dahulu dgn jalan kekerasan, yaitu lwt perang. Berupaya menguasai China dengan tujuan mengislamkan seluruh rakyak China. Sekarang, siapa yg salah duluan? China sudah tenang dengan budaya dan kepercayaan mereka yang kuat. Tapi muslim mengusik duluan, memaksakan agama muslim dimana agama islam itu sendiri belum tentu benar. Muslim menggembar-gemborkan kalau islam adalah agama yang lurus dan paling benar, tapi tidak pernah bisa membuktikan bukti kebenarannya, baik kebenaran tentang kitabnya maupun status nabinya yang mengaku nabi utusan Tuhan.
Ingat dan ingat, muslim tidak akan pernah menang melawan China, walaupun tuhan muslim mengerahkan seluruh malaikatnya untuk membantu muslim.
China tidak akan pernah menjadi negara islam, sampai kapanpun!!
Justru islam yang akan hancur bila berani macam-macam dengan China!!
Zhou Yu
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 200
Joined: Mon Aug 24, 2009 12:26 pm
Location: Somewhere in a peaceful little town

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Laurent » Fri Oct 09, 2009 6:06 pm

Title : Qaeda urges Uighur jihad against China
By :
Date : 08 Oct 2009 1719 hrs (GMT + 8hrs)

DUBAI: Al-Qaeda leader Abu Yahia al-Libi has called on Uighur s to launch a jihad against the Chinese authorities and has urged Muslims worldwide to support their co-religionists, a US monitoring group reported.

"It is the duty of Muslims today to stand by the side of their wounded and wronged brothers in East Turkestan," Libi said in a video recording posted on an Islamist website, according to SITE Intelligence group.

East Turkestan is the name used by Al-Qaeda for China's Muslim-majority region of Xinjiang.

"Let our Muslim brothers in Turkestan know that there is no way for salvation and that there is no way to lift oppression and injustice but with truthful return to their faith and attachment to it as much as possible; to seriously prepare for jihad (holy war)," Libi said.

Wearing a white-and-red checkered turban and a vest, Libi also called on Muslims to launch a media campaign to raise awareness of what is happening in China and about the "atheist Chinese colonisation".

Libi said that the Turkic Muslim community is suffering from discrimination and pledged that the communist Chinese regime would face the same destiny as the former Soviet Union, which Islamist fighters had ferociously battled in Afghanistan.

"As for the state of atheism and stubbornness, it is [doomed] to extinction," he said. "They will experience that which the Russian bear experienced in terms of disintegration and division."

The Uighur s of Xinjiang province complain of cultural and religious discrimination practised against them by the Chinese state in the name of the fight against separatism.

Chinese authorities have said that riots in the Xinjiang city of Urumqi by Muslim Uighur s on July 5 killed 184 people - most of who were Han, China's dominant ethnic group - and injured more than 1,600.

Uighur leaders accuse Chinese forces of opening fire on peaceful protests and say that Uighur s have been killed in subsequent mob attacks.

In July, Al-Qaeda threatened for the first time to attack Chinese interests overseas in retaliation for the deaths of Muslims in Xinjiang, risk analysis consultancy Stirling Assynt reported at the time.

The call, which came from the jihadist network's North African arm - Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM), was swiftly rejected by exiled Uighur leaders.

Rebiya Kadeer, the Washington-based head of the World Uighur Congress, said she opposed the use of violence in her campaign to bring greater rights for the ethnic group in Xinjiang.

Uighur s generally practise a moderate brand of Islam influenced by Sufi mysticism and earlier shamanistic traditions.

- AFP/sc


http://www.channelnewsasia.com/cna/cgi- ... id=1010080
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Laurent » Sun Feb 28, 2010 6:17 pm

Pasang Surut Islam di China

Sebagian kaum muslimin memandang orang-orang China sebagai komunitas yang tak ada kaitan dengan Islam. Fakta sejarah menunjukkan sebaliknya


Oleh: Alwi Alatas*

MASYARAKAT China di seluruh dunia baru saja merayakan tahun baru mereka. Lampion-lampion berwarna merah dan peragaan barongsai tampak di mana-mana dan mungkin juga ikut dinikmati oleh masyarakat Indonesia secara umum. Beberapa aspek kebudayaan China kini sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia, tapi rupanya masih ada jurang pemisah yang dalam di antara komunitas China dengan Masyarakat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam. Kedua belah pihak sehari-harinya melakukan transaksi sosial dan ekonomi, tetapi sebuah Tembok Besar yang tak terlihat masih memisahkan kedua komunitas ini.

Komunitas China banyak yang sudah hidup sekian generasi di nusantara, sebagian mereka bahkan berbahasa ibu dan berdialek sama dengan masyarakat lokal tempat mereka tinggal. Tetapi alienasi di antara kedua komunitas masih saja terjadi, alienasi yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi ketegangan sosial yang serius. Memang sulit untuk dipungkiri, masih ada kesenjangan budaya, kesenjangan ekonomi, dan juga kesenjangan keyakinan yang lebar di antara masyarakat China dan Muslim di Indonesia; kesenjangan yang seolah tak bisa dihapuskan.

Sebagian besar kaum Muslimin mungkin selamanya memandang orang-orang China sebagai komunitas yang tak ada kait mengait dengan Islam, dan barangkali nyaris mustahil untuk menerima Islam. Fakta sejarah menunjukkan sebaliknya. Pada kenyataannya Islam memiliki sejarah yang panjang di negeri tirai bambu itu. Jumlah kaum Muslimin di China sendiri bukannya sedikit, walaupun kecil dalam persentasenya. Jumlah mereka kurang lebih sama dengan, atau malah lebih banyak dari, beberapa negeri Muslim di Timur Tengah yang hampir seluruh penduduknya beragama Islam. Sensus tahun 1990 menyebutkan bahwa jumlah kaum Muslimin di China mencapai 17,5 juta, sementara beberapa sumber Muslim memperkirakan jumlahnya jauh lebih besar dari itu, barangkali antara 30-50 juta orang.1 Ada interaksi dan proses sejarah yang panjang antara masyarakat China dan Islam yang memungkinkan munculnya angka statistik di atas. Melalui tulisan ini kita akan melihat pasang surut sejarah Islam di China.

Sejak sebelum era Islam sudah terjadi hubungan perdagangan antara dunia Arab dan China. Jalur perdagangan ini ada yang melewati laut dan ada yang melewati darat (jalur sutera). Beberapa pedagang Arab disebut-sebut sudah ada yang menetap di beberapa kota bandar dagang di negeri China, seperti Kanton, Chang Chow, dan Chuan Chow. Walaupun ada yang berpendapat Islam sudah masuk ke Kanton sejak zaman Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tetapi hubungan resmi antara pemerintah Islam dan China terjadi pada masa Khalifah Utsman ibn Affan radhiyallahu ’anhu yang mengirim delegasi pada kaisar Dinasti Tang (618-905). Hal ini tercatat dalam sejarah resmi (Annals) Dinasti Tang.2

Sejak itu terjadi hubungan diplomatik yang baik antara kekhalifahan Islam dan Dinasti Tang. Catatan resmi dinasti tersebut menyebutkan adanya 37 kali perutusan diplomatik di antara kedua belah pihak. Salah satu kaisar China yang terguling karena pemberontakan pada tahun 755 M bahkan pernah mendapat bantuan militer dari pasukan muslim yang dikirim dari Asia Tengah sehingga dinasti tersebut berhasil mendapatkan kembali kedaulatannya. Sebagai balasannya, sang kaisar mengizinkan pasukan muslim yang telah membantunya itu untuk tinggal di salah satu distrik di ibukota Dinasti Tang dan membolehkan mereka melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan China.3

Di akhir masa pemerintahan Dinasti Tang tercatat adanya 120.000 orang asing menetap di China. 80 persen dari jumlah tersebut adalah orang-orang Arab, selebihnya orang Persia, Nasrani, dan Yahudi.4 Orang-orang Arab muslim yang menetap di China pada abad ke-8 telah memperoleh hak khusus untuk mengatur urusan serta memilih pemimpin di antara mereka sendiri. Hal ini menunjukkan adanya hubungan baik serta kepercayaan pemerintah China kepada komunitas muslim yang tinggal di sana. Mobilitas yang dinamis di antara dunia Islam dan Tiongkok telah memungkinkan para ahli geografi muslim mencatat keadaan geografis dan kebudayaan China dengan baik pada masa yang relatif dini, seperti yang bisa didapati pada sebuah kitab anonim berjudul Silsilat al-Tawarikh yang mungkin disusun pada paruh terakhir abad ke-9 dan diedit oleh Abu Zaid al-Sirafi dan kemudian dikutip oleh al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab-nya.5

Pada masa-masa berikutnya, eksistensi Islam di China terus berlanjut, malah semakin baik. Ketika China dikuasai oleh Mongol dan terbentuk Dinasti Yuan (1279-1368 M), pengaruh Islam di Tiongkok semakin kokoh. Banyak muslim Arab atau Persia yang diberdayakan dalam pemerintahan dan militer China. Beberapa di antaranya bahkan memegang posisi yang strategis, seperti Saidian Chi (Say Dian Chih/ Sayyid Shini/ Sayyid Syamsuddin) yang menjadi Gubernur di Yunnan. Sebuah pribahasa China sampai-sampai menyebutkan ”Hui-Hui (muslim) tersebar luas di seluruh penjuru China pada masa Dinasti Yuan.”6 Pada masa ini kaum Muslimin bahkan dipanggil dengan sebutan Da’shman yang bermakna ’orang terpelajar,’ di samping sebutan Mu Su Lu Man dan Hui-Hui.7

Keberadaan Islam di China mencapai puncaknya pada masa Dinasti Ming (1368-1644) yang menggantikan Dinasti Yuan. Ibrahim Tien Ying Ma menyebutkan bahwa istri kaisar pertama Dinasti Ming adalah seorang muslimah yang dikenal sebagai Ratu Ma (Ma menurutnya merupakan nama keluarga muslim China yang berasal dari kata ’Muhammad’). Empat dari enam panglima yang mendukung proses revolusi yang melahirkan Dinasti Ming juga merupakan panglima-panglima muslim. Ia juga berargumen bahwa kaisar pertama Dinasti Ming, Chu Yuan Chang, dan kaisar-kaisar Ming berikutnya menganut agama Islam, walaupun mereka tidak menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.8 Yang jelas, masyarakat China mencapai puncak kejayaannya pada masa dinasti ini dan pada masa ini pula Islam mencapai puncak pengaruhnya di negeri tersebut. Admiral Cheng Ho pun menjalankan misi diplomasinya yang sangat menonjol ke Timur Tengah dan Asia Tenggara pada awal pemerintahan Dinasti Ming.

Islam mulai mengalami kemunduran setelah Dinasti Ming digantikan oleh Dinasti Qing/ Manchu (1644-1911). Dinasti terakhir di China ini sikapnya kurang bersahabat terhadap kaum muslimin dan kebijakannya yang merugikan juga telah mendorong terjadinya banyak permberontakan yang dilakukan oleh masyarakat muslim di China. Pemberontakan-pemberontakan tersebut gagal dan ditindas dengan sangat keras oleh rezim Manchu. Lebih dari 2 juta Muslim diperkirakan mati terbunuh pada pertengahan abad ke-19 dan selebihnya dimarjinalkan.9

Ketika dinasti ini jatuh oleh gerakan demokrasi dan republikan yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, kaum Muslimin China merasakan keadaan yang lebih baik dan ikut memberikan kontribusi yang cukup penting. Namun, ketika komunisme berkuasa di China sejak tahun 1950, mereka kembali mengalami kemunduran dan mendapat tekanan yang luar biasa. Masjid-masjid dan para imamnya dihancurkan dan disingkirkan oleh pemerintah komunis pada masa Reformasi Keagamaan (1958) dan Revolusi Kebudayaan (1966-1976).

Liu Baojun memberi contoh bahwa di provinsi Qinghai setelah tahun 1958 hanya tersisa 8 masjid, padahal sebelumnya ada 931 masjid. Jumlah imam dan staf keagamaan di masjid-masjid pun tinggal 12 orang setelah tahun 1958, dari sebelumnya yang berjumlah 5940 orang. Pada masa Revolusi Kebudayaan, masjid dan para imam di provinsi tersebut sama sekali tidak tersisa lagi. Pelaksanaan kewajiban Islam seperti shalat lima waktu dan pergi haji tidak diizinkan. Yang terakhir ini menyebabkan muslim China mengalami keterputusan hubungan dengan negeri-negeri Muslim lainnya dan menjadikan generasi muda mereka mengalami kesenjangan dalam pemahaman Islam. Namun sejak masa pemerintahan Deng Xiaoping, keadaan muslim di China menjadi lebih baik. Keyakinan mereka serta kebebasan dalam menjalankan kewajiban keagamaan dilindungi oleh undang-undang.10

Ketegangan antara muslim dengan pemerintah komunis China memang masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, seperti yang berlaku di wilayah Xinjiang belum lama ini. Namun itu bukan berarti kaum Muslimin sama sekali tidak memiliki peluang untuk berkembang dan memajukan diri pada masa-masa yang akan datang. Islam telah hadir sejak awal keberadaannya di China dan telah menjadi bagian integral serta memberikan kontribusi yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa tersebut. Walaupun belakangan mendapat tekanan luar biasa dari rezim yang berkuasa, tetapi Islam bukan hanya masih eksis di China, tetapi juga masih memiliki jumlah penganut yang sangat besar. Sementara agama Yahudi dan Kristen Nestorian yang lebih dulu masuk ke China telah habis tak bersisa.

Kenyataan ini juga rupanya yang mendorong ketertarikan Isaac Mason, seorang misionaris di China pada awal abad ke-20, untuk menerjemahkan sebuah karya biografi tentang Nabi Muhammad yang ditulis oleh seorang ilmuwan Muslim China bernama Liu Chai-Lien atau Liu Chih. Dalam pengantarnya Mason menulis, ”Nestorianisme menghilang bak air yang merembes ke dalam pasir, meninggalkan tak satu pun pengikut di negeri ini; dan hal yang sama juga secara praktis berlaku pada komunitas Yahudi masa lalu. Apa, kemudian, dinamika dalam agama ini (Islam, pen.) yang secara tegar menolak untuk terserap oleh lingkungannya, dan secara gigih membanggakan superioritasnya terhadap seluruh sistem lainnya? Sementara sepenuhnya menyadari, dan mengakui sebab-sebab lainnya, saya percaya bahwa keperibadian sang Nabi (Muhammad, pen.), sebagaimana yang dipahami dan dipercayai oleh para pengikutnya, telah menjadi faktor yang sangat kuat dalam memelihara agama Islam.”11

Tanggung jawab terhadap perkembangan Islam di negeri tirai bambu itu tentunya bukan hanya berada di pundak masyarakat muslim China sendiri, tetapi juga masyarakat muslim di negeri-negeri lainnya, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, ketimbang melihat komunitas China di tanah air sebagai sosok-sosok yang asing, tentu akan lebih baik jika kaum muslimin Indonesia memulai interaksi yang lebih terbuka dan sungguh-sungguh dengan mereka. Tidak ada salahnya belajar dari masyarakat China, karena ada banyak hal positif dari karakter dan kebiasaan mereka yang bisa diambil oleh kaum muslimin. Dan walaupun tidak mudah, alangkah baiknya jika kaum muslimin dapat memperkenalkan Islam secara lebih tepat kepada mereka. Kalau masyarakat Barat yang memiliki sejarah konflik yang cukup panjang dengan dunia Islam pada hari ini banyak yang terdorong untuk mempelajari dan masuk Islam, mengapa masyarakat China yang tidak memiliki sejarah permusuhan dengan dunia Islam harus dianggap lebih sulit untuk merangkul Islam?

Tapi tentu saja semua itu sulit diwujudkan selama kaum muslimin sendiri masih terlalu menonjolkan ego, ketidakperdulian, serta tidak mampu menampilkan diri sebagai komunitas Islam yang baik dan ideal sebagaimana yang dikehendaki oleh agama mereka. Wallahu a’lam. [Kuala Lumpur, 9 Rabiul Awwal 1431/ 21 Februari 2010/www.hidayatullah.com]


Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia









[1] Liu Baojun, Haji Yusuf, A Glance at Chinese Muslims, an Introductive Book, Kuala Lumpur: Malaysian Encyclopedia Research Center Berhad, hlm. 53. Coba bandingkan dengan beberapa perkiraan jumlah Muslim di Cina saat ini yang terdapat di www.wikipedia.org di bawah judul ‘Islam in China.’

[2] Ibid., hlm. 5-6. Lihat juga Tien Ying Ma, Ibrahim, Perkembangan Islam di Tiongkok (diterjemahkan oleh Joesoef Sou’yb), Jakarta: Bulan Bintang, hlm. 24-27. Tien Ying Ma menyebutkan bahwa interaksi awal ini pada awalnya disebabkan kaisar China pada masa itu, Yong Hui, melibatkan dirinya dalam konflik antara Persia dan kaum Muslimin dengan memberikan bantuan bagi kaisar Persia terguling, Yezdegird, untuk memulihkan kekuasannya. Upaya Yezdegird ini gagal dan ia sendiri pada akhirnya mati terbunuh. Intervensi kekaisaran Cina inilah yang menyebabkan Khalifah Utsman mengirimkan delegasi kepada kaisar Cina sebagai teguran. Dikatakan juga bahwa delegasi pertama yang dikirim ini dipimpin oleh Sa’ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

[3] Liu Baojun, ibid., hlm. 6.

[4] Tien Ying Ma, op.cit., hlm. 31. Agama Nasrani yang masuk ke China pada masa itu adalah dari sekte Nestorian yang memang banyak menyebar ke wilayah Timur.

[5] Showket, Ibrahim, Arab Geography Till the End of the Tenth Century (disertasi), Michigan: University Microfilms International (UMI), 1987, hlm. 61-63.

[6] Liu Baojun, loc.cit., hlm. 6-7. Ibrahim Tien Ying Ma memberikan kutipan peribahasa yang sedikit berbeda tapi dengan maksud yang sama. Ia juga memberikan penjelasan yang cukup detail tentang Saidian Chi serta peranan ahli keuangan Muslim dalam menjaga stabilitas ekonomi Dinasti Yuan. Tien Ying Ma, loc.cit., hlm. 66-87.

[7] Tien Ying Ma, ibid., hlm. 65-66.

[8] Ibid., hlm. 122-135.

[9] Liu Baojun, loc.cit., hlm. 41-42.

[10] Ibid., hlm. 46-50.


[11] Liu Chai Lien, The Arabian Prophet: A Life of Mohammed from Chinese and Arabic Sources (diterjemahkan oleh Isaac Mason), Shanghai: Commercial Press, 1921, hlm. v. Buku ini ditulis oleh Liu Chai Lien dalam beberapa tahap penulisan, yang agaknya disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap sumber-sumber biografi Nabi di China, diselesaikan pada tahun 1724, dan baru bisa dicetak 55 tahun kemudian. Edisi ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Isaac Mason dan diberi pengantar oleh Samuel Zwemer, keduanya merupakan aktivis misionari Kristen ke wilayah Timur dan negeri-negeri Muslim.

http://www.hidayatullah.com/kajian-a-ib ... china.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Laurent » Tue Mar 09, 2010 10:40 am

sebenarnya Xinjiang itu milik Islam ato China
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby stanley » Wed Mar 10, 2010 10:12 pm

Xin Jiang adalah milik absolute dari The People Republic of China. :green:
stanley
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 12
Joined: Fri Jan 08, 2010 10:14 pm

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby pamandonald » Fri May 28, 2010 1:21 pm

islam emang perampok tulen, emang dah buta,
pamandonald
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 16
Joined: Thu May 27, 2010 5:46 pm

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby Laurent » Mon Aug 30, 2010 11:50 am

stanley wrote:Xin Jiang adalah milik absolute dari The People Republic of China. :green:


benar sekali , XINJIANg sudah masuk wilayah CHINA sejak jaman dinasti HAN
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5970
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: Bagian 9 : Jihad vs Cina 751M

Postby nadia ghazali » Thu Mar 03, 2011 11:31 am

Laurent wrote:stanley wrote:
Xin Jiang adalah milik absolute dari The People Republic of China.

benar sekali , XINJIANg sudah masuk wilayah CHINA sejak jaman dinasti HAN


Setuju bro Laurent and Stanley..tp masalahnya yg muslimers gak bs membedakan hal2 yg sangat basic ini

Kafir.. dgn logika yg normal itu mengerti kl mau membandingkan negara dgn negara, agama dgn agama, pengikut dgn pengikut, pemuka agama dgn pemuka agama, kucing dgn kucing, anjing poodle dgn german shepherd, Facebook dgn Friendster, Honda dgn Toyota

muslimers...campur aduk jd satu...islam lawan kafir, islam lawan kristen, islam lawan China, islam lawan Batak, islam lawan Dayak...mungkin nanti ada islam lawan Facebook, lawan Google, lawan kapal terbang... mungkin aja kan,..utk orang yg IQ jongkok semua jd gado2. All in one. yg sama hanay aulohubarbarnya...seragam dimana2
nadia ghazali
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1141
Joined: Fri Nov 19, 2010 9:48 am

Next

Return to Resource Centre: Sejarah INVASI JIHAD



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users