. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

1000 Orang Malaysia Murtad per Bulan

Perkembangan dan penerapan Islam dalam masyarakat dan budaya Malaysia dan Brunei.

1000 Orang Malaysia Murtad per Bulan

Postby Adadeh » Sun Mar 26, 2006 12:55 am

http://www.littlespeck.com/region/CFore ... 041228.htm
Internet Malaysia
Menjadi Murtad

Sekitar 1.000 orang Malaysia meninggalkan Islam setiap bulan. Masalah murtad yang telah lama disembunyikan sekarang dibahas jelas di internet diantara orang2 Malaysia. Berita diambil dari Malaysiakini

Dec 27, 2004

Di bulan Juli ketika pengadilan Sharia menjatuhkan hukuman kepada 4 orang Kelantan Malaysia selama 20 bulan karena murtad, hak2 Muslim untuk meninggalkan Islam menjadi bahan perdebatan sengit di Internet.

Mereka telah meninggalkan Islam (murtad) di tahun 1998 di hadapan Komisi Pengambilan Sumpah. Meskipun Konstitusi Negara menjamin kebebasan beribadah di Malaysia, hukum Islam melarang Muslim untuk meninggalkan agamanya.

Menurut hukum Sharia Islam, pemerintah harus melaksanakan hukuman bagi tindakan kriminal yang dilakukan melawan Tuhan dan murtad adalah yang termasuk dalam hal ini. Pengadilan Sharia Kelanta menghukum mereka di tahun 2000 karena tidak mau mengambil kelas2 “pertobatan”, yang merupakan kewajiban yang ditentukan Pemerintah bagi mereka yang ingin murtad.

Seorang penulis berkata pada Malaysiakini di tanggal 28 Juli, 2004, “Konstitusi Pemerintah kami di bawah Article 11 menjamin dan menjaga hak2 warga negaranya untuk memilih dan melaksanakan ibadah agama yang dipilihnya. Tapi Pengadilan Sharia tidak berpendapat hak ini berlaku bagi Melayu Muslim.”

Hal ini mengakibatkan Melayu Muslim tidak mungkin untuk pindah agama, karena mereka pertama-tama harus melamar ke Pengadilan Sharia untuk mendapat ijin mengubah agama mereka. Pihak Pengadilan ragu untuk memberikan mereka ijin murtad karena etnis Melayu dianggap Muslim sejak lahir. Hal ini tidak berlaku bagi kelompok etnis yang lain, misalnya kelompok etnis di Sarawak dan Sabah yang kebanyakan Kristen.

Shad Salem Faruq, profesor hukum dari University of Technology MARA percaya bahwa pihak Pemerintah paling takut mereka menjadi pemeluk Kristen. Malaysia terdiri dari 60% Muslim, 20% Buddha, 9% Kristen dan 6% Hindu. Akan tetapi, “Agama Hindu dan Buddha tidak begitu punya tradisi menyebarkan agama seperti Kristen,” kata Faruq kepada Asia Times.

Seorang pendeta yang tidak mau disebut namanya berkata kepada Asia Times bahwa dia percaya sekarang terjadi 100 Muslim pindah ke agama Kristen per bulan di seluruh Malaysia. Sebuah kelompok Kristen memperkirakan terdapat 30.000 murtadin saat ini. Angka dari Pihak Pemerintah jauh lebih sedikit, tapi banyak orang2 Malaysia yang diam2 murtad untuk menghindari tekanan.

Beberapa murtadin melaporkan pintu gerbang rumah mereka diguncangkan di malam hari dan telpon mereka disadap polisi. Murtadin lain melaporkan pihak polisi meminta mereka menghentikan segala kegiatan keKristenan – termasuk pekerjaan sosial.

Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi baru2 ini menghadiri pertemuan di World Council of Churches, dan untuk pertama kalinya dia bicara di hadapan orang2 yang semuanya Kristen. Menurut laporan dari Australian Financial Review tanggal 4 Agustus 2005, Badawi menyatakan permohonan emosional kepada orang2 Kristen dan Muslim untuk bekerja sama demi perdamaian dan keadilan.

”Di banyak mata Muslim, kejadian2 (sejak 11 September, 2001) menunjukkan anggapan bahwa sekali lagi Kristen Barat sedang berperang dengan dunia Muslim, “katanya kepada para wakil gereja. Dia menambahkan bahwa terjadi “penyusutan niat baik dan saling percaya diantara Islam dan Kristen dibandingkan beberapa tahun yang lalu.” Sejak itu perdebatan bertambah meningkat, terutama diantara fundamentali Muslim dan Melayu Malaysia liberal.

Pada tanggal 1 Oktober, Dr Syed Alwi Ahmad, yang bergelar doktor (S3) di bidang filofosi, berkata bahwa adalah kewajiban Muslim untuk membuat Islam jadi menarik. “Di dunia masak kini, hal2 seperti skeptisisme, humanisme sekuler dan kemajuan ilmu pengetahuan telah membuat agama jadi tidak menarik lagi, “tambahnya. Tiada kebutuhan untuk kembali ke abad 7. “Malaysia bukanlah Saudi Arabia atau Afghanistan di bawah Taliban. Elfie (yang menyatakan tiada toleransi bagi yang ingin murtad) dapat terus melaksanakan ibadah agama apapun yang dia inginkan. Itu urusannya. Tapi jangan coba2 menentukan bagaimana aku harus melaksanakan ibadah imanku. Jangan sentuh masalah pribadi, hal2 relijius milik orang lain. Modernisasi akan tetap tinggal di sini, tidak peduli Elfie suka atau tidak.”

Di dalam suratnya, Mohd Elfie Nieshaem Juferi menulis bahwa Muslim ‘liberal’ mendukung niat2 pihak Barat. “Singapura bukanlah Malaysia. Jika para Muslmi di Singapura ingin mengijinkan pemurtadan, maka itu urusan mereka. Sikap mereka yang jauh dari praktek Islam sudah nyata dari tindakan mereka sendiri, “katanya.

Sebagai orang Muslim yang melakukan ibadah Islam di Malaysia, Elfie berkata, “mensahkan ijin murtad akan merusakkan nilai2 Islam yang dianut para Muslim di Malaysia.” Hal ini menimbulkan reaksi dari orang Singapura bernama Shairul Fazleena yang berkata, “Aku orang Singapura dan bangga sebagai Muslimah dan kupikir para murtadin Malaysia merasa lebih marah kepada Pemerintah Malaysia daripada kepada Islam itu sendiri.” Dia menambahkan, “Kupikir mereka berpendapat bahwa Islam adalah permasalahannya tapi ini hanya bermasalah jika menggunakan Islam sebagai dasar kebijaksanaan Malaysia. Aku telah berhubungan dengan para murtadin ini di suatu website dan telah berusaha keras untuk menunjukkan bahwa bukan Islam yang salah tapi orang2 yang munggunakan Islam untuk memaksakan kehendak mereka.

“Aku tidak menulis ini karena ingin membenarkan alasan murtad. Aku hanya menulis ini agar Pemerintah Malaysia memikirkan kembali kebijaksanaan mereka.

“Di Singapura, orang dapat meninggalkan agama mereka jika memang mereka ingin begitu dan tidak ada paksaan untuk melaksanakan suatu agama apapun.

“Adalah salah untuk memaksa seseorang untuk bersikeras memeluk suatu agama yang tidak dipercayainya lagi dan ini pun bertentangan dengan anggapan bahwa Islam tidak menggunakan paksaan.”

Akan tetapi, dia berkata bahwa murtadin Malaysia bingung sendiri tentang siap atau apa yang sebenarnya menekan mereka dan mereka cenderung menghubungkan ini dengan Islam.

“Meskipun aku menghormati Pemerintah Malaysia karena berusaha menerapkan hukum Islam sedapat mungkin, tapi kupikir menghukum murtad bukanlah tindakan yang relefan lagi. Bukankah Malaysia tidak merajam Muslim yang kedapatan berzinah? Jika hal ini bisa dihindari, mengapa tidak bagi murtad?”

Other Malaysian comments:
Lisa Jaafar: “Banyak orang Malaysia yang tidak punya pilihan selain jadi Muslim karena mereka dibesarkan sebagai Muslimoleh orangtuanya begitu mereka lahir. Sewaktu masih anak2, kami tidak punya kebebasan memilih dan penilaian pribadi. Anak2 tidak mengerti Qur’an dan tidak bisa membandingkannya dengan doktrin2 dan praktek2 agama2 lain. Akan tetapi, sebagai orang dewasa kami punya kebebasan memilih dan penilaian pribadi. Beberapa dapat saja akhirnya punya pengertian dan konklusi yang berbeda dengan orangtua2nya dan kakeknenek2nya yang mungkin juga buta huruf atau agak buta huruf.”

Mister Tambourine: Aku adalah salah satu dari banyak orang Melayu Muslim yang tidak ingin Konstitusi dan aturan hukum Negara dirubah. Kami tetapi ingin menempatkan agama dalam urusan pribadi dan biarlah Tuhan sendiri yang menetapkan keputusan ilahiNya. Kami adalah orang2 liberal, toleran (sama seperti sang Nabi), cinta damai yang menolak PAS karena partai ini ingin memaksakan kehendaknya atas Muslim seperti kami untuk melaksanakan pandangan mereka yang salah akan Islam dan negara Islam.

Artikelmu telah menolong untuk mendorong orang2 Malaysia liberal lainnya untuk tidak mendukung para Islamis sombong yang tak bertoleransi di negara ini yang akan terus membabat kemerdekaan kami yang sudah makin sedikit ini untuk melakukan praktek dan ibadah agama sesuai dengan kehendak mereka.

'Jadilah seperti Indonesia'
Johan Baba: Mohamad Elfie Nishaem Juferi dengan sikapnya yang fanatik dan tak bertoleransi sama sekali telah mengkhianati kaum Melayu Muslim yang kesalahannya hanyalah mengikuti apa yang dirasakan dalam hati mereka dan meninggalkan agama mereka.

Di mata Elfie, orang2 ini dicap sebagai murtad yang dianggap lebih jelek daripada Muslim yang suka memperkosa, membunuh atau orang2 yang melakukan insest.

Tapi yang tidak diketahui banyak orang adalah Elfie sebenarnya telah menindas dan mengancam orang2 murtad ini, banyak dari mereka harus meninggalkan negara Malaysia untuk menghindari kemarahan pemimpin agama Malaysia yang punya hubungan dekat dengan Elfie. Orang2 murtad ini tidak mau dipaksa buta untuk memeluk Islam sejak bayi sampai selamanya. Di masyarakat dominan Muslim seperti Indonesia, murtadin dianggap sama seperti warga negara lain tanpa diskriminasi.

Para murtadin yang melarikan diri itu seharusnya diijinkan kembali ke sini dan hidup sebagai warga negara yang terhormat dan berhak sama tanpa harus kembali ke Islam.

Dr Syed Alwi Ahmad: Orang2 Muslim biasanya memperlakukan agama mereka dengan sangat serius. “Memang tidak ada salahnya akan hal itu – jika kau menempatkan agama pada konteks yang benar.” Akan tetapi sebagian masyarakat melangkah lebih jauh dan menetapkan agama sebagai “kebenaran absolut”. Dengan kata lain, agama tidak perlu ditempatkan pada konteks yang benar dan dipercayai secara harafiah tanpa perlu bukti sama sekali. Mereka melakukan ibadah (dan ingin orang lainpun melakukan hal yang sama) dengan pengertian akan Islam di abad ke 10. Aku benar2 menentang hal ini.

Academic Dr Chandra Muzzafar meminta pihak Pemerintah, melalui Parlemen dan legislatur Negara, untuk memecahkan masalah ini dan bukannya menyerahkannya ke Pengadilan. Jalan ke luar bisa dengan merubah konstitusi yang mengambil hak2 orang Melayu yang meninggalkan Islam.

“Kami bisa meminta mereka menyatakan pengumuman resmi bahwa mereka bukanlah orang Melayu lagi karena mereka telah meninggalkan Islam. Atau kaum dapat membuat keputusan resmi yang menentukan orang2 ini sebagai orang bukan Melayu dan membedakannya dengan orang2 Melayu. Pilihan yang manapun, kau tetap harus mengganti konstitusi.”

Article 153 dari Konstitusi Negara memberi orang2 Melayu kemudahan dalam pelayanan2 masyarakat, kesempatan mengambil pendidikan dan ijin dan lisensi bisnis.


“Tindakan Kriminal Serius”

Minggu lalu, pihak akademis di sebuah seminar tentang murtad yang diadakan di International Islamic University (IIU) meminta pihak Pemerintah untuk menghentikan gelombang naiknya kemurtadan sebelum ini berkembang lebih besar lagi.

Profesor Hukum IIU bernama Abdul Aziz Bari dalam tulisannya menyatakan kegagalan untuk membatasi jumlah orang Melayu Muslim yang meninggalkan agama mereka akan membuka peti Pandora secara konstitusional.

Juga lihat di sini:
http://www.balaams-ass.com/alhaj/malaysia.htm
Last edited by Adadeh on Sun Mar 26, 2006 1:36 am, edited 1 time in total.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Sun Mar 26, 2006 1:20 am

January 24, 2006
http://www.westernresistance.com/blog/a ... 01516.html

Malaysia: Muslim Court Allows Apostate To Be Buried As Buddhist

Image

Reports from the Malaysia Star and Associated Press via Al Jazeera describe the decision by a Syariah (Sharia or Islamic Law) court in Malaysia to allow a woman born into a Muslim family to be buried as a non-Muslim.

In any Western country such news would be unimportant, but in Malaysia's bizarre constitution, all Malays are deemed Muslim. The constitution, as we discussed earlier is contradictory.

Ostensibly people have the freedom to practice any religion. Article 11 gives citizens the right to profess and practise any religion they choose. Article 3 states that Islam is the official religion of the state, but Article 3 (1) of the constitution states that 'other religions may be practiced in peace and harmony in any part of the Federation'.

However, Article 121 (1A) of the constitution rules that the Islamic courts are not to be affected by decisions in a civil court.This clause states that civil courts have no jurisdiction on "any matter" which already falls within the scope of the Syariah or Islamic courts.

The case of people being classed as Muslims is complicated by the issue of apostasy. Cases where people have tried to leave Islam have to receive permission from an Islamic court, and such permission is universally denied. The Straits Times from Sept 20 2005 stated that a sharia court has never granted permission for a Malaysian Muslim to convert out of Islam.

When Lina Joy decided to officially apostasise, after her conversion to Christianity in the late 1980s, she took the case to a sharia court.
The court said in September last year she was free to practice the religion of her choosing, as is constitutionally stated, but her identity card states that she is a Muslim, and therefore cannot marry a Christian (and who thought apartheid was finished?).

Joy, originally named Azlina Jailani before her apostasy, first applied to the National Registration Department in February 1997 to have her status as "Muslim" removed from her identity card. In August, she was told that she did not have official Sharia permission to leave Islam. In 1998, she was allowed to register her new name, but she was still officially a "Muslim".

She took her case to the court of appeal, being heard in October 2004, and in September 19, 2005 it was rejected. The civil court ruled that she had to apply to the Sharia Court to apply to leave Islam.

The current news that a "designated" Muslim has been allowed by a Sharia court to be buried with Buddhist rites is being touted by Islamists as a sign that the current unjust system of law in the country is perfectly fair.

Muhamad Burok, president of the Malaysian Syariah Lawyers Association stated: "It shows that our two court systems - the Civil Court and Syariah Court - can exist in harmony, so the issue that the Constitution should be amended does not arise. The decision shows that everyone can get protection from all the courts."

This case, involving Nyonya Tahir (pictured above) comes on the heels of the scandal on December 28 where a Malaysian national hero, Manian Moorthy, who was a Hindu was declared in his last weeks of life by an Islamic court to be a Muslim, was buried Islamically, against the protests of his Hindu wife. The judge said that he had "no power" to change the decision of the Syariah courts on issues involving apostasy. Â That case brought international condemnation.

So Muhamad Burok is being disingenuous if he thinks that the burial of Nyonya Tahir in a burial plot of her family's choosing makes up for glaring contradictions and bias against Muslim apostates contained in the constitution. In a democracy, where one can choose who leads the country at an election, the ability to abandon one particular faith and elect another should be a fundamental right.

Nyonya Tahir died on Thursday (19 Jan), aged 89 years. Her life began as a Muslim Malay, but she was raised as a Chinese by her Malay grandmother who had married a Chinese convert to Islam.
When Nyonya married Chiang Meng, a Chinese, in 1936 she was already living by Chinese customs, and after marriage practiced Buddhism. In Malaysia's Nazi-style ethnic labeling, all of their eight children were registered as Chinese.

Nyonya's identity card said she was a Muslim, and when she died the funeral was postponed by Islamic authorities, until the case was heard in court. Chiang Kwai Ying, Nyonya's daughter, said her mother had attempted to have her name officially changed but had been refused. The Islamic court ruled on Monday (yesterday) that Nyonya Tahir could be laid to rest according to Buddhist principles.

Burok said the ruling "gives great hope to non-Muslims that they can find justice in the Islamic system. We hope non-Muslims will now understand that their fears are not justified."

This is extremely doubtful. The only positive thing about this case (which was hurtful to the family by intruding at the time of a funeral) is that it has set a precedent. It is the first time someone designated officially as a Muslim has been allowed to apostasise officially, even though it happened posthumously, having been denied to her while she was alive and requested it.

It is also the first time that a Sharia court has heard evidence from non Muslims, Chiang Kwai Ying and Chiang Ah Fatt, two of Nyonya's children.
The problems of the constitution remain, despite this case. Never before have Sharia courts allowed apostasy, and as Wong Kim Kong of the Consultative Council for Buddhism, Christianity, Hinduism and Sikhism states: "There is no guarantee that what happened in Nyonya's case will happen again."

The issue of apostasy being handled by Islamic courts who do not allow apostasy, the automatic designation of Malays as Muslim, stated on identity cards issued at the age of 12 onwards, and the ability of Sharia courts to punish apostates with imprisonment is an injustice, to Muslims as well as non-Muslims. It makes Malaysia's claims to democracy appear like a huge, sick joke.

Many states have already adopted the Control and Restriction Bill, which gives a fine of 10,000 ringit ($2,653) or imprisonment for up to one year for "persuading, influencing a Muslim to leave Islam for another religion."
One can also be imrisoned by a sharia court for "belittling Islam", and this has been used to punish people who wish to apostasise from Islam, as in the case of the Sky Kingdom Sect, where individuals such as Kamariah Ali have battled for 7 years to be allowed to leave Islam, and have been imprisoned for their pains.

Islam, when legally sanctioned, is always tyrannical. Malaysia's fascistic identity card system and its despotic Islamists in the sharia courts are only proving how legally-institutionalised religion, with its powers unrestricted by civil courts of law, can never coexist with true democracy.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Adadeh » Sun Mar 26, 2006 1:23 am

http://www.malaysiakini.com/opinionsfeatures/45343
http://www.westernresistance.com/blog/a ... 01378.html
A lonely campaign for religious freedom
Elisia Yeo
Jan 5, 06 12:25pm

Image

No one will give Kamariah Ali a job, relatives and one-time friends shun her, and much of her time is spent in the law courts - all because she no longer wants to be a Muslim.

"People look down on me because I renounced Islam. But people don't understand. Actually, religion belongs to God and you can access God in any way, not necessarily through Islam," says the soft-spoken 54-year-old.

Seven years ago, Kamariah publicly renounced Islam after being continually prosecuted and jailed by religious authorities in Kelantan who accused her of deviating from the faith.

The local Syariah court in Kelantan district has refused to accept Ms Ali's apostasy, and her court battles now happen because Malaysia's constitution specifically places Islamic court rulings as sacrosanct, and judges are not allowed to interfere with "any issue" which is already covered by the Syariah courts.

In Malaysia's constitution, this supremacy of the Syariah courts over the civil judiciary is written into Article 121 (1A) which declares civil courts have no jurisdiction on "any matter" which falls within the scope of the Syariah courts. This ruling has in practice caused consternation for individuals who regard decisions by the Islamic courts as "unfair", and thus causes it to be in direct contradiction of another part of Malaysia's constitution. Article 3(1) of the constitution states that "other religions may be practiced in peace and harmony in any part of the Federation".

The followers of Ayah Pin, as we discussed earlier have proved how despotic and "unconstitutional" the Islamic courts are on matters of "heresy".

Their ruling that a Hindu man, M. Moorthy, had become a Muslim before his death led to unedifying court drams, as his widow tried to have her husband buried as a Hindu. Her views were regarded as irrelevant by the Syariah courts, and she was given no rights to appeal the decision. On December 28 her lack of right to appeal was upheld by a High Court ruling, and her husband was taken off to be buried as a Muslim.

A letter-writer to MalaysiaKini points out that in Malaysia's Constitution, Schedule IX, List II, limits the scope of the Syariah courts to "persons professing the religion of Islam."

The Sky Kingdom followers have openly admitted that they no longer wish to be traditional "Muslims", and so in theory, the Syariah courts should have no say whatsoever in their cases. But as Syariah courts have the last word on who is or is not a Muslim, there is a Catch-22. The only source of appeal is the Syariah court.

On December 31, Kamariah Ali, and Daud Mamat tried to elicit a ruling that they had a right to freedom of religion (Article 3 (1)), had their cases thrown out by the High Court, because of Article 121 (1A).

Ms Ali's late husband, Mohammed Ya, had been imprisoned for two years for "insulting Islam". He died shortly after he was released from jail. Letter-writer Umran Kadir states:

Drama ensued over his burial when the local authorities prevented his body from being buried in a Muslim cemetery. The syariah system that was so determined to punish him as a Muslim in life was noticeably silent when the opportunity arose to defend his right as a Muslim in death. Eventually he was buried at Kampung Batu 13, Terengganu. His grave was reportedly one of the few monuments left standing after the illegal destruction of the infamous Sky Kingdom structures carried out by government agencies.
His widow too has been jailed for her beliefs, and subjected to various prosecutions by the Syariah authorities, who refused to recognise her faith as that of the Sky Kingdom, and not Islam. In the ruling in the High Court on December 28, Justice Md Raus Sharif told Ms Ali that he had "no power" to decide the issue, because it was a matter of "apostasy" and therefore not under his jurisdiction.

54-year old Ms Ali says: "People look down on me because I renounced Islam. But people don't understand. Actually, religion belongs to God and you can access God in any way, not necessarily through Islam."

The controversial Islamic Family Law bill, which was bulldozed onto the statute books on December 22 is set to erode rights of women in divorce and polygamy cases. It allows a man to freeze the assets of his former wives and his children

Datuk Seri Shahrizat Abdul Jalil, who is the nation's Women, Family and Community Development Minister, had been scheduled to discuss making amendments to the bill, but the scheduled meeting, which was booked for the 4th January, has been deferred.

Datuk Seri Nazri Aziz, minister in the prime minister's department, said that even though the government was aware of criticisms of the bill, it was decided to pass it into law anyway, with a view to fiddling with amending details later.

If this is a standard approach to law-making and legislature, no wonder the Malaysian constitution is so badly phrased, and self-contradicting.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby DianAZ » Tue Mar 28, 2006 7:08 pm

"1000an orang murtad perbulan"??Sungguh berita yang susah dipercaya. 100an (ratusan) perbulanpun masih suatu kejutan - bagi saya.
Saya memang tidak pernah mengikuti perkembangan negara tetangga kita -Malaysia. sekali saya kesana tahun 2005. dimana-mana perempuan berjilbab. dari mereka jalan dan bicara kelihatannya mereka sangat bangga - kalau tidak bisa dikatakan sombong - dengan agamanya.

Saudara Adadeh..., apakah anda ada data alasan-alasan utama apa yang membuat mereka keluar dari Islam?

Apakah ini disebabkan oleh faktor "teknologi komunikasi dan data; tv, internet" yang membuat orang lebih terbuka dengan dunia luar? Atau "tekanan/beban berat dari Islam sendiri kepada pengikutnya?"
Ini mungkin bisa dijadikan study kasus.

Di kelompok suku Kurdi, ditemukan bahwa banyak dari mereka (orang2 tingkat sarjana) mulai meninggalkan Islam oleh karena aniaya dan tekanan dari negara tetangga yang juga Islam.


APAKAH ADA YANG BISA MENOLONG SAYA MENJAWAB PERTANYAAN INI, SEBELUMNYA TERIMA KASIH!!
DianAZ
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 388
Joined: Wed Mar 01, 2006 4:05 pm

kabur dari islam ??

Postby abu_magician » Wed Mar 29, 2006 11:26 am

yang jelas kalo org2 yg "kabur" dari islam, iman mereka memang sudah luntur, atau mungkin banyak dipengaruhi oleh misionaris2,mungkin ya..
abu_magician
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 159
Joined: Tue Mar 14, 2006 11:01 pm

Postby Adadeh » Wed Mar 29, 2006 12:35 pm

DianAZ wrote:Saudara Adadeh..., apakah anda ada data alasan-alasan utama apa yang membuat mereka keluar dari Islam?

Maaf, saya sendiri tidak tahu mengapa.
Mungkin tulisan di bawah ini bisa menerangkan sedikit konflik bathin apa yang terjadi dalam diri beberapa Muslim Malaysia sehingga mereka akhirnya murtad.
______________________________
http://www.mail-archive.com/hizb@hizbi. ... 14787.html

PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Fax to:
Subject: kisah murtad

Assalamualaikum

emm..patut la darah orang murtad ini HALAL utk dibunuh.... seram pula bila baca pengakuan depa ni..

Nau'zubillah , minta dijauhkan perkara2 ini berlaku dikalangan kita dan
keturunan kita.. Semoga Allah akan menetapkan hati kita dan tidak
dibolak-balikkan setelah diberikan petunjuk hidayahNya.. Semoga kita semua akan dimatikan di dalam keadaan husnul khotimah dan dijauhkan dari mati di dalam keadaan su'ul khotimah...

amin...Hanya padaMu ku sembah dan hanya padaMu ku meminta pertolongan...

wassalamualaikum..


Maksud Firman Allah Taala;
"...Kemudian apabila sampai ajal mereka, tiadalah dapat mereka meminta
dikemudiankan sesaat pun dan tidak pula mereka dapat meminta didahulukan."
(AnNahl:61)
----- Forwarded by Razuna Mohamed Raim/SOFT/ANSI on 07/05/2000 11:21 AM
-----

"Siti B" <[EMAIL PROTECTED]>
07/02/2000 09:55 PM
Please respond to gerak-usrah

To: [EMAIL PROTECTED]
cc:
Subject: [GU] Kenapa murtad


Assalamualaikum w.b.t

Saya ada terbaca tentang beberapa pengakuan beberapa orang Islam yang telah murtad. Maaf, agak panjang, tetapi dijadikan renungan di mana
silapnya cara pendakwahan kita.

<<<<PENGAKUAN 1>>>>>

My name is Tarmizi and I am an ethnic Malay from Malaysia. I am presently working in the private sector.

I came to know about Christianity on my own. Many years ago I took up a correspondence course on Christianity on my own initiative and without ANY external inducements because I wanted to know more about the Christian religion. I must acknowledge that the environment and friends around me at that time did influence me to inquire about Christianity. I was rather uncomfortable with my Muslim friends because I found certain things in Islam unacceptable for example prayers having to be made in a set pattern and be uttered in a language that is not clearly or commonly understood. The course helped me know the basics of Christianity and also the similarities it shared with Islam (like the belief in hell). I received a certificate when I completed this correspondence course.

After this study I attended a worship service somewhere in Kuala Lumpur. I went to church on my own initiative. Before going, I called the church to introduce myself as well as to inform them of my intentions to know more about Christianity. I was told that I was welcome to attend the service. I was happy when I attended the service. The people were friendly and I felt welcome. I also did not see any statues, which made me glad. The church was one big hall and it look just like a Mosque.

I was expecting Holy Communion to be served because I was told that that was the way Muslims were "trapped" - once they had eaten the bread, their hearts would become darken and they would forget everything. I was glad that this did not happen - Communion was not served that day! At the end of the meeting I was given a prospectus
and encouraged to consider seriously what I wanted to believe.

In my heart I wanted to believe but I had my doubts. I asked myself, "What good would this bring to me?" I asked this question because I believed (at that time) that in Malaysia there was "no way a Muslim could become a follower of 'Isa". Questions like, "What would it cost me? What will I have to face? Am I making the right move?" plagued me. With so many questions unanswered, I put it off (i.e. believing in Hazrat 'Isa).

I became a religious Muslim again after this event. Family and friends encouraged me to pray and I joined them whenever I was asked to. Then I began to relax again. This happened a couple of times. For 6 months I would be enthusiastic in carrying out my Islamic obligations and then I would cool off. I was also quite influenced by my surroundings. Just before I got married, I was on a religious high. I never missed my five times of prayer. My wife (then my fiancie) had a great influence on me. Whenever I called her, she would ask, "What time did you wake up?" I usually woke up late so she knew I had not woken up to do my morning prayers. She then would ask me, "Why didn't you get up early to pray?" With her constant encouragement I reached a stage where I was on a spiritual high.

It was at this time that I went to Mecca for the umrah. While observing the activities of the many people and races from all parts of the world who were there, I could clearly see the different types of schools in Islam from the different types of prayers that were being made. Though same in focus and direction, their prayers were different in method. These differences became a dilemma for me. I had been taught that the pattern for prayer was set and it had to be strictly followed. Yet here in Mecca itself, I was seeing different patterns of prayer being followed. I wondered which pattern was the right one and whether the pattern of prayer I had being observing all this while was right. If it was not, all my prayers so far would have been unacceptable to God! If it were right, then the prayers I saw being performed before my own eyes were actually unacceptable to God. This was a very disturbing conclusion.

The style of prayer is not mentioned in the Quran, only in the sayings of the prophet. How one interprets these sayings would determine how one prays. When one becomes so accustomed to a set pattern of prayer, there is bound to be questions when different patterns are observed elsewhere. For example, hand positions. Is the hand stretched out straight, or can it be moved to the left or theright? What about pauses in between - are there any or none? Matters like these are all not mentioned nor confirmed in the Quran. Islamic scholars would interpret the sayings of the prophet differently, each scholar giving a different interpretation. I witnessed and experienced different and new expressions of prayer because of these different schools of thought (almost, if not all were not subscribed to in Malaysia). In Malaysia we subscribe to the Shafie school of thought. So I prayed the Malaysian way!

Deep in my heart, whilst in Mecca, I had questions. I asked myself, "Why are we doing what we are doing? Why should we imitate what a Prophet did more than a thousand years ago?" I questioned the logic of this whole exercise. I struggled in my mind. "These things were done so long ago. Am I doing what is actually RIGHT?" I asked. When I rushed in after competing with many others to kiss the black stone I asked myself, "Why? Why? Why? What is this FOR?"

When I came back from Mecca I began to relax my observation of prayer
times. I then began to think about Christianity again. Even so, there was still nothing significant happening because nobody told me anything (about Christianity) - what it really was and what's the difference (between Islam and Christianity).

Suddenly a thought struck my mind. I took the Yellow Pages and I called up a church at random. I spoke to an Indian person who invited me to come out and meet her. So I went to see her. I asked her a few questions. One was concerning the use of statues. Previously, a Filipino friend had given me a small statue of Jesus. I brought it with me and mentioned it to this lady. She said, "This is not right". That was the first time I had heard such an answer. I was happy to hear it. She then explained more, gave me a leaflet and asked me to go home and read it. After reading the leaflet, I met with her again and informed her that I was interested in accepting Hazrat 'Isa as my Savior. I asked her, "Can you teach me to accept 'Isa as my personal Saviour?" On that day she helped me receive Jesus as my own Saviour by saying a prayer with me. I simply followed her in a prayer that she prayed, a simple prayer of repentance and dedication to Hazrat 'Isa. I was also given a copy of the Bible.

She then said that it would be inappropriate for her as a lady to continue guiding me. It would be better if I had a brother to guide and teach me instead. She gave me M's contact and he has been very helpful since then.

I don't ask why nowadays because I've found the answers. After my conversion, a friend gave me a book that helped answer all my doubts.
It was a book with answers from the Bible on the common questions a
new believer would ask. It was a very helpful book.



As a follower of Hazrat 'Isa in a Muslim community, I have to be
careful in expressing my belief. The Muslim community can be quite
belligerent toward those who leave Islam, and terribly unreasonably
so. Fearful, oppressive and punitive repercussions are all brought to
bear upon detractors of Islam and those who even dare to consider
alternatives to Islam! All kinds of terrible consequences are
conjured up for those who are considered 'apostates'.

There have been some significant changes in my beliefs since I
started following Isa Al-Masih. When I was a Muslim, God was a feared
Being, a Punisher. Now I see Him differently. He is still most
supreme but He is also someone loving I can talk to and share things
with. I know He is listening and he is very close to me. For me, Isa
Al-Masih is Savior and God. This I always remember when I pray.

I believe the greatest blessing I have received from God is to be
chosen by Him for salvation. God has chosen me and I believe His plan
for me is to share what I know to other Malay Muslims. Recently I had
the opportunity to talk to a Malay girl. We talked about many things -
her Christian friends, the Bible, and the identity of 'Isa Al-Masih -
but she was not prepared to take the step of faith. She, however,
agreed that to be Malay does not necessarily mean one has to be a
Muslim.

It is my sincere hope that the Malaysian government would be more
open about conversion of Muslims to other religions. I hope that
there will be no threats and that they would be consistent in their
decisions. So far they have been lax one day and tough the next,
especially when they come under pressure from certain quarters. I
would like the government's decision to be in black and white,
allowing the people to decide whom they want to worship. I look for
the day when there would be a freedom to chose ones faith and be
respected by friends, family, society and workplace for the choice
that has been made.


================================================================

Assalamualaikum w.b.t

Sila bandingkan dengan pengakuan Tarmizi dan Yahya. Mereka lebih
tertarik dengan pendekatan Kristian yang menekankan sifat Allah Maha
Penyayang dan Pengampun dosa sedangkan pendakwah Islam sering
menekankan tentang dan menakut-nakutkan kanak-kanak tentang kemurkaan
Allah lebih daripada Penyayangnya, menyebabkan gambaran negatif
wujud. Hal ini tidak jauh berbeza dengan pendapat bekas
rakan sekolah saya dahulu (pagan)semasa ditanya kenapa mereka memilih
Kristian.

<<<<<<PENGAKUAN 2>>>>>>>

Testimony of Yahya

I was born and raised as a Muslim in Malaysia. My father made sure
that I was brought up in Islamic ways. At the early age, I was taught
to obey the five pillars of Islam (the 'shadat', (profession of
faith), solat, fasting during ramadan, 'zakat' (give alms), and
pilgrimage to Mecca, and recite the Quran (in arabic). Religious
classes in both primary and secondary schools were mandatory for
Muslim students. The Malaysian government did an excellent job in
providing islamic education to the Muslims. It also made it easy and
convenient for Malaysian Muslims to practice their faith. All through
my childhood and teenage years, I faithfully carried out my Muslim
duties to God (Allah) by obeying His laws. However, I felt
spiritually unfulfilled. No matter how many good deeds I did, I was
never sure whether Allah is pleased. During my trials and
tribulation, I cried out to Allah but He seemed distant and
impersonal.

I came to the United States in 1981 for college education. I was
enthusiastic about blending into the American culture but
unfortunately, I was led further from the truth. I was very
temperamental then. My Christian friend then (who is my wife now),
shared her faith with me. That was the first time I ever heard of the
Gospel. (When I was growing up, I was told that Christians were idol
worshippers. Muslims in Malaysia are forbidden to hear the Gospel).
She told me that:

a) We are all sinners by nature. At first, I find it hard to believe
that we are sinners by nature because as Muslims, we were thought
that mankind were not born as sinners but rather through our weakness
and frailty, we commit sinful acts. Therefore, in Islam, one Muslim
may be less sinful than another Muslim and thus, it creates "holier
than thou" syndrome amongst Muslims.

b) Isa Al-Masih died for our sins and we are forgiven if we confess
our sins and received Him as our Lord and Savior. This was hard for
me to believe too because of God dying for my sins? It is completely
foreign to me.

I began to read the Bible. As I was reading, I felt comfortable with
Isa Al-Masih's teachings - filled with love, compassion, mercy, and
grace. Throughout the Gospel (as I was only reading the New
Testament), the message was clear: God loves us very much. I also
found out that Isa Al-Masih is the Son of God and that He came to
earth as a man to die for our sins.

I struggled between the new found truth and my Muslim beliefs. One of
them got to be the truth. So, my search for the one true God began in
1983. I prayed "God, I want to know you intimately. Please reveal
yourself to me." From 1983 to 1985, I was looking for God. Finally,
through His grace and mercy, I found Him in 1985. I had been
sporadically attending church services in 1985 but there was on
particular service where the pastor was preaching about praying. He
mentioned that the Bible said that we're all SINNERS by nature and if
we accept Isa Al-Masih as our Lord and Savior and repent of our sins,
we have a LIVING RELATIONSHIP with God forever and ever. He said to
pray like this:


"Our Father in heaven
Hallowed be your name
Your Kingdom come,
You will be done
on earth as it is in heaven.
Give this day our daily bread.
Forgive our debts
As we also have forgiven our debtors
And lead us not into temptation
But deliver us from the evil one"

Suddenly, everything seemed clear to me. The God who created the
universe loves me. He knows me intimately. He does not require me to
pray in Arabic. He hears my prayers at all times. Salvation is a gift
from God because he loves me.

That night, I repented of my sins and asked Isa Al-Masih to be my
Lord and Savior. I felt peace in my soul after that. Until today, I
have no regrets of my decision to let Isa Al-Masih rule my life. I am
now married with 3 kids. Eventhough life is not a bed of roses, God's
promises are for real. Psalm 23:4 "Eventhough I walk through the
valley of the shadow of death, I will fear no evil, for YOU are with
me". He is with me and strengthens me through trials and tribulation.
God's love for me is unconditional and because He loves me first and
I am loving him back with all my heart, soul, and mind.



Asalaamualaikum to my Muslim friends.

Let me ask you question: If you were to die tonight, do you know for
sure that you are going to heaven? Do you have the assurance that you
are going to heaven? I am here to tell you that the God who created
the universe has given us the assurance that you will go to heaven if
you have faith in HIM and what He has DONE for you.

You see, my friends, sin is not based on your deeds alone but rather
it is a state of mankind. God has told us in that he created man
perfect and He wanted to dwell among His creations. However, Adam and
Eve (First man and woman) CHOSE to rebel against God by DISOBEYING
Him. Adam and Eve sinned against God. What God has made perfect is
now corrupted by sin. Through the disobedience of Adam and Eve, we're
all sinners. What does God says about man and sin? It clearly states
in the Bible that ALL have SINNED and fall short of the glory of God.
The Bible goes on to say that the wages of sin is DEATH (physically
and spiritually). Why is God so harsh on sin? Because God is PERFECT
and JUST and everything about sin is diametrically opposite of who
God is. Since God said that the wages of sin is death, we are doomed.
Fortunately, God who is perfect and just is also a God of GRACE and
MERCY. From the every beginning of time, God LOVES US and He grieves
when we chose to disobey and sinned against Him. The good news is
that God FORGIVES ALL our sins completely. How does he forgive our
sins? Isa Al-Masih came to the world and died for ALL our sins. He
paid it all. God forgiveness is in Isa Al-Masih. Isa Al-Masih DIED
for our sins AND three days after He died, he ROSE again. He LIVES.
There is no work for us to do in order to gain forgiveness from God.
Isa Al-Masih has done everything for us. All you need to do is to
accept God's gift of forgiveness by:


Confessing all your sins to God.
Repent (taubat) of your old ways (sins).
Invite Isa Al-Masih to come in your life and be your Lord and Savior.
Isa Al-Masih said, "I am the WAY and the TRUTH and the LIFE. NO ONE
comes to the Father (God) except through Me." He also said "I stand
at the door and knock. If anyone hears my voice and opens the door, I
will come in and eat with him, and he with me." Isa Al-Masih is the
sirat - the bridge that allows us to cross over to God's Kingdom.

My friends, salvation is by FAITH and it is a gift of God. The Bible
says that our righteous deeds are like filthy rags to Him. Without
accepting God's gift, no amount of works can satisfy God's demands
for our sins.

God Bless you.

Yahya
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8459
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby dukun_beranak » Wed Mar 29, 2006 1:38 pm

kalau di indonesia ada yang murtad !!!...tapi yang jelas artis-artis Indonesia banyak yang masuk islam...lihat dibawah


Kisah Celebritis: Davina Veronica Hariadi
Posted byadmin on Friday, April 29 @ 07:55:00 WIT
Contributed by admin


Setelah Dian Sastro mengumumkan menjadi Mualaf. Diam-diam model cantik Davina juga sudah menekuninya sejak tahun 2003. Bahkah dikabarkan sudah sering mengikuti berbagai kegiatan yang bernafaskan Islami. Beberapa sumber juga mengatakan, Davina lebih khusyu menjalaninya seperti pemeluk lainnya. Tapi dikabarkan karena menjadi Mualaf Davina diprotes habis-habisan oleh keluarga besarnya.

Gosip tersebut dikabarkan oleh beberapa kawan dekatnya Davina. Saat dikonfirmasikan langsung kepada model ini, Davina mengiyakan dan mengatakan memang sudah sejak tahun kemarin dirinya menjadi Mualaf. Saat didesak kenapa, Davina menjawabnya dengan sangat hati-hati. Katanya, semua itu adalah urusan dirinya dengan Tuhan. Walaupun ada yang memprotesnya. "Saya memang sudah masuk agama Islam sudah dari tahun kemarin. Tapi maaf, soal kenapa saya jadi Mualaf, saya tidak mau berkomentar karena semua itu adalah urusan saya dengan Tuhan yang diatas," papar dara kelahiran Jakarta, 20 Oktober 1978 ini.

Ketika didesak soal bagaimana sampai mau menjadi Mualaf dan soal protes tanggapan keluarga besarnya. Model yang membintangi film layar lebar berjudul Sang Pialang ini mengungkapkan, sejauh pihak keluarga tidak bermasalah dan masih baik-baik saja. Bahkan tidak ada yang memprotesnya. Pasalnya, keluarga Davina adalah keluarga besar yang semuanya pemeluk agama lain yang taat.

"Keluarga saya tidak ada masalah kalau saya masuk ke agama lain. Soalnya keluarga saya moderat dan membebaskan anak-anaknya memilih kepercayaan sendiri saat menanjak remaja. Tapi kedua ortu saya mengharuskan kalau soal ini jangan terlalu di ekspos besar-besaran karena soal ini bukan masalah karir. Tidak ada tuh protes apapun dari keluarga saya," tuturnya menjelaskan, ditemui Rileks.com diacara peluncuran butik di Dharmawangsa Square, Jakarta, Sabtu, (07/01/2004).

Model yang pernah menang Cover Girl majalah Mode, Juara III dan Juara Favorit ini juga mengungkapkan, saat di Roma Italia dirinya merasakan ada petunjuk dari Tuhan untuk menjadi Mualaf. Tapi mengelak soal menjadi Mualaf karena pacarnya. "Semuanya terjadi saat saya berada diluar negri. Saya tidak terpaksa dan juga tidak karena beberapa hal tapi memang dari hati saya pribadi menjadi Mualaf," ucapnya pamitan. [musa/foto:istimewa]

MESKI waktu untuk menekuni Agama Islam selalu kalah dengan waktu dunia keartisannya, namun model cantik Davina mengaku selalu ingin menyempatkan diri belajar, meski harus dengan mencuri-curi waktu luangnya. Katanya, rencana untuk mendalami Agama dan belajar Al-Qur'an sebenarnya sudah lama, namun karena selalu mendapatkan pekerjaan sebagai model yang memakan waktu, untuk konsentrasi belajar selalu gagal.
Davina adalah mu'alaf yang baru memeluk Agama Islam dua tahun lalu.

"Beberapa waktu lalu aku sempet memikirkan belajar intensif dengan seorang ustad. Namun karena aku selalu dapat job yang selalu memakan waktu luangku, rencana itu selalu gagal. Aku maunya, jika belajar harus konsentrasi tanpa ada pekerjaan lain. Mungkin ini cobaan kali ya?" paparnya saat ditemui di acara syukuran film yang dibintangi oleh Davina, beberapa waktu lalu di Cipete, Jakarta.

Selain itu, pemilik nama lengkap Davina Veronica Hariadi mengaku sudah merasakan hidup menjadi bermakna akan kebesaran Tuhan Allah SWT. Apalagi jika selalu mengingat kejadian tragis yang pernah dialaminya. Bahkan karena kejadian itu, Davina ingin selalu pasrah kepada Tuhan. "Aku kan pernah kecelakaan mobil saat berada di Kalimantan. Padahal saat kecelakan mobil yang merenggut 3 nyawa termasuk sopir, aku sedangn tidur. Bangun-bangun aku sudah luka parah dan terbaring di rumah sakit," tuturnya.

Hal itulah membuat bintang film layar lebar berjudul Luvely Luna ini semakin tahu akan kebesaran Tuhan. Katanya, walau manusia inginnya berkehendak lain, namun Tuhan punya rencana lain. Seperti apa yang telah dia alami. "Kalau aku ingat kejadian kecelakaan yang menurut aku sangat tragis itu, aku jadi berpikir, manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, buruk atau baik. Kalau aku mengingat hal itu, aku sepertinya mendapatkan anugerah dan merasa hidup kembali untuk yang kedua. Saat puasa ini aku jadi semakin tahu akan kebesaran Tuhan. Mungkin agar aku hidup bisa lebih baik lagi," terang cewek dengan berat berat 50 kg dan tinggi 173 cm ini. (Dari berbagai sumber)

BIODATA
Nama Lengkap : Davina Veronica Hariadi
Panggilan : Davina
Tempat/Tgl lahir : Jakarta, 20 Oktober 1978

Pekerjaan : Model
Tinggi : 173 cm
Musik : R&B dan Jazz
Motto : Life wasn't meant to be easy.
Suku : Jawa-Menado

Pendidikan :
Universitas Pelita Harapan jurusan Public Relation

Prestasi :
Juara Cover Girl Mode 1996

Iklan TV/Print Ad* :
Shampo Emeron
OBH Combi Plus
Motor Dast




Kisah Celebritis: Monica Oemardi : Islam Agama yang Suci
Posted byadmin on Wednesday, December 21 @ 08:38:49 WIT
Contributed by admin
BULAN suci Ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah buat saya. Saat itu, saya memulai hidup baru sebagai seorang muslimah. Ini adalah hidayah Allah pada saya dan saya sangat mensyukurinya. Sekarang, saya semakin mantap dengan pilihan hati nurani saya itu. Saya siap lahir batin. Termasuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Saya ingin segera bisa menunaikan ibadah umrah. Insya Allah.

Nama saya Monica Oemardi, lahir di Jakarta, 24 tahun lalu. Papa saya berasal dari Blitar dan beragama Islam. Sedangkan mama berasal dari Cekoslowakia dan beragama Kristen Protestan. Mungkin, sebagian pembaca tak asing lagi dengan debut saya selama ini di dunia sinetron. Di antara sinetron yang telah saya bintangi adalah Delima, Takhta, Intrik, Warteg, Misteri Gunung Merapi, Angling Darma, dan lain sebagainya

Saya berasal dari keluarga Kristen Protestan yang cukup taat. Meskipun demikian, keluarga kami sangat demokratis dalam masalah agama. Setelah menikah, saya pindah agama ke Kristen Katolik, mengikuti suami saya yang pertama. Sebenarnya, agama Islam tak asing lagi bagi saya. Sebab, kebanyakan keluarga papa beragama Islam. Pada waktu kecil, pernah saya ikut-ikutan shalat Id pada Hari Raya Idul Fitri di Bandung. Walaupun hanya sekadar gerakan shalat saja, tapi kegiatan ritual itu sangatberkesan di dalam hati saya. Setelah shalat Id, saya jugs mengikuti nyekar (ziarah) ke makam leluhur papa dan mengikuti tahlilan.

Mulai Tertarik

Memang, saya sudah lama ingin masuk Islam, tepatnya sekitar bulan Februari-Maret 1998 lalu. Ketika itu, sahabat saya sesama artis, Vinny Alvionita dan Dian Nitami, mengunjungi saya di rumah kos. Ketika kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba terdengar suara azan magrib dari masjid sekitar rumah kos.

Sahabat saya, Dian Nitami yang muslimah itu, langsung ingin shalat. Tapi, terlebih dulu ia meminta izin kepada saya. Saya dan Vinny beringsut dari tempat duduk untuk menggelar sajadah, karena tempat kos memang sempit. Di dalam kamar kos yang kecil itu, saya perhatikan Dian ketika usai mengambil air wudhu, ia mengeluarkan mukenah putih, kemudian memakainya. Hal itu membuat saya terkesima dan berpikir, Islam itu amat suci, mau menghadap Allah harus menyucikan diri terlebih dulu. Saya amati terus saat Dian melakukan shalat. Hingga tiba-tiba dari mulut Saya terlontar permintaan kepada sahabat saya, Vinny, untuk mengajarkan saya tata cara shalat.

Tentu saja Vinny terkejut mendengar permintaan saya itu. Saya pun tak mengerti apa yang mendorong saya hingga melontarkan ucapan demikian. Dengan wajah tak percaya, Vinny memandangi saya. Saya disuruhnya mengulangi lagi permintaan saya tadi itu.
Mungkin Vinny tak percaya, karena selama ini saga tak pernah minta diajari shalat kepada teman-teman yang sering datang ke tempat kos saya. Tetapi, tiba giliran Dian yang shalat, saya malah minta diajari. irni mungkin hidayah bagi saya melalui kedua sahabat saya itu.

Sejak itu, Vinny memberi saya beberapa buku bacaan. Salah satunya berjudul, "Lentera Hati" yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Quraish Shihab, MA. Setelah membaca buku tersebut, saya semakin terpukau dan mengagumi Islam. Saya pun semakin mendalami Islam lewat buku-buku yang diberikan Vinny, di samping bertanya kepada mamanya Dian Nitami dan keluarga Vinny.

Walaupun saya terus mempelajari Islam melalui bukubuku yang diberikan oleh Vinny, saya masih sering ke gereja. Bahkan, yang mengantarkannya adalah Vinny sendiri: Memang, dalam bersahabat kami saling menghargai, terutama coal agama. la pernah berpesan kepada saya bahwa tak ada paksaan dalam Islam. Kalau ingin masuk Islam, harus dengan pikiran dan hati yang bersih dan sesuai dengan hati nurani.

Hari demi hari, saya terus mempelajari Islam secara mendalam, hingga setelah tak ada keraguan sedikit pun di hati, pada bulan puasa, Januari 1998, hati saya semakin bergetar. Saya menunggu-nunggu kapan waktu yang tepat untuk memeluk Islam.
Gelora hati untuk memeluk Islam mengalahkan segala kesibukan dan persiapan untuk menyambut Hari Natal. Dulu, saya paling suka mempersiapkannya. Bahkan, sebulan sebelumnya saya sudah sibuk merapikan runah, mencari kado buat mama dan keluarga, dan selalu siap membantu mama mempersiapkan kue-kue Natal. Tetapi, pada saat itu, saga tak melakukan semua itu. Walaupun saya belum nmemeluk Islam, tapi saya sudah menjalani ibadah puasa.

Masuk Islam

Pada malam menjelang Tahun Baru, 31 Desember 1998 lalu, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dibimbing oleh Prof.Dr. H. Quraish Shihab di kediaman seorang pengusaha elektronik, Rachmat Gobel, di kawasan Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, dalam acara buka puasa bersama.

Setelah membaca rukun Islam yang pertama itu, saya tak dapat menahan rasa haru, sehingga saya tak mampu lagi membendung air mata. Rasanya dada ini plong sekali, seperti bayi yang baru lahir. Jadi, tahun 1999 itu, buat saya, merupakan tahun untuk memulai "hidup baru" sebagai seorang muslimah.

Walaupun sudah resmi masuk Islam, tapi Pak Quraish Shihab dalam kesempatan itu, juga berpesan agar saya segera meresmikan status keislaman saya itu. Katanya, mengucapkan dua kalimat syahadat berkali-kali, tak apa-apa. Maka, pada hati Jumat tanggal 8 Desember 1999, dengan dilengkapi prosedur administratif, saya mengucapkan ikrar dua kaliniat syahadat di hadapan para saksi di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.

Mengetahui saya masuk Islam, mama sempat marah. Bukan apa-apa, tapi karena beliau ingin supaya saya dalam hidup ini mempunyai prinsip. Setelah saya jelaskan, beliau pun akhimya menerima keputusan saya itu. Beliau berpesan supaya saya benar-benar menjaga keislaman saya. Tidak simpang siur dan tidak boleh main-main.

Setelah masuk Islam, kehidupan saya terasa lebih tenang. Apalagi setelah perceraian dengan suami pertama yang membawa kabur anak saya, Antonius Joshua (6 tahun). Selama bulan suci Ramadhan tersebut, saya terus menjalankan ibadah puasa. Dan ternyata, puasa dengan dilandasi niat, berbeda sekali dengan puasa tanpa niat. Saya rasakan puasa tanpa niat itu terasa sangat berat. Jangankan menjalaninya, untuk bangun sahur saja berat sekali. Tapi, setelah masuk Islam, saya selalu membaca niat puasa setiap sahur, puasa pun menjadi terasa ringan.

Selama ini saya sahur sendiri. Anehnya, saya bisa dengan mudah terbangun, tanpa ada perasaan yang berat. Dan setelah sahur, saya tidak langsung tidur. Saya hidupkan teve dan mengikuti kuliah subuh. Dari siaran tersebut, saya banyak memperoleh masukan-masukan yang bermanfaat. Saya bertekad untuk menjadi muslimah yang baik, tentunya dengan diiringi doa para pembaca. Insya Allah. (Ages Salami Albaz)
(dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com


BULAN suci Ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah buat saya. Saat itu, saya memulai hidup baru sebagai seorang muslimah. Ini adalah hidayah Allah pada saya dan saya sangat mensyukurinya. Sekarang, saya semakin mantap dengan pilihan hati nurani saya itu. Saya siap lahir batin. Termasuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Saya ingin segera bisa menunaikan ibadah umrah. Insya Allah.

Nama saya Monica Oemardi, lahir di Jakarta, 24 tahun lalu. Papa saya berasal dari Blitar dan beragama Islam. Sedangkan mama berasal dari Cekoslowakia dan beragama Kristen Protestan. Mungkin, sebagian pembaca tak asing lagi dengan debut saya selama ini di dunia sinetron. Di antara sinetron yang telah saya bintangi adalah Delima, Takhta, Intrik, Warteg, Misteri Gunung Merapi, Angling Darma, dan lain sebagainya

Saya berasal dari keluarga Kristen Protestan yang cukup taat. Meskipun demikian, keluarga kami sangat demokratis dalam masalah agama. Setelah menikah, saya pindah agama ke Kristen Katolik, mengikuti suami saya yang pertama. Sebenarnya, agama Islam tak asing lagi bagi saya. Sebab, kebanyakan keluarga papa beragama Islam. Pada waktu kecil, pernah saya ikut-ikutan shalat Id pada Hari Raya Idul Fitri di Bandung. Walaupun hanya sekadar gerakan shalat saja, tapi kegiatan ritual itu sangatberkesan di dalam hati saya. Setelah shalat Id, saya jugs mengikuti nyekar (ziarah) ke makam leluhur papa dan mengikuti tahlilan.

Mulai Tertarik

Memang, saya sudah lama ingin masuk Islam, tepatnya sekitar bulan Februari-Maret 1998 lalu. Ketika itu, sahabat saya sesama artis, Vinny Alvionita dan Dian Nitami, mengunjungi saya di rumah kos. Ketika kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba terdengar suara azan magrib dari masjid sekitar rumah kos.

Sahabat saya, Dian Nitami yang muslimah itu, langsung ingin shalat. Tapi, terlebih dulu ia meminta izin kepada saya. Saya dan Vinny beringsut dari tempat duduk untuk menggelar sajadah, karena tempat kos memang sempit. Di dalam kamar kos yang kecil itu, saya perhatikan Dian ketika usai mengambil air wudhu, ia mengeluarkan mukenah putih, kemudian memakainya. Hal itu membuat saya terkesima dan berpikir, Islam itu amat suci, mau menghadap Allah harus menyucikan diri terlebih dulu. Saya amati terus saat Dian melakukan shalat. Hingga tiba-tiba dari mulut Saya terlontar permintaan kepada sahabat saya, Vinny, untuk mengajarkan saya tata cara shalat.

Tentu saja Vinny terkejut mendengar permintaan saya itu. Saya pun tak mengerti apa yang mendorong saya hingga melontarkan ucapan demikian. Dengan wajah tak percaya, Vinny memandangi saya. Saya disuruhnya mengulangi lagi permintaan saya tadi itu.
Mungkin Vinny tak percaya, karena selama ini saga tak pernah minta diajari shalat kepada teman-teman yang sering datang ke tempat kos saya. Tetapi, tiba giliran Dian yang shalat, saya malah minta diajari. irni mungkin hidayah bagi saya melalui kedua sahabat saya itu.

Sejak itu, Vinny memberi saya beberapa buku bacaan. Salah satunya berjudul, "Lentera Hati" yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Quraish Shihab, MA. Setelah membaca buku tersebut, saya semakin terpukau dan mengagumi Islam. Saya pun semakin mendalami Islam lewat buku-buku yang diberikan Vinny, di samping bertanya kepada mamanya Dian Nitami dan keluarga Vinny.

Walaupun saya terus mempelajari Islam melalui bukubuku yang diberikan oleh Vinny, saya masih sering ke gereja. Bahkan, yang mengantarkannya adalah Vinny sendiri: Memang, dalam bersahabat kami saling menghargai, terutama coal agama. la pernah berpesan kepada saya bahwa tak ada paksaan dalam Islam. Kalau ingin masuk Islam, harus dengan pikiran dan hati yang bersih dan sesuai dengan hati nurani.

Hari demi hari, saya terus mempelajari Islam secara mendalam, hingga setelah tak ada keraguan sedikit pun di hati, pada bulan puasa, Januari 1998, hati saya semakin bergetar. Saya menunggu-nunggu kapan waktu yang tepat untuk memeluk Islam.
Gelora hati untuk memeluk Islam mengalahkan segala kesibukan dan persiapan untuk menyambut Hari Natal. Dulu, saya paling suka mempersiapkannya. Bahkan, sebulan sebelumnya saya sudah sibuk merapikan runah, mencari kado buat mama dan keluarga, dan selalu siap membantu mama mempersiapkan kue-kue Natal. Tetapi, pada saat itu, saga tak melakukan semua itu. Walaupun saya belum nmemeluk Islam, tapi saya sudah menjalani ibadah puasa.

Masuk Islam

Pada malam menjelang Tahun Baru, 31 Desember 1998 lalu, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dibimbing oleh Prof.Dr. H. Quraish Shihab di kediaman seorang pengusaha elektronik, Rachmat Gobel, di kawasan Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, dalam acara buka puasa bersama.

Setelah membaca rukun Islam yang pertama itu, saya tak dapat menahan rasa haru, sehingga saya tak mampu lagi membendung air mata. Rasanya dada ini plong sekali, seperti bayi yang baru lahir. Jadi, tahun 1999 itu, buat saya, merupakan tahun untuk memulai "hidup baru" sebagai seorang muslimah.

Walaupun sudah resmi masuk Islam, tapi Pak Quraish Shihab dalam kesempatan itu, juga berpesan agar saya segera meresmikan status keislaman saya itu. Katanya, mengucapkan dua kalimat syahadat berkali-kali, tak apa-apa. Maka, pada hati Jumat tanggal 8 Desember 1999, dengan dilengkapi prosedur administratif, saya mengucapkan ikrar dua kaliniat syahadat di hadapan para saksi di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.

Mengetahui saya masuk Islam, mama sempat marah. Bukan apa-apa, tapi karena beliau ingin supaya saya dalam hidup ini mempunyai prinsip. Setelah saya jelaskan, beliau pun akhimya menerima keputusan saya itu. Beliau berpesan supaya saya benar-benar menjaga keislaman saya. Tidak simpang siur dan tidak boleh main-main.

Setelah masuk Islam, kehidupan saya terasa lebih tenang. Apalagi setelah perceraian dengan suami pertama yang membawa kabur anak saya, Antonius Joshua (6 tahun). Selama bulan suci Ramadhan tersebut, saya terus menjalankan ibadah puasa. Dan ternyata, puasa dengan dilandasi niat, berbeda sekali dengan puasa tanpa niat. Saya rasakan puasa tanpa niat itu terasa sangat berat. Jangankan menjalaninya, untuk bangun sahur saja berat sekali. Tapi, setelah masuk Islam, saya selalu membaca niat puasa setiap sahur, puasa pun menjadi terasa ringan.

Selama ini saya sahur sendiri. Anehnya, saya bisa dengan mudah terbangun, tanpa ada perasaan yang berat. Dan setelah sahur, saya tidak langsung tidur. Saya hidupkan teve dan mengikuti kuliah subuh. Dari siaran tersebut, saya banyak memperoleh masukan-masukan yang bermanfaat. Saya bertekad untuk menjadi muslimah yang baik, tentunya dengan diiringi doa para pembaca. Insya Allah. (Ages Salami Albaz)
(dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com
dukun_beranak
Banned
 
Posts: 99
Joined: Mon Feb 27, 2006 1:06 pm

Postby m1ch4el78 » Wed Mar 29, 2006 2:38 pm

Banyak orang murtad?? So what geto lo...
Trus jadi bisa bilang Islam bukan agama yg bener...?? Islam gak akan berkurang kemuliaannya hanya karena ditinggalkan pengikutnya. Dan Allah juga gak akan bertambah bangga kalau banyak kafir masuk jadi muallaf...
m1ch4el78
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 10
Joined: Wed Mar 29, 2006 9:35 am
Location: Jakarta

Postby ali5196 » Thu Mar 30, 2006 12:27 am

m1ch4el78 wrote:Banyak orang murtad?? So what geto lo...


Ini bukti bahwa agama elu (dan agama gua duluuuu) nggak sesempurna yang kita sangka ! Kalau memang begitu sempurna kenapa orang sampai berbondong2 meninggalkannya ? Malah ada yg diancam hukum gantung (baru2 ini di Afghanistan), atau di-iming2 hak istimewa oleh negara (lihat di Malaysia dan kebanyakan negara2 Islam lainngya), tapi tetap ogah tuh orang memeluk Islam kembali.

Muslim begitu membanggakan kalau orang masuk Islam, tapi kalau Muslim murtad, kalian menjerit2 dehhhh ... hehehheeee

Trus jadi bisa bilang Islam bukan agama yg bener...??

PERSISSS ! SUDAH MULAI ENCER OTAK ELU RUPANYA !

Islam gak akan berkurang kemuliaannya hanya karena ditinggalkan pengikutnya. Dan Allah juga gak akan bertambah bangga kalau banyak kafir masuk jadi muallaf...

Islam semakin berkurang kemuliaannya: sudah mengancam orang akan dibakar, dicincang, dipenggal, dipotong2 kalau tidak masuk Islam .... ehhhhh dicuekin juga tuh sama pengikutnya (including gua dan teman2 di FFI ini) !

Mau kurang mulia gimana lagehhh ??

Allah makin khawatir dgn semakin kurang setan2nya ... ehh maksud gua ... mualaf2nya.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby spiderweb » Thu Mar 30, 2006 1:01 am

dukun_beranak wrote:kalau di indonesia ada yang murtad !!!...tapi yang jelas artis-artis Indonesia banyak yang masuk islam...lihat dibawah


artis jadi islam mah cuman buat tambah populer aja atau biar dapat kontrak main sinetron ato pacarnya islam, pokoknya motifnya gak jauh2 dari situlah. Gak aneh kan? Indonesia kan emang mayoritas muslim.

( gua sih pribadi amit2, mending gak usah populer and kaya deh :lol: )

Cuma yang aneh, kenapa tuh orang2 yang murtad di atas datang dari negara2 islam yang banyak di antaranya memberlakukan syariah?

Jadi kalau murtad di hukum mati deh. Nah kenapa orang2 ini sampe nekat kaya gitu? Bukannya setelah mereka murtad mereka bakalan terancan jiwanya?
spiderweb
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 349
Joined: Sat Nov 05, 2005 4:29 am

Re: kabur dari islam ??

Postby ali5196 » Thu Mar 30, 2006 1:06 am

abu_magician wrote:yang jelas kalo org2 yg "kabur" dari islam, iman mereka memang sudah luntur, atau mungkin banyak dipengaruhi oleh misionaris2,mungkin ya..


Misionaris mana yg elu maksud ? Misionaris FFI kali ? Bisa jadi ! Tulisan2 kita disini memang "shocking" buat muslim shg mereka pada ngibrit dari Islam.
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Thu Mar 30, 2006 1:14 am

DianAZ wrote:Di kelompok suku Kurdi, ditemukan bahwa banyak dari mereka (orang2 tingkat sarjana) mulai meninggalkan Islam oleh karena aniaya dan tekanan dari negara tetangga yang juga Islam.


BETUL BU ! Kok pas bener yah ? Baru2 ini, gua kemarin ketemu selusin penari Kurdi dan mereka mengatakan "We have nothing to do with Islam ANYMORE !" Padahal gua cuma tanya "are you muslim" ?! Ehh malah disemprot gua begitu gua sebut kata "muslim".

Ternyata snowball murtad semakin besar, walau mereka tidak mengumumkan kemurtadan mereka itu.

BTW, udah baca artikel ini belum, ttg "Meningkatnya Atheisme di dunia Muslim ?" Lagi2 gejala bahwa bahwa orang semakin enggan dgn Islam:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... ght=atheis
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm

Postby ali5196 » Thu Mar 30, 2006 1:24 am

dukun_beranak wrote:kalau di indonesia ada yang murtad !!!...tapi yang jelas artis-artis Indonesia banyak yang masuk islam...lihat dibawah


Masuk islam sih nggak sulit. Keluarnya itu SULIT BUANGGETTT !

Si artis yg masuk islam ini, apakah dia diancam pengikut agama sebelumnya ? Nggak. Diancam akan dibakar tidak habis2nya di neraka, dibunuh, dicincang, dipotong2i oleh agama sebelumnya ? Nggak khan ?

Dicap murtad, dipaksa utk memeluk agamanya kembali dan hilang hak warisnya dari anggota keluarganya yg bukan Muslim ? Nggak khan ?

Anak2 murtad dilarang masuk sekolah Katolik (yg kebetulan the best in the world, tanya aja sih sanada !) ? Nggak khan ? Nah, sekarang bandingkan dgn si Unyil yg meninggalkan pesantren atau madrasahnya. Wahhh ... bisa dimaki/dicincang habis.

SO, masuk Islam nggak sulit. Monyet aja bisa masuk Islam (monyet khan dulunya yahudi khan ?). Yang sulit dan yang luar biasa itu adalah mereka yg meninggalkan islam. Sampai diancam hukum mati (afghanistan, Pakistan, saudi) dan iming2 hak istimewa negara (Malaysia, pakistan, Saudi, iran), tetep aja nggak mau. Itu yang namanya BERANI !

Karena itulah FFI didirikan. Kalau islam nggak peduli dgn mereka yg murtad, tidak mengancam nyawa/kebebasan mereka, yahhhh situs ini juga nggak akan eksis dan gua bisa kembali memancing, main golf dan main tenis dgn tenang.

:twisted:
ali5196
Translator
 
Posts: 17308
Images: 135
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm


Return to Islam di Malaysia dan Brunei



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users