. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Amin Rais & Wajah Islam Indonesia!!

Pembuktian bahwa Islam bukanlah ajaran dari Tuhan.

Amin Rais & Wajah Islam Indonesia!!

Postby Kahlil Gibran » Thu May 29, 2008 5:40 am

RENUNGAN IBU PERTIWI TENTANG SISI-SISI NEGATIF PERAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA
Bila anda seorang intelektual Muslim yang dewasa dan rasional, maka setelah membaca fakta2 sejarah di bawah ini, lalu merenungkannya secara mendalam, barangkali anda tidak akan emosi dan marah, bahkan menitikan air mata kepedihan dan mengucapkan terima kasih kepada penulisnya atas fakta, kritik dan saran yang terkandung didalamnya. Sama sekali tidak ada maksud negatip dari hati penulis, kecuali keinginan mengungkapkan keprihatinan hati nurani penulis. Kecintaan penulis yang tulus dan dalam kepada Tuhan YME serta negara RI menjadi sumber utama inspirasi untuk menulis artikel ini. Berikut ini fakta2 sejarah nyata tersebut:
Jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD telah memprovokasi/mendalangi massa NU (umat Islam, terutama di Jatim) untuk membantai ratusan ribu massa PKI yang tak berdosa dan tidak tahu menahu tentang politik di desa2, ditahun 1965, hal ini dilakukan untuk menutupi coup de ‘etat angkatan darat sekaligus mengkambinghitamkan PKI.
Pembunuhan yang lebih kejam lagi adalah “pembunuhan kemanusiaan” terhadap anak cucu para anggota PKI yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat politik dengan cara merintangi perkembangan kepribadian, emosi dan bisnis mereka (alat2 pembunuh yang diciptakan misalnya: litsus dan S.K bebas G30S). Operator pembunuhan nasional ini adalah pasukan KOPASUS/RPKAD dibawah pimpinan Sarwo Edhi (mertua presiden SBY). Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang meminta maaf. Disini agama dipakai untuk memprovokasi massa dan membantai bangsanya sendiri!
Dijaman Soeharto (Orba): agama diperalat untuk menggaet suara pemilih disaat Pemilu, misalnya saja penyalahgunaan dai Zainudin MZ yang sengaja sering ditampilkan di TV, kemudian sengaja digelari “Dai Sejuta Umat” agar rakyat mudah terpikat. Setelah populer, dai ini dibawa safari Ramadhan oleh menteri Harmoko untuk menipu rakyat demi kemenangan GOLKAR. Memenangkan suara pemilu suatu daerah diuamakan melalui para ulamannya. Semenjak regim ORBA s/d saat ini para kyai dan ulama terus diperebutkan oleh politikus untuk menjadi sekedar alat politik. Oleh regim Suharto, para ulama busuk ini dibuatkan wadah yang dinamai MUI.
Saat ini adalah sulit untuk membedakan antara ceramah agama dan ceramah politik seorang ulama. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang berani memarahi para ulama di MUI dan saat itu disiarkan secara langsung di TVRI! Gus Dur menandaskan bahwa para ulama ini adalah para pengejar harta dan kekuasaan (ulama plasu). Disini agama kembali dipakai untuk menipu rakyatnya.
Ketika regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum intelektual.
Saat itu, banyak Profesor dan Doktor terpikat masuk ICMI terbius tuk menduduki jabatan birokratis yang tinggi. Hal ini paling tidak menandakan adanya: kebutaan politik dan tingginya napsu manusiawi (harta dan kedudukan) para ilmuwan Muslim. Disini agama dipakai untuk membius dan mengelabui cendekiawannya sendiri.
Seiring dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan.
Sebelumnya Suharto telah mengobral uang rakyat sebanyak 700 trilyun rupiah ke etnis Tionghoa yang nakal lewat BLBI (banyak Chinese yang baik, namun Suharto lebih memilih konglomerat hitam). Dengan demikian, regim ORBA ingin berganti baju, yang dulu: militeristik, pro nasionalis (dengan think-thank CSIS), dekat dengan Tionghoa, dekat dengan USA/IMF, dan terkesan menindas Islam, menjadi pro Islam atau bahkan ingin mengesankan diri sebagai pembela Islam, menjauhi Tionghoa dan Barat. Regim ORBA saat itu sudah diambang kejatuhan, maka strategi terjitu adalah politisasi agama.
Suharto mulai sadar bahwa negara RI telah ia gadaikan ke USA dkk. sejak tahun 1965. Sejak 1965, USA dkk. (yang membantu terjadinya regim militer) menerima konsesi pertambangan dan industri yang luar biasa besarnya (Caltex, Freeport, Inalum, dsb) dan mulai menjajah ekonomi Indonesia melalui IMF. Boleh dikatakan bahwa yang menikmati kekayaan yang berlimpah di Indonesia itu bukan orang Dayak, Irian, Pakan Baru, Aceh; melainkan bangsa USA, Inggris, Jepang, Singapore, dst, serta para birokrat, petinggi militer/polisi, serta konglomerat hitam (terutama di pusat, Jakarta). Disini agama dipakai untuk meninggikan etnik keturunan bangsa lain, meremehkan suku-bangsa sendiri, mengalihkan perhatian, memprovokasi anti Barat, dan menipu rakyatnya sendiri!
Seminggu sebelum tragedi Mei 1998 (yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta dan Solo, yang didalangi Wiranto dan Prabowo dengan operator RPKAD dan Pemuda Pancasila) para provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:”Milik Pribumi Muslim”. Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu domba Islam dengan etnis Tionghoa.
Nampak bahwa regim Suharto/militer ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa dan ingin membuat citra bahwa umat Muslim marah kepada Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik daripada yang “hitam”). Manusia Jawa lalu merasa: dianaktirikan (dibunuhi dijaman 1965) dan Tionghoa dianak emaskan (diberi BLBI 700 trilyun); sebaliknya manusia Tionghoa merasa: dianaktirikan (dibunuh dan diperkosa saat tragedi Mei 98, penindasan budaya, serta adanya persyaratan SKBRI) dan pribumi dianak emaskan (misalnya: diberi kesempatan lebih besar menjadi PNS); kemudian menjelang reformasi, keturunan Arab dianak emaskan.
Dimulai semenjak regim Suharto, hubungan pribumi dan Tionghoa menjadi tidak harmonis bahkan cenderung saling curiga; demikian pula antara Jawa dan non luar Jawa (adanya sentralisasi mengakibatkan luar Jawa jauh tertinggal). Disini agama dipakai untuk adu domba, divide et’ impera (pemecah belah), kerusuhan, perkosaan bahkan pembantaian etnis.
Ketika Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak. (Bila saat itu tetap hanya ada tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah!) Agama kok begitu mudahnya diselewengkan/diperalat untuk menyelamatkan regim Orde Baru (= pembangkrut bangsa).
Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah mengatakan bahwa semua presiden yang direformasi pasti lari terbirit-birit ke Luar Negeri untuk menyelamatkan diri (agar tidak terbunuh), misalnya Marcos, Shah Iran, Mobutu Seseseko, Jean Betrand Aristi, dst. Sayang, bangsa ini baru terlelap tidur sehingga otaknya tidak mampu menganalisanya.
Para kaum supercerdas politik mengatakan bahwa disamping Suharto mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam). Siapakah diantara ketiga tokoh reformasi (Mega, Gus Dur, dan Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu? Ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais, kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI dan menyelundup sebagai tokoh reformasi.
Ketika kaum intelektual kampus dan para mahasiswa ingin menurunkan Habibie, Amin selalu melindungi Regim ORBA dengan himbauannya agar Habibie diberi kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya apabila Habibie menyeleweng. Padahal ingat bahwa Habibie sejak jaman Soeharto s/d saat ini adalah warga negara Jerman, jadi presiden kita pernah dijabat oleh orang Jerman! Dan saat turun dari singgasananya dengan seenaknya sendiri Soeharto menunjuk penggantinya (=pelindungnya!). Ketika PDIP menang pemilu (tidak bisa menang mutlak, karena partai peserta Pemilu disengaja banyak sekali), regim ORBA masih merasa takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa tahu Mgw akan balas dendam thd regim Suharto); maka perlu kelicikan untuk menjegal Mega, Amien menjadi dalangnya dengan membentuk poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon “Wanita belum bisa diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Maka Gus Dur yang dianggap kurang berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati). Ketika dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil menjatuhkan Gus Dur.
Gebrakan Gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), pemulihan hak kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa Agung, yang kemudian ditengah masa jabatannya, ia dihabisi oleh Regim ORBA (regim Orba yang pakar dalam bunuh membunuh dan adu domba juga menghabisi Munir-Kontras serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah).
Di tahun 2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak dibutuhkan lagi oleh regim ORBA, maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden. Kemudian, dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci uang yang ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu, mengakui bersalah, barulah diampuni.
Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia banyak mendapat dukungan dan restu dari HMI, KAHMI, Muhammadiyah, dan MUI. Sampai dengan saat ini Amien Rais beserta HMI, Muhammadiyah, dan MUI tidak pernah lagi mengusik Suharto, akhirnya Suharto dan regimnya ternyata selamat. Dengan demikian, kita bangsa Indonesia patut menjadi sangat heran: Agama kok dipakai untuk mencegah emansipasi wanita (menjegal Megawati) dan membodohi bangsanya sendiri demi keselamatan regim ORBA yang sudah membangkrutkan bangsa! Para oknum Jendral AD sungguh hebat, ditangan mereka: Islam ternyata hanya menjadi sekedar alat mainan belaka!
Regim Orba dan regim militer (para oknum Jendral TNI AD, khususnya KOPASUS) menyadari bahwa rasa damai dan aman adalah kebutuhan mendasar manusia. Maka ketika terdesak oleh kaum Reformis, mereka mendanai, mengorganisasikan, dan menggerakan berbagai kerusuhan di bumi Nusantara, terutama menggunakan atribut Islam. Kerusuhan di Ambon, Pontianak, Poso, dst. adalah ulah mereka. Sebenarnya untuk menangkap otaknya/pendananya, cukup mudah sekali, cukup melacak aliran dana di Bank dan menyadap via telepon serta internet; namun Badan Intelijen (BIN) tidak melakukannya, mengingat BIN selama ini justru menjadi alat militer tuk berkuasa; musuh BIN yang terutama adalah justru manusia Indonesia yang baik dan idealis (bukan musuh dari luar).
Pensiunan BrigJen Sumarsono, waktu itu Sekjen PBSI, ditangkap dengan milyaran rupiah uang palsu. Para pengamat politik supercerdas langsung tahu bahwa uang palsu itu untuk membayari para preman perusuh; jadi ada maksud untuk sekaligus mengacau keamanan (kerusuhan) dan mengacau ekonomi (uang palsu), luar biasa liciknya para oknum jendral AD itu. Dengan diciptakannya berbagai kerusuhan, patahlah kepercayaan rakyat pada Reformasi, dan rakyat rindu pada regim militer lagi.
Rakyat juga dibodohi bahwa telah terjadi reformasi, padahal sama sekali belum terjadi mengingat yang baru turun dari singgasana hanyalah Suharto, sedangkan semua posisi penting dalam birokrasi dan militer (terutama TNI AD) masih dikuasai regim Suharto. Para oknum jendral AD di Mabes Cilangkap memang pintar, mereka selalu berada diantara bandul jam “radikal dan nasionalis”. Ketika mereka terdesak oleh kaum Nasionalis, maka kaum radikal sengaja dibesarkan/dihidupkan, dengan demikian kaum Nasionalis jadi keder nyalinya; sebaliknya bila regim Militer terdesak kaum radikal Islam, maka regim militer akan berbalik ke kaum Nasionalis untuk bersama-sama menghabisi kaum radikal. Pemilu terakhir yang dimenangkan SBY, regim militer menggunakan PKS (dari mana dana partai?).
Partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan. Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para professor), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa keilmuan, kampus, science tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA. Disini nampak jelas bahwa di Indonesia agama sekedar jadi alat permainan untuk dipakai mengelabui bangsanya sendiri, tidak heran Tuhan sepertinya menjauhi Indonesia!
Beberapa hari sebelum pemungutan suara pada pemilu presiden 2004, bom sengaja diledakan di depan Kedubes Australia. Saat pemungutan suara, TV BBC Inggris mewancarai seorang pencoblos, pencoblos itu mengatakan tidak mau memilih Megawati lagi dengan alasan banyaknya bom yang meledak, terutama yang barusan meledak di kedubes itu. Itu adalah salah satu faktor penentu kemenangan militer kembali. Sungguh jitu strategi para oknum Jendral AD ini! Kemudian, pengebomnya berhasil dibekuk, padahal strategi ini buatan mereka sendiri (memakai radikal Islam)! Jadi sekali tepuk mereka dapat dua point: menang pemilu & rakyat tambah percaya pada militer (bisa membekuk pelakunya).
Berbagai kerusuhan dan adu domba di Nusantara di outsourcingkan (disubkontrakan) kepada pihak ketiga (misalnya Pemuda Pancasila, Laskar Jihad, FPI, dst) melalui makelar, kemudian makelarnya dibinasakan. Sebagai contoh, kasus dukun santet di Banyuwangi; otaknya di Jkt (pada umumnya petinggi RPKAD), pelaksananya preman2 luar Jkt dan luar Bwi; setelah sukses, makelarnya dihabisin, sehingga benang merah koneksi antara otak di Jkt dan pelaksana di BWI terputus; jadilah kasus itu sekedar kasus lokal, pejabat busuk di Jkt seolah-olah tidak pernah terlibat kerusuhan atau kekerasan didaerah. Kembali agama hanya jadi sekedar bulan2an para oknum pembesar AD di Cilangkap dan di BIN.
Osama, Baasyir, dan ulama radikal selalu menggunakan tameng agama Islam guna memerangi lawan politik mereka, terutama negara Barat. Orang miskin dan **** terutama di negara berkembang di brain wash untuk menjadi senjata utama mereka yaitu bom bunuh diri! Seolah-olah ayat suci mereka buat dan tafsirkan sendiri misalnya: bunuh diri, membunuh orang lain dan merugikan negara setempat adalah kehendak Tuhan sehingga mendapat pahala yaitu surga. Mereka sendiri tidak mau melakukan bom bunuh diri! Kembali lagi, agama dijadikan alat sumber pembodohan, kekerasan dan kekejaman!
Bila dicermati, kotbah2 agama selama bulan Puasa yang disiarkan radio dan televisi yang masih dikuasai regim Orde Baru (group Cendana, Sudwikatmono, Liem S. Liong, dst.), justru dipakai untuk melemahkan penegakan moral bangsa; kebanyakan isi kotbah bersifat “top down” (penuh titipan para pejabat bermasalah). Bagi rakyat jelata yang miskin, kotbah ditujukan agar rakyat selalu tetap tahan menderita dengan gaji yang rendah dan dapat selalu memahami berbagai ketidak adilan yang terjadi (jangan demo, jangan berontak, jangan ini, jangan itu, melainkan tetap patuh, mengalah, dan nrimo), karena semua penderitaan itu akan menghasilkan rahmat dan berkah.
Rakyat juga terus dihimbau tuk memafkan kejahatan masa lalu para pelanggar HAM, sebab dengan memaafkan kita juga akan dimaafkan. Bagi pejabat tinggi/birokrat/jendral para pelaku KKN dan pelanggar HAM berat, kotbah disuasanakan sesejuk mungkin, misalnya dibulan rahmadan (malam seribu bulan) ini langit dan surga akan terbuka, akan terjadi pengampunan penuh, apapun kejahatannya dan betapapun besar kualitas kejahatannya, mereka akan diampuni dan masuk surga tanpa syarat apapun, misalnya syarat harus mengembalikan harta hasil jarahannya bagi pelaku KKN, dan syarat mengakui pelanggaran HAM yang telah terjadi, minta maaf, serta memberikan ganti rugi bagi korbannya.
Disini Tuhan dipahami hanya sebatas Maha Pengasih dan Pengampun (mengenakan oknum Pejabat); Maha Adilnya sengaja dihilangkan (seharusnya Maha Adil lebih ditekankan, agar manusia berpihak ke rakyat jelata yang tertindas, dan menuntut para oknum untuk pengembalian harta KKN dan pengusutan hukum yang tuntas).
Tidak heran bila dalam laporan internasional yang baru saja diterbitkan, ternyata 20 negara terkorup dan pelanggar HAM terberat justru negara-negara yang hiruk-pikuk dan hingar-bingarnya (formalitas) agama dinegara itu luar biasa kuatnya; misalnya negara2 Amerika Latin yang didominasi agama Katholik dan negara2 Timur Tengah, Banglades, Indonesia, Pakistan yang didominasi agama Islam.
ila dicermati, di perumahan2 mewah, para koruptor kelas kakap dan para pelanggar HAM berat ini menampakan diri sebagai kaum yang religius sekali; rajin sembahyang dan sedekah! Ulama, habib, ustadz, HMI, KAHMI, MUI, ICMI, Muhammadiah dan NU tidak pernah mau menuntaskan masalah KKN dan militerism.
Mereka ini bak sekedar alat politik; mereka sekedar pemburu harta dan kekuasaan; mereka terus-menerus menina bobokan dan membuat **** bangsa Indonesia. Mereka tidak pernah memperjuangkan gaji yang layak dan adil bagi pegawai/PNS. Gaji yang rendah sekali bagi buruh dan PNS serta rasio gaji antara pegawai rendah dan tinggi yang luar biasa tingginya (misal gaji terendah 0,5 juta, pejabat tinggi BUMN menerima 50 juta, rasio 1:100!), inilah yang menyebabkan kemiskinan struktural yang disengaja dan sumber segala sumber berbagai KKN. KKN bagaikan disarankan dan dilegalkan oleh pemerintah dan agama Islam…,
Maka hampir semua PNS melakukan korupsi: siang maling uang atau korupsi waktu kerja, malam berdoa untuk minta maaf atas kejadian siang harinya kepada Tuhan, sungguh bangsa ini dibikin munafik oleh pemerintah dan agamanya sendiri! KKN yang semestinya menjadi hantu nomor satu negara, justru tidak pernah dituntaskan dan diangkat menjadi sumber dari segala sumber berjihad!!! Agama kok justru dipakai untuk melemahkan penegakan moral bangsa dengan cara meniadakan sifat Maha Adil Tuhan! Agama kok justru menjadi sumber krisis moral dan etika bangsa!
Setiap bulan Ramadhan, hampir 40 hari lamanya bangsa ini sangat turun produktivitas dan effisiensinya, bangsa yang kurang rajin bekerja ini malah tiap tahunnya dianjurkan untuk seolah-olah bermalas-malasan. Pengcoveran berita lewat berbagai media terutama TV pun luar biasa dan berlebihan: sebelum buka dan sebelum saur, lalu-lintas selama Lebaran; berapa jam kerja atau berapa jam tayang TV dihabiskan untuk hal yang semestinya dapat untuk memajukan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi; padahal isi khotbah kebanyakan titipan penjabat (mohon dibaca point diatas).
Demikian pula bagi pejabat pemerintah yang naik haji (seringkali dengan biaya negara alias plat merah), seminggu sebelumnya sudah ijin untuk tidak bekerja, kemudian 30 hari ada di Mekah, sepulangnya masih minta ijin seminggu lagi untuk berpesta-pora, berhura-hura, dengan kerabat keluarga, tetangga dan teman sekerja. Kalau ditotal, hampir selama 45 hari (1,5 bulan) pejabat itu mangkir dari kerja, luar biasa!!! Sudah mangkir bekerja masih, dan pelaku KKN, masih mengaku mendapatkan surga, sungguh luar biasa paradoksnya.
Demikian pula hobi umat Muslim untuk kumpul2 keagamaan, namun jarang kumpul2 keilmuan; kumpul2 keagamaan sering melahirkan penghakiman/kecurigaan terhadap kelompok/agama yang lain; dinegara maju/modern, masyarakatnya lebih tertarik untuk bekerja daripada kumpul2 bermalas-malasan. Semuanya hal diatas mengatas namakan Tuhan YME!!! Disini agama dipergunakan untuk menghambur-hamburkan uang negara, waktu dan membuat malas bangsanya!
Praktek sehari-hari umat Islam yang tanpa disadari telah melakukan pelanggaran HAM, mengganggu ketertiban umum dan mendorong kekerasan masyarakat. Sebagai contoh: suara azan masjid yang luar biasa kerasnya di keheningan pagi (sekitar jam 4.30, subuh) yang bagaikan suara orang kesurupan setan Arab dan mengandaikan Tuhan itu bagaikan tuli! Saat dimana manusia yang lelah bekerja sedang tertidur pulas atau orang yang sakit keras sedang membutuhkan keheningan, eeehhh malah diganggu dengan suara hingar bingar lewat loud speaker yang bertengger dipuncak–puncak masjid.
Demikian pula disiang hari bolong, semua orang disekitar masjid, diganggu hingar-bingar kotbah, manusia sekeliling mesjid senang atau tidak senang dipaksa mendengarkan kotbah (yang seringkali bermutu rendah). Hingar-bingar suara masjid ini menjadikan manusia waras-normal menjadi sangat terganggu privacynya. Dinegara Turki, negara Islam yang modern, hingar bingar suara masjid tidak diperkenankan! Selain itu, umat Islam diajarkan untuk selalu memberi salam khas Islam dan dengan bhs. Arab kepada siapapun, kapanpun, dimanapun, apapun agamanya (misalnya: Assalamulaikum …wr. Wb…), dengan diiming-imingi sebagai poin penting untuk masuk surga.
Bukan main diktator dan tidak menghargai perasaan orang lain dan kebudayaan sendiri, bukankah dapat dengan salam: “Selamat pagi/sore/apakabar/dst? Disini agama terkesan suka mengganggu ketertiban umum, tidak menghargai perasaan umat lain serta tidak menghargai kebudayaan sendiri!
Demikian pula penggunaan istilah2 Islam/Arab seperti kata islah dan hibah. Islah untuk menyelamatkan para pelanggar HAM kelas berat (misal kasus Priok, dimana para oknum jendral memanipulasi ulama untuk islah). Hibah untuk menyelamatkan para pelaku KKN kelas berat (banyak birokrat menjadi konglomerat plat merah, padahal boleh dikata tak mungkin pegawai negeri mempunyai kekayaan diatas 2 milyar kecuali KKN; maka digunakan istilah hibah untuk menjelaskan hartanya kepada Komisi kekayaan negara).
Dinegara non Islam pasti mereka ini sudah dihukum mati, di bumi Nusantara ini, yang pasti mati adalah maling ayam, sedangkan yang semestinya dihukum mati (pelanggar HAM dan koruptor kelas berat) malah sering muncul di TV dan tetap dihormati! Agama kok tidak mendorong keadilan, malah terkesan sengaja menyediakan persembunyian yang aman bagi berbagai pelaku penyelewengan kelas berat.
Sangat memprihatinkan bahwa berdasar fakta2 selama ini, ternyata berbagai kerusuhan di Indonesia justru diawali dari kumpul2 kegiatan keagamaan, misalnya pengajian, sholat Jum’atan, Tabliq Akbar ataupun Istigozah, suatu paradoxial yang maha luar biasa! Kegiatan keagamaan menjelma menjadi kegiatan kerusuhan yang seringkali membawa korban jiwa manusia. Sebelum Islam masuk Indonesia, dijaman kerajaan berbasis Kejawen, Budha dan Hindu, kekerasan, kerusuhan dan pertentangan berbasis agama/kepercayaan tidak pernah terjadi.
Kota Solo yang dulunya terkenal dengan putri Solonya dengan adatnya yang halus, lembut, lemah gemulai, dan manusiawi telah disulap Baa’syir dkk (orang2 Arab) menjadi kota yang ganas, keji dan gemar kerusuhan! Kejawen yang indah, harmonis dan pembawa damai ditekan (tak boleh ada di KTP)! Aneh, disini agama menjadi 180 derajat beloknya, dari sembahyang langsung membuat amok masa dan kerusuhan!
Bali di bom, hotel Meriot di bom, kedutaan di bom, gereja dibom, dst. Generasi muda dipedesaan dicuci otak melalui pesantren2 untuk membunuh orang lain dengan membunuh diri (bom dililitkan dibadan); padahal hal ini sangat merugikan negara (investor/turis jadi takut, lapangan kerja menyusut drastis; dan orang Indonesia yang keluar negeri menjadi dipersulit). Ini mereka sebut ajaran mati sahid dengan ganjaran masuk surga. Ketika diadili, pelaku pembom ini teriak2 bagaikan kesurupan setan Arab: “Allahuakbar.. Allahuakbar… Allahuakbar”. Begitu bodohnya mereka itu, yang mereka pahami cuma bahasa Arab yang artinya Tuhan yang Maha Besar bukan Maha Pengasih dan Penyayang.
Begitu hebatnya orang Arab mencuci otak manusia Indonesia, begitu superiornya si Arab Baa’syir ketua Jemaah Islamiah itu, ia sendirian bisa mengobrak-abrik Indonesia, betapa menyedihkan dan rendahnya kualitas manusia Jawa (suku yang mayoritas) itu, yang tidak sadarkan diri (mabok agama) hingga detik ini!!! Agama kok dipakai untuk “menidurkan bangsanya sendiri”, mengajarkan bahwa bunuh diri, membunuhi orang lain serta merugikan negaranya sendiri itu masuk surga, aneh!
Kepala arca Budha di candi Borobudur dipenggal oleh habib buta dari Malang, ketika diadili, ia juga kesurupan setan Arab (menggigau dan sholat didepan sidang: “Allahuakbar..). Di Afganistan, saat dikuasai Taliban: wanita bagaikan dipasung, tv dan musik tidak boleh didengarkan, relief Budha yang sangat bersejarah dihancurkan. Monumen2 sejarah Budha, Hindu, Kristen, yang berupa candi2, pertapaan, katedral, kelenteng, kraton2, begitu indah dan agungnya dan menghasilkan devisa bagi negara Indonesia (tourist); sedangkan monumen Islam adalah justru rusaknya monumen2 agama lain itu!
Agama juga dipakai untuk: - agitasi/provokasi membenci suku dan bangsa lain, misalnya menanamkan perasaan anti orang Cina/Tionghoa (padahal Alquran mewajibkan untuk menuntut ilmu s/d ke Cina, bukan ke Arab); - menanamkan perasaan anti Barat karena kekalahan kebudayaan Arab dalam berbagai hal (terutama dalam science, teknologi dan bisnis); - eksklusip: misal maraknya kost2an dikota-kota besar dengan label: hanya untuk Muslim. Mereka ini aneh: marah2 kepada Barat namun mereka belajar IPTEK dan memakai produk Barat, bukan produk Arab. Agama kok mengajarkan anti pluralisme, mengajarkan ingin menangnya sendiri, mengajarkan iri-cemburu dengan kemajuan peradaban yang dicapai oleh kebudayaan/keyakinan diluar Islam/Arab!
Buku2 bermutu yang mencerdaskan bangsa di sweeping, kadang2 penerbitannya dilarang, bahkan pengarangnya ada yang difatwa mati atau dibunuh (misal Salman Rusdi, politikus dan sastrawan Belanda, Ulil Absar Adhala, dst.). Sekolah2 Kristen/Katholik diganggu (kasus terakhir: SD Sang Timur di Tangerang/Jakarta diserbu radikal Islam; presiden SBY, DPR, Muhammadiyah, MUI, dst. diam saja, padahal mereka hanya beberapa km dari lokasi; justru Gus Dur yang turun tangan.
Ketakutan umat Arab untuk berdemokrasi, berpikir secara rasional, berdebat (tertulis maupun lisan) dan berkebebasan berpendapat tentang keyakinan sungguh mengherankan; sebab Tuhan itu Maha Cerdas, Maha Cerdas pasti suka debat, bukan main sweeping dan larang-melarang, jadi seseorang yang cerdas pasti suka debat, karena debat mengakibatkan kemajuan.. Dinegara maju, apa saja boleh dan justru dianjurkan untuk diperdebatkan (termasuk keyakinan), asal debatnya bermutu dimana kaki dan tangan (kelahi) tidak boleh ikut diapakai dalam adu gagasan!
Memang, ada kemungkinan agama akan ambruk oleh adanya demokrasi, rasionalisasi, kebebasan berpendapat dan debat, seperti ambruknya gereja Katholik di Eropa pada sekitar abad 18 an. Monopoli dan otoritarian ajaran agama oleh pemuka agama menyandikan posisi mereka tidak tergoyahkan dinegara berkembang.
Tidak mengherankan bila di Timur Tengah yang penuh dikuasai kyai, ulama dan raja, takut setengah mati dengan demokrasi, rasionalisasi, dan kebebasan berpendapat. Pemuka agama takut debat, lalu mereka mengatas namakan Tuhan bahwa Tuhan tidak suka debat dan Tuhan perlu dibela, dan keyakinan adalah harga mati-sesuatu yang beku dan statis.
Dengan karakter demikian ini, otomatis kebudayaan Indonesia menjadi merosot tajam sekali; dari kejayaan kebudayaan diera: Borobudur, Prambanan, Mahapatih Gajah Mada, dst., menjadi negara pengutang, pengekspor TKW, dijajah IMF dan mata uangnya dihinakan (1$ = 10000)!
Akhirnya, negarapun mengalami krisis kebudayaan. Agama kok dipakai untuk memonopoli kebenaran dan takut berdebat untuk adu gagasan atau bersaing dengan kebenaran yang lain yang lebih modern, lebih rasional, dinamis, dan lebih manusiawi; bukankah sekolah, buku dan debat adalah sumber kemajuan, mengapa harus dihambat, dikacau dan dimusnahkan, mengapa Tuhan Yang Maha Cerdas dianggap ****, tak boleh didebat, dan Tuhan diangap bagaikan takut akan demokrasi, rasionalisasi, serta kebebasan berpendapat? Agama kok menjadi sumber krisis kebudayaan!
Dept. Agama dan Dept. Pendidikan merintis kerjasama dengan negara Sudan dan Universitas Sudan. Saat ini Sudan (mayoritas Islam) dalam sorotan dunia karena disana telah terjadi genocide oleh suku Arab terhadap suku lokal Afrika melalui kekerasan, perkosaan dan pembunuhan. Barang siapa melihat wajah negara Sudan melalui TV akan sangat terkejut, negara ini ternyata sangat tertinggal dan miskin!
Demikian pula, dalam suatu siaran TV, diberitakan bahwa Pemuda Pancasila (PP, organisasi preman) telah mendirikan Pesantren di Kalimantan Tengah/Palangkaraya. Dalam acara itu diperlihatkan bagaimana preman level Nasional: Sapto dan Yoris K (pimpinan PP) meresmikan pesantren yang telah dibangun, dan ini direstui oleh jendral Riamizad Riacudu. Manusia supercerdas tahu bahwa ada dana yang besar sekali (trilyunan rupiah) dari organisasi sumber kekerasan dunia yang berpusat di Timur Tengah (sekelompok dengan Alqaeda) yang mengalir lewat negara ketiga (misal Sudan, supaya

original text http://www.tobadream.wordpress.com
Kahlil Gibran
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 28
Joined: Wed Apr 30, 2008 5:19 pm

Postby sakitjiwa » Thu May 29, 2008 1:01 pm

@thread starter

textnya kepotong tuh

supaya .........??
sakitjiwa
 

Postby oleole » Fri May 30, 2008 1:32 am

Panjang sekalee;
Thread yang bagus untuk menyadarkan bangsa ini.

Sudah terlalu menderita mau protes apa lagi, sehingga ada plesetan,

umar bakrie lagu wajibnya pada mu negri
madya lagu wajibnya sorak sorai bergembira
yang paling top lagunya disini senang disana senang.
oleole
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 83
Joined: Wed Apr 16, 2008 11:06 pm


Return to Pandangan Berlawanan Terhadap Islam



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: Yahoo [Bot]