. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Gambar2 dan Berita2 kekejaman akibat dari pengaruh Islam baik terhadap sesama Muslim maupun Non-Muslim yang terjadi di seluruh dunia.

ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Laurent » Sun Feb 20, 2011 10:43 am

Google Earth Temukan Situs Arkeologi Terlarang Arab Saudi
Ditulis oleh Praveen Swami Senin, 07 Februari 2011

Image
Image

Gambar satelit Saudi Arabia (Alamy)

Seorang arkeolog telah mengidentifikasi sekitar 2.000 situs terlarang yang berpotensi penting di Arab Saudi dengan menggunakan Google Earth, meskipun dia tidak pernah berkunjung ke negara tersebut.

David Kennedy, seorang profesor sejarah kuno di Univeritas Western Australia, dengan menggunakan pemetaan dari Google Earth berhasil menunjukkan sekitar 1.977 situs arkeolog penting, termasuk 1.082 titik mata air berbentuk batu makam.

“Saya belum pernah ke Arab Saudi. Negara ini tidak mudah dimasuki,” ujar Dr. Kennedy, seperti dilansir Telegraph.

Dr Kennedy kepada New Scientist mengatakan bahwa dia telah memverifikasi gambar-gambar yang menunjukkan situs arkeologi secara aktual dengan meminta seorang teman yang bekerja di negara Kerajaan itu untuk memotret lokasi-lokasi tersebut.

Penggunaan gambar udara dan satelit telah digunakan oleh Ingrgis untuk mencari Iron Age dan sejumlah situs Romawi di Inggris, demikian pula telah digunakan untuk mencari jalur Nazca di Peru serta reruntuhan Maya di Belize.

Namun beberapa arkeolog telah diberi akses ke Arab Saudi, yang telah lama terbentur dengan peraturan.

Sejumlah ulama garis keras kerajaan tersebut takut akan adanya perhatian serius terhadap peradaban yang berkembang sebelum munculnya Islam, yang dapat mengakibatkan melemahnya agama tersebut.

Pada 1994, sebuah Dewan Ulama Arab Saudi dilaporkan telah mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa melestarikan situs sejarah ‘dapat mengarah pada politeisme dan pemujaan berhala’, keduanya dapat dijatuhi hukuman, dibawah hukum Kerajaan, yaitu hukuman mati.

Pemerintah Arab Saudi, dalam beberapa tahun terakhir, telah mengijinkan para arkeolog untuk menggali beberapa situs, termasuk reruntuhan spektakuler yang jarang diketahui dari Maiden Saleh, sebuah kota tua 2.000 tahun yang menandai batas-batas selatan dari peradaban Nabataen.

Sebagian besar akses ke situs-situs kuno sangat dibatasi. (Erabaru/Telegraph/sua)

http://erabaru.net/featured-news/48-hot ... arab-saudi

Siapa bilang Jaman Pra Islam adalah Jahiliyah
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby aya_el_hamied » Sun Feb 20, 2011 7:53 pm

hanya ALLAH eang tau,,,
memang anda bilang pra islam bkan jaman jahiliyah,,, tp apakah dgn bukti tsb anda langsung bisa menpresepsikan kalau di jaman tsb bkan jaman jahiliyah,,, padahal waktu itu anda belum lahir,,, ingat kalau islam diturunkan untuk penyempurnaan,,, n bukan tidak mungkin lo suatu hal yang solid dibutuhkan perubahan eang lebih untuk menjadi sempurna
aya_el_hamied
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 25
Joined: Sat Feb 19, 2011 8:08 pm
Location: dekat dengan PENCIPTA

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby mousstaheel » Tue Feb 22, 2011 1:30 pm

aya_el_hamied wrote:hanya ALLAH eang tau,,,
memang anda bilang pra islam bkan jaman jahiliyah,,, tp apakah dgn bukti tsb anda langsung bisa menpresepsikan kalau di jaman tsb bkan jaman jahiliyah,,, padahal waktu itu anda belum lahir,,, ingat kalau islam diturunkan untuk penyempurnaan,,, n bukan tidak mungkin lo suatu hal yang solid dibutuhkan perubahan eang lebih untuk menjadi sempurna


memang anda bilang pra islam bkan jaman jahiliyah,,, tp apakah dgn bukti tsb anda langsung bisa menpresepsikan kalau di jaman tsb bkan jaman jahiliyah,,, padahal waktu itu anda belum lahir


Bukti bkn jahiliyah krn ada arus perdagangan antar dataran yg melewati mekah kota mekkah sblm mohmed.. harkat wanita mendpt kedudukan terhormat setara dgn pria, terbukti Kadhijah punya bawahan dri kaum pria...
dri mana anda tahu wajah bulan pernah terbelah oleh pisau dapur Mohmed, sdgkn anda tdk berada dibulan?

ingat kalau islam diturunkan untuk penyempurnaan

dri mana anda tau itu sempurna... klo ayat2 auloh di qouran srig diupgradable? emang mesin hrus diupgrade biar sempurna? :rofl:
mousstaheel
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 153
Joined: Wed Aug 11, 2010 12:56 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Rahimi » Tue Feb 22, 2011 1:43 pm

ingat kalau islam diturunkan untuk penyempurnaan,,,


Sangat percaya diri..mohon pencerahan, apa yang disempurnakan oleh islam?
Rahimi
 

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Laurent » Fri Feb 25, 2011 4:01 pm

Takut KABAH-nya tersaingi ya
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby islam_watcher » Sat Feb 26, 2011 1:07 am

berkat muhammad yg telah mengutuk kaum yahudi sbg "keturunan monyhet", maka semakin banyak bermunculanlah jenius2 dr keturunan2 yahudi, google adl hasil kreatif penemuan legendaris dr anak2 kaum yahudi yaitu sergey brin dan larry page
User avatar
islam_watcher
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1517
Joined: Sun Oct 21, 2007 2:16 pm

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Pembawa_Pete » Sat Feb 26, 2011 4:00 am

aya_el_hamied wrote:ingat kalau islam diturunkan untuk penyempurnaan


PUEDE ABES. apa yg disempurnakan?
nafsunya Moohammad?

ingat, tidak ada yg dihasilkan dari islam selain kekerasan, teror, pedofilia, kemunduran peradaban, penindasan, ketidakadilan dan kekerasan terhadap wanita.
User avatar
Pembawa_Pete
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 757
Joined: Mon Aug 09, 2010 11:26 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Laurent » Sat Mar 12, 2011 12:21 pm

Arab pra Islam jauh lebih maju ketimbang Saat Arab beragama Islam , nih buktinya :

Maidan Saleh (Saudi Arabia) An Ancient City Caught Google Earth
February 5, 2011 2:41 am 102 comments Views: 139 Share this Article
Twitter Facebook Delicious Digg Stumble Reddit Author:

조규현 ChoKyuHyun
Tags:
"e-mail (will not be published)" google earth "google earth" gravesites saudi arabia "roman sites in saudi arabia" "saudi arabia" "david kennedy" ancient arabian burials ancient cities locations on google earth ancient city news australian criminals caught by satellites big stone stopped in saudi but maidan saleh city of david in saudiarabia david kennedy 1977 places in saudi arabia david kennedy google earth Earth Satellite Maps google chrome arabia Google Earth google earth saudi arabia 2000 google earth saudi arabia ancient google earth saudi arabian tombs google earth saudia arabia google satellite ancient city saudi arabia google saudi tomb graves in arabia ancient funeral king of saudi arabia and kennedy maida salah maidaan e saleh maidain salih maidan e saleh maidan ksa Maidan Saleh maidan saleh ,saudi arabia maidan salih Maida’n Salah Mayan Ruins In Belize mden saleh saudi arabia medane salekh New Scientist places in ancient saudi arabia professor kennedy tombs in saudi arabia sat map of saudi showing burial sites Saudi Arabia Ancient City saudi arabia google earth big saudi arabia google earth tombs saudi leaks saudia arabian graves from space site:usnewsleaks.com stone in saudi arabia in air stone in saudia in air stone in the air in saudi arabia stone on the air in maidan e saleh stone tombs in arabia teardrop shaped stone tombs tema saudi arabien auf google earth the city of saleh tomb king leaks University Of Western Australia An archaeologist, David Kennedy has identified nearly 2,000 seats potentially important Maida’n Salah / Maidan Saleh sites in Saudi Arabia using Google Earth, although never visited the country.

David Kennedy is a professor of classics and ancient history at the University of Western Australia. He use Google Earth satellite maps to determine the potential 1977 archaeological sites, including a 1082 teardrop-shaped stone graves.

Image

As reported by Telegraph, Dr Kennedy told New Scientist that he has verified the image that shows the actual archaeological site by asking a friend who worked in the Kingdom to photograph the location. The use of air and satellite imagery have been used in England to find Iron Age and Roman sites in Britain, and the Nazca lines in Peru and the Mayan ruins in Belize.

It is very difficult to penetrate the tight regulations in Saudi Arabia. Moreover, there are laws that prohibit the excavation of ancient sites by reason of endangering the state religion. Excavation heritage pagan pre-Islamic civilizations feared would affect the belief of monotheism. Maidan Saleh, an old city that 2000 marked the southern boundary of powerful Nabataean civilization.

What’s Maidan Saleh?
A big picture Maida’n One is the tomb of a lot of people Nabateean. Nabateean’s tomb is a place to bury the bodies. Several graves have inscriptions on the outside (which is provided by the archaeological team) who identify several families that occupy a particular grave. Some graves are for women only; some for men. Others held the whole family. Most of the tombs are similar to a room of people can get into can be described as a space with grooves carved into the side of the room where the bodies were laid.

There is no evidence of artifacts or jewelry or other assets have been buried in the grave with the deceased as was done in Egypt. And as I mentioned in one previous post an introduction about Maida’n One, there is the class structure is distinguished by the elite and rich families have a large area where the tomb by comparison, poor Nabateean was laid to rest to the land itself. When one views the actual size of burial plots carved, making people think Nabateean it was below average in size. The biggest plot does not exceed 5 feet and the plot is also quite narrow as well, maybe eight to ten inches across. It is possible that not all the tombs have been discovered yet.

http://www.usnewsleaks.com/150-maidan-s ... earth.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Laurent » Sat Mar 12, 2011 12:23 pm

Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Laurent » Sat Mar 12, 2011 12:41 pm

Saudi Arabia’s Maida’n Salah – The Tombs
Posted on April 26, 2008 by American Bedu
i Rate This


The Tombs



A large draw of Maida’n Salah are the many tombs from the Nabateean people. If you are not aware, the tombs are where the Nabateean’s buried their dead. Some of the tombs have inscriptions outside (provided by archeological teams) which identify some of the families who occupied specific tombs. Some tombs were for women only; some for men. Others held entire families. Most of the tombs which were similar to a room one could step into could be described as a chamber with indentations carved into the sides of the chamber where the bodies were laid to rest. There was no evidence of artifacts or jewels or any other treasures had been buried in the tombs with the deceased as had been done in Egypt. And as I mentioned in one of the earlier introductory posts about Maida’n Salah, there was a distinguished class structure with elite and richer families having large spacious tombs where by comparison, the poorer Nabateean’s were laid to rest into the ground itself. When one views the actual size of the carved burial plot, it makes one think the Nabateean’s were below average in size. The largest plot did not exceed 5 feet and the plots were also pretty narrow as well, maybe eight to ten inches across. It is likely that not all of the tombs have been uncovered yet.

Image

According to one reference which I read, it states that Maida’n Salah has 113 tombs dated to the period from the first century BC to the years 75 AD. Some of the famous tombs include Qasr Al-Ajouz, Qasr Al-Bint and Magnificent Qasr known as Al-Fareed. Al-Fareed is the only tomb which has four pillars decorating the entrance as compared to the other larger tombs which traditionally have only two.

Image

Image

The tombs are set in Al-Diwan, the religious center of the Nabateeans, where they worshipped Allat and Manat. A separate area not too far from the tombs was set up where they worshipped, had a temple and held various sacrifices.

Image

Image

Image

Image

http://americanbedu.com/2008/04/26/maid ... the-tombs/
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby APEL EMAS » Sat Mar 12, 2011 2:39 pm

hebat..hebat sekali....!!! salah satu penemuan kafir yang akan membuka kebohongan kebohongan islam...!!! :finga: :finga:
User avatar
APEL EMAS
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 900
Joined: Wed Aug 25, 2010 11:42 am
Location: PIKIRAN JERNIH DAN AKAL SEHAT

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Laurent » Sun Mar 13, 2011 10:52 am

05 Desember 1981
Ribuan tahun sebelum nabi muhammad
SAMUDRA pasir itu tiba-tiba menyajikan pemandangan yang tidak lazim. Mencuat dari perut bumi, tampaklah seonggok bangunan batu -- raksasa dan anggun perkasa. Itulah serambi makam peninggalan kaum Nabatez, dari zaman pra-Islam yang makmur --tatkala bangsa ini mengekspor rempah dan dupa ke Roma, dari tahun 150 SM hingga sekitar 100 M. Bergaya Hellenis, dengan pintu-pintu berbingkai tiang berukir, bertatahkan hiasan triglyph, rosette, pilaster, rajawali dan tempayan. Puncak makam itu sendiritak pernah ditimbun pasir. Tapi gerbangnya terpendam hingga abad ke-19, tatkala para petualang Barat mulai menggali dan menemukan inskripsi di dasar monumen. Arab Saudi kini memang tak hanya sibuk mengeduk minyak. Melainkan juga menggali masa lampaunya. "Sampai sekitar tahun 7000 SM, pedalaman negeri ini ternyata merupakan kawasan subur dengan danau dan padang rumput, tempat menjangan dan badak sungai berkeliaran dengan damai," ujar Abdullah H. Masri. Berusia 34 tahun, doktor antropologi lulusan Universitas Chicago ini sedang memimpin proyek yang akan menyingkapkan sejarah bangsanya jauh ke belakang. Kesibukan memang segera terlihat di samudra pasir yang hernama Madain Salih itu--15 mil dari kota oasis Al 'Ala, di barat laut Saudi. Ini adalah wilayah yang, sebelum zaman Nabatea, diduga merupakan daerah Nabi Salih pengganti Nabi Hud --yang berdiam di tengah kaum Tsamud (Tamudea) sesudah kehancuran bangsa 'Ad. Banyak pengunjung asing, di antaranya para arkeolog, sudah melihat runtuhan ini. Dua ribuan peninggalan lain yang terserak di seantero kawasan kerajaan gurun yang luas. Semuanya sisasisa peradaban pra-Islam yang jaya, yang kemudian hancur dan terhampar begitu saja sepanjang padang dan perbukitan sahara. Persis seperti yang disebut dalam Al Quran: "Betapa banyaknya Kami hancutkan negeri yang makmur kehidupannya itulah bekas-bekas tempat tinggal mereka, tak lagi dihuni di belakang hari kecuali sedikit" (Q. 28 : 58). Namun hingga belum lama berselang, wilayah ini tinggal kosong dalam peta arkeologi dunia. Ia bagai dikucilkan oleh iklim yang tidak ramah plus berbagai persoalan agama dan politik. Para ulama dan pemimpin agama yang berpengaruh, anehnya dalam kenyataan tak begitu suka berbicara mengenai zaman jahiliah--justru bila zaman itu menyimpan peradaban yang mengesankan. Duabelas tahun lalu, pemerintah Saudi sendiri melarang semua penggalian budaya pra-Islam itu --demi memberi imbalan pada kesediaan para ulama menerima modernisasi industri. Tapi kini, seraya melangkah dalam gemuruh abad ke-20, kerajaan yang bersimbah minyak dan duit itu mencoba menemukan kebanggaan masa silamnya. Jutaan dollar dicadangkan untuk eksplorasi ratusan obyek arkeologi-termasuk survei sistematik atas reruntuhan seperti yang terdapat di Madain Salih. Dalam skala menyeluruh, usaha ini dipusatkan pada penggalian, pencagarbudayaan dan peragaan relik yang menyangkut sejarah Saudi--baik pada zaman purba maupun Islam. AGAKNYA juga terdapat hasrat lain di balik kesibukan ini. Boleh jadi untuk membantah pandangan yang "populer" di Barat, bahwa orang Arab hanyalah saudagar minyak pemboros dan keturunan bangsa pengembara yang tidak punya akar' kebudayaan--kata Robert Reinhold, reporter ilmu pada biro Washington The New York Times. Dalam hubungan ini pun pekerjaan Dr. Masri dan rekan-rekannya menjadi penting. Lahir di Mekah, dan bersekolah di Amerika, Masri menggunakan teknik arkeologi Barat untuk menjangkau secara riil masa lampau negerinya yang belurn terjamah--serangkaian kurun yang selama ini lebih banyak diketahui hanya melalui bacaan baik keagamaan maupun sekular. Kini, berbagai tim arkeologi Saudi, Amerika dan Inggris sedang mengendus di seluruh negeri. Mereka terlibat dalam persiapan untuk menyongsong apa yang oleh sementara ahli Amerika dinamakan "ekspedisi arkeologi terbesar sejak Napoleon tiba di Mesir." Toh perbandingan tersebut sebenarnya tak sepenuhnya tepat. "Kesibukan yang kini berlangsung di negeri-negeri Timur Tengah yang (baru) kaya, tak bisa disamakan dengan yang terjadi pada zaman para arkeolog Barat memimpin penggalian di Mesir, Turki dan negeri kuna lainnya," kata Robert Reinhold. Dulu, tak sedikit harta karun itu diangkut para penggalinya--untuk kemudian ditemukan terpajang di berbagai museum di Paris, London, New York. Kini Saudi sendiri membiayai dan mengawasi dengan ketat jalannya penelusuran. Bahkan dalam waktu bersamaan, para sultan dan amir berbagai negeri minyak di sekitar Teluk Persia terangsang pula untuk mengail masa lampau mereka yang selama ini tetap tersimpan. Mereka seakan berlomba mendatangkan ahli asing, membangun museum dan menggali monumen, di samping memugar benteng, waduk dan masjid. Sebagian penguasa memang benarbenar berminat terhadap sejarah purba tanah air mereka. Sebagian lagi mencoba mencari lambang yang bisa mempersatukan, di kawasan yang untuk waktu panjang dikuasai suku dan puak yang terpisah-pisah dan masing-masing memerintah diri sendiri itu. Ada pula yang mencari akar kuno untuk mengesahkan rezim yang tengah berkuasa. Sultan Oman, misalnya, November tahun lalu mengundang selusin sarjana asing menghadiri sebuah semirar mengenai sejarah Arab, yang diselenggarakan merayakan 10 tahun pemerintahannya. Semua mereka dibayar mahal. Qatar membangun museum yang luar biasa--dalam satu kompleks luas yang mencakup sebuah istana kuna dan danau buatan, tempat menambatkan empat sekunar Arab. Museum itu dirancang Michael Rice & Company, konsultan Museum London yang juga mendisain museum nasional di Oman dan Riyadh, ibukota Saudi. Sementara itu para arkeolog sedang menggali-gali pasir pula di Kuwait, Abu Dhabi, Emirat Arab, Bahrain, Yaman, bahkan Yaman Selatan yang marxis. Para arkeolog Barat memang menyambut hangat usaha ini. Apalagi sejak para ahli tersebut tak diperkenankan lagi mengunjungi "padang perburuan" arkeologi mereka di Iran, Irak dan Suriah. Namun tak selamanya anak negeri setempat memberi dukungan positif. Di kantornya yang sibuk, di lantai atas Museum Nasional Arkeologi dan Etnografi Arab Saudi, Abdullah Masri dibantu 120 orang staf multinasional. Wajahnya yang kekanak-kanakan ditudungi koffiyeh. Menjabat Direktur Dinas Purbakala dan Museum, keprib.adiannya bagai bergayut antara citra aristrokrasi Arab dan hasil tempaan pendidikan Barat. Ia mungkin lambang yang tepat untuk kontradiksi sosial dan intelektual masyarakat muslim ortodoks-yang dahaga akan pengetahuan dan teknik Barat tanpa mau kehilangan nilai-nilai asli yang sudah bertahan berabad-abad. "Sejak 1975, dialah katalisator utama Arab Saudi dalam mencari warisan purbakala," kata Reinhold. Sebuah dewan yang dibentuk tak lain oleh almarhum Raja Faisal yang saleh itu, memberikan kekuasaan yang besar kepadanya. Ia berhak menyetop sebuah proyek industri, misalnya, bila proyek tersebut dikhawatirkan akan merugikan penggalian arkeologi. Juga untuk itu kalau perlu boleh menggusur penduduk. Dewan itu sendiri berhak menuntut hukuman penjara dan denda bagi siapa saja yang merusak atau mencuri relik. Di antara negeri yang sedang berkiprah menggali masa silam, Arab Saudi memang yang paling berambisi, paling rapi organisasinya di samping paling berduit. Berbagai museum segera berdiri di kota-kota utama negeri ini --termasuk museum nasional yang baru di tanah 100 ha, tepat di jantung Kota Riyadh. Sebaliknya, juga usaha arkeologikal Saudi yang paling tidak bisa melepaskan diri dari pelbagai masalah politikdan tradisi keagamaan. Patut diingat, sampai 1950 kerajaan ini hanya memiliki tak lebih dari 50 mil jalan beraspal. Kini pesawat jet, simpang-siur di angkasa. Busana Paris terbaru bisa dibeli di Riyadh atau Jeddah. Modernisasi kilat yang melanda cara hidup berabad-abad ini bagaimanapun mengguncangkan susunan masyarakat tanah kelahiran Islam itu. Karena itu Dr. Masri dan' rekan-rekannya, termasuk Menteri Pendidikan Dr. Abdul Aziz al-Khuwaitir, bagai berjalan meniti tali. Di satu pihak mereka berhadapan dengan semangat pembangunan yang, tidak urung, ingin mengeduk masa lampau lengkap dengan keagungannya. Di pihak lain berdir/semangat agama yang terheran-heran memandang modernisasi dan usaha menggali sejarah purba yang, menurut mereka, barbar alias jahili. Tapi, sebenarnya, "segalanya berubah," seperti kata Ali Ibrahim Hamid, mahasiswa arkeologi Universitas Riyadh berusia 22 tahun. "Al Quran banyak menyebut kebudayaan kuna," katanya. Bukan hanya 'Ad dan Tsamud, tapi juga misalnya Saba, Iram, secara samar-samar Himyar dan Ma'rib, di samping seperti Sodom dan Gomorrah yang juga disebut dalam Bibel. Karena itu, "kami harus menyimak sejarah ini untuk mengenal kehidupan nenek moyang. Para arkeolog Barat telah memberikan kesan keliru mengenai bangsa kami. Kami ingin melakukan koreksi. Kami ingin menulis sejarah kami sendiri." Maka bukan kebetulan, sementara mempersiapkan penggalian di Taima --lokasi arkeologi yang paling diharapkan di seluruh Saudi--Dinas Purbakala dan Museum juga memugar kota tua Dar'iyah, sebuah oasis 15 mil dari Riyadh, pusat gerakan Wahhabi pada abad ke-18. Inilah kota bersejarah yang penuh riwayat periuangan kaurn puritan, tulang punggung ideologi Saudi sampai kini. Pemerintah juga akan memugar, misalnya, Istana Murabba' Istana Persegi) di pusat Kota Riyadh, kediaman almarhum Raja Abdul Aziz ibn AbdurRahman al-Faisal As-Sa'ud, ayah Raja Khalid, Pangeran Fahd dan almarhum Raja Faisal--pendiri Saudi modern. Begitu pula sisa-sisa Darb Zubaidah, persinggahan dan suplaier air sejak 1000 tahun lalu bagi jamaah haji antara Baghdad dan Mekah. Penggalian yang dipimpin Dr. Masri memang belum berusia panjang. Tapi bukti yang muncul begitu banyak. Paling tidak sudah bisa diungkapkan, negeri ini ternyata jauh dari anggapan klise yang mengiranya tak lebih dari sekedar sebuah wilayah tandus. Dijepit Lembah Nil dan Eufrat, Semenanjung Arab terkait erat pada tanah air dua peradaban besar: Mesir dan Mesopotamia. Kini terbukti, pantai timur semenanjung ini sudah padat didiami manusia neolitik--sejak 5000 SM. Pada medio 1970-an, misalnya, Dr.Masri mengguncangkan para ahli Timur Tengah dengan sebuah penemuan. Di tiga tempat--Ain Qannas, Dausariyah dan Abu Khamis, di Teluk Persia--penggalian mengisyaratkan kehidupan yang lebih kompleks dari yang pernah dibayangkan di situ. Penduduk purba lokasi ini adalah petani. Mereka membangun rumah dari plester kapur dan gelagah. Mengandangkan domba dan kambing. Dantampaknya pandai pula memancing di laut. Di lokasi itu juga ditemukan keramik--dibuat ratusan mil di utara, di ,tempat yang kemudian bernama Irak. Kenyataan ini membawa para ahli pada kesimpulan: penduduk purba itu juga para saudagar antarnegeri--yang menjalin hubungan dagang erat dengan orang Mesopotamia. "Tak perlu disangsikan, Arab Saudi sudah tercatat dalam peta bumi yang didiami sejak 7000 tahun lampau," ujar Masri. "Dengan sistem pengolahan tanah, pengandangan lembu, domba dan kambing. Ternyata kami mempunyai kebudayaan pemukiman--di tanah yang penduduknya selalu dihubungkan dengan kebiasaan kaum nomad." ARA arkeolog meramalkan, penggalian di masa depan akan membuktikan betapa orang Arab purba terpengaruh dan mempengaruhi peradaban besar yang terdapat di Mesir, Mesopotamia, Lembah Indus an Bulan Sabit--yang terbentang antara Teluk Persia dan Teluk 'Aqabah. Berabad-abad mcreka menguasai lalulintas perdagangan rempah dan wangi-wangian, yang di masa itu sama pentingnya dengan minyak sekarang ini. Ada pula dugaan, jutaan tahun lalu semenanjung itu berfungsi sebagai jembatan antara Asia dan Afrika Timur--bagi makhluk yang kemudian berkembang menjadi Homo erectus. Konon pada suatu masa para pemburu Paleolitik berkeliaran melintasi Rub'ul Khali--'Tanah Kosong' di selatan Saud, kawasan yang kini demikian tandus dan kerontang hingga nyaris tak menjamin syarat kehidupan. Pada zaman ketika hujan berhenti turun, dan danau-danau mengering, para pemburu malang itu pun hijrah ke utara--mencari air dan makanan. Akhirnya mencapai pantai Teluk Persia, tempat yang kini dikenal sebagai provinsi timur Saudi yang kaya minyak. Di sinilah, jauh di bawah pasir, Masri dan rombohgannya menemukan isyarat peradaban dari 7000 tahun silam. Berbagai perkakas batu yang indah, mangkuk, cawan dan jambangan dari lempung berwarna kuning kehijauhijauan, berhiaskan ukiran merah kecokelatan. Itulah ciri keramik daerah 'Ubaid di Irak, tanah air nenek moyang bangsa Sumeria yang menciptakan tulisan pertama dan peradaban yang sesungguhnya di dunia! Penemuan seperti itu sangat merangsang kaum muda Saudi. Fakultas Arkeologi Universitas Riyadh sendiri kini memiliki 300 mahasiswa--dengan anggaran tahunan $330 ribu untuk usaha penggalian. Dan ini termasuk perkembangan luar biasa. Apalagi bila diingat, Prof. Abdur Rahman al-Ansari yang mengepalai fakultas tersebut tahun 1966 masih dicela mahasiswa dan para pemimpin agama--lantaran mendirikan Lembaga Arkeologi dan Sejarah Arab Saudi. Setidaknya karena menurut mereka, sia-sia. Kini fakultas itu memiliki ahli-ahli asing terkemuka. Di antaranya Dr.Gamal Mokhtar, bekas Direktur Dinas Purbakala Mesir. Banyak mahasiswanya dikirim ke luar negeri untuk mengikuti latihan lanjutan. Berbeda dengan Iran, Irak, Mesir dan Yordania yang sebenarnya memiliki banyak kader arkeologi, Saudi memang masih miskin tenaga terlatih. Profesor Ansari sendiri memimpin penggalian di lokasi arkeologi yang paling penting sekarang ini--di kota dagang purba, Fao. Kota itu ditemukan di bawah bukit pasir--di tepi tebing curam Tanah Kosong. Bekerja di tengah suhu yang hampir tak tertahankan, Profesor Ansari dan mahasiswanya sudah berhasil menemukan pasar kota tersebut. Usaha selanjutnya ialah mencari daerah pemukiman. Kota Fao berkembang sejak abad ke-2 SM hingga abad ke-4 M. Boleh jadi Fao ibukota kerajaan purba Arab Selatan, Kindah. Kindah sendiri tetap terkenal sampai zaman Islam. Dari sinilah misalnya lahir satu-satunya filosof yang murni Arab dan yang pertama dalam Islam, Al-Kindi. Profesor Ansari juga sudah menemukan ribuan artefak, termasuk keramik Romawi, patung dada alabaster bergaya Hellenik dan satu inskripsi di situ. Yang terakhir ini menyebutkan bahwa wilayah itu bekas persinggahan utama kafilah yang mensuplai Imperium Romawi dengan rempah dan wangi-wangian. Banyak ahli mengharap, studi sistematik dan terarah Arab Saudi ini akan mengisi kekosongan sejarah Arab pra-Islam--yang biasanya hanya dimulai secara jelas dari "beberapa saat" sebelum abad kelahiran Nabi Muhammad. Juga akan menjawab banyak pertanyaan. Misalnya: bagaimana sebenarnya proses perubahan iklim di sini--sehingga tanah subur yang pernah dihuni singa, menjangan dan manusia zaman batu ini kok lalu jadi samudra pasir kering kerontang. Sejauh mana Arab berfungsi sebagai jembatan pengaruh Mesopotamia yang tampak pada kebangkitan dinasti Mesir selama millenium keempat SM. Mengapa pula jumlah- penduduk lebih banyak pada tahun 2000 SM ketimbang pada saat kelahiran Nabi Isa. Dan siapa sesungguhnya nenek moyang orang Badui? Bagaimana hubungan Arab dengan negeri-negeri yang disebut dalam Taurat? Begitu banyak lokasi arkeologi, hingga para ahli bingung dari mana harus mulai. Di pantai timur, dekat Dhahran sekarang, terdapat Pulau Tarut -- pelabuhan dagang penting pertama pada millenium ketiga. Seribu tahun kemudian, berkat invasi Yunani, Tarut berjaya kembali. Terdapat pula persimpangan perjalanan dagang melalui darat di Thaj, Najran, Madain Salih, dan di dataran tinggi Ophir, "tempat emas ditambang untuk Nabi Sulaiman." Tak syak lagi, suatu ketika para arkeolog bakal menemukan Gerrah--kota dongeng yang hilang, pelabuhan pantai timur yang dibangun demi perdagangan dengan Yunani. Menurut para ahli ilmu bumi Yunani dari abad ke-2 SM, kota ini ditempati rumah-rumah dengan "pintu, dinding dan atap berhiaskan ukiran gading, emas, perak dan batu mulia." Lokasi di barat laut saja menyajikan sejarah Arab dalam.satu millenium. Di situ terdapat reruntuhan waduk Qasrul Bint dari zaman Nabi Muhammad, yang algunaKan orang Arab menampung air hujan yang sangat befiharga. Ada kota dagang purba yang bernama Dedan--yang menguasai lalu lintas rempah dari Arab Selatan ke Laut Tengah, sekitar tahun 1000 SM. Kota ini punya hubungan erat dengan Kerajaan Saba dari Ratu Bilqis dan Kerajaan Mina di selatan yang masyhur oleh wangi-wangian. Dedan kelak jatuh ke dalam dominasi kaum Nabatea yang berpusat di utara--di Kota Petra, Yordania. Serambi cadas perkasa yang menaungi pemandangan ke reruntuhan Dedan yang terbungkus pasir itu, bagai bukti dramatik peradaban Dedan. Di sana, di balik batu kemerahan, bersemayamlah makam yang dikawal dua patung singa. Profesor Ansari segera akan melakukan penggalian tepat di depan makam tersebut. Taima, pusat perdagangan Madyan purba di Saudi Barat Laut, masih didiami sampai sekarang. Inilah Madyan yang disebut dalam Al Quran, wilayah Nabi Syu'aib yang menjalin kisah dengan Musa. Sebagian penduduknya hidup di sekitar tembok batu berusia 3000 tahun, terentang empat mil membelah gurun. Para arkeolog sudah lama tertarik pada Taima. Kota ini di belakang hari menjadi pusat penyembahan bulan-dan tanah air kedua Nabonidus, raja terakhir Babilonia, yang menjadikannya markas besar selama sepuluh tahun sejak 550 SM. Menurut sebuah inskripsi kontemporer, dialah yang menjadikan Taima megah dan mendirikan sebuah bangunan "seperti istana Babilonia". Istana itu mungkin terpendam di bawah kota modern yang sekarang. Masih merupakan teka-teki mengapa raja itu meninggalkan Babilonia. Untuk Dr. Masri, pekerjaan menggali Taima bukan perkara gampang. Hampir tiap hari penduduk yang berang mengirim telegram kepada Raja Khalid, mengadukan nasib mereka yang mungkin tergusur. "Taima membuat kami naik pitam," kata sang doktor. "Kota ini dilanda urbanisasi. Kami kehabisan akal untuk meyakinkan betapa pentingnya penggalian." Tapi masalah hak milik bukan hambatan satu-satunya. Penggalian di daerah Madyan di barat laut Arab hampir pasti membuktikan sangkutpaut yang erat dengan bangsa Yahudi zaman perunggu dan masa-masa yang disebut dalam Taurat. Para ahli asing mengira, masalah ini bisa menambah ketegangan politik dengan Israel. Bagi Profesor Ansari sendiri, tampaknya tak ada batas untuk pekerjaan penyelidikan. "Kami tak bisa membantah bahwa orang Yahudi pernah bermukim di tanah Arab," katanya. "Al Quran sendiri berbicara mengenai orang Yahudi di Madinah. Kami tidak berkongkalikong dengan sejarah. History is history." "Memang terdapat kekeliruan di Barat," sahut Dr. Masri. "Islam sebenarnya selalu memelopori penyelidikan. Bila dulu arkeologi terisolasi di sini, hambatannya sebetulnya politis dan historis--bukan religius." Ahli Barat sendiri banyak yang menyadari, Islam sebenarnya lebih terbuka terhadap penyelidikan ilmiah. Ini pernah dikemukakan antara lain oleh Prof. Robert Mc. Adams dari Institut Ketimuran Universitas Chicago. Pernah ikut memimpin survei lapangan ada 1976-1977, ia mengaku "menemukan keterbukaan Islam terhadap perubahan penjelasan sejarah." Di negeri-negeri Islam umumnya, profesor itu katanya tak melihat sikap yang memusuhi ilmu--seperti yang tampak pada beberapa kelompok Kristen fundamentalis di Amerika Serikat umpamanya. MESKI demikian, kaum Wahhabi yang teguh itu V-- tak begitu saja bisa diajak menerima perubahan, bila itu berarti teknologi Barat "dengan segala eksesnya". Ini membuat para arkeolog asing bekerja dengan penuh pertimbangan. Dr. Masri sendiri, dan rekan-rekannya, melihat pekerjaan yang dibebankan pada pundak mereka sebagai suatu misi. "Kami memiliki penduduk yang sebagian besar tidak terlatih, dan umumnya tidak akrab dengan teknologi," katanya. "Museum yangakan kami bangun bakal mengisi kekosongan akan penetahuan populer dan membantu mereka membentuk gagasan tertentu." Ia banyak mengirim tenaga muda Saudi berlatih di luar negeri. Di antara mereka sudah ada yang kembali. Sementara itu Masri juga 'mengimpor' berbagai tim survei yang dikepalai ahli-ahli Timur Tengah terkemuka. Misalnya Peter Parr dari Universitas London, Karl Lamberg-Karlovsky dari Harvard, Juris Zarins dari Universitas Missouri Barat Daya. Para tokoh ini memuji Masri yang membuka seluruh anak benua itu bagi jamahan tangan para ilmuwan, lengkap dengan usaha pelacakan dengan radio-aktif dan analisa kimiawi pada hasil penggalian. Tapi justru karena seriusnya proyek tersebut, di antara mereka juga tumbuh semacam kesangsian: apakah Saudi benar-benar siap untuk penyelidikan yang sungguh luas dan menuntut spesialisasi tinggi itu. Negeri ini adalah 'pendatang baru' dalam disiplin ilmu jenis ini. Sedang sebagian besar mahasiswa berotak cemerlang, kenyataannya tetap memilih karir bisnis dan industri minyak. Universitas Minyak dan Mineral di Dhahran misalnya tergolong yang maju di dunia. Meski banyak anak muda sedang men jalani latihan kilat dalam arkeologi, Dr. Masri sendiri masih bekerja dengan staf yang tak terlatih--dan tak sepadan dengan aspirasi yang ingin I mereka penuhi. Ini kata Profesor Adams dari Universitas Chicago. Profesor Adams sendiri, beserta timnya, tak melanjutkan penyelidikan mereka di Saudi. Soalnya, katanya, tak ada kepastian tentang pengawasan proyek. Di samping itu tradisi Saudi tak mengizinkan mahasiswaputri ikut bekerja di lapangan--bertentangan dengan kebijaksanaan Universitas Chicago yang melepas mereka. Banyak pula anggota tim mengeluh menghadapi birokrasi di negeri ini-yang konon lebih ruwet ketimbang di Oman, Bahrain, Irak dan negeri-negeri berdekatan. Tak semua ahli pula senang dengan ketatnya usaha Dr. Masri mengontrol publikasi hasil penggalian. Sebagian lagi tak sabar melihat langkah Masri yang "lamban", yang lebih dulu menyelidiki segala sesuatu sebelum bertindak. Tapi sang doktor mantap. "Kami mulai dengan tabula rasa," ujarnya. "Kami tidak tahu apaapa mengenai tanah air ini. Begitu banyak lokasi menarik yang didongengkan rakyat. Maka kami harus mempertimbangkan segala hal sebelum mulai menggali." Mungkin juga ada alasan lain. Semacam hasrat untuk lebih dulu mencetak kader Saudi sendiri. "Sungguh tak sedap, melihat warisan budaya nenek moyang kami ditangani sepenuhnya oleh orang-orang asing," ujar Masri lalu. Sesungguhnya tak ada ironi dalam pernyataan tersebut. Sampai sekarang, orang-orang asinglah yang paling berminat terhadap pusak yang terpendam di padang gurun itu. Adalah para pekerja Arabian American Oil Company (Aramco) yang menemukan--puluhan tahun lalu--bahwa pantai sepanjang Teluk Persia, di sekitar ladangladang minyak, sebenarnya penuh dengan guci, mata panah dan patungpatung kecil. Lantaran iseng di akhir minggu, lagi pula tak ada hiburan, orang Amerika itu pada menggali pasir. Beberapa di antara amatir ini kemudian sadar betul akan kegiatan tersebut. Terutama Marny Golding, istri seorang insinyur Arnerika dan satu di antara beberapa arkeolog amatir yang mendapat penghargaan para profesional. Pada medio 1960-an Ny. Golding sadar: keramik dengan hiasan garis cokelat, zigzag dan melingkar yang baru digalinya itu, bukan berasal dari kebudayaan Islam yang baru. Melainkan sangat mirip keramik purba'Ubaid --yang dipercaya berasal dari Irak, Iran dan Suriah. Mula-mula para profesional menyatakan pendapatnya keliru. Tapi, nah--Dr. Masri tertarik. Pada awal 1970-an, sang nyonya dimintanya menunjukkan lokasi penggaliannya. Peristiwa inilah yang kemudian mengawali ekspedisi di Teluk Persia. Namun Aramco kena getahnya. Menurut taksiran Dr. Masri, para penggali amatir--karyawan Aramco-sudah menggunduli lebih separuh lokasi Provinsi Timur. Padahal inilah kawasan arkeologi terpenting di seantero Kerajaan. Pemerintah Saudi lalu menjadi sangat peka menghadapi perusahaan tersebut--plus setiap orang asing yang menggali peninggalan budaya mereka. Harap diingat sekali lagi, di masa-masa kemarin bukan main banyaknya barang purbakala kita yang digali para sarjana Barat dan langsung diangkut ke negeri para penjajah itu--dan itulah yan kini muncul di berbagai museum Eropa dan Amerika. Hanya memang agak janggal, bila beberapa tahun lalu pemerintah Saudi sampai-sampa.i melarang sebuah tim survei arkeologi Amerika menggunakan peta pemotretan udara buatanAramco. Tim itu sendiri bekerja berdasar kontrak dengan Dr. Masri. Peta pemotretan udara tersebut dibuat untuk eksplorasi minyak, namun penting pula bantuannya bagi kerja penggalian. Banyak anggota tim mengeluh oleh kejadian ini. Salah seorang berkata, "kami tidak mendapat fasilitas yang diperlukan untuk pekerjaan yang baik. Sedang di Irak, tempat kami dituduh mata-mata, kami toh dibekali peta udara." "Hampir dapat dipastikan, para arkeolog yang sedang bekerja di Semenanjung Arab akan terlibat lebih banyak kesulitan di masa depan," kata Robert Reinhold lalu. Pengungkapan misteri purba, menurut dugaannya, tak selamanya serasi dengan agama yang sudah mapan. Atau mungkin akan keliru. Sebab sudah terbukti bahwa faktor-faktor politik, adat-istiadat dan karakter orang setempatlah yang lebih menentukan. Tapi memang usaha ilmiah ini bisa saja dibayangkan berhenti bila faktor-faktor tersebut makin mengeras. Seratus tahun lalu, teori Darwin dianggap merongrong dasar-dasar iman kekristenan. Meski badainya sudah teduh, sampai sekarang riaknya masih terasa. Kini Islam bagai sedang menghadapi batu ujian. Para ahli Saudi sendiri berharap, hasil penggalian yang mengungkapkan kekayaan dan kebanggaan tradisi ini bukannya akari merongrong Islam, melainkan justru semakin mengagungkan. Hanya sedikit sarjana Barat yang bisa paham tentang ini.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/a ... 99.id.html

ARAB SAUDI masa pra Islam justru topografinya bukan padang pasir melainkan hutan belantara
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Laurent » Sun Mar 13, 2011 10:53 am

Madain Saleh: Sisa Kehancuran Kaum Tsamud
Dalam Alquran banyak sekali dijelaskan tentang kehancuran bangsa-bangsa (kaum) yang tidak mau beriman kepada Allah SWT. Di antaranya, bangsa 'Ad (umat Nabi Hud), kaum Tsamud (umat Nabi Saleh), bangsa Madyan (umat Nabi Syu'aib), kaum Nabi Ibrahim, serta kaum Nabi Nuh.

Seperti umat lainnya, umat Nabi Saleh, yaitu kaum Tsamud, juga dihancurkan karena mereka tidak mau beriman kepada Allah SWT dan tidak mengakui Saleh sebagai seorang Nabi. Mereka dihancurkan oleh Allah SWT dengan petir yang menggelegar sehingga meruntuhkan bangunan tempat tinggal mereka.

''Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tshamud.'' (QS Hud ayat 67-68).

Sebelum mereka dihancurkan dengan suara petir yang menggelegar, bangsa Tsamud ini diperintahkan untuk menyembah Allah dan mengikuti ajakan Nabi Saleh. Namun, mereka enggan melakukannya. Bahkan, ajakan itu justru dianggap menghina kaum Tsamud. Lalu, ketika diuji dengan diberikan seekor unta betina, mereka pun membunuhnya. Kemudian, Nabi Saleh memperingatkan umatnya. Cerita ini terdapat dalam surah Hud ayat 61-62 dan 65-68, Ibrahim ayat 9, Al-A'raf ayat 75-77, An-Naml ayat 47-50, Al-Qamar ayat 23-26, dan Asy-Syu'araa' 141-158.

Karena sikap sombong dan angkuh itu, mereka pun harus menerima akibat dan dihancurkan oleh Allah SWT sebagaimana telah dilakukan pada kaum 'Ad, umatnya Nabi Hud.

Berdasarkan hasil studi arkeologi dan sejarah terkini mengenai kehidupan dan peninggalan bangsa Tsamud ini, para peneliti arekologi berhasil menemukan dan mengungkapkan keberadaan kaum Tsamud di antara Yaman selatan dan utara Madinah yang disebut dengan nama Madain Saleh. Alquran menyebutkan, kaum Tsamud membuat rumah atau bangunan sesuai dengan gaya hidup mereka. Tsamud, seperti disebutkan dalam Alquran, merupakan fakta sejarah yang dibenarkan oleh banyak temuan arkeologis saat ini.

Menurut penjelasan Alquran, kaum Tsamud merupakan anak cucu dari kaum 'Ad. Hal ini dibuktikan dengan temuan-temuan arkeologis tentang keberadaan dan kehidupan mereka. Dijelaskan, akar kaum Tsamud dulunya hidup di utara Semenanjung Arab yang berasal dari selatan Arabia, tempat kaum 'Ad pernah hidup.

Sumber-sumber sejarah mengungkapkan, sekelompok orang yang disebut dengan Tsamud benar-benar pernah ada. Masyarakat al-Hijr (batu) sebagaimana disebutkan dalam Alquran adalah sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab al-Hijr. Kata 'Tsamud' adalah nama dari suatu kaum, sedangkan kata al-Hijr adalah salah satu di antara beberapa kota yang dibangun oleh orang tersebut. (Lihat Ensiklopedia Islam).

Seperti umat Nabi Hud yaitu kaum 'Ad, ahli geografi Yunani yang bernama Pliny menggambarkan bahwa Domatha dan Hegra adalah lokasi tempat tinggal kaum Tsamud. Tempat tersebut hingga kini dikenal dengan nama Kota Al-Hijr.

Sumber tertua yang berkaitan dengan kaum Tsamud adalah hikayat kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang mengalahkan orang-orang ini dalam pertempuran di Arabia selatan. Bangsa Yunani juga menghubungkan kaum ini sebagai 'Tamudaei', yakni 'Tsamud' sebagaimana ditulis Aristoteles, Ptolomeus, dan Pliny. Kaum Tsamud ini diperkirakan hidup pada abad ke-8 Sebelum Masehi, sekitar tahun 800-an SM.

Dalam Alquran, kaum 'Ad dan Tsamud disebutkan secara bersamaan. Menurut para ahli tafsir, terdapat sebuah hubungan antara kedua kaum ini. Dan, kaum 'Ad pernah menjadi bagian dari sejarah kaum Tsamud.

Nabi Saleh memerintahkan umatnya untuk mengambil peringatan dari kejadian yang pernah menimpa umat Nabi Hud (kaum 'Ad). Sementara itu, kaum 'Ad ditunjukkan contoh dari kaum Nabi Nuh yang pernah hidup sebelum mereka. Kaum 'Ad mempunyai kaitan penting dengan kaum Nabi Nuh. Ketiga kaum ini mempunyai hubungan sejarah yang saling berkaitan.

Menurut Alquran, kaum yang pertama kali dihancurkan adalah kaum Nuh. Selanjutnya, kaum Nabi Luth yang melakukan hubungan sejenis (homoseksual). Kemudian berturut-turut, kaum Nabi Musa (penenggelaman Firaun), kaum Nabi Syu'aib (Madyan), kaum Nabi Hud ('Ad), dan kaum Nabi Saleh (Tsamud).

Menurut Harun Yahya dalam situsnya, umat Nabi Nuh dihancurkan pada 3000-2500 SM, kaum Ibrahim dan Luth awal tahun 2000 SM, umat Musa tahun 1300 SM, umat Hud ('Ad) 1300 SM, dan umat Nabi Saleh (Tsamud) sekitar tahun 800 SM.

Menurut beberapa sumber, urutan tersebut di atas belum sepenuhnya tepat. Namun, dari data itu, akan dihasilkan sebuah rangkaian yang sangat runtut (tertib), baik menurut Alquran maupun data-data sejarah.


Pahatan Batu

Dari beberapa keterangan yang ada, Britannica Micropedia menyebutkan:
Di Arabia Kuno, suku atau sekelompok suku tampaknya telah memiliki keunggulan sejak sekitar abad 4 SM sampai pertengahan awal abad 7 M. Meskipun kaum Tsamud kemungkinan asal-usulnya dari Arabia selatan, sebuah kelompok besar rupanya pindah ke utara pada awal-awal tahun, secara tradisional berdiam di lereng gunung (Jaba) Athlab. Penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan, sejumlah besar batu bertulis dan gambar-gambar kaum Tsamud tidak hanya ada di Jabal Athlab, tetapi juga di seluruh Arabia tengah. (Britannica Micropedia, vol 11, hlm 672).

Pada sekitar 2000 tahun yang lampau, kaum Tsamud telah mendirikan sebuah kerajaan bersama bangsa arab yang lain, yaitu Nabataeans. Saat ini, di Lembah Rum yang juga disebut dengan Lembah Petra di Jordania, dapat dilihat berbagai contoh karya pahat batu yang terbaik dari kaum ini. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, kaum Tsamud ini memiliki kemahiran dan keahlian dalam bidang pertukangan (ukiran dan pahat memahat).

''Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.'' (QS al-A'raf: 74)

Menurut Brian Doe, seorang peneliti arkeologi tentang keberadaan kaum Nabi Hud dan kaum Tsamud di Arabia selatan, kaum Tsamud ini dikenali melalui tulisan dan pahatan-pahatan yang mereka buat di dinding-dinding batu. Tulisan yang secara grafis itu sangat mirip dengan huruf-huruf Smaitic (yang disebut Thamudic) dan banyak ditemukan di Arabia selatan sampai ke Hijaz. (Brian Doe, Southern Arabia, Thames and Hudson, 1971, hlm 21-22)

Tulisan yang pertama ditemukan di daerah utara Yaman tengah yang dikenal sebagai Tsamud, ini dibawa ke utara oleh Rub'ah Khali ke selatan dan Hadramaut serta oleh Shabwah ke barat.

Seperti halnya kaum 'Ad, peninggalan kaum Tsamud banyak ditemukan di daerah sekitar Hadramaut, Yaman. Walaupun telah dihancurkan oleh Allah SWT selama ribuan tahun lalu, namun hingga kini sisa-sisa peninggalan mereka (berupa bangunan dan karya seni) masih dapat ditemukan di sekitar Hadramaut dan di Kota Madain Saleh, sebelah utara Madinah. sya/berbagai sumber


Warisan Dunia

Kota bekas peninggalan umat Nabi Saleh, yaitu kaum Tsamud di Al-Hijr (Madain Saleh), kini menjadi salah satu kota warisan dunia. Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO), pada awal Juli 2008 lalu, telah mengesahkan kota tua Madain Saleh yang terletak di utara Madinah, sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage Site).

Kaum Tsamud dan Nabatea yang menetap di Madain Saleh adalah situs bersejarah yang memiliki 132 kamar dan kuburan. Tempat ini terletak sekitar 440 km di sebelah utara Madinah. Umat ini diperkirakan hidup pada 200 SM hingga abad 200 Masehi (abad ke-2). Peninggalan yang masih bisa dilihat di sini adalah ukiran dan pahatan pada tembok, menara, serta sejumlah saluran air dan bak-bak air.

Selain itu, para arkeolog juga menemukan batu bata rumah warga yang dianggap sebagai sisa peninggalan umat Nabi Saleh di Nabatea yang terpelihara dengan baik setelah Petra, dan berlokasi sekitar 440 km arah utara Madinah yang berbatasan dengan Yordania. Kota Madain Saleh menjadi situs warisan dunia yang pertama diperoleh Arab Saudi. sya/iina


Kaum Tsamud, Entrepreneur Ulung

Kaum Tsamud, umat Nabi Saleh, dikenal sebagai entrepreneur ulung di masanya. Berbagai karya seni pahat, ukiran, dan pertukangan adalah contoh keahlian dan kemahiran mereka.

''Dan, ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.'' (QS al-A'raf: 74)

Para arkeolog berhasil menemukan sejumlah batu karang dari hasil budaya kaum Tsamud di gunung-gunung maupun di lembah-lembah sekitar Arabia selatan dan tengah. Misalnya di Jabal Athlab, ditemukan tembikar dan lainnya.

Karena keahlian dan kepandaiannya itu, hasil ukiran yang mereka buat dijadikan sebagai barang dagangan dengan komunitas lainnya. Sebagian lagi dibuat hiasan di rumah-rumah mereka.

Produk utama kaum Tsamud adalah barang pecah belah (tembikar) yang unik dan memiliki nilai seni yang berkualitas tinggi. Sedangkan, produk lainnya yang diperdagangkan adalah kemenyan dan rempah-rempah. Dari hasil perdagangan tersebut, didapatkan kekayaan sehingga memungkinkan mereka membangun istana, rumah yang dipahat, dan makam pada batu karang. Kota tersebut berada 347 km di sebelah utara Madinah.

Pada sekitar 200 SM, kaum Nabasia menggantikan kaum Tsamud menguasai Kota Dedan (Al-Ula) sampai Al-Hijr (Madain Saleh). Situs arkeologi penting ditemukan di Kota Al-Ula yang telah dihuni sampai 1970, yang merupakan sebuah percontohan Kota Islam yang dikenali kembali pada abad ke-11 Masehi. Khuraibah merupakan sebuah situs Kerajaan Lihyanite, yang terdapat sejumlah besar makam. Ditemukan pula, Ikmah yang merupakan sebuah sungai (wadi) pada batunya memuat prasasti Lihyanite dan Minea

http://ristu-hasriandi.blogspot.com/201 ... -kaum.html
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby DHS » Sun Mar 13, 2011 4:27 pm

Image
Nice post, gan!

Semuanya sisasisa peradaban pra-Islam yang jaya, yang kemudian hancur dan terhampar begitu saja sepanjang padang dan perbukitan sahara. Persis seperti yang disebut dalam Al Quran: "Betapa banyaknya Kami hancutkan negeri yang makmur kehidupannya itulah bekas-bekas tempat tinggal mereka, tak lagi dihuni di belakang hari kecuali sedikit" (Q. 28 : 58).

Kalau soal rusak-merusak, islam memang rajanya!!! :vom:

Tapi kini, seraya melangkah dalam gemuruh abad ke-20, kerajaan yang bersimbah minyak dan duit itu mencoba menemukan kebanggaan masa silamnya. Jutaan dollar dicadangkan untuk eksplorasi ratusan obyek arkeologi-termasuk survei sistematik atas reruntuhan seperti yang terdapat di Madain Salih. Bahkan dalam waktu bersamaan, para sultan dan amir berbagai negeri minyak di sekitar Teluk Persia terangsang pula untuk mengail masa lampau mereka yang selama ini tetap tersimpan.

Bisa dibayangkan, jika penggalian ini menghasilkan kesimpulan-kesimpulan baru tentang akar kebudayaan negara2 di atas, maka keberadaan islam secara keseluruhan akan mengalami goncangan yang dahsyat. Coming soon!!! :drinkers: :finga:

Paling tidak sudah bisa diungkapkan, negeri ini ternyata jauh dari anggapan klise yang mengiranya tak lebih dari sekedar sebuah wilayah tandus. Dijepit Lembah Nil dan Eufrat, Semenanjung Arab terkait erat pada tanah air dua peradaban besar: Mesir dan Mesopotamia.

Tetangganya taman Eden dulu, ya pasti suburlah.

Banyak ahli mengharap, studi sistematik dan terarah Arab Saudi ini akan mengisi kekosongan sejarah Arab pra-Islam--yang biasanya hanya dimulai secara jelas dari "beberapa saat" sebelum abad kelahiran Nabi Muhammad

Ajaran sejarah islam kan? \:D/ Doktrin yang sudah terpatri kuat di setiap benak muslim.

Penemuan seperti itu sangat merangsang kaum muda Saudi. Fakultas Arkeologi Universitas Riyadh sendiri kini memiliki 300 mahasiswa--dengan anggaran tahunan $330 ribu untuk usaha penggalian. Dan ini termasuk perkembangan luar biasa. Apalagi bila diingat, Prof. Abdur Rahman al-Ansari yang mengepalai fakultas tersebut tahun 1966 masih dicela mahasiswa dan para pemimpin agama--lantaran mendirikan Lembaga Arkeologi dan Sejarah Arab Saudi. .... MESKI demikian, kaum Wahhabi yang teguh itu -- tak begitu saja bisa diajak menerima perubahan

Semakin para pemimpin agama ezlam dan kaum Wahabi menentang, semakin mata dunia bertanya-tanya: Ada apa ini? :roll:
Semakin curiga nih, apanya islam yang mesti diumpetin. :green:

Penggalian di daerah Madyan di barat laut Arab hampir pasti membuktikan sangkutpaut yang erat dengan bangsa Yahudi zaman perunggu dan masa-masa yang disebut dalam Taurat ... Bagaimana hubungan Arab dengan negeri-negeri yang disebut dalam Taurat? ... Kami tidak berkongkalikong dengan sejarah. History is history."

Yup! Sejarah bersifat netral dan membentangkan kebenaran masa lalu.
Semakin digali, semakin membenarkan kisah2 yang tercatat dalam kitab Taurat dan Injil dan semakin membuktikan ngawurnya Muhammad dalam segi sejarah: rafat-amari-islam-ditinjau-dari-pengamatan-sejarah-t42161/
User avatar
DHS
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4377
Images: 4
Joined: Sat Jan 05, 2008 7:56 pm

Re: ARAB SAUDI : Google Earth Temukan Situs Pra Islam

Postby Topsy KreeT » Sun Mar 13, 2011 5:00 pm

aya_el_hamied wrote:ingat kalau islam diturunkan untuk penyempurnaan,,, n bukan tidak mungkin lo suatu hal yang solid dibutuhkan perubahan eang lebih untuk menjadi sempurna

islam sebagai penyempurna?
silahkan mampir ke thread bung Fox:
islam-penyempurna-kekristenan-t43118/
User avatar
Topsy KreeT
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2099
Images: 4
Joined: Tue Sep 22, 2009 8:32 pm
Location: Somewhere Far Away


Return to Islam /Muslim dlm Gambar Dan Berita Internasional



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users