. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Adopsi dalam Islam dan Sejarah Perkawinan Muhammad

Forum ini mengenai (1) kehidupan dan perilaku seksual Muhammad dan (2) isi dan penerapan hukum2 seksual Islam dalam masyarakat Muslim.

Adopsi dalam Islam dan Sejarah Perkawinan Muhammad

Postby pod-rock » Wed Jan 10, 2007 10:49 am

Adopsi dalam Islam dan Sejarah Perkawinan Nabi Muhammad
dg Zainab Binti Jahsh

http://www.faithfreedom.org/articles/zeinab.htm

By Syed Kamran Mirza

Adopsi dalam Islam

Islam melarang pengadopsian anak. TITIK. Adopsi dalam pengertian teknisnya tidak diijinkan dalam Hukum Syariat Muslim. Ini karena Allah tidak suka sikap pengangkatan anak2 yatim. Muhammad Rushed Ridha menyatakan, “Allah melarang adopsi dalam islam dan membatalkan semua keputusan yg menyinggung soal adopsi. Satu yang paling penting adalah melarang sikap istri dari anak yg diadopsi terhadap bapak angkatnya berlaku seolah-olah dialah Bapak sebenarnya. Jadi Allah memerintahkan nabinya utk menikahi Zainab Binti Jahsh dg maksud utk menghapuskan kebiasaan pagan (Fatwa al-Imam).” Al-sabuni mengatakan, “Mengenai Zainab Binti Jahsh, rasul menikahinya karena tidak ada kebijaksanaan yg lebih tinggi daripada menghapuskan sifat murtad dari pengadopsian.”

Aku tidak tahu, kenapa sih Allah bisa tidak suka dg perbuatan mulia ini. Aku tidak yakin berapa persentase muslim yg mengetahui perihal hukum ini. Aku mengakui tidak pernah tahu tentang ini, aku tertegun ketika pertama tahu dari seorang Mullah beneran. Bagaimana dan kenapa kebiasaan mulia diantara manusia ini dilarang? Kita bisa belajar ttg sejarah ini kemudian.

Kebiasaan Arab Sebelum islam: Mengadopsi anak yatim/tidak mampu adalah sebuah praktek moral dan sangat populer sekali diantara orang2 Arab pra-islam. Dg mengadopsi, mereka terbiasa menganggap anak tsb sbg anaknya. Dan mereka biasa memberi anak adopsi itu nama keturunan mereka, investasi mereka dg seluruh hak2 sebagai anak kandung termasuk warisan dan larangan pernikahan dg keluarga mereka meskipun sebenarnya tidak sedarah.

Kebiasaan Setelah Islam: Pembuat undang2 Islam yg bijaksana berhasrat utk menghentikan praktek kebiasaan Arab mengadopsi anak diatas. Para pembuat undang2 ini berkehendak utk memberi hak pada anak2 yg diadopsi hanya sebagai klien dan pemeluk agama. Utk alasan ini sebuah ayat dikeluarkan: “Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” Q 33.4. Dg mengikuti wahyu ini orang yg mau mengadopsi boleh menikahi bekas istri dari anak adopsinya dan sebaliknya. Dg begitu Muhammad menikahi Zainab dg maksud memberi contoh yg baik dari apa yg ditentukan oleh pembuat undang2 yg mencoba menegakkannya dg jalan memberi hak2 dan keistimewaan2 utk sebuah adopsi.

Dalam masalah ini Allah lalu berkata: “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” Q 33.37. Siapa, diantara orang arab, yg menerapkan undang2 mulia ini dan dg begitu terang2an tidak mengakui tradisi kuno? Kenyataannya adalah, bagaimanapun, Muhammad adalah contoh kepatuhan pada Allah; seluruh hidupnya adalah penerapan pada apa yg dipercayakan padanya utk diteruskan pada umat manusia. Hidupnya merupakan teladan tertinggi, contoh sempurna dan contoh nyata dari perintah2 Allah (M.H. Haykal, page-296-297).

Mereka yg mengaku muslim dan patuh pada Quran tidak akan punya anak adopsi.

Perkawinan Muhammad pada Zainab Binti Jashsh

Perkawinan Muhammad pada Zainab, yg adalah istri dari anak adopsinya, menyebabkan munculnya banyak tuduhan2 terhadap Muhammad. Mereka berkata, “Muhammad melarang istri2 dari anaknya sementara dia sendiri menikahi istri dari anaknya Zaid.” Insiden ini tidak berjalan serasi dengan etika dan kaidah yg dikenalkan Muhammad utk umat manusia, seperti yg muslim klaim. Abdullah Ibn Umar bercerita: “Kita selalu memanggilnya Zaid Ibnu Muhammad.” Abdullah ibnu Umar berkata, “Kita memanggilnya Zaid Ibnu Muhammad hanya sampai ayat ‘Muhammad bukanlah ayah dari anak2 lelakimu’ dikeluarkan.”

Pandangan sejarah: Terdapat banyak kisah2 bertentangan mengenai skandal ini dan semua cerita2 ini berdasarkan pada Sahih Hadis dan Riwayat muslim dan buku2. Menarik sekali utk dikutip disini apa yg Ibn Sa’d dan al-Tabari katakan mengenai ini:

Muhammad Ibn Yahya Ib Hayyan menceritakan, “Rasul datang ke rumah Zaid Ibn Haritha mencarinya. Mungkin rasul tak menjumpainya saat itu, itu sebabnya dia bertanya, ‘dimana Zaid?’ dia masuk rumah mencarinya dan, saat tidak menemukannya, Zainab Binti Jahsh berdiri utk menemuinya dg memakai baju rumah, tapi rasul memalingkan muka darinya. Zainab berkata, ‘Dia tidak disini, rasul, masuklah, ayah dan ibuku adalah adalah tebusannya.’ Rasul menolak masuk. Zainab cepat2 memakai baju ketika mendengar rasul ada dipintu, jadi dia loncat buru2, dan rasul menyukainya ketika dia meloncat itu. Hati sang rasul dipenuhi oleh kekaguman akan Zainab. Dia pergi sambil menggumamkan sesuatu yg sulit dimengerti kecuali kalimat ini: ‘Terpujilah tuhan yg mengatur hati tiap orang’.

Ketika Zaid pulang, Zainab memberitahukan rasul mencarinya. Zaid bertanya, ‘kau menyuruhnya masuk tidak?’ dia menjawab, ‘aku tawarkan, tapi dia menolak.’ Dia bilang, ‘apa kau dengar dia bilang sesuatu? Jawabnya, ‘ketika dia berbalik, kudengar dia berkata sesuatu tapi yg kumengerti hanya, “‘Terpujilah tuhan yg mengatur hati tiap orang’.

Zaid menemui rasul dan berkata, ‘O rasul, kudengar kau datang kerumahku. Apa kau masuk? O rasul, ayah dan ibuku adalah tebusanmu. Mungkin kau menyukai Zainab. Aku bisa saja meninggalkannya.’ Rasul berkata, ‘pertahankanlah istrimu.’ Zaid berkata, ‘O rasul, aku akan meninggalkannya.’ Rasul berkata, ‘pertahankan istrimu.’ Jadi ketika Zaid meninggalkan istrinya, Zainab selesai masa mensnya setelah dia mengasingkan dirinya dari Zaid. Sementara rasul duduk dan bicara dg Aisha, dia lalu kerasukan, dan ketika berdiri, dia tersenyum dan berkata, ‘Siapa yg akan pergi ke Zainab memberitahukannya bahwa tuhan menikahkannya padaku disurga?’ Rasul membaca: ‘Jadi kau katakan pada seseorang yg tuhan senangi dan mereka yg kau sendiri senangi: ‘pertahankan istrimu.’” Aisha berkata, ‘Banyak kudengar tentang kecantikannya dan yg terlebih lagi, tentang Allah menikahkannya disurga, dan kubilang, “Pasti dia membanggakan diri mengenai ini pada kita.” Salama, budak dari rasul, cepat2 memberitahunya tentang ini. Dia memberinya beberapa perhiasan perak yg dia pakai.”

Pertolongan lain lagi dari Allah:

Jadi, tuduhan dari para pengikutnya, diantaranya, membuat Muhammad merasa perlu mengeluarkan lagi wahyu koleksinya utk disimpan sebagai ayat2 Quran:

(Sura al-Ahzab Q.33: 40): " Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(Sura al-Ahzab Q.33: 37): " Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Dalam ayat 33.37 dinyatakan bahwa tujuan khusu dari wahyu ini dan tindakan Muhammad, bukan utk dirinya sendiri tapi utk masa depan dari komunitas muslim. Dg begitu dikemudian hari tidak akan ada masalah jika seseorang (ayah mertua) ingin menikahi istri cerai dari anak adopsinya. “Kita ijinkan kamu utk menikahinya agar menjadi sah dan tidak disalahkan secara moral bagi para mukmin utk menikahi istri dari anak adopsinya.” Tanpa adopsi, tidak akan ada anak adopsi juga. Dg begitu, alasan yg jelas utk wahyu ini tidak ada. Muhammad sendiri membatalkan pengangkatan anaknya Zaid ketika wahyu diatas datang. Juga, menjadi sebuah misteri kenapa juga ada ayah mertua pingin menikahi istri anak angkatnya, hingga perlu dibuatkan sebuah wahyu?

Versi Kritis (orientalis):

Muhammad jatuh cinta pada Zainab, anak Jahsh, tapi dia sudah jadi istri Zaid bin Harithah, anak angkatnya. Sekali waktu, dia liwat rumah Zaid yg saat itu tidak ada dirumah, dia bertemu Zainab yg sedang memakai pakaian yg menampakkan kemolekan tubuhnya. Hati Muhammad langsung terbakar (maksudnya, anu muhammad langsung menunjuk2 Zainab). Diceritakan bahwa ketika matanya menatap Zainab, dia berkata, “Fa tabarak Allah ahsan al khaleqeen (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam) yg mengubah hati tiap laki2” dan dia mengulangi ini saat pergi dari rumahnya. Zainab mendengar ini dan melihat sorot gairah dimatanya. Zainab dg bangga melaporkan kejadian ini pada suaminya. Zaid langsung menemui rasul dan menawarkan perceraian utk istrinya. Muhammad menjawab, “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.”

Dg kejadian ini, Zainab bukan lagi seorang istri yg jinak dan Zaid harus menceraikannya. Rasul menikahi Zainab Binti Jahsh yg adalah mantunya sendiri. Ini benar2 tabu dalam budaya arab sebelum islam, dan sang nabi mengangkat tabu ini hanya utk memuaskan nafsu dan memenuhi birahinya sendiri. Mereka juga cerita bahwa ketika Muhammad melihatnya setengah telanjang, rambut hitamnya yg panjang menutupi sebagian tubuhnya, dan setiap lekuk tubuhnya penuh gairah dan nafsu. Yg lain bercerita bahwa ketika Muhammad membuka pintu rumah Zaid, angin menipu tirai keruangan Zainab, dan membuat Muhammad bisa mengintipnya sedang merentangkan tangan diranjang memakai baju tidur.

Para pembelanya berpandangan:

Muhammad Husain haikal, misalnya, dalam rangka menyangkal pernyataan V. Vacca dalam ensiklopedi Islam mengenai Zainab, berkata mengenai “perbuatan mulia” dari Muhammad, yg oleh para orientalis dan misionaris ubah menjadi romans. Dia bilang, “Mengenai Zainab binti Jahsh, yg dibuat oleh para orientalis dan misionaris menjadi sebuah khayalan romans dan percintaan, Sejarah yg sebenarnya mempertimbangkan bahwa itu (perbuatan Muhammad terhadap Zainab) adalah salah satu perbuatan mulia dari Muhammad. Dg menjadi contoh iman yg sempurna, dia terapkan pada Zainab sebuah hadis yg mengatakan, ‘Iman seorang lelaki belumlah sempurna hingga dia cinta pada saudaranya apa yg dia cinta utk dirinya.”

Para pembela ini menyimpulkan bahwa itu adalah satu dari banyak segi hebat dari kepribadian Muhammad. Bukti yg menjawab semua pertanyaan bahwa Muhammad adalah contoh yg sempurna bagi hukum yg dia bawa khusunya jika hukum itu ditujukan utk mengganti tradisi dan kebiasaan orang2 arab sebelum islam. Dia adalah contoh dari sistem baru yg tuhan tampilkan melaluinya sebagai rasa sayang dan petunjuk bagi umat manusia.

Dilain pihak, kebiasaan dan tradisi arab menuntut bahwa anak adopsi/angkat mendapat warisan dari ayah angkatnya, sama seperti anak2 kandungnya. Dan karena kebiasaan ini juga menjadi objek dari serangan Muhammad, pilihannya akan Zaid menjadi ujung tombak dari reformasi pertamanya, yg akhirnya menjadikan dia – jika dia siap utk melepaskan warisan yg mana kebiasaan Arab mengharuskannya – ujung tombak dari undang2 pelarangan waris kecuali bagi yg sedarah dari turunan dan keluarga yg meninggal. Hal ini tentu saja melengkapi wahyu: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.33: 36)”

Komentar:

Terdapat masalah moral yg cukup besar dg wahyu yg melayani nabinya sendiri ini. Jelas sekali bahwa rasul tertarik pada Zainab sebelum Zaid menceraikannya dan mungkin itu satu2nya alasan Zaid mencerainya. Dan ayat quran membuat jelas bahwa terjadi sesuatu sebelum perceraian ini. Seluruh melodrama: Zaid menceraikan Zainab, Muhammad menikahi Zainab dan munculnya wahyu berikutnya yg berisi ayat2 Quran dari Allah utk memurnikan skandal ini adalah sesuatu yg harus direnungkan secara serius.

Ada banyak hal lagi dalam cerita aneh ini. Bahwa perbuatannya tidak bermoral dan wahyu/pembenaran utk melayani nabinya sendiri dan tidak cocok sebagai kata2 dari tuhan adlah sebuah aspek penting, tapi bukanlah sebuah pertentangan dalam Quran – meskipun bertentangan dg karakter asli Tuhan, yg harusnya bermoral suci. Melarang adopsi bukalah sebuah tindakan yg bermoral. Melarang minum alkohol, merokok, judi, sihir, membunuh dll, bisa jadi sebuah tindakan bermoral. Tapi kenapa melarang adopsi?

Utk meringkaskan, kesulitan logisnya adalah Allah (?) menyebabkan terjadinya sebuah skandal dan kemudian mengirim Gabriel utk secara resmi membenarkan tindakan skandal dari sang nabi melalui wahyu ayat Quran, secara moral ini tidak benar dan terlalu banyak kebetulannya.

Pemikiran: Nabi tidak dapat lolos dari kesalahan akan kelakuan seksnya pada Zainab. Jika dia punya sifat jujur/terus terang, dia harusnya melawan dg kata hatinya dan tidak mengijinkan pernikahan ini terjadi. Tapi kenyataan yg terjadi sebaliknya. Dia menyerah pada nafsu birahinya dan dg begitu harus mengotori karakter “tanpa cela”nya. Jika semua muslim didunia saat ini mengikuti ‘contoh sempurna’ ini, merayu mantunya, dan kemudian menyebabkan perceraian dan menambah rasa sakit itu dg mengawininya, apa yg kemudian akan terjadi? Coba pikirkan apa akibatnya. Dalam masyarakan yg lebih berpengetahuan jika seorang seperti Muhammad melakukan apa yg dia lakukan terhadap Zainab, ia akan dilihat sebagai seorang yg gila wanita. Tidak semua ayat2 quran didunia ini akan dapat mengubah hal itu. Utk beriman adalah satu hal, tapi utk beriman secara membuta adalah hal yg lain lagi, sekaligus!

References
1. Holy Qur'an , translated by A,. Yousuf Ali, Amana corp., 1983
2. The life of Muhammad By: M. H. Haykal, 8th ed. 1982
3. Annals of al-Tabari 2:563, 453
4. ibid 4:43
5. Fatawa al- Imam, 5:1910
6. Tabaqat, 8:103
7.Nisa' al-Nabi, 13th ed.

--------------------------------------------------------------------------------

Mr. Syed Kamran Mirza writes from Virginia, USA. His E-mail is: Syed_mirza@hotmail.com
User avatar
pod-rock
Translator
 
Posts: 845
Joined: Tue Nov 28, 2006 1:25 pm

Return to Resource Center: Wanita & Sex dalam Islam



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users