. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Ayat-ayat Pedang dalam Quran

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Ayat-ayat Pedang dalam Quran

Postby Fajar K » Fri Aug 04, 2006 9:01 am

AYAT-AYAT PEDANG DALAM QURAN

Bali kembali bersimbah darah. Tiga tahun lalu, 12 Oktober, Bali dikagetkan dua ledakan bom dahsyat, darah mengalir, lebih dua ratus jiwa melayang. Cukup lama Pulau Dewata murung, mencoba bangkit kembali, tertatih. Tapi begitu luka mulai mengering, begitu duka perlahan mulai sirna, tahun ini (2005), 1 Oktober (bulan yang sama), Bali terguncang lagi. Dua ledakan bom lagi. Darah lagi. Nyawa lagi. Puluhan.

Polisi, setelah memburu informasi sana-sini, setelah melancarkan penyelidikan terhadap bermacam jejak, kemudian mengumumkan wajah-wajah tersangka yang dikaitkan dengan jaringan aktivis Islam: Jamaah Islamiyah. Ada dugaan, motifnya tak jauh beda dengan Bom Bali I, tiga tahun lalu, yang pelaku-pelakunya semua muslim, terorganisasi rapi dalam jejaring gerakan atas nama perjuangan Islam.

Reaksi yang timbul bisa diduga tentu saja: berbagai kalangan Islam menampik jika dikatakan pelaku tindakan kejam itu dari kalangan Islam. Mustahil, tidak mungkin pelakunya dari Islam, kata mereka, sebab Islam agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan, sedangkan perilaku pembantaian itu sama sekali tidak mencerminkan perikemanusiaan sedikit pun. Mereka lalu memiliki kecurigaan lain: pelakunya mungkin malah tidak beragama: ateis.

Hidayat Nurwahid, mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini ketua MPR, termasuk yang tidak percaya jika pelaku bom Bali II itu dari Islam. "Kami menolak jika pelaku ledakan bom itu lagi-lagi dituduhkan kepada umat Islam." Ujarnya seperti dikutip berbagai media nasional, sehari setelah peristiwa tragis itu, di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. "Itu tidak benar. Islam tidak mengajarkan kekerasan, apalagi yang menimbulkan banyak korban meninggal." Nurwahid mengatakan pula, bukan tidak mungkin ledakan bom di Bali dilakukan orang-orang ateis, tidak beragama yang ingin mencerai-beraikan umat beragama di Indonesia.

Pernyataan Nurwahid ini, meskipun mungkin tidak tepat, sangat bisa dipahami. Di lubuk hati terdalam, Nurwahid barangkali ingin Islam tetap menjadi agama yang ramah dan damai, tidak sebaliknya: agama yang garang dan menyeramkan. Jika dia mengafirmasi keterangan bahwa pelaku bom tersebut dari Islam, dia khawatir bakal menguatkan citra Islam yang garang – sesuatu yang tidak dia kehendaki. Dan lebih celaka lagi, kalau umat Islam mempercayai pula bahwa Islam yang garang itu Islam yang sah, maka semakin buruklah akibatnya: umat Islam yang lain bisa ikut-ikutan meledakkan bom. Nurwahid paham betul akibat-akibat semacam itu.

Namun demikian, pernyataan Nurwahid, dan yang serupa, barangkali hanya efektif untuk sementara saja, untuk menenangkan umat dalam jangka pendek, tapi belum menjawab kegelisahan dan pertanyaan mendasar, yang sebenarnya tersimpan di hati umat Islam sendiri: Benarkah ajaran Islam kita sama sekali tidak membuka peluang sedikit pun pada justifikasi kekerasan? Benarkah semuanya hanya berisi ajaran-ajaran keramahan dan perdamaian? Tapi mengapa begitu banyak pelaku bom yang mengaku muslim dan bertindak atas nama Islam?

Kegelisahan-kegelisahan ini sebenarnya sudah cukup lama terpendam di lubuk sanubari umat Islam sendiri. Dari suratkabar, majalah, televisi, umat mendengar, memperhatikan, menyaksikan betapa para pelaku peledakan-peledakan sebelumnya dengan gigih meneriakkan lafaz-lafaz Islam. Umat tahu, para pelaku ini memiliki pengetahuan Islam yang cukup mendalam, bukan sekadar "muslim KTP".

Umat Islam masih mengingat Abdul Aziz, atau lebih dikenal sebagai Imam Samudra, yang di depan sidang pengadilan terang-terangan menunjukkan dalil-dalil Al-Quran maupun hadis, yang mendukung tindakannya dan kawan-kawannya meremukkan kawasan wisata Kuta, tiga tahun lalu. Begitu pula, ketika sudah divonis hukuman mati pun, Imam Samudra masih teguh dengan dalil-dalilnya. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo, 19 Oktober 2003, dia menyatakan bahwa jihad adalah satu-satunya jalan. Samudra mengutip ayat: "Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah."

Yang dikutip Samudra benar memang ayat Al-Quran, yakni surat al-Anfal (8): 39 yang bunyi aslinya: wa qaatiluuhum haattaa laa takuuna fitnah. Fitnah, lanjut Samudra sembari mengutip seorang ulama klasik terkenal bernama Ibnu Katsir, pertama berarti kemusyrikan, dan kedua, tidak menegakkan hukum Allah. Untuk mengeliminasi fitnah yang berupa dua hal itu, bagi Samudra, bukanlah dengan cara pemilihan umum, juga bukan demokrasi. "Itu konsep Barat dan yang sekarang menjadi dien atau agama baru." ujarnya. Satu-satunya jalan adalah jihad.

Jihad yang dimaksud Samudra tak lain adalah pedang, kekerasan. Menurut dia, umat Islam sekarang banyak yang pengecut karena menyembunyikan hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan sabda nabi (muhammad): Aku diutus oleh Allah menjelang hari kiamat dengan membawa pedang. "Itu hadis sahih," tandas lelaki 33 tahun ini. Samudra tidak ragu-ragu. Jihad fi sabilillah dengan pedang bagi dia, sudah merupakan kewajiban syariat.

Umat Islam se-Nusantara, bahkan mungkin sedunia, menyaksikan bahwa Samudra bukan sekadar muslim biasa, bukan "muslim KTP", dia tahu betul soal ayat dan hadis. Jadi benarkah ajaran Islam sama sekali tak membuka celah bagi kekerasan?

Azyumardi Azra, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, dalam kolomnya di sebuah harian nasional, lima hari setelah peristiwa Bom Bali II, secara bijak mengajak kaum Muslimin untuk bersama-sama melakukan muhasabah, intropeksi. Sebab, "Dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa teror," tulis Azra, "yang terjadi sejak 11 September 2001, pengeboman di Bali 12 Oktober 2002, peledakan bom di Hotel JW Mariott Jakarta 2003, pengeboman di Madrid 2004, peledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, Jakarta 2004, dan peledakan di beberapa stasiun bawah tanah London 2005 terbukti melibatkan pelaku beragama Islam."

Orang boleh menyebut mereka bukan muslim, tambah Azra, atau bahkan ateis sekalipun, tetapi faktanya tetap saja: mereka adalah orang-orang muslim, yang bahkan dengan bangga menyatakan, mereka bertindak seperti itu untuk membela Islam dan kaum muslimin.

Azra pun mengajak kaum muslimin melihat kenyataan bahwa meski dinyatakan atas nama Islam dan demi membela Islam, tindakan-tindakan pengeboman semacam itu tidaklah menolong kaum muslim, sebaliknya justru menyulitkan.

Azra mencontohkan, di Bali, pasca peledakan Kuta 2002, kaum muslim di pulau Dewata kian sulit dan tersudutkan. Sebuah penelitian tentang keadaan kaum muslimin pasca bom Kuta mengonfirmasi terjadinya peningkatan kecurigaan dan sekaligus sikap menyalahkan orang-orang Muslim secara keseluruhan.

Dalam kolom yang memang pendek tersebut, Azra tak sempat mengajak kaum muslimin untuk merenungkan teks-teks agama yang kerap diusung para pelaku pengeboman – teks-teks yang kerap disebut ayat-ayat pedang. Ayat-ayat tersebut sering mereka kutip, dan memang benar-benar ada dalam Al-Quran, bukan bikin-bikinan sendiri.

"Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah." (wa qaatiluuhum haattaa laa takuuna fitnah). Ini ayat yang dikutip Imam Samudra, yang nyata dalam surat al-Anfal (8): 39.

Ayat-ayat pedang lainnya mendapat bahasan yang panjang lebar oleh Sayyid Quthb, seorang penulis asal Mesir (1906-1966). Dalam karyanya Fi Zhilalil Quran, juga dalam al-Manhaj al-Ilahi fi Jihad al-Muthlaq, Quthb tak hanya menunjukkan ayat-ayat pedang, melainkan juga mengatakan, jihad dalam arti peperangan merupakan kewajiban yang permanen, bukan insidental atau sementara waktu saja.

"Maka hendaknya berperanglah di jalan Allah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala besar."

"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah, dan (membela) orang-orang yang lemah laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, yang semuanya berkata: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim pendudukan dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau."

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah."

Kutipan ini bersumber dari surat an-Nisa' (4) ayat 74, 75, dan 76. Ayat 74 dengan tegas menerangkan perintah untuk terjun ke medan perang, dan disediakannya pahala agung nanti di akhirat. Ayat 75 merupakan desakan agar kaum muslim segera turun gelanggang, demi membela orang-orang lemah di Makkah. Sedangkan ayat 76 menegaskan, perang seorang kafir adalah membela syaitan, tapi sebaliknya perang seorang mukmin adalah menghancurkan syaitan-syaitan itu.

Ayat-ayat di atas tidak sekadar memakai kata 'berjihadlah', melainkan 'berperanglah' (qaatiluu). Mengapa perang merupakan kewajiban permanen? Quthb menyangkalk jika kewajiban berperang bersifat sementara dan defensif (sekadar untuk mempertahankan diri). Sebab Islam, kata Quthb, bertugas untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap manusia lainnya. Sebagai gantinya, Islam harus menegakkan prinsip bahwa penghambaan hanya kepada Allah.

Artinya, di mata Quthb, adalah wajib hukumnya menghancurkan sistem pemerintahan atau kekuasaan buatan manusia. Maka itu wajarlah jika Imam Samudra menyebut demokrasi dan pemilihan umum, sebagai sistem buatan manusia, merupakan sistem kafir, sehingga manusia harus dibebaskan dari sistem ini, atau dengan bahasa lebih gamblang: sistem tersebut harus dimusnahkan.

Buat Quthb, hukum yang berhak berjaya hanyalah hukum Allah. Inil hukmu illa lillah, tiada hukum selain kepunyaan Allah – sebuah ayat yang dikutip Quthb dari surat Yusuf (12): 40. Nah, dengan demikian sepanjang Islam memproklamirkan 'yang tegak hanyalah hukum Allah', maka Islam harus memerangi segala hukum lain di luar hukum Allah. Islam tidak menunggu diserang (defensif), tetapi wajib menyerang (ofensif).

Quthb lalu menujuk sebuah ayat – yang sebagian juga dikutip Imam Samudra: "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya dien (agama, aturan) itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

"Dan jika mereka berpaling, maka ketauilah, bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong."

Ayat yang pertama, yakni al-Anfal (8): 39, dengan tegas memerintahkan perang demi tegaknya aturan atau agama Allah. Sedangkan ayat kedua, yakni al-Anfal (8): 40, memberikan stimulasi bahwa seorang muslim tidak perlu takut menyerang jika 'mereka berpaling' (orang-orang kafir tidak mau tunduk pada Islam), sebab Allah akan menjadi pelindung dan penolongnya.

Jadi, tak perlu heran jika orang-orang semacam Imam Samudra tak pernah merasa gentar sedikitpun, bahkan terhadap ancaman hukuman mati. Dengan memegang ayat ini, mereka percaya betul, Allah senantiasa menolong dan melindungi mereka.

Quthb, dalam memperteguh pendiriannya soal kewajiban berperang yang bersifat permanen, juga menghadirkan, selain ayat-ayat di atas, sejumlah ayat lain. Ayat-ayat ini memakai secara tegas kata 'perangilah' (qaatiluu) dalam bentuk kalimat perintah.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu …"

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan alkitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk."

"Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya …"

Ayat yang pertama merupakan penggalan dalam surat al-Baqarah (2): 190. Quthb sepakat, ayat ini memang mengandung perintah perang hanya terhadap mereka yang menyerang saja. Akan tetapi, bagi Quthb, dua ayat berikutnya menunjukkan perintah untuk memerangi kaum musyrikin, tanpa kecuali. Yakni surat al-Taubah (9): 29 yang menegaskan perang terhadap orang-orang tak beriman dan surat al-Taubah (9): 36 yang menandaskan instruksi tempur terhadap kaum musyrikin semuanya.

Quthb tidak sepakat dengan orang yang menyatakan perang hanya merupakan kewajiban sementara waktu dan diperintahkan kalau hanya diserang, berdasarkan surat al-Hajj (22): 39, "Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya." Bagi Quthb, sikap damai (tidak berperang) hanyalah sebuah fase sementara. Ayat izin perang ini justru menunjukkan bahwa fase damai telah usai.

Dengan mantap, Quthb mengutip kalimat Ibn Qayyim al-Jauziyyah (1292-1350 M), seorang ulama klasik terkenal, dalam Zaadul Ma'ad. Kata Ibn Qayyim: "Pada mulanya perang itu dilarang, kemudian diizinkan, kemudian diperintahkan (perang) kepada orang-orang yang lebih dahulu memerangi, dan akhirnya diperintahkan memerangi kepada semua kaum musyrik." Sebuah kalimat yang tidak melenceng seincipun dari pendirian Quthb.

Ayat-ayat pedang benar-benar ada. Bukan manipulasi oknum tertentu yang mengatasnamakan Islam. Begitu pula, pemahaman keislaman orang-orang semacam Imam Samudra tak bisa dibilang dangkal. Mereka menemukan akar-akar keyakinannya dalam ayat-ayat Al-Quran, juga pernyataan ulama-ulama pendahulu.

Membingungkan, boleh jadi. Kaum muslim sendiri, yang merindukan agamanya menjadi sumber kedamaian, barangkali sulit mempercayai: jika begitu banyak ayat Al-Quran yang menganjurkan kekerasan, lalu apa artinya Islam sebagai rahmatan lil alamin, pembawa kesejahteraan bagi seluruh alam, seluruh umat manusia, tanpa pandang bangsa, ras, jenis kelamin, bahkan agama?

Dikutip dari:
Ayat Pedang versus Ayat Merpati oleh Mujtaba Hamdi, majalah Syir’ah November 2005
User avatar
Fajar K
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 543
Joined: Sat Jul 15, 2006 10:12 am
Location: The Secret Garden

Postby Farishi » Fri Aug 04, 2006 5:58 pm

Coba perhatikan ayat yang saya tebalkan.

9:1.Pemutusan hubungan daripada Allah dan RosulNya kepada orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian dari orang musyirik.
9:2.Maka berjalanlah kamu dimuka bumi empat bulan dan ketahuilah bahwa kamu tidak melemahkan Allah. Dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir.
9:3.Dan suatu permakluman dari Allah dan RosulNya kepada manusia pada hari haji besar bahwa sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyirik dan Rosulnya maka jika kamu bertaubat maka itu lebih baik bagimu dan jika kamu berpaling maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu bukan melemahkan Allah dan beritakanlah orang-orang yang kafir dengan siksa pedih.
9:4.Kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian dari orang-orang musyirik kemudian mereka tidak mengurangi kamu sedikitpun dan mereka tidak membantu atasmu seseorang. Maka sempurnakanlah kepada mereka janji mereka sampai batas waktu mereka. Sesungguhnya Allah Dia menyukai orang-orang yang bertakwa.
9:5.Maka apabila telah habis bulan-bulan harom maka bunuhlah orang-orang musyirik dimana saja kamu jumpai mereka dan tangkaplah mereka dan kepunglah mereka dan intailah bagi mereka tiap-tiap tempat pengintaian. Maka jika mereka bertaubat dan mereka mendirikan solat dan mereka menunaikan zakat maka berilah kebebasan jalan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
9:6.Dan jika seseorang daripada orang-orang musyirik minta perlindunganmu maka lindungilah dia sehingga dia mendengar kalam Allah kemudian sampaikan dia tempat yang aman baginya. Demikian itu karena sesungguhnya mereka qaum mereka tidak mengetahui.


Bukankah selama mereka tidak memerangi kita terlebih dahulu seharusnya para kafirun dan musyrikin tidak perlu diperangi?
Ada muslim yang mau memberikan komentar tentang pendapat saya ini?
Farishi
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 31
Joined: Sat Oct 08, 2005 12:50 pm

Postby Kane » Fri Aug 04, 2006 9:06 pm

Tentu saya setuju, selama orang-orang kafir tidak berulah, maka tidak perlu memerangi mereka.
User avatar
Kane
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

Postby Farishi » Sat Aug 05, 2006 7:29 am

Perhatikan petikan ayat berikutnya.

60:8. Tidak melarang kamu Allah dari orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam diin dan mereka tidak mengusirmu dari kampung bahwa kamu berbuat baik pada mereka dan kamu berlaku adil kepda mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
60:9. Sesungguhnya hanyalah melarang kamu Allah dari orang-orang yang memerangi kamu dalam diin dan mereka mengusir kamu dari kampungmu dan mereka membantu atas mengusir kamu bahwa kamu menjadikan mereka sebagai kawan, dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan maka mereka itu mereka orang-orang yang zalim.


Adakah mungkin syaitan menyuruh manusia berbuat baik?
Farishi
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 31
Joined: Sat Oct 08, 2005 12:50 pm

Postby ali5196 » Sat Aug 05, 2006 8:00 am

Fajar, satu lagi artikelmu masuk Resource Centre. You good, man ... you good ! :wink:
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

memang islam adalah agama pedang n kekerasan!

Postby FAHRI » Sat Aug 05, 2006 8:13 am

:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol:

ya itulah islam, agama pedang n kekerasan, berapa perang yg dilakukan oleh yg mengaku2 nabinya?, berdakwah dgn membunuh!
FAHRI
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 302
Joined: Wed Jul 05, 2006 10:16 pm

Postby alpha » Sat Aug 05, 2006 8:20 am

ali5196 wrote:Fajar, satu lagi artikelmu masuk Resource Centre. You good, man ... you good ! :wink:


Pelajari dengan baik ya hehehe biar anda mengerti hehehe
alpha
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 446
Joined: Sun Jun 04, 2006 9:48 am

Postby ali5196 » Sat Aug 05, 2006 8:21 am

Kane wrote:Tentu saya setuju, selama orang-orang kafir tidak berulah, maka tidak perlu memerangi mereka.

Kafir yg nggak berulah yg gimana sih ? ELu ngatain non-muslim kafir aja, tanda ELU YANG BERULAH !! MUSLIM BELAGU !! :twisted: :twisted: Seenak jidat ontamu ngatain orang 'kafir' ... dasar agama nggak PD !!!

Tari pendet dianggap porno, non-Muslim marah kalau dibom/disiksa/dibohongi dianggap berulah ... jadi gimana sih, yang nggak berulah ?

BACA LAGI TULISAN DIATAS !! UDAH KETAHUAN AGAMA ELU BIKINAN PEDOFIL YG DEMEN DARAH ... TOBATLAH :twisted: :twisted: :twisted: BANGSAT !!!!

Kaum muslim sendiri, yang merindukan agamanya menjadi sumber kedamaian, barangkali sulit mempercayai: jika begitu banyak ayat Al-Quran yang menganjurkan kekerasan, lalu apa artinya Islam sebagai rahmatan lil alamin, pembawa kesejahteraan bagi seluruh alam, seluruh umat manusia, tanpa pandang bangsa, ras, jenis kelamin, bahkan agama?


Kasihan yah elu ... Muslim sendiri mengatakan agamanya penuh kebiadaban ... memang tinggal tunggu waktunya saja Islam AKAN MATI !!!! BARANG MUSEUM ... BARANG RONGSOKAN ... :lol: :lol: :lol: :lol:
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Sat Aug 05, 2006 8:31 am

alpha wrote:Pelajari dengan baik ya hehehe biar anda mengerti hehehe
CENGENGESAN TERUSSSSS ... kalau sanggup bantah dong artikel diatas ... Siapa yg harus 'pelajari dgn baik' hah ??? Udah ketahuan belangnya, masih nggak ngaku juga. MALUuuuuuuu dehhhhh ... :oops: :oops: :oops: :oops: :oops: :oops:
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby alpha » Sat Aug 05, 2006 8:35 am

Hehehe, bener kok artikel tersebut ngapain dibantah hehehe, ayat-ayat itu dipahami agar dapat pemahaman yang benar jangan takut MEN hehehe
alpha
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 446
Joined: Sun Jun 04, 2006 9:48 am

Postby twinz69 » Sat Aug 05, 2006 8:42 am

Ngapain dibantah ???
Bilang aje lo gak sanggup,otak lo udeh mentok !!! he he he.
twinz69
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Wed May 31, 2006 3:06 am

Postby Sashimi » Sat Aug 05, 2006 8:51 am

bukan ngga sanggup, tapi ngga ada bantahannya, atau dia emank kesenengan, biasa deeh habis bunuh, dapet stok cewe di surga

eh tapi gue suka ini ajaran di praktekin sendiri sama umat muslim buat sesama umat muslim, jangan sama nyang kafir, sebab mereka ngga berdosa
Sashimi
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3813
Joined: Sun Jul 09, 2006 8:19 am

Postby alpha » Sat Aug 05, 2006 8:59 am

Wah memang bener kok ini ayat yang yang lebih lengkap:

[2.190] Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

[2.191] Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

[2.192] Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[2.193] Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang lalim.

Saya cek di tafsir Sayid Quthb kagak ada kok kalimat yg dikutib si penulis ini "Dengan mantap, Quthb mengutip kalimat Ibn Qayyim al-Jauziyyah (1292-1350 M), seorang ulama klasik terkenal, dalam Zaadul Ma'ad. Kata Ibn Qayyim: "Pada mulanya perang itu dilarang, kemudian diizinkan, kemudian diperintahkan (perang) kepada orang-orang yang lebih dahulu memerangi, dan akhirnya diperintahkan memerangi kepada semua kaum musyrik." Sebuah kalimat yang tidak melenceng seincipun dari pendirian Quthb"

Hehehe udah baca tafsir Fi zhilalil Qur'an?? Udah paham ISLAM?? Hehehehe
alpha
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 446
Joined: Sun Jun 04, 2006 9:48 am

Postby Kane » Sat Aug 05, 2006 9:44 am

ali5196:

Kafir yg nggak berulah yg gimana sih ? ELu ngatain non-muslim kafir aja, tanda ELU YANG BERULAH !! MUSLIM BELAGU !! Seenak jidat ontamu ngatain orang 'kafir' ... dasar agama nggak PD !!!

kane:

Anda kan tidak percaya Al Qur'an, buat apa anda ribut mengenai anggapan muslim ttg orang-orang kafir?. Seharusnya sikap anda menunjukkan bahwa tidak semua orang kafir itu buruk2 amat.

Anda dan golongan anda menjelek2an Allah dan ajaranNya serta Rasulullah Muhammad SAW aja saya tidak marah2, apalagi kenal baik dgn onta, sampai2 perkataan dan otak anda sekalipun membawa2 jidat onta.


ali5196:

Tari pendet dianggap porno, non-Muslim marah kalau dibom/disiksa/dibohongi dianggap berulah ... jadi gimana sih, yang nggak berulah ?

kane:

Tanya saja pada diri anda sendiri, sebagaimana saya bertanya pada diri saya sendiri.

ali5196:

BACA LAGI TULISAN DIATAS !! UDAH KETAHUAN AGAMA ELU BIKINAN PEDOFIL YG DEMEN DARAH ... TOBATLAH BANGSAT !!!!

kane:

Itu kan Quthb, bukan Allah dan ajaranNya. Saya adalah Muslim yg tidak mempertanyakan ttg perintah Allah TuhanNya. Kalaulah saya ragu, lebih baik saya tidak mengakui diri sebagai muslim. Yah..kurang lebih jadi seperti andalah...

ali5196:

asihan yah elu ... Muslim sendiri mengatakan agamanya penuh kebiadaban ... memang tinggal tunggu waktunya saja Islam AKAN MATI !!!! BARANG MUSEUM ... BARANG RONGSOKAN ...

kane:

Bagi muslim yg beriman kepada Allah TuhanNya, ada ganjaran dariNya. Bagi muslim yg meragukan Allah, ada pula ganjaranNya.
Last edited by Kane on Sat Aug 05, 2006 9:51 am, edited 1 time in total.
User avatar
Kane
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

Postby Kane » Sat Aug 05, 2006 9:48 am

ali5196:

CENGENGESAN TERUSSSSS ... kalau sanggup bantah dong artikel diatas ... Siapa yg harus 'pelajari dgn baik' hah ??? Udah ketahuan belangnya, masih nggak ngaku juga. MALUuuuuuuu dehhhhh ...

kane:

Tidak ada yg harus dipelajari dan dibantah ttg kalimat yg memakai kata "bagi Quthb...".

Sepertinya sudah saatnya dibuat ali versi 5197.
User avatar
Kane
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

agama kekerasan

Postby FAHRI » Sat Aug 05, 2006 10:51 am

:oops: :oops: :oops: :oops: :oops: :oops: :oops: :oops: :oops:

BUAH GAK JAUH DARI POHONNYA, LIAT AJA KELAKUAN FPI, FBR, MMI YA MEMANG DIMOTIVASI OLEH alquran.
FAHRI
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 302
Joined: Wed Jul 05, 2006 10:16 pm

Postby twinz69 » Sat Aug 05, 2006 11:21 am

Awasss....si mpok kane kalo ngambek ngomongannye larinye ke biji kambing.
twinz69
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Wed May 31, 2006 3:06 am

Postby Kane » Sat Aug 05, 2006 2:41 pm

Anda jangan asal fitnah, apa orang_biasa tidak memberitahu anda kalau dia log in dgn user saya?!. Anda boleh lihat semua posting saya, tidak ada kata2 saya ttg biji2an dsb nya itu.
User avatar
Kane
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1619
Joined: Thu Jul 27, 2006 2:48 pm
Location: Bandung, Indonesia

Postby twinz69 » Tue Aug 08, 2006 8:16 am

Gw gak fitnah elo.
Elo salahin tuh si OB,die yg pake nick elo.
twinz69
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 280
Joined: Wed May 31, 2006 3:06 am

Postby Fajar K » Tue Aug 08, 2006 9:19 am

Terima kasih atas tanggapan saudara-saudara, namun yang menjadi pokok masalah sebenarnya ini:

Jihad yang dimaksud Samudra tak lain adalah pedang, kekerasan. Menurut dia, umat Islam sekarang banyak yang pengecut karena menyembunyikan hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan sabda nabi (muhammad): Aku diutus oleh Allah menjelang hari kiamat dengan membawa pedang. "Itu hadis sahih," tandas lelaki 33 tahun ini. Samudra tidak ragu-ragu. Jihad fi sabilillah dengan pedang bagi dia, sudah merupakan kewajiban syariat.

Umat Islam se-Nusantara, bahkan mungkin sedunia, menyaksikan bahwa Samudra bukan sekadar muslim biasa, bukan "muslim KTP", dia tahu betul soal ayat dan hadis. Jadi benarkah ajaran Islam sama sekali tak membuka celah bagi kekerasan?


Lalu bagaimana pendapat anda tentang pengetahuan keislaman imam samudra?

Dan bagaimana Quthb juga bisa berpendapat:

Quthb tidak sepakat dengan orang yang menyatakan perang hanya merupakan kewajiban sementara waktu dan diperintahkan kalau hanya diserang, berdasarkan surat al-Hajj (22): 39, "Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya." Bagi Quthb, sikap damai (tidak berperang) hanyalah sebuah fase sementara. Ayat izin perang ini justru menunjukkan bahwa fase damai telah usai.

Dengan mantap, Quthb mengutip kalimat Ibn Qayyim al-Jauziyyah (1292-1350 M), seorang ulama klasik terkenal, dalam Zaadul Ma'ad. Kata Ibn Qayyim: "Pada mulanya perang itu dilarang, kemudian diizinkan, kemudian diperintahkan (perang) kepada orang-orang yang lebih dahulu memerangi, dan akhirnya diperintahkan memerangi kepada semua kaum musyrik." Sebuah kalimat yang tidak melenceng seincipun dari pendirian Quthb.


Apakah anda juga meragukan pemahaman keislaman Quthb?
User avatar
Fajar K
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 543
Joined: Sat Jul 15, 2006 10:12 am
Location: The Secret Garden

Next

Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: Yahoo [Bot]