. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Asal Usul Quran

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Asal Usul Quran

Postby ali5196 » Sun Oct 23, 2005 4:54 am

Asal Usul Quran
http://www.debate.org.uk/topics/books/o ... koran.html

Ini adalah ringkasan dari "This is a summary of The Origins of The Koran: Classic Essays on Islam's Holy Book", edited by Ibn Warraq (Prometheus Books: Amherst, New York. 1998). Ibn Warraq telah memberi koleksi berharga dari studi-studi kritikal paling penting tentang Quran dalam beberapa abad terakhir. Essei-essei bacaan dasar bagi semua orang yang mempelajari Quran. Mereka mengungkapkan banyak area di mana area studi baru diperlukan dan sekaligus juga memberi dasar yang bagus dalam materi yang tersedia bagi kita baik dari dalam tradisi Islam sendiri maupun dari sumber non-Muslim. Ibn Warraq sendiri memberi diskusi yang sangat membantu tentang status riset modern, dan bagian-bagian tentang pengumpulan, variasi-variasi dan sumber-sumber Quran mengandung essei dari cendekiawan2x seperti Arthur Jeffery and St. Clair-Tisdall. Diharapkan (diperkirakan) kritisi seperti ini akan langsung dikecam oleh kebanyakan pembaca Muslim, tetapi akan mengandung banyak informasi bagi pelajar sejarah agama.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Penyusunan Mushaf Al Qur'an

Postby SweetMind » Fri Nov 18, 2005 9:58 pm

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.


Pengumpulan Qur`an dalam Arti Penulisannya pada Masa Nabi
Rasullullah telah mengangkat para penulis wahyu Qur`an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, `Ubai bin K`ab dan Zaid bin Sabit, bila ayat turun ia memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati. Disamping itu sebagian sahabatpun menuliskan Qur`an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit: Kami menyusun Qur`an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang.

Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menulis Qur`an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut. Dan denagn demikian, penulisan Qur`an ini semakin menambah hafalan mereka.

Jibril membacakan Qur`an kepada Rasulullah pada malam-malam bulan ramadan setiap tahunnya Abdullah bin Abbas berkata: `Rasulullah adalah orang paling pemurah, dan puncak kemurahan pada bulan ramadan, ketika ia ditemui oleh jibril. Ia ditemui oleh jibril setiap malam; jbril membacakan Qur`an kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh jibril it ia sangat pemurah sekali.

Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur`an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.

Tulisan-tulisan Qur`an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka`ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas`ud telah menghafalkan seluruh isi Qur`an dimasa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur`an dihadapan Nabi, diantara mereka yang disebutkan diatas.

Rasulullah berpulang kerahmatullah disaat Qur`an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan diatas; ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf. Tetapi Qur`an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyuruh (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang manasih (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur`an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata (pada masa Nabi) Qur`an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi. Az-zarkasyi berkata: `Qur`an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur`an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.`

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang mengatakan: `Rasulullah telah wafat sedang Qur`an belum dikumpulkan sama sekali.` Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf. Al-Katabi berkata: ` Rasulullah tidak mengumpulkan Qur`an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar

Pengumpulan Qur`an dimasa Nabi ini dinamakan : a) penghafalan, dan b) pembukuan yang pertama.

IV. Pengumpulan Qur`an pada Masa Abu Bakar


Abu Bakar menjalankan urusan islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Qur`an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Qur`an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qarri`.

Disegi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan ditempat-tempat lain akan membunuh banyak qari` pula sehingga Qur`an akan hilang dan musnah, Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umartersebut, kemudian Abu Bakar nenerintahkan Zaid bin Sabit, mengingat kedudukannya dalam qiraat , penulisan pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Qur`an itu. Zaid bin Sabit melalui tugasnya yang berat ini dengan bersadar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran ( kumpulan) itu disimpan ditangan Abu Bakar. Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaran-lembaran itu berpindah ke tangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah ketangan Hafsah putri Umar. Pada permulaan kekalifahan Usman, Usman memintanya dari tangan Hafsah.

Zaid bin Sabit berkata: Abu Bakar memanggilku untuk menyampaikan berita mengenai korban perang Yamamah. Ternyata Umar sudah ada disana. Abu Bakar berkata : `Umar telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa perang yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan qurra ; dan ia khawatir kalau-kalau terbunuhnya para qurra itu juga akan terjadi ditempat-tempat lain, sehingga sebagain besar Qur`an akan musnah. Ia menganjurkan agar aku memetrintahkan seseorang untuk menguimpulkan Qur`an. Maka aku katakan kepadanya, bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ? tetapi Umar menjawab: dan bersumpah, demi Allah, perbuatan tersebut baik. Ia terus menerus membujukku sehingga Allah membukakan hatiku untuk menerima usulannya, dan akhirnya aku sependapat dengan Umar.` Zaid berkata lagi: `Abu Bakar berkata kepadaku: ` Engkau seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan kemammpuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Oleh karena itu carilah Qur`an dan kumpulkanlah.` `Demi Allah`, Kata Zaid lebih lanjut`, ` sekiranya mereka memintaju untuk memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku dari pada perintah mengumpulkan Qur`an. Karena itu aku menjawab: ` Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tridak pernah dilakukan oleh Rasulullah ? Abu Bakar menjawab: `demi Allah itu baik, Abu Bakar tetap membujukku sehingga Allah membukakan hatiku sebagaimana ia telah membukakan hati Abu Bakar dan Umar. Maka akupun mulai mencari Qur`an. Kukumpulkan ia dari pelepah kurma, dari keping-kepingan batu, dan dari hafalan para penghafal sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surah taubah berada pada Abu Huzaimah al-Anshari; yang tidak kudapatkan pada orang lain, sesungguhya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri… himgga akhir surah. Lembaran-lembaran ( hasil kerjaku) tersebut kemudian disimpan ditangan Abu Bakar higga wafatnya. Sesudah itu berpindah ketangan Umar sewaktu masih hidup, dan selanjutnya berada ditangan Hafsah binti Umar.`

Zaid bin Sabit bertindak sangat teliti, hati-hati. Ia tidak mencukupkan pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Kata-kata Zaid dalam keterangan diatas: `Dan aku dapatkan akhir surah at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari; yang tidak aku dapatkan pada orang lain.` Tidak menghilangkan arti keberhati-hatian tersebut dan tidak pula berari bahwa akhir surah Taubah itu tidak mutawatir. Tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak mendapat akhir surah Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah. Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya. Perkataan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan, jadi akhir surah Taubah itu telah dihafal oleh banyak sahabat. Dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Ansari.

Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan : ` Umar datang lalu berkata: `Barang siapa menerima dari Rasulullah sesuatu dari Qur`an, hendaklah ia menyampaikannya.` Mereka menuliskan Qur`an itu pada lembaran kertas , papan kayu dan pelepah kurma. Dan Zaid tidak mau menerima dari Qur`an mengenai seseorang sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Ini menunjukkan bahwa Zaid tidak merasa puas hanya dengan adanya tulisan semata sebelum tulisan itu disaksikan oleh orang yang menerimanya secara pendengaran (langsung dari Rasul), sekalipun Zaid sendiri hafal. Ia bersikap demikian ini karena sangat berhati-hati. Dan diriwayatkan pula oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid: `Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah.` Para perawi hadis ini orang-orang terpercaya, seklaipun hadis tersebut munqati,(terputus). Ibn Hajar mengatakan: `Yang dimaksudkan dengan dua orang saksi adalah hafalan dan catatan.`

As-Sakhawi menyebutkan dalam Jamalul qurra, yang dimaksdukan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah; atau dua orang saksi iti menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan itu Qur`an diturunkan. Abu Syamah berkata: `Maksud mereka adalah agar Zaid tidak menuliskan Qur`an kecuali diambil dari sumber asli yang dicatat dihadapan Nabi, bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu Zaid berkata tentang akhir surah Taubah, `aku tidak mendapatkannya pada orang lain,` sebab ia tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanya catatan.`

Kita sudah mengetahui bahwa Qur`an sudah tercatat sebelum masa itu, yaitu pada masa Nabi. Tetapi masih berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu Qur`an diturunkan. Dengan demikian Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan Qur`an dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, disamping terdapat pula mushaf-mushaf pribadi pada sebagian sahabat, seperti mushaf Ali, Ubai dan Ibn Mas`ud. Tetpi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara-cara diatas dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Juga tidak dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak dimansuk dan secara ijma` sebagaimana mushaf Abu Bakar. Keistimewaan-keistimewaan ini hanya ada pada himpunan Qur`an yang dikerjakan Abu Bakar. Para ulama berpendapat bahwa penamaan Qur`an dengan `mushaf` itu baru muncul sejak saat itu, disaat Abu Bakar mengumpulkan Qur`an. Ali berkata: `Orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Semoga Allah mel;impahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar. Dialah orang yang pertama mengumpulkan kitab Allah.`


V. Pengumpulan ini dinamakan pengumpulan kedua. Pengumpulan Qur`an pada Masa Usman

Penyebaran islam bertambah dan para Qurra pun tersebar di berbagai wilayah, dan penduduk disetiap wilayah itu mempelajari qira`at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qiraat) Qur`an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan `huruf ` yang dengannya Qur`an diturunkan. Apa bila mereka berkumpul disuatu pertemuan atau disuatu medan peperangan, sebag ian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini.terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan mnimbulkan saling bertentangan bila terus tersiar. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.

Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Qyr`an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing memepertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qiraat pada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh, sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf.

Usman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Usman memmanggil Zaid bin Sabit al-Ansari, Abdullah bin Zubair, Said bin `As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam. Ketiga orang terkahir ini adalah orang quraisy, lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang quraisy itu ditulis dalam bahasa quraisy, karena Qur`an turun dengan logat mereka.

Dari Anas : `Bahwa Huzaifah bin al-Yaman datang kepada Usman, ia pernah ikut berperang melawan penduduk Syam bagian armenia dan azarbaijan bersama dengan penduduk Iraq, Huzaifah amat terkejut dengan perbedaan mereka dalam bacaan, lalu ia berkata kepada Usman `selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana peerselisihan orang-orang yahudi dan nasrani.` Usman kemudian mengirim surat kepada Hafsah yang isinya; `sudilah kiranya anda kirimkan lemgbaran-lembaran yang berisi Qur`an itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan mengembalikannya.` Hafsah mengirimkannya kepada Usman, dan Usman memerintahkan Zaid bin Sabit , Abdullah bin Zubair, Sa`ad bin `As dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk menyalinnya.mereka pun menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Usman berkata kepada ketiga orang quraisy itu:

`bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Sabit tentang sesuatu dari qur`an, maka tulislah dengan logat quraisy karena qur`an diturunkan dengan bahsa quraisy.`

Mereka melakukan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Usman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Kemudian Usman mengirimkan kesetiap wilayah mushaf baru tersebut dan memerintahkan agar semua Qur`an atau mushaf lainnya dibakar. Zaid berkata: `Ketika ami menyalin mushaf, saya teringat akan satu ayat dari surah al-Ahzab yang pernah aku dengar dibacakan oleh Rasulullah;maka kami mencarinya, dan aku dapatkan pada Khuzaimah bin Sabit al-Ansari, ayat itu ialah`

`Di antara orang-orang mu`min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah….`(al-Ahzab:23)

lalu kami tempatkan ayat ini pada syrah tersebut dalam mushaf.`

Berbagai `Asar atau keterangan para sahabat menunjukkan bahwa perbedaan cara membaca itu tidak saja mengejutkan Huzaifah, tetapi juga mengejutkan para sahabat yang lain. Dikatakan oleh Ibn Jarir : `Ya`kub bin Ibrahim berkata kepadaku: Ibn `Ulyah menceritakan kepadaku: Ayyub mengatakan kepadaku: bahwa Abu Qalabah berkata: pada masa kekahlifahan Usman telah terjadi seorang guru qiraat mengajarkan qiraat seseorang, dan guru qiraat lain mengajarkan qiraat pada orang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat itu suatu ketika bertemu dan mereka berselisih, dan hal demikian ini menjalar juga kepada guru-guru tersebut.` Kata A yyub: aku tidak mengetahui kecuali ia berkata: `sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraat itu,` dan hal itu akhirnya sampai pada khalifah Usman. Maka ia berpidato: `Kalian yang ada dihadapanku telah berselisih paham dan salah dalam membaca Qur`an. Penduduk yang jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai sahabat-sahabat Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur`an pedoman) saj !` Abu Qalabah berkata: Anas bin Malik bercerita kepadaku, katanya : `aku adalah salah seorang diantara mereka yang disuruh menuliskan ,`kata Abu Qalanbah: Terkadang mereka berselisih tentang satu ayat, maka mereka menanyakan kepada seseorang yang telah menerimnya dari Rasulullah. Akan tetapi orang tadi mungkin tengah berada diluar kota, sehingga mereka hanya menuliskan apa yang sebelum dan yang sesudah serta memniarkan tempat letaknya, sampai orang itu datang atau dipanggil. Ketika penulisan mushaf telah selesai, Kahlifah Usman menulis surat keapada semua penduduk daerah yang sisinya: `Aku telah melakukan yang demikian dan demikian. Aku telah menghapuskan apa yang ada padaku, maka hapuskanlah apa yang ada padamu.`

Ibn Asytah meriwayatkan melalui Ayyub dari Abu Qalabah , keterangan yang sama. Dan Ibn Hajar menyebutkan dalam al-Fath bahwa Ibn Abu Daud telah meriwayatkannya pula melalui Abu Qalabah dalam al-Masahif.

Suwaid bin Gaflah berkata: `Ali mengatakan: `Katakanlah segala yang baik tentang Usman. Demi Allah apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Qur`an sudah atas persetujuan kami. Usman berkata : `bagaimana pendapatmu tentang qiraat in ? saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qiraatnya lebih baik dari q iraat orang lain. Ini telah mendekati kekafiran. Kami berkata : `bagaimana penadapatmu ? ia menjawab : ` aku berpendapat agar manusia bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan, kami berkata : baik sekali pendapatmu itu.`

Keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Usman itu telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf Qur`an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiraat. Dan Usman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafsah, lalu dikirimkannya pula pada setiap wilayah yaitu masing-masing satu mushaf. Dan ditahannya satu mushaf untuk dimadinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal dengan nama `mushaf Imam`. Penamaan mushaf itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat dimana ia mengatakan: ` Bersatulah wahai umat-umat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur`an pedoman).` Kemudian ia memerintahkan untuk membakar mushaf yang selain itu. Umatpun menrima perintah dengan patuh, sedang qiraat dengan enam huruf lainnya ditingalkan. Keputusan ini tidak salah, sebab qiraat dengan tujuh huruf itu tidak wajib. Seandainya Rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa qiraat dengan tujuh huruf itu termasuk dalam katergori keringanan. Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut secara mutawatir dan inilah yang terjadi.

Ibn Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah dilakukan oleh Usman: `Ia menyatukan umat islam dengan satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain disobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf ` berlainan `dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut, umatpun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa dengan bagitu Usman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana. Meka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya.sesuai dengn permintaan pemimpinnya yang adil itu; sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya. Dengan demikian segala qiraat yang lain sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tidak ada. Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ketujuh huruf itu dan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya.tetapi hal itu bagi kebaikan kaum muslimin itu sendiri. Dan sekarang tidak ada lagi qiraat bagi kaum muslimin selain qiraat dengan satu huruf yang telah dipilih olah imam mereka yang bijaksana dan tulus hati itu. Tidak ada lagi qiraat dengan enam huruf lainya.

Apa bila sebagian orang lemah pengetahuan berkata : Bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan pula membaca dengan cara itu ? maka jawabnya ialah : `Sesungguhnya perintah Rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukkan wajib dan fardu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan (rukshah). Sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajibpula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya, bertianya harus pasti dan keraguan harus dihilangkan dari para qari. Dan karena mereka tidak menyampaikan hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikan Qur`an dikalangan umat yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ketujuh huruf itu.

Jika memang demikian halnya maka mereka tidak dipandang telah meninggalkan tugas menyampaikan semua qiraat yangv tujuh tersebut, yang menjadi kewajigan bagi mereka untuk menyampaikannya. Kewajiban mereka ialah apa yang sudah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan tersebut ternyatasangat berguna bagi islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka sendiri lebih utama dari pada melakukan sesuatu yang malah akan lebih merupakan bencana terhadap islam dan pemeluknya dari pada menyelamatkannya.`



VI. Perbedaan antara Pengumpulan Abu Bakar dengan Usman

Dari teks-teks diatas jelaslah bahwa pengumpulan (mushaf oleh) Abu Bakar berbeda dengan pengumpulam yang dilakukan Usman dalam motif dan caranya. Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Qur`an karena banyaknya para huffaz yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban dari para qari. Sedang motif Usman dalam mengumpulkan Qur`an ialah karena banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca Qur`an yang disaksikannnya sendiri didaerah-daerah dan mereka saling menyalahkan antara satu dengan yang lain.

Pengumpulan Qur`an yang dilakukan Abu Bakar ialah memindahkan satu tulisan atau catatan Qur`an yang semula bertebaran dikulit-kulit binatang, tulang, dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya serta terbatas dengan bacaan yang tidak dimansukh dan tidak mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketika Qur`an itu diturunkan.

Sedangkan pengumpulan yang dilakukan Usman adalah menyalinnya menjadi satu huruf diantar ketujuh huruf itu, untyuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya. Ibnut Tin dan yang lain mengatakan: `Perbedaan antara pengumpulan Abu Bakar dan Usmanialah bahwa pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar disebabkan oleh kekawatiran akan hilangnya sebagian Qur`an karena kematian para penghafalnya, sebab ketika itu Qur`an belum terkumpul disatu tempat. Lalu Abu Bakar mengumpulkannya dalam lembaran-lembaran dengan menertibkan ayat-ayat dan surahnya. Sesuatu dengan petunjuk Rasulullah kepada mereka. Sedang pengumpulam Usman sebabnya banyaknya perbedaan dalam hal qiraat, sehingga mereka membacanya menurut logat mereka masing-masing dengan bebas dan ini menyebabkan timbulnya sikap saling menyalahkan, karena kawatir akan timbul bencana , Usman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu dalam satu mushaf dengan menertibkan surah-surahnya dan membatasinya hanya pada bahasa quraisy saja dengan alasan bahwa qur`an diturunkan dengan bahasa mereka (quraisy). Sekalipun pada mulanya memang diizinkan membacanya dengan bahasa selain quraisy guna menghindari kesulitan. Dan menurutnya keperluan demikian ini sudah berakhir, karena itulah ia membatasinya hanya pada satu logat saja. Al-Haris al-Muhasibi mengatakan: `Yang masyhur dikalangan orang banyak ialah bahwa pengumpul Qur`an itu Usman. Pada hal sebenarnya tidak demikian, Usman hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat, itupun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir dihadapannya.serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat. Sebelum itu mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana Qur`an diturunkan. Sedang yang lebih dahulu mengumpulkan Qur`an secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakar as-Sidiq.` .

Dengan usahanya itu Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga isi Qur`an dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan kepada Usman ke berbagai daerah :

a . Ada yang mengatakan bahwa jumlahnya tujuh buah mushaf yang dikirimkan ke Mekkah, Syam Basyrah, Kuffah, Yaman, Bahrain, dan Madinah. Ibn Abu Daud mengatakan: `Aku mendengar Abu Hatim as-Sijistani berkata: `telah ditulis tujuh buah mushaf, lalu dikirimkan ke Mekkah, Syam, Basyrah, Kuffah, Bahrain, Yaman dan sebuah ditahan di Madinah.`

b . Dikatakan pula bahwa jumlahnya ada empat buah masing-masing dikirimkan ke Iraq, Syam,Mesir dan Mushaf Imam, atau dikirimkan ke Kuffah, Basyrah, Syam dan mushaf Imam berkata Abu `Amr ad-Dani dalam al-Muqni.` `sebagian besar ulama berpendapat bahwa ketika Usman menulis Mushaf, ia membuatnya sebanyak empat buah salinan dan ia kirimkan kesetiap daerah masing-masing satu buah: ke Kufah , Basyrah, Syam dan ditinggalkan satu buah untuk dirinya sendiri.`

c . Ada juga yang mengatakan bahwa jumlahnya ada lima. As-Suyuti berkata bahwa pendapat inilah yang masyhur.

Adapun lembaran-lembaran yang dikembalikan kepada Hafsah, tetap berada ditangannya hingga ia wafat, setelah itu lembaran-lembaran tersebut dimusnahkan, dan dikatakan pula bahwa lembaran-lembaran tersebut diambil oleh Marwan bin Hakam lalu dibakar.

Mushaf-mushaf yang ditulis oleh Usman itu sekarang hampir tidak ditemukan sebuah pun juga. Keteranagn yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir dalam kitabnya Fadhailul Qur`an menyatakan bahwa ia menemukan satu buah diantaranya di masjid Damsyik di Syam. Mushaf itu ditulis pada lembaran yang -menurutnya terbuat dari kulit unta. Dan diriwayatkannya pula mushaf Syam ini dibawa ke Inggris setalah beberapa lama berada ditangan kaisar rusia di perpustakaan Leningrad. Juga dikatakn pula bahwa mushaf itu terbakar dalam masjid Damsyik pada tahun 1310 H.

Pengumpulan Qur`an oleh Usman ini disebut dengan pengumpulan ketiga yang dilaksanakan pada 25 H.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
User avatar
SweetMind
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 36
Joined: Wed Oct 12, 2005 9:10 pm

Pengumpulan Al-Qur'an Menurut Sumber Kristen (Revised)

Postby vivaldi » Tue Dec 27, 2005 8:49 pm

PENGUMPULAN AL-QUR’AN MENURUT SUMBER KRISTEN

Selama ini dunia muslim hanya disuguhkan satu versi mayoritas pengumpulan Al-Qur’an melalui hadis sahih Bukhari.
Versi Bukhari (816 M – 870 M) tertulis dalam 2 hadis, dimana hadis pertama menempatkan pengumpulan awal oleh khalifah Abu Bakar (Volume 006, buku 061, Hadis nomor 509) dan pengumpulan dan penulisan ulang kedua oleh khalifah Usman (Volume 006, buku 061, hadis nomor 510.)
Sangat menarik karena sebetulnya dari sumber Kristen ternyata telah lebih dahulu menuliskan pengumpulan Al-qur’an dengan variasi yang sedikit berbeda. Sang penulis adalah AL-KINDI.

Kehidupan Al-Kindi.
Sumber :
Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam
DR. Th van den End dan DR. Christiaan de Jonge
UPI STT, 2003, halaman 58


Mengenai pribadi dan kehidupan Al-Kindi kita tidak tahu banyak. Sangat mungkin ia adalah seorang Nestorian …. Ia hidup sekitar tahun 800. Dengan Al-Hasyimi, seorang teman berbangsa Arab dan beragama Islam, Al-Kindi mengadakan surat menyurat mengenai persoalan agama …

Dalam bukunya The Apology of Al-Kindi yang ditulis tahun 830 M, pertama kalinya dituliskan tentang pengumpulan al-Qur’an oleh Usman dan Zaid bin Tsabit.
Bahkan lebih jauh lagi Al-Kindi menuliskan tentang penyusunan kemudian oleh Al-Hajjaj.
Kutipan-kutipan diambil dari sumber berikut ini :
THE APOLOGY OF AL KINDY
WRITTEN AT THE COURT OF AL MÂMÛN
(Circa A.H. 215; A.D. 830),
Terjemahan oleh William Muir, 1887
Bab : The Coran, Materials and Mode of Collection


Disebutkan bahwa Muhammad SAW meninggalkan satu copy Al-Qur’an dalam tangan Ali.
Sumber :
Ibid, halaman 71

But the Jews had already succeeded in tampering with the text of the Coran which Mahomet had left in Aly's hands,

Namun orang-orang Yahudi telah berhasil mendistorsi teks Al-Qur’an yang oleh Muhammad telah diberikan kepada Ali.


Kisah serupa dimana Muhammad SAW meninggalkan teks Al-Qur’an kepada Ali terekam dalam sumber berikut.
Az-Sanjani, Tarikh, p 66

Diriwayatkan bahwa nabi SAW pernah berkata kepada Ali : “Hai Ali, al-Qur’an ada dibelakang tempat tidurku, (tertulis) di atas suhuf, sutera dan kertas. Ambil dan kumpulkanlah. ……… Ali menuju ketempat itu dan membungkus bahan-bahan tersebut dengan kain berwarna kuning

Al-Kindi tidak mencatat adanya kisah tentang penyusunan awal oleh Abu Bakar, Umar dan Zaid bin Tsabit. Dalam kitab sahihnya Volume 006, buku 061, Hadis nomor 509, Bukhari memang menambahkan satu kisah pengumpulan yang dilakukan oleh Abu Bakar yang merasa khawatir tentang hilangnya Al-Qur’an akibat meninggalnya banyak muslim dalam pertempuran Yamama. Namun sangat mungkin kisah ini adalah kisah palsu yang ditambahkan untuk memberikan legitimasi mushaf Usman yang seolah-olah telah disusun hanya sekitar 2 tahun setelah meninggalnya Muhammad SAW.

Keabsahan cerita-cerita pengumpulan oleh Abu Bakar, Umar dan Zaid bin Tsabit memang sangat meragukan. Cerita tentang keterlibatan mereka dalam pengumpulan Qur’an tidak pernah muncul dalam tulisan sebelum sekitar tahun 850 an M (sekitar 220 tahun setelah nabi SAW meninggal). Sebagai contoh :
• Cerita keterlibatan Abu Bakar, Umar dan Zaid tidak ada dalam kitab Tabaqat karya Ibn Sa’d (meninggal 845 M) dalam bagian yang membahas tentang Abu Bakar, Umar dan Zaid. Mustahil jika Ibn Sa’d tidak menuliskan keterlibatan mereka dalam pengumpulan jika hal itu memang terjadi.
• Cerita keterlibatan Abu Bakar, Umar dan Zaid juga tidak muncul dalam Musnad Ahmad bin Hanbal (meniggal 855 M) yang telah mengumpulkan begitu banyak laporan tentang jasa-jasa para sahabat nabi.

Laporan Al-Kindi langsung menyebutkan tentang munculnya perbedaan bacaan antara komunitas muslim dalam era Usman.
Sumber :
Ibid, halaman 73

"Then the people fell to variance in their reading. Some read according to the version of Aly ………... A party read according to the text of Ibn Masûd, following the saying of thy Master,—'Whosoever would read the Coran in its pristine purity and freshness, let him read after Ibn Omm Mabad'; and he used to repeat it over to him (Mahomet) once every year, and in the year he died, twice. And, yet again, some read after Obey ibn Kab, following thy Master's word,—'The best reader amongst you all is Obey.

Kemudian orang-orang mulai berbeda dalam pembacaan mereka. Beberapa mengikuti versi Ali ….. Satu golongan mengikuti text dari ibn Masud, mengikuti apa yang dikatakan Rasulullah – ……… Dan bahkan beberapa membaca mengikuti Ubay bin Kaab ……..


Kisah ini mirip dengan laporan Bukhari Volume 006, buku 061, hadis nomor 510 yang menyebutkan tentang perbedaan bacaan antara pasukan dari Syam dan dari Irak.

Disebutkan Usman kemudian menuliskan ulang Al-qur’an melalui Zaid bin Tsabit dan menolak Al-Qur’an versi Ali. Ibn Mas’udpun dilaporkan menolak menyerahkan mushafnya untuk dimusnahkan dan akibatnya dia dicopot dari jabatannya.
Sumber :
Ibid, halaman 74.

When this was represented to Othmân, and the danger urged of division, strife, and apostacy, he thereupon caused to be collected together all the leaves and scraps that he was able, together with the copy that was written out at the first. But they did not interfere with that which was in the hands of Aly, or of those who followed his reading. Obey was dead by this time. As for Ibn Masûd, they demanded his exemplar, but he refused to give it up, and so Abu Mûsa was appointed governor of Kufa in his room.2 Then they commanded Zeid ibn Thâbit, and with him Abdallah ibn Abbâs (others say Mohammed, son of Abu Bekr), to revise and correct the text, eliminating all that was corrupt

Ketika hal ini disampaikan kepada Usman, dan bahaya tentang perbedaan itu, konflik dan kekafiran, dia kemudian memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an dari daunan dan bahan apapun yang dapat dikumpulkan, bersamaan dengan copy yang ditulis pertama kali. Tetapi mereka tidak menggunakan mushaf yang ada ditangan Ali, dan mereka yang mengikuti bacaan Ali. Ubay telah meninggal saat itu. Sementara tentang Ibn Masud, mereka meminta mushafnya, namun dia menolak menyerahkannya, sehingga Abu Musa kemudian dikirim sebagai gubernur Kufa menggantikannya. Kemudian mereka memerintahkan Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas (yang lain menyebutkan Muhamamd, anak Abu Bakr) untuk merevisi dan mengkoreksi text, membuang semua yang salah.


Kemudian dibuatlah 4 copy, namun 3 diantaranya musnah. Ditulis juga upaya Usman memusnahkan semua mushaf lainnya.
Sumber :
Ibid, halaman 74 - 75

When the recension was completed, four exemplars were written out in large text, and one sent to Mecca, and another to Medina. The third was despatched to Syria, and is to this day at Malatia (Melitene). The copy at Mecca remained there till the city was stormed by Abu Sarâya (that is, the last time the Kaaba was sacked, A.H. 200); he did not carry it away ; but it is supposed to have been burned in the conflagration. The Medina exemplar was lost in the reign of terror, that is, in the days of Yezîd ibn Muâvia. The fourth exemplar was deposited in Kûfa, then the centre of Islam and home of the Companions of the Prophet. People say that this copy is still extant there; but this is not the case, for it was lost in the insurrection of Mukhtâr. "After what we have related above, Othmân called in all the former leaves and copies, and destroyed them, threatening those who held any portion back ….

Ketika penulisan selesai, 4 eksemplar ditulis dengan teks yang besar dan satu dikirim ke Mekah dan satu ke Medinah. Yang ketiga dikirim ke Syria dan sekarang berada di Malatia. Copy yang diMekah tetap berada disana hingga kota diserbu oleh Abu Saraya, dia tidak membawanya namun tampaknya telah terbakar dalam kekacauan. Mushaf di Medina hilang saat periode kekacauan, yaitu pada saat Yazid ibn Muawiya. Mushaf ke empat dikirim ke Kufa yang kemudian menjadi pusat Islam dan tempat tinggal sahabat-sahabat Rasulullah. Masyarakat menyatakan bahwa mushaf itu masih disana, namun sesungguhnya mushaf sudah hilang pada saat terjadi pemberontakan oleh Mukhtar.Kemudian Usman memerintahkan semua salinan yang lain dikumpulkan dan memusnahkannya, mengancam siapapun yang masih menyimpannya ….


Kemudian dituliskan peranan al-Hajaj yang mengrang Al-Qur’an yang baru dan menuliskan 6 salinan untuk disebarkan, serta memusnahkan lagi untuk kedua kalinya salinan-salinan al-Qur’an sebagaimana telah dilakukan oleh Usman.
Sumber :
Ibid, halaman 77

“Then followed the business of Hajjâj ibn Yûsuf, who gathered together every single copy he could lay hold of, and caused to be omitted from the text a great many passages. Amongst these, they say, were verses revealed concerning the House Omeyya with the names of certain, and concerning the House of Abbâs also with names. Six copies of the text thus revised were distributed to Egypt, Syria, Medina, Mecca, Kufa, and Bussora. After that he called in and destroyed all the preceding copies, even as Othmân had done before him.

Kemudian muncul persoalan Hajaj ibn Yusuf, yang mengumpulkan semua mushaf yang dapat dia kumpulkan, dan menghilangkan banyak ayat-ayat darinya. ……… Enam teks (mushaf) yang telah direvisi didistribusikan ke Mesir, Syria, Medina, Mekah, Kufa dan Basrah. Setelah itu dia mengumpulkan dan memusnahkan semua mushaf yang masih ada, sama seperti yang telah dilakukan Usman.


Tulisan Al-Kindi ini diperkuat oleh tulisan dari Ibn Abu Dawud (817 M – 889 M) yang melaporkan adanya perubahan kemudian terhadap mushaf Usman yang dilakukan oleh Al Hajjaj Ibn Yusuf Al-Thakafi, yang hidup 660 – 714 M, seorang guru bahasa Arab di Taif. Dia kemudian bergabung dengan militer dan menjadi seorang yang sangat berpengaruh saat kekuasaan kalifah Abd al-Malik Ibn Marwan dan Al-Waleed Ibn Abd al-Malik.
Sumber “
Ulum Al-Qur’an,
Ahmad von Denffer,
The Islamic Foundation, 1994, halaman 56 :


“ACCORDING TO IBN ABI DAWUD ELEVEN CHANGES WERE MADE UNDER AL-HAJJAJ. THESE ARE AGAIN ACCORDING TO IBN ABI DAWUD, MISTAKES WHICH WERE MADE IN THE PREPARATION OF 'UTHMAN'S COPY."

"Menurut Ibn Abi Dawud sebelas perubahan dibuat oleh Al-Hajjaj. Perubahan-perubahan ini menurut Ibn Abi Dawud, kesalahan-kesalahan yang dibuat dalam persiapan pembuatan mushaf Usman


Laporan Al-Kindi juga menjelaskan bahwa salinan Usman telah musnah dan yang ada pada saat itu adalah salinan dari Hajjaj ibn Yusuf. Ini menjelaskan kenapa tidak ada mushaf asli Usman yang selamat sampai pada era modern sekarang ini.
Sumber-sumber berikut mengkonfirmasikan tidak adanya mushaf asli Usman.
Sumber :
Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an
DR. Subhi as Shalih
Pustaka Firdaus, April 2001, hal 101


Dimanakah mushaf salinan Usman saat ini?. Sampai sekarang pertanyaan seperti itu belum dapat dijawab secara memadai. Dekorasi dan gambar-gambar yang memisahkan satu surah dari surah lain atau yang menandai setiap sepersepuluh juz menunjukkan bahwa mushaf pustaka kuno yang dewasa ini berada di didalam perpustakaan nasional di Kairo bukanlah mushaf salinan Usman mengingat bahwa salinan Usman tidak ada hal-hal semacam itu.

Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an
Taufik Adnan Amal
FKBA, Agustus 2001, halaman 205 – 206


Terdapat sebuah manuskrip al-Qur’an yang disimpan di masjid al Husain di Kairo. Mushaf ini dinisbatkan kepada Usman dan ditulis dengan tulisan Kufi kuno. Tetapi bisa dikemukakan bahwa naskah tersebut merupakan salinan dari mushaf Usman (Ahmad Adil Kamal, Ulum al-Qur’an, Kairo, 1974 hal. 56). Semisal dengannya adalah manuskrip yang tersimpan di Tashkent ………….
Sejumlah kesimpang siuran tentang mushaf-mushaf utsmani ini pada gilirannya mengantarkan sejumlah sarjana muslim pada keyakinan bahwa naskah-naskah tersebut telah hilang tanpa bekas. Manuskrip-manuskrip kuno yang ada dewasa ini hanya dipandang sebagai salinan sempurna dari mushaf-mushaf usmani. …….
Sejalan dengannya, penelitian-penelitian tentang naskah kuno al-Qur’an mengungkapkan bahwa manuskrip-manuskrip al-Qur’an tertua – baik dalam bentuk lengkap atau hanya sebagian saja – yang ada dewasa ini adalah berasal dari abad ke 2 H.


Sumber :
Studi Ulumul qur’an – Telaah Atas Mushaf Ustmani
Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, terj. Drs. Taufiqurrahman M.Ag.
Pustaka Setia, 2003, halaman 33


Penulis kitab Manahil al-Irfan berkata, “Kami tidak memiliki dalil atau petunjuk yang kuat mengenai keberadaan Mushaf Usmani sekarang, terutama dalil yang menunjukkan tempatnya……. Adapun peninggalan mushaf-mushaf yang tersimpan di khazanah-khazanah kitab dan museum-museum di Mesir yang menurut satu pendapat adalah mushaf Ustmani, kami sangat meragukan kebenarannya karena didalamnya terdapat lukisan-lukisan atau gambar-gambar yang diletakkan sebagai ciri yang membatasi antar surat-surat …… Padahal sebagaimana diketahui, mushaf Ustmani tidak memiliki semua itu, bahkan tidak memiliki titik dan syakal sekalipun.

Atau ada juga yang berpendapat sisa-sisa mushaf yang asli ada diperpustakaan John Ryland di Inggris. Namun pendapat ini juga tidak berdasar dan jelas-jelas salah.
Sumber :
John Rylands Library Bulletin
Manchester, 1914-15, volume 2, halaman 240-250.


THERE are sixty manuscripts in the John Rylands Library which deal with the Kuran. Forty-six contain the sacred text, and fourteen treat of exegesis, orthography, and good reading.

Ada 60 manuskrip yang berhubungan dengan qur’an di Perpustakaan John Ryland. Empat puluh enam mengandung teks qur’an, empat belas manuskrip adalah tafsir dan tulisan lainnya yang berhubungan.

Among the first series of manuscripts, we find some which commend themselves to the paleographer either on account of their very ancient date (VIIIth cent) …..

Diantara manuskrip-manuskrip qur’an yang ada, ditemukan beberapa memiliki tulisan yang indah yang sangat tua yang berasal dari abad ke 8 masehi ……….


Jadi manuskrip tertua di John Ryland bertarikh abad ke 8 masehi. Jadi pasti bukan mushaf asli Usman.


KESIMPULAN
Dari uraian Al-Kindi diatas dapat dikatakan :
1. Sangat mungkin Muhammad SAW meninggalkan catatan-catatan kepada Ali, dan catatan-catatan ini ironisnya sudah dimusnahkan oleh Usman atau Hajjaj ibn Yusuf.

2. Tidak ada pengumpulan pertama oleh Abu Bakar, Umar dan Zaid. Ini diperkuat oleh absennya laporan keterlibatan mereka dalam buku Ibn Sad dan Ahmad bin Hanbal.

3. Mushaf Usman juga sudah musnah, yang ada adalah mushaf al-Hajjaj.

4. Mushaf Al-Qur'an yang resmi ternyata bisa hilang begitu saja!!



Sekian
vivaldi
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta

Postby jam_r_ud » Wed Dec 28, 2005 1:00 am

dari berita tersebut, faktanya bagaimana? pilih salah satu:

a. berita tersebut bohong besar, jika kesucian Alquran tetap terjaga.

b berita tersebut 100% benar, jika Alquran sudah hancur seperti Bible/Alkitab.

Anda pilih mana?

Jangan percaya pada berita tanpa fakta. Realistis man.. Kebenaran itu bisa ditelusuri dan dibuktikan, bukan hanya slogan dan doktrin bullshit saja..
User avatar
jam_r_ud
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 169
Joined: Wed Oct 12, 2005 10:22 pm
Location: Surabaya

Postby vivaldi » Wed Dec 28, 2005 5:54 pm

jamrud
Jangan percaya pada berita tanpa fakta


Fakta adalah :
1. Mushaf Hafsah musnah
2. Mushaf Usman yang asli musnah
3. Al-Qur'an yang sekarang adalah hasil karya tahun 1924/1925 di Mesir

Jadi apa yang ditulis oleh Al-Kindy sangat beralasan.

jamrud
bukan hanya slogan dan doktrin bullshit saja


Yang slogan dan doktrin itu adalah :
Al-Qur'an yang sekarang sama persis seperti yang dibacakan oleh Muhammad.

Karena slogan ini :
Tidak bisa ditelusuri dan dibuktikan.

Bagaimana membuktikan hafalan Muhammad????
vivaldi
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta

Postby isa » Thu Mar 23, 2006 10:44 am

BAGI YG RAGU THD. QURAN:

2:2. Kitab itu, di dalamnya tiada keraguan, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (takut kepada Tuhan),

TANTANGAN. JIKA ANDA MASIH TETAP RAGU:

2:23. Dan jika kamu dalam keraguan mengenai apa yang Kami menurunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah sebuah surah yang serupa dengan ia, dan panggillah saksi-saksi kamu, selain daripada Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

52:33. Atau, adakah mereka berkata, "Dia mengada-adakannya"? Tidak, tetapi mereka tidak mempercayai.

52:34. Kemudian hendaklah mereka mendatangkan satu hadis yang serupa dengannya, jika mereka berkata benar.
isa
Acuh Tak Acuh
Acuh Tak Acuh
 
Posts: 4
Joined: Thu Mar 23, 2006 10:22 am
Location: Indramayu

Asal Usul Quran

Postby ali5196 » Fri Apr 28, 2006 2:40 am

Siapa yg belum baca artikel terjemahan terbaru berjudul Sejarah Quran oleh IBN WARRAQ yg bukunya dilarang di Indonesia itu ?

Baca artikel no 4 di :

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=2278

Kenapa nggak dari dulu2 gua ketemu artikel ini ? Mungkin pernah beredar disitus ini tapi saya tidak melihatnya. Saya ingin share artikel ini dgn netter2 baru disini.

Selamat membaca :twisted: :twisted: !
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby Phoenix » Fri Apr 28, 2006 4:53 am

Ntar gue selundupin ke indo aahhhhhhhhh.................
Phoenix
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 11175
Joined: Mon Feb 27, 2006 5:33 am
Location: FFI

Re: Asal Usul Quran

Postby robint2 » Sat Jan 31, 2009 12:57 am

BAGI YG RAGU THD. QURAN:

2:2. Kitab itu, di dalamnya tiada keraguan, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (takut kepada Tuhan),


self proclaim.. gak ada logikanya dlm menjawab
robint2
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 97
Joined: Wed Jan 07, 2009 9:54 pm

Re: Pengumpulan Al-Qur'an Menurut Sumber Kristen (Revised)

Postby Head Fixer » Mon Feb 02, 2009 1:09 pm

vivaldi wrote:Kemudian dituliskan peranan al-Hajaj yang mengrang Al-Qur’an yang baru dan menuliskan 6 salinan untuk disebarkan, serta memusnahkan lagi untuk kedua kalinya salinan-salinan al-Qur’an sebagaimana telah dilakukan oleh Usman.
Sumber :
Ibid, halaman 77

“Then followed the business of Hajjâj ibn Yûsuf, who gathered together every single copy he could lay hold of, and caused to be omitted from the text a great many passages. Amongst these, they say, were verses revealed concerning the House Omeyya with the names of certain, and concerning the House of Abbâs also with names. Six copies of the text thus revised were distributed to Egypt, Syria, Medina, Mecca, Kufa, and Bussora. After that he called in and destroyed all the preceding copies, even as Othmân had done before him.

Kemudian muncul persoalan Hajaj ibn Yusuf, yang mengumpulkan semua mushaf yang dapat dia kumpulkan, dan menghilangkan banyak ayat-ayat darinya. ……… Enam teks (mushaf) yang telah direvisi didistribusikan ke Mesir, Syria, Medina, Mekah, Kufa dan Basrah. Setelah itu dia mengumpulkan dan memusnahkan semua mushaf yang masih ada, sama seperti yang telah dilakukan Usman.


Tulisan Al-Kindi ini diperkuat oleh tulisan dari Ibn Abu Dawud (817 M – 889 M) yang melaporkan adanya perubahan kemudian terhadap mushaf Usman yang dilakukan oleh Al Hajjaj Ibn Yusuf Al-Thakafi, yang hidup 660 – 714 M, seorang guru bahasa Arab di Taif. Dia kemudian bergabung dengan militer dan menjadi seorang yang sangat berpengaruh saat kekuasaan kalifah Abd al-Malik Ibn Marwan dan Al-Waleed Ibn Abd al-Malik.
Sumber “
Ulum Al-Qur’an,
Ahmad von Denffer,
The Islamic Foundation, 1994, halaman 56 :

“ACCORDING TO IBN ABI DAWUD ELEVEN CHANGES WERE MADE UNDER AL-HAJJAJ. THESE ARE AGAIN ACCORDING TO IBN ABI DAWUD, MISTAKES WHICH WERE MADE IN THE PREPARATION OF 'UTHMAN'S COPY."
"Menurut Ibn Abi Dawud sebelas perubahan dibuat oleh Al-Hajjaj. Perubahan-perubahan ini menurut Ibn Abi Dawud, kesalahan-kesalahan yang dibuat dalam persiapan pembuatan mushaf Usman

analisa thd pendapat Ibnu Abi Dawud, bahwa dia berbicara demikian berdasar laporan dari ‘Auf bin Abi Jamila (60-146 Hijrah) Penelitian mengungkapkan bahwa 'Auf, walaupun seorang jujur, mempunyai kecenderungan kepada shi'ah dan anti Umayyah yang dibawah kepemimpinan AL HAJJAJ ini. padahal apa yg dilakukan Al HAJJAJ sangat memurnikan keaslian mushaf Usmani.

Ibn Qutaiba, Ta'wil Mushkil Al-Qur'an, hlm. 51
Berdasarkan laporan ‘Asim al-Jahdari, al-Hajjaj menunjuk dia, Najiya bin Rimh, dan 'All bin Asma` untuk memeriksa Mushaf dengan tujuan untuk menyobek semua mushaf yang berbeda dengan Mushaf `Uthmani. Pemilik Mushaf seperti itu akan mendapatkan kompensasi 60 dirham

Auf bin Jamila ini mengemukakan bahwa ada 11 perubahan yg dilakukan AL HAJJAJm tapi anehnya ayat yang dirubah dgn klaim ayat aslinya sudah memiliki tanda "titik" padahal mushaf asli usmani tdk memiliki titik. aneh bukan ?.
Head Fixer
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3161
Joined: Thu Jan 08, 2009 9:34 am

Re: Asal Usul Quran

Postby wisnu888 » Tue Feb 03, 2009 3:45 pm

:stun: Jadi aslinya mana :roll:
User avatar
wisnu888
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 133
Joined: Wed Oct 31, 2007 10:19 am

Re: Asal Usul Quran

Postby Head Fixer » Tue Feb 03, 2009 4:19 pm

wisnu888 wrote::stun: Jadi aslinya mana :roll:

sebelumnya Mushaf Usmani sudah diakurin sama mushafnya hafsa dan Aisya yang diambil langsung dari media2 tulis sewaktu nabi masih hidup. dan tidak ada perbedaaan di antara mushaf2 tsb.

Hat Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 997
Ibn Shabba meriwayatkan dari ‘Harun bin ‘Umar, yang mengaitkan bahwa,
Ketika ‘Uthman hendak membuat salinan (naskah) resmi, dia meminta ‘A'ishah agar mengirimkan kepadanya kertas kulit (Suhuf) yang dibacakan oleh Nabi Muhammad saw. yang disimpan di rumahnya. Kemudian dia menyuruh Zaid bin Thabit membetulkan sebagaimana mestinya, pada waktu itu beliau merasa sibuk dan ingin mencurahkan waktunya mengurus masyarakat dan membuat ketentuan hukum sesama mereka


Hat Shabba, Tarikh al-Madinah,
Zaid bin Thabit berkata, "Ketika saya melakukan revisi Mushaf 'Uthmani (Mushaf yang dibuat sendiri) saya temukan kekurangan satu ayat (minal mu'minina rijalan) kemudian saya mencarinya di kalangan kaum Muhajirin dan Ansar (Karena mereka itu yang menulis AI-Qur'an pada zaman Nabi Muhammad saw.), sehingga saya mendapatkannya dari Khuzaimah bin Thabit al-Ansari. Kemudian saya menuliskannya... Lalu saya merevisinya sekali lagi dan tidak menemukan sesuatu (yang meragukan). `Uthman kemudian mengutus menemui Hafsah minta agar meminjamkan Suhuf yang dipercayakan pada dirinya; Hafsah lalu memberikan setelah `Uthman berjanji pasti atau bernazar hendak mengembalikan. Dalam perbandingan kedua ayat ini, saya tidak melihat adanya perbedaan. Kemudian saya kembalikan pada 'Uthman dan penuh kegembiraan, dia menyuruh orang-orang membuat duplikat naskah dari Mushaf itu."

lalu mushaf tsb dibacakan dihadapan khalayak ramai untuk keabsahannya :

Ibn Kathir, Fada'il, vii: 450.
"dibacakan kepada sahabat di depan 'Uthman."

nah lalu Usman menyuruh semua orang menyalin Mushafnya tsb ...sbg yg diriwayatkan Ibnu Shabba

Hat Shabba, Tarikh al-Madinah,
"'Uthman memerintahkan orang-orang untuk menulis Mushaf ”.

NAh sekarang Mushaf sudah tersebar dan dimaklum ke seluruh penjuru dunia Islam, serta dihafal dan disimpan kopian aslinya. dalam beberapa peristiwa kopian mushaf Usman rusak akibat peperangan dan hal2 lainnya. namun Mushaf Usman sudah direkam dipara penghafal Quran dan dikenal baik di dunia pakar2 Quran di dunia ISlam. artinya secara HAFALAN Mushaf Usmani masih terpelihara sampai masa AL HAJJAJ. lalu disalin ULANG oleh HAJJAJ dan kopiannya di kirim ke seluruh pelosok negeri Islam, hingga kini.
Head Fixer
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3161
Joined: Thu Jan 08, 2009 9:34 am

Re: Asal Usul Quran

Postby robint » Sun Aug 09, 2009 8:46 pm

Hat Shabba, Tarikh al-Madinah,
Zaid bin Thabit berkata, "Ketika saya melakukan revisi Mushaf 'Uthmani (Mushaf yang dibuat sendiri) saya temukan kekurangan satu ayat (minal mu'minina rijalan) kemudian saya mencarinya di kalangan kaum Muhajirin dan Ansar (Karena mereka itu yang menulis AI-Qur'an pada zaman Nabi Muhammad saw.), sehingga saya mendapatkannya dari Khuzaimah bin Thabit al-Ansari. Kemudian saya menuliskannya... Lalu saya merevisinya sekali lagi dan tidak menemukan sesuatu (yang meragukan). `Uthman kemudian mengutus menemui Hafsah minta agar meminjamkan Suhuf yang dipercayakan pada dirinya; Hafsah lalu memberikan setelah `Uthman berjanji pasti atau bernazar hendak mengembalikan. Dalam perbandingan kedua ayat ini, saya tidak melihat adanya perbedaan. Kemudian saya kembalikan pada 'Uthman dan penuh kegembiraan, dia menyuruh orang-orang membuat duplikat naskah dari Mushaf itu."


kasian sekali quran ini, pertama kali disusun saja sudah direvisi.. entah revisi keberapa nih quran versi depag yg gw punya :-k
robint
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2190
Joined: Sat Jun 21, 2008 10:52 pm

Re: Asal Usul Quran

Postby Head Fixer » Mon Aug 10, 2009 2:49 pm

@ atas :

maksudnya itu Catatan pribadi Zaid itu tadinya ga lengkap setelah di CEK oleh catatan orang lain dan juga oleh para penghafal. nah catatan yg hilang itu ternyata terdapat di koleksi nya khuzaima. lalu koleksi Zaid direvisi sama dia ...
jadi koleksinya zaid
Head Fixer
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3161
Joined: Thu Jan 08, 2009 9:34 am

Re: Asal Usul Quran

Postby robint » Mon Aug 10, 2009 8:13 pm

maksudnya itu Catatan pribadi Zaid itu tadinya ga lengkap setelah di CEK oleh catatan orang lain dan juga oleh para penghafal. nah catatan yg hilang itu ternyata terdapat di koleksi nya khuzaima. lalu koleksi Zaid direvisi sama dia ...
jadi koleksinya zaid


kok quran yg katanya firman ALlah dan didengar oleh para pendengar terpercaya termasuk zaid . bisa ada yg lupa ???? katanya Allah maha kuasa , kok gak dikasih ingatan fotographic saja , kepada para penghapal quran.

la wong anak TK saja katanya hapal quran, ini baru penghapal generasi pertama udah ada revisi2an .Jadi yg dihapalkan sianak TK dan yg gw baca dr depag ini hasil 'konsili' para penghapal generasi pertama dong ya ? dimana ada REVISI =D>

YA OPO IKI.. TUHAN KOK NDAK BISA MEMBUAT SEMUA PENGHAPAL MENGHAPALKAN DNG TANPA CACAT CELA ,MALAH ADA VERSI YG DIREVISI ....

mendingan kitab hasil nabi lia eden dong, gak ada revisi2nya , udah ada sistem rekaman . tinggal diulang tok
robint
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2190
Joined: Sat Jun 21, 2008 10:52 pm

Re: Asal Usul Quran

Postby Head Fixer » Tue Aug 11, 2009 11:40 am

ah bollot nih ..
Head Fixer
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3161
Joined: Thu Jan 08, 2009 9:34 am

Re: Asal Usul Quran

Postby kutukupret » Tue Aug 11, 2009 12:58 pm

Head Fixer wrote:ah bollot nih ..


Silahkan berpikir dgn metode Holistik dan Tawaf :supz: >>> Mengapa auwloh swt butuh seorang EDITOR dalam Hadis tsb ?
Apakah kerjaan seorang EDITOR itu MEREVISI ? :green:
User avatar
kutukupret
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6400
Joined: Mon Dec 17, 2007 6:31 pm

Re: Asal Usul Quran

Postby Head Fixer » Tue Aug 11, 2009 2:07 pm

ih bollot juga ....

gue nulis Pembukaan UUD '45 gak lengkap .... trus gue liat catatan temen gue yang lengkap ... trus catatan gue, gue revisi .... lah aa bollot sejak kapan gue merevisi pembukaan UUD '45 ? :rofl:
Head Fixer
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3161
Joined: Thu Jan 08, 2009 9:34 am

Re: Asal Usul Quran

Postby kutukupret » Tue Aug 11, 2009 2:57 pm

Head Fixer wrote:ih bollot juga ....

gue nulis Pembukaan UUD '45 gak lengkap .... trus gue liat catatan temen gue yang lengkap ... trus catatan gue, gue revisi .... lah aa bollot sejak kapan gue merevisi pembukaan UUD '45 ? :rofl:


hasil REVISI spt ini :green:

AYAT2 RAJAM QUR'AN HILANG DIMAKAN KAMBING

Aisha melaporkan bahwa bahwa ada satu lembaran yang berisi 2 ayat, termasuk ayat-ayat rajam, ditulis dalam lembaran yang disimpan dibawah tempat tidurnya. Sayang pada waktu pemakaman nabi SAW, seekor binatang memakannya hingga musnah. Disebutkan dalam bahasa Arab “dajin”, yang dapat berarti hewan seperti kambing, domba ataupun unggas.

Sumber :
• Ibrahim b. Ishaq al Harbis, Gharib al hadith menyebutkan “shal” yang berarti domba
• Zamakshari, al Kashaf, vol 3 p 518, footnote
• Sulaym b. Qays al Hilali, Kitab Sulaymn b. Qays, p 108
• Al Fadl b. Shadahn, al Idah, p 211
• Abd al Jalil al Qazwini, p 133

Peristiwa hilangnya ayat-ayat Al-Qur’an akibat dimakan binatang sungguh menggelikan, menyedihkan dan membuktikan bahwa Allah SWT adalah pembohong kelas kakap karena tidak bisa memenuhi apa yang dia janjikan dalam ayat berikut :
QS 15:9
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Peristiwa terjadi saat rumah sedang sibuk dengan pemakaman nabi SAW.

Sumber :
• Ahmad b. Hanbal, vol 4 p 269
• Ibn Maja, Sunan, vol 1 p 626
• Ibn Qutayba, Tawil, p 310
• Shafi'i, Kitab al Umm, vol 5 p 23, vol 7 p 208

Menurut laporan dari Ibn Maja menceritakan bahwa Aisyah berkata : ayat al-Radha'ah sebanyak 10 kali telah diturunkan oleh Allah SWT dan ditulis dalam mushaf di bawah katilku, tetapi manakala wafat Rasulullah dan kami sibuk dengan pemakamannya maka ayat-ayat tersebut HILANG.

Satu contoh adalah laporan dari Suyuthi dalam Al-Itqan sbb :
Aisyah menyatakan Surah al-Ahzab 33 : 56 pada masa Nabi adalah LEBIH PANJANG yaitu dibaca "Wa'ala al-Ladhina Yusaluna al-Sufuf al-Uwal" selepas "Innalla ha wa Mala'ikatahu Yusalluna 'Ala al-Nabi..." Aisyah berkata,"Yaitu sebelum USMAN MENGUBAH mushaf-mushaf."

Aisha dilaporkan menyatakan bahwa saat nabi SAW hidup, sura 33 (al-Ahzab) adalah 3 kali lebih panjang daripada yang ada dalam mushaf Usman.

Sumber :
• Al Raghib al Isfahani, Muhadarat al Udaba, vol 4 p 434
• Suyuti, al Durre Manthur, vol 5 p 180
• Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 p 226

Kutipan dari Suyuthi:
Aisyah berkata, "Surah al-Ahzab dibaca pada zaman Rasulullah SAW SEBANYAK 200 AYAT, tetapi pada masa Usman menulis mushaf surah tersebut TINGGAL 173 AYAT SAJA."

Hadis Bukhori tentang hilangnya ayat rajam dalam Qur'an.
Hadis Sahih Bukhari, Volume 8, Book 82, Number 816:
Dikisahkan oleh Ibn 'Abbas:
'Umar berkata,"Aku khawatir di masa depan orang2 akan berkata, "Kita tidak menemukan ayat2 Rajam (hukum dilempari batu sampai mati) dalam Al Qur'an," dan karenanya mereka tidak melakukan kewajiban Allah yang telah disampaikan. Lihat! Aku menegaskan bahwa hukum Rajam dijatuhkan pada mereka yang melakukan hubungan seksual tidak sah, jika dia sudah menikah dan pelanggaran ini disaksikan oleh para saksi atau kehamilan atau kesaksian." Sufyan menambahkan, "Aku ingat kisahnya disampaikan seperti ini." 'Umar menambahkan, "Memang Rasul Allah melaksanakan hukum Rajam, dan karena itu kita lakukan hal yang sama." (Juga lihat: Vol. 8, No. 817 and Vol. 9, No. 424; Sahih Muslim, No. 4194)

Di manakah ayat Rajam bagi perzinahan yang seharusnya terdapat dalam Qur'an? Mengapa tiada lagi ayat Rajam dalam Qur'an?
User avatar
kutukupret
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 6400
Joined: Mon Dec 17, 2007 6:31 pm

Re: Asal Usul Quran

Postby Head Fixer » Tue Aug 11, 2009 4:27 pm

sebenarnya ga pantas diskusiin hal berat ame yang bollot ....
biarin dah ..gue mau nanya yang ini nih ... kok kontradiksi ....???
katanya ayat rajam dihilangin Usman di zaman Usman ...
tapi di zaman Umar hal itu sudah dimaklum bahwa ayat rajam tidak terdapat dalam Quran (dinasakh)
...
heu heu ..gue test dulu ..gimana tuh lot ? :-"

kutukupret wrote:Satu contoh adalah laporan dari Suyuthi dalam Al-Itqan sbb :
Aisyah menyatakan Surah al-Ahzab 33 : 56 pada masa Nabi adalah LEBIH PANJANG yaitu dibaca "Wa'ala al-Ladhina Yusaluna al-Sufuf al-Uwal" selepas "Innalla ha wa Mala'ikatahu Yusalluna 'Ala al-Nabi..." Aisyah berkata,"Yaitu sebelum USMAN MENGUBAH mushaf-mushaf."


Hadis Bukhori tentang hilangnya ayat rajam dalam Qur'an.
Hadis Sahih Bukhari, Volume 8, Book 82, Number 816:
Dikisahkan oleh Ibn 'Abbas:
'Umar berkata,"Aku khawatir di masa depan orang2 akan berkata, "Kita tidak menemukan ayat2 Rajam (hukum dilempari batu sampai mati) dalam Al Qur'an," dan karenanya mereka tidak melakukan kewajiban Allah yang telah disampaikan. Lihat! Aku menegaskan bahwa hukum Rajam dijatuhkan pada mereka yang melakukan hubungan seksual tidak sah, jika dia sudah menikah dan pelanggaran ini disaksikan oleh para saksi atau kehamilan atau kesaksian." Sufyan menambahkan, "Aku ingat kisahnya disampaikan seperti ini." 'Umar menambahkan, "Memang Rasul Allah melaksanakan hukum Rajam, dan karena itu kita lakukan hal yang sama." (Juga lihat: Vol. 8, No. 817 and Vol. 9, No. 424; Sahih Muslim, No. 4194)
Head Fixer
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3161
Joined: Thu Jan 08, 2009 9:34 am

Next

Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users