. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

A SINA : Siapa menang perang Israel-Hezbolah ?

Artikel2, ajaran Islam, diskusi yang membahas konflik Islam vs. Zionisme secara umum dan masalah Palestina secara khusus.

A SINA : Siapa menang perang Israel-Hezbolah ?

Postby ali5196 » Fri Aug 18, 2006 4:37 pm

Last edited by ali5196 on Tue Aug 22, 2006 11:48 am, edited 1 time in total.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby Volunteer » Tue Aug 22, 2006 5:22 am

http://www.news.faithfreedom.org/index. ... ticle&sid= 369

Who Won the War? Siapa yang Menang Perang?
Author: Ali Sina on Thursday, August 17, 2006 - 12:39 AM
Print article Email to a friend

.
Perang di TimTeng kelihatannya telah berakhir, namun siapa yang menang? Jawaban pertanyaan ini tidak semudah itu.

Nassrullah, pemimpin Hezbullah seenaknya saja menyatakan kemenangan. Dia bahkan merayakan 'kemenangan' nya dengan kembang api. Iran dan Syria mendukung dan menepuk-nepuk dada mereka berkoar-koar bahwa Israel dan AS telah kalah.

Kemenangan macam apa yang tepatnya sedang mereka bicarakan? Hezbullah telah menderita korban jiwa yang besar. Israel mampu menduduki sebagian besar daerah Lebanon Selatan, yang adalah sarang Hezbollah. Resolusi baru menyerukan pelucutan senjata Hezbullah dan kelihatannya kali ini mereka akan lebih serius mendesakkan resolusi 1559, yang berarti akan mempersulit Hezbullah. Sebahagian besar infrastruktur Lebanon hancur dan ratusan warga sipil terjebak dalam baku tembak dan kehilangan jiwa mereka. Lebih dari 600 Hezbollah tewas, 3800 rakyat luka2 dan ribuan keluarga menjadi tuna wisma - semua di atas disebabkan salah perhitungan Hezbullah yang memancing2 Israel dan mengajak berkelahi. Di luar dari pembunuhan dan pencederaan lusinan warga sipil Israel, alasan yang bagaimana yang bisa membenarkan berkoar-koarnya Nasrullah merayakan kemenangan?

Ini mengingatkan saya akan Saddam Hussein yang setelah dikalahkan oleh pasukan koalisi pada 1991 dan dipaksa mundur dari Kuwait, malah berkoar mengklaim kemenangan hanya karena dirinya masih memegang tampuk kuasa.

Ada apa di balik mentalitas ini? Mengapa Muslim senang sekali mengaku-ngakui kemenangan setelah ditekuk? Untuk memahami ini kita harus mempelajari sedikit2 tentang gejala Penyakit Kepribadian NARCISSTIC.

Bagi seorang narcissist, gengsi adalah segalanya. Narcissist menuntut untuk dicintai dan dihormati tetapi tidak mampu mencintai siapapun termasuk dirinya, dia mengarahkan cintanya kepada pandangan orang lain mengenai dirinya.

Psychologist Dr. Sam Vaknin menulis: "Jika ia [si narcissist] tidak dapat mencintai dirinya sendiri - dia harus mencintai bayangannya. Namun untuk mencintai bayangannya - bayangannya tersebut haruslah dia anggap layak dicintai. Jadi, didorong oleh keinginan untuk mencintai yang tak dapat terpuaskan ini (yang mana semua kita pun memiliki ini), sang narcissist sibuk dengan usaha memprojeksikan sebuah bayangan yang dapat dia cintai, meskipun tidak sesuai dengan kenyataan dirinya sendir (caranya dia "melihat" dirinya sendiri) [1]

Supaya dapat dicintai dan dianggap serius oleh sesama Muslim, para Jihadis harus tampil gebyar2 jaya-raya. Al-Manara, sebuah TV satelit yang dikelola Hezbullah, tidak pernah melukiskan bangsa Arab sedikit pun pernah dikalahkan. Setiap potongan propaganda yang ditayangkan Al-Manara menggambarkan Hezbullah sebagai pejuang2 gerilya yang menang jaya-raya, baik itu dalam pertempuran menggempur sasaran2 Israel, maupun dalam acara kembali dari pertempuran dgn kemenangan. Urusan gengsi adalah kepentingan yang paling tinggi supaya 'dikenali' bagi organisasi teroris manapun (juga gang2 preman) terlebih-lebih bagi para Muslim.

Menurut Nasrullah menang itu cukup berarti selamat tidak mati. Katanya: "Jika perlawanan berlanjut, ini akan berarti sebuah kemenangan. Jika kegigihannya tidak terpatahkan, berarti ini kemenangan. Jika Lebanon tidak dipermalukan, jika kehormatannya dan hargadirinya tetap utuh, jika Lebanon tetap sendirian menghadapi kekuatan militer terkuat di wilayahnya, dan jika Lebanon tabah dan menolak persyaratan apa pun yang mempermalukannya dalam perjanjiaan - ini akan berarti kemenangan. Jika kita tidak dikalahkan secara militer, berarti ini kemenangan. Pokoknya sepanjang sebuah rudal ditembakkan dari wilayah Lebanon ke arah target Zionist, sepanjang ada seorang pejuang yang menembakkan senjatanya, sepanjang masih ada seseorang yang menanamkan bahan peledak bagi orang Israel, ini berarti perlawanan masih ada." [2]

Hezbullah telah kalah secara militer. Dipermalukan dan sekarang dituntut untuk melucuti senjata. Korban jiwa dan kerusakan yang mereka timbulkan sendiri bagi mereka dan sesama mereka sangat besar. Walaupun semuanya itu, Nasrullah membual bahwa merekalah yang menang perang. Mengapa? Karena dia memandang masa depan! Dia kalah perang hari ini namun dia tahu bahwa dialah yang akan menang perang besok hari. Dia terlukan, tapi belum mati. Dia ini akan berjuang mati-matian untuk kembali dan ketika waktunya dia balik nanti dia akan lebih kuat.

Dia menawarkan sewa rumah gratis bagi mereka yang kehilangan rumah dan menjanjikan mereka akan membangun ulang rumah2 mereka. Dengan melakukan ini dia akan menjadi makin populer. Inilah kemenangannya. Tapi siapa yang membayar tagihannya? Iran! Iran biasa membayar 300 juta dollar per tahun untuk menyokong Hezbullah. Dengan uang ini mereka menciptakan system kesejahteraan bagi kaum Shi'ah Lebanon dan memenangkan dukungan mereka.

Akankah Hezbullah melucuti diri? Sama sekali tidak akan pernah! Hezbullah adalah kaki-tangan Iran dan memang diciptakan untuk memerangi Israel. Memerangi Israel adalah alasan kemunculannya. Iran tidak membiayai kaum Shi'ah karena kemurahan hati. Para Mullah disebarkan di Lebanon untuk jadi antek2 mereka mengobar2kan perang melawan Israel.

Menurut Berita Iran National Front News Agency Abroad, sebuah pesawat Iran terpaksa mendarat darurat di Turki. Tujuan pesawat adalah Lebanon dan dipenuhi oleh garda2 revolusi. Baru2 ini sebuah pesawat serupa lainnya berisi rudal2 jarak menengah dipaksa untuk kembali ke Iran. [3]

Adalah konyol untuk percaya bahwa Hezbullah akan melucuti diri dan akan mengakhiri kegiatan-kegiatan terorisnya setelah kekalahannya ini. Adalah **** untuk mengharapkan Nasrullah akan menahan diri dari menargetkan Israel. Iran dan Syria siap untuk menyerang Israel sampai orang2 Lebanon dan Palestina terakhir.

Pertanyaannya adalah apa sebenarnya yang Iran cari? Jawabannya adalah bahwa para Mullah Iran harus memerangi Israel supaya selamat. Mereka telah gagal mengelola negaranya. Meski dapat pendapatan besar dari minyak, bagian besar orang Iran hidup di bawah garis kemiskinan. Kaum muda tidak ada harapan. Opium, AIDS dan pelacuran menggerogoti seluruh generasi. Rejim ini harus menghidupkan kembali api revolusi masyarakat dan untuk itu rejim membutuhkan sebuah musuh. Iran butuh sebuah perang untuk menggalang rakyat. Israel cocok jadi musuh besar. Menanamkan kebencian terhadap Israel dan AS dalam masyarakat yg naif akan mengalihkan perhatian mereka dari kegagalan mullah2 ini. Bagi para Mullah perang ini bermakna hidup atau mati. Tanpa pengalihan perhatian para Mullahlah yang akan kena celaka harus mempertanggungjawabkan perbuatan pencurian dan penindasan mereka. Revolusi mirip mengendarai sepeda. Kau harus mengayuh pedah kalau tidak mau jatuh.

Iran juga akan terus dengan rencananya membuat bom nuklir. Jika para Mullah memiliki 10 prioritas, membuat bom nuklir adalah semuanya. Mereka tidak akan pernah berhenti mengupayakannya. Dengan bom nuklir mereka akan jadi tidak terkalahkan dan mereka paham betul ini.

Inilah mengapa sangat sulit untuk menjawab siapa yang menang dalam perang ini. Israel menang sekarang namun kemenangan ini berumur pendek. Karena kepala ular-nya tidak dipenggal, Hezbullah-lah yang akan menang di masa depan.

Namun masa depan tidaklah terukir di atas batu. Bagaimana supaya kekalahan Hezbullah menjadi permanen? Dengan cara memotong urat nadinya! Jika aliran dana dari Iran ke Hezbullah dipotong, kaum Shi'ah di Lebanon akan bentrok dengan organisasi teror ini. Supaya ini tercapai kita harus mengupayakan perubahan rejim di Iran.

Bangsa Iran menderita parah di bawah pemerintahan tyrani dan Mullah2 korup yang tidak terpilih. Namun tidak realistis untuk mengharapkan mrk memberontak melawan rejim bengis ini yang tidak segan2 membantai berapa pun jumlah rakyat supaya tetap berkuasa. Mayoritas rakyat Iran hidup miskin sedangkan penguasa2 mereka membuang2 milyaran dolar uang mereka untuk mengupayakan revolusi di Lebanon, di Palestina dan di Iraq. Mereka siap bangkit dan menjatuhkan rejim tetapi mereka tidak mampu melakukannya sendirian. Kau tidak dapat menjatuhkan para garda revolusi dg tangan kosong yang dengan senang hati akan menembakmu.

Untuk menyelesaikan masalah TimTeng rejim di Iran harus diganti. Iranlah kepala ular berbisa ini. Kepala ini harus dihancurkan. Walaupun lemah dan terpecah-belah, tapi ada oposisi2 Iran di Diaspora tesebar2 luar-dalam Iran. Oposisi ini haruslah diperkuat dan dipersenjatai. Dengan backing militer AS menjadi mungkin untuk mengganti rejim di Iran tanpa harus menginvasi negeri tersebut dengan serdadu AS. Bangsa Iran mampu mengeyahkan para Mullah jika mereka dibantu supaya jadi terorganisir dan dipersenjatai.

Masalah Islamisme yang sekarang sedang mengancam kedamaian dunia mulai dengan Islamisasi Iran dan juga akan berakhir dengan Iran. Inilah waktunya untuk mengalihkan semua perhatian kepada Iran dan melakukan apa yang terbaik untuk menyingkirkan para Mullah. Iran lebih matang untuk demokrasi daripada Iran atau negara Muslim lainnya. Jangan lupa bahwa Iran adalah negara TimTeng pertama dalam permulaan abad-20 yang berjuang menegakkan demokrasi dan berhasil.
Bangsa Iran telah berjuang untuk demokrasi selama lebih seabad. Dua kali Inggris menggoyahkan demokrasi yang baru terbentuk. Pertama 1925 ketika Inggris membantu diktator Reza Khan melumpuhkan parlemen dan menjadi penguasa de facto dan raja dan pada 1953, ketika CIA di bawah bisikan Inggris merencanakan kudeta dan menggeser bapak demokrasi Iran Dr. Mossadeq, meng-install Mohammad Reza Pahlavi, putra Reza Khan yang tidak becus dan tiranis.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa AS dan Inggris mengganggu demokrasi di Iran dan semuanya karena minyak. Inggris beranggapan bhw lebih mudah berbisnis dengan satu diktator saja. Apa yang Inggris lakukan di Iran tidak kurang biadabnya daripada perang opium yang mereka pernah lancarkan di China. Kini monster yang kedua negara ini telah lepaskan telah menjadi momok mereka sendiri. Inilah waktunya mereka memperbaiki kesalahan yang telah mereka buat dan menolong bangsa Iran untuk menegakkan ulang demokrasi. Sekaranglah, untuk pertama kalinya interes bangsa Iran sejalan dengan interes AS dan Inggris.

Siapa yang menang perang sekarang belumlah jelas. Semuanya bergantung pada apa yang kita lakukan atau yang tidak kita lakukan. Jika para Mullah di Iran digulingkan, baratlah yang telah memenangkan perang. Jika kita tidak lakukan apa-apa, Hezbullah, Iran dan pada akhirnya terrorisme Islam-lah yang akan jadi pemenang.

______________
1- samvak.tripod.com
2- memrith.org
3- regimechangeiran.blogspot.com
Volunteer
Translator
 
Posts: 20
Joined: Mon Nov 14, 2005 6:21 pm


Return to Islam vs YAHUDI



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users