. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Al-Baqarah 29 : Tuhan menciptakan manusia atau langit dulu?

Kesalahan, ketidak ajaiban, dan ketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan.

Al-Baqarah 29 : Tuhan menciptakan manusia atau langit dulu?

Postby fenomena » Thu Aug 07, 2008 6:10 am

Al-Baqarah 29 : Dia yang menciptakan untuk kamu semua yang ada dibumi, kemudian Dia beralih kelangit lalu menciptakan tujuh lapis langit dengan penuh kesempurnaannya;* dan Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Setahu saya Tuhan menciptakan cakrawala dulu baru kemudian menciptakan bumi beserta isinya, tapi ayat tersebut kok beda ya?

Sebenernya yang bener mana sih? Tuhan menciptakan bumi beserta isinya atau langit duluan? Kayaknya kontradiktif banget deh.
fenomena
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4272
Joined: Wed Nov 28, 2007 8:24 am

Postby wong_biasa » Thu Aug 07, 2008 8:17 am

ayat itu juga masih menimbulkan pertanyaan ! aulloh bicara sama siapa ? pada Adam atau muhammad ??. kalau gua nangkepnya aulloh sudah menciptakan dunia dan segala isinya tetapi aulloh belum menciptakan langit tambahan yaitu langit ke tujuh itu begitu.(gua juga bingung !)
wong_biasa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 401
Joined: Fri Aug 24, 2007 7:35 pm

Postby yusak_almasih » Thu Aug 07, 2008 8:31 am

allahnya orang muslim tuch kan ***** ga punya kuasa, kok menciptakan??? mengaku-aku menciptakan bener, karena itu muhamad yg bilang. muhamad aja katanya buta huruf berarti ya tolol. makanya jangan heran kalau qur'an jg bolak-balik, wong bacanya aja dr belakang kok. hehehehe .....
yusak_almasih
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 477
Joined: Sat Aug 26, 2006 10:37 am

Postby fenomena » Thu Aug 07, 2008 10:02 am

Kalau sudah pada bingung begini mesti nanya ke siapa dong?
fenomena
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4272
Joined: Wed Nov 28, 2007 8:24 am

Re: Al-Baqarah 29 : Tuhan menciptakan manusia atau langit du

Postby handika » Thu Aug 07, 2008 10:10 am

fenomena wrote:Al-Baqarah 29 : Dia yang menciptakan untuk kamu semua yang ada dibumi, kemudian Dia beralih kelangit lalu menciptakan tujuh lapis langit dengan penuh kesempurnaannya;* dan Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Setahu saya Tuhan menciptakan cakrawala dulu baru kemudian menciptakan bumi beserta isinya, tapi ayat tersebut kok beda ya?

Sebenernya yang bener mana sih? Tuhan menciptakan bumi beserta isinya atau langit duluan? Kayaknya kontradiktif banget deh.


Kaata kemudian pada ayat itu sama dengan pada saat itu juga, jadi artinya tuhan menciptakan langit dan bumi pada saat yang bersamaan, ayat ini hanya memperjelas bagaimana bumi dibentuk dan langit dibentuk, yang sebenarnya langit dan bumi diciptakan bersamaan dan satu padu, dan diatara keduanya dipisahkan dengan ledakan yang dahsyat, semoga mengerti.
User avatar
handika
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 45
Joined: Wed Aug 06, 2008 3:30 pm
Location: bapa lagi bercumbu ama bunda maria

Re: Al-Baqarah 29 : Tuhan menciptakan manusia atau langit du

Postby fenomena » Thu Aug 07, 2008 10:16 am

handika wrote:
fenomena wrote:Al-Baqarah 29 : Dia yang menciptakan untuk kamu semua yang ada dibumi,[b] kemudian Dia beralih kelangit lalu menciptakan tujuh lapis langit dengan penuh kesempurnaannya;* dan Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. [/b]

Setahu saya Tuhan menciptakan cakrawala dulu baru kemudian menciptakan bumi beserta isinya, tapi ayat tersebut kok beda ya?

Sebenernya yang bener mana sih? Tuhan menciptakan bumi beserta isinya atau langit duluan? Kayaknya kontradiktif banget deh.


Kaata kemudian pada ayat itu sama dengan pada saat itu juga, jadi artinya tuhan menciptakan langit dan bumi pada saat yang bersamaan, ayat ini hanya memperjelas bagaimana bumi dibentuk dan langit dibentuk, yang sebenarnya langit dan bumi diciptakan bersamaan dan satu padu, dan diatara keduanya dipisahkan dengan ledakan yang dahsyat, semoga mengerti.


Ada kata kemudian, kok bisa dibilang bersama-sama?

Makin bingung deh saya.
fenomena
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4272
Joined: Wed Nov 28, 2007 8:24 am

Postby Rashidi » Thu Aug 07, 2008 10:25 am

aku membuka pintu kamar kemudian tidur di ranjang

apakah membuka pintu kamara dikatakan bersama-sama dengan tidur di ranjang ??

hoi muslim, apakah islam membuat kau menjadi **** berbahasa?
User avatar
Rashidi
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1222
Joined: Wed Sep 14, 2005 10:15 pm

Postby handika » Thu Aug 07, 2008 10:31 am

Rashidi wrote:aku membuka pintu kamar kemudian tidur di ranjang

apakah membuka pintu kamara dikatakan bersama-sama dengan tidur di ranjang ??

hoi muslim, apakah islam membuat kau menjadi **** berbahasa?


Maaf Al-Quran tidak berbahasa indonesia, mohon dimengerti.
User avatar
handika
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 45
Joined: Wed Aug 06, 2008 3:30 pm
Location: bapa lagi bercumbu ama bunda maria

Postby fenomena » Thu Aug 07, 2008 11:08 am

handika wrote:
Rashidi wrote:aku membuka pintu kamar kemudian tidur di ranjang

apakah membuka pintu kamara dikatakan bersama-sama dengan tidur di ranjang ??

hoi muslim, apakah islam membuat kau menjadi **** berbahasa?


Maaf Al-Quran tidak berbahasa indonesia, mohon dimengerti.


Coba ente terangkan dalam bahasa Arab deh, saya ngerti kok.
fenomena
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4272
Joined: Wed Nov 28, 2007 8:24 am

Postby fenomena » Thu Aug 07, 2008 11:14 am

Kalau memang Al Qur'an hanya bisa diterangkan dengan bahasa Arab, itu artinya Al Qur'an nggak cocok untuk yang bukan orang Arab.

Atau memangnya logika orang Arab agak kebalik dengan logika orang normal gitu?
fenomena
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4272
Joined: Wed Nov 28, 2007 8:24 am

Postby handika » Thu Aug 07, 2008 11:39 am

fenomena wrote:Kalau memang Al Qur'an hanya bisa diterangkan dengan bahasa Arab, itu artinya Al Qur'an nggak cocok untuk yang bukan orang Arab.

Atau memangnya logika orang Arab agak kebalik dengan logika orang normal gitu?


Permasalahan saudara sudah saya jawab, saya mohon jangan OOT, buat aja treads yang baru masalah bahasa arab.

Saya tidak mau mengambil resiko dengan di benned oleh moderator disini karena dianggap OOT. trimakasih atas pengertian saudara.
User avatar
handika
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 45
Joined: Wed Aug 06, 2008 3:30 pm
Location: bapa lagi bercumbu ama bunda maria

Postby MaNuSiA_bLeGuG » Thu Aug 07, 2008 11:46 am

udah bahas aja disini, ga usah ngeles. ga akan di ban. wong masih berhub dg topik kok pembahasan bhs arabnya.
User avatar
MaNuSiA_bLeGuG
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4406
Images: 13
Joined: Wed Mar 05, 2008 2:08 am
Location: Enies Lobby

Postby fenomena » Thu Aug 07, 2008 12:01 pm

MaNuSiA_bLeGuG wrote:udah bahas aja disini, ga usah ngeles. ga akan di ban. wong masih berhub dg topik kok pembahasan bhs arabnya.


Betul.

Tapi si handika pasti cuma sesumbar doang lah, sembari ngomong ngawur, karena dia sendiri juga bingung dengan ayat Al Qur'annya itu.
fenomena
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4272
Joined: Wed Nov 28, 2007 8:24 am

Postby KELIHGO » Thu Aug 07, 2008 9:59 pm

Dalam ayat ini Allah swt telah menjelaskan bahawa, Dialah Tuhan yang telah menjadikan segala apa yang ada di bumi daripada segala nikmatnya untuk manusia. Maksud “kholaqo lakum” yakni Dia (Allah) menjadikan apa sahaja di bumi demi atau disebabkan kamu (manusia). Hikmah disebalik kejadian tersebuat adalah agar manusia sentiasa merenung bukti keEsaan dan kePerkasaan Allah swt Yang Maha Menciptakan. Tidaklah Allah swt menjadikannya melainkan untuk dimanfaatkan dengan cara aturan yang telah digariskan Allah swt di dalam agamanya. Begitu juga dengan segala ciptaan-ciptaan Allah swt tadi dapat digunakan buat manusia dalam menguatkan diri beribadah dan taat dan bukannya untuk digunakan dalam hal-hal kemaksiatan.

Begitu juga, bukan hanya bumi ini disediakan buat manusia sahaja akan tetapi Allah swt dengan rahmat dan kasih sayangNya telah menundukkan bumi ini untuk kemudahan manusia. Sepertimana firmanNya :
Maksudnya : Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. Al-Jasiyah ayat 13.

Ulama juga menafsirkan dengan mamsud ayat “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” yakni Allah swt mengkhabarkan kepada manusia bahawa hanya Dialah sahaja Tuhan yang telah menciptakan bumi atau dunia ini buat mereka. Daripada sudut syariat dan undang-undang Islam, hal ini menjadi dalil atau bukti keEsaan Allah swt dan sedangkan bumi menjadi sarana kehidupan untuk mengabdikan diri hanya untuk Allah swt.

Daripada kalangan ulama-ulama Islam menjadikan ayat ini sebagai dalil bahawa “segala sesuatu pada asalnya hukumnya harus melainkan ada dalil yang menunjukkan larangannya”. Sebagai penafsirannya juga, Allah swt hanya menyebutkan ayat ini pada kedudukan pembuktian (KetuhananNya). Dengan itu ayat ini Allah swt memberikan peringatan tentang ilmu dan kekuasaanNya, bagaimana Dia mengeuruskan semua makhluk berdasarkan kepada takdir yang ditetapkanNya dan bagaimana ilmu pengetahuan itu berperanan penting sama ada memajukan atau memundurkan mengikut kehendak Allah swt. Fiman Allah swt :
Maksudnya : Katakanlah: sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Fussilat ayat 9 dan 10.

Jadi jelaslah bahawa Dialah Tuhan yang telah menciptakan bumi ini buat manusia. Dialah yang telah menjadikan bukit-bukau sebagai pasak bagi bumi dan Dialah juga yang telah memberkahi terhadap apa yang di telah ciptakan serta penentuan bahan-bahan keperluan yang mencakupi aneka jenis makanan berupa buah-buahan, bijirin-bijirin, tumbuh-tumbuhan, haiwan-haiwan dan sebagainya. Sesungguhnya Allah swt menjadikan semua itu untuk manusia sebagai langkah awal memenuhi keperluan dan persediaan mereka untuk menutupi kefakiran mereka.

Maksud “segala yang ada di bumi” yakni apa yang telah dilihat, disentuh, digunakan, dikaji, baik di laut mahupun di daratan adalah untuk kehendak dan keperluan manusia dan Allah swt tidak memerlukan semua itu dan Dialah yang bermurah hati memberikan semua itu kepada manusia tanpa terlebih dahulu manusia meminta padaNya. Ini menunjukkan bahawa kehidupan di dunia telah dipermudahkan buat manusia seluruhnya dan mereka juga telah dibekali dengan akal fikiran untuk memahami aturan atau tata cata penggunaanya mengikut garis-garis panduan dalam manhaj agama Allah swt agar sesuatu yang digunakan itu tidak wujud mudarat (bahaya), kerugian dan penindasan sesama manusia.

Ayat ini senada dengan ayat 4 dalam surah as-Sajdah, yakni firmanNya :
Maksudnya : Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy.
Kaitan antara ayat 29 dalam surah al-Baqorah dengan ayat 4 dalam surah as-Sajdah ialah :

1. Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan mengenai sifat KeagunganNya (Jalal al-Muthlaq) dan sifat KeindahanNya (Jamal al-Jamal) yang telah menciptakan makhluk yang bernama langit dan bumi serta Dialah juga Tuhan yang telah menciptakan makhluk-makhluk yang wujud di antara langit dan bumi. Ayat ini menunjukkan juga sifat Wahdaniyah (Zat Yang Maha Tunggal) yang menciptakan makhluk dengan wujud zahir dan batin, yang terlihat dan yang ghaib. Inilah juga yang disebut sebagai risalah Tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sewaktu berdakwah dan ayat ini sebagai dalil atau bukti bahawa Dialah Allah yang telah menciptakan apa yang dipijak oleh manusia yakni bumi dan apa yang dilihat manusia mengenai keindahan di langit dan perubahannya (siang dan malam).
2. Allah swt juga telah menamakan DiriNya dengan Zat Yang Maha Berkuasa Menciptakan (Al-Khaliq) dan yang diwujudkan oleh Al-Khaliq adalah dipanggil makhluk. Ayat ini mengajar manusia agar sentiasa menghayati sifat Allah swt Yang Maha Bijaksana yang telah menciptakan sesuatu tanpa rujukan tetapi berwujud pelbagai rupa keindahan yang sungguh menakjubkan. Inilah sifat Kebesaran Allah swt yang telah diperlihatkan kepada makhlukNya. Maka selayaknya bagi Al-Khaliq itu mendapat pujian daripada makhlukNya sepertimana firmanNya :

Maksudnya : Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik-baik Pencipta.

3. Dalam ayat ini Allah swt menyebut langit menyebut dengan lafaz "as-samaawaati" yakni langit-langit dengan lafaz jamak. Ini bermaksud jumlah langit yang dicipta Allah swt ialah sebanyak tujuh lapis. Sepertimana firmanNya :
Maksudnya : Dia lah Yang telah mengaturkan kejadian tujuh petala langit Yang berlapis-lapis. Al-Mulk : 3

FirmanNya lagi :
Maksudnya : Dan demi sesungguhnya, Kami telah menciptakan tujuh jalan di atas kamu (tujuh lapis langit). Al-mukminun : 17
FirmanNya lagi :
Maksudnya : Allah lah yang telah menciptakan tujuh petala langit dan (ia menciptakan) bumi seperti itu.

4. Allah swt telah menghubungkan pada penciptaan langit itu wujudnya hubungan antara makhluk di bumi dengan langit tersebut. Dalam ayat-ayat al-Quran, Allah swt menjelaskan bahawa langit membawa erti yang sungguh bermakna bagi orang-orang yang mahu memikirkannya. Antaranya dari langitlah diturunkan akan wahyu al-Quran, tentera-tentera Allah, berkah, rahmat, hujan dan sebagainya.
5. Selanjutnya pada lafaz yang selanjutnya Allah swt menyebut mengenai penciptaan bumi. Ini menunjukkan bahawa bumi dan langit saling berkaitan. Maha Bijaksana dan Maha Kuasa Allah swt kerana makhluk yang pertama yang dicipta Allah swt untuk KhalifahNya adalah bumi dan langit. Bumi adalah tempat tinggal bagi manusia, disitulah ia hidup dan disitu juga ia akan mati serta di situ jugalah ia akan dibangkitkan. Bumi yang dihamparkan Allah swt buat manusia mengalami perubahan mengenai kesuburannya. Disini langit mengambil peranan untuk menyuburkan bumi yang kering dengan diturunkan air hujan daripada langit.

Antara perbezaan antara dua-dua ayat ini ialah, di dalam ayat 29 surah al-Baqorah Allah swt tidak menyebut mengenai lafaz “langit” dan dalam surah as-Sajdah lafaz “langit” disebutkan untuk menunjukkan hubungan terhadap penciptaan langit dan bumi dalam kehidupan manusia. Perbezaannya lagi ialah mengenai “beristawa” ke langit dan “beristawa” di atas `Arasy. Insya Allah akan dijelaskan.
Maksud pada lafaz “dan Dia beristawa di langit” atau “kemudian Allah beristawa ke langit”, yakni ayat ini menunjukkan mengenai ayat mutasyabihat (samara-samar penafsirannya). Ia termasuk ayat yang sukar untuk difahami dan sukar ditafsirkan dan kebanyakkan ulama-ulama berpendapat bahawa kita hanya perlu membaca dan beriman dengannya tetapi tidak perlu menafsirkannya. Kata Imam Malik, “Beristawa itu lumrah difahami ramai, kaedahnya tidak dapat ditanggapi akal, namun beriman dengannya adalah wajib, manakala bertanya mengenai adalah bid`ah (bid`ah mazmumah – perbuatan yang tercela)”. Daripada sudut aqidah ahli sunnah wal jama`ah, “istawa” dalam ayat ini membawa maksud “berkehendak untuk membuatnya”, atas dasar maksud jika ditafsirkan “kemudian Allah swt berkehendak untuk menciptakan langit”.

Dalam penafsiran yang lain, “istawa” membawa maksud menuju, yakni lafaz “summa” untuk susunan pemberitahuan dan jika ditafsirkan ia membawa maksud “Dan (Dia) berkehendak menuju ke langit”. Daripada sudut bahasa “istawa” membawa maksud “naik dan tinggi di atas sesuatu”. Dalam penafsiran yang lain, “istawa” bermaksud “menuju”, kerana bermaksud atau berkehendak menciptakan langit dan penafsiran ini jelas jika disifatkan kepada sifat-sifat Allah swt (al-Qashdu) bermaksud dan (al-Iradah) berkehendak. Jika penafsirannya ialah “Kemudian (Dia) berkehendak menuju ke langit”. Dalam penafsiran yang lain, “istawa” bermaksud “naik”, yakni jika ditafsirkan ia bermaksud “kemudian (Dia) naik ke langit”. Di kalangan ulama tafsir juga berbeza pendapat mengenai penafsiran yang dikaitkan dengan maksud “tinggi dan naik”. Persoalannya, siapakah yang tinggi (menunjukkan tempat) dan naik (menunjukkan perbuatan) di sini?, dikalangan mereka mengatakan bahawa yang tinggi dan naik ke langit itu adalah Allah swt dan pendapat yang lain mengatakan yang tinggi dan naik ke langit itu adalah asap yang dijadikan Allah swt sebagai langit bagi bumi. Di kalangan orang arab sendiri, semua maksud dan takwil di atas boleh sahaja digunakannya. Bahkan “istawa” atau maksud asal kalimahnya “al-istiwa” boleh dimaksudkan sebagai stabil atau keadaan yang lurus daripada keadaan bengkok. Dalam maksud lain di ertikan dengan “seseorang yang telah berada di puncaknya”. Ada ulama yang menyebutnya dengan maksud menguasai. Apapun hal ini jika dikaitkan dengan ayat di atas, maka akan wujud penakwilan. At-Thobary mengatakan bahawa, penakwilan yang tepat ialah “kemudian (Dia) naik dan berada tinggi ke atasnya lalu menguasainya dengan kekuasaanNya dan menciptakannya menjadi tujuh lapis langit”. Perlu difahami juga bahawa penakwilan dalam ayat ini bukan menunjukkan bahawa Dia (Allah) naik ke atas langit itu bukan menunjukkan kepada perbuatan tetapi secara penguasaan dan peraturan yang di merupakan daripada Sifat-sifat Allah swt.

Dalam ayat ini juga menunjukkan bahawa Allah swt telah menciptakan bumi terlebih dahulu daripada langit. Telah berkata di kalangan sahabat Nabi saw, sesungguhnya Arsy Allah swt berada di atas air dan Allah swt tidak tidaklah Allah swt menciptakan sesuatu sebelum air. Kemudian apabila Allah swt berkehendak untuk menciptakan makhlukNya maka Dia telah mengeluarkan asap daripada air tadi. Daripada asap tadi lalu ia beredar ke atas ibarat menjadi bumbung yang tinggi di atas air. Maka oleh kerana itulah langit dinamai dengan “as-samaa`” yakni atap atau bumbung dalam keadaan tinggi ke atas). Kemudian Allah swt memisahkan bumi ibarat dipecahkan menjadi tujuh lapis dalam 2 hari dan disebutkan hal itu berlaku pada hari Ahad dan Isnin. Diceritakan lagi bahawa sewaktu itu bumi diletakkan di atas seekor ikan besar yang bernama Huut. Huut ini merupakan sejenis ikan besar yang telah disebutkan Allah swt dalam awal surah al-Qolam dan ia berada di dalam air dan manakala air itu berada di atas sebuah batu besar yang bersinar. Batu itu pula berada di atas seorang malaikat dan malaikat itu pula berada di atas sebuah batu yang lebih besar lagi. Selanjutnya diceritakan lagi, batu yang besar itu berada di atas angina dan batu besar ini yang dikatakan oleh Luqman al-Hakim “Batu besar ini tidak berada di langit mahupun di bumi”. Kemudian Huut ini bergerak dan menyebabkan bumi turut bergerak dan bergegar. Maka Allah swt menjadikan gunung-ganang, bukit-bukau di bumi dan ketika itu juga bumi berhenti bergerak dan bergegar (bergoncang), sepertimana yang difirmankan oleh Allah swt dalam surah an-Nahl ayat 15 yang bermaksud “Dan Dialah Allah yang telah memasakkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak bergerak dan bergoncang bersama kamu”. Kemudian disebutkan juga sambungannya dalam sebuah hadist yang panjang yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.huma dari Murrah al-Hamdani dari Ibnu Mas`ud r.hu dan dalam riwayat lain daripada Ibnu Abbas r.huma sendiri.

Lafaz selanjutnya di sebutkan “lalu dijadikan-Nya tujuh langit”, yakni kemudian Allah swt menyempurnakan penciptaan langit dengan wujud tujuh lapis dan setiap lapis-lapis itu telah ditetapkan dan di atus urusan lapisan langit masing-masing. Telah menjadi sepakatan umat Islam bahawa, langit telah diciptakan Allah swt sebanyak tujuh tingkat atau tujuh lapis. Disebutkan bahawa jarak antara satu langit ke satu langit yang lain ialah kira-kira 500 tahun perjalanan. Telah disebutkan juga bahawa, langit diciptakan sebagai atap bagi bumi tanpa bertiang dan wujud cahaya serta langit juga akan turut binasa bersama bumi ketika terjadinya kiamat.
Lafaz yang berada di hujung ayat disebutkan “dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”, yakni ilmu pengetahuan Allah swt meliputi terhadap seluruh makhluk yang diciptakanNya. “Al-Alim” adalah salah satu daripada nama-nama Allah swt yang Agung. Di dalam al-Quran disebutkan lebih daripada lima puluh ayat. Perkataan “al-Alim” di ambil daripada perkataan “Alima” yakni yang menunjukkan bahawa ilmu itu itu tersangatlah tinggi dan tidak dapat dicapai oleh makhluk ciptaanNya. Firman Allah swt dalam surah al-An`am ayat 59:
Maksudnya : Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)".

Dalam ayat ini Allah swt telah menyifatkan diriNya sebagai “Alim” yakni yang Maha Mengetahui dan Dia tidak menyifati diriNya dengan “Arif” kerana ma`rifah didahului dengan ketidaktahuan sebelumnya sedangkan Allah adalah bersifat Qodim. Para ulama juga menyebut bahawa, sifat Maha Mengetahui Allah swt tidak berubah mengikut perubahan maklumat, begitu juga Allah swt tidak menyibukkan diriNya dengan ilmu dan Maha Mengetahui Allah tanpa wujud had dan halangan.
KELIHGO
Jatuh Hati
Jatuh Hati
 
Posts: 816
Joined: Thu Jan 04, 2007 2:08 pm

Postby fenomena » Thu Aug 07, 2008 10:19 pm

@ atas

Nulis panjang lebar tapi tak menjawab permasalahan sama seklali, coba ente terangkan arti kata kemudian... pada ayat tersebut diatas, nggak perlu panjang lebar, cukup yang singkat dan jelas saja.
fenomena
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 4272
Joined: Wed Nov 28, 2007 8:24 am


Return to Quran & Hadist



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users