by Jeleme_Lengeh » Sun Jun 15, 2008 10:57 pm
Slogan Bhinneka Tunggal Ika hanya cocok diterapkan pada jaman majapahit, dimana slogan itu dibuat, ketika Agama Buda, Brahman, Wesnawa (Wisnu), Siwa dan agama sejenis dari India berada di Indonesia. Untuk agama-agama tersebut memang penamaan Tuhan tidak begitu ditekankan seperti pada agama Kristen dan Muslim.
Seperti Sloka :
ekam ewam adityam brahman : hanya satu (ekam ewan) tidak ada duanya (adityam) tuhan (brahman).
eko narayanan na dwityo"sti kascit : hanya ada satu tuhan (narayana) tidak ada duanya.
ekam sat wiprah bahudha wadanti : hanya satu (eka) tuhan (sat) hanya orang bijaksana (wiprah) menyebutkan (wadanti) dengan banyak nama (bahudha)
bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangruwa : berbeda-beda tetapi satu, tidak ada dharma yang dua.
Nah sloka Bhinneka tersebut muncul karena banyak penafsiran atas nama Tuhan seperti Brahman, Narayana, Siwa dan sebagainya. Padahal penamaan Tuhan dengan berbagai nama tersebut diijinkan dalam sloka Ekam Sat Wiprah Bahudha Wadanti.
Nah peranan Mpu Tantular disini ialah agar umat penganut berbagai agama tersebut tidak saling "mengklaim" hanya memiliki nama Tuhan yang paling benar saja, padahal hakekatnya adalah, nama apapun yang kita berikan kepada Tuhan adalah selalu benar, seperti sloka ekam sat wiprah bahudha wadanti (hanya ada satu Tuhan, orang bijak menyebut dengan banyak nama).
Permasalahan kemudian muncul ketika terdapat suatu agama (islam) yang hanya menerima satu nama (mutlak) saja untuk penyebutan tuhan yaitu Allah. Penyebutan ini tidak akan menimbulkan masalah asal tidak muncul adanya klaim tunggal (paling benar) atas penamaan Tuhan. Namun dalam kenyataannya agama ini dengan tegas menyebutkan bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang dengan jelas-jelas melanggar Bhinneka Tunggal Ika tersebut.