. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

AL QURAN : APAKAH NABI ISA AS = ALLAH?

Pembahasan tentang Isa Almasih, Injil, Taurat dari apa yang tertulis dalam Qur'an, dan bukan dari kitab suci non-Islam.

Postby Joevai » Sat Nov 01, 2008 12:37 pm

@Robint, sang filsuf yg jg penggemar darmogandul. Robint kawanku, Kalo soal keyakinan agama tetangga, gw gak ambil pusing. Silakan mau anggap tuhan mereka menjelma jd manusia yg melayani dan wafat demi menebus dosa loe, ato menjelma jd kucing demi ngehibur anak loe, silakan. gw gak peduli ama keyakinan mereka tntg tuhannya. Tp kalo udah nyangkut hal2 yg ada di agama gw, gw sebisa mgkn nyumbang pemikiran seperti halnya di thread mas Hillman ini yg ngebahas ayat Qur'an yg dikaji tnpa landasan yg jelas selain pndpt2 pribadi beliau. Tnpa didukung referensi2 yg valid pula tntg kesimpulan2 yg beliau utarakan. Gw kira cm beliau aje yg berpndpt tntg annabiyyl alummiyyi di al a'raf 158 sbg sang nabi dan ibuku, yg oleh beliau giring kpd kesimpulan tntg ketuhanan nb.Isa/Yesus, dan tntg bunda Maria. Loe jg tau khan gw disini cm coba nunjukin kemusykilan pndpt itu pke landasan ilmu2 yg wajib utk telaah Qur'an. Maka kalo disaring ama nahwu n shorof aje gak verified, lantas kesimpulan yg pny kekuatan macam mana yg dihasilkan?
Joevai
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 183
Joined: Tue Aug 05, 2008 6:54 am
Location: Bandung

Postby Joevai » Sat Nov 01, 2008 12:57 pm

@mas HILLMAN, setelah selama ini qta bertukar fikiran, dan qta msh tetap pada pendirian masing2 dgn alasan2 yg qta masing2 paparkan, sy kira tinggal ya' nisbat skrg. Nisbat diterjemahkan oleh kamus yg anda post link nya gak jauh beda dgn yg ada dikamus Arab-Indonesia prof.DR. H. Mahmud yunus. So..no problem. Tp kalo tambahan dari mas Hillman yg pake kata2 "pembicara" sy gak sependapat. Mas Hillman, silakan kalo mau lanjutin thread ini ke kesimpulan ato mengemukakan ide2 anda berkaitan tema di thread ini. Kawan2 qta udah gak sabar nunggu kelanjutan pembahasan mas Hillman yg terhambat cm krn anda terlalu baik dan rendah hati melayani sy sbg tamu disini.
Joevai
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 183
Joined: Tue Aug 05, 2008 6:54 am
Location: Bandung

Postby HILLMAN » Sat Nov 01, 2008 1:12 pm

Mungkin mas Joevai terlewat untuk membaca bahwa saya sudah memberikan landasan secara tatabahasa untuk pendapat saya. Dan saya sangat berterima kasih jika mas Joevai menemani saya berdiskusi di thread ini. Pasti kawan-kawan kita bersabar untuk menerima ilmu dari anda :)

HILLMAN wrote:Posted: Thu Oct 30, 2008 6:36 am

Joevai wrote:mas Hillman, senang punya kesempatan lagi berdiskusi dgn anda. Ternyata anda tdk mau mengakui adanya perbedaan penulisan al ummiyyi (yg tdk mengandung harf ya' mutakallim) dan ummiya (yg tdpt ya' mutakallim) pada kedua ayat yg sy post. Padahal ada lbh dr 1 perbedaan tampilan kedua lafadz itu di ayat masing2. Silakan dicermati post kedua ayat itu yg anda quote, tdk akan sy quote lagi utk mengindari terlalu bnyk nya repost di thread ini.
Al a'raf 158 :

الأُمِّيِّ

1)ada alif lam, yg membuktikan lafadz ummiyy yg ini tidak bisa idhofat dgn ya' mutakallim. Tp disana ada haraf ya', maka kesimpulannya ya' dilafadz annabiyyi di surah al a'raf 158 bukan ya' mutakallim. Silakan anda buka kitab alfiyah Ibnu Malik bab idhofat dengan ya' mutakallim.
2)disana ada tasydiid diatas harf ya' nya.
Al maidah 116

وَأُمِّيَ

nah inilah isim yg nempel padanya ya' mutakallim. 2 point yg sy sebutkan diatas yg membedakan antara ummiyyi dan ummiya, tdk ada dilafadz ummiya ini.
Mas Hillman inilah maksud sy memposting kedua ayat yg anda quote di atas, sy perlihatkan kpd anda ciri2 penulisan ya' mutakallim yg sudah nempel di isim seperti yg ada di ummiya (al maidah 116) dgn penulisan yg bukan ya' mutakallim tp ya' harf yg mrupakan bagian tak terpisahkan dr lafadz bersangkutan (ummiyyi dan al nabiyyi di al a'raf 158). Sy sudah jelasin asal usul tntg lafadz annabiyyi yg ada di surah al a'raf 158 dgn ilmu shorof di post sy yg lalu, disana smua diterangkan trmasuk tasydiid yg ada di atas harf ya' nya.
Karena pemaparan anda tdk memenuhi kaidah tatabahasa Arab dan shorof, maka klaim2 anda tntg ketuhanan nb.Isa dgn cara ngobok2 ayat Qur'an tdk layak lagi dipertahankan. Kembali ke lafadz ummiyyi dan ummiya, Selain bisa diliat dr tampilan nya, hal yg paling mudah dilakukan liatlah terjemahannya. Dgn catatan terjemahan nya hasil dari org atau institusi terpercaya keilmuannya.
Post anda yg 1 nya lagi belum sy tanggapin, insyaALLAH dilain waktu sy tanggapin.


Saya yang terlebih senang dapat berdiskusi dengan anda, dan mohon di maafkan apabila beberapa waktu ini saya hanya dapat menanggapi tulisan anda setelah sholat subuh, aktivitas kantor yang mengharuskan saya sampai larut malam menyebabkan hal itu. :)

Mas Joevai, tentu anda mengetahui makna tanda tasyid diatas huruf ي – ya. Tanda tasyid itu menandakan bahwa hakikatnya ada dua huruf ي – ya dalam kata tersebut.

Mari kita telusuri peubahan bentuk kata berdasarkan qawaid, kata Asal kata أمم – am’a + ال – alif lam = الأمُ – Al Umm, mendapatkan harokat dhommah, dilafazkan menjadi Al Ummu. Teori : Setiap isim nakiroh yang mendapat ال – alif lam menjadi isim marifat di tandai dengan hilangnya tanwin , kemudian الأمُ – Al Ummu + ي – ya mutakallim = الأميِ – Al Ummiy. Teori : semua isim jika bersambung dengan ي – ya mutakallim haruslah di kasroh huruf akhirnya. . Sampai disini sudah jelas tersurat dan tersirat secara qawaid sesuai dengan teori kepemilikan , makna الأميِ – Al Ummiy adalah seorang ibu yang sudah diketahui siapa orangnya, menjadi ibu yang dimiliki oleh pembicara. Sampai disini Insyaallah dapat diikuti alurnya.

Kemudian pertanyaan yang timbul mengapa ada tanda tasyid di atas huruf ي – ya yang menghakikatnya ada dua huruf. Jika kita jabarkan artinya akan terlihat seperti الأميِ – Al Ummiy + ي – ya = الأُمِّيِّ - al-ummiyyi. Inilah yang saya maksudkan dengan super tunggal, sebuah kata yang menggambarkan seorang ibu yang dimiliki oleh pembicara dan dimiliki oleh pemberi firman. .

Dan mas Joevai pasti ingat teori qawaid bahwa setiap fi'il (kata kerja) yang bersentuhan dengan isim yang mendapat ي – ya mutakallim, harus kasroh, sedangkan fi'il tidak diizinkan untuk kasroh, oleh sebab itu dalam kalimat النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ - di gunakan kata alladzi untuk menghubungkan isim dengan fi'ill nya يُؤْمِنُ - yuminu yang dhommah.

Jelas bukan?



HILLMAN wrote:Posted: Fri Oct 31, 2008 11:26 am

@ mas Joevai

Terima kasih kembali. :)

Mohon maaf, kadang dalam keterbatasan waktu membuat saya banyak melakuan kekhilafan. Akan saya copykan link nya saat posting yang lain.

Ya saya tetap ber-sholat tapi tidak ber-tahiyat.

Mas Joevai pasti mengetahui makna kata نسبة‎ - nisbat = hubungan / relationship, makna yang lebih lemah dalam kepemilikan namun serupa dengan makna mutakallim. Dan yang dimaksudkan dari keterangan itu adalah fungsi huruf ي - ya sebagai huruf nisbat, sebagaimana huruf itu berfungsi dalam makna mutakallim.

Bukankah demikian mas Joevai?

Saya menantikan pendapat mas Joevai yang Insyaallah membuat semua pembaca mendapatkan pengetahuan dari diskusi kita.



HILLMAN wrote:Posted: Sat Nov 01, 2008 5:52 am

Joevai wrote:Mas Hillman, sy pny wkt sebentar buat mosting pake kompi temen, soalnya sejak td sore sejak sy ngereply post mas Gaston, kompi sy ada kendala koneksi. Ya wlw gak support Arabic text niy kompi temen sy, tp lumayanlah bs ngenet gratis he..he..
Sy menangkap anda skrg mengubah pendirian tntg harf ya' di lafadz al islamy dari ya' mutakallim menjadi ya' nisbat sbgmana yg sy utarakan. Tp keliatan anda membelokkan ato mencocok2 an supaya tetep bs melegalkan al ummiyyi diartikan sang ibuku.
ummiy(dgn ya' mutakallim, gak pake alif lam, gak akan pernah.) = ibuku. Anda menerjemahkan al ummiyyi di al a'raf 158 sbg sang ibuku. Di lain kesempatan wkt anda msh yakin ya' di al islamiy adalah ya' mutakallim anda menerjemahkannya "milik Islam". knapa gak sama perlakuan anda kayak ke al ummiyyi? Knpa anda gak nerjemahkan nya jadi "islamku"?. Kebayang khan kalo bener pndpt anda bhw isim yg udah ada alif lam bisa idhofat dgn ya' mutakallim, bnyk kata2 semacam itu, apakah akan di terjemahkan sbg milikku? Al bukhari=bukhari-ku?. Menurut sy ini makin memperjelas bhw isim yg udah pke alif lam gak bisa lagi ada ya' mutakallim nempel padanya. Jd al ummiyyi bukan sang ibuku, tp yg ummiy(gak bs baca tulis).
Nah setelah sy bilang ya' di al islamiy adalah ya' nisbat, anda berkata:
HILLMAN wrote:nisbat =
hubungan / relationship, makna
yang lebih lemah dalam
kepemilikan namun serupa
dengan makna mutakallim.
sy liat, bgmn pun sanggahan sy thd statement anda, anda akan mencari jalan supaya tetap bs melegalkan klaim anda tntg adanya sesuatu yg tersirat di Qur'an yg anda anggap mengakui ketuhanan yesus. Wah maaf mas Hillman, kayaknya mesti cabut dulu, temen sy mau browsing kayaknya.
Salam


Saya tidak melakukan apa yang anda maksudkan mas Joevai. Penjelasan anda terhadap huruf ي -ya sebagai huruf nisbat, saya aminkan, karena ي -ya mutakallim memang adalah aplikasi fungsi fungsi huruf tadi sebagai nisbat, sebuah huruf yang memberi makna hubungan keluarga dalam penyandarannya terhadap isim yang merupakan pembicara.

Note anda dapat lihat makna nisbat itu sendiri dalam bahasa Indonesia di http://kamus.kapanlagi.com/contain/nisbah

Benar bukan? :)

Wassalam


Dipersilahkan mas Joevai.

Wassalam
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby HILLMAN » Sat Nov 01, 2008 1:18 pm

Rekan-rekan mohon bersabar sebentar :).

Insyaallah, di post berikutnya akan saya tuliskan kesimpulan dari thread ini.

Wassalam
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby Joevai » Sat Nov 01, 2008 2:33 pm

Maaf sy repost lagi bbrp bgian diskusi qta yg lalu utk qta telaah kmbali. Wlw sy udah selesai dari pkrjaan, namun msh bnyk hal yg mesti sy lakukan dirumah. Sy usahakan hal2 yg terlewat oleh sy dr post anda diatas akan sy tanggapi stlh dpt wkt. Mdh2n kawan2 tdk bosan. Pdhal sy ndiri dah bosen niy..Hehe.. Hehe... (Joke).
HILLMAN wrote:Sekedar merefresh tulisan saya yang lalu :
1. النَّبِيِّ - al-nabiyyi dan الأُمِّيِّ - al-ummiyyi
Dua kata yang menjadi perbedaan kesimpulan dar mas Joevai dan saya.
ya, mas Hillman, qta berbeda tentang haraf ya'

يِّ

di lafadz
النَّبِيِّ - al-nabiyyi dan الأُمِّيِّ - al-ummiyyi
sy bilang harf ya' disitu adlh bagian tak terpisahkan dari lafadz [color=red]annabiyyi(ini adalah transliterasi setelah pake ilmu tajwid, krn haraf lam yg mrupakan slh 1 huruf idgham nya sukun,maka di idghamkan ke haraf didepannya,dlm hal ini harf nuun ) dan al ummiyyi(kalo ini tdk idgham krn di depannya alif/hamzah, yg mana adlh huruf idzhar, maka dibaca dzahir/jelas harf lam sukun nya(CMIIW,soalnya sy tdk mahir tajwid). Kembali ke laptop: lafadz annabiyyi n al ummiyyi makna nya akan sangat jauh berbeda kalo tanpa ya' (yg mana ya' nya emank bagian tak terpisahkan dari lafadz annabiyyi dan al ummiyyi itu).[/color]
Sdgkan anda kekeuh berpendapat harf ya' disitu adlh ya' mutakallim, wlw pun udah sy bantah dgn kaidah2 nahwu yg jd kewajiban yg paling dasar dan esensial utk dikuasai bagi org yg mau menelaah ayat2 Qur'an, terlepas dari niatnya yg ikhlas mau mempelajari Al qur'an ato sebaliknya mau cari2 kelemahan Qur'an ato ada maksud lain demi keyakinan pribadinya. Bagi org yg niatnya bertentangan dgn ajaran Islam, ilmu nahwu akan sngt pnting agar tdk malu di depan org yg sdikit ngerti kaidah2 sebagian ilmu yg diperlukan dlm telaah Qur'an. Ya gak masalah kalo di depan org yg awam nahwu. Paling mereka tepuktangan tnp ngerti apa yg sang idolanya paparkan. Dan buat org yg pro Islam, nahwu bs jd slh 1 tool utk matahin statement2 org yg melencengkan tafsir ato minimal terjemah ayat2 Qur'an.[/blue]

Ada baiknya sy quote lagi diskusi qta di post sbelumnya
HILLMAN wrote:[color=darkred]...tetapi menurut hemat saya huruf "ya" yang ada pada kedua kata النَّبِيِّ - al-nabi dan الأُمِّيِّ - al-ummi adalah ya mutakallim,
truz sy jwb:
joevai wrote:mas Hillman, sebagaimana qta tau, fungsi alif lam

ال

adalah utk menta'rif(me ma'rifat kan) isim nakiroh. Sdgkan suatu isim jika sudah di idhofat kan/disandingkan dgn harf lain(dlm hal ini ya' mutakallim seperti yg anda yakini tntg lafadz annabiyyi dan al ummiyyi), maka isim itu jd ma'rifat, sehingga tdk mgkn lagi masuk alif lam, krn kalo emank bnr itu adlah ya' mutakallim, maka isim nya yg idhofat dgn nya jd isim ma'rifat. menurut kaidah nahwu, alif lam tdk bisa masuk ke isim yg udah ma'rifat. Maka dgn tanpa menghilangkan hormat sy pada anda, sy pastikan anda keliru menyatakan ya' yg qta bahas adlah ya' mutakallim. di ayat yg qta bahas, kedua lafadz itu ada alif lam nya -> Krn sbnr nya lafadz nabiyyi n ummiyyi dlm ayat itu adlah isim nakiroh kalo tanpa alif lam, artinya ya' dikedua lafadz itu adalah ya' bagian tak terpisahkan dari kedua lafadz itu. Alias bukan ya' mutakallim. Dgn bgtu, maka ummiyyi di ayat itu gak diterjemahkan jd "ibuku" ato bhkan "ibu".
sekarang mari bahas postingan anda yg sekarang.

HILLMAN wrote:2. استاذ - ustadzun menjadi استاذيِّ - ustadzi = guruku
qta tau itu adlh contoh isim mufrod(tunggal) yg di idhofatkan dgn ya' mutakallim

HILLMAN wrote:Kata yang menjadi contoh penambahan huruf ي ya mutakallim merubah menjadi makna tunggal dan makna kepemilikan.
anda benar mas Hillman

HILLMAN wrote:3. النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ - al-nabi'ul karim
Kalimat yang memberikan contoh penggabungan subjek kalimat dan predikat kalimat.
ok. Qta liat bhwa (disini di baca annabiyyu, krn tdk ada awaamil yg merubah harokat nya, krn annabiyyu adalah sodar kalam/permulaan kalimat, maka dibaca/dikasih harokat dhomah.) al kariimu jd na'at/wasfu/sifat/predikat dari lafadz annabiyyu. Oya kalo mas Hillman keukeuh bilang bhwa ya' di lafadz annbiyyu ato annabiyyi adlh ya' mutakallim, lantas jd apa artinya lafadz annabiyyu tanpa ya' yg anda yakin sbg ya' mutakallim? Krn ya' mutakallim bukan bagian dari lafadz/kalimat nabiyyun dlm bhs arab yg kalo diterjemahkan makna nya = nabi. Skrg qta kupas satu per satu.

النَّبِيِّ


==> نَّبِيِّ

=dibaca nabiyyun. Dgn tanwin. isim nakiroh(menunjukkan umum),bisa nabi yg mana aja.

ال

=slh 1 dari adawaatuta'rifi(hal yg bisa merubah isim nakiroh jd isim ma'rifat/khusus.)
nah sekarang digabung menjadi

النَّبِيِّ

=dibaca annabiyyu. Tanwin ilang krn kemasukan alif lam. terjemahnya-> seorang nabi, khusus menunjuk 1 org nabi. Kok gak jelas sapa sih dia? Nah itulah gunanaya na'at di sbut jg wasfu,jg di namain sifat dlm bhs Arab. Predikat kalo bhs qta. Gunanya utk menjelaskan lafadz yg disifatin/man'ut/mausuf/subjek yg pny predikat tsb. Disini yg jd sifat/wasfu/na'at/predikatnya adalah alkariimu

الْكَرِيْمِ

=di baca alkariimu(dhomah di ahir krn sifat/wasfu/na'at ikut ke yg disifatin/man'ut/mausuf nya. Man'ut nya adlh annabiyyu.

HILLMAN wrote:Mari kita memulai pembahasan dari penggabungan subjek kalimat dengan predikatnya dalam kalimat النَّبِيِّ الأُمِّيِّ - alnabiyyi al-ummiyyi ini.
ini adlah penggalan dari ayat yg qta bahas.

HILLMAN wrote: Teori kesatu tatabahasa Arab berbunyi sebagai berikut:
Untuk menuliskan kalimat yang dibentuk oleh subjek dan predikat. tambahkan tanwin atau dhammah ganda di akhir masing-masing kata.
benar mas Hillman, dgn catatan isim/subjek nya nakiroh/umum. Tandanya, isim nya belum pake alif lam. Oya kalo boleh sy tau kitab ato website mana yg anda jadikan pegangan dalam nahwu?

HILLMAN wrote:Contoh : menjadi nabiyyun ummiyyun
ya boleh lah jd dhomah jg, artinya qta bahas nabiyyun ummiyyun saja tnpa menyertakan kalimat sebelumnya di ayat bersangkutan. Jd kayak ngebahas annabiyyu alkariimu.

HILLMAN wrote: Teori kedua tatabasa Arab berbunyi sebagai berikut:
Jika kata dalam kalimat tersebut diawali dengan أَلْ - alif lam, maka dhammah subjek dihilangkan.

alif lam gak pegang peranan dalam merubah dhommah jd harokat lain ato bhkan menghilangkannya. Yg ada, alif lam jika masuk ke isim nakiroh->artinya isimnya pake tanwin, maka alif lam menghilangkan tanwin.makin penasaran, kitab nahwu apa yg anda pegang?

HILLMAN wrote:Contoh : menjadi nabiyyi ummiyyun
maaf, anda keliru. Seharusnya nabiyyun ummiyyun jika kemasukan alif lam maka jd annabiyyu alummiyyu. Nabiyyu tetep dhammah krn gak ada amil yg mengharuskan berubah dari asalnya dhammah. Yg ilang tanwin di ahir nya. Yun jd yu. Al ummiyyu jd na'at, dhammah krn ikut ke man'ut/subjek nya, bgtu jg alif lam jd ada padanya krn ikut man'ut nya jg. Dgn kata lain man'ut nya ma'rifat maka na'at nya jg jd ma'rifat. Sebab ma'rifat nya sama dgn sebab ma'rifat man'ut nya, yaitu alif lam.

HILLMAN wrote: Kesimpulan
Jadi dengan kedua teori tersebut kalimat الأُمِّيِّ النَّبِيِّ ini apabila dimaksudkan sebagai subjek dan predikat maka akan di tuliskan dan di lafazkan menjadi alnabiyy'ulummiyun .
kok masih pake tanwin? Mustinya alnabiyyul ummiyu
HILLMAN wrote:Tetapi penulis Al Quran tidak menuliskan seperti itu.
tapi annabiyyil ummiyyi(ini transliterasinya jika membacanya). Alnabiyyi al ummiyyi(ini versi tulis nya). Qta liat asli nya dgn nyertain kalimat2 sebelumnya yg nyertain annabiyyil ummiyyi, sehingga jelas kenapa dibacanya annabiyyil ummiyyi.

فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ

hal ini udah sy ungkapkan di post sy yg lalu, lupa lagi di page brp. Ato mgkn ada yg kelewat kali ya? Ya udah sy copas aja lagi biar ketauan mana yg terlewat. Setelah sy baca lagi emank ternyata ada yg kelewat tarkiban annabiyyi sbg apa. Tarkiban nya jd badal kul minal kul/badal sye' minalsye'(pengganti dari keseluruhan) dari lafadz rosuuli. Jd kesimpulan nya rosul yg Allah perintahkan ke qta supaya qta mengimaninya yaitu nabi yg ummiy. Silahkan diliat yg sy ksh warna ijo sbg tanda tambahan dari sy dlm post yg skrg buat nebus yg kelewat. Ada dibawah di sela copasan post sy yg lalu silakan cermati.

فَآمِنُواْ

=maka berimanlah kamu(kalian)..Yg dlm kurung kayak nya lbh tepat buat nerjemahin fi'il amr yg pake wawu domir jama'. Cuma menurut sy lho.

بِاللّهِ

=kpd Allah.
بِ

(ba) haraf jar, dimana kalo ada isim yg didahului haraf jar maka huruf ato haraf ahir dr lafadz isim tsb keadaanya majrur (yg di jar kan). Disini isim tsb adlh lafadz

اللّهِ

ciri majrur nya adlh kasroh krn lafadz Allah adlh isim mufrod sahih akhir. Sejumlahnya jar dan majrur (lafadz billahi)Tarkiban nya jd maf'ul dari fi'il amr aminuu.

وَرَسُولِهِ

=dan kpd RasulNYA.

وَ

(wawu) haraf athof/athaf, dimana kalo ada isim yg jd ma'thuf nya maka isim tsb keadaannya ikut kpd ma'tuf alaih nya. Disini ma'tuf aleh(alaih)nya adlh lafad Allah yg di majrur kan oleh haraf ba.
رَسُولِ

(rosuuli) ma'tuf, di athofkan oleh haraf athaf wawu. Krn ma'tuf aleh nya majrur (khofad) maka matuf nya jg majrur. Ciri khofad/majrur nya kasroh krn lafadz rosuul adlh isim mufrod sahih akhir.

هِ

(hi) dhomir, ruju' nya ke lafadz Allah. Jd mudof ilaih dr mudof yaitu Lafadz rosuuli

النَّبِيِّ

=seorang nabi. Ato boleh lah diterjemahin sang nabi, krn

ال

sering diterjemahin "sang" dlm bhs qta. Yg mana
ال
fungsinya dlm bhs Arab slh 1 nya buat menta'rif ato me ma'rifat kan isim nakiroh.

نَّبِيِّ

(nabi) isim nakiroh, di ma'rifatkan dgn alif lam.

النَّبِيِّ

(annabiyyi) tarkiban jd badal dari mubdal minhu nya yaitu lafadz rosuuli yg kasroh krn di jar kan oleh harf ba'. Ini kenapa annabiyyi kasroh krn mubdal minhu nya kasroh.

الأُمِّيِّ

=yg ummi(versi depag,dan jg Shakir), unlettered(versi Yusuf Ali), who can neither read nor write(versi Pickthal). Sumber http://www.al-islam.org/quran/

الأُمِّيِّ

(al ummiyi) tarkiban nya jd sifat/mausuf dr lafadz anabiyi. Hal ini sesuai dgn pndpt para penterjemah yg diakui yg sy kutip diatas trjemahannya. Qta bs liat dari hasil terjemahnya yg nunjukin bhw al ummiyi tarkibannya jd mausuf dr lafadz anabiyi. Kalo seandainya diterjemahin jd ibu kayak yg mas Hillman kemukakan, lantas tarkiban nya jd apa? Maap mas Hillman. Selain dr tarkiban, dr literal Arabic nya jg udah beda antara ummi(ibu)
أمِّ
dgn tasydid di atas mim yg nunjukin bhw hakikatnya mim nya ada 2.
أمِّمِّ

emank terkadang disandingkan/di idofatkan dgn
يِّ

(dlm hal ini "iya mutakallim"),dimana kalo suatu isim di idofatkan dgn iya mutakallim, maka menunjukan kepemilikan. Dlm hal ini "umm"(ibu),di idofatkan dgn iya mutakallim maka artinya ibuku.
Berbeda dgn ummiyi(yg ummiy,yg tdk bs baca tulis)

أمِّيِّ

dalam hal ini
يِّ

(huruf iya) nya adlh bagian dari lafadz ummiy yg trjemah nya yg gak bs baca n tulis. Oya ada jg yg nerjemahin sbg unlettered, mnurut sy kalo diartikan ke bhs qta qra2 artinya yg gak kenal huruf, gak kenal huruf udah tentu gak bs baca n tulis toh?

HILLMAN wrote: Dengan kenyataan tersebut, maka :
Pemahaman yang saya dapatkan adalah dua kata النَّبِيِّ - al-nabiyyi dan الأُمِّيِّ - al-ummiyyi, merupakan personifikasi dari Nabi ISA AS dan Ummi
tolong anda tuliskan arabic text nya Ummi yg anda maksud ini. Kalo trnyata ini tntg lafadz umm di tambah ya' mutakallim, maka gak mgkn ada alif lam nya. Sdgkan di ayat itu ada alif lam nya. Maka bukanlah ya' mutakallim, dgn demikian gak bs diterjemahin ibuku bhkan ibu.
HILLMAN wrote: Maryam, yang hanya satu-satunya di dunia ini, dan kedekatan penulis terhadap keduanya
maaf,setelah semua yg sy kemukakan, gak ada korelasi nya samasekali statemen anda ini dgn ayat yg qta bahas. Sy menangkap adanya pemaksaan tanpa landasan keilmuan yg bs dijadikan penopang statemen anda. Maaf.

HILLMAN wrote: Dengan landasan tatabahasa
Menurut teori ketiga tatabahasa Arab, ي ya mutakallim adalah huruf yang di tempelkan untuk memberikan empat makna sesuai isim subjek yaitu tunggal, makna kepemilikan, makna munfashill (perbuatan yang ditujukan untuk mutakallim sendiri) dan makna dzat (orang pertama) yang berbicara.
ya bs jg. Tp anda musti sadar ya' di ayat itu bukanlah ya' mutakallim. Postingan2 sy udah menjelaskannya. Sy ngepost di thread anda bukan semata ngeluarin yg pngen sy ungkapkan, tp dilandasi kaidah2 yg mengatur tatabahasa Arab, krn yg qta bahas adalah ayat Qur'an yg berbahasa Arab.

HILLMAN wrote:Ingat makna kata مُتَكَلِّم - mutakallim = pembicara (orang pertama).
that's right. So..?
Mas Hillman, gak ada relevansinya samasekali ya' mutakallim dgn lafadz annbiyyi dan al ummiyyi di ayat itu. Krn bukan ya' mutakallim yg ada di situ.
Kesimpulan
HILLMAN wrote:Kata النَّبِيِّ - al-nabiyyi, dalam ayat ini adalah personifikasi "super tunggal" makna munfashill dan personifikasi dari dzat (orang pertama) yang berbicara
"super tunggal" . itu tafsiran anda. Krn anda yakin nabi yg dimaksud adalah nabi Isa yg anda yakini sbg inkarnasi Allah. Monggo. Tp kevalidan nya gagal ketika di uji dgn cuma ilmu nahwu jg.

HILLMAN wrote:Kata الأُمِّيِّ - al-ummiyyi, dalam ayat ini adalah personifikasi "super tunggal" dan personifikasi kepemilikan .
sy udah kemukakan pndpt sy, anda jg tetap keukeuh dgn pndapat anda. Yg penting sy udah nunjukin kekeliruan anda memaknai ayat itu.

HILLMAN wrote:Kita mengetahui ayat dalam Surah Al Araf 158 ini di awali dengan kata perintah قُلْ - Qul = Katakan, merupakan perintah untuk mengatakan kalimat dalam ayat tersebut. Sehingga النَّبِيِّ - al-nabiyyi, ini dapat dikatakan adalah sosok yang sama dengan yang memberikan perintah قُلْ - Qul .
qta liat keseluruhan terjemah ayat nya. Yg biru adlah penjelasan dari sy.

Katakanlah(ini perintah Allah kpd Nb.Muhammad sbg si penerima perintah, supaya beliau mengatakan kpd umatnya demikian-->: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".
perihal ayat ini udah sy jelasin. All my post here it's all about that verse.

HILLMAN wrote:Kata الأُمِّيِّ - al-ummiyyi, makna ي ya mutakallim, merupakan bentuk kepemilikan
wlw tnpa landasan, anda tetep keukeuh tntg ya' mutakallim yg anda yakin nempel di lafadz ummiyyi. It's seem no single other way to change your conviction setelah sy tunjukin keliru nya anda dlm menyimpulkan isi ayat itu. Mgkn krn keterbatasan sy. Maka sy serahkan pada anda sbg org yg berakal dan telah sampai keterangan2 utk langkah selanjutnya dlm rangka melegitimasi nb.Isa sbg tuhan dgn cara mencari yg anda anggap sbg celah di ayat2 Qur'an. Tp insyaALLAH selama sy sempat dan mampu, akan sy tanggapi statemen2 anda. Semoga anda masih mau nerima sy di thread anda. Tujuan sy dgn segala keterbatasan dan kebodohan sy cm mencoba nunjukin kesalahan2 yg mgkn akan anda paparkan nanti. Kasian org yg kurang faham bisa anda keliru kan thd pemahamannya tntg ayat qur'an kalo gak ada penyeimbang dari yg anda tulis. Tp sy gak terlalu kuatir kok. Semua hal udah ada YANG MAHA ngatur

HILLMAN wrote:Mas Joevai pemahaman tersebut juga memberikan saya satu inti pemahaman yaitu Sang Nabi didalam ayat 158 Surah Al Araf adalah yang "super tunggal" dalam arti lahir tidak berasal dari nuftatin, yang melakukan kenabian, sama dengan dzat yang memberikan perintah.
ini bukti bhw anda ingin melegitimasi faham bhw nb.Isa adalah tuhan itu sendiri. Padahal di saring dgn kaidah2 tatabahasa aja udah gak lolos.

HILLMAN wrote:Kemudian Sang Ibu adalah yang "super tunggal" dalam arti melahirkan dalam keadaan suci, dan sangat di rahmati oleh yang memberikan perintah.
silaken di baca lagi argumen sy tntg al ummiyyi. makasih diskusinya, wlw gak ngerubah pemahaman qta masing2, sy senang bs tukar fikiran dgn org papan atas FFI kayak anda.

HILLMAN wrote:Dan yang paling utama adalah sang pemberi perintah قُلْ - Qul, adalah Allah Yang Maha Kuasa
alhamdulillah ternyata dlm hal ini qta sependapat.

Salam.
Joevai
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 183
Joined: Tue Aug 05, 2008 6:54 am
Location: Bandung

Postby Pembawa Pedang » Sun Nov 02, 2008 8:52 am

Hillman wrote:Di Al Quran dengan tanda tajwid berwarna ada fakta nyata, bahwa pada kata yang anda maksudkan tidak diberi tanda warna sebagai Ikhfaa maupun Ghunnah yang menyebabkannya menjadi ng..ng...

Mata anda mmg melek..tapi maaf! pendengaran anda perlu dikalibrasi ulang...

Mas PP, saya kualat jika kurang ajar pada anda yang sepuh, saya yang "remaja" ber-lega hati menerima "kehebatan" dan "mutu" eyang PP.

Oh....begitu kah?...Menurut anda mungkin sdh cukup sopan dgn gaya bahasa serta bumbu bumbu bahasa arab..plus ucapan salam...

Menurut saya justru andalah yg paling bajingan dgn cb mempelintir ayat2 quran...menafsirkan sesuai dgn selera anda sendiri..serta membodohi orang2 yg tidak tahu baca quran...

Ini kualat anda yg paling besar! Kualat pada kitab Allah!

PP
Pembawa Pedang
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5280
Joined: Fri Mar 16, 2007 1:39 am

Postby M-SAW » Sun Nov 02, 2008 9:03 am

HILLMAN wrote:Rekan-rekan mohon bersabar sebentar :).

Insyaallah, di post berikutnya akan saya tuliskan kesimpulan dari thread ini.

Wassalam

ok deh

saya setia menanti
M-SAW
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5244
Joined: Wed Aug 23, 2006 3:59 pm
Location: :)

Postby moh_mad007 » Sun Nov 02, 2008 9:04 am

Pembawa Pedang wrote:
Hillman wrote:Di Al Quran dengan tanda tajwid berwarna ada fakta nyata, bahwa pada kata yang anda maksudkan tidak diberi tanda warna sebagai Ikhfaa maupun Ghunnah yang menyebabkannya menjadi ng..ng...

Mata anda mmg melek..tapi maaf! pendengaran anda perlu dikalibrasi ulang...

Mas PP, saya kualat jika kurang ajar pada anda yang sepuh, saya yang "remaja" ber-lega hati menerima "kehebatan" dan "mutu" eyang PP.

Oh....begitu kah?...Menurut anda mungkin sdh cukup sopan dgn gaya bahasa serta bumbu bumbu bahasa arab..plus ucapan salam...

Menurut saya justru andalah yg paling bajingan dgn cb mempelintir ayat2 quran...menafsirkan sesuai dgn selera anda sendiri..serta membodohi orang2 yg tidak tahu baca quran...

Ini kualat anda yg paling besar! Kualat pada kitab Allah!

PP


he...he...he... cuman kualat tok ya.... AZAAAAB alloh nya...kemana ????
nguaaaap ya.....!!! :lol:

Muslim puaaaaaling takut ama AZAAAAB.....allloh swt!!!!he..he..he.. :lol:
User avatar
moh_mad007
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2407
Joined: Tue Jan 15, 2008 12:18 am

Postby HILLMAN » Sun Nov 02, 2008 10:52 am

Kelihatannya mas Joevai sedang tidak memiliki waktu yang luang untuk menanggapi tulisan terakhir, sehingga beliau hanya mengulang quote tulisannya yang lalu.

Eyang PP tulus saya minta maaf pada anda, jangan diperpanjang ya. Lillahitaala, atas semua yang saya lakukan. :)


Sesuai janji saya, berikut ini rangkuman kesimpulan thread ini.


بسم الله الرحمن الرحيم


Rangkuman pertama:

Sehingga nama yang diberikan pada Isa Ibnu Maryam عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ , yaitu Al Masihu الْمَسِيحُُ adalah salah satu sifat mutlak milik Allah yang belum termaktub didalam 99 Amaul Husna yaitu Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyelamatkan.

Saya yang faqir mencoba memberikan kesimpulan dari semua ini adalah Isa Ibnu Maryam عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ merupakan salah satu wujud asma’ul husna, wujud nyata dari sifat mutlak Menyelamatkan dari Allah, wujud nyata dari firman Allah, wujud nyata dari Roh Allah dan wujud nyata pembawa kabar keselamatan dari Allah.


Rangkuman ke-dua:

Surah Az Zukhruf ayat 61 tertulis di dalam Al Quran menggunakan kata مُّسْتَقِيمٌ mustaqeemun, yang berakar kata قام qaama, yang artinya adalah berdiri tegak, bangkit, berdiri = upright, erect, standing .

Pemilihan akar kata قام qaama ini sangat berbeda maknanya apabila diartikan sebagai lurus seperti didalam terjemahan Indonesia.

Penulis akan menggunakan kata مباشرة mubaasyarah = lurus, langsung, tidak menyimpang = straight, undeviating jika ingin sesuai dengan terjemahannya.

Menurut hemat saya Sang Penulis menggunakan kata مُّسْتَقِيمٌ mustaqeemun yang berakar kata قام qaama, berdiri tegak, bangkit, berdiri akan sangat berkaitan dengan kisah kebangkitan Nabi ISA AS, setelah harus meninggal karena penganiyaan yang dilakukan bani Israil.

صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ siratun mustaqeemun, dimaksudkan oleh Sang Penulis tampaknya bukan sebagai peta petunjuk namun lebih mendekati makna sebagai penghubung . Penghubung antara yang di bawah dengan Yang di Atas



[b] Rangkuman ke-tiga

Surah Al Muminun Ayat 50


وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَى رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ


WajaAAalna ibna maryama waommahu ayatan waawaynahuma ila rabwatin thati qararin wamaAAeenin


TERJEMAHAN SEBENARNYA

= Dan Kami jadikan putera Maryam beserta ibunya suatu tanda nyata, dan Kami berikan kepada mereka keutamaan menjadi sabda yang telah ditetapkan.

Surah Al Muminun Ayat 51 dengan alasan yang telah diberikan, sementara dianggap tidak di baca.

Surah Al Muminun Ayat 52

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ


Wainna hathihi ommatukum ommatan wahidatan waana rabbukum faittaqooni


TERJEMAHAN SEBENARNYA

= Sesungguhnya ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.


Maka apabila kita baca Surah Al Muminun Ayat 50 disambung langsung dengan Ayat 52, akan didapat arti sebagai berikut:


Dan Kami jadikan putera Maryam beserta ibunya suatu tanda nyata, dan Kami berikan kepada mereka keutamaan menjadi sabda yang telah ditetapkan.

Sesungguhnya ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.



Ayat diatas sebangun dan saling memperkuat, kita baca Surah Al Anbiyaa Ayat 91 dan ayat 92, dibawah ini:


Dan dia yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam dirinya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda yang besar bagi semesta alam.


Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.





Rangkuman ke-empat

Al Araf Ayat 158


قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ


Qul ya ayyuha alnnasu inni rasulullahi ilaikum jami’anil allazi lahu mulkus samawati waalardi la ilaha illa huwa yuhyi wayumit fa aminu billahi warasulihi alnnabiyyi alummiyyi allazi yu’minu billahi wakalimatihi waittabi’uhu la’al lakum tahtaduna

= Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".

TERJEMAHAN SEBENARNYA

= Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya , Nabi dan Ibu yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimatNya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".

قل – Qul = said = Katakan
يأيها – ya ayyuha = you all = kamu semua
الناس – alnnasu = the people = manusia
اني – inni = that I = bahwa aku
رسول – rasulu = a messenger = utusan
الله – Allah = God = Allah
اليكم – ilaikum = to you = kepadamu
جميعا – jami’anil = all = semua
الذي – allazi = whose = siapa
له – lahu = the = sang
ملك – mulkus = owner = pemilik
السماوات – samawati = the skies = langit
والارض – waalardi = and the earth = dan bumi
لا – lam = no = tidak
اله – illah = a god = Illah
الا – alla = other = selain
هو - huwa = he = Dia
يحيي – yuhyi = gave life = memberi hidup
ويميت – wayumit = and gave death = memberi kematian
فامنوا – fa aminu = so believed = berimanlah
بالله – billahi = with God = pada Allah
ورسوله – wa rasulihi = and His messenger = dan utusanNya
النبي – Al nnabiyyi = the prophet = Sang Nabi
الامي – Al ummiyyi = the Mother = Sang Ibu
الذي – allazi = whose = siapa
يؤمن – yu’minu = believed = beriman
بالله – billahi = with God = pada Allah
وكلماته – wakalimatihi = and His Words = dan KalimatNya
واتبعوه – waittabi’uhu la’al = and follow Him = dan ikutlah Dia
لعلكم – lakum = you may = maka kamu
تهتدون – tahtaduna = be guided = berpetunjuk



Tujuan sang penulis diperjelas dengan penulisan kata ورسوله – wa rasulihi = and His messenger = dan utusanNya, sebelum dua kata النبي – Al nnabiyyi dan الامي – Al ummiyyi, bahwa “nabi” Muhammad SAW sebagai “rasul” diharuskan untuk menyampaikan perintah untuk mengikuti النبي – Al nnabiyyi = the prophet = Sang Nabi [/b] dan الامي – Al ummiyyi = the Mother = Sang Ibu . *

* Note : Kesimpulan yang berwarna hijau sementara ini saya anggap valid setelah membaca tanggapan mas Joevai yang hanya meng-quote tulisan beliau yang lalu.




Dari hasil rangkuman diskusi ini, dengan segala keterbatasan dan kekurangan, saya mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang tersurat dan tersirat di dalam Al Quran tentang Nabi ISA AS.

Berdasarkan ijtihad mendalami Al Quran dan ijtihad yang sama untuk mendalami Injil Nasrani, saya sebagai manusia faqir, mendapatkan kesimpulan untuk diri saya pribadi dan Insyaallah apa yang saya tuliskan memberikan pemahaman bagi siapapun yang membacanya, dan beriman dengan sungguh mengetahui apa yang di-imani-nya.

Nabi ISA AS bersama Ummu Maryam adalah tanda nyata ke-maha kuasa-an Sang Pencipta, di-firman-kan sebagai wujud panutan manusia di dunia untuk bertawakal pada Sang Pencipta. Nabi ISA AS adalah contoh manusia dalam bertawakal, sebagaimana tersurat di dalam Injil Nasrani, Nabi ISA AS, merupakan contoh ke-kaffah-an “manusia” dalam bertawakal kepada Sang Pencipta, menjalani apa yang diperintahkan sampai akhir ke-penyaliban-Nya sebagai kurban.

Nabi ISA AS, merupakan contoh sifat Sang Pencipta yang tidak Maha Memerintah namun juga Maha Melayani. Tidak hanya memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk mengurbankan putranya, tetapi juga mengurbankan Nabi ISA AS yang “berasal” dariNya untuk mewujudkan sifat Maha Menyelamatkan.
Tertulis di dalam Injil Nasrani, Nabi ISA AS merasakan sakit akibat aniaya dan ditinggalkan sebagai kurban, sebagaimana hewan kurban yang merasakan sakit dan ditinggalkan manusia untuk di-sembelih sebagai kurban bagi manusia.


Nabi ISA AS adalah َكَلِمَتُهُُ - kalimatuhu, perwujudan dari firman Sang Pencipta.


Nabi ISA AS adalah terkemuka di dunia akhirat sebagaimana tertulis di dalam Al Quran Surah Ali Imran Ayat 45.

Banyak lagi yang tidak dapat saya gambarkan sifat ke-illahi-an Nabi ISA AS sebagaimana terjabarkan dalam kedua kitab samawi.

Akhir kata saya mendapatkan satu perubahan cara pandang terhadap Nabi ISA AS dan umat Nasrani yang memuliakannya. Alhamdulillah membuat diri saya sebagaimana diri saya saat ini.

Ketidak pahaman penganut Islam dan muslim pada umumnya, terhadap cara pandang umat Nasrani kepada Nabi ISA AS, dimana berdasarkan pada apa yang saya dalami, umat Nasrani tidak pernah memaknakan diri Nabi ISA AS sebagai Maha Pencipta, tetapi memaknakannya sebagai perwujudan sifat Allah Maha Menyelamatkan الْمَسِيحُُ – Al Masihu, sebagaimana salah satu sifat Allah yang tersurat dalam الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى - Asmaul Husna.


Umat Nasrani memandang Nabi ISA AS adalah “perwujudan” dari صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ – siratul mustaqim, penghubung vertical antara manusia dan Sang Pencipta.


Saya menggambarkan ke-illahi-an Nabi ISA AS seperti sebuah kapal SAR yang mencari di tengah gulita dengan lampu sorotnya, dan melemparkan pelampung penyelamat kepada orang yang terombang-ambing di lautan ganas. Kapal SAR itulah Allah, lampu sorot itulah Rohul Kudus dan pelampung penyelamat itulah Nabi ISA AS, kemudian orang yang terombang-ambing itulah saya, manusia.

[b]Kapal SAR, lampu sorot dan pelampung penyelamat adalah satu kesatuan.
Sebuah wujud sifat Maha Kasih yang melepaskan manusia dari bahaya, dan Allah melepaskan manusia dari bahaya yang kekal yaitu kehilangan jatidiri sebagai manusia sebagaimana Allah menciptakannya.


Terima kasih, dan mohon dimaafkan apabila kekurangan dan ketidak sengajaan saya dalam menuliskan segala sesuatu.

Wallahualam bisawab

Wassalammuallaikum

Dari yang faqir

TOHIR MS
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby robint » Sun Nov 02, 2008 1:51 pm

MM:
Gambar (atau patung?) seperti inilah kelihatannya yang tergantung di diding Kabah,...


masak sih Mas ? emang ada benaran ya? kok mrk ttp gak sepaham ama kristen?

Joe,

ok deh kawan. Gw cuma sedikit menerangkan bahwa jika yg dibilang mas hillman itu diakui sbg satu kebenaran maka kristen dan islam sudah selangkah lebih maju dlm hubungan antara keduanya karena memang adalah benar bahwa di kitab tetangga bilang Yesus itu sungguh manusia (hamba) dan sungguh Allah.

yah lo tau gw sangat nasionalis dan sangat merindukan kehidupan yg harmonis dan bertolerasni antar orang indon dan juga para pendatang yg menurut pemandangan gw yg sempit ini ( hehe tepatnya setelah baca FFI) gak bakal tercapai dng adanya islam.

suatu hari kalo orang membahas agama hanya sbg suatu perdebatan politik ato ekonomi ttg si Yesus, siX,si Y, dan si Z... maka satu sama lain bisa saling mempelajari bgmn pandangan hidup orang lain.

jadi sila pertama dlm Eka prasetia panca karsa itu bener bener punya makna sbg falsafah negara ini yg mendukung dan menjamin kerukunan hidup antar umat berugama.

Mas Hilman,
Ok deh .. gw akan sabar menanti.. soalnya udah begini dalem teori tatabahasanya .. gw kyk nya cuma bisa sbg pendengar aja.
robint
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2190
Joined: Sat Jun 21, 2008 10:52 pm

Postby Pembawa Pedang » Sun Nov 02, 2008 1:58 pm

Hillman wrote:Sehingga nama yang diberikan pada Isa Ibnu Maryam عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ , yaitu Al Masihu الْمَسِيحُُ adalah salah satu sifat mutlak milik Allah yang belum termaktub didalam 99 Amaul Husna yaitu Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyelamatkan.

Nabi ISA AS adalah terkemuka di dunia akhirat sebagaimana tertulis di dalam Al Quran Surah Ali Imran Ayat 45.


Lagak seorang Hillman mengambil kesimpulan...
Kesimpulan Hillman dibantah oleh Quran :

QS 4 : 172. Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.

QS 19 : 30. Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Kesimpulan yg benar adalah ayat dibawah ini..ini bukan opini atau assumsi saya,

QS 3 : 84. Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri

PP
Pembawa Pedang
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5280
Joined: Fri Mar 16, 2007 1:39 am

Postby moh_mad007 » Sun Nov 02, 2008 2:16 pm

Pembawa Pedang wrote:
Hillman wrote:Sehingga nama yang diberikan pada Isa Ibnu Maryam عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ , yaitu Al Masihu الْمَسِيحُُ adalah salah satu sifat mutlak milik Allah yang belum termaktub didalam 99 Amaul Husna yaitu Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyelamatkan.

Nabi ISA AS adalah terkemuka di dunia akhirat sebagaimana tertulis di dalam Al Quran Surah Ali Imran Ayat 45.


Lagak seorang Hillman mengambil kesimpulan...
Kesimpulan Hillman dibantah oleh Quran :

QS 4 : 172. Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.


Ayat tsb diatas "Nya" itu siapa??? mohammad ato alloh swt????

QS 19 : 30. Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,


Isa gak pernah membawa INJIL!!! dodooool!!!!

Kesimpulan yg benar adalah ayat dibawah ini..ini bukan opini atau assumsi saya,

QS 3 : 84.
Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri


PP

Ayat diatas ini yg NULIS siapa???? dari si mohammad ato dr jibril ato dr alloh swt????
User avatar
moh_mad007
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2407
Joined: Tue Jan 15, 2008 12:18 am

Postby robint » Sun Nov 02, 2008 2:46 pm

Mas Hilman.

ternyata bijak sekali.Btw, dng tidak mengurangi respek saya pd mas, saya tambahkan beberapa hal ttg yg mas tulis dibawah ini dr pandangan yg saya anut dan saya berharap Mod gak apus krn ini gak OOT, masih on thread, dan saya TIDAK mengkotbahkan Yesus.

Nabi ISA AS bersama Ummu Maryam adalah tanda nyata ke-maha kuasa-an Sang Pencipta, di-firman-kan sebagai wujud panutan manusia di dunia untuk bertawakal pada Sang Pencipta. Nabi ISA AS adalah contoh manusia dalam bertawakal, sebagaimana tersurat di dalam Injil Nasrani, Nabi ISA AS, merupakan contoh ke-kaffah-an “manusia” dalam bertawakal kepada Sang Pencipta, menjalani apa yang diperintahkan sampai akhir ke-penyaliban-Nya sebagai kurban.

Nabi ISA AS, merupakan contoh sifat Sang Pencipta yang tidak Maha Memerintah namun juga Maha Melayani. Tidak hanya memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk mengurbankan putranya, tetapi juga mengurbankan Nabi ISA AS yang “berasal” dariNya untuk mewujudkan sifat Maha Menyelamatkan.
Tertulis di dalam Injil Nasrani, Nabi ISA AS merasakan sakit akibat aniaya dan ditinggalkan sebagai kurban, sebagaimana hewan kurban yang merasakan sakit dan ditinggalkan manusia untuk di-sembelih sebagai kurban bagi manusia.


#1
Pengurbanan dlm agama Yahudi,mnrt salah satu buku yg saya baca berasal dr ayat ini :

3:21 Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.


krn binatang adalah ciptaan satu tingkat dibawah manusia, dan kisah diatas adalah apa yg dilakukan Tuhan setelah manusia jatuh kedlm dosa.Waktu itu manusia (adam/Hawa) merasa malu atas dosanya dan membuat pakaian dr daun-daun,namun daun2 tidaklah dpt menutupi ketelanjangannya scr sempurna. Oleh krnnya Tuhan sendiri dng otoritas yg dia miliki telah membunuh satu nyawa binatang sbg ganti , dan Tuhan jg yg membuatkan kulit binatang itu sbg pakaian dan Tuhan sendiri juga mengenakannya kpd manusia.

Hal itu Tuhan lakukan sbg bukti akan kasihnya kpd manusia, sehingga Ia mesti mengorbankan binatang yg adalah ciptaannya sendiri dan dengan demikian Ia telah mengorbankan diriNya krn binatang adalah bagian dr ciptaanya yg bernyawa (hidup) dan dialah sumber Hidup.

dan dosa manusia itu kelak menjadi sedemikian hebat sehingga di suatu hari disuatu masa, manusia sungguh telah menyalibkan Tuhannya sendiri.

sbg pembanding bisa dibaca dlm imamat bhw pengorbanan binatang ini ada dua macam:
1.Korban persembahan yg intinya adalah wujud syukur Tuhan masih membiarkan kita hidup
suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN


2.Korban penghapus dosa: yg peneymebelihannya harus dilakukan diluar kemah dan namun sebagian dibawa kedalam kemah utk dibakar habis, sbg lambang bahwa dosa itu harus disingkirkan sampai habis.

6:30 Tetapi setiap korban penghapus dosa, yang dari darahnya dibawa sebagian ke dalam Kemah Pertemuan untuk mengadakan pendamaian di dalam tempat kudus, janganlah dimakan, melainkan dibakar habis dengan api."



#2
Persembahan yg dilakukan oleh Abraham adalah persembahan yg keliru (perhatikan bentuk kt Tuhan, Allah dan TUHAN yg ada dlm cerita ini), itu sebabnya Ia berseru," jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa2kan dia. Namun Tuhan menghargai ketaatan Ibrahim atas tuntutan utk memberikan bukti cintanya pd Allah . Sbg pembanding bisa dilihat firman Allah yg disampaikan melalui Musa (nabi yg dianggap sbg nabi yg bercerita soal kisah pengorbanan Ibrahim ini ) dan Yeremia .

Im. 18:21 Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.


Yer. 32:35 Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk Baal di Lembah Ben-Hinom, untuk mempersembahkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka kepada Molokh sebagai korban dalam api, sekalipun Aku tidak pernah memerintahkannya kepada mereka dan sekalipun hal itu tidak pernah timbul dalam hati-Ku, yakni hal melakukan kejijikan ini, sehingga Yehuda tergelincir ke dalam dosa.


dan lebih dr itu (Paulus setahu gw nulis hal yg senada ttg Ibrahim), Tuhan juga menghargai iman Ibrahim akan kehidupan manusia, ini iman Ibrahim bahwa Allah tidak akan tega meminta anaknya yg tunggal dan sebalik nya akan menyediakan gantinya..

22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."
22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
22:8 Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.


Perhatikan yg saya merahkan. pengenalan akan Allah yg penuh kasih ini dipahami oleh siayah dan sianak dlm penziarahan bersama.Inget kan orang indo suka bilang, hidup ini adalah ziarah panjang kerumah Tuhan.
dan anak belajar mengenal kasih dr kasih orang laen , yg terutama sih orang tua.

ironisnya ketaatan keliru ala Ibrahim ini lah yg dipuja muslim sedunia lewat idul adha nya itu, suatu ketaatan yg rela mengorbankan orang yg tidak bersalah demi membuktikan cintanya kpd Tuhan.Maka gw gak heran dng amrozy sipembunuh manusia yg sampai akhirpun tak merasa salah, dia pikir dia melakukan kehendak Tuhan , tp sesungguhnyabagi Tuhan itu adalah kekejian.

3.Maria dipandang sangat hormat dikalangan kristen awal krn asumsi bahwa Maria yg melihat kejadian penyaliban dan seorang Ibu dr Yesus, ikut merasa sakit meski tidak secara fisik krn 'kedagingan' Yesus diperoleh dr Maria. sbgmn yg dinubuatkan simeon

2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."


Mas, trims anyway . tak tunggu kalo masih ada yg lainnya soal ini.
robint
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2190
Joined: Sat Jun 21, 2008 10:52 pm

Postby robint » Sun Nov 02, 2008 8:01 pm

btw pendapat saya diatas tidak utk diperdebatkan nanti OOT, tp saya mau menambahkan sedikit ttg point 2 saya, dan sbg jawaban dlm thread lain dimana sdr JJ, mempertanyakan Abraham versi alkitab.

sbg perbandingan dng pernyataan saya bisa dilihat dr tulisan Soren K,yg tampaknya hidup dr era setelah peperangan agama dieropa.

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Christianity

dan ini adalah tulisan JP Satree, mengomentari tulisan Soren ttg Abraham:

http://en.wikipedia.org/wiki/S%C3%B8ren_Kierkegaard

Sartre agrees with Kierkegaard's analysis of Abraham undergoing anxiety (Sartre calls it anguish), but Sartre doesn't agree that God told him to do it. In his lecture, Existentialism is a Humanism, he says:

The man who lies in self-excuse, by saying "Everyone will not do it" must be ill at ease in his conscience, for the act of lying implies the universal value which it denies. By its very disguise his anguish reveals itself. This is the anguish that Kierkegaard called "the anguish of Abraham." You know the story: An angel commanded Abraham to sacrifice his son; and obedience was obligatory, if it really was an angel who had appeared and said, "Thou, Abraham, shalt sacrifice thy son." But anyone in such a case would wonder, first, whether it was indeed an angel and secondly, whether I am really Abraham. Where are the proofs? A certain mad woman who suffered from hallucinations said that people were telephoning to her, and giving her orders. The doctor asked, "But who is it that speaks to you?" She replied: "He says it is God." And what, indeed, could prove to her that it was God? If an angel appears to me, what is the proof that it is an angel; or, if I hear voices, who can prove that they proceed from heaven and not from hell, or from my own subconsciousness or some pathological condition? Who can prove that they are really addressed to me?

– Jean-Paul Sartre, Existentialism is a Humanism[38]


pendapat saya hampir sama dgn satre,hanya sedikit beda ttg siapa Tuhan dan Siapa inner call Abraham krn saya dipengaruhi teori ttg penyebutan nama2 Allah yg digunakan dlm alkitab.

OK deh, pls lanjut mas Hilman .

trims.
robint
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2190
Joined: Sat Jun 21, 2008 10:52 pm

Postby Cah Bodo » Sun Nov 02, 2008 9:13 pm

=D> =D> =D>
Terima kasih banyak.

Peace,
Cah Bodo
User avatar
Cah Bodo
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 92
Joined: Tue Sep 02, 2008 10:23 pm

Postby HILLMAN » Sun Nov 02, 2008 9:29 pm

Pembawa Pedang wrote:Lagak seorang Hillman mengambil kesimpulan...
Kesimpulan Hillman dibantah oleh Quran :

QS 4 : 172. Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.

QS 19 : 30. Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Kesimpulan yg benar adalah ayat dibawah ini..ini bukan opini atau assumsi saya,

QS 3 : 84. Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri

PP


Amin eyang PP, benar sekali Nabi ISA AS adalah seorang hamba, bukan hanya pada Allah, yang menurut umat Nasrani bahkan rela mencuci kaki murid-muridNya sebagaimana seorang hamba.

Dan saya aminkan, Insyaallah anda menjalankan untuk tidak membedakan seorangpun diantara mereka, sebagaimana tertulis dalam QS 3:84. :)

Jawaban saya untuk QS 19:30, ayat itu tertulis akibat cerita yang timbul 610 tahun lamanya setelah kejadian nyata, sehingga dikatkan Nabi ISA mebawa injil, tidak eyang PP, Nabi ISA AS tidak membawa injil tetapi Dia-lah Sang Injil, sebagaimana tertulis dalam Al Quran, Nabi ISA AS adalah َكَلِمَتُهُُ – kalimatuhu.

Itulah sebabnya didalam Al Quran maupun injil Nasrani, tertulis hikmah, tunjukan bukan baca atau hafal untuk memohon صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ – siratul mustaqim.

Karena صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ – siratul mustaqim bukan sebiah kitab, tapi sosok yang menjadi sumber hikmah, hikmah dari setiap kejadian yang di-alami dan di-jalankanNya. Kejadian semenjak Firman di hembuskan kedalam rahim suci Ummu Maryam sampai pengangkatanNya setelah pengurbananNya.

Eyang PP, makna hikmah adalah mengambil kebaikan dari sebuah kejadian dan melaksanakannya dalam kehidupan.


Bukankah demikian eyang PP?

Alhamdulillah, hikmah itulah yang saya syukuri lahiriyah dan bathiniyah.

Wassalam.

Note: Terima kasih mas MM007 dan mas Robint atas pendapatnya yang sangat menjelaskan. Dan terima kasih kembali untuk mas cah bodo. :)
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby robint » Sun Nov 02, 2008 10:10 pm

terimakasih kembali.

Utk PP,
kebanyakan non kristen yg berdiskusi dng saya,terutama muslim sering tidak mengerti bagaimana Allah jika Ia adalah Yesus bisa mengatakan Yesus adalah hamba. seolah ada dua orang dlm peristiwa itu ?

apa bgt P,

kalo iya jawabannya terletak bahwa Yesus adalah Allah yg berada dlm sejarah, jadi dia terikat oleh waktu dan sbg Bapa dia adalah pencipta ruang dan waktu shg dia bisa hadir dimana saja, kapan saja.

dan lucu ya P, kalo didunia ini sja ada orang yg bisa punya 13 kepribadian, mengapa Allah yg berpribadi tdk bisa begitu ?

lagipula semua kepribadian yg ditunjukkan Allah adalah sifat2 positif.

btw, seorang Bapa juga dulunya pernah jadi seorang anak dan atao bermain2 bersama anaknya.... dan seorang anak juga bisa menjadi bapa.(tanpa bermaksud mengatakan bahwa sebelum Yesus ada, tidak ada Bapa.. cuma skdr mengingatkan betapa gampangnya fungsi2 itu beralih dlm satu orang)

salam,
robint
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2190
Joined: Sat Jun 21, 2008 10:52 pm

Postby MuridMurtad » Sun Nov 02, 2008 11:54 pm

MM: Quote:
Gambar (atau patung?) seperti inilah kelihatannya yang tergantung di diding Kabah,...



masak sih Mas ? emang ada benaran ya? kok mrk ttp gak sepaham ama kristen?



Yup, tapi maksudnya bukan Kabah yang sekarang, tapi di jaman Muhammad. Dalam Kabah ada gambar Ibrahim, Maria dan Yesus. Ketika Muhammad menghancurkan Kabah, Muhammad sempat melarang menghancurkan gambar-gambar itu......

Konsep Maria theotokos (Ibunda Allah) sudah dikenal pada jaman Muhammad, bahkan menurut Hadist hanya dua orang yang tidak disentuh Setan yaitu Isa dan Siti Maryam. Dalam Islam Siti Maryam juga diketahui menjaga kesuciannya (tetap perawan) sesuai oandangan Katolik/Orthodox...sehingga Muhammad mengingininya dan mngkin menganggapnya salah satu Houriyah...di Firdaus.


@PP.
Argument PP lah selalu kurang meyakinkan.... :lol:


QS 4 : 172. Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.

QS 19 : 30. Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,


Bukannya ayat di atas sama saja (munkin hasil nyontek..) dengan ucapan rasul Bulus :lol:

Filipus 2:6-9
Php 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
Php 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
MuridMurtad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1172
Joined: Fri Sep 30, 2005 1:49 pm

Postby HILLMAN » Sun Nov 02, 2008 11:57 pm

Mas Robint, saya ada tambahan sedikit untuk eyang PP.

Saya pernah menuliskan pada awal-awal saya aktif menulis di FFI ini, saya katakan bahwa saya melihat Injil dan Al Quran dalam diri seorang penjual koran usia remaja di lampu lalulintas yang mengingatkan akan kelebihan uang saya Rp. 500,- setelah saya membeli korannya. Saya mendapatkan hikmah kejujuran. Sebaliknya saya jiga melihat contoh keburukan akhlak yang harus saya hindari dalam Injil dan Al Quran, ketika saya melihat di berita nasional bagaimana pembunuhan dijadikan kunci menuju surga.

Kemudian mas Robint, analogi saya mengenai kapal SAR, lampu sorot, pelampung penyelamat, manusia, di dalam gelap gulita dan lautan buas, akan saya tambahkan sedikit.

Manusia terombang ambing di dalam gelap, sebagian dari manusia itu ada yang tidak dapat melihat lampu sorot dari kapal SAR tersebut sehingga terlingkup gelap, tidak mengetahui ada kapal SAR yang akan menolongnya.

Sebagian dapat melihat lampu sorot di kapal SAR besar tersebut, hanya memandang penuh harapan akan pertolongan untuk naik keatasnya, ketempat yang aman.

Sebagian mencoba naik dengan kemampuannya sendiri untuk memanjat naik keatas kapal, namun gagal karena demikian besarnya kapal tersebut untuk dijangkau tenaga manusia.

Sebagian lagi sudah melihat lampu sorot, berteriak memanggil kapal SAR tersebut, di lemparkan pelampung penyelamat tetapi tidak diraih dan memeluknya.

Ketika pelampung penyelamat dilemparkan kepada diri manusia yang sudah melihat, memanggil kapal SAR, di raihnya pelampung tersebut, di pasrahkan dirinya keatasnya, dan dengan tali penghubung antara kapal dan pelampung, manusia itu naik ke atas kapal, ketempat yang aman.

Inti analogi dari pemahaman saya, dalam karya penyelamatan, kapal, lampu sorot dan pelampung penyelamat tidak dapat berdiri sendiri. Ketiganya merupakan kesatuan, kapal menyelamatkan manusia dengan pelampungnya dan lampu sorot sebagai pemberi harapan yang dapat dilihat di dalam gelap dan kejauhan.

Demikian yang dapat saya tuliskan.

Terima kasih atas segala yang dapat saya terima dari rekan semua.

Wassalam.
User avatar
HILLMAN
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2870
Joined: Wed Aug 01, 2007 11:22 am
Location: Jakarta

Postby Pembawa Pedang » Mon Nov 03, 2008 8:38 am

Hillman wrote:Bukankah demikian eyang PP?

He..he...kelihatnya TIDAK mas....Isa mmg lahir dgn kalimatullah..tapi tak ada korelasi sirotulmustaqim dgn kalimatullah..apalagi khusus ditujukan untuk Isa sendiri...

Anda cb memasukan paham kristen untuk menyewelengkan muslim....hi..hi..lucu....

Sirotulmustaqim = Isa? Ini bualan klasik!

yaitu Al Masihu الْمَسِيحُُ adalah salah satu sifat mutlak milik Allah yang belum termaktub didalam 99 Amaul Husna yaitu Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyelamatkan.

Sifat Allah ngga perlu anda tambah tambah...cukup 99...karena sifat selamat sdh ada dlm almaul husna yaitu SALAM...

Almasih itu bukan bermakna selamat..tapi yg diurapi...

tidak eyang PP, Nabi ISA AS tidak membawa injil tetapi Dia-lah Sang Injil,

Bualan sampah!..Injil itu maksudnya ape seh....Kalo Isa itu sendiri yg injil..ngapain ngga dinamai dgn KITAB ISA...dan tak perlu capek capek orang nulis injil..seperti yg anda imani...

PP
Pembawa Pedang
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5280
Joined: Fri Mar 16, 2007 1:39 am

PreviousNext

Return to Quran & ISA Almasih, Injil



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users